Category: Sejenak Merenung

  • KESEMPATAN: Anugerah Tuhan

    Hung Ba Le tidak pernah menyangka ada kesempatan baginya untuk membangun hidup baru di AS. Pada 30 April 1975, Hung Ba Le, yang baru berusia 5 tahun, keluar secara diam-diam bersama orangtua dan tiga saudaranya dari Vietnam sebagai “manusia perahu”. Namun,  34 tahun kemudian dia kembali ke Vietnam sebagai komandan kapal perusak AS, USS Lassen. Dia warga AS berdarah Vietnam pertama yang menjadi komandan sebuah kapal perang AS.

    Sahabat, hidup adalah kesempatan. Kesempatan merupakan anugerah Tuhan. Kesempatan untuk menerima berkat Tuhan yang melimpah, kesempatan untuk melakukan banyak hal. Hidup memang hanya sekali namun kesempatan datang setiap hari. Allah memberi kita banyak kesempatan setiap harinya. Sesungguhnya ketika kita masih hidup di dunia ini, itu merupakan kesempatan bagi kita untuk dipakai oleh Tuhan menggenapi rencana-Nya.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “KESEMPATAN: Anugerah Tuhan”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kitab Bilangan 26:1-65. Sahabat, sebelum pergi berperang melawan bangsa Midian seperti yang diperintahkan Tuhan (ayat 18), Tuhan menyuruh Musa untuk mengadakan sensus lagi (ayat 2). Yang dihitung adalah pria berumur dua puluh tahun ke atas, yang sanggup berperang. Dua puluh empat ribu orang telah mati dalam bencana sebelumnya (Bilangan  25:9).

    Mereka adalah generasi terakhir yang menolak memasuki Tanah Perjanjian tiga puluh delapan tahun sebelumnya. Hanya Kaleb, Yosua, dan Musa yang masih tetap ada saat itu, sebagaimana firman Tuhan (ayat 64-65). Sensus ini juga bertujuan untuk melihat seberapa besar jumlah setiap suku agar Musa dapat memperhitungkan seberapa luas wilayah di Tanah Perjanjian yang akan mereka tempati (ayat 53-54).

    Sahabat, generasi muda Israel  menerima anugerah yang bernama “kesempatan”. Sensus yang kita baca dari bacaan kita pada hari ini adalah sensus kedua yang dilakukan Musa atas perintah Tuhan (ayat 63), untuk menghitung jumlah pasukan Israel yang siap berperang (ayat 2).

    Mereka telah tiba di tepi sungai Yordan dekat Yerikho, siap memasuki tanah Kanaan. Para orangtua mereka tidak memiliki kesempatan ini (lihat Bilangan 14:34-35). Perhatikan hasil sensus yang tidak jauh berbeda dengan generasi sebelumnya (bandingkan dengan Bilangan 3), dan murka Tuhan di pasal 25. Generasi ini tidak lebih banyak atau lebih siap memasuki tanah Kanaan. Kalau mereka akhirnya berhasil menempati tanah Kanaan, sungguh itu anugerah Tuhan semata.

    Sahabat, kesempatan-kesempatan apa yang dianugerahkan Tuhan bagi kita selama ini? Tentu salah satu yang paling berharga adalah kesempatan mengenal Kristus dan menerima pengampunan melalui salib-Nya. Kita yang berdosa dan selayaknya binasa, kini berkesempatan hidup sebagai anak-anak-Nya. Sudahkah kita menyambut anugerah itu dengan hidup mengenal, mengasihi, dan berkarya bagi Raja semesta, setiap hari?

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong bagikan pemahamanmu tentang hidup itu adalah kesempatan. Selamat sejenak merenung. Mari kita daraskan Galatia 5:13, “Saudara-saudara, memang kamu telah dipanggil untuk merdeka. Tetapi janganlah kamu mempergunakan kemerdekaan itu sebagai kesempatan untuk kehidupan dalam dosa, melainkan layanilah seorang akan yang lain oleh kasih.” (pg)

  • ADA ASA di dalam LEMBAH

    Apa yang akan Sahabat lakukan saat keadaan sangat kritis, air sudah sampai hidung,  dan sepertinya  tidak ada harapan atau tidak ada jalan keluar? Apakah Sahabat menjadi putus asa? Apakah Sahabat mempertanyakan keberadaan Tuhan atau tetap mempercayai dan berharap kepada Tuhan?

