Category: Sejenak Merenung

  • Memperbarui MANUSIA BATINIAH

    Sahabat, kekuatan manusia batiniah membedakan respons orang percaya yang satu dengan orang percaya lainnya dalam menjalani hidup.

    Sesungguhnya kekuatan fisik tak selamanya sebanding dengan kekuatan batiniah seseorang. Maka kita perlu belajar menaruh perhatian lebih pada segala hal yang berkaitan dengan membangun manusia rohani melebihi perkara fisik. Hukum alam tak dapat dilawan, kondisi fisik kita akan menurun seiring berjalannya waktu. Namun, kita dapat meyakini janji firman-Nya, bahwa dengan kasih karunia-Nya, Dia akan menjadikan manusia batiniah kita semakin kuat. Tuhan akan memperbarui manusia batiniah kita sampai kelak kita menghadap Dia setelah tubuh kita dikebumikan atau dikremasi.

    Sahabat,  Tuhan berjanji bahwa di balik penderitaan ada kemuliaan.  Memang ada hal-hal yang kelihatan, tetapi ada pula hal-hal yang tidak kelihatan yang sifatnya kekal, dan kekekalan itu memang tidak kelihatan.   Kalau dalam hidup kita hanya terfokus pada apa yang kelihatan, kita akan mudah lemah dan tawar hati.  Memang, penderitaan yang kita hadapi itu kelihatan, tetapi ada yang tidak kelihatan yaitu kemuliaan.

    Pada hari ini kita akan belajar dari Rasul Paulus yang memiliki kunci kekuatan dalam dirinya, yang tidak tawar hati meski manusia lahiriahnya semakin merosot dari hari ke hari. Bacaan Sabda saya ambil dari 2 Korintus 4:16-18. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tuliskanlah apa yang menjadi keyakinan Rasul Paulus sehingga dia tidak menjadi tawar hati dalam menghadapi hari tua dan maut. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg) 

  • INJIL: Kekuatan Allah

    Injil adalah kebenaran dan perbuatan Allah yang layak diyakini siapa pun. Dalam Injil terdapat anugerah Allah yang memberikan hidup kekal bagi mereka yang memercayai-Nya. Inti Injil adalah Yesus Kristus.

    Injil, dalam bahasa Yunani, disebut euaggelion. Artinya  kabar baik, kabar gembira, berita baik. Inti dari kabar baik adalah kedatangan Yesus Kristus di dunia dengan gambar rupa Allah.

    Dia, Yesus Kristus, Anak Tunggal Allah Bapa, Mesias dan Juru Selamat manusia berdosa harus dihina, diolok-olok, dianiaya, menderita, disalib, mati, dikuburkan dan bangkit dari antara orang mati pada hari yang ketiga. Semuanya itu dilakukan-Nya dengan penuh belas kasihan untuk menebus dan menyelamatkan manusia dari hukuman dosa bagi yang percaya kepada-Nya.

    Sahabat, kedatangan dan penderitaan-Nya di dunia menandai dimulainya suatu pemerintahan Allah yang indah, luar biasa dan ajaib di bumi. Pemerintahan Allah dengan Injil sebagai dasar hukum yang paling utama dan terutama. Injil yang membawa kabar baik, sukacita dan damai sejahtera dan harus diberitakan kepada segala bangsa sampai ke ujung bumi. Injil yang menjadi kekuatan Allah dalam penebusan dan penyelamatan manusia dari hukuman dosa yang berujung kebinasaan kekal dengan nyala api yang tidak pernah padam selamanya.

    Menjalani hidup sebagai orang percaya itu tidak mudah karena kekristenan bukanlah suatu permainan, tetapi adalah suatu medan pertempuran.  Terlebih lagi hidup di zaman sekarang ini,  banyak ilah-ilah dunia yang siap menjerat dan menyeret orang-orang percaya yang tidak memiliki keyakinan teguh terhadap Injil.

    Sahabat, untuk mendalami topik kita pada hari ini, Bacaan Sabda saya ambil dari Roma 1:16-17.  Berdasarkan hasil perenungan Sahabat dari bacaan kita pada hari ini, tuliskanlah 2 keyakinan Rasul Paulus tentang Injil. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • MENGAMPUNI: Memerdekakan Kita dari Rasa Benci

    Sahabat, sesungguhnya mengampuni orang lain akan memerdekakan diri kita dari rasa benci, dan  kesabaran niscaya akan kita miliki ketika kita belajar mengampuni sebagaimana Kristus telah mengampuni kita.

