Category: Sejenak Merenung

  • Mengapa Sahabat BERSYUKUR?

    Saya yakin hampir semua orang pernah bersyukur, termasuk Sahabatku yang sedang membaca “Sejenak Merenung” ini. Permisi … Saya ingin bertanya, mengapa dan apa yang membuat Sahabat bersyukur?

    Ada orang yang bersyukur karena dapat sembuh dari sakitnya.  Ada yang bersyukur kartena dikaruniai Tuhan seorang anak. Ada yang bersyukur karena lulus ujian. Bagi Sahabat yang menjadi seorang pebisnis tentu bersyukur kalau usahanya berjalan lancar dan maju dengan pesat. Bagi Sahabat saya yang menjadi gembala jemaat tentu bersyukur kalau anggota jemaatnya terus bertambah dan sebagian besar dari jemaatnya bersedia terlibat dalam pelayanan di gerejanya. Bagi kawula muda tentu bersyukur kalau punya pacar. Tentu masih banyak hal yang membuat kita bersyukur.

    Sahabat, hari ini saya ajak untuk belajar dari Daud karena sangat menarik sekali ucapan syukur Daud.  Ia tidak bersyukur atas kekayaannya, bukan pula karena jabatan raja yang dimilikinya. Ia justru bersyukur untuk dua hal utama, yaitu firman Tuhan  dan pribadi Tuhan itu sendiri . Maka Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 33:1-22.

    Meski Mazmur 33 tidak memiliki latar belakang yang jelas, tetapi bukan kebetulan jika mazmur tersrnut ditempatkan setelah Mazmur 32, yang berbicara mengenai kebahagiaan orang yang diampuni Tuhan. Bila pada Mazmur 32 kita telah melihat betapa membahagiakannya pengampunan Tuhan,  maka pada Mazmur 33 kita diperlihatkan bagaimana pengampunan yang sempurna itu menjadi pendorong bagi pemazmur untuk berelasi akrab dengan Tuhan dan menjalani hidup dengan penuh ucapan syukur.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Sangat menarik, yang pertama Daud bersyukur karena FIRMAN TUHAN (ayat 4 -11). Apa saja sebabnya Daud bersyukur karena firman Tuhan? (Perhatikan ayat 4, 5, 9, dan 10-11)
    2. Yang kedua, Daud bersyukur karena PRIBADI TUHAN ITU SENDIR (ayat 12-18). Kepribadian seperti apa yang ada di dalam diri Tuhan yang menyebabkan Daud bersyukur? (Perhatikan ayat 13-15, 18, dan 19)
    3. Apa pernyataan yang dikatakan Daud dalam ayat 12?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • Undangan untuk MENGENAL TUHAN lebih DALAM

    Pepatah lama berkata,   “Tak kenal maka tak sayang”.  Bagaimana kita bisa mengasihi Tuhan jika tidak mengenal pribadi-Nya?  Pengenalan akan Tuhan bukan sekadar tahu Dia adalah Yesus Juruselamat manusia. 

    Sahabat, ada cukup banyak orang percaya merasa dirinya sudah mengenal Tuhan dengan baik, dibuktikan dengan rajin beribadah dan terlibat dalam pelayanan.  Padahal itu tidak menjamin sepenuhnya seseorang memiliki pengenalan yang benar akan Tuhan.  Yang dimaksud  mengenal  bukanlah sekadar tahu, tapi lebih dari itu, yaitu memiliki hati yang melekat pada Tuhan, dan ada persekutuan yang karib dengan-Nya yang terjadi secara terus-menerus.  Bila hanya sekadar tahu saja, maka kita tidak akan pernah tahu isi hati-Nya.

    Nabi Hosea menyadari betapa pentingnya kita mengenal Tuhan, karena itu ia mengundang kita untuk mengenal Tuhan (Hosea 6:3). Nabi Hosea mengingatkan kita semua bahwa Allah lebih menyukai kasih setia dan pengenalan akan diri-Nya daripada korban sembelihan dan korban-korban bakaran (Hosea 6:6)

    Sahabat, mengenal Tuhan akan membuat kita mengasihi-Nya. Selain itu, dengan mengenal Tuhan, kita lebih mengenal diri sendiri. Mengenali potensi yang Tuhan berikan kepada kita untuk hidup luhur dan memuliakan-Nya.

