Category: Sejenak Merenung

  • DAMAI SEJAHTERA: Kabar SUKACITA yang Tiada Tara

    Sesungguhnya kebahagiaan natal bukan dikarenakan mewah atau semaraknya perayaan, melainkan bagaimana sikap hati kita setelah bertemu dengan Yesus, Sang Juruselamat dunia itu. 

    Sahabat, rasa takut yang besar mencekam para gembala yang sedang menjaga kawanan ternak di padang Betlehem. Bagaimana tidak? Pada tengah malam, mereka dikejutkan oleh bala tentara malaikat yang memancarkan kemuliaan Allah. Kemuliaan Allah terlalu dahsyat sehingga tidak seorang pun yang sanggup menyaksikannya (1 Timotius 6:16).

    Untuk lebih memahami topik tentang: DAMAI SEJAHTERA: Kabar SUKACITA yang Tiada Tara”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Injil Lukas 2:8-20. Sahabat, Lukas menginformasikan bahwa tempat Maria melahirkan berada dalam satu lokasi dengan padang, tempat gembala-gembala menjaga kawanan ternak mereka (ayat 8). Kepada gembala-gembala inilah, malaikat Tuhan menyampaikan berita besar yang akan mendatangkan sukacita bagi mereka dan bagi dunia. Ia datang bukan membawa pesan penghakiman melainkan pesan damai yang membawa pengharapan bagi manusia. Itulah berita tentang kelahiran Juruselamat (ayat 9-12).

    Sahabat, Allah tidak mengirimkan seorang guru karena kebutuhan kita yang terutama bukanlah pendidikan. Allah tidak mengirimkan ilmuwan karena kebutuhan kita yang terutama bukanlah teknologi. Allah tidak mengirimkan ahli ekonomi karena kebutuhan kita yang terutama bukanlah uang. Allah mengutus Juruselamat karena kebutuhan manusia yang terutama dan utama adalah pengampunan dan pembebasan dari dosa.

    Bagi para gembala, malam itu kemudian menjadi malam yang menakjubkan. Kegelapan dan keheningan malam yang biasanya menjadi bagian dari rutinitas keseharian mereka,  dipecah oleh lantunan pujian bagi Allah dari bala tentara surga (13-14). Mereka memuji Allah karena apa yang Dia lakukan bagi manusia.

    Allah pun akan melakukannya juga bagi kita. Pesan damai dan pengharapan bagi para gembala menjadi pesan pengharapan bagi kita juga. Inilah kesempatan untuk menerima pengampunan atas dosa kita. Inilah kesempatan untuk memperbarui hidup kita. Inilah kabar damai sejahtera yang mendatangkan sukacita yang tiada tara.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Mengapa para malaikat sangat ketakutan ketika melihat kemuliaan Tuhan? (Ayat 9)
    2. Mengapa berita yang dibawa oleh malaikat membawa kesukaan bagi seluruh bangsa? (Ayat 10-11)
    3. Apa makna pujian para malaikat dalam ayat 14?
    4. Mengapa para gembala ketika pulang sangat bersyukur, bersukacita dan memuji Allah? (Ayat 20)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg).

  • Jangan KHAWATIR dengan ESOK

    Sahabat, pandemi Covid-19 telah memporak porandakan segala aspek di dunia ini. Sudah hampir 2 tahun berita-berita yang mengerikan  setiap hari kita dengar, jadi bisa dimengerti jika sebagian besar orang merasa takut dan khawatir menghadapi esok. Jangan khawatir dengan esok,  karena masa depan sungguh ada, dan harapanmu tidak akan hilang  (Amsal 23:18).  Esok memiliki kesusahannya sendiri  (Matius 6:34), Kita memang perlu memikirkan esok,  tapi jangan sampai kita dihantui oleh berbagai hal yang membuat kita takut dan khawatir,  sampai-sampai melampaui iman kita kepada Tuhan Yesus.