    Kehidupan yang kita jalani ada kalanya menghadapi situasi yang sangat sulit: Masalah kita terlalu berat dan tidak dapat kita atasi. Kita merasa terpojok, ditinggalkan sendirian, dan seperti sudah tidak memiliki pengharapan lagi. Saat seperti itu, ingatlah bahwa masih ada Tuhan yang telah menyelamatkan kita dan yang tetap mengasihi kita! Tetaplah percaya kepada Tuhan dan tetaplah berharap kepada-Nya! Tetaplah berdoa kepada- Nya dan mintalah pertolongan-Nya! Ada asa di dalam lembah.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “ADA ASA di dalam LEMBAH”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 88:1-19 dengan penekanan pada ayat 14. Sahabat, Mazmur 88 ditulis oleh Heman, seorang yang bijaksana (1 Raja-Raja 4:31) dan melayani sebagai penyanyi dalam ibadah Raja Daud (1 Tawarikh 15:19; 16:41-42; 25:1, 6).

    Ia, yang mengalami kegetiran hidup cukup lama, mengungkapkan isi hatinya di hadapan Allah dan mengakhiri doanya dengan pedih, “Kenalan-kenalanku adalah kegelapan” (ayat 19).  Akhir doanya ini sekaligus menjadi keunikan Mazmur 88 dibandingkan dengan mazmur ratapan lainnya. Jika mazmur ratapan lainnya diakhiri dengan kalimat yang mengandung harapan, keseluruhan Mazmur 88 berisi ratapan.

    Judul yang tertera di Mazmur 88 di Alkitab:  “Doa pada waktu sakit payah”. Dalam perikop ini, para pembaca sulit mendapat informasi mengenai penderitaan yang sedang dialami oleh Pemazmur. Hanya beberapa petunjuk kalimat yang memperlihatkan kondisi pemazmur yang putus harapan. Misalnya, dia merasa sudah dekat dengan “dunia orang mati”; setelah ia “kenyang dengan malapetaka”; dan “seperti orang yang sudah tidak berkekuatan” (ayat 4-5). Kondisi tersebut memperlihatkan Pemazmur sedang dalam pergumulan berat.

    Di satu sisi, ia menyebut Tuhan sebagai “Allah yang menyelamatkan” (ayat 2a). Di sisi yang lain, ia berpendapat bahwa Allah penyebab dirinya menderita. Mari kita perhatikan, “Aku tertekan oleh panas murka-Mu, dan segala pecahan ombak-Mu Kautindihkan kepadaku.” (ayat 8); “Kehangatan murka-Mu menimpa aku, kedahsyatan-Mu membungkamkan aku” (ayat 17).

    Sahabat, janganlah pernah berpikir bahwa hidup kita dapat otomatis lepas dari masalah. Pada titik tertentu, kita dapat mengalami keputusasaan karena beratnya beban kehidupan. Sebesar apa pun masalah yang dihadapi, kita dapat membawanya di hadapan Tuhan.

    Tidak ada hal lain yang dapat membangkitkan semangat di tengah keputusasaan kita, selain bertekun dalam doa. Jawaban Tuhan pasti datang, meski tidak instan. Karena itu, dalam keputusasaan kita, tetaplah berdoa kepada Tuhan dengan tidak jemu-jemu.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pengalamanmu sendiri, apa yang engkau lakukan ketika sedang menghadapi saat-saat yang kritis, sehingga engkau dapat tetap berharap dan percaya kepada Tuhan? Selamat sejenak merenung. Tuhan menolong dan memberkati. (pg).

  • MASALAH: Perlu Cepat Diselesaikan

    Moto yang diusung lembaga Pegadaian buat saya sangat menarik, yaitu menyelesaikan masalah tanpa masalah. Sepertinya sepintas mungkin terlihat aneh, bukannya orang mau menyelesaikan masalah karena ingin keluar dari masalah?

    Sahabat, kenyataannya kalau kita renungkan baik-baik, ada cukup banyak  orang yang keliru dalam mencari solusi sehingga bukannya masalah jadi beres tapi malah menimbulkan masalah baru. Ada yang mencoba lari dari masalah, atau menunda menyelesaikannya, itu bukan cara yang tepat, karena  nantinya malah semakin ribet urusannya. Ingatlah semakin lama Sahabat biarkan, maka masalah akan semakin berbelit-belit, semakin “complicated”, bagaikan benang kusut dan basah,  akan semakin sulit untuk diurai, semakin sulit kita selesaikan.

    Sahabat, Tuhan Yesus bersabda, “… Kesusahan sehari cukuplah untuk sehari.” Bagi saya itu bermakna: Masalah pada hari itu selesaikan pada hari itu juga. Masalah itu perlu cepat diselesaikan.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “MASALAH: Perlu Cepat Diselesaikan”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 25:1-18 dengan penekanan pada ayat 11. Sahabat, Saat bangsa Israel menyembah Baal- Peor dan berzinah dengan perempuan-perempuan Moab, Tuhan menimpakan tulah yang menewaskan 24.000 orang. Tuhan begitu murka terhadap mereka yang berpaling dari-Nya.

