Category: Sejenak Merenung

  • AIR TUBA dibalas dengan AIR SUSU

    Sahabat,  dunia menggemakan ungkapan, “Mata ganti mata, gigi ganti gigi”. Bagi Yusuf ungkapan tersebut tidak berlaku. Yusuf sangat yakin bahwa  Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah  (Roma 8:28 dan Kejadian 50:20).  Itulah sebabnya ia bisa mengampuni dan melupakan kejahatan yang diperbuat oleh saudara-saudaranya. Andaikan Yusuf mengandalkan kekuatan sendiri dan melakukan pembalasan terhadap apa yang telah diperbuat oleh saudara-saudaranya, ia tidak akan mengalami peninggian dari Tuhan;  mimpi yang pernah ia terima pun tidak akan pernah menjadi kenyataan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “AIR TUBA dibalas dengn AIR SUSU”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 35:1-16. Sahabat, Daud memberikan gambaran unik mengenai cara bersikap terhadap orang-orang yang membencinya dan yang ingin mencelakainya. Daud meminta pertolongan Tuhan. Ia meyakini bahwa Tuhan yang memiliki kuasa untuk bertindak kepada mereka. Sekilas tampaknya permohonan Daud menyiratkan dendam, seakan-akan meminta supaya Tuhan mencelakai para musuhnya. Sesungguhnya penekanan Daud bukan pada dendam, melainkan pada penyerahan diri kepada Tuhan. Sebab, ia percaya pada keadilan Tuhan yang akan bertindak terhadap ketidakadilan yang menimpa umat-Nya.

    Selain itu, Daud juga tidak melakukan pembalasan. Sebaliknya, dia menunjukkan kepedulian dan empati terhadap musuhnya.  Ayat 13-14 menjadi kesaksian mengenai tindakannya bagi orang-orang yang membencinya. Dia berduka atas kemalangan mereka. Sebab dia menganggap mereka sebagai saudara sendiri. Ia tidak bergembira atas sakit mereka.

    Sahabat, pembalasan seringkali menjadi jalan pintas untuk memuaskan hasrat. Tetapi, pembalasan tidak menghentikan perbuatan jahat dan kekerasan. Meskipun pelaku kekerasan awalnya adalah korban kekerasan. Namun, mereka meniru tindakan kekerasan dengan cara membalas sakit hati dengan kekerasan terhadap musuhnya.

    Dunia ini penuh dengan kekerasan. Dunia membutuhkan empati dan pengampunan. Kita perlu berempati terhadap pelaku kekerasan dan mengampuni mereka. Empati dan pengampunan akan membuka jalan kepada pelaku kekerasan untuk bertobat.
    Mengampuni bukan berarti kalah,  justru merupakan jalan menuju kemenangan untuk meraih berkat-berkat Tuhan. 

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Orang-orang yang selama ini diperlakukan baik oleh Daud  justru membalasnya dengan kejahatan, apa saja yang diperbuat oleh mereka? (Ayat 4, 7, 11, 15, dan 16)
    2. Sebaliknya apa saja yang diperbuat oleh Daud untuk orang-orang yang telah berbuat jahat kepadanya? (ayat 13 dan 14)


    Selamat sejenak merenung. Marilah kita berdoa, “Tuhan, ajari kami untuk rendah hati  supaya kami tidak mendendam orang-orang yang berbuat jahat kepada kami, melainkan kami mampu untuk  berempati dan mengampuni orang yang berlaku jahat kepada kami.  Mampukan kami Tuhan untuk membalas air tuba dengan air susu.” (pg)

  • TERSAJI PILIHAN bagi kita

    Sahabat, apa yang ada di pikiranmu ketika mendengar kata PRASMANAN. Kalau saya langsung tertuju ada meja panjang, di situ ditata dengan apik dan menarik beberapa makanan, tamu undangan atau pembeli dipersilakan untuk memilih dan mengambil sesuai dengan seleranya atau kesukaan masing-masing. Selain itu setiap orang diberi kebebasan untuk menentukan berapa banyak makanan yang hendak disantapnya. Tersaji pilihan bagi kita.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “TERSAJI PILIHAN bagi kita”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 36:1-13. Sahabat, dalam karya-Nya, Tuhan menciptakan manusia dengan begitu istimewa. Manusia diberi kebebasan untuk berpikir dan bertindak. Karena itu, dalam relasi dengan Allah, manusia bisa memilih untuk mendekat atau menjauh. Manusia bisa juga memilih untuk mendengarkan firman Tuhan, memerhatikannya, atau menolak firman itu dan melakukan hal-hal yang tidak sesuai dengan kehendak Tuhan.

