Category: Sejenak Merenung

  • Ada PENGHARAPAN yang MELAMPAUI ANCAMAN

    Sahabat, ada ungkapan yang berbunyi bahwa dunia, tempat manusia hidup  bukanlah firdaus.  Artinya selama kita masih hidup di dunia,  kita tidak akan luput dari yang namanya ancaman, masalah, kesulitan, tantangan, ujian, dan situasi-situasi sulit lainnya.  Tak menutup kemungkinan juga kita akan menghadapi orang-orang yang mungkin saja bisa melukai, menyakiti, mengecewakan, atau bahkan mengancam hidup kita. 

    Jadi kita tak perlu terkejut lagi jika hal-hal yang tak mengenakkan harus kita alami.  Tak perlu kita lari atau menghindari masalah, itu bukan solusi.  Mau atau tidak mau, siap atau tidak siap, suka atau tidak suka, kita harus menghadapinya!

    Kadang satu masalah belum selesai, masalah yang lain datang. Bahkan yang lebih mengerikan kadang masalah-masalah itu seolah-olah kompromi atau membuat janji dalam satu waktu ramai-ramai mendatangi kita. Kita merasakan hidup kita betul-betul terancam. Dalam saat yang menyesakkan seperti itu, kita butuh ada pengharapan yang melampaui ancaman.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Ada PENGHARAPAN yang MELAMPAUI ANCAMAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 83:1-19. Sahabat, Pemazmur memohon kepada Allah untuk tidak bungkam, diam, dan berpangku tangan (ayat 2). Permohonan itu menunjukkan betapa besarnya harapan Pemazmur kepada Allah. Hal ini dikarenakan hidupnya dan bangsa Israel sedang terancam oleh bangsa-bangsa yang berniat untuk menghancurkan mereka (ayat 3-6). Bayangkan, total ada 10 bangsa yang digambarkan mengancam Israel (ayat 7-9).

    Pemazmur datang kepada Allah karena kebaikan dan kehebatan-Nya telah teruji. Midian, Sisera, Yabin, Oreb, Zeeb, Zebah, dan Salmuna dapat dijadikan contoh nyata. Mereka pernah merasakan kedahsyatan kuasa Allah (Ayat 10-12).

    Sahabat, sesungguhnya di muka bumi ini tidak ada sesuatu pun yang lebih besar dibandingkan Allah yang Mahatinggi. Meski Israel tidak luput dari berbagai ancaman, tetapi mereka belajar beriman dan berharap kepada Allah.

    Hidup kita sebagai orang beriman pun tidak lepas dari ancaman. Sudah cukup sering kita dengar bahwa orang percaya diancam, kariernya dihambat, bahkan dipecat jika ia bertahan dalam imannya. Satu-satunya cara agar kariernya mulus, ia harus meninggalkan keyakinan imannya.

    Sahabat, kita tahu, Allah lebih besar daripada segala hal yang dapat mengancam kita. Karena itu, selayaknya ada pengharapan yang melampaui ancaman.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Hikmah apa saja saja yang Sahabat peroleh?
    2. Pada saat  Sahabat sedang merasa terancam hidupmu, apa yang kamu lakukan?

    Selamat sejenak merenung.  Mari kita berdoa, “Bapa, kuatkanlah kami dalam menghadapi berbagai ancaman yang menerpa hidup kami.” (pg). 

  • PROSES PENAHIRAN DIRI

    Sahabat, NAJIS dan TAHIR merupakan 2 kata yang sangat kontradiktif. Konotasi kata najis yaitu jijik, kotor, cemar dan memuakan. Sedangkan konotasi kata tahir yaitu  bersih, khalis, suci dan murni.

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), najis yaitu hal yang menjadi sebab terhalangnya seseorang untuk beribadah kepada Allah. Maka yang penting untuk kita ketahui yaitu bagaimana proses penahiran diri dari kenajisan? 

    Untuk lebih memahami topik tentang: “PROSES PENAHIRAN DIRI”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kitab Bilangan 19:1-22. Sahabat,   Allah menghendaki agar bangsa Israel hidup kudus dan menjauhi segala yang najis. Untuk itu Allah memberikan berbagai aturan praktis yang wajib dipatuhi bangsa Israel.

