Category: Karib Dengan Tuhan

  • PENGHAMBAT MENIKMATI JANJI TUHAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur. Sahabat, dalam usaha kita untuk mendapatkan apa yang kita impikan, tentu akan ada faktor pendukung dan faktor penghambat. Kalau kita ingin menggapai mimpi, maka kita harus dapat menghalau dan melewati hambatan yang ada. Khususnya hambatan dari dalam diri kita sendiri: Mudah menyerah, cepat bosan, kurang sabar, kurang fokus, dan lain-lain.

    Rancangan Tuhan bagi kehidupan orang percaya adalah keberhasilan, hari-hari baik,  dan masa depan yang penuh pengharapan.  Sesungguhnya Tuhan telah menyediakan segalanya bagi kita:  Hikmat, berkat, perlindungan, kesembuhan, mukjizat, pemeliharaan, penyertaan, anugerah dan juga pengampunan. 

    Sahabat,  untuk mendapatkan semua yang baik dari Tuhan, kita harus  memiliki karakter yang baik.  Tanpa karakter yang berkenan di hati Tuhan kita tidak akan menikmati janji-janji Tuhan,  “Sebab mata Tuhan tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada permohonan mereka yang minta tolong, tetapi wajah Tuhan menentang orang-orang yang berbuat jahat.”  (1 Petrus 3:12).

    Ada beberapa karakter yang seringkali menjadi penghambat orang percaya menikmati janji-janji Tuhan:  Pertama,  hati yang tidak mau percaya.  Ketidakpercayaan menjadi penghalang utama mengalami mukjizat Tuhan.  Jangan keraskan hatimu, percayalah kepada Tuhan sepenuhnya.  Tuhan Yesus berkata,  “Katamu:  jika Engkau dapat?  Tidak ada yang mustahil bagi orang yang percaya!”  (Markus 9:23). 

    Kedua, tidak bisa menguasai diri.  Penguasaan diri itu penting, karena itu merupakan salah satu buah-buah Roh.  Jika tidak memiliki penguasaan diri, kita seperti kota yang roboh temboknya  (Amsal 25:28), sehingga musuh akan mudah menyerang dan menjajah kita.

    Ketiga. suka berbohong.  Berbohong berarti melawan kebenaran dan orang yang dusta bibirnya adalah kekejian bagi Tuhan(Amsal 12:22).  Yesus sendiri yang  menyatakan bahwa iblis adalah pendusta dan bapa segala dusta (Yohanes 8:44).

    Keempat, cepat putus asa.  Orang yang mudah putus asa  di tengah jalan pasti tidak akan pernah mencapai tujuan.  Tanpa ketekunan dan kesetiaan adalah mustahil bagi kita menikmati janji Tuhan.

    Kelima, pendendam,  tidak bisa mengampuni,  “…  jikalau kamu tidak mengampuni orang, Bapamu juga tidak akan mengampuni kesalahanmu.”  (Matius 6:15). Jika kita menjadi seorang pendendam,  doa-doa kita tidak akan dijawab oleh Tuhan.  Oleh karena itu buang semua kebencian dan rasa dendam yang ada di hati (Imamat 19:17-18). 
    Ingatlah! Tuhan menjanjikan suatu kehidupan yang penuh berkat dan berkemenangan bagi kita, namun kita pun harus memberikan respons yang benar melalui sikap dan perbuatan yang benar pula. Dengan demikian janji Tuhan akan digenapi dalam hidup kita. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menolong  supaya kita dapat menikmati penggenapan janji-janji-Nya. (pg)

  • SABAT: Menikmati saat ISTIRAHAT

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat dengan memerhatikan waktu istirahat. Sahabat, dalam menjalani kehidupan ini, manusia memang membutuhkan waktu untuk istirahat. Salomo jauh-jauh hari sudah mengingatkan   bahwa untuk segala sesuatu ada masanya. Ada waktu untuk bekerja, dan ada waktu untuk istirahat (Pengkhotbah 3:1). 

    Sahabat, tidur hanyalah salah satu cara untuk beristirahat. Masih ada banyak cara yang lain: Membaca buku, minum kopi, mendengarkan lagu-lagu, nonton film, berkebun, dan lain-lain. Caranya boleh berbeda, tetapi tujuan yang hendak dicapai hampir sama, yaitu supaya kondisi fisik, pikiran, dan hati menjadi lebih tenang, bening, dan segar.

    Kata  shabbat dalam bahasa Ibrani berasal dari kata kerja shabat, dalam bahasa yang sama, yang secara harafiah berarti berhenti. Meskipun shabbat hampir secara universal diterjemahkan istirahat atau suatu masa istirahat, terjemahan yang lebih harafiah adalah berhenti, dengan maksud berhenti dari melakukan pekerjaan. Jadi, sabat adalah hari untuk orang berhenti bekerja, dengan maksud untuk beristirahat.

