Category: Sejenak Merenung

  • Tetap MEMUJI TUHAN di tengah PERGUMULAN

    Seorang sahabat saya tanya, “Kapan terakhir  memuji Tuhan?” Dia menjawab:  “Pada saat mengikuti ibadah di hari Minggu kemarin.”  Artinya mungkin di luar jam-jam ibadah dia tidak pernah memuji Tuhan. 

    Bagaimana dengan kita?  Mungkin sama, tidak secara rutin memuji Tuhan.  Itu ironis sekali!  Apakah kasih dan kebaikan Tuhan kepada kita itu hanya dinyatakan pada saat jam-jam ibadah saja?  Bukankah setiap saat, detik demi detik, menit demi menit, jam demi jam, kita mengalami kasih dan kebaikan Tuhan? 

    Jika saat ini kita masih bisa melihat matahari terbit, jika kita masih bisa menghirup udara segar dan bernafas, jika hari ini kita bisa melakukan aktivitas dengan tubuh yang sehat, mengantarkan anak-anak pergi ke sekolah, lalu kita bisa sampai ke kantor atau tempat kerja dengan selamat tanpa ada halangan, bukankah semuanya itu karena anugerah Tuhan?  Tuhan yang menolong, memelihara, dan menyertai kita. Maka sudah selayaknya  jika tetap MEMUJI TUHAN di tengah PERGUMULAN.

    Untuk dapat lebih memahami topik tentang: “Tetap MEMUJI TUHAN di tengah PERGUMULAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 57:1-12, dengan penekanan pada ayat 10-12.  Sahabat, Mazmur 57 ditulis pada  saat Daud sedang  bersembunyi dalam gua untuk menghindar dari kejaran Saul (ayat 1). Daud begitu terdesak hingga dengan sangat memohon belas kasihan dan perlindungan dari Allah. Ia seperti berada di tengah-tengah singa yang siap melumatnya dengan gigi tajamnya (ayat 2, 5). Ia seperti berada di tengah-tengah musuh yang memasang jaring perangkap pada setiap langkahnya (ayat 7).

    Sahabat, dalam keadaan demikian, ia tetap percaya kepada Allah. Ia yakin Allah akan melindunginya seperti anak rajawali di bawah kepak sayap induknya (ayat 2). Ia tahu ketika berseru kepada Allah yang Maha Tinggi, Allah akan menyelesaikan perkaranya (ayat 3). Baginya, Allah begitu mulia hingga mengatasi langit dan bumi (ayat 6). Oleh karena itu, Daud tetap menyanyi bagi Tuhan. Ia bermazmur bagi nama-Nya dengan permainan gambus dan kecapi. Ia senantiasa bernyanyi bahkan sebelum fajar menyingsing (ayat 8-12).

    Mengapa Daud tetap memuji Tuhan sekalipun keadaannya tidak baik? Alasannya, Daud telah memasrahkan dirinya kepada Allah yang Maha Tinggi dan Maha Mulia. Saat kita berada dalam keadaan di luar batas kemampuan, tidak ada jalan lain selain berserah kepada-Nya. Kita wajib memercayakan diri sepenuhnya kepada kuasa Tuhan. Sebab, apa pun yang kita perbuat tidak akan berdampak apa-apa, malahan mungkin akan memperburuk. Kita harus membiarkan Tuhan bekerja dengan cara-Nya. Kita mengikuti ke mana Tuhan memimpin dan membawa kita. Dalam proses itu, kita sambil tetap bernyanyi,  memuji Dia karena ada kuasa dalam puji-pujian kepada Allah.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, Sahabat, bagikanlah pengalamanmu sendiri, apakah engkau tetap dapat bernyanyi memuji Tuhan di tengah pergumulan hidupmu yang menghimpit?

    Selamat sejenak merenung. Sekarang mari kita berdoa, “Tuhan, ajar kami untuk tetap memuji-Mu, sekalipun pergumulan dan tantangan berat yang sedang kami alami dan hadapi.” (pg)

  • Tatkala KEKHAWATIRAN Menyerang Pikiran Kita

    Kekhawatiran adalah sebuah perasaan gelisah, ketakutan atau kengerian terhadap sesuatu yang belum terjadi.  Perasaan-perasaan ini biasanya terkait dengan pikiran-pikiran negatif atas sesuatu yang mungkin terjadi di masa depan.  Merasa kuatir berarti merasa cemas, bingung dan pikirannya terbagi-bagi. 

