Category: Sejenak Merenung

  • BERBUAH: Tanda Kehidupan dan Kedewasaan

    Sahabat, lamanya seseorang menjadi orang percaya atau berapa lama orang terlibat dalam pelayanan di ladang Tuhan tidak menjamin 100% hidupnya sudah berbuah bagi Tuhan.  Buah berbicara tentang hidup yang menjadi berkat bagi orang lain, hidup yang berguna atau berdampak bagi orang lain.  Sesungguhnya buah itulah yang ingin Tuhan lihat dalam kehidupan setiap orang percaya.


    Mengapa setiap orang percaya harus menghasilkan buah?  Buah merupakan sesuatu yang alamiah yang dihasilkan oleh tanaman atau pohon.  Adakah kita mendapati buah pada tanaman atau pohon yang sudah kering dan mati?  Tidak.  Jadi buah adalah salah satu tanda bahwa di dalam tanaman atau pohon itu ada kehidupan. 

    Selain itu buah juga sebagai pertanda bahwa tanaman atau pohon mengalami pertumbuhan yang baik.  Kita tahu bahwa tanaman atau pohon tidak akan pernah menghasilkan buah jika ia belum dewasa.  Jadi orang percaya yang dewasa rohaninya pasti akan menghasilkan buah. 

    Maka untuk menggali lebih dalam tentang hidup yang berbuah, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yohanes 15:1-8.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah berberapa pertanyaan berikut:

    1. Apa yang menjadi kunci agar hidup kita berbuah? (Ayat 4 dan 5)
    2. Apa yang dijanjikan Yesus jika hidup kita melekat kepada-Nya? (Ayat 7)
    3. Apa dampaknya jika hidup kita berbuah banyak? (Ayat 8)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • TIADA JALAN LAIN

    Sahabat, keselamatan adalah rencana Allah, bukan rencana manusia.  Hanya rencana Allah, dan bukan rencana-rencana yang lain, yang dapat menyelamatkan jiwa kita yang terhilang serta menjadikan kita sebagai anak-anak-Nya.  Memang banyak jalan menuju Roma, tetapi hanya ada satu jalan yang bisa memimpin kita kepada Allah.  Jalan keselamatan Allah itu adalah melalui Putra-Nya yaitu Yesus Kristus. 

    Apakah benar Yesus satu-satunya jalan bagi keselamatan manusia? Menjawab pertanyaan ini, Robertson McQuilkin memberi suatu analogi. Bayangkan, Sahabat adalah satpam rumah sakit yang bertugas di lantai 10. Sahabat tahu lokasi tangga darurat yang denahnya sudah ditandai dengan jelas. Ketika terjadi kebakaran besar, tepatkah jika Sahabat masih mendiskusikan kemungkinan adanya jalan aman selain melalui tangga darurat tersebut atau kemungkinan selamat jika terjun dari lantai 10? Tanggapan paling tepat adalah membawa semua pasien secepat mungkin menuju tangga darurat.

    Untuk menggali lebih dalam perihal jalan keselamatan, maka Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kisah Para Rasul 4:1-22.

    Sahabat, Petrus dan Yohanes ditangkap, ditahan, dan disidang. Mereka diancam dan dilarang keras untuk berbicara tentang Yesus. Namun, mereka tidak dapat dihentikan. Alasannya lugas dan logis: Jika keselamatan bagi manusia di seluruh dunia hanya ada di dalam iman kepada karya Yesus (ayat 12), bagaimana mungkin tidak menyebarluaskan pengalaman dan kabar baik ini kepada semua orang (ayat 20)? Tidak mungkin. Yesus sendiri pernah mengajar mereka, “Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yohanes 14:6).

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah pertanyaan berikut: Mengapa kita sibuk melakukan banyak hal yang baik, tetapi belum  sempat mengusahakan agar orang-orang dekat kita dapat mendengar Firman kehidupan dalam Kristus yang memerdekakan?  Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • Sebuah UCAPAN SYUKUR

    Mengucap syukur adalah sikap yang sangat baik. Kita mengucap syukur dalam segala hal. Mengucap syukur dalam bahasa Yunaninya adalah Eucharisteo yang artinya:  Penuh sukacita, merasakan kepenuhan,  terimakasih dan berterima kasih. 