    Oleh karena itu marilah kita semakin bersungguh-sungguh di dalam Tuhan, lebih dan lebih lagi.  Mengenal Tuhan berarti mengerti isi hati-Nya, mengerti kehendak-Nya, mengerti rencana-Nya, menyelaraskan setiap langkah hidup seturut dengan firman-Nya, serta berusaha untuk tidak menyakiti atau mengecewakan Tuhan dengan ketidaktaatan.

    Untuk menggali lebih dalam tentang topik: “Undangan untuk mengenal Tuhan lebih dalam”, maka Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 2 Petrus 1:1-10. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa isi undangan Tuhan kepada kita? (ayat 2-3)
    2. Rasul Petrus mengingatkan kita tentang panggilan Tuhan yang harus kita kerjakan dengan sungguh-sungguh.  Tidak ada kata setengah-setengah dalam menjalani kehidupan kita sebagai orang percaya. Untuk itu apa saja yang perlu kita tambahkan kepada iman kita? (ayat 5-7)
    3. Apa janji yang disampaikan Rasul Petrus kepada kita? (Ayat 8 dan 10)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • NAMA BAIK dan KEKAYAAN

    Sahabat, dalam beberapa kesempatan bapak  Ev. Andreas Christanday, pendiri Yayasan Christopherus menyatakan bahwa orang percaya boleh menjadi kaya bahkan kaya raya, tapi yang paling penting untuk diperhatikan adalah bagaimana cara mendapatkan dan bagaimana cara menggunakan kekayaannya.

    Sedangkan bapak Pdt. Paulus Hartono dari Mennonit Diakonia Service menyatakan bahwa kalau orang sudah mendapatkan “jeneng” (nama), maka “jenang” (berkat, kekayaan) akan datang dengan sendirinya.

    Sahabat, hampir tidak ada orang yang bermimpi dan berdoa  supaya menjadi orang miskin. Jika bisa, tentu kita semua ingin hidup tanpa harus menghemat mati-matian. Kita bekerja banting tulang seharian bukan hanya ingin supaya hidup pas-pasan atau malah berkekurangan. Semua orang ingin bisa menikmati hidup, dan banyak orang percaya kenikmatan hidup itu berasal dari kekayaan. Uang dipercaya banyak orang bisa mendatangkan kebahagiaan. Karena pola pikir yang sudah mendarah daging tersebut, kemudian banyak orang yang rela melakukan apa pun agar bisa memperoleh uang lebih dari ala kadarnya.

    Ada cukup banyak remaja perempuan  yang rela menjual kehormatannya agar memiliki uang yang banyak untuk bisa hidup dalam kemewahan. Orang melakukan korupsi tanpa memikirkan risiko. Harga diri dan nama baik  keluarga pun tidak lagi dipandang sebagai sebuah hal yang penting kalau sudah bicara soal uang. Betapa ironisnya ketika orangtua bersusah payah membesarkan anak-anaknya agar mampu hidup dengan baik di masyarakat dan berbakti kepada  mereka, tetapi kemudian anak-anaknya malah melukai hati mereka dengan melakukan berbagai tindakan-tindakan yang tidak terpuji.  Gemerincing uang membuat banyak orang lupa diri dan tidak lagi mampu berpikir jernih.

