Author: Christopherus

  • KEHIDUPAN DOA Tuhan Yesus

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga  kita tidak lupa mengawali hari ini dengan bersaat teduh, saat yang baik untuk berbicara kepada Tuhan dan membuka telinga hati kita untuk mendengar suara Tuhan. Ridwan Kamil (Gubernur Jawa Barat) berkata, “Tidak ada kesuksesan tanpa kerja keras. Tidak ada keberhasilan tanpa kebersamaan. Tidak ada kemudahan tanpa doa.”


    Saudara, berdoa menjadi hal terpenting dalam kehidupan dan pelayanan Tuhan Yesus! Ketika fajar menyingsing, Ia sudan bangun untuk berdoa, “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.”  (Markus 1:35)

    Sebelum Tuhan Yesus menyatakan diri-Nya dan memulai pelayanan di muka bumi, Tuhan Yesus terlebih dahulu mengasingkan diri di padang gurun untuk berdoa dan berpuasa selama 40 hari 40 malam lamanya.  Karena kekuatan doa inilah Tuhan Yesus mampu mengalahkan segala tipu daya Iblis yang berusaha menggagalkan misi-Nya  (Matius 4:1-11). 


    Tuhan Yesus punya kebiasaan, sebelum memulai segala sesuatu pada hari itu, Ia berdoa terlebih dahulu kepada Bapa-Nya.  Pagi-pagi benar sebelum matahari terbit Yesus telah bangun dan berdoa kepada Bapa-Nya, dan seringkali juga sepanjang malam dalam kesunyian di atas gunung Ia berdoa sendirian:  “Setelah Ia berpisah dari mereka, Ia pergi ke bukit untuk berdoa.” (Markus 6:46).  Lukas juga mencatat:  “Pada waktu itu pergilah Yesus ke bukit untuk berdoa dan semalam-malaman Ia berdoa kepada Allah.”  (Lukas 6:12).  Coba kita perhatikan catatan dari penulis Kitab Ibrani:  “Dalam hidup-Nya sebagai manusia, Ia telah mempersembahkan doa dan permohonan dengan ratap tangis dan keluhan kepada Dia, yang sanggup menyelamatkan-Nya dari maut, dan karena kesalehan-Nya Ia telah didengarkan.”  (Ibrani 5:7).  Karena memiliki kehidupan doa yang luar biasa, maka Yesus tampil sebagai Pribadi yang luar biasa pula dan penuh kuasa.

    Saudara, membangun persekutuan dengan Bapa, melibatkan Bapa dalam setiap kehendak dan rencana-Nya adalah kunci keberhasilan pelayanan Yesus.  Meski selalu menjadi sasaran bidikan banyak orang yang memusuhi dan berusaha menjatuhkan-Nya, Ia mampu menguasai diri-Nya dan tetap tenang karena Ia selalu menempatkan doa sebagai hal yang utama.  “Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.”  (1 Petrus 4:7b).  Selama 3,5 tahun pelayanan-Nya di bumi Yesus bukan hanya mengajar murid-murid-Nya secara teori tetapi juga secara praktis tentang pentingnya berdoa! Ia telah memberi teladan!

    Ingatlah! Tuhan Yesus telah memberikan teladan hidup bagaimana Ia menempatkan doa sebagai hal utama dalam hidup-Nya, supaya kita sebagai murid-murid-Nya mengikuti jejak Sang Guru Agung. Merry Riana (Motivator asal Indonesia) mengingatkan kita, “Doa akan sangat besar kuasanya, ketika diselipkan kepercayaan di setiap baitnya.” GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • TUHAN yang MEMULIHKAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Betapa baiknya Tuhan itu, setiap pagi Dia menyambut kita melalui sang mentari yang terbit di ufuk Timur. Yakinlah sebagaimana mentari pagi yang pasti hadir setiap pagi, demikian juga Tuhan pasti menepati janj-janji-Nya. Dia pasti menyediakan jalan keluar terhadap permasalahan yang kita hadapi. Tuhan sanggup memulihkan kita.

