Category: Sejenak Merenung

  • Mengenal Lebih Dekat KITAB BILANGAN

    Sahabat, ketika saya mengikuti kelas katekisasi, saya berpikit bahwa Kitab Bilangan itu berisi aneka macam bilangan seperti bilangan:  Nol, Bulat, Asli, Prima, Cacah, Pecahan, Rasional, Irasional, dan lain-lain. Ternyata bukan itu.

    Akhir-akhir ini saya lebih banyak mengajak Sahabat untuk belajar dari Kitab Mazmur, Nah,  supaya wawasan kita lebih luas dan ada variasi, maka mulai  hari ini Sahabat saya ajak untuk mencicipi Kitab Bilangan supaya kita dapat mengenal lebih dekat Kitab Bilangan.

    Sahabat, Kitab ”Bilangan” dalam Alkitab Ibrani berarti ”di padang gurun”. Judul “Bilangan” dipakai karena isi kitab ini mencatat dua kali sensus bangsa Israel, yaitu pada tahun kedua (pasal 1) dan tahun keempat puluh (pasal 26) setelah mereka meninggalkan Mesir. Sebagian besar isi kitab ini menceritakan pengalaman bangsa Israel di padang gurun selama empat puluh tahun sebelum mereka memasuki tanah perjanjian.

    Bilangan adalah kitab ketiga dari Pentateukh (yaitu lima kitab pertama dalam Alkitab) yang diyakini sebagai lima kitab yang ditulis oleh Musa. Musa adalah tokoh terpenting. Dikatakan berulang-ulang dalam Kitab Bilangan bahwa undang-undang dan peraturan-peraturan yang dicatat di kitab ini diberikan dengan perantaraan Musa (Bilangan 1:1; 3:44; 6:1; 33:2).

    Sahabat, ada beberapa hal penting yang dapat kita pelajari dari kitab Bilangan: Pertama, Allah menyediakan segala kebutuhan bangsa Israel dan menuntun mereka ke Kanaan, namun bangsa Israel gagal mengikuti kehendak Allah di Kadesh Barnea (pasal 14; 32:8). Kisah ini mengingatkan kita sebagai komunitas orang percaya yang hidup pada era digital  bahwa Allah mengasihi kita dan berkenan menyediakan segala kebutuhan kita, walaupun kita sering kali membangkang dan gagal mengikuti kehendak-Nya.

    Kedua, Kitab Bilangan mengajarkan kepada kita bahwa walaupun hidup ini sulit, sarat dengan pengalaman padang gurun, namun sebagai  orang percaya, kita tidak perlu pesimis dan berkecil hati karena Allah berada di pihak kita dan akan membela kita sebagai umat-Nya.

    Ketiga, Allah sanggup untuk memelihara. Pemeliharaan-Nya tak putus-putus terhadap umat-Nya karena pemeliharaan-Nya tidak tergantung pada keadaan umat-Nya.

    Keempat, kita dapat belajar dari umat Israel yang mengembara di padang gurun bahwa Tuhan tidak meninggalkan umat-Nya, melainkan menunjukkan kasih setia-Nya berulang kali kepada mereka dan memelihara mereka selama mereka mengembara.

    Sahabat, sebagai orang percaya, mungkin kita lemah dan sering gagal mencapai tujuan Allah dalam hidup kita. Sekalipun demikian, kita harus bangkit dan menjadi murid Yesus yang setia, seperti Kaleb dan Yosua yang bertahan dan setia sehingga akhirnya mereka diperbolehkan memasuki tanah Kanaan. Yang penting kita tetap semangat untuk berdoa dan berjuang dalam pengembaraan kita selama hidup di dunia ini.

    Bagi Sahabat yang sudah pernah membaca Kitab Bilangan sampai selesai, tolong bagikan secara singkat berkat apa saja yang kamu peroleh dari KItab Bilangan. Semoga kita terus bergairah untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan setiap hari. (pg)  

  • Masihkah ADA TEMPAT bagi KEJUJURAN?

    Susahkah hidup jujur? Secara teori mudah bagi kita untuk mengatakan tidak, tetapi pada praktiknya itu amat sangat susah. Secara teori semua orang mengajarkan untuk hidup jujur,  tetapi lucunya dalam banyak keadaan dunia justru cenderung menolak kejujuran. Ada seorang teman yang justru tersingkir dari jabatannya justru karena ia memilih untuk tetap jujur. Ia tidak mau ikut-ikutan melakukan penggelembungan dana bersama pimpinan dan rekan-rekannya, dan akibatnya ia pun disingkirkan. “Betapa mahalnya harga kejujuran”, begitu katanya, dan ia pun melanjutkan pertanyaannya: “Di negeri yang kita cintai ini, masih adakah orang yang menghargai kejujuran?” Sambil matanya menatap ke langit, dia bergumam:  “Masihkah ada tempat bagi kejujuran?”

