Category: Sejenak Merenung

  • BERUBAH dan BERBUAH

    Sahabat, keberadaan orang percaya di tengah dunia  sebagai garam dan terang dunia  (Matius 5:13-16).  Artinya kita harus bisa menjadi berkat dan kesaksian bagi orang-orang dunia.  Bagaimana kita bisa menjadi berkat dan kesaksian bagi mereka, bila hidup kita tidak menunjukkan perubahan dan masih mengenakan manusia lama?  Padahal di dalam Kristus, kita adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang. (2 Korintus 5:17).

    Adapun tanda bahwa kita  ciptaan baru di dalam Kristus adalah berubah dan berbuah.  Oleh karena itu.hasilkanlah buah yang sesuai dengan pertobatan (Matius 3:8). Untuk lebih memahami topik tentang: “Berubah dan berbuah”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 1 Timotius 1:12-17.

    Sahabat, pernahkah kamu membuat pengakuan bahwa kamu orang paling jahat, berdosa, dan segala yang buruk yang melekat dalam dirimu, serta menceritakan bahwa kamu punya masa lalu yang sangat kelam? Tentu sangat tidak mudah menyampaikan pengakuan sedemikian terbuka.

    Paulus menyatakan dirinya sebagai penghujat, penganiaya, dan ganas kepada pengikut Kristus (ayat 13). Ia menyebut dirinya orang yang paling berdosa (ayat 16). Sampai suatu ketika, dalam perjalanan ke Damsyik untuk memburu dan menganiaya para pengikut Kristus, Tuhan menjumpainya (Kisah Para Rasul 9:1-18). Ia dibuat buta oleh cahaya kemuliaan Tuhan, dan akhirnya pulih setelah didoakan Ananias. Peristiwa tersebut menjadi titik balik dalam hidupnya. Seorang penganiaya yang penuh amarah terhadap jemaat berubah menjadi pemberita Injil yang sangat militan dan tidak setengah-setengah. Ini merupakan bentuk kasih Tuhan kepada Paulus. Allah menunjukkan seluruh kesabaran-Nya kepada Paulus. Bahkan, Tuhan melihatnya setia dan memercayakan pelayanan besar dan mulia kepadanya (ayat 12).

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Dari pengakuan Rasul Paulus sendiri, apa yang menyebabkan dia dapat berubah? (ayat 13-16)
    2. Apa yang menyebabkan Tuhan memercayakan pelayanan yang besar dan mulia kepada Rasul Paulus? (Ayat 12 dan 16)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg).

  • ALLAH BERSEMAYAM di HATI ORANG yang REMUK

    Sahabat, berdasarkan pengalaman hidupnya, Daud membuat pernyataan, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.”  (Mazmur 51:19)

    Entah sudah berapa kali kita mendengar atau membaca pernyataan, “Kesempatan yang sama tidak akan pernah datang dua kali.” Ironisnya, sudah beberapa kali pula kita sering melewatkan atau bahkan membuang kesempatan yang datang, hingga akhirnya kesempatan yang sama tidak pernah kunjung datang lagi. Lalu bagaimana dengan kesempatan untuk bertobat?

    Sahabat, untuk lebih memahami topik tentang “Allah bersemayam di hati orang yang remuk”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesaya 57:14-21.  Nabi Yesaya adalah salah seorang dari sepuluh orang nabi besar pada zamannya. Pada saat itu, nabi Yesaya menerima perintah Allah untuk menyampaikan Firman-Nya. Yaitu Firman Tuhan yang merupakan kata-kata penghiburan bagi umat-Nya. Kata-kata penghiburan dari Allah kepada orang-orang Israel yang tegar tengkuk. Kata-kata penghiburan dari Tuhan Pencipta langit dan bumi kepada umat pilihan-Nya yang sangat dikasihi-Nya.