    Saudara, kalau Saudara berkata, “Tidak punya masalah.” Sesungguhnya itulah masalah Saudara. Sesungguhnya selama kita masih menginjakan kaki di bumi, setiap orang dan setiap keluarga pasti mempunyai masalah atau persoalan. Memang setiap orang atau setiap keluarga mempunyai masalah tersendiri, tidak sama dengan yang dihadapi oleh orang atau keluarga yang lain.

    Apakah masalah itu? Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, masalah adalah sesuatu yang harus diselesaikan atau dipecahkan.

    Tentu setiap orang yang sedang menghadapi masalah berharap mendapatkan pertolongan atau jalan keluar.  Kepada siapa kita meminta pertolongan?  Berserulah kepada Tuhan dan mintalah pertolongan-Nya,  “Tolonglah kami, ya Allah penyelamat kami, demi kemuliaan nama-Mu! Lepaskanlah kami dan ampunilah dosa kami oleh karena nama-Mu!”  (Mazmur 79:9).

    Latar belakang ditulisnya Mazmur 79 ini adalah ketika kerajaan Yehuda mengalami keruntuhan, kota Yerusalem menjadi puing-puing karena serangan tentara Babel.  Dalam keadaan terancam dan teraniaya, bani Asaf memanjatkan doa disertai dengan ratapan kepada Tuhan untuk meminta pertolongan.

    Masalahnya, saat ini ada cukup banyak orang percaya  yang bertanya-tanya dalam hati, “Mengapa pertolongan Tuhan datangnya  itu begitu lama?” Padahal Tuhan sendiri yang bersabda, “Mintalah, maka akan diberikan kepadamu; carilah, maka kamu akan mendapat; ketoklah, maka pintu akan dibukakan bagimu.  Karena setiap orang yang meminta, menerima dan setiap orang yang mencari, mendapat dan setiap orang yang mengetok, baginya pintu dibukakan.”  (Matius 7:7-8).  Apa Ia ingkar dengan janji-Nya? 

    Saudara, yakinlah.  Tuhan  tidak pernah ingkar dengan janji-Nya.  Janji-Nya yang tertulis dalam Alkitab pasti akan digenapi asalkan kita mau bersabar untuk menantikan Dia.

    Nah, pergumulan berat apa yang Saudara alami saat ini?  Mungkin keadaan Saudara seperti tembok runtuh, yang tersisa hanyalah puing-puing kehancuran.  Manusia boleh saja beranggapan tidak ada harapan dan tak mungkin dipulihkan, tapi bagi Tuhan tidak ada perkara yang mustahil. 

    Sehancur apa pun keadaan kita, Tuhan sanggup memulihkan.  Tuhan berfirman:  “…apabila kamu berseru dan datang untuk berdoa kepada-Ku, maka Aku akan mendengarkan kamu; apabila kamu mencari Aku, kamu akan menemukan Aku; apabila kamu menanyakan Aku dengan segenap hati, Aku akan memberi kamu menemukan Aku, demikianlah firman TUHAN, dan Aku akan memulihkan keadaanmu…”  (Yeremia 29:12-14).  Dalam menantikan pertolongan Tuhan kita seringkali salah dalam memahami waktu dan cara Tuhan untuk menolong, kita berpikir pertolongan Tuhan akan terjadi sama persis seperti yang kita harapkan.

    Ingatlah! Tuhan selalu punya cara tersendiri untuk menolong dan memulihkan kita, karena itu tetaplah percaya!Pertolongan dan janji pemulihan Tuhan pasti akan terjadi sesuai waktu-Nya.  Karena itu dalam menantikan pertolongan Tuhan kita dilatih untuk bersabar dan berserah penuh kepada-Nya;  dan yang pasti, pertolongan Tuhan itu selalu mendidik dan mendewasakan kita. GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • KESAKSIAN SENIOR

    Jikalau mau peka, setiap kita bisa mendapatkan banyak makna dalam setiap peristiwa di dalam kehidupan ini, ermasuk dalam kehidupan bergereja. Apakah dalam kebaktian kita menerima berkat Tuhan? Iya dan pasti. Entah melalui pujian, entah pula dalam penyampaian Firman Tuhan. Ataupun melalui berbagai sisi interaksi di sana.