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Masihkah ADA TEMPAT bagi KEJUJURAN?”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 64:1-11 dengan penekanan pada ayat 11. Sahabat, Mazmur 64 menunjukkan kondisi Daud yang sedang menghadapi masalah. Masalah yang dihadapi oleh Daud datang dari para musuhnya. Ancaman musuhnya membuat Daud takut (ayat 2-3).

    Sahabat, kita tidak mengetahui siapa sesungguhnya musuh yang dihadapinya, tetapi Daud menggambarkan perbuatan musuhnya seperti panah. Atau dengan kata lain, musuh Daud seperti pemanah yang memburu mangsanya (ayat 4-5). Gambaran tersebut mencirikan orang yang memiliki perilaku yang tidak terduga dan berbahaya. Bahkan Daud juga menggambarkan musuhnya sebagai orang yang akan menghadirkan bencana tak terhindarkan (ayat 6). Dengan demikian, masalah yang dihadapi Daud  bukanlah masalah sepele, melainkan masalah berat (serius).

    Kendati demikian, Daud memiliki keyakinan kepada Allah dan perbuatan-Nya (ayat 2, 8-10). Hal tersebut ditunjukkan Daud dengan menyerukan suatu permohonan, yakni perlindungan Allah dari ancaman para musuhnya (ayat 3). Melalui seruan tersebut, kita dapat melihat keyakinan Daud terhadap perbuatan Allah. Daud yakin bahwa Allah tidak akan tinggal diam terhadap orang jahat. Allah akan membalikkan semua perbuatan orang yang jahat (ayat 8-9). Setiap orang yang melihat perbuatan Allah akan menjadi takut kepada-Nya (ayat 10).

    Sahabat, lihatlah betapa besar nilai kejujuran di mata Tuhan. Mungkin di dunia ini kita bisa mengalami kerugian atau bahkan malah mendapatkan masalah besar karena memutuskan untuk berlaku jujur. Tetapi itu bukanlah masalah karena kelak dalam kehidupan selanjutnya yang kekal semua itu akan diperhitungkan sebagai kebenaran yang berkenan di hadapan Allah. Pada akhirnya Daud berkata, “Orang benar akan bersukacita karena TUHAN dan berlindung pada-Nya; semua orang yang jujur akan bermegah.” (ayat 11). Pada saat ini mungkin kita hancur akibat memutuskan untuk jujur, tetapi kelak pada saatnya kita akan bermegah dan bersyukur karena telah mengambil keputusan yang luhur.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikankanlah pendapatmu, “Masihkah ada tempat bagi kejujuran di negeri kita tercinta saat ini?” Selamat sejenak merenung. Sahabat, mari kita mengedepankan nilai-nilai kejujuran dan kebenaran, jangan tukarkan itu dengan apapun, dan lihatlah pada saatnya nanti setiap orang jujur akan bersukacita memetik buahnya. (pg)

  • Aku RINDU akan TUHAN

    Sahabat, siapa yang tidak pernah merasakan rindu atau kangen terhadap seseorang? Baik itu kepada pasangan hidup, anak, cucu, orangtua, pacar, ataupun sahabat.  rasa rindu pasti pernah dirasakan oleh siapapun tanpa terkecuali. Rasa rindu ini muncul disebabkan karena sudah lama tidak bisa bertemu dengan seseorang karena batasan jarak, peraturan, pekerjaan atau sebab yang lain.

    Pagi itu saya menikmati sarapan di warung makan yang menyajikan masakan rumahan bersama teman anak saya yang bekerja di Jakarta. Dia bercerita pada bulan Mei sampai dengan Oktober 2021 dia tidak bisa bertemu dengan istri dan kedua orang anaknya yang tinggal di Semarang karena pandemi covid-19 sedang mengganas pada saat itu. Selama 6 bulan dia hanya bisa berkomunikasi dengan keluarganya melalui video call. Biasanya setiap 2 minggu sekali dia pulang.

    Sahabat, pernahkah kita punya kerinduan untuk dapat bertemu dengan Tuhan melalui saat teduh kita? Pernahkah terbersit di hati kita: Aku rindu akan Tuhan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Aku RINDU akan TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 63:1-12 dengan penekanan pada ayat 2. Sahabat, Mazmur 63 merupakan  salah satu mazmur yang menarik dan menyentuh. Mengapa?  Karena Mazmur 63 bercerita tentang  perasaan orang yang merindukan Tuhan.   Daud merindukan Tuhan dan berusaha menemui-Nya selama di padang gurun, di tempat perlindungannya. Ia tinggal di pegunungan, di padang gurun Zif (1 Samuel  23:14), menghindar dari kejaran Saul yang hendak membunuhnya.