    Orang-orang Yehuda hidup jauh dari perkenan Allah, tidak sesuai dengan identitas sebagai umat Allah. Mereka menggantikan penyembahan kepada Allah dengan berhala-berhala. Kemudian muncul kesadaran bahwa mereka membutuhkan penghiburan. Nabi Yesaya memberitakan, hanya Allah yang dapat memberikan penghiburan. Namun, ada syaratnya, yaitu mereka harus mengadakan pertobatan dan membuang segala bentuk batu sandungan yang menghalangi berkat Allah. Allah hanya akan menghibur dan menghidupkan orang-orang yang remuk dan rendah hati.

    Allah itu penuh kasih dan kemurahan. Dia mengampuni mereka yang menyesal dan mengakui dosanya. Bahkan Allah akan menganugerahkan semangat dan kehidupan yang baru. Sebaliknya, tiada damai bagi orang fasik.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa syaratnya agar Allah berkenan memberikan penghiburan kepada umat-Nya? (Ayat 14 dan 15)
    2. Apa syaratnya agar Allah berkenan mengampurni segala kesalahan umat-Nya, dan berkenan menganugerahkan semangat dan kehidupan baru? (Ayat 16-19)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • Perlu Melatih OTOT ROHANI

    Pekan Olahraga Nasional (PON) XX telah diselenggarakan di Papua pada 2 Oktober hingga 15 Oktober 2021. Stadion Lukas Enembe menjadi lokasi utama penyelenggaraan edisi ini, baik upacara pembukaan maupun penutupan. Ada 56 cabang olahraga yang dipertandingkan dan akhirnya propinsi Jawa Barat menjadi Juara Umum dengan meraih medali emas sebanyak 133 medali.

    Olahraga atau latihan jasmani yang dilakukan secara rutin akan mampu menjaga dan meningkatkan stamina kita. Tubuh akan menjadi lebih sehat, segar dan kuat, tidak gampang jatuh sakit, dan akan lebih mampu mengatasi tantangan berat seperti jalan yang curam menurun atau naik turun tangga.

    Sahabat, efek naik tangga beberapa tingkat berbeda bagi orang yang sering berolahraga dengan yang jarang atau tidak sama sekali. Bagi yang suka berolahraga, naik tangga beberapa lantai ke atas tidak akan terasa melelahkan. Mereka akan tetap terlihat normal alias biasa-biasa saja. Sedangkan yang jarang berolahraga tentu akan kehabisan nafas, terengah-engah, keringat dingin, sesak nafas dan menjadi sulit bicara.

    Untuk lebih memahami topik tentang “Perlu melatih otot rohani”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 1 Timotius 4:1-16. Bagi seorang atlet, selain menjaga asupan makanan, latihan merupakan keharusan agar kondisi tubuh tetap prima. Secara rohani, kita juga seorang “atlet”; dan latihan juga merupakan keharusan supaya otot-otot rohani tetap kencang dan tangguh menghadapi apa pun tantangan yang menghadang.

    Sahabat, usia belia tatkala menerima tampuk pelayanan yang sebelumnya dikerjakan Paulus besar kemungkinan menjadi halangan psikologis bagi Timotius untuk melanjutkan pelayanan Tuhan yang besar. Paulus memiliki keyakinan bahwa hal terpenting yang mesti dikerjakan Timotius agar ia mampu melanjutkan pelayanan anugerah Tuhan adalah dengan terus melatih diri beribadah. 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa nasihat Rasul Paulus kepada Timotius, anak rohaninya? (Ayat 7)
    2. Walaupun latihan badani itu berguna untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh kita, tapi ibadah itu lebih besar gunanya, mengapa? (Ayat 8)
    3. Apa yang harus Timotius lakukan agar umat tidak merendahkannya karena dia masih muda? (Ayat 12)
    4. Apa saja yang harus dilakukan oleh Timotius dengan tekun dari hari ke hari? (Ayat 13-15)
    5. Apa nasihat Rasul Paulus kepada Timotius agar Timotius dan umat yang digembalakannya dapat selamat? (Ayat 16)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • KEPUASAN selalu minta DIPENUHI

    Billy Graham berkata, “Jika sikap seseorang benar terhadap uang, maka hal itu dapat menolong dia untuk memiliki sikap yang benar di setiap area dalam hidupnya.”

