Category: Sejenak Merenung

  • ALLAH: KOTA BENTENGku

    Mungkin diantara kita ada yang pernah mendengar atau membaca ungkapan: “Setiap orang punya salibnya sendiri-sendiri.”  Ungkapan tersebut mau bertutur bahwa setiap orang memiliki pergumulannya masing-masing. Tidak ada seorang pun  yang bisa melepaskan diri dari pergumulan dan kesesakan hidup. Kehidupan yang tanpa masalah adalah sebuah kemustahilan. Sebagai orang percaya, kita pun tidak dapat terhindar dari problematika dan dinamika kehidupan. Berita baiknya: Pergumulan bisa saja datang silih berganti, namun, ada satu yang tetap sama, yakni Allah sumber pertolongan kita. Allah: Kota Bentengku.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “ALLAH: KOTA BENTENGku”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 46:1-12. Sahabat, Pemazmur mengingatkan bahwa kita punya Allah yang adalah kota benteng kita. Perhatikan bagaimana Pemazmur sangat menegaskan hal tersebut dengan menyebutkannya sebanyak dua kali, yaitu di ayat 8 dan 12. Sebagai kota benteng, Allah adalah “tempat perlindungan dan kekuatan, sebagai penolong dalam kesesakan sangat terbukti” (ayat 2).

    Bahkan, Pemazmur melukiskan Allah dengan cara yang dahsyat. Ia mengatakan sekalipun bumi berubah dan gunung-gunung berguncang manusia akan tetap merasa aman (ayat 2-3). Biarpun perang berkecamuk dan bangsa-bangsa saling menghancurkan, Allah akan menjadi Kota Benteng yang teguh. Ia akan tetap menjaga orang-orang yang berdiam di dalamnya. Bahkan pada akhirnya, Ia akan mendatangkan kedamaian pada dunia.

    Sahabat, Allah adalah kota benteng kita yang teguh. Oleh karena itu, Pemazmur mendorong kita agar di tengah kesukaran yang  kita alami, kita memandang pekerjaan Tuhan (ayat 9) dan berdiam diri di hadapan-Nya (ayat 11).

    Frase “pandanglah pekerjaan Tuhan” (ayat 9) mengacu pada tindakan mengingat apa yang telah Tuhan kerjakan di dalam hidup kita dan di bumi ini. Ingat dan lihatlah sekelilingmu! Perhatikan betapa Allah punya kuasa untuk mengatur segala sesuatu demi kebaikan kita.

    Sedangkan frase “Diamlah dan ketahuilah bahwa Akulah Allah” (ayat 11) menegaskan bahwa apapun yang terjadi dalam hidup kita, hendaknya kita berdiam diri dan tidak mengandalkan kekuatan sendiri, sebaiknya mengandalkan Tuhan.

    Sekalipun bencana alam menimpa, didera sakit penyakit, kemiskinan, pengkhianatan, atau persoalan hidup apapun yang membuat kita takut dan gentar, maka pandanglah kepada Tuhan. Andalkanlah Dia senantiasa karena Dialah kota benteng kita yang teguh. Allah: Kota Bentengku.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, Sahabat, bagikanlah pemahamanmu tentang: “Allah: Kota Bentengku.” Selamat sejenak merenung. Marilah kita berdoa: “Tuhan, tuntunlah dan mampukan aku untuk percaya kepada-Mu sepenuhnya.  Biarlah melalui pergumulan yang hadir dalam hidupku,  aku semakin mengenal dan merasakan kasih-Mu.” (pg) 

  • LANTUNAN PENGAJARAN dan KIDUNG KASIH

    Sahabat, di komunitas orang percaya dikenal beberapa jenis nyanyian yaitu himne,  lagu-lagu segar (lagu pujian populer), lagu-lagu penyembahan, dan lain-lain. Sedangkan di masyarakat umum dikenal banyak macam jenis nyanyian atau lagu. Ada lagu pop, lagu ndang ndut, lagu mars, lagu melow, lagu balada, lagu cadas, dan lain-lain. Lalu apa yang dimaksud dengan Lantunan Pengajaran dan Kidung Kasih?

    Untuk lebih memahami topik tentang: “LANTUNAN PENGAJARAN dan KIDUNG KASIH”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 45:1-18. Sahabat, Mazmur 45 merupakan nyanyian yang disampaikan oleh bani Korah pada waktu pernikahan raja. Uniknya, bani Korah menyatakan nyanyian tersebut bukan hanya sebagai nyanyian kasih, tetapi juga nyanyian pengajaran. Bahkan nyanyian pengajaran ditempatkan terlebih dahulu sebelum penyebutan nyanyian kasih.