    Di padang gurun Daud merasa kesepian dan sendirian. Jiwanya haus, kosong, dan tidak bersemangat. Karena itu, ia mencari Tuhan. Daud memikirkan Tuhan sepanjang malam di tempat tidurnya (ayat 2, 7). Ia mengharapkan kasih setia-Nya. Daud percaya bahwa Allah pasti menolongnya. Akhirnya, Daud diselamatkan. Karena Allah tidak menyerahkannya ke tangan Saul.

    Sahabat, dalam pergumulannya, Daud memandang Allah dan melihat kekuatan serta kemuliaan-Nya (ayat 3). Jiwanya bersukacita dan bersorak-sorai di dalam Tuhan. Lalu, Daud berkata, “Sebab kasih setia-Mu lebih baik dari pada hidup; demikianlah aku mau memuji Engkau seumur hidupku dan menaikkan tanganku demi nama-Mu” (ayat 4-6).

    Daud bersukacita sebab mengalami pertolongan Tuhan (ayat 8). Ketika sendirian, ia tidak takut dan putus asa lagi. Sebab jiwanya melekat kepada Tuhan (ayat 9). Sebaliknya, orang yang mencintai kejahatan akan mati oleh pedang dan menjadi makanan anjing hutan (ayat 10, 11). Orang yang mencari Allah dan mengakui pertolongan-Nya akan bersukacita (ayat 12).

    Sahabat, Daud  mengajarkan kepada kita bahwa Tuhan berkenan ditemui ketika orang merindukan-Nya. Tuhan tidak akan membiarkan umat-Nya merasa sepi. Penghiburan-Nya akan menguatkan mereka dalam bentuk melindungi dan menyelamatkan mereka dari bahaya. Itu sebabnya Daud selalu merindukan Tuhan di sepanjang hidupnya, sekalipun ia menghadapi banyak bahaya. Ia tidak takut dan putus asa karena ia tahu Tuhan menyertainya dalam segala perkara.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, Sahabat, bagikanlah pengalamanmu apa yang engkau lakukan supaya dapat berkomunikasi dengan Tuhan setiap hari? Selamat sejenak merenung. 

    Selamat sejenak merenung. Sekarang mari kita berdoa, “Bapa, di saat kesepian menggayut di hatiku, aku mencari Engkau. Berilah penghiburan-Mu, ya Bapa.” (pg)

  • Menikmati KETENANGAN HIDUP

    Sahabat, ada cukup banyak orang mencari dan mendambakan ketenangan hidup. Ketenangan hidup menjadi salah satu kebutuhan dasar hidup. Karena itu suasana yang tenang menjadi salah satu kriteria tempat tinggal yang ideal.

    Ketenangan batin, ketenangan jiwa, menjadi sesuatu yang sulit didapatkan pada zaman now. Tuntutan kehidupan membuat sebagian orang kalang kabut. Waktu tersita untuk menjalani rutinitas dari hari ke hari demi memenuhi kebutuhan hidup. Dunia yang penuh hiruk pikuk membuat seseorang mudah merasakan kelelahan batin. Jiwa pun seakan meronta, berteriak meminta ketenangan. Itulah mengapa, cukup banyak orang yang memakai waktu luangnya  untuk menyepi atau bermeditasi. Mereka  pergi ke desa yang tenang, jauh dari ingar bingar perkotaan untuk MENIKMATI KETENANGAN HIDUP.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Menikmati KETENANGAN HIDUP”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 62:1-13 dengan penekanan pada ayat 2. Sahabat, Daud membuka Mazmur 62 dengan pengakuan iman: “Hanya dekat Allah saja aku tenang” (ayat 2). Daud memaham kebutuhan terdalam manusia, yakni rasa tenang.

    Sahabat, situasi yang sangat cepat berubah di masa pandemi seperti saat ini, sering membuat kita merasakan kecemasan. Rasa cemas yang berlebihan akan membuat kita tidak mampu melakukan apa pun. Dalam situasi seperti ini, sejatinya kita hanya butuh ketenangan. Rasa tenang membuat kita mampu berpikir cling dan bening, dan akhirnya mampu mengambil keputusan.

    Ketenangan Daud tentu bukan tanpa dasar. Daud tenang karena Allah adalah sumber keselamatannya (ayat 2). Sejak lahir, manusia butuh diselamatkan. Tangisan pertama merupakan bukti bahwa manusia merasa tidak aman dan nyaman di dunia. Dia butuh selamat, dan Allah merupakan sumber keselamatan sejati.