    Sabar adalah sifat yang dipunyai oleh Kristus. Dia tidak melawan dan membalas pada saat diperlakukan semena-mena. Orang yang mempunyai sifat sabar, pasti ramah, penuh kasih, rendah hati, lemah lembut, suka mengampuni dan tidak mendendam.

    Sahabat, mengampuni adalah perintah Yesus kepada umat-Nya (Matius 18:35). Paulus menegaskan, sebagai manusia baru di dalam Kristus, kita diajak saling mengampuni. Mengampuni membutuhkan kerendahan hati, belas kasihan, kemurahan, dan kesabaran. Kita semua adalah orang-orang yang sudah diampuni. Harga pengampunan itu tak ternilai: kematian Yesus di kayu salib. Semakin kita menyadari besarnya anugerah tersebut, semakin kita dimudahkan untuk mengampuni sesama. Tuhan telah mengampuni kita sebelum kita menyebutkan rincian dosa kita. Dia melihat hati kita yang bertobat dan mengampuni segala pelanggaran kita.

    Orang yang mengampuni tidak menyimpan kesalahan orang lain di dalam hatinya. Mengampuni berarti memilih untuk melupakan kesalahan orang lain. Kadang orang tersebut tidak meminta maaf. Namun, dengan mengampuni, kita membebaskan diri dari rasa benci dan sakit hati yang membebani hati. Dengan hati yang terbebas inilah, kita dapat kembali melakukan panggilan hidup sebagai umat-Nya dengan lebih efektif.

    Sahabat, untuk menggali lebih dalam perihal kesabaran dan pengampunan, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kolose 3:12-17. Berdasarkan hasil renunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tuliskanlah apa kaitannya antara kesabaran dan pengampunan (perhatikan ayat 12 dan 13). Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)  

  • RASA CUKUP: Mutiara yang paling Berharga

    Tahukah Sahabat, sesungguhnya seseorang disebut kaya apabila dia sudah bisa merasa dan berkata: “Cukup.” Kapan kita merasa cukup? Seorang rekan muda berkata bahwa dia dapat merasa cukup jika honornya sudah mencapai UMR lebih sedikit. 

    Rasa cukup adalah mutiara yang paling berharga. Pengalaman hidup kita bercerita bahwa bahwa rasa cukup bukan kita bawa sejak lahir, ataupun sesuatu yang mudah dilakukan. Saya dan keluarga bersyukur kepada Tuhan karena Tuhan izinkan kami pernah merasakan  bagaimana rasanya mengalami kelimpahan maupun kekurangan. Kami pernah merasakan bagaimana rasanya tidak ada uang yang tersisa pada bulan itu, tapi juga pernah merasakan bagaimana senangnya karena ada dana yang tersisa yang dapat kami tabung pada bulan itu. Memang kadang kondisi keuangan kami   kurang bersahabat, namun pemeliharaan Tuhan menopang kami dengan kuat.

    Sahabat, saat kita berkelimpahan maupun kekurangan, memiliki rasa cukup merupakan tantangan tersendiri. Biasanya apabila materi mengalir dengan deras ke kantong kita, kita ingin aliran itu menjadi lebih deras lagi dan kita tidak akan puas sampai kapan pun. Sedangkan ketika kita sedang kekurangan, kita sering mengeluh, apalagi saat kita membandingkan hidup kita dengan orang lain. Mari teruslah belajar memiliki rasa cukup karena Tuhan selalu mencukupkan kebutuhan kita, bukan keinginan kita. Karena ketika kita bisa merasakan cukup atas semua yang sudah Tuhan beri, tanpa membanding-bandingkan dengan orang lain, kita akan menikmati  kedamaian dan ketenangan hidup.

