Category: Sejenak Merenung

  • KECIL namun BERDAMPAK BESAR

    Hari ini,  Selasa 16 November 2021, Departemen Persekutuan Biji Sesawi (PBS) Christopherus tepat berulang tahun yang ke-30. Misi Departemen PBS yaitu menggalang dana secara rutin dan kolektif kemudian menyalurkannya untuk memberi beasiswa bagi mahasiswa theologia yang kurang mampu, memberi tunjangan hidup kepada guru-guru agama Kristen honorer yang mengajar di SD-SD Negeri dan memberi tunjangan hidup kepada hamba-hamba Tuhan yang melayani  di pedesaan dan pedalaman.

    Sahabat, mengapa diberi nama Biji Sesawi? Hal Kerajaan Allah itu seumpama biji sesawi yang ditabur di tanah. Memang biji itu yang paling kecil dibandingkan dengan segala jenis benih yang ada di bumi. Tetapi apabila ia ditaburkan, ia tumbuh dan menjadi lebih besar dari pada segala sayuran yang lain dan mengeluarkan cabang-cabang yang besar, sehingga burung-burung di udara dapat bersarang dalam naungannya.  Walaupun kecil, namun dapat berdampak besar.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “KECIL namun BERDAMPAK BESAR”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Injil Markus 4:30-34. Yesus menyatakan pengajaran-Nya dengan menggunakan perumpamaan. Tujuannya  agar mudah dipahami orang pada waktu itu dan masa kini. Peristiwanya sudah lampau, namun makna dari perumpamaan itu terus bergema hingga zaman now. Yesus memberikan perumpamaan Kerajaan Allah seperti biji sesawi yang ditanam dan memberikan hasil yang besar.

    Kerajaan Allah adalah kiasan yang ingin menggambarkan kuasa Allah dalam suatu keadaan. Allah berkuasa sepenuhnya di dalamnya. Hadirnya Kerajaan Allah membuat manusia dapat menjalani kehidupannya dalam kuasa pimpinan Allah.

    Hal Kerajaan Allah digambarkan seumpama biji sesawi (ayat 31). Dalam kehidupan sehari-hari orang Yahudi sangat memahami biji sesawi sebagai biji yang paling kecil dari segala biji. Istilah biji sesawi digunakan untuk menjelaskan hal yang paling kecil. Biji yang paling kecil itu setelah ditaburkan akan menjadi tumbuhan yang besar dan kuat (ayat 32). Sesuatu yang kecil dan tidak bermakna jika didiamkan saja, selamanya akan menjadi tidak berguna. Namun jika diserahkan dalam kuasa Allah, maka akan menghasilkan manfaat besar dalam kehidupan kita.

    Seperti biji yang ditanam akan menjalani proses dari Allah ketika mengalami pertumbuhan sampai menjadi pohon yang besar, demikian pula hal kecil yang membuat kita merasa tak berarti, jika semuanya diserahkan kepada Allah akan memberikan hasil yang berguna.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, apakah sudah sesuai dan selaras nama Departemen PBS dengan apa yang menjadi misinya? Mengapa? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

    —————————-

    Bagi Sahabat yang tertarik dengan pelayanan Departemen PBS, silakan hubungi saya melalui WA. Saya akan mengirimkan informasi yang  lebih lengkap tentang mereka. Doakan dan dukunglah pelayanan Departemen PBS. Tuhan memberkati.

  • TAJAM MENUSUK dan MENANCAP di HATI

    Pedang bermata dua adalah senjata  yang dipakai oleh bangsa Romawi di zaman dahulu, memiliki panjang sekitar 0,75 meter, ditajamkan di kedua sisinya dengan ujung yang tajam pula.  Jadi, ke arah mana saja seorang tentara Romawi mengayunkan pedangnya, dia sedang mengayunkan kematian; siapa pun yang mendekat pasti akan terluka.  Dengan senjata itulah bangsa Romawi mampu menaklukkan dunia.

