Category: Sejenak Merenung

  • JUMBAI PERINGATAN

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, disiplin adalah tata tertib atau ketaatan (kepatuhan) terhadap peraturan (tata tertib dan sebagainya), dan atau bidang studi yang memiliki objek, sistem, dan metode tertentu.

    Disiplin diri merujuk pada pelatihan yang didapatkan seseorang untuk memenuhi tugas tertentu atau untuk mengadopsi pola perilaku tertentu, walaupun orang tersebut lebih senang melakukan hal yang lain.

    Secara etimologi disiplin berasal dari bahasa Latin “disibel” yang berarti pengikut. Seiring dengan perkembangan zaman, kata tersebut mengalami perubahan menjadi “disipline” yang artinya kepatuhan atau yang menyangkut tata tertib. Disiplin memerlukan integritas emosi dalam mewujudkan keadaan.

    Sahabat, manusia mempunyai sifat dasar tidak suka diatur dan mau melakukan kehendaknya sendiri. Banyak peraturan yang dibuat justru dilanggar, sehingga muncullah ungkapan: “Peraturan dibuat untuk dilanggar.” Maka kita sebagai orang percaya perlu membuat “Jumbai Peringatan” agar kita dapat mendisiplin diri.

    Untuk dapat lebih memahami topik tentang: “JUMBAI PERINGATAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kitab Bilangan 15:37-41. Sahabat, Allah secara langsung memberikan peraturan dan ketetapan-Nya melalui Musa. Namun, berbagai peraturan dan ketetapan yang diberikan Allah kepada mereka tidak dengan serta-merta dituruti dan dilaksanakan.

    Oleh sebab itu, Allah memerintahkan Musa untuk berbicara kepada bangsa Israel agar mereka membuat jumbai-jumbai pada punca baju mereka secara turun-temurun (ayat 38). Tujuannya adalah untuk memperingatkan bangsa Israel. Allah menghendaki agar setiap kali mereka melihat jumbai itu, mereka mengingat kembali segala perintah Tuhan dan melaksanakannya. Dengan demikian, mereka tidak lagi hidup menurut kehendak hati dan mata mereka sendiri. Mereka dapat hidup kudus sesuai kehendak Tuhan (ayat 39-40).

    Jika kita melihat kehidupan bangsa Israel pada saat itu, kita akan menyadari betapa Tuhan mengasihi dan memperhatikan mereka. Bahkan, Ia menyuruh membuat jumbai peringatan agar mereka hidup taat pada perintah-perintah-Nya.

    Sahabat, dalam kesibukan dan aktivitas sehari-hari, kita sering lupa melakukan apa yang dikehendaki Tuhan. Mulai dari hal-hal kecil, seperti lupa bersaat teduh, lupa membaca firman Tuhan, lupa mengawali dan mengakhiri setiap hari dengan doa syukur kepada Tuhan, dan lain-lain.

    Mari kita belajar dari cara Tuhan mendisiplinkan bangsa Israel untuk taat dan hidup kudus. Belajar mendisiplinkan diri dan hidup kudus sesuai kehendak Tuhan semestinya kita lakukan dengan serius. 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, saksikanlah pengalaman pribadimu apa saja yang kamu lakukan agar kamu dapat terus mendisiplin dirimu sehingga akhirnya kamu menjadi terbiasa untuk hidup menaati kehendak Tuhan dan bukan kehendakmu sendiri. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati dan menolong. (pg)

  • Berani Melawan TEKANAN SOSIAL

    Dari Wikipedia bahasa Indonesia, saya mendapatkan definisi tentang TEKANAN SOSIAL . Tekanan sosial  atau tekanan sejawat adalah dampak langsung rekan-rekan sejawat terhadap seorang individu yang membuat mereka mengikuti rekan mereka dengan mengubah perilakunilai, dan sikap, agar mereka dapat menyesuaikan diri dengan kelompok atau individu yang mempengaruhi mereka. Tekanan ini berbeda dari tekanan masyarakat pada umumnya karena dapat membuat seorang individu mengubah dirinya apabila mereka merasa ditekan atau dipengaruhi oleh rekan atau kelompok sejawatnya.

    Sahabat, tekanan sosial bisa menyebabkan orang mengubah keyakinannya mengenai suatu hal. Sebaliknya bagi yang melawan akan menjadi resah secara emosi. Bagi yang melawan biasanya dimusuhi, dijauhi, dan diancam, Pertanyaannya, beranikah kita melawan tekanan sosial?

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Berani Melawan TEKANAN SOSIAL”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 14:1-38 dengan penekanan pada ayat 7-9. Sahabat, Kaleb dan Yosua berani tampil berbeda. Mereka berani melawan arus saat kesepuluh rekan yang lain merasa pesimistis untuk dapat masuk ke tanah Kanaan.