    Mazmur 36 menunjukkan keberadaan dua cara pilihan itu. Ada orang yang hati dan hidupnya dipenuhi dosa dan perilaku jahat (ayat 2-5). Ada pula orang benar yang berlindung dalam naungan sayap Tuhan (ayat 8). Keduanya sama-sama ciptaan Tuhan. Keduanya sama-sama menerima tawaran kasih setia Tuhan, namun respons mereka berbeda.

    Sahabat, seperti seseorang yang akan mengambil makanan secara prasmanan. Ada konsekuensi yang harus ditanggung oleh setiap orang. Jika makanan yang diambil terlalu banyak, maka orang itu akan kekenyangan. Jika makanan yang dipilih semuanya berlemak, maka akan berisiko pada kesehatannya. Demikian pula halnya saat merespons kasih setia Tuhan. Orang yang menolak-Nya akan jatuh dan tidak bangkit lagi (ayat 13). Sedangkan orang yang menerima-Nya akan dikenyangkan dan mendapatkan terang kehidupan (ayat 9-10).

    Betapa berharganya kasih setia Tuhan, tanpa-Nya kita tak bisa berbuat apa-apa! Sepanjang hidup, kita berhadapan dengan pilihan untuk menerima atau menolak kasih setia Tuhan. Karena itu, selera dan keinginan kita perlu dikendalikan dan diselaraskan dengan terang firman Tuhan. Jadi,  manakah yang hendak kita pilih?

    Sahabat, kiranya Tuhan menolong kita menjalani hidup yang takut akan Tuhan dan dipenuhi dengan kebaikan-Nya. 

    Berdasarkan hasil perenunganmu pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Ayat 2-5 menunjukkan golongan orang-orang yang seperti apa?
    2. Ayat 8-9 menunjukkan golongan orang-orang yang seperti apa?
    3. Bagaimana Daud menggambarkan tentang Allah dalam ayat 6-10?
    4. Apa akibatnya bagi orang-orang yang menerima kasih setia Tuhan? (Ayat 9-10)
    5. Apa akibatnya bagi orang-orang yang menolak kasih setia Tuhan? (Ayat 13)

    Selamat sejenak merenung. Mari kita berdoa, “Tuhan, kami bertekad untuk setia kepada-Mu dan siap dengan segala konsekuensinya.” (pg) 

  • MENGECAP KEBAIKAN TUHAN pada saat di NADIR

    Ketika berada dalam situasi berat umumnya orang akan menjadi kalut, takut dan frustasi.  Berbeda dengan Daud yang terus mengarahkan pandangannya kepada Tuhan dan mengingat-ingat akan kebaikan-Nya sehingga ia tetap bisa memuji-muji Tuhan.  Ia sangat percaya bahwa Tuhan yang disembahnya adalah Tuhan yang tidak pernah berubah.  Karena itu dalam keadaan yang seakan tiada harapan Daud selalu mengingat betapa baiknya Tuhan itu dan berusaha untuk mengecap segala kebaikan-Nya. Mengecap kebaikan Tuhan pada saat di nadir.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “MENGECAP KEBAIKAN TUHAN pada saat di NADIR”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 34:1-23. Sahabat, Mazmur 34 ditulis Daud bukan ketika ia sudah menjadi raja atas Israel, bukan pula saat berada dalam situasi yang baik dan tenang.  Melainkan saat ia melarikan diri dari kejaran Saul yang berusaha untuk membunuhnya.  Tragisnya lagi, saat lari ke daerah Filistin raja Filistin mengenali dia sebagai pahlawan Israel yang telah membinasakan banyak perwira-perwira Filistin, sehingga raja itu pun berniat membunuhnya juga.  Daud benar-benar dalam keadaan terjepit!
     

    Sahabat, Daud, yang dalam perjalanan hidupnya mengalami banyak masalah dan penderitaan, bahkan sampai harus berpura-pura gila karena beratnya tekanan hidup, membagikan pengalaman pribadinya yang luar biasa bersama dengan Tuhan.  Ia memberikan rahasia bagaimana supaya kita bisa mengalami kebaikan dari Tuhan.  

    Pertama,  “Jagalah lidahmu terhadap yang jahat dan bibirmu terhadap ucapan-ucapan yang menipu;”  (ayat 14).  Mari berhati-hati dengan apa yang Saudara perkatakan, karena  “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.”  (Amsal 18:21).  Ingat, ada kuasa dalam setiap perkataan kita.  Oleh sebab itu perkatakan selalu hal-hal yang positif, maka semua yang baik akan terjadi dalam hidup kita.