    Sahabat, jadi sebuah ucapan syukur bukanlah sekadar kata – kata yang diucapkan melalui bibir saja, tetapi sebuah ucapan yang berasal dari dalam hati. Ucapan syukur terucap karena adanya sebuah kesadaran rohani akan kebaikan – kebaikan Allah di dalam hidup kita. Sebuah ucapan syukur berasal dari hati yang tulus dan diucapkan dengan sepenuh hati, bukan setengah hati.

    Ucapan syukur kita itu harus di dalam segala hal bukan hanya dalam sukacita saja tetapi walau kita sedang mengalami dukacita kita harus mengucap syukur. Kata “dalam segala hal” berasal dari kata “en pas”, yang memiliki arti: Dalam segala hal, dalam keadaan situasi, dan dalam keadaan segala kondisi. Dengan demikian adalah sebuah hal yang sangat penting bahwa kita sebagai orang – orang percaya menyadari bahwa adalah sebuah hal yang penting bagi kita untuk mengucapkan ucapan syukur sepenuh hati di dalam segala kondisi dan situasi.

    Memang ada banyak hal dalam hidup ini yang perlu disyukuri, ketimbang kita terlalu berkeluh kesah dengan hal yang menyusahkan. Ketika kita tidak bisa bersyukur, maka hidup kita akan dikuasai masalah. Masalah akan menjadi pusat perhatian kita dan bukan Tuhan yang memberi kita kekuatan untuk menang dari segala masalah. Dengan tetap berfokus pada yang baik ketika ada campuran yang tidak baik, kita bisa mengucap syukur dalam segala hal dan bersukacita senantiasa serta tetap berdoa.

    Sahabat, untuk menggali lebih dalam perihal mengucap syukur, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 1 Tesalonika 5:16-18. Berdasarkan hasil perenunganmu dari pembacaan kita pada hari ini, tuliskanlah beberapa pemahamanmu tentang mengucap syukur. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • IDENTITAS ORANG PERCAYA

    Sahabat, kasih adalah identitas orang percaya yang paling utama. Kita murid-murid Kristus dikenal oleh dunia ini ketika kita saling mengasihi. Semua simbol kekristenan yang ada, hanya sebuah tanda dan tidak akan berarti apa-apa kalau kita tidak melakukan kasih.   

    Perintah untuk mengasihi di satu sisi adalah perintah lama, tetapi di sisi lain adalah perintah baru. Perintah lama karena berasal dari Perjanjian Lama (Imamat 19:18), namun perintah baru karena Yesus memerintahkannya secara radikal dengan cara baru.

    Untuk memahami perintah baru dari Tuhan Yesus yang radikal tersebut, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yohanes 13:31-35.

    Perintah tersebut  berlaku untuk semua orang percaya di sepanjang masa, dengan kata lain kita dan semua orang yang berstatus sebagai anak-anak Allah. Kita yang telah ditebus dengan pengorbanan-Nya dan secara pribadi mengalami kasih Tuhan Yesus diberi kemampuan untuk mengasihi sesama dengan kasih dari surga. Kasih itu tidak hanya kita alami, namun kasih itu akan menjadi bukti bahwa kita adalah murid Tuhan Yesus.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini:

    1. Bagaimana  Yesus memandang rencana jahat Yudas untuk menyerahkan-Nya kepada para pemimpin agama Yahudi dan penyaliban yang akan dihadapi-Nya? (Ayat 31-32).
    2. Selain mengindikasikan keilahian-Nya, panggilan Yesus kepada para murid dengan sebutan “anak-anak-Ku” menunjukkan relasi yang bagaimana? (Ayat 33)
    3. Apa tujuan dan apa manfaatnya Tuhan Yesus memberikan perintah baru kepada murid-murid-Nya? (Ayat 34-35).

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • MENJADI orang yang MURAH HATI

    Salah satu karakter yang harus dimiliki setiap orang percaya adalah murah hati,  “Hendaklah kamu murah hati, sama seperti Bapamu adalah murah hati.”  (Lukas 6:36).  Kristus menegaskan hal ini saat Ia mengajar orang banyak di atas bukit,  “Berbahagialah orang yang murah hatinya, karena mereka akan beroleh kemurahan.”  (Matius 5:7).