    Dalam ayat 1-4 digambarkan ketika itu, seluruh bangsa menangis dengan suara nyaring dan bersungut-sungut. Mereka protes karena Musa dan Harun membawa mereka keluar dari Mesir. Padahal mereka sedang ketakutan karena berhadapan dengan bangsa asing yang berbadan besar dan kuat. Orang Israel benar-benar lupa bahwa mereka pernah TUHAN bebaskan dari kejaran bala tentara Mesir dengan cara yang sangat ajaib.

     Yosua dan Kaleb berani tampil beda. Mereka berani melawan tekanan sosial.  Mereka sama sekali tidak takut kepada kemarahan dan tekanan massa. Sebaliknya, Yosua dan Kaleb berusaha menenangkan, meneguhkan iman orang Israel,  dan membujuk mereka agar tidak memberontak kepada TUHAN, “Negeri yang kami lalui untuk diintai itu adalah luar biasa baiknya. Jika TUHAN berkenan kepada kita, maka Ia akan membawa kita masuk ke negeri itu dan akan memberikannya kepada kita, suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madunya. Hanya, janganlah memberontak kepada TUHAN, dan janganlah takut kepada bangsa negeri itu, sebab mereka akan kita telan habis. Yang melindungi mereka sudah meninggalkan mereka, sedang TUHAN menyertai kita; janganlah takut kepada mereka.”  (ayat 7-9) 

    Sahabat, sering, kita juga berhadapan dengan orang banyak yang menginginkan kita berbuat dosa seperti mereka. Kita pun ditekan, secara halus ataupun kasar. Belajar dari  Yosua dan Kaleb, kita dapat bertahan dengan iman yang teguh. Tidak perlu takut tekanan sosial, karena Tuhan beserta kita. Penderitaan yang sementara sifatnya mungkin kita alami. Namun penghargaan dari Tuhan akan kita nikmati.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pengalamanmu ketika kamu menghadapi tekanan sosial di tempat kerjamu, atau di tempat tinggalmu, atau di dalam keluargamu. Apa yang engkau lakukan pada saat engkau menghadapi tekanan sosial. Selamat sejenak merenung. Tuhan Yesus menolong dan memberkati. (pg)

  • MENCERITAKAN PERBUATAN-PERBUATAN TUHAN YANG AJAIB

    Sahabat, kita sebagai orangtua biasanya suka sekali bercerita kepada anak-anak kita  tentang hidup kita dulunya seperti apa. Masa kecil kita seperti apa? Ketika anak-anak kita beranjak menjadi remaja dan pemuda, kita biasanya juga menceritakan masa pacaran yang kita jalani. Kita juga menceritakan tumbuh kembang mereka.

    Semoga kita sebagai orangtua tidak lupa untuk menceritakan pengalaman hidup kita bersama Tuhan. Kita menceritakan iman yang hidup dan iman yang kita hidupi. Kita menceritakan bagaimana campur tangan Tuhan dapat kita rasakan melalui proses yang kita jalani dari hari ke hari. Kita bercerita kepada mereka bagaimana kita menikmati penggenapan janji-janji Tuhan . Kita menceritakan perbuatan-perbuatan Tuhan yang ajaib yang kita alami.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “MENCERITAKAN PERBUATAN-PERBUATAN TUHAN YANG AJAIB”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 78:1-8 dengan penekanan pada ayat 4. Sahabat, dalam Mazmur 78, Pemazmur menyadari adanya kemungkinan umat Allah akan melupakan karya ajaib Allah dan menjadi generasi yang terhilang.

    Oleh karena itu, Pemazmur  mengajak mereka untuk tidak bosan-bosannya menceritakan kisah lama tentang karya penebusan-Nya kepada generasi-generasi mendatang (ayat 4). Tujuan dari menceritakan kisah sejarah mereka dengan terus-menerus ini bukan semata-mata untuk menghafal data historis, melainkan untuk menumbuhkan iman, ketaatan, dan harapan di dalam Tuhan (ayat 7) dan untuk menjaga agar generasi mendatang tidak tersesat dalam ketidakpercayaan dan pemberontakan seperti generasi sebelum mereka (ayat 8).

    Selain itu Pemazmur juga belajar untuk mengingat setiap karya Tuhan dalam sejarah. Semuanya itu dituliskannya dengan lengkap dalam teks Mazmur 78 ini. Ada banyak kegagalan yang terjadi dalam hidup bangsa Israel. Sekalipun demikian, Allah tetap mengasihi mereka. Tuhan juga banyak memberi karya-karya yang ajaib agar mereka tetap percaya pada Tuhan (ayat 7) dan semuanya ini menjadi pelajaran agar  generasi selanjutnya, mereka makin setia dan taat kepada Tuhan sehingga tidak merasakan murka Tuhan (ayat 8).