    Sahabat, firman Allah hidup dan kuat dan lebih tajam dari pada pedang bermata dua mana pun; karena itu tak heran ada sebagian orang percaya yang tidak suka mendengarkan atau membaca firman Tuhan,  bagian ayat-ayat yang menegur tentang dosa dan memerintahkan orang harus berubah dan bertobat, karena sangat menyakitkan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “TAJAM MENUSUK dan MENANCAP di HATI”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Ibrani 4:1-13. Firman Tuhan itu kuat dan tajamnya melebihi pedang bermata dua karena firman itu hidup. Jadi kalau seseorang, siapa pun orang itu, menyampaikan kebenaran firman Tuhan yang sangat menyakitkan dan menyinggung hati karena menegur dosa, jangan keraskan hati (ayat  7). Kita justru harus bersyukur mendapatkan firman itu karena itu tanda Tuhan masih  mengasihi dan mau kita berubah menjadi lebih baik. Firman Tuhan itu berguna untuk menumbuhkan iman kita yang mendengar atau membaca dan melakukannya. 

    Tuhan sangat ingin kita masuk ke dalam perhentian yang Tuhan sediakan. Jadi, terima setiap firman Tuhan dan lakukan setiap perintah-Nya. Sambut setiap ayat yang kita baca atau dengar dengan hati yang lemah lembut supaya kita bisa  dibentuk. Bersyukurlah kalau firman Tuhan yang disampaikan seseorang sangat menancap dan menyakiti hati, dan segera bertobatlah.

    Sahabat, lembutkan hatimu saat menerima firman Tuhan yang tajam menusuk dan menancap di hati.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa nasihat yang perlu terus kita ingat yang terdapat pada ayat 7?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 10?
    3. Apa nasihat yang terdapat di ayat 11?
    4. Apa maknanya: Firman Allah hidup yang terdapat di ayat 12? (Baca Yohanes 1:1 dan 14)
    5. Apa maknanya: Firman Allah lebih tajam daripada pedang bermata dua mana pun yang terdapat di ayat 12? (Baca Efesus 6:17)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • Ketika ada SI LEMAH dan SI KUAT

    Sahabat, ada saatnya ketika perbedaan tak dapat disatukan, yang harus kita lakukan adalah saling menerima perbedaan yang ada.

    Kehidupan rumah tangga Warna dan Rona (nama samaran) yang baru seumur jagung terus diguncang konflik. Mereka kerap berselisih pendapat berkepanjangan dan tidak menemukan jalan keluar. Mereka merasa saling tidak bisa memahami.  Ekspektasi demi ekspektasi yang tak terpenuhi membuat frustrasi. Akibatnya kehidupan rumah tangga mereka bagai telur di ujung tanduk.

    Sahabat, tanpa disadari kita sering berharap orang lain bereaksi tepat seperti yang kita kehendaki. Padahal, ada banyak faktor yang menentukan mengapa ia bereaksi begitu, dan tidak bereaksi begini. Faktor tersebut antara lain:  Tipe kepribadian. cara pandang, kebiasaan. keyakinan, pengalaman, pengasuhan dan pendidikan yang diterima. Bahkan menurut temuan ilmiah mutakhir tentang otak manusia, setiap orang bereaksi berbeda akibat struktur dan cara kerja otak yang memang tidak sama. Jadi, mengapa kita harus memaksakan apa yang memang diciptakan Tuhan berbeda?

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Ketika ada SI LEMAH dan SI KUAT”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Roma 15:1-7.  Jemaat di kota Roma terancam kerukunannya akibat perselisihan berkepanjangan antara dua kelompok. Atas kasus makanan yang dipersembahkan pada berhala, masing-masing kelompok menantikan reaksi yang diharapkan. Dan, ketika hasilnya lain, mereka saling menyerang. Yang sini menghakimi, sedang yang sana menghina (Roma 14:10). Sebenarnya, kalau masing-masing mampu bertanggung jawab kepada Tuhan (Roma 14:6-8), setiap pihak layak bereaksi dengan caranya sendiri. Beralaskan sikap Kristus kepada kita, Paulus menasihatkan supaya mereka lebih saling menerima daripada saling menyerang (ayat 7). Barulah kerukunan akan tercipta (ayat 5).

