Category: Sejenak Merenung

  • Kunci Keberhasilan: HIDUP MENGANDALKAN TUHAN

    Hidup mengandalkan Tuhan adalah kunci keberhasilan. Pendapat tersebut benar. Namun, apakah pengertian mengandalkan Tuhan itu? Bagaimana wujudnya? Apakah berarti kita cukup berdoa saja? 

    Sahabat, sebagian orang berpikir bahwa mengandalkan Tuhan berarti bergantung total kepada Tuhan. Menyerahkan semua persoalan hidup, termasuk hal yang menyangkut pemenuhan kebutuhan jasmani kepada-Nya. Tuhan yang bekerja, manusia cukup bersantai-santai. Pemahaman seperti ini tentu tidak tepat.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Kunci Keberhasilan: HIDUP MENGANDALKAN TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yeremia 17:1-18 dengan penekanan pada ayat 7. Sahabat, saat itu umat Yehuda mengalami pergumulan serius secara kolektif dengan pilihan-pilihan yang membawa mereka terus hidup dalam dosa.

    Tuhan menjatuhkan vonis berat kepada mereka: Bukan apa yang di depan mata
    dan bukan kenyamanan yang seharusnya mereka cari; melainkan hidup bagi Tuhan dan membuat pilihan-pilihan dengan mengandalkan Tuhan, itulah yang Tuhan inginkan. Karena umat Yehuda mengandalkan diri sendiri untuk mendapatkan kekayaan dan kenikmatan hidup, semua itu jadi dirampas orang lain, bahkan umat akan mengalami kejatuhan besar dari kehidupan makmur hingga menjadi budak di tanah asing.

    Sahabat, Yeremia mengontraskan kehidupan umat Yehuda yang mengandalkan diri dan kenikmatan sesaat dengan kehidupan orang-orang yang mengandalkan Tuhan, bagaikan padang gurun dan semak bulus yang senantiasa dalam kekeringan (ayat 5-6) dengan pohon yang ditanam di tepi aliran air (ayat 7-8). Pohon yang ditanam di tepi aliran air bisa jadi akan mengalami masa-masa berat dalam kehidupan, tetapi ia mendapatkan kekuatannya dari Tuhan yang selalu memasok akarnya dengan air kehidupan. Keadaan hidup boleh penuh masalah, tetapi daunnya tetap hijau dan ia tidak berhenti menghasilkan buah.

    Yeremia mengakui bahwa kehidupannya sebagai orang beriman tidak mudah (ayat 14-15). Cemooh dan pencobaan datang silih berganti, tetapi orang beriman harus menggunakan kacamata yang berbeda dalam memandang hidup. Prioritas hidup kita berbeda. Kita percaya pada Tuhan yang menyelidiki hati, menguji batin, dan menilik setiap detail kehidupan kita (ayat 10); Ia akan melindungi kita pada hari malapetaka (ayat 17) dan menjaga kita hingga akhir (ayat 18), selayaknya seorang gembala menjaga domba-dombanya (bdk. Yohanes 10:14-15). Pada-Nya kita temukan kenyamanan dan keamanan sejati dalam hidup.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pemahaman yang Sahabat dapatkan tentang: “HIDUP MENGANDALKAN TUHAN”. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • HORMATI dan MULIAKANLAH ALLAH

    Sudahkah kita menghormati dan memuliakan Tuhan dengan sungguh-sungguh? Sahabat, ada cukup banyak orang percaya yang kurang  menyadari bahwa Allah kita adalah Pencipta alam semesta beserta segenap isinya, Raja seluruh bumi, sehingga hidupnya tidak memiliki gairah untuk menghormati dan memuliakan Allah sebagaimana mestinya.

