Category: Sejenak Merenung

  • DOA membawa KEBERHASILAN

    Martin Luther, sang reformator, berkata bahwa doa adalah nafas hidup orang percaya. Lebih jauh dia berkata  bahwa menjadi orang percaya tanpa berdoa tidak lebih dari menjadi seorang yang hidup tanpa bernafas. Jika dilihat dari sisi medis, orang yang sudah tidak bernafas berarti  sudah meninggal dunia. Kalau frasa “tidak bernafas” dikaitkan dengan kerohanian berarti sudah mati rohani. Atau dengan kata lain, hidupnya telah putus hubungan dengan Allah. Sahabat, sesungguhnya satu-satunya sumber kekuatan bagi orang percaya dalam menjalani  hidup adalah berdoa. Bagi orang percaya, doa membawa keberhasilan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “DOA membawa KEBERHASILAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 20:1-10 dengan penekanan pada ayat 5. Bacaan kita pada hari ini merupakan sebuah doa. Sebuah doa dari Daud, sang biduan kenamaan. Daud adalah seorang pejuang, raja, pemikir, pemazmur dan pendoa.

    Sungguh! Tuhan sudah memberi Daud apa yang dikehendaki dan dimintanya. Apa yang Daud minta dalam doanya sudah diberikan kepadanya oleh Tuhan. Benar! Diberkati-Nya doa-doa Daud dan dilimpahkan-Nya apa yang diminta dan dikehendaki dengan setulus hati dan jiwanya. Ya! Daud diberkati dan dijadikan-Nya semua doanya menjadi nyata.

    Sahabat, Daud pun mengakui bahwa doa memainkan peranan penting dalam kehidupan jasmani dan rohani seseorang. Sebab doa bukan hanya menjadi sumber nafas kehidupan, tetapi juga motor penggerak utama bagi orang percaya  untuk memperoleh perlindungan dan berkat Allah.

    Daud juga meyakini bahwa dalam doa terdapat kekuatan Allah. Wujud konkret kekuatan Allah terlihat bagaimana Allah memberikan kemenangan dalam setiap masalah yang dihadapi oleh umat-Nya. Hal itu tampak saat umat-Nya berada dalam kesesakan, Allah memberikan solusi dan meluputkan mereka dari bahaya. Karena itu, Daud tidak ragu-ragu mengajak bangsanya untuk berseru kepada Tuhan dan Ia hanya bisa ditemui dalam doa.

    Sahabat, keyakinan Daud itulah yang memberikan harapan dan sukacita. Harapan dan sukacita itu pada akhirnya menjadi kekuatan bagi umat Allah untuk tidak takut dan gentar dalam menghadapi siapa pun. Sebab mereka menyadari bahwa Allah senantiasa bersama dengan umat-Nya. Bahkan Allah tidak ragu-ragu turun tangan untuk berperang membela umat-Nya dari para musuh mereka. Semua pertolongan Allah ini membuat umat Allah dapat bermegah dan memuliakan nama-Nya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah  salah satu pengalamanmu,  bagaimana Tuhan telah mengabulkan permohonanmu. Selamat sejenak merenung. Selamat natal. Selamat memasuki dan menjalani tahun baru 2022 dengan doa dan syukur. Tuhan memberkati. (pg)

  • Belajar dari ORANG MAJUS

    Orang Majus disebut juga orang bijak atau raja-raja dari Timur.  Mereka adalah golongan bangsawan yang belajar  astronomi  (ilmu perbintangan), sehingga mereka tahu benar letak bintang, pergerakan dan tanda-tandanya.  Bukan hanya itu, mereka juga percaya bahwa matahari, bulan dan bintang-bintang secara periodik memberikan  tanda-tanda yang dapat dipakai meramalkan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi di  masa depan, baik kaitannya dengan seseorang atau pun satu bangsa. 

