Category: Sejenak Merenung

  • IDENTITAS Orang Percaya: BANGSA yang TERPILIH

    Banyak tanda atau simbol yang dipakai oleh orang-orang untuk menunjukkan identitasnya sebagai orang percaya. Bisa dengan menunjukkan kartu identitas yang tertera dalam kolom agama, atau dengan memakai simbol salib yang dipakai di leher atau digantung di dinding rumah. Ada juga yang mengungkapkannya di depan orang banyak lewat kata-kata: Haleluya, puji Tuhan, Tuhan memberkati, berkat Tuhan, dan lain-lain.

    Sahabat, sesungguhnya orang percaya memiliki dua identitas, yaitu identitas yang bersifat jasmaniah dan identitas yang bersifat rohaniah. Identitas jasmaniah orang percaya berbeda satu dengan yang lain, tetapi identitas rohaniah orang percaya bersifat seragam. Identitas jasmaniah bisa membuat seseorang merasa bangga (karena kaya, berpendidikan tinggi, tampan/cantik, berkuasa, dan sebagainya) atau merasa dirinya tidak berharga.

    Sebaliknya, bila kita berpegang pada identitas rohaniah yang kita miliki, tak ada alasan untuk merasa rendah diri. Sebagai orang yang percaya kepada Yesus Kristus, kita harus yakin bahwa di dalam Kristus, kita adalah pewaris segala berkat rohani di dalam surga. Sejak semula (sebelum dunia dijadikan), Allah telah memilih kita agar kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya. Allah telah menentukan kita menjadi BANGSA yang TERPILIH.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “IDENTITAS Orang Percaya: BANGSA yang TERPILIH”, maka Bacaan Sabda saya ambil dari 1 Petrus 2:9-10. Sahabat, ada satu hal yang hendak kita pelajari dari bacaan kita pada hari ini yaitu: bangsa yang terpilih. Dari hal tersebut, kita tahu bahwa orang percaya terpilih karena tiga alasan: Pertama,  Ia terpilih karena adanya hak khusus. Dalam Yesus Kristus, ditawarkan kepadanya hubungan baru dan intim dengan Allah. Hanya di dalam dan karena Tuhan Yesus, orang diselamatkan dan masuk ke dalam jajaran bangsa elite pilihan Allah; 

    Kedua, Ia terpilih karena ketaatan. Hak khusus membawanya pada tanggung jawab. Memang benar bahwa ketika seseorang sudah diselamatkan dalam Yesus maka ia masuk dalam bangsa pilihan, namun sebagai anggota dari bangsa pilihan, ia harus menaati aturan-aturan Allah. Memang, ia bukan lantas tidak selamat kalau tidak taat, namun ia menjadi yang terkecil di antara yang diselamatkan (1 Korintus 3:10-23);

    Ketiga, Ia terpilih untuk melayani. Kebanggaannya adalah ia dapat menjadi pelayan Allah. Hak khususnya adalah dijadikan sebagai alat untuk maksud Allah sepanjang hidupnya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong tuliskan pemahamanmu tentang orang percaya sebagai bangsa yang terpilih dan apa yang menjadi tugasnya?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg).

  • GELAP Sirna, TERANG Menyala

    Kumpulan surat yang ditulis R.A. Kartini dan dibukukan dengan judul “Habis Gelap Terbitlah Terang” mengungkapkan bahwa setiap manusia pasti mengalami masa-masa sulit, masa-masa yang gelap. Dengan perjuangan yang gigih, penuh kesabaran, dan bersandar kepada Tuhan, maka terang terbit mewarnai kehidupan. Setelah masa-masa yang gelap itu sirna, maka terang pun menyala.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “GELAP Sirna, TERANG Menyala”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesaya 60:1-14. Sahabat, Yesaya 58-66 merupakan bagian penutup dari Kitab Yesaya yang mendeklarasikan sebuah pengharapan keselamatan bagi seluruh umat manusia, runtuhnya dinding-dinding pembatas antar-bangsa, dan penyataan kemuliaan Tuhan pada akhir zaman.