    Sahabat, bukankah nyanyian pada waktu pernikahan lebih cocok disebut sebgai nyanyian kasih? Tetapi, mengapa bani Korah juga menyebutnya sebagai nyanyian pengajaran? Ternyata selain menggambarkan keagungan kasih dari sang Raja dan permaisurinya (ayat  3, 4, 10, 11, 12), nyanyian tersebut juga mengajarkan pentingnya keelokan karakter sang Raja yang ditunjukkan dengan bertindak demi kebenaran, perikemanusiaan, dan keadilan (ayat 5, 7, 8), melebihi keelokan fisik semata.

    Selain itu, mazmur tersebut juga mengajarkan betapa pentingnya ketundukkan dan hormat dari sang mempelai perempuan kepada raja karena ia adalah tuannya (ayat 12). Tindakan mempelai laki-laki yang didasarkan pada kebenaran, perikemanusiaan, dan keadilan, ditanggapi dengan hormat dan ketundukkan dari mempelai perempuan. Nah, konsep yang sama juga dapat kita jumpai  di  surat-surat Paulus, khususnya surat Efesus 5:22-33 dan Kolose 3:18-19.

    Sahabat, menariknya, dalam Perjanjian Baru, khususnya dalam Ibrani 1:8-9, penulis Surat Ibrani mengutip bagian mazmur ini untuk merujuk kepada pribadi Yesus Kristus, “Tetapi tentang Anak Ia berkata:…” (Ibrani1:8a). Itu  berarti, mazmur ini bukan sekadar mazmur yang dinyanyikan dalam rangka pernikahan raja, tetapi juga merupakan mazmur mesianis yang menggambarkan tentang keagungan pribadi dan relasi Yesus Kristus dengan gereja-Nya. Yesus yang di dalam kebenaran dan keadilan telah menunjukkan kasih-Nya bagi kita yang adalah gereja-Nya dan umat pilihan-Nya. Oleh karena itu, patutlah kita menunjukkan kasih di dalam ketundukkan dan hormat kepada-Nya di sepanjang hidup kita. 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Bagaimana Pemazmur menggambarkan karakter seorang pemimpin (raja) dalam ayat 5, 7, dan 8?
    2. Pengajaran apa yang hendak disampaikan oleh Pemazmur dalam ayat 3-4 dan 10-12?
    3. Ternyata Mazmur 45 juga merupakan Mazmur Mesianis, bagaimana Pemazmur menggambarkan  relasi Yesus dengan gereja-Nya?

    Selamat sejenak merenung.  Semoga kita dimampukan untuk dapat menunjukkan kasih di dalam ketundukkan dan hormat kepada Yesus di sepanjang hidup kita. (pg)

  • IMAN yang KUKUH

    Sahabat, bak air laut, ada pasang surutnya, demikian juga dengan perjalanan hidup kita, ada pasang surutnya. Masa lalu yang baik bukan jaminan bahwa keadaan akan selalu baik. Ada saatnya kita  mengalami kesusahan di tengah dunia ini, baik karena perbuatan diri sendiri, orang lain, atau karena sistem/keadaan dunia yang jahat dan berdosa. Bagaimana respons kita menghadapi pasang surut kehidupan. Bagaimana perjalanan relasi kita dengan Allah dalam menghadapi pasang surut kehidupan? Apakah kita punya iman yang kukuh?  Iman yang tidak mudah goyah.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “IMAN yang KUKUH”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 44:1-27. Sahabat, bacaan kita pada hari ini merupakan sebuah refleksi Pemazmur. Ia menggambarkan penziarahan bangsa Israel bersama dengan Allah di dalam sejarah. Sekilas, perikop ini sedang bercerita tentang seruan bangsa Israel kepada Allah ketika mengalami penindasan. Namun jika dibaca secara utuh dan teliti, ternyata ada sebuah dinamika yang lebih mendalam.

    Mazmur 44 dibagi menjadi empat bagian. Bagian pertama, Pemazmur mengingat akan kemurahan dan karya Tuhan atas bangsa Israel di masa yang lampau. Bagaimana dengan kekuatan kuasa Tuhanlah, maka bangsa itu beroleh kemenangan (ayat 1-9). Bagian kedua, Pemazmur memaparkan kehancuran dan hukuman dari Tuhan atas bangsanya (ayat 10-17). Pada bagian ketiga, Pemazmur menyatakan keteguhan diri dan bangsanya kepada Tuhan.

