Category: Sejenak Merenung

  • Menikmati dan Memberitakan KUASA ALLAH

    Sahabat, sesungguhnya kuasa Allah sangat nyata di dunia, tetapi anehnya masih ada orang yang tidak mau mengakuinya. Maka tak seharusnya orang percaya hidup dalam kekalahan, sebab Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang mempunyai segala kuasa di surga dan di bumi.  Kita layak berbangga hati dan berjalan dengan kepala tegak menatap ke depan, sebab Kristus yang hidup di dalam kita adalah Tuhan segala kuasa dan otoritas. 

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Menikmati dan Memberitakan KUASA ALLAH”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 68:20-36. Sahabat, Daud menyampaikan alasan-alasan yang sangat mendasar dan penting untuk membuat kita bukan hanya layak, bahkan wajib mengakui kekuasaan Allah. Pengalaman hidup Daud bersama dengan umat telah mengajarkannya bahwa keselamatan secara fisik, rohani, dan keluputannya dari maut merupakan tindakan Allah semata (ayat 21 dan  23). Allah juga meremukkan musuh-musuh-Nya hingga darahnya dijilat oleh anjing-anjing (ayat  22 dan 24).

    Sahabat, Allah memimpin Israel keluar dari Mesir, dengan perarakan yang sangat besar. Israel melalui perjalanan itu dengan perarakan, nyanyian, permainan musik, dan rombongan-rombongan dari tiap suku. Israel yang menyadari kekuatan Allah yang telah bertindak bagi mereka menaikkan pujian kepada-Nya (ayat 25-29).

    Allah mengusir binatang-binatang liar, juga orang-orang raksasa yang membahayakan Israel, bahkan membuat orang-orang Mesir memberikan harta kekayaan kepada umat Israel (ayat 31-32). Ternyata, kebesaran Allah ini disadari oleh raja-raja dari negeri lain dengan membawa persembahan (ayat 30). Kemegahan dan kekuasaan Allah yang nyata atas Israel selayaknya dinyanyikan dan dipujikan oleh segenap kerajaan-kerajaan di bumi.  Allah kita dahsyat bukan hanya dalam tindakan-Nya terhadap Israel, bahkan dalam alam semesta dan di tempat kudus-Nya (ayat 33-36).

    Sahabat, sesungguhnya perjalanan hidup setiap orang, terlebih umat TUHAN tidak lepas dari campur tangan dan pelbagai perbuatan-Nya yang ajaib dan dahsyat. Apabila seseorang merasa bahwa kehidupannya biasa-biasa saja, maka keadaan di alam semesta pun tidak dapat dipakai sebagai alasan untuk memungkiri kemahakuasaan TUHAN.

    Ketika seseorang berada dalam hadirat TUHAN, beribadah di tempat kudus-Nya, kuasa dan kebesaran Allah akan sangat nyata baginya. Semua hal tersebut  lebih dari cukup untuk menjadi landasan bagi setiap orang untuk mengakui kekuasaan Allah, menikmatinya,  memuji dan membesarkan Dia.

    Sahabat, maka mari akui, nikmati dan beritakanlah kekuasaan Allah yang tak terbatas kepada segala bangsa!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tuliskanlah secara singkat salah satu pengalaman pribadimu bagaimana kamu merasakan dan menikmati kuasa Allah dalam hidupmu sehingga kamu semakin meyakini kuasa Allah itu ada dan nyata. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg) 

  • KEDEWASAAN BERSIKAP dan KEBESARAN HATI

    Sahabat, dalam kehidupan bersama, termasuk dalam pelayanan di gereja dan lembaga gerejawi, pembedaan tugas tidak bisa dihindarkan. Tidak mungkin bila setiap orang harus mengerjakan pelayanan (tugas) yang sama! Sekalipun demikian, tugas bersama itu menuntut kedewasaan dalam bersikap: Yang tugasnya penting (terlihat serta disoroti dan  dikagumi banyak orang) tidak boleh sombong, sedangkan yang tugasnya terasa kurang penting (kurang terlihat dan kurang disoroti banyak orang) harus berbesar hati dan tidak boleh merasa iri. Dibutuhkan kedewasaan bersikap dan kebesaran hati.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “KEDEWASAAN BERSIKAP dan KEBESARAN HATI”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kitab bilangan 4:1-49. Sahabat, Kita perlu menyadari bahwa bani (keturunan atau suku atau kaum) Lewi terbagi menjadi dua kelompok besar, yaitu Harun dan anak-anaknya yang merupakan kelompok imam dan keturunan Lewi yang bukan merupakan keturunan Harun. Harun dan keturunannya secara khusus bertugas melaksanakan peribadatan, sedangkan orang-orang Lewi yang bukan keturunan Harun menjalankan peran pendukung kegiatan peribadatan. Oleh karena itu, keturunan Harun adalah para imam, sedangkan orang Lewi yang bukan keturunan Harun bukanlah imam. Mereka sama sekali tidak boleh menjalankan peran sebagai imam. Tugas mereka adalah mengurus perabotan Kemah Suci.