    Sahabat, lalu apa tujuan Allah berhenti dari segala pekerjaan penciptaan-Nya pada hari yang ketujuh dan menguduskan hari itu? (Kejadian 2:2-3). Lalu apa maknanya bagi kita?

    Pertama, menunjukkan karya Allah itu sempurna. Segala yang dijadikan-Nya sungguh amat baik. Allah berhenti pada hari ketujuh dan menguduskan hari itu menunjukkan bahwa Allah telah menyelesaikan semua karya penciptaan-Nya secara sempurna. Oleh karena itu, hari ketujuh adalah hari perayaan atas mahakarya itu.

    Dengan berhenti bekerja pada hari sabat, sesungguhnya  kita sedang ikut serta dalam perayaan sukacita bersama Allah dalam mengagumi dan menikmati keindahan dan kesempurnaan karya-Nya itu. Kita bersyukur dan memuji kebesaran kuasa Allah atas semua ciptaan-Nya. Kita melakukan perayaan bersama Allah terhadap karya-Nya yang sungguh mempesona.

    Dengan jalan demikian, kita sedang menempatkan Allah dalam posisi Dia yang sebenarnya dan kita menaklukkan diri di hadapan Allah yang mahakuasa yang telah menghasilkan karya terbesar dan termulia yang tiada bandingannya.

    Kedua, menunjukkan model pola kerja yang sistematis bagi kita.Tentu Allah yang Mahasempurna dan Mahatahu berhenti dari pekerjaan-Nya pada hari ketujuh bukan tanpa tujuan dan makna. Dikatakan demikian, karena semua yang Allah lakukan pasti ada muatan tujuan dan makna serta maksud penting bagi Dia dan bagi ciptaan-Nya.

    Pada saat Allah berhenti dari pekerjaan-Nya pada hari ketujuh, sesungguhnya Allah menyediakan model pola keteraturan kerja bagi kita. Hanya kepada kita yang diberikan mandat dan tugas dari Allah untuk mengelola dunia ini. Tentunya dalam pelaksanaan mandat dan tugas tersebut, kita membutuhkan waktu untuk berhenti dari pekerjaan itu. Mengapa? Karena kita yang terdiri dari unsur tubuh, jiwa, roh dengan sendirinya menyadari bahwa kita memiliki keterbasan fisik. Dengan demikian, kita tidak mampu untuk bekerja secara terus-menerus tanpa henti.

    Ingatlah! Kita membutuhkan waktu untuk memulihkan kembali kekuatan fisik kita. Itu sebabnya ada waktu untuk kita beristirahat sehingga tenaga kita bisa dipulihkan. Jauh lebih penting daripada itu, peraturan sabat mengajarkan kita bahwa hidup bukan untuk bekerja saja, tetapi juga untuk menikmati hasil kerja kita. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu memerhatikan kesejahteraan hidup kita. (pg)

  • Kesempatan untuk MEMERSIAPKAN DIRI

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh kesabaran. Sahabat, Yakobus menasihati kita untuk menantikan kedatangan Tuhan dengan penuh kesabaran (Yakobus 5:7).  Kesabaran berbicara tentang daya tahan seseorang dalam menghadapi situasi apa pun,  dan semangat yang tidak mudah patah.  Kalau kita tidak mempunyai kesabaran,  kita takkan mampu mencapai garis akhir, apalagi di masa-masa mejelang kedatangan Tuhan, kita akan menghadapi banyak kesukaran. 

    Untuk itu Rasul Petrus memeringatkan orang percaya untuk mempersiapkan diri sebaik mungkin menjelang hari kedatangan Tuhan yang kedua kalinya.  Tujuan Tuhan datang ke dunia nanti yaitu untuk menghakimi dan menghukum orang-orang yang berdosa,  bukan saja mereka yang melakukan kejahatan, namun juga mereka yang menolak karya keselamatan-Nya. 

    Disamping itu kedatangan Tuhan  juga untuk memberikan upah kepada orang percaya yang setia sampai akhir dan tekun melayani pekerjaan-Nya!  Dengan kata lain, jerih lelah kita dalam melayani pekerjaan Tuhan, diperhitungkan-Nya! 

    Sahabat, kedatangan Yesus  yang kedua itu bukan dongeng, bukan tafsiran, bukan pula  khayalan, namun suatu hal yang pasti!  Tuhan Yesus sendiri menyatakan,  “Dan apabila Aku telah pergi ke situ dan telah menyediakan tempat bagimu, Aku akan datang kembali dan membawa kamu ke tempat-Ku, supaya di tempat di mana Aku berada, kamupun berada.”  (Yohanes 14:3).

