Category: Karib Dengan Tuhan

  • IMAN dan TRADISI

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh ketaatan. Sahabat, ketika saya masih lajang, masih terlibat aktif di komisi pemuda gereja, pada suatu malam saya diajak oleh teman sepelayanan untuk menghadiri acara maisong (malam terakhir sebelum pemakaman/kremasi) ayah pacarnya. Ternyata keluarga pacarnya menganut agama Khonghucu dan kemudian dia diminta untuk pai kui (sujud menyembah) di depan peti jenazah ayah pacarnya. Teman saya menolak untuk melakukan hal tersebut dan akhirnya hubungannya dengan sang pacar tidak berlanjut.

    Sahabat, sesungguhnya orang percaya dan tradisi (adat istiadat) merupakan dua hal yang tidak dapat dipisahkan. Tidak ada seorang pun yang menjadi orang percaya,  dapat melepaskan sama sekali dari  tradisi yang menjadi latar belakang hidupnya. Karena iman dan tradisi adalah dua hal yang memengaruhi hidup seseorang, maka tidak mudah bagi seorang percaya untuk menghidupi iman tanpa terpengaruh tradisi tertentu. Jika tidak bijaksana, maka seorang percaya dapat jatuh ke dalam salah satu ekstrem: anti tradisi atau melebur dengan tradisi.

    Rasul Paulus menghadapi jemaat Galatia yang belum bisa melepaskan diri sepenuhnya dari keyakinan yang lama. Mereka tidak dapat melepaskan diri sepenuhnya dari keyakinan dan tradisi lama bahkan condong untuk kembali kepadanya. Jadi di satu sisi mereka mengaku orang percaya, tetapi di sisi lain tetap memegang kepercayaan yang lama. Paulus sangat khawatir akan gejala yang dapat menyelewengkan mereka dari iman yang sejati, “Kamu dengan teliti memelihara hari-hari tertentu, bulan-bulan, masa-masa yang tetap dan tahun-tahun.” (Galatia 4:10)

    Bagi Paulus, tradisi nenek moyang yang tidak sesuai dengan ajaran Kristus dan yang tidak memuliakan Kristus adalah salah dan tidak boleh dilakukan oleh orang percaya. Mari kita perhatikan nasihat Rasul Paulus kepada jemaat Kolose, “Hati-hatilah, supaya jangan ada yang menawan kamu dengan filsafatnya yang kosong dan palsu menurut ajaran turun-temurun dan roh-roh dunia, tetapi tidak menurut Kristus”. (Kolose 2:8). Dalam bagian ini, Paulus tidak sedang menasihati orang percaya terhadap bahaya filsafat (disiplin ilmu), tetapi di sini Paulus menasihati supaya berhati-hati dengan ajaran turun temurun (tradisi). Paulus disini berbicara masalah kebiasaan yang telah diajarkan secara turun temurun, yaitu tradisi.

    Sahabat, bagaimana dengan Yesus? Apakah Yesus anti tradisi? Tentu tidak, Yesus bukan anti tradisi.  Yesus juga adalah manusia yang menghargai tradisi. Sebagai seorang manusia, Yesus menghargai tradisi bahkan Dia turut ambil bagian dari tradisi (adat Yahudi), misalnya Dia disunat. Akan tetapi ternyata Yesus punya pandangan yang luar biasa terhadap tradisi, Yesus tidak setuju jika tradisi tersebut menjadi yang utama dibandingkan dengan firman Tuhan. Dalam Matius 15:3, Tuhan Yesus memberi jawab kepada orang-orang Farisi dan ahli Taurat, “Mengapa kamupun melanggar perintah Allah demi adat istiadat nenek moyangmu?” Yesus dengan sangat tegas mengecam orang Yahudi yang sangat memelihara tradisi nenek moyang tetapi melanggar firman Tuhan. 

    Ingatlah! Tuhan Yesus dan Rasul Paulus punya perspektif yang sama tentang tradisi. Secara implisit, Tuhan Yesus dan Paulus setuju bahwa selagi tradisi  sesuai dengan ajaran firman Tuhan, minimal tidak bertentangan dengan firman Tuhan,  maka tradisi tidak jadi masalah. Secara eksplisit Tuhan Yesus dan Paulus mengecam orang yang lebih mengutamakan tradisi daripada firman Tuhan, dan mereka yang menjalankan tradisi, akan tetapi tidak menjalankan firman Tuhan. Tuhan Yesus memberkati Sahabat dan keluarga. Selamat Tahun Baru Imlek. Ada harapan dan berkat yang baru. (pg).