    Sahabat, penelitian dengan cermat membuktikan, orang dengan penghasilan sedikit tidak merasa puas; namun ketika penghasilannya lebih banyak ia tetap tidak puas. Mengapa? Sebab tuntutannya pun bertambah, begitu pun pengeluarannya. Sementara tingkat kepuasannya sama saja: Tetap belum puas. Kepuasan itu layaknya orang bergerak di atas putaran alas treadmill, meski kecepatan meningkat, pun tak ada gerak maju. Tetap saja di situ.

    Untuk lebih memahami topik tentang, “Kepuasan selalu minta dipenuhi”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Pengkhotbah 5:9-18. Pengkhotbah juga dengan jeli mengamati, dalam kehidupan manusia yang namanya kepuasan atau kesenangan selalu minta dipenuhi, tak kenal henti. Kekayaan bukan jawaban. Sia-sia saja menjadikannya jalan pemenuhan kepuasan.

    Orang yang memiliki banyak uang sampai kapan pun tidak akan pernah puas dengan uang yang dimilikinya.  Begitu pula orang kaya, tidak pernah puas akan kekayaannya.  Seringkali kita menganggap bahwa ada hubungan erat antara kepuasan dengan jumlah uang atau kekayaan yang dimiliki oleh seseorang.  Kita mengira jika orang mempunyai uang dalam jumlah besar ia akan merasa puas dan berbahagia. 

    Sahabat, ketika seseorang mendapatkan gaji 1 juta rupiah/bulan, ia berpikir bahwa hidupnya akan lebih dari cukup dan berbahagia jika gajinya 3 juta rupiah/bulan.  Anggapan ini kelihatannya benar, tapi ketika ia mendapatkan gaji 3 juta rupiah/bulan ia merasakan bahwa masih banyak hal yang belum bisa dipenuhi dengan gajinya tersebut.  Kita selalu merasa masih kurang dan tidak pernah merasa cukup.

    Ingatlah! Rasa puas dan cukup tidak datang dari uang, melainkan dari relasi kita dengan Tuhan. Uang itu hamba yang baik, tapi tuan yang jahat sekali. Kita harus waspada pada ilusi kesenangan, yang mengajarkan kepada kita bahwa cara untuk menjadi puas adalah dengan mendapatkan lebih. Itu tipuan, bahkan jebakan!

    Sahabat, berdasarkan hasil dari perenunganmu pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Kekayaan bukan jawaban. Sia-sia saja menjadikannya jalan pemenuhan kepuasan, mengapa? (Ayat 10 – 13, dan 16)
    2. Apa yang menjadi kunci kita dapat menikmati kebahagiaan? (Ayat 11-a, dan 17-18)
    3. Kebenaran apa yang senantiasa perlu kita ingat dalam hiduip ini? (Ayat 14)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)  

  • Maaf, saya TIDAK BISA DATANG

    Sahabat, sering kita mendengar atau membaca pernyataan berikut: “Hidup itu pilihan.” Pengalaman hidup kita bercerita bahwa begitu kita membuka mata di pagi hari, kita langsung diperhadap pada berbagai pilihan. Nah, kita perlu menentukan pilihan. Kita perlu membuat  skala prioritas, mana yang paling penting yang harus kita segera kerjakan atau penuhi atau ikuti.

    Kalau kita menyadari bahwa hidup ini adalah karena kasih karunia Tuhan semata, maka seharusnya kita memiliki respons yang benar akan keselamatan yang Tuhan berikan dan juga panggilan-Nya.  Sampai saat ini pintu anugerah keselamatan dan berkat-berkat-Nya masih terbuka dan tersedia untuk siapa pun yang mau datang memenuhi undangan Tuhan. 