    Rasul Paulus dalam suratnya kepada jemaat di Filipi memberi kita pelajaran berharga soal rasa cukup. Maka Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Filipi 4:10-20. Sahabat, berdasarkan  hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong tuliskan 3 berkat yang kamu peroleh dari pengalaman hidup dan pelayanan Rasul Paulus. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg) 

  • TUHAN PENOLONGKU

    Pandemi Covid-19 membuat cukup banyak orang kehilangan rasa aman. Kekhawatiran. kegelisahan bahkan ketakutan cukup banyak dirasakan.  Khawatir akan hari esok, gelisah karena tidak tahu kapan pandemi ini akan berakhir, dan apakah akan berubah menjadi endemi?

    Pandemi Covid-19 juga membuat cukup banyak orang yang kehilangan. Kehilangan pendapatan mereka sehari-hari, kehilangan pekerjaan, kehilangan usaha mereka, bahkan yang lebih mengerikan, cukup banyak yang kehilangan orang-orang yang mereka cintai. Bahkan ada yang tiba-tiba menjadi yatim, piatu atau yatim piatu.

    Sahabat, lalu bagaimana kita bisa mendapatkan rasa aman dan ketenangan?  Ketika ada situasi dalam hidup yang merampas rasa aman dan membuat kita khawatir,  apa yang harus kita ingat? Kemana dan kepada siapa kita mencari pertolongan?

    Ternyata, kekayaan yang berlimpah, jabatan yang tinggi, kekuasaan dan koneksi yang luas, serta kepandaian yang tinggi, tidak dapat dijadikan sebagai andalan sebagai penolong dalam masa pandemi Covid-19 seperti saat ini.

    Sahabat, untuk menggali tentang siapa penolong yang dapat kita andalkan, maka Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 121:1-8.

    Dalam penziarahannya, Pemazmur terus mengarahkan pandangannya ke banyak hal untuk menemukan penolong yang sejati. Ternyata bukan gunung-gunung.  Pada akhirnya Pemazmur diyakinkan bahwa hanya TUHAN yang dapat diandalkan sebagai PENOLONG.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong tuliskan 4 (empat) hal yang membuat Pemazmur yakin bahwa Tuhan itu penolong yang sejati. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • KESALEHAN yang SEJATI

    Ritual keagamaan tanpa dilandasi motivasi yang benar sesungguhnya kurang berkenan di hati Tuhan. Sebab bila demikian, kesalehan seseorang hanya bersifat lahiriah semata. Itulah yang terjadi pada bangsa Israel.

    Sahabat, hari ini kita akan mendalami topik tentang “Kesalehan yang Palsu dan Kesalehan yang Sejati”. Untuk itu Bacaan Sabda saya ambil dari Yesaya 58:1-14.

    Orang Israel yang mengaku diri sebagai umat Tuhan berlaku begitu religius. Setiap hari mereka beribadah kepada Tuhan dan mencari kehendak-Nya. Mereka juga setia melakukan perintah Tuhan (ayat 2). Dengan melakukan semua itu, umat merasa telah menyukakan hati Tuhan. Oleh karena itu alangkah terkejutnya mereka ketika menyadari bahwa ibadah mereka tidak membuat berkat Tuhan turun atas mereka (ayat 3).

    Sahabat, mengapa Allah tidak menghiraukan ibadah umat? Karena tindakan religius umat ternyata penuh kemunafikan. Mereka berpuasa, tetapi tidak menunjukkan sikap relevan dengan mengurbankan segala hasrat mereka. Mereka tetap mengejar kepentingan pribadi dan memperlakukan orang lain dengan tidak layak (ayat 3-4).  Puasa mereka tidak bertujuan meratapi keberdosaan mereka, melainkan manipulasi agar Tuhan memberkati mereka.

    Tentu saja puasa semacam itu  bukanlah jenis puasa yang diterima Allah. Puasa semacam itu hanya membuat orang menundukkan kepala dan bukan menundukkan hati di hadapan Allah. Mereka berpuasa dengan menggunakan pakaian berkabung, tetapi bukan karena meratapi ketidaktaatan mereka kepada Tuhan. Mereka mengira bahwa ibadah yang ditunjukkan dengan puasa dan pakaian kabung, lebih penting daripada sikap dan tingkah laku mereka. Pemahaman mereka ternyata berbanding terbalik dengan konsep Tuhan tentang ibadah.