    Sekalipun dunia dipenuhi dengan goncangan-goncangan di segala bidang kehidupan, tetapi kita menerima kerajaan yang tidak tergoncangkan, marilah kita mengucap syukur dan beribadah kepada Allah menurut cara yang berkenan kepada-Nya, dengan hormat dan takut(Ibrani 12:28), karena penyertaan Tuhan atas kita sampai kepada kesudahan zaman  (Matius 28:20-b).  Marilah kita menjalani hidup ini dengan sikap yang optimis karena hidup kita ini adalah hidup karena percaya, bukan karena melihat  (2 Korintus 5:7).  Hidup karena percaya berarti melangkah dengan iman karena kita bukan lagi mengandalkan kekuatan sendiri, melainkan mengandalkan Tuhan dan berserah kepada pimpinan-Nya. 

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Jangan KHAWATIR dengan ESOK”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 125:1-5. Sahabat, Pemazmur dengan tegas menyatakan bahwa hanya orang-orang yang percaya kepada Tuhan yang tidak akan goyang dan tetap untuk selama-lamanya.

    Pemazmur menggambarkan mereka seperti gunung Sion, sebab Sion terkenal sebagai gunung pilihan Allah, tempat kudus Allah, serta sebagai kota benteng. Mereka yang percaya kepada Tuhan akan mendapatkan perlindungan, sehingga tidak akan goyah.

    Sahabat, perlindungan Tuhan juga layaknya Yerusalem yang dikelilingi oleh gunung-gunung. Melalui letak geografis Yerusalem, Pemazmur hendak memberitahukan bahwa Tuhan senantiasa berada di sekeliling orang-orang yang percaya kepada-Nya, sehingga mereka menjadi kuat dan tidak berubah, juga aman dan terlindungi. Mereka akan hidup aman dalam jaring pengaman kehidupan (ayat 2).

    Oleh sebab itu, jika umat Tuhan hendak memperoleh keamanan sepenuhnya, ada yang harus dilakukan. Pertama, percaya dan mengandalkan Tuhan sepenuhnya. Kedua, menjauhi kejahatan dan melakukan kebaikan. Ketiga, hidup dalam ketulusan hati. Keempat, tidak menyimpang ke jalan yang berbelit-belit (ayat 3-5).

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami tentang keamanan?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang esok?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • Kejujuran: BERKENAN DIKOREKSI

    Sahabat ada perbedaan yang cukup mencolok antara orang sombong dengan orang jujur. Kesombongan berangkat dari keinginan pribadi untuk mendapatkan hormat atau sanjungan dari orang lain. Sedangkan kejujuran berangkat dari ketulusan dan kelurusan hati tanpa ada motivasi mencari keuntungan. Motivasi utama dari kejujuran adalah cinta akan kebenaran dan kerinduan agar kebenaran itu diungkapkan dengan nyata.

    Ketika melakukan sebuah kesalahan,  tidak semua orang berkenan ditegur dan dikoreksi.  Kita cenderung membenarkan diri sendiri atau menganggap diri paling benar.  Orang yang merasa dirinya pintar seringkali berpikir bahwa setiap perkataan dan keputusannya adalah selalu benar, sehingga ia sering menempatkan kelemahan, kekurangan dan kesalahan pada pihak lain (Matius 7:3). 

    Untuk lebih memahami topik tentang “Kejujuran: BERKENAN DIKOREKSI”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 26:1-12. Sahabat, mari belajar dari Daud, yang walaupun memiliki kedudukan tinggi sebagai raja, terkenal, memiliki kekayaan yang melimpah dan juga pasukan tentara yang kuat, tetaplah orang yang rendah hati.  Kerinduannya untuk senantiasa berjalan dalam kehendak Tuhan membuatnya berkenan ditegur dan dikoreksi setiap saat.  Bahkan ia memohon kepada Tuhan untuk selalu diselidiki hatinya apabila masih ada hal-hal yang tidak berkenan kepada-Nya.