    Sahabat, sekali pun tangan Tuhan menekan dan meremukkan mereka, namun mereka tidak berpaling daripada-Nya (ayat 18-22). Pada bagian terakhir, Pemazmur menyatakan seruan permohonan kepada Tuhan agar segera menolong mereka (ayat 23-27).

    Apa yang membuat Pemazmur tidak meninggalkan Tuhan di tengah kesesakan yang dialami bangsanya? Pertama, Pemazmur menyadari bahwa kehidupan dirinya dan bangsanya dikarenakan kekuatan kuasa tangan Tuhan (ayat 2-9, 10-15). Selain itu, Pemazmur sadar, baik senang maupun susah, baik menang atau pun kalah, Tuhan berkuasa mengatur hidupnya.

    Kedua, Pemazmur mengenal siapa Tuhan yang disembah olehnya dan bangsanya (ayat 5). Perhatikan perubahan kata “kami” di ayat 2 menjadi “-ku” di ayat 5. Pemazmur mengenal Allahnya bukan hanya sebagai Allah bangsanya, melainkan sebagai Allahnya pribadi. Ia mengenal Allah bukan karena apa kata bangsanya, melainkan ia mengalami Allah dalam hidupnya. Karena itulah ia berseru “Rajaku dan Allahku” (ayat 5).

    Sahabat, pengenalan dan iman kepada Allah secara personal sangatlah penting, karena kita benar-benar memiliki relasi intim dengan Allah yang kita sembah. Sekali pun kenyataan hidup meremukkan hati, iman kita tidak akan mudah goyah. Sebab, Allah yang kita sembah adalah Allah yang punya kuasa untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang mengasihi-Nya.

    Berdasarkan hasil perenungan dari bacaan kita pada hari ini, Sahabat, bagikanlah pengalamanmu, bagaimana imanmu kepada Allah ketika engkau sedang menghadapi masa surut dalam kehidupanmu? 

    Selamat sejenak merenung. Sudahkah Sahabat  mengenal Tuhan Yesus secara pribadi dan mengalami Dia di dalam hidupmu? (pg)

  • RUANG KOSONG di HATI MANUSIA

    Blaise Pascal asal Perancis, seorang penemu teori tentang probabilitas, dan menaruh minat di bidang filsafat dan agama berkata bahwa ada sebuah ruang kosong di hati manusia yang hanya bisa diisi oleh Yesus Kristus. Sesungguhnya tidak ada satu hal pun yang mampu mengisi ruang kosong tersebut baik harta, kekuasaan, maupun pemuasan keinginan lahiriah.

    Untuk lebih memahami topik  tentang: “RUANG KOSONG di HATI MANUSIA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 42:1-12 dengan penekanan pada ayat 2. Sahabat, Pemazmur menyatakan, jiwanya merindukan Tuhan seperti rusa merindukan sungai yang berair (ayat  2). Dalam situasi seperti itulah, Yesus Kristus hadir sebagai jawaban karena Dia telah datang sebagai Air Hidup (Yohanes 4:10) dan Roti Hidup (Yohanes 6:35). Di dalam Yesus, manusia menemukan kepuasan dan kebahagiaan sejati.

    Menurut nabi Yesaya, jika kita memerhatikan perintah Tuhan, kita akan memperoleh damai sejahtera seperti sungai yang tidak pernah kering dan kebahagiaan seperti gelombang laut yang tidak pernah berhenti (Yesaya 48:18). Sebab Tuhan sendirilah yang merupakan sumber damai sejahtera (Rama 15:33 dan 16:20).

    Sahabat, bila saat ini kamu merasakan adanya kekosongan hati yang membuat kamu merasa kering tanpa kebahagiaan dan damai sejahtera, berarti kamu perlu semakin mendekat kepada Tuhan, agar Dia mendekat kepadamu (Yakobus 4:8). Sebaliknya, jika Sahabat menjauh dari Tuhan dengan terus mengejar hal-hal duniawi yang nikmat bagi daging, ruang kosong di hatimu  akan semakin menganga, menenggelamkan kepuasan dan kebahagiaan yang seharusnya menjadi bagianmu.

    Kita dapat mengundang Tuhan mengisi ruang kosong di hati kita  dengan damai sejahtera dan kebahagiaan sejati. Maka, kita akan merasakan kebahagiaan yang tidak lagi tergantung oleh baik-buruknya situasi dan kondisi.

