Author: Christopherus

  • Dibentuk Menjadi PELAUT yang HANDAL

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Dalam masa pandemi Covid – 19, orang-orang seusia saya, di atas 60 tahun menghadapi banyak tantangan dan tantangannya cukup berat, Namun saya dan Saudara, tidak boleh mudah putus asa, orang bijak berkata bahwa laut yang tenang tidak pernah melahirkan pelaut yang handal. Kita perlu menyadari bahwa dunia merupakan lahan tantangan yang tak terbatas.

    Salah satu hobi saya membaca biografi orang-orang yang berhasil. Ternyata mereka yang berhasil mewujudkan impian dalam hidup tidaklah meraihnya tanpa tantangan dan rintangan.  Bahkan terkadang perjalanan yang harus ditempuh berliku-liku, penuh cadas dan mendaki.  Tapi yang pasti mereka tidak pernah berhenti untuk berusaha dan berjuang. 

    Sayangnya,  ada cukup banyak  orang menunjukkan reaksi yang negatif setiap kali diperhadapkan dengan tekanan dan tantangan yang berat:  mengeluh, kecewa, frustasi dan putus asa.  Mereka tak dapat melihat sedikit pun sisi positif di balik tantangan. Justru melalui tekanan dan tantangan sesungguhnya kita sedang dibentuk  menjadi pribadi yang kuat dan tangguh dalam segala keadaan.  Di balik besarnya tekanan dan tantangan tersimpan kesempatan yang memungkinkan kita menjadi besar!

    Saudara, sebagai orang percaya, tidak berarti perjalanan hidup kita akan bebas dari masalah, luput dari ujian dan tantangan, atau jalan hidup kita akan semulus jalan tol yang bebas hambatan.  Justru kita akan semakin diperhadapkan pada tantangan yang jauh lebih besar, sebab Iblis takkan pernah rela kita ini menjadi milik Kristus seutuhnya.  Jika menyadari akan hal ini, tak perlu kita menghindar  dari tantangan, melainkan justru bersiap menghadapinya.  Bukankah firman Tuhan menegaskan,  “…dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.”  (Roma 8:37).

    Saudara, coba kita belajar dari Daud. Seandainya Daud tidak pernah menghadapi tantangan dari Goliat  (raksasa dari Filistin), takkan terlihat dan takkan teruji kualitas hidupnya.  Ketika Daud berhasil mengalahkan raksasa itu,  sesungguhnya ia sedang menapaki anak tangga baru yang lebih tinggi dalam kehidupannya. Sampai akhirnya Tuhan mengangkat dia menjadi raja atas Israel.  Jadi, memiliki impian bukanlah menunggu sampai badai berlalu, melainkan harus berani menghadapi badai seperti burung rajawali.  “Ketika orang Filistin itu bergerak maju untuk menemui Daud, maka segeralah Daud berlari ke barisan musuh untuk menemui orang Filistin itu;”  (1 Samuel 17:48). 

    Untuk dapat melihat perkara-perkara besar dari Tuhan ada harga yang harus dibayar!  Perlu upaya dan usaha yang keras untuk meraihnya, sebab berkat-berkat Tuhan yang besar tersedia di tempat yang  dalam. (Lukas 5:4).

    Ingatlah! Barbara De Angelis (penulis asal Amerika) berkata, “Kita tidak mengembangkan keberanian, jika hidup kita setiap hari senang terus. Kitas justru akan mengembangkan keberanian kita, jika hidup kita menghadapi tantangan dan bertahan di waktu-waktu yang sulit.”  Daud bersaksi, “mereka melihat pekerjaan-pekerjaan TUHAN, dan perbuatan-perbuatan-Nya yang ajaib di tempat yang dalam.”  (Mazmur 107:24). GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • IDENTITAS Murid Yesus

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Syukur hari ini kembali Tuhan memberikan hari yang baru kepada kita. Semoga kita dapat menjani dan menikmati hari ini dengan satu keyakinan bahwa betapa bahagianya  jika dalam hidup ini kita dapat mengasihi dan dikasihi.