    Bersyukurlah, saat itu Pinehas, anak imam Eleazar, bertindak cepat. Demi menyurutkan murka Tuhan, Pinehas membela kehormatan Tuhan di tengah umat Israel sehingga Tuhan tidak jadi menghabisi bangsa Israel (ayat 11). Tak terbayangkan apa yang akan terjadi kalau Pinehas memilih diam saja atau menunda-nunda melakukannya. Pasti akan lebih banyak orang Israel yang mati kena tulah.

    Sahabat, kita hendaknya  bersikap serius terhadap dosa dan masalah. Semakin cepat kita menyelesaikan dosa dan masalah yang terjadi, semakin kecil dampak kerusakannya. Sebaliknya, semakin lama kita menunda atau membiarkannya, keadaan akan semakin buruk dan semakin parah kerusakannya. Marilah kita menjadi orang yang tanggap dan sigap mengatasi masalah.  
       
    Ada banyak masalah yang bisa mengakibatkan munculnya masalah yang lebih banyak dan lebih parah.  Masalah memang memusingkan, dan seringkali membuat kita kerepotan atau bahkan menderita, apalagi kalau sudah berbelit tak lagi tahu dimana ujung pangkalnya. Tapi daripada mengelak atau menghindar dengan lari dari masalah, akan sangat lebih bijaksana kalau kita segera mengambil sebuah langkah dengan tindakan untuk mulai menguraikan kemudian menyelesaikan masalah-masalah itu satu  demi satu.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, bagikanlah pengalamanmu dalam menyelesaikan masalah-masalah yang menghampirimu. Selamat sejenak merenung.  Ingatlah … Kita perlu secepat mungkin membereskan dosa dan masalah yang terjadi. (pg)

  • TUHAN itu BERDAULAT

    Ada pepatah lama yang berbunyi, “Kalau kail hanya sejengkal, jangan laut hendak diduga.” Mengurung TUHAN dalam batas logika manusiawi berarti bahwa manusia salah menempatkan diri.  TUHAN itu berdaulat dan tidak bisa dibatasi. Manusia tidak boleh mempertanyakan atau mengatur TUHAN, melainkan harus percaya dan bersyukur atas kasih-Nya kepada kita.

    Sahabat, orang yang dapat menempatkan dirinya sebagaimana seharusnya akan mengalami kebaikan dan berkat, tetapi orang yang tidak dapat menempatkan diri sebagaimana seharusnya akan selalu menderita dan tidak pernah merasa diberkati. Ketika kita menempatkan diri kita pada posisi yang seharusnya di hadapan TUHAN, kita akan menjadi orang-orang yang bersyukur kepada-Nya. Menempatkan diri secara benar di hadapan TUHAN berarti bahwa kita menerima kedaulatan-Nya dan percaya akan kasih-Nya kepada kita. Ingatlah, Tuhan itu berdaulat.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “TUHAN itu BERDAULAT”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 23:4-24:9. Sahabat, kita melihat betapa Balak terus berusaha walaupun Bileam sudah menyatakan ketidakmampuannya untuk mengutuk Israel, bangsa yang tidak dikutuk Tuhan. Ia hanya dapat mengatakan apa yang difirmankan Tuhan (Bilangan 23:12, 26).

    Balak terus bersikeras. Dengan berpindah ke tempat yang lain, mungkin Bileam berubah pikiran dan mau mengutuk Israel. Bileam sendiri tahu bahwa ia tidak mungkin mengubah keputusan Allah karena Allah bukanlah manusia yang berbohong dan tidak menepati perkataan-Nya (Bilangan 23:19). Dan benar saja, lagi-lagi yang disampaikan Bileam adalah firman Tuhan yang melarangnya untuk mengutuk Israel. Sebaliknya, Tuhan menghendaki Bileam memberkati Israel (Bilangan 23:20).

    Balak melihat Israel sebagai musuh yang harus dikutuk. Namun, Bileam melihat Israel sebagai bangsa yang kudus, besar, dan berkemenangan di dalam Allah yang menyertai mereka. Pada akhirnya, Bileam mengabaikan perintah Balak dan menerima tugas Allah. Maka, ia dipenuhi Roh Allah dan mengucapkan berkat yang indah bagi bangsa Israel (Bilangan 24:2-9).