    Raja di atas segala raja, yang telah menciptakan alam semesta ini, tidak mendapat penyambutan dan penghormatan sepatutnya. Sangat menyedihkan. Lebih menyedihkan lagi saat Dia datang kepada umat pilihan-Nya sendiri, suatu bangsa yang telah berulang kali melihat mukjizat dan menikmati pertolongan-Nya, kebesaran kuasa-Nya diremehkan,  “Oleh karena bangsa ini datang mendekat dengan mulutnya dan memuliakan Aku dengan bibirnya, padahal hatinya menjauh dari pada-Ku, dan ibadahnya kepada-Ku hanyalah perintah manusia yang dihafalkan,” (Yesaya 29:13).

    Untuk lebih memahami topik tentang “HORMATI dan MULIAKANLAH ALLAH”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 47:1-10. Dengan penekanan pada ayat 2. Sebagai umat Allah, sudah selayaknya kita beribadah dan menyembah Dia dengan sepenuh hati. Amat disayangkan, ibadah zaman sekarang dipenuhi oleh hiburan demi kesenangan umat semata, dan bukan dipenuhi oleh penghormatan demi kemuliaan Tuhan.

    Berbeda sekali dengan cara Pemazmur mengajak umat Allah beribadah. Dalam Mazmur 47 ini, Pemazmur memberikan alasan utama mengapa umat harus menyembah Tuhan. Karena Ia adalah Raja segala raja (ayat 3, 7, 8, 9). Sebagai Tuhan dan Raja, Allah patut ditinggikan dan dimuliakan sebab Ia Mahatinggi, Tuhan yang dahsyat, dan Raja yang besar (ayat 3), Raja seluruh bumi (ayat 8), bersemayam di atas takhta yang kudus (ayat 9), dan sangat dimuliakan (ayat 10). Kekuasaan dan kebesaran-Nya sungguh luar biasa, namun Ia bersedia memilih dan mengasihi umat-Nya (ayat 5).

    Dengan segala atribut dan keagungan Allah yang demikian, tidak mengherankan jika respons yang dicatat oleh Pemazmur untuk ditujukan kepada Allah penuh dengan antusiasme dan sukacita. Misalnya, bertepuk tangan dan elu-elukan (ayat 2), sorak-sorai dan diiringi sangkakala (ayat 6), dan umat diajak untuk bermazmur demi Dia (dalam ayat 7-8 disebutkan hingga 5 kali).

    Sahabat, marilah kita menyembah-Nya dengan yang benar. Beribadah kepada-Nya dengan penuh hormat dan takut akan Dia, karena Dialah Raja di atas segala raja, Tuhan kita. Dialah Allah dan Raja Kita

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pemahamanmu tentang bagaimana seharusnya sikap kita dalam menghormati dan memuliakan Allah? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • MEMBAWA DAMAI di tengah PERGAULAN

    Sahabat, manusia sebagai makhluk sosial, maka perjumpaan dengan sesama dalam kehidupan sehari-hari adalah suatu realitas. Keberagamaan akan tersaji  di sana, mulai dari canda, tawa, jabat tangan, senyuman, peluk cium,  hingga kekecewaan, penyesalan, atau konflik yang belum terselesaikan, baik karena penyebab yang disengaja maupun yang tidak disengaja.

    Semua itu menjadi bagian dari rutinitas kehidupan manusia. Terlebih pada era digital seperti zaman now,   hubungan sosial terasa semakin kompleks. Dalam kondisi seperti ini, kepekaan sosial kita akan diuji, yakni sejauh mana kita dapat berbagi rasa dalam menjalani kebersamaan bersama orang lain.

    Untuk lebih memahami  topik tentang “MEMBAWA DAMAI di tengah PERGAULAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Roma 14:16-23 dengan penekanan pada ayat 19. Sahabat, dalam nasihatnya kepada jemaat di Roma, rasul Paulus mendorong agar sebagai orang percaya, sedapat mungkin hidup mereka jangan sampai menjadi batu sandungan.

    Paulus  juga mengingatkan bahwa perkara Kerajaan Allah bukanlah soal makanan-minuman, atau hal-hal yang bersifat remeh-temeh lainnya, melainkan soal kebenaran, damai sejahtera, dan sukacita.