    Sahabat, suatu perbuatan yang diceritakan dapat mengilhami pendengarnya untuk merubah cara hidupnya sehingga menjadi lebih baik di hari esok. Dalam kehidupan kita, janganlah lupa untuk menceritakan tentang setiap karya Tuhan. Ceritakan bagaimana Tuhan menggenapi janji-janji-Nya dalam hidup kita. Ceritakan dan perkenalkan Tuhan pada sebanyak mungkin orang agar mereka makin bertumbuh dalam iman dan makin taat. Sungguh indah jika mereka akhirnya menjadi generasi yang memuliakan nama Tuhan karena terinspirasi dari cerita kita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah salah satu pengalamanmu ketika kamu menceritakan pertolongan Allah yang nyata yang kamu alami kepada anak-anakmu atau temanmu. Selamat sejenak merenung. Tuhan menolong dan memberkati. (pg)

  • MEMAKAI KACAMATA KEBAIKAN TUHAN

    Bagaimana reaksi kita saat masalah datang menerpa? Kalau masalah sudah berat apalagi datangnya sekaligus. Bahkan terkadang, belum lagi masalah yang satu beres, sudah muncul masalah berikutnya. Kita bisa gelagapan, goyah lalu kemudian panik, di sana rasa takut pun mulai muncul. Kita menjadi ragu apakah kita bisa melewati semua itu sebagai pemenang?

    Di saat seperti itu, adakah sesuatu yang bisa kita pakai untuk menguatkan  kita agar bisa berpijak tegar di tengah situasi sulit? Apa yang bisa membuat iman kita tidak ikut goyah sebaliknya mampu memberi kekuatan kepada kita untuk bisa terus tegar dan pada akhirnya keluar sebagai pemenang?

    Sahabat, mengingat kebaikan Tuhan yang sudah terjadi dalam kehidupan kita adalah hal yang baik dan perlu supaya keraguan dan keputusasaan dalam menghadapi pergumulan hidup berubah menjadi pengharapan kepada Allah yang hidup. Kita perlu memakai kacamata kebaikan Tuhan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “MEMAKAI KACAMATA KEBAIKAN TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 77:1-21 dengan penekanan pada ayat 12-13. Sahabat, Mazmur 77 memberitahu kita bahwa pergumulan orang percaya waktu itu sangat berat.  Asaf, seorang pelayan Tuhan dari suku Lewi, menyimpulkan bahwa tangan kanan Tuhan Yang Mahatinggi berubah (ayat 11), itu artinya pergumulan terasa semakin berat seolah-olah Tuhan tidak lagi menghiraukan pergumulan orang percaya pada  saat itu.

    Di bagian pertama, Asaf memakai pergumulan dan kesusahan sebagai kacamata untuk melihat Allah (ayat 2-11). Hasilnya, kesusahan membuat Allah terasa jauh (ayat  2). Kesusahan membuat mengenang Allah terasa memilukan (ayat 3). Gambaran yang ideal tentang Allah terasa sangat mengecewakan bila dibandingkan dengan pergumulan yang dihadapi manusia. Kesusahan membuat Tuhan terasa seperti menolak dan tidak bermurah hati (ayat 8). Kesusahan membuat janji Tuhan terasa seperti tidak berlaku (ayat 9). Kesusahan membuat Allah nampak seperti melupakan janji-Nya (ayat 10).

    Sahabat, berita baiknya, di bagian kedua , Asaf memakai kebaikan Tuhan sebagai kacamata untuk melihat kesusahannya (ayat 12-21). Hasilnya, dengan mengingat kebaikan Tuhan di masa lalu, dia mengaku bahwa Allah itu sangat besar dan berkuasa. Saat Asaf mengalami pergumulan, Allah tidak berubah. Kebaikan Tuhan membuat Asaf percaya bahwa Allah akan menuntun umat-Nya keluar dari kesusahan seperti di zaman Musa dan Harun (ayat 21).

    Asaf memberikan sebuah tips yang sangat baik untuk kita ingat saat kita sedang berada di tengah badai kehidupan. “Aku hendak mengingat perbuatan-perbuatan TUHAN, ya, aku hendak mengingat keajaiban-keajaiban-Mu dari zaman purbakala. Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu.” (ayat 12-13).