    Dari bacaan kita pada hari ini, najis terjadi bila mereka menyentuh mayat, orang yang mati terbunuh oleh pedang, tulang manusia, kubur (ayat 16) atau imam yang selesai membakar korban maka imam itupun najis (ayat 7). Ada kondisi najis yang berlangsung sampai matahari terbenam (ayat 7b dan 8b) dan ada yang berlangsung selama 7 hari (ayat 11). Kenajisan yang dipertahankan bisa mendatangkan hukuman mati (ayat 13). Mereka yang dinilai najis akan diasingkan dan kemudian dibasuh dengan air penahiran (ayat 13). Bila seorang yang dianggap najis menyentuh sesuatu, maka apa yang disentuh menjadi najis (ayat 22).

    Sahabat, jelaslah bahwa kenajisan merupakan persoalan serius bagi Allah jika dikaitkan dengan kekudusan hidup. Sebab, kenajisan bisa menjadi “virus” yang menggerogoti kerohanian seseorang. Jika kehidupan rohani seseorang sakit, berarti kemanusiaannya pun ikut sakit.

    Karena itu, orang yang terjangkiti kenajisan membutuhkan penahiran dari Allah. Dalam hal ini, Allah memberikan solusinya. Penahiran merupakan tindakan untuk menjaga komunitas umat Allah dari pengaruh yang membuat cemar serta menerapkan tegaknya kemurnian moral. Orang yang tahir harus memercikkan air penahiran ke kemah, segala bejana, dan orang-orang yang najis agar semuanya kembali menjadi tahir (ayat 18 dan 19) di hadapan TUHAN dan bagi sesama.

    Kematian dan kebangkitan Yesus telah menyempurnakan ritual kurban dan Hukum Taurat pada Perjanjian Lama. Pengurbanan Yesus terjadi sekali untuk selamanya, dan berkuasa membersihkan siapa pun yang percaya kepada-Nya dari segala dosa.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

    1. Berkat apa saja yang kamu peroleh?
    2. Selain itu apa yang harus kamu lakukan agar hidupmu berkenan kepada Allah?
    3. Apakah kamu memiliki kerinduan untuk dipakai oleh Allah guna membantu sesama yang sedang bergumul melawan dosa agar bisa melepaskan diri dari jerat dosa dan kembali kepada Tuhan?

    Selamat sejenak merenung. Tuhan Yesus menolong dan memberkati. (pg)

  • JAGALAH PERKATAAN KITA

    Sahabat, ada cukup banyak orang yang beroleh kekuatan dan dibangkitkan semangat hidupnya akibat mendengarkan perkataan dari orang lain.  Sebaliknya ada cukup banyak  pula yang menjadi terluka, hancur, frustasi dan putus asa oleh karena terbunuh oleh perkataan yang disampaikan oleh orang lain.

    Kekuatan perkataan ternyata begitu luar biasa, baik bagi yang mendengar maupun yang mengatakannya. Karena itu Rasul Paulus memberi nasihat kepada anak rohaninya, “Jadilah teladan bagi orang-orang percaya, dalam perkataanmu, dalam tingkah lakumu, dalam kasihmu, dalam kesetiaanmu dan dalam kesucianmu.”  (1 Timotius 4:12b). Sahabat, jagalah perkataan kita.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “JAGALAH PERKATAAN KITA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kitab bilangan 20:2-13 dengan penekanan pada ayat 10. Sahabat, dari bacaan kita pada hari ini, kita dapat belajar dari Musa. 

    Suatu kali, bangsa Israel kembali mengeluh kepada Musa karena tidak ada air di padang gurun. Musa dan Harun segera menemui Tuhan, lalu Dia memerintahkan Musa untuk BERKATA  kepada bukit batu di depan bangsa Israel agar terpancar air. Karena Musa mungkin sudah lelah mendengar kata-kata tidak mengenakkan yang keluar dari mulut bangsa Israel, emosi Musa memuncak dan dia mengatakan “Dengarlah kepadaku, hai orang-orang durhaka, apakah kami harus mengeluarkan air bagimu dari bukit batu ini?” (ayat 10).

    Tidak hanya itu, dengan emosi Musa MEMUKUL batu itu sampai dua kali, padahal seharusnya Musa CUKUP BERKATA SAJA maka akan keluar air. Musa mendukakan Tuhan, di dalam kata dan perbuatan. (ayat 11)

    Sahabat, kita mungkin seringkali mengalami hal yang sama dengan Musa. Ketika emosi memuncak, PERKATAAN dan perbuatan KITA TIDAK TERKONTROL. Akhirnya kita menyakiti orang lain dan ujung-ujungnya kita sendiri juga ikut terluka. Baiklah kita belajar bijak dalam mengeluarkan kata-kata dari mulut kita. Apabila kita emosi, tahanlah kata-kata kasar yang hendak dikeluarkan. Tenangkan hati. Jangan sampai kita menjadi seperti Musa yang kemudian dihukum Tuhan hingga tidak bisa masuk ke tanah perjanjian (ayat 12).