    Saudara, kadar kasih seseorang kepada Tuhan itu berbeda-beda!  Ada orang percaya yang mengasihi jikalau …: Jikaiau dia mengasihi saya, jikalau dia mau bertobat, jikalau saya sudah berkecukupan, dll. Tapi ada juga orang percaya yang mengasihi walaupun …:  Walaupun dia telah berbuat jahat kepada saya, walaupun dia belum mau percaya, walaupun hidup saya masih pas-pasan, dll.

    Bapak Andreas Christanday menyatakan, “Kita bisa memberi tanpa kasih, tapi kita tidak dapat mengasihi tanpa memberi.”

    Dengan demikian sesungguhnya bagi orang percaya kasih bukan hanya suatu ajaran yang harus dipahami dan dimengerti, tapi kasih adalah inti kekristenan yang harus dipraktikkan dan dilakukan secara nyata dalam kehidupan sehari-hari.  Kristus memberikan sebuah perintah yang tidak bisa ditawar yaitu:  “…supaya kamu saling mengasihi; sama seperti Aku telah mengasihi kamu demikian pula kamu harus saling mengasihi.” (Yohanes 13:34).  Kristus bukan hanya sekadar mengajarkan dan memberikan perintah kepada para pengikut-Nya, tetapi Ia sendiri telah memberikan teladan hidup bagaimana seharusnya mengasihi dengan benar.

    Ada cukup banyak orang percaya merasa keberatan bila harus mengasihi orang lain, karena mengasihi itu selalu identik dengan tindakan memberi atau berkorban.  Kristus sendiri telah membuktikan betapa Ia mengasihi kita dengan mengorbankan nyawa-Nya di kayu salib:  “Tidak ada kasih yang lebih besar dari pada kasih seorang yang memberikan nyawanya…”  (Yohanes 15:13).  Karena kita telah mengalami kasih Kristus, maka sudah sepatutnya kita membagikan kasih itu kepada orang lain. 

    Mengasihi yang Kristus ajarkan bukan sebatas mengasihi terhadap orang yang mengasihi kita, tapi juga mengasihi  musuh kita  sekalipun.  “Dan jikalau kamu mengasihi orang yang mengasihi kamu, apakah jasamu? Karena orang-orang berdosapun mengasihi juga orang-orang yang mengasihi mereka. Sebab jikalau kamu berbuat baik kepada orang yang berbuat baik kepada kamu, apakah jasamu? Orang-orang berdosapun berbuat demikian.” (Lukas 6:32-33). 

    Kita harus ingat bahwa Tuhan memerintahkan kita untuk mengasihi karena kita sudah memiliki benih kasih Bapa  (1 Yohanes 4:7).  Inilah yang memampukan kita untuk mengasihi, sedangkan dari pihak kita hanya diperlukan  kemauan, bukan kemampuan.  Roh Tuhan yang ada di dalam kita itulah yang memampukan kita untuk bisa mengasihi.

    Ingatlah! Barbara De Angelis (Penulis asal Amerika) berkata, “Kasih dan kebaikan adalah hal yang tidak pernah terbuang. Dua hal itu selalu membawa perbedaan. Dua hal itu akan memberkati yang menerima, dan juga yang memberikannya.” Tuhan Yesus bersabda, “Dengan demikian semua orang akan tahu, bahwa kamu adalah murid-murid-Ku, yaitu jikalau kamu saling mengasihi.”  (Yohanes 13:35). GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • Kearah Mana PIKIRANKU?

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga hari ini dan hari-hari ke depan pikiran kita dipenuhi dengan hal-hal yang positif. Pikiran kita hanya terarah kepada Tuhan, Sang Sumber Hidup. Kita perlu mengingat, sesungguhnya tidak ada satu halpun di dunia ini yang dapat mengganggu kita lebih daripada pikiran kita sendiri.

    Saudara, ada dua sisi penting dalam kehidupan manusia yaitu hidup dan mati, yang sepenuhnya adalah otoritas Tuhan, “Siapa di antara semuanya itu yang tidak tahu, bahwa tangan Allah yang melakukan itu; bahwa di dalam tangan-Nya terletak nyawa segala yang hidup dan nafas setiap manusia?” (Ayub 12:9-10)

    Jika perhatian dan pikiran kita hanya terpusat kepada kehidupansaja maka kita akan takut dan khawatir.  Karena berbicara tentang kehidupan akan membuat perhatian dan pikiran kita tertuju kepada kebutuhan-kebutuhan hidup.  Sebenarnya Tuhan sudah mengingatkan, “Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?” (Matius 6:25). 