    Sahabat, berdasarkan perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong tuliskan ibadah yang berkenan dan menyenangkan hati Tuhan yang menyebabkan Dia akan menurunkan berkat-Nya kepada kita (Perhatikan ayat 6-12, dan 14). Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • Betapa TUHAN itu BAIK

    Apakah Tuhan itu baik? Jawaban bisa beragam. Bisa tergantung situasi yang sedang kita alami, bisa tergantung pengalaman kita, dan jawaban bisa pula berbeda antara yang diucapkan dengan yang dirasakan.

    Sahabat, menjalani hidup memang tidak mudah. Kita akan sering berhadapan dengan berbagai kendala yang akan segera merampas sukacita kita dan menggantikannya dengan kesedihan, kekesalan atau bahkan kekecewaan. Di saat seperti itu kita akan melupakan segala kebaikan Tuhan yang sebenarnya nyata dalam hidup kita.

    Ada cukup banyak orang yang mengira bahwa jika Tuhan itu baik maka itu artinya hidup mereka seharusnya seratus persen tanpa masalah. Padahal sebenarnya bukan demikian. Ada kalanya Tuhan mengizinkan kita untuk mengalami kesulitan hidup, bahkan untuk berjalan dalam kegelapan, dengan tujuan supaya kita memiliki mental dan iman yang terlatih kuat dan tentu saja agar kita belajar untuk mengandalkan Tuhan sepenuhnya.

    Sahabat, ketika Tuhan menciptakan segalanya pada awal penciptaan, Tuhan memberi sebuah kesimpulan bahwa semua ciptaannya itu bukan hanya baik, tetapi dikatakan sungguh amat baik.” (Kejadian 1:31). Tidak satupun yang Dia ciptakan asal-asalan atau tanpa rencana. Jika terhadap alam semesta dan segala tumbuhan, hewan yang ada di muka bumi ini saja Dia rencanakan dengan matang, hingga hasilnya “sungguh amat baik”, apalagi terhadap kita, manusia ciptaan-Nya yang dibuat sesuai gambar dan rupa-Nya sendiri (Kejadian 1:26), dibuat hampir sama dengan Allah dan diberikan kemuliaan dan hormat (Mazmur 8:6). Sesungguhnya kebaikan Tuhan juga nyata di dalam perbuatan-perbuatan baik-Nya bagi manusia.

    Untuk mendalami masalah kebaikan Tuhan, maka Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 145:1-21. Dari hasil perenungan Sahabat, tolong tuliskan 6 (enam) kebaikan Tuhan yang ditulis oleh Daud (Perhatikanlah ayat 14 – 19). Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • ALLAH menjadi PAHLAWAN bagi Umat-Nya

    Pahlawan berarti orang yang memberikan diri membela, menolong, menyelamatkan, dan berkorban demi orang lain. Dalam masa pandemi Covid-19 yang sudah lebih dari satu tahun,  kehidupan kita setiap hari  pasti banyak menghadapi tantangan, kesesakan, pergumulan, keterbatasan, kesulitan, kegagalan, hambatan, dan berbagai rintangan lainnya. Kita butuh seorang pahlawan untuk menolong, mendampingi dan menyelamatkan kita dari berbagai pergumulan hidup yang tidak mudah tersebut. Tidak mungkin hanya mengadalkan kekuatan kita yang sangat terbatas.  Kita membutuhkan seorang pahlawan yang bisa menyelematkan kita dari cengkeraman ketakutan dan kekhawatiran.

    Sahabat, ada kabar gembira yang dibawa oleh nabi Zefanya bahwa  Allah bersedia menjadi pahlawan bagi kita. Sebagai pahlawan yang tidak terkalahkan, Allah pasti memberi kemenangan. Mengapa demikian? Karena Allah tidak akan mempermalukan setiap orang yang berharap dan datang kepada-Nya.

    Maka pada hari ini saya mengambil Bacaan Sabda dari kitab Zefanya 3:9-20. Dari perenungan tersebut tolong tuliskan 5 (lima) hal yang dilakukan oleh Allah untuk menyelamatkan dan menolong umat-Nya (perhatikan ayat 15-18 dan 20). Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • ALLAH itu LUAR BIASA

    Konon, burung rajawali tatkala ada badai menerpa tidak terbang menghindar sejauh mungkin dari badai tersebut, tetapi ia membiarkan dirinya berada di dalam badai dengan membentangkan kedua sayapnya untuk mengikuti ke mana arah putaran badai itu.  Dengan menyerap kekuatan badai tersebut si rajawali dapat terbang semakin tinggi di angkasa.  Terbang bersama badai adalah cara untuk melatih sayapnya sehingga ia semakin kuat dan kokoh.  Kedahsyatan badai justru berdampak positif bagi burung rajawali itu sendiri.

