Category: Karib Dengan Tuhan

  • Memberitakan Kabar Baik Yesaya 52:7-10

    Kabar baik apakah yang membuat kita bahagia?

    Di tengah-tengah kesulitan hidup dan ketidakpastian keadaan selama wabah Covid-19 ini, kita semua membutuhkan kabar baik. Kabar / berita yang kita dengar setiap hari bisa bersifat buruk atau kurang menghiburkan. Mengapa kita memerlukan kabar baik? Supaya kita dapat mengetahui bahwa hidup ini berada di bawah kuasa ilahi.

                Apakah semua orang senang mendengarkan kabar baik Allah? Ada orang menanggapi kabar baik itu dengan sikap terbuka. Sebagian orang juga menolak mendengarkan kabar baik itu. Beberapa orang yang lain merasa apatis atau masa bodoh terhadap kabar baik.

    “Kabar baik” dalam perikop Alkitab ini juga berarti “Injil” (bhs. Yunani euangelion). Isinya tentang keselamatan hidup melalui Yesus Kristus (bndg. 1 Korintus 15:2-3).

    Mengapa kita harus percaya pada kabar baik (Injil)? Ada beberapa alasan: Pertama, karena kabar baik itu bisa menyegarkan tubuh (Amsal 15:30; Matius 9:35). Kedua,  karena Yesus menginginkan setiap orang untuk mendengar kabar baik (Markus 16:15-16). Ketiga, karena kabar baik (Injil) adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya (Roma 1:16).

    Yesaya 52:7, Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion: “Allahmu itu Raja!”

    Alkitab menyebutkan bahwa orang yang membawa kabar baik Allah adalah indah. Sebab, ini sebuah kehormatan yang sangat bagus untuk dapat berbagi kabar baik dengan orang lain. Kabar baik itu mencakup penebusan, keselamatan, dan damai sejahtera bagi umat manusia. Kabar baik dalam ayat 7 ini selanjutnya digenapi dengan kedatangan Yesus Kristus ke dalam dunia. Natal  bagi orang percaya adalah sebuah karunia sangat khusus, Allah hadir ke dalam dunia yang berdosa melalui Pribadi Tuhan Yesus.

    Ayat 7 ini berisi tiga hal penting. Pertama, mengabarkan berita damai.  Kabar baik Yesus berisi ajaran damai sejahtera (Efesus 2:17). Sebab itu, kita juga disebut pembawa berita damai (Roma 10:15). Natal merupakan sebuah perdamaian antara Allah dan manusia dengan kedatangan Yesus ke dalam dunia nyata.

    Kedua, memberitakan kabar baik. Kita sesungguhnya dipanggil untuk membawa berita baik dari Allah kepada umat manusia tentang Yesus Kristus. Lihat Lukas 2:10. Kata “jangan takut” berarti tidak takut untuk mendengarkan kabar keselamatan Yesus yang diberikan kepada semua orang. Sedangkan, “kesukaan besar” akan dialami oleh semua bangsa dan suku bangsa.

                Ketiga, mengabarkan berita selamat. Keselamatan hanya ditemukan dalam diri Yesus Kristus, yaitu ketika seorang mau bertobat dan percaya pada Yesus saja sebagai Tuhan dan Juru Selamat (KPR 15:11, 4:12).

                Ayat 10, “TUHAN telah menunjukkan tangan-Nya yang kudus di depan mata semua bangsa; maka segala ujung bumi melihat keselamatan yang dari Allah kita.”

                Di sini, tangan Allah selalu berkaitan dengan penebusan dan keselamatan (bdng. Keluaran 6:6). Kabar baik Allah berisi keselamatan bagi semua orang di dunia, termasuk kamu  dan aku. Dalam hal ini, Allah menyelamatkan kita semua melalui iman dalam Yesus Kristus (Yohanes 3:17, 14:6, KPR 4:12).

                Kabar baik keselamatan dari Yesus Kristus sudah diberitakan kepada banyak orang sejak kedatangan-Nya ke dalam dunia. Marilah kita juga bersedia memberitakan kabar baik  itu kepada orang lain, supaya mereka boleh mengalami pembaruan hidup dalam Yesus sendiri. Tuhan memberkati kita. Selamat Natal….  (Petrus​ ​E.​ ​Handoyo/pg).