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa nasihat pertama dari Rasul Paulus untuk jemaat di Roma (ayat 1)?
    2. Apa yang mesti dilakukan oleh orang percaya? (Ayat 2)
    3. Apa makna yang tersirat dari pernyataan Paulus yang terdapat di ayat 4?
    4. Apa yang menjadi doa dan harapan Paulus? (Ayat 5-6)
    5. Apa yang menjadi nasihat Paulus di ayat 7?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • SINGKAT tapi BERMANFAAT

    Hidup manusia tidak kekal. Di mata Tuhan waktu itu singkat saja. Waktu yang sudah dilalui tak bisa diulang lagi. Tentu saja sangat disayangkan apabila masa yang terbatas kita isi dengan berbagai hal yang tidak bermanfaat. Bagaimana membuat hidup yang singkat  menjadi bermanfaat?

    Sahabat, ujaran kebencian, kekerasan verbal, dan penyebaran kabar bohong (hoax) mewarnai kehidupan dunia saat ini. Sesungguhnya hal-hal tersebut dapat menghancurkan persaudaraan, mengacaukan hidup bersama, dan merusak masa depan. Pertemanan yang tadinya akrab menjadi ambyar karena kabar bohong. Relasi antartetangga menjadi tidak rukun karena memelintir kebenaran dan beredarnya ujaran kebencian. Relasi antara orangtua dan anak pun merenggang karena kekerasan verbal melalui bentakan dan ejekan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “SINGKAT tapi BERMANFAAT”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 39:1-14. Ajal dan umur adalah hal yang tak bisa diketahui oleh seseorang. Kematian adalah suatu kepastian yang akan terjadi namun tak seorang pun tahu secara pasti kapan hal itu akan terjadi.

    Sahabat, Daud ingin supaya hidupnya yang singkat dijalani menjadi berkat dan bermanfaat melalui perkataan dan tindakannya. Daud mengatakan bahwa ia hendak menjaga diri agar ia tidak berdosa dengan lidah dan mulutnya (ayat 2). Mulut bisa digunakan untuk mengeluarkan kata-kata indah, menyejukkan, menyenangkan, menghibur, dan membangun.  Sebaliknya, mulut juga bisa dipakai untuk mencaci, mengumpat, mengejek, dan menjatuhkan orang lain. Selain itu  mulut yang sama juga bisa memberitakan kabar bohong dan ajaran yang menyesatkan orang.

    Sahabat, sebagai orang percaya,  kita amat faham bahwa kita adalah makhluk fana, kita diciptakan dalam ruang dan waktu oleh Sang Khalik yang tak fana, yang berada diluar batas waktu. Tugas kita adalah bagaimana dalam kurun waktu dan batas usia yang tersedia, kita dapat mengerjakan pekerjaan yang diamanatkan Allah tanpa lelah.  Karena itu, teruslah berkarya untuk TUHAN selama kita berada di dunia ini.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa tujuan Daud berdoa kepada Tuhan minta supaya Tuhan memberitahu kapan waktu ajalnya dan batas usia yang dia miliki? (Ayat 5)
    2. Apa makna dari pernyataan Daud di ayat yang ke-6?
    3. Apa makna dari pernyataan Daud di ayat yang ke-7?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • BERTUMBUH melalui PEMBACAAN ALKITAB

    Saya berharap melalui program “Sejenak Merenung”, banyak Sahabat  akan mendisiplin diri  mengadakan waktu untuk berdoa, membaca Alkitab dan merenungkannya. Tentu pada akhirnya kita dapat menjadi pelaku-pelaku firman. Kita dapat tumbuh bersama melalui pembacaan Kitab Suci dan doa setiap hari.

    Kegiatan membaca Alkitab bagi sebagian orang percaya mungkin tidak lagi menjadi momen yang menarik dan dinanti-nantikan. Bosan, malas, sibuk, dan sukar memahami isi Alkitab menjadi empat alasan yang sering muncul.

    Sahabat, untuk lebih memahami topik tentang: “Bertumbuh melalui pembacaan Alkitab”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 2 Timotius 3:10-17. Mengapa Paulus perlu menekankan kembali pentingnya mempelajari dan merenungkan firman Tuhan?  Karena pada waktu itu banyak sekali pengajar-pengajar sesat yang menyusup di antara jemaat sehingga mereka tidak lagi menjadikan Alkitab sebagai pedoman hidup, melainkan lebih menyendengkan telinganya kepada ajaran-ajaran yang menyimpang dari kebenaran (2 Timotius 4:3-4).  