    Segigih apa pun manusia berupaya, Tuhan tetap akan melaksanakan kehendak-Nya. Manusia yang lemah dan rapuh sesungguhnya tidak mungkin menang melawan kehendak Tuhan. Kuasa seorang raja dan pelihat sekalipun tak akan mampu mengalahkan kuasa Allah. Segala bangsa mau tidak mau mengakui bahwa Allah Israel adalah Allah yang berdaulat dan kehendak-Nya pasti terlaksana.

    Sahabat, manusia dapat membuat banyak rancangan, tetapi keputusan Tuhanlah yang akan terlaksana (Amsal 19:21). Manusia sering tidak menyadari betapa tidak berdaya dirinya, namun terus berupaya melawan Tuhan. Kita juga sering berupaya melawan kehendak Allah. Barangkali sama seperti Balak, kita menipu diri dengan pikiran bahwa Allah akan bekerja mengikuti tuntutan kita.

    Ingatlah bahwa Allah itu Mahakuasa. Allah itu berdaulat. Karena itu manusia tidak mungkin melawan kehendak Allah. Kehendak Allah-lah yang terlaksana!

    Dari hasil perenungan dari bacaan kita pada hari ini, nilai-nilai hidup apa saja yang kita dapatkan?  Jika Tuhan itu berdaulat, bagaimana respons kita seharusnya? Selamat sejenak merenung. Sudahkah kita mengakui dan sungguh-sungguh mengizinkan Allah berdaulat atas hidup kita? (pg)

  • BULATKANLAH HATIKU untuk TAAT

    Sahabat, kehidupan orang percaya sungguh-sungguh tidak bisa dipisahkan dari ketaatan, sebab kita harus hidup dalam kehendak Tuhan, bukan kehendak diri sendiri.  Jadi harus ada penyangkalan diri!  Seringkali kita taat asal itu menyenangkan hati dan menguntungkan kita. 

    Bila harus berkorban dan itu sakit bagi daging, kita akan memberontak dan menolak untuk taat.  Tuhan menghendaki kita untuk taat  dengan bulat hati. Tuhan menghendaki kita taat dalam segala perkara.

    Ingatlah  selalu ada upah bagi orang-orang yang taat.  Karena itu sebagai orang percaya hendaknya kita belajar taat kepada Tuhan:  Memahami kehendak-Nya dan melaksanakan firman-Nya dengan sungguh-sungguh. Percayalah!  Ketika kita hidup dalam ketaatan kita akan memperoleh berkat dan mengalami mukjizat dari Tuhan. Mari kita bulatkan hati untuk taat. 

    Untuk lebih memahami topik tentang: “BULATKAN HATIKU untuk TAAT”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 86:1-17 dengan penekanan pada ayat 11. Sahabat, sama seperti manusia pada umumnya, Daud pun pernah mengalami pergumulan dan penderitaan dalam hidupnya. Dia pernah berada dalam beratnya kesesakan (ayat 7).

    Dalam kesesakan hidup tidak ada hal lain yang dapat dilakukan oleh Daud, selain berseru dan berdoa memohon pertolongan Tuhan. Melalui seruan dan doanya, kita mendapati bahwa Daud sungguh-sungguh berharap kepada Allah. Hal itu tampak dari perkataan Daud: “Sendengkanlah telinga-Mu; peliharalah nyawaku; pasanglah telinga kepada doaku.”  (ayat 1, 2, dan 6)

    Doa dalam kesesakan ini dipanjatkan Daud dengan penuh keyakinan kepada Tuhan. Sekalipun belum menerima jawaban atas doanya, tetapi Daud sama sekali tidak memiliki keraguan terhadap Tuhan. Ia berkata, “…, sebab Engkau menjawab Aku” (7).

    Selanjutnya Daud berdoa, “Tunjukkanlah kepadaku jalan-Mu, ya Tuhan, supaya aku hidup menurut kebenaran-Mu; bulatkanlah hatiku untuk takut akan nama-Mu.”  (ayat 11).

    Sahabat, ketaatan membuka kesempatan bagi kita untuk mengalami dan merasakan campur tangan Tuhan.  Jangan taat hanya karena kita sedang dalam masalah dan pergumulan yang berat, lalu ketika keadaan membaik kita sudah tidak lagi taat kepada Tuhan;  atau kita taat karena kita sungkan kepada hamba Tuhan dan supaya dilihat dan dipuji oleh orang.  Sia-sialah ketaatan yang demikian!  Biarlah ketaatan kita kepada Tuhan didasari oleh karena kita takut akan Dia dan sangat mengasihi-Nya. Mari bulatkan tekad untuk taat.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, Sahabat, tolong jelaskan mengapa Daud berdoa minta pertolongan kepada Allah? (Perhatikan ayat 1, 2, 14, 7, dan 8). Selamat sejenak merenung. Mari kita berdoa, “Bapa, dengarkanlah seruanku pada masa sesak yang mengimpitku.” (pg).