    Sahabat, untuk memahami lebih dalam topik tentang: “Maaf,  saya tidak bisa datang”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Matius 22:1-14. Dalam perumpamaan tersebut, dikisahkan seorang raja yang mengadakan perjamuan kawin untuk anaknya. Waktu pelaksanaan perjamuan telah tiba, dan segala sesuatunya untuk keperluan pesta telah tersedia. Namun, ketika hamba-hambanya disuruh untuk memanggil para undangan, ternyata semua berdalih dengan berbagai macam alasan. Bahkan ada yang menangkap, menyiksa dan membunuh para hamba yang disuruh untuk memanggil para undangan. Maka raja pun murka sehingga menyuruh pasukannya membinasakan para pembunuh itu beserta kota mereka.

    Walaupun para undangan tersebut tidak datang karena bermacam alasan, namun perjamuan kawin itu tidak menjadi tertunda. Raja pun menyuruh hamba-hambanya untuk mengundang seluruh orang yang mereka jumpai tanpa terkecuali.

    Injil adalah undangan Allah kepada orang berdosa untuk datang ke perjamuan-Nya dalam Kerajaan Allah. Kita menerima undangan Injil karena anugerah Allah, bukan karena kepantasan kita. Oleh karena itu, kita patut menjawab undangan dengan berpakaian pesta sebagai respons kita menjawab undangan Sang Raja.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang menjadi dalih beberapa orang yang tidak bersedia memenuhi undangan Sang Raja (ayat 5). Lalu apa yang tersirat dari dalih mereka?
    2. Apa yang dilakukan oleh sebagian orang yang telah diundang oleh Sang Raja (ayat 6)?
    3. Mengapa Sang Raja sangat marah ketika ada undangan yang tidak memakai pakaian pesta (ayat 11-13)? Pesan apa yang hendak disampaikan dengan sikap Sang Raja tersebut?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • HARTA yang LAYAK kita KEJAR

    Sahabat, dunia masih sedang terjangkit penyakit konsumerisme. Manusia saling berpacu untuk memuaskan diri. Semuanya perlu uang. Sebab itu manusia berlomba-lomba mencari uang dan harta sehingga mereka berharap nafsunya terpuaskan.

    Mereka terjebak pada cinta uang. Banyak orang di dunia ini berlomba-lomba untuk mendapatkan harta sebanyak mungkin. Bahkan ada kalanya mereka bersedia menerapkan cara apa pun demi menjadi pemenang dalam perlombaan tersebut. Namun, tidak jarang pula para pemenang dari perlombaan tersebut mengaku tidak pernah puas dan tidak bahagia, bahkan setelah mereka meraih begitu banyak harta sekalipun. Jika demikian, harta seperti apakah yang layak kita kejar?

    Untuk lebih memahami topik tentang “Harta yang layak kita kejar”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kolose 2:1-5. Paulus juga berlomba-lomba dalam mengejar suatu harta. Dalam surat Kolose tersebut, Paulus melukiskan upayanya itu sebagai suatu perjuangan yang berat. Harta macam apakah kiranya yang sedang dikejar Paulus dengan perjuangan berat itu? Jawabnya adalah Yesus Kristus.

    Sahabat,  di dalam Yesuslah tersembunyi segala harta, hikmat dan pengetahuan. Berbeda dengan pemilik harta dunia yang enggan berbagi, Paulus justru berusaha sungguh-sungguh agar jemaat Kolose dapat memperoleh harta itu sebagaimana Paulus juga memilikinya. Paulus melakukan apa saja agar jemaat Kolose merasa terhibur dan dapat bersatu dalam kasih. Sehingga jemaat ini pun dapat memperoleh segala kekayaan dan keyakinan pada Yesus.