    Sebaliknya, jika kita hanya memusatkan pikiran dan perhatian pada kematian, kita juga akan dihantui oleh rasa takut dan khawatir.  Yang terpenting adalah jangan sampai kematian itu menjadi suatu jerat bagi kita seperti tertulis:  “Karena manusia tidak mengetahui waktunya. Seperti ikan yang tertangkap dalam jala yang mencelakakan, dan seperti burung yang tertangkap dalam jerat, begitulah anak-anak manusia terjerat pada waktu yang malang, kalau hal itu menimpa mereka secara tiba-tiba.”  (Pengkhotbah 9:12). Saudara, camkanlah ini, Tuhan itu  bukan hanya pemberi hidup, tapi juga menyediakan segala sarana dan prasarana penunjang kehidupan manusia, supaya hidup yang dikaruniakan-Nya dapat dipertahankan.  Karena itu penting sekali kita memusatkan pikiran dan perhatian kepada Tuhan Sang Pemberi Hidup, sebab hidup manusia sepenuhnya berada dalam tangan-Nya.

    Ingatlah! Nasihat Rasul Paulus, “…perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,”  (Efesus 5:15). Karena itu arahkan perhatian dan pikiran kita senantiasa tertuju kepada Tuhan, Sang Pemilik Kehidupan, maka kita akan menjalani hidup dengan penuh ucapan syukur, sebab  “Apa yang tidak pernah dilihat oleh mata, dan tidak pernah didengar oleh telinga, dan yang tidak pernah timbul di dalam hati manusia: semua yang disediakan Allah untuk mereka yang mengasihi Dia.”  (1 Korintus 2:9).GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • Mengapa Aku KHAWATIR?

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga pagi ini kita bangun tidur dipenuhi dengan rasa syukur. Sesekali kita merasa khawatir, itu wajar dan manusiawi. Namun jangan sampai kekhawatiran itu membelenggu hidup kita. John Lubbock (bankir asal Inggris) berkata bahwa hari yang penuh kekhawatiran lebih melelahkan daripada hari kerja.

    Mengapa kita sering merasa khawatir?  Karena kita suka sekali menghitung-hitung masalah, kesukaran dan penderitaan yang kita alami.  Jika hal itu terus kita lakukan, kita akan semakin kecewa dan terpuruk. 

    Karena itu berhentilah menghitung-hitung, milikilah iman yang teguh bahwa Tuhan sangat peduli dengan apa yang kita alami, “Sengsaraku Engkaulah yang menghitung-hitung, air mataku Kautaruh ke dalam kirbat-Mu. Bukankah semuanya telah Kaudaftarkan?”  (Mazmur 56:9)

    Apa itu Khawatir? Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia, kata  khawatir  memiliki pengertian:  takut  (gelisah, cemas)  terhadap suatu hal yang belum diketahui dengan pasti.  Perasaan ini biasanya dihubungkan dengan pikiran negatif tentang sesuatu yang mungkin terjadi di masa yang akan datang. 

    Khawatir juga berarti was-was, bingung dan pikiran terpecah-pecah.  Tuhan berfirman:  “Janganlah kuatir akan hidupmu, akan apa yang hendak kamu makan atau minum, dan janganlah kuatir pula akan tubuhmu, akan apa yang hendak kamu pakai. Bukankah hidup itu lebih penting dari pada makanan dan tubuh itu lebih penting dari pada pakaian?”  (Matius 6:25).  Lalu Dia menambahkan:  “Siapakah di antara kamu yang karena kekuatirannya dapat menambahkan sehasta saja pada jalan hidupnya?”  (Matius 6:27).  Tuhan memperingatkan kita untuk tidak khawatir, karena Dia sendiri yang menjadi jaminan bagi kita.  “Aku sekali-kali tidak akan membiarkan engkau dan Aku sekali-kali tidak akan meninggalkan engkau.”  (Ibrani 13:5b).