    Sahabat, kenikmatan duniawi membuahkan kekosongan batin;  sedangkan Tuhan menawarkan kepuasan dan kebahagiaan. 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang dilukiskan oleh Pemazmur dalam ayat 2 dan 3?
    2. Apa yang diingat Pemazmur dalam ayat 5?
    3. Dalam ayat 7 Pemazmur ingin menggambarkan tentang apa?
    4. Apa yang ingin digambarkan oleh Pemazmur dalam ayat 4 dan 10-11?
    5. Apa yang dilakukan Pemazmur dalam ayat 2 dan 6?

    Selamat sejenak merenung. Sahabat, mari kita berdoa, “Tuhan, terima kasih saat kami merindukan-Mu, di situ Engkau selalu hadir dan menyapa kami.” (pg)

  • Dalam TANGAN TUHAN ada KESEMBUHAN

    Tidak seorang pun yang hidupnya selalu lancar dan baik. Seorang yang sehebat dan sekuat apa pun pasti suatu saat lemah, sakit, atau terluka, baik secara fisik maupun emosi. Orang percaya pun mengalami hal yang sama.

    Sesungguhnya menderita sakit atau mengalami penderitaan tubuh yang disebabkan oleh penyakit itu bukanlah kehendak Tuhan, karena Dia tidak senang melihat umat-Nya menderita, sama halnya ketika Ia melihat umat-Nya hidup dalam dosa.  Itulah sebabnya, Tuhan Yesus rela menanggung segala dosa dan penyakit kita, melalui kematian-Nya di bukit Golgota (1 Petrus 2:24).  Ia melakukan itu sekali dan berlaku untuk selama-lamanya  (Ibrani 9:26-b).

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Dalam TANGAN TUHAN ada KESEMBUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 41:1-14. Sahabat, Dalam bacaan kita pada hari ini,  Daud sedang sakit. Entah penyakit apa, namun tampaknya bukanlah penyakit ringan. Parahnya, ada orang-orang yang justru menginginkan kematiannya dari penyakit itu (ayat 6). Para pembencinya menyusun rencana jahat terhadapnya (ayat 8), bahkan sahabat karibnya menghina dan melawannya (ayat 10). Para pembencinya mengatakan bahwa Daud menderita  penyakit jahanam/berat (ayat 9).

    Bagaimana sikap Daud  menghadapi sakit penyakit? Ia tidak mengingkari bahwa dirinya sedang sakit dan butuh pertolongan. Namun mula-mula, ia menyerukan dirinya untuk berbahagia (ayat 2). Karena, ia percaya Tuhan pasti akan melindungi, memelihara nyawanya (ayat 3), dan menyembuhkan penyakitnya (ayat 4). Lalu dengan jujur, ia mengakui dosanya dan memohon belas kasihan Tuhan (ayat 5). Ia menutup mazmurnya dengan pujian kepada Allah (ayat 14) seolah-olah Allah telah menyembuhkannya.

    Sahabat, adakah hari ini ada diantara kita yang sedang menderita sakit penyakit? Berat maupun ringan, tetap saja itu sangat mengganggu aktivitas kita. Kita menjadi tidak bisa maksimal melakukan apa pun. Untungnya, Tuhan memberi kita akal budi sehingga dengan begitu kita berusaha untuk sembuh. Caranya bisa dengan menemui dokter, meminum obat, dan beristirahat. Tuhan juga memberi kita iman. Dengan iman inilah, kita percaya bahwa hanya dengan campur tangan Tuhan kita dapat sembuh. Dokter dan obat hanyalah alat di tangan-Nya untuk menyembuhkan kita. Di tangan Tuhan ada kesembuhan.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan  berikut ini:

    1. Dalam ayat 2-4, siapa yang dikatakan orang yang berbahagia dan apa saja yang akan diperolehnya dari Tuhan?
    2. Apa yang menjadi doa dan harapan Daud di ayat 5?
    3. Apa yang dikatakan dan diperbuat oleh musuh-musuh Daud? (Ayat 6-9)
    4. Apa yang telah dilakukan oleh seorang sahabat karib Daud? (Ayat 10)
    5. Apa yang Tuhan telah lakukan untuk Daud? (Ayat 13)


    Selamat sejenak merenung. Sahabat, mari kita mengikrarkan keyakinan kita,  “Tuhan, aku percaya dalam tangan-Mu ada kesembuhan.” (pg)

  • Ketika JIWA kita TERTEKAN

    Hari-hari ini cukup banyak orang percaya yang mengalami tekanan jiwa sehingga mereka kehilangan sukacita dalam menjalani hidup. Tekanan itu dikarenakan adanya Pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung hampir 2 tahun.