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong bagikan pemahamanmu apa yang harus kita lakukan jika masalah berat atau sakit penyakit sedang menerpa kita. Selamat sejenak merenung. Mari kita mendaraskan ayat 15: “Engkaulah Allah yang melakukan keajaiban; Engkau telah menyatakan kuasa-Mu di antara bangsa-bangsa.” (pg)

  • Orang Percaya: HIDUP dalam IMAN

    Wilma Rudolph dilahirkan 23 Juni  1940 di St Betlehem, Tennessee, Amerika.  Ia dilahirkan dengan polio dan pneumonia, serta pernah menderita demam scarlet saat masih muda. Semua penyakit itu berkontribusi pada pertumbuhan kakinya yang kurang sempurna.   “Apakah saya akan bisa berlari seperti anak-anak lain?” Wilma  bertanya pada ibunya. “Sayang, kamu harus percaya kepada Tuhan dan jangan pernah berhenti berharap. Jika kamu percaya, Tuhan akan membuatnya terjadi,” jawab ibunya.

    Wilma percaya dengan jawaban ibunya dan sejak itu ia bersusah payah belajar berjalan. Pada usia 12 tahun ia bisa berjalan tanpa memerlukan penyangga kaki. Bahkan di tahun 1960, ia berhasil mendapatkan tiga medali emas untuk cabang olahraga lari di Olimpiade. Ia menyapu bersih gelar di lari 100 meter, 200 meter, dan estafet sprint. 


    Iman adalah prinsip dasar kehidupan orang percaya. Hidup dalam  iman berarti memercayai siapa Allah itu, apa yang dikatakan-Nya, apa yang sudah dilakukan-Nya, dan apa yang akan dilakukan-Nya. Iman adalah inti kehidupan kita dari hari ke hari.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Orang Percaya: HIDUP dalam IMAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 13:1-33. Sahabat, Pengintaian Israel atas Kanaan merupakan perintah Tuhan. Di sini Allah menyoroti aspek kepemimpinan dengan serius. Pengutusan diberikan dengan menyoroti rute dan keperluan penyelidikan Tanah Kanaan. Para pengintai Israel menjalankan tugasnya selama 40 hari. Mereka menemukan bukti hasil bumi berupa satu tandan buah anggur beserta delima dan ara dari lembah Eskol (ayat 17-24).

    Meskipun Tanah Kanaan sangat menjanjikan, namun ada persoalan dan perselisihan internal dalam diri 12 pengintai. Di satu sisi, 10 pengintai berpikir logis bahwa bangsa Kanaan sulit ditaklukkan. Mereka merasa mustahil mengalahkan orang-orang Kanaan yang jauh lebih besar dalam strategi dan kekuatan perang untuk melindungi kota mereka. Tidak heran jika 10 pengintai Israel pesimis melihat kenyataan itu. Akibatnya, sebagian besar orang Israel termakan isu negatif yang diberitakan 10 pengintai (ayat 27-29; 31-33)

    Di sisi lain, Kaleb dan Yosua melihat dari sisi iman. Berdasarkan pengalaman berjalan di padang gurun sampai di wilayah Kanaan, mereka melihat bahwa Allah selalu ikut berperang bersama mereka. Siapa pun lawan mereka, Allah sanggup memberikan kemenangan bagi mereka. Kaleb dan Yosua sangat optimis berkenaan dengan janji Allah (ayat 30).

    Sebagaimana kita dahulu menerima Kristus dengan iman, maka kita seharusnya juga akan berjalan dalam iman dari hari ke hari. Berjalan dalam arti cara kita berperilaku dalam hidup sehari-hari.

    Iman kita teruji dan semakin bertumbuh pada saat persoalan menghantam di tengah perjalanan hidup kita. Di tengah tekanan hidup yang mendera, kita pun diingatkan untuk tetap berdiri teguh, memercayai firman-Nya dan juga janji-janji-Nya.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tuliskanlah secara singkat, apakah kamu tetap berjalan dalam iman kepada Allah sekalipun berbagai ujian menempa hidupmu? Apakah kamu percaya bahwa Allah sanggup melakukan sesuatu dalam hidupmu?  Selamat sejenak merenung. Ingatlah! Kita ditantang untuk memercayai Tuhan dan tidak meragukan firman-Nya. (pg)

  • Memercayakan PEPERANGAN ROHANI kepada ALLAH

    Sahabat, Rasul Paulus menggambarkan bahwa kehidupan rohani orang percaya seperti berada di medan peperangan. Selama hidup di dunia ini kita akan terus berperang melawan Iblis. Bukan peperangan yang bersifat jasmani, di mana musuh terlihat dan dapat diukur kekuatannya, melainkan peperangan yang bersifat rohani.  Jadi musuh kita tidak kelihatan secara kasat mata (Efesus 6:12).