    Paulus mengerti bahwa sebagai pemimpin jemaat, Timotius harus bekerja keras dalam membangun kehidupan jemaat dan mengajar mereka. Tugas pelayanan yang tak bisa dilakukan dengan sembarangan sehingga Timotius perlu terus melengkapi dirinya dengan kebenaran dari Kitab Suci.

    Sahabat, apa manfaat Alkitab bagi kehidupan orang percaya?  Alkitab merupakan sarana utama belajar mengenal pribadi Tuhan, mempercayai janji-Nya, serta memahami apa kehendak dan rencana-Nya bagi kehidupan kita.  Melalui Alkitab Tuhan mengajar dan mendidik kita untuk hidup dalam kebenaran (Ayat 16).  

    Proses pertumbuhan menuju karakter Kristus tidak terjadi secara otomatis atau tiba-tiba, namun memerlukan waktu seumur hidup.  Untuk bertumbuh secara rohani, Allah sudah memberikan pedoman-Nya  melalui Alkitab.  Diperlukan kebenaran untuk mengubah hidup kita, dan Alkitab menunjukkan kebenaran itu kepada orang percaya.  Hidup kita akan berubah bila kita mau membayar harga, yaitu menyediakan waktu membaca Alkitab, mempelajari, merenungkan dan menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pengakuan apa yang ditulis oleh Paulus dari penjara di Roma kepada Timotius? (Ayat 10-11)
    2. Apa yang disampaikan oleh Rasul Paulus kepada Timotius di ayat 14?
    3. Apa manfaat Kitab Suci bagi Timotius yang dikatakan oleh Rasul Paulus di ayat 15?
    4. Apa manfaat Kitab Suci bagi kita? (Ayat 16)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • Ada KUASA dalam PERKATAAN kita

    Lao Tzu berkata, “Kata-kata yang benar tidak selalu indah; kata-kata yang indah tidak selalu benar.  Kata-kata yang bermanfaat tidak selalu enak didengar; kata-kata yang enak didengar belum tentu bermanfaat”.

    Sesungguhnya perkataan itu seperti pisau. Pisau yang tajam bisa dipakai untuk membunuh, tetapi di sisi lain ia dapat menolong kita melakukan banyak hal. Sahabat, melalui sebuah perkataan positif dan membangun, seseorang dapat dibuat lebih semangat, lebih percaya diri, lebih bersyukur, lebih banyak berbuat baik dan menolong orang lain; seseorang dapat bangkit dan percaya bahwa hidupnya bisa lebih baik; seorang jahat dan keras kepala bisa berubah menjadi pribadi yang lembut dan rendah hati,  dan seterusnya.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Ada kuasa dalam perkataan kita”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Amsal 12:14-22. Allah menciptakan langit dan bumi serta isinya dengan kata-katanya yang diucapkan melalui mulut-Nya (Kejadian 1:3-8).  

    Perkataan adalah unsur yang penting dalam proses penciptaan alam semesta ini.  Jadi semua kata yang keluar dari mulut Allah berkuasa.  Juga ketika Yesus berada di bumi, semua perkataan-Nya penuh kuasa.  Dengan berkata-kata Dia sanggup menyembuhkan sakit-penyakit, membangkitkan Lazarus yang sudah mati empat hari  (Yohanes 11:43-44), dan angin ribut diredakan  (Markus 4:39).

    Sahabat, karena kita ini diciptakan menurut gambar dan rupa-Nya, maka setiap perkataan yang keluar dari mulut kita pun mengandung kuasa.  Apa pun yang kita perkatakan akan berdampak terhadap masa depan kita.  Maka marilah kita bersedia tak henti-hentinya diingatkan agar berhati-hati dengan perkataan kita (Yakobus 3:4-5a). 

    Dengan perkataan, kita daat membangun masa depan yang baik, tapi dapat pula menghancurkan masa depan kita sendiri.  Dengan perkataan, kita dapat menguatkan, menghibur, melemahkan dan juga menyakiti orang lain.  Janganlah jemu-jemu memperkatakan yang positif, karena apa yang kita percayai, bila kita ucapkan dengan iman, cepat atau lambat akan terwujud dalam alam nyata. 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmat apa yang Sahabat peroleh dari ayat 14?
    2. Kebenaran apa yang Sahabat peroleh dari ayat 17?
    3. Berkat apa yang Sahabat peroleh dari ayat 18?
    4. Berkat apa yang Sahabat peroleh dari ayat 20?
    5. Kebenaran apa yang Sahabat perlu selalu ingat yang terdapat di ayat 22?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati.

