Author: Christopherus

  • Harta Paling Berharga: INTEGRITAS

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Selasa, 1 September 2020 malam, ada 2 berita yang membuat saya semakin prihatin. Yang pertama berjudul: “Semarang Jadi Daerah dengan Kasus Corona Tertinggi di Indonesia.” Yang kedua: “Malaysia Tutup Pintu untuk Warga Indonesia, India, dan Filipina.”. Semoga sebagai orang percaya, di tengah-tengah situasi yang semakin mencekam dan menekan, kita tetap bisa menjaga INTEGRITAS kita.

    Apa itu integritas? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, Integritas adalah mutu, sifat, atau keadaan yang menunjukkan kesatuan yang utuh sehingga memiliki potensi dan kemampuan yang memancarkan kewibawaan;  kejujuran.  Orang yang memiliki integritas berarti memiliki kualitas hidup yang baik. 

    Saudara, ketika kita berada dalam kesulitan, tekanan atau masalah berat biasanya orang mudah sekali melupakan Tuhan, karena fokus kita  hanya tertuju kepada besarnya masalah.  Daniel merupakan salah seorang tokoh besar di Alkitab yang pernah melewati masa-masa sulit dalam hidupnya.  Kala itu para pejabat tinggi pemerintahan raja Darius berusaha mencari alasan untuk menuduh dan menyalahkan Daniel dengan meminta raja mengeluarkan surat ketetapan:  melarang semua orang menyembah Tuhan, dewa atau manusia lain kecuali kepada raja, dan bagi yang melanggar akan dilemparkan ke gua singa.

    Oh ya, siapakah Daniel itu?  Dia merupakan tawanan perang yang ditangkap Nebukadnezar  bersama-sama dengan orang-orang Yahudi dari golongan atas lainnya. Mereka diangkut ke Babel untuk dididik dan dipekerjakan di pemerintahan;  Daniel bekerja dibawah pemerintahan raja Nebukadnezar, Belsyazar dan Darius dari tahun 605-536 SM.  Dalam bahasa Ibrani nama Daniel berarti Tuhanlah hakimku.  Mendengar surat perintah raja, Daniel tidak takut atau gentar sedikit pun melainkan tetap menjaga integritas dirinya.  “… Dalam kamar atasnya ada tingkap-tingkap yang terbuka ke arah Yerusalem; tiga kali sehari ia berlutut, berdoa serta memuji Allahnya, seperti yang biasa dilakukannya.”  (Daniel 6:11).  Apa yang diyakini dan dikatakan sesuai dengan apa yang dilakukan.  Ia percaya tidak ada yang layak disembah dan ditinggikan selain Tuhan yang hidup, yang duduk di atas takhta-Nya yang kudus di dalam Kerajaan Surga.  Sesuai arti namanya Daniel berkeyakinan bahwa Tuhanlah hakim yang adil, pasti sanggup menegakkan keadilan di tengah ketidakadilan.

    Begitu melihat Daniel sedang berdoa kepada Tuhannya segeralah orang-orang melaporkan kepada raja, sehingga raja pun terpaksa melaksanakan ketetapannya:  melemparkan Daniel ke gua singa.  Selama Daniel berada di gua singa  “…pergilah raja ke istananya dan berpuasalah ia semalam-malaman itu; ia tidak menyuruh datang penghibur-penghibur, dan ia tidak dapat tidur.”  (Daniel 6:19), karena membayangkan hal-hal buruk menimpa Daniel.  Apa yang dikhawatirkan raja tak terjadi!  Karena Tuhan benar-benar telah menjadi hakim yang membela perkara Daniel.

    Ingatlah! Sebagai komunitas orang percaya, mari kita kembangkan karakter kita masing-masing sehingga kita menjadi orang yang memiliki INTEGRITAS. Byron Pulsifer (penulis buku) berkata, “Salah satu harta yang paling berharga adalah integritas, jika Saudara memilikinya, jangan pernah saudara berkompromi untuk melepaskannya.” GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • Kasih

    Dengan sadar saat hendak menulis tema ini,  ada peluang  kemungkinan aku terperosok pada ungkapan-ungkapan alias penuturan-penuturan klise yang pernah Anda baca atau dengar tentang kasih. Karena tema ini sudah sangat banyak disampaikan dan oleh para pakarnya lagi. Entah itu dari Teologi maupun dari Psikologi,

    dan saya bukan keduanya.

    Tapi kalau Anda tetap mau melanjutkan baca, silakan.

