Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dan semoga kita bisa semakin menikmati hidup karena kita bisa mensyukuri apa yang telah kita miliki. Mahatma Gandhi (Politikus asal India) berkata, “Bumi ini cukup untuk tujuh generasi, namun tidak akan pernah cukup untuk tujuh orang serakah.”
Saudara, sudah menjadi sifat manusia tidak puas dengan apa yang sudah dimilikinya. Inginnya mendapatkan lebih dan lebih, seperti si lintah yang mempunyai dua anak perempuan, “Untukku” dan “Untukku” (Amsal 30:15). Salomo mengingatkan kita semua, “Siapa mencintai uang tidak akan puas dengan uang, dan siapa mencintai kekayaan tidak akan puas dengan penghasilannya. …” (Pengkotbah 5:9).
Sifat tidak puas terhadap uang atau kekayaan telah mendorong banyak orang untuk melakukan tindakan yang melanggar hukum atau bertentangan dengan kebenaran firman Tuhan, dan tampaknya sifat tidak punya malu ini semakin mewabah di berbagai kalangan. Itulah sebabnya sejak dulu Yohanes Pembaptis memperingatkan para pemungut pajak, “Jangan menagih lebih banyak dari pada yang telah ditentukan bagimu.” (Lukas 3:13), dan juga para prajurit, “Jangan merampas dan jangan memeras dan cukupkanlah dirimu dengan gajimu.” (Lukas 3:14b).
Basuki Tjahaya Purnama (Politikus asal Indonesia) menyatakan, “Anda tidak perlu angkat senjata ke medan perang seperti zaman dulu, Anda cukup jangan korupsi saja itu sudah cukup.”
Mari belajar dari sikap hidup Rasul paulus yang di segala keadaan tetap bisa mengucap syukur: “Aku tahu apa itu kekurangan dan aku tahu apa itu kelimpahan. Dalam segala hal dan dalam segala perkara tidak ada sesuatu yang merupakan rahasia bagiku; baik dalam hal kenyang, maupun dalam hal kelaparan, baik dalam hal kelimpahan maupun dalam hal kekurangan.” (Filipi 4:12).
Mengapa Rasul Paulus tetap bisa puas dan bersyukur? Karena dia tahu bahwa “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.” (Filipi 4:13). Bagi Paulus kepuasan bukan lagi ditentukan oleh kekurangan atau kelebihan, melainkan menerima dengan sukacita berapa pun porsi berkat yang Tuhan tetapkan untuk dirinya.
Ketidakpuasan yang tanpa batas dalam diri seseorang akan membawa kepada keserakahan dan ketamakan, akibatnya orang akan selalu merasa kurang dan tidak pernah cukup. Meski telah mengecap pertolongan dan kebaikan Tuhan, bangsa Israel tidak pernah merasa puas sehingga yang keluar dari mulut mereka hanyalah keluh kesah dan persungutan. Maka, mari belajar untuk mengucap syukur di segala keadaan!
Ingatlah. Mari kita endapkan dalam-dalam nasihat Rasul Paulus, “Memang ibadah itu kalau disertai rasa cukup, memberi keuntungan besar. Sebab kita tidak membawa sesuatu apa ke dalam dunia dan kitapun tidak dapat membawa apa-apa ke luar.” (1 Timotius 6:6-7). Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Better days are coming. (pg)
Leave a Reply