Category: Karib Dengan Tuhan

  • KEAGUNGAN CIPTAAN TUHAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh sukacita menyambut  pagi baru yang disediakan oleh Tuhan. Sahabat, iman itu bukan hanya keyakinan, melainkan juga perbuatan. Iman kepada Tuhan tidak hanya ditunjukkan dalam ritual ibadah atau perbuatan etis pada sesama, tetapi juga harus dinyatakan dalam relasi yang etis dengan alam. Kita sebagai makhluk ciptaan Tuhan harus menjaga alam lingkungan sekitar karena alam berasal dari Tuhan juga. Sesungguhnya apa yang kita lakukan kepada alam merupakan wujud syukur kepada Tuhan karena sudah diciptakan.

    Sebagai gembala domba, Daud mempunyai banyak waktu untuk merenung.  Tempat kerjanya dinaungi langit luas nan membentang. Hiburan Daud di malam hari adalah langit yang dihiasi gemerlap bintang. Dalam keadaan sendirian dan terjaga itulah Daud memiliki banyak waktu memandang ke atas dan merenung. Daud begitu mengagumi karya-karya Tuhan yang begitu dashyat dan luar biasa. Saat menatap ke langit,  Daud berujar, “Jika aku melihat langit-Mu, buatan jari-Mu, bulan dan bintang-bintang yang Kautempatkan: apakah manusia, sehingga Engkau mengingatnya? Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?” (Mazmur 8:4-5)

    Sahabat, dalam 2 Samuel 6:12-18 dikisahkan bagaimana Daud membawa Tabut Perjanjian dari rumah Obed-Edom menuju ke Yerusalem.  Digambarkan betapa Daud sangat menghormati Tabut Perjanjian tersebut karena Tabut Perjanjian merupakan lambang kehadiran Tuhan,  “Dan Daud menari-nari di hadapan Tuhan dengan sekuat tenaga;  ia berbaju efod dari kain lenan.”  (ayat 14). 

    Tidak hanya itu;  di sepanjang perjalanan, setiap enam langkah Daud mempersembahkan korban bagi Tuhan berupa seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan sebagai tanda ucapan syukurnya atas penyertaan Tuhan.  Dampak dari kehadiran Tuhan itu sungguh luar biasa;  ketika Tabut Perjanjian berada di rumah Obed-Edom, ia dan seisi rumahnya diberkati Tuhan.  Juga saat Tabut Perjanjian berada di kota Daud,  “… diberkatinyalah bangsa itu demi nama Tuhan semesta alam.”  (ayat 18).

    Sahabat, Daud sangat menghormati dan mengangungkan Tuhan karena ia sadar siapa dirinya di hadapan Tuhan.  Karena itu Daud dengan penuh kekaguman berkata,  “Ya Tuhan, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!  Keagungan-Mu yang mengatasi langit dinyanyikan.”  (Mazmur 8:2). 

    Sungguh ajaib dan agung segala perbuatan Tuhan itu.  Tidak ada rencana-Nya yang gagal!  Tuhan sangat mengasihi manusia, karena itu Dia tidak pernah putus asa untuk memulihkan dan terus memperbaharui manusia,  “Apakah anak manusia, sehingga Engkau mengindahkannya?  Namun Engkau telah membuatnya hampir sama seperti Allah, dan telah memahkotainya dengan kemuliaan dan hormat.”  (Mazmur 8:5b-6). 

    Ingatlah! Sahabat, Daud hidupnya menjadi baru setelah Tabut itu kembali kepadanya.  Sekian lamanya Tabut itu berada di tangan musuh sehingga bangsa Israel senantiasa mengalami kekalahan.  Namun setelah Tabut itu kembali berada di tangan orang Israel, terjadi suatu pemulihan yang luar biasa. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. “Ya TUHAN, Tuhan kami, betapa mulianya nama-Mu di seluruh bumi!” (Mazmur 8:10). (pg)

  • TUHAN BUKIT BATUKU

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur. Sahabat, maaf, selama kita masih hidup di dunia, jangan pernah bermimpi akan terluput dari sakit, krisis, kegagalan, masalah, dan pergumulan lain yang menyesakkan.   Yang terpenting adalah bagaimana reaksi kita dalam menyikapi hal-hal yang menyesakkan. 

    Sahabat, sesungguhnya setiap orang pasti pernah mengalami situasi hidup dalam kesesakan. Sesak karena sakit yang tidak kunjung sembuh. Sesak karena persoalan keluarga yang tak kunjung selesai,  tidak kunjung mendapatkan pekerjaan, bisnis yang terus merugi,  studi yang tidak berjalan dengan lancar, persoalan posisi kita yang terancam, dan lain sebagainya.