    Nah di GKMI Gloria Patri aku kerap kali menerima berkat surgawi melalui para orang lanjut usia. Para seniors. Ketika dalam ibadah Minggu (maupun aktivitas gerejawi lainnya), kulihat ada orang lanjut usia yang  jalannya pelan-pelan,entah berjalan sendiri ataupun digandeng anak atau cucunya, saat memandangnya hati rasanya mak nyes.

    Adem.

    Apalagi ketika melihat sepasang lansia yang bergandeng tangan ke gereja. Membawa Alkitab, dengan wajah gembira. Ada aura terpancar dari mereka.

    Yang lebih keren itu ketika melihat opa atau oma yang naik kursi roda, Yang rajin dan  setia beribadah dan tak pernah terlambat. Memandang mereka dalam peribadahan itu, seakan Tuhan menyapa, ”Lihatlah mereka! Mereka setia sampai masa tua. Dalam kondisi sakit mereka pun tetap memuliakan pencipta-Nya! Apakah kamu akan juga setia sampai masa tuamu seperti mereka?”

    Di GKMI Gloria Patri sempat ada beberapa lansia yang dalam kondisi seperti ini.

    *

    Bisa jadi empatiku terhadap para lansia juga didukung dengan pengalaman merawat ibu mertua. Selama empat tahun lebih, Ibu mertua beribadah ke GKMI Gloria Patri dengan kursi roda. Persiapan anggota keluarga yang mendampingi tentu lebih  ekstra waktu dibandingkan dengan keluarga yang tidak ada lansianya. Ketika persiapan berangkat, orang-orang yang belum pernah merawat lansia sakit mungkin tidak banyak tahu bahwa pekerjaan-pekerjaan yang dipersiapkan untuk ke gereja cukup banyak.

    Misalnya melayani mandi, melayani ganti baju, melayani makan, minum obat dan sebagainya sampai bila nanti telah siap semua, menggendongnya atau menggandengnya masuk ke mobil. Lalu mengangkat kursi roda ke mobil.

    Dan ketika sudah sampai gereja, butuh waktu untuk menurunkan, duduk ke kursi roda dan kemudian mendorong masuk ke gereja. Sehingga jikalau Anda menjumpai lansia ke gereja, ambilah makna spiritualitas dari kehadiran mereka.

    *

    Aku pun kagum dengan hamba Tuhan yang sudah sangat senior tetapi tetap produktif melayani Tuhan.  Bersemangat,  dan selalu bersukacita.

    Aku melihat itu pada diri Ev. Andreas Christanday. Seorang yang konsisten, tetap tidak mau menjadi pendeta. Tetap berkomitmen tidak akan mendirikan gereja (melalui Yayasan Christopherus).

    Barangkali banyak orang yang tidak tahu bahwa, nama “Gloria Patri” yang melekat pada GKMI yang beralamat di Sumber Mas Raya ini adalah dari idenya.  Ev. Andreas Christanday banyak berperan dalam proses persiapan pendewasaan GKMI Semarang Tanah Mas yang kemudian menjadi GKMI Gloria Patri tersebut. Karena Pak Andreas  menjadi gembala konsulen di jemaat ini selama beberapa tahun (1987-1990).

    Selama tiga puluhan tahun mengenal Pak Andreas, kulihat semangatnya dalam melayani Tuhan tak berubah.  Dengan lentur Pak Andreas bisa menyesuaikan zaman beserta teknologinya bagi kemuliaan Tuhan Yesus.

    Aku mulai banyak mengenal Pak Andreas ketika mengikuti Pendalaman Alkitab di GKMI Semarang cabang Tanah Mas (sekitar tahun 1989). Pengetahuan yang luas dan teologianya yang sejuk membuat yang disampaikannya menarik. Pak Andreas adalah seorang pendidik yang sangat baik.  Seorang praktisi yang mempunyai banyak tulisan dan buku karyanya.

    Pak Andreas pula yang mengajakku untuk membantu redaksional naskah di majalah Reflecta. Dari sanalah kelak kemudian aku dilibatkan dalam penerbitan buletin di Yayasan Christopherus.

