Category: Sejenak Merenung

  • Benarkah saya DIJOTAK Tuhan?

    Ratna bingung saat tiba-tiba dijotak Ratih.  Dijotak, istilah bahasa  Jawa, artinya Ratna didiamkan atau dianginkan atau tidak digubris atau tidak diajak berbicara oleh Ratih. Bagaimana Ratna tidak bingung? Dia tidak tahu secara jelas mengapa tiba-tiba dijotak oleh Ratih? Lagi pula Ratih itu teman sekelasnya di SMP kelas 2. Ratih itu salah seorang teman akrabnya, biasa bercanda dan pergi berdua.  Ratna hanya tahu sejak dia menanggapi candaan Galih, sejak saat itu dia dijotak oleh Ratih.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Benarkah saya DIJOTAK Tuhan?”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 28:1-9. Sahabat, Dijotak (didiamkan)  oleh orang yang kita kasihi adalah pengalaman yang sangat menyedihkan, apalagi bila kita sedang menghadapi masalah yang berat dan butuh pendampingan (ditemani).

    Daud mengalaminya dalam berelasi dengan Tuhan. Ia merasa Tuhan diam terhadapnya, dan diamnya Tuhan justru ia alami di tengah masa sulitnya,  ia berhadapan dengan orang fasik yang melakukan kejahatan (ayat 3-4), yang kemungkinan adalah teman-temannya sendiri, yang nampak ramah tetapi hatinya penuh kejahatan (ayat 3). Daud membahasakan pengalaman itu seperti “orang yang turun ke dalam liang kubur” (ayat 1), yang menggambarkan kehampaan harapannya bila di tengah kondisi yang demikian, Tuhan nampak diam dan jauh darinya.

    Sahabat, tetapi menariknya, meski ia merasa Tuhan diam, Daud memilih tidak diam terhadap Tuhan. Perhatikan ayat 2, betapa tidak diamnya Daud: “Dengarlah suara permohonanku, apabila aku berteriak kepada-Mu minta tolong, dan mengangkat tanganku ke arah tempat-Mu yang maha kudus.”  Meski seakan Tuhan diam, ia tetap memohon, berteriak, dan bahkan mengangkat tangannya tanda berserah penuh kepada Tuhan. Ia tetap memercayai bahwa diamnya Tuhan bukan berarti tidak mendengar, bukan berarti tidak bertindak. Daud percaya Tuhan adalah gunung batunya (Ayat 1), yang menjadi tempat persandarannya yang teguh. Dan itulah yang kemudian dibuktikan oleh Tuhan baginya. Pada ayat 6 Daud berseru,  “Terpujilah Tuhan, karena Ia telah mendengar suara permohonanku.”  Bukan hanya itu, melalui pengalamannya yang tetap percaya Tuhan meski Ia nampak diam, Daud justru mengalami bahwa Tuhan bukan hanya gunung batu, melainkan juga kekuatan dan perisai (ayat 7), dan benteng keselamatan (ayat 8).

    Jika Sahabat merasa Tuhan diam, jangan berhenti berharap. Tetap percaya dan berseru pada-Nya. Nanti akan tiba waktunya di mana Tuhan menolong dan membawa kita pada pengalaman rohani yang lebih mendalam tentang Dia.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Bagaimana Daud menggambarkan keadaan dirinya pada saat itu? (Ayat 1)
    2. Apa yang dikerjakan Daud ketika dia merasa Tuhan mendiamkannya? (Ayat 2)
    3. Siapa yang berlaku jahat terhadap Daud pada saat itu? (Ayat 3-5)
    4. Apa yang akhirnya diperoleh Daud? (Ayat 6)
    5. Apa pernyataan Daud yang perlu kita pegang kuat-kuat dalam menjalani kehidupan  ini? (Ayat 7-8)

    Selamat sejenak merenung. Tetaplah berharap dan berserah kepada Tuhan. (pg)

  • KECIL namun DIPERKENAN TUHAN

    Kota Filadelfia merupakan kota termuda di antara tujuh kota yang disebut dalam kitab Wahyu. Kota ini dibangun Raja Attalus II pada 150 SM. Attalus membangun kota itu untuk menyatakan kasihnya kepada Eumenes, saudara laki-lakinya. Karena itu, kota ini diberi nama Filadelfia, dari kata bahasa Yunani yang artinya “orang yang mengasihi saudara laki-lakinya”.