    Sahabat, apakah yang dimaksud dengan murah hati? Murah hati berarti memerhatikan orang lain yang sedang dalam kekurangan, menawarkan bantuan kepada mereka yang terluka dan menderita.  Murah hati bukan hanya perasaan kasihan terhadap orang yang dalam kesulitan, bukan perasaan simpati yang diberikan dari luar saja, tetapi berusaha mengerti lebih dalam, sehingga dapat melihat dan merasakan apa yang orang lain rasakan. 

    Mempunyai kemurahan hati berarti punya kepedulian tinggi terhadap orang lain dan mau terlibat.  Ia tidak hanya menawarkan kata-kata nasihat atau mengupas panjang lebar ayat-ayat Alkitab di hadapan orang yang sedang dalam kesulitan tanpa berbuat apa-apa, melainkan ada sebuah tindakan.  

    Sahabat, apa upah bagi seorang yang murah hati?  Tuhan berjanji bahwa mereka yang memerhatikan orang lain dan menunjukkan kemurahan hati akan beroleh kemurahan juga sebagai balasannya, baik dari sesama maupun dari Tuhan sendiri.

    Untuk menggali lebih dalam tentang orang yang bermurah hati, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari ! Yohanes 3:11-18. Berdasarkan hasil perenunganmu dari pembacaan tersebut, tolong tuliskan makna dari murah hati (perhatikan ayat 14, 17, dan 18), Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • SAKSIKAN Pengalaman Hidupmu Bersama KRISTUS

    Sahabat, saksi biasanya dihadirkan dalam persidangan untuk memperkuat pembuktian perkara. Ia diundang untuk menceritakan apa yang dilihat, didengar, diperhatikan, atau dialaminya sendiri

    Apakah Sahabat pernah bersaksi untuk Yesus Kristus kepada orang lain? Kita bisa bersaksi melalui kehidupan dan pelayanan kasih, tetapi kita perlu juga bersaksi melalui  PERKATAAN. Kita bisa bersaksi tentang firman Tuhan yang kita dengar atau baca, tetapi dapat pula bersaksi dengan MEMBAGIKAN pengalaman hidup kita bersama Kristus kepada orang-orang lain.

    Sahabat, kita bersaksi agar orang lain pun ikut menghayati dan mengalami keindahan hidup bersekutu dengan Bapa dan dengan Anak-Nya, Yesus Kristus.  Apa yang kita saksikan tidak harus peristiwa-peristiwa yang luar biasa, yang spektakuler.  PENGALAMAN SEDERHANA SEHARI-HARI bersama dengan Tuhan, bila disaksikan dengan sungguh hati, bisa juga menjadi berkat yang luar biasa bagi orang-orang lain.

    Keselamatan, pemeliharaan, kebaikan, kasih dan anugerah Allah yang kita alami bisa kita bagikan kepada orang-orang lain.  Bukan hanya kehidupan lancar dan berhasil yang bisa kita saksikan, tapi penyertaan, pertolongan,  dan pemeliharaan Tuhan dalam masa-masa sulit seperti saat ini juga dapat kita bagikan.

    .

    Untuk itu Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 1 Yohanes 1:1-4. Dalam bacaan tersebut, ada pengulangan kata “lihat” sebanyak tiga kali (ayat 1-3), kata “dengar” dua kali (ayat 1 dan 3) dan kata “beritakan” dua kali (ayat 2-3), apa maknanya bagimu? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • KRISTUS: Sang Roti Hidup

    Manusia membutuhkan makanan dalam hidupnya. Kalau tidak makan ia akan kelaparan dan tidak dapat bertahan hidup. Manusia perlu makan untuk hidup, tetapi ia tidak hidup untuk makan. Ada sesuatu yang lebih dari sekadar makan yang seharusnya dicapai oleh manusia. Pada saat Iblis mencobai Yesus untuk merubah batu-batu menjadi roti, Ia menjawab,  “Ada tertulis: Manusia hidup bukan dari roti saja, tetapi dari setiap firman yang keluar dari mulut Allah” (Matius 4:4).