    Akibat adanya pandemi tersebut, muncul berbagai persoalan dan  pergumulan yang tidak mudah  dalam hal:  Keuangan, hubungan keluarga, pekerjaan, sekolah/kuliah,  bisnis, dan lain-lain yang membuat kepala pening, stres dan tidak tenang dalam menjalani hidup. Beban persoalan yang makin berat menindih, membuat pikiran semakin ruwet dan jiwa semakin tertekan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Ketika JIWA kita TERTEKAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 43:1-5.  Sahabat, tampaknya Pemazmur berada pada situasi yang tidak memungkinkan baginya beribadah kepada Allah. Ia berada di tempat yang jauh, yaitu di tempat di mana orang tidak mengenal Tuhan (ayat 2). Orang-orang di situ mencela kepercayaannya kepada Allah (ayat 1-2).

    Untuk menguatkan hati, Pemazmur menyerukan kepada dirinya sendiri untuk berharap dan bersyukur kepada-Nya (ayat 5). Ia berharap bahwa Allah akan membawanya kembali pulang untuk beribadah kepada-Nya (ayat 3-4).

    Tentu saja jiwa Pemazmur sangat tertekan. Nah, pada saat jiwa kita sedang tertekan. Apa yang harus kita lakukan?

    Pertama, berharaplah pada TUHAN. Terkadang ALLAH memakai masalah-masalah untuk menarik kita lebih dekat, lebih mengerti dan mengetahui akan Diri-Nya. Pengalaman-pengalaman yang paling indah, intim dan mendalam adalah dalam masa-masa yang sulit, beban berat dan seolah ditinggalkan oleh-Nya.

    Kedua, teruslah mengucap syukur untuk setiap peristiwa. Sikap dan respons atas pergumulan kita juga menyebabkan jiwa kita makin tertekan, jika kita makin membiarkan amarah, emosi, bersungut-sungut, protes, kecewa kepada TUHAN maka jiwa kita makin tertekan. Mengucap syukur adalah bukti bahwa kita bisa menerima dan memahami bahwa apapun yang terjadi adalah seizin TUHAN dan membawa kebaikan bagi kita. Masalah itu hanya bungkusnya saja dan di dalamnya ada kebaikan dan berkat TUHAN.

    Ketiga, percaya mukjizat masih ada. Yakinkan dirimu dan percaya bahwa persoalan itu adalah cara TUHAN untuk memberikan mukjizat-Nya bagi kita. Apa pun penyebab masalah itu, percaya bahwa di dalamnya pekerjaan-pekerjaan ALLAH akan dinyatakan dalam hidup kita. Penuhi hati kita dengan kepercayaan akan janji Firman TUHAN yang merupakan kepastian jawaban dan dasar kebenaran bahwa TUHAN sanggup menolong dan melakukan mukjizat bagi kita. Mukjizat masih ada, buat apa jiwa kita tertekan? Percaya saja pada firman-Nya maka TUHAN YESUS akan melakukan perkara ajaib di tengah persoalan kita.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pengalamanmu, apa yang engkau lakukan ketika jiwamu tertekan? Selamat sejenak merenung.  Yakinlah, ketika jiwa kita tertekan, hanya Allah yang dapat memberi kelegaan.  (pg)

  • BERSYUKUR, TAAT dan MENYAKSIKAN

    Sahabat, coba sejenak  merenungkan perjalanan hidupmu. Kalau mau jujur, kita akan mengakui bahwa didalam kesulitan hidup dan ancaman bahaya apa pun, ternyata Tuhan menolong kita keluar dari kesulitan atau pun melindungi dari bahaya yang mengancam.

    Lebih lanjut yang ingin saya tanyakan, “Bagaimana perasaan Sahabat ketika berada dalam keadaan terjepit kesulitan hidup, lalu datanglah pertolongan dari seseorang?” Tentu pertolongan tersebut menjadi sesuatu yang sangat berarti sekali bukan? Sudah pada tempatnya Sahabat  sangat berterima kasih kepada orang tersebut. Sahabat mungkin akan mengingat kebaikannya di sepanjang hidup, bersedia melakukan apa saja yang dikehendakinya  dan menyaksikan segala kebaikannya kepada banyak orang.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “BERSYUKUR, TAAT, dan MENYAKSIKAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 40:1-18. Sahabat, Mazmur 40 merupakan ungkapan hati Daud atas keselamatan yang telah dinyatakan oleh Tuhan atas hidupnya. Ayat 1-3 menggambarkan bagaimana Allah menyelamatkan dirinya dari kehancuran dan menegakkan hidupnya kembali. Lalu di ayat 18 juga melukiskan bahwa meski Daud miskin dan sengsara, namun Allah tetap memerhatikan dan menolongnya. Daud mengalami dan merasakan bahwa dalam penderitaan sehebat apapun, Tuhan selalu menjadi penolongnya dalam kesesakan.