    Jika kita berkenan untuk memerhatikan dan peka,  kita akan mendapati bahwa tanda-tanda kedatangan Tuhan satu persatu sudah digenapi  (Matius 24:3-14).  Mari pergunakan kesempatan yang ada untuk kita lebih bersungguh-sungguh di dalam mengerjakan perkara-perkara rohani, mengejar perkenan Tuhan dan berjuang bagaimana supaya kehidupan kita kedapatan tak bercacat dan tak bernoda,  “Sebab itu, saudara-saudaraku yang kekasih, sambil menantikan semuanya ini, kamu harus berusaha, supaya kamu kedapatan tak bercacat dan tak bernoda di hadapan-Nya, dalam perdamaian dengan Dia.”  (2 Petrus 3:14)

    Lalu bagaimana caranya?  Jauhkan diri dari segala bentuk kecemaran, sebab Tuhan memanggil kita bukan untuk melakukan apa yang cemar, melainkan apa yang kudus  (1 Tesalonika 4:7).  Rasul Paulus mengingatkan bahwa keselamatan memang anugrah Tuhan, bukan usaha kita  (Efesus 2:8, 9), tetapi untuk mengerjakan keselamatan dan punya kehidupan tak bercacat cela, menuntut usaha dan kerja keras kita.  Rasul Petrus mengatakan,  “Anggaplah kesabaran Tuhan kita sebagai kesempatan bagimu untuk beroleh selamat, …”  (2 Petrus 3:15).Ingatlah! Sahabat, kalau sampai  hari ini Tuhan belum juga datang ke dunia untuk menjemput kita, bukan berarti Dia lalai, bukan pula berarti Dia ingkar, bukan juga berarti apa yang tertulis di Alkitab itu salah, justru ini kesempatan bagi kita memersiapkan diri sebaik mungkin. Maka jika tidak  ingin tertinggal,  mari siapkan diri menyambut Hari Tuhan dengan hidup benar! Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menyelamatkan kita. (pg)

  • SAHABAT SEJATI

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh persahabatan. Sahabat, seorang sahabat  tidak bisa diartikan sebagai sekadar teman, persahabatan adalah hubungan pertemanan yang selalu ada, saat suka maupun duka. Sahabat adalah seseorang yang menari bersamamu di bawah matahari, dan berjalan bersamamu di kala hujan lebat disertai petir yang bersahutan. Meskipun dalam kondisi terpisah jarak, seorang sahabat akan selalu ingat dan mendoakan. Tentunya kehadiran seorang sahabat dalam hidup merupakan anugerah yang patut disyukuri.

    Mengapa saya menyapa para pembaca dengan sebutan Sahabat? Pertama, saya ingin hadir di semua musim kehidupan mereka.  Kedua, sesungguhnya renungan yang saya bagikan merupakan pengalaman dan pergumulan saya pribadi bersama Tuhan.

    Sahabat, siapa pun kita dalam menjalani kehidupan di dunia,  pasti membutuhkan orang lain. Namun tidaklah mudah menemukan teman yang baik, apalagi teman yang setia di segala keadaan.  Teman datang dan pergi adalah hal yang biasa.  Teman dalam suka banyak, tapi bagaimana dengan teman di kala duka dan lara, tak mudah kita temukan.


    Sebagai orang percaya kita patut bersyukur karena kita mempunyai Tuhan Yesus yang bukan saja sebagai Juruselamat, tapi juga berkenan menjadi sahabat sejati kita.  Bahkan Tuhan sendirilah yang memilih kita menjadi sahabat-Nya.  Tuhan Yesus berkata,  “Aku tidak menyebut kamu lagi hamba, sebab hamba tidak tahu, apa yang diperbuat oleh tuannya, tetapi Aku menyebut kamu sahabat, karena Aku telah memberitahukan kepada kamu segala sesuatu yang telah Kudengar dari Bapa-Ku.  Bukan kamu yang memilih Aku, tetapi Akulah yang memilih kamu.”  (Yohanes 15:15-16a). 

    Tidak berhenti sampai di situ, Tuhan Yesus pun rela mengurbankan nyawa-Nya bagi kita, “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.” (Yohanes 15:13). Kalau Tuhan rela mengurbankan nyawa-Nya, tentu Dia tidak akan tinggal diam ketika kita sedang menghadapi permasalahan yang berat.  Teman, sahabat dan orang-orang yang kita kasihi,  sewaktu-waktu bisa saja pergi meninggalkan kita.  Tapi tolong perhatikan apa yang dikatakan Tuhan Yesus bedrikut ini,  “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5).  Inilah yang seharusnya menjadi kekuatan dan penghiburan bagi kita setiap hari.