    Kota Filadelfia  berada di tempat yang strategis di jalur utama pos Kekaisaran dari Roma ke daerah timur, karenanya kota ini disebut “Pintu gerbang ke timur”. Kota ini juga disebut “Athena Kecil” karena banyaknya kuil di kota itu. Tidak jauh berbeda dengan kota yang lain, jemaat Filadelfia juga sedang menghadapi penganiayaan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “KECIL namun DIPERKENAN TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Wahyu 3:7-13 dengan penekanan pada ayat 8. Sahabat, Yesus menyurati jemaat Filadelfia untuk memuji pekerjaan mereka, ketaatan mereka kepada firman Tuhan, dan keteguhan mereka untuk tidak menyangkal nama Kristus dalam penderitaan. Dia mendorong mereka tetap tekun dan bertahan di dalam penderitaan. Tuhan berjanji kepada mereka yang setia bahwa Dia akan memelihara mereka dari kesukaran lebih besar yang akan terjadi.

    Sahabat, jemaat Filadelfia dikatakan sebagai jemaat yang kekuatannya tidak seberapa, namun mereka menuruti firman Tuhan dan tidak menyangkal nama Tuhan. Mereka menerapkan kasih persaudaraan di sana, dan ternyata meski kekuatan mereka tidak seberapa, namun kesatuan mereka yang erat dan penuh kasih itu ternyata sanggup membawa pembedaan dan hasil yang luar biasa. Begitu luar biasa hingga Tuhan pun berkenan memuji mereka.

    Kehidupan jemaat di Filadelfia memberikan inspirasi bagi kehidupan gereja masa kini. Minoritas dengan banyak tekanan dari luar. Tetapi, gereja Tuhan harus memiliki komitmen untuk hidup menaati firman Tuhan dalam situasi apa pun. Tantangan dan kesulitan yang datang justru merupakan ujian iman dan ketaatan kita kepada Tuhan. Mari tetap tekun dan setia kepada-Nya di tengah-tengah kesukaran dan permasalahan yang kita alami.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami dari firman Tuhan yang terdapat di ayat 7?
    2. Apa yang menyebabkan Tuhan Yesus sangat berkenan kepada jemaat di Filadelfia? (Ayat 8)
    3. Apa yang dijanjikan Tuhan kepada jemaat di Filadelfia? (Ayat 10-11)
    4. Apa yang dijanjikan Tuhan dalam ayat 12?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • MENGINGAT dan MENSYUKURI segala PERBUATAN TUHAN

    Sahabat, tindakan mengingat-ingat apa yang telah Tuhan perbuat di waktu lalu, jika tanpa dilandasi oleh sikap iman, hanya akan menghasilkan nostalgia belaka.  Namun jika tindakan mengingat-ingat karya Tuhan itu dilandasi dengan sikap iman atau respons hati yang positif akan menghasilkan kekuatan dan peneguhan untuk lebih berkomitmen makin setia kepada Tuhan. 

    Mengingat-ingat perbuatan-perbuatan Tuhan dan keajaiban kuasa-Nya adalah hal yang harus kita lakukan, terlebih-lebih ketika sedang dalam masalah atau penderitaan, karena pada situasi itu seringkali kita mudah sekali menjadi lemah, putus asa, tawar hati dan kehilangan pengharapan. 

    Untuk lebih memahami topik tentang “MENGINGAT dan MENSYUKURI segala PERBUATAN TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 77:1-21 dengan penekanan pada ayat 12. Sahabat, secara tersurat dan tersirat, gubahan mazmur pujian ini dilantunkan sang pemimpin biduan, menurut Yedutun. Dia dicatat sebagai seorang Lewi yang diangkat Daud untuk memimpin ibadah musik di Bait Suci. Yedutun dimaknai juga keluarga biduan atau kelompok musik ibadah di Bait Suci.

    Dikisahkan dalam bacaan kita  bahwa gubahan lirik lagu Mazmur Asaf ini menggambarkan kerinduan Pemazmur untuk berseru-seru dengan nyaringnya kepada Allah. Agar hendaknya Allah berkenan mendengarkan doa dan permohonannya. Supaya Tuhan mengabulkan permintaannya.

