Author: Christopherus

  • KEPAHITAN dan KASIH Tidak Dapat Tinggal Bersama

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Saya yakin dalam perjalanan hidup kita, ada hal-hal yang manis, tapi ada juga hal-hal yang pahit. Semoga kita dimampukan oleh Tuhan untuk membuang jauh-jauh segala pengalaman pahit. Terry Brooks (Penulis fiksi asal Amerika) berkata, “Luka hati akan membawa kita kepada kepahitan, kepahitan akan membawa kita kepada amarah dan jika terjerat dalam amarah, kita akan tersesat dan sulit untuk dipulihkan.”

    Apa itu kepahitan atau akar pahit? Kepahitan yaitu kejadian dalam hidup seseorang yang tidak enak, yang menggores hatinya begitu dalam.  Yang saya maksud dengan tidak enak  berhubungan dengan banyak hal seperti: kejadian yang menyakitkan, memalukan, merugikan, bahkan mencelakan diri seseorang.


    Saudara, kekejaman orang-orang Mesir membuat bangsa Israel mengalami kepahitan yang luar biasa,  “Lalu dengan kejam orang Mesir memaksa orang Israel bekerja, dan memahitkan hidup mereka dengan pekerjaan yang berat, yaitu mengerjakan tanah liat dan batu bata, dan berbagai-bagai pekerjaan di padang, ya segala pekerjaan yang dengan kejam dipaksakan orang Mesir kepada mereka itu.”  (Keluaran 1:13-14).

    Bangsa Israel menjadi contoh nyata dampak buruk yang ditimbulkan oleh rasa pahit yang terpendam bertahun-tahun di dalam hati.  Perlakuan kejam bangsa Mesir benar-benar menorehkan luka mendalam di hati mereka.

    Kepahitan itu bisa digambarkan seperti sebuah akar.  Akar tidak bisa dilihat karena berada jauh di dalam tanah, tapi kita dapat merasakan keberadaannya dengan melihat batang, daun, dan buah yang dihasilkannya.  Akar yang pahit menghasilkan buah yang pahit juga.  “Karena yang diucapkan mulut meluap dari hati. Orang yang baik mengeluarkan hal-hal yang baik dari perbendaharaannya yang baik dan orang yang jahat mengeluarkan hal-hal yang jahat dari perbendaharaannya yang jahat.” (Matius 12:34b-35).  Karena itu kita harus bisa menjaga kondisi hati kita.  “Jagalah hatimu dengan segala kewaspadaan, karena dari situlah terpancar kehidupan.”  (Amsal 4:23).  Karena hatinya teramat pahit, bangsa Israel pun menunjukkan sikap yang memberontak kepada Tuhan.

    Bagaimana caranya supaya kita terbebas dari kepahitan hati?  Semua tergantung bagaimana kita menyikapi setiap permasalahan yang terjadi.  “Sebab seperti orang yang membuat perhitungan dalam dirinya sendiri demikianlah ia.”  (Amsal 23:7a).  Kita harus membuat suatu tindakan nyata untuk melepaskan diri dari belenggu kepahitan itu.  “Jagalah supaya jangan ada seorangpun menjauhkan diri dari kasih karunia Allah, agar jangan tumbuh akar yang pahit…”  (Ibrani 12:15).  Akar pahit akan semakin tumbuh subur apabila kita hidup jauh dari kasih karunia Tuhan.  Hanya oleh kasih karunia Tuhanlah kita dituntun kepada kehidupan yang terbebas dari kepahitan.  Maka dari itu bukalah hati dan izinkan Roh Kudus memimpin langkah hidup kita.

    Ingatlah! Jadikan diri kita lebih baik dan bukan menjadi lebih pahit. Dave Willis (Pelawak asal Skotlandia) berkata, “Kepahitan dan cinta tidak bisa hidup bersama dalam satu hati. Setiap hari kita harus menentukan yang mana yang akan tinggal.” KEPAHITAN dan KASIH tidak dapat tinggal bersama. GBU & Fam. Better days are coming. (pg).

  • Memilih Panggilan Pelayanan

    Setiap orang memiliki sebuah panggilan khusus untuk mengikuti Tuhan Yesus. Panggilan ini merupakan sebuah karunia dari Allah sendiri. Secara spesifik, Allah menaruh panggilan ini ke dalam diri seseorang, kamu dan aku. Inilah suatu pemberian dari Allah, yang mesti diterima dengan keterbukaan diri (Yeremia 1:7-8; Efesus 4:11-12; 2 Timotius 1:9; 1 Petrus 5:10).