  • NATAL identik dengan kabar SUKACITA

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh sukacita. Sahabat, walaupun pandemi Covid – 19 belum usai, semoga hari-hari di masa raya natal tahun ini, hati kita tetap dipenuhi dengan sukacita, karena Yesus lahir membawa pengampunan bagiku dan bagimu. Dia datang mendamaikanku dan mendamaikanmu.

    Saudara, saat ini  penggenapan  nubuatan  nabi Yesaya  yaitu lahirnya Sang Juruselamat dunia,  Yesus Kristus, kita rayakan bersama.  Kelahiran-Nya di Betlehem bukan sekadar kisah kelahiran seorang bayi biasa, anak dari Yusuf dan Maria yang lahir di sebuah palungan sederhana. 

    Tetapi kelahiran-Nya di dunia membawa satu misi yang sangat spektakuler yaitu menegakkan pemerintahan kerajaan Allah di bumi.  Dia yang adalah Allah sendiri, Sang Pencipta langit dan bumi, Tuhan semesta alam, rela datang ke bumi untuk menegakkan kerajaan-Nya di seluruh bumi.

    Saudara, Yesaya mencatat empat nama yang akan menandai tugas Yesus sebagai Juruselamat yaitu:  Penasihat Ajaib, Allah yang Perkasa, Bapa yang Kekal dan Raja Damai (Yesaya 9:5).  Ini membuktikan bahwa nama  “Yesus”  bukanlah nama sembarang nama, melainkan nama yang datang dari surga, pemberian Allah sendiri. 

    Nama  “Yesus”  adalah padanan Yunani untuk kata Ibrani Yeshua, yang artinya Tuhan menyelamatkan,  “Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka.”  (Matius 1:21).  Jadi Yesus datang ke dunia mengerjakan sebuah misi yaitu menyelamatkan manusia melalui kematian-Nya dan kebangkitan-Nya dari antara orang mati,  “… supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.”  (Yohanes 3:16). 

    Natal merupakan  momen yang selalu dinanti-nantikan oleh jutaan orang percaya di muka bumi. Mengapa? Natal identik dengan kabar sukacita sebagaimana disampaikan oleh malaikat kepada para gembala di padang,  “… sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa: Hari ini telah lahir bagimu Juruselamat, yaitu Kristus, Tuhan, di kota Daud.”  (Lukas 2:10-11).

    Dengan kelahiran Yesus Kristus kita yang percaya kepada-Nya memiliki pengharapan yang pasti:   “… keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”  (Kisah Para Rasul 4:12).

    Ingatlah! Memang keadaan saat ini semakin memburuk dan semakin tidak menentu, tapi jangan sampai kita menjadi tawar hati dan berputus asa. Sahabat, yakinlah buluh yang patah terkulai tidak akan diputuskannya, dan sumbu yang pudar nyalanya tidak akan dipadamkannya (Yesaya 42:3). Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Merry Christmas and Happy New Year. (pg)

  • MENJADI Pembawa dan Pemelihara PERDAMAIAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh damai sejahtera. Sahabat, sesungguhnya Tuhan Yesus bukan hanya mendamaikan manusia dengan Allah Bapa, tapi juga mendamaikan manusia dengan manusia, serta mendamaikan manusia dengan dirinya sendiri.

    Sahabat, orang bijak berkata, “Orang yang menemukan kedamaian dalam dirinya, akan menemukan perdamaian dunia”. Sesungguhnya kalau kita tidak bisa berdamai dengan diri kita sendiri, maka orang lain juga tidak akan berdamai dengan diri kita.

    Sebenarnya hampir setiap manusia ingin menikmati kedamaian hidup.  Orang di seluruh dunia ingin hidup dalam damai, bukan dalam pergolakan.  Namun ada satu kebenaran yang perlu kita pegang yaitu orang tidak bisa mengalami damai yang dirindukannya tanpa menerima Raja Damai, Yesus Kristus sebagai Juruselamatnya.   