  • KOTA ALLAH: Pengharapan Orang Percaya

    Ada cukup banyak orang yang sangat terikat dengan kota kelahirannya. Sangat senang kalau dapat singgah di kota kelahirannya. Sangat antusias ketika bernostalgia tentang kota kelahirannya. Tentu sangat bahagia dan sangat bangga kalau dapat ikut membangun dan memajukan kota kelahirannya.

    Sahabat, sesungguhnya ada satu kota yang seharusnya kita dambakan melebihi kota kelahiran kita, yaitu Sion yang disebut sebagai kota Allah, karena Kota Allah merupakan pengharapan orang percaya.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “KOTA ALLAH: Pengharapan Orang Percaya”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 87:1-7. Sahabat, Sion disebut sebagai kota Daud yang menunjuk kepada kota Yerusalem. Arti kata “Sion” tidak diketahui dengan pasti, mungkin artinya adalah “puncak bukit” atau “barisan gunung”. Oleh karena itu, Pemazmur menuliskan “di gunung-gunung yang kudus” (ayat 1).

    Dalam Mazmur 48, Pemazmur memuji Yerusalem sebagai tempat Allah memerintah, kota Raja Besar (ayat 3) dan sebagai benteng (ayat 4) bagi orang yang ada di dalamnya. Sion disebut sebagai tempat kediaman Allah (Mazmur 74:2) karena di sanalah bait Allah dibangun. Setiap kali orang percaya berbicara tentang Yerusalem atau Sion, mereka selalu menunjuk kepada pribadi Allah yang hadir dan memerintah. Oleh karena itu, Sion adalah tempat yang luar biasa bagi orang percaya, tempat yang menjadi pengharapan bagi orang percaya.

    Pemazmur dalam Mazmur 87 juga membandingkan Sion dengan beberapa kota yang dibanggakan oleh orang-orang yang lahir di sana, seperti Rahab, Babel, Filistea, Tirus, dan Etiopia (ayat 4). Sion menjadi sangat istimewa karena berbagai tindakan Allah terhadap Sion (Yerusalem), yaitu dibangun dan ditegakkan oleh Allah yang Mahatinggi (ayat 5).

    Di sanalah Sion menjadi pusat penyembahan kepada Allah, sekaligus simbol kehadiran Allah karena Dia mau berdiam bersama umat-Nya. Demikian pula dengan tempat yang harus menjadi dambaan kita adalah tempat di mana Allah berdiam dan hadir di tengah-tengah hidup kita.

    Selain itu, Sion dikaitkan dengan Kota Suci yang tercatat dalam Kitab Wahyu 21:9-27, yaitu Yerusalem baru. Yerusalem baru ini adalah penantian terbesar dan paling didambakan oleh setiap orang percaya. Sama seperti perkataan Pemazmur bahwa kota ini akan mendatangkan sukacita, nyanyian, dan sorak-sorai (ayat 7). Demikian juga Yesusalem baru akan mendatangkan kebahagian kekal bagi orang percaya.

    Sahabat, kita sebagai orang percaya, saat ini kita hidup dalam penantian terhadap sebuah tempat di mana kita dapat menikmati sepenuhnya persekutuan dengan Allah. Apa pun yang kita lakukan setiap hari, kita harus mengerjakannya bukan untuk hidup yang sementara, melainkan untuk kekekalan yang mendatangkan kemulian bagi Tuhan.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, tolong bagikanlah pemahamanmu tentang Kota Sion, Kota Allah. Selamat sejenak merenung. Mari kita berdoa: “Bapa, jadikanlah hidupku hari ini bernilai bagi Kota Suci yang Engkau sediakan bagiku.” (pg)

  • Ketika KELEDAI bisa BERBICARA

    Keledai  itu binatang berkuku satu, mirip kuda kecil, bertelinga panjang dengan  ekor yang hanya pada ujungnya berbulu. Keledai adalah salah satu hewan jinak yang sudah sejak lama berguna bagi kehidupan manusia,   sebagai binatang beban, sarana transportasi, penarik kereta kuda maupun pembajak di ladang. 

    Sahabat, yang menarik, keledai itu bukan binatang yang pandai, dia menyimbolkan kebodohan. Ada pribahasa lama yang berbunyi: “Keledai tidak akan jatuh ke lubang yang sama untuk kedua kali”. Nah, apa jadinya ketika keledai bisa berbicara.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Ketika KELEDAI bisa BERBICARA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Kitab Bilangan 22:21-35. Sahabat, Bileam yang dikenal oleh Balak sebagai  orang yang memiliki kuasa untuk mengucapkan kutuk atau berkat, ternyata tidak dapat melihat malaikat Allah. Justru keledainya yang dapat melihat (ayat 23, 25, 27).