    Kedua,  “Jauhilah yang jahat dan lakukanlah yang baik,”  (ayat 15a).  Artinya kita harus hidup sesuai dengan firman Tuhan.  Selama kita hidup dalam ketidaktaatan kita tidak akan pernah mengalami kebaikan Tuhan.  Jadi jika selama ini kita telah menyimpang dari jalan Tuhan, jangan tunda waktu untuk segera bertobat!

    Ketiga,  “…carilah perdamaian dan berusahalah mendapatkannya!”  (ayat 15b).  Jangan menyimpan kepahitan, dendam atau sakit hati!  Berilah pengampunan kepada semua orang, sebab jika kita tidak mengampuni orang lain, Tuhan juga tidak akan mengampuni dosa-dosa kita!  (Matius 6:15).

    Daud merespons penderitaan dengan pujian, dan merespons kebaikan Tuhan dengan ketaatan. Biarlah ini menjadi prinsip rohani bagi kita dalam keadaan apapun, agar kita tetap dekat dan mengalami kasih-Nya senantiasa.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Kebaikan Tuhan berupa apa saja yang dialami oleh Daud ketika dia dalam masa yang sangat sulit? (Ayat 5, 7, 8 dan 19)
    2. Apa respons Daud ketika dia menerima banyak kebaikan Tuhan? (Ayat 2, 3, 4, 10 dan 12)

    Selamat sejenak merenung. Sahabat, menaati firman Tuhan adalah rahasia untuk mengalami dan menikmati semua yang baik dari Tuhan!  (pg)

  • TUHAN MAHAKUASA namun MAU PEDULI

    Sahabat, salah satu arti dari kuasa adalah wewenang atas sesuatu atau untuk menentukan sesuatu. Dalam arti demikian, seorang yang berkuasa bisa menggunakan kekuasaannya sesuai kehendaknya. Bisakah seseorang yang berkuasa peduli kepada yang dikuasainya?

    Tuhan itu Mahakuasa. Segala hal yang ada di dunia ini, segala sesuatu yang berjalan, dan proses kehidupan yang kita jalani, semuanya bersumber dari Tuhan.  Dia adalah pencipta kehidupan, Dia juga yang mengatur dan mengendalikan kehidupan serta seisinya, termasuk kehidupan manusia, mahkluk ciptaan-Nya. Tapi syukur, Tuhan yang mahakuasa namun peduli dengan umat-Nya.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “TUHAN MAHAKUASA namun MAU PEDULI”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 33:1-22. Sahabat,  saat kita membaca Mazmur 33  segera terbayang mengenai kekuasaan Tuhan. Kekuasaan-Nya tampak dalam alam. Langit dijadikan hanya oleh firman-Nya (ayat 6), air laut bisa dikumpulkan-Nya dan samudera dapat diwadahi-Nya (ayat 7).

    Kekuasaan-Nya dibandingkan dengan berbagai kekuatan yang seringkali diandalkan oleh manusia. Kalau raja-raja memiliki kekuasaan, maka kuasa Tuhan jauh melampaui mereka (ayat 16). Jika dibandingkan dengan kekuatan seorang pahlawan, maka kekuatan Tuhan tidak ada batasnya (ayat 16). Kuda yang hebat pun tidak sehebat Tuhan (ayat 17).

    Namun, Tuhan yang berkuasa itu tidak digambarkan sebagai penguasa yang arogan. Karena Dia tidak bertindak sewenang-wenang. Malahan Dia peduli dengan ciptaan-Nya. Dia memandang dari surga untuk menilik anak-anak manusia (ayat 13). Bahkan Pemazmur menggambarkan bahwa Tuhanlah sumber pengharapan manusia (ayat 20-22). Itu sebabnya Pemazmur mengajak umat senantiasa memuji-muji Tuhan.

    Sahabat, Tuhan yang berkuasa tetapi tetap peduli membuat kita percaya diri menjalani kehidupan ini. Tidak ada yang perlu dikhawatirkan karena Dia berkuasa atas segala sesuatu. Sebab itu, Tuhan dapat dijadikan sumber pengharapan  kita. Untuk alasan inilah, kita harus menjalani hidup penuh puji-pujian kepada Tuhan. Puji-pujian itu harus menjadi nyata dalam kehidupan kita dengan meneladani perbuatan Allah.