    Sahabat, alasan kedua yang membuat Daud dapat menikmati ketenangan: Allah adalah sumber pengharapan (ayat 6). Sesungguhnya tidak seorang pun yang tahu hari esok. Manusia hanya bisa berharap bahwa hari esok akan lebih baik daripada  hari ini.  Allah Mahatahu, dan karena itulah, Dia dapat diandalkan sebagai sumber pengharapan.

    Untuk dapat menikmati ketenangan, selanjutnya Daud  mengajak umat untuk curhat kepada  Allah (ayat 9) karena Allah itu kasih dan berkuasa mewujudkan kasih-Nya (ayat 12-13). Allah adalah Pribadi yang mau dan mampu menolong. Meminta tolong kepada Allah merupakan tindakan iman yang terbaik karena Dia mampu dan mau.

    Sahabat, di dalam dekat dengan Tuhan, senantiasa berharap kepada Tuhan, dan menyerahkan hidup kita sepenuhnya kepada-Nya.  kita akan mengalami ketenangan hidup!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Dari ayat 2, apa yang membuat Daud menikmati ketenangan hidup?
    2. Dari ayat 6, apa yang menjadi kunci Daud dapat menikmati ketenangan hidup?
    3. Apa yang menjadi himbauan Daud kepada umat dalam ayat 9?

    Selamat sejenak merenung. Sahabat, doa yang lahir dari hati yang tenang akan dapat merasakan hadirat Tuhan. (pg)

  • APA yang MAU aku PERBUAT?

    Sahabat, ketika kita berulang tahun, keluarga dan teman-teman dekat kita mendoakan agar kita diberi panjang umur. Jujur saja, setiap hari saya mohon kepada Tuhan agar diberi tubuh yang sehat dan panjang umur. Tapi pada suatu fajar, ketika saya bersaat teduh, dengan lembut Tuhan berbisik, “Paul, kalau Aku mengabulkan permohonanmu. Aku memberi kamu tubuh yang sehat dan umur yang panjang, apa yang mau kamu perbuat?”

    Untuk lebih memahami topik tentang: “APA yang MAU aku PERBUAT?”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 61:1-9. Sahabat, Mazmur 61 merupakan salah satu dari sekian banyak mazmur yang memperlihatkan kesedihan hati Daud. Kalau kita amati, hampir setiap mazmur Daud terdapat pola yang hampir sama, yaitu diawali dengan perasaan sedih, takut, marah, maupun tertekan dan diakhiri dengan pujian kepada Allah.

    Sahabat, hal apa yang membuat Daud tertekan sehingga ia melukiskan kondisi hatinya seperti seorang yang putus asa, tidak berdaya, dan ingin menyerah (ayat 2-3a)? Ia sedih karena anaknya Absalom memberontak dan menghasut rakyat Israel untuk melakukan kudeta terhadap Daud.

    Karena itu, Daud beserta beberapa orang kepercayaannya melarikan diri dari Yerusalem (2 Samuel 15:1-15). Mungkin saja Daud sedang mencari tempat persembunyian di goa, hutan, maupun di padang gurun. Selain itu, Absalom mempermalukan ayahnya dengan cara meniduri para gundik Daud di hadapan bangsa Israel (2 Samuel 16:21-22). Tindakan Absalom membuat Daud sangat terpukul.

    Sahabat, dalam kondisi yang tidak berdaya, Daud memohon pertolongan dan kekuatan Allah (ayat 2). Ia tidak tahu kepada siapa harus berlindung selain kepada Allah. Baginya, Allah Israel adalah menara yang kuat (ayat 4). Selama ia bersandar dan berharap kepada-Nya, maka Allah pasti menyertainya kemana pun ia berada. Di sini Daud menyadari bahwa tembok kota Israel tidak abadi selamanya, tetapi kuasa Allah mampu menjaganya siang dan malam (ayat 5).

    Daud bersyukur dan memuji keagungan Allah sebab Ia menjawab doanya. Allah telah mendengar doa orang yang hidup takut akan Allah (ayat 6, 8). Bahkan Daud berdoa agar Allah Israel memberikan umur yang panjang kepadanya (ayat 7).