    Allah sebagai pencipta burung rajawali tentu jauh lebih luar biasa, jauh lebih dahsyat. Allah sebagai pencipta manusia dan alam semesta beserta isinya, tentu saja dapat mengatasi badai pandemi Covid-19 yang saat ini sedang menerpa Indonesia dan seluruh dunia.

    Sahabat, yang menjadi masalah, hampir semua orang menginginkan segala sesuatu yang serba instan, padahal jalan Tuhan tidak ada yang instan, semua harus  melalui proses. Ketidaksabaran menantikan Tuhan bertindak adalah faktor yang menyebabkan kita gagal melihat dan mengalami perkara-perkara besar dari Tuhan.  Nabi Habakuk menasihati,  “Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.”  (Habakuk 2:3). 

    Mengapa kita harus menanti-nantikan Tuhan?  Karena waktu Tuhan bukanlah waktu kita.  Melalui kesabaran dan ketekunanlah seseorang akan menerima apa yang dijanjikan-Nya, sebab segala sesuatu yang dijanjikan Tuhan tidak ada yang terlambat, dan juga tidak terlalu cepat.

     Untuk mendalami hal tersebut, maka Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesaya 40:12-31. Berdasarkan hasil perenungan dari bacaan tersebut, tolong tuliskan 3 (tiga) hal yang berkaitan dengan pribadi Tuhan dan apa yang harus Sahabat perbuat ketika badai kehidupan menerpamu. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg).

  • Menebarkan KEBAIKAN

    Surat Petrus yang pertama ditujukan kepada orang-orang pendatang, yang tersebar di Pontus, Galatia, Kapadokia, Asia Kecil dan Bitinia. Dengan demikian jemaat Tuhan adalah jemaat diaspora. Tersebar di berbagai kota termasuk Asia kecil. Mereka kebanyakan para perantau yang mengadu nasib di tempat baru.

    Sahabat, tentu saja mereka bak ikan di akuarium, kehidupannya dilihat orang dari berbagai penjuru. Kehadiran mereka diterima dengan beragam sikap. Ada yang menerima, ada pula yang menolak secara tegas. Karena itu, Petrus perlu menulis surat untuk mengingatkan agar mereka senantiasa menyatakan sikap hidup yang baik sebagai pengikut Yesus dengan cara menjauhi segala keinginan daging, bijaksana di tengah-tengah bangsa non-Yahudi, hormat dan tunduk pada peraturan yang ada, menghormati para pemimpin negara yang diberi kekuasaan untuk menegakkan keadilan bagi orang benar. Etika yang seperti ini diharapkan dapat menjadi cara menghilangkan kecurigaan, bahkan fitnah yang selama ini dialami oleh umat percaya.

    Sahabat, berangkat dari asumsi bahwa posisi dan kondisi jemaat Tuhan pada waktu itu hampir sama dengan posisi dan kondisi jemaat di Indonesia saat ini, maka Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 1 Petrus 2:11-17.

    Kebaikan yang jemaat Tuhan lakukan bukan semata-mata memiliki pamrih untuk bisa diterima, tetapi yang utama agar orang-orang dapat mengerti atau mengenal Kristus. Cara efektif untuk menghadapi segala fitnah, pandangan miring dengan perbuatan nyata, yaitu melakukan kasih dengan mewujudkan kebaikan kepada sesama dan ketaatan pada peraturan yang ada.

    Mari kita merenungkan bacaan kita pada hari ini. Dari hasil renungan tersebut,  tolong tuliskan 2 hal yang perlu dilakukan oleh jemaat Tuhan pada saat itu dan saat ini sehingga  keberadaan mereka dapat menjadi daya tarik bagi masyarakat di sekelilingnya untuk mengetahui lebih lanjut tentang siapa Tuhan mereka yang telah berhasil mengubah cara dan pola hidup mereka. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)