    Sahabat, dalam menjalani kehidupan bersama, manakala kebenaran dijunjung tinggi dan ditegakkan, akan ada damai sejahtera dan sukacita yang akan kita rasakan didalamnya. Bandingkan dengan kondisi dimana setiap orang yang kita kenal menjalani hidup bebas, semaunya, bahkan cenderung ngawur tanpa memedulikan kebenaran, akankah kita tetap merasakan damai sejahtera dan sukacita saat berada bersama mereka?

    Sekarang marilah  kita mensyukuri anugerah yang Tuhan berikan, sehingga hidup kita masih tetap berada di jalur rel kebenaran firman-Nya. Bawalah kebenaran itu dalam relasi kita dengan sesama.  Jadilah lebih peka dalam menjawab kebutuhan sesama sambil melihat kesempatan,  kapan kita dapat bersaksi atau mengajarkan prinsip kebenaran kepada mereka.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami tentang Kerajaan Allah? (Ayat 17)
    2. Bagaimana cara kita melayani agar berkenan kepada Allah dan dihormati oleh manusia? (Ayat 18 dan 19)
    3. Apa nasihat rasul Paulus kepada jemaat di Roma dalam ayat 20 dan 21?
    4. Apa pesan rasul Paulus kepada jemaat di Roma dalam ayat 22 dan 23?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • PERCAYA walau MUSTAHIL

    Sahabat, saya punya seorang teman sekaligus menjadi tetangga di tempat tinggal kami di Kampung Nangka. Biasa saya memanggilnya: Pak Sri. Pada tanggal 12 Agustus 2021 Pak Sri jatuh sakit. Dia dirawat di rumah, tapi lama kelamaan sakitnya bertambah parah, kaki tangannya bengkak-bengkak, dan dia tidak dapat berjalan. Kemudian pada tanggal 28 Agustus 2021 Pak Sri dibawa ke rumah sakit oleh anaknya. Setelah diperiksa ternyata kreatinnya 7. Maka dia diharuskan untuk cuci darah. Tapi Pak Sri menolak, tidak mau cuci darah. Dia yakin Tuhan akan menyembuhkannya dengan cara-Nya sendiri.

    Pada tanggal 7 September 2021 dia minta pulang walaupun belum sembuh, belum dapat jalan. Kemudian dia berobat kepada dr. Lestari (spesialis Ginjal) yang menjadi tetangganya. Oleh dr. Lestari kemudian dia diinfus selama 3 hari.

    Pada tanggal 10 November 2021 Pak Sri kontrol, dan terjadilah mukjizat, semula kreatinnya 7 dan pada hari itu dapat turun menjadi 2. Sejak saat itu kesehatan Pak Sri terus membaik dan saat ini sudah dapat beraktivitas seperti biasa. 

    Sahabat, untuk lebih memahami topik tentang: “PERCAYA walau MUSTAHIL”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Injil Lukas 1:26-38 dengan penekanan pada ayat 37. Malaikat Gabriel muncul di hadapan Maria. Itu pertanda Allah akan bertindak. Gabriel segera menyampaikan rencana Allah. Maria akan melahirkan Yesus yang akan mewarisi takhta Daud sampai selamanya. Hanya ada satu problem dalam pikiran Maria, yaitu dia belum bersuami (ayat 34).

    Dalam bahasa asli, ungkapan yang dipakai Maria adalah, “Aku belum mengenal laki-laki.” Itu adalah ungkapan halus tentang hubungan seksual. Maria menyadari adalah hal yang mustahil jika seorang bayi laki-laki akan datang melalui dia. Maria menyadari bahwa apa yang diberitakan Gabriel itu di luar logika.

    Sahabat, ketika Allah bertindak, seluruh kenyataan hidup bisa saja kelihatan berlawanan dengan maksud Allah. Pengalaman Maria menegaskan ini. Sebuah kemustahilan seorang perawan melahirkan anak. Peristiwa demikian tidak tercatat dalam seluruh kitab suci PL. Jadi, bukan sebuah keanehan kalau Maria meragukan berita tersebut.