    Dengan berkah umur panjang, Daud akan melakukan dan menepati janjinya kepada Allah. Bahkan setiap hari ia akan mempersembahkan nyanyian dan pujian kepada Allahnya (ayat 9). Selain itu, umur panjang memungkinkan Daud untuk menceritakan segala perbuatan  ajaib yang dilakukan Allah Israel atas orang yang takut akan nama-Nya.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu  dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah komitmenmu: Apa yang akan kamu lakukan jika Tuhan memberikan anugerah kepadamu tubuh yang sehat dan umur yang panjang.  Mari kita berdoa, “Ya Bapa, mampukan kami untuk terus menceritakan segala perbuatan baik-Mu dalam kehidupan kami masing-masing”. (pg)

  • Dari TANGISAN menjadi TARIAN

    Dalam masyarakat Yahudi, melahirkan anak laki-laki bagi suaminya adalah tugas dan kewajiban bagi seorang perempuan yang sudah menikah.  Jika perempuan itu mandul , maka hal tersebut akan menimbulkan rasa malu dan menjadi celaan bagi suaminya, keluarganya dan juga lingkungan di sekitarnya.  Jadi kemandulan dianggap sebagai sesuatu yang memalukan. 

    Itulah yang sedang dialami oleh Hana,  tanggung jawab untuk melanjutkan garis keturunan suami ada di tangannya.  Jika tidak, ia akan menghadapi masalah yang berat:  Bisa saja diceraikan oleh suaminya atau harus menanggung malu dan mengalami penolakan dari orang-orang yang ada di sekitarnya. 

    Bisa dibayangkan betapa remuk redam hati Hana karena ia tidak punya anak.  Belum lagi perlakuan yang tidak baik dari Penina, madunya yang justru memiliki anak.  Hana yakin, hanya Tuhan yang sanggup mengubahkan TANGISANNYA menjadi TARIAN.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Dari TANGISAN menjadi TARIAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari 1 Samuel 2:1-10. Sukacita yang luar biasa dialami Hana, ketika Tuhan mengabulkan  doanya. Hana dikaruniai seorang anak, yang diberi nama Samuel (1Samuel 1:27-28).

    Berdasarkan pengalamannya dengan Tuhan melalui doa yang dikabulkan tersebut, Hana melihat semua keajaiban sifat Allah. Ia menyebut bahwa Tuhan itu Kudus, unik, dan menjadi perlindungan bagi manusia (ayat 2), Pujian Hana mengungkapkan kebaikan Tuhan yang telah mengangkatnya dari keadaan terhina menurut pandangan manusia, menjadi terhormat.

    Pengalaman rohani Hana bersama Tuhan mengubah keadaan hidupnya. Ejekan Penina yang merendahkannya dibungkam oleh Allah (ayat 3-5). Penderitaan dan rasa malu berganti dengan kehidupan yang penuh semangat karena mengalami kedahsyatan Allah. Tuhan telah merubah perkara yang mustahil menjadi fakta nyata. Tuhan telah mengubah tangisan menjadi tarian.

    Karena itu di dalam sukacitanya, Hana memuji dan mengagungkan Allah. Hana menyatakan bahwa Allahlah yang berdaulat atas segala sesuatu: Hidup dan
    matinya manusia, pemimpin, perempuan mandul, perbedaan status, hidup orang jahat, dan atas raja (ayat 4-10).

    Apa yang Hana alami dapat juga dialami oleh setiap orang percaya. Kita mungkin mengalami masalah dalam hal keuangan, usaha yang bangkrut, sakit penyakit yang sulit disembuhkan, persoalan keluarga, kemandulan, anak yang bermasalah, jodoh, dan lain-lain. Namun sama seperti Hana yang ditolong Tuhan, kita  juga bisa menikmati pertolongan Tuhan.

    Sahabat, melalui pujian Hana ini, kita dapat belajar bahwa apa pun yang menjadi masalah kita dan seberat apa pun pergumulan kita, mari kita berharap dan bergantung sepenuhnya kepada Allah. Panjatkanlah doa yang sungguh-sungguh dengan tetap mengagungkan Dia, Allah yang berdaulat atas segenap hidup manusia.  Tuhan kita adalah Tuhan yang dapat mengubah tangisan menjadi tarian, duka menjadi suka.
    Berdasarkan hasil perenunganmu pada hari ini, bagikanlah sukacitamu ketika Tuhan mengubah tangisanmu  menjadi tarian. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • Melakukan Perbuatan GAGAH PERKASA

    Sahabat, apa yang ada di pikiranmu ketika kamu mendengar kata gagah perkasa?  Ada yang berpendapat gagah perkasa identik dengan sosok laki-laki yang memiliki badan tegap dan berotot.  Namun ada yang memiliki pandangan berbeda bahwa gagah perkasa itu  sebuah ungkapan untuk menggambarkan seseorang  (laki-laki/perempuan)  yang mampu melewati berbagai tantangan atau mampu menaklukkan segala sesuatu yang dihadapinya, termasuk kemampuan untuk mengatasi masalah atau melewati penderitaan yang dialaminya.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Melakukan Perbuatan GAGAH PERKASA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 60:1-14 dengan penekanan pada ayat 14. Sahabat, Mazmur 60 merupakan salah satu mazmur emas dari Daud. Mazmur ini ditulis untuk diajarkan dan dijadikan pedoman hidup bagi semua generasi agar mereka menyadari bahwa Allah adalah sandaran yang kokoh dan solusi yang tepat bagi kehidupan.  