    Lewi memiliki tiga anak laki-laki, yaitu Gerson, Kehat, dan Merari, “Inilah nama anak-anak Lewi menurut urutan kelahirannya: Gerson, Kehat dan Merari. …” (Keluaran 6:15). Tapi kalau kita membaca Kitab Bilangan 4:18-33, kita akan mendapatkan susunan urutan yang berbeda yaitu Kehat (ayat 18-20), Gerson (ayat 22-28), dan Merari (ayat 29-33).

    Sahabat, padahal dalam tradisi bangsa Israel, anak sulung itu mendapat tempat yang istimewa, sangat dihormati, didahulukan, dan diutamakan. Jadi bagi Gerson, yang diposisikan menjadi anak kedua (padahal menurut tanggal kelahiran dia anak sulung), dibutuhkan kedewasaan bersikap dan kebesaran hati. Saya angkat topi untuk Gerson karena tidak protes kepada Musa dan Harun.

    Apalagi kalau kita melihat lingkup tempat tugas mereka: Bani Kehat bertugas di Ruang Mahakudus. Satu tempat yang paling terhormat dan sangat bergengsi. Sedangkan Gerson bertugas di Kemah Pertemuan. Demikian juga Merari  bertugas di Kemah Pertemuan.

    Tugas khusus bani Gerson: Mereka harus mengangkat tenda-tenda Kemah Suci, dan Kemah Pertemuan tudungnya dan tudung dari kulit lumba-lumba yang ada di atasnya, tirai pintu Kemah Pertemuan, layar-layar pelataran dan tirai pintu gerbang pelataran yang ada sekeliling Kemah Suci dan mezbah, dengan talinya dan segala perkakas untuk pekerjaan jabatan mereka; dan mereka harus melakukan segala tugas yang perlu berkenaan dengan semuanya itu. (ayat 25-26)

    Sedangkan tugas bani Merari: Mereka harus mengangkat papan-papan Kemah Suci, kayu-kayu lintangnya, tiang-tiangnya, alas-alasnya, tiang-tiang pelataran sekelilingnya, alas-alasnya, patok-patok dan tali-talinya, serta segala perkakasnya; semuanya termasuk tugas mereka. (ayat 31-32)

    Di bagian akhir dari Kitab Bilangan 4, Musa mencatat: “Sesuai dengan titah TUHAN dengan perantaraan Musa, maka mereka masing-masing dibuat penanggung jawab atas apa yang harus dikerjakan dan diangkatnya. Demikianlah mereka dicatat, seperti yang diperintahkan TUHAN kepada Musa.” ( ayat 49)

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah hasil pengamatanmu di gerejamu masing-masing, bagaimana kerjasama dan kebersamaan antara Gembala Jemaat, Majelis Jemaat, Pengurus Komisi, Tata Usaha, Satpam dan Koster? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg).

  • Ketika Seorang Suami CEMBURU

    Sahabat, saya yakin kita sering membaca atau mendengar kata CEMBURU. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) cemburu adalah merasa tidak atau kurang senang melihat orang lain beruntung dan sebagainya; sirik: kurang percaya; curiga (dalam hubungan suami istri).

    Cemburu adalah emosi kompleks yang menimbulkan rasa curiga, marah, takut, atau terhina. Cemburu bisa menyerang orang dari segala usia dan kerap mencuat  saat seseorang merasa terancam. Emosi negatif ini bisa memengaruhi hubungan sampai merusak kesehatan mental. Cemburu umumnya dikaitkan dengan hubungan percintaan pasangan. Tapi, perasaan ini bisa dialami saudara kandung yang berebut perhatian orangtua, sampai sesama rekan kerja yang mencoba mengesankan atasan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Ketika Seorang Suami CEMBURU”,  Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari  Bilangan 5:11-31 dengan penekanan pada ayat 25-31. Sahabat, mungkin ada diantara kita yang  terhenyak ketika membaca bahwa  Alkitab ternyata berbicara juga tentang hukum mengenai perkara cemburuan. Dalam Kitab Bilangan yang menjadi bacaan kita pada hari ini dituturkan tentang apa yang mesti dilakukan ketika seseorang suami  sedang cemburu.  Prosedur dan cara mendeteksinya dapat kita baca di ayat 25-31.