  • MASALAH: Bagian dari suatu PROSES (2)

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh sukacita. Sahabat, entah kita sadari atau tidak kemajuan teknologi informasi telah menggiring kita menjadi manusia yang lebih mengutamakan hasil daripada PROSES. Rupanya kemajuan teknologi menumbuhkan generasi instan, ingin serba cepat. Menunggu 30 menit dianggap terlalu lama. Kalau memesan sesuatu hampir selalu disertai pesan, ”Tidak pakai lama ya”

    Sesungguhnya alam telah banyak mengajar kepada kita, bahwa untuk mencapai sesuatu itu perlu PROSES, yang membutuhkan: usaha,  waktu, ketekunan dan  komitmen. Di dunia pertanian sangat nyata, kalau kita menanam benih pada hari ini, tidak mungkin kita dapat memetik buahnya besok, atau satu minggu lagi atau satu bulan lagi.

    Seekor  kupu-kupu yang indah dan bisa terbang kesana kemari, harus terlebih dahulu menjalani PROSES menjadi ulat dan kepompong. Semua butuh proses, dan sesungguhnya MASALAH-MASALAH yang ada merupakan bagian dari proses,

    Sahabat, sesungguhnya  hidup kita sebagai orang percaya merupakan  sebuah perjalanan yang tidak mudah, tidak selalu melewati jalan yang rata, tapi justru penuh dengan tantangan, seperti perjalanan bangsa Israel sebelum mencapai Tanah Perjanjian,  harus menaklukkan musuh-musuh,  “Tetapi negeri, ke mana kamu pergi untuk mendudukinya, ialah negeri yang bergunung-gunung dan berlembah-lembah, yang mendapat air sebanyak hujan yang turun dari langit; suatu negeri yang dipelihara oleh TUHAN, Allahmu: mata TUHAN, Allahmu, tetap mengawasinya dari awal sampai akhir tahun.” (Ulangan 11:11-12). 

    Kalimat  bergunung-gunung dan berlembah-lembah  merupakan gambaran bahwa perjalanan yang harus kita tempuh adalah perjalanan yang penuh liku-liku, masalah bisa datang kapan saja. Sahabat, tidak usah gentar, Tuhan yang menyertai kita   jauh lebih besar daripada semua masalah yang ada, dan Ia tidak akan melepaskan pandangan-Nya, bahkan mengawasi kita dari awal sampai akhir!

    Lalu, apa tujuan Tuhan memroses kita? Tuhan perlu memroses kita supaya kita memiliki kualitas hidup yang lebih baik lagi,  “Apabila bejana, yang sedang dibuatnya dari tanah liat di tangannya itu, rusak, maka tukang periuk itu mengerjakannya kembali menjadi bejana lain menurut apa yang baik pada pemandangannya.”  (Yeremia 18:4). 

    Sahabat, semakin kita memiliki kehidupan yang berkualitas, semakin kita menjadi perabot untuk maksud yang mulia  (2 Timotius 2:21).  Tuhan menggunakan masalah untuk mengembangkan karakter kita, menjadikan masalah sebagai latihan rohani yang bertujuan untuk menguatkan iman kita.  Karena itu jangan jadikan masalah sebagai beban yang justru akan membuat kita semakin stress, tapi anggaplah sebagai kesempatan untuk lebih mendekat kepada Tuhan, mencari wajah-Nya lebih sungguh dan bergantung penuh kepada-Nya.

    Ingatlah! Sahabat, pengalaman hidup saya bercerita bahwa penyembahan yang mendalam dan doa yang tulus dan murni biasanya terjadi ketika seseorang sedang menghadapi masalah yang berat,  “Apabila orang-orang benar itu berseru-seru, maka TUHAN mendengar, dan melepaskan mereka dari segala kesesakannya. TUHAN itu dekat kepada orang-orang yang patah hati, dan Ia menyelamatkan orang-orang yang remuk jiwanya.”  (Mazmur 34:18-19). Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menyediakan jalan keluar bagi kita. (pg)  

  • MASALAH: Bagian dari suatu PROSES (1)

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena kita mempunyai Tuhan yang lebih besar daripada masalah-masalah yang kita hadapi. Sahabat, dalam hidup ini kita  tentu memiliki  harapan, baik di bidang pekerjaan, karir, hubungan cinta, prestasi, dan di bidang kehidupan lainnya.  Mungkin diantara kita ada juga yang sudah tahu bahwa untuk mewujudkan harapan tersebut dibutuhkan yang namanya doa, perjuangan dan pengorbanan. Suatu proses yang cukup rumit dan panjang untuk kita lalui.

    Sahabat, sesungguhnya masalah merupakan bagian dari suatu proses; dan tidak ada seorang pun di dunia ini yang dapat menghindari masalah.   Senang atau tidak senang, suka atau tidak suka, siap atau tidak siap, kita pasti menghadapi masalah-masalah dalam kehidupan ini.  Oleh karena itu jangan pernah lari dari masalah, karena yang menjadi persoalan adalah bukan bagaimana caranya kita dapat menghindarkan diri dari masalah, namun yang paling utama adalah bagaimana respons  kita terhadap masalah yang terjadi.