    Sebelumnya pun, Bileam tidak dapat melihat bahwa kepergiannya ke Moab bersama para pemuka Moab sesungguhnya membangkitkan murka Allah (ayat 22). Mungkin, orientasinya pada waktu itu hanyalah tawaran imbalan yang besar dari Balak bila ia mau datang dan mengutuki Israel (ayat 17). Akibatnya, ia tidak menghiraukan larangan
    Allah untuk pergi ke tempat Balak (ayat 12).

    Jika Balak mengutus para pemuka untuk membujuk Bileam, Tuhan mengirimkan utusan-Nya untuk menghalangi kedatangan Bileam. Saat Bileam di tengah jalan, Malaikat Tuhan menghadang keledai yang dia tunggangi. Ini membuat sang keledai tidak mau melanjutkan perjalanan.

    Bileam jadi marah hingga tega memukul keledainya dengan tongkat (ayat 27). Bahkan ia berniat membunuh keledainya, padahal keledainyalah yang menghindarkan dia dari kematian (ayat 23). Ia juga tidak mau mendengarkan perkataan keledai, yang dengan ajaib bisa berbicara kepadanya. Barulah setelah melihat Malaikat Tuhan yang menghalangi jalan si keledai (ayat 28-31), Bileam mengakui kesalahannya dan menyatakan kesediaannya untuk pulang, jika Tuhan menginginkan (ayat 34).

    Namun Malaikat Tuhan menyuruh Bileam untuk tetap pergi, dengan satu syarat, ia harus berbicara sesuai perintah Tuhan (ayat 35). Kembali Bileam berjalan menuju tempat Balak, tetapi kali ini misinya akan tidak sejalan dengan keinginan orang Moab karena kali ini ia akan menyesuaikan dirinya dengan perintah Allah.

    Sahabat, dari peristiwa ini ada pelajaran berharga, yaitu bahwa Tuhan bisa memakai apa saja dan siapa saja untuk menyatakan kehendak dan rencana-Nya.  Bagi Tuhan tidak ada perkara yang mustahil.

    Jangan pernah berpikir bahwa Tuhan tidak mungkin memakai hidupmu karena Sahabat merasa tidak punya sesuatu yang dapat dibanggakan, tak punya apa-apa, kemampuan pun serasa tak ada.  Jangan sekali-kali menyerah pada keadaan yang membuat Sahabat  kehilangan kesempatan untuk maju di dalam Tuhan.

    Sahabat, berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, gumulilah di dalam saat teduhmu saat ini, jika Tuhan bisa memakai keledai, yang hanyalah seekor binatang, mungkinkah  Tuhan  memakai hidupmu untuk menggenapi rencana-Nya? Selamat sejenak merenung. Tuhan menolong dan memberkati. (pg).

  • PEMULIHAN: Kebutuhan Dasar Manusia

    Tuhan tahu benar bahwa manusia itu lemah adanya (Mazmur 103:14).   Manusia, sekuat apa pun jasmaninya, sepintar apa pun otaknya, tetaplah terbatas.  Maka dari itu Tuhan sendirilah yang menyediakan pemulihan bagi segala persoalan yang manusia hadapi. 

    Dengan demikian sesungguhnya pemulihan merupakan kebutuhan dasar manusia. Pemulihan merupakan salah satu kebutuhan dan kerinduan terpenting dalam kehidupan manusia. Setiap saat manusia memerlukan pemulihan. Ada yang ingin dipulihkan dari sakit penyakit; dari hubungan rumah tangga dan sesama yang retak; dari keterpurukan ekonomi, dan masih banyak lagi.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “PEMULIHAN: Kebutuhan Dasar Manusia”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 85:1-14. Sahabat, Pemazmur menyadari dan mensyukuri bahwa Allah berkenan memulihkan dan mengampuni umat-Nya karena amarah Allah terhadap keberdosaan umat-Nya telah reda (ayat 2-4).

    Pemazmur juga menyadari bahwa pemulihan dari Allah itu senantiasa dibutuhkan oleh manusia. Dalam kelemahannya, manusia selalu jatuh dalam dosa. Itu sebabnya, setiap saat manusia, baik disengaja maupun tidak, dapat menyakiti hati Allah dan merusak relasi yang selama ini telah dibangun bersama Allah.