    Sahabat, untuk memahami lebih dalam tentang topik nama baik dan kekayaan, maka Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Amsal 22:1-16. Berdasarkan hasil perenunganmu dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang engkau pahami tentang nama baik, kasih, dan kekayaan? (ayat 1)
    2. Apa hubungan antara kekayaan dengan bagaimana cara mendapatkannya, dan apa akibat yang harus ditanggung oleh si pelaku di kemudian hari? (ayat 4, 8, 11, dan 16)
    3. Selain bagaimana cara kita mendapatkan kekayaan, cara menggunakan kekayaan kita juga perlu mendapatkan perhatian dengan baik. Bagaimana pemahamanmu tentang hubungan antara  orang kaya dan orang miskin? (ayat 2 dan 9)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • Harumnya Sebuah KEMENANGAN

    Sahabat, pada awal Agustus 2021 di tengah-tengah pandemi Covid-19 dan suasana merayakan HUT ke-76 RI, dari Jepang,  kita mendengar berita yang menggembirakan, ganda putri bulutangkis Indonesia meraih medali emas.  

    Pasangan ganda puteri bulutangkis Indonesia, Greysia Polii dan Apriyani Rahayu, selain memperpanjang rekor medali emas di gelaran empat tahunan itu, mereka juga menorehkan rekor baru. Keduanya menjadi pasangan ganda putri pertama asal Indonesia yang meraih medali emas di ajang Olimpiade. Selain itu medali emas yang mereka raih, merupakan satu-satunya medali emas yang berhasil dibawa pulang kontingen Indonesia dalam Olimpiade 2020 di Jepang. Maka tak heran begitu banyak penghargaan dan hadiah yang diberikan kepada Greysia dan Apriyani. Betapa harumnyanya sebuah kemenangan.

    Berbicara tentang kemenangan, tak lepas dari yang namanya peperangan, perjuangan, kerja keras, jerih lelah, tetesan keringat, disiplin, dan pergumulan yang lain.  Begitu pula dengan  perjalanan hidup kita,  seperti berada dalam  medan pertandingan atau peperangan:  Berperang melawan musuh  (Iblis), berperang melawan kedagingan, juga bergumul dengan permasalahan hidup.  Tetapi kita patut bersyukur karena Kristus selalu membawa kita di jalan kemenangan-Nya. 

    Sahabat, kemenangan terbesar yang kita alami di dalam Kristus adalah kemenangan atas dosa!  Dosa adalah masalah terbesar yang dihadapi manusia, dan tak seorang pun manusia di dunia ini yang dapat menyelesaikan dosanya sendiri.  Kristus adalah satu-satunya jalan untuk manusia dapat memperoleh penebusan dosa (Efesus 1:7 dan Roma 6:12).  

    Untuk menggali lebih dalam topik tentang KEMENANGAN, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 2 Korintus 2:12-17. Berdasarkan hasil perenunganmu dari pembacaaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Kenyataan apa yang Rasul Paulus dapati ketika ia tiba di Troas? (ayat 12)
    2. Lalu apa yang membuat hati Paulus cemas dan gelisah? (ayat 13 dan 2 Koritus 2:4)
    3. Apa perbedaan,  Kristus bagi mereka yang diselematkan dan bagi mereka binasa? (ayat 15 dan 16)
    4. Apa makna implisit pernyataan Paulus di ayat 16 dan 17 bagi orang percaya saat ini?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg).

  • Siapakah SAUDARA Kita?

    Siapakah saudara kita? Secara jasmani atau berdasarkan keturunan, mereka yang satu ayah dan satu ibu dengan kita, serta pertautan keluarga dari kedua belah  pihak. Secara rohani, mereka yang seiman. Secara politik, mereka yang sebangsa setanah air.


    Sahabat, kehidupan kekristenan itu unik dan luar biasa, berbeda dengan agama atau kepercayaan lain.  Apa uniknya?  Semua orang yang percaya kepada Kristus sebagai Tuhan dan Juruselamat  (pengikut Kristus)  disebut bersaudara, padahal secara biologis kita lahir berbeda, tidak ada hubungan darah (Efesus 2:19).

    Persaudaraan adalah hal yang baik untuk selalu dirawat, baik persaudaraan karena adanya hubungan darah maupun persaudaraan karena kita disatukan dalam perjumpaan kita dalam perjalanan hidup (salah satunya dalam kehidupan berjemaat). 