    Sahabat, biasanya rasa khawatir timbul saat seseorang melihat keadaan di sekitarnya tidak lagi dapat memberikan harapan untuk hidup lebih baik.  Dengan adanya pandemi Covid-19 yang sudah berlangsung hampir 2 tahun, tentu cukup  banyak orang yang khawatir akan masa depannya. 

    Lalu apa yang harus kita perbuat tatkala  kekhawatiran menyerang pikiran kita?

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Tatkala KEKHAWATIRAN Menyerang Pikiran Kita”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 55:1-24 dengan penekanan pada ayat 23. Sahabat, Mazmur 55 merupakan cara Daud dan juga orang-orang sezamannya dalam menghadapi sebuah persoalan. Persoalan yang dibicarakan dalam konteks bacaan kita pada hari ini ialah ketika seseorang dikejar-kejar oleh musuh dan mara bahaya. Dalam ayat 2-9 terlihat sebuah doa memohon pertolongan.

    Sahabat, ada kesan Mazmur 55  memaksa Allah untuk bertindak. Kenapa timbul kesan seperti itu? Daud merasakan mara bahaya yang mendekat dan mengancam hidupnya. Ia merasa tidak ada lagi yang bisa menolongnya kecuali Allah sendiri. Allah adalah sumber perlindungan dan pertolongannya. Jadi, pada dasarnya Daud sama sekali tidak memaksa Allah. Justru, doa tersebut adalah simbol kebergantungan mutlak kepada Allah.

    Daud percaya bahwa Allah akan bertindak (ayat 17). Atas keyakinan tersebut, maka manusia tidak perlu merasa khawatir. Rasa cemas dan khawatir adalah hal yang wajar. Marilah kita serahkan segala kekhawatiran kepada Allah (ayat 23). Yakinlah, Ia akan mendengar orang yang berseru kepada-Nya.

    Sahabat, kuatkanlah diri kita masing-masing saat sedang menghadapi persoalan. Marilah kita berseru kepada Allah dan mintalah pertolongan dari-Nya. Sebab, hanya Dialah satu-satunya sumber pertolongan kita. Kita tidak usah khawatir karena itu tidak memberikan solusi bagi persoalan. Kekhawatiran adalah simbol dari ketidakpercayaan kepada Allah. Kita mesti yakin bahwa Allah pasti memelihara hidup kita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Bagaimana perasaan Daud saat itu? (Ayat 3, 5-6)
    2. Apa yang diinginkan Daud pada saat itu? (Ayat 7-9)
    3. Apa yang menjadi penyebab kekhawatiran, ketakutan, dan penderitaan Daud pada saat itu? (Ayat 13-15 dan 2 Samuel 15-17)
    4. Dalam kondisi hati yang berduka, apa yang diserukan Daud? (Ayat 23-24)

    Selamat sejenak merenung. Sahabat, janganlah larut dalam kesedihan, serahkanlah semua kekhawatiran kepada Tuhan. Ia akan memelihara dan memberikan keselamatan. (pg)

  • TUHAN: Sang Penolongku

    Sahabat, pepatah lama berbunyi: “Seperti telor di ujung tanduk” yang artinya suatu keadaan yang sangat berbahaya (kritis atau genting), salah sedikit bisa celaka. Mungkin ada diantara kita yang pernah mengalami situasi yang digambarkan oleh pepatah tersebut.  Atau mungkin ada diantara kita yang  pernah mengalami situasi yang mengancam keberadaan hidup kita, entah itu karena sakit penyakit, bencana alam, dibenci orang lain, atau ada orang-orang yang berniat mencelakakan kita.

    Saat ini, bahkan mungkin berbagai permasalahan hidup sedang menghimpit kehidupan kita. Harapan seolah-olah hilang dan kita kehilangan semangat menjalani kehidupan. Bahkan, mungkin saja kita sudah sampai meragukan pemeliharaan Tuhan. Kita mungkin juga meragukan: Benarkah Tuhan adalah penolongku?

    Untuk lebih memahami topik tentang: “TUHAN: Sang Penolongku”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 54:1-9 dengan penekanan pada ayat 6. Sahabat, Mazmur 54 merupakan bagian dari nyanyian pengajaran Daud ketika orang Zifi datang mengatakan kepada Saul bahwa Daud bersembunyi kepada mereka (ayat 2). Saul yang tidak bisa berpikir sehat karena diliputi oleh iri hati kepada Daud berupaya membunuhnya.