    Bagaimana sikap kita terhadap Yesus Kristus? Apakah kita memandang Yesus Juruselamat kita itu laksana suatu harta yang tak ternilai harganya? Ataukah kita lebih puas dan lebih menyukai harta lain di luar Yesus? Kiranya melalui perenungan  pada hari ini, kita memeroleh pemahaman tentang harta seperti apa yang layak kita kejar.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Upaya apa yang sedang diperjuangkan oleh Rasul Paulus? (Ayat 1-2)
    2. Mengapa bagi Paulus, Yesus merupakan harta yang paling berharga? (Ayat 3)
    3. Apa yang menjadi kerinduan terdalam Rasul Paulus terhadap jemaat di Kolose?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • IZINKAN aku MENIKMATI yang menjadi BAGIANKU

    Sahabat, apakah masih ingat dengan fabel yang berjudul: “The Greedy Dog”. Dikisahkan, seekor anjing berlari-lari membawa tulang dari tong sampah. Ketika melewati jembatan, ia menunduk dan melihat bayangan dirinya terpantul dari air sungai. Ia mengira, ada seekor anjing lain membawa tulang yang lebih besar daripada miliknya. Tanpa berpikir panjang, ia menjatuhkan tulang yang digigitnya dan langsung melompat ke air. Anjing tersebut  akhirnya harus bersusah payah berenang ke tepian. Ia sangat menyesal dan kecewa. Ia hanya bisa berdiri termenung dan sedih karena tulang yang digigitnya tadi sudah hilang.

    Fabel tersebut sesungguhnya mau bertutur tentang  sikap tidak berpuas diri yang berkembang menjadi keserakahan, yang berpotensi membuat kita kehilangan kebaikan-kebaikan yang telah kita miliki. Jiwa kita akan dirundung oleh kekecewaan dan kekhawatiran. Karena itu, baiklah kita belajar bersyukur dan menikmati yang menjadi bagian kita.

    Sahabat, untuk lebih memahami topik tentang: “Izinkan aku  menikmati yang menjadi bagianku”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Amsal 30:7-9. Agur bin Yake dalam amsalnya menuliskan hal yang penting dalam permohonannya kepada Tuhan, yaitu jangan memberikan kepadanya kemiskinan atau kekayaan.

    Meminta jangan diberi kemiskinan adalah hal biasa, tetapi yang mengejutkan bahwa ia juga meminta jangan diberi kekayaan. Mengapa tidak miskin, tetapi juga tidak kaya? Baginya, ternyata baik kemiskinan maupun kekayaan bisa membawa masalah dan risiko yang berbahaya. Adalah luar biasa ketika ia menyatakan bahwa biarkan ia bisa menikmati makanan yang Tuhan berikan.

    Tanpa rasa syukur, kekayaan bisa membuat seseorang menyangkal Tuhan. Kekayaan seolah-olah hasil kerja semata sehingga seseorang tidak lagi memerlukan Tuhan dan ia bebas melakukan banyak hal dengan kekayaannya. Sebaliknya, tanpa rasa syukur, kemiskinan bisa membuat seseorang mencuri dan mencemarkan nama Tuhan.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Tolong sebutkan 3 hal yang menjadi permohonan Agur bin Yake kepada Tuhannya (Ayat 8).
    2. Apa yang menjadi latar belakang Agur bin Yake berdoa seperti tersebut di atas (Ayat 9)?
    3. Apa makna yang tersirat dari permohonan Agur bin Yake: “Jangan berikan kepadaku kemiskinan atau kekayaan”?
    4. Apa makna yang tersirat dari permohonan Agur bin Yake: “Biarkanlah aku menikmati makanan yang menjadi bagianku.”?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • KETEKUNAN: Sebuah Proses Panjang

    Sahabat,  segala sesuatu yang serba instan dan cepat sedang dicari semua orang. Begitu pula kita sebagai orang percaya. Kita menginginkan segala sesuatu dari Tuhan secara instan, dan tidak mau bersabar apalagi bertekun menanti-nantikan Dia. Akibatnya banyak orang percaya  mudah putus asa dan menyerah di tengah jalan karena masalah yang belum terselesaikan: Kegagalan dalam mencari pekerjaan, sakit-penyakit yang belum juga sembuh dan lain-lain.