    Di bagian awal,  Daud menekankan bahwa kekalahan Israel sebelumnya bukanlah karena musuh terlalu kuat. Bukan itu. Alasan utama kekalahan Israel adalah karena Allah membiarkan Israel mengalami kekalahan. Allah tidak lagi menjadi Pembela Israel. Maka di bagian awal,  Daud memohon pemulihan dari Allah sendiri (ayat 3). Bagi Daud, Israel kalah bukan karena musuh terlalu kuat, dan jika menang  pun, bukan karena Israel hebat. Semuanya itu karya Allah semata.

    Ayat 14 yang menjadi penekankan kita pada hari ini  menyatakan bahwa sebagai orang percaya kita memiliki hal-hal besar yang dapat kita lakukan bersama Tuhan; bahkan hal-hal yang supranatural yang kita sendiri belum pernah pikirkan sebelumnya. Bersama Tuhan kita akan melakukan perbuatan-perbuatan yang gagah perkasa.

    Sahabat, ayat 14  merupakan kesimpulan dari  kesaksian Raja Daud tentang berbagai kemenangan yang dicapainya dalam peperangan (baca kisahnya dalam 2 Samuel  8:1-14), yaitu ketika  Daud mampu mengalahkan orang-orang Filistin, Moab, Aram-Mesopotamia, Aram-Zoba dan beberapa raja lainnya yang telah bersekutu menyerang Daud. Secara hitungan kekuatan pasukan yang dimiliki;  Kekuatan Daud jauh lebih kecil sehingga Daud diperkirakan tidak bisa menang, Namun ternyata dengan kekuatan dari Tuhan yang dimilikinya, Daud mampu mengalahkan kekuatan musuh yang lebih besar.

    Tantangan, peperangan, masalah, dan himpitan yang dialami Daud begitu besar, tetapi Daud bisa memberi kesaksian bahwa ia mampu memenangi peperangan karena ada tangan Tuhan yang besar bersamanya. Daud menegaskan kepada kita bahwa Tuhan yang ada bersama-sama dengan kita, adalah Tuhan yang kekuatannya jauh lebih besar daripada kekuatan apa pun yang ada di dunia ini. Kebesaran Tuhan itu tidak pernah berkurang sedikitpun dari hidup kita, bahkan dari dahulu sampai selama-lamanya.  

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong bagikan pemahamanmu tentang melakukan perbuatan yang gagah perkasa.

    Selamat sejenak merenung. Ingatlah, manusia tidak memiliki kekuatan yang gagah perkasa. Namun Daud sadar bahwa walau kekuatan manusia sangat terbatas, tetapi pertolongan Tuhan membuat kita bisa melakukan perbuatan-perbuatan yang gagah perkasa.  (pg)

  • IKAN mulai BUSUK dari KEPALANYA

    Panggilan orang percaya adalah mendoakan pemerintah dan menjalankan kewajiban sebagai warga negara dengan baik. Ketika pemerintah berbuat salah, kita juga dipanggil untuk mengingatkan pemerintah, tentu dengan cara yang benar, santun dan demokratis. Sebagaimana peribahasa: “Raja adil raja disembah, raja lalim raja disanggah.”

    Sahabat, mari kita ingat pepatah lama dari Turki: “Ikan mulai busuk dari kepalanya”. Pepatah tersebut  mencerminkan sebuah kebenaran bahwa kehancuran sebuah bangsa, negara, institusi, keluarga, maupun peradaban tidak dimulai dari rakyatnya, melainkan dari para pemimpinnya. Karena itu kita sebagai orang percaya punya tugas panggilan untuk berani mengevaluasi kinerja para pemimpin kita. Ingatlah: IKAN mulai BUSUK dari KEPALANYA.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “IKAN mulai BUSUK dari KEPALAnya”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 58:1-12. Sahabat, Kenyataan ini yang ditemukan oleh Daud: Ia melihat kejahatan merajalela dimana-mana. Para penguasa bertindak tidak adil dan korup. Hati mereka penuh kejahatan. Mereka menyalahgunakan dan menyelewengkan otoritas yang diberikan Allah untuk menegakkan keadilan-Nya di bumi.

    Bukan kesejahteraan yang dihasilkan, melainkan penindasan, kekerasan, dan tipu daya (ayat 2-4). Mereka telah dibutakan oleh kekuasaan. Itu sebabnya Daud melukiskan mereka sebagai bisa ular, ular tedung tuli (ayat 5-6). Karena hati nurani dan akal sehat mereka telah dimatikan demi kepentingan diri dan yang tersisa hanyalah kefasikan.

