Category: Sejenak Merenung

  • MEMERHATIKAN dan MENGASIHI

    Sahabat, saya yakin, kita semua memiliki puluhan,  ratusan bahkan ribuan teman, tapi diantara mereka tentu ada yang menjadi sahabat, bahkan sahabat spesial atau sahabat kental.  

    Rasul Yohanes menulis 3 surat. Surat pertama Rasul Yohanes menulis  kepada anak-anak rohaninya secara umum (Surat 1 Yohanes). Surat kedua kepada seorang “ibu yang terpilih dan anak-anaknya” (Surat 2 Yohanes). Surat ketiga Rasul Yohanes ditujukan kepada Gayus, yang merupakan salah seorang anak rohaninya.

    Rasul Yohanes sangat mengasihi Gayus sehingga ia menulis surat khusus kepadanya, Itu berarti Gayus sangat spesial dalam kehidupan Rasul Yohanes. Dalam  bagian awal surat ini,   kita dapat melihat bagaimana sikap Yohanes yang sungguh sangat memerhatikan Gayus sebagai anak rohaninya.

    Bagaimana dengan kita? Sudahkah kita mengasihi sahabat kita seperti Rasul Yohanes mengasihi Gayus? Sudahkah kita memperhatikan, mendoakan, mengasihi, bahkan memberikan dukungan kepada mereka? Mungkin apa yang kita lakukan seperti mengirimkan WA yang berisi ayat-ayat Alkitab, atau mendoakan mereka dalam doa syafaat kita kelihatannya hanyalah hal sepele, tetapi dalam Tuhan, apapun yang kita lakukan pasti tidak akan sia-sia, selama kita melakukannya dengan tulus, dan dengan motivasi yang benar. Tuhan Yesus berkata, “… barangsiapa memberi air sejuk secangkir saja pun kepada salah seorang yang kecil ini, karena ia murid-Ku, Aku berkata kepadamu: Sesungguhnya ia tidak akan kehilangan upahnya dari padanya” (Matius 10:42).

    Sahabat, untuk mengenal lebih jauh hubungan Rasul Yohanes dengan Gayus, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari surat 3 Yohanes 1:1-4. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Bagaimana hubungan antara Rasul Yohanes dan Gayus? (ayat 1)
    2. Apa yang dilakukan Rasul Yohanes untuk Gayus? (ayat 2)
    3. Apa yang dirasakan oleh Rasul Yohanes ketika dia mendengar kabar tentang Gayus? (ayat 3-4)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • TUHAN menyediakan UPAH

    Sahabat, tanpa sadar kadang-kadang kita mengadakan hitung-hitungan dengan Tuhan!  Seharusnya selagi tubuh kita masih sehat dan kesempatan masih terbuka, mari kita maksimalkan semua potensi yang ada di dalam diri untuk melayani Tuhan dan melakukan yang terbaik bagi Dia, Tuhan menyediakan upah bagi setiap orang yang mau melayani-Nya dengan sepenuh hati (Amsal 14:23). 

    Kita harus bisa membedakan antara upah dan keselamatan!  Rasul Paulus  menyatakan, “Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah, itu bukan hasil pekerjaanmu: jangan ada orang yang memegahkan diri.”  (Efesus 2:8-9).  

    Dari pernyataan tersebut kita dapat mengerti bahwa keselamatan diberikan kepada orang percaya dengan cuma-cuma karena iman kita kepada Kristus, bukan hasil usaha kita, bukan karena perjuangan kita, bukan karena perbuatan baik kita, melainkan pemberian dari Tuhan, oleh karena kasih karunia-Nya semata. 

    Sedangkan untuk mendapatkan upah ada  harga yang harus kita bayar, kita harus berjuang, kita harus berusaha, kita harus bekerja keras untuk mendapatkannya.  Sahabat, upah terbagi menjadi dua bagian, yaitu upah selama di bumi dan upah di surga.  Pemazmur menyatakan bahwa orang benar tidak pernah ditinggalkan Tuhan  (Mazmur 37:25)  dan diberkati Tuhan  (Mazmur 112:1-3), artinya Tuhan menjamin kehidupan orang benar selama hidup di bumi;  dan ketika sampai di surga nanti, orang benar juga akan mendapatkan upahnya lagi dari Tuhan:  Mahkota kehidupan  (Yakobus 1:12), mahkota kemuliaan  (1 Petrus 5:4), dan berkat-berkat surga lainnya.