    Karena itu, Pemazmur terus berdoa kepada Tuhan supaya Dia memulihkan keadaan umat-Nya (ayat 5-8). Pemazmur memohon agar Tuhan tidak hanya meniadakan sakit hati dan murka-Nya, tetapi juga menghidupkan dan mengasihi umat-Nya kembali supaya tetap dalam relasi yang diperkenan-Nya. Bagi Pemazmur, pemulihan dan kasih Allah ini merupakan sukacita yang tak ternilai dalam kehidupan manusia.

    Sahabat, pemulihan kondisi seperti apa yang paling kamu rindukan saat ini di hadapan Tuhan? Tidak ada yang salah jika kita mengharapkan disembuhkan dari sakit penyakit, kondisi keuangan yang sulit, dan hubungan antar sesama yang rumit. Keinginan seperti itu lumrah dan manusiawi. Namun, jangan sampai kondisi di atas membuat kita lupa pada prinsip kebenaran yang lebih penting, yaitu kondisi keberdosaan kita.

    Dosa membuat relasi kita semakin jauh dari Tuhan; iman kita goyah karena masalah duniawi. Sukacita terbesar kita adalah ketika mengalami pemulihan dari Tuhan karena Ia akan memampukan kita menghadapi berbagai masalah dalam hidup kita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini dan kemudian kaitkan dengan firman Tuhan yang terdapat di 2 Tawarikh 7:14, tolong uraikan secara singkat apa yang menjadi kunci pemulihan hidup kita. Selamat sejenak merenung.  Mari kita berdoa, “Bapa,  pulihkanlah hidup kami, agar kami dapat menikmati kasih dan rahmat-Mu.” (pg).

  • Jangan biarkan HAL-HAL KECIL mematikan HIDUP KITA

    Kadang tanpa kita sadari, banyak hal-hal kecil yang membuat kita merasa tidak bahagia. Kita sering merasa sebagai orang yang paling menderita di dunia ini. Namun, bila kita berkenan membuka mata lebar-lebar, sesungguhnya masih banyak orang yang lebih menderita ketimbang diri kita. Orang bijak memberi nasihat, “Lihatlah ke bawah, supaya kita bisa bersyukur. Lihatlah ke atas, supaya kita bersemangat!”

    Sahabat, apakah sungut-sungut menyelesaikan masalah? Apakah keluh kesah kita dapat meringankan beban hidup yang tengah kita pikul? Tidak! Sama sekali tidak. Sungut- sungut dan memosisikan diri sebagai orang yang paling menderita akan membuat kita larut dalam kekecewaan dan putus asa. Pada akhirnya, mematikan kehidupan kita. Karena itu jangan biarkan hal-hal kecil mematikan hidup kita.

    Untuk lebih memahami topik tentang: “Jangan biarkan HAL-HAL KECIL mematikan HIDUP KITA”, Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Bilangan 21:4-9. Sahabat, tantangan demi tantangan harus dihadapi bangsa Israel. Mereka harus berhadapan dengan raja negeri Arad. Awalnya mereka kalah, namun karena penyertaan dan kesetiaan Tuhan, bangsa Israel berhasil mengalahkan musuhnya.

    Melihat hal ini, sudah selayaknya bangsa Israel semakin percaya kepada Tuhan. Hal yang terjadi justru sebaliknya. Mereka kembali mengeluh dan melawan Tuhan dan Musa, seolah-olah Tuhan sama sekali tidak memperhatikan dan menyertai mereka (ayat 4-5). Mereka memasalahkan tidak adanya roti dan air. Mereka memasalahkan makanan yang hambar dan memuakan (ayat 5).

    Sungut-sungut mereka membuat Allah murka dan Ia mengirim ular-ular beracun untuk membinasakan umat-Nya sehingga banyak yang mati (ayat 6). Tuhan membuat bangsa Israel bertekuk lutut dan mengakui keberdosaan mereka. Melalui Musa, mereka memohon agar ular-ular tersebut dijauhkan dari mereka (ayat 7).

    Solusinya adalah Musa membuat ular tembaga sesuai dengan perintah Tuhan (ayat 8-9). Melalui ular tembaga itu, Allah ingin mengajarkan satu hal kepada umat-Nya bahwa berkat dan keselamatan dapat diperoleh dengan beriman kepada-Nya. Mereka diingatkan supaya tidak membiarkan hal-hal kecil mematikan hidupnya.

    Sahabat, pernahkah kita dengan sengaja membuat perbandingan, dalam satu hari berapa banyak kita bersyukur dan berapa banyak kita mengeluh dan bersungut-sungut? Lebih mudah bagi kita memuji Tuhan jika mendapatkan segala yang kita inginkan. Bagaimana jika penyakit tak kunjung sembuh,  bisnis berjalan terseok-seok, keluarga mengalami krisis, atau keuangan tetap sulit? Sanggupkah kita tetap bersyukur?