    Dari seorang hamba Tuhan senior ( sekarang berusia 76 tahun) , aku mendapatkan pelajaran kesetiaan, keseriusan dan sukacita dalam melayani Tuhan Yesus. Sampai sekarang Pak Andreas dan istri tetap setia beribadah di GKMI Gloria Patri.

    Sebagai penutup tulisan hari ini, aku mau sampaikan ada 2 ucapan Pak Andreas yang terekam di kepalaku, yang otentik darinya.

    Pertama, “ Manusia mengerti awalnya setelah semua berakhir. Sedangkan Allah tahu akhir sejak dari awal!”

    Kedua, “ Aku ingin hidup dalam sukacita Tuhan dalam segala keadaan. Ingatkanlah aku bila tampak tidak bersukacita!”

    Setio Boedi

    Pelayanan bersama dengan Pak Andreas  dalam rangka HUT ke-50 GKMI Semarang. Di sebelah kiri Pak Andreas Christanday adalah Pak Paul Gunawan dan Pak Charles Christano
  • SAHABAT di Semua MUSIM KEHIDUPAN

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Diantara sekian ratus atau sekian ribu orang temanmu, pasti ada beberapa orang yang menjadi sahabatmu. Sydney Smith (Penulis asal Inggris) mengatakan,  “Hidup ini harus diisi dengan banyak persahabatan.  Mengasihi dan dikasihi adalah kebahagiaan terbesar dalam kehidupan.” 

    Siapakah sahabat itu? Orang bijak berkata bahwa sahabat itu bukan tentang siapa yang telah lama kamu kenal, tapi tentang siapa yang menghampiri hidupmu dan tidak pernah meninggalkanmu dalam situasi dan kondisi seburuk bagaimana pun. Sedangkan Fiersa Besari (Penulis dan pemusik asal Indonesia berkata, “Sahabat mencarimu ketika yang lain mencacimu. Sahabat merangkulmu ketika yang lain memukulmu.”

    Sesungguhnya setiap orang membutuhkan orang lain di dalam hidupnya untuk hidupnya. Adakah di antara saudara yang merasa  tidak membutuhkan orang lain dalam hidup ini?  Atau mungkin ada yang berkata,  “Ah …aku tidak butuh orang lain, karena aku bisa melakukan segala sesuatu sendiri dan punya segala-galanya.” 

    Saudara, manusia diciptakan Tuhan sebagai makhluk sosial.  Sekecil apapun aktivitas dalam keseharian kita akan selalu bersentuhan dengan orang lain, Selalu terjalin interaksi dengan orang lain, dengan hadirnya orang-orang di dekat kita.  Di lingkungan tempat tinggal, kita mempunyai tetangga.  Di sekolah, kita menghabiskan banyak waktu dengan teman sekelas untuk belajar, berdiskusi, dan bermain. Di tempat pekerjaan ada rekan-rekan kerja yang bekerjasama. Bahkan di gereja pun kita membangun persekutuan yang erat dengan saudara-saudara seiman lainnya.

    Salomo menyatakan,  “Besi menajamkan besi, orang menajamkan sesamanya.”(Amsal 27:17). Sesungguhnya pembentukan atau pematangan pribadi seseorang itu sangat ditentukan oleh kerelaannya  digosok dan digesek  oleh orang lain.  Melalui persekutuan dengan sesamanya seseorang akan mengalami penajaman-penajaman sebagai proses.  Jadi penajam-penajam kita itu bukanlah dari orang yang jauh, melainkan dari orang-orang yang berada di sekitar kita.  Karena itu  “Siapa bergaul dengan orang bijak menjadi bijak, tetapi siapa berteman dengan orang bebal menjadi malang.”  (Amsal 13:20). 

    Dengan siapa kita bergaul dan orang-orang terdekat yang bagaimana itulah yang akan berpengaruh besar dalam perjalanan hidup kita.  Rasul Paulus pun mengingatkan kita,  “Janganlah kamu sesat: Pergaulan yang buruk merusakkan kebiasaan yang baik.”  (1 Korintus 15:33). Kehadiran orang lain dalam hidup kita, entah itu teman atau sahabat adalah sangat penting dan dibutuhkan.

