Category: Sejenak Merenung

  • BERIMAN dan BERUSAHA

    Saya dan istri kalau tidak ada halangan, setiap Senin – Jumat, mengirimkan renungan singkat kepada beberapa orang sahabat yang sedang sakit atau sedang menjani masa pemulihan.  Kepada mereka, sering kami mengingatkan, ketika kita sedang sakit atau menjalani pemulihan hendaklah kita memperhatikan dan melakukan hal-hal berikut: BERIMAN, Berdoa, BERUSAHA, , Bersabar, dan bersyukur (kami singkat menjadi 5B).

    Sahabat, ada orang percaya yang ketika dia sedang sakit hanya beriman saja, dia tidak mau berusaha. Menurut dia, kalau berusaha itu berarti kita tidak beriman. Dia tidak mau mengunjungi dokter, tidak mau berobat ke rumah sakit, bahkan dia tidak mau minum obat. Dia hanya berdoa saja. Bagi kami, beriman dan berusaha itu bukan dua hal yang harus  dipertentangkan. Justru dua-duanya perlu dilakukan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “BERIMAN dan BERUSAHA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 10:11-36 dengan penekanan pada ayat 29-33. Sahabat,  bangsa Israel berjalan mengikuti susunan yang sudah ditetapkan oleh Tuhan. Musa mengajak serta iparnya, Hobab, yang saat itu hendak kembali ke negerinya. Alasannya: Hobab tahu banyak dan menguasai betul  medan perjalanan yang akan mereka lalui, “Janganlah kiranya tinggalkan kami, sebab engkaulah yang tahu, bagaimana kami berkemah di padang gurun, maka engkau dapat menjadi penunjuk jalan bagi kami (ayat 31)

    Apakah itu berarti Musa tidak lagi percaya akan tuntunan Allah dalam bentuk Tiang Awan? Sama sekali tidak. Musa tetap percaya dan taat akan pimpinan Tuhan. Musa mengajak Hobab yang sangat menguasai medan  perjalanan untuk menerjemahkan tuntunan dari Tiang Awan. Hobab diminta untuk memberikan arah, petunjuk detail mengenai medan yang akan mereka lalui. Termasuk hal-hal apa yang perlu mereka perhatikan, waspadai dan hindari.

    Sahabat, Musa seorang pemimpin yang beriman dan berusaha. Musa mengetahui dan menyadari bahwa ada bagian yang Allah lakukan, tetapi ada bagian yang harus dia dan bangsa Israel lakukan.

    Tabut perjanjian Allah berjalan mendahului barisan umat Allah. Dalam setiap titik perhentian dan perjalanan, Musa selalu mengucapkan pengakuan atas pimpinan dan penyertaan Tuhan atas mereka. Pengakuan ini mengingatkan bahwa perjalanan yang sedang mereka tempuh bukan persoalan mengenai bangsa Israel yang sedang meraih mimpi dan keinginannya, melainkan tentang Tuhan yang memimpin langkah mereka.

    Sahabat, fakta ini kian menegaskan bahwa Allah selalu hadir dan sungguh-sungguh menyertai dalam perjalanan hidup umat-Nya. Tidak ada titik di mana penyertaan Allah terlewatkan dari pergumulan dan sukacita kehidupan kita! Kita juga diingatkan bahwa selalu ada bagian yang Allah lakukan, tapi juga ada bagian yang harus kita lakukan. Sesungguhnya beriman dan berusaha merupakan dua hal yang berjalan beriring.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong tuliskan secara singkat pemahamanmu tentang beriman dan berusaha berdasarkan pengalamanmu bersama dengan Tuhan dalam keseharianmu. Selamat sejenak merenung. Tuhan menyertai dan memberkati. (pg) 

  • KRITERIA yang DIDOAKAN

    Kesejahteraan rakyat sangat bergantung kepada pemimpin. Seorang pemimpin yang  berkualitas, bijaksana dan mempunyai integritas, akan membawa kebaikan dan kemakmuran bagi rakyat yang dipimpinnya.

    Sahabat, sangat tidak mudah memimpin bangsa yang besar dan penuh keberagaman seperti Indonesia. Oleh karena itu, kita perlu mendoakan para pemimpin kita. Kita perlu mendukung pemerintah dan program kerjanya. Akan tetapi, kita juga perlu bersikap kritis. Kritis supaya keadilan, kebenaran, kemakmuran, dan kesejahteraan bagi seluruh rakyat dapat semakin mewujud.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “KRITERIA yang DIDOAKAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 72:1-20. Sahabat, Mazmur 72  disebut sebagai doa harapan Salomo untuk raja. Sangat menarik dalam doanya ternyata terkandung kriteria-kriteria seorang raja yang diharapkan. Dalam doanya, Pemazmur memohon agar Tuhan mengaruniakan keadilan (ayat 2 dan 4) dan kebenaran (ayat 3) kepada raja dalam memerintah. Kriteria bagi raja yang didoakan dan diharapkan yaitu raja dapat memerintah dengan memberlakukan keadilan dan kebenaran. 