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Belajar dari ORANG MAJUS”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Matius 2:1-12. Sahabat, Allah selain memanggil dan memilih orang-orang yang sederhana, seperti Maria dan Yusuf, serta para gembala di padang,  ternyata Allah juga memakai orang-orang terpelajar supaya dengan pengetahuan yang dimiliki, mereka memahami kehendak Allah dalam hidupnya.  Selain itu kita dapat belajar tentang kerendahan hati.  Kita tahu bahwa orang-orang Majus ini adalah raja-raja dari Timur dan astronom, tetapi mereka rela meninggalkan kesibukannya dengan menempuh perjalanan yang sangat jauh untuk mencari bayi yang baru dilahirkan.

    Orang-orang Majus dalam bacaan kita pada hari ini adalah para cerdik pandai dan bukan bangsa Yahudi. Ketika mereka melihat bintang yang bersinar istimewa, mereka langsung tahu bahwa itu adalah pertanda kelahiran seorang pemimpin besar.

    Maka mereka punya tekad yang kuat,  tidak mengenal lelah dalam mengikuti bintang tersebut. Jarak yang mereka tempuh diperkirakan sekitar 600 km. Pasti sesekali mereka beristirahat sepanjang pencarian itu. Namun, mereka begitu bersemangat untuk bertemu dengan Yesus (ayat 10). Mereka pun menyembah dan memberikan persembahan khusus (ayat  11) saat berhasil menemukan Yesus.

    Orang Majus mau bersusah payah untuk mencari Yesus. Mereka rela membayar harga untuk bertemu dengan Sang Raja.  Setelah bertemu dengan Yesus, mereka bersedia menundukkan diri  untuk menyembah, serta memberikan persembahan khusus yang sudah mereka persiapkan.

    Bagaimana dengan kita selama ini dalam memaknai  Natal? Mari belajar dari orang Majus kalau kita ingin menimati sukacita natal. MENCARI Tuhan, MENYEMBAH Tuhan, dan  MEMBERIKAN yang terbaik bagi Tuhan.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah apa yang Sahabat lakukan dalam menyambut dan merayakan natal pada tahun ini. Selamat sejenak merenung. Selamat Natal. Selamat memasuki dan menikmati tahun baru  2022 bersama Sang Imanuel. Tuhan beserta kita di sepanjang perjalanan pada tahun 2022. (pg).  

  • TETAP PERCAYA kepada TUHAN di MASA SULIT

    Sahabat, ada seorang teman bertanya, “Mengapa harus ada bagian yang sulit dan penuh penderitaan dalam hidup ini?”  Itu mungkin menjadi pertanyaan dari sebagian besar manusia, termasuk orang-orang percaya. Ada cukup banyak orang percaya yang mengira bahwa mengikut Yesus berarti bebas dari masa-masa sulit. Jadi mereka sangat terguncang imannya ketika  harus menghadapi pandemi Covid-19 selama hampir 2 tahun. Mereka kemudian melantunkan pertanyaan: “Bagaimana kami bisa tetap percaya kepada Tuhan di tengah-tengah masa yang sulit?”

    Untuk lebih memahami topik tentang: “TETAP PERCAYA kepada TUHAN di MASA SULIT”, Bacaan Sabda saya ambil dari Mazmur 25:1-22 . Pepatah lama mengatakan, “Sudah jatuh, tertimpa tangga pula”. Sahabat,  kira-kira seperti itulah gambaran kondisi Daud dalam Mazmur 25.  Daud berhadapan dengan orang-orang yang membencinya (ayat 2 dan 19). Ia juga merasa kesepian dan menderita (ayat 16). Ia berada dalam kondisi terdesak (ayat 17). Ia sengsara dan mengalami kesukaran karena dosa (ayat 18).

    Bila kita mengalami seperti yang dialami Daud pada sat itu, kita mungkin akan putus asa, mengeluh, bahkan marah kepada Tuhan. Namun menariknya, Daud tidak merespons seperti itu. Ia memilih berdoa dan tetap percaya Tuhan di tengah kesulitannya. Perhatikan cara Daud menyatakan kepercayaannya kepada Tuhan: Kuangkat jiwaku (ayat 1), kepada-Mu aku percaya (ayat 2), Engkau kunanti-nantikan sepanjang hari (ayat 5), mataku tetap terarah kepada Tuhan (ayat 15), aku berlindung kepada-Mu (ayat 20), aku menanti-nantikan Engkau (ayat 21).