    Peperangan inilah yang sangat sulit, karena bisa berlansung kapan saja dalam waktu 24 jam dan di mana saja. Kita juga tidak tahu secara pasti kapan musuh itu akan datang dan menyerang kita, yang jelas dan pasti si Iblis, berjalan keliling sama seperti singa yang mengaum-aum dan mencari orang yang dapat ditelannya (1 Petrus 5:8). Kita tidak boleh lengah sedikit pun dan harus ekstra waspada dan hati-hati terhadap segala bentuk serangan iblis, karena lengah berarti membuka peluang Iblis untuk menang.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Memercayakan PEPERANGAN ROHANI kepada ALLAH, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 76:1-13. Sahabat, dalam Perjanjian Lama, umat Israel sangat paham bahwa Allahlah yang maju memerangi para musuh mereka (bdk. Yosua 24:12-13).

    Demikian juga Mazmur 76  menggambarkan hal yang sama. Pemazmur melihat Allah sebagai Pahlawan Perang yang perkasa. Ia mematahkan panah berkilat, perisai, pedang, dan alat perang (ayat 4). Orang-orang yang berani dan gagah perkasa dari pihak musuh kehilangan kekuatannya dan mereka dijarah oleh Allah (ayat 6). Sebegitu perkasanya, Allah cukup menghardik dan semua musuh serta kuda mereka tertidur lelap (ayat 7). Semua pemimpin atau pun raja patah semangat dan tidak tahan menghadapi murka Allah (ayat 8 dan 13). Bahkan,  bumi pun takut dan tertegun mendengar keputusan-Nya (ayat 9). Ternyata, murka Allah itu ditujukan untuk menyelamatkan semua orang yang tertindas di bumi (ayat 10). Karenanya, Pemazmur menutup mazmurnya dengan meminta umat membayar nazar dan memberikan persembahan kepada Tuhan yang ditakuti (ayat 12).

    Sahabat, Pemazmur menekankan bahwa dalam setiap peperangan,  Allah yang berperang bagi umat-Nya. Di tangan Allah yang perkasa, musuh mereka yang begitu kuat kehilangan kuasanya dan mudah ditaklukkan. Karena itu, umat perlu bersyukur kepada Allah yang memenangkan peperangan bagi mereka. Hal senada juga ditegaskan oleh Rasul  Paulus bahwa peperangan kita bukanlah melawan darah dan daging, tetapi melawan roh-roh jahat di udara (Efesus 6:12).

    Secara manusia kita tidak akan mampu menang melawan serangan Iblis, tetapi bersama Tuhan kita akan dapat mengalahkan Iblis beserta pasukannya. Jadi kita harus kuat di dalam Tuhan, yang artinya kita harus bergantung sepenuhnya kepada Tuhan.  Ada dua fungsi alat perlengkapan perang itu yaitu perlengkapan untuk bertahan  dan perlengkapan untuk menyerang. Perlengkapan untuk bertahan adalah iman, yang berfungsi sebagai perisai (Efesus 6:16); sedangkan perlengkapan untuk menyerang adalah firman Tuhan (Ibrani  4:12 a-b).

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong bagikan pengalamanmu pribadi apa saja yang telah kamu lakukan agar dapat mengalami kemenangan dalam peperangan rohani dari hari ke hari. Selamat sejenak merenung. Mari kita berdoa, “Bapa, ajarkan kami  untuk mengerti bahwa hidup adalah medan peperangan rohani. (pg)

  • LEMBUT HATINYA

    Sahabat, ada cukup banyak orang percaya yang kurang menyadari bahwa hidup kekristenan adalah sebuah proses pembelajaran untuk menjadi serupa dengan Kristus.  Apalah artinya menyebut diri sebagai murid Kristus, apabila dalam kehidupan sehari-hari karakter dan perilaku kita sama sekali tidak mencerminkan Kristus atau tidak meneladani bagaimana Kristus hidup.

    Salah satu sifat Kristus yang patut diteladani adalah kelembutan hati-Nya.  Kristus sangat mengedepankan pantang kekerasan. Dia tidak pernah membalas kejahatan dengan kejahatan, sebaliknya Ia mengasihi orang yang berbuat jahat kepada-Nya, bahkan terhadap orang-orang yang meludahi-Nya, menghujat-Nya, mencambuk-Nya dan bahkan menyalibkan-Nya, Ia justru berdoa bagi mereka dan memohonkan pengampunan kepada Bapa (Lukas 23:34).