    Hendaknya kita menyadari bahwa kekhawatiran itu hanya memindahkan beban dari bahu Tuhan yang kuat ke bahu kita yang lemah.  Kekhawatiran adalah sebuah obsesi akan hal buruk yang mungkin terjadi:  ketakutan terhadap hal yang tidak menyenangkan, menderita sakit, mengalami kekurangan, kehilangan sesuatu dan sebagainya.  Daud, seorang raja pun, juga pernah merasa khawatir, tapi ia tak mau terus dibelenggunya, karena itu  “… kepada kasih setia-Mu aku percaya, …”  (Mazmur 13:6).  Daud mencurahkan isi hatinya kepada Tuhan melalui doa dan percaya penuh kepada-Nya!

    Ingatlah! Dale Carnegie (motivator asal Amerika) memberikan tips: “Jika saudara tidak dapat tidur, bangunlah dan lakukan sesuatu daripada saudara berbaring dan khawatir. Karena kekhawatiran itu yang menggganggu saudara, bukan kurang tidurnya.”. GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • KEJUJURAN itu Beda dengan KETERBUKAAN

    Barangkali isu yang paling tua  dalam kehidupan orang-orang yang pengin masuk bilangan sebagai makhluk saleh,  adalah tentang kejujuran. Bagaimana mempraktikkannya dalam kehidupan sehari-hari.

    Pagi-pagi, Guru kehidupan mengajarkan, “Hendaklah kamu cerdik seperti ular dan tulus seperti merpati!” mengisyaratkan bahwa semua keputusan  dalam kehidupan (tentu termasuk keputusan etis)  yang mengait perihal ini tidak mudah.

    Bahkan masih banyak pula orang yang mengalami kekacauan pemahaman antara kejujuran dan keterbukaan.

    *

    Kejujuran itu beda dengan keterbukaan.

    Kejujuran itu berpijak pada kebenaran yang diucapkan oleh seseorang.  Sedangkan keterbukaan mengait keutuhan kisah (baik  peristiwa yang terjadi maupun suasana hati dan pikiran) yang disampaikan.

    Kejujuran yang disampaikan secara parsial hanya melahirkan kebenaran yang separuh. Contoh: Seorang istri menyampaikan secara jujur kepada suaminya bahwa dia  positif hamil. Tapi dia tidak menceritakan bahwa benih di rahimnya bukan berasal dari suaminya.

    Kejujuran parsial melahirkan kebenaran yang separuh.

    Dan kebenaran separuh  adalah  sama saja dengan dusta.

    *

    Kejujuran itu beda dengan keterbukaan.

    Ucapan kejujuran  muncul  setelah ada pertanyaan.

    Misal ditanya,  “Apakah hari ini kamu sudah sarapan?”

    Dijawab, “Belum!”

    Keterbukaan tak harus menanti  pertanyaan.

    Dia akan keluar tanpa ditanya.

    Contoh: Seorang perempuan yang telah berpacaran 3 tahun, suatu sore menyampaikan isi hatinya kepada kekasihnya. “ Mas, aku mau cerita sesuatu yang penting . Bahwa sebelum aku mengenalmu, aku  pernah berpacaran dengan orang lain. Dan mohon maaf sekali, dalam pacaran tersebut kami telah melakukan perbuatan yang seharusnya tak boleh kami lakukan dalam berpacaran. Saya menyerahkan keputusan Mas selanjutnya, bebas… hubungan kita mau dilanjutkan atau tidak, terserah Mas!”

    *

    Kejujuran itu beda dengan keterbukaan.

    Karena kejujuran  diberlakukan kepada semua orang  dalam berelasi.

    Keterbukaan tak bisa disampaikan kepada semua orang.

    *

    Kejujuran itu mengait karakter.

    Keterbukaan  membutuhkan  hikmat.

    Tepat orangkah?

    Tepat saatnya kah?

    Keterbukaan yang diucapkan tepat waktu bagaikan buah apel emas di pinggan perak.

    Yesus pun di awal masa pelayanan-Nya di dunia, pernah beberapa kali melarang orang-orang menceritakan perbuatan-Nya.

    Ini menunjukkan bahwa tak semua keterbukaan bisa diungkap di sembarang waktu.

    Tak semua orang pula siap menerima keterbukaan.