    Sahabat, damai sejati hanya ditemukan oleh mereka yang telah dipulihkan hubungannya dengan Tuhan lewat kelahiran baru, “Damai sejahtera Allah, yang melampaui segala akal, akan memelihara hati dan pikiranmu dalam Kristus Yesus.”  (Filipi 4:7)

    Alkitab mencatat bahwa damai itu adalah salah satu dari banyak berkat rohani yang dijanjikan kepada orang percaya.  Tuhan Yesus bersabda,  “Damai sejahtera Kutinggalkan bagimu. Damai sejahtera-Ku Kuberikan kepadamu, dan apa yang Kuberikan tidak seperti yang diberikan oleh dunia kepadamu. Janganlah gelisah dan gentar hatimu.”  (Yohanes 14:27). 

    Sangatlah jelas, jika kita ingin memiliki damai, kita tidak mencarinya dalam dunia, tetapi kita harus datang dan menerima Yesus Kristus dalam hati kita;  dan Daud berdoa,  “… TUHAN kiranya memberikan kekuatan kepada umat-Nya, TUHAN kiranya memberkati umat-Nya dengan sejahtera!”  (Mazmur 29:11).

    Tuhan berkata sangat mungkin bagi kita untuk berjalan dalam damai-Nya meski badai hidup mengamuk di sekitar kita.  Inilah janji Tuhan,  “Sebab biarpun gunung-gunung beranjak dan bukit-bukit bergoyang, tetapi kasih setia-Ku tidak akan beranjak dari padamu dan perjanjian damai-Ku tidak akan bergoyang, firman TUHAN, yang mengasihani engkau.”  (Yesaya 54:10). 

    Sahabat,  terpujilah Tuhan dan syukur kepada Allah, Tuhan Yesus telah menguatkan kita!  “Semuanya itu Kukatakan kepadamu, supaya kamu beroleh damai sejahtera dalam Aku. Dalam dunia kamu menderita penganiayaan, tetapi kuatkanlah hatimu, Aku telah mengalahkan dunia.”  (Yohanes 16:33)

    Ingatlah! Mari kita menjadi pembawa dan pemelihara perdamaian, sehingga kita dapat menjawab harapan Bung Karno berikut, “Tidak ada tugas yang mendesak daripada memelihara perdamaian. Tanpa perdamaian, kemerdekaan kita tak ada faedahnya.” Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Merry Christmas and Happy New Year. (pg).

  • Atasnya TERANG telah BERSINAR

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh sukacita. Natal telah tiba. Mari kita menyambutnya dengan penuh sukacita. Justru di tengah-tengah “kegelapan” situasi saat ini, Terang Natal semakin bercahaya. Sahabat, kita boleh takut saat melewati kegelapan, tapi kalau tidak melewatinya, kita takkan pernah sampai pada terang yang kita harapkan.

    Sahabat, apa makna kelahiran Yesus bagi kita saat ini?  Bagi nabi Yesaya, kelahiran Yesus berarti datangnya terang besar bagi bangsa yang berjalan dalam kegelapan, “Bangsa yang berjalan di dalam kegelapan telah melihat terang yang besar; mereka yang diam di negeri kekelaman, atasnya terang telah bersinar.”  (Yesaya 9:1) Pada saat itu bangsa Israel sedang berada di ambang kehancuran karena mereka di bawah penaklukan Asyur sebagai akibat dari dosa mereka sendiri. 

    Kalau kita amati, Alkitab sering memakai kata kegelapan untuk menyimbolkan kejahatan, dosa, hukuman, kesukaran, ketidakpastian dan kematian.  Sebaliknya, Akitab memakai kata terang sebagai simbol kehidupan kekal, keselamatan, pengampunan, sukacita, kebenaran dan segala sesuatu yang baik. 

    Sahabat, inilah yang dianugerahkan Tuhan,  “… atasnya terang telah bersinar.”  Terang adalah keselamatan sempurna dari Allah melalui Pribadi Yesus Kristus.  Segenap umat manusia telah berdosa dan berada di bawah kuasa dosa, dan itu hanya akan membawa kita kepada kematian dan penghukuman kekal. 

    Kini keselamatan sejati telah diberikan kepada kita.  Di dalam diri Yesus, Allah telah melakukan tindakan penyelamatan yang nyata.  Dalam diri Yesus, Allah telah melenyapkan kegelapan dan menggantikannya dengan terang yang ajaib. 