    Mazmur 26 bukanlah mazmur yang ditulis dengan motivasi kesombongan. Daud menuliskan mazmur ini dari kesadaran bahwa ia membutuhkan pembebasan dan belas kasihan Tuhan (ayat 11). Kesadaran akan anugerah ini membawanya kepada cinta dan kerinduan akan rumah Tuhan (ayat 8) serta komitmen untuk hidup dalam ketulusan dan iman tanpa keraguan (ayat 1).

    Sahabat, Daud tidak merasa dirinya suci dan saleh seolah-olah ia tidak pernah berbuat dosa, tidak pernah melakukan kesalahan. Sebaliknya, ia menyandarkan diri kepada pengampunan dan karya Allah dalam membentuk dan menuntunnya (ayat 1-7, dan 11).

    Daud menyadari bahwa Allah adalah Allah yang Mahatahu. Karena itu, ia membuka dirinya untuk diuji dan diselidiki oleh Allah (ayat 1-3). Dia menegaskan bagaimana dirinya menjauhi pergaulan dan perkumpulan orang-orang yang berbuat jahat dengan cara menceritakan kemuliaan Allah (ayat 4-7). Ia mengakhiri mazmurnya dengan menegaskan kerinduan hatinya akan rumah Tuhan (ayat 8-12).

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pelajaran apa yang Sahabat dapatkan dari ayat 1-3?
    2. Pelajaran apa yang Sahabat dapatkan dari ayat 4-7?
    3. Apa yang menjadi pernyataan Daud dalam ayat 8?
    4. Apa yang dibutuhkan Daud dalam ayat 11?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • Mengembangkan GAYA HIDUP SEMUT

    Serangga sekecil semut yang lemah itu ternyata memiliki keuletan dan kemampuan untuk bertahan hidup.  Bangsa semut layak untuk dijadikan panutan, karena mereka secara naluriah bertindak mengabdi untuk kepentingan koloninya.  Seekor semut rela melepaskan hak pribadinya, dan seluruh karya hidupnya didedikasikan untuk kepentingan koloninya, sehingga di mana pun kita akan menyaksikan iring-iringan semut bekerja keras nyaris sepanjang waktu, siang hingga malam tanpa mengenal lelah. 

    Sahabat, mereka tidak pernah menabur benih, namun lumbung-lumbung mereka senantiasa penuh makanan.  Dengan bekerja sama mereka memastikan cadangan makanan telah tersedia pada musim paceklik.

    Untuk lebih mendalami topik tentang: “Mengembangkan Gaya HIDUP SEMUT”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Amsal 6:6-11. Semut rajin bekerja di musim panas, mengumpulkan makanannya, menyimpannya, menjaga sarangnya.

    Yang lebih mengagumkan lagi, seekor semut mampu mengangkut beban yang berukuran hingga 10X berat tubuhnya sendiri.  Bila ada makanan yang lebih besar dari kemampuannya, semut akan memanggil teman-temannya untuk menyeret makanan itu secara beramai-ramai.

    Makanan yang terkumpul kemudian dinikmati bersama tanpa bersaing dan saling membunuh. Mereka hidup berkelompok, dalam satu koloni yang saling menopang, saling percaya, dan rukun.

    Sahabat, itulah sebabnya, Salomo, sang raja yang penuh hikmat itu, menasihati rakyatnya agar pergi dan belajar kepada semut. Rajin bekerja kala musim panas, agar saat musim dingin yang sangat menyulitkan bagi binatang sekecil semut, mereka telah memiliki persediaan yang cukup sebagai bentuk pemeliharaan Sang Pencipta. Kiranya kita pun belajar hidup dengan bijaksana.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Mengapa raja Salomo menasihati rakyatnya yang malas untuk belajar dari semut?
    2. Etos kerja seperti apa yang dapat kita peroleh dari semut?
    3. Pelajaran apa yang kita peroleh dari kehidupan semut dalam hal hidup berkomunitas?
    4. Sahabat, pengalaman hidup kita bercerita bahwa dalam kehidupan ini ada musim kelimpahan dan ada musim paceklik, pelajaran apa yang kita peroleh dari semut dalam hal pengaturan keuangan (pendapatan) kita?
    5. Apa yang akan dituai bagi mereka yang hidup bermalas-malasan? (Ayat 9-11)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • Membudayakan GAYA HIDUP dalam FIRMAN TUHAN