    Sahabat, pembuangan ke Babel merupakan masa sulit yang dihadapi bangsa Israel. Sebagian dari mereka ada yang dibunuh dan dibawa sebagai tawanan perang. Namun, Nabi Yesaya menyadari kalau semua itu terjadi karena mereka tidak taat dan kurang percaya kepada Allah. Meski demikian, Allah tidak pernah meninggalkan umat-Nya, kendati mereka sering menyakiti hati-Nya. Allah mengeluarkan mereka dari keterpurukan hingga menuntun mereka sampai ke Yerusalem.

    Terang Tuhan tetap terbit atas bangsa Israel (ayat 1-2). Bangsa-bangsa akan datang, anak-anak pun datang, dan mereka pun berseri melihatnya (ayat 3-5). Itulah terang yang telah memimpin mereka keluar dari kegelapan. Namun, mereka malah terus hidup dalam ketidakpercayaan. Trauma masa lalu yang mereka hadapi selalu melekat di benak mereka. Mereka bahkan kerap kali meragukan kuasa Allah dengan memertanyakan apakah Allah sanggup memulihkan keadaan mereka atau tidak. Oleh karena penderitaan datang bertubi-tubi, fokus mereka pun menjadi teralihkan. Mereka lupa bahwa selama ini Allah telah menyertai hidup mereka.

    Sahabat, oleh karena itu, nabi Yesaya mengingatkan kembali agar umat Allah yang ada di pembuangan tetap percaya kepada Allah yang telah menuntun mereka selama masa kesusahan. Yesaya berseru agar mereka bangkit dari kegelapan dan menjadi terang, karena seharusnya mereka tetap percaya dan bersandar kepada Allah, bukannya malah meragukan kuasa-Nya.

    Allah pun telah menunjukkan terang itu kepada kita umat yang percaya. Oleh karena itu, jangan biarkan masa lalu yang kelam atau penderitaan yang kita alami saat ini membelenggu dan membuat kita ragu seperti orang-orang tak percaya yang hidup dalam kegelapan. Mari kita bangkit dan menjadi terang sehingga kemuliaan Allah selalu nyata dalam hidup kita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Mengapa nabi Yesaya berseru agar bangsa Israel bangkit dan menjadi terang? (Ayat 1-2)
    2. Bagaimana pemahaman Sahabat tentang nubutan nabi Yesaya dalam ayat 3-7? Apa yang akan terjadi dengan bangsa Israel?
    3. Gambaran seperti apa yang telah disampaikan oleh nabi Yesaya dalam ayat 8-14 ketika bangsa Israel bangkit dari keterpurukan?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • Sudahkah AKU BERSYUKUR hari ini?

    Sahabat, jangan pernah berhenti bersyukur karena Tuhan tidak pernah berhenti memberkati hidup kita. Bersyukur adalah kunci di jagat dan akhirat. Bersyukur merupakan wujud ungkapan perasaan terima kasih kepada Tuhan atas semua kenikmatan dan anugerah yang setiap hari kita rasakan. Namun, tidak jarang kita semua luput dan lupa untuk bersyukur, apalagi ketika kita sedang mendapatkan masalah dan cobaan yang berat.

    Kadang kala juga ketika kita sudah melewati cobaan tersebut, kita justru sering lupa siapa yang selama ini menolong dan melindungi kita.

    Untuk memahami lebih dalam topik tentang: “Sudahkah AKU BERSYUKUR hari ini?”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 9:1-21. Sahabat melalui gubahan lirik lagu Mazmur Daud, menurut lagu Mut-Laben, kita mendapati bahwa betapa Daud merindukan untuk mengucapkan syukur kepada Allah. Dengan segenap hati dan jiwanya, Daud sungguh rindu menaikkan rasa syukurnya kepada Tuhan Allah Israel yang sudah mengurapinya naik ke takhta kerajaan.