    Ingatlah,  untuk menunaikan tugas pekabaran Injil atau hidup bersaksi bagi Kristus di tengah dunia ini bukan hanya kita tunjukkan dengan pikiran dan perbuatan yang benar saja, melainkan juga PERKATAAN YANG BENAR. Oleh sebab itulah Rasul Paulus menasihati agar jemaat di Kolose di dalam kehidupan sehari-hari juga memiliki perkataan yang penuh kasih dan jangan hambar sehingga mereka dapat memberi jawab kepada setiap orang (Kolose 4:6)

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, Sahabat, bagikanlah pemahaman yang kamu dapatkan,  apa saja yang harus kamu perhatikan dan lakukan sehingga kamu dapat menjaga perkataanmu. Selamat sejenak merenung. Ingatlah!, Jika tidak ada kata baik yang bisa keluar dari mulut kita, lebih baik kita diam. (pg)

  • Ketika Para Pemimpin LUPA DARATAN

    Allah senantiasa menunjukkan keberpihakan-Nya untuk membela kaum marginal. Karakter Allah ini tampak dalam teladan Kristus yang hadir menyapa dan melayani mereka yang dianggap lemah, hina, dan rendah dalam tatanan sosial. Karena itu, karakter Kristus seharusnya tampak dalam cara berpikir, sifat, dan perilaku kita sebagai murid Kristus. Berlaku adil dan peduli terhadap kaum lemah yang ditindas harus menjadi salah satu prinsip kebenaran Allah yang patut dikedepankan.

    Sahabat, di tengah kehidupan berbangsa yang penuh dengan kecurangan, korupsi, dan ketidakadilan, kita semakin ditantang, jika kita diberi kesempatan untuk menjadi pemimpin dalam segala tataran, kita tidak menjadi lupa daratan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Ketika Para Pemimpin LUPA DARATAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 82:1-8. Sahabat, Mazmur 82 berbicara mengenai para hakim yang lupa daratan. Ketika Mazmur 82 ditulis, para hakim tidak hanya menjalankan tugas yudikatif (hukum), tetapi juga eksekutif (pemerintahan) dan legislatif (pembuat undang-undang). Mereka harus memerintah dengan adil dan menghukum kejahatan (Ulangan 25:1).

    Pada kenyataannya, ada hakim yang memutarbalikkan kebenaran dan membela kelaliman (ayat 2). Bagaimana mungkin mereka dapat membela kaum tertindas dan lemah (ayat 3-4) jika mereka tidak mengenal hikmat Allah dan tidak hidup dalam takut akan Allah (ayat 5)?

    Sahabat, itulah sebabnya kita melihat Allah berdiri di hadapan para “allah” untuk menghakimi mereka. Istilah “allah” dengan huruf kecil bukan merupakan suatu pujian untuk status para hakim yang menjadi wakil Allah. Istilah itu merupakan sindiran keras terhadap mereka yang memegang kekuasaan. Mereka mengangkat diri menjadi allah-allah palsu. Karena kecongkakan mereka, Allah akan menumpahkan gemas-Nya (ayat 7). Mereka akan dihempaskan Allah karena menyalahgunakan wewenang yang diberikan-Nya.

    Mazmur 82 ditutup dengan permohonan pada Allah agar Ia segera mengulurkan tangan-Nya membela kaum lemah dan papa (ayat 3-5). Pemazmur memohon agar Allah menghajar para pemimpin yang bertindak sewenang-wenang (ayat 8). Doa Pemazmur menunjukkan Allah tidak menutup mata atas segala kejahatan yang terjadi di dunia. Karena Ia adalah Hakim yang adil.

    Menjadi pemimpin merupakan anugerah Tuhan. Karena itu ketika Sahabat menjadi pemimpin, jangan lupa daratan. Seorang pemimpin perlu memberikan contoh yang baik dan senantiasa mengevaluasi dirinya. Janganlah menjadi pemimpin yang zalim karena Allah akan menuntut pertanggungjawaban kita berdasarkan perbuatan. 