    Sahabat, Tuhan berjanji Dia tidak akan membiarkan dan meninggalkan kita bergumul sendirian.  Janji Tuhan itu ya dan amin!  Karena itu jangan pernah merasa sendirian, ada Tuhan Yesus di samping kita.  Kalau kita percaya bahwa Dia adalah Juruselamat dan Sahabat, maka sebesar apa pun persoalan yang kita alami, seberat bagaimana pun pergumulan yang ada, kita akan tetap sanggup berkata,  “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”  (Filipi 4:13),

    Ingatlah! Sahabat memang selalu punya tempat yang istimewa dalam hidup kita. Bersama merekalah, kita dapat berbagi suka maupun duka, menghibur dengan canda dan tawa, dan berbagi keberhasilan maupun kegagalan. Tunggu apa lagi, mari pererat tali persahabatan diantara kita. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menolong dan mengangkat sahabat-Nya. (pg) 

  • Tanah Liat di TANGAN SANG PANJUNAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh keinginan untuk terus belajar. Sahabat, pengalaman hidup saya bercerita bahwa belajar tentang suatu hal tidak harus kita dapatkan di sekolah formal, namun bisa juga melalui kehidupan di dunia luar:  membaca buku, belajar dari pengalaman orang lain,  dan belajar melalui kehidupan sehari-hari yang ada di sekitar kita.

    Itulah  yang dilakukan Tuhan kepada nabi Yeremia. Dia diminta oleh Tuhan untuk menjumpai seorang tukang periuk. Hari ini saya ajak Sahabat untuk belajar dari satu perikop yang  saya ambil dari kitab Yeremia 18:1-17 dengan judul “Pelajaran dari pekerjaan tukang periuk.”

    Dikisahkan, berangkatlah Yeremia untuk  mengunjungi rumah tukang periuk (panjunan) tersebut.  Ia melihat tukang periuk mengambil segumpal tanah liat dan membentuknya menjadi sebuah bejana. 

    Dalam proses pembuatan bejana tersebut,  tiba-tiba bejana yang hampir selesai menjadi retak dan rusak, namun si panjunan tidak langsung membuang bejana yang rusak itu;  dihancurkannya ke dalam tangannya dan dibentuknya kembali menjadi bejana yang lain,  “Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.”  (Ayat 4)

    Sahabat, perjalanan hidup kita  tak ubahnya seperti tanah liat di tangan panjunan.  Kita adalah tanah liat dan Tuhan adalah Sang Panjunan.  Tapi banyak orang tak menyadari bahwa dirinya adalah tanah liat sehingga mereka seringkali memaksakan kehendaknya kepada Tuhan;  kita suka mengatur Tuhan untuk mengikuti kemauan kita.  Kita tidak mau tunduk kepada kehendak Tuhan. (Yesaya 45:9)  


    Lalu, mengapa Tuhan menggambarkan manusia sebagai tanah liat?  Berbicara tentang tanah liat, Tuhan hendak menegaskan kepada kita bahwa sesungguhnya kita ini lemah adanya, tak punya kekuatan apa-apa.  Sesungguhnya tanpa Tuhan turut campur tangan, kita tidak  mampu berbuat apa-apa. 

    Sahabat, berbicara tentang tanah liat, Tuhan juga mau mengingatkan bahwa kita ini tak punya arti apa-apa, tidak ada harganya, dan kotor.  Tanah itu hanya bisa diinjak-injak oleh banyak orang dan akhirnya menjadi rusak.  Namun ketika tanah itu berada dalam genggaman tangan si panjunan, maka tanah akan dibentuk sedemikian rupa menurut apa yang baik pada pemandangannya, sampai akhirnya tanah yang sebelumnya tidak berharga sama sekali menjadi sesuatu yang berharga,  yang tidak berarti menjadi sesuatu yang sangat berarti,  “Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur,”  (Mazmur 113:7).

    Ingatlah! Sebagai Panjunan,  Tuhan tahu  persis yang terbaik bagi kita!  Karena itu tetaplah taat.  Bila saat ini kita sedang menghadapi proses pembentukan yang membutuhkan waktu yang lama, itu artinya Tuhan sedang membentuk kita untuk menjadi bejana indah dan berharga di pemandangan mata-Nya. Bersabarlah! Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk memroses kita menjadi bejana yang mulia. (pg).

  • BELAS KASIHAN ALLAH

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh belas kasihan. Sahabat, belas kasihan mengandung arti bahwa kita peduli akan orang lain, menanggapi keadaan orang lain dengan kelemahlembutan, dan merasakan dorongan yang kuat untuk menolong mereka. Belas kasihan yang benar merupakan perasaan empati yang bekerja. Berbeda dengan perasan simpati yang hanya merasa kasihan karena melihat orang lain menderita tetapi tidak bisa  ikut merasakan apa yang diderita mereka.