    Namun, sesuatu yang lebih mengherankan malah terjadi. Maria justru memilih untuk memercayai berita tersebut! Bagaimana mungkin seorang perempuan belia, justru menunjukkan pilihan iman yang begitu dewasa?

    Sahabat, Maria mungkin akan sulit mengerti kisah yang akan diceritakan Lukas. Sebuah nubuat Allah untuk mengukuhkan kerajaan Daud dengan cara yang sangat mengherankan. Kerajaan itu akan tegak dengan membangkitkan Gereja Allah di seluruh penjuru dunia. Namun, Maria berani mengemban misi itu. “Sesungguhnya aku ini hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu, “ (ayat 38).

    Iman memang selalu bersifat mendua. Iman bisa begitu sulit dan rumit, tetapi iman juga bisa begitu sederhana. Ketika panggilan Allah melampaui pemahaman, janganlah kita menyingkirkan logika kita, sebaliknya, latihlah hati kita untuk semakin peka untuk percaya kepada Allah.

    Berdasarakan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pengalamanmu ketika kamu menerima penggenapan janji Tuhan dalam hidupmu.

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • ALLAH: TERANG Bagiku dan Keluargaku

    Sahabat, janji pemulihan dan keselamatan bagi umat-Nya telah digenapi melalui kelahiran Sang Juruselamat.  Kehadiran Sang Juruselamat yang adalah Terang Dunia memberikan pengharapan yang pasti dan jaminan keselamatan kekal bagi orang yang percaya kepada-Nya.  Setiap orang yang percaya kepada Kristus tidak lagi hidup dalam kegelapan, sekalipun kegelapan menutupi bumi, dan kekelaman menutupi bangsa-bangsa; tetapi terang TUHAN terbit atas kita, dan kemuliaan-Nya menjadi nyata dalam hidup kita  (Yesaya 60:2).

    Untuk lebih memahami topik tentang, “ALLAH: TERANG Bagiku dan Keluarga”, maka Bacaan Sabda saya ambil dari 1 Yohanes 1:5-10. Sahabat,  dalam ayat-ayat firman Tuhan yang terekam dalam Surat 1 Yohanes 1:5-10 dengan judul “Allah adalah Terang”, rasul Yohanes, memberitakan bahwa Allah adalah Terang. Ia menyampaikan bahwa di dalam Dia tidak ada kegelapan.

    Lebih lanjut dinyatakan bahwa di dalam Dia semuanya adalah suci. Oleh sebab itu, janganlah kita menipu, baik kepada Allah, kepada sesama maupun kepada diri kita sendiri. Kita harus mengakui segala dosa kita di hadapan-Nya.

    Pernyataan “Allah adalah terang” (ayat 5) menunjukkan bahwa Allah adalah Kudus dan Benar. Oleh karena itu, Dia jugalah yang dapat menuntun kita keluar dari kegelapan dosa (ayat 7). Kita pun diminta tidak menipu diri sendiri, mengaku dosa, dan sepenuhnya jujur kepada Allah (ayat 8-10). Dengan demikian, orang percaya tidak boleh lagi hidup di dalam kegelapan melainkan hidup di dalam terang, yaitu dalam kebaikan, kemurnian, kekudusan, dan kebenaran.

    Namun demikian, pada zaman penulisan surat 1 Yohanes ini ada ajaran sesat yang mengatakan bahwa kita tetap dapat memiliki persekutuan dengan Allah sementara kita masih hidup dalam kegelapan. Menanggapi ajaran sesat tersebut, Yohanes menegaskan bahwa tidak ada seorang pun bisa mengklaim diri sebagai orang percaya jika masih hidup dalam kejahatan dan perbuatan amoral. Kita tidak dapat mengasihi Allah dan pada saat yang sama juga hidup dalam dosa. Jika demikian, kita adalah orang-orang munafik. Kita harus memilih dan menentukan sikap hidup mengasihi Allah dan tidak boleh hidup dalam dosa.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pernyataan apa yang disampaikan oleh rasul Yohanes kepada kita dalam ayat 5?
    2. Apa yang akan diperoleh jika kita hidup di dalam terang? (Ayat 7)
    3. Apa yang diminta oleh rasul Yohanes untuk kita lakukan dalam hidup kita? (Ayat 8-10)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • MELAYANI SESAMA dan MEMULIAKAN TUHAN