    Sahabat, lebih lanjut Pemazmur mendoakan agar dalam memerintah raja berpihak pada orang-orang yang lemah, orang-orang yang tertindas, dan orang-orang yang miskin (ayat 12-14).

    Pemazmur mendoakan agar raja dalam memerintah sangat mengedepankan pemerintahan yang bersih dan transparan, tidak korup, bahkan meremukkan para pemeras, menghabisi para koruptor (ayat 4-b).

    Sahabat, Pemazmur berharap dan berdoa agar raja lebih mementingkan nama baik, integirtas lebih daripada kekayaan, kejayaan, dan kepopuleran (ayat 17).

    Lebih lanjut Pemazmur berdoa agar raja memperoleh pemerintahan yang tiada terbatas (ayat 8-11). Ia memohon agar raja memiliki belas kasihan kepada rakyatnya yang miskin dan tertindas (ayat 12-14), serta dikenal dan memperoleh berkat yang tidak berkesudahan, yaitu hikmat dan kemakmuran (ayat 15-17).

    Seorang pemimpin yang baik, memimpin dengan penuh hikmat. Oleh karena itu, Pemazmur mendoakan agar raja diberkati dengan hikmat dan berkat kemakmuran yang dari Allah saja. Pada bagian akhir, Pemazmur menaikkan pujian kepada TUHAN, Allah Israel (ayat 18-20).

    Sahabat, penggenapan seorang raja seperti yang didoakan Pemazmur tidak dapat ditemukan di antara umat manusia. Bagian ini justru sangat dekat dengan nubuatan Mesias yang terdapat dalam Yesaya 11:1-5; 60-62. Hanya di dalam diri Mesias, kriteria, karakter dan kepemimpinan raja yang sempurna, benar, adil dan kekal serta tidak terbatas dapat ditemukan.

    Bersyukur atas anugerah TUHAN. Mari doakanlah agar Tuhan mengaruniakan kepada para pemimpin kita, baik di pemerintahan maupun keagamaan: Keadilan, kehormatan, dan hikmat yang dari Tuhan sehingga mereka dapat memimpin dengan bijaksana dan takut akan Tuhan.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikan hasil analisamu, apa saja yang sedang diperjuangkan dan dijalankan oleh pemerintahan presiden Jokowi saat ini. Selamat sejenak merenung. Doakan dan dukunglah program-program kerja pemerintah kita saat ini. (pg).

  • Pergumulan dan Pengharapan ASAF

    Kehidupan orang percaya selalu penuh dengan tantangan, termasuk tantangan dalam diri sendiri yang cenderung untuk mudah iri hati kepada orang yang menikmati hidup secara duniawi. Dari zaman dulu sampai zaman now, ada cukup banyak orang percaya merasa iri hati kepada orang fasik yang hidupnya sepertinya penuh dengan kemakmuran, keberkatan, keberhasilan, kelancaran, dan kenyamanan.

    Sahabat, lalu apa yang harus kita lakukan ketika jatuh pada pemikiran yang seperti itu dan tergoda untuk hidup seperti orang fasik? Kita perlu terus belajar dari pergumulan dan pengharapan ASAF.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Pergumulan dan Pengharapan ASAF”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 73:1-28. Sahabat, Asaf, penulis banyak Mazmur, seorang kepala pemimpin pujian yang diangkat Raja Daud (1 Tawarikh 16:5), juga bergumul dengan kenyataan tersebut. Ia memperhatikan kejayaan orang-orang fasik dengan banyak kemujuran (ayat 3b), sehat-sehat (ayat  4), tidak mengalami kesusahan (ayat 5). Karenanya mereka menjadi sombong dan terus dalam kejahatan mereka (ayat 7-9), bahkan mengira Allah tidak mengetahuinya (ayat 11).

    Asaf, seorang yang berhati tulus dan mengandalkan Tuhan (ayat 13), mulai ragu akan imannya. Imannya sempat goyah. Ia merasa kesetiaannya sia-sia belaka (ayat 13), dan ia nyaris tergelincir (ayat 2).