    Sahabat, rasa belas kasihan muncul karena adanya penderitaan orang lain. Bagaimana itu bisa muncul dalam hati manusia? Jika kita bayangkan, seandainya manusia tidak jatuh ke dalam dosa, manusia akan hidup bahagia selamanya. Rasa belas kasihan mungkin tidak dibutuhkan. Tetapi, justru dengan jatuhnya manusia kedalam dosa, hidup menjadi berat dan rasa belas kasihan bisa muncul dalam hati manusia yang berdosa. Lalu dari mana datangnya?

    Ceritanya berawal ketika Allah menghukum Adam dan Hawa dan mengusir mereka dari taman Firdaus (Kejadian 3:23), Ia bisa melihat apa yang akan terjadi. Ia berkata bahwa bumi menjadi tempat yang tidak menyenangkan dan manusia harus bergumul untuk bisa hidup di dunia, untuk kemudian kembali menjadi debu (Kejadian 3:17-19).

    Lalu bagaimana Allah yang mahakasih bisa membiarkan ciptaan-Nya menderita seperti itu? Sudah tentu semua itu terjadi karena dosa manusia dan hukuman Allah sudahlah sepantasnya. Tetapi, bukankah Allah adalah Tuhan yang mahakasih?

    Benar, Allah memang mahakasih. Allah adalah kasih (1 Yohanes 4:8). Karena kasih-Nya, dengan kejatuhan manusia,  Ia memulai sebuah proyek besar untuk menyelamatkan umat manusia. Sekalipun manusia akan mati secara fisik, Allah mengirimkan Anak-Nya yang tunggal, Yesus Kristus, untuk menebus dosa manusia sehingga mereka yang percaya kepada Yesus dapat bersatu kembali dengan-Nya di surga. (Yohanes 3:16)

    Itulah  wujud rasa belas kasihan Allah yang sangat besar.  Ia mau mengurbankan diri-Nya sendiri demi manusia yang berdosa. Ia yang melihat bahwa manusia akan hidup menderita di dunia, mau memberikan kebahagiaan yang abadi kepada mereka yang beriman kepada Anak-Nya.  Allah mempunyai rasa belas kasihan karena Ia peduli akan hidup manusia. Ia menanggapi keadaan manusia dengan kelemahlembutan, dan merasakan dorongan yang kuat untuk menolong mereka.

    Sahabat, yang Tuhan kehendaki adalah hati yang berbelas kasihan terhadap orang lain sebagai perwujudan kasih terhadap sesama, “… Yang Kukehendaki ialah belas kasihan dan bukan persembahan, karena Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa.”  (Matius 9:13). 

    Belas kasihan adalah emosi dalam diri seseorang yang muncul akibat melihat penderitaan orang lain.  Ketika seseorang memiliki belas kasihan,  timbullah suatu usaha atau keinginan yang kuat untuk menolong dan mengurangi penderitaan mereka.  Belas kasihan itu mengacu kepada perbuatan baik kepada mereka yang terinfeksi dan terdampak Covid -19, para korban bencana alam, orang-orang yang miskin,  janda-janda, yatim piatu, mereka yang berkebutuhan khusus, dan  orang berdosa.  Ingatlah! Tuhan Yesus tidak sekadar mengajarkan tentang Kerajaan Surga dan memerintahkan orang untuk bertobat, tetapi Ia sendiri juga menunjukkan belas kasihan-Nya dengan tindakan nyata terhadap orang-orang yang sakit dan menderita yang butuh pertolongan (Matius 9:36), termasuk terhadap orang-orang berdosa yang dipandang sebelah mata oleh sesamanya. Tuhan memberkati Sahabat dan keluiarga. Tuhan selalu mempunyai cara untuk menyatakan belas kasihan-Nya. (pg)

  • TETAPLAH BERSUKACITA

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh sukacita. Mendung diciptakan Tuhan bukan untuk membuat langit menjadi gelap, tetapi ia hadir untuk memberi kabar gembira akan sejuknya air hujan yang akan turun. Sahabat, kalau kita dapat melihat situasi dan kondisi di sekitar dari sudut pandang yang positf, maka kita akan dapat menikmati sukacita di setiap waktu.

    Saat ini ada cukup banyak orang yang kehilangan sukacita karena peliknya masalah yang sedang terjadi. Pandemi covid – 19 yang belum dapat diatasi dan bencana alam yang terjadi susul menyusul di beberapa wilayah di Indonesia.