    Sahabat, mengapa Daud tetap percaya Tuhan di masa sulit? Karena ia mengenal Allahnya. Ia mengenal bahwa Allah sebagai:  Penyelamatnya (ayat 5), penuh rahmat dan kasih setia (ayat 6), yang memberi kebaikan (ayat 7), yang bergaul dekat dengan orang yang takut akan Dia (ayat 14), yang peduli pada sengsara umat-Nya (ayat 15-20).
    Kepada Tuhan yang demikian, Daud berseru. Oleh karena itu, di tengah kesesakannya, Daud mencari Tuhan (ayat 4), terbuka pada ajaran-Nya (ayat 5), memohon pengampunan-Nya (ayat 7, 11), dan berharap pada penghiburan dan kekuatan-Nya (ayat 16-19). Meski situasi hidup menyesakkan dada, tetapi Daud tetap percaya bahwa Allah akan menolong. Bahkan kepercayaan itu membuat Daud berseru kepada Tuhan untuk membebaskan umat Israel dari segala kesesakannya (ayat 22).

    Sahabat, berdasarkan hasil perenungan dari bacaan  kita pada hari ini, bagikanlah pengalamanmu bersama Tuhan, apa yang Sahabat lakukan ketika menghadapi saat-saat yang sulit dalam hidupmu. Selamat sejenak merenung. Selamat Natal. Selamat memasuki dan menjalani tahun baru 2022. Tuhan Yesus beserta kita. (pg)

  • Belajar dari Bunda MARIA

    Sahabat, ketika saya sedang menulis “Sejenak Merenung” ini, istri saya sedang bersiap-siap untuk menghadiri acara peringatan Hari Ibu tingkat RW.  Hari Ibu di Indonesia diperingati setiap tahun pada tanggal 22 Desember. 

    Sejarah Hari Ibutidak terlepas dari Kongres Perempuan Indonesia. Penetapan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu merupakan hasil dari Kongres Perempuan Indonesia ke-1 yang digelar pada 22-25 Desember 1928 di Ndalem Joyodipuran, Yogyakarta. Kegiatan tersebut diikuti oleh sebanyak 600 orang perempuan dari puluhan perhimpunan perempuan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Belajar dari Bunda MARIA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Injil Lukas 1:26-38 dengan penekanan pada ayat 38. Sahabat, sejak dahulu orang yang hamil tanpa status pernikahan itu dianggap aib. Karena itu, siapa pun perempuan yang mengalaminya akan berusaha untuk menutupinya.  Bila ketahuan pasti mendapatkan sanksi sosial, dikucilkan, dan harus menanggung malu. Dalam budaya Yahudi tempat Bunda Maria hidup, hukumannya dirajam batu karena dianggap berzina. 

    Karena itulah, ketika malaikat Gabriel datang kepadanya memberitahukan bahwa ia akan mengandung, Bunda Maria berkata, “Bagaimana hal itu mungkin terjadi karena aku belum bersuami?”(ayat 34).  Ia pasti membayangkan betapa dahsyat hukuman yang akan diperolehnya. Ia pasti mengalami pergumulan yang berat. Tetapi ia tetap memilih taat atas berita tersebut. Simaklah responsnya, “Sesungguhnya aku ini adalah hamba Tuhan; jadilah padaku menurut perkataanmu itu.” (ayat 38).  Ia tidak menolak, tetapi menerima  sepenuhnya. Bunda Maria yakin bahwa Allah, yang kepada-Nya ia percaya, berkuasa menolong dan melindunginya.

    Sahabat, setiap hari kita diperhadapkan pada pencobaan yang menuntut keteguhan iman. Kehormatan dan kehidupan dipertaruhkan. Tak sedikit orang yang ketika mengalaminya, imannya gugur dan meragukan Tuhan. Mereka takut direndahkan, takut kehilangan pekerjaan, takut dihukum, dan lain-lain. Karena itu, belajarlah dari kesetiaan Bunda Maria. Ia dengan keteguhan hati memilih taat kepada Allah walaupun terbayang risiko hukuman rajam yang harus diterimanya. Walaupun gentar, ia tetap memilih taat kepada Allah.