    Berita baiknya, pada akhirnya  Asaf memutuskan tetap setia dan  mencari Allah (ayat 17), serta berpegang kepada-Nya, sekalipun banyak hal tak dipahaminya (ayat  22-23). Ia berserah pada tuntunan Allah yang membawanya pada kemuliaan (ayat  24). Ia sadar bahwa miliknya yang paling berharga adalah Allah yang kekal (ayat  25-26). Ia pun mengerti bahwa situasi “makmur dan mujur” yang mereka alami itu bersifat sementara, suatu jerat, karena mereka ada “di tempat-tempat licin” (ayat 18a), serta akan berakhir dalam kehancuran dan kebinasaan (ayat 18b-20).

    Sahabat, sekalipun kita menghadapi banyak hal sulit yang tidak kita mengerti, seperti Asaf, hal terbaik yang perlu kita lakukan adalah mendekat kepada Allah dan menjadikan-Nya tempat perlindungan kita (ayat  28). Mari berpaut erat pada Allah agar kita tidak tergelincir di jalan licin kehidupan.

    Bagaimana pun keadaannya, biarlah kita senantiasa menjaga hubungan kita dengan Tuhan.  Memang saat kita semakin melekat kepada Tuhan bukan berarti keadaan kita langsung berubah seketika, tetapi justru kita sendiri yang akan diubahkan oleh Tuhan.  Kita akan diangkat masuk ke dalam kemuliaan-Nya.  Oleh karena itu jangan pernah iri hati kepada keberhasilan orang-orang di luar Tuhan. 

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, coba ceritakan secara singkat pergumulanmu ketika kamu tahu ada temanmu  yang hidupnya tidak lurus dan tidak bersih, tapi justru  perjalanan hidupnya nampak begitu mulus, berhasil dan berkelimpahan.  Selamat sejenak merenung. Tuhan menolong, melindungi, dan memberkati. (pg)

  • TUHAN menyiapkan GPS

    Saat ini orang-orang yang bepergian, orang-orang yang bekerja sebagai Ojek Online dan Taksi Online sangat tertolong dengan adanya Global Positioning System (GPS). Dengan adanya GPS kita dapat memperoleh petunjuk jalan-jalan yang harus kita lalui, rute yang harus kita tempuh untuk bisa sampai ke tempat tujuan.

    Sahabat, sesungguhnya Tuhan telah menyiapkan “GPS” untuk kita semua, supaya kita bisa sampai ke tempat tujuan akhir hidup kita yaitu surga. Sesungguhnya Tuhan bukan hanya menunjukkan arah, tetapi juga menyertai sepanjang pengembaraan kita di dunia ini.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “TUHAN menyiapkan GPS”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 9:15-23. Sahabat, kitab Bilangan 9 terdiri dari 2 perikop. Pertama: “Ketetapan-ketetapan mengenai perayaan Paskah” (ayat 1-13) dan kedua: “Tiang awan memimpin perjalanan Israel” (ayat 15-23).

    Sahabat, setelah keluar dari Mesir, bangsa Israel mengembara di padang gurun. Selama perjalanan, Tuhan menuntun mereka dengan dua cara. Pertama, Kemah Suci sebagai lambang kehadiran Tuhan (Bilangan 1:47-53). Kedua, Tiang Awan (saat siang) dan Tiang Api (saat malam) sebagai wujud penyertaan Tuhan (ayat 15-16).

    Sesungguhnya, Tiang Awan bukan hanya berperan menjadi penunjuk arah, tetapi juga menjadi penunjuk waktu, kapan bangsa Israel harus bergerak dan kapan bangsa Israel harus diam. Kapan pun Tiang Awan bergerak, bangsa Israel juga mulai berjalan. Jika Tiang Awan berhenti, bangsa Israel akan diam untuk berkemah (ayat 17-19).

    Sahabat, kehadiran dan penyertaan Tuhan merupakan bukti dari janji Allah kepada Musa yang akan menuntun bangsa Israel dalam perjalanan mereka ke Tanah Perjanjian. Bangsa Israel perlu belajar untuk melepaskan semua ikatan dan ketergantungan kepada Mesir. Itulah sebabnya perjalanan di padang gurun diperlukan untuk menggembleng iman mereka.

    Selain itu Tiang Awan menunjukkan bahwa Tuhanlah yang membawa mereka keluar dari Mesir. Ia tidak hanya menjanjikan Tanah Perjanjian, tetapi juga menyertai dan melindungi mereka secara langsung.

    Sahabat, pada umumnya agama memang mengajarkan bagaimana cara manusia menggapai Allah. Namun, konsep tersebut  tidak ada dalam kekristenan. Alkitab menegaskan bahwa Allahlah yang berinisiatif hadir dan terlibat dalam kehidupan umat-Nya. Tuhan hadir dalam setiap bagian kehidupan umat-Nya. Ia tidak hanya jauh “di sana” (transenden), tetapi juga hadiri “di sini” (imanen) dalam realitas pergumulan konkret manusia. Tuhan Yesus Kristus akan senantiasa menyertai kita (Matius  1:23 dan 28:20).