    Siapa terang ajaib itu?  Tuhan Yesus berkata,  “Akulah terang dunia;  barangsiapa mengikut Aku, ia tidak akan berjalan dalam kegelapan, melainkan ia akan mempunyai terang hidup.”  (Yohanes 8:12).  Dalam hal ini Yesus sedang menegaskan otoritas keilahian-Nya sekaligus tindakan penyelamatan-Nya bagi umat manusia.

    Jadi, Yesus adalah Sumber Terang itu sendiri;  Dia yang memberikan terang karena Ia telah mengalahkan kegelapan melalui kematian dan kebangkitan-Nya.  Yohanes menulis,   “Dalam Dia ada hidup dan hidup itu adalah terang manusia.  Terang itu bercahaya di dalam kegelapan dan kegelapan itu tidak menguasainya.”  (Yohanes 1:4-5).

    Ingatlah! Tak ada yang muncul setelah kegelapan selain TERANG. Tak ada yang muncul setelah kesedihan selain sukacita. Yesus adalah hadiah terindah dari surga bagi umat manusia, karena di dalam Dia tidak ada lagi kegelapan, melainkan ada terang, pengharapan dan kehidupan kekal! Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Merry Christmas and Happy New Year. (pg).

  • Ajarlah kami MENGHITUNG HARI-HARI

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur. Kita patut bersyukur karena masih dapat merayakan natal, walau dengan cara yang sangat berbeda dengan tahun-tahun yang lalu. Sahabat, setiap manusia yang hidup di dunia pasti mempunyai waktu. Jumlahnya sama, setiap hari 24 jam. Baltasar Gracian (Penulis asal Spanyol) berkata, “Satu-satunya hal yang menjadi milik kita sepenuhnya adalah waktu; bahkan seseorang yang tidak memiliki apapun pasti memiliki waktu.”

    Saudara, kehidupan manusia di muka bumi ini dibatasi oleh dimensi waktu,  “Untuk segala sesuatu ada masanya, untuk apapun di bawah langit ada waktunya.”  (Pengkhotbah 3:1).  Sehebat dan segenius bagaimana pun seseorang, tidak akan mampu menahan lajunya sang waktu yang terus berjalan tanpa kompromi.  Sampai pada akhirnya manusia dihadapkan pada kematian.  Oleh sebab itu jangan pernah sekalipun kita menyia-nyiakan waktu dan jangan biarkan waktu berlalu dengan sia-sia, tanpa makna.

    Mari kita perhatikan doa Musa,  “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana.”  (Mazmur 90:12).  Semakin kita menyadari betapa pentingnya waktu, semakin kita bijak dalam menjalani kehidupan ini.  Kesadaran seseorang akan pentingnya waktu akan semakin memengaruhi tingkat produktivitas dan kesungguhan dalam menggunakan waktu. 

    Maka muncullah ungkapan,  “Bekerjalah segiat mungkin seolah-olah engkau akan hidup seribu tahun lagi, dan beribadahlah dengan sungguh-sungguh seolah-olah engkau akan mati besok.”  Sesungguhnya waktu kita untuk hidup di bumi  sangat terbatas, karena itu kita harus bisa menggunakannya secara berimbang, kita perlu berorientasi untuk hidup yang sementara  dan hidup yang kekal.

    Saudara, begitu kuota waktu dari Tuhan sudah habis, berakhir pula waktu kita untuk berjerih juang di dunia ini. Hal itu bukan berarti semuanya sudah selesai. Justru saat itulah babak baru dimulai, kita harus mempertanggungjawabkan kepada Tuhan segala perbuatan kita selama di hidup dunia.  “Dan tidak ada suatu makhlukpun yang tersembunyi di hadapan-Nya, sebab segala sesuatu telanjang dan terbuka di depan mata Dia, yang kepada-Nya kita harus memberikan pertanggungan jawab.”  (Ibrani 4:13). Kita perlu menyiapkan diri, karena tiap-tiap pekerjaan akan diuji,  “Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. Jika pekerjaan yang dibangun seseorang tahan uji, ia akan mendapat upah.”  (1 Korintus 3:12-14).

