
Author: Christopherus
-
Humble and Serve
KAMIS PUTIH. Kamis Putih (Maundy Thursday) merupakan bagian dari perayaan dalam masa Raya Paskah, yang diadakan satu hari sebelum Jumat Agung. Untuk tahun 2023 jatuh pada tanggal 6 April 2023. Perayaan Kamis Putih dikenal dalam peristiwa perjamuan malam Yesus bersama murid-murid-Nya dan pembasuhan kaki sebelum Dia menyerahkan diri-Nya untuk disalibkan.
Sahabat, ada dua unsur utama yang diperingati dalam liturgi Kamis Putih yaitu perjamuan malam terakhir (dan perintah untuk mengadakan perjamuan kudus) dan membasuh kaki sebagai simbol hamba yang melayani. Perjamuan malam tersebut memiliki makna pengucapan syukur dan peringatan akan Yesus dalam keselamatan oleh kematian-Nya.
Dalam rangka memperingati Kamis Putih, hari ini saya mengajak Sahabat untuk merenungkan Injil Yohanes dengan topik: “Humble and Serve (Rendah Hati dan Melayani)”. Bacaan Sabda diambil dari Yohanes 13: 1-17. Sahabat, ada ungkapan dalam bahasa Jawa yang sangat menarik: Rumangsa Sarwa Duwe dan Sarwa Duwe Rumangsa. Dua kalimat ini dibolak-balik saja penulisannya, akan tetapi memiliki makna sangat jauh berbeda.
Pertama, kalimat Rumangsa Sarwa Duwe atau “Merasa Serba Punya” menunjukkan watak suka pamer, merasa sudah memiliki segala-galanya, dan dapat mengatur segalanya sesukanya. Kedua, Sarwa Duwe Rumangsa atau “Serba Punya Rasa” menunjukkan perilaku yang penuh dengan belas kasih, bijaksana dalam semua hal, dan merasa bersalah atau berdosa, jika membuat susah orang lain.
Sahabat, dalam bacaan kita pada hari ini, tindakan penuh belas kasih ditunjukkan oleh Tuhan Yesus kepada para murid. Saat itu, Tuhan Yesus sudah mengetahui bahwa sudah waktunya Dia meninggalkan dunia ini dan kembali kepada Bapa. Sungguh kasih Tuhan Yesus sangat besar kepada umat kepunyaan-Nya. Meskipun Dia mengetahui salah seorang dari antara para murid yaitu Yudas Iskariot akan mengkhianati-Nya, namun, Dia yang adalah Guru dan Tuhan mau untuk merendahkan hati membasuh kaki para murid-Nya. Dengan membasuh kaki para murid, Tuhan Yesus ingin memberikan pengajaran tentang:
Pertama, tindakan membasuh kaki adalah simbol untuk kematian Tuhan Yesus yang akan membersihkan dosa manusia. Tuhan Yesus sebagai Guru dan Tuhan yang akan memberikan keselamatan.
Ketika Tuhan Yesus bersama para murid di dalam perjamuan memperingati hari raya Paskah Yahudi, dalam tradisinya akan selalu ada hidangan atau olahan daging anak domba jantan. Hal tersebut sebagai pengingat ketika Allah akan membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir (Keluaran 12:14). Selain itu Allah memberikan perintah, supaya bangsa Israel menyembelih anak domba jantan dan darahnya harus dibubuhkan pada ke dua tiang pintu dan ambang atas rumah-rumah orang Israel (Keluaran 12:7). Dengan begitu umat Israel terhindar dari hukuman Allah dan mendapatkan keselamatan serta bisa keluar dari tanah Mesir. Tuhan Yesus sendiri yang akan menjadi domba Paskah, yang mengeluarkan manusia dari hukuman dosa dan memberikan keselamatan untuk umat kepunyaan-Nya.
Kedua, tindakan membasuh kaki mengingatkan dan memberikan teladan kepada para murid. Bahwa setelah menerima Tuhan Yesus sebagai Guru dan Tuhan, para murid harus masuk di dalam sikap hidup yang baru yaitu meneladani Tuhan Yesus yang mau merendahkan hati dan melayani.
Sahabat, memiliki sikap Sarwa Duwe Rasa atau “Serba Punya Rasa” sungguh diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi bagi orang percaya, karena kita merupakan manusia yang penuh dengan dosa, yang sudah menerima keselamatan di dalam Tuhan Yesus. Dia sudah mau menunjukkan kasih-Nya kepada kita. Maka mari kita selalu menunjukkan sikap rendah hati dan mau melayani dengan rasa hormat dan penuh kasih kepada sesama. Haleluya! Tuhan itu baik.
Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
- Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
- Apa yang Sahabat pahami pahami tentang Kamis Putih?
Humble and Serve
KAMIS PUTIH. Kamis Putih (Maundy Thursday) merupakan bagian dari perayaan dalam masa Raya Paskah, yang diadakan satu hari sebelum Jumat Agung. Untuk tahun 2023 jatuh pada tanggal 6 April 2023. Perayaan Kamis Putih dikenal dalam peristiwa perjamuan malam Yesus bersama murid-murid-Nya dan pembasuhan kaki sebelum Dia menyerahkan diri-Nya untuk disalibkan.
Sahabat, ada dua unsur utama yang diperingati dalam liturgi Kamis Putih yaitu perjamuan malam terakhir (dan perintah untuk mengadakan perjamuan kudus) dan membasuh kaki sebagai simbol hamba yang melayani. Perjamuan malam tersebut memiliki makna pengucapan syukur dan peringatan akan Yesus dalam keselamatan oleh kematian-Nya.
Dalam rangka memperingati Kamis Putih, hari ini