    Karena itu, ia menaikkan syukur dan puji-pujiannya kepada Allah yang telah menyelamatkannya (ayat 4-6). Bukan hanya itu saja respons Daud.  Perhatikan di ayat 7-9 dan 10-11. Sebagai respons atas pertolongan Tuhan yang luar biasa dalam hidupnya, Daud bersedia, bahkan suka melakukan kehendak Tuhan (ayat 9) karena ia sadar, ketaatan kepada Tuhan jauh lebih berharga dibandingkan kurban persembahan dalam bentuk jasmani (ayat 7). Selain ketaatan, Daud juga bersukacita untuk menyaksikan karya Tuhan kepada orang lain (ayat 10-11).

    Bersyukur, taat, dan menyaksikan, ketiga hal tersebut menjadi respons Daud atas pertolongan dan karya Tuhan dalam hidupnya. Adakah ketiga hal tersebut  juga menjadi respons kita, ketika kita menyadari betapa luar biasa Allah telah menolong kita? Bagi orang-orang yang mengandalkan Tuhan, firman-Nya berkata, “Berbahagialah orang yang menaruh kepercayaannya pada Tuhan” (ayat 5a).

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa saja yang telah dikerjakan Tuhan dalam kehidupan Daud? (Ayat 2-4)
    2. Apa yang telah diungkapkan oleh Daud dalam ayat 7-9?
    3. Apa yang diharapkan Daud dari Tuhan dalam ayat 12-18?

    Selamat sejenak merenung.  Sahabat, marilah kita berdoa, “Ya Tuhan, tolong aku untuk tidak melupakan kebaikan-Mu agar saat hari esok terasa gelap, aku tetap dapat mengucap syukur.” (pg)  

  • Ketika HIDUPKU terasa MEMENATKAN

    Sore itu dengan wajah lesu Hogi bercerita, “Belakangan ini aku merasa sangat penat dengan hidupku. Aku merasa sudah berusaha sekuat tenaga untuk memastikan segala sesuatu berjalan dengan baik, tetapi ibarat orang yang berusaha menangkap angin, semua terasa sia-sia. Dalam pekerjaan, ada saja hambatan yang membuat hasil kerjaku terasa tidak memuaskan. Dalam persahabatan, aku masih mengecewakan sahabatku. Dalam keluarga, impianku untuk membahagiakan orangtua kandas karena sebelum bisa mewujudkannya, papiku sudah dipanggil Tuhan.”

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Ketika HIDUPKU terasa MEMENATKAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 39:1-14. Sahabat, dalam Mazmur 39, Daud sangat bergumul soal kehidupan yang dijalaninya. Ia merasa tidak dapat berbuat apa-apa atas pergumulannya (ayat 3a), penderitaannya semakin berat (ayat 3b), dan hatinya dipenuhi dengan gejolak kemarahan dan keluhan yang tak habis-habisnya (ayat 4). Ditambah lagi, orang fasik di sekelilingnya berusaha menjatuhkannya (ayat 2b dan 9b) dan ia mulai penat dengan kehidupannya (ayat 5-7, 12). Meski demikian, Daud tidak membuka mulutnya di hadapan orang fasik yang mencoba menjatuhkannya. Ia memilih diam, agar perkataan dan keluhannya tidak dijadikan senjata untuk menjatuhkannya.

    Sahabat, Daud kelu, diam dan membisu. Terhadap orang fasik, ia diam seribu bahasa. Tetapi terhadap Tuhan, ia berbicara secara terbuka mengungkapkan isi hatinya kepada Allahnya (ayat 5-14) dan tetap berharap pada Tuhan (ayat 8). Meski Daud menyadari betapa fana hidupnya (ayat 5-7, 12-14), ia percaya Tuhan tidak akan tinggal diam melihat perkaranya (ayat 10).

    Pergumulan hidup yang Sahabat alami saat ini mungkin terasa memenatkan. Seberapa pun beratnya pergumulan itu, seberapa pun banyaknya orang di sekitar kita yang berusaha menjatuhkan kita, marilah kita belajar seperti Daud, yang tetap berharap kepada Allah dan tidak hilang percaya kepada-Nya. Yakinlah, akan tiba waktunya Allah akan bertindak menolong hidup kita! 