    Untuk lebih memahami topik tentang: “LEMBUT HATINYA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 12:1-16 dengan penekanan pada ayat 3. Sahabat, lemah lembut dapat berarti mudah dibentuk, lentur, tidak kaku. Juga, menundukkan diri pada kehendak Allah. Musa disebut sebagai orang yang sangat lembut hatinya, lebih dari setiap manusia yang di atas bumi (ayat 3).

    Itu bukan berarti Musa tidak pernah marah. Ia sering marah dan dosa terbesarnya juga karena marah. Namun, ia punya ketrampilan untuk menahan diri dan bersikap lemah lembut pada saat yang tepat. Ketika ditentang oleh Miryam dan Harun, ia tidak membela dirinya. Ia tidak reaktif. Ia tidak emosi. Tuhanlah yang membela Musa dengan memaparkan keistimewaannya di hadapan Miryam dan Harun (ayat 6-8).

    Sahabat, Miryam mendapatkan hukuman berupa penyakit kusta (ayat 10). Kusta adalah simbol tulah atau hukuman Tuhan. Orang kusta harus dikucilkan. Melihat itu, Harun memohon agar mereka dilepaskan dari hukuman (ayat 11). Tanpa menunda-nunda, Musa pun berseru kepada Tuhan, “Ya Allah, sembuhkanlah kiranya dia.” (ayat 13).  Hati Tuhan tertuju kepada Musa dan Tuhan mengindahkan permohonannya. Tuhan tetap menghukum Miryam, tetapi hanya sepanjang 7 hari (ayat 14). Itulah bukti kelemahlembutan Musa. Di satu sisi, ia sama sekali tidak merasa bersukacita atas pembalasan yang dilakukan Tuhan terhadap saudaranya; di sisi lain, ia tetap tunduk kepada kehendak-Nya.

    Sebagai murid Kristus, terimalah perintah untuk hidup sama seperti Kristus hidup  (1 Yohanes 2:6), walaupun untuk memiliki kelembutan hati seperti Kristus tidak mudah, diperlukan proses dan hati yang mau tunduk kepada pimpinan Roh Kudus.

    Sesungguhnya ketika kita punya kelembutan hati, mengasihi dan mengampuni orang yang bersalah kepada kita, sesungguhnya kita sedang membiasakan diri untuk mengenakan pribadi Kristus!

    Sahabat, mata Tuhan tertuju kepada orang-orang yang lembut hatinya. Tuhan sendiri yang akan menjagai kehidupan kita. Tuhan sendiri yang akan membela kita. Tuhan Yesus bersabda: “Berbahagialah orang yang lemah lembut, karena mereka akan memiliki bumi.” (Matius 5:5)

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikan bagaimana sikap hatimu ketika ada orang menyinggung perasaanmu? Bagaimana sikap hatimu ketika orang berbicara hal yang buruk tentang dirimu?  Selamat sejenak merenung. Mari kita terus belajar sehingga kita dapat memiliki kelembutan hati. (pg)

  • MENGELUH lagi, MENGELUH lagi

    Setiap hari saya awali dengan mengingat dan merenungkan kebaikan Tuhan. Selanjutnya mengisi hati dan  pikiran  dengan ucapan syukur. Saya yakin itu akan membuat hari-hari kita jauh lebih indah untuk dijalani, meski masalah tetap belum hilang dan masih harus dihadapi. Ingatlah! Hati yang sudah panas sejak pagi akan membuat hari tidak lagi menyenangkan untuk dilalui. Karena itu, mengapa mengeluh lagi, mengeluh lagi?

    Untuk lebih memahami topik tentang: “MENGELUH lagi, MENGELUH lagi”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 11:1-35. Sahabat, kitab Bilangan 11  menunjukkan betapa umat Israel gagal dalam perjalanan iman mereka. Padahal mereka mulai dengan semangat dan optimisme yang tinggi (Bilangan 10:29, 35-36). Dicatat di bacaan kita pada hari ini,  dua kali sungut-sungut  umat Tuhan yang mengakibatkan murka Tuhan dan penghukuman-Nya (ayat 1-3; 4-6, 31-35).

    Sahabat, apa isi keluhan umat? Pada kali pertama, tidak disebutkan secara spesifik. Yang pasti perjalanan di padang gurun itu berat dan melelahkan. Mereka telah meninggalkan kaki gunung Sinai yang relatif lebih subur. Padahal, roti Manna menyertai mereka setiap hari tidak putus-putusnya.

    Keluhan kedua membongkar isi hati mereka! Isi hati mereka ternyata mengeluh  masalah perut (ayat 4-6). Mereka sudah mengalami pembebasan Tuhan dari perbudakan Mesir yang berat sehingga mereka mengerang (Keluaran 2:23), namun mereka sepertinya rela balik ke Mesir menjadi budak lagi demi kepuasan perut mereka (bdk.  Bilangan 14:2-4)! Tuhan memberikan daging yang mereka minta (ayat 18-20), tetapi kerakusan mereka dihukum Tuhan dengan berat (ayat 31-35).