    Jika Sahabat adalah seorang pemimpin, baik dalam keluarga, pekerjaan, pemerintahan, maupun di mana saja, pastikan bahwa Sahabat  senantiasa bersikap benar di hadapan Allah dan sesama. 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong bagikan pemahamanmu tentang karakter seorang pemimpin yang berkenan di hati Tuhan. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati dan menolong. (pg)

  • DICUKUPI untuk MENCUKUPI

    Sahabat, Tuhan Allah kita adalah Tuhan yang tidak pernah berubah untuk mencukupi kebutuhan umat-Nya. Tuhan menjamin bahwa setiap orang yang mencari-Nya, tidak akan kekurangan sesuatu pun yang baik (Mazmur  34:11). Bahkan di tengah perjalanan hidup yang berat sekalipun, Ia berjanji akan memenuhi segala keperluan kita menurut kekayaan dan kemuliaan-Nya dalam Kristus Yesus (Filipi 4:19). Ketika Tuhan mencukupi kebutuhan kita, kiranya kita dapat semakin mengenal-Nya sebagai Allah sang pemelihara hidup kita.

    Bagi kita yang terpanggil untuk melayani Tuhan sepenuh waktu, baik di gereja maupun di lembaga gerejawi, kebutuhan hidup kita akan dicukupi oleh jemaat atau orang-orang yang kita layani. Tetapi kita juga punya kewajiban untuk membantu mencukupi kebutuhan gereja atau lembaga gerejawi tempat kita melayani melalui persembahan-persembahan dan usaha-usaha yang kita lakukan. Kita perlu menyadari bahwa kita dicukupi untuk mencukupi.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “DICUKUPI  untuk  MENCUKUPI”,  Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 18:1-32. Sahabat,  bila Allah memberi tugas, Ia pasti akan memberikan perlengkapan untuk melakukan tugas tersebut.

    Allah menetapkan suku Lewi untuk melaksanakan semua tugas yang berkaitan dengan perlengkapan Kemah Suci, sedangkan Harun dengan keturunannya memegang jabatan sebagai imam yang melaksanakan seluruh peribadatan. 

    Supaya bisa melaksanakan semua tugas di atas secara efektif, suku Lewi, termasuk Harun dan keturunannya, tidak diberi warisan tanah agar mereka tidak bercocok tanam. Sebaliknya, Allah memberikan bagian yang tidak dibakar dari persembahan korban sajian, korban penghapus dosa dan korban penebus salah (ayat 9), serta memberikan persembahan hasil pertama (ayat 15) bagi Harun dan anak-anaknya; sedangkan suku Lewi di luar keturunan Harun mendapatkan persembahan persepuluhan (ayat 23-24), tetapi mereka sendiri juga harus memberikan persembahan persepuluhan dari setiap persembahan persepuluhan yang mereka terima (ayat 26-28).

    Sahabat, sebagaimana Allah menjamin kehidupan segenap suku Lewi, termasuk keturunan Harun, yang tidak bisa mencari nafkah melalui bercocok tanam karena seluruh waktu mereka telah dipersembahkan untuk melakukan pekerjaan Tuhan.

    Demikian pula Allah memelihara hamba-hamba-Nya yang menyerahkan segenap waktu mereka untuk melakukan pekerjaan Tuhan pada masa kini. Sebagaimana halnya dengan suku Lewi,  hamba Tuhan penuh waktu pada masa kini harus didukung kebutuhan hidupnya oleh umat Allah yang dilayaninya,

    Bagi setiap hamba Tuhan, ingatlah bahwa Allah pasti akan memelihara hamba-hamba-Nya yang mengerjakan pekerjaan Allah! Sebaliknya para hamba Tuhan juga punya kewajiban untuk ikut mencukupi kebutuhan gereja atau lembaga gerejawi tempat mereka melayani melalui persembahan-persembahan mereka dan usaha-usaha yang mereka lakukan. 

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pemahamanmu tentang hubungan antara  hamba Tuhan penuh waktu dengan jemaat yang mereka layani dalam kaitan pemenuhan kebutuhan hidup hamba Tuhannya. Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati dan menolong. (pg).

  • PERHATIKAN dan DENGARKANLAH PERINGATAN-PERINGATAN TUHAN

    Sahabat, kalau bepergian melalui jalan darat, baik dengan mobil maupun dengan sepeda motor atau sarana transportasi yang lain, maka di sepanjang perjalan, kita akan menjumpai banyak peringatan-peringatan, baik itu berupa rambu-rambu lalu lintas maupun dalam bentuk yang lain. Peringatan-peringatan tersebut sesungguhnya bertujuan agar perjalanan kita selamat sampai tujuan dan kita dapat menikmati perjalanan yang nyaman dan aman.