    Hukum tersebut ditetapkan di tengah konteks umat Israel setelah keluar dari perbudakan di Mesir. Hukum tersebut disampaikan kepada bangsa Israel yang menganut budaya PATRIARKAT artinya laki-laki punya dominasi lebih kuat daripada perempuan, sehingga seorang suami dapat berlaku semena-mena terhadap istrinya.

    Sahabat, dalam situasi seperti itu seorang suami bisa main hakim sendiri terhadap istrinya. Ia bisa menfitnah, memukuli,  bahkan membunuh istrinya karena cemburu. Demi menghindari situasi tersebut, hukum tentang perkara cemburuan tersebut muncul.

    Dari bacaan kita pada hari ini kita bisa belajar bahwa Tuhan itu berpihak pada kaum perempuan (istri) sebagai kaum yang lebih lemah dan sering diperlakukan tidak adil. Tuhan ingin ada keadilan.

    Selain itu,  kita belajar satu hal yang sangat mendasar bahwa masalah keharmonisan hubungan suami istri merupakan masalah yang penting, sehingga Tuhan sangat memerhatikannya. Untuk menyelesaikan perkara suami yang cemburu (curiga) dengan istrinya, perlu  diselesaikan bukan hanya oleh kedua belah pihak, tetapi juga melalui keterlibatan seorang imam.

    Sahabat, perlu saya garis bawahi bahwa kita juga dapat satu pelajaran yang penting bahwa Tuhan sejak awal sangat memerhatikan masalah kesetaraan antara kaum laki-laki dan perempuan.


    Bagi kita sebagai orang percaya yang hidup pada masa kini, kita juga perlu menyadari bahwa masalah keharmonisan hubungan suami istri itu sangat penting dan serius karena dampaknya tidak hanya terkait  pada ketenteraman hidup sepasang suami istri, tetapi juga pada anak,  keluarga besar, dan gereja.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong bagikan pengalamanmu pribadi,  kalau ada masalah dalam keluargamu, bagaimana cara kamu menyelesaikannya? Apa kamu pernah melibatkan gerejamu (cq. Gembala Jemaat) untuk ikut menyelesaikannya? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg).

  • Belajar MEMAHAMI BERKAT TUHAN

    Sahabat, sebagian besar orang berharap hidupnya diberkati oleh Tuhan. Itu hal yang manusiawi.  Tapi tahukah kita, mengapa Tuhan memberkati kita? Sesungguhnya kita dipanggil untuk menjadi berkat bagi sesama.  Kita tidak boleh hanya memikirkan diri kita sendiri saja. Intinya, kita tidak boleh egois,  kita tidak boleh hidup hanya bagi diri sendiri dan untuk diri sendiri.  Kita dipanggil, diselamatkan dan diberkati oleh Allah supaya kita juga bisa menjadi berkat bagi bangsa-bangsa.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Belajar MEMAHAMI BERKAT TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 67:1-8. Sahabat,  Pemazmur mengetahui bahwa berkat itu bukan hanya untuk dirinya. Pemazmur paham betul bagaimana seharusnya ia mengelola berkat yang asalnya dari Tuhan itu.

    Sahabat, pelajaran apa yang hendak disampaikan oleh Pemazmur dari Mazmur 67? Ada 4 pelajaran penting yang hendak disampaikan oleh Pemazmur kepada kita. Pertama, berkat itu sumbernya dari Allah. Dalam Mazmur 67, kita menemukan ada tiga kali diulang oleh Pemazmur tentang Allah memberkati kita (ayat 2, 7-8). Dalam Alkitab ketika sebuah kata diulang-ulang, maka hal itu menunjukkan bahwa ada yang sangat penting untuk diperhatikan.

    Itu sebabnya, ketika Pemazmur berkata Allah memberkati kita, maka hal itu ingin ditegaskan oleh Pemazmur bahwa Allah itu sumber berkat dalam hidup kita. Sumber berkat itu tidak ada pada yang lain. Kita tidak bisa mengandalkan kekuatan-kekuatan dunia ini untuk memberi berkat kepada kita. Pemazmur menegaskan bahwa sumber berkat dalam hidup kita hanya satu yaitu Allah.

    Kedua, mintalah berkat itu kepada Allah. Setelah kita mengerti dan memahami bahwa Allah itu sumber berkat bagi hidup kita, maka sudah seharusnya kita meminta berkat dari Allah saja. Pemazmur menegaskan, “Kiranya Allah mengasihani kita dan memberkati kita, kiranya Ia menyinari kita dengan wajah-Nya” (ayat 2). Bagian firman Tuhan itu menyatakan dengan jelas bahwa Pemazmur meminta berkat kepada Allah bagi hidupnya karena dia tahu bahwa Allah itu sumber berkat.