    Kita seringkali lupa bahwa perjalanan hidup orang percaya tidak hanya sekadar berbicara tentang berkat, mukjizat, kemenangan, pemulihan dan sebagainya, tetapi juga proses;  berkat, mukjizat, kemenangan, pemulihan adalah  hasil dari sebuah proses. 

    Sahabat, masalah adalah satu bentuk dari proses itu sendiri!  Berkat, mukjizat, kemenangan dan pemulihan adalah hal yang pasti Tuhan sediakan, karena Dia adalah Tuhan yang selalu memegang setiap janji-Nya.  “Allah bukanlah manusia, sehingga Ia berdusta bukan anak manusia, sehingga Ia menyesal. Masakan Ia berfirman dan tidak melakukannya, atau berbicara dan tidak menepatinya?”  (Bilangan 23:19). 

    Seringkali kita terlalu sibuk memikirkan bagaimana cara untuk mendapatkan berkat Tuhan, tapi ketika dihadapkan pada masalah sebagai bagian dari proses, kita memiliki repons yang tidak benar:  mengomel, bersungut-sungut, marah, berontak, mengambinghitamkan orang lain atau keadaan, dan bahkan berani menyalahkan Tuhan.

    Sesungguhnya merupakan hal yang  mudah bagi Tuhan untuk membawa bangsa Israel keluar dari Mesir karena Firaun dan bala tentaranya bukanlah suatu halangan berarti, tapi untuk membentuk dan memproses bangsa Israel Tuhan membutuhkan waktu yang cukup lama yaitu 40 tahun di padang gurun, karena bangsa Israel dikenal sebagai bangsa yang tegar tengkuk  (Keluaran 32:9). 

    Sahabat,  apakah kita mau taat atau tidak, punya penyerahan diri atau tidak, ketika sedang berada dalam  prosesnya Tuhan?  Yang pasti, setiap proses yang Tuhan izinkan terjadi dan kita alami semuanya mendatangkan kebaikan bagi kita, karena Tuhan tidak pernah merancang hal-hal yang jahat terhadap kita (Roma 8:28).

    Ingatlah! Sukses itu bukan perkara hasil, tapi sukses adalah sebuah perjalanan proses sampai di hasil yang kita inginkan. Ibaratnya kita sedang menaiki anak tangga, kita tak bisa langsung sampai ke anak tangga yang paling atas. Satu per satu menaiki anak tangga hingga akhirnya mencapai anak tangga yang paling  atas. Anak tangga itu adalah masalah demi masalah yang harus kita hadapi. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menolong kita dalam menyelesaikan setiap masalah. (pg)

  • PERTOLONGAN dan PERLINDUNGAN ALLAH

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena pertolongan Tuhan senantiasa datang tepat pada waktu-Nya. Sahabat, ketika saya merenungkan perjalanan hidup saya sendiri, maka tiba pada satu kesimpulan, kalau saya masih dapat bertahan  hidup sampai hari ini, itu karena anugerah, pertolongan, dan perlindungan Tuhan saja. Saya nyaris mati sudah lebih dari 5 kali, baik karena kecelakaan lalu lintas maupun sakit dan sebab yang lain.  

    Bagi Sahabat yang membaca Alkitab dari Kejadian sampai dengan Wahyu secara berurutan setiap hari, maka ketika sampai di kitab 2 Samuel akan lebih antusias membacanya. Membaca kitab tersebut seperti menyaksikan sebuah serial sinetron di televisi yang seru dan menegangkan.

    Di kitab 2 Samuel, kita bisa membaca kisah perjalanan raja Daud. Bagaimana Daud berusaha memantapkan kedudukannya sebagai raja di Israel, ia diperhadapkan dengan  tantangan dari pihak militer, intrik politik, dan pengkhianatan dari sahabat dan anggota keluarganya sendiri. Di dalamnya tentu ada kisah Daud dan Batsyeba.

    Namun di penghujung kitab 2 Samuel, kita menemukan nyanyian syukur Daud (2 Samuel 22:1-51). Pengenalannya akan Allah yang diteguhkan oleh pengalamannya berjalan bersama Allah, dituangkan di dalam nyanyian syukurnya. Nyanyian Daud dalam perikop ini adalah nyanyian tentang dilepaskannya Daud dari musuhnya, “… dalam kesesakan, aku berseru kepada Tuhan, … Ia mendengar suaraku dari bait-Nya, …” (ayat 7)

    Dia bersyukur kepada Allah atas belas kasihan, kasih setia, dan kelepasan yang diberikan-Nya, “… Engkaulah pelitaku, ya TUHAN, dan TUHAN menyinari kegelapanku” (ayat 29).