    Gubahan lirik mazmur pujian itu direkam dalam ayat 1, yang demikian bunyinya: “Untuk pemimpin biduan. Menurut lagu: Mut-Laben. Mazmur Daud.” Selanjutnya di ayat 2 Daud menyatakan: “Aku mau bersyukur kepada TUHAN dengan segenap hatiku, aku mau menceritakan segala perbuatan-Mu yang ajaib;”

    Sahabat, secara tersurat dan tersirat, gubahan lirik lagu pujian tersebut juga menyatakan bahwa Daud sungguh ingin menuturkan tentang semua pekerjaan dan karya-karya Tuhan yang sangat dahsyat dan ajaib. Daud ingin memberitakan segala perbuatan tangan-Nya yang sangat indah dan sempurna kepada bangsa-bangsa sampai ke ujung bumi.

    Daud, sungguh rindu bersyukur kepada Tuhan dengan segenap hati dan jiwanya. Ia akan menceritakan segala perbuatan Allah yang sangat luar biasa dan mengherankan kepada bangsa-bangsa dan semua suku bangsa di seluruh permukaan bumi.

    Sahabat, akhirnya marilah kita merenungkan dua nasihat ini. Pertama, janganlah lupa untuk bersyukur. Bagaimanapun, keadaan kita, sejatinya semua itu adalah karunia Tuhan semata. Kedua, jangan selalu melihat ke atas, sesekali lihatlah ke bawah. Masih banyak orang yang lebih menderita dari kita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini:

    1. Apa yang menjadi tekad Daud dalam ayat 2-3?
    2. Apa yang menyebabkan Daud bersyukur di ayat 4-7?
    3. Apa yang menyebabkan Daud bersyukur di ayat 8-19?
    4. Rasa ungkapan syukur itu tiada habisnya, apa yang menyebabkan Daud bersyukur di ayat 20-21?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • NAMA: Memantulkan SIFAT SESEORANG

    Sahabat, NAMA YESUS adalah nama yang indah dan ajaib. Yesus disebut Kristus karena Dialah yang dipilih Allah menjadi penyelamat dan Tuhan. Yesus adalah Tuhan yang menyelamatkan, sifat-Nya yang paling penting bagi orang yang terhilang dan memerlukan keselamatan. Nama-Nya menggambarkan kasih sayang-Nya yang sangat besar, pertolongan-Nya yang tak terhingga, dan belas kasihan-Nya yang tulus. Dia adalah Imanuel, Allah yang selalu beserta dengan kita.  Dalam Perjanjian Lama, sebuah nama memantulkan sifat seseorang.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “NAMA: Memantulkan SIFAT SESEORANG, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesata 8:23 – 9:6. Sahabat, bacaan kita pada hari ini  menggambarkan kehidupan bangsa Yehuda yang dilanda ketakutan terhadap ancaman Aram dan Israel. Ahas mengambil keputusan yang salah, meminta pertolongan kepada Asyur dan bukan kepada Tuhan. Yehuda adalah bangsa yang berjalan dalam kegelapan karena dipimpin oleh raja yang tidak takut akan Tuhan.

    Di tengah ketakutan ini Yesaya menyuarakan janji Allah tentang kedatangan Mesias. Manusia yang dikuasai kegelapan dosa, kini melihat Terang besar yang mengenyahkan kegelapan. Janji ini digenapi dengan kelahiran Yesus. Nubuat Yesaya menunjukkan dua hal penting tentang Yesus, yaitu bahwa Dia adalah MANUSIA SEJATI dan ALLAH SEJATI. “Seorang anak telah lahir” menunjuk pada Yesus sebagai MANUSIA SEJATI. Adapun nama yang disandang-Nya menunjukkan bahwa Dia adalah ALLAH SEJATI: Penasihat Ajaib, Allah yang perkasa, Bapa yang kekal, dan Raja Damai.

    Yesaya mencatat empat nama yang akan menandai tugas Yesus selaku Juruselamat. Itu membuktikan bahwa nama  Yesus  bukanlah nama sembarang nama, yang tidak diberikan oleh malaikat, atau pun oleh Maria dan Yusuf, melainkan datang dari surga, pemberian Allah sendiri. 