    Sesungguhnya, Tuhan tidak pernah meninggalkan kita dalam kesesakan. Selama kita masih berjalan di jalan Tuhan, maka setiap ujian yang Tuhan izinkan terjadi, Tuhan akan turut memikulnya. Tuhan hanya ingin kita melalui setiap prosesnya dengan iman dan kesabaran agar beroleh kualitas yang luar biasa. Di dalam setiap kesesakan kita, Tuhan ada. Di dalam setiap jalan buntu yang kita alami, Tuhan akan buka jalan. Tuhan tidak pernah meninggalkan kita, sebab Dia adalah Allah yang setia.

    Sahabat, Daud, yang hidup melekat kepada Tuhan, juga tidak luput dari hal-hal yang menyesakkan, namun ia telah siap sebelum hal-hal yang menyesakkan menyerang, karena ia sudah  tinggal  di dalam firman-Nya, sehingga dalam situasi yang buruk sekalipun, dengan penuh keyakinan, ia dapat berkata,  “Ya TUHAN, bukit batuku, kubu pertahananku dan penyelamatku, Allahku, gunung batuku, tempat aku berlindung, perisaiku, tanduk keselamatanku, kota bentengku!”  (Mazmur 18:3).

    Mazmur 18 merupakan nyanyian syukur Daud kepada Tuhan ketika Tuhan telah melepaskan dia dari cengkeraman semua musuhnya dan dari cengkeraman Saul. Artinya nyanyian syukur ini lahir dari pengenalan akan penyertaan dan pemeliharaan Tuhan atas kehidupannya;  dia diselamatkan dan dilepaskan dari mara bahaya yang mengancam hidupnya.

    Sahabat pada ayat 5 dan 6 digambarkan seperti apa kesesakan yang dialami oleh Daud:  Tali-tali  maut telah melilit dirinya, banjir-banjir jahanam menimpanya, tali-tali dunia orang mati telah membelitnya, dan perangkap-perangkap maut terpasang di depannya. Dari gambaran tersebut kita dapat menyimpulkan betapa berbahayanya kehidupan yang sedang dihadapi  Daud saat itu. Secara nalar hampir-hampir tidak mungkin dia untuk selamat.

    Di dalam kesesakan tersebut Daud melakukan hal yang benar dengan berseru dan berteriak kepada Tuhan. Dia mendengar seruan Daud dari bait-Nya dan teriakannya minta tolong masuk ke telinga Tuhan. Itu berarti Tuhan menyelamatkan Daud dari marabahaya yang menghimpitnya dan dari kecelakaan yang akan menimpanya.

    Ingatlah! Sahabat, ketika kita mengalami kesesakan, kepada siapakah kita berseru meminta pertolongan? Siapakah yang kita jadikan sebagai gunung batu, tempat perlindungan, perisai dan kota benteng tempat pelarian, ketika kita menghadapi pergumulan hidup yang menghimpit kita? Di dalam kesesakan yang kita hadapi, berserulah kepada Tuhan dan Dia akan bertindak untuk menyelamatkan kita,  “Berserulah kepada-Ku pada waktu kesesakan, Aku akan meluputkan engkau, dan engkau akan memuliakan Aku.” (Mazmur 50:15). Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menolong kita lepas dari kesesakan. (pg)

  • MENJADI orang yang RENDAH HATI

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur. Sahabat, secara naluriah manusia ingin dipuji, diperhatikan, diprioritaskan, dihargai dan tidak mau direndahkan.  Karena itu manusia cenderung meninggikan diri dan sulit bersikap rendah hati.  Di zaman  now, cukup sulit menemukan orang yang rendah hati, karena ada cukup banyak orang yang berpendapat bahwa kerendahan hati itu identik dengan kelemahan, takut pamornya   akan turun.

    Sahabat, kalau kita amati sosial media, ada cenderungan manusia suka sekali beroleh pujian, sanjungan dan acungan jempol dari orang lain atas apa yang dibagikan, atas segala jerih payah dan prestasi yang telah ditorehkan.

    Mungkin tanpa sadar kita sering membusungkan dada ketika menyadari bahwa pelayanan kita lebih berhasil, gereja kita lebih banyak jemaatnya dibandingkan gereja tetangga, perusahaan kita paling bonafide atau segala sesuatu yang ada pada diri kita memiliki nilai lebih dibandingkan dengan orang lain di sekitar kita. Rasul Paulus  mengingatkan kita, “Sebab bukan orang yang memuji diri yang tahan uji, melainkan orang yang dipuji Tuhan.” (2 Korintus 10:18). Sesungguhnya sia-sia belaka jika kita meninggikan diri sendiri, dan beroleh pujian manusia, tapi hidup kita tidak berkenan di hadapan Tuhan!