    Lagipula setiap orang percaya juga memiliki kuasa yang dapat memengaruhi kehidupan orang lain dan ciptaan lain. Karena itu, kehidupan kita harus dijalani dengan peduli kepada sesama ciptaan Tuhan dan tidak bertindak sewenang-wenang.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Seperti apa penggambarkan kekuasaan Tuhan dalam ayat 6 dan 7?
    2. Oleh Pemazmur dalam ayat 16 dan 17 kekuasaan Tuhan dibandingkan dengan apa saja?
    3. Dalam ayat 13-15, bagaimana Pemazmur menggambarkan bahwa Tuhan yang Mahakuasa itu juga Tuhan yang peduli dengan ciptaan-Nya?
    4. Dalam ayat 20-22, bagaimana Pemazmur menggambarkan bahwa Tuhan menjadi sumber pengharapan  manusia?


    Selamat sejenak merenung. Marilah kita berdoa,  “Tuhan, kami bersyukur karena Engkau yang berkuasa, namun tetap peduli kepada kami. Kami bertekad meneladani perbuatan-Mu.” (pg) 

  • DAMAILAH JIWAKU

    Sahabat, apakah kamu pernah mengalami perasaan bersalah yang mendalam sehingga kamu  tidak mampu lagi untuk menegakkan kepala? Jika Sahabat pernah mengalaminya, maka secara jujur saya pun pernah mengalaminya. Lalu apakah yang Sahabat rasakan ketika dosa dan pelanggaranmu diampuni? Ya, kita merasakan kedamaian yang luar biasa. Damailah jiwaku.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “DAMAILAH JIWAKU”. Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 32:1-11. Sahabat, di satu  masa ketika Daud berada di puncak kejayaannya, ia melakukan dosa yang keji. Ia telah berzina dengan istri Uria dan dengan sengaja membiarkan Uria terbunuh di medan pertempuran agar ia dapat memperistri Batsyeba (2 Samuel 11). Syukur pada saat itu TUHAN bermurah hati kepadanya sehingga Ia mengutus Nabi Natan untuk menegur dosa Daud. Teguran keras itu membuat Daud menyadari kesalahan dan kekejiannya. Ia merasa sangat berdosa kepada TUHAN. Perasaannya itu diungkapkannya dalam Mazmur 51.

    Perasaan bersalah telah menyelimuti hatinya, namun Daud tidak membiarkan hal itu menjadi senjata yang akan menghancurkan dirinya. Ia membawa rasa bersalah dan penyesalannya di hadapan TUHAN (ayat 3-5). TUHAN yang penuh rahmat dan belas kasihan menerima penyesalan Daud dan mengampuni dosanya. Daud menuangkan sukacitanya pada bagian awal dari bacaan kita pada hari ini (ayat 1 dan 2).

    Sebelum kita menerima pengampunan dari Tuhan, kita akan selalu mengalami tekanan dan penderitaan dalam diri kita.  Titik balik terjadi setelah Daud datang kepada Tuhan dan menyesali dosa-dosanya;  Tuhan mengampuni dosa-dosanya dan memulihkan keadaannya.  Kematian Kristus di atas kayu salib adalah bukti nyata betapa Ia menanggung dosa dan pelanggaran kita.  Pengampunan Tuhan berikan supaya kita mengalami pemulihan.

    Sahabat, ada begitu banyak orang yang hidupnya penuh rasa bersalah karena dosa pada masa lalu. Akibatnya mereka tidak bisa bangkit karena mereka tidak bisa memaafkan dirinya sendiri, bahkan cenderung membenci dirinya. Tekanan batin yang berkepanjangan pada akhirnya membuat mereka sakit,  baik jasmani maupun rohani.

    Tuhan tidak pernah menginginkan kita tenggelam dalam perasaan bersalah. Ia mau kita mengakui dosa secara jujur di hadapan-Nya. Ia akan mengampuni kita. Pesan-Nya adalah jangan berbuat dosa lagi mulai dari sekarang dan kita dapat berkata, “Damailah jiwaku karena Tuhan telah mengampuni aku.”


    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Siapakah yang disebut orang yang berbahagia dalam ayat 1 dan 2?
    2. Daud juga mengungkapkan pergumulannya ketika ia menyembunyikan dosanya. Apa yang dirasakannya pada waktu itu? (Ayat 3-4)
    3. Agar Daud bebas dari tekanan berat tersebut, apa yang dilakukannya? (Ayat 5)
    4. Apa nasihat Daud bagi kita semua yang sedang bergumul dengan dosa? (Ayat 6-7)
    5. Daud juga membagikan pengajaran yang diterimanya dari Tuhan yang telah mengampuni dosanya. Apa isi nasihat Tuhan kepadanya? (Ayat 8-9)
    6. Apa himbauan Daud kepada kita dalam ayat 11?