    Oleh karena itu, menjadi salah kalau kita sudah tahu bahwa Allah itu sumber berkat, sumber pertolongan, dan sumber kasih, tetapi kita meminta berkat kepada pihak lain. Perbuatan tersebut dalam pandangan Allah merupakan perbuatan dosa.

    Ketiga, kita pasti diberkati oleh Allah. Pemazmur menegaskan, “Tanah telah memberi hasilnya; Allah, Allah kita, memberkati kita. Allah memberkati kita; …” (ayat 7-8a). Bagian firman Allah ini menunjukkan bahwa Allah memberkati umat-Nya. Ketika kita mengetahui bahwa Allah itu sumber berkat bagi hidup kita dan ketika kita meminta berkat dari Dia, maka Allah sendiri pasti memberkati kita.

    Keempat, kita harus menjadi berkat bagi orang lain. Pemazmur dalam ayat 3-6 menegaskan bahwa ketika mereka diberkati oleh Allah, maka mereka tidak menikmati berkat itu hanya untuk diri mereka saja. Melainkan mereka membagi berkat itu kepada orang lain, kepada suku lain dan kepada bangsa-bangsa lain.

    Sahabat, kita harus menjadi berkat bagi orang lain. Kita  harus membagikan berkat rohani, keselamatan di dalam Yesus Kristus kepada orang lain. Lalu kita juga harus menjadi saluran berkat materi bagi orang lain. Itulah yang Allah kehendaki dari hidup kita sebagai umat-Nya.

    Sudahkah hari ini kita menjadi berkat bagi sesama? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg).

  • SEMUA dibutuhkan SEMUA penting

    Di sebuah dusun yang gemah ripah loh jinawi, hiduplah  tujuh orang kakak beradik, laki-laki semua. Kedua orangtua mereka sudah dipanggil Tuhan.  Setiap hari, enam orang bersaudara tersebut pergi ke ladang dan si bungsu tinggal di rumah. Selama kakaknya bekerja, ia membersihkan rumah dan memasak. Jadi, waktu saudaranya pulang, mereka bisa langsung menikmati makanan dan beristirahat.

    Sahabat, suatu ketika, kakak kedua melihat bahwa setiap kali mereka sampai di rumah, tubuhnya begitu kotor oleh lumpur dan sangat letih. Sebaliknya, sang adik, si bungsu terlihat santai, tidak dibebani banyak pekerjaan. Akhirnya, ia menyuruh adiknya itu ikut ke ladang juga. Tapi, saat tiba di rumah sore harinya, mereka semua mendapati tidak ada makanan di meja, rumah pun tak terurus, berantakan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “SEMUA dibutuhkan SEMUA penting”, Bacaan Sabda pada hari saya ambil dari Kitab Bilangan 3:1-51. Sahabat, Tuhan mengkhususkan suku Lewi untuk pelayanan di kemah suci, mendukung pelayanan keimaman yang dipercayakan kepada keluarga Harun. Oleh karena itu orang Lewi tidak dipersiapkan untuk berperang melainkan untuk memastikan pelayanan ritual kemah suci yang diselenggarakan para imam dapat dilangsungkan dengan baik dan benar.

    Kekhususan suku Lewi ini ada hubungannya dengan penebusan Tuhan atas putra sulung dari bangsa Israel ketika mereka akan keluar dari Mesir. Semua putra sulung Mesir dibinasakan, sementara putra-putra sulung Israel diselamatkan (Keluaran 11-12) . Artinya, semua putra sulung Israel ialah milik Tuhan untuk melayani Tuhan di kemah suci-Nya. Maka, seluruh suku Lewi mewakili putra-putra sulung suku-suku lainnya untuk melayani Tuhan (ayat 12-13, 45).

    Pelayanan kaum Lewi diaturkan berdasarkan puak-puak (golongan-golongan) mereka, Gerson, Kehat, dan Merari. Setiap puak memiliki tugas khusus dalam pengelolaan kemah suci dan segala perabotannya. Pasal tiga dan empat kitab Bilangan ini kemudian mengatur secara terperinci tugas-tugas masing-masing puak. Pengaturan ini bertujuan agar penyelenggaraan pelayanan ritual kaum Harun tidak terganggu, justru terbantu olehnya.

    Sahabat, ketika Kemah Suci selesai dibangun, Allah memanggil Musa untuk membagi tugas kepada suku Lewi. Mereka mengurus segala hal yang berhubungan dengan Kemah Pertemuan: Bagian dalam, luar, perabotan, sampai penyelenggaraan ibadah.