    Daud pun harus berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat lain untuk menghindari Saul dan tentaranya. Dalam situasi demikian, Daud sukar membedakan lagi mana kawan dan mana lawan. Orang-orang Zifi yang seolah-olah nampak sebagai kawan karena bersedia dijadikan tempat persembunyian Daud, ternyata berkhianat dengan memberitahu Saul bahwa Daud bersembunyi pada mereka. Satu-satunya yang dapat dijadikan tempat berharap dan tempat pertolongan tiada lain adalah Tuhan sendiri. Dalam doanya Daud memohon kepada Tuhan agar memberikan keselamatan kepada dirinya karena nama Tuhan sendiri (ayat 3).

    Atas segala pertolongan yang diberikan Tuhan, pada dasarnya, Ia tak menuntut banyak. Ia hanya meminta kita untuk mengandalkan-Nya senantiasa dan bersyukur untuk segala karya-Nya.

    Sahabat, marilah kita mengingat bahwa Tuhan adalah satu-satunya tempat perlindungan yang kukuh. Dialah yang menopang kita untuk melintasi badai kehidupan. Mari kita belajar dari Daud. Ia ditimpa banyak permasalahan hidup yang amat berat. Namun, ia tetap percaya bahwa Tuhan akan menolongnya dan melepaskannya dari kesesakan. Jangan berhenti berharap kepada-Nya, sebagaimana Allah juga tak pernah berhenti mengasihi kita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang diminta Daud kepada Allah dalam ayat 3?
    2. Apa yang diminta Daud kepada Allah dalam ayat 4?
    3. Bagaimana Daud menggambarkan situasi dan kondisi yang sedang dia alami? (Ayat 5)
    4. Apa yang menjadi keyakinan Daud dalam ayat 6?
    5. Apa yang dialami dan dilakukan Daud dalam ayat 8 dan 9?

    Selamat sejenak merenung. Sahabat, Dalam kesesakan, tetaplah percaya kepada TUHAN. Persembahkan syukur atas pertolongan-Nya, meski kesulitan masih kita hadapi. (pg).

  • ORANG BEBAL: Tidak ada ALLAH

    Sahabat, dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti bebal adalah sukar mengerti atau tidak cepat menanggapi sesuatu (tidak tajam pikiran). Sedangkan sinonim bebal  adalah bodoh. Orang bodoh karena belum tahu. Sedangkan orang bebal tidak mau diberitahu.

    Hampir semua orang pasti akan merasa tersinggung dan marah besar jika mereka dikata-katai oleh orang lain dengan sebutan orang bodoh, apalagi disebut orang bebal.  Dalam teks aslinya kata bebal diartikan sebagai orang yang bodoh, jahat dan tidak menghormati Tuhan.  Orang bebal dapat diartikan pula orang yang sukar sekali untuk mengerti, tidak cepat tanggap, tidak mau berubah, karena ia menolak pengertian dan pengajaran.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “ORANG BEBAL: Tidak ada ALLAH”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 53:1-7 dengan penekanan pada ayat 2. Sahabat, Daud menggambarkan orang bebal sebagai orang yang tidak memercayai adanya Tuhan, tidak berakal budi dalam pandangan TUHAN, dan tidak mencari Allah (ayat 1-3). Karena tidak percaya adanya Tuhan, orang bebal hidup berbuat curang (ayat 2), tidak peduli dengan kebaikan (ayat 2, 4), hidup bejat (ayat 4), dan melakukan kejahatan (ayat 5).

    Sahabat, intinya, orang bebal hidup tanpa takut akan Tuhan dan makin terjerumus dalam kebobrokan. Kepada orang-orang yang demikian, Tuhan memastikan bahwa hidup mereka akan ditimpa musibah secara tiba-tiba, dikepung dan dipermalukan, dan yang lebih mengerikan lagi yaitu ditolak oleh Allah (ayat 6).

    Kontras dengan orang bebal, hidup orang saleh yang diwakili oleh umat Israel sebagai umat pilihan Allah justru mengalami hal yang jauh berbeda. Tuhan menjamin bahwa umat-Nya akan diselamatkan dan dipulihkan oleh Tuhan sehingga mereka akan mengalami sukacita dari Allah (ayat 7).