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI),  KEBIASAAN adalah sesuatu yang biasa dikerjakan dan sebagainya; pola untuk melakukan tanggapan terhadap situasi tertentu yang dipelajari oleh seorang individu dan yang dilakukannya secara berulang untuk hal yang sama. Kebiasaan adalah serangkaian perbuatan seseorang secara berulang-ulang untuk hal yang sama dan berlangsung tanpa proses berfikir lagi.

    Sahabat, sesungguhnya dari kebiasaan-kebiasaan kita  akhirnya akan membentuk karakter kita!  Karena kita adalah ciptaan baru, maka kita harus mengenakan manusia baru yang terus-menerus diperbaharui untuk memperoleh pengetahuan yang benar menurut gambar Khaliknya  (Kolose 3:10). 

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Membudayakan GAYA HIDUP dalam FIRMAN TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 119: 1-16. Pemazmur tidak menganggap firman Tuhan hanya sesuatu yang sambil lalu dalam hidupnya, juga bukan hanya direnungkan saat diperlukan. Ia rindu akan firman Tuhan. Ia menyimpan dan menjaganya dengan baik di dalam hatinya sehingga itulah yang menuntun jalan hidupnya setiap hari (ayat 11). Baginya, firman Tuhan bukanlah beban, melainkan pembawa sukacita. Pemazmur tidak menyimpan firman itu untuk dirinya sendiri; ia membagikannya dan mengajarkannya kepada orang lain (ayat 12-13).

    Sahabat, bagaimana caranya membudayakan gaya hidup dalam firman Tuhan? Pertama, menyediakan waktu untuk membaca dan mempelajari firman-Nya. Kedua, belajar untuk menghafal ayat-ayat firman Tuhan. Ketiga, mempraktikkan firman yang telah dipelajari dan mengingatnya dalam langkah hidup setiap hari. Firman yang telah dipelajari dan diingat itu akan berakhir sia-sia jika tidak pernah diterapkan dalam kehidupan. Tindakan mengingat firman-Nya diperlukan, supaya firman itu benar-benar menguasai seluruh pikiran, sehingga mengalir keluar dalam setiap perkataan maupun tindakan yang kita lakukan.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Bagaimana gambaran orang yang berbahagia menurut ayat 1-3?
    2. Apa tujuan Tuhan menyampaikan titah-titah-Nya? (Ayat 4)
    3. Dengan apakah seorang muda mempertahankan kelakuannya bersih? (Ayat 9)
    4. Apa yang dilakukan oleh Pemazmur supaya firman Tuhan dapat menuntun hidupnya setiap hari? (Ayat 11)
    5. Bagaimana sikap Pemazmur dalam menerima firman Tuhan? (Ayat 12)
    6. Apa yang dilakukan oleh Pemazmur dengan firman Tuhan yang dia terima? (Ayat 13)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • Bak KAKI RUSA Melompat di Bukit Terjal

    Sahabat, beberapa hari yang lalu saya menerima kiriman video pendek dari seorang teman melalui WA. Dalam video tersebut  terlihat seekor rusa sedang  diincar oleh seekor singa. Singa  secara perlahan memperpendek jaraknya dengan rusa, dan ketika merasa jaraknya sudah cukup, singa betina itu segera berlari sekencang-kencangnya menuju rusa. Rusa tersebut kaget dan langsung lari secepat mungkin. Kalau biasanya singa mampu mengatasi kecepatan mangsanya, kali ini si rusa ternyata cukup beruntung karena ia berhasil menghindar. Entah mengapa singa itu memperlambat laju larinya dan kemudian berhenti dan rusa tersebut selamat. Ia terus lari dengan kaki yang anggun bagai lompatan balerina.

