Kabar baik apakah yang membuat kita bahagia?
Di tengah-tengah kesulitan hidup dan ketidakpastian keadaan selama wabah Covid-19 ini, kita semua membutuhkan kabar baik. Kabar / berita yang kita dengar setiap hari bisa bersifat buruk atau kurang menghiburkan. Mengapa kita memerlukan kabar baik? Supaya kita dapat mengetahui bahwa hidup ini berada di bawah kuasa ilahi.
Apakah semua orang senang mendengarkan kabar baik Allah? Ada orang menanggapi kabar baik itu dengan sikap terbuka. Sebagian orang juga menolak mendengarkan kabar baik itu. Beberapa orang yang lain merasa apatis atau masa bodoh terhadap kabar baik.
“Kabar baik” dalam perikop Alkitab ini juga berarti “Injil” (bhs. Yunani euangelion). Isinya tentang keselamatan hidup melalui Yesus Kristus (bndg. 1 Korintus 15:2-3).
Mengapa kita harus percaya pada kabar baik (Injil)? Ada beberapa alasan: Pertama, karena kabar baik itu bisa menyegarkan tubuh (Amsal 15:30; Matius 9:35). Kedua, karena Yesus menginginkan setiap orang untuk mendengar kabar baik (Markus 16:15-16). Ketiga, karena kabar baik (Injil) adalah kekuatan Allah yang menyelamatkan setiap orang percaya (Roma 1:16).
Yesaya 52:7, “Betapa indahnya kelihatan dari puncak bukit-bukit kedatangan pembawa berita, yang mengabarkan berita damai dan memberitakan kabar baik, yang mengabarkan berita selamat dan berkata kepada Sion: “Allahmu itu Raja!”
Alkitab menyebutkan bahwa orang yang membawa kabar baik Allah adalah indah. Sebab, ini sebuah kehormatan yang sangat bagus untuk dapat berbagi kabar baik dengan orang lain. Kabar baik itu mencakup penebusan, keselamatan, dan damai sejahtera bagi umat manusia. Kabar baik dalam ayat 7 ini selanjutnya digenapi dengan kedatangan Yesus Kristus ke dalam dunia. Natal bagi orang percaya adalah sebuah karunia sangat khusus, Allah hadir ke dalam dunia yang berdosa melalui Pribadi Tuhan Yesus.
Ayat 7 ini berisi tiga hal penting. Pertama, mengabarkan berita damai. Kabar baik Yesus berisi ajaran damai sejahtera (Efesus 2:17). Sebab itu, kita juga disebut pembawa berita damai (Roma 10:15). Natal merupakan sebuah perdamaian antara Allah dan manusia dengan kedatangan Yesus ke dalam dunia nyata.
Kedua, memberitakan kabar baik. Kita sesungguhnya dipanggil untuk membawa berita baik dari Allah kepada umat manusia tentang Yesus Kristus. Lihat Lukas 2:10. Kata “jangan takut” berarti tidak takut untuk mendengarkan kabar keselamatan Yesus yang diberikan kepada semua orang. Sedangkan, “kesukaan besar” akan dialami oleh semua bangsa dan suku bangsa.
Ketiga, mengabarkan berita selamat. Keselamatan hanya ditemukan dalam diri Yesus Kristus, yaitu ketika seorang mau bertobat dan percaya pada Yesus saja sebagai Tuhan dan Juru Selamat (KPR 15:11, 4:12).
Ayat 10, “TUHAN telah menunjukkan tangan-Nya yang kudus di depan mata semua bangsa; maka segala ujung bumi melihat keselamatan yang dari Allah kita.”
Di sini, tangan Allah selalu berkaitan dengan penebusan dan keselamatan (bdng. Keluaran 6:6). Kabar baik Allah berisi keselamatan bagi semua orang di dunia, termasuk kamu dan aku. Dalam hal ini, Allah menyelamatkan kita semua melalui iman dalam Yesus Kristus (Yohanes 3:17, 14:6, KPR 4:12).
Kabar baik keselamatan dari Yesus Kristus sudah diberitakan kepada banyak orang sejak kedatangan-Nya ke dalam dunia. Marilah kita juga bersedia memberitakan kabar baik itu kepada orang lain, supaya mereka boleh mengalami pembaruan hidup dalam Yesus sendiri. Tuhan memberkati kita. Selamat Natal…. (Petrus E. Handoyo/pg).