    Sahabat, kita sebagai orang percaya, sungguh mazmur ini sangat menghibur dan menguatkan kita. Saat ini, mungkin kita mengalami tekanan dan pergumulan
    karena kejahatan dari orang-orang di sekitar kita yang tidak mengenal Tuhan. Atau mungkin kita dikucilkan karena berbuat apa yang benar. Jangan khawatir, meski banyak orang menolak dan membenci kita, selama kita di dalam Tuhan, penerimaan dari Tuhan itu cukup bagi kita. Akan tiba waktunya di mana Tuhan akan menyelamatkan dan memulihkan hidup kita. Karena itu, tetap lakukan apa yang benar dan jangan menyerah! 

    Berdasarkan hasil perenungan dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Bagaimana Daud menggambarkan apa yang diperbuat orang bebal? (Ayat 2-5)
    2. Apa yang akan dialami oleh orang bebal? (Ayat 6)
    3. Sebaliknya apa yang akan dialami oleh orang saleh? (Ayat 7)

    Selamat sejenak merenung. Sahabat, ingatlah: Jangan sekali-kali berlaku bebal, karena orang bebal tidak luput dari hukuman! (pg).

  • PILIHLAH KEBAIKAN

    Hidup itu  sebuah pilihan. Sahabat, dalam perjalanan hidup, kita sering diperhadapkan dengan pilihan: Mau berbuat kebaikan atau kejahatan? Sebagai orang percaya  kita harus memilih mana yang baik dan benar, mana yang berguna dan bermanfaat.  Tidak ada istilah kompromi dalam menjalani hidup ini, sebab kita semua tahu bahwa tidak ada orang yang dapat berdiri di atas dua perahu dengan kedua kakinya sekaligus.  Kita tidak bisa terus-menerus berada di persimpangan jalan, mau tidak mau kita harus membuat ketegasan dalam memilih!  Keputusan yang kita ambil itulah yang akan menentukan apakah kita akan berbuat baik atau berbuat jahar. PILIHLAH KEBAIKAN.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “PILIHLAH KEBAIKAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 52:1-11. Sahabat, Mazmur 52 ditulis oleh Daud ketika Doeg, orang Edom, memberitahu Saul mengenai keberadaan Daud di rumah Ahimelekh (ayat 2; bdk. 1 Samuel 22:9-10). Mari kita memerhatikan seruan Daud dalam Mazmur 52. Ia menyoroti orang-orang yang dalam hidupnya senang merancangkan hal-hal buruk (ayat 4). Kata merancangkan dipakai untuk menjelaskan unsur pilihan yang diambil secara sadar. Secara spesifik, hal jahat yang dilakukan berkaitan dengan perkataan dusta atau menipu orang lain.

    Daud mengecam orang yang menyakiti sesamanya melalui perkataan yang dilontarkan (ayat 5-6). Ironisnya, kejahatan-kejahatan yang dilakukan justru semakin membuat orang-orang ini bangga dan memegahkan diri (ayat 3). Tidak ada penyesalan di dalam diri orang-orang tersebut. Hingga pada akhirnya, Allah sendirilah yang akan merobohkan segala keangkuhan mereka (ayat 7).

    Sahabat,  bagi orang-orang benar, nasib mereka akan berbanding terbalik dengan nasib orang-orang fasik. Mereka memilih untuk mencari ketenteraman hidup dengan berdiam bersama dengan Allah. Orang-orang ini adalah pihak yang senantiasa menghayati kasih setia Allah. Mereka terus berjuang untuk taat kepada-Nya (ayat 10).

    Allah berpihak kepada mereka yang berjuang untuk berbuat benar dalam kehidupannya. Sementara itu, orang yang terus-menerus terjebak dalam perbuatan jahat akan menemui kebinasaan.

    Sahabat, bagaimana dengan pilihan kita saat ini?  Sebagai manusia biasa, kita memang tidak pernah terlepas dari kesalahan dan dosa. Namun, kondisi tersebut bukan pembenaran, sehingga kita bisa mendukakan-Nya. Sadarilah, kita akan terbiasa dengan dosa jika kita terus-menerus memakluminya. Sebaliknya, kita harus berani memilih segala sesuatu yang selaras dengan kehendak Allah. Jangan ragu memilih yang baik! Jangan pernah ragu: Pilihlah Kebaikan!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang telah diperbuat Saul dan Doeg dalam ayat 3-5?
    2. Apa yang akan diperbuat Allah bagi orang-orang yang merancangkan dan berbuat kejahatan? (Ayat 7 dan 9)
    3. Sebaliknya, apa yang diyakini dan dilakukan oleh Daud? (Ayat 10-11)


    Selamat sejenak merenung. Mari kita berdoa, “Tuhan, mampukan kami untuk berani memilih kebaikan dan berbuat baik bagi sesama.” (pg)

  • Menyadari, Mengakui, dan Meminta Pengampunan

    Sahabat, menyadari kesalahan itu biasa, tetapi mengakui kesalahan yang telah kita perbuat, kemudian meminta pengampunan, dan berusaha untuk tidak mengulangi lagi adalah tindakan yang luar biasa.

