Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sehat-sehat dan tetap semangat menyambut sang mentari pagi yang setia menyapa kita dengan ramahnya. Bersyukurlah untuk anak-anak dan cucu-cucu yang Tuhan titipkan kepada kita.
Mira Widjaja (Novelis) berkata bahwa mendidik anak bukan dengan segebung nasihat dan larangan, tapi dengan teladan dan penuh pengertian. Ada tugas dan panggilan yang diberikan Tuhan kepada setiap orangtua dalam memersiapkan generasi penerusnya. Tugas dan panggilan itu adalah memberikan teladan hidup bagi anak-anak dan cucu-cucunya melalui kehidupan sehari-hari.
Jadi orangtua haruslah bisa menjadi teladan dan panutan bagi anak-anak dan cucu-cucunya. Menjadi teladan berarti memberi nilai atau dampak yang bisa dirasakan anak-anak dan cucu-cucunya. Pada taraf ini orangtua bisa berkata, “…turutilah teladanku!” (1 Korintus 4:16).
Orangtua harus menjadi teladan dalam hal berbuat baik. Orangtua harus bisa mengajarkan kepada anak-anak dan cucu-cucunya bagaimana melakukan kebaikan kepada semua orang. Berbuat baik di sini bukan semata-mata berbicara tentang pemberian materi, tetapi termasuk juga perhatian, waktu dan tenaga, yang dikorbankan bagi orang lain yang sedang membutuhkan. “Janganlah menahan kebaikan dari pada orang-orang yang berhak menerimanya, padahal engkau mampu melakukannya.” (Amsal 3:27).
Orangtua harus menjadi teladan dalam hal pengajaran. Inilah tugas terpenting yang tidak boleh dilupakan oleh orangtua yaitu mengajarkan kebenaran firman Tuhan kepada anak-anak dan cucu-cucunya. Betapa banyak orangtua yang lalai menjalankan tugas ini karena mereka lebih memprioritaskan pemenuhan kebutuhan materi (jasmani) untuk anak-anaknya, daripada memenuhi kebutuhan rohaninya, yaitu mengajarkan firman Tuhan kepada anak-anak dan cucu-cucunya, sebagaimana yang Tuhan perintahkan, “Kamu harus mengajarkannya kepada anak-anakmu dengan membicarakannya, apabila engkau duduk di rumahmu dan apabila engkau sedang dalam perjalanan, apabila engkau berbaring dan apabila engkau bangun;” (Ulangan 11:19).
Orangtua tidak bisa menuntut anak-anak dan cucu-cucunya untuk berubah jika mereka sendiri tidak menunjukkan perubahan hidup. Wujud dari apa yang diajarkan orangtua adalah keteladanan. Karena itu orangtua harus berhati-hati dalam setiap perkataan dan perbuatannya, sebab anak-anak dan cucu-cucu memperhatikan apa yang dilihatnya setiap hari.
Ingatlah! Orang dapat meragukan apa yang Saudara katakan, tetapi mereka akan memercayai apa yang Saudara lakukan. Seneca (filsuf dan negarawan) berkata, “Manusia lebih cenderung memercayai matanya, dibanding dengan telinganya. Jalan dari peraturan itu panjang dan membosankan, tetapi jalan dari keteladanan itu dekat dan efektif. GBU & Fam. Better days are coming. (pg)
Leave a Reply