    Ingatlah! Sebelum segala sesuatunya terlambat, selagi kita masih diberi kesempatan untuk hidup, tentukan pilihan hidup yang benar! Sahabat, hiduplah setiap hari seolah-olah untuk terakhir kalinya, maka Sahabat akan terus belajar mengembangkan cara penggunaan waktu dengan cermat. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Merry Christmas and Happy New Year. (pg)

  • KEISTIMEWAAN KASIH TUHAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh kasih. Di hari-hari terakhir dalam tahun 2020, mari sahabat kita merenungkan betapa besar kasih Tuhan dalam kehidupan kita!  Detik demi detik, jam demi jam, hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan, bahkan tahun demi tahun kasih Tuhan kepada kita tidak pernah berubah.  Sungguh, kita tak dapat menghitung  betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus  (Efesus 3:18). 

    Saudara karena begitu besar kasih Allah kepada manusia, sehingga akhirnya Dia mengutus anak-Nya yang tunggal, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16)

    Apa keistimewaan kasih Tuhan? Saudara, berikut  garis besar Keistimewaan kasih Tuhan kepada umat-Nya:  Pertama:  Tak berubah.  Itu berarti kasih Tuhan mengalir terus-menerus tiada berhenti sampai selama-lamanya,  “Sebab kasih-Nya hebat atas kita, dan kesetiaan TUHAN untuk selama-lamanya. Haleluya!”  (Mazmur 117:2).  Kasih manusia bersifat sementara, mudah sekali berubah, sangat bergantung pada situasi dan kondisi;  tetapi kasih Tuhan tidak dapat dipengaruhi oleh apa pun.  Bahkan kita tidak dapat mempengaruhi kasih Tuhan dengan perbuatan-perbuatan baik kita.  Tuhan mengasihi kita sebelum ada perbuatan baik yang kita lakukan bagi-Nya.

    Kedua:  Sempurna.Itu berarti kasih Tuhan itu sepenuhnya, benar-benar, lengkap dan utuh.  Karena itu jangan sekali-kali kita mengukur besarnya kasih Tuhan dengan keadaan yang kita alami, namun ingatlah dan renungkanlah pengorbanan Kristus di atas kayu salib.  Salib adalah bukti nyata betapa sempurnanya kasih Tuhan kepada kita.

    Ketiga: Tak Bersyarat.  Saudara, kita mengasihi, karena Allah lebih dahulu mengasihi kita  (1 Yohanes 4:19), sebaliknya  Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa  (Roma 5:8).  Sangat berbeda, bagai bumi dan langit.   Seringkali kita hanya mau mengasihi orang-orang yang mengasihi kita, jika tidak, kita pun tidak lagi mau mengasihi.  Namun Tuhan sedemikian rupa mengasihi kita dengan  tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua  (Roma 8:32).  Apa pun juga yang ada di dunia ini tidak ada yang sanggup memisahkan kita dari kasih Tuhan.

    Ingatlah! Sahabat, tidak ada alasan bagi kita untuk meragukan kasih Tuhan dalam hidup ini! Karena itu mengasihi orang lain adalah bagian terbaik dari suatu kehidupan. Mother Teresa mengingatkan kita, “Jika saudara menghakimi seseorang, saudara tidak memiliki waktu untuk mengasihi mereka. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Merry Christmas and Happy New Year. (pg)

  • FAKTA yang TERLUPAKAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh hikmat. Sahabat, masih ada cukup banyak diantara kita yang menjalani hidupnya dengan asal hidup. Belum menyadari adanya beberapa fakta dalam kehidupan ini. Fakta berbicara bahwa kadang kesempatan itu hanya datang sekali. Orang meninggal itu tidak mesti karena sakit. Musibah dan bencana datangnya tanpa permisi. Manusia itu serba terbatas, hanya Allah yang tidak terbatas.

    Sahabat, kita harus memerhatikan hidup kita dengan saksama.  Sebenarnya ada cukup banyak fakta dalam kehidupan ini yang seringkali tidak kita sadari atau mungkin sengaja kita abaikan, sehingga dalam menjalani hidup ini kita  berlaku kurang bijak.  Rasul Paulus menasihati, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kita hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif  (Efesus 5:15).

    Sesungguhnya ada beberapa fakta yang perlu kita sadari : Hidup ini sangatlah singkat  (Mazmur 90:3-6), hidup manusia di dunia dibatasi oleh usia  (Mazmur 90:10), dan hanya sekali saja  (Pengkhotbah 9:5). 