    Sangat wajar kalau Musa ikut mengeluh karena sungut-sungut umat bukan hanya menjengkelkan, tetapi juga berpotensi rusuh. Apakah Musa sempat meragukan Tuhan (ayat 21-22)? Tuhan mengerti pergumulan Musa sehingga Ia memperlengkapi kepemimpinan Musa dengan para tua-tua yang dipenuhi-Nya dengan Roh-Nya untuk membantu mengurusi umat yang sepertinya menjurus ke arah tidak terkendali.

    Saat menempuh perjalanan di padang gurun, setelah terbebas dari perbudakan di Mesir, sebenarnya banyak sekali mukjizat yang Tuhan nyatakan. Suatu kehidupan yang luar biasa karena Tuhan sendiri menyertai, menuntun, memelihara dan membela mereka.  Meski demikian orang-orang Israel tidak pernah merasa puas dan selalu mengeluhkan nasib mereka, serta membanding-bandingkan dengan kehidupan kala berada di Mesir, padahal di sana mereka hanya budak. 

    Sahabat, berjalan dengan iman ternyata tidak mudah! Kita cenderung mau melihat segala sesuatu berjalan lancar, tidak ada masalah. Padahal cara Tuhan memimpin umat-Nya tidak demikian. Tuhan memimpin dengan hikmat-Nya yang tidak terselami, dan kita diminta percaya penuhdan taat.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pelajaran yang dapat kamu petik mengapa umat Israel selalu mengeluh dan bersungut-sungut? Selamat sejenak merenung. Tuhan menuntun, menolong, dan memberkati kita. (pg)

  • Bolehkah aku BERAMBISI?

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) AMBISI adalah keinginan (hasrat, nafsu) yang besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (seperti pangkat, kedudukan). Sedangkan menurut The Webster’s Dictionary, ambisi adalah keinginan yang kuat untuk memperoleh kesuksesan dalam hidup dan mencapai hal-hal besar atau baik yang diinginkan. Ambisi itu baik, sifatnya netral, jadi tergantung pada orangnya. Tapi hati-hati dengan sikap yang ambisius.

    Katak dapat menggambarkan sikap yang ambisius. Coba perhatikan gaya katak mencari mangsa. Mereka akan menendang ke bawah agar bisa meloncat ke atas dengan lidah dijulurkan, sedangkan kaki depannya mengayuh ke belakang. Bukankah hal itu mengingatkan pada lagak orang yang ambisius? Mereka menjulurkan lidah untuk menjilat atasan. Atasan yang tidak sadar pasti menjadi mangsanya. Terhadap rekan selevel ia mencoba menyingkirkannya. Apalagi terhadap orang-orang yang berada di bawahnya. Agar bisa naik, ia memanfaatkan bawahannya sebagai tumpuan kakinya.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Bolehkah aku  BERAMBISI?”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 75:1-11 dengan penekanan pada ayat 7-8. Sahabat, Pemazmur bersyukur karena segala perbuatan Allah yang ajaib dikisahkan oleh umat-Nya (ayat 2). Pemazmur mencatat bahwa yang menetapkan waktu adalah Allah (ayat 3).

    Hal utama yang patut disyukuri Pemazmur adalah kenyataan bahwa bukan dari timur atau dari barat dan bukan dari padang gurun DATANGNYA PENINGGIAN itu melainkan dari Allah (ayat 7) dan   Allah adalah Hakim yang akan merendahkan orang fasik dan meninggikan orang benar (ayat 8).

    Dalam mazmur ini, orang fasik bangga dengan kekuatan mereka. Kekuatan digambarkan dengan kata tanduk. Perhatikan kata tanduk muncul 4 kali (ayat 5, 6, dan 11). Dua kali Allah memperingatkan orang fasik agar  tidak mengangkat tanduk mereka tinggi-tinggi (ayat 5 dan 6). Ketika mereka terus meninggikan tanduknya, pada akhirnya piala yang berisikan murka Allah akan dituangkan ke atas mereka (ayat 9) dan “segala tanduk orang-orang fasik akan dihancurkan-Nya” (ayat 11-a). Sedangkan, “tanduk-tanduk orang benar akan ditinggikan” (ayat 11-b).