  • HIDUP BARU: Menjadi Bukti

    Sebelum naik ke surga, pasca kebangkitan-Nya Yesus memberi pesan kepada para murid agar mereka memberitakan Injil. Mereka diutus agar mengajar semua orang di seluruh dunia untuk dijadikan pengikut Kristus, serta membaptis mereka dalam nama Bapa, Anak dan Roh Kudus. Pesan tersebut sampai sekarang terus dihidupi sebagai Amanat Agung. Baik secara pribadi maupun komunitas, gereja menjalankan misi mewartakan Injil supaya lebih banyak lagi orang menerima Kristus.

    Sahabat, salah satu cara yang ampuh dalam memberitakan Injil tentu dengan menunjukkan bukti. Bukti yang berupa kesaksian hidup dari setiap pribadi yang keluar dari gedung gereja. Alangkah kuatnya kesaksian tentang Injil jika didasari dengan bukti kehidupan orang percaya yang dipenuhi dengan karakter Kristus. Hidup kudus dalam persekutuan yang penuh kasih, ada kepedulian, saling mendukung dan bekerjasama, murah hati, mudah mengampuni, rendah hati, lemah lembut, sabar dan cinta damai.

    Untuk lebih memehami topik tentang: “HIDUP BARU: Menjadi Bukti”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kolose 3:5-17. Sahabat, Rasul Paulus mengajar umat untuk mematikan diri dari segala tindak duniawi. Membuang segala bentuk kemarahan, geram, kejahatan, fitnah, kata-kata kotor dan dusta. Dengan kata lain Paulus sedang mengajarkan kita untuk menanggapi setiap persoalan dengan cara pandang positif. Mengenakan belas kasih, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan dan kesabaran. Ketika seseorang melakukan kesalahan, alih-alih mendendam kita mesti mengampuni, atas dasar pengampunan yang sudah lebih dulu kita terima dari Tuhan.

    Karena itu, ketika diperhadapkan dengan seseorang yang melukai hati, cobalah memandang mereka sebagai pribadi yang harus kita kasihi. Jika hal tersebut terasa sulit, cobalah kita melakukannya atas dasar kasih pada diri sendiri. Bukankah melepaskan pengampunan melegakan diri sendiri? Jika hal tersebut masih sulit, cobalah lakukan karena kita menaruh kasih kepada Tuhan! Bukankah Tuhan telah memberikan pengampunan atas kesalahan dan dosa kita yang begitu besar? Jika ternyata tidak bisa juga, tanyakan pada diri sendiri: Layakkah aku disebut pengikut Kristus?

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Mengapa Paulus minta agar kita mematikan segala sesuatu yang duniawi? (Ayat 5-6)
    2. Hal-hal apa saja yang Paulus minta agar dibuang dari kehidupan kita? (Ayat 8)
    3. Apa yang tidak boleh kita lakukan sebagai manusia baru? (Ayat 9)
    4. Sebagai orang-orang pilihan Allah, apa saja yang harus melekat dalam hidup kita? (Ayat 12-15)
    5. Apa yang harus kita lakukan sebagai komunitas orang percaya? (Ayat 16-17)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • Mengapa engkau TERTEKAN, hai JIWAKU?

    Sahabat, setiap orang termasuk para lansia sering mengalami tekanan hidup. Tekanan selalu hadir dalam setiap fase kehidupan. Apakah sebenarnya tekanan hidup itu? Tekanan hidup adalah sesuatu yang terjadi akibat timbulnya perubahan dalam kehidupan. Semakin besar perubahan itu, semakin besar tekanan hidupnya.

    Sesungguhnya Setiap orang pasti pernah mengalami tekanan dari masalah yang dihadapi: Keuangan, sakit penyakit, hubungan sosial, pekerjaan,  dan lain-lain. Respons setiap orang dalam menghadapi masalahnya bisa berbeda-beda.