    Sahabat, dalam banyak kesulitan yang dihadapinya, Daud berpaling kepada Tuhan, “Karena dengan Engkau aku berani menghadapi gerombolan, dengan Allahku aku berani melompati tembok” (ayat 30).

    Mungkin kita dapat merasakan dan memahami pergumulan-pergumulan Daud karena seperti kita, ia pun jauh dari sempurna. Namun Daud tahu bahwa Allah jauh lebih besar daripada bagian-bagian hidupnya yang paling kacau sekalipun.

    Sahabat, bersama Daud, kita dapat berkata, “Adapun Allah, jalan-Nya sempurna; sabda Tuhan itu murni; Dia menjadi perisai bagi semua orang yang berlindung pada-Nya” (ayat 31).

    Ingatlah! Sahabat, fungsi nyanyian syukur tersebut bagi Daud ialah berterima kasih kepada Tuhan sehingga beroleh hati yang  bijaksana. Juga agar beroleh kekuatan dalam menapaki kehidupan. Selain itu, bersaksi supaya orang yang mendengarkan atau melantunkan nyanyian tersebut dapat memperoleh kekuatan hidup. Sudahkah kita menghitung berkat pertolongan dan perlindungan Tuhan? Hitunglah, dan saksikanlah, maka kita akan memperoleh kekuatan hidup bagi diri sendiri dan juga memberikan kekuatan hidup bagi  bagi orang lain! Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menolong dan melindungi  kita. (pg)

  • BELAJAR dari SEMANGAT KALEB

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat disertai semangat untuk menggapai mimpi-mimpi. Sahabat, tak bisa dimungkiri, semangat menjadi satu di antara kunci keberhasilan dalam menggapai cita-cita. Hal itu dikarenakan tak sedikit orang yang kehilangan semangat saat menghadapi halangan dan tantangan. Memang jalan untuk menggapai mimpi tidak selamanya datar dan mulus, kadang menanjak, berkelok, bergelombang, berlubang dan berlumpur. Terkadang seseorang menemui hambatan, yang bisa membuatnya  terpuruk. Bahkan, tak sedikit orang yang berhenti dan melupakan impian hidupnya. Nah, dalam kondisi seperti itu, kita butuh yang namanya SEMANGAT.

    Sahabat, tidak sedikit orang yang mengalami kegagalan dalam hidup bukan karena mereka  tidak berpendidikan, namun karena mereka tidak memiliki semangat dalam menjalani hidup.  Sedikit saja mengalami masalah atau kesulitan langsung mengeluh, mengasihani diri sendiri secara berlebihan, dan kehilangan semangat. 

    Sekarang, perhatikan apa yang dikatakan Salomo berikut ini,   “Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?”  (Amsal 18:14).  Seberat apa pun tantangan yang dihadapi janganlah kita sampai kehilangan semangat.  Mengapa?  Karena kita punya Tuhan yang tidak pernah meninggalkan kita, Ia begitu peduli dengan keadaan kita.  “Dia memberi kekuatan kepada yang lelah dan menambah semangat kepada yang tiada berdaya.”  (Yesaya 40:29).

    Sahabat, belajarlah dari Kaleb, yang tetap memiliki semangat hidup luar biasa sekalipun sudah berumur 85 tahun,  “… aku masih sama kuat seperti pada waktu aku disuruh Musa; seperti kekuatanku pada waktu itu demikianlah kekuatanku sekarang untuk berperang dan untuk keluar masuk.”  (Yosua 14:11). 

    Kaleb tetap bersemangat dalam menjalani kehidupan karena ia senantiasa mengarahkan pandangannya kepada janji-janji Tuhan,  “Janji TUHAN adalah janji yang murni, bagaikan perak yang teruji, tujuh kali dimurnikan dalam dapur peleburan di tanah.” (Mazmur 12:7). 

    Orang yang memegang dan mengimani janji Tuhan dalam hidupnya tidak akan mudah mengeluh dan berputus asa, ia akan terus bersemangat sampai janji Tuhan digenapi dalam hidupnya.

    Sahabat, Kaleb berusia 40 tahun saat diutus Musa untuk mengintai tanah Kanaan, dan ia terus memegang teguh apa yang Musa katakana,  “Sesungguhnya tanah yang diinjak oleh kakimu itu akan menjadi milik pusakamu dan anak-anakmu sampai selama-lamanya, sebab engkau tetap mengikuti TUHAN, Allahku, dengan sepenuh hati.”  (Yosua 14:9), Empat puluh lima tahun telah berlalu, Tuhan pun menggenapi janji-Nya.  Yosua memberikan Hebron menjadi pusakanya  (Yosua 14:13).