    Sahabat, kerendahan hati sesungguhnya adalah sifat bijak dalam diri seseorang yang membuat ia dapat memposisikan dirinya sama dengan orang lain, tidak merasa lebih suci, tidak merasa lebih pintar, tidak merasa lebih baik, tidak merasa lebih mahir, tidak merasa lebih hebat, dan dapat menghargai orang lain dengan tulus. 

    Sesungguhnya itulah sifat yang harus kita miliki sebagai murid Kristus, sebab Tuhan Yesus sendiri telah memberikan teladan hidup,  “… yang walaupun dalam rupa Allah, tidak menganggap kesetaraan dengan Allah itu sebagai milik yang harus dipertahankan, melainkan telah mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib. Itulah sebabnya Allah sangat meninggikan Dia dan mengaruniakan kepada-Nya nama di atas segala nama,”  (Filipi 2:6-9).

    Lalu apa ciri-ciri  orang yang mempunyai kerendahan hati?  Pertama,  berani mengakui kesalahan.  Karena takut kehilangan harga diri, maka hanya sedikit orang yang berani mengakui kesalahannya  di depan sesamanya, dan di hadapan Tuhan.  Mereka lebih memilih menyembunyikan kesalahannya dan berlaku munafik.  “Siapa menyembunyikan pelanggarannya tidak akan beruntung, tetapi siapa mengakuinya dan meninggalkannya akan disayangi.”  (Amsal 28:13).  

    Kedua. mau belajar dan diajar.  Sesungguhnya proses  belajar dan diajar   tidak hanya melalui pendidikan formal di sekolah, tetapi juga melalui  sekolah  kehidupan ketika kita berinteraksi dengan sesama di mana pun berada.  Proses ini tidak mengenal batasan usia dan waktu,  “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.”  (Amsal 27:17).

    Ingatlah! Sahabat, tinggi hati itu mendahului kehancuran, tetapi kerendahan hati mendahului kehormatan  (Amsal 18:12). Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menolong kita agar kita bisa menjadi orang yang rendah hati. (pg).

  • Dibutuhkan KESABARAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat disertai sabar menunggu. Sahabat, orang yang menanti itu membutuhkan kesabaran, apalagi menanti kesembuhan dari sakit yang kita derita. Ketika kaki sebelah kiri saya terluka dan kemudian sempat dioperasi, dokter memberitahu bahwa luka saya akan sembuh dalam waktu 9 bulan dan selama itu saya harus minum obat secara teratur. Syukur, berkat bantuan seorang teman yang bekerja di perusahaan farmasi, luka saya dapat sembuh dalam waktu 6,5 bulan. Menanti pertolongan  Tuhan  pada saat kita sedang sakit itu sungguh tidak mudah. Dibutuhkan kesabaran dan keteguhan iman.

    Sahabat, ada cukup banyak orang percaya yang bertanya-tanya dalam hati, “Mengapa pertolongan Tuhan itu begitu lama?” Padahal Tuhan sendiri yang berkata, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.  Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.”  (Matius 7:7-8). 

    Kalau begitu, barangkali Tuhan ingkar dengan janji-Nya?  Tidak mungkin.  Tuhan tidak pernah ingkar dengan janji-Nya.  Janji-Nya yang tertulis dalam Alkitab pasti akan digenapi asalkan kita mau bersabar untuk menantikan Dia bertindak.

    Sahabat, Mazmur 40:2-4 bercerita tentang kesabaran Daud dalam menantikan jawaban Tuhan.  Daud percaya bahwa cepat atau lambat doanya pasti dikabulkan Tuhan, “Tuhan dekat pada setiap orang yang berseru kepada-Nya, pada setiap orang yang berseru kepada-Nya dalam kesetiaan.”  (Mazmur 145:18). 

    Memang, kadang doa kita dijawab Tuhan dalam waktu singkat.  Namun adakalanya doa kita dijawab Tuhan dalam waktu yang cukup lama, seperti Abraham yang harus menunggu selama 25 tahun untuk mendapatkan Ishak. 

    Sahabat,  yakinlah bahwa di dalam Tuhan tidak ada jalan buntu.  Kita tidak perlu takut pada jalan buntu.  Mungkin kita pernah mengalami seolah tiada  jalan keluar  bagi masalah yang sedang kita hadapi. Sesungguhnya  bagi orang-orang yang dikasihi Tuhan selalu ada jalan keluar.  Oleh karena itu kuatkan dan teguhkanlah hatimu. Janganlah kecut dan tawar hati, sebab Tuhan, Allahmu, menyertai engkau, ke manapun engkau pergi (Yosua 1:9).  Untuk dapat menantikan jawaban Tuhan diperlukan suatu keberanian dalam diri kita, karena di dalamnya ada harga yang harus kita bayar, baik ketekunan, kesabaran, maupun kesetiaan.  Ketiga hal ini kerapkali kita abaikan dan kita pun langsung menyalahkan Tuhan dan beranggapan bahwa Tuhan terlalu lambat untuk menolong kita.