    Sahabat, natal merayakan kedatangan Yesus Kristus ke dunia untuk memberikan pengharapan kepada manusia berdosa. Jika Yesus Kristus sudah datang, mengapa masih ada orang yang hidup tanpa pengharapan dan damai sejahtera? Itulah tugas kita untuk memperkenalkan Yesus Sang Raja Damai, dan momen Natal adalah salah satu kesempatan yang dapat kita pakai.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong ceritakan secara singkat pemahamanmu tentang nubuatan nabi Yesaya tersebut. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • CERITAKAN dari GENERASI ke GENERASI

    Sahabat, banyak orangtua yang menjalani kehidupan sebagai orang percaya sangat baik. Mereka rajin ke gereja, mendukung dan terlibat dalam berbagai kegiatan pelayanan, serta peka terhadap kebutuhan orang lain. Tetapi di sisi lain, mereka membiarkan anak-anak mereka menjalani kehidupan yang sangat berbeda dengan apa yang mereka imani. Atas nama demokrasi dalam keluarga, mereka membiarkan anak-anak mereka mencari jalannya sendiri, asalkan tidak melakukan perbuatan kriminal. Mereka tidak mengajarkan tentang iman mereka kepada anak-anaknya. Mereka tidak menceritakan pengalaman hidup mereka bersama Tuhan dari hari ke hari.

    Untuk lebih memahami topik tentang “CERITAKAN dari Generasi ke Generasi”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yoel 1:2-12. Dalam bacaan kita pada hari ini, Yoel mengingatkan seluruh generasi Israel, untuk memerhatikan apakah kekacauan yang terjadi saat itu pernah dialami pada zaman leluhur mereka (ayat 2-3). Apakah yang terjadi saat itu? Suatu kengerian besar yang pernah mereka alami akibat tulah belalang digambarkan secara jelas di sini (ayat 4). Ketika bencana itu terulang kembali, tidak seorang pun menyangkanya, baik orang yang sadar maupun orang yang mabuk oleh anggur (ayat 5-7). Semua orang secara pribadi merasakan duka karena bencana itu tidak menyisakan apa pun, termasuk apa yang ada di rumah Allah (ayat 6-9). Bencana itu menghantam semua orang, termasuk para pemilik ladang yang berjerih payah menanami ladangnya. Pada waktu itu, tanah sebagai simbol berkat berubah menjadi kutukan karena tidak ada apa pun yang dihasilkannya (ayat 10-12).

    Di masa Nabi Yoel, wabah belalang yang mengerikan merusak negeri Israel sebagai tanda penghukuman dan murka Allah atas ketidaksetiaan mereka. Kawanan belalang itu memakan habis tanaman mereka, sehingga bencana kelaparan menimpa mereka. Namun sebenarnya, Tuhan tidak ingin membinasakan mereka. Dia ingin mereka kembali kepada-Nya. Dia memerintahkan agar umat-Nya menceritakan kisah itu kepada anak-anak mereka, demikian juga kepada generasi-generasi yang kemudian, agar mereka belajar menghormati Tuhan serta tetap setia kepada-Nya.

    Dalam Perjanjian Baru, setiap orang percaya juga diberi tanggung jawab untuk memberitakan perbuatan-perbuatan Allah kepada orang lain (1 Petrus 2:9). Tentunya kita tidak memaksakan kehendak kepada mereka, melainkan memberitakan dengan kasih. Ini termasuk kepada anak-anak kita secara jasmani. Bahkan jangkauannya lebih luas lagi, yakni kepada semua orang. Sebab Tuhan ingin Dia dikenal bukan hanya oleh satu generasi, melainkan sepanjang masa, dari generasi ke generasi.

