Category: Sejenak Merenung

  • ALLAH MAU PEDULI TERHADAP HAL-HAL KECIL

    Sahabat, hari ini  saya akan bercerita  tentang mukjizat tapi bukan tentang mukjizat-mukjizat yang besar. Melainkan tentang hal-hal kecil yang orang tidak pernah menyangka  bahwa Yesus Tuhan kita yang hidup dan berkuasa  akan mau peduli  dengan “hal yang kita anggap sepele”.  Cerita tersebut dapat Sahabat baca di Injil Yohanes 2:1-11.

    Di bagian inilah kita sering tidak menduga, bahwa Allah kita sangat peduli dengan “kebutuhan-kebutuhan kita yang kita anggap sepele”. Tanpa kita sadari, di pikiran kita sudah terbentuk bahwa yang namanya mukjizat itu kalau orang buta menjadi melihat; orang lumpuh menjadi berjalan; dan orang sakit kusta menjadi tahir. Kalau Tuhan Yesus menolong kebutuhan air anggur dalam sebuah pesta pernikahan itu bukan sebuah mukjizat?

    Sahabat, untuk lebih memahami topik tentang “Allah mau peduli terhadap hal-hal kecil”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 2 Raja-Raja 6:1-7. Di masa nabi Elisa, walau masyarakat Israel secara moral carut-marut, para nabi dibawah bimbingannya masih memerlihatkan kepedulian sosial dan kesehatian, gotong royong. Hal tersebut terlihat ketika tempat buat mereka berkumpul dan belajar sudah penuh sesak (ayat 1). Kemiskinan membuat mereka sehati saling bahu-membahu membangun tempat belajar yang lebih besar untuk kepentingan bersama (ayat 2). Di samping itu, Elisa sebagai pemimpin rohani turut membantu mereka (3-4a).

    Hal yang patut dipuji dari mereka adalah integritas dan dedikasi diri. Mereka belajar hal-hal rohani, tetapi mereka tidak mau menjadi beban bagi masyarakat Israel. Mereka bekerja keras dalam segala hal untuk mencukupi kebutuhan pribadi. Untuk membangun tempat baru, mereka sama sekali tidak meminta bantuan dana. Dengan akal budi serta kedua tangan dan kaki, mereka saling bergotong royong menebang pohon (ayat 4b).

    Dalam proses menebang pohon terjadi musibah, yaitu mata kapak jatuh ke air yang keruh dan dalam, sehingga tidak memungkinkan untuk diambil (ayat 5a). Orang yang meminjam kapak itu bingung melihat kejadian tersebut. Ia tidak tahu dengan cara bagaimana dapat  mengembalikan kapak itu, sebab ia sama sekali tidak memiliki uang. Mungkin dengan susah payah ia akan mengumpulkan uang, mungkin dengan meminta bantuan sana sini (ayat 5-b). Di tengah kegalauan itu, penghiburan dan pertolongan  Allah datang melalui Elisa. Hanya melemparkan sepotong kayu, mata kapak besi yang berat itu mengambang di permukaan air (ayat 6-7).

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tuliskanlah secara singkat pengalamanmu bagaimana Allah menolong memenuhi kebutuhanmu yang kamu anggap sepele. Panjang tulisan maksimal  satu halaman kuarto diketik dengan font 12 dan 1,5 spasi. Selamat sejenak merenung dan menulis, Tuhan memberkati. (pg)

  • ADA ALLAH, ADA PERTOLONGAN

    Allah tidak pernah berjanji bahwa hidup kita sebagai orang percaya akan selalu lancar dan tanpa kesulitan. Namun jangan putus asa, karena Allah menjanjikan bahwa Ia akan menuntun, menyertai, dan memberi kita kekuatan dalam menjalani kehidupan yang penuh permasalahan yang rumit.