    Ingatlah! Sahabat,  Daud tahu benar dan sangat yakin bahwa janji Tuhan bukanlah seperti janji manusia, yang begitu mudah berubah dan kadang tidak ditepati. Janji Tuhan adalah ya dan amin, bukan sekadar  ilusi,  “Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah.” (Mazmur 12:7).  Itulah sebabnya Daud tidak pernah berhenti untuk berharap kepada Tuhan,  “Aku sangat menanti-nantikan TUHAN; lalu Ia menjenguk kepadaku dan mendengar teriakku minta tolong.”  (Mazmur 40:2). Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menolong kita agar kita bisa sabar menanti menunggu Dia bertindak. (pg)

  • USAHAKANLAH Kesejahteraan Kota

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh damai sejahtera. Sahabat, rekan sepelayanan saya di Sinode GKMI, Pdt. Aristarchus Sukarto (Ketua Umum Sinode GKMI periode 2004-2009) sangat menekankan bahwa kita perlu mengusahakan kesejahteraan gereja atau lembaga atau perusahaan tempat kita mengabdikan diri atau bekerja. Dia juga sangat memikirkan dan memerjuangkan kesejahteraan para koleganya. Pada prinsipnya dia mengajak rekan-rekan sepelayanannya untuk memerjuangkan kesejahteraan bersama bukan hanya kesejahteraan diri kita sendiri.

    Maka Pak Aris, demikian saya memanggilnya, sering mengkhotbahkan Yeremia 29:7, “Usahakanlah kesejahteraan kota ke mana kamu Aku buang, dan berdoalah untuk kota itu kepada TUHAN, sebab kesejahteraannya adalah kesejahteraanmu.” Dia betul-betul menghidupi dan menghidupkan ayat tersebut. 

    Sahabat, untuk itu saat ini saya ajak  menimba berkat dari ayat tersebut.  Ajakan, usahakanlah kesejahteraan kota,  ditempatkan di depan. Itu berarti terlepas dari panggilan kita sebagai anak Tuhan untuk terus memanjatkan doa syafaat atas kota, bangsa dan negara kita, termasuk para pemimpinnya, adalah sangat penting bagi kita untuk melakukan sesuatu secara nyata demi kesejahteraan kota tempat kita tinggal.

    Sahabat, kita sebagai komunitas orang percaya diajak  keluar dari balik dinding-dinding gereja untuk menjangkau kehidupan di luar tembok gereja dengan melakukan sesuatu secara nyata. Sekecil apa pun. Mendoakan tentu penting dan dibutuhkan,  tetapi firman Tuhan dalam Yeremia 29:7  mengajak kita untuk semakin menyadari apa yang diminta Tuhan.  Seberapa jauh kita sebagai gereja, hari ini mau berfungsi nyata dalam kehidupan di sekitar.  

    Kita tidak akan pernah bisa tergerak untuk melakukan peran aktif demi kesejahteraan kota apabila kita tidak mengasihi kota tempat kita tinggal. Allah Bapa sudah memberikan contoh, Dia rela mengutus Anak-Nya yang tunggal turun ke dunia karena Dia begitu mengasihi manusia yang berdosa (Yohanes 3:16). Bapak Andreas berkata, “Kita dapat memberi tanpa mengasihi, tapi kita tidak dapat mengasihi tanpa memberi.”

    Demikian juga dengan kota tempat kita tinggal, apabila kita mencintai dan mengasihi kota kita termasuk orang-orang yang hidup di dalamnya, maka di sanalah kita akan mulai memiliki kerinduan untuk mengusahakan sesuatu sesuai dengan kemampuan dan talenta yang kita miliki demi kesejahteraan kota kita.