    Setiap orang penting bagi pekerjaan Tuhan, apa pun tugas yang Allah tetapkan baginya. Tidak ada tugas yang sepele sekalipun hanya memelihara pasak atau mengangkat barang-barang kudus. Memasang dan membongkar kemah pun sama pentingnya dengan mempersembahkan kurban bakaran. Jika satu bagian tidak ada yang mengerjakan, bisa kacaulah segalanya.

    Sahabat, kisah ini memberi kita gambaran bahwa sekecil atau seringan apa pun tanggung jawab seseorang, ia punya peran yang besar. Semua dibutuhkan, semua penting.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pemahamanmu, menurut kamu siapa yang paling penting dan paling dibutuhkan di gerejamu: Gembala Jemaat, Majelis Jemaat, pemain musik, pemimpin pujian, penyambut tamu, pengedar kantong kolekte atau satpam? Mengapa? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg).

  • DAHSYATNYA kekuatan BERSYUKUR dan KEDAHSYATAN yang DISYUKURI

    Sahabat, kita sebagai orang percaya seharusnya memiliki hati yang senantiasa berlimpah dengan syukur.  Kata  senantiasa itu  berarti di segala situasi, bukan hanya saat-saat tertentu.  Mengucap syukur ketika keadaan sedang baik, enak, dan serba lancar,  itu mudah dilakukan, tapi bagaimana bila keadaan berbanding terbalik dengan yang kita harapkan?  Masihkah kita bisa mengucap syukur kepada Tuhan?  Tuhan menghendaki kita mengucap syukur dalam segala hal  (1 Tesalonika 5:18).

    Kita kadang tidak menyadari bahwa di balik pengucapan syukur ada kekuatan yang dahsyat, sebab saat kita mengucap syukur dalam segala keadaan, sesungguhnya  kita sedang mengaktifkan iman.  Kita harus percaya bahwa dalam segala perkara  (baik atau buruk)  Tuhan pasti turut bekerja untuk mendatangkan kebaikan bagi kita  (Roma 8:28), Bukan hanya berhenti sampai di situ, apakah kita memuji perbuatan Allah yang dahsyat? Hanya mereka yang menyadari dan mengalami saja yang akan memuji perbuatan-Nya yang dahsyat.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “DAHSYATNYA kekuatan BERSYUKUR dan KEDAHSYATAN yang DISYUKURI”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 66:1-20. Sahabat, dalam Mazmur 66, ada dua dasar pujian yang dinaikkan kepada Allah: Pertama, bangsa Israel memuji Allah karena Ia telah memimpin mereka keluar dari tanah Mesir (ayat 1-12). Pemazmur memberi dorongan: “Pergilah, pandanglah pekerjaan Tuhan” (ayat 5). Hal itu mengingatkan mereka akan peristiwa besar yang Allah lakukan pada waktu bangsa Israel keluar dari tanah Mesir. Ia membelah Laut Teberau menjadi tanah yang kering. Allah memerintah dengan perkasa (ayat 6-7).

    Sahabat, Allah telah memimpin umat Israel sedemikian rupa dalam penyertaan-Nya siang dan malam. Namun, di padang gurun umat Israel memberontak kepada Allah sehingga mereka dibuang ke Babel dan mengalami kesukaran. Mereka mengalami pengujian, ibarat seseorang memurnikan emas dan perak. Yang lulus ujian akan dibebaskan dari pembuangan. Mereka akan memperoleh tanah perjanjian (ayat 8-12).

    Sesungguhnya penyelamatan Israel merupakan bukti nyata agar bangsa-bangsa mengenal Tuhan dan memuji Dia. Sekalipun, umat itu tersebar ke seluruh bumi, hidupnya dipertahankan dan kakinya tidak goyah. Mereka tidak jatuh dan kehilangan identitas sebagai umat pilihan Allah karena Allah yang dahsyat menyertai mereka.

    Kedua, pujian syukur kepada Allah atas keluputan dan keselamatan yang dianugerahkan (ayat 13-20). Dalam kesulitan (ayat 14), Allah telah menolong dan menyelamatkan umat-Nya. Pemazmur berjanji akan memenuhi nazarnya, memuji-Nya dan memasyurkan perbuatan-Nya yang dahsyat (ayat 13-20). Ia akan masuk ke rumah Allah dan mempersembahkan kurban bakaran.

    Sahabat, ucapan syukur itu sangat sakral dan bukan ucapan kosong tanpa dasar. Ada banyak hal dahsyat yang Allah telah  kerjakan bagi kita, Kedahsyatan yang patut kita syukuri.  Kita harus yakin bahwa segala hal yang Allah perbuat itu demi kebaikan kita, maka kita patut senantiasa bersyukur. Sudahkah  kita bersyukur kepada Allah pada hari ini?