    Suatu ketika, murid-murid sedang berada di dalam perahu dan Kristus juga turut serta, tapi Ia sedang tidur di buritan di sebuah tilam.  Tiba-tiba taufan dahsyat mengamuk dan ombak menyembur masuk ke dalam perahu sehingga perahu hampir penuh dengan air dan nyaris tenggelam.  Murid-murid menjadi sangat takut dan segeralah mereka membangunkan Tuhan,  “Guru, Engkau tidak perduli kalau kita binasa?”  (Markus 4:38-b).  Tuhan segera bangun dan menghardik angin itu dan danau pun menjadi tenang.  Berkatalah Tuhan kepada mereka,  “Mengapa kamu begitu takut? Mengapa kamu tidak percaya?”  (Markus 4:40). 

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Ada Allah, ada pertolongan”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesaya 41:1-20. Ayat 1-7 menggambarkan ketidakbergunaan berhala-berhala dan dilema orang-orang kafir yang memilih untuk bergantung kepada sesamanya, dan kepada berhala. Lalu Allah berseru kepada Israel yang telah Dia pilih agar tidak takut dan bimbang karena Allah menyertai mereka (ayat 8-10).

    Sahabat, tidak ada situasi apa pun dimana Allah yang Mahakuasa tidak dapat menolong kita. Dengan demikian kita tidak perlu takut kepada musuh yang marah, pada kelemahan diri kita sendiri, maupun keadaan yang begitu menyulitkan, karena ada Allah yang menyertai dan menuntun langkah kita.

    Berdasarkan hasil perenungan dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Banyak musuh yang marah terhadap Israel, lalu apa yang akan diperbuat Allah kepada musuh-musuh Israel tersebut? (Ayat 11-13)
    2. Walaupun umat Allah lemah, digambarkan sebagai “cacing Yakub” dan “ulat Israel”, lalu apa yang akan diperbuat Allah untuk menolong mereka? (Ayat 13-15)
    3. Keadaan begitu sulit sehingga orang-orang sengsara tidak dapat menemukan air hingga jadi kehausan, lalu apa yang diperbuat Allah untuk menolong mereka? (Ayat 17-19)
    4. Apa tujuan Allah menolong umat-Nya? (Ayat 20)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • MUKJIZAT dapat TERJADI setiap SAAT

    Saya sering menulis kepada Sahabat yang sedang sakit atau menjalani masa pemulihan pernyataan sebagai berikut: “TETAP JAGA HARAPAN. Dalam kegelapan, cahaya sekecil apa pun tetap memberi arah. Ketika Sahabat sedang sakit seperti saat ini, harapan sekecil apa pun tetap membuka kemungkinan. Ingat jangan pernah menyerah, tetap jaga harapan, sekecil apa pun, MUKJIZAT dapat terjadi SETIAP SAAT.”

    Sahabat, dinamika hidup terus bergulir, ada suka dan duka, sakit dan sehat, tertawa dan menangis, menabur dan menuai, berhasil dan gagal.  Namun yang pasti, dalam setiap keadaan Tuhan sanggup membuat segala sesuatu indah pada waktunya  (Pengkhotbah 3:11a).  Tuhan dapat menghadirkan mukjizat dan kemenangan dalam situasi yang bagaimana pun, yang secara manusia adalah mustahil tapi bagi Dia tak ada yang tak mungkin.

    Untuk memahami lebih dalam pokok bahasan tentang: “Mukjizat dapat terjadi setiap saat”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 2 Raja-Raja 4:1-7. Kali ini nabi Elisa harus mengatasi problem seorang janda miskin. Sejak kematian suaminya, yang adalah seorang nabi, ia meninggalkan hutang yang banyak kepada istrinya. Selain itu, kondisi keluarga ini semakin terpuruk secara ekonomi.

    Belum lagi ditambah tenggat waktu melunasi hutang semakin dekat. Ancaman rentenir adalah dua anak laki-laki janda itu akan dijadikan budak (ayat 1-b). Hal itu memilukan hati si janda sebagai seorang ibu. Namun ia tetap bertahan dalam iman bahwa Allah pasti menolongnya. Itu sebabnya ia datang kepada nabi Elisa meminta pertolongan (ayat 1-a).