    Sahabat, Tuhan tahu betul apa yang harus Dia lakukan. Dari sudut pandang manusia yang terbatas, mungkin kita mengira Dia sedang berpangku tangan saat apa yang telah kita usahakan dengan segenap hati tampaknya tidak membuahkan hasil apa-apa. Namun, sebenarnya Dia sedang dan senantiasa bekerja, dengan cara yang melampaui akal kita. Ketika hati kita melekat kepada Tuhan, memercayai-Nya sebagai Penguasa segala sesuatu dan sebagai Bapa yang punya rancangan damai sejahtera bagi anak-anak-Nya (Yeremia 29:11), kita akan selalu memiliki semangat dan kekuatan untuk melakukan yang terbaik, sekalipun situasi tidak selalu berjalan sesuai dengan harapan kita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami mengenai hidup manusia di dunia dari ayat 5-7?
    2. Apa yang Sahabat pahami mengenai keadaan Daud pada saat itu dari ayat 12?
    3. Apa yang Daud lakukan? (Ayat 5-14)
    4. Apa yang Daud harapkan dari Tuhan? (Ayat 13-14)

    Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • WARISAN yang terus BERGULIR

    Teman saya, Pdt. Andi O. Santoso, menulis buku berjudul: “Live Simply, Leave Legacy”. Hampir dalam setiap kesempatan dia selalu menyampaikan agar kita dapat mewariskan sesuatu yang cukup bernilai kepada generasi penerus.

    Sahabat, ada berbagai bentuk warisan. Ada warisan yang bersifat kebendaan: Rumah, tanah, perhiasan, surat berharga,  deposito, dan sebagainya. Ada pula warisan yang tidak terlihat: Iman, ilmu pengetahuan, pendidikan budi pekerti, nilai-nilai luhur, teladan hidup, dan sebagainya.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “WARISAN yang terus BERGULIR”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 37:21-29, dengan penekanan pada ayat 25-26. Sahabat, Sungguh hebat kasih setia dan anugerah Tuhan. Tidak disangka dan juga tidak pernah diduga. Bukan saja pemeliharaan dan berkatnya melimpah atas kita, tetapi ternyata TIDAK BERHENTI KEPADA KITA SAJA. Berkat dan  kasih setia-Nya, ternyata terus bergulir secara turun temurun, tidak pernah berhenti. Apa yang terbaik yang kita nikmati saat ini, tidak  akan berhenti dan akan terus bergulir kepada anak cucu kita, kepada keturunan-keturunan kita yang berikutnya.

    Sahabat, hidup benar di hadapan Tuhan adalah kunci untuk mengalami hidup yang diberkati.  Orang yang hidup benar di hadapan Tuhan pasti memiliki hubungan yang karib dengan Dia.  Daud adalah sosok yang memberikan teladan dalam hal kekariban dengan Tuhan.  Sejak muda sampai menjadi raja atas Israel Daud senantiasa bergaul karib dengan Tuhan.  Ratusan pasal yang terdapat dalam Kitab Mazmur adalah pengalaman kekaribannya dengan Tuhan.  Karena karib dengan Tuhan,  Daud dapat melihat dan merasakan sendiri bagaimana Tuhan memberkati orang benar dan memberkati pula anak-cucu orang benar tersebut (ayat 25-26).

    Tuhan tidak pernah meninggalkan orang yang hidup benar, bahkan langkah-langkahnya pun ditetapkan-Nya (ayat 23).  Orang benar bukan hanya menerima dan mengalami kebaikan Tuhan bagi dirinya sendiri, tapi kebaikan Tuhan itu juga akan dialami oleh anak-cucunya.  Setiap orang yang percaya kepada Kristus secara de jure  (secara hukum)  beroleh status sebagai orang benar. 

    Sahabat, kita dibenarkan secara cuma-cuma oleh penebusan Kristus di Kalvari.  Dengan kata lain kita diberi status sebagai orang benar, semata-mata karena iman.  Karena itu Tuhan menghendaki supaya kita tidak hanya dibenarkan secara status, tapi kita harus benar-benar bertumbuh dalam kebenaran.  Ini membutuhkan sebuah proses yang berlangsung seumur hidup kita.

    Jika kita sudah bertumbuh sampai kepada tingkat  “orang benar”, maka janji berkat Tuhan pasti akan digenapi dalam kehidupan kita dan berkat itu juga sampai kepada anak cucu kita.  Orang benar adalah orang yang takut akan Tuhan.  Itu diwujudkan melalui ketaatan melakukan firman Tuhan dan menjauhi segala bentuk kejahatan,  “Kepadanya TUHAN menunjukkan jalan yang harus dipilihnya. Orang itu sendiri akan menetap dalam kebahagiaan dan anak cucunya akan mewarisi bumi.”  (Mazmur 25:12-13).