    Mengapa panggilan untuk mengikuti Tuhan Yesus begitu unik? Sebab, ini didasarkan pada karunia khusus yang sudah Tuhan berikan kepada kita. Di dalamnya pun terdapat sebuah kebebasan bagi kita untuk memilih: menolak, atau menerima panggilan tersebut (Kejadian 2:16-17). Kebebasan ini pun merupakan perwujudan eksistensi manusia sesungguhnya.

                Sebagian orang secara luar biasa mengalami bahwa cara Allah memanggil mereka amat unik. Itulah sebabnya sebuah panggilan untuk mengikuti Tuhan Yesus memang sangat istimewa. Ini disebabkan kita merespons undangan Allah dan lalu memberikan diri kepada Allah sendiri. Dan, di sini Allah menghendaki kita untuk menanggapi panggilan-Nya secara pribadi. Lalu, apakah arti panggilan Allah bagi kita?

                Bacaan Alkitab kita dalam 1 Raja-Raja 19:19-20 menjelaskan suatu panggilan pelayanan pribadi dan juga penunjukkan kenabian terhadap Elisa.

    Ada dua hamba Tuhan di sini. Orang pertama adalah Elia. Ia seorang nabi tua dan namanya berarti “Allah-ku adalah Yahweh (Tuhan)”. Dan, orang kedua bernama Elisa. Ia seorang nabi lebih muda dan namanya berarti “Allah adalah keselamatan”.

                Ayat 19 berkata, Setelah Elia pergi darisana, ia bertemu dengan Elisa bin Safat yang sedang membajak dengan dua belas pasang lembu, sedang ia sendiri mengemudikan yang kedua belas. Ketika Elia lalu dari dekatnya, ia melemparkan jubahnya kepadanya.”

    Kata-kata “dari sana” berarti Gunung Horeb, atau disebut Gunung Sinai. Itulah sebuah gunung suci tempat nabi Musa bertemu Allah dan menerima 10 Perintah Allah (Keluaran 19-20). Di atas gunung itu, Tuhan pun menampakkan diri kepada nabi Elia. Tuhan berkata kepadanya bahwa nabi Elia akan mengurapi Elisa dari daerah Abel-

    Mehola untuk menggantikannya sebagai nabi di Israel (1 Raja-Raja 19:16).

    Saat itu, Elisa sedang bekerja di ladang, karena ia sendiri adalah seorang petani. Dengan melihat lembu-lembunya, kita bisa mempunyai gambaran yang baik tentang dirinya. Elisa sesungguhnya seorang petani kaya di daerah Abel-Mehola, dekat dengan Sungai Yordan, yang terletak di bagian selatan daerah Bet-Sean (1 Raja-Raja 4:12). Dengan demikian, ia pula memiliki status sosial yang bagus.  

                Elisa sedang bekerja di ladang ketika nabi Elia mengurapinya sebagai seorang nabi. Walaupun Elisa seorang petani kaya, tetapi ia masih membajak tanahnya. Kemudian, nabi Elia mendekatinya dan menaruh jubah kenabiannya di atas pundak Elisa.

    Apakah artinya ini?  Dengan tindakan ini, nabi Elia menunjukkan bahwa Elisa akan menjadi seorang nabi seperti dirinya kelak. Dengan cepat Elisa pun menyadari keadaan itu. Lalu, saat peralihan jabatan kenabian itu selesai, nabi Elia pada akhirnya memang meninggalkan jubah kenabiaannya bagi Elisa (2 Raja-Raja 2:11-14).

                Apakah makna jubah nabi Elia di sini? Jubah nabi Elia merupakan sebuah simbol dari otoritasnya sebagai nabi untuk mengurapi Elisa. Dan bagi Elisa sendiri, jubah nabi Elia menjadi sebuah simbol dari panggilan Elisa terhadap jabatan kenabian yang akan ia emban kelak. Bacaan Alkitab ini menjelaskan suatu hubungan akrab antara sang guru (nabi Elia) dan sang murid (Elisa).  

                “Lalu Elisa meninggalkan lembu itu dan berlari mengikuti Elia, katanya: “Biarkanlah aku mencium ayahku dan ibuku dahulu, lalu aku akan mengikuti engkau.” Jawabnya kepadanya: “Baiklah, pulang dahulu, dan ingatlah apa yang telah kuperbuat kepadamu” (1 Raja-Raja 19:20).   

          Elisa menanggapi tantangan panggilan dari nabi Elia dengan membuat sebuah keputusan yang menentukan hidupnya, yakni mengikuti sang nabi dan bersedia menggantikannya suatu saat . Kehidupan seorang nabi memang lebih sulit daripada pekerjaan Elisa sebagai petani dengan banyak harta. Mengapa? Sejumlah orang akan membenci Elisa. Sebagian lagi akan menentang pemberitaannya. Lebih dari itu, beberapa orang lagi akan menghinanya. Sejumlah tantangan dan pergumulan akan dihadapi Elisa dalam mengemban jabatan kenabian tersebut.