    Tuhan setia pada janji-Nya walaupun kita tidak setia ( 2 Timotius 2:13). Sudah semestinya kita lebih banyak bersyukur ketimbang mengeluh. Mari kita belajar bersyukur setiap saat. Alangkah indahnya apabila kita menjadikan syukur sebagai gaya hidup sehari-hari. Hari demi hari baiklah kita mensyukuri kebaikan dan pertolongan Tuhan. Jagalah agar hal-hal sepele tidak  mematikan hidup kita.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, Sahabat, bagikankanlah nilai-nilai hidup yang kamu peroleh dan dapat kamu jadikan sebagai pegangan dalam menjalani hidup dari hari ke hari. Selamat sejenak merenung. Tuhan menolong dan memberkati. (pg)

  • KERINDUAN kepada TUHAN

    Seorang pemuda menulis WA kepada saya, “Om Paul, renungannya bagus-bagus. Saya senang, setiap pagi saya baca bahkan saya bagikan kepada beberapa sohibku. Tapi Om … Bacaan Sabdanya jangan panjang-panjang.”.

    Sahabat, pernahkah kita sungguh-sungguh merenungkan, apakah kita benar-benar mengasihi Tuhan?  Apakah setiap pagi kita rindu dan haus akan firman-Nya? Apakah kita merindukan Tuhan dan ingin bertemu dengan-Nya melalui doa-doa dan pembacaan firman-Nya?  Berapa lamakah saat teduh yang kita luangkan untuk Tuhan? Adakah kita merasakan kerinduan pada Tuhan seperti kita merindukan kekasih atau keluarga kita?

    Untuk lebih memahami topik tentang:  “ KERINDUAN kepada TUHAN”,  Bacaan Sabda pada hari ini saya ambil dari Mazmur 84:1-13 dengan penekanan pada  ayat 11 dan 12. Sahabat, Pemazmur  dalam Mazmur 84 menunjukkan betapa besar kerinduannya bisa hadir dan berdiam di rumah Tuhan. Dikatakan, orang yang berhasarat mengadakan ziarah (mencari Tuhan atau merindukan Tuhan) adalah manusia yang berbahagia karena kekuatannya berasal dari Tuhan (ayat 6).

    Karena kekuatannya berasal dari Tuhan, maka dia tidak takut ketika dalam perziarahannya dia harus melintasi lembah Baka. Dikatakan mereka berjalan makin lama makin kuat (ayat 7-8)

    Sahabat, kerinduan itu semakin dipertegas melalui suatu perbandingan bahwa satu hari berada di rumah Tuhan jauh lebih baik daripada seribu hari di tempat lain (ayat 11). Bahkan bukan hanya manusia, burung pipit pun rindu dan memilih hidup di dekat mezbah Tuhan (ayat 4).

    Merindukan rumah Tuhan sama saja artinya merindukan Tuhan itu sendiri. Karena pengertian rumah mengacu kepada kondisi kehadiran Tuhan. Hanya dalam rumah Tuhan, umat bisa menumpahkan segala kerinduannya kepada Tuhan. Yang menjadi pertanyaan adalah mengapa Tuhan dan rumah-Nya begitu dirindukan? Jawabannya karena kasih dan kebaikan Tuhan. Kasih dan kebaikan-Nya akan menerangi hidup umat dan menjadi perisai yang melindungi mereka dari segala mara bahaya (ayat 12).

    Sahabat, ungkapan kerinduan yang disampaikan oleh pemazmur ini merupakan salah satu ekspresi cintanya kepada Tuhan. Jika tidak ada cinta, mana mungkin ada rindu. Jika kita sungguh-sungguh mencintai Tuhan, pasti ada rasa rindu kepada Dia dan rumah-Nya. Apakah Anda pernah begitu merindukan Tuhan?

    Kerinduan yang mendalam kepada Tuhan akan mendorong setiap orang untuk hidup  semakin dekat kepada-Nya. Jika dalam hati kita tidak memiliki cinta yang besar kepada Allah, maka jangan berharap akan sungguh-sungguh merindukan-Nya. Karena itu, marilah kita bangkitkan rasa cinta yang tulus kepada Tuhan. Perasaan cinta dapat timbul di hati kalau seseorang mengerti besarnya kebaikan dan kasih Allah dalam hidupnya.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, Sahabat, ceritakanlah secara singkat pengalamanmu sendiri, apakah kamu pernah merasakan kerinduan kepada Tuhan? Apa saja yang kamu lakukan agar kerinduanmu pada Tuhan dapat terobati? Selamat sejenak merenung.  Mari kita berdoa, “Bapa, penuhilah hati kami dengan rasa cinta dan rindu kepada-Mu!” (pg)