    Demikian juga dalam perjalanan hidup kita di muka bumi, sesungguhnya Tuhan sudah memberikan peringatan-peringatan kepada kita dalam berbagai bentuk. Peringatan-peringatan tersebut diberikan kepada kita supaya perjalanan hidup kita di dunia ini selamat sampai tujuan dan di sepanjang perjalan hidup, kita dapat menikmati kebaikan dan kemurahan Tuhan. Karena itu perhatikan dan dengarkanlah peringatan-peringatan Tuhan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “PERHATIKAN dan DENGARKANLAH PERINGATAN-PERINGATAN TUHAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 81 dengan penekanan pada ayat 9-11. Sahabat,  Mazmur 81 menekankan pentingnya umat Israel untuk memerhatikan, mendengarkan, dan menaati peringatan-peringatan Tuhan.


    Mazmur 81 menyerukan kepada bangsa Israel untuk mendengar sabda Allah. Mendengarkan adalah fondasi bagi bangsa Israel untuk masuk ke dalam ketetapan Allah dan syarat untuk dapat menghayati perjanjian antara Allah dengan umat-Nya (ayat 6b-11). Dalam sejarah Israel, perjanjian Allah dengan umat-Nya diawali dengan perintah untuk mendengarkan-Nya (Ulangan  6:4). Kenyataanya, di sepanjang sejarah Israel berulang-ulang terjadi penolakan terhadap suara Allah. Dengan sengaja, umat-Nya menulikan hati dan telinga (ayat 12-13).

    Sahabat, dalam Mazmur 81 terlihat bahwa kasih setia Tuhan senantiasa memanggil bangsa Israel untuk mendengarkan peringatan-Nya (ayat  9, 12, dan  14). Seruan Allah memperlihatkan kepedulian dan keprihatinan-Nya. Ia tidak menginginkan umat-Nya terus-menerus jatuh dalam perbuatan dosa yang semakin dalam.

    Tindakan Allah terlihat dari kata “jika (ayat 9) dan sekiranya (ayat 14)”. Kedua kata tersebut menunjukkan kenyataan pahit yang telah terjadi bahwa bangsa Israel lebih memilih membangkang daripada mendengar dan menaati  peringatan-Nya.  Dalam kemarahan-Nya, Allah menarik pemeliharaan dan anugerah-Nya atas bangsa Israel (ayat 13).

    Sesungguhnya jika bangsa Israel mau memerhatikan, mendengarkan dan menaati peringatan-peringatan Tuhan, maka mereka akan dikenyangkan dengan kebaikan, kemurahan, dan berkat Tuhan yang terbaik lainnya (ayat 17).

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah berkat yang telah engkau pahami dan nikmati. Selamat sejenak merenung. Ingatlah: Tuhan akan mengenyangkan kita dengan gandum yang terbaik dan dengan madu dari gunung batu,  ketika kita mau dengar-dengaran peringatan-peringatan-Nya. (pg).

  • Ketika TONGKAT HARUN BERBUNGA

    Sahabat, salah satu hobi saya dan istri di usia senior  yaitu cocok tanam di pot karena pekarangan rumah kami tidak luas. Pengalaman kami dalam bercocok tanam, cabang atau batang dari pohon yang baru ditebang, lalu  kita tanam di tanah, ada kemungkinan untuk hidup dan bertumbuh. Tapi kalau tongkat yang terbuat dari kayu yang sudah kering dan mati, tidak mungkin bisa hidup dan bertumbuh. Hanya grup band Koes Plus, untuk menggambarkan betapa subur tanah di Indonesia, dia menulis lirik di lagu Kolam Suu bahwa tongkat kayu dan batu jadi tanaman.

    Tapi apa kata dunia,   ketika tongkat Harun bisa berbunga?

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Ketika TONGKAT HARUN BERBUNGA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 17:1-13  dengan penekanan pada ayat 3 dan 8.   Sahabat, lewat cara yang keras dan mungkin mengerikan, Tuhan telah menyadarkan umat akan hak Allah menentukan orang pilihan-Nya.

    Kini, Tuhan sekali lagi menunjukkan siapa sebenarnya yang Ia pilih lewat mukjizat melalui sebatang tongkat. Setiap suku mendapatkan satu tongkat yang dituliskan nama kepala suku masing-masing. Suku Lewi mendapatkan satu tongkat yang bertuliskan nama Harun. Dua belas tongkat ini kemudian dikumpulkan Musa dan diletakkan di hadapan tabut perjanjian di kemah suci (ayat 6-7).