    *

    Ada begitu banyak layer  di dalam kasih yang bisa diungkap dan perbincangkan.

    Kali ini  aku hanya pengin menyampaikan 3 hal dari yang banyak itu.

    1. Kasih bukan hanya berani mengampuni tetapi juga meminta maaf

    Dua puluh tahun lalu suatu permasalahan pelik terjadi padaku.  Bukan dengan orang yang jauh, tetapi justru dengan orang dekat. Senior dalam kerabat.

    “Kalau  Boedi nggak meminta maaf kepadaku, aku nggak mendukung kegiatannya!”

    Kira-kira dia mengatakan itu.

    Apa sih kesalahanku saat itu? Sampai sekarang pun aku nggak tahu persis.

    Dengan usia yang masih muda, ketika itu aku sempat termanguAku konsultasi dengan  sahabat rohaniku atau bisa dibilang guru rohaniku.

    “Apakah aku harus meminta maaf, yang nuraniku sendiri merasa tak melakukan kesalahan?” Kalau itu terjadi  mengait orang yang jauh, saat itu mungkin kuabaikan. Tapi ini bersinggungan dengan orang dekat.

    Dan yang menarik guru rohaniku itu merespons,” Minta maaflah Boedi!”

    “Meski aku tidak bersalah guru?”

    “Iya, meski kamu tidak bersalah! Permintaan maaf itu sejatinya bukan semata  pengakuan bersalah, tetapi mengait pula  pada disalah pahami yang merusak suasana relasi!

    Beri kesempatan dia melihat kasihmu kepadanya!”

    Dengan sangat berat hati aku melakukan pesan guruku ini.  Meminta maaf yang aku sendiri tak tahu kesalahanku sebenarnya.

    Tapi ternyata yang dulu terasa menyesakkan, kalau kutengok saat ini menjadi hal yang melegakan. Dan itu menjadi kenangan indah bagi perjalanan spiritualku. Membuka sudut pandangku, bahwa kasih itu  memang harus siap mengampuni tanpa syarat kepada orang yang bersalah kepada kita. Tetapi kasih pun harus berani meminta maaf, apalagi kalau memang kita bersalah. 

    Berapa banyak di antara kita yang gengsi untuk meminta maaf? Terutama kepada  sesama yang  dianggap tidak perlu kita melakukan permintaan maaf (walau kita bersalah).

    2. Kasih itu bukan hanya memberi tetapi juga menerima

    Sesungguhnya menerima  pemberian orang lain  dengan lapang dan gembira hati  pun bagian dari sikap hati yang mengasihi. Apalagi bila itu pemberian dari  orang yang kita anggap lebih sederhana dari kita.

    Aku sangat  berterima kasih dan menikmati masakan ataupun snack   pemberian PRT yang bila kebetulan dia bawa sepulang dari rumah di desa, meskipun  barangkali kadang berbeda dengan cita rasa lidahku. 

    Hatiku juga senang ketika  suatu saat asistenku membawa  sebuah mangga  dari pohon mangganya di pekarangan.

    “Maaf Pak cuman satu ya…”

    “Nggak apa-apa. Terima kasih banyak. Aku senang kok!”

    Orang yang memberi  sesuatu kepada kita, dan kita antusias meresponinya dengan gembira. Akan membikin hatinya  bahagia.

    Kasih memang memberi. Tapi jangan lupa kasih pun rela menerima dari orang lain.

    Bukan hanya barang, tetapi juga diri.

    3. Kasih itu bukan hanya kepada yang layak  menerima

    Kalau pengin menguji kasih seseorang (termasuk nurani kita sendiri) kepada orang lain adalah  kasih nyatanya (kita) kepada orang-orang yang sepertinya tak layak menerima kasih itu.

    Orang-orang yang seperti apa itu?

    Orang-orang yang selama ini seakan mengabaikan kasih kita. Orang-orang  yang bukan hanya tidak berterima kasih kepada  perbuatan kita kepadanya, tetapi justru membalasnya dengan keburukan.  Bikin memeras hati. Kepada orang-orang yang seperti inilah, kemurnian kasih kita diuji.

    *

    Kasih  yang besar itu ternyata  mengalahkan:

    Cengli-cenglian, adil-adilan, ijir-ijiran bahkan pada tahap tertentu, pun mengalahkan bener-beneran.  

    Apa jadinya, andai Tuhan sebelum melimpahkan kasih-Nya kepada kita,  Dia memakai aturan cengli-cenglian terlebih dulu?

    Selamat pagi.

    Semarang, 30 Agustus 2020

    Setio Boedi