    Penyertaan Allah bukan sebuah target yang harus diraih atau dikejar. Penyertaan-Nya merupakan relasi yang perlu terus dipelihara melalui iman. Tuhan Yesus menjadi bukti nyata kehadiran dan keterlibatan Allah dalam hidup kita (Yohanes 1:18). Kita perlu memohon kepada Tuhan untuk menyingkapkan mata rohani kita agar kita dapat melihat penyertaan dan tuntunan-Nya di setiap langkah kita dan dalam setiap detik kehidupan kita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, saksikanlah pengalaman hidupmu sendiri bagaimana Tuhan menuntun hidupmu di sepanjang hidup. Selamat sejenak merenung. Yakinlah: Sahabat, Tuhan siap menuntunmu di sepanjang pengembaraanmu di dunia ini. Dia telah menyiapkan “GPS” bagi kita. (pg)

  • Memasuki dan Menjalani MASA PENSIUN

    Sahabat, beberapa ahli mendefinisikan dan menjelaskan  bahwa pensiun adalah proses pemisahan individu dari pekerjaannya, dimana dalam menjalankan perannya seseorang digaji. Masa pensiun akan mempengaruhi aktivitas seseorang, dari situasi kerja ke situasi di luar pekerjaan. Pensiun dapat dijelaskan sebagai suatu masa transisi ke pola hidup baru, atau merupakan akhir pola hidup.  Transisi ini meliputi perubahan peran dalam lingkungan sosial, perubahan minat, nilai dan perubahan dalam segenap aspek kehidupan seseorang. Seseorang yang memasuki masa pensiun, dapat mengarahkan hidupnya untuk mengerjakan aktivitas lain, atau dapat juga sama sekali tidak mengerjakan aktivitas tertentu lagi.

    Lebih jauh para ahli menyampaikan bahwa pensiun akan memutuskan seseorang dari aktivitas rutin yang telah dilakukan selama bertahun-tahun. Rantai sosial yang sudah terbina dengan rekan kerja juga terputus. Paling fatal adalah pensiun akan menghilangkan identitas seseorang yang sudah melekat begitu lama. Selain itu pensiun menempati peringkat 10 sebagai penyebab stress dan depresi. Lebih jauh para ahli mengatakan bahwa pensiun dapat menyebabkan masalah penyakit terutama gastrointestinal, gangguan saraf, dan berkurangnya kepekaan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Memasuki dan Menjalani MASA PENSIUN”,  Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kitab Bilangan 8:23-26.  Sahabat, bacaan kita pada hari ini menjelaskan  bahwa pensiun itu sudah diatur sejak dulu, batas usia pensiun pada waktu itu 50 tahun. Beginilah Tuhan mengaturnya: Bahwa usia produktif,  wajib bertugas, bagi orang Lewi  yaitu antara 25-50 tahun. Ia bekerja pada Kemah Pertemuan.Tetapi mulai usia 50 tahun, orang Lewi dibebaskan dari pekerjaannya, sehingga ia tidak usah bekerja lebih lama lagi.

    Bagi  yang sudah pensiun, ia masih  boleh membantu saudara-saudaranya yang masih aktif di Kemah Pertemuan dalam menjalankan tugasnya, tetapi tidak usah lagi ia menjabat pekerjaan tersebut.  

    Iitu artinya di atas usia 50 tahun  seorang dibebaskan, artinya karena sudah berjasa, ia dibebaskan dari tanggung jawab berat agar bisa menikmati masa tuanya. Bukan berarti ia tidak berguna lagi. Jika masih bisa, ia boleh berperan atau membantu, tetapi tidak harus menjadi pejabat resmi. Ia bisa menjadi tutor atau penasihat, karena pengalamannya.