    Orang yang setia kepada Allah akan memilih taat walaupun harus menanggung risiko yang dahsyat.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong bagikan pengalaman hidupmu bersama Tuhan ketika Sahabat harus merespons panggilan hidup dari Tuhan. Selamat sejenak merenung. Selamat menyambut natal dengan penuh syukur dan pengharapan. Selamat memasuki dan menjalani tahun baru 2022. Tuhan memberkati. (pg)

  • Membudayakan Sikap RAMAH

    Sahabat, keramahan merupakan satu sifat yang  perlu kita budayakan. Keramahan bisa diartikan sebagai sifat ramah; kebaikan hati; baik budi bahasanya dan akrab dalam bergaul. Sebagai makhluk sosial yang selalu berinteraksi dengan sesama, sifat ramah akan sangat membantu untuk mencairkan suasana. Orang yang ramah akan lebih mudah didekati dan mendekati sehingga suasana menjadi lebih hangat. Orang yang ramah biasanya merupakan sosok dengan pribadi hangat yang peka dengan kondisi di sekitarnya. Ia juga rendah hati dan murah senyum.  Dalam peta warga dunia, masyarakat Indonesia dikenal dengan keramahtamahannya. 

    Untuk lebih memahami topik tentang “Membudayakan Sikap RAMAH”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Efesus 4:17-32 dengan penekanan pada ayat 32. Sahabat, ramah kepada orang yang kita kenal adalah hal yang umum, dan tidak terlalu sulit melaksanakannya. Setiap kita berjumpa dengan orang yang kita kenal pastilah kita bertegur sapa,  ngobrol dan berkelakar dengan mereka.

    Sahabat, apakah yang dimaksud dengan ramah terhadap yang lain dalam ayat 32? Pertama, harus penuh kasih mesra. Kasih mesra itu artinya kasih kita harus memiliki daya tahan. Tuhan Yesus sudah  memberi teladan bagaimana kasih-Nya yang tidak goyah, walau Ia dikhianati, disangkali, ditinggalkan  dan menghadapi tantangan-Nya sendiri. Kasih mesra itu adalah kasih yang harus dipraktikkan bukan  sekadar teori.  Bagi Yesus, kasih tidak cukup hanya diajarkan, dijadikan simbol, slogan, atau wacana semata. Tetapi harus melekat dalam gaya hidup kita, sehingga menjadi ciri khas setiap murid-murid-Nya. 

    Kedua,  saling mengampuni. Pengampunan adalah kunci bagi semua hubungan yang sehat, kuat, dan yang kekal abadi. Itulah sebabnya kita harus paham betapa pentingnya mengampuni (Matius 5:23-24; Matius 6:12).  

    Sahabat, pengampunan kita tidak bergantung pada mau atau tidaknya kita memaafkan orang lain, tetapi mengampuni orang lain haruslah atas dasar pengampunan Allah yang murah kasih dan murah hati atas kita. Pengampunan yang diberikan kepada kita oleh Kristus ialah atas kebaikan-Nya dan kematian-Nya dan kasih-Nya untuk kita. Bila kita sudah mengetahui apa yang telah Kristus lakukan buat kita, maka kita harus mengampuni orang lain. Orang-orang yang telah diampuni harus mengampuni orang lain. Karena itu, jika kita ingin menjadi orang yang sehat dan bersemangat secara rohani, maka kita harus belajar untuk mengampuni.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari, tolong bagikan pemahamanmu tentang hidup penuh kasih mesra dan pengampunan. Selamat sejenak merenung. Selamat Natal. Selamat memasuki dan menjalani tahun baru 2022. Tuhan Yesus beserta kita. (pg)  

  • TUHAN TERSENYUM memandang aku

    Saya melihat seorang ibu menggendong sambil menyuapi anaknya yang masih bayi. Tiba-tiba tangan si anak menyenggol piring makanan hingga tumpah mengotori lantai. Belum selesai si ibu membersihkan tumpahan makanan, si anak mengompol membasahi baju ibunya. Banyak faktor yang dapat membuat si ibu merasa jengkel dan kesal, tetapi ia terus merawat anaknya dengan penuh kasih sayang. Bagi si ibu, anaknya adalah kebahagiaannya.