    Selamat sejenak merenung. Marilah kita berdoa, “Bapa yang penuh kasih, aku mengakui segala dosaku. Ampunilah aku oleh karena kasih dan kemurahan-Mu.” (pg)

  • Tetap PERCAYA di tengah DERITA

    Ketika Sahabat menghadapi masa-masa sulit dalam kehidupanmu, apakah kamu memiliki iman kepercayaan kepada Tuhan? Saat keadaan seperti tidak ada harapan, apakah kamu masih percaya kepada Tuhan dan berdoa kepada-Nya? Beranikah kamu menaruh pengharapanmu kepada Tuhan dan sepenuhnya mengandalkan Dia?

    Dalam penderitaan ada banyak sekali godaan yang dapat membuat kita mengeluh, bersungut-sungut kepada Allah, menyerah, tidak mau memercayai Allah, atau bahkan beralih kepada illah-illah yang lain.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Tetap PERCAYA di tengah DERITA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 31:10-25. Sahabat, Bacaan kita diawali dengan keluh kesah Raja Daud. Ia merasakan keadaan yang begitu sesak, sakit hati,  dan tubuhnya merana, serta sepanjang hidupnya hanya diselimuti oleh duka dan keluh kesah (ayat 10-11).

    Sahabat, penderitaan Daud bertambah karena ia menjadi celaan dari para lawannya. Kondisinya begitu menakutkan sehingga orang-orang yang mengenalinya pun menjauh dan menghindar (ayat 12). Syukur, sekalipun keadaannya memprihatinkan, ia tetap percaya kepada TUHAN (ayat 15). Ia tahu bahwa kehidupannya ada dalam tangan TUHAN (ayat 16). Dengan iman Daud berkata, “Alangkah limpahnya kebaikan-Mu. Terpujilah TUHAN, sebab kasih setia-Nya ditunjukkan-Nya kepadaku dengan ajaib pada waktu kesesakan!” (ayat 20 dan 22). Ia menaruh harapan bahwa dibalik penderitaan panjang terdapat kebaikan Allah bagi mereka yang takut akan TUHAN dan yang berlindung kepada-Nya (ayat 20).

    Iman seseorang mungkin saja diuji ketika ia berada di titik terendah. Apakah kita akan tetap percaya kepada Allah atau justru meninggalkan-Nya? Memilih tetap percaya kepada Allah pada saat kita tidak melihat pertolongan-Nya bukanlah hal yang mudah. Sebab, memilih untuk tetap percaya kepada Allah pun tidak berarti akan melepaskan kita dari berbagai penderitaan. Sebaliknya, apakah berpaling dari Allah akan menjadikan semuanya lebih baik? Tidak mungkin. Tidak ada kebaikan dan pertolongan yang sejati di luar Allah. Karena pertolongan-Nya tidak datang terlambat. Ia akan menunjukkan kasih-Nya dengan cara ajaib. Saat kita berpikir bahwa kita sendirian, maka ketahuilah bahwa sesungguhnya Tuhan mendengarkan semua permohonan kita dan Ia akan menjawab sesuai waktu dan cara-Nya.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang dirasakan Daud pada saat itu? (Ayat 10-11)
    2. Saat itu Daud keadaannya sangat memprihatinkan, tapi bagaimana dengan  kepercayaannya kepada Allah? (ayat 15 dan 16)
    3. Apa yang dikatakan Daud dalam ayat 20 dan 22?
    4. Lalu apa yang menjadi harapan Daud? (Ayat 20)
    5. Apa yang diserukan oleh Daud di ayat 25?

    Selamat sejenak merenung. Sahabat, mari kita berdoa, “Tuhan, aku mau percaya kepada-Mu meskipun saat ini sedang menghadapi situasi dan kondisi  yang berat dan menyesakkan. Tuntun dan sertailah aku, ya Tuhan.” (pg) 

  • BERSERAH kepada TUHAN

    Sahabat, sebagai murid Kristus status kita sebagai anak-anak Tuhan dan kita disebut  sebagai orang percaya, yaitu percaya kepada Kristus.  Kepercayaan yang dimaksud bukanlah sekadar mengaku percaya di bibir saja, tetapi penyerahan penuh kepada Tuhan dan memercayakan segenap hidup kita kepada-Nya,  “Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;”  (Mazmur 37:5).