    Di masa lampau, Pemazmur pernah mengalami keajaiban pertolongan dan kasih Tuhan. Namun dalam kesenyapan pergumulannya kali ini, Pemazmur mengungkapkan salah satu pertanyaan: “Sudah lenyapkah untuk seterusnya kasih setia-Nya?” (Ayat 9)


    Pemazmur hanya punya dua pilihan jawaban: Ya atau tidak. Jika ya, berarti Pemazmur harus menolak segala yang pernah ia percayai tentang Allah. Jika iya, artinya Pemazmur memercayai bahwa kasih setia Allah yang tak berkesudahan itu sesungguhnya hanyalah mitos. Namun jika jawabannya tidak, berarti Pemazmur menerima bahwa Allah adalah Tuhan dan Ia tidak pernah berubah dan kasih-Nya tak berkesudahan. Manakah yang Pemazmur pilih?

    Syukur, Pemazmur memilih berkata TIDAK terhadap pertanyaan di atas dan tetap memercayai Allah. Oleh karena itu, ia tetap mengingat dan merenung (ayat 12-13). Bila pada bagian sebelumnya, Asaf mengingat dan merenung kesusahannya, penderitaannya, kemalangannya (ayat 3-11). Namun, pada bagian selanjutnya, Asaf mengingat dan merenungkan perbuatan-perbuatan Tuhan yang ajaib. Di tengah penderitaan yang begitu berat dan kesenyapan yang dia alami, Pemazmur memilih untuk merenungkan perbuatan-perbuatan dan keajaiban-keajaiban yang telah TUHAN lakukan atas Israel umat-Nya (ayat 12-13). Hal itu memberi kekuatan kepadanya, meskipun ia belum memperoleh jawaban atas seruannya agar Tuhan mendengarkan dan memerhatikan dia (ayat 2 dan 10).

    Sahabat, pada bagian ini, Asaf berseru agar ia melihat Tuhan dan menjadi gentar sebagaimana air dan samudera raya (ayat 17), bahkan tetap gentar sekalipun jejak Tuhan tak terlihat di dalam hidupnya (ayat 20). Ketika Asaf memagari emosi dan kekalutannya dengan kebenaran dan perenungan akan Tuhan, Asaf bangkit dari krisis imannya dan tetap memercayai Allah.

    Sahabat, di hari pertama dalam tahun baru 2022, mari kita berkomitmen: Tetap memercayai Allah, sekalipun jejak pertolongan-Nya tak terlihat oleh mata jasmani kita. Kiranya dengan mata rohani kita tetap memandang dan percaya kepada-Nya, Sang Penolong sejati. (pg) 

  • MENUTUP Lembaran Tahun 2021

    Pandemi Covid-19 di Indonesia sepanjang tahun 2021 mengguncang iman, hati, dan hidup kita. Namun begitu, kami berharap Sahabat dan kami tetap dapat menikmati campur tangan dan pertolongan  Tuhan dalam perziarahan hidup kita di sepanjang tahun 2021.

    Sahabat,  lika-liku perjalanan hidup kita yang penuh kegembiraan maupun kesedihan, yang meninggalkan kenangan indah dan kenangan pahit dalam ingatan. Selain itu banyak doa kita yang telah dikabulkan oleh Tuhan dan banyak pula yang masih menunggu waktu Tuhan. Pertanyaannya, sudah berapa jauh kita berjalan menuju arah yang lebih baik? Berapa banyak yang kita lakukan untuk  sesama? Sekarang merupakan saat yang tepat dan baik bagi kita untuk  mengevaluasi semua yang sudah kita lakukan satu tahun terakhir ini.

    Kita tahu bahwa waktu yang sudah berlalu tidak bisa kembali lagi. Semua yang telah kita alami adalah guru terbaik yang mengajar kita dalam banyak hal. Kenangan dari setiap perjalanan dan proses yang telah kita lewati adalah pelajaran yang sangat berharga. Kita meyakini, semua itu tidak pernah lepas dari campur tangan Tuhan sebagai bukti kasih-Nya dalam hidup kita. Maka biarlah semua itu semakin menguatkan iman dan pengharapan kita dalam menyambut tahun  baru 2022.