    Sahabat, seperti dahulu, tongkat Musa menghasilkan keajaiban yang seharusnya membuat Firaun sadar berhadapan dengan orang pilihan Allah (Keluaran 7:10-13). Demikian pula diharapkan efek yang sama ketika umat melihat tongkat Harunlah yang secara ajaib bertunas, berbunga, dan berbuah dalam waktu satu malam (ayat 8). Benar saja, ketika orang Israel melihat hal tersebut, mereka tersentak disadarkan betapa mereka telah terlalu berani mendekat ke kemah suci untuk berlagak sebagai imam (ayat 12-13). Kengerian akan murka Allah yang baru saja mereka alami semakin menebal dengan demonstrasi tongkat Harun yang bertunas, berbunga, dan berbuah!

    Tuhan sudah memilih suku Lewi, dan dari antaranya, Harun dan keturunannya untuk melayani di Kemah Suci dan menyelenggarakan ritual Taurat untuk kepentingan umat. Siapapun tidak berhak mempertanyakan apalagi menolak keputusan-Nya. Agar peristiwa pemberontakan tidak terulang, dan tidak ada gugatan lagi atas Harun dan keimamannya, tongkat Harun yang bertunas, berbunga, dan berbuah itu diletakkan kembali di hadapan tabut perjanjian di kemah suci (ayat 10).

    Sahabat, saat ini adakah diantara Sahabat  yang mengalami bentuk-bentuk “kematian” seperti kekeringan rohani, kehilangan kasih mula-mula, tidak lagi merasa damai atau sukacita, merasa kariermu  saat ini mentok sehingga kehilangan gairah dan semangat, kepahitan dalam hubungan keluarga maupun berbagai kekecewaan lainnya yang merampas harapan-harapan dalam hidupmu, ingatlah bahwa Sahabat bisa kembali hidup, bertunas, berbunga dan berbuah pada saat kita kembali menggantungkan hidup kita ke dalam tangan Tuhan.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah berkat apa saja yang kamu peroleh. Selamat sejenak merenung. Ingatlah! Tuhan sanggup memulihkan dari beragam kematian dengan menumbuhkan tunas-tunas baru dalam hidup kita. (pg)

  • Dalam TUHAN ada PENGAMPUNAN dan PERTOLONGAN

    Saat Pandemi Covid-19 melanda dunia, hampir semua orang  merasakan bahwa hidup itu penuh dengan kesulitan, keterbatasan, kekhawatiran, dan ketidakpastian. Dalam waktu singkat Pandemi telah mengubah banyak hal dalam kehidupan di dunia ini. Telah terjadi tragedi besar di dunia ini.

    Sahabat, kita perlu menyadari bahwa kehidupan tidak selalu berjalan sesuai keinginan kita. Banyak hal yang tiba-tiba terjadi di luar jangkauan pemikiran kita dan kita tidak siap untuk menerimanya.

    Sangat menarik, Hannah Whitall Smith, penulis buku The Christian’s Secret of a Happy Life menafsirkan bahwa kata, “kebaikan” dalam Roma 8:28 bermakna “serupa atau segambar dengan Kristus”. Itu berarti  bahwa kesulitan-kesulitan (tragedi) ataupun derita yang kita alami bertujuan membentuk kita untuk menjadi serupa dengan Kristus.

    Yang paling penting bagi kita, apa yang harus kita kerjakan ketika tragedi melanda? Carilah Tuhan dan mintalah pertolongan kepada-Nya karena dalam Tuhan ada pengampunan dan pertolongan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Dalam TUHAN ada PENGAMPUNAN dan PERTOLONGAN”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 79:1-13. Sahabat, Pemazmur menceritakan kesusahan yang dialami oleh bangsa Israel karena ancaman dari bangsa-bangsa lain yang telah memasuki Yerusalem. Mereka menghancurkan Bait Allah, kota, dan rakyat (ayat 1-3). Itulah peristiwa yang menandai jatuhnya Kerajaan Yehuda (Israel Selatan) ke tangan Babel (2 Raja-Raja  25:8-10). Peristiwa itu ditambah dengan penghinaan atas iman mereka kepada Allah yang gagal menolong mereka dari kehancuran (ayat 10).

    Sekalipun dihina seperti itu,  Pemazmur tidak menunjukkan kegoyahan iman kepada Allah. Sebaliknya, ia menyerukan perlunya dasar iman yang teguh, yaitu satu-satunya sumber pertolongan yang sejati ada dalam Tuhan. Dalam kesusahan dan penderitaan yang hebat itulah, seruan permohonan ini ditujukan kepada Allah. Seruan itu disertai dengan pengakuan dosa sebagai bentuk refleksi diri yang jujur bahwa penderitaan yang mereka alami merupakan konsekuensi dan akibat dosa umat (ayat 8-9). Pertolongan dan pengampunan dari Allah saja yang melahirkan rasa syukur dan puji-pujian (ayat 13).