    Sahabat, memang kita bukan orang Lewi, tetapi dalam konteks Perjanjian Baru, kita semua adalah hamba Tuhan. Jadi bagaimana kita menyikapi masa pensiun? Jangan takut memasukinya. Tanggapi secara positif dengan menerima, mensyukuri, dan memanfaatkannya. Banyak hal masih bisa kita lakukan. Agar tidak pikun, frustrasi, atau kesepian; tetaplah hidup dalam komunitas orang percaya, kembangkan bakat dan hobi, untuk tetap dapat menjadi berkat bagi keluarga dan sesama.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pemahamanmu apa itu pensiun? Menurut kamu apa saja yang harus kita persiapkan dan  lakukan untuk memasuki dan menjalani masa pensiun? Selamat sejenak merenung.  Mari kita berdoa: “Bapa, pakailah hidup hamba selagi masih kuat. Walau usia terus bertambah, biarlah hidupku tetap menjadi berkat.” (pg)

  • Sumber PENGHARAPAN yang PASTI dan ABADI

    Sahabat, mengawali musim tanam, para petani disibukkan dengan pekerjaan mempersiapkan lahan agar siap ditanami benih padi atau yang lain. Perlu tenaga dan biaya yang besar. Namun, kesulitan tersebut  tidak merintangi para petani untuk melakukan pekerjaan mereka dengan tekun. Mereka memiliki impian dan harapan yang besar: Ketika musim panen tiba mereka akan menerima imbalan yang setimpal dengan kerja keras yang telah dilakukan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Sumber PENGHARAPAN yang PASTI dan ABADI”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 71:1-24. Sahabat,  bagi banyak orang, masa tua diharapkan menjadi masa istirahat dan menikmati hasil kerja keras selama ini, masa dapat hidup dengan santai dan tanpa banyak pergumulan. Namun tidak demikian bagi Daud.

    Sahabat, pada masa tuanya, Daud masih mengalami pergumulan yang berat,  ada orang-orang yang masih menginginkan kecelakaannya (ayat 2-4). Meski hal itu menyusahkan hati Daud, namun ia tetap yakin Allah tidak melupakannya. Ada begitu banyak bukti dari pengalaman Daud bersama dengan Tuhan yang membuktikan bahwa Allah menolong dan melindunginya melewati berbagai kesusahan dan malapetaka (ayat 17, 19-21). Jejak-jejak pengalaman Daud ditolong dan dilindungi Allah itu membuat Daud meyakini bahwa Allah yang ia sembah adalah Allah yang setia (ayat 22).

    Dalam pandangan Daud, Allah itu penolong dan pelindung yang setia. Oleh karena itu, kepada Allah yang demikianlah Daud memohon perlindungan di masa tuanya. Sebagaimana Allah telah memelihara hidupnya dari sejak kecil (ayat 17), Daud percaya sampai masa tuanya pun Allah tidak meninggalkannya (ayat 18). Karena itu, Daud punya alasan untuk tetap bersorak-sorai dan memuji kesetiaan Allah dalam hidupnya, meski di tengah pergumulan sekalipun (ayat 23).

    Sahabat,  dalam menjalani kehidupan ini akan lebih indah ketika kita meletakkan PENGHARAPAN hanya kepada Tuhan. Bersama dengan Tuhan, kita dimampukan menjalani setiap proses kehidupan dengan baik, sesuai dengan rencana-Nya dalam kehidupan kita. Untuk itu, JANGAN PERNAH BERHENTI BERHARAP. Tuhan adalah sumber dan tempat pengharapan kita. Dia akan memberikan yang terbaik pada masa sekarang dan pada masa mendatang. Tuhan itu sumber pengharapan yang pasti dan abadi.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pengalamanmu bersama dengan Tuhan dalam keseharianmu, apakah Tuhan memang menjadi sumber pengharapan yang pasti dan abadi bagi dirimu dan keluargamu? Selamat sejenak merenung. Yakinlah: BERHARAPLAH hanya kepada TUHAN yang SENANTIASA MEMBERIKAN PERLINDUNGAN dan PERTOLONGAN tepat pada waktunya. (pg)

  • NAMAKU TERCATAT

    Sahabat, dalam masa Pandemi Covid-19 seperti saat ini, kita merasa bahagia kalau nama kita tercatat di aplikasi PeduliLindungi. Apalagi kalau di aplikasi tersebut ada sertifikat yang menyatakan bahwa kita sudah menjalani vaksin dosis 1, 2, dan 3. Kita akan lebih bebas untuk masuk ke mal, rumah sakit, restoran, dan area publik lainnya.

    Sesungguhnya  kita akan lebih berbahagia jika nama kita sudah tercatat di kitab kehidupan Anak Domba karena kita akan dapat masuk surga untuk menikmati kehidupan kekal di sana bersama Sang Gembala Agung.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “NAMAKU TERCATAT”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kitab Bilangan 7:1-89 dengan penekanan pada ayat 2. Sahabat,  kitab Bilangan 7 berbicara mengenai persembahan-persembahan yang harus dibawa masing-masing suku ke kemah suci, untuk digunakan oleh kaum Lewi dalam menjalankan tugas mereka dalam pelayanan kemah suci.