    Sahabat, Rasul Paulus menjelaskan, “Karena kita ini buatan Allah, diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya. Ia mau, supaya kita hidup di dalamnya.” (Efesus 2:10). Pekerjaan baik sudah dipersiapkan Allah lewat Kristus, ini termasuk dalam mengusahakan kesejahteraan kota tentunya. Tuhan mengatakan bahwa Dia mau kita hidup di dalamnya. Sesungguhnya kesejahteraan kota akan sangat menentukan seberapa jauh kesejahteraan kita.
    Ingatlah! Sahabat, bayangkanlah sebuah kota, keamanannya baik, orang hidup berdampingan secara damai, bersih, asri, saluran air lancar, kita bisa bekerja dengan rasa tenang, bukankah itu sangat indah? Siapa bilang kita tidak bisa memberi sumbangsih apapun untuk itu? Mari mulai hari ini kita sama-sama memikirkan dengan serius apa yang bisa kita usahakan untuk kota kita dan apa yang akan menjadi tindakan kita untuk mewujudkannya secara nyata. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menolong para pejuang kesejahteraan bersama. (pg)

  • SIKAP: Bagian Hidup Yang Dapat Diubah

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat disertai kerelaan untuk mengubah apa-apa yang bisa diubah. Sahabat, sesungguhnya hidup kita bak sampah. Ada sampah yang dapat didaur ulang dan ada sampah yang tidak dapat didaur ulang. Demikian juga dengan hidup kita, ada bagian yang dapat diubah seperti: Sikap, masa depan, kebiasaan, perilaku,  cara pandang, penampilan, dan lain sebagainya. Tapi ada bagian yang tidak dapat diubah seperti: Masa lalu, kesempatan yang kita lewatkan begitu saja, siapa keluarga kita, di mana dan kapan kita lahir, ucapan yang telah kita katakan, dan lain sebagainya.

    Sahabat, untuk bagian yang dapat diubah dalam hidup kita, Rasul Paulus memberikan instruksi,  “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.” (Roma 12:2)

    Kali ini saya mengajak  pembaca untuk sedikit mengupas bagian hidup kita yang dapat diubah yaitu SIKAP (attitude). Sikap menunjuk kepada situasi pikiran seseorang berdasarkan keyakinan-keyakinan dasar (cara pandang) dan nilai-nilai yang dipercayai, emosi dan kecenderungan bertindak terhadap sesuatu yang dihadapi.

    Berbagai keyakinan kita mengenai sesuatu itu membentuk sikap kita. Sikap adalah rasa suka dan tidak suka kita terhadap hal-hal, orang dan obyek-obyek. Sikap memengaruhi respons kita terhadap orang-orang, tempat, berbagai hal, atau kejadian-kejadian dalam hidup yang kita hadapi.

    Sahabat, pikiran yang memegang peranan penting dalam membangun sikap. Karena itu Rasul Paulus memberikan nasihat agar mengarahkan pikiran kita kepada hal-hal yang baik dan benar,  “Jadi akhirnya, saudara-saudara, semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji, pikirkanlah semuanya itu.” (Filipi 4:8).

    Penting sekali kita menyaring asupan untuk pikiran kita, agar hal-hal yang dapat merusak pikiran tidak masuk. Kita singkirkan materi-materi pornografi, kekejaman, kekerasan, fitnah, dan gosip  dari jangkauan kita. Sebaliknya, kita mengisi pikiran kita dengan asupan yang sehat. Asupan utama tentu firman Tuhan. Namun banyak karya-karya rohaniawan, sastrawan, budayawan, seniman, dan ilmuwan, yang bisa menjadi sumber makanan yang sehat bagi pikiran.

    Sahabat, sikap kita adalah pilihan kita. Ketika kita mengalami masalah, kita bisa memilih untuk tetap bersyukur, bersukacita, berpengharapan dan bersikap positif, daripada menggerutu, bersedih, putus asa dan bersikap negatif. Dalam banyak hal, pilihan ini adalah masalah ketaatan kepada kehendak Allah yang menebarkan perintah-perintah pilihan yang positif itu. Karena itu mari kita memilih sikap yang benar dan sikap yang taat. Ingatlah! Sahabat, sikap itu masalah kecil yang berdampak besar. Orang bijak berkata, “Sikap buruk itu seperti ban kempes. Jika Anda tidak menggantinya, maka Anda tidak akan pernah pergi kemana-mana. Sedangkan Nick Vujicic (Penginjil dan motivator asal Australia) berkata, “Dengan mengubah sikap saudara, maka hari depan saudara akan berubah. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk memampukan kita agar dapat mengubah sikap kita. (pg)

  • Menikmati KETENANGAN HIDUP

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh ketenangan dan damai sejahtera. Sahabat, dalam musim penghujan seperti saat ini, langit yang semula nampak bersih dan cerah, tiba-tiba saja dapat berubah menjadi hitam pekat dan kemudian turun hujan lebat disertai angin yang kencang. Itu pula situasi yang kita alami pada saat adanya pandemi Covid-19, peraturan dapat saja berubah setiap saat. Gerak kita semakin terbatas. Seorang teman saya yang berusia sekitar 50 tahun, yang semula masih nampak sehat dan gagah, tiba-tiba saya mendengar dia wafat karena serangan jantung.