    Namun Daud percaya bahwa Allah akan menegakkan keadilan-Nya dan menjatuhkan penghakiman-Nya atas kejahatan orang fasik. Ada enam gambaran penghakiman Allah atas kefasikan mereka, antara lain: Gigi mereka akan hancur dan patah; mereka akan hilang seperti air yang mengalir senyap; mereka menjadi rumput layu; mereka seperti siput yang berlendir; mereka seperti guguran perempuan; mereka akan merasakan api semak duri (ayat 7-10). Gambaran ini menunjukkan bahwa penghakiman Allah tidak kenal ampun. Saat penghakiman Allah datang, tiada satu pun yang tersisa dari mereka. Murka Allah akan meremukkan dan menghancurkan orang fasik.

    Bagi orang benar, Daud memberikan penghiburan bahwa segala jerih lelah mereka hidup dalam kebenaran-Nya akan mendapat pahala. Segala penderitaan mereka akan berakhir karena keadilan-Nya telah ditegakkan. Martabat orang benar akan dipulihkan Allah. Sebab itu, Daud menghendaki orang benar selalu bersukacita (ayat 11-12).

    Sahabat, berdasarakan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Dari hasil evaluasi Daud, apa yang dilakukan oleh para penguasa pada waktu itu? (Ayat 2-4)
    2. Bagaimana Daud melukiskan para penguasa? (Ayat 5-6)
    3. Bagaimana Daud menggambarkan penghakiman Allah atas kefasikan mereka? (Ayat 7-10)
    4. Apa yang akan dilakukan oleh Allah kepada orang-orang benar? (Ayat 11-12)

    Selamat sejenak merenung. Yakinlah: Kita akan menuai dari apa yang telah kita tabur. (pg)

  • PANTANG KEKERASAN

    Sahabat, mobilisasi  massa untuk melakukan tindakan kekerasan seringkali digunakan orang dalam menyelesaikan suatu masalah atau untuk pencapaian suatu tujuan. Padahal kekerasan bukanlah cara terbaik dalam penyelesaian suatu masalah atau sebagai jalan untuk mencapai sebuah tujuan. Kekerasan justru cenderung melahirkan dendam dan menanam rasa benci yang kemudian menjadi pemicu terjadinya masalah-masalah baru yang semakin menyulitkan banyak pihak dan menimbulkan ketegangan yang berkepanjangan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “PANTANG KEKERASAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 59:1-18 dengan penekanan pada ayat 17. Sahabat, konteks Mazmur 59 yaitu ketika Saul menyuruh orang mengawasi rumah Daud untuk membunuhnya (ayat 1). Saul berusaha membunuh menantunya. Kejadian ini bukan kali pertama. Sebelumnya, Saul telah melemparkan lembingnya kepada Daud, namun meleset. Jauh sebelumnya, Saul berupaya membunuh Daud dengan mengirimkannya ke banyak pertempuran dengan harapan mati dalam tugas, tetapi Daud selalu menang. Segala tindakan Saul didasari iri dan ketakutan bahwa Daud akan mengambil alih kerajaannya.

    Sahabat, sangat menarik, dalam keadaan sebagai musuh nomor satu dari orang nomor satu di Israel, Daud menaruh harapannya hanya kepada Allah. Mazmur 59 dimulai dengan permohonan agar dilepaskan dari musuh (ayat 2). Daud percaya bahwa Allah sanggup melepaskan dirinya dari orang-orang yang akan membunuhnya. Karena Tuhan, Allah semesta alam, adalah Allah Israel (ayat 6), maka tidak ada yang dapat terjadi di luar izin-Nya. Daud memercayakan dirinya kepada Allah.

    Menarik pula disimak bahwa Daud tidak mengeluh tentang keadaannya. Mungkin kita berpikir bahwa Daud punya segudang alasan untuk mengeluh. Bagaimanapun, Daud tidak melakukan suatu kesalahan apa pun (ayat 4) sehingga Saul ingin membunuhnya. Orang-orang suruhan Saul pun agaknya menutup mata terhadap ketidakbersalahan Daud. Mereka hanya ingin menyenangkan hati raja.

    Ini yang perlu mendapat perhatian kita, berkenaan dengan situasi yang dialaminya, Daud tidak melakukan pembelaan diri. Dia juga tidak angkat senjata untuk melawan orang-orang yang hendak membunuhnya, tetapi memercayakan semuanya kepada Allah. Meski situasinya penuh dengan ketegangan, Daud tetap bernyanyi tentang kekuatan dan kasih setia Allah (ayat 17).