    Kehidupan kita tidak terlepas dari pelanggaran. Intinya, tidak seorang pun kebal terhadap dosa! Yang membedakan adalah respons kita setelah kita menyadari bahwa kita telah melakukan suatu pelanggaran. Ada perbedaan yang mencolok antara pribadi Raja Saul dan Raja Daud.  Salah satunya adalah, Saul tidak pernah berjiwa besar untuk mengakui kesalahan, tidak pernah merasa menyesal ketika melakukan sebuah pelanggaran, melainkan selalu berkilah dengan menyalahkan situasi atau menyalahkan orang lain. 

    Berbeda sekali dengan Daud!  Hati Daud selalu terbuka untuk teguran dan koreksi  Ketika sadar telah melakukan kesalahan, Daud segera datang kepada Tuhan, mengakui dengan jujur kesalahan yang telah diperbuatnya, memohon pengampunan kepada Tuhan dan bertobat, tanpa pernah menutup-nutupi kesalahannya, membenarkan diri sendiri ataupun menyalahkan orang lain.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Menyadari, Mengakui, dan Meminta Pengampunan”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 51:1-21 dengan penekanan pada ayat 13. Sahabat, Mazmur 51 merupakan doa dan refleksi iman Daud. Ia begitu menyesali dosanya dan memohon pengampunan kepada Allah. Secara khusus, doa penyesalan dosa ini terkait penyesalan Daud yang merampas Batsyeba, istri Uria.

    Sahabat, penyesalan dan pengampunan selalu diawali dengan pengakuan. Sebuah pengakuan yang didasarkan oleh kesadaran betapa rapuh diri yang penuh dosa ini (ayat 5). Dosa bagaikan belenggu yang menawan dan menjerat hidup manusia. Akibat dosa ialah rusaknya relasi dengan sesama dan Tuhan.

    Daud sadar betul bahwa untuk memulihkan relasi itu, Tuhan perlu campur tangan. Berulang kali ia memohon pengampunan dan campur tangan Allah (ayat 10-12).

    Daud yakin bahwa Tuhan akan mengampuni dosanya. Sebab, Tuhan adalah pribadi yang penuh kasih terhadap umat-Nya. Ia akan mengasihani umat-Nya dan dalam rahmat-Nya manusia akan diberikan hidup yang baru (ayat 3).

    Sahabat, bacaan kita pada hari ini merupakan  pesan bagi kita saat ini. Daud mengajak kita agar selalu menyadari dan mengakui dosa kepada Allah. Sering kali, kita berlagak seolah-olah bisa “menyembunyikan dosa” dari Allah yang maha mengetahui segalanya. Padahal, tidak ada yang bisa bersembunyi dari dekapan kasih-Nya. Akuilah dosa kita di hadapan-Nya, maka pengampunan Allah pasti tersedia bagi kita. Sadarilah bahwa pulihnya relasi dengan Allah adalah satu-satunya yang berharga di dunia ini.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Ketika nabi Natan menegur Daud yang telah melakukan pelanggaran, bagaimana respons Daud? (Ayat 5)
    2. Meskipun hatinya diliputi penyesalan, hari-hari kesalahan Daud  tidak dapat diputar ulang. Lalu apa yang dilakukan oleh Daud? (Ayat 3)
    3. Apa yang menjadi permohonan Daud kepada Allah dalam ayat 9?
    4. Apa yang menjadi permohonan Daud kepada Allah dalam ayat 13?

    Selamat sejenak merenung. Sekarang, mari kita renungkan dalam-dalam pernyataan Daud berikut ini, “Korban sembelihan kepada Allah ialah jiwa yang hancur; hati yang patah dan remuk tidak akan Kaupandang hina, ya Allah.” (ayat 19). (pg)

  • IBADAH dan KEHIDUPAN HARIAN

    Sahabat, apa makna ibadah bagi kita? Mungkin ada diantara kita akan menunjuk kepada rangkaian peribadahan yang kita lakukan pada hari Minggu. Rangkaian puji-pujian, doa, dan pelayanan firman itulah yang sering melekat dalam benak kita sebagai makna dari ibadah kita kepada Tuhan.