    Untuk menggali lebih dalam tentang perjuangan, ketekunan dan upah yang didapat, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari surat Ibrani 10:32-39. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini:

    1. Mengapa kita rela turut mengambil bagian dalam penderitaan? (ayat 34)
    2. Mengapa kita tidak boleh melepaskan kepercayaan kita? (ayat 35)
    3. Mengapa kita harus bertekun sampai akhir? (ayat 36)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • KETAATAN: Harga yang Harus DIBAYAR


    Sahabat, sesungguhnya setiap ketaatan selalu mendatangkan berkat, sebab Tuhan membalas setiap orang sesuai dengan perbuatannya.  “Terhadap orang yang setia Engkau berlaku setia, terhadap orang yang tidak bercela Engkau berlaku tidak bercela, terhadap orang yang suci Engkau berlaku suci, tetapi terhadap orang yang bengkok Engkau berlaku belat-belit.”  (Mazmur 18:26-27).

    Jadi jelaslah, di mana ada ketaatan di situ ada berkat;  sebaliknya, tak ada ketaatan tak ada berkat.  Jadi Tuhan menuntut ketaatan kita sebagai bukti bahwa kita percaya kepada-Nya dan mengasihi Dia.  Ketaatan kita kepada Tuhan itulah yang akan membawa kita kepada penggenapan janji Tuhan:  berkat, mukjizat, kemenangan, pemeliharaan, perlindungan dan keluputan dari hal-hal yang membahayakan. 

    Ada cukup banyak orang mengingini berkat Tuhan dan mengalami perkara-perkara besar dari Tuhan, tapi mereka sendiri tak mau membayar harga dalam hidupnya.  Mereka tak mau taat melakukan kehendak Tuhan tapi mengingini berkat Tuhan.  Bagaimana mungkin?

    Sahabat, Ishak adalah salah satu contoh tokoh yang mengalami berkat Tuhan secara luar biasa karena taat melakukan apa yang Tuhan perintahkan meski dalam situasi yang tidak mendukung sekalipun. Untuk itu Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kejadian 26:1-6 dan Kejadian 26:12-31.

    Ishak adalah satu-satunya ahli waris ikatan perjanjian Allah dengan Abraham. Ikatan perjanjian itu diteruskan kepada Yakub. Melalui Yakub lahirlah dua belas suku Israel. Meskipun Ishak adalah orang yang diberkati Allah, namun ia juga menghadapi masalah, tantangan, dan kesulitan, seperti kita juga. Saat itu terjadi bencana kelaparan di beberapa wilayah, termasuk Gerar. Ishak berniat mengungsi ke tanah Mesir, tetapi Allah mencegahnya dan menyuruh Ishak menetap di Gerar sebagai orang asing.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang diperoleh Ishak ketika dia taat menjalankan kehendak Tuhan? (ayat 12-13)
    2. Mengapa orang Filistin marah dan apa yang dilakukan oleh mereka? (ayat 14-15)
    3. Apa tanggapan Ishak terhadap tindakan Abimelekh yang sewenang-wenang? (ayat 16-17)
    4. Apa reaksi Ishak terhadap tindakan orang-orang Gerar yang mau menangnya sendiri? (ayat 19-22)
    5. Apa pengakuan Abimelekh tentang Ishak dan bagaimana tanggapan Ishak? Pada akhirnya apa yang terjadi antara Abimelekh dan Ishak? (ayat 26-31)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg).   

  • ATURAN dan KEBIJAKSANAAN TUHAN

    Sahabat, pengalaman hidup kita bercerita bahwa untuk segala sesuatu ada  waktunya.  Dalam dunia pertanian, ada waktu untuk:  membajak, mencangkul, menyiangi, menabur, dan memanen.   Jadi tidak seluruh waktu harus digunakan untuk membajak, atau tidak seluruh waktu kita gunakan untuk menabur saja, sebab nantinya juga ada waktu untuk memanen. (Pengkhotbah 3:1-2).      

    Dalam kitab Imamat 26:3-5a tertulis,  “Jikalau kamu hidup menurut ketetapan-Ku dan tetap berpegang pada perintah-Ku serta melakukannya, maka Aku akan memberi kamu hujan pada masanya, sehingga tanah itu memberi hasilnya dan  pohon-pohonan di ladangmu akan memberi buahnya.  Lamanya musim mengirik bagimu akan sampai kepada musim memetik buah anggur dan lamanya musim memetik buah anggur akan sampai kepada musim menabur. …”   Berkat disediakan bagi umat yang hidup menurut ketetapan Tuhan dan perjanjian-Nya.