    Sahabat, sesungguhnya  hampir setiap orang pernah mengalami kesusahan dan penderitaan, baik dalam hal pribadi, keluarga, karir, bergereja, bermasyarakat, dan sebagainya. Saat menghadapi hal itu, kita pasti berharap agar bisa dilepaskan dari kesusahan dan penderitaan. Sebagai orang beriman kita harus mencari pertolongan dari Tuhan. Kita datang di hadapan-Nya dengan segala kejujuran dan kerendahan hati.

    Ketika kita meminta bantuan Allah, satu kondisi yang diperlukan, yakni memercayakan segala sesuatu ke dalam tangan-Nya. Sebab, kita tahu dalam Tuhan ada pengampunan dan pertolongan, dan Ia membuat segala sesuatu indah pada waktunya (Pengkhotbah 3:11).

    Berdasarkan hasil perenunganmu pada hari ini, bagikanlah pelajaran apa yang Sahabat peroleh? Selamat sejenak merenung.  Mari kita berdoa, “Bapa ajar kami untuk mencari pertolongan hanya kepada-Mu saja.” (pg)

  • Menantikan WAJAH ALLAH BERSINAR

    Sepenggal lirik lagu “Air Mata” yang dipopulerkan oleh grup band  “Dewa 19” berbunyi: “Air mata yang telah jatuh membasahi bumi, takkan mampu menghapus penyesalan … Menangislah bila harus menangis, karena kita semua manusia”. Lagu tersebut  hendak bercerita kepada para pendengarnya bahwa air mata dan tangisan adalah bagian dari kehidupan manusia, tatkala seseorang menghadapi musibah dan kesesakan.

    Sahabat, pernahkah kamu menitikkan air mata penyesalan saat mengalami kondisi hidup yang terpuruk akibat berbagai kesalahan yang kamu lakukan? Pada saat seperti itu, ada kalanya sulit bagi seseorang dapat melihat secercah harapan bersinar di balik kegelapan. Kita perlu menantikan wajah Allah bersinar.

    Untuk lebih memahami topik tentang “Menantikan WAJAH ALLAH BERSINAR”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 80:1-20 dengan penekanan pada ayat 4, 8 dan 20. Sahabat, pengkhianatan bangsa Israel terhadap Tuhan menyebabkan mereka ditimpa murka-Nya. Beratnya penderitaan yang dialami membuat umat-Nya berkeluh kesah kepada Tuhan. Hal ini tampak dari kata “berapa lama lagi”. Kalimat tersebut memperlihatkan ketidaksabaran mereka karena murka Allah tidak kunjung surut, walau mereka telah mengakui kesalahan dan berdoa memohon pengampunan-Nya (ayat 5). Makanan sehari-hari mereka adalah penderitaan, ratapan, dan olok-olokan para musuh Israel (ayat 6-7).

    Dalam masa kesengsaraan, Pemazmur mengontraskan karya keselamatan dan pemeliharaan Allah di masa lampau dengan keterpurukan mereka di masa kini. Pada zaman Daud dan Salomo, Allah membuat nama Israel termasyhur dan berjaya (ayat 9-12; bdk. 2 Samuel  8; 1Raja 4:21-25; 5:1, 4). Saat ini, bangsa Israel hidup dalam penderitaan karena Allah “membuang” umat-Nya (ayat 13-14). Di tengah situasi yang memilukan, Pemazmur mengajak bangsanya kembali berharap kepada Allah dan mengungkapkan janji setia di hadapan-Nya (ayat 19).

    Sahabat, walau murka Allah belum reda, Pemazmur mengingatkan bangsanya jangan berputus asa berharap kepada-Nya. Sebab, Allah Israel bukan hanya berkuasa atas alam semesta (ayat 5, 8, 15, 20), tetapi juga Allah yang pengasih dan penyayang (bdk. Mazmur  33:18, 100:5, 103:8). Dengan terus-menerus merendahkan diri di hadapan-Nya, Pemazmur berharap ekspresi kemarahan Allah berubah menjadi sukacita (ayat 4, 8, 20). Keceriaan wajah Allah menandakan hari penyelamatan Israel segera tiba. Karena itu mereka menantikan wajah Allah bersinar.