    Sahabat, Tuhan Yesus tidak mengabaikan kebutuhan jasmani manusia. Ketika Ia melihat orang banyak yang sedang lapar, Ia memberi mereka makan. Jumlahnya ada 5000 orang laki-laki, belum termasuk kaum ibu dan anak-anak. Ia memberi mereka makan dengan lima roti dan dua ikan yang dipersembahkan seorang anak kecil. Apakah cukup? Lebih dari cukup, bahkan ada sisa dua belas keranjang. Mukjizat telah terjadi.

    Orang banyak tertarik pada roti, tetapi gagal melihat Sang Pemberinya. Itulah yang seringkali menjadi kegagalan manusia: Mendambakan berkat lebih dari pada Sang Pemberi Berkat. Masalah inilah yang menjadi awal bagi Tuhan Yesus Kristus untuk membicarakan tentang roti hidup.  

    Maka Bacaan Sabda  pada hari ini saya ambil dari Yohanes 6:24-40. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini:

    1. Siapa  yang dimaksud dengan roti hidup itu?  
    2. Bagaimana cara menerima roti hidup itu?  
    3. Bagaimana memberitakan Kristus di dalam dunia yang cenderung menolak-Nya?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • SEPERTI APA KITA DIKENANG

    Miliki kehidupan yang bisa memberkati untuk waktu yang lama bahkan setelah kita tiada adalah BENAR-BENAR SESUATU.  Sahabat, hidup kita di dunia memang singkat, namun kenangan yang kita wariskan akan hidup selamanya. Seperti apa kita dikenang orang, akan terbentuk dari sikap dan cara hidup kita, keputusan-keputusan yang kita ambil, karya-karya yang kita hasilkan dan seberapa besar kita memberi dampak kepada hidup orang lain.

    Sahabat, seperti apa kita dikenang akan sangat tergantung dari perilaku, keputusan, karya dan perbuatan kita di masa hidup. Kenangan akan kita bisa terus memberkati orang lain, tapi sebaliknya bisa pula “membusuk” di ingatan orang lain. Amsal Salomo berkata “Kenangan kepada orang benar mendatangkan berkat, tetapi nama orang fasik menjadi busuk.” (Amsal 10:7).

    Ada orang yang dikenang sebagai pribadi yang ramah, murah hati, setia kawan, sangat bersahabat, humoris,  pintar,  rajin dan sebagainya. Sebaliknya tidak sedikit pula orang yang terlupakan oleh waktu,  atau bahkan dikenang sebagai sesuatu yang negatif, seperti koruptor,  pemarah,  ringan tangan, suka mengutuki orang lain,  penipu, orang tidak tahu sopan, oportunis tulen dan sebagainya.

    Kita tentu rindu untuk meninggalkan kenangan yang baik bagi sesama kita. Tentu saja, bukan supaya mereka mengingat bahwa diri kita orang yang baik, melainkan supaya mereka dapat melihat kebaikan Tuhan. Melalui kebaikan-kebaikan kita, kiranya orang-orang di sekeliling kita bisa bersyukur dan melihat kasih Tuhan. Sebaliknya pula, kiranya kita senantiasa menyimpan kenangan tentang kebaikan hati sahabat-sahabat kita.   

    Sahabat, menjadi seseorang yang diingat oleh orang lain karena kenangan yang baik ternyata sungguh indah, tak terkecuali bagi jemaat di Filipi. Maka Bacaan Sabda pada hari ini  saya ambil dari Filipi 1:3-11. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tuliskanlah apa yang dikenang oleh Rasul Paulus tentang jemaat di Filipi dan apa doa Paulus untuk jemaat tersebut. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati.

  • DIA yang MEMULAI, DIA yang MENGAKHIRI

    Sahabat, dalam mengerjakan misi yang diamanatkan Bapa kepada-Nya, Kristus tidak pernah mengerjakan segala sesuatunya dengan setengah-setengah, tapi diselesaikan-Nya sampai tuntas, dan puncaknya adalah melalui pengorban-Nya di kayu salib untuk menebus dosa umat manusia.  Dia adalah Alfa dan Omega, Yang awal dan Yang akhir;  Dia yang mengawali dan Ia pula yang mengakhirinya. 