    Memang, dalam satu sisi, pernyataan tersebut  benar. Namun, mungkin perlu kita pertanyakan dalam hati kita masing-masing, “Apakah ibadah hanya memang sebatas itu? Ibadah yang sejati itu seperti apa? Bagaimana pula relasi antara ibadah dan kehidupan harian?”

    Untuk lebih memahami topik tentang: “IBADAH dan KEHIDUPAN HARIAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 50:1-23. Sahabat, sering kali, kita merasa cukup baik kalau sudah rajin beribadah kepada Tuhan. Seolah, urusan kita dengan Tuhan hanya sebatas ritual belaka. Kemudian, kita beranggapan bahwa kehidupan harian merupakan urusan kita semata; Tuhan tidak boleh ikut campur.


    Maka pada saat ini kita akan membaca  refleksi penulis Mazmur 50. Ia menggambarkan Allah sebagai Sang Pencipta yang memanggil umat-Nya untuk mendengarkan titah-Nya (ayat 1-6). Allah mengingatkan bahwa yang terpenting dari segala kurban persembahan adalah motivasi yang mendasarinya.

    Bangsa Israel berusaha mencari kurban yang terbaik. Mereka percaya kualitas kurban atau ibadah yang dilakukan adalah sogokan agar Allah berbuat sesuatu. Padahal, bagi Allah yang terpenting adalah rasa syukur atas pemeliharaan-Nya. Inilah seharusnya yang tercermin melalui ritual-ritual tersebut (ayat 14).

    Sahabat, rasa syukur, yang mendasari ibadah orang percaya, harus tercermin pula dalam perilaku hidup harian. Allah mengkritik orang-orang fasik. Mereka rajin berkurban dan fasih akan ketetapan, hukum, dan peraturan dari Allah. Namun di sisi lain, mereka melakukan hal-hal yang mendukakan hati Tuhan (ayat 16-21). Orang-orang itu mengira bahwa mereka dapat menipu Allah, sebagaimana mereka menipu sesamanya lewat tampilan luar dengan jubah kegiatan agama.

    Pada akhirnya, kebaikan-kebaikan Allah seharusnya menuntun kita untuk mewartakan kebaikan-Nya dalam hidup sehari-hari. Artinya, ibadah tidak berakhir di hari Minggu, tetapi juga berlanjut di hari-hari selanjutnya. Setiap hari, praktik hidup kita harus sama. Jika hari Minggu kita hidup jujur, pada hari yang lain pun kita mesti berlaku serupa.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang digambarkan oleh Pemazmur dalam ayat 1-6?
    2. Dalam ayat 14, pesan apa yang ingin disampaikan oleh Pemazmur?
    3. Apa saja teguran Allah kepada orang fasik? (Ayat 16-21)
    4. Apa yang dijanjikan Allah di ayat 15 dan 23?

    Selamat sejenak merenung. Sekarang marilah kita berdoa, “Tuhan, mampukan kami agar rasa syukur, yang mendasari ibadah kami, tercermin dalam perilaku hidup harian kami.” (pg)

  • BUKAN Kekayaan, Status, dan Jabatan

    Sahabat, di Zaman Now, ketika sosial media menjadi raja, maka STATUS menjadi SESUATU, menjadi WOUW!. Maka tidak heran orang-orang yang mengutamakan kekinian dalam hidupnya akan memberlakukan filosofi   bahwa kekayaan, status, dan jabatan adalah syarat untuk memperoleh kebahagiaan. Maka tidaklah mengherankan jika cukup banyak orang  menghalalkan segala cara untuk memperoleh ketiganya.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “BUKAN Kekayaan, Status, dan Jabatan”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 49:1-21 dengan penekanan pada ayat 16. Sahabat, ada cukup banyak orang yang beranggapan bahwa kebahagiaan diperoleh ketika seseorang kaya raya, atau punya status sosial yang baik atau punya kedudukan tinggi. Namun tidaklah demikian menurut bani Korah dalam Mazmur 49.

    Dalam Mazmur 49, Pemazmur mengungkapkan pemahamannya tentang kehidupan (ayat 2-5). Pertama, status semua orang itu sederajat di hadapan Tuhan (ayat  2-3). Orang yang hina, yang mulia, yang kaya, yang miskin, semuanya dipanggil untuk memperhatikan pesan dari firman Tuhan.

    Kedua, semua orang tidak dapat menyelamatkan diri mereka sendiri dengan harta atau pun kekuatannya sendiri (ayat  8-10).