    Sahabat, apakah sungguh perlu kita melayani Tuhan dan sesama? Mengapa kita harus mengubah prioritas kita demi memenuhi tugas-tugas yang Tuhan berikan padahal Ia sendiri bisa melakukannya dengan lebih cepat dan lebih baik tanpa kita? Rasul Petrus menjelaskan bahwa kita telah menerima karunia-karunia dari Tuhan untuk dua tujuan, yaitu melayani sesama dan memuliakan Tuhan.

    Sebagai orang percaya yang telah diselamatkan kita memiliki tugas dan tanggungjawab yang tidak mudah.  Kita harus dapat memelihara dan mempertahankan keselamatan yang telah kita terima dan kita juga harus dapat mempertahankan identitas kita sebagai umat pilihan Allah.   Salah satu caranya adalah dengan terlibat di dalam pelayanan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “MELAYANI SESAMA dan MEMULIAKAN TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 1 Petrus 4:7-11 dengan penekanan pada ayat 10, “Layanilah seorang akan yang lain, sesuai dengan karunia yang telah diperoleh tiap-tiap orang sebagai pengurus yang baik dari kasih karunia Allah.” 

    Sahabat, ketika kita sudah menjadi percaya, kuasa Kristus mengubahkan tujuan hidup kita, dari seorang yang memikirkan dan mengutamakan kepentingan diri sendiri menjadi seorang yang melayani sesama. Mendekati akhir zaman, dunia semakin kekurangan kasih. Dunia ini membutuhkan orang-orang yang menyatakan kasih secara nyata. Kita yang sudah terlebih dahulu menerima kasih Tuhan dipanggil untuk menyatakan kasih itu.

    Tuhan sudah memberikan semua kemampuan yang kita butuhkan untuk melayani sesama, yaitu karunia-karunia-Nya. Pada akhirnya, orang-orang akan melihat bahwa di balik semua keberhasilan pelayanan kita, ada campur tangan Tuhan,  sehingga Tuhan yang dimuliakan. Melayani bukan soal kita menerima perhatian atau penghargaan dari orang lain, tetapi soal Tuhan yang menerima segala kemuliaan.

    Sahabat, coba sejenak ingat-ingat, kapan terakhir kali Sahabat menyatakan kasih kepada orang lain di dekatmu? Karunia apakah yang Tuhan percayakan kepadamu?  Pikirkan bagaimana Sahabat bisa menggunakan karunia tersebut untuk kebaikan orang lain dan memuliakan Tuhan!

    Tuhan tidak hanya memanggil kita untuk melayani, tapi Dia juga memberikan karunia yang berbeda-beda kepada kita untuk melayani dan saling melengkapi.  Jangan tunda-tunda waktu untuk melayani dan memuliakan Tuhan.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang harus kita lakukan sehubungan dengan semakin dekatnya kedatangan Tuhan Yesus kedua kali? (ayat 7-10a)
    2. Sebutkan 2 alasan mengapa kita harus melayani? (ayat 10b-11)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • PEMENUHAN KEBUTUHAN

    Setiap hari cukup banyak orang dipusingkan oleh kebutuhan hidup sehari-hari.  Apalagi selama masa pandemi Covid-19, cukup banyak orang yang kehilangan bisnis atau pekerjaan, minimal pendapatan tiap bulan menjadi lebih kecil.  Yah… selama hidup di dunia ini memenuhi kebutuhan hidup, baik itu makanan, minuman, pakaian, tempat tinggal dan sebagainya, adalah hal-hal yang tidak dapat dipisahkan dari pergumulan dan perjuangan hidup banyak orang.  Itulah sebabnya cukup banyak orang bekerja keras membanting tulang untuk dapat memenuhi setiap kebutuhannya.