    Sahabat, bersihkan hati dan buang jauh-jauh hal-hal yang menyakitkan, kepahitan, kekecewaan, kegagalan, iri, dengki, dendam dan yang lain sejenisnya. Hendaklah kita saling mengampuni seperti Allah telah mengampuni kita terlebih dahulu. Tanamkan semangat yang positif, senantiasa bersyukur dan percaya pada Allah kita yang luar biasa. Simpan kenangan indah yang telah kita alami untuk dapat kita kenang dikemudian hari.  Tutup tahun ini dengan sukacita dan damai di hati. Ucapkan selamat tinggal pada tahun 2021, yang mungkin merupakan tahun yang penuh dengan pergumulan dan tantangan. Mari  persiapkan hati dan hidup kita menyambut tahun  baru 2022, tahun dengan lebih banyak sukacita dan harapan baru.

    Sebelum kita menutup lembaran tahun 2021, mari kita mendaraskan: “Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala.”  (Mazmur 77:12). (pp)

  • BUKALAH PINTU HATIMU

    Laodikia terletak kira-kira 43 mil sebelah tenggara kota Filadelfia, 11 mil sebelah barat kota Kolose, dan 6 mil sebelah selatan kota Hierapolis (bnd. Kolose 4:13) di Lembah Lisius. Kota ini adalah pintu gerbang ke Efesus, batas timur kira-kira 100 mil merupakan pintu gerbang ke Siria.

    Sahabat, Laodikia menjadi pusat perdagangan yang makmur dan  berpengaruh. Industri wolnya berkembang pesat dengan produksi dan ekspor wol hitam, manufaktur pakaian sehari-hari dan pakaian mahal, serta penemuan salep mata yang efektif. Kota ini memiliki sekolah kedokteran yang maju dengan spesialisasi dalam bidang pengobatan mata dan telinga, dan telah mengembangkan salep untuk penyembuhan radang mata. Salep mata ini membuat sekolah kedokteran di Laodikia menjadi terkenal pada waktu itu.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “BUKALAH PINTU HATIMU”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Wahyu 3:14-22, dengan penekanan pada ayat 20. Sahabat, bacaan kita pada hari ini merupakan firman Tuhan kepada jemaat di Laodikia mengingat kondisi rohani mereka yang tidak dingin dan tidak panas (ayat 15). Keadaan suam-suam kuku itu seperti makanan yang menjadi basi, dan Tuhan akan memuntahkan mereka dari mulut-Nya (ayat 16), artinya mereka tidak dapat menyatu dengan Tuhan.

    Jemaat di Laodikia merasa hidup mereka sudah cukup dengan kekayaan yang berhasil mereka kumpulkan, namun di mata Tuhan, mereka miskin dan buta rohani (ayat 17). Tuhan menasihatkan agar mereka membeli emas murni, iman sejati dari Tuhan; dan pakaian putih yaitu kekudusan yang dianugerahkan Tuhan; serta minyak untuk melumas mata mereka agar celik dalam melihat kebenaran (ayat 18). Sesungguhnya itulah kekayaan rohani yang dibutuhkan oleh setiap orang percaya

    Sahabat, Allah menginginkan setiap jemaat-Nya bertumbuh dan berkembang, Allah tidak menginginkan kita berdiri di tempat, tidak maju tidak mundur. Mereka akan mengalami stagnasi dengan tidak bergeming terhadap perubahan atau mereka tidak ada respons untuk bergerak dan maju bagi pertumbuhan rohaninya.

    Oleh karena itu Allah berdiri di muka pintu dan mengetuk, Allah berusaha mengetuk pintu hati kita yang sudah tertutup. Kadang-kadang kita merasa tidak butuh Tuhan, tidak butuh apa-apa lagi. Keadaan sepeti ini sangat membahayakan diri kita sendiri, karena kerohanian kita mungkin akan menjadi lemah dan mati. Diri kita menjadi suam, tidak maju dan tidak mundur, bahkan kita sering menjadi apatis terhadap segala kegiatan, pergumulan,  dan perubahan dalam gereja.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan di bawah ini:

    1. Bacaan kita pada hari ini merupakan firman Tuhan yang disampaikan kepada jemaat di mana? (Ayat 14)
    2. Bagaimana kondisi kerohanian jemaat tersebut? (Ayat 15)
    3. Apa reaksi Tuhan terhadap kondisi kerohanian jemaat tersebut? (Ayat 16)
    4. Mengapa jemaat tersebut kerohaniannya mengalami stagnasi? (Ayat 17)
    5. Apa yang harus dilakukan oleh jemaat tersebut agar mengalami pemulihan? (Ayat 18)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • IBADAH: Ungkapan Iman

    Ibadah adalah ungkapan iman kita. Apakah artinya? Ibadah yang hidup terpancar dari iman yang dinamis, nyata, dan melewati pergumulan bersama dengan Allah. Adalah hal yang mulia untuk menghadirkan iman kita dalam setiap ibadah dan mengungkapkannya kepada orang-orang yang berada di sekitar kita.