    Sahabat, hari-hari ini ada cukup banyak orang yang kehilangan sukacita karena melihat keadaan dunia yang semakin hari semakin serba tidak menentu. Ada generasi milenial yang kehilangan sukacita karena merasa pesimis dengan masa depan hidupnya. Memang kita tidak bisa memungkiri bahwa situasi dan kondisi yang ada di sekitar turut memengaruhi  hati dan pikiran kita.

    Sebagai orang percaya tidak seharusnya kita kehilangan sukacita, meski situasinya mungkin tidak mendukung.  Tuhan menghendaki agar kita senantiasa memiliki sukacita di segala situasi, entah kita sedang susah atau senang, sedang banyak duit atau  tidak, karena sukacita adalah kekuatan untuk menghadapi setiap tantangan hidup. 

    Bagaimana supaya kita bisa bersukacita dalam segala situasi? Sesungguhnya  kunci untuk tetap mengalami sukacita berawal  dari pikiran kita,   “… seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia.”  (Amsal 23:7a). 

    Sahabat, kita perlu menanamkan dalam hati dan pikiran kita beberapa hal berikut ini:  Pertama,  kita punya Tuhan yang dahsyat.  Pemazmur bersaksi,  “Sebab Tuhan, Yang Mahatinggi adalah dahsyat, Raja yang besar atas seluruh bumi.  Ia menaklukkan bangsa-bangsa ke bawah kuasa kita, suku-suku bangsa ke bawah kaki kita,”  (Mazmur 47:3-4).  Sebesar apa pun masalah yang kita alami, serahkan semuanya pada Tuhan, Dia pasti sanggup menolong kita karena kuasa-Nya tak terbatas.  

    Kedua, masalah adalah proses pendewasaan iman.  Jika kita diizinkan  bergumul dengan masalah, berarti Tuhan sedang mendidik kita supaya kita makin dewasa di dalam iman.  Jadi, tetaplah bersukacita!  Seperti disaksikan oleh Ayub,  “Karena Ia tahu jalan hidupku;  seandainya Ia menguji aku, aku akan timbul seperti emas.”  (Ayub 23:10).  

    Ketiga, Roh Kudus yang senantiasa mendampingi kita, siap memberi kekuatan dan penghiburan.

    Ingatlah! Sahabat, tidak ada alasan bagi kita untuk tidak bersukacita karena kita mempunyai Tuhan yang begitu peduli dan penuh belas kasihan,  “Ia menegakkan orang yang hina dari dalam debu dan mengangkat orang yang miskin dari lumpur,”  (Mazmur 113:7).  Bahkan, Tuhan sanggup membuka jalan saat tiada jalan, membuat yang mustahil menjadi mungkin, dan menjadikan yang tiada berpengharapan menjadi penuh harapan.  Yakinlah tiada ada yang mustahil bagi Dia,  “Ia mendudukkan perempuan yang mandul di rumah sebagai ibu anak-anak, penuh sukacita.”  (Mazmur 113:9). Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk memberi jalan keluar. (pg)

  • TUHAN MERENCANAKAN KEBERHASILAN

    Selamat jumpa para pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh keberhasilan. Sahabat, sesungguhnya keberhasilan  merupakan hak setiap orang. Masalahnya adalah bagaimana orang mengusahakan dirinya untuk bisa mencapai keberhasilan. Ada orang yang sangat gigih untuk mencapai keberhasilan, ada yang biasa-biasa saja. Ada yang kelihatannya biasa saja namun sebenarnya sangat mengusahakan keberhasilan bagi hidupnya sendiri.

    Sahabat, sesungguhnya tidak ada keberhasilan yang dicapai dengan instan. Tidak ada orang yang menjual keberhasilan. Satu-satunya orang yang bisa memberimu keberhasilan adalah dirimu sendiri. Bukan dengan uang dan harta yang kamu miliki lalu kamu bisa mendapatkan keberhasilan. Sahabat, kamu baru bisa mendapatkannya ketika kamu benar-benar bersedia bekerja keras dan mendedikasikan diri bahkan hidupmu  untuk tujuan yang ingin kamu capai.

    Memang untuk berhasil tidak semudah membalikkan telapak tangan.  Terkadang kita harus menghadapi banyak sekali ujian, tantangan dan harga yang harus dibayar.  Ada cukup banyak  tokoh besar dalam Alkitab  sebelum mengalami penggenapan janji Tuhan  harus mengalami proses, harus melewati tahapan-tahapan yang tidak mudah.

    Sahabat, Ayub merupakan seorang yang berhasil.  Sebagai orang yang berhasil bukan berarti Ayub tidak pernah gagal dalam hidupnya.  Ayub pun harus mengalami kegagalan demi kegagalan, penderitaan dan keterpurukan yang luar biasa.