    Sahabat, untuk dapat lebih memahami topik tentang: “PEMENUHAN KEBUTUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Filipi 4:10-20 dengan penekanan pada ayat 19. Pernyataan Paulus, “Allahku akan memenuhi segala keperluanmu menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus” (ayat 19) merupakan ayat yang banyak disukai orang percaya. Siapa yang tidak suka kalau semua kebutuhan kita dipenuhi?

    Paulus mulai menyadari kalau ucapan syukurnya tersebut dapat disalahtafsirkan, karena itu Paulus merasa perlu menjelaskan makna dari pengucapan syukurnya. Kalau selama ini jemaat Filipi telah banyak mendukung pelayanan Paulus dalam hal dana maka Paulus ingin mereka menyadari bahwa itu merupakan suatu bukti kalau Allah sudah memenuhi kebutuhan mereka dan sekarang, Allah menggerakkan hati mereka untuk mendukung pelayanan Paulus dalam bentuk persembahan.

    Yang terpenting bukanlah besarnya jumlah persembahan sebab ada keuntungan lain, yaitu buahnya yang makin memperbesar keuntungan. Di dalam pemberian ada realita pengalaman pergaulan dengan Allah yang hidup. Paulus menyatakan semua tindakan mereka itu baik dan Paulus sungguh bersyukur atas hal tersebut akan tetapi Paulus juga menegaskan bahwa tanpa dukungan mereka pun, hidupnya sudah cukup. 

    Paulus mengingatkan para orang kudus di Filipi bahwa Allah akan melakukan apa yang tidak dapat Paulus lakukan. Paulus mungkin tidak bisa membalas dengan setimpal semua hal yang dilakukan jemaat Filipi baginya. Namun Allahnya, yang lebih besar dari segala sesuatu, akan membalas mereka dengan berkelimpahan. Allah bisa memberikan segala keperluan mereka terus-menerus dan dengan dahsyat. Perhatikan bahwa Allah memberikan apa yang mereka butuhkan, dan bukannya apa yang mereka inginkan.

    Sahabat, ketika kita mengutamakan Allah di atas segalanya, maka Dia akan menyediakan segala yang kita butuhkan karena Dia adalah Jehovah Jireh!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Ketika rasul Paulus menghadapi kenyataan hidup yang tidak mudah, apa yang dilakukannya? (Ayat 11)
    2. Apa yang disaksikan rasul Paulus dalam ayat 13?
    3. Berkat apa yang Sahabat peroleh dari ayat 19?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • BERTOLONG-TOLONGAN

    Bapak Ev. Andreas Christanday sebagai Ketua Dewan Pembina Yayasan Christopherus dalam rangka menyambut Natal 2021, menulis surat himbauan kepada para Pengurus, Donatur, Pendukung, dan Simpatisan Yayasan Christopherus. Dibagian alinea terakhir Pak Andreas menulis:  Kami tahu semuanya sedang susah dan sulit ekonominya, tetapi ini yang harus kita lakukan:

    1. Tetap bersyukur dan mengimani bahwa Tuhan yang sudah Eben-Haezer (1 Samuel 7:12) menyertai kita selama 50 tahun juga akan tetap memberkati kita (Yeremia 31:3).
    2. Kita harus berhemat dan kreatif berusaha, dengan terus memegang janji Tuhan dalam Filipi 4:19.
    3. Kita harus memenuhi Hukum Kristus dengan saling tolong menolong, belajar memberi justru dalam sikon seperti ini (Galatia 6:2).
    4. Dan akhirnya mengikuti pesan rasul Petrus yang terdapat di 1 Petrus 4:7.