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah salah satu  perbuatan Allah yang dahsyat dalam hidupmu. Selamat sejenak merenung. Mari kita berdoa, “Bapa mampukan kami untuk senantiasa bersyukur kepadamu.” (pg).

  • HOME SWEET HOME

    Sahabat, RUMAH merupakan tempat kita  mengawali segalanya. Rumah adalah tempat yang penting bagi setiap orang. Rumah selalu dijadikan tempat beristirahat yang nyaman setelah melewati rutinitas yang melelahkan sepanjang hari.. Rumah juga  tempat berlindung dari cuaca alam yang tak menentu.

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rumah diartikan sebagiai bangunan untuk tempat tinggal. Ada idiom atau ungkapan bahasa Inggris, “home sweet home” yang bisa bermakna rumahku tercinta atau RUMAHKU SURGAKU. Bagaimana pun bentuknya rumah, di sanalah ada orang yang kita cintai menanti kedatangan kita:  Ayah, ibu, saudara, sahabat, istri, suami, dan buah hati.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “HOME SWEET HOME”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kitab Bilangan 2:1-34. Saat berada di padang belantara, bangsa Israel harus berjalan dan menempuh pengembaraan agar bisa memasuki Tanah Perjanjian. Pada masa itu, mereka harus berkemah karena mereka masih berpindah-pindah. Kendatipun demikian, Tuhan tidak pernah meninggalkan umat-Nya. Bangsa Israel tidak dibiarkan tercerai-berai, melainkan diatur dan disediakan tempat perkemahan sesuai dengan suku-suku mereka (ayat 2).

    Pada waktu mereka berdiam, Tuhan telah menetapkan di mana mereka memasangkan kemahnya  (ayat 3-6, 17-31).

    Sahabat, pada waktu mereka berangkat, Tuhan juga menetapkan bagaimana mereka berjalan (ayat 9, 16-17, 24, 31). Dengan demikian, ke mana pun mereka pergi, ada Kemah Pertemuan yang menunjukkan hadirnya Tuhan di tengah-tengah mereka.

    Ini berita baiknya: Perkemahan bangsa Israel memang berpindah-pindah, tetapi Tuhan, Allah mereka, tidak pernah berpindah dari umat-Nya. Hal ini membuat bangsa Israel merasa aman dan nyaman berada dekat dengan-Nya. Pasalnya, memang tidak ada tempat yang sempurna bagi mereka selain berada dekat dengan Tuhan-nya.

    Sahabat, Allah telah menetapkan tempat yang baik bagi kita. Ia tahu apa yang terbaik untuk umat-Nya. Ia adalah Allah yang akan selalu menjaga dan melindungi kita. Seharusnya inilah yang menjadi rumah kita. Bagi orang percaya, rumah sesungguhnya bukan berarti bangunan yang megah, tetapi hadirnya Tuhan di tengah-tengah kita. Waktu kita pulang ke rumah, itu berarti kita kembali kepada Tuhan yang menyediakan tempat peristirahatan.

    Mari kita bersyukur karena Tuhan sudah mau menjadi tempat kita beristirahat. Hanya kepada-Nya kita patut bersandar. Dialah satu-satunya tempat perlindungan yang aman yang memberi kita kedamaian dan ketenangan. Lebih dari rumah yang membuat kita betah dan kerasan, Tuhanlah yang menuntun dan memimpin kita di sepanjang perjalanan hidup kita sampai kita tiba di rumah-Nya. 

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pendapat dan pemahamanmu tentang rumah. Selamat sejenak merenung. Kebajikan dan kemurahan Tuhan mengikuti kita di sepanjang pengembaraan kita di dunia ini. (pg)

  • Belajar SENANTIASA BERSYUKUR

    Sahabat, ketika saat ini Covid-19 kembali mengganas di bumi Pertiwi, masihkah dari mulut kita mampu  berucap: “Syukur kepada Tuhan”.  Adalah mudah untuk bersyukur ketika kita dalam keadaan baik, tapi bagaimana jika keadaan berbalik 180 derajat:  Sakit, bangkrut, kesesakan, kesusahan, masalah, penderitaan, krisis,  dan gagal  yang  kita alami, masih sanggupkah kita mengucap syukur kepada Tuhan? 

    Dalam mengarungi  kehidupan ini tidak selamanya pelayaran yang kita tempuh selalu mulus dan tenang, kadang  bahtera  hidup kita harus mengalami hantaman ombak, angin topan, bahkan terjangan gelombang yang besar dan dahsyat. Kita perlu terus belajar untuk senantiasa bersyukur dalam segala kondisi dan situasi. 