    Sahabat, kita ini makhluk pembelajar, jadi bisa belajar dari apa saja bahkan dari bencana sekali pun. Kendati bukan berwujud hama belalang, negeri kita akhir-akhir ini tak sepi dari bencana. Seruan Yoel untuk bangun dan meratap mengajak kita untuk memaknai bencana atau krisis atau masalah di negara dan keluarga kita  dengan doa dan keprihatinan seraya bertanya, “Apa suara Tuhan yang hendak diperdengarkan buat bangsa dan keluarga kita?” Kiranya kita belajar untuk peka mendengar suara Tuhan dari balik bencana atau krisis  yang terjadi.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, coba ingat-ingat pernahkan Sahabat menceritakan pengalaman hidupmu bersama Tuhan kepada anak cucu atau orang-orang yang lebih muda? Kalau pernah, tolong bagikan salah satu pengalamanmu. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • ESOK: Penuh KETIDAKPASTIAN

    Saat ini Pandemi Covid-19  di Indonesia semakin melandai, tapi dalam rangka liburan natal dan tahun baru 2022, pemerintah akan menerapkan kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) level 3 di seluruh wilayah Indonesia. Kebijakan PPKM Level 3 di seluruh Indonesia ini akan berlaku mulai 24 Desember 2021 hingga 2 Januari 2022. Kebijakan ini dikeluarkan untuk mencegah penyebaran virus corona saat libur panjang Natal dan Tahun Baru (Nataru).

    Pada tanggal 3 Mei 2022 Yayasan Christopherus genap berusia 50 tahun. Mengingat situasi dan kondisi masih diliputi ketidakpastian, karena itu Panitia Yubileum Christopherus belum berani membuat keputusan apakah Kebaktian Syukur HUT ke-50 Christopherus akan diadakan secara onsite.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “ESOK: Penuh KETIDAKPASTIAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 27:1-14. Sahabat, sungguh, sangat tidak mudah menjalani kehidupan di mana segala sesuatu yang kita lihat hanyalah hamparan gurun pasir yang sangat luas dan tak berujung. Kita berdiam diri berdoa, namun tahun-tahun berlalu tanpa tanda jawaban. Akankah kita tetap berharap dan percaya bahwa Tuhan pasti akan bertindak pada saat dan waktu-Nya?

    Sahabat, Daud pernah mengalaminya. Apa yang bisa diharapkan dari seorang yang sehari-harinya tinggal bersama dua ekor kambing domba di padang rumput? Tetapi Daud belajar memahami maksud Tuhan di balik ketidakpastian itu. Daud belajar untuk sabar, setia dengan panggilannya, dan percaya bahwa suatu saat Tuhan akan mengangkatnya.

    Daud belajar percaya bahwa Tuhan akan mewujudkan impian-impiannya dalam waktu yang tepat. Ia barangkali berkata, “Tuhan, aku tahu Engkau memegang kendali. Walaupun aku tidak melihat apa pun sedang terjadi, Engkau sedang bekerja di belakang layar.” Dan di waktu yang tepat, Tuhan membawa Daud keluar dari padang itu dan mengurapinya menjadi raja Israel. Siapa sangka?

    Sahabat, mari belajar dari Daud, meski kita tidak mampu memahami mengapa Tuhan tidak bersegera melepaskan kita dari sebuah keadaan yang tanpa kepastian, Tuhan ingin kita tetap setia, sabar, dan memegang erat janji-Nya. Ya, Tuhan sangat peduli dan memahami kehidupan kita. Dia merasakan kecemasan dan ketakutan kita. Bertahanlah untuk sedikit waktu lagi dan tetaplah setia! Di satu waktu yang telah ditentukan-Nya, Ia pasti bertindak. Dia tahu saat yang tepat untuk menolong dan mengangkat kita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang menjadi keyakinan Daud di ayat 1?
    2. Apa yang dipercaya oleh Daud dalam ayat 2?
    3. Mengapa Daud ingin diam di rumah Tuhan seumur hidupnya? (Ayat 4-6)
    4. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7-12?
    5. Apa yang diserukan Daud kepada kita di ayat 14?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)  