    Sahabat, fakta penting lain yang harus selalu kita sadari adalah kita datang ke dunia ini  tidak membawa suatu apa pun, begitu pula kelak ketika kita pergi meninggalkan dunia ini, kita pun akan pergi dengan tangan kosong.  Ayub menyadari fakta ini,  “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. TUHAN yang memberi, TUHAN yang mengambil, terpujilah nama TUHAN!”  (Ayub 1:21).

    Rasul Paulus melalui Timotius mengingatkan kita akan satu fakta,  “… agar mereka jangan tinggi hati dan jangan berharap pada sesuatu yang tak tentu seperti kekayaan, melainkan pada Allah yang dalam kekayaan-Nya memberikan kepada kita segala sesuatu untuk dinikmati. Peringatkanlah agar mereka itu berbuat baik, menjadi kaya dalam kebajikan, suka memberi dan membagi dan dengan demikian mengumpulkan suatu harta sebagai dasar yang baik bagi dirinya di waktu yang akan datang untuk mencapai hidup yang sebenarnya.” (1 Timotius 6:17-19).

    Sahabat, menyadari fakta bahwa kita datang dan pergi dengan tangan kosong akan membantu kita menjalani hidup dengan bergantung sepenuhnya kepada Tuhan, bukan kepada harta kekayaan.  Sedangkan kesadaran bahwa harta kekayaan adalah fana akan membebaskan kita dari keserakahan.  Kita tidak perlu dengan serakah mencari dan mengejar harta kekayaan duniawi yang sifatnya hanya sementara saja.  Paulus menyatakan bahwa orang yang serakah tidak akan mendapat tempat di dalam kerajaan surga  (Efesus 5:5).

    Ingatlah! Kita datang ke dunia tidak membawa apa-apa. Sedangkan kita meninggalkan dunia justru akan membawa apa yang telah kita bagikan, bukan apa yang telah kita dapatkan. Karena itu jangan sampai kita menjadi orang yang serakah. Dahlan Iksan (Politikus dan penulis asal Indonesia) berkata, Dunia ini cukup untuk menampung apapun, namun tidak cukup menampung orang yang tamak dan serakah.” Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Merry Chritmas and Happy New Year. (pg)

  • Betapa Sempurnanya KASIH ALLAH kepada MANUSIA

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur, damai, dan sukacita. Saat ini merupakan saat yang baik dan tepat bagi kita untuk merefleksikan apa makna natal bagi saya pada tahun ini?

    Saudara, natal merupakan bukti nyata betapa sempurnanya kasih Allah kepada manusia. Coba simak sabda Yesus, “Karena begitu besar kasih Allah akan dunia ini, sehingga Ia telah mengaruniakan Anak-Nya yang tunggal, supaya setiap orang yang percaya kepada-Nya tidak binasa, melainkan beroleh hidup yang kekal.” (Yohanes 3:16). 

    Yesus Kristus datang ke dunia dan menjadi manusia. Dia datang untuk menyelamatkan umat manusia dari dosa (Matius 1:21).  Allah harus turun ke dunia dan menjadi sama dengan manusia melalui pribadi Yesus Kristus karena tidak seorang pun manusia sanggup menyelesaikan persoalan dosanya, bagaimana pun caranya. 

    Saudara,  inisiatif keselamatan itu datangnya dari Allah sendiri;  dan hanya melalui Yesus inilah manusia berdosa dapat diselamatkan,  “Dan keselamatan tidak ada di dalam siapapun juga selain di dalam Dia, sebab di bawah kolong langit ini tidak ada nama lain yang diberikan kepada manusia yang olehnya kita dapat diselamatkan.”  (Kisah Para Rasul 4:12).  Yesus datang ke dunia dengan membawa misi mulia,  mencari dan menyelamatkan yang hilang  (Lukas 19:10).

    Jadi  kedatangan Yesus ke dunia adalah untuk mengemban misi penyelamatan dari Bapa:  menebus dosa dan menyelamatkan manusia dari penghukuman kekal.  Dia datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang  (Matius 20:28).  Tugas kita adalah membuka hati dan percaya kepada-Nya, serta menerima keselamatan yang ditawarkan Tuhan. 