    Sahabat, untuk lebih memahami topik tentang: “BERTOLONG-TOLONGAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Galatia 6:1-10 dengan penekanan pada ayat 2. Sejatinya, kita adalah orang yang sangat beruntung. Pertama, kita memiliki Tuhan Yesus yang sangat peduli, mengasihi dan memberi didikan, ajaran dan nasihat kepada kita dan semua orang percaya. Kedua, kita memiliki rasul Paulus yang sangat rajin mengajar, mengingatkan dan memberi kita dan semua orang percaya beragam nasihat mengenai kehidupan yang benar di dalam Yesus Kristus.

    Bertolong-tolongan adalah sifat keunggulan melayani dalam kebersamaan. Dengan bertolongan kita menangung beban secara bersama. Dengan bertolongan kita berbagi pergumulan hidup. Hal ini merupakan sikap mendasar yang dituntut dari para pengikut Kristus dalam hidup mereka.

    Sahabat, dengan bergandengan tangan dalam melewati berbagai tantangan hidup, kita dapat menolong untuk saling menguatkan dan mendukung satu sama lain di tengah masa-masa yang sulit. Melalui kepedulian dan kasih Kristus yang ditunjukkan kepada sesama, kesulitan-kesulitan hidup yang dialami sepatutnya mendekatkan kita kepada Kristus dan kepada satu sama lain

    Hidup yang tolong menolong berarti juga kita saling memberi. Kita saling memberi diri untuk menolong orang lain. Kita memberikan pemikiran dan ide-ide kita untuk menolong orang lain. Dengan bertolong-tolongan kita bisa merasakan penderitaan orang lain. Kita terhindar dari sikap egoisme dan penonjolan diri. Karena itu, marilah berjuang untuk terus bertolong-tolongan untuk meringangkan beban kita.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah praktik bertolong-tolongan dalam komunitasmu. Sudah sejauh mana nasihat rasul Paulus di ayat 2 dilaksanakan di komunitasmu?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberikati. (pg)

  • KASIH yang TAK BERKESUDAHAN

    Siapa yang dapat menggambarkan atau mengukur kasih Allah? Alkitab merupakan sebuah pewahyuan atas fakta bahwa Allah adalah Kasih. Ketika Sahabat membaca firman Tuhan tentang keadilan, itu adalah keadilan yang diimbangi dengan kasih. Ketika Sahabat membaca firman Tuhan tentang kebenaran, itu adalah kebenaran yang didirikan di atas kasih. Ketika Sahabat membaca tentang penebusan dosa, itu adalah penebusan yang dilakukan karena kasih, bersumber pada kasih diselesaikan oleh kasih.

    Ketika Sahabat membaca firman Tuhan mengenai kebangkitan Kristus, Sahabat membaca mengenai keajaiban kasih. Ketika Sahabat membaca firman Tuhan tentang hadirat Kristus yang menetap, Sahabat membaca mengenai kuasa kasih. Ketika Sahabat membaca firman Tuhan mengenai kedatangan Kristus, Sahabat membaca mengenai penggenapan kasih.

    Sahabat, untuk lebih memahami topik tentang: “KASIH yang TAK BERKESUDAHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yeremia 31:1-6, dengan fokus pada ayat 3. Kasih ALLAH berbeda dengan manusia. Kasih Allah itu kekal, sementara kasih manusia berubah-ubah tergantung situasi dan kondisi. TUHAN mengasihi kita dengan kasih kekal. Apa yang dimaksud kasih kekal? Sederhana, kasih-Nya tidak bertambah, tidak berkurang, tidak berubah, dan tidak berkesudahan.

    “Kenapa kasih TUHAN tidak bertambah dan tidak berkurang?” Karena Dia sudah mengasihi kita dengan kasih yang sempurna yang Dia tunjukkan dengan cara memberikan Yesus bagi kita. Tidak ada yang dapat kita lakukan yang dapat membuat kasih-Nya bertambah, sebaliknya tidak ada yang dapat kita lakukan untuk membuat kasih-Nya berkurang.

    TUHAN bukan hanya mengasihi kita dengan sempurna, kasih-Nya juga tidak pernah berubah dan tidak pernah berkesudahan. Sama seperti Pribadinya yang tidak pernah berubah, dulu, sekarang, sampai selamanya. Kalau dulu Dia mengasihi kita, sekarang Dia pun mengasihi, begitu juga dengan nanti, Dia akan tetap mengasihi kita.