    Pengalaman hidup kita bercerita bahwa ketekunan seseorang tidak terjadi dengan sendirinya. Perlu ada upaya, kerja keras dan disiplin diri; dengan kata lan, ketekunan membutuhkan suatu proses yang panjang. Sedangklan dunia saat ini banyak menawarkan hal-hal yang serba instan dan serba cepat. Kemudahan demi kemudahan ditawarkan di segala bidang kehidupan,  mulai dari  makanan  cepat saji, perbankan yang menawarkan kemudahan memperoleh pinjaman uang atau modal, sampai jalan untuk menjadi artis atau orang terkenal secara instan ditawarkan melalui ajang lomba pencarian bakat. Sungguh sangat menggiurkan!

    Sahabat, untuk lebih memahami topik tentang “Ketekunan: Sebuah proses panjang”, Bacaan Sabda hari ini saya ambil dari Ibrani 10:19-39. Ketekunan adalah bentuk terpenting dari displin diri dan merupakan ukuran sebenarnya dari karakter kita, bagaimana kita berpegang teguh terhadap suatu pengharapan dan apa yang kita yakini. Oleh karena firman Tuhan selalu mengingatkan agar kita memiliki ketekunan dalam segala hal, karena ketekunan dan kesabaran adalah cara terbaik untuk mendapatkan hasil yang sempurna (Roma 5:4-5).

    Sesulit dan seberat apapun keadaan kita saat ini, jangan berubah dan tetaplah bertekun di dalam Tuhan (Habakuk 2:3),  Semua adalah bagian dari proses hidup kita! Ingat, Dia adalah Allah yang setia, Dia tidak pernah terlelap maupun tertidur.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tuliskanlah apa saja yang perlu kita lakukan terus menerus dari hari ke hari supaya kita tetap dapat  bertekun dan bertahan  di tengah pergumulan dan tantangan hidup yang semakin tidak mudah (Ayat 22-25, dan 38)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • Memiliki MATA IMAN

    Hidup memang tidak akan mungkin tanpa masalah. Masalah akan senantiasa ada dalam sepanjang  perjalanan kehidupan kita. Semoga kita meiliki mata iman bahwa ada Tuhan yang menyertai kita, dan Tuhan jauh lebih besar daripada segala pergumulan dan permasalahan yang kita hadapi. Kita harus terus melatih diri  untuk melibatkan Tuhan dalam setiap aspek kehidupan, karena hanya dengan hidup bersama dengan-Nya  kita akan mampu menghadapi masalah dengan ketenangan dan kepasrahan, “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13).

    Sahabat, mari bersama dengan Pemazmur kita berdoa,  “Singkapkanlah mataku, supaya aku memandang keajaiban-keajaiban dari Taurat-Mu.” (Mazmur 119:18). Sesungguhnya Roh Kudus siap menyingkapkan segalanya, memberi hikmat bagi kita untuk mengetahui rencana Tuhan dalam hidup kita, memungkinkan kita melihat dengan jelas lewat mata iman dan karenanya kita tidak perlu khawatir dalam menjalani hari depan.

    Untuk lebih mendalami topik tentang “Memiliki mata iman”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 2 Raja-Raja 6:8-23.  Latar belakang dari perikop yang sedang kita renungkan adalah tentang peperangan antara bangsa Israel dan bangsa Aram (atau Siria, sekarang Suriah), yang sudah berlangsung cukup lama. Raja Ahab terbunuh dalam peperangan antar dua bangsa ini. Pada pemerintahan anaknya, Yoram, peperangan ini masih berlangsung.