    Selain punya langkah yang panjang,  dengan keempat kaki yang jenjang dan lentik, rusa bisa melompat tinggi untuk mendaki perbukitan. Jalan terjal berbatu bukanlah masalah bagi seekor rusa untuk bisa mencapai puncak bukit, sebuah lokasi yang jauh lebih aman dari kejaran binatang-binatang buas. Rusa termasuk hewan yang  selalu menjadi incaran predator-predator buas, tetapi kekuatan kakinya untuk berlari dan melompat jauh, bisa menjadi senjata untuk menyelamatkan diri.

    Sahabat, untuk lebih memahami topik tentang: “Bak KAKI RUSA Melompat di Bukit Terjal”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 18:31-36. Sahabat, berbagai deraan masalah sering mengancam kita, bagai binatang-binatang buas yang siap menerkam. Jalan yang kita lalui dalam hidup pun seringkali tidak mulus. Jalan yang tidak rata, terjal, berliku dan berbatu-batu sangat melelahkan untuk dilewati. Seandainya kita punya kaki seperti rusa, kita tentu akan bisa lebih kuat dan lebih lincah untuk mendaki jalan berbatu untuk sampai dengan selamat di atas bukit.


    Sahabat, raja Daud menggambarkan pemeliharaan Tuhan itu sebagai kekuatan dan tuntunan yang selalu diberikan-Nya saat ia mulai kehilangan arah, tidak tahu apa yang seharusnya dilakukan. Topangan tangan-Nya selalu menguatkan kaki-kakinya menjadi seperti kaki rusa,  yang sanggup melompat di tempat yang terjal.

    Seberat bagaimana pun situasi di depan kita, mari percayakan hidup kita kepada-Nya. Dialah yang akan menuntun dan menguatkan kaki-kaki iman kita sehingga kita dapat melewati terjalnya kehidupan ini dengan sukacita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa saja yang menjadi keyakinan Daud dalam ayat 31?
    2. Apa yang dilakukan Allah kepada Daud dalam ayat 33-34?
    3. Apa yang diajarkan dan diberikan Allah kepada Daud dalam ayat 35-36?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • Eben-Haezar: INILAH Pertolongan-Pertolongan Tuhan

    Sahabat, dalam rangka HUT ke-43 Panti Asuhan (PA) Christopherus, mereka mengadakan kebaktian syukur pada  Kamis 18 November 2021 di Kapel Shechinah dengan mengangkat tema: Eben-Haezar. Mereka ingin mengingat dan mensyukuri pertolongan-pertolongan Tuhan dalam perjalanan pelayanan mereka selama 43 tahun.

    Maka pada hari ini saya mengangkat tema: “Eben-Haezar: INILAH Pertolongan-Pertolongan Tuhan, dengan mengambil Bacaan Sabda dari 1 Samuel 7:2-14. Sahabat, dalam Perjanjian Lama, kata Eben-Haezer dipakai 3 kali, yakni dalam 1 Samuel 4:11; 1 Samuel 5:1,  dan 1 Samuel 7:12. 

    Pemakaian kata Eben-Haezer dalam ketiga ayat tersebut memberikan 2 macam pengertian, yaitu : Pertama, merupakan nama diri yang merujuk kepada suatu tempat di mana orang Israel dua kali dikalahkan oleh orang Filistin (1 Samuel 4:1 dan 1 Samuel 5:1). Daerah ini mungkin merupakan tempat nabi Samuel meletakkan sebuah batu untuk  memperingati kemenangan atas orang Filistin (1 Samuel 7:12).