    Sahabat, di manakah kita akan menemukan ketenangan? Bagaimana supaya kita bisa menikmati ketenangan? Ada cukup banyak orang yang berpendapat bahwa hidup kita akan tenang jika kita mempunyai harta yang berlimpah atau mempunyai kedudukan (jabatan) yang tinggi, sehingga kemana pun kita pergi selalu dikawal oleh pengawal yang handal dan rumah kita dijaga selama 24 jam penuh. Ternyata di lapangan kita menemukan kenyataan tidak seperti itu.

    Daud menegaskan bahwa orang yang tinggal dekat dengan Tuhan pasti akan mengalami ketenangan dalam hidupnya, “Hanya dekat Allah saja aku tenang, dari pada-Nyalah keselamatanku.”  (Mazmur 62:2). Masalah boleh saja datang, namun kita percaya bahwa Tuhan tidak pernah membiarkan dan meninggalkan kita,  “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.” (Ibrani 13:5-b).

    Sahabat, dalam perjalanan hidupnya, mulai dari saat masih menjadi seorang penggembala domba hingga menjadi raja atas Israel, kehidupan Daud diwarnai dengan hal-hal yang menakutkan. Saat menggembalakan kawanan domba ayahnya ia harus berhadapan dan bergumul dengan binatang buas:  singa dan juga beruang yang hendak menerkam domba-dombanya. 


    Kemudian dia juga harus berhadapan satu lawan satu dengan  pahlawan dan raksasa bangsa Filistin, Goliat.   Ujian yang harus dilewati tidak hanya sampai di situ, Daud pun selalu dikejar-kejar oleh Saul yang hendak membunuhnya.  Hidup Daud seperti berada di ujung tanduk.  Secara manusia ia kerapkali merasa takut dan khawatir, namun ia tetap tenang, karena ia yakin ada Tuhan yang tidak pernah meninggalkannya.  Inilah pernyataan Daud,  “Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau besertaku;  gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku.” (Mazmur 23:4).

    Sahabat, Daud sadar bahwa rasa tenang dan aman itu tidak ditentukan atau dipengaruhi oleh keadaan dan suasana sekitar, orang lain,  harta dan kekuasaan yang kita miliki, tetapi rasa tenang dan aman hanya akan kita rasakan ketika kita dekat dengan Tuhan, karena Dia adalah tempat perlindungan kita (Mazmur 62:9-b).
    Ingatlah! Sahabat, kunci untuk menikmati ketenangan hidup:  Pertama, hidup dekat dengan Tuhan atau memiliki hubungan yang karib dengan Tuhan. Kedua, punya penyerahan diri kepada Tuhan.  Artinya kita memercayakan hidup kita sepenuhnya kepada Tuhan.  Nasihat Daud,  “Serahkanlah hidupmu kepada Tuhan dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak.”  (Mazmur 37:5).  Ketiga, hidup dalam kebenaran.  Yesaya mengingatkan kita,  “Di mana ada kebenaran di situ akan tumbuh damai sejahtera, dan akibat kebenaran ialah ketenangan dan ketenteraman untuk selama-lamanya.”  (Yesaya 32:17). Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menolong kita supaya kita dapat tenang. (pg)

  • SERAHKANLAH Hidupmu kepada TUHAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh penyerahan diri kepada Tuhan. Sahabat, setiap hari kita tidak dapat menghindarkan diri atau lari dari masalah, penderitaan dan kesesakan.  Itu adalah bagian dari kehidupan manusia.  Hal-hal tak terprediksi, tak disangka, tak diduga,  kejadian yang tak pernah diharapkan bisa saja menimpa, seperti bencana, kecelakaan, musibah, malapetaka dan bahkan kematian.  Itulah realitas hidup manusia.

    Sahabat, kita tidak perlu takut dan khawatir dengan realitas yang harus kita hadapi. Memang kekuatan dan kemampuan kita sangat terbatas, tapi kita punya Tuhan yang Mahakuasa, kekuatan dan kemampuan-Nya tidak terbatas. Kita perlu mendengar undangan Tuhan, mari berserah sepenuhnya kepada Tuhan,  “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.”  (1 Petrus 5:7)
     
    Untuk itu kita perlu melakukan doa dalam penyerahan artinya menyerahkan semua permasalahan hidup kepada Tuhan, termasuk semua kekhawatiran, keraguan, kegelisahan dan kebimbangan kepada Tuhan sepenuhnya.  Tuhan tidak menghendaki kita terus diliputi perasaan-perasaan negatif.  Ayub memiliki pengalaman  akan hal ini,  “Karena yang kutakutkan, itulah yang menimpa aku, dan yang kucemaskan, itulah yang mendatangi aku. Aku tidak mendapat ketenangan dan ketenteraman; aku tidak mendapat istirahat, tetapi kegelisahanlah yang timbul.”  (Ayub 3:25-26).