    Untuk lebih memahami topik tentang: “BERSERAH kepada TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 31:1-9, dengan penekanan pada ayat 6. Sahabat, Mazmur 31 berisi doa memohon perlindungan TUHAN. Dalam permohonannya, Daud memercayakan dirinya kepada TUHAN (ayat 2). Baginya, TUHAN itu seperti gunung batu dan kubu perlindungan yang kukuh (ayat 3). Berada dibalik-Nya pastilah aman dari serangan musuh-musuhnya.

    Mengapa Daud dapat begitu percaya kepada TUHAN? Karena Daud tahu bahwa TUHAN akan melindunginya oleh karena nama dan kasih setia-Nya (ayat 4 dan 6). Kesetiaan Allah adalah kesetiaan yang teguh. Ketika Ia melindungi orang yang dikasihi-Nya, maka tidak ada satu kuasa pun yang dapat mengalahkan-Nya. Pengalaman Daud selama masa mudanya membuatnya tidak pernah meragukan TUHAN yang disembahnya. Sebab berkali-kali dia diluputkan dari bahaya maut yang dirancang oleh para musuhnya. Ketika Daud memercayakan hidupnya dalam kuasa TUHAN, maka amanlah dia. Karena itu, ia bersorak-sorai dan bersukacita di hadapan para lawannya.

    Sahabat, milikilah penyerahan penuh kepada Tuhan karena Dia tahu yang terbaik bagi kita dan tidak ada rancangan-Nya yang gagal atau salah!  Berserah berarti kita menyerahkan hidup kita kepada Tuhan di segala keadaan, baik suka maupun duka, saat dalam masalah, penderitaan, sakit, kesulitan, atau sedang naik daun dan sehat wal’afiat,  hari lepas hari, bukan pada saat-saat tertentu saja.  Itulah yang disebut dengan tindakan iman, di mana kita memercayakan hidup dan mempersilakan Tuhan berkarya dalam hidup kita.  Bukan iman yang setengah-setengah, bukan iman musiman, tetapi iman yang utuh dan menyeluruh.

    Mengapa perlu memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan?  Supaya hidup kita sesuai dengan kehendak dan rencana-Nya.  Ini tidaklah mudah karena sebagai manusia kita cenderung mengandalkan kekuatan dan kepintaran sendiri dibanding tunduk kepada kehendak Tuhan.  Namun untuk berkenan kepada Tuhan tidak ada jalan lain selain harus mau dibentuk seperti tanah liat.  Adakah tanah liat memberontak ketika dibentuk dan  diproses?  Tanah liat hanya bisa berserah dan percaya penuh kepada sang panjunan.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Daud memercayai Tuhan sebagai apa? (Ayat 2)
    2. Mengapa Daud memercayai Tuhan sebagai pelindungnya? (Ayat 4 dan 6)
    3. Apa yang dilakukan Daud di ayat 6?
    4. Mengapa Daud bersorak-sorai? (Ayat 8 dan 9)

    Selamat sejenak merenung. Sahabat, mari kita berdoa: “Bapa di surga, ajarlah aku untuk dapat berserah penuh kepada-Mu.” (pg) 

  • BERSYUKUR dalam segala KONDISI dan SITUASI

    Saya pernah nenulis qoute tentang bersyukur sebagai berikut: “Salah satu tolok ukur pertumbuhan rohani kita adalah KEMAMPUAN BERSYUKUR dalam segala SITUASI dan KONDISI.

    Latar belakang penulisan quote tersebut adalah bahwa tak selamanya hidup yang kita jalani ini mendatangkan sukacita dan kegembiraan, adakalanya kita diperhadapkan dengan situasi yang membawa kita larut dalam kepedihan dan ratap tangis. Sedangkan sesungguhnya  suka dan duka, tangis dan bahagia, tawa dan sedih, adalah dua sisi yang datang dan pergi dalam kehidupan ini. 

    Sahabat ada cukup banyak orang percaya seringkali  rasa syukurnya lebih berorientasi pada berkat atau kesenangan. Bila dalam keadaan yang sulit, terjepit, dan gagal, biasanya sulit bagi mereka  untuk bersyukur. Mungkin karena mereka berpikir, “Apa yang mau disyukuri di tengah kondisi sulit dan terjepit  seperti ini?”