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Belajar SENANTIASA BERSYUKUR”. Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 65:1-14. Sahabat, Mazmur 65 terdiri dari 3 bagian: Pertama:  Puji-pujian kepada Allah yang mendengar doa. Umat memasyhurkan Allah di Sion. Mereka datang kepada Allah (ayat 2-3). Di hadapan Allah, Daud sadar akan keberdosaannya dan Tuhan mengampuninya (ayat 4), lalu Daud memuji Allah: “Berbahagialah orang yang Kaupilih, yang Kaupanggil untuk diam di rumah-Mu (ayat 5).

    Allah telah memilih umat-Nya, namun mereka dapat jatuh ke dalam dosa. Dalam hal ini, kasih setia Tuhan lebih besar daripada keberdosaan manusia. Karena itu, Tuhan mengampuni, memulihkan, dan tetap memberkati umat-Nya.

    Kedua: Daud memuji Allah karena perbuatan-Nya yang dahsyat (ayat 6-9). Kedahsyatan itu dilakukan Tuhan dalam keadilan dan keperkasaan. Dari Sion, Allah mencurahkan berkat-Nya kepada semua orang. Mereka dipuaskan dengan segala hal yang baik. Karena itu, semua bangsa berharap kepada Tuhan.

    Ketiga: Tuhan memberkati ladang dan ternak (ayat 10-14). Tuhan memelihara tanah dengan hasil yang melimpah dan Ia memberkatinya. Tuhan menurunkan hujan sehingga padang rumput menjadi subur dan menghasilkan buahnya dengan limpah. Daud menyatakan bahwa semua ini karena berkat Allah.

    Sahabat, Daud mengakui kuasa Allah nyata atas segala sesuatu. Allah menopang dan menyuplai semua kebutuhan umat-Nya. Sudah seharusnya mereka bersyukur. Selayaknya sorak-sorai dan nyanyian syukur dinaikkan kepada Allah. Naikkanlah nyanyian syukur karena berkat Allah. Pujilah nama-Nya. Allah menyukai ucapan syukur umat-Nya. Semoga kita dengan penuh semangat senantiasa MENGGEMAKAN UCAPAN SYUKUR.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, Sahabat, tuliskanllah secara singkat pengalamanmu sendiri, apakah kamu bisa senantiasa bersyukur dalam segala situasi dan kondisi?  Selamat sejenak merenung.  Yakinlah,
    Tuhan selalu punya rencana yang baik bagi kita  di setiap keadaan, karena itu tetaplah bersyukur! (pg)

  • Menjawab PANGGILAN TUHAN

    Sahabat, ketika kita sudah menjadi ciptaan baru  di dalam Kristus, kita telah dipanggil Tuhan; jadi kita mendapat panggilan Ilahi atas hidup kita untuk memenuhi rencana dan tujuan khusus yang telah Dia tetapkan bagi kita. Bahkan sebelum kita menjadi anak-anak Tuhan, panggilan itu sudah ada, “Sebab di dalam Dia Allah telah memilih kita sebelum dunia dijadikan, supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.” (Efesus 1:4)

    Kita patut berbahagia karena Tuhan telah memilih kita sebagai alatNya, namun sangat memprihatinkan bila sampai saat ini ada cukup banyak di antara kita yang belum menjawab panggilan itersebut.  Sesungguhnya kita tidak dapat lari dari panggilan Tuhan, “Sebab Allah tidak menyesali kasih karunia dan panggilan-Nya.” (Roma 11:29). Itu berarti Allah tidak akan pernah mengubah atau membatalkan keputusanNya tentang kasih karunia dan panggilan yang telah Ia tentukan sejak dari semula terhadap kita. Karena iitu mari kita menjawab panggilan Tuhan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Menjawab PANGGILAN TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 1:47-50. Sahabat, Musa mencatat bahwa orang-orang Lewi  tidak ikut dihitung dan dicatat bersama suku-suku lain yang ditugaskan oleh Tuhan untuk berperang (ayat 47).

    Orang Lewi dikhususkan untuk tujuan melayani Tuhan sebagai imam-Nya. Mereka bertanggung jawab dalam tugas pengawasan Kemah Suci, mengangkatnya, mengurusnya lengkap dengan segala perabotannya serta berkemah di sekelilingnya (ayat 50). Mereka dikecualikan dalam sensus, bukan karena lebih baik atau lebih buruk daripada suku-suku lain di Israel, tetapi karena mereka diberi panggilan yang berbeda (ayat 49). Kemah Suci itu simbol kehadiran Allah, sehingga wajib ada yang mengurusnya secara sepenuh waktu. Tidak sembarang orang yang ditentukan dalam panggilan kudus ini. Terutama dalam kesehariannya, mereka harus menjaga diri untuk selalu ada dalam kekudusan hidup.