    Saya ingat satu paribasan dalam bahasa Jawa yang diajarkan ketika saya duduk di bangku SD , “Desa mawa cara, negara mawa tata”,  artinya setiap tempat atau setiap daerah mempunyai adat dan aturan sendiri-sendiri.  Pribahasa tersebut dipakai untuk menunjukkan bahwa setiap daerah memiliki adat kebiasaannya masing-masing.  Jika sebuah desa atau negara saja memiliki tata aturannya sendiri, begitu juga Tuhan. Dia memiliki aturan dan  kebijaksanaan sendiri untuk menata kehidupan manusia.

    Sahabat, untuk mendalami masalah aturan dan kebijaksanaan Tuhan, Bacaan Sabda saya ambil dari  Yesaya 28:23-29. Firman Tuhan yang menjadi bacaan kita pada hari ini merupakan sebuah metafora yang mengambil latar pertanian untuk menunjukkan aturan dan kebijaksanaan Tuhan. Di bacaan kita, petani itu adalah

    nabi Yesaya yang melaksanakan kehendak Allah, yaitu menyampaikan pesan Allah kepada umat-Nya dan kepada semua pembesar.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Tolong tuliskan pemahamanmu tentang pekerjaan seorang petani berdasarkan ayat 24-27.
    2. Tolong tuliskan pemahamanmu tentang apa yang akan dilakukan oleh Tuhan berdasarkan ayat 28.

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • Selamat Tinggal MASA LALU

    Sahabat, di usia emas saat ini, saya dan istri seringkali lupa. Lupa menaruhkan kacamata, HP, bolpoin, dan lain-lain. Kami sering tiba-tiba lupa nama teman lama ketika berjumpa. Saya juga sering lupa dengan kata atau istilah yang akan saya sampaikan dalam satu pembicaraan. Semakin usia kita bertambah, kita menjadi seringkali lupa. Itu hal yang wajar dan manusiawi. Itu karena faktor usia.

    Tapi anehnya,dengan bertambahnya usia, kita justru semakin sulit melupakan apa yang ada di belakang kita, baik itu keberhasilan maupun kegagalan. Ternyata melupakan itu tidak mudah ya.  

    Masa lalu sudah berlalu dan tak mungkin terulang kembali karena waktu terus berjalan maju.  Ada sebagian orang yang membangga-banggakan masa lalu karena diwarnai prestasi dan kejayaan. Mereka terjebak dalam kisah romantisme yang diulang ulang.  Tetapi ada pula yang sulit sekali melupakan masa lalu karena penuh kegagalan atau hal-hal yang menyayat hati sehingga menimbulkan trauma yang berkepanjangan,   yang membuat mereka kehilangan damai sejahtera. Sesungguhnya jika kita terus menerus  dibayang-bayangi oleh masa lalu sampai kapan pun kita tidak akan pernah dapat menikmati masa kini dan berjuang untuk menggapai masa depan.

    Sahabat, untuk menggali topik tentang bagaimana kita dapat melupakan masa lalu, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Filipi 3:1b-16. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa dan bagaimana pemahaman Rasul Paulus terhadap keberhasilan masa lalunya? (ayat 7 dan 8)
    2. Apa yang menjadi kunci keberhasilan Rasul Paulus sehingga dia dapat dipakai oleh Tuhan secara luar biasa? (ayat 13)
    3. Apa yang menjadi tujuan hidup Rasul Paulus? (ayat 14)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • Penuhi PIKIRAN Kita dengan FIRMAN TUHAN

    Sahabat, berpikir positif itu sangat baik, karena menolong kita untuk menjaga diri kita dan tindakan kita kepada orang lain. Mengisi pikiran dengan hal-hal yang positif sangat penting karena hal itu akan berdampak dalam kehidupan kita, termasuk KESEHATAN kita.   Pikiran kita dapat menentukan setiap perkataan dan tindakan kita.  Maka pada pagi hari sebelum kita melakukan aktivitas kita, sangat baik bila kita memenuhi pikiran kita dengan firman Tuhan, maka selanjutnya kita akan melihat hal-hal yang baik mengikuti kita di sepanjang hari.

    Lawan dari berpikir positif adalah berpikir negatif. Berpikir negatif sangat merugikan diri kita sendiri. Sahabat, apakah hari-hari kita masih dipenuhi dengan pikiran-pikiran yang negatif?  Khawatir, takut, cemas, putus asa dan sebagainya?  Tanggalkan itu semua!  Jangan biarkan Iblis menjajah dan menghancurkan hidup kita dengan menebar hal-hal negatif di dalam pikiran kita.  Kita harus bisa melawannya! 

    Bawa semua beban permasalahan kepada Tuhan!  Kuncinya pada pikiran kita sendiri, bukan pada tangan orang lain.  Penulis Amsal mengingatkan,  “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia”  (Amsal 23:7-a). 