    *

    Kejujuran memang kemutlakan, tapi harus diiringi kecerdikan.

    Keterbukaan lebih membutuhkan persiapan daripada sebuah kejujuran.

    *

    Banyak orang yang jujur kepada pasangannya.

    Tapi tak mau atau tak bisa  terbuka kepadanya.

    Soal begini,  pisau benar salah tak dapat dipergunakan.

    Karena beda pasangan, beda pula pemetaan.

    *

    Oh betapa indahnya bila kita bisa jujur kepada semua orang.

    Oh betapa nyamannya  jika kita bisa terbuka kepada orang-orang yang sepatutnya kita terbuka.

    Kesalahan yang kerap terjadi,

    kita terbuka justru kepada orang yang tidak tepat.

    *

    Nyatalah,

    bahwa  kejujuran itu beda dengan keterbukaan.

    Semarang, 1 September 2020

    Setio Boedi

  • Menjadi ORANG YANG BAIK HATI

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Saat ini hampir semua orang turun pendapatannya, bahkan ada cukup banyak orang yang tidak mempunyai pendapatan selama beberapa bulan terakhir ini. Mari kita berdoa kepada Tuhan, agar kita dimampukan oleh Tuhan, di tengah-tengah situasi seperti itu, kita masih tetap dapat menaruh perhatian kepada orang-orang yang lebih lemah dan lebih membutuhkan daripada kita.

    Saudara, ada cukup banyak orang percaya yang berpendapat bahwa ibadah adalah ketika kita mengikuti kegiatan-kegiatan yang bersifat ritual di gereja. Kamus Besar Bahasa Indonesia memberi definisi bahwa ibadah adalah  perbuatan untuk menyatakan bakti kepada Allah, yang didasari ketaatan mengerjakan perintah-Nya dan menjauhi larangan-Nya.  Sedangkan di dalam Yakobus 1:27 dijelaskan,  “Ibadah yang murni dan yang tak bercacat di hadapan Allah, Bapa kita, ialah mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka, dan menjaga supaya dirinya sendiri tidak dicemarkan oleh dunia.”


    Coba kita simak apa yang disampaikan oleh Rasul Paulus kepada jemaat di Galatia, “hanya kami harus tetap mengingat orang-orang miskin dan memang itulah yang sungguh-sungguh kuusahakan melakukannya.”(Galatia 2:10). Itulah yang disampaikan Rasul Paulus  agar mereka juga mau memerhatikan dan membantu orang-orang miskin dengan tindakan nyata.  

    Firman Tuhan jelas menyatakan bahwa apa yang kita lakukan kepada orang miskin dan berkekurangan adalah bukti bahwa kita mengasihi Tuhan, dan itu sama dengan kita melakukannya untuk Dia.  Tuhan Yesus bersabda,  “… sesungguhnya segala sesuatu yang kamu lakukan untuk salah seorang dari saudara-Ku yang paling hina ini, kamu telah melakukannya untuk Aku.”  (Matius 25:40).

    Saudara, di saat pandemi Covid – 19, di sekitar kita banyak sekali orang yang mengalami kesulitan dengan pendapatan  dan usaha mereka. Ada cukup banyak saudara-saudara kita yang dirumahkan, bahkan di PHK. Juga banyak para usahawan yang saat ini sedang bingung dan gelisah, karena usaha mereka hampir macet total. Tentu saja kesulitan tersebut juga berimbas pada lembaga-lembaga gerejawi dan lembaga-lembaga sosial kemasyarakatan. Pengurus Panti Asuhan Christopherus juga melaporkan bahwa di masa pandemi saat ini ada cukup banyak donatur yang tidak dapat memberikan donasi mereka. Saudara, saya sadar saat ini banyak diantara kita yang sedang mengalami kesulitan keuangan. Minimal pendapatan kita mengalami penurunan. Di tengah-tengah situasi seperti itu, baiklah kita tetap ingat dengan panggilan untuk menjadi orang yang baik hati, Salomo dalam amsalnya berkata,  “Orang yang baik hati akan diberkati, karena ia membagi rezekinya dengan si miskin.”  (Amsal 22:9).