    Tuhan sudah menentukan panggilan untuk kita masing-masing menurut kapasitas kita dan kehendak-Nya. Setiap panggilan yang dianugerahkan-Nya bagi kita itu unik dan mulia. Mari menjalani dengan bersungguh-sungguh dan bersyukur akan setiap panggilan yang kita miliki, meski seolah-olah seperti pekerjaan yang kurang berarti dan kurang mendapat tempat di pandangan masyarakat umum.

    Sahabat, di sepanjang hidup kita, panggilan Tuhan itu akan terus menggema dan menyertai kita sebagai tugas yang diamanatkan kepada kita, sebab pada hari penghakiman nanti kita harus mempertanggungjawabkan panggilan itu, “Demikianlah setiap orang di antara kita akan memberi pertanggungan jawab tentang dirinya sendiri kepada Allah.” (Roma 14:12). Tidak bisa kita bayangkan betapa malunya kita di hadapan Tuhan Yesus bila selama hidup di dunia kita tidak melakukan apa-apa bagi Tuhan, padahal Dia telah memperlengkapi kita dengan karunia dan talenta yang bermacam-macam, tetapi kita telah menyia-nyiakannya.

    Sahabat, apakah engkau sudah menemukan panggilan Tuhan dalam hidupmu? Bagaimana tanggapanmu? Bagikankanlah pengalamanmu dalam menanggapi panggilan Tuhan dalam hidupmu. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)

  • POHON KELUARGA

    Saya punya teman sepelayanan yang senang membuat pohon keluarga. Apa itu pohon keluarga? Pohon keluarga atau silsilah keluarga adalah bagan yang menunjukkan hubungan antar anggota keluarga. Berdasarkan anggotanya, pohon keluarga terbagi menjadi dua jenis, yaitu pohon keluarga keluarga inti dan pohon keluarga besar. Pohon keluarga dari garis ayah dan pohon keluarga dari garis ibu.

    Sahabat, tentu usaha untuk membuat silsilah keluarga  tidak mudah. Si pembuat perlu mengurutkan tiga atau empat generasi sebelumnya. Selain itu, mereka harus bisa mengetahui berapa banyak jumlah keturunan, baik yang masih hidup maupun yang sudah dipanggil Tuhani. Tugas ini tentu sangat dibutuhkan ketelitian, keuletan dan usaha yang gigih.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Pohon Keluarga”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 1:1-54. Sahabat,  Kiktab Bilangan menceritakan perjalanan bangsa Israel di padang gurun setelah mereka keluar dari Mesir. Kondisi mereka yang semula hidup sebagai budak memerlukan perubahan.

    Kasih sayang Allah kepada bangsa Israel tampak dalam firman-Nya kepada Musa di padang gurun Sinai untuk menghitung semua laki-laki (ayat 2) yang berumur 20 tahun ke atas dan yang sanggup berperang (ayat 3) serta menunjuk pendamping Musa dan Harun, yaitu para kepala suku Israel (ayat 4-16).

    Kemudian Musa dan Harun menyusun silsilah orang-orang Israel menurut kaum-kaum yang ada dalam setiap suku mereka (ayat 17-54). Sahabat, kita perlu memahami penghitungan keturunan Israel ini dari perspektif pembentukan sebuah bangsa. Pada saat itu, bangsa Israel memerlukan pemimpin dan angkatan perang untuk mempertahankan diri. Angkatan perang bangsa Israel ini adalah mantan budak. Perubahan dari budak menjadi laskar sangat penting, mengingat adanya tantangan yang mengancam keberadaan bangsa Israel.

    Allah menata bangsa Israel sedemikian rupa sehingga mengesankan sebagai bangsa yang rapi tersusun dan teratur. Melalui penghitungan ini, Allah menyusun barisan orang-orang Israel menjadi lebih terstruktur, lebih tertata. Allah mempersiapkan mereka untuk melakukan perjalanan di padang gurun dan memasuki Tanah Perjanjian.

    Sahabat, kita sebagai komunitas orang percaya pada masa kini juga merasakan pemeliharaan-Nya. Kita ditempatkan di negera Indonesia yang plural, yang beragam agamanya, adat istiadatnya, sukunya, dan bahasa daerahnya. Tantangan kita saat ini adalah menjadi umat yang mampu bersatu dalam satu barisan pembawa damai. Bersama dengan umat beragama yang lain, kita bisa berkontribusi untuk menghadirkan suasana aman dan damai. Dengan mengedepankan gaya hidup cinta damai, kita menjadi komunitas pembawa damai.  Kita perlu lebih banyak merangkul  perbedaan ketimbang memusuhinya. Jadi, masuki barisan sebagai prajurit pembawa damai.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikankanlah pengalamanmu bersama keluargamu dalam usaha untuk membuat pohon keluarga. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)