    Selain itu Anak Manusia datang ke dunia untuk menyertai umat-Nya, “… ‘Sesungguhnya, anak dara itu akan mengandung dan melahirkan seorang anak laki-laki, dan mereka akan menamakan Dia Imanuel’ — yang berarti: Allah menyertai kita.”  (Matius 1:23) 

    Kata  Imanuel  yang berarti Allah menyertai kita adalah janji Tuhan bagi orang yang percaya. Penyertaan-Nya atas kita bukan hanya pada waktu-waktu tertentu, tapi di sepanjang musim hidup kita. Bahkan Ia akan menyertai kita sampai kepada akhir zaman  (Matius 28:20-b). 

    Oleh karena itu jangan pernah merasa sendiri dalam menghadapi dinamika dan pergumulan hidup.  Tuhan berfirman,  “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”  (Ibrani 13:5-b), bahkan rambut kepala kitapun terhitung semuanya  (Matius 10:30). Itu bukti betapa Tuhan sangat mempedulikan kita. Ingatlah! Bagi orang percaya,  natal bukanlah sekadar seremonial atau tradisi tahunan yang identik dengan pesta, hadiah dan atraksi.  Momen natal hendaknya menyadarkan kita akan besarnya kasih dan anugerah Allah bagi dunia. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Merry Christmas and Happy New Year. (pg).

  • Di taman KASIH KARUNIA TUHAN, bahkan POHON YANG PATAH bisa BERBUAH

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur. Pengalaman hidup saya bercerita bahwa kasih karunia Tuhan membuat segala sesuatu menjadi mungkin. Kalau saya ada sebagaimana saya ada saat ini, itu semata-mata karena kasih karunia Tuhan. Rick Warren (Pendeta dan penulis asal Amerika) berkata, “Di taman kasih karunia Tuhan, bahkan pohon yang patah pun bisa berbuah.”

    Kasih karunia atau anugerah berasal dari bahasa Ibrani khen atau dari bahasa Yunani kharis.  Dalam Perjanjian Lama Tuhan menunjukkan kasih karunia-Nya kepada bapa-bapa leluhur dan bangsa Israel.  Sedangkan dalam Perjanjian Baru kasih karunia Tuhan ditunjukkan-Nya dengan menyelamatkan manusia dari dosa dan hukuman kekal melalui pengorbanan Kristus di atas kayu salib.

    Pemberian kasih karunia  semata-mata ada di bawah otoritas Tuhan sendiri (Keluaran 33:19),  manusia tidak mempunyai andil apa pun di dalamnya;  semuanya dari, oleh dan untuk Tuhan sendiri.  Dengan kata lain kasih karunia itu mutlak hak prerogatif Tuhan. 

    Saudara, dalam masa raya Natal, nama Daud sering disebut dan sering kita dengar dan kita baca. Nama Daud berarti  dikasihi. Daud  adalah salah seorang tokoh besar di Alkitab.  Ia bungsu dari delapan bersaudara keluarga Isai. Masa mudanya banyak dihabiskan di padang rumput menggembalakan domba.  Meski hanya menggembalakan 2-3 ekor saja  (1 Samuel 17:28), ia mengerjakan tugasnya dengan penuh kesetiaan.

    Kesetiaan mengerjakan perkara-perkara kecil itulah yang akhirnya membuka pintu kesempatan bagi Daud untuk dipercaya mengerjakan perkara-perkara besar oleh Tuhan.  Karena kesetiaan Daud, Tuhan mengangkat hidupnya secara luar biasa yang membuatnya terheran-heran,  “Siapakah aku ini, ya TUHAN …dan siapakah keluargaku, sehingga Engkau membawa aku sampai sedemikian ini?”  (1 Tawarikh 17:16). 

    Oleh karena itu kita tak boleh meremehkan atau merendahkan hidup seseorang.  Dari pengalaman hidupnya,  Daud menulis bahwa peninggian hidup seseorang itu datang bukan dari timur atau dari barat, bukan pula dari padang gurun, tapi datangnya dari Tuhan  (Mazmur 75:7-8).  Kalau Tuhan yang membuka pintu, tidak ada yang sanggup menutupnya!  Betapa besar kasih karunia Tuhan yang dianugerahkan kepada Daud.  Oleh sebab itu Daud tidak pernah berhenti untuk mengucap syukur!  “Aku hendak menyebut-nyebut segala pekerjaan-Mu, dan merenungkan perbuatan-perbuatan-Mu.”  (Mazmur 77:13).