    Jika kita rindu memiliki seseorang untuk kita jadikan sebagai sahabat, kita perlu ekstra hati-hati dan harus benar-benar selektif, sebab seorang sahabat bukanlah sekadar teman biasa.  Perjumpaan dengan seorang sahabat bukanlah suatu hal yang secara kebetulan, namun merupakan suatu proses yang penuh pertimbangan, dan hal itu membutuhkan waktu yang tidak singkat.

    Ingatlah! Jangan pernah meragukan kasih Tuhan. Dia adalah sahabat sejati.  Bersama Yesus kita sanggup menjalani dan menikmati hari-hari yang ada di depan kita,  karena Dia ada di setiap musim kehidupan.  Kita tidak akan berjalan sendirian menjalani kehidupan ini karena Dia adalah Imanuel, Allah yang menyertai kita, bahkan penyertaan-Nya atas kita sampai kepada kesudahan zaman.  Halleluya!. GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • MULUTMU HARIMAUMU

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Semoga sehat-sehat saja, tetap semangat dan selalu bisa memperkatakan hal-hal yang positif. Merry Riana (Motivator asal Indonesia) berkata, “Berhati-hatilah dalam perkataan atau perbuatan. Jika salah, itu bisa membuat orang lain terluka. Bagaikan sebuah paku yang menancap pada kayu, walaupun dicabut, bekasnya akan tetap ada.”

    Saudara, sesungguhnya betapa besar peranan perkataan dalam hidup seseorang. Salomo mengingatkan kita, “Perut orang dikenyangkan oleh hasil mulutnya, ia dikenyangkan oleh hasil bibirnya.”  (Amsal 18:20)

    Tanpa disadari, ada cukup banyak orang yang meremehkan kuasa dari sebuah perkataan sehingga banyak perkataan sembrono keluar dari mulutnya.  Alkitab dengan keras mengingatkan,  “Hidup dan mati dikuasai lidah, siapa suka menggemakannya, akan memakan buahnya.”  (Amsal 18:21). 

    Bila kita mempergunakan mulut kita untuk memperkatakan hal-hal yang positif  dan mendeklarasikan apa yang kita percayai, maka hidup kita pasti akan mengalami perubahan sesuai dengan firman yang kita perkatakan.  Karena itu sediakanlah waktu setiap hari untuk membaca dan merenungkan firman Tuhan, supaya  “…semua yang benar, semua yang mulia, semua yang adil, semua yang suci, semua yang manis, semua yang sedap didengar, semua yang disebut kebajikan dan patut dipuji …”  (Filipi 4:8)  senantiasa mengisi perbendaharaan hati kita, sehingga yang keluar dari mulut kita  adalah hal-hal yang selaras dengan firman-Nya,  “… Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati.”  (Matius 12:34).

    Kita harus memahami bahwa perkataan kita akan memimpin kita pada jalan yang benar atau  mengarahkan kita pada jalan yang salah.  Kehidupan dan kematian ditentukan pula oleh lidah.

    Mereka yang selalu memperkatakan perkataan yang buruk akan menerima akibat dari perkataan mereka;  dan itu adalah suatu pilihan!  Kita bisa memilih untuk memperkatakan hal-hal positif yang berdampak positif bagi kita, atau hal-hal negatif yang senantiasa mewarnai dan mendominasi setiap perkataan kita.  Perkataan manusia adalah seperti bejana yang diisi dengan hal-hal yang baik atau buruk. 

    Perkataan yang dikuasai oleh Roh Kudus akan tinggal bersama dengan kita dan akan mengubah hidup kita.  Sering kita kurang  menyadari bahwa kata-kata yang kita dengar dapat memimpin atau merusak jalan hidup kita.  Dengan perkataan, kita bisa membangun kepercayaan diri seseorang atau menghancurkan iman mereka.  Perkataan yang pedas dan tidak menyenangkan dapat menyakiti orang lain.  Akan tetapi perkataan yang lembut dan penuh kasih akan membuat orang lain gembira, dipulihkan, dikuatkan dan dipimpin kepada kemenangan.