    Namun Ayub tidak pernah menyerah dan putus asa di tengah jalan.  Ia tetap bangkit dan mengarahkan pandangannya kepada Tuhan.  Ayub tetap bersyukur kepada Tuhan.  Di tengah keterpurukannya Ayub masih sanggup berkata,  “Dengan telanjang aku keluar dari kandungan ibuku, dengan telanjang juga aku akan kembali ke dalamnya. Tuhan yang memberi, Tuhan yang mengambil, terpujilah nama Tuhan!”  (Ayub 1:21).

    Bahkan Ayub juga mengingatkan kita,  “Apakah kita mau menerima yang baik dari Allah, tetapi tidak mau menerima yang buruk? Dalam kesemuanya itu Ayub tidak berbuat dosa dengan bibirnya.”  (Ayub 2:10-b).

    Sahabat, gagal bukan akhir dari segalanya.  Tetaplah mengucap syukur seperti Ayub, karena kegagalan bukan rencana Tuhan, walau terkadang Tuhan izinkan kegagalan itu terjadi, supaya kita belajar  untuk tidak menyombongkan diri. Belajar bergantung sepenuhnya kepada Tuhan.  Kegagalan mengingatkan kita untuk introspeksi diri, mungkin selama ini kita hanya mengandalkan kekuatan sendiri dan belum melibatkan Tuhan dalam setiap rencana kita. 

    Ingatlah! Sahabat, saya pernah gagal, dan saya yakin kamu pun pernah gagal. Tapi satu hal yang perlu senantiasa kita ingat, rencana Tuhan atas hidup kita tidak pernah gagal, “Aku tahu, bahwa Engkau sanggup melakukan segala sesuatu, dan tidak ada rencana-Mu yang gagal.”  (Ayub 42:2). Tuhan juga merencanakan keberhasilan bagi kita. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk membuat kita berhasil. (pg)

  • BERCAHAYALAH HIDUPKU

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh kerinduan untuk tetap bisa bercahaya. Sahabat, dalam masa pendemi, kita sebagai komunitas orang percaya perlu untuk menjalankan protokol yang ditetapkan pemerintah: Mencuci tangan dengan sabun; Menjaga jarak; Menjauhi Kerumunan; Meningkatkan daya tahan tubuh; dan Menahan diri dari keinginan bepergian dan berkumpul ria.

    Sahabat, disamping itu, sesungguhnya kita sebagai komunitas orang percaya juga perlu tetap menjalankan perintah Tuhan Yesus untuk tetap BERCAHAYA, ´… hendaknya terangmu bercahaya di depan orang, supaya mereka melihat perbuatanmu yang baik dan memuliakan Bapamu yang di sorga.” (Matius 5:16)

    Wouuuw …! Bercahaya? Kalau begitu kita perlu berjuang untuk jadi bintang. Sahabat, menjadi  seorang bintang merupakan dambaan hampir setiap orang di dunia ini.  Maka tidak heran audisi acara-acara ajang pencarian bakat yang diadakan oleh stasiun televisi swasta nasional, seperti: Indonesian idol, Master Chef, The Voice Indonesia, dan lain-lain, diikuti oleh ribuan peserta, dengan tujuan ingin menjadi bintang.

    Sahabat, menurut pemahaman umum, seorang bintang adalah orang yang hebat, memiliki prestasi luar biasa, dikagumi oleh banyak orang, sukses atau orang yang populer.  Secara umum definisi seorang bintang adalah orang terbaik di suatu bidang tertentu.

    Bagaimana arti seorang bintang di pemandangan mata Tuhan?  Daniel bersaksi, “… orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya.” (Daniel 12:3).Jadi, orang dapat dikatakan seperti  bintang  apabila ia berhasil dalam menjalankan panggilan hidupnya sesuai yang ditentukan oleh Tuhan, yaitu bekerja dan menghasilkan buah. 

    Karena itu Rasul Paulus memberi nasihat,  “Lakukanlah segala sesuatu dengan tidak bersungut-sungut dan berbantah-bantahan, supaya kamu tiada beraib dan tiada bernoda, sebagai anak-anak Allah yang tidak bercela di tengah-tengah angkatan yang bengkok hatinya dan yang sesat ini, sehingga kamu bercahaya di antara mereka seperti bintang-bintang di dunia,”  (Filipi 2:14-15).  Seseorang dapat dikatakan sebagai bintang di mata Tuhan adalah ketika mereka berani hidup  berbeda  dari dunia.