    Sahabat, coba sejenak kita introspeksi, kadang kita meski sudah berdoa tapi hati kita masih saja diliputi kekhawatiran dan kebimbangan:  “Apakah Tuhan sanggup menolongku, memulihkan keluargaku dan menyembuhkan sakitku?”  Itu membuktikan bahwa kita belum memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan. 


    Sahabat, jadi kita harus dengan segenap hati melepaskan semua masalah dan menyerahkan sepenuhnya kepada Tuhan.  Bila kita sungguh-sungguh menyerahkan semuanya kepada Tuhan, kita tidak perlu khawatir lagi karena segala beban tidak lagi berada di atas pundak kita, tetapi beralih ke tangan  Tuhan. 

    Di satu sisi kita tahu bahwa Tuhan itu berkuasa dan sanggup melakukan segala perkara, tetapi di sisi lain,  kita belum memberi-Nya kesempatan untuk menyatakan kuasa-Nya.  Kita membatasi Tuhan untuk bertindak,  padahal kita sudah membawa semua pergumulan melalui doa;  namun ketika kita melangkah pergi kita mengambil kembali beban itu dan memikulnya di atas pundak kita.  Jadi kita sendiri yang sebenarnya tidak mau melepaskan diri dari masalah tersebut.  Tuhan Yesus tidak menghendaki kita terus diliputi oleh kekhawatiran dan kegelisahan setiap hari.

    Ingatlah! Sahabat, Martin Luther, sang reformator, berkata, “Doa adalah suatu yang kuat, karena Tuhan telah mengikatkan diri-Nya kepadanya.” Berdasarkan pengalamannya bersama Tuhan, Daud menghimbau dan meyakinkan kita, “Serahkanlah hidupmu kepada TUHAN dan percayalah kepada-Nya, dan Ia akan bertindak;”  (Mazmur 37:5). Semoga saat ini kita beroleh kekuatan untuk tidak lagi memeluk erat-erat kekhawatiran, masalah, pergumulan, penderitaan, dan sakit penyakit kita. Selanjutnya dengan kerendahan hati kita menyerahkan semuanya kepada Tuhan Yesus. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Selamat Tahun Baru Imlek. Ada pengharapan baru dan ada berkat  baru dari Tuhan. (pg).

  • Hidup SALING MENGASIHI: Perintah Baru

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh kasih. Sahabat, kita sebagai makhluk sosial, kita ditakdirkan untuk hidup saling membutuhkan dan dibutuhkan. Setiap orang membutuhkan orang lain di dalam hidupnya untuk hidupnya. Sejatinya manusia diciptakan Tuhan untuk saling mengasihi, saling menolong,  saling berbagi, saling melengkapi, dan saling memberi muka.

    Maka Tuhan Yesus berkata kepada murid-murid-Nya, “… semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”  (Yohanes 13:35). KASIH menjadi IDENTITAS MURID-MURID YESUS.

    Sahabat, bagi orang percaya kasih bukan hanya suatu ajaran yang harus dipahami dan dimengerti, melainkan lebih daripada itu, kasih adalah inti pengajaran Kristus yang harus dipraktikkan dan dilakukan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.  Tuhan Yesus berkata,  “Aku memberikan perintah baru kepada kamu, yaitu supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.”  (Yohanes 13:34). 

    Dalam hal kasih,  Tuhan Yesus bukan sekadar mengajarkan dan memerintahkan para pengikut-Nya untuk saling mengasihi, tetapi diri-Nya sendiri telah menjadi patron bagaimana seharusnya kita mengasihi dengan benar.

    Sahabat, mengasihi orang lain selalu identik dengan tindakan memberi atau berkorban.  Tuhan Yesus telah membuktikan betapa Ia mengasihi kita dengan mengorbankan diri-Nya di kayu salib,  “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya untuk sahabat-sahabatnya.”  (Yohanes 15:13).  Mengingat kita telah mengalami kasih Kristus, maka sudah selayaknya kita membagikan kasih itu kepada orang lain. 

    Sesungguhnya, mengasihi yang diajarkan oleh Tuhan Yesus bukan hanya sebuah kasih yang kita berikan karena orang lain telah  mengasihi kita, tetapi kita juga harus mampu mengasihi orang yang membenci kita,  “Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian.”  (Lukas 6:32-33).