    Menurut Sahabat, bagaimana Allah memandang kita, anak-anak-Nya? Apakah setiap saat Dia memandang kita dengan perasaan marah, benci, dan kecewa oleh sebab dosa yang tiada henti-hentinya terjadi di dunia ini? Memang Allah sangat membenci dosa, tetapi Dia selalu mengasihi kita. Sungguh merupakan suatu kenyataan indah, tetapi sulit untuk dipahami bahwa Allah yang Mahakuasa bergirang atas kita. Bayangkan TUHAN TERSENYUM setiap kali memandang Sahabat dan saya!

    Untuk lebih memahami topik tentang “TUHAN TERSENYUM memandang kita”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Zefanya 3:1-20 dengan penekanan pada ayat 17. Pasal tiga dimulai dengan teguran terhadap Yehuda, khususnya terhadap Yerusalem (ayat 1-8). Jelas bahwa kecaman dan penghukuman Tuhan adalah untuk memurnikan. Sebagai umat Allah, mereka perlu dikoreksi dengan keras karena mereka adalah contoh bagi bangsa-bangsa lain. Sekalipun demikian, Allah menjanjikan bahwa Dia akan memurnikan dan menyucikan mereka, sehingga mereka dipulihkan sebagai umat Allah (ayat 9-20).

    Mereka akan menjadi sisa-sisa yang setia kepada Allah. Ini adalah tema tentang kesetiaan Allah dan kontinuitas umat Allah. Walaupun berbagai kerusakan dan penderitaan menghantam umat Allah, bahkan kelihatannya sangat menghancurkan, Allah tidak menihilkan mereka. Dengan setia, Allah mengoreksi, memurnikan, serta membawa umat-Nya agar terus berfungsi sebagai terang dan garam dunia. Allah akan mendatangkan pertobatan (ayat 9-10) dan umat-Nya akan dipelihara kontinuitasnya (ayat 11-13). Karena itu, sang nabi memproklamasikan adanya hari sukacita bagi Yerusalem dan umat Allah karena mereka dipulihkan oleh Allah (ayat 14-20). Janji yang paling indah adalah “Raja Israel, yakni TUHAN, ada di antaramu” (ayat 15). Karena itu, umat Allah tak perlu takut dan jangan menjadi letih lesu (ayat 16).

    Sahabat, kasih dan sukacita Allah atas kita, kiranya memotivasi kita untuk hidup menyenangkan hati-Nya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang dilakukan Allah agar umat Allah tetap dapat berfungsi sebagai terang dan garam dunia? (Ayat 9-13)
    2. Apa yang harus dilakukan oleh umat Allah dalam ayat 14?
    3. Apa janji Tuhan dalam ayat 15?
    4. Apa yang diharapkan Tuhan dalam ayat 16?
    5. Peran apa yang Tuhan janjikan dalam ayat 17?

    Selamat sejenak merenung. Selamat natal dan selamat menyambut tahun baru 2022. (pg)

  • BERJUANG MENGGAPAI PUNCAK

    Seorang sahabat  yang punya hobi mendaki gunung bercerita bahwa dari hobinya mendaki gunung dia semakin berani untuk menjalani kehidupan. Dia berkata,  “Jelajahi dan jangan pernah takut melangkah, hanya dengan begitu kita bisa mengerti kehidupan dan menyatu dengannya. Saya mendaki gunung dengan tekad bukan karena nekat. Mendaki gunung  menolong saya  semakin menghargai kehidupan. Yakinlah puncak gunung dapat kita capai jika kita terus mendaki.”  


    Untuk lebih memahami topik tentang: “BERJUANG MENGGAPAI PUNCAK”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 1 Korintus 9:1-27, dengan penekanan pada ayat 24-27.  Sahabat, kebanyakan manusia cenderung menginginkan sesuatu yang enak, mudah, nyaman, dan serba instan. Nyatanya, kehidupan tidak seperti itu. Lebih sering, untuk mencapai sesuatu, tidak ada jalan instan dan kita mesti menapaki anak tangga demi anak tangga hingga sampai ke tujuan.