    Ingatlah! Tuhan  tidak akan menutup mata terhadap apa pun yang diperbuat oleh orang yang baik hati,“Siapa menaruh belas kasihan kepada orang yang lemah, memiutangi Tuhan, yang akan membalas perbuatannya itu.” (Amsal 19:17).  GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • MENGUATKAN HATI

    Selamat jumpa para Pengikut Kristus, apa kabar? Saat ini, hampir semua orang, terutama orang-orang lanjut usia, sedang menghadapi masa yang sulit. Kita perlu tabah dan menguatkan hati, bukan hanya untuk hari ini, tapi juga untuk hari-hari ke depan.

    Raja Daud dan rakyatnya pada saat itu sedang menghadapi pergumulan yang amat sangat sulit, digambarkan, “Lalu menangislah Daud dan rakyat yang bersama-sama dengan dia itu dengan nyaring, sampai mereka tidak kuat lagi menangis.”  (1 Samuel 30:4). Daud dan segenap rakyatnya menangis dengan nyaringnya sampai akhirnya mereka sudah tidak kuat lagi menangis.  Rasa-rasanya sudah tidak kuat lagi menanggungnya,  “…tampaklah kota itu terbakar habis, dan isteri mereka serta anak mereka yang laki-laki dan perempuan telah ditawan.”  (1 Samuel 30:3).  Sungguh,  “…Daud sangat terjepit, karena rakyat mengatakan hendak melempari dia dengan batu.”  (1 Samuel 30:6a).

    Saudara, keadaan Daud dan rakyatnya pada waktu itu dapat digambarkan, “Sudah jatuh tertimpa tangga.”   Mungkin apa yang menimpa Daud saat itu juga pernah kita rasakan, atau mungkin bahkan sedang kita alami saat ini.  Ketika kita sedang menghadapi satu kasus, satu penyakit, satu musibah, atau satu kesulitan, orang-orang terdekat, teman, sahabat, dan kerabat yang kita harapkan dapat menolong, menguatkan dan meneguhkan kita, justru beranjak menjauh dan meninggalkan kita.  Dalam keadaan yang seperti ini, sebagai orang percaya, hendaknya kita tidak cepat putus asa.  Mari kita belajar untuk menyikapinya dengan benar seperti yang dilakukan Daud yaitu  “…menguatkan kepercayaannya kepada Tuhan, Allahnya.”  (1 Samuel 30:6c). 

    Yakinlah, sesungguhnya peristiwa demi peristiwa yang terjadi dalam kehidupan kita bukanlah sebuah kebetulan, sesungguhnya ada rencana Tuhan dibalik itu semua, sebab  “…Allah turut bekerja dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi mereka yang mengasihi Dia, yaitu bagi mereka yang terpanggil sesuai dengan rencana Allah.”  (Roma 8:28).  Ketika masalah berat menimpa kita, jangan panik!  Kuatkan hati untuk datang kepada Tuhan, karena  “…dalam tinggal tenang dan percaya terletak kekuatanmu.”  (Yesaya 30:15).  Mari belajar dari Daud. Ia menguatkan hatinya dan mau mendengarkan Tuhan sehingga ia dapat mengerti apa kehendak-Nya.  Daud tidak lagi lemah, semangatnya bangkit kembali.  Semangatlah yang menjadikan kita kuat, dan siap mengatasi setiap masalah yang ada.  “maka Daud melanjutkan pengejaran itu beserta empat ratus orang.”  (1 Samuel 30:10a).

    Di balik semangat hidup ada kekuatan iman.  Dengan menguatkan hati di dalam Tuhan Daud lebih tenang dan sabar meski banyak prajuritnya tidak kuat dan berbalik meninggalkannya.  Daud yakin bahwa Tuhan ada di pihaknya dan akan memberikan kemenangan.

    Ingatlah! Seberat bagaimana pun masalah yang sedang kita hadapi saat ini, jangan putus asa, tetapi kuatkan hati di dalam Tuhan karena pertolongan-Nya selalu datang tepat pada waktunya!“,,,  Tuhan ALLAH menolong aku; …  Sebab itu aku meneguhkan hatiku seperti keteguhan gunung batu … .” (Yesaya 50:7). GBU & Fam. Better days are coming. (pg).