    Sahabat, iman membutuhkan tindakan konkret. Tanpa menjalani apa yang diimani, mustahil harapan kita menjadi kenyataan.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang ditanyakan oleh nabi Elisa kepada janda tersebut? Lalu apa jawab Si Janda? (Ayat 2)
    2. Apa yang diperintahkan oleh nabi Elisa kepada Si Janda dalam ayat 3?
    3. Apa yang diperbuat oleh Si Janda beserta 2 orang anaknya? (Ayat 4-6)
    4. Apa yang dikatakan nabi Elisa kepada Si Janda di ayat 7?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • KETAATAN mendatangkan KESEMBUHAN

    Ada cukup banyak orang percaya yang tidak suka dan  merasa alergi  jika mendengar khotbah tentang ketaatan, karena yang ada di pikiran mereka,   ketaatan selalu identik dengan larangan-larangan:  tidak boleh ini,  tidak boleh itu, sesuatu yang tidak boleh dilanggar, yang jika dilanggar ada sanksi atau konsekuensinya. Karena itu tidaklah mengherankan jika orang percaya lebih suka mendengar khotbah tentang berkat, keberhasilan, kemenangan, pemulihan, kesembuhan, mukjizat dan sebagainya.  Sesungguhnya kita perlu menyadari  bahwa berkat, keberhasilan, kemenangan, pemulihan, kesembuhan, mukjizat adalah dampak atau upah dari ketaatan seseorang.

    Sahabat, untuk mendalami topik tentang “Ketaatan mendatangkan kesembuhan”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 2 Raja-Raja 5:1-19. Naaman adalah salah seorang tokoh di dalam Alkitab, namanya tidak asing di telinga orang percaya.  Ia sangat terkenal, berkuasa, berpengaruh dan dihormati oleh banyak orang.  Sebagai panglima raja Aram bisa dikatakan sebagai tangan kanan raja, karena itu ia sangat dikasihi oleh raja.  Naaman bukan hanya seorang jenderal, tapi juga seorang pahlawan perang yang gagah perkasa.  Kontribusinya bagi negara tak diragukan lagi.

    Meski memiliki posisi tinggi dan terpandang ada satu noda dalam hidup Naaman. Dia menderita penyakit kusta.  Siapa pun orangnya dan setinggi apa pun pangkatnya jika terserang penyakit itu pasti dijauhi banyak orang;  apalagi di kalangan orang Ibrani penyakit kusta dianggap najis dan berbahaya karena dapat menular kepada orang lain.  Maka dari itu orang yang menderita sakit ini harus diasingkan dari masyarakat luas.  Tidak seorang pun yang diperbolehkan bersentuhan dengannya (Imamat 13:46).
     

    Akhirnya Naaman mengalami mukjizat kesembuhan ketika ia mau bertindak dalam ketaatan terlebih dahulu. Sahabat, di luar rahmat Allah, kehidupan manusia penuh pemberontakan. Hanya ketaatan semata, hidup kita mendapatkan sentuhan Allah.

    Berdasarkan hasil perenungan dari bacaan kita pada hari ini, jawabalah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Bagaimana jalan ceritanya sampai Naaman bersedia berangkat berobat ke Samaria? (Ayat 1-3)
    2. Ketika Naaman bertemu dengan nabi Elisa, apa yang diperintahkan oleh Elisa untuk dikerjakan oleh Naaman? (Ayat 10)
    3. Bagaimana reaksi Naaman ketika mendengar perintah dari Elisa? (Ayat 11-12)
    4. Akhirnya apa yang dilakukan oleh Naaman dan apa yang dia peroleh? (ayat 14)
    5. Apa pernyataan Naaman di depan Elisan? (Ayat 15)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • DISIPLIN: Tidak Ada Jalan Pintas