  • Ketika Tuhan MENGAMBIL yang MENJADI ANDALANKU

    Sore itu saya diajak Gagah (nama samaran) untuk menikmati kopi hitam kesukaan saya di Kedai Kopi. Gagah bercerita mengenai masa lalunya yang kelam. Setelah Gagah lulus SMA, dia tidak melanjutkan studinya atau bekerja. Setiap hari pekerjaannya hanya berhura-hura bersama teman-teman gengnya. Dia menggantungkan hidupnya pada pamannya (adik ayahnya) yang tidak menikah tapi berpenghasilan besar. Dia merasa tenang karena memiliki paman yang dapat mencukupi hidupnya. Sampai suatu hari, paman yang dia andalkan mendadak meninggal dunia karena serangan jantung. Gagah pun limbung karena merasa tak ada lagi orang yang dapat diandalkan. Ketika itulah, Tuhan mengingatkannya untuk kembali ke jalan yang benar.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Ketika Tuhan MENGAMBIL yang MENJADI ANDALANKU”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 28:1-9. Sahabat, dalam mazmur tersebut, Daud mengakui bahwa Tuhanlah kekuatan, perisai, dan penolong baginya. Tiga alasan yang lebih dari cukup untuk membuat putra Isai ini bersukacita, percaya kepada-Nya, memuji Dia, dan bersyukur kepada-Nya.

    Sahabat, pengalaman hidup kita bercerita bahwa  tanpa campur tangan Tuhan kehidupan akan semakin sulit dijalani. Bagi orang percaya, terkadang Tuhan terpaksa “mengambil” hal-hal yang kita andalkan, supaya kita  belajar bergantung dan berharap hanya kepada-Nya. Siapakah yang selama ini kita andalkan?

    Semoga yang kita andalkan  hanyalah TUHAN. Setiap hari kita harus menyerahkan diri seutuhnya pada Tuhan. Akuilah Dia dalam setiap langkah dan andalkan Dia dalam setiap aktivitas kita. Jangan takut dengan apa yang sedang terjadi, tetapi takutlah jika kita mulai menjauh dari Tuhan. Yakinlah bahwa di dalam Tuhan kita akan mendapat kekuatan dan kemenangan. Dengan yakin kita akan berkata bahwa Tuhan adalah kekuatan dan perisaiku.

    Tidak ada yang mustahil bagi Tuhan dan tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya kepada-Nya. Walau perjalanan yang akan kita tempuh masih panjang dan belum tampak ujungnya, tetaplah melangkah dengan iman. Ingatlah selalu janji Tuhan yang tertulis dalam Yesaya 41:10.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini:

    1. Apa yang dilakukan Daud dalam ayat 1-2?
    2. Apa yang menjadi permohonan Daud dalam ayat 3-5?
    3. Apa yang dialami Daud dalam ayat 6?
    4. Apa yang menjadi keyakinan Daud dalam ayat 7-8?
    5. Apa yang menjadi permohonan Daud dalam ayat 9?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • Aku ingin SATU ANGKA saja

    Dalam suatu kejuaraan All England, Rudy Hartono berhadapan dengan Sture Johnson, juara Eropa asal Swedia. Saat itu situasi sangat kritis karena pada set pertama Sture Johnson unggul 15-4 dan set kedua ia sudah unggul 14-0. Semua pendengar RRI dan pemirsa TVRI benar-benar terhenyak karena satu angka lagi tamatlah Rudy Hartono. “Alhamdulillah,” teriak penyiar RRI, shutlecock saat itu berpindah ke tangan Rudy. “Aku ingin satu angka saja” kata Rudy dalam hati ketika memulai servis. Kedudukan kemudian berubah 1-14. Saat itu, Rudy kembali berkata dalam hati. “Aku ingin satu angka lagi”, maka terjadilah 2-14. Akhirnya, Rudy dapat memaksakan hasil imbang 14-14 dan Rudy mengakhiri set kedua dengan 17-14.