    Sadarilah dan tidak cuma mengetahui bahwa Allah mengasihi dan mengubah kita dengan kasih-Nya yang kekal. Apa yang kita ketahui tidak mengubah kita. Namun apa yang kita sadari, dapat mengubah hidup kita.

    Sahabat, tepatnya pada 3 Mei 2022, Yayasan Christopherus akan genap berusia 50 tahun. Yayasan Christopherus akan merayakan Yubileum. Dan berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong bagikan pemahamanmu, apa hubungan antara HUT ke-50 Yayasan Christopherus dengan firman Tuhan yang terdapat di Yeremia 31:3.

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • Menimbang-nimbang PERTIMBANGAN

    Sahabat, apakah Anda termasuk orang yang dikenal berhati-hati saat mengambil keputusan, terutama untuk keputusan-keputusan besar, yang berisiko tinggi, berdampak jangka panjang,  yang menyangkut hidupmu dan keluarga?


    Ada cukup banyak orang akhirnya mengalami kesulitan luar biasa karena gemar mengambil keputusan tanpa pertimbangan yang matang, terburu-buru karena desakan waktu, atau ketika kondisinya tidak ideal untuk mengambil keputusan. Para ahli juga menasihatkan agar kita tidak mengambil keputusan penting dalam kondisi jiwa tidak tenang, tertekan, atau saat fisik kita dalam keadaan kelelahan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Menimbang-nimbang PERTIMBANGAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Amsal 3:19-26, dengan penekanan pada ayat 21 dan 22. Seperti layaknya seorang ayah, Salomo dengan lembut mendidik, mengajar dan menasihati anak-anak pada zamannya, dan kepada kita di zaman now. Pengamsal menyatakan kepada orang-orang Israel pada zaman itu, dan kepada kita pada zaman ini,  “Hai anakku, janganlah pertimbangan dan kebijaksanaan itu menjauh dari matamu, peliharalah itu, maka itu akan menjadi kehidupan bagi jiwamu, dan perhiasan bagi lehermu.” (ayat 21-22)

    Pertimbangan berarti menurut pendapat umum;  pendapat tentang baik dan buruk. Sedangkan kebijaksanaan berarti kepandaian menggunakan akal budi, pengetahuan dan pengalaman dalam melakukan sesuatu. Kebijaksanaan juga dimaknai kecakapan bertindak apabila menghadapi kesulitan. Jadi, yang dimaksud dengan memelihara pertimbangan dan kebijaksanaan adalah menjaga kepandaian menggunakan akal budi, pengetahuan dan pengalaman dan kecakapan bertindak dalam nama Tuhan.

    Karena itu jangan jauhkan pertimbangan dan kebijaksanaan dari hati, pikiran dan mata kita. Peliharalah! Peliharalah dengan baik, lebih baik dan sangat baik dalam nama Tuhan. Maka hikmat itu akan menjadi kehidupan bagi jiwa kita. Maka hikmat itu akan menjadi perhiasan di leher kita. Maka hikmat itu akan bermanfaat untuk membangun kehidupan kita yang lebih takut akan Allah.

    Sahabat, sejatinya setiap hari kehidupan kita diwarnai dengan keputusan demi keputusan. Ada keputusan kecil, sedang, maupun besar dengan dampak atau risiko minimal atau risiko yang cukup besar. Mari turuti nasihat dari bacaan kita pada hari ini demi kebaikan kita. Ambil komitmen bahwa mulai saat ini, kita akan menjadikan pertimbangan dan hikmat sebagai bagian tak terpisahkan dari setiap keputusan yang kita ambil!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 19-20?
    2. Nasihat apa yang Sahabat peroleh dari ayat 21-24?
    3. Nasihat apa yang Sahabat peroleh dari ayat 25?
    4. Apa yang menjadi keyakinan Pengamsal dari ayat 26?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)