    Sahabat, bagaimana sikap hati kita saat memersiapkan diri dalam ibadah? Adakah kita berdoa memohon Tuhan untuk menyadarkan kita akan keberdosaan dan kebutuhan kita akan kasih anugerah-Nya? Atau pernahkah kita pergi beribadah dengan maksud untuk bisa memberi yang terbaik kepada Allah?

    Untuk lebih memahami topik tentang: “IBADAH: Ungkapan Iman”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 24:1-10. Sahabat, Mazmur  24 mungkin dipakai dalam ibadah di bait Allah untuk merayakan Allah sebagai Raja, Pencipta alam semesta (ayat 1-2). Sebagai Raja, Allah berhak menuntut seluruh ciptaan-Nya, khususnya manusia, tunduk menyembah Dia dan taat pada firman-Nya.

    Dalam tradisi Perjanjian Lama, Mazmur 24 adalah nyanyian bangsa Israel ketika mereka berjalan ke Gunung Sinai untuk beribadah kepada Allah. Mazmur 24 disusun dengan tatanan, misalnya: Pernyataan siapakah Allah, Pencipta semesta dan Raja yang berdaulat. Inilah Allah yang disembah orang Israel sehingga mereka tidak boleh memandang sebelah mata ibadah kepada Allah leluhur mereka. Karena itu, mereka perlu memersiapkan diri sebaik mungkin.

    Sedangkan ayat 3-6 berperan sebagai pengujian diri, yaitu hal apa saja yang diharapkan Allah dari umat saat mereka datang menyembah-Nya. Mereka tidak boleh dicemari dengan motivasi atau niat yang cemar. Seluruh hidup mereka harus mencerminkan sifat Allah.

    Prosesi perjalanan menuju Bait Allah akan membawa umat mencapai Pintu Gerbang Bait Allah di mana para imam akan berseru dari dalam: “Siapakah itu Raja Kemuliaan?” dan umat akan menjawab dari luar gerbang, “TUHAN, jaya dan perkasa. TUHAN, perkasa dalam peperangan!” Sahut-menyahut ini diulang saat umat melihat pintu gerbang Bait Allah terbuka untuk menyambut orang-orang yang rindu berbakti kepada Allah (ayat 9-10). Sungguh sebuah cara yang megah untuk memulai ibadah!

    Sahabat, puncak ibadah ialah undangan bagi Allah untuk bertaktha di bait-Nya yang kudus (ayat 7-10). Kemudian berkumandanglah paduan suara secara bersahut-sahutan, mungkin antara kaum Lewi dengan para imam dan diikuti oleh segenap umat yang ikut beribadah. Bayangkan kemegahan ibadah dan suara pujian yang menggema dan memancar keluar dari pelataran di mana umat berkumpul.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pengalamanmu secara pribadi, apa yang Sahabat lakukan ketika akan mengikuti ibadah di gerejamu. Selamat sejenak merenung. Selamat Natal. Selamat mensyukuri untuk tahun baru 2022 yang telah Tuhan anugerahkan kepada kita. Tuhan memberkati. (pg)

  • TEMBANG MADAH di saat NATAL

    Sahabat, lebih dari duaribu tahun yang  silam, di kota Yerusalem, terdengarlah Maria, perempuan yang beroleh kasih karunia Tuhan,   melantunkan tembang madah (pujian) bagi Tuhan.  Suatu anugerah besar bagi Maria karena Tuhan berkenan menjadikannya saluran berkat bagi dunia, karena melalui dirinya lahirlah Sang Juruselamat dunia. 