    Di sini kita bisa melihat, dengan kebebasan utuh Elisa ingin melayani Allah. Ia mempertimbangkan keputusan untuk mengikuti panggilan pelayanan itu sebagai suatu kesempatan yang amat indah. Dan, ia tidak ragu-ragu lagi untuk melakukannya. Memilih panggilan pelayanan itu baginya sungguh mulia (1 Petrus 4:11).

                Tidaklah mudah untuk membuat keputusan dalam hidup ini, sebab kita dihadapkan dengan sejumlah pilihan setiap hari. Pilihan-pilihan mungkin bersifat sederhana atau rumit. Namun, kita juga harus bertanggung jawab terhadap pilihan itu.

                Sekarang, apakah kita masih berfokus pada panggilan kita untuk mengikut Tuhan Yesus? Allah kiranya menguatkan panggilan pelayanan kita. (Petrus E. Handoyo/pg).

    *****

  • Amargi Sih RAHMATIPUN GUSTI

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Sesungguhnya hidup merupakan anugerah Tuhan yang paling besar. Karena itu kita perlu mensyukuri dan memelihara hidup kita. Jim Rohn (Motivator asal Amerika) berkata, “Peliharalah tubuhmu. Karena hanya itu yang menjadi tempat tinggalmu.”

    Pengalaman hidup saya bercerita bahwa  walaupun saya  saat ini sudah berusia 64 tahun tapi masih  diberi kesempatan oleh Tuhan untuk terlibat secara langsung dalam program “Christopherus Peduli Covid – 19.” Program tersebut membagikan pakaian Alat Pelindung Diri (APD) standard yang bisa dicuci, masker, headshield, dan thermometer ke rumah sakit, poliklinik, dan puskesmas. Selain itu juga membagikan bantuan paket sembako, masker, dan tangki-tangki sanitasi berpidal ke masyarakat luas. Semua itu hanya anugerah Tuhan semata. Only by Grace.

    Jika pada masa pandemi Covid – 19 kita masih bisa menjalani hidup hingga detik ini dan bisa menikmati berkat-berkat-Nya,  itu semua hanya karena anugerah-Nya.  Kalau bukan karena tangan Tuhan yang menuntun dan menopang, kita pasti tidak memiliki kesanggupan untuk menjalani dan melewati hari-hari yang berat saat  ini.  Karena itu kita  harus yakin bahwa di hari-hari mendatang Tuhan pasti tetap menyertai dan terus melanjutkan perbuatan baik-Nya atas kita.  “Akan hal ini aku yakin sepenuhnya, yaitu Ia, yang memulai pekerjaan yang baik di antara kamu, akan meneruskannya sampai pada akhirnya pada hari Kristus Yesus.”  (Filipi 1:6).

    Saudara, Tuhan Yesus sungguh baik dan sangat baik, sebab selalu memberikan yang terbaik kepada anak-anak-Nya.  Bapa kita di dunia ini saja tidak akan pernah memberi batu kepada anaknya, jika ia minta roti, atau memberi ular, jika ia minta ikan.  “Jadi jika kamu yang jahat tahu memberi pemberian yang baik kepada anak-anakmu, apalagi Bapamu yang di sorga! Ia akan memberikan yang baik kepada mereka yang meminta kepada-Nya.”  (Matius 7:11).  Nabi Yeremia menegaskan bahwa berkat yang disediakan Tuhan bagi kita merupakan berkat yang selalu baru setiap pagi, bukan berkat yang  basi,    “Tak berkesudahan kasih setia TUHAN, tak habis-habisnya rahmat-Nya, selalu baru tiap pagi; besar kesetiaan-Mu!”  (Ratapan 3:22-23).  Itulah janji Tuhan yang harus kita pegang seumur hidup kita:  kasih setia Tuhan tidak berkesudahan dan rahmat-Nya pun tak ada habisnya.  Haleluya!

    Karena itu, berhentilah  mengeluh dan bersungut-sungut!  “Ucaplah syukur senantiasa atas segala sesuatu dalam nama Tuhan kita Yesus Kristus kepada Allah dan Bapa kita.”  (Efesus 5:20), sebab pertolongan dan berkat Tuhan pasti datang tepat pada waktunya.  Kalau bapa kita di dunia pernah dan seringkali mengecewakan anaknya, tidak demikian dengan Bapa di surga, tak pernah mengecewakan dan selalu memberi yang terbaik. 