    Film yang berjudul “Sepatu Dahlan” menceritakan masa kecil Dahlan Iskan. Meskipun berkekurangan, orangtua Dahlan mendidik anak-anaknya untuk disiplin. Pernah sepulang sekolah, Dahlan kepergok mencuri sebatang tebu di perkebunan negara. Walau hanya sebatang, Dahlan tetap dihukum dengan sabetan rotan oleh orangtuanya. Ayah Dahlan berkata: “Bapakmu memang miskin, tetapi itu tidak berarti anak Bapak boleh mencuri. Sekarang mencuri sedikit, lama-lama mencuri banyak, merugikan semua orang!” Sejak hari itu, Dahlan berhati-hati dalam bertindak.

    Sahabat, disiplin berlatih juga menjadi nasihat rasul Paulus kepada Timotius muda. Paulus ingin agar anak rohaninya itu menjadi pelayan yang mumpuni dalam mengajarkan firman Tuhan (1 Timotius 4: 6 dan 13). Namun, hal itu tidak dapat terjadi begitu saja. Timotius harus melatih diri dalam membaca Kitab Suci dan menggunakan karunianya mengajar. Kata “latihlah” dalam bahasa Yunani adalah gumnazo, yang juga merupakan asal kata Inggris gymnasium, tempat para olahragawan berlatih fisik. Tidak ada jalan pintas. Tentu saja, menjadi pelayan yang disiplin bukan tujuan akhir. Latihan rohani hanyalah sarana yang menjadikan Timotius lebih leluasa dipakai Allah membawa keselamatan dan pertumbuhan bagi banyak orang.

    Bapa surgawi juga menghendaki anak-anak-Nya dapat hidup disiplin dan bertanggung jawab dalam bertindak. Meskipun Allah itu kasih, namun Ia tidak pernah memanjakan anak-anak-Nya agar mereka dapat menjadi dewasa serupa Kristus. Sebab Kristus adalah teladan disiplin rohani bagi kita dalam melawan dosa. Kedisiplinan dan ketaatan Kristus kepada Bapa surgawi telah dibuktikan di kayu salib. Sedangkan pergumulan dan kesulitan kita melawan dosa belum sampai level mencucurkan darah. Memang harus diakui bahwa yang kita hadapi belum sebanding dengan penderitaan Kristus. Meskipun begitu, kita perlu belajar terus-menerus dari teladan Kristus.

    Sahabat, untuk mendalami topik tentang “Disiplin: Tidak ada jalan pintas”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Ibrani 12:1-11. Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Jika Allah tidak mendidik umat-Nya, maka kita dianggap sebagai apa? (Ayat 8)
    2. Disiplin rohani tidak hanya membimbing kita untuk menjadi dewasa, lalu hal-hal apa saja yang akan kita peroleh? (Ayat 10)
    3. Proses pendisiplinan membutuhkan kerja keras, lalu hasil apa yang akan kita nikmati? (Ayat 11)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • Jadilah SAHABAT Sejati

    Walter Winchell, seorang wartawan dan juga komentator radio kenamaan Amerika menulis  tentang quote tentang sahabat sebagai berikut:  “Sahabat adalah seseorang yang menghampiri Anda, menemani Anda, di saat orang lain meninggalkan Anda.”  Artinya seorang sahabat yang sejati itu bukan hadir di kala senang saja, melainkan juga saat susah. Kualitas seorang sahabat akan teruji saat sahabatnya sedang berada di  bawah, sedang jatuh, sedang terpuruk.  Karena didasari oleh kasih yang tulus, seorang sahabat akan tetap berada di sisi sahabatnya di segala keadaan dan mau menerima keberadaannya secara utuh, apa adanya.

    Selain itu sahabat adalah orang yang tidak hanya sekadar menyenangkan hati sahabatnya semata, tetapi juga mau menegor dan ditegor, mau mengoreksi dan dikoreksi, yang kesemuanya itu demi kebaikan bersama. 