    Pertama-tama, persembahan bersama kedua belas suku untuk kaum Lewi (ayat 3-9). Persembahan yang berupa 6 kereta dan 12 lembu bisa langsung digunakan oleh masing-masing puak sesuai tugasnya. Namun, persembahan yang berikut itu menyangkut penahbisan mezbah yang akan digunakan untuk ritual secara regular. Di sini ayat 12-83 mencatat setiap suku memberikan sejumlah harta mereka, perabotan emas dan perak, serta sejumlah ternak mereka, dalam suatu ritual yang berlangsung selama 12 hari berturut-turut. Kemudian disimpulkan ulang di ayat 84-88.

    Sahabat, mengapa pencatatan itu begitu detail dan mengulang persis sama? Mungkin buat sebagian besar dari kita merasa bosan membacanya karena monoton dan mengulang-ulang (seperti copy paste).  Namun, bagi kedua belas suku Israel, pencatatan itu menyatakan bahwa setiap suku berharga di mata Tuhan, dan setiap suku dengan antusias memberikan persembahan masing-masing. Kelak ketika kitab Bilangan ini dibacakan dari generasi ke generasi, setiap angkatan dari masing-masing suku akan memasang telinga mereka baik-baik, mengantisipasi nama suku mereka disebut. Hal itu melegakan hati, bahkan mendatangkan sukacita karena suku mereka berarti di hadapan Tuhan.

    Bayangkan pengharapan dan antusiasme setiap suku ketika mendengar nama mereka disebut! Yesus sendiri menyatakan bahwa Gembala yang Agung
    akan memanggil setiap domba-Nya dengan namanya masing-masing (Yohanes
    10:3). Bukankah itu kerinduan setiap kita, mendengar Tuhan menyapa kita dengan nama kita masing-masing?
    Sahabat, bersungguh-sungguhlah di dalam Tuhan supaya nama kita tercatat di kitab kehidupan! Marilah kita renungkan dalam-dalam catatan dari Rasul Paulus berikut, “Karena mereka telah berjuang dengan aku dalam pekabaran Injil, bersama-sama dengan Klemens dan kawan-kawanku sekerja yang lain, yang nama-namanya tercantum dalam kitab kehidupan.”  (Filipi 4:3b)

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pengalamanmu sendiri mengapa engkau punya keyakinan bahwa namamu sudah tercatat di kitab kehidupan Anak Domba. Selamat sejenak merenung. Tuhan Yesus menolong dan memberkati. (pg)

  • PELIPUR LARA

    Sahabat, seringkali ketika sedang dalam masalah dan kesesakan, mungkin cukup banyak diantara kita yang mudah tersulut emosinya, kecewa dan bersungut-sungut;  apalagi jika doa kita belum dikabulkan Tuhan.

    Sesungguhnya keluh kesah itu hal yang manusiawi, tapi kalau hal tersebut kita lakukan terus-menerus setiap kali menghadapi masalah, hal itu akan menjadi penghambat iman kita dan menjadi penghalang bagi kita untuk mengalami mukjizat dari Tuhan.  Justru saat dalam masalah itulah kesempatan bagi kita untuk mengaplikasikan iman kita sehingga iman kita benar-benar hidup.  Karena itu kita harus terus belajar supaya terampil menguasai diri, jangan sampai kita dikalahkan oleh situasi yang ada,   “Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang menguasai dirinya, melebihi orang yang merebut kota.”  (Amsal 16:32).  Penguasaan diri dan ketenangan merupakan kunci menghadapi masalah.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “PELIPUR LARA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 70:1-6. Sahabat, Raja Daud menulis sebuah mazmur pujian pada waktu mempersembahkan kurban peringatan (ayat 2). Mazmur ini merupakan pengulangan dari lima ayat terakhir dalam Mazmur 40.

    Para penafsir Alkitab menjelaskan bahwa mazmur ini dapat disebut sebagai sebuah doa pendek. Doa pendek ini ditulis sebagai sebuah peringatan dan dimaksudkan untuk dinyanyikan berulang-ulang sebagai PELIPUR LARA bagi Daud atau pun bagi umat yang menyanyikannya. Isi doanya ialah supaya Allah berkenan mengirimkan pertolongan.

    Sahabat, kemiskinan dan kebutuhan adalah alasan Daud berseru kepada Allah (ayat 2 dan 6). Ia berdoa agar Allah memenuhi wajah musuh-musuhnya dengan aib, malu, dan noda (ayat 3-4). Daud juga berdoa agar Allah berkenan melimpahkan hati orang yang memuji Allah dengan sukacita.