    Jadi jika di hari-hari yang telah lalu kita mengalami kebaikan, kasih dan penyertaan Kristus yang teramat sempurna, maka tidak mungkin hari ini, esok, atau lusa Dia lupa dan tak lagi menyertai kita.  Kalau Kristus sudah menyertai kita dari awal, Dia juga akan menyertai kita sampai akhir hidup kita, bahkan penyertaan-Nya sampai kepada kesudahan zaman, seperti yang dijanjikan-Nya,  “Dan ketahuilah, Aku menyertai kamu senantiasa sampai kepada akhir zaman.”  (Matius 28:20b). 

    Sahabat, penyertaan Tuhan atas kita takkan pernah berubah, asalkan kita tetap setia mengikut Dia sampai akhir dan hidup seturut dengan kehendak-Nya.  “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.”  (Wahyu 2:10).  Karena itu jangan sekali-kali kita meninggalkan Tuhan dan tidak lagi hidup menurut firman-Nya. 

    Yakinlah, selama kita tinggal dekat Tuhan dan menyediakan diri untuk disertai, pasti penyertaan-Nya akan selamanya beserta kita, “Sampai masa tuamu Aku tetap Dia dan sampai masa putih rambutmu Aku menggendong kamu. Aku telah melakukannya dan mau menanggung kamu terus; Aku mau memikul kamu dan menyelamatkan kamu.”  (Yesaya 46:4)

    Untuk menggali lebih dalam tentang tema kita “Dia yang mengawali, Dia yang mengakhiri”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil surat Filipi 1:3-11. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan tersebut, tuliskan dengan bahasamu sendiri keyakinan Rasul Paulus yang terdapat di ayat yang ke-6. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • KORNELIUS: Terpilih Sebagai yang PERTAMA

    Sahabat, setiap orang percaya diharapkan dapat menjadi surat yang terbuka yang dapat dibaca oleh semua orang yang berjumpa dan bergaul dengannya.  Melalui kehidupan kita yang menjadi berkat bagi orang lain nama Tuhan dipermuliakan.  Maka hari ini kita akan  belajar dari  Kornelius. Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kisah Para Rasul 10:1-48  

    Kornelius seorang yang saleh dan takut akan Tuhan, Kornelius juga seorang yang murah hati, suka menolong dan memberikan banyak sedekah kepada orang lain.  Kornelius juga tekun berdoa kepada Allah bukan hanya waktu-waktu tertentu, tapi setiap saat.  Kornelius juga seorang yang tulus hatinya, tidak ada kepura-puraan dalam hidupnya sehingga ia memiliki reputasi yang baik di antara segenap bangsa Yahudi.

    Sahabat, lalu apa yang kurang dalam diri Kornelius?  Ternyata Kornelius belum pernah mendengar nama Yesus dan belum percaya kepada-Nya.  Itulah yang kurang dalam diri Kornelius.  Kedatangan Petrus ke rumah Kornelius setelah dijemput dari Yope membuka babak baru dalam hidupnya.  Ketika berbicara dengan Kornelius Petrus tidak membicarakan hal-hal yang lain selain perihal Yesus Kristus karena itu yang sangat diperlukan oleh Kornelius. 

    Kornelius perlu mendengar perihal kehidupan Tuhan Yesus, baik itu kematian-Nya, kebangkitan-Nya dari antara orang mati dan juga kedatangan-Nya kelak kembali (ayat 42-43)

    Bukan saja Kornelius harus mendengar tentang Yesus Kristus, tapi dia juga harus percaya kepada-Nya dan menjadikan Dia sebagai Tuhan dan Juruselamat secara pribadi.  Kesalehan manusia tanpa Yesus Kristus tidak ada artinya apa-apa  (Kisah Para Rasul 4:12).

    Sahabat, Tuhan  memakai Petrus sebagai alat-Nya untuk melawat Kornelius. Tercatat Kornelius dan keluarganya menjadi bangsa kafir pertama yang menerima kabar baik dan keselamatan setelah kebangkitan Yesus. Maka berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong tuliskan mengapa Kornelius dan keluarganya terpilih dan menerima kasih karunia yang luar biasa dari Tuhan (perhatikan ayat 4). Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)