    Sahabat, untuk mendalami topik tentang “Jadilah sahabat sejati”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Amsal 17:17. Dalam Amsal 17:13-28, pengajaran dari pengamsal membahas seputar perilaku manusia dalam kehidupannya. Bila kita perhatikan, ada dua hal besar yang dibahas oleh pengamsal pada bagian ini, yaitu tentang kebebalan dan ketidakbijakan dalam hidup.

    Kontras dengan kebebalan dan ketidakbijakan yang membawa seseorang menuju duka dan kehancuran, pengamsal menyoroti bagian lain dari kehidupan manusia yang dapat membawa sukacita dan kebijaksanaan. Apa yang menyukakan dalam hidup? Keberadaan sahabat yang penuh kasih (ayat 17).

    Kasih seorang sahabat tak lekang oleh waktu, penuh komitmen dan teruji kesetiaannya, semua dilakukan bukan karena terpaksa, tapi penuh kerelaan.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong jelaskan secara singkat apa syaratnya untuk dapat menjadi seorang sahabat sejati. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • CARA TUHAN MENOLONG KITA

    Masalah adalah kata yang sering kita dengar dalam kehidupan sehari-hari. Tidak ada seorangpun yang  luput dari masalah,  baik masalah yang sifatnya ringan ataupun masalah yang sifatnya berat. Masalah adalah suatu kendala atau persoalan yang harus dipecahkan, dengan kata lain masalah merupakan kesenjangan antara kenyataan dengan suatu yang diharapkan dengan baik.

    Sesungguhnya, masalah  dapat membuat kita melihat kuasa Tuhan bekerja dalam hidup kita. Hanya Tuhanlah yang mampu serta sanggup menolong, sehingga jangan pernah cemas saat mengalami cobaan hidup. Serahkan setiap masalah pada Tuhan saja, karena apapun yang kita alami Tuhan selalu bekerja dan mendatangkan kebaikan bagi kita.

    Sahabat, saat menghadapi tantangan dan masalah, hadapi dengan tenang, jangan pesimis sebab bersama Tuhan pasti ada pengharapan dan jalan keluar. Tuhan Yesus bukan hanya mahakuasa, Yesus selalu peduli dengan keadaan kita. Ketika mengalami persoalan, bertekunlah di dalam doa supaya kita mendapatkan kekuatan untuk bertahan serta hikmat untuk menghadapinya.

    Sahabat, yakinlah Tuhan tidak pernah kekurangan cara untuk menolong kita. Bersama Tuhan kita pasti akan cakap dalam menghadapi setiap persoalan dan Yesus akan membawa kita menjadi pemenang.

    Untuk lebih memahami topik tentang “Cara Tuhan menolong kita”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 2 Tawarikh 20:1-26. Kekuatan perang Yosafat yang semakin besar mendorong bangsa Moab bersekutu dengan Amon, ditambah lagi pasukan orang Meunim yang menyerang kerajaannya. Saat musuh bersekutu dan kekuatan besar siap menyerbu, biasanya rasa takut akan muncul dan hal itu wajar. Ketakutan Yosafat membawanya datang kepada Tuhan. Karya ajaib Tuhan mengubah ketakutan menjadi sukacita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Armada perang musuh yang besar menggentarkan Yosafat, lalu apa yang diperintahkan raja Yosafat untuk dilakukan oleh segenap bangsanya? (Ayat 3-13)
    2. Apa yang diserukan dan dinyatakan oleh Yahaziel seorang penyanyi dari bani Asaf yang dihinggapi Roh Tuhan? (Ayat 14-17)
    3. Siapa yang di tempatkan di barisan depan oleh raja Yosafat? (Ayat 19, 21-22)
    4. Apa yang dilakukan oleh Tuhan sehingga Yehuda akhirnya dapat tampil sebagai pemenang? (Ayat 22-24)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • KESOMBONGAN: Suka Memuji Diri Sendiri

    Sahabat, salah satu ciri kesombongan adalah suka memuji diri sendiri, segala sesuatu berfokus pada  aku dan aku.  Sesungguhnya orang yang demikian merupakan orang yang penuh kelemahan, dan untuk menutupi sisi-sisi kelemahan dirinya, orang tersebut selalu bermegah atas dirinya. 