    Mazmur 70 bisa menjadi contoh “senjata” dalam mengatasi kepedihan hidup ketika menghadapi musuh yang memandang rendah dan terus-menerus ingin menjatuhkan kita. Kata “senjata” di sini jangan dipahami sebagai pistol atau pedang, melainkan doa yang dinaikkan berulang-ulang untuk mengingatkan kita agar senantiasa mendekatkan diri kepada Allah.

    Sahabat, lagi pula, orang-orang yang menimbulkan kepedihan di hati kita akan menerima balasannya. Bukan berarti kita boleh berdoa dengan penuh kebencian, sebaliknya sebagaimana yang diajarkan Yesus, kita harus mampu mengasihi dan mengampuni orang yang bersalah kepada kita. Pembalasan adalah bagian Allah. Bagian kita adalah berdoa dengan kasih dan mengampuni.

    Daud sadar bahwa orang-orang yang berharap dan memuji-Nya akan mendapat kebaikan. Karena itu kita juga dapat memohon kepada  Allah agar pertolongan-Nya  turun kepada kita.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah hal-hal apa yang menjadi pelipur lara ketika engkau sedang menghadapi masalah yang berat dan menyesakkan. Mari kita berdoa: “Bapa, ingatkan kami untuk terus berharap kepada-Mu tanpa henti dan tidak kenal menyerah.” (pg) 

  • NAZIR ALLAH: Jabatan Khusus, Disiplin Khusus

    Sahabat, akhir-akhir ini di Indonesia ada fenomena menarik, di beberapa tempat atau daerah muncul banyak RELAWAN SAHABAT. Ada Relawan Sahabat Ganjar, Ada Relawan Sahabat Anies, Ada Relawan Sahabat Sandiaga, Ada Relawan Sahabat Ridwan, dan lain-lain. Walaupun Pemilihan Umum untuk memilih Presiden dan Wakil Presiden baru akan dilaksanakan pada tahun 2024, tapi orang-orang yang ingin menjadi Capres dan Cawapres sudah mulai melakukan kampanye. JABATAN PRESIDEN itu sangat prestisius, jadi tentu banyak orang yang menginginkannya.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “NAZIR ALLAH: Jabatan Khusus, Disiplin Khusus”, Bacaan Sabda saya ambil dari Kitab Bilangan 6:1-21. Sahabat, bacaan kita pada hari  ini berbicara tentang orang-orang yang mengkhususkan diri menjadi NAZIR ALLAH.  Contoh Nazir Allah dalam Alkitab: Simson, Samuel dan Yohanes Pembaptis.

    Mereka mempersembahkan diri kepada Tuhan untuk melayani-Nya. Bagi mereka berlaku aturan ketat yang mesti dijalani dengan disiplin. Aturan tersebut dalam rangka menjaga kekudusan hidup sang nazir Allah. Kekudusan mesti ada dalam hidup setiap orang yang melayani Tuhan.  Sebab, mereka adalah perantara antara Tuhan dan manusia.

    Sahabat, hal tersebut mengingatkan kita pada satu prinsip penting bahwa suatu jabatan khusus membutuhkan disiplin dan komitmen khusus. Hal seperti ini sejatinya tidak hanya berlaku dalam kehidupan keagamaan, tetapi juga dalam kehidupan sehari-hari pada umumnya. Seorang dokter, psikolog, hakim,  tentara, polisi, atau ilmuwan biasanya mempunyai berbagai disiplin tertentu yang mesti dijalani sehingga tujuan dan tugas dapat tercapai dengan baik.

    Disiplin khusus mesti menjadi perhatian bagi semua orang yang mempunyai jabatan khusus. Jabatan khusus tidak berbicara hanya soal posisi tertentu. Jabatan khusus juga bisa disematkan kepada setiap orang yang menghayati panggilan hidupnya secara khusus. Misalnya, jabatan khusus sebagai ibu rumah tangga atau orangtua tunggal (single parent). Jabatan tersebut bukanlah jabatan yang kecil atau sepele. Itu adalah jabatan istimewa yang membutuhkan disiplin khusus agar hidup rumah tangga dapat berjalan dengan baik. Kesehatan dan masa depan anak-anak sangat membutuhkan perhatian orangtua yang menyadari panggilan khusus tersebut.

    Marilah kita memohon pertolongan Tuhan agar kita bisa mengenali dan menghayati panggilan dan jabatan khusus yang dipercayakan kepada kita. Baik itu jabatan di tempat kerja, di perusahaan, di rumah, di masyarakat, maupun di gereja dan lembaga gerejawi. Kita memohon pertolongan Tuhan agar kita bisa berdisiplin. Dengan begitu, kita mampu bertanggung jawab dan menjadi saluran berkat Tuhan karena jabatan khusus tersebut.