    Kedua, merupakan nama diri yang diberikan kepada sebuah batu yang didirikan oleh Samuel untuk memeringati kemenangan bangsa Israel atas orang Filistin (1 Samuel 7:12). Sebuah batu yang diletakkan oleh nabi Samuel sebagai batu peringatan. Bukan untuk disembah, tapi hanya sebagai monumen peringatan atas pertolongan Tuhan pada saat itu. Nama tersebut juga memiliki pengertian yang sama dengan maksud dari peletakan batu tersebut. Eben–Haezer: Sampai di sini Tuhan menolong kita. 

    Peletakan batu, Eben-Heazer adalah sebuah momen untuk mengingat pertolongan Tuhan, dan sebagai ucapan syukur atas pertolongan Tuhan, juga untuk memuliakan Tuhan. Hal ini sekaligus diharapkan menjadi momentum bagi bangsa Israel untuk terus mengingat kebaikan Tuhan yang mereka  terima saat itu, sehingga mendorong mereka juga  untuk terus memercayai Tuhan, yang hidup, yang dapat dipercayai dan diandalkan.

    Sahabat, sesungguhnya “Sampai di sini TUHAN  menolong kita”, tidak berbicara tentang pertolongan Tuhan yang telah selesai. Namun berbicara  tentang INILAH pertolongan Tuhan yang sudah dimulai dan akan terus berlanjut.  Apa yang  dilakukan Samuel seharusnya membantu kita untuk dapat memerhatikan momen-momen dalam hidup kita, ada saat-saat yang perlu kita ingat, ketika Tuhan bekerja dengan dasyat menolong kita.  

    Hidup kita sebagai orang percaya, perlu memiliki kepekaan untuk mengetahui momen-momen, yang Tuhan berikan, untuk kita syukuri sebagai bagian dari pertolongan Tuhan dalam membentuk kita. Melihat setiap peristiwa dalam hidup kita, sebagai momen Tuhan menolong kita,  itu akan melahirkan rasa syukur dan perubahan hidup. 

    Karena itu, kita harus punya komitmen bahwa setiap keberhasilan dalam pelayanan, dalam keluarga, dalam pekerjaan, dalam studi,   dan dalam menyelesaikan masalah demi masalah,  itu artinya Tuhan terus bekerja menolong kita.  

    Mengingat Sejenak Merenung pada hari ini masih berkaitan dengan HUT ke-43 PA Christopherus, maka saya mengajak Sahabat semua kiranya berkenan untuk mendoakan perjalanan pelayanan PA Christopherus selanjutnya. Tuhan memberkati. (pg).

  • Menempatkan TUHAN sebagai yang PERTAMA dan TERUTAMA

    Saya yakin cukup banyak orang percaya yang sudah hafal Matius 6:33. Kita semua mengerti bahwa firman Tuhan memerintahkan kita untuk mencari terlebih dahulu Kerajaan-Nya dan kebenaran-Nya, yang merupakan kunci untuk mengalami berkat-berkat Tuhan. 

    Sahabat,  dalam praktik hidup sehari-hari, sadar atau tidak, seringkali kita tidak menempatkan Tuhan sebagaimana seharusnya, yaitu sebagai yang pertama dan terutama dalam hidup.  Kita menempatkan Tuhan hanya sebagai alternatif pilihan atau bahkan sebagai  ban serep  saja.  Kita mencari Tuhan hanya saat perlu saja, kita ngotot mencari hadirat-Nya saat terhimpit masalah, kita mencari Tuhan karena kita mengingini berkat-Nya, mukjizat-Nya dan pertolongan-Nya, tak lebih dari itu.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Menempatkan TUHAN sebagai yang PERTAMA dan TERUTAMA”, Bacaan Sabda saya ambil dari 1 Samuel 12:13-25. Samuel mengingatkan Israel bahwa, meskipun mereka telah memiliki raja, namun harus tetap ingat bahwa hanya Allahlah yang patut dipuji dan disembah. Umat harus senantiasa takut akan Allah, beribadah kepada-Nya, mendengarkan Firman-Nya dan tidak menentang titah-Nya (ayat 14, 20, dan 24). Demikian pula, raja Israel harus melakukan hal yang sama bersama umat.