    Sahabat, mari kita belajar untuk mensyukuri segala berkat Tuhan yang ada pada kita, Hal tersebut  akan membebaskan kita dari beban-beban kehidupan yang menjadi sumber kekhawatiran dan ketakutan kita. Dengan berpikiran positif, sesungguhnya  kita sedang mengaktifkan iman kita untuk bekerja,  dan  pada saat yang tepat pasti akan terjadi dan menjadi kenyataan! Karena itu, teruslah berlatih berpikir positif agar hidup kita beroleh damai sejahtera.

    Hari ini kami mengajak Sahabat untuk memenuhi pikiran kita dengan firman Tuhan dengan Bacaan Sabda yang saya ambil dari  surat Filipi 4:4-9.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa nasihat Rasul Paulus kepada jemaat di Filipi? (Ayat 4)
    2. Apa syaratnya agar kita dapat bersukacita senantiasa? (Ayat 6)
    3. Bagaimana caranya agar damai sejahtera Allah dapat memelihara hati dan pikiran kita sehingga kita memiliki sukacita yang melimpah? (Ayat 7 dan 8)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • Roh Kudus: PENOLONG dalam DOA Kita

    Nama Roh Kudus berarti Pembela atau Penolong. Dia menolong kita saat berada dalam kesukaran dan pencobaan. Roh Kudus juga bekerja untuk membukakan pintu gerbang permintaan doa. Dia mengajar dan memberitahukan kita tentang rahasia permintaan doa, lalu menaikkan semua permohonan kita kepada Bapa, sebab seringkali kita tidak tahu hal-hal yang seharusnya kita doakan, termasuk segala keperluan kita sekali pun. Kita tidak tahu bagaimana memohonkannya kepada Tuhan dengan benar.

    Sahabat, tidak segala hal dalam hidup kita itu baik dengan sendirinya. Bahkan dosa membuat kehidupan manusia malah semakin buruk. Penulis kitab Kejadian sejak lama mencatat bahwa kecenderungan hati manusia selalu membuahkan kejahatan semata-mata (Kejadian 6:5). Tetapi, Allah itu hidup, baik dan setia. Itulah sebabnya, manusia perlu memercayakan dirinya kepada Allah yang tidak pernah melupakan ciptaan-Nya.

    Kalau mau jujur, doa,  yang merupakan hal yang penting dalam diri orang percaya, juga bukan perkara yang mudah! Tidak jarang kita tidak tahu apa yang semestinya kita ucapkan dalam doa. Tetapi, Allah tidak membiarkan kita dalam kebingungan. Roh Kudus sendiri berdoa kepada Allah dengan keluhan-keluhan yang tidak terucapkan.

    Untuk menggali lebih dalam topik Roh Kudus Penolong dalam doa kita, maka Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Roma 8:26-30.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari pembacaan kita pada hari ini, tuliskanlah dengan bahasamu sendiri pemahamanmu dari ayat 26, 27, dan 28 (tolong tulis pemahamanmu dari setiap ayat). Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg) 

  • Hanya DEKAT ALLAH aku TENANG

    Sahabat, ketenangan hati merupakan kebutuhan dasar setiap orang, karena  doa yang lahir dari hati yang tenanglah yang dapat merasakan hadirat Tuhan.

    Sesungguhnya ketenangan bukanlah bebas dari badai, tetapi kedamaian di tengah badai. Masalahnya kebutuhan hidup membuat sebagian orang kalang kabut. Pikiran pun jadi semrawut dan mudah sewot. Itulah sebabnya tak sedikit orang  ingin liburan,  melepas penat, menarik diri dari hiruk pikuknya dunia,  untuk  mencari sebuah ketenangan jiwa.

    Sahabat, sesungguhnya kebutuhan terdalam manusia, yakni rasa tenang. Situasi yang sangat cepat berubah sering membuat manusia merasakan kecemasan. Rasa cemas yang berlebihan akan membuat manusia tidak mampu melakukan apa pun. Dalam situasi seperti ini, sejatinya manusia hanya membutuhkan ketenangan. Rasa tenang membuat manusia dapat berpikir jernih, dan akhirnya mampu mengambil keputusan.

    Lalu di manakah kita akan menemukan ketenangan dalam hidup ini?  Banyak orang berpikir bahwa hidup tenang hanya akan mereka rasakan ketika mereka punya harta yang melimpah, rumah dan mobil mewah, punya satpam yang menjaga rumah  selama 24 jam penuh dan sebagainya.  Fakta membuktikan, banyak orang kaya yang hidupnya justru tidak pernah tenang: Selalu was-was dengan hartanya, khawatir dengan perusahaannya, khawatir dengan keselamatan dirinya dan lain-lain. 