    Untuk lebih memahami topik tentang: “BERSYUKUR dalam segala KONDISI dan SITUASI”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 30:1-13. Sahabat, Mazmur 30 sangat kental dengan ucapan syukur Daud kepada Tuhan: “Aku akan memuji Engkau, …” (Ayat 2); “Nyanyikanlah mazmur bagi TUHAN …” (Ayat 5);
    “… jiwaku menyanyikan mazmur bagimu …” (Ayat 13).

    Sahabat, mengapa Daud bersyukur kepada Tuhan? Pertama, karena meski hidupnya susah, tetapi Tuhan setia (ayat 2-4). Kesetiaan Tuhan dirasakan oleh Daud di tengah kesusahannya karena musuh-musuhnya, dalam kesesakannya, dan dalam dukacitanya.

    Kedua, karena meski sesaat Tuhan murka, tetapi seumur hidup Tuhan murah hati (ayat 6). Daud tahu rasanya dimurkai Tuhan karena dosanya, tetapi bagi Daud murka itu tidaklah sebanding dengan kemurahan hati yang telah Tuhan nyatakan di dalam hidupnya. Ia telah menyaksikan bahwa murka Tuhan itu hanya sesaat, dibandingkan kemurahan Tuhan di sepanjang hidupnya.

    Ketiga, karena meski pernah congkak, tetapi Tuhan mau menolong (ayat 7-12). Dalam kesenangannya, Daud pernah jatuh dalam dosa kecongkakan. Ia berpikir bahwa dengan kekuatannya, ia tidak akan goyah. Namun Tuhan menegur kecongkakannya dan menyadarkan Daud bahwa kekuatannya adalah karena pertolongan Tuhan semata. Karena Tuhanlah yang mengubah ratapnya menjadi tarian, perkabungannya menjadi sukacita.

    Sahabat, dalam kesusahan, dalam keberdosaan, dan dalam kejatuhan, Daud tetap dapat menemukan alasan untuk bersyukur kepada Tuhan. Saat ini, masih bisakah kita menemukan alasan untuk bersyukur kepada Tuhan, dalam segala situasi dan kondisi?

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, Sahabat, bagikanlah pengalamanmu bagaimana Tuhan telah menolongmu sehingga kamu tetap dapat bersyukur dalam segala situasi dan kondisi. Selamat sejenak merenung. Naikanlah syukur senantiasa kepada Tuhan. (pg)

  • BETAPA MULIA RAJA SEMESTA ALAM

    Sahabat, salah satu lagu favorit saya yang terdapat di buku “Puji-Pujian Rohani 1” adalah lagu “Betapa Mulia-Mu” (PPR 1 no. 171). Syair lagu tersebut berbunyi: Oh Tuhanku bila ku terpesona, Merenungkan ciptaan-Mu semua, Kusaksikan bintang guruh angkasa, Tanda kebesaran-Mu di dunia. Aku memuji kebesaran-Mu, Juruslamat, Penebusku.

    Syair lagu tersebut menggambarkan kekaguman penulis kepada Allah ketika melihat karya ciptaan-Nya. Ia begitu kagum akan kebesaran Tuhan sehingga tidak tahan untuk tidak memuji-Nya. Syair dengan judul asli “O store Gud” ini ditulis oleh Carl Gustaf Boberg (1859-1940)

    Untuk lebih memahami topik tentang: “BETAPA MULIA RAJA SEMESTA ALAM”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 29:1-11. Sahabat, dalam Mazmur 29, Daud mengawalinya dengan seruan kepada segenap penghuni surgawi (mungkin yang dimaksud adalah segenap bangsa Israel sebagai anak-anak Allah) untuk memuji dan sujud menyembah TUHAN. Mengapa? Sebab TUHAN adalah Allah semesta alam.

    Daud memberikan gambaran betapa besarnya kuasa TUHAN. Suara-Nya mampu mengatasi segala air, baik yang ada di atas maupun yang ada di bawah (ayat 3). Suara TUHAN penuh kuasa dan kekuatan (ayat 4). Suara-Nya mampu mematahkan pohon aras Libanon yang ukurannya sangat besar itu (ayat 5). Suara TUHAN menggetarkan gunung-gunung. Suara TUHAN itu seperti kilat yang menyambar dan menggetarkan padang gurun Kadesh dan sebagainya. Di bagian akhir Daud menutup mazmurnya dengan pengakuan bahwa TUHAN adalah Raja dan permohonan berkat kepada segenap umat-Nya.