    Sahabat, Paulus mengingatkan kepada jemaat Roma bagaimana mestinya mereka berlaku dalam kehidupan  persaudaraan iman; bagaimana tindakan kita sebagai saudara (Roma 15:1-2)

    Melalui karya penebusan Kristus semua orang percaya dibawa ke dalam satu persekutuan dalam diri Kristus sendiri dengan Bapa, karena Kristus telah menebus kita dengan darah-Nya sendiri, artinya Ia menganggap kita saudara-Nya  (Ibrani 2:11-13). 

    Sahabat, untuk menggali lebih dalam topik tentang: “Siapakah Saudara Kita?”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Injil Matius 25:31-46. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Tuhan Yesus menawarkan pengertian yang tak terduga. Siapa saja yang disebut sebagai saudara-Nya?
    2. Apa yang harus kita perbuat kepada mereka yang disebut sebagai saudara Tuhan Yesus tersebut?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg).

  • JANGAN TAWAR HATI

    Hidup itu penuh dinamika. Kadang kita merasa hidup begitu cerah, namun kadang juga merasa hidup ini begitu suram. Suramnya hidup biasanya kita alami jika kita berhadapan dengan sakit penyakit, masalah dalam keluarga,  atau pergumulan hidup lainnya.

    Sahabat, pengalaman hidup kita bercerita  bahwa akan ada saatnya kita mengalami kesesakan akibat masalah-masalah kehidupan. Kita dapat merasakan kesesakan ketika muncul sakit penyakit, bisnis yang tidak berjalan lancar, atau ketika musibah terjadi. Hidup yang penuh kesesakan hendaknya dihadapi dengan tenang dan kita jaga agar tidak menjadi tawar hati,

    Tawar hati diartikan sebagai suasana hati yang tidak gembira, tidak bernafsu, tidak bersemangat, atau tidak menaruh perhatian. Tawar hati adalah merupakan suatu kondisi emosional negatif atau energi negatif yang akan merusak hidup dan kesehatan seseorang. 

    Tawar hati merupakan akumulatif dari beragam energi negatif sepeti patah semangat, pesimis, tidak mempunyai pengharapan, tidak berdaya, putus asa dan perasaan negatif lainnya. Tawar hati dipicu oleh persoalan yang berkaitan dengan kesehatan, masalah finansial, persoalan dalam keluarga, problematika dalam dunia kerja, persoalan sosial yang tidak sehat dan sebagainya.

    Sahabat, dalam masa kesukaran, pada umumnya orang cenderung kecil hati, semangat menjadi menurun, energi positif menjadi berkurang, dan energi negatif semakin mendominasi. Roh kita menjadi lemah, dan diikuti oleh serangan fisik, berupa sakit penyakit yang bermunculan. 

    Untuk menggali lebih dalam topik tentang tawar hati, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Amsal 24:10. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut:

    1. Secara implisit apa yang ingin dinyatakan oleh bacaan kita pada hari ini?
    2. Berdasarkan bacaan kita pada hari ini, apa yang menyebabkan kita menjadi tawar hati?
    3. Apa yang dimaksud dengan kata “kekuatan” dalam bacaan kita pada hari ini?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • BERSAMA TUHAN MELEWATI LEMBAH KEKELAMAN

    Orang bijak berkata, “Tidak ada pesta yang tidak berakhir, dan tidak ada badai yang tidak berlalu”, yang artinya di dunia ini tidak ada yang kekal, semuanya akan berlalu, termasuk pesta dan badai, termasuk kesenangan dan kesusahan.

    Sahabat, pengalaman hidup kita bercerita bahwa dalam menjalani kehidupan ini kita pasti pernah mengalami dan merasakan masa-masa yang sulit, serasa berada dalam lembah kekelaman. Maka Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 23:1-6.