    Ketiga, semua orang pada akhirnya akan mengalami kematian (ayat 11-15, 17-20).
    Karena itulah, kekayaan sebesar apapun tidak dapat menghindarkan seseorang dari kematian.

    Jika semua tampak sama saja dan harta kekayaan tidak dapat berdampak banyak bagi hidup kita, lalu apa yang dapat membuat kita berbahagia? Pemazmur menjawabnya di ayat 16, “Tetapi Allah akan membebaskan nyawaku dari cengkeraman dunia orang mati, sebab Ia akan menarik aku.” Itu artinya, kebahagiaan sejati tidak terletak pada banyaknya harta, bukan pula pada umur yang panjang, melainkan di dalam Tuhan yang menyelamatkan kita dari cengkeraman maut.

    Pertanyaannya adalah, sudahkah Sahabat mengenal dan mengalami keselamatan yang terdapat di dalam Tuhan Yesus, Juruselamat dunia? Carilah kebahagiaan hidupmu bukan pada kekayaan materi atau kedudukan tinggi, melainkan di dalam Dia yang menyelamatkanmu jiwamu. Sesungguhnya, kebahagiaan sejati hanya ada di dalam Dia. 

    Sahabat, mulai sekarang, kita jangan lagi memfokuskan diri hanya untuk mencari kekayaan, status, dan jabatan. Apabila hal tersebut masih  terjadi, kekayaan fisik kita mungkin saja semakin bertambah, namun pada saat yang sama, jiwa kita semakin miskin akan kehadiran dan relasi dengan Allah. Sadarilah bahwa Allah sajalah satu-satunya tempat kita bersandar.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa pernyataan Pemazmur dalam ayat 2-3?
    2. Apa pernyataan Pemazmur dalam ayat 8-10?
    3. Apa pernyataan Pemazmur dalam ayat 11-15?
    4. Apa makna pernyataan Pemazmur dalam ayat 16?

    Selamat sejenak merenung. Sahabat, marilah kita berdoa, “Tuhan, mampukan aku untuk  menyandarkan hidupku hanya kepada-Mu saja.” (pg) 

  • Mengingat, Meresapi, dan Menceritakan KASIH SETIA TUHAN

    Sahabat, semoga pengalaman hidup kita bercerita bahwa pada saat kita mengalami kesulitan, Tuhan memberi kita kekuatan. Ketika kita mempunyai persoalan, Tuhan memberikan kebijaksanaan untuk mengatasinya. Ketika kita harus bekerja keras,  Tuhan memberikan kita semangat untuk menjalaninya. Tuhan tidak pernah membiarkan kita sendiri. Perjalanan hidup kita, baik kemarin sampai saat ini telah membuktikan betapa kasih setia Tuhan berlaku di sepanjang hidup kita, baik di puncak suka maupun di lembah duka. Karena itu sudah pada tempatnya jika kita mengingat, meresapi, dan menceritakan kasih setia Tuhan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Mengingat, Meresapi, dan Menceritakan KASIH SETIA TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 48:1-15. Sahabat, Umat Allah bukan hanya mendengar tentang keselamatan dari Allah. Lebih dari itu, mereka juga mengalaminya sendiri.

    Tentang kemuliaan Sion, bani Korah memuji Allah karena Sion menjadi mulia, sebab ada Tuhan yang besar dan sangat terpuji di dalam kota itu (ayat 2-3). Bani Korah juga memuji atas keselamatan yang telah Allah perbuat atas Sion (ayat 4-8), karena Allah menegakkan kota itu sehingga tetap jaya. Umat Allah bukan hanya mendengar tentang keselamatan dari Allah, tetapi juga mengalaminya sendiri, yaitu bagaimana Allah hadir di dalam hidup mereka dan menegakkan umat-Nya dan kota-Nya. Dan yang terakhir, bani Korah sangat bangga atas Sion (ayat 9-15) karena kemahsyuran Allah, penguasa Sion dan umat Israel (ayat 11), lagi pula Sion itu milik Allah (ayat 15).