    Ingatlah! Setiap kita pasti pernah ditolong Tuhan dan mengecap kebaikan-Nya. Kasih karunia Tuhan yang teramat besar dan mulia telah dicurahkan atas hidup orang percaya, sudah selayaknya kita berlimpah syukur dan menghargainya! Jangan sampai lupa, kita ada  sampai hari ini karena kasih karunia Tuhan semata! Oleh karena itu jangan membuat menjadi sia-sia kasih karunia Allah, yang telah kita terima  (2 Korintus 6:1). Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Merry Christmas and Happy New Year. (pg).  

  • MEMBAGIKAN SUKACITA

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus? Salam sehat penuh sukacita. Bulan Desember telah tiba, biasanya kemeriahan natal mulai kita rasakan di mana-mana, bukan hanya di gereja, tapi terutama di mal-mal, hotel-hotel, tempat hiburan, dan tempat wisata. Tapi untuk  tahun ini tentu sangat berbeda, kemeriahan dan gegap gempita menyambut natal dan tahun baru tidak begitu terasa karena adanya pandemi Covid-19.

    Saudara, sesungguhnya sukacita natal itu tidak tergantung dari seberapa spektakuler perayaan natal yang kita selenggarakan,  melainkan tergantung dari bagaimana sikap hati kita setelah bertemu dengan Yesus, Sang Juruselamat dunia, yang sedang kita peringati hari lahirnya di dunia. 

    Maka hari ini saya ajak saudara belajar dari para gembala dalam perikop yang terdapat di Injil Lukas 2:8-20 di bawah judul: “Gembala-gembala” Biasanya suasana malam hari adalah sunyi senyap dan gelap gulita karena banyak orang sudah terlelap di balik selimutnya.  Namun malam itu, di padang belantara, tempat  para gembala menjaga kawanan ternaknya ada pemandangan dan peristiwa yang berbeda. 

    Biasanya di tempat tersebut hanya terdengar suara kambing domba mengembik, tiba-tiba berubah menjadi gegap gempita,  “Tiba-tiba berdirilah seorang malaikat Tuhan di dekat mereka dan kemuliaan Tuhan bersinar meliputi mereka dan mereka sangat ketakutan. Lalu kata malaikat itu kepada mereka: ‘Jangan takut, sebab sesungguhnya aku memberitakan kepadamu kesukaan besar untuk seluruh bangsa:”  (Lukas 2:9-10).

    Apakah yang sedang terjadi?  Terang dari surga meliputi tempat itu seiring datangnya malaikat Tuhan membawa kabar sukacita bahwa telah lahir Sang Juruselamat yaitu Yesus Kristus di kota Daud (Ayat 11)

    Setelah menerima kabar sukacita, para gembala berkata seorang kepada yang lain: “Marilah kita pergi ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.”  (ayat 15).  Para gembala memiliki respons yang benar akan kedatangan Sang Juruselamat, sehingga tanpa menunda-nunda waktu mereka pun segera pergi ke Betlehem bukan sekadar ingin tahu, tetapi mereka memiliki kerinduan yang mendalam untuk bertemu dengan Yesus. 

    Setelah mereka bertemu dengan Yusuf, Maria, dan bayi Yesus, mereka memberitahukan apa yang telah dikatakan kepada mereka tentang Anak itu (ayat 17). Sungguh luar biasa tindakan mereka selanjutnya, mereka tidak tinggal diam.  Sukacita yang mereka peroleh tidak mereka nikmati sendiri tetapi mereka bagikan kepada orang lain (Ayat 20)

    Ingatlah! Marilah kita meneladani respons dan tindakan para gembala. Membagikan sukacita. Tuhan menghendaki kita  menjadi saksi-saksi-Nya di tengah dunia ini.  Bersaksi tentang Yesus, Sang Juruselamat, yang memperdamaikan manusia dengan Sang Khalik. Bersaksi bahwa kelahiran Yesus membawa sukacita sejati bagi setiap orang yang percaya kepada-Nya, karena di dalam Dia ada pengampunan dan  keselamatan. Tuhan memberkati Saudara dan keluarga. Merry Christmas and Happy New Year. (pg)