    Untuk lebih memahami topik tentang “Aku ingin SATU ANGKA saja”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesaya 42:1-4. Sahabat, nubuat nabi Yesaya dalam bacaan kita pada hari ini disampaikan sekitar tahun 745-680 Sebelum Masehi. Nabi Yesaya diperkirakan sudah aktif memberikan pelayanan di istana raja beberapa tahun di penghujung pemerintahan raja Uzia. Kemudian nabi Yesaya melanjutkan nubuat-nubuatnya dalam pemerintahan raja-raja: Yotam, Ahas, dan Hizkia dari Kerajaan Yehuda.

    Melalui nubuat nabi Yesaya tersebut, kita mendapatkan pembelajaran mengenai Dia yang lemah lembut dan penuh belas kasihan. Dia yang berkuasa tidak mematahkan dan memutuskan harapan orang lemah, orang yang letih lesu, orang berkekurangan dan orang berdosa. Nabi Yesaya mengingatkan: “Buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya” (ayat 3-a).

    Dia tidak memadamkan semangat dan jiwa semua orang yang patah arang, kecewa dan susah hidupnya. Beginilah firman-Nya: “… sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkanny, …” Mengapa? Karena Dia taat akan perintah-Nya. Karena Dia setia kepada perintah Bapa, maka Dia akan menegakkan hukum Tuhan. Ia akan menegakkan Firman Allah. Anak Tunggal Bapa akan “dengan setia ia akan menyatakan hukum” Kerajan-Nya di surga raya.

    Belajar dari pengalaman Rudy Hartono, jangan pernah cepat putus asa! Seberat bagaimana pun beban yang harus kita tanggung dan sekecil apa pun peluang kita untuk menang, tetaplah beriman karena Tuhan yang selalu siaga menopang kita. Di dalam kelemahan, keraguan dan ketakutan kita, Dia selalu ada untuk menjaga. Hanya, bersabarlah saat menghadapi situasi sulit. Tak perlu tergesa, hadapilah setiap masalah satu demi satu. Berjalanlah selangkah demi selangkah bersama Tuhan!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Siapa sesungguhnya yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya dalam bacaan kita? Apa saja ciri-ciri dari Dia yang dinubuatkan oleh nabi Yesaya? (Ayat 1-2)
    2. Berkat apa yang Sahabat terima dari ayat 3?
    3. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • HATI-HATI menjaga HATI

    Pepatah lama mengatakan, “Dalamnya laut dapat diukur, dalamnya hati siapa yang tahu” yang artinya sangat sulit dan hampir tidak mungkin untuk mengetahui isi hati seseorang.

    Sahabat, HATI merupakan kehidupan batin seseorang, yang mencakup keinginan, perasaan, dan pikiran. Maka untuk lebih memahami topik tentang: “HATI-HATI menjaga HATI”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yeremia 17:5-10. Memang tidak ada yang tahu isi hati seseorang. Bahkan ilmuwan yang paling pintar sekalipun, belum dapat membuat alat yang dapat membaca isi hati seseorang. Manusia hanya bisa mengira-ngira, bagaimana isi hati seseorang dengan melihat penampilan dari luarnya.

    Yeremia sudah mengingatkan kita,  bagaimana kita begitu mudah tertipu melihat penampilan luar seseorang, tetapi kita tidak tahu apa yang tersembunyi dalam hati mereka yang sebenarnya  (ayat 9).

    Sahabat, sesungguhnya bukan hanya hati orang lain saja, tetapi hati kita sendiripun bisa seperti itu. Begitu banyak hal negatif yang bisa menghancurkan kita berasal dari hati. Jika tubuh kita saja perlu secara rutin diperiksa, apalagi hati kita yang letaknya tersembunyi, jauh di dalam tubuh kita. Memang sulit bagi kita untuk mengendalikan hati kita, tetapi puji Tuhan, kita punya Allah yang tahu keterbatasan kita. Ketika kita tidak sanggup memeriksa dan memastikan hati kita berada dalam kondisi fit dan bersih dari segala kotoran, Tuhan bersedia untuk itu (ayat 10). Tuhan telah mengatakan bahwa Dia mau memeriksa hati kita, menyembuhkan yang terluka, membersihkan yang kotor dan mengembalikan hati kita ke dalam keadaan yang baik.