    Ingatlah!  Sahabat, kalau semangat itu datang dari pintu depan, maka kekhawatiran akan kabur tunggang langgang melalui pintu belakang. Bersama dengan Daud kita memohon kepada Tuhan, “Teguhkanlah pada hamba-Mu ini janji-Mu, yang berlaku bagi orang yang takut kepada-Mu.”  (Mazmur 119:38) Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menolong kita supaya kita tetap bersemangat. (pg)

  • KASIH yang MENGAMPUNI

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh kasih. Sahabat, pengalaman hidup kita bercerita bahwa kasih Allah itu hanya bisa kita rasakan dan nikmati. Kasih Allah itu  begitu besar. Sungguh kita tidak dapat mengukur dan menghitungnya. Daud menggambarkan kasih Allah itu “sampai ke langit” (Mazmur 36:6) dan Rasul Paulus mendeskripsikan kasih Allah, “… betapa lebarnya dan panjangnya dan tingginya dan dalamnya kasih Kristus,”  (Efesus 3:18-b).  Banyak cerita tentang cinta kasih yang ada di dunia ini, namun kesemuanya itu tidak bisa dibandingkan dengan kasih Allah.  Kasih Allah itu sangat jauh berbeda dari kasih lain yang ada di dunia ini.

    Di mana bedanya? Untuk menjawabnya mari  kita akan belajar tentang kasih Allah dari satu perikop yang saya ambil dari 1 Yohanes 4:7-21 dengan judul “Allah adalah kasih”.

    Dalam ayat  7 dan 8 dinyatakan bahwa kasih itu berasal dari Allah; dan setiap orang yang mengasihi, lahir dari Allah dan mengenal Allah. Barangsiapa tidak mengasihi, ia tidak mengenal Allah, sebab Allah adalah kasih.  

    Sahabat, pernyataan  “Allah adalah kasih”  berarti kasih itu sumbernya dari Allah, dan karena Dia adalah sumber kasih, Ia tidak mungkin kekurangan kasih. Pernyataan  Allah adalah kasih  juga berarti bahwa Ia tidak dapat dipisahkan dari sifat dasarnya yaitu kasih.  Itulah sebabnya Allah Mahapengasih, Mahapenyayang dan Mahapengampun.  Jadi,  “Inilah kasih itu: Bukan kita yang telah mengasihi Allah, tetapi Allah yang telah mengasihi kita dan yang telah mengutus Anak-Nya sebagai pendamaian bagi dosa-dosa kita.”  (ayat 10).

    Adapun kasih Allah kepada kita adalah kasih yang tak bersyarat,   “… Allah menunjukkan kasih-Nya kepada kita, oleh karena Kristus telah mati untuk kita, ketika kita masih berdosa.” (Roma 5:8).  Itu menunjukkan bahwa Allah mengasihi kita, apa pun dan bagaimana pun keadaan kita, “sejauh timur dari barat, demikian dijauhkan-Nya dari pada kita pelanggaran kita.”  (Mazmur 103:12).  Kita tahu bahwa  timur dan barat  tidak akan pernah bertemu. 
    Sahabat, sesungguhnya hal tersebut merupakan gambaran pengampunan Allah:  bila Ia menyingkirkan, menjauhkan, dan tidak mengingat-ingatnya lagi.  Jelas sekali bahwa walaupun kita berdosa Allah tetap mengasihi kita.  Karena Allah adalah kasih maka kasih merupakan hal yang sangat utama dalam kekristenan, itulah sebabnya Allah menghendaki agar anak-anak-Nya mewarisi karakter kasih ini.  “… jikalau Allah sedemikian mengasihi kita, maka haruslah kita juga saling mengasihi.”  (ayat 11).

    Ingatlah! Sahabat,  jikalau kita mampu mengasihi dan melepaskan pengampunan kepada orang lain, itu karena kasih dari Allah mengalir di dalam kita dan kita ada di dalam Dia,   ” … Allah adalah kasih, dan barangsiapa tetap berada di dalam kasih, ia tetap berada di dalam Allah dan Allah di dalam dia.”  (ayat 16-b).  Dari pihak kita hanya dibutuhkan kemauan, sedangkan kemampuan itu diberikan oleh Allah melalui Roh Kudus-Nya (2 Timotius 1:7).   Roh Kudus yang ada di dalam kita itulah yang memampukan kita mengasihi dan mengampuni. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk mengasihi kita. (pg)

  • Menjadi ORANG PERCAYA yang KUAT

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh syukur karena kita mendapatkan kekuatan dari Tuhan untuk menjalani dan menikmati hidup dari hari ke hari. Sahabat, kata “KUAT”  hanya terdiri dari empat huruf, namun kata itu memiliki makna yang luar biasa, apalagi bila dikaitkan dalam konteks penderitaan, pencobaan, dan tantangan dalam kehidupan.