    Bagaimana dengan kita? Situasi yang dialami Daud bisa menimpa kita kapan saja. Kita bisa belajar dari Daud yang tidak membalas kejahatan dengan kejahatan, melainkan dia belajar untuk memberlakukan sikap pantang kekerasan.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tuliskanlah pengalamanmu sebagai murid Kristus dalam mengembangkan sikap pantang kekerasan dalam menyelesaikan masalah atau persoalan di keluargamu.

    Selamat sejenak merenung.  Sekarang mari kita berdoa: “Bapa, ajarlah kiranya kami untuk senantiasa saling mengasihi. Jauhkanlah kami dari segala bentuk kekerasan, dan mampukanlah kami untuk menyelesaikan setiap masalah dengan rembuk bareng berdasarkan kasih.” (pg)

  • Aku PERCAYA kepada TUHAN

    Sahabat, hampir semua orang ingin terlepas dari masalah, tetapi pada kenyataannya masalah senantiasa ada dalam kehidupan ini. Selain itu cukup banyak juga orang yang ingin lari dari masalah, tetapi yang terjadi justru sebaliknya: Ketika ia lari dari masalah, masalah-masalah lain justru bermunculan.

    Masalah memang tidak dapat dihindari, tetapi harus dihadapi. Salah satu cara menghadapi masalah adalah dengan berharap kepada Allah. Berharap kepada Allah  tidak dimaksudkan bahwa kita hanya diam dan menunggu Allah turun tangan untuk mengatasi masalah kita. Namun, berharap kepada Allah di sini lebih berarti bahwa kita MEMERCAYAKAN  segenap hidup kita kepada Allah dengan sepenuh hati.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Aku PERCAYA kepada TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 56:1-14 dengan penekanan pada ayat 5. Sahabat, Sejak dari muda Daud berada dalam kesesakan. Bahkan ia tidak dapat tinggal tenang di satu tempat karena dirinya dikejar-kejar musuh. Mazmur 56 ditulis pada saat Daud  berada dalam penahanan Filistin dan ia  menaikkan permohonan kepada Allah.

    Tentu Daud sangat ketakutan. Dikepung musuh, tanpa daya. Hal itu tampak pada seruannya (ayat 2-3, 6-7). Namun justru di saat ia tidak berdaya, Daud berseru kepada Tuhan dan mengangkat hatinya kepada-Nya. Maka muncullah seruan iman yang sampai diulang, “… kepada Allah aku percaya, aku tidak takut …” (ayat 5, 11-12).

    Sahabat, seruan iman tersebut mengubah perasaan Daud dari ketakutan menjadi berpengharapan. Daud tahu, Tuhan peduli kepadanya (ayat 9). Oleh karena itu, Daud tahu bahwa musuh tidak dapat menyakitinya (ayat 10). Oleh karena keyakinan yang kuat tersebut, Daud berani bernazar dan memastikan diri akan membayar nazar tersebut (ayat 13-14).

    Belajar dari hidup Daud, Tuhan mengingatkan bahwa kehidupan orang yang
    berkenan di hadapan-Nya tidak lepas dari kesesakan dan penganiayaan. Meski begitu, ingatlah bahwa Tuhan melihat setiap tetesan air mata. Ini memperlihatkan bahwa Tuhan peduli dan akan memberi kemenangan iman kepada kita. Marilah kita bersabar dalam menghadapi penderitaan. Hendaklah kita senantiasa bersukacita dan mengucap syukur kepada-Nya. Dengan ini, kita dapat memahami kehendak Tuhan di balik penderitaan.

    Sahabat, Daud atau siapa pun di muka bumi ini. Saat kita menaruh harap hanya kepada-Nya, Dia akan bertindak memberikan kekuatan baru pada kita (Yesaya  40:31) dan juga memukul mundur semua musuh yang berniat jahat kepada kita. Waktu kita takut, mari katakan “Aku PERCAYA kepada TUHAN … Apakah yang dapat dilakukan manusia terhadap aku?”

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang dialami Daud pada saat itu? (Ayat 3, 6-7)
    2. Lalu apa yang menjadi keyakinan Daud? (Ayat 5, 8, 10-12)
    3. Bagaimana Daud menggambarkan apa yang  Allah sedang kerjakan atas dirinya? (Ayat 9)
    4. Pada akhirnya, apa yang mendorong Daud membuat nazar? (Ayat 13 dan 14)

    Selamat sejenak merenung. Sahabat, tetaplah percaya kepada Tuhan dalam situasi dan kondisi sesulit apapun. Renungkan firman-Nya dan bergembiralah karena Tuhan ada di pihak kita. (pg)