    Mari kita belajar dari Daud yang terus peduli untuk meyakinkan bahwa hatinya berada dalam keadaan bersih atau tahir. Dalam Mazmur 26 dan 139 misalnya, Daud berulang kali meminta Tuhan untuk menyelidiki hati dan batinnya. Daud juga berseru: “Jadikanlah hatiku tahir, ya Allah, dan perbaharuilah batinku dengan roh yang teguh!” (Mazmur 51:12).

    Sahabat, kiranya apa yang dikatakan penulis Amsal berikut bisa tetap kita ingat dengan baik. “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.” (Amsal 4:23). Adalah penting bagi kita untuk menjaga agar hati kita tetap bersih, karena dari sana hal yang baik dan buruk bisa berawal. Pastikan senantiasa kita tetap menjalani hidup dengan sebentuk hati yang bersih.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 5 dan 6?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7 dan 8?
    3. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 9 dan 10?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • Tolong DOAKAN saya

    Saya sangat bersyukur kepada Tuhan ketika seorang Sahabat menulis WA: “Saya setiap hari berdoa agar Tuhan mengaruniakan pewahyuan kepada Pak Paul sehingga renungan yang Bapak tulis dapat menjadi berkat bagi para pembacanya.” Saya semakin disadarkan bahwa kalau saya dapat menulis “Sejenak Merenung” dan jadi berkat bagi para pembacanya, itu karena banyak Sahabat yang medoakan saya.

    Pada suatu hari, Charles Spurgeon, pengkhotbah besar Inggris dari abad ke-19, ditanya oleh seorang wartawan:  “Apa yang paling menakutkan bagi Anda sebagai seorang pengkhotbah yang sangat terkenal?” Dengan mantap Spurgeon menjawab, “Saya paling takut bila tidak ada lagi orang yang mendoakan saya!”

    Sahabat, kita belajar dua hal dari jawaban Spurgeon: Pertama, doa sangatlah penting dan tidaklah terpisahkan dari pelayanannya. Kedua, ia menyadari betapa pentingnya doa syafaat orang lain untuk pelayanannya.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Tolong DOAKAN saya”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Roma 15:22-33. Sahabat, keyakinan Spurgeon sejalan dengan keyakinan rasul Paulus. Walaupun Paulus seorang rasul yang sangat berpengalaman dan berpendidikan tinggi, ia jauh dari sikap congkak sehingga mengabaikan doa.  Ayat 30 mengungkapkan bagaimana Paulus begitu serius dan tekun dalam berdoa. Bukan hanya itu, ia juga dengan rendah hati mendesak supaya saudara seiman di kota Roma turut mendoakannya. Dari bahasanya, kita menangkap betapa tulusnya permohonan Paulus akan dukungan doa dari mereka tersebut. Bukan mung kanggo abang-abang lambe saja (Bukan hanya basa basi saja).


    Apakah keyakinan Spurgeon dan Paulus di atas juga menjadi keyakinan Sahabat dalam hidup dan pelayananmu? Apakah Sahabat masih melihat dan merasakan bahwa doa itu mutlak dibutuhkan untuk kehidupan dan pelayananmu?   Atau doa telah menjadi sekadar basa-basi saja? Masihkah Sahabat meminta sesama saudara seiman untuk mendoakanmu?

    Sahabat, saya dan keluarga membutuhkan dukungan doa-doamu. Yayasan Christopherus membutuhkan doa-doamu. Gereja tempat kamu berjemaat membutuhkan doa-doamu. Bangsa dan negara kita juga membutuhkan doa-doamu. Alangkah indahnya jika kita dapat selalu saling mendoakan.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pemahamanmu atas ayat 30-32? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)