    Carl dan Daud adalah dua penyair yang beda zaman. Akan tetapi mereka memiiki satu kesamaan, yaitu keduanya mengagumi Tuhan ketika melihat karya dan kedahsyatan-Nya atas ciptaan. Bagaimana dengan kita saat ini? Apakah kekaguman kita berhenti sampai pada keindahan ciptaan-Nya  saja? Ataukah kita mampu mengarahkan rasa hormat dan kekaguman kita kepada Sang Pencipta?

    Ketika kita mengakui bahwa Tuhan adalah Raja semesta alam, maka sikap hormat dan kagum kita tunjukkan dengan hidup bersahabat terhadap alam dengan cara tidak mengeksploitasi alam.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, apakah  mungkin bagi kita untuk berjalan dalam damai-Nya meski badai hidup mengamuk di sekitar kita? (Ayat 10-11 dan Yesaya 54:10). O, terpujilah Tuhan dan syukur kepada Allah, Tuhan Yesus telah menguatkan kita!  (pg).

  • Susah dan Miskin namun KAYA

    Kota Smirna, dekat Turki, di utara kota Efesus, adalah kota yang indah, kota perdagangan yang sangat kaya dan maju di zamannya.  Di kota tersebut banyak dibangun kuil-kuil megah untuk penyembahan kepada sang kaisar.  Kuil-kuil tersebut merupakan lambang kemajuan dan perkembangan kota Smirna yang juga merupakan kota pelabuhan yang sangat strategis.  Sebagai kota perdagangan yang maju, Smirna sangat terkenal sebagai pengekspor minyak wangi. 

    Sahabat, nama Smirna berasal dari kata mur yaitu bahan pembuat minyak wangi, sedangkan kata mur sendiri berarti pahit rasanya.  Itu sangat sesuai dengan keadaan jemaat Smirna yang saat itu mengalami hal-hal pahit karena penderitaan yang dialami, suatu kondisi yang berbanding terbalik dengan keadaan kota yang kaya dan sangat maju.  Keadaan jemaat Smirna sangat memrihatinkan karena mereka hidup dalam keadaan susah dan miskin;  bukan karena mereka malas bekerja, tetapi karena mendapat tekanan dari pemerintah setempat sebab mereka tidak mau menyembah kaisar.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Susah dan Miskin namun KAYA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari kitab Wahyu 2:8-11 dengan penekanan pada ayat 9. Sahabat, meski berada dalam situasi yang sangat sulit karena kehilangan akses ekonomi, mereka tetap setia kepada Tuhan, kasihnya tidak berubah sedikit pun.  Tuhan memuji,  “Aku tahu kesusahanmu dan kemiskinanmu-namun engkau kaya”  (ayat 9). 

    Sahabat, kemiskinan dalam bahasa Yunani ptocheia  (tidak memiliki apa pun).  Secara materi mereka papa namun kaya dalam iman!  Kondisi ini jauh berbeda dari jemaat Laodikia yang secara materi kaya namun secara rohani papa, buta dan telanjang  (Wahyu 3:17). 

    Sesungguhnya Tuhan tidak menghendaki umat-Nya hidup dalam kemiskinan karena rancangan-Nya adalah kehidupan yang berkelimpahan, namun jika Tuhan izinkan penderitaan itu terjadi berarti ada maksud dan rencana yang indah di balik semuanya itu!

    Baik dalam kelimpahan atau kekurangan, kaya atau papa, biarlah kita tetap setia mengikut Tuhan sampai akhir.  Jemaat Smirna menderita karena tidak kompromi dengan dosa, tidak mau menyembah berhala.  Secara fisik papa, tetapi mereka kaya rohani, kaya di mata Tuhan, suatu kekayaan yang bersifat kekal, di mana  ngengat dan karat tidak merusakkannya dan pencuri tidak membongkar serta mencurinya.  (Matius 6:20).

    Sebagaimana Yesus setia sampai mati di atas kayu salib, Dia mendorong orang percaya untuk setia sampai mati. Marilah kita terus melayani Tuhan sambil mengarahkan mata kita kepada Dia karena mahkota kehidupan ada di tangan-Nya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Bagaimana kondisi jemaat Smirna saat itu? (Ayat 9)
    2. Penderitaan apa yang dialami oleh jemaat Smirna saat itu? (Ayat 9-10)
    3. Apa yang dipesankan Tuhan Yesus di ayat 10?
    4. Apa yang dijanjikan Tuhan Yesus di ayat 11?

    Selamat sejenak merenung.  “Apa gunanya seorang memperoleh seluruh dunia, tetapi ia membinasakan atau merugikan dirinya sendiri?” (Lukas 9:25) (pg)