    Saat itu raja negeri Aram menyusun strategi untuk melawan bangsa Israel. Namun setiap kali, strategi rahasia tersebut terbongkar. Akibatnya, berkali-kali pula penyerangan gagal. Setelah diberitahukan, bahwa yang membongkar setiap strategi rahasia tersebut adalah Elisa, sang abdi Allah, maka marahlah raja negeri Aram (ayat 12). Semula peperangan itu antara bangsa Aram dan bangsa Israel, tetapi kemudian berubah menjadi bangsa Aram melawan Elisa. Elisa menjadi satu-satunya “sasaran tembak” dari bangsa Aram. Hanya untuk melawan  seorang, raja negeri Aram mengirim “kuda serta kereta dan tentara yang besar”.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut:

    1. Apa yang dilihat oleh bujang Elisa di pagi hari itu dan apa yang dikatakan oleh bujang tersebut kepada Elisa? (Ayat 14-15)
    2. Lalu apa jawaban Elisa kepada bujangnya? (Ayat 16)
    3. Apa yang Elisa doakan untuk bujangnya? (Ayat 17)
    4. Tolong ceritakan secara singkat (paling banyak 300 kata) dengan bahasamu sendiri bagaimana caranya Elisa yang hanya seorang diri dapat mengalahkan tentara Kerajaan Aram yang berjumlah banyak, tanpa ada pertumpahan darah (ayat  18-23).

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • INSPIRATOR: Hidup yang MENGUBAHKAN

    Motivator adalah orang yang  memberikan motivasi kepada orang lain. Pemberian motivasi tersebut biasanya dilakukan melalui acara seminar, ceramah, pembekalan atau pelatihan. Menjadi motivator merupakan sebuah profesi. Jadi dia membekali diri supaya terampil memotivasi banyak orang.

    Sahabat, selain motivator, kita mengenal inspirator. Seorang inspirator  menginspirasi orang lain melalui perubahan hidupnya. Dia menginspirasi orang lain melalui teladan hidupnya lewat perasaan, pikiran, perkataan, dan perbuatannya. Bisa saja sekali waktu ia berbuat salah dan gagal. Namun saat ia jujur mengakui kesalahan dan kebodohannya, ia justru akan menginspirasi banyak orang tentang arti hidup yang otentik. Inspirator membangun integritas hidup bukan dengan kata-kata, tetapi lewat perbuatan nyata.

    Untuk lebih memahami topik tentang “Inspirator: Hidup yang mengubahkan”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 1 Korintus 9:1-27. Saat itu, memang ada sebagian jemaat yang meragukan otoritas kerasulannya. Alih-alih kecewa, Rasul Paulus malah membuktikan keraguan mereka salah. Melalui pertanyaan retorik, Paulus mengingatkan dan menegaskan kepada jemaat Korintus akan identitasnya. Ia menceritakan tentang pertobatan, perjumpaannya dengan Yesus, dan perjuangannya memberitakan Injil (ayat 1).

    Perubahan Paulus menjadi bukti bagi mereka bahwa Kristus mampu mengubah kehidupan seseorang. Tidak hanya sampai di situ, Tuhan juga memanggil dan memakainya untuk memberitakan Injil. Melalui perubahan hidupnya, Paulus dapat menyaksikan kuasa Tuhan dan kekuatan Injil. Buah dari pelayanannya adalah kehidupan jemaat di dalam Tuhan (ayat 2).

    Sahabat, Rasul Paulus tidak mau menjadi motivator saja. Jangan sampai ia memberitakan Injil agar orang lain percaya, tetapi ia sendiri malah ditolak Tuhan karena ia hanya memberitakan kebenaran, tetapi tidak mengimani atau menghidupi kebenaran yang ia beritakan (ayat 27).

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa prinsip Rasul Paulus dalam memberitakan Injil? (Ayat 16 dan 17)
    2. Apa yang menjadi upah bagi Rasul Paulus dalam memberitakan Injil? (Ayat 18)
    3. Bagaimana pendekatan yang dilakukan oleh Rasul Paulus untuk memenangkan banyak jiwa? (Ayat 19-22)
    4. Apa yang dilakukan oleh Rasul Paulus agar setelah ia memberitakan Injil dirinya tidak ditolak? (Ayat 26 dan 27)
    5. Apa yang dinasihatkan Rasul Paulus kepada Timotius agar dia dapat menjadi seorang inspirator? (1 Timotius 4:12)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)