    Tekanan hidup kerap memantik kemarahan kita, bahkan kadang-kadang sampai meledak tak terkendali. Menghadapi tekanan hidup, kita cenderung bersungut-sungut dan menyalahkan orang lain. Yakobus menyebutnya sebagai dosa yang dapat mengundang hukuman (Yakobus 5:9). Menggerutu dan mempersalahkan pihak lain mungkin dapat sedikit meringankan perasaan. Namun, Tuhan menghendaki kita bersabar dan tekun.

    Sahabat, untuk lebih memahami topik tentang: “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku?”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 42:1-12. Daud, seorang raja hebat, juga mengalami tekanan dalam jiwanya karena masalah yang dihadapinya. Tiga kali ia menulis, “Mengapa engkau tertekan hai jiwaku?” Ia menggambarkan, air mata menjadi makanannya siang dan malam. Banyak musuh menyerangnya dan ia merasa terimpit. Orang-orang mencelanya sambil berkata, “Di mana Allahmu?” (Ayat 4) Ada perkabungan yang melingkupi kehidupannya.

    Kunci yang memampukan Daud bertahan dalam tekanan adalah kepercayaan bahwa Tuhan memerintahkan kasih setia-Nya dan ia bisa berdoa dengan penuh ucapan syukur. Mengingat kasih setia Tuhan dalam hidup ini akan membantu kita untuk selalu dapat bersyukur. Ucapan syukur merupakan pintu berkat. Hati yang meluap dengan ucapan syukur membuat kita bebas dari tekanan yang mengimpit.

    Saat ini jika kita memiliki masalah yang menekan jiwa, katakan kepada jiwa kita, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku? Berharaplah kepada Tuhan, penolongku dan Allahku.” (Ayat 6) Tuhan mencurahkan kasih setia-Nya kepada orang-orang yang berharap kepada Dia.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenungan dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa makna yang tersirat dari pernyataan Daud dalam ayat 2-3?
    2. Di tengah tekanan dan penderitaannya, apa yang selalu diingat oleh Daud? (Ayat 4-6)
    3. Ketika sedang menghadapi tekanan yang berat, bagaimana caranya agar kita mampu mengatasi emosi dengan baik dan bijak?  (Ayat 12 dan Mazmur 116:7).

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg).

  • PENGENALAN kita akan ALLAH

    Sahabat, pengalaman hidup kita bercerita bahwa kita  dihinggapi rasa cemas dan khawatir ketika kita mulai memasuki masa tua. Usia kita terus bertambah, sedangkan kekuatan dan kemampuan kita semakin berkurang. Teman-teman seangkatan, seorang demi seorang mendahului kita menghadap Sang Khalik.  Anak-anak juga  meninggalkan kita, mereka membentuk rumah tangga sendiri, kalau pun mereka  masih ada di dekat kita, mungkin kita merasa anak-anak sudah tidak membutuhkan diri kita lagi. 

    Untuk lebih memahami topik tentang “Pengenalan kita akan Allah”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 71:14-21. Rasa cemas  juga sempat menyerang Daud karena ia tahu benar bahwa tak mungkin seseorang terus tetap muda dan tetap perkasa.  Berita baiknya,  pada akhirnya Daud yakin benar bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang dikasihi-Nya.  Ia mengerti benar bahwa satu-satunya tempat bersandar adalah Tuhan saja. 

    Sahabat, bagaimana pengenalan kita terhadap Allah? Pengenalan itu memengaruhi cara pandang dan cara kita menyikapi segala persoalan yang terjadi di dalam hidup.  Melalui pengalaman dalam perjalanan hidupnya bersama Allah, Daud mengenal Allah sebagai penolong dan pelindung yang setia.  Karena itu, meski di tengah pergumulan, keyakinannya kepada Allah tidak goyah. Daud bahkan dapat selalu memuji Allah dan kebesaran-Nya di tengah-tengah pergumulannya.

    Bagaimana dengan kita? Mari memperdalam pengenalan kita akan Allah. Semakin dalam kita mengenal Allah, semakin dalam pula kita mengenal diri kita. Semakin dalam kita mengenal Allah kita, semakin kuat pula iman kita; sebab kita tahu benar bahwa hidup kita dipelihara dan dilindungi oleh Allah yang setia.