    Sahabat, kita perlu melatih diri dan menjaga hati untuk hidup disiplin supaya jabatan yang Tuhan percayakan kepada kita bisa menjadi saluran berkat-Nya bagi keluarga, sesama dan masyarakat luas.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah apa yang menjadi panggilan khusus bagimu pada saat ini? Hal-hal apa saja yang telah kamu lakukan bagi keluarga dan sesama. Selamat sejenak merenung. Tuhan Yesus menolong dan memberkati. (pg)  

  • BERSUKACITALAH !!!: Biarlah Hatimu HIDUP KEMBALI

    Sahabat, sejak dia berumur 5 tahun, yang namanya penderitaan, kesedihan, KEGAGALAN, penolakan dan ditinggalkan, sering menghampiri dirinya, bahkan tinggal berlama-lama dengan dirinya. Maka ketika dia sudah memasuki pensiun pada usia 65 tahun, dia mengambil keputusan untuk bunuh diri. Syukur, pada saat itu dia diingatkan bahwa masih ada harapan. Dia bangkit dan merintis usaha ayam goreng. Pada usia 88 tahun dia berhasil menjadi pendiri KENTUCKY FRIED CHICKEN (KFC). Dialah COLONEL SANDERS.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “BERSUKACITALAH !!!: Biarlah Hatimu HIDUP KEMBALI”, Bacaan Sabda saya ambil dari Mazmur 69:1-37 dengan penekanan pada ayat 30-37. Sahabat,  dalam Mazmur 69 kita dapat memerhatikan curahan isi hati, doa dan juga nyanyian syukur yang dipanjatkan kepada Tuhan.

    Beratnya penderitaan yang dihadapi oleh Daud digambarkan seperti seorang yang terperosok ke dalam lumpur hidup ataupun seperti orang yang terombangambing di lautan tanpa pijakan (ayat 3). Daud menyuarakan isi hatinya tentang penderitaannya yang begitu berat dari orang yang membencinya tanpa alasan. Dia mendapatkan penderitaan bukanlah karena perbuatan dosa atau kejahatan yang diperbuatnya. Justru dikatakan “Sebab oleh karena Engkaulah aku menanggung cela, … Sebab cinta untuk rumah-Mu menghanguskan aku, …” (ayat 8 dan 10). Semua curahan hati Daud disampaikan melalui doa kepada Tuhan (ayat 14-30).

    Sahabat, walaupun demikian beratnya penderitaan Daud, namun dia hendak menyaksikan bahwa Tuhan itu adil. Tuhan pasti akan menyelamatkan orang yang hidup dalam kebenaran Tuhan (ayat 30). Lebih baik dia menahan penderitaan untuk sementara waktu daripada dia hidup di bawah murka Tuhan dengan melakukan tindakan yang bertentangan dengan firman Tuhan. dari sinilah keyakinan Daud akan keselamatan Tuhan, sebab dia menghadapi penderitaan adalah sebagai orang yang menghidupi kebenaran Tuhan, bukan karena melakukan perbuatan dosa.

    Setelah Daud menyampaikan curahan hatinya, selanjutnya dia berdoa kepada Tuhan, walaupun dia kesakitan oleh sebab penderitaannya, hal itu tidak menyurutkannya untuk memuji dan memuliakan Tuhan dalam hidupnya. Daud memperlihatkan keyakinannya kepada Tuhan dengan memuji Tuhan, dan hal itu jauh lebih berharga dari semua persembahan bakaran (ayat 32).


    Sahabat, Daud pun menyaksikan kepada semua umat Tuhan yang menderita, yang selalu mencari Tuhan, keselamatan dari Tuhan, supaya tetap bertekun dalam keyakinannya bahwa hanya dari Tuhan saja keselamatannya (ayat 33-34), sebab Tuhan pasti akan mendengar doa orang benar (bnd. Yakobus 5: 16). Dari situ akan lahir sukacita bagi orang yang selalu berpengharapan dalam kebenaran Tuhan. walaupun menderita, namun mereka pasti akan melihat keselamatan dari Tuhan.

    Sahabat, Kristus sudah mengalami segala penderitaan dan kesesakan, sehingga Ia merupakan Pribadi yang paling mengerti segala kesusahan kita. Datanglah kepada-Nya, ceritakanlah segala kesesakan hatimu kepada-Nya,  harapkanlah pertolongan-Nya dan biarlah hatimu hidup kembali.    


    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tuliskanlah pengalamanmu sendiri, apakah kamu sudah berhasil melaksanakan perintah Tuhan Yesus yang terdapat di Injil Matius 5:44. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati. (pg)