    Pesan tersebut diulang Samuel sampai tiga kali, karena bangsa Israel dalam sejarah perjalanannya, sering kali mudah tergoda untuk menyembah ilah-ilah lain. Samuel kembali memaparkan pengalaman-pengalaman pahit ketika umat melupakan Allah. Ia juga bercerita tentang segala perbuatan yang dikerjakan Allah kepada umat saat itu dan kepada nenek moyang mereka. Semua itu menyadarkan umat Israel bahwa hanya Allah yang terutama. Raja pun berada di bawah kuasa Allah. Jangan tergoda untuk menganggap raja sebagai Allah!

    Sahabat, melalui bacaan kita pada hari ini,  kita diingatkan agar tetap menempatkan Allah sebagai yang pertama dan terutama. Di sekitar kita begitu banyak godaan yang dapat menarik kita untuk menjauh dari Allah dan menempatkan-Nya menjadi yang kedua. Godaan bisa datang tanpa kita sadari. Godaan bisa juga muncul dari kekaguman yang berlebihan terhadap seseorang, sehingga kita menjadi lebih memuja orang tersebut, dibandingkan Allah.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang diberikan Tuhan kepada bangsa Israel? (Ayat 13)
    2. Apa saja yang harus ditaati dan dilaksanakan oleh Raja dan bangsa Israel? (Ayat 14)
    3. Peringatan apa yang diberikan kepada bangsa Israel? (Ayat 21)
    4. Apa janji nabi Samuel kepada bangsa Israel? (Ayat 23)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • Mencari dan Mendapatkan HIKMAT

    Sahabat, hikmat   memiliki makna:  Suatu pengertian dan pemahaman yang dalam mengenai orang, barang, kejadian atau situasi, yang menghasilkan kemampuan untuk menerapkan persepsi, penilaian dan perbuatan sesuai dengan pengertian tersebut.  Secara singkat hikmat  memiliki arti: Kebijaksanaan, pengertian, pengetahuan dan kepandaian. 

    Hikmat adalah hal yang sangat penting yang harus dimiliki oleh setiap anak-anak Tuhan,  sebab hikmat lebih berharga daripada permata, apapun yang diinginkan orang, tidak dapat menyamainya (Amsal 8:11).  Dengan hikmat, orang dimampukan untuk membuat keputusan dengan benar, dapat membedakan mana yang baik dan mana yang jahat, mana yang harus dilakukan dan mana yang tidak.

    Sahabat, untuk lebih memahami topik tentang: “Mencari dan Mendapatkan HIKMAT”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Amsal 2:1-22. Serentetan petunjuk mengenai sikap yang benar terhadap hikmat dipaparkan penulis dari ayat 1 sampai 4 seperti yang ditunjukan pada kerjanya: Menerima perkataan, menyimpan perintah, memerhatikan hikmat, mencenderungkan hati pada kepandaian, berseru kepada pengertian, dan mencari serta mengejar harta terpendam. Mencermati semua sikap tersebut, kita belajar bahwa untuk mendapatkan hikmat, harus ada usaha yang serius, tidak mengenal lelah, bersemangat, jauh dari putus asa dan terbuka untuk dipimpin oleh hikmat.

    Mencari hikmat melibatkan pikiran, indera, hati, dan kemauan. Sikap ini dimiliki oleh orang yang tahu dan yakin bahwa hikmat yang didasari takut akan Tuhan adalah hikmat yang berharga bagi hidupnya. Karena hikmat bersumber pada Allah, maka kita perlu menyediakan waktu untuk mendengar firman-Nya secara teratur dan sungguh-sungguh. Kita perlu membuka hati dan pikiran kita mempelajari firman Tuhan. Kita perlu menyediakan waktu untuk bersekutu dengan Tuhan di dalam doa dan persekutuan pribadi, dan melakukan firman Tuhan setiap hari.