    Dalam Mazmur 23, Daud menggambarkan Tuhan sebagai Gembala yang baik. Dalam ayat 4 Daud menyatakan,  “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku; gada-Mu dan tongkat-Mu itulah yang menghibur aku” (ayat 4)

    Sahabat, dalam ayat 4 Daud menyebutkan bahwa ada dua benda yang selalu dibawa oleh gembala yaitu gada dan tongkat. Gada terbuat dari akar pohon dengan panjang tidak lebih dari 40-50 cm.  Itu adalah senjata ampuh untuk melawan hewan-hewan buas yang hendak memangsa domba-dombanya.  Gada ini adalah gambaran tentang jaminan perlindungan dan pembelaan Tuhan dari para musuh.

    Sedangkan tongkat berfungsi untuk menepuk-nepuk tubuh domba ketika domba mulai berjalan melenceng arah atau menjauhi kawanannya.  Tongkat ini berbentuk melengkung di bagian pangkalnya seperti gagang payung, agar dapat mengait badan atau leher domba yang jatuh terperosok di lubang atau di jurang.  

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang dimaksud dengan “lembah kekelaman” di ayat  4 dalam kehidupan kita?
    2. Apa makna atau arti kata “berjalan” di ayat 4?
    3. Mengapa kita tidak perlu takut ketika harus berjalan atau melewati lembah kekelaman?
    4. Apa yang Tuhan janjikan ketika kita tetap setia berjalan bersama dengan Tuhan melewati lembah kekelaman? (ayat 5 dan 6)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • MELESTARIKAN LINGKUNGAN

    Sahabat, bukan rahasia lagi bahwa kerusakan lingkungan terbesar terjadi akibat ulah manusia. Bukannya melakukan eksplorasi, manusia justru mengeksploitasi alam. Berbagai bencana alam seperti banjir bandang dan tanah longsor berkaitan erat dengan rusaknya lingkungan di sekitarnya. Pemanasan global yang sekarang sering dikampanyekan juga merupakan akibat kerusakan alam.

    Sesungguhnya Kewajiban untuk memelihara lingkungan dan alam semesta merupakan  perintah Tuhan.  Walaupun demikian, topik melestarikan lingkungan jarang dibahas dalam kotbah di gereja maupun tulisan renungan, mungkin  karena anggapan bahwa hal tersebut hanya menyangkut hal duniawi dan merupakan kewajiban pemerintah.

    Sahabat, sejak penciptaan dunia beserta isinya,  Tuhan mengingatkan kita bahwa selama hidup di dunia kita tidak boleh acuh tak acuh terhadap lingkungan hidup kita. Hal itu bukan saja menyangkut tanggung jawab kita atas keadaan alam, kesehatan lingkungan dan kebersihan lingkungan, tetapi juga menyangkut cara hidup dan tindak-tanduk kita yang bisa memengaruhi orang-orang di sekitar kita.

    Dalam segala sesuatu yang kita pikirkan, katakan dan lakukan, kita harus sadar bahwa kita adalah wakil dan duta besar kerajaan Tuhan di dunia. Selain itu, kabar baik yang kita sampaikan kepada seisi dunia, bukan saja mengenai kebahagiaan di surga tetapi juga mengenai keadilan sosial dan kesehatan lingkungan yang seharusnya bisa dinikmati setiap manusia di dunia.

    Untuk menggali lebih dalam topik tentang melestarikan lingkungan, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 2:15 dan Ulangan 20:19-20. Berdasarkan hasil perenunganmu dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini:

    1. Apa yang boleh dan tidak boleh dilakukan oleh bangsa Israel ketika memerangi musuh mereka? (Ulangan 20:19-20)
    2. Di kitab Kejadian dinyatakan bahwa seluruh alam semesta ini merupakan karya Tuhan yang diciptakan dengan sangat baik. Tugas apa yang diberikan Tuhan kepada manusia? (Kejadian 2:15)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • Lupa BERTERIMA KASIH

    Kami ingat dengan nasihat dari orang bijak: “Tuliskanlah segala kebaikan yang kamu terima di loh hatimu, sebaliknya tuliskanlah segala kebaikan yang telah kamu perbuat untuk orang lain di pasir dekat laut.” Kami terus mengingat dan berusaha mempraktikkan nasihat tersebut.