    Untuk menggenapi rencana Tuhan tersebut,  Maria berani membayar harga yaitu menanggung risiko besar, bisa dihukum mati karena dituduh berzinah.  Karena itulah di tengah-tengah situasi sulit Maria bisa bersyukur dan mendedangkan madah  dan memuliakan Tuhan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “TEMBANG MADAH di saat NATAL”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Injil Lukas 1:46-56. Sahabat,  atas respons dan peneguhan dari Elizabet, Maria dengan sukacita mendedangkan madah yang begitu indah kepada Allah. Madah Maria dalam bahasa Latin disebut magnificat artinya memuliakan. Madah tersebut muncul dari hati Maria yang terdalam, menyangkut karya Allah yang besar atas dirinya dan umat-Nya.

    Dalam bagian yang pertama (ayat 46-49), Maria memuji Allah karena perkara besar yang Allah telah lakukan bagi dia. Maria memahami keberadaan dirinya. Terlebih di hadapan Allah, ia hanya seorang hamba. Itulah sebabnya, orang akan menyebut dia berbahagia karena telah dipilih untuk mengandung dan melahirkan Anak Allah.

    Sedangkan pada bagian yang kedua (ayat 50-53), Maria memuji Allah karena kekudusan, rahmat, dan kuasa-Nya, yang ditujukan kepada orang-orang yang takut akan Dia. Allah juga akan menunjukkan kuasa-Nya atas mereka yang meninggikan diri, yaitu mereka yang angkuh, penguasa yang korup, dan orang kaya yang tidak memedulikan orang miskin.

    Di bagian terakhir,  ketiga (ayat 54-55), Maria memuji Allah yang setia pada
    perjanjian-Nya dengan umat-Nya.

    Sahabat, dari madah Maria, nyata imannya bahwa Allah akan setia memelihara
    umat-Nya sebagaimana yang telah Dia janjikan kepada Abraham, nenek moyang mereka. Dari pokok-pokok iman di dalam madah Maria, nyata juga pengharapannya sebagai umat Allah, yaitu bahwa Allah akan bertindak menolong mereka.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Mengapa Maria mendedangkan tembang madah bagi Allah? (Ayat 46-49)
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 50 -53?
    3. Mengapa Maria mendendangkan tembang madah bagi Allah? (Ayat 54 – 55)

    Selamat sejenak merenung. Selamat Natal. Selamat memasuki dan menjalani tahun baru 2022.  Pujilah Allah dengan segenap hati dan dengan segenap kesadaran serta pemahaman kita. Terpujilah Tuhan! (pg)

  • YESUS: TERANG SEJATI

    Sahabat, coba bayangkan bila dunia ini gelap gulita, tanpa secercah cahaya sedikit pun.  Pasti tidak akan ada kehidupan karena manusia tidak bisa melakukan apa-apa, dan tidak ada makhluk yang dapat hidup.  Karena itu berfirmanlah Tuhan,  “Jadilah terang. Lalu terang itu jadi. Allah melihat bahwa terang itu baik, lalu dipisahkan-Nyalah terang itu dari gelap. Dan Allah menamai terang itu siang, dan gelap itu malam. …”  (Kejadian 1:3-5a). 

    Tuhan pun melengkapi dengan benda-benda langit:  Matahari, bulan dan bintang.  Dengan adanya terang, makhluk hidup dapat bertumbuh dan ada kehidupan, manusia pun dapat melakukan aktivitasnya.  Sungguh, semua orang membutuhkan terang atau cahaya.  Memang, kita memiliki mata yang berfungsi untuk melihat, tetapi apabila tidak ada terang atau cahaya, mata kita pun tidak dapat berfungsi untuk melihat.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “YESUS: TERANG SEJATI”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Yohanes 8:12-20 dengan penekanan pada ayat 12. Sahabat, Yesus melakukan banyak perbuatan besar, seperti mengajar, menyembuhkan orang sakit, mengusir roh jahat, dan lain-lainnya. Hal tersebut membuat banyak orang bertanya mengenai siapa diri-Nya yang mampu melakukan hal-hal seperti itu. Yesus mengatakan bahwa diri-Nya adalah Terang dunia (ayat 12). Ia menegaskan bahwa setiap orang yang mengikut-Nya akan memiliki terang dalam hidupnya.