    Setiap saat kita diperhadapkan pada pengambilan keputusan yang sangat penting:  “Apa yang kita pilih untuk  kita katakan?”  Bagaimana caranya kita menata perkataan kita yang nantinya akan menentukan masa depan kita?  Akankah kita membangun lingkungan dengan kebahagiaan atau akankah kita merusak segalanya dengan perkataan kita?  Perkataan kita mengandung kuasa dan berkat dari Tuhan, untuk itulah kita harus benar-benar memperhatikan perkataan kita.  Begitu pula dalam hal menegur orang lain, kita pun harus berhati-hati dan tidak boleh sembarangan, apalagi dengan kata-kata yang menyakitkan, sebab  “Teguran orang yang bijak adalah seperti cincin emas dan hiasan kencana untuk telinga yang mendengar.”  (Amsal 25:12).

    Ingatlah! Pribahasa lama berkata, “Mulut kamu, harimau kamu” yang artinya keselamatan dan harga diri kita bergantung pada perkataan kita sendiri. Hati-hatilah dengan perkataan kita, terkadang perkataan itu bisa menembus apa yang tidak bisa ditembus oleh jarum.  Salomo mengingatkan kita, “Perkataan yang diucapkan tepat pada waktunya adalah seperti buah apel emas di pinggan perak.” (Amsal 25:11). GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • TUHAN SANG PENOLONG

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Saya tahu ada cukup banyak diantara kita yang saat ini sedang menghadapi berbagai masalah hidup. Ada yang sakit, ada yang kehilangan pekerjaan, ada yang kehilangan anggota keluarganya, ada yang usahanya bangkrut, ada yang terkena musibah atau bencana, dan lain-lain. Tapi yakinlah Tuhan kita jauh lebih besar daripada segala masalah yang sedang Saudara hadapi saat ini.

    Saudara, Hari-hari yang sedang kita jalani dan hadapi saat ini  adalah hari-hari yang sangat berat, serba tidak menentu dan menekan.  Wajarlah bila ada cukup banyak orang yang  mengeluhkan dan stres. 

    Kita perlu menyadari bahwa terus mengeluh tidak akan memberi solusi, karena sesungguhnya selama kita masih bernafas dan kaki kita masih menginjak bumi, kita tidak akan pernah bisa menghindar dari masalah, sakit penyakit, kesukaran, bencana, musibah, atau penderitaan yang bisa datang silih berganti tanpa permisi, tanpa memandang usia atau status sosial. 

    Dengan gamblang Alkitab menyatakan bahwa bangsa Israel adalah bangsa yang tegar tengkuk  (Keluaran 32:9).  Mereka mudah sekali melupakan kebaikan Tuhan.  Karena itu mereka perlu selalu diingatkan bahwa tidak ada pertolongan lain selain dari Tuhan, “Pertolonganku ialah dari TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.”  (Mazmur 121:2).

    Ayat tersebut biasanya dibacakan ketika umat Israel hendak memulai ibadah di Bait Suci di Yerusalem atau ketika mereka sedang melakukan ziarah ke Bait Allah.  Pernyataan, seruan atau pengakuan yang dibacakan sebelum ibadah dimulai ini disebut votum.  Ini bukan sekadar pernyataan atau pengakuan biasa sebagai pembuka ibadah, melainkan sebuah pengakuan terhadap kemahakuasaan Tuhan.  Seruan atau pernyataan adalah hal penting untuk didengar dan diketahui semua orang bahwa sumber pertolongan itu datangnya dari Tuhan, bukan yang lain.

    Bangsa-bangsa yang tidak mengenal Tuhan berusaha mencari pertolongan kepada berhala-berhala, seperti azimat, patung, pohon atau kuburan.  Mereka berpikir bahwa berhala-berhala itu dapat memberikan pertolongan atau solusi untuk setiap masalah yang dihadapi, padahal  “Berhala bangsa-bangsa adalah perak dan emas, buatan tangan manusia, mempunyai mulut, tetapi tidak dapat berkata-kata, mempunyai mata, tetapi tidak dapat melihat, mempunyai telinga, tetapi tidak dapat mendengar, juga nafas tidak ada dalam mulut mereka. Seperti itulah jadinya orang-orang yang membuatnya, semua orang yang percaya kepadanya.”  (Mazmur 135:15-18). 