    Sahabat untuk menggali lebih dalam topik tentang: “Lupa BERTERIMA KASIH”, maka Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Lukas 17:11-19. 

    Dikisahkan saat itu, Yesus menyusuri perbatasan Samaria dan Galilea. Ia baru masuk ke sebuah desa. Saat itulah, ada sepuluh orang kusta meminta belas kasih-Nya dan memohon kepada Yesus agar ditahirkan.

    Sahabat, orang Yahudi menganggap penyakit kusta sebagai hukuman atas dosa tertentu dan mengucilkan penderitanya. Itulah sebabnya mereka hanya berteriak dari kejauhan, “Yesus, Guru, kasihanilah kami” (ayat 13). Mereka tidak dapat mendekati Yesus karena hukum Ibrani melarang orang kusta mendekati siapa pun.

    Sepuluh orang kusta itu tidak langsung meminta Yesus memberi kesembuhan. Mereka hanya meminta belas kasih-Nya agar sudi melihat penderitaan mereka.

    Sahabat, Yesus mendengar teriakan mereka dan menunjukkan kasih-Nya. Akan tetapi, apa yang Ia lakukan kemudian? Yesus tidak langsung menyembuhkan mereka. Ia pun tidak menjanjikan kesembuhan. Yesus terlebih dahulu ingin menguji ketaatan mereka. Ia memerintahkan agar mereka pergi menemui imam (ayat 14).

    Ternyata, para penderita kusta itu memiliki iman untuk menaati Yesus. Mereka menerima ujian dan membuktikan ketaatannya. Setelah itu, kesembuhan pun terjadi.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini:

    1. Mengapa kita perlu berterima kasih kepada Tuhan?
    2. Apa makna pernyataan Yesus dalam ayat 17 dan 18?
    3. Apa makna pernyataan Yesus dalam ayat 19?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • Terus BERBUAH dan Semakin BERKUALITAS

    Sahabat, pada hari ini,  saya sungguh bersyukur kepada Tuhan dapat merayakan ulang tahun yang  ke-65 bersama istri tercinta. Tuhan bukan hanya menciptakan kami tapi juga memelihara kami. Semoga di usia emas, kami dapat terus menceritakan bahwa Tuhan itu baik, kasih setia-Nya untuk selama-lamanya.

    Berkaitan dengan ulang tahun saya tersebut,  Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 92:13-16. Kami rindu dapat menikmati umur panjang dan tetap sehat, dan terus dapat menceritakan pengalaman hidup kami bersama Tuhan. Kami ingin seperti pohon kurma, di usia emas, kami ingin tetap berbuah dan buahnya semakin berkualitas.

    Sahabat, bukan tanpa alasan jika pemazmur menggambarkan kehidupan yang benar akan bertunas seperti pohon kurma.  Pohon kurma atau pohon palem adalah salah satu jenis pohon yang paling sering ditulis di dalam Alkitab, terutama Perjanjian Lama.  Pasti ada alasannya mengapa Tuhan sering menggunakan lambang pohon kurma ini di dalam firman-Nya.

    Proses perjuangan pohon kurma untuk bertumbuh dan menghasilkan buah meski hidup di tengah padang gurun adalah simbol dari kehidupan orang percaya yang dikehendaki Tuhan.  Berakar kuat, terus bertumbuh dan menghasilkan buah yang lebat meski harus diperhadapkan pada masalah dan penderitaan.  Masalah dan penderitaan adalah proses menuju kepada pendewasaan iman (Yakobus 1:12). 

    Untuk menjadi orang percaya yang bertumbuh dan berbuah sampai masa tua, tidak ada jalan lain selain harus berakar kuat kepada Tuhan Yesus yang adalah Sumber Air Kehidupan.  Tuhan menghendaki agar anak-anak-Nya menjadi seperti pohon kurma, tetap kuat dan menghasilkan buah meski di tengah kegersangan dan badai kehidupan.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong tuliskan  apa yang harus kamu lakukan agar walaupun usiamu terus bertambah, namun kamu dapat terus berbuah bahkan buahmu semakin berkualitas. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)