    Sahabat, orang Farisi tidak menerima pernyataan Yesus tersebut (ayat 13). Mereka meragukan-Nya karena diperlukan dua saksi untuk sebuah kebenaran. Lalu, Yesus menyatakan dengan jelas mengenai diri-Nya. Dia tahu siapakah diri-Nya dan apa yang akan dilakukan-Nya, sementara orang Farisi merasa lebih tahu, padahal mereka sama sekali tidak mengetahuinya (ayat 14 dan 19). Yesus diutus untuk menyatakan kehendak Bapa-Nya (ayat 16). Dengan demikian, ada dua pribadi yang memahami Yesus, yaitu diri-Nya dan Allah (ayat 18). Hal ini dipandang benar menurut hukum Taurat (ayat 17).

    Sering kali kita juga sulit memahami Yesus. Perkembangan kehidupan dengan segala kemajuannya dapat mengalihkan mata kita dari terang Kristus. Seakan-akan Ia tidak berperan apa-apa dalam kehidupan ini. Kita diingatkan bahwa Yesus Kristus adalah Terang kehidupan. Yesus ingin pengikut-Nya memahami kehendak Allah dan dapat menjalani kehidupan dengan benar.

    Dinamika kehidupan yang naik turun dengan cepat seharusnya membuat kita makin percaya dan bergantung penuh kepada Tuhan. Dengan begitu, kita dapat merasakan kuasa penyertaan-Nya yang ajaib dalam setiap kisah kehidupan. Jangan biarkan keadaan yang sulit mengusai diri kita dan menggantikan kuasa Kristus. Yesus adalah Terang dan biarlah Ia senantiasa menerangi setiap langkah dalam hidup kita.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, dan kini Tuhan Yesus menyerahkan tongkat estafet itu kepada kita, anak-anak-Nya, untuk melanjutkan tugas-Nya menyinari dunia ini dengan terang surgawi. Tolong bagikan pemahamanmu bagaimana caranya agar kita dapat berperan sebagai terang dunia. Selamat sejenak merenung. Terang Tuhan menerangi hati, pikiran,  dan langkah kita dalam menjalani tahun baru 2022. (pg) 

  • KRISTUS adalah ALFA dan OMEGA

    Sahabat, dalam mengerjakan misi yang diamanatkan Bapa kepada-Nya, Kristus tidak pernah mengerjakan segala sesuatunya dengan setengah-setengah, tapi diselesaikan-Nya sampai tuntas, dan puncaknya adalah melalui pengorban-Nya di kayu salib untuk menebus dosa umat manusia. 

    Kristus adalah Alfa dan Omega, Yang awal dan Yang akhir;  Ia yang mengawali dan Ia pula yang mengakhirinya.  Jadi, Kristus selalu menyelesaikan karya-Nya sampai purna,  “Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.”  (Filipi 1:6).

    Untuk lebih memahami topik tentang: “KRISTUS adalah ALFA dan OMEGA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Wahyu 1:17-20 dengan penekanan pada Wahyu 1:8. Sahabat, kemarin adalah sejarah, hari ini adalah hidup kita sekarang, sedangkan esok adalah misteri. Tidak ada seorang pun yang mengetahui masa depan. Bahkan, dengan teknologi yang paling mutakhir pun, tidak ada manusia yang dapat memastikan masa depan. Masa depan adalah samar-samar bagi manusia. Manusia hanya bisa membuat rancangan dan predikasi, tetapi tidak mampu memastikan apa yang akan terjadi. Sebagai orang percaya, kita meyakini bahwa yang menguasai masa depan adalah Tuhan.

    Dalam bacaan kita pada hari ini, rasul Yohanes menerima wahyu dari Gurunya, Yesus Kristus, untuk diteruskan kepada tujuh jemaat di Asia Kecil. Walaupun Yohanes sangat dekat dengan Gurunya, kali ini ia bertemu dengan Kristus yang hadir dalam kemuliaan-Nya, sehingga ia tersungkur dan sujud di kaki Yang Awal dan Yang Akhir (ayat 17), Alfa dan Omega (ayat 8), Yang telah mati namun hidup selama-lamanya (ayat 18). Kristus adalah Yang Awal karena tidak ada yang ada sebelum Ia ada. Ia mula-mula sudah ada karena Ia adalah Pencipta segala yang ada. Kristus adalah Yang Akhir karena hanya Dia yang mampu memegang masa depan.