    Mungkin kita pernah berandai-andai.  Seandainya saya memiliki orangtua yang kaya, saya tidak perlu bersusah payah mencari pekerjaan. Seandainya saya mempunyai pendidikan yang tinggi, pasti saya mempunyai posisi yang bergengsi. Seandainya saya berwajah rupawan, pasti akan mudah menjadi pemain sinetron.

    Ada banyak pengandaian yang dapat melintas dalam benak kita. Namun, kita diingatkan bahwa untuk mencapai suatu tujuan, diperlukan proses dan latihan. Dalam tugas pemberitaan Injil, meskipun sukar, Paulus tidak menyerah. Ia bersandar penuh kepada Tuhan, tetapi ia tahu bahwa hal itu tidak sama dengan menyerahkan segala sesuatu kepada Tuhan.

    Sahabat, rasul Paulus  juga dipanggil untuk membarenginya dengan berusaha dan bekerja keras. Oleh karena itu, kita tidak perlu menyerah karena kelelahan dan kesulitan, tetapi tetap maju dan berjuang. Segala sesuatu, yang dikerjakan dengan bersandar kepada Tuhan demi mencapai tujuan sesuai panggilan hidup kita, pasti ada hasilnya.

    Perjuangan pengikut Kristus tidak sama dengan berpangku tangan; sesungguhnya ada bagian yang harus kita kerjakan dengan penuh ketekunan. Sahabat, bagi orang yang ingin menggapai puncak kuncinya ada dua: BERDOA dan BERJUANG.

    Berdasarkan hasilperenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Ketika sebagian jemaat ada yang meragukan otoritas kerasulannya, apa yang dilakukan oleh rasul Paulus? (Ayat 1 dan 2)
    2. Apa yang Sahabat pahami dari pernyataan rasul Paulus dari ayat 13 dan 14?
    3. Apa yang Sahabat pahami dari pernyataan rasul Paulus dari ayat 16 – 18?
    4. Metode pendekatan semacam apa yang dipakai oleh rasul Paulus supaya dia dapat memenangkan banyak jiwa? (Ayat 19-23)
    5. Apa yang rasul Paulus lakukan supaya dirinya tidak menjadi batu sandungan? (Ayat 24-27)

    Selamat sejenak merenung. Selamat natal dan selamat menyongsong Tahun Baru 2022. Tuhan memberkati. (pg)

  • Ada KEAMANAN dan KEDAMAIAN

    Saat keadaan aman dan segala sesuatu berjalan dengan baik, sangat mudah untuk berkata bahwa kita beriman dan percaya kepada Tuhan. Tetapi ketika berada dalam penderitaan dan kesesakan sangatlah mungkin kita melupakan keyakinan kita tersebut. 

    Sahabat, sesungguhnya Allah di dalam nama Yesus Kristus adalah tempat perlindungan yang paling aman, bahkan di tengah kesulitan yang dahsyat sekali pun.  Keamanan, meskipun dalam situasi yang sulit, akan menjadi milik setiap orang yang tahu bahwa Allah adalah pembebasnya.  Putus asa akan menjauh dari hidupnya, sebaliknya kedamaian akan semakin mendekat.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Ada KEAMANAN dan KEDAMAIAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesaya 26:1-21 dengan penekanan pada ayat 4. Sahabat, percaya adalah tindakan iman seseorang kepada yang Ilahi yang berkuasa atas dirinya.

    Angin topan kehidupan tidak akan dapat menenggelamkan kita, bila kita tetap berpegang pada janji-janji-Nya. Iman kita tidak akan goyah selama kita menetapkan hati untuk tetap percaya kepada janji Allah. Bersabar dalam proses, setia dalam segala keadaan, mengucap syukur, dan berserah serta berharap selalu kepada Tuhan.

    Sahabat, mengapa kita percaya kepada TUHAN? Karena TUHAN adalah Gunung Batu kita. Ada gunung batu yang sementara; ada gunung batu yang kekal. Gunung batu yang kekal tetap berdiri kokoh dan menjadi tempat berlindung bagi semua orang percaya di tengah deru dan goncangan perubahan zaman. Tuhan Allah adalah gunung batu yang kekal. Ketika bumi hancur seiring hancurnya bangsa-bangsa maka tidak ada lagi orang yang bisa diandalkan; tidak ada lagi tempat berlindung bagi manusia. Yang tinggal tetap hanyalah Tuhan. Tuhan yang menghancurkan bangsa-bangsa di bumi karena menganggap diri kuat dan perkasa. 