    Daniel, sekalipun hidup di tengah-tengah suatu bangsa yang menyembah kepada berhala, ia tidak terbawa arus.  Ia tetap mampu menjaga hidupnya berkenan kepada Tuhan sehingga kehidupan Daniel pun menjadi berkat bagi banyak orang.  Rasul Paulus tampil sebagai bintang di mata Tuhan karena punya komitmen,  “… jika aku harus hidup di dunia ini, itu berarti bagiku bekerja memberi buah. …”  (Filipi 1:22), dan ia pun mampu menyelesaikan panggilan hidupnya sampai garis akhir (2 Timotius 4:7).

    Ingatlah! Sahabat, saat siang hari, langit nampak begitu terang karena cahaya matahari yang menyinarinya. Kala malam menjelang, langit pun perlahan menjadi gelap, namun cahaya bulan, bintang-bintang di langit serta lampu-lampu di sepanjang jalan dan rumah-rumah membuat malam menjadi penuh pesona. Tanpa cahaya, siang dan malam hanyalah hitam kelam. Tanpa cahaya, mata kita pun tak dapat melihat apa-apa. Dengan cahaya itulah kita bisa menikmati keindahan dari pagi hingga malam. Bercahayalah hidupku! Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan ingin hidup kita bercahaya. (pg).

  • BERSABARLAH menantikan TUHAN BERTINDAK

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh kesabaran. Sahabat, sudah lebih dari 3 tahun saya diberi kesempatan oleh Tuhan untuk menjadi pendamping bagi beberapa orang sahabat atau keluarga dari sahabat yang sakit  serius atau sakit karena usia lanjut. Dari pengalaman tersebut saya semakin disadarkan bahwa beragam masalah hidup terkadang membuat orang harus sabar dan ikhlas menerima kenyataan hidup. Dengan sabar dan ikhlas, maka kita bisa menerima keadaan dengan lapang dada, dan bisa membuat pikiran dan hati kita menjadi tenang.

    Sahabat, kesabaran adalah melakukan sesuatu dalam ketidakpastian namun penuh dengan harapan. Sabar adalah sikap yang bisa kita gunakan untuk menyelesaikan berbagai masalah. Seberat apapun masalah yang kita hadapi, akan lebih mudah diselesaikan dengan kesabaran.

    Bagi orang percaya, memiliki kesabaran itu hukumnya  wajib, karena kesabaran adalah bagian dari buah Roh (Galatia 5:22).  Kesabaran itu sebuah kekuatan, bahkan kekuatannya melebihi seorang pahlawan dan orang yang merebut kota (Amsal 16:32).  Ibarat tanaman, kesabaran itu harus dirawat dan dipupuk setiap saat supaya dapat tumbuh dengan subur, dan pada saatnya berbuah lebat. 

    Sahabat, punya kesabaran adalah sebuah ujian iman!  Saat kita menderita sakit dan sudah lama tidak sembuh juga, adakah kita punya kesabaran untuk menantikan pertolongan dari Tuhan?  Ataukah kita kehilangan kesabaran, lalu berpaling dari Tuhan untuk mencari pertolongan dari pihak lain? 

    Memang tidak mudah bagi kita untuk memiliki kesabaran terlebih lagi bersabar dalam menantikan jawaban doa dari Tuhan, bersabar menantikan janji Tuhan digenapi dalam hidup ini.  Nabi Habakuk menguatkan kita,  “Sebab penglihatan itu masih menanti saatnya, tetapi ia bersegera menuju kesudahannya dengan tidak menipu; apabila berlambat-lambat, nantikanlah itu, sebab itu sungguh-sungguh akan datang dan tidak akan bertangguh.”  (Habakuk 2:3).

    Bisa dimaklumi, menanti sesuatu yang kita harapkan terkadang sangat menjemukan dan membutuhkan kesabaran lebih. Karena itu kita perlu melatih diri bagaimana menjadi orang yang sabar dalam segala situasi.  Saul, karena mengalami ketakutan saat melihat tentara Filistin, tak sabar menantikan pertolongan dari Tuhan, lalu lari mencari pertolongan kepada arwah  (1 Samuel 28:4-7). 

    Sahabat, bukankah tidak sedikit orang percaya yang berlaku demikian?  Tidak sabar menunggu waktu Tuhan bertindak, kita pun lari mencari pertolongan lain.  Padahal Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang Mahasanggup melakukan segala sesuatu di luar apa yang kita pikirkan.

    Ingatlah! Orang bijak berkata, “Keikhlasan itu melegakan, kesabaran itu menguatkan, pasrah itu bikin nyaman, prasangka baik itu mencerahkan.”  Maka pada saat kesabaran dan keikhlasan sedang diuji, selalu ingatlah pada Tuhan dan pasrahkan diri dalam doa. Waktu Tuhan adalah yang terbaik, karena itu bersabarlah menantikan Dia bertindak. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menolong kita menjadi orang yang sabar dan ikhlas. (pg).