    Sahabat, dari Mazmur 75 kita dapat memetik pelajaran bahwa tidaklah salah kita memiliki ambisi asal jalan yang kita tempuh untuk mewujudkan ambisi itu sesuai dengan kehendak Tuhan dan tidak menyimpang dari kebenaran.  Tetapi ambisi untuk meninggikan diri, mencari kedudukan dengan mempromosikan diri sendiri, atau mencari hormat dan pujian dari manusia adalah perbuatan yang dicela oleh Tuhan. Ingatlah jangan mengangkat tandukmu tinggi-tinggi (ayat 6-a)

    Sebagai orang percaya, terlebih-lebih bagi kita yang sudah melayani Tuhan sepenuh waktu, kita tidak diperkenankan bersikap ambisius dalam usaha mendapatkan kedudukan  atau posisi atau sesuatu yang lain. Kita harus percaya sepenuhnya kepada Tuhan karena Dialah yang berkuasa untuk meninggikan atau merendahkan seseorang (ayat 7).

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong tuliskan pemahamanmu secara singkat tentang apa perbedaan antara orang yang berambisi dan orang yang ambius? Selamat sejenak merenung. Ingatlah! Kepemimpinan bukanlah jabatan untuk dikejar, melainkan fungsi pelayanan untuk dijalani. (pg)

  • Di tengah RATAPAN ada HARAPAN

    Datangnya bencana merupakan suatu keniscayaan. Orang percaya pun bisa ditimpa bencana. Contoh yang sangat nyata saat ini, hampir setiap orang di Indonesia  ditimpa bencana pandemi Covid-19. Hampir semua orang terdampak karena adanya pandemi tersebut, bahkan tidak sedikit kerabat dan sahabat kita yang meninggal dunia akibat pandemi covid-19 yang masih berlangsung sampai saat ini.

    Sahabat, di tengah bencana pandemi Covid-19, kita perlu selalu mengingat bahwa Tuhan kita itu Tuhan yang memegang perjalanan sejarah dunia. Tuhan itu berkuasa atas alam semesta. Karena itu di tengah ratapan selalu ada harapan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Di tengah RATAPAN ada HARAPAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 74:1-23 dengan penekanan pada ayat 12. Sahabat, Akibat serangan musuh, Bait Allah menjadi hancur (ayat 3, 5, 6 dan  8) dan tempat kudus Allah dikuasai (ayat 4) serta dinajiskan (ayat 7). Kepedihan Asaf, sang penulis mazmur ini, semakin bertambah ketika ia sadar bahwa tidak ada lagi tanda-tanda Tuhan berfirman melalui perantaraan para nabi (ayat 9). Allah seakan-akan diam dan tidak berbuat apa-apa di tengah situasi yang menghancurkan bait-Nya (ayat 10-11).

    Menariknya, meski Allah tampak diam bagi umat-Nya, tetapi Asaf ingat bahwa Allah bukanlah Allah yang tidak mampu bertindak. Asaf ingat kemahakuasaan Allah yang telah terbukti di masa lampau (ayat 12-15). Asaf juga ingat kedaulatan Allah atas alam semesta (ayat 16-17).

    Sahabat, ada tiga hal menarik yang bisa kita amati dan dapatkan dari Mazmur 74:

    Pertama, Pemazmur mengalami pertentangan batin. Di tengah bencana hebat yang secara manusiawi membuat Pemazmur merasa putus asa dan tidak ada harapan (ayat 3-11), Pemazmur tetap beriman bahwa Allah adalah Penyelamat (ayat 12).

    Kedua, yang membuat Pemazmur tetap memiliki pengharapan adalah karena Pemazmur mengingat sejarah: Pemazmur mengingat apa yang telah dilakukan Allah pada masa lampau (ayat 13-17).

    Ketiga, Pemazmur memohon agar Allah mengingat dan menolong umat-Nya berdasarkan perjanjian antara Allah dan umat Tuhan (ayat 18-23).

    Sahabat, apakah kamu pernah mengalami bencana yang menimbulkan kesedihan hebat dan yang membuat kamu merasa bahwa Allah sudah tidak peduli lagi kepadamu?

    Saat ini bagi Sahabat yang sedang ditimpa bencana, ingatlah kembali karya Allah dalam kehidupanmu! Ingatlah bahwa Allah telah memberikan Yesus Kristus, Anak-Nya yang Tunggal, untuk mati dan bangkit  bagi kita dan menjadi jaminan bahwa Allah tidak pernah berhenti memperhatikan dan  mengasihimu (Roma 8:32)

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, ceritakanlah secara singkat pengalamanmu bersama Tuhan ketika kamu menghadapi bencana pandemi Covid-19. Apa dampak yang kamu rasakan dan jalan keluar apa yang kamu dapatkan. Selamat sejenak merenung. Tuhan menolong, melindungi, dan memberkati. (pg).