    Sahabat, sebagai bentuk respons atas karya Tuhan bagi Sion dan umat Allah, bani Korah mengajak umat untuk mengingat kasih setia Tuhan (ayat 10) yang telah dialami oleh umat sepanjang masa. Ya, Israel telah mengalami pasang surut kehidupan bersama Tuhan. Dengan mengingat segala karya Tuhan atas hidup mereka, berarti Tuhan ingin mereka tidak melupakan-Nya dan segala karya perbuatan-Nya. Selain mengingat segala perbuatan Allah yang ajaib, bani Korah juga mendorong umat Allah melakukan tindakan nyata, yaitu menceritakan secara pribadi karya Tuhan kepada orang lain (ayat 14). Karena untuk itulah umat Israel ditebus oleh Allah, yaitu untuk memperkenalkan atau memberitakan keselamatan yang Allah perbuat.

    Bagaimana dengan hidupmu? Sudah berapa banyak karya Tuhan yang telah kita alami? Adakah kita mengingatnya?Adakah kita meresapinya?  Adakah kita menceritakannya?

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawblah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Mengapa Sion menjadi mulia? (Ayat 2-3)
    2. Mengapa Bani Korah memuji Allah? (Ayat 4-8)
    3. Apa yang dialami oleh umat Allah? (Ayat 9-15)

    Selamat sejenak merenung. Sekarang, marilah kita berdoa, “Tuhan, tolong ajari kami untuk menghayati kasih setia-Mu dalam hidup ini. Bukakanlah hati kami supaya kami mampu melihat kebaikan-Mu yang begitu luar biasa.” (pg) 

  • ALLAH: Raja Semesta

    Sahabat, kita perlu menyadari siapa Allah dan siapa diri kita. Allah adalah Sang Pencipta alam semesta. Dia Mahakuasa. Sedangkan kita adalah makhluk ciptaan, penuh dengan keterbatasan.  Ada cukup banyak  orang percaya  yang kurang menyadari hal tersebut, sehingga hidupnya kurang memiliki gairah untuk menghormati dan menghargai Allah sebagaimana mestinya. Raja di atas segala raja, yang telah menciptakan alam semesta ini, tidak mendapat penyambutan dan penghormatan yang selayaknya.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “ALLAH: Raja Semesta”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 47:1-10 dengan penekanan pada ayat 3. Sahabat, sebagai umat Allah, sudah selayaknya kita beribadah dan menyembah Dia dengan sepenuh hati. Amat disayangkan, ibadah zaman sekarang kebanyakan dipenuhi oleh hiburan demi kesenangan umat semata, dan bukan dipenuhi oleh penghormatan demi kemuliaan Tuhan.

    Berbeda sekali dengan cara Pemazmur mengajak umat Allah beribadah. Dalam Mazmur 47, Pemazmur memberikan alasan utama mengapa umat harus menyembah Tuhan. Karena Ia adalah Raja segala raja (ayat 3, 7, 8, 9). Sebagai Tuhan dan Raja, Allah patut ditinggikan dan dimuliakan sebab Ia Mahatinggi (ayat 3), Tuhan yang dahsyat (3), Raja yang besar (ayat 3), Raja seluruh bumi (ayat 8), bersemayam di atas takhta yang kudus (ayat 9), dan sangat dimuliakan (ayat 10). Kekuasaan dan kebesaran-Nya sungguh luar biasa, namun Ia bersedia memilih dan mengasihi umat-Nya (ayat 5).

    Sahabat, dengan segala atribut dan keagungan Allah yang demikian, tidak mengherankan jika respons yang dicatat oleh Pemazmur untuk ditujukan kepada Allah penuh dengan antusiasme dan sukacita. Misalnya, bertepuk tangan (ayat 2), elu-elukan (ayat 2), sorak-sorai (ayat 6), diiringi sangkakala (ayat 6), dan umat diajak untuk bermazmur demi Dia (dalam ayat 7-8 disebutkan hingga 5 kali).

    Bagaimanakah dengan kita? Adakah kita juga menyadari bahwa Allah kita adalah Allah yang besar dan luar biasa? Adakah kita mengamini bahwa Ia adalah Raja di atas segala raja? Jika iya, lalu bagaimana dengan ibadah kita kepada-Nya? Masih adakah antusiasme dan sukacita ketika kita menghadap hadirat-Nya dan menyembah Dia? Atau justru ibadah kita  dipenuhi dengan kesenangan dan hiburan belaka?

    Sekarang, marilah kita menyembah-Nya dengan yang benar. Beribadah kepada-Nya dengan penuh hormat dan takut akan Dia, karena Dialah Raja di atas segala raja, Tuhan kita.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah bagaimana kesanmu dengan suasana ibadah di gerejamu pada saat ini, Selamat sejenak merenung. Sahabat, sudahkah kita menghormati dan mengagungkan Tuhan dengan sungguh-sungguh? (pg)