    Ratapan Pemazmur merupakan wujud penyesalan, pertobatan, dan pengharapan kepada Allah. Dalam kesedihannya, Pemazmur sujud di hadapan Allah mengikrarkan tekad untuk memuliakan nama-Nya yang kudus.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, Sahabat,  pernahkah kamu menitikkan air mata penyesalan saat mengalami kondisi hidup yang terpuruk akibat berbagai kesalahan yang kamu lakukan?  Jika jawabanmu pernah, apa yang engkau perbuat pada saat itu sehingga engkau dapat mengalami pemulihan? Tuliskanlah  pengalamanmu secara singkat. Selamat sejenak merenung. Mari kita mendaraskan ayat emas kita pada hari ini,  “Ya Allah, pulihkanlah kami, buatlah wajah-Mu bersinar, maka kami akan selamat.” (pg).

  • Lebih Baik TAAT, Jangan MEMBERONTAK

    Bung Karno, Presiden kita yang pertama berkata, “Jangan sekali-kali meninggalkan sejarah (Jas Merah).” Sejarah perjuangan bangsa kita sungguh penuh dengan gejolak. Sejak merdeka hingga hari ini kita masih saja melihat pemberontakan yang dilakukan baik oleh individu maupun sekelompok orang agar mereka bisa memisahkan diri dari negara yang menaunginya. Sikap memberontak ini biasanya timbul dari ketidakpuasan akan sesuatu, atau bisa juga akibat adanya konflik dengan keinginan atau kepentingan pribadi.

    Sahabat, kita sebagai komunitas orang percaya, lebih baik taat, jangan memberontak.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Lebih Baik TAAT, Jangan MEMBERONTAK”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 16: 1-50 dengan penekanan pada ayat 1-2. Sahabat,  sekalipun perjalanan melewati gurun itu berat penuh rintangan, sebagai pemimpin, Musa menata dan mengatur banyak hal, demi kebaikan, keutuhan, dan keselamatan bangsa itu. Tetapi, ada saja pihak yang bukannya bahu-membahu menopang malahan hendak memancing di air keruh. Itulah Korah beserta sekutunya (ayat 1-3). Akhir yang tragis menimpa mereka sendiri ketika Tuhan murka atas pemberontakan itu (ayat 30-33).

    Ada banyak alasan mengapa seseorang atau sekelompok orang memberontak. Dari bacaan kita, pemberontakan terjadi karena dua motif utama. Pertama, pemberontakan yang dilakukan oleh Korah dan 250 pemimpin umat (ayat 1-2). Mereka tidak suka dengan kepemimpinan Musa dan Harun. Alasannya, mereka tidak puas dengan posisi dan jabatan mereka sebagai pengurus perabot kemah pertemuan (Bilangan 4:1-20). Mereka sangat berambisi untuk meraih jabatan imam. Hal ini membuat mereka iri hati dan cemburu, lalu menuduh Musa dan Harun meninggikan diri (ayat 3).

    Kedua, pemberontakan Datan dan Abiram terhadap Musa (ayat 12). Mereka kecewa terhadap Allah yang sampai saat itu tidak menepati janji-Nya. Perasaan kecewa itu mereka lampiaskan kepada Musa. Dalam kemarahan, mereka berdua memfitnah Musa berencana membinasakan seluruh orang Israel (ayat 13-14).

    Sepintas kita hanya melihat mereka memberontak terhadap Musa dan Harun. Padahal, secara tidak langsung mereka memberontak terhadap Allah. Sebab Allah yang mengutus Musa dan Harun untuk memimpin mereka. Mereka tidak mau tunduk dan taat kepada Allah, melainkan memaksakan ambisi dan keinginan hati sendiri.

    Sahabat, terkadang kita suka melakukan hal yang dilakukan Korah, Datan, dan Abiram. Kita memberontak terhadap pemimpin gereja atau lembaga gerejawi karena keputusan dan cara mereka memimpin. Kita sering memprotes dan mengeluh, bahkan berpikir negatif tentang para pemimpin kita.

    Tidak sedikit dari kita yang diam-diam membangkang terhadap peraturan gereja. Kita lebih menyoroti sisi negatif para pemimpin gereja sehingga lupa bahwa mereka adalah hamba Tuhan yang punya kelemahan. Lalu, kita kehilangan rasa hormat dan tidak menghargai mereka. Kita perlu membuang sikap semacam itu.

    Sahabat, kita perlu belajar untuk dipimpin dan memaklumi kelemahan pemimpin sebagai manusia. Saling memahami antara yang memimpin dan yang dipimpin merupakan hal penting.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pengalamanmu sendiri, apa yang engkau lakukan ketika engkau tidak setuju dengan keputusan atau model kepemimpinan yang dikembangkan oleh Gembala Jemaat di gerejamu? Selamat sejenak merenung. Tuhan memberkati dan menolong. (pg)