    Sahabat,  mengasihi musuh merupakan perkara yang tidak mudah, namun jika kita mampu melakukannya kita akan menjadi orang yang  “berbeda”  dari dunia sebagaimana yang Tuhan inginkan,  “Janganlah kamu menjadi serupa dengan dunia ini, tetapi berubahlah oleh pembaharuan budimu, sehingga kamu dapat membedakan manakah kehendak Allah: apa yang baik, yang berkenan kepada Allah dan yang sempurna.”  (Roma 12:2). 

    Sesungguhnya, mengasihi bukanlah perbuatan alternatif   yang ditawarkan oleh Tuhan, tapi suatu perintah yang harus ditaati oleh setiap pengikut-Nya.

    Ingatlah! Sahabat, SALING MENGASIHI merupakan PERINTAH BARU. Itu berarti kita diminta untuk saling mengasihi bukan hanya satu tahun sekali yaitu pada waktu Hari Valentine, hari pernyataan pesan kasih sayang setiap tanggal 14 Februari, melain setiap hari, menjadi gaya hidup kita. Saling mengasihi merupakan perintah yang aktual, yang berlaku sepanjang hidup kita. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara agar kita dapat hidup saling mengasihi. (pg)

  • MASALAH: Bagian dari suatu PROSES (3)

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur dan semangat. Sahabat, kalau kita membaca perumpamaan yang disampaikan oleh Tuhan Yesus di Injil Matius 24:37 – 25:30, terutama perumpamaan tentang talenta dalam Matius 25:14-30, kita menemukan sikap yang dipuji oleh Tuhan Yesus. Sesungguhnya Ia tidak mengutamakan keuntungan lima talenta dan dua talenta, tapi lebih menekankan pada sikap kedua hamba tersebut dalam memberdayakan secara maksimal talenta yang telah mereka terima. Tuhan Yesus sangat menghargai PROSES melalui kesetiaan, ketekunan dan kesungguhan kedua hamba itu dalam bekerja.

    Pdt. Aristarchus Sukarto (mantan Rektor UKDW dan UKRIDA) yang dipanggil Tuhan pada 8 Februari 2021 berkata, ”Kita sering mendengar orang bilang bahwa kenangan terindah itu adalah tercapainya suatu usaha. Tapi buat saya yang paling indah itu adalah PROSESNYA. Sepengetahuan saya, dari semua kehidupan gereja maupun mahasiswa yang pernah saya dampingi, PROSES untuk menjadi sesuatu itu paling menyenangkan. Karena dalam PROSES itu sesuatu terus berkembang dan tangan Tuhan  ada di dalamnya. Tuhan  ada dalam perjalanan BERPROSES.”

    Sahabat, saat kita sedang menghadapi masalah kita menyadari betapa kita sangat membutuhkan Tuhan, dan menyadari bahwa Tuhan satu-satunya sumber pertolongan.  Ada berkat yang baru yang Tuhan sediakan di balik masalah,  “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”  (Ratapan 3:22-23).

    Sesungguhnya Tuhan sedang  MEMPROSES  supaya kita layak untuk menerima berkat-Nya yang baru itu,  “Lihat, Aku hendak membuat sesuatu yang baru, yang sekarang sudah tumbuh, belumkah kamu mengetahuinya? Ya, Aku hendak membuat jalan di padang gurun dan sungai-sungai di padang belantara.”  (Yesaya 43:19).

    Sahabat, berkat yang baru harus ditaruh di  wadah  yang baru,  “Demikian juga tidak seorangpun mengisikan anggur yang baru ke dalam kantong kulit yang tua, karena jika demikian anggur itu akan mengoyakkan kantong itu, sehingga anggur itu dan kantongnya dua-duanya terbuang. Tetapi anggur yang baru hendaknya disimpan dalam kantong yang baru pula.” (Markus 2:22).   Jadi anggur yang baru harus disimpan di kirbat yang baru. 

    Lalu, sudahkah kita benar-benar hidup sebagai  manusia baru?  Selama kita masih mengenakan  manusia lama  Tuhan akan terus MEMPROSES kita,  “Sebab keinginan daging adalah perseteruan terhadap Allah,… Mereka yang hidup dalam daging, tidak mungkin berkenan kepada Allah.”  (Roma 8:7, 8).  Ingatlah! Sahabat, sesungguhnya masalah dipakai Tuhan sebagai PROSES untuk membentuk, mempersiapkan dan menjadikan kita sesuai rencana-Nya! Tuhan MEMPROSES kita melalui masalah supaya kehidupan kita menjadi kesaksian bagi orang lain.  Yakinlah, setiap masalah yang diizinkan Tuhan terjadi, tidak akan melebihi kekuatan kita,  “Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Korintus 10:13). Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk membukakan jalan keluar kepada kita. (pg)