    Mereka juga pergi ke laut atau gunung-gunung untuk mencari perlindungan dan keselamatan.  Hasilnya?  Nihil! Zonk!  Pemazmur membuktikannya:  “Aku melayangkan mataku ke gunung-gunung; dari manakah akan datang pertolonganku?”  (Mazmur 121:1).  Tidak ada pertolongan di gunung-gunung!

    Bagi umat Israel pertolongan datang bukan dari laut atau gunung, tetapi dari Tuhan yang adalah pencipta langit dan bumi dan seluruh isinya.  Dengan kata lain, yang menjadi sumber pertolongan umat Israel bukanlah benda-benda mati atau berhala-berhala buatan tangan manusia, tetapi Tuhan yang hidup, Tuhan yang tidak pernah tertidur dan terlelap.  Tuhanlah yang menjadi Penjaga Israel dari sekarang sampai selamanya!

    Ingatlah! Marilah bersama dengan Daud, kita sebagai komunitas orang percaya bersaksi: “Pertolongan kita adalah dalam nama TUHAN, yang menjadikan langit dan bumi.”  (Mazmur 124:8). GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • Kunci KEBERHASILAN Estee Lauder

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Bersyukurlah kalau selama ini kita menjadi orang yang rajin karena kadang-kadang KESEMPATAN itu sering menyamar menjadi KERJA KERAS. Karena itu berbahagialah kalau selama ini kita tidak menjadi pemalas.

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, rajin mempunyai makna:  Suka bekerja (belajar dsb); getol; sungguh-sungguh bekerja; selalu berusaha giat. Rajin merupakan salah sastu modal untuk mencapai keberhasilan. Sekalipun orang punya seribu macam keinginan, tapi apabila ia malas mewujudkan keinginannya  melalui tindakan, maka keinginan tersebut tidak akan pernah menjadi kenyataan. Bagai mimpi di siang bolong.  Penuh dengan keinginan tapi tidak disertai dengan tindakan adalah ciri seorang pemalas. Kita perlu menyadari,  “Oleh karena kemalasan runtuhlah atap, dan oleh karena kelambanan tangan bocorlah rumah.”  (Pengkhotbah 10:18).

    Saudara, yakinlah Tuhan menghendaki anak-anak-Nya  tidak menjadi pemalas, tapi menjadi pekerja yang rajin.  Mengapa?  Yesus bersabda,  “Bapa-Ku bekerja sampai sekarang, maka Akupun bekerja juga.”  (Yohanes 5:17).  Sejak awal penciptaan Tuhan sudah mendesain manusia untuk bekerja:  “TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu.”  (Kejadian 2:15). Kalau kita rajin:  berdoa, bekerja,  menabung, baca Alkitab, menabur, berbuat baik, melayani Tuhan dan sebagainya, suatu saat kita pasti akan memetik hasilnya, sebab di dalam setiap jerih payah selalu mendatangkan keuntungan  (Amsal 14:23).

    Kerajinan adalah jalan yang akan menuntun kita kepada mukjizat dan berkat Tuhan. Yusuf adalah salah satu contoh orang rajin yang tercatat di Alkitab.  Karena kerajinannya dalam bekerja ia dipercaya oleh Potifar dan juga disukai oleh kepala penjara.  Orang yang rajin, di mana pun berada dan ditempatkan, selalu menjadi berkat dan hidupnya berdampak bagi orang lain.  Dinyatakan bahwa Yusuf menjadi orang yang selalu berhasil dalam pekerjaannya  (Kejadian 39:2), sebab ia rajin, karena itu ia selalu disertai oleh Tuhan.

    Ingatlah! Estee Lauder (Pebisnis asal Amerika) berkata, “Saya tidak pernah bermimpi tentang keberhasilan. Saya bekerja keras untuk mendapatkan keberhasilan.” Sedangkan Salomo mengingatkan kita, “Hati si pemalas penuh keinginan, tetapi sia-sia, sedangkan hati orang rajin diberi kelimpahan.”  (Amsal 13:4). GBU & Fam. Better days are coming. (pg)