    Tidak sepatutnya kita memuji diri sendiri, biarlah pujian itu datang dari Tuhan.  Walaupun kita memuji diri tahan uji, tapi yang mengukur kualitas hidup kita ialah Tuhan.  Bila Tuhan yang memuji kita pastilah itu sesuai kebenaran dan kenyataan yang kita alami.  Sekali lagi perlu ditegaskan bahwa memuji diri sendiri sama dengan sombong, dan kesombongan adalah kebencian Tuhan.

    Sahabat, untuk memahami lebih dalam topik tentang “Kesombongan: Suka memuji diri sendiri”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 2 Korintus 10:12-18.  Bacaan kita pada hari ini menceritakan tentang sekelompok orang di Korintus yang membanggakan diri atas pertumbuhan jemaat Korintus. Mereka bermegah dengan menjadikan diri sendiri sebagai pusat untuk mengukur segala sesuatu, dan ini merupakan kesombongan.

    Paulus menyebut mereka bodoh! Mereka membanggakan sesuatu yang bukan hasil kerja mereka dan bermegah atas hasil kerja orang lain, yang mereka akui sebagai hasil pekerjaannya. Padahal itu adalah hasil kerja Paulus dan timnya dalam pemberitaan Injil.

    Sahabat, ingatlah, keberhasilan pelayanan kita terjadi karena campur tangan Tuhan, bukan karena kekuatan kita. Seorang pelayan Tuhan yang benar tidak akan memperhatikan penghormatan dan pujian dari manusia. Ia akan berusaha menarik perhatian orang hanya kepada Tuhan Yesus, bukan kepada dirinya sendiri.

    Sesungguhnya  bangga diri tidaklah salah, tetapi hendaklah kita bermegah di dalam Tuhan, karena kebanggaan yang terlepas dari kesadaran akan campur tangan Tuhan akan berubah menjadi kesombongan.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa makna pernyataan Rasul Paulus dalam ayat 13-15a?
    2. Sebutkan   3 macam kebanggaan (bermegah) yang benar menurut Rasul Paulus (Ayat 15b-16a; 16b; dan 17)
    3. Menurut Rasul Paulus, kebanggaan seperti apa yang patut kita miliki? (Ayat 18)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg).

  • Bak BEJANA PECAH di TANGAN Sang PANJUNAN

    Sahabat, Kintsugi  secara harfiah berarti sambungan emas.  KIN artinya emas dan TSUGI artinya sambungan. Kintsugi adalah kesenian yang berasal dari Jepang. Kintsugi yaitu seni memperbaiki bejana/vas yang rusak dengan pernis dan bubuk emas. Menariknya, sang panjunan tidak menutupi kerusakannya. Ia justru menyatukannya dengan pernis dan bubuk emas sehingga menonjolkan bagian yang rusak dengan emas dan membuat bejana itu lebih indah daripada sebelumnya.

    Seni Kintsugi akhirnya menjadi populer, barang-barang pecah belah yang pecah (rusak) disambung kembali menjadi   barang pecah belah yang indah, lebih indah daripada sebelumnya. Pada perkembangan selanjutnya, banyak yang sengaja menghancurkan bejananya untuk dibuat menjadi Kintsugi.

    Sahabat, untuk mendalami topik tentang “Bak bejana pecah di tangan sang panjunan”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 31:1-25. Dalam Mazmur 31, Daud melihat dirinya seperti bejana yang pecah (ayat 13) karena:  Tekanan hidup yang ia hadapi (ayat 8b-11), karena reputasinya yang rusak (ayat 12-13a), dan karena ada banyak orang yang ingin mencabut nyawanya (ayat 14).