    Sahabat, berkomitmenlah setiap hari untuk bersekutu dengan Tuhan lewat doa, saat teduh, dan melakukan firman Tuhan. Dengan demikian jelas ada perbedaan antara orang yang takut akan Tuhan dan yang tidak.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Bagaimana cara mencari dan mendapatkan hikmat? (Ayat 1-5)
    2. Pemahaman apa yang Sahabat peroleh dari ayat yang ke-6?
    3. Apa manfaat hikmat bagi hidup Sahabat saat ini? (Ayat 9-16)
    4. Apa nasihat dan janji yang kita peroleh dari ayat 20-22?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • Mereka BUTUH SENTUHAN KASIH Kita

    Sejak berdirinya, yayasan Christopherus bersifat Interdenominasi dan holistik, dengan moto  pelayanannya: “Christ for all, all for Christ” (2 Korintus 5:14-15)

    Bertitik tolak dari ketiga karakter tersebut, maka yayasan Christopherus  terus mengembangkan  pelayanannya, mulai dari berkhotbah, main musik, memutar film dan pelayanan  sosial sebagai wujud nyata dari apa yang dikhotbahkan. Pada langkah berikutnya mendirikan panti asuhan.

    Hari ini, Kamis 18 November 2021 Panti Asuhan (PA) Christopherus  tepat berulang tahun yang ke-43. Maka untuk lebih mendalami topik tentang: “Mereka BUTUH SENTUHAN KASIH Kita”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yakobus 1:27, yang sekaligus merupakan firman Tuhan yang menjadi dasar dari pendirian PA Christopherus.

    Mengapa memperhatikan yatim piatu disebut “Ibadah yang murni”? Karena menolong dan memberdayakan yatim, piatu, dan yatim piatu,  kita tidak bisa mengharapkan balas jasa (“pamrih”) dari mereka. Tapi sesungguhnya Tuhan sangat menghargai pelayanan sekecil apapun yang kita berikan kepada mereka yang membutuhkan sentuhan kasih kita(Matius 10:42).

    Sahabat, cukup banyak orang beranggapan bahwa ibadah yang murni dan tak bercacat ialah jika pelaksanaan liturgi gereja dilaksanakan dengan baik tanpa ada kesalahan apa pun. Intinya ibadah itu terletak pada suksesnya sebuah seremonial suatu kebaktian dijalankan. Hal tersebut berbeda dengan pemahaman Yakobus.

    Praktik hidup beribadah dari jemaat Kristen mula-mula tidaklah salah; tetapi ibadah yang dilakukan akan menjadi sia-sia jika tidak dilanjutkan, diterapkan dalam perbuatan sehari-hari. Bahkan makna ibadah yang dilakukan dapat hilang, ketika orang yang beribadah justru melakukan tindakan-tindakan yang bertentangan dengan makna ibadahnya.

    Ibadah kepada TUHAN harus utuh dan bulat, tidak setengah-setengah! Ibadah kepada TUHAN tidak hanya terbatas kepada pujian yang dinyanyikan, doa yang dipanjatkan serta firman TUHAN yang didengarkan! Ibadah kepada TUHAN adalah juga nyanyian, doa dan firman TUHAN yang dilakukan dalam kesaksian hidup, berdampak bagi sesama, dan dilakukan dengan sungguh serta murni, sebagaimana layaknya dilakukan kepada TUHAN (Matius 25: 31-46; Kolose 3:17 dan 23).

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah secara singkat pemahamanmu tentang ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

    ———————-

    Sahabat, doakan dan dukunglah PA Christopherus. Jika Sahabat ingin mengetahui lebih lanjut dan lebih banyak tentang PA Christopherus, hubungi kami melalui WA ini, dengan sukacita kami akan mengirimkan info-info yang Sahabat butuhkan.