    Sahabat, kuat bisa diartikan tahan, tidak mudah goyah, dan mampu melewati saat-saat yang sulit dan menyesakan. Kualitas hidup  seperti itulah yang diharapkan dimiliki oleh setiap orang percaya,  sehingga saat badai hidup sedang menerpa, tetap bisa bertahan. Jadi kuat bukan  dalam arti seberapa besar otot yang kita miliki, kadang orang yang berotot justru bisa jadi yang paling cengeng ketika menghadapi tantangan hidup  yang berat.

    Memiliki sikap hati yang positif di segala situasi, serta kemampuan melihat masalah dari sudut pandang yang berbeda  merupakan kunci untuk menjadi orang percaya yang kuat.  Dengan memiliki respons hati yang positif kita akan terhindar dari rasa khawatir, takut, kecewa, cemas, putus asa dan sebagainya.  Karena memiliki respons hati yang selalu positif, orang akan menjalani hidup dengan penuh semangat. 

    Hidup di dunia ini memang selalu diwarnai dengan berbagai permasalahan, tetapi orang yang punya semangat memiliki kekuatan untuk menghadapinya,  “Orang yang bersemangat dapat menanggung penderitaannya, tetapi siapa akan memulihkan semangat yang patah?”  (Amsal 18:14).

    Sahabat, bagaimana supaya kita tetap bersemangat dalam menjalani hidup?  Arahkan pandangan hanya kepada Tuhan, imani setiap janji firman-Nya dan tekun menanti-nantikan pertolongan dari Tuhan.  “…  orang-orang yang menanti-nantikan TUHAN mendapat kekuatan baru: mereka seumpama rajawali yang naik terbang dengan kekuatan sayapnya; mereka berlari dan tidak menjadi lesu, mereka berjalan dan tidak menjadi lelah.”  (Yesaya 40:31). 

    Kita menjadi orang yang kuat bila kita menyadari bahwa di dalam Tuhan selalu ada jalan keluar untuk setiap permasalahan yang kita alami  (1 Korintus 10:13), dan bersama Tuhan kita pasti sanggup menanggung segala perkara  (Filipi 4:13). 

    Maka jadilah orang percaya yang kuat di segala situasi dengan menjaga hati supaya tidak terfokus pada besarnya masalah, tetapi kepada besarnya kuasa Tuhan.

    Ingatlah! Sahabat, Tuhan menciptakan segala sesuatu secara seimbang. Seperti halnya perasaan bahagia dan sedih sebagai warna dalam menjalani kehidupan ini. Coba kita bayangkan jika hidup ini tidak ada masalah dan rintangan, maka mungkin hidup ini menjadi hambar dan membosankan karena tidak ada tantangan sama sekali, dan terlebih tidak akan ada yang namanya perjuangan dan kemajuan. Karena itu mari kita perhatikan nasihat dari John F. Kennedy (Presiden Amerika yang ke-35),  “Jangan berdoa untuk hidup yang mudah. Berdoalah untuk menjadi orang yang lebih kuat.” Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menguatkan kita dalam menghadapi badai hidup. (pg)

  • MEMERKATAKAN FIRMAN TUHAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat penuh keyakinan akan kuasa firman Tuhan. Sahabat, ketika saya mendampingi seorang sahabat yang sedang sakit, saya sering minta dia untuk membaca satu ayat firman Tuhan yang pendek berulang kali sampai dia menjadi hafal. Kemudian saya minta dia untuk memerkatakan firman Tuhan tersebut berulang kali. Misalnya dari Amsal 24:10, “Jika engkau tawar hati pada masa kesesakan, kecillah kekuatanmu.”

    Sahabat, pengalaman saya dalam mendampingi orang-orang sakit, menghafal dan memerkatakan firman itu besar sekali manfaatnya bagi sahabat saya yang sedang menjalani proses pengobatan. 

    Sesungguhnya memerkatakan hal-hal yang kita yakini  memegang peranan sangat penting untuk menerima berkat yang kita harapkan dari Tuhan, sebab memerkatakan adalah bagian dari pengakuan iman kita,    “Karena kita sekarang mempunyai Imam Besar Agung, yang telah melintasi semua langit, yaitu Yesus, Anak Allah, baiklah kita teguh berpegang pada pengakuan iman kita.” (Ibrani 4:14)

    Sahabat, untuk mendapatkan apa yang kita harapkan kita harus percaya kepada Tuhan sepenuhnya dan memerkatakannya sebagai wujud pengakuan iman, ” … ‘Aku percaya, sebab itu aku berkata-kata’, maka kami juga percaya dan sebab itu kami juga berkata-kata.”  (2 Korintus 4:13)