    Tuhan membangun kota yang kuat dikelilingi tembok dan benteng untuk menjamin keselamatan bagi umat-Nya. Siapakah yang akan masuk ke dalam kota yang kuat itu? Pintu gerbang kota itu akan terbuka bagi semua orang yang percaya kepada Tuhan; orang-orang benar, orang-orang sengsara dan lemah yang tetap setia dan hatinya teguh karena memercayakan hidupnya kepada Tuhan. Tuhan pun akan menjaga mereka dengan damai sejahtera dan membuat mereka berkuasa atas orang-orang kuat. Karena itu, percayalah kepada TUHAN selama-lamanya.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang diserukan Yesaya di ayat 3?
    2. Apa yang diserukan Yesaya di ayat 4?
    3. Apa yang dikerjakan Yesaya di ayat 9?
    4. Apa yang dinyatakan Yesaya di ayat 12?

    Selamat sejenak merenung. Selamat natal dan selamat menyambut tahun baru 2022. Tuhan memberkati. (pg)

  • Berani MENYAMPAIKAN KEBENARAN

    Sahabat, hidup dalam kebenaran itu tidak terjadi dalam semalam, tapi melalui sebuah proses dan ada harga yang harus dibayar!  Hal pertama yang harus kita lakukan adalah membuka hati dan mengarahkan teliga untuk teguran dan koreksi (Amsal 15:31).   Kita harus akui bahwa hidup kita ini tidak sempurna, tapi kita sedang berjuang menuju kepada kehidupan yang semakin disempurnakan.  Karena itu izinkan Roh Kudus, Roh Kebenaran itu, membentuk dan memroses hidup kita  (Yohanes 16:13). 

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Berani MENYAMPAIKAN KEBENARAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kisah Para Rasul 4:1-22. Saat Petrus dan Yohanes sedang mengajar orang banyak, datanglah para imam kepala serta orang Saduki. Mereka tidak senang dengan Petrus dan Yohanes yang mengajarkan tentang konsep kebangkitan Yesus dari antara orang mati (ayat 2).

    Sahabat, orang Saduki sama sekali tidak percaya adanya kebangkitan orang mati. Mereka juga menolak konsep takdir, ganjaran kekal setelah kematian, dan keabadian jiwa. Kaum Saduki lebih menekankan pada kehendak bebas dan kemandirian akal budi manusia. Oleh karena itu, segala hal yang tidak dapat diterima secara logika dianggap omong kosong belaka.

    Para imam kepala itu marah karena menurut mereka kedua rasul Yesus tidak punya hak untuk berkhotbah dan mengajar, apalagi mewartakan Yesus yang sudah dicap sebagai penghujat Allah. Karena alasan itu Petrus dan Yohanes ditangkap, diadili, dan dipenjara. Dalam persidangan, kedua rasul Yesus mendapat pertanyaan krusial yang bernuansa politis, yaitu dengan kuasa manakah atau dalam nama siapakah mereka bertindak menyembuhkan orang lumpuh itu? (ayat 7).

    Berkat hikmat dan kekuatan Roh Kudus, Petrus menegaskan bahwa Yesus, yang telah disalibkan oleh para agamawan Yahudi, itulah yang telah menyembuhkan orang lumpuh itu. Pernyataan Petrus dan kesaksian orang lumpuh itu sudah membuktikan Yesus adalah Mesias dan Anak Allah (ayat 10-14).

    Ucapan Petrus bukan hanya melukai perasaan dan harga diri anggota Mahkamah Agama, tetapi juga membuat mereka keheranan. Mereka menghendaki bahwa setelah peristiwa penyaliban Yesus orang Nazaret, tidak akan ada lagi orang yang menyebut nama-Nya. Namun, mereka tidak dapat menghambat karya Allah di tengah bangsa Israel. Sebab, apa yang diberitakan para rasul itu benar adanya.