    Ingatlah! Kita ada sebagaimana adanya kita sampai saat ini,  hanya karena anugerah Tuhan semata.Amargi Sih RAHMATIPUN GUSTI.  Yeremia mengingatkan kita, “TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya, bagi jiwa yang mencari Dia.”  (Ratapan 3:25). GBU & Fam. Better days are coming. (pg)

  • PESERTA bukan Penonton

    Selamat jumpa para Pendukung Kristus, apa kabar? Untuk menjaga kesehatan dan kebugaran tubuh, kita yang berusia 60 tahun ke atas, tetap perlu melakukan olahraga ringan secara rutin. Jalan sehat merupakan salah satu olahraga yang dapat kita lakukan.

    Perjalanan hidup kita sebagai orang percaya di dunia ini bagaikan kita sedang mengikuti lomba lari maraton yang medannya tidak hanya jalan beraspal, tapi meliputi rumput, tanah padat, semak-semak, sungai, laut, bukit, gunung, dan lembah (Trail Running, Lari Lintas Alam). Peserta lari  pertandingan olahraga lari jarak jauh ini bukan hanya melewati jalan yang datar dan rata, tapi juga harus melewati rute berliku-liku.  Peserta juga akan menempuh jalan yang menanjak, tanjakan terjal, penuh kerikil dan bebatuan, atau juga menyusuri lembah yang curam,   menyeberangi sungai, dan lain-lain.  Tuhan memanggil kita untuk terlibat sebagai peserta  pertandingan bukan hanya sebagai penonton.

    Saudara, ada perbedaan mencolok antara peserta dan penonton.  Penonton paling mahir berkomentar, melontarkan kritikan dan hujatan terhadap peserta lomba karena ia hanya menonton, bukan turut bertanding.  Kondisi berbeda harus dialami oleh peserta lomba, ia harus berjuang begitu rupa di gelanggang pertandingan, bermandi peluh dan tak jarang harus mengalami cidera di tengah pertandingan.  Ingatlah bahwa penonton sampai kapan pun tidak pernah berhak mendapatkan medali,  piala, dan atau penghargaan yang lain.  Yang berhak menerima  penghargaan atau hadiah hanya peserta pertandingan! 

    Tuhan memanggil kita untuk menjadi peserta “Pertandingan Iman”. Memang, untuk turut ambil bagian dalam pertandingan iman bukanlah perkara mudah, ada harga yang harus dibayar.  Siap atau tidak siap kita akan dihadapkan pada banyak tantangan dan rintangan. Yesus bersabda,  “…banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.”  (Matius 22:14).  Semoga kita termasuk bilangan yang dipilih.

    Ada cukup banyak orang percaya yang menyerah di tengah pertandingan iman dan meninggalkan Tuhan.  Mereka merasa sudah lama mengikut Tuhan tetapi hidupnya tidak mengalami perubahan yang berarti.  Jika motivasi kita dalam mengikut Tuhan hanya fokus pada materi saja,  kita akan kecewa.

    Dalam perikop “Roti hidup” di Injil Yohanes, banyak orang berbondong-bondong mencari Tuhan Yesus bukan karena merindukan pribadi-Nya.  “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya kamu mencari Aku, bukan karena kamu telah melihat tanda-tanda, melainkan karena kamu telah makan roti itu dan kamu kenyang.”  (Yohanes 6:26).  Akibatnya ketika apa yang kita harapkan tidak kita dapatkan, maka kita menjadi kecewa, mengeluh dan bersungut-sungut.  Kita tenggelam dalam kesedihan, penyesalan, kekhawatiran, kekecewaan, sakit hati, kebencian, dan kepahitan.  Tuhan Yesus bersabda,  “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu.”  (Matius 11:28). 

    Jangan biarkan beban hidup yang ada menghalangi langkah kita dalam pertandingan iman.  Seberat bagaimana pun tantangan dan rintangannya, kita harus terus berlari dan fokus kepada tujuan,  “… berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan sorgawi dari Allah dalam Kristus Yesus.”  (Filipi 3:14), sehingga akhirnya kita dapat berkata,  “Segala perkara dapat kutanggung di dalam Dia yang memberi kekuatan kepadaku.”  (Filipi 4:13).

    Ingatlah! Tanpa memiliki tujuan dan sasaran yang jelas kita takkan sanggup bertekun dalam pertandingan iman.  Begitu ada masalah, penderitaan dan kesukaran kita akan mudah menyerah, kecewa dan mundur. Rasul Paulus berpesan, “Bertandinglah dalam pertandingan iman yang benar dan rebutlah hidup yang kekal.” (1 Timotius 6:12a). GBU & Fam. Better days are coming. (pg)