    Sahabat, Allah melihat masa lalu, masa sekarang, dan masa depan secara bersamaan karena Ia itu kekal. Ia mengasihi gereja-Nya sehingga Ia menyampaikan tentang apa yang akan terjadi di masa depan supaya gereja berjaga-jaga dan siap menghadapinya. Supaya setiap orang percaya secara individu bisa mengambil bagian dalam rencana Allah yang besar, kita harus mengerti maksud Allah untuk gereja-Nya.

    Selama kita tinggal dekat Tuhan dan menyediakan diri untuk disertai, Ia yang berjanji itu setia.  Tuhan berkata,  “Orang yang haus akan Kuberi minum dengan cuma-cuma dari mata air kehidupan.”  (Wahyu 21:6).  Kata cuma-cuma tersebut tidak berarti bahwa semua orang, termasuk  orang yang menolak akan diberi, tapi hanya orang yang merasa hauslah  (yang punya kerinduan besar)  yang akan Tuhan beri,  “Berbahagialah orang yang lapar dan haus akan kebenaran, karena mereka akan dipuaskan.”  (Matius 5:6).

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pemahamanmu mengenai Kristus adalah Alfa dan Omega. Selamat sejenak merenung. Selamat Natal. Tuhan Yesus beserta kita dalam memasuki dan menjalani tahun baru 2022. Tuhan memberkati. (pg)

  • MENYINGKAPKAN KEBENARAN

    Syukur kepada Tuhan, ada cukup banyak orang percaya yang mengikuti program pembacaan Alkitab secara berurutan dari Kejadian sampai dengan Wahyu dalam waktu satu tahun. Bagaimana perasaan Sahabat ketika mulai memasuki kitab Wahyu?   

    Sahabat, ada yang menyangka kitab Wahyu hanya berbicara tentang hal-hal yang berkaitan dengan penghakiman di akhir zaman dan sangat sulit dimengerti karena banyak menggunakan lambang. Sesungguhnya hal tersebut tidak sepenuhnya benar.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “MENYINGKAPKAN KEBENARAN”. Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari kitab Wahyu 1:1-3. Sahabat, kitab Wahyu, sesuai dengan artinya, ditulis dengan tujuan untuk menyingkapkan atau membukakan kebenaran. Kitab Wahyu diumpamakan seperti sebuah lukisan yang sebelumnya terselubung, lalu selubung itu disingkapkan sehingga lukisan tersebut kini tampak jelas.

    Bacaan kita pada hari ini  merupakan pembuka dari kitab Wahyu, “Inilah wahyu Yesus Kristus” (ayat 1), itu berarti Yesus sebagai sumbernya, sekaligus Dia sebagai berita utamanya. Keduanya mengungkapkan kebenaran yang penting.

    Kitab Wahyu merupakan wahyu dari dan tentang Yesus. Dari Yesus Kristus menegaskan bahwa apa yang Yohanes tulis merupakan segala sesuatu yang Yesus telah nyatakan kepadanya. Sedangkan tentang Yesus, berarti wahyu ini menyingkapkan pribadi-Nya. Dia telah mati, bangkit, dan naik ke surga serta karya-Nya di dalam kehidupan orang percaya pada masa kini, dan juga menyingkapkan peristiwa-peristiwa yang akan terjadi berkaitan dengan kedatangan-Nya yang kedua kali.

    Sahabat, itulah keindahan kitab Wahyu. Kitab ini menyingkapkan isi hati Allah. Kepada para pembaca kitab ini, Dia berjanji, “Berbahagialah ia yang membacakan dan mereka yang mendengarkan kata-kata nubuat ini, dan yang menuruti apa yang ada tertulis di dalamnya, sebab waktunya sudah dekat.” (ayat 3)

    Janji tersebut berlaku bagi setiap orang percaya dari segala abad dan tempat. Juga berlaku bagi kita yang membaca dan menuruti apa yang tertulis di dalamnya. Bagi orang percaya hendaknya bersaksi tentang kasih Kristus dengan cara  menjalankannya.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pengalamanmu ketika membaca kitab Wahyu. Berkat apa saja yang Sahabat peroleh. Selamat sejenak merenung. Selamat menyambut natal dan tahun baru 2022 dengan penuh syukur dan sukacita. Tuhan memberkati. (pg)