    Sahabat, sebagai orang percaya, kita dipanggil untuk berani memberikan kesaksian tentang Yesus sebagai satu-satunya Penyelamat, Penebus, dan Penghibur bagi manusia berdosa. Fakta dan kebenaran ini sepatutnya mendorong kita untuk lebih berani hidup bagi Kristus dan kerajaan-Nya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari pembacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Mengapa orang Saduki sangat marah kepada Peturs dan Yohanes? (Ayat 2)
    2. Apa yang terjadi yang diceritakan oleh Lukas dalam ayat 4?
    3. Apa yang disampaikan oleh Petrus dalam ayat 11?
    4. Apa yang disampaikan oleh Petrus dalam ayat 12?
    5. Apa yang disampaikan oleh Petrus dan Yohanes dalam ayat 19-20?

    Selamat sejenak merenung. Selamat natal dan selamat menyongsong tahun baru 2022. (pg)

  • Menemukan MATA AIR KESELAMATAN

    Sahabat, pada sekitar tahun 1987, untuk memenuhi kebutuhan air di kompleks kantor Sinode GKMI, maka dibuat sumur bor. Biasanya untuk menemukan mata air,  orang mengebor hingga ke dalam perut bumi puluhan sampai ratusan meter. Mata air sangat dibutuhkan untuk memenuhi kebutuhan jasmani. Air digunakan untuk memasak makanan, mencuci pakaian, mencuci perlengkapan dapur dan makan.   juga untuk mandi. Air menjadi bahan dasar untuk semua aneka jenis minuman dan makanan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Menemukan MATA AIR KESELAMATAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yesaya 12:1-6 dengan penekanan pada ayat 2 dan 3. Sahabat, dalam Yesaya 12, kita belajar bahwa Allah menginginkan umat-Nya, yang sedang tinggal di padang gurun, baik secara jasmani maupun rohani, untuk menemukan mata air keselamatan dari-Nya.

    Yesaya menyamakan keselamatan dari Allah dengan mata air yang memancarkan air yang paling menyegarkan. Setelah bertahun-tahun lamanya berpaling dari Allah, bangsa Yehuda ditentukan-Nya untuk mengalami masa pembuangan ketika Dia mengizinkan bangsa-bangsa asing untuk menaklukkan Yehuda dan menyerakkan penduduknya. Namun, nabi Yesaya berkata bahwa sekelompok sisa dari umat-Nya pada akhirnya akan kembali ke tanah kelahiran mereka sebagai tanda bahwa Allah menyertai mereka (Yesaya 11:11-12).

    Sahabat, Yesaya 12 merupakan kidung pujian kepada Allah atas kesetiaan-Nya dalam memenuhi segala janji-Nya, terutama janji keselamatan. Yesaya membesarkan hati umat Allah dengan menyampaikan bahwa dari mata air keselamatan Allah, mereka akan menerima kesegaran berupa anugerah, kekuatan, dan sukacita Allah (ayat 1-3). Semua itu akan menyegarkan dan menguatkan hati mereka dan mendorong mereka untuk memuji dan mengucap syukur kepada Allah (ayat 4-6).

    Allah rindu setiap orang percaya, melalui pengakuan dosa dan pertobatan, menemukan kesegaran sukacita yang terdapat dalam mata air keselamatan-Nya yang kekal. Mata air keselamatan dari Allah tidak akan pernah kering. Karena itu, cari, temukan  dan nikmatilah mata air keselamatan agar kita menerima sukacita, kesegaran, dan kekuatan-Nya. 

    Kita perlu mengikuti seruan Yesaya yang mengajak kita bersyukur kepada Allah dan memasyhurkan nama-Nya, baik kala senang maupun susah. Allah sang sumber keselamatan akan menguatkan kita hingga kita tidak gentar. Perbuatan-Nya yang mulia perlu diwartakan kepada bangsa-bangsa di seluruh bumi. Dengan sukacita penuh pujian, sudah selayaknya kita selalu bersyukur atas segala berkat-Nya. 

    Dari hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang diserukan oleh Yesaya kepada umat Allah dalam ayat 1-3?
    2. Apa yang diserukan oleh Yesaya kepada umat Allah dalam ayat 4-6?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)