    Untuk menggali lebih dalam mengenai  ketenangan dan bagaimana mendapatkannya, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 62:1-13.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang menjadi dasar Daud sehingga dia merasa tenang? (Ayat 2 dan 6)
    2. Apa ajakan Daud kepada umat? (Ayat 9), Mengapa Daud mengajak umat melakukan hal tersebut? (Ayat 12 dan 13).

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati.

  • HITUNGLAH BERKATMU

    Sahabat, pernahkah  menghitung berkat Tuhan yang telah Sahabat terima? Lalu apa tujuan Sahabat  menghitungnya? Masihkah Sahabat tetap dapat melihat berkat-Nya dan bersyukur ketika sedang menghadapi saat-saat seperti saat ini yang penuh dengan ketidakpastian, keterbatasan, serta banyak kesesakan dan kepedihan?

    Saat keadaan kita baik, semua lancar, sehat-sehat saja, dan penuh berkat, kita mudah saja memuji Tuhan. Namun, di kala kesusahan melanda, mengucapkan syukur kepada Tuhan menjadi terasa begitu sulit. Hal tersebut disebabkan fokus kita hanya tertuju pada kejadian, keadaan, kondisi, dan masalah yang sedang kita alami.

    Untuk menggali lebih dalam tentang menghitung berkat Tuhan dalam hidup kita, maka Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 40:1-18.

    Sahabat, dalam Mazmur 40, Daud  mengajak kita untuk sejenak melihat ke belakang. Ia berseru agar kita menghitung berkat Tuhan. Kita juga harus mengingat pengalaman masa kesusahan dan cara Tuhan menolong dan memberkati kita. Ternyata karya-Nya tidak akan terhitung jumlahnya dalam hidup kita. Cara itulah  yang akan menolong kita, sekalipun masa sulit melanda, namun kita tetap dapat bersyukur dan memuji Dia.

    Sahabat, pada bagian akhir dari Mazmur 40  berisi doa. Daud berharap agar dilepaskan dari bahaya yang sedang ia alami (ayat 12-18). Yang luar biasa, walaupun  Daud dalam keadaan terancam bahaya, dia  tetap  mengingat apa yang pernah Tuhan kerjakan dalam hidupnya. Ia menghitung berkat, penyertaan, dan pertolongan Tuhan (ayat 5 dan 6).

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini:

    1. Apa yang diakui Daud dalam ayat 2?
    2. Apa yang disaksikan Daud dalam ayat 3?
    3. Apa yang disampaikan Daud dalam ayat 4?
    4. Apa yang dinyatakan dengan tegas oleh Daud dalam ayat 7-9?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • MAU Dibentuk dan Diproses

    Sahabat, jadikanlah hidupmu  menjadi lebih  berguna dan berdampak bagi sesama. Mulailah dari hal yang paling sederhana, dengan saling menyapa, saling memerhatikan, dan saling mendoakan.

    Ada cukup banyak diantara kita yang berpendapat bahwa Tuhan hanya memakai orang-orang yang memiliki kecerdasan di atas rata-rata, orang genius, orang kaya, dan orang kuat saja, untuk Ia pakai sebagai kemuliaan-Nya. 

    Lalu, kita yang merasa diri sebagai orang yang biasa-biasa saja, dan tidak punya sesuatu yang bisa dibanggakan, menjadi rendah diri dan merasa tidak layak di hadapan Tuhan. 

    Untuk menggali lebih dalam tentang topik tersebut, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 1 Korintus 1:27-29 dan Efesus 3:14-21.

    Sahabat, ternyata justru orang-orang yang dipandang sebelah mata oleh dunia,  dan dianggap sebagai orang-orang biasa, dapat dipakai Tuhan secara luar biasa, karena Tuhanlah, yang dapat melakukan jauh lebih banyak daripada yang kita doakan atau pikirkan. 

    Tokoh-tokoh besar dalam Alkitab seperti Abraham, Musa, Daud, Gideon, Yosua dan lain-lainnya adalah orang-orang biasa yang dipakai dan diurapi Tuhan menjadi orang-orang yang luar biasa. 

    Jadi berbahagialah kita yang merasa sebagai orang-orang biasa, bersiap-siaplah, karena Tuhan akan memakaimu menjadi orang yang luar biasa.  Saat ini Tuhan sedang terus  mencari orang yang MAU, yaitu mau untuk DIPROSES dan DIBENTUK menjadi bejana-Nya yang mulia dan sangat berharga.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong tuliskan pemahamanmu tentang orang-orang yang dipakai oleh Tuhan secara luar biasa. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)