    Berdasarkan hasil perenungan kita dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pada masa tuanya, Daud masih mengalami pergumulan yang berat, masih ada orang-orang yang  menginginkan kecelakaannya, tapi mengapa Daud bisa begitu yakin bahwa Allah adalah penolong dan pelindungnya? (Ayat 17 dan 19-21)
    2. Apa yang membuat Daud begitu yakin bahwa Allah yang ia sembah adalah Allah yang setia? (Ayat 22)
    3. Sesungguhnya apa yang paling dikhawatirkan dan ditakutkan oleh Daud? (Ayat 18)
    4. Apa yang menjadi kerinduan Daud untuk dapat dilakukannya pada masa tuanya? (Ayat 17-18)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)   

  • UNIK: Kekuasaan dan Kemurahan

    Sahabat, salah satu sifat manusia adalah kagum akan hal-hal yang unik, yang khas, yang khusus, yang spesial. Sesuatu yang unik akan bernilai lebih, dan keunikan itu kita sematkan pada sesuatu yang tidak ada bandingannya. Pernahkah kita merenungkan seberapa unik Allah kita?

    Untuk lebih memahami topik tentang “Unik: Kekuasaan dan Kemurahan”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 147:1-20. Mazmur haleluya yang kedua ini unik karena disusun menjadi tiga bagian (Ayat 1-6; 7-11; 12-20) yang masing-masing bisa berdiri sendiri. Lebih unik lagi, mazmur ini menyatu dengan tema kekuasaan dan kemurahan Tuhan atas Yerusalem (ayat 2, 12) dan atas seluruh alam ciptaan-Nya (ayat 4, 8-9, 15-18).

    Bagian pertama, pujian kepada Tuhan dikumandangkan karena Dialah yang telah membangun kembali Yerusalem serta mengumpulkan umat-Nya yang telah tercerai berai oleh karena pembuangan. Segala sakit hati umat yang tertindas oleh musuh telah dihapus (ayat 3), sebaliknya para musuh sudah dikalahkan (ayat 6). Di tengah bagian ini (ayat 4), pujian diarahkan pada karya penciptaan-Nya. Penggabungan dua motif ini mungkin dimaksudkan untuk menunjukkan bahwa Sang Penebus Israel tidak lain ialah Sang Khalik alam semesta, Dialah satu-satunya Allah yang mengatasi segala ilah lain yang disembah bangsa-bangsa!

    Bagian kedua, fokus pada karya Allah sebagai pemberi hidup bagi segala makhluk (ayat 8-9), termasuk manusia (ayat 10). Terutama kepada manusia, yang diciptakan unik karena bisa merespons karya-Nya secara pribadi, Allah menghendaki kesetiaan dan kebersandaran penuh (ayat 11).

    Bagian ketiga, kembali pada motif pertama yaitu karya-Nya atas pemulihan Yerusalem pasca pembuangan. Kali ini motif penciptaan terutama diarahkan pada pemeliharaan-Nya. Sang Penebus ialah Sang Pemelihara umat-Nya. Kalau alam ciptaan, dipelihara-Nya, terlebih lagi manusia. Kita diingatkan ajaran Yesus agar tidak khawatir akan sandang-pangan-papan karena burung dan bunga pun dipelihara-Nya (Matius 6:25-34).

    Allah yang kita sembah di dalam Alkitab adalah Allah yang tidak dapat dibandingkan dengan apa pun di dunia ini (Yesaya 46:5). Maka, memuliakan Allah adalah sikap dan tindakan yang seharusnya muncul secara alami dari dalam diri kita.

    Pemazmur menegaskan bahwa semua tindakan Allah dikerjakan semata-mata oleh kedaulatan-Nya, tanpa meminta nasihat dari ciptaan-Nya. Maka, satu-satunya respons yang tepat adalah: “Haleluya!” (ayat 1, 20). Pujian inilah yang mengawali dan mengakhiri Mazmur 147.

    Sahabat, temukanlah keunikan Allah yang kita sembah melalui pembacaan dan perenungan kita pada hari ini. Semoga Sahabat sudah menemukannya dan berkenan untuk menuliskannya secara singkat serta membagikannya. Tuhan memberkati. (pg)