    Dalam pergumulan hidup ini, janganlah lupa bahwa Tuhan punya kuasa untuk menguatkan ketika kita lemah. Ia juga punya kuasa untuk menegakkan ketika kita terjatuh. Berserulah kepada-Nya dan tetaplah memercayai kebaikan hati-Nya, karena bejana yang pecah sekalipun dapat dijadikan indah di tangan-Nya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Dalam kesesakannya, mengapa Daud berseru kepada Tuhan? (Ayat 2, 4, 20, dan 22)
    2. Dalam perjalanan hidupnya, Daud merasakan apa saja yang telah Tuhan perbuat bagi dirinya? (Ayat 8-9, dan 20-23)
    3. Walaupun Daud mengalami banyak kesukaran dan penderitaan, prinsip apa yang selalu dipegang dan dipraktikkan oleh Daud? (Ayat 7 dan 15)
    4. Berdasarkan pengalaman hidupnya, apa yang Daud pesankan kepada umat Tuhan? (Ayat 25)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • HIDUP dalam KASIH

    Sahabat, empati adalah kemampuan untuk memahami apa yang dirasakan orang lain, melihat dari sudut pandang orang tersebut, dan juga membayangkan diri sendiri berada pada posisi orang tersebut. Empati memainkan peran penting dalam membangun dan menjaga hubungan antara sesama manusia.

    Perbedaan tingkat empati ini bisa dipengaruhi oleh beberapa faktor, antara lain lingkungan sosial di masa kecil ataupun sekarang, cara pandang terhadap sesuatu, pola asuh orangtua, pengalaman masa lalu, dan harapan-harapan yang dimiliki.

    Sahabat, dalam banyak kesempatan ketika kita merasa bersyukur terhindar dari kejadian buruk, kita seringkali lupa bahwa ada orang lain yang mungkin tidak seberuntung kita. Benar, kita memang patut bersyukur atas penyertaan Tuhan pada diri kita, yang menghindarkan kita dari kejadian-kejadian buruk, namun kita harus menjaga agar jangan sampai kita mengabaikan orang lain yang tertimpa masalah. Maksud saya, jangan sampai kita mensyukuri keuntungan lalu lupa dengan orang yang menderita, atau malah bergembira di atas kesusahan atau musibah yang menimpa orang lain.

    Bentuk kasih yang dianugerahkan Tuhan kepada kita bukanlah bentuk kasih yang hanya terfokus kepada diri sendiri saja, tetapi justru tertuju kepada sesama kita. Itu bisa lewat berbagai bentuk seperti simpati, empati, rasa sepenanggungan, kepedulian dan sebagainya. Alangkah keterlaluannya jika kita mengaku sebagai orang percaya yang rajin bersyukur, namun kita mengabaikan orang-orang lain yang tengah tertimpa musibah karena kita terlalu sibuk mensyukuri diri sendiri.

    Belas kasihan membuka pintu bagi perubahan yang nyata. Supaya tindakan dan perkataan kita menjadi berarti bagi seseorang, maka terlebih dahulu kita perlu memastikan diri kita benar-benar mengasihi mereka. Apakah saat ini saya sudah hidup di dalam kasih?

    Sahabat, untuk memahami topik tentang “Hidup dalam kasih”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Roma 12:9-21. Berdasarkan hasil perenunganmu dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Agar jemaat Roma mengerti bagaimana hidup dalam kasih, Paulus memberikan beberapa nasihat kepada mereka:
    2. Apa nasihat Rasul Paulus dalam ayat 9?
    3. Apa nasihat Rasul Paulus dalam ayat 10?
    4. Apa nasihat Rasul Paulus dalam yat 12?
    5. Apa makna nasihat Rasul Paulus dalam ayat 15?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)