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang disaksikan oleh Daud di ayat 23-24?
    2. Apa yang disaksikan oleh Daud di ayat 25-26?
    3. Apa janji Tuhan bagi orang-orang benar? (Ayat 27-29)

    Selamat sejenak merenung. Jika Tuhan telah memelihara hidup kita sampai hari ini, maka yakinlah Tuhan juga mampu memelihara hidup anak cucu kita. (pg) 

  • Siapa bilang SAYA tidak pernah SAKIT

    Siapa bilang saya tidak pernah sakit? Saya pernah sakit. Sahabat tentu  pernah sakit. Saya yakin setiap orang pasti pernah sakit. Sakit penyakit adalah kenyataan yang harus dihadapi oleh setiap orang. Setiap orang pasti memiliki kelemahan dalam dirinya. Kelelahan, dukacita, masalah, tekanan, atau kemarahan bisa membuat seseorang sakit secara fisik. Kuman, virus, dan bakteri juga menjadi penyebab seseorang menjadi sakit. Ketika seseorang sakit, dan lama dia tidak sembuh,  orang bisa merasa lelah menjalani kehidupan dan menyalahkan Tuhan. Apakah Daud pernah sakit? Kalau pernah, bagaimana dia merespons dan mengatasinya?

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Siapa bilang SAYA tidak pernah SAKIT?”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 38:1-23. Sahabat, Mazmur 38  menggambarkan keadaan Daud pada waktu sakit dan dalam keadaan yang sangat buruk.  Daud menyampaikan keluh kesahnya kepada Tuhan:  “Sebab pinggangku penuh radang, tidak ada yang sehat pada dagingku; aku kehabisan tenaga dan remuk redam, aku merintih karena degap-degup jantungku.”  (ayat 8-9).

    Daud menyatakan bahwa sakitnya disebabkan oleh kebodohannya (ayat 6). Dia merasa sangat kesakitan sehingga tidak ada lagi yang sehat dalam dirinya (ayat 4 dan 8). Dia menduga-duga bahwa orang-orang yang tidak menyukainya akan sangat senang atas sakitnya (ayat 13). Mereka yang tadinya adalah teman telah meninggalkannya (ayat 12).

    Pada saat yang sama, Daud merendahkan diri di hadapan Tuhan. Dia mengakui bahwa Tuhan mengenalnya dan mengetahui segala keinginannya untuk sembuh (ayat 10). Dia meletakkan harapannya hanya kepada Tuhan (ayat 16). Dia memohon Tuhan mau menolongnya (ayat 23). Dalam kesesakannya karena sakit yang diderita, Daud tidak putus asa. Dia tahu bahwa ada Tuhan, Sang Penolong, yang menjadi tumpuan harapannya.

    Sahabat, sakit bisa membuat kita menjauh dan terpisah dari komunitas karena tak lagi bisa beraktivitas bersama rekan-rekan dalam komunitas tersebut. Sakit juga bisa memisahkan kita dari segala hal yang kita sukai. Bukan berarti kita boleh menyerah pada kehidupan, apalagi mencari jalan keluar yang justru menjauhkan kita dari Tuhan. Belajar dari Daud, kita bisa mencari tahu “kebodohan” apa yang telah kita lakukan sehingga membuat kita jatuh sakit. Namun pada saat yang sama, kita diajak untuk merendahkan diri dan mengakui bahwa pertolongan hanya dalam Tuhan. Dengan demikian, kita bisa menjalani hari-hari bersama penyakit kita dengan keteguhan dan keberanian.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Keluh kesah apa yang disampaikan oleh Daud dalam ayat 8-9?
    2. Pengakuan apa yang disampaikan oleh Daud pada ayat 6?
    3. Hal-hal apa saja yang membuat Daud menderita sakit? (Ayat 4-6)
    4. Apa yang dinyatakan oleh Daud di ayat 10?
    5. Kepada siapa Daud menaruh harapannya? (Ayat 16)
    6. Apa permohonan Daud di ayat 23?

    Selamat sejenak merenung. Sekarang mari kita berdoa, “Tuhan, dalam kelemahanku,  nyatakanlah kekuatan-Mu. Bimbinglah aku  agar  tidak mudah  menyerah di tengah segala kelemahan dan kesakitanku.” (pg)