    Lalu mengapa kita perlu memerkatakan firman Tuhan? Pertama, sebagai bukti bahwa kita percaya pada firman Tuhan. Jika kita belum  memperoleh pertolongan Tuhan, maka kini saatnya mengubah apa yang kita perkatakan. Ucapkanlah Firman Allah dengan penuh keyakinan. Bagi yang lemah mari katakan, “Tuhan adalah kekuatan hidupku, kepada-Nya hatiku percaya. …” (Mazmur  28:7). Bagi yang sedang takut katakan, “Tuhan adalah terangku dan keselamatanku, kepada siapakah aku harus takut? Tuhan adalah benteng hidupku, terhadap siapakah aku harus gemetar?” (Mazmur  27:1). Bagi  yang sedang sakit mari katakan,  ”Oleh bilur-bilur-Nya kamu  telah sembuh” (1 Petrus  2:24-b). dan sebagainya.

    Kedua, supaya kita dapat bertindak hati-hati, sehingga menjadi berhasil (Yosua 1:8). Sahabat, sebagai orang percaya, kita perlu menjaga setiap ucapan, sebab dalam setiap perkataan ada kuasa. Karena itu kita jangan sembrono mengeluarkan kata-kata. Kita perlu berhati-hati dalam setiap  ucapan kita.

    Sahabat, untuk itu kita perlu bergaul karib dengan Tuhan, karena dalam pelayanan sering kita diperhadapkan dengan situasi yang tidak mudah, kita butuh hikmat dari Tuhan supaya kita selalu memiliki kata-kata yang bermakna. Kata-kata yang membangun, menghibur, menguatkan dan memberikan semangat.  Kata-kata yang meneduhkan, kata-kata yang mendamaikan.

    Ingatlah! Ucapkanlah firman Tuhan  sesuai dengan kebutuhan. Kalau kita sungguh percaya, mulai perkatakan firman itu, ucapkanlah dengan bersuara,  bila perlu dengan suara yang  agak keras agar didengar oleh telinga kita. Iman timbul dari  pendengaran,  pendengaran akan firman Tuhan. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menolong kita saat kita melayani sebagai seorang pendamping. (pg)

  • LIMITED EDITION

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat disertai rasa syukur karena setiap manusia diciptakan Tuhan secara unik. Sahabat, barang-barang yang dibuat secara terbatas (limited edition) dan eksklusif harganya tentu selangit, jauh lebih mahal jika dibandingkan dengan barang-barang yang dibuat dalam jumlah banyak (kodian).

    Tuhan menciptakan setiap manusia sangat eksklusif. Di dunia ada miliaran manusia, tetapi setiap orang berbeda, tidak ada yang sama persis. Maka dihadapan Tuhan setiap manusia itu begitu berharga.

    Sahabat, pada hari ini kita akan belajar dari satu perikop yang saya ambil dari Mazmur 139:1 – 18 dengan judul: “Doa di hadapan Allah yang mahatahu.” Daud memulai Mazmur 139 dengan merayakan betapa intimnya Allah mengenal dirinya (ayat 1-6) dan tentang keberadaan Allah yang Mahahadir (ayat 7-12). Seperti penenun yang mahir, Allah tidak hanya membentuk sosok Daud, sejak masih berupa janin hingga menjadi seorang manusia (ay.13-14), tetapi juga menjadikan jiwa yang hidup, memberikan kehidupan spiritual dan kemampuan untuk bergaul intim dengan Allah.

    Merenungkan karya Allah yang begitu luar biasa, Daud merasa sangat kagum, takjub, dan memuji-muji Allah, “Aku bersyukur kepada-Mu oleh karena kejadianku dahsyat dan ajaib; ajaib apa yang Kaubuat, dan jiwaku benar-benar menyadarinya.” (ayat 14).

    Sahabat, Daud mengetahui dengan pasti bahwa dirinya bukanlah sebuah hasil kebetulan saja, atau diciptakan asal-asalan tanpa makna. Daud tahu bahwa ia ada untuk satu tujuan, dan jiwanya menyadari bahwa Tuhan telah menyiapkan segalanya dengan cara yang dahsyat dan ajaib. Dia tahu pasti dirinya adalah hasil mahakarya Tuhan yang begitu sangat indah.

    Daud tidak berbicara mengenai ketampanan atau kesempurnaan secara fisik, tetapi ia melihat dirinya sebagai sebuah kesatuan yang utuh, dan ia pun mengucapkan rasa syukurnya secara penuh kepada Tuhan atas anugerah yang ia terima tersebut.

    Sahabat, Tuhan  mencurahkan segala yang terindah dalam menciptakan kita. Bak Seniman Agung Dia menciptakan manusia secara sangat istimewa. Tidak seperti ciptaan lainnya, kita diciptakan dengan gambar dan rupa Allah sendiri (Kejadian 1:26). Kita mendapatkan nafas hidup langsung dari hembusan Allah (Kejadian 2:7), kita begitu berharga, maka kita tetap berada dalam telapak tangan dan ruang mata-Nya (Yesaya 49:16), dan sungguh semua itu memang benar-benar dahsyat dan ajaib.
    Bagi Daud, sulit rasanya untuk bisa memahami jalan pikiran Tuhan ketika Dia membentuk buah pinggang dan menenun kita sejak dalam kandungan (ayat13). Ia pun berseru, “Dan bagiku, betapa sulitnya pikiran-Mu, ya Allah! Betapa besar jumlahnya!” (ayat 17).

    Ingatlah! Sahabat, mulai saat ini marilah kita merubah cara pandang kita terhadap diri sendiri. Mengertilah bahwa siapapun kita, merupakan ciptaan-Nya yang istimewa, indah, mulia dan berharga. Kita adalah karya orisinal Tuhan, Bapa yang begitu luar biasa, besar kasih-Nya. Jika kita menyadari hal ini dengan baik, kita akan mampu menyadari kebaikan Tuhan dalam diri kita, dan disaat itulah kita baru bisa menggali potensi-potensi yang ada untuk kemudian dipergunakan dalam segala hal yang memuliakan-Nya. Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk menolong kita bisa bangga menjadi diri kita sendiri. (pg)

  • MEMBERI yang TERBAIK

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Salam sehat disertai dengan keinginan untuk memberikan yang terbaik kepada Tuhan. Sahabat, hal memberi seringkali masih menjadi perdebatan dalam komunitas orang percaya. Sesungguhnya memberi haruslah menjadi bagian hidup orang percaya.  Hal memberi tidaklah selalu berhubungan dengan berapa besar nilai atau jumlahnya, tetapi selalu berhubungan dengan seberapa tulus hati kita dalam memberi. 

    Untuk itu mari kita belajar tentang memberi persembahan dari satu perikop yang saya ambil dari Injil Markus 12:41-44 yang berjudul: “Persembahan seorang janda miskin.”

    Sahabat, seandainya pada  saat itu kita sedang berada di Bait Allah, kita akan melihat pemandangan yang kontras: di antara orang-orang kaya yang memasukkan persembahan ke dalam peti persembahan, ada seorang janda miskin yang memasukkan “hanya” dua peser, yaitu satu duit (ayat 42).  Manakah dari kedua persembahan itu yang Tuhan apresiasi?

    Markus menyatakan bahwa janda miskin itu memasukkan dua peser ke dalam peti persembahan.  Peser adalah mata uang tembaga Yahudi yang paling kecil, sama dengan setengah duit.  Ditinjau dari sisi nilai uang, persembahan janda miskin tersebut memang sangat kecil, namun jika ditinjau dari sisi kemampuan, pemberian janda miskin itu sangat besar sekali, “Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, semua yang ada padanya, yaitu seluruh nafkahnya.”  (ayat  44)
     

    Sahabat, melalui kisah tersebut Tuhan hendak menekankan bahwa selain melihat sikap hati atau motivasi seseorang dalam memberi persembahan, Ia juga mengingatkan agar dalam hal memberi persembahan kepada Tuhan hendaknya kita memberi yang terbaik dari yang kita miliki, bukan bagian yang terkecil dari yang  kita miliki. 

    Janda miskin itu memberi dari semua nafkahnya, semua yang ia miliki dipersembahkan kepada Tuhan.  Itulah yang disebut dengan korban!  Sementara orang kaya itu memberi dari kelebihannya, bisa saja itu merupakan bagian yang sangat kecil dari kekayaannya yang berlimpah-limpah dan tentu hal itu tidak mengandung nilai pengorbanan.  Apa yang diperbuat oleh janda miskin itu menunjukkan betapa ia sangat mengasihi Tuhan sehingga rela memberi semua yang dimilikinya untuk Tuhan.

    Ingatlah! Berilah yang terbaik untuk Tuhan karena sesungguhnya semua yang kita miliki berasal dari Tuhan dan milik Tuhan sendiri.
    Dalam soal memberi kepada Allah, janda miskin tidak perhitungan. Ia memberikan semua miliknya. Kemiskinan bukan alasan baginya untuk tidak memberi persembahan kepada Allah! Ia percaya Allah memelihara hidupnya. Ia meletakkan kepercayaannya kepada Allah, bukan pada uang yang ia miliki! Itulah persembahan yang menyukakan Tuhan! Tuhan memberkati Sahabat dan keluarga. Tuhan selalu punya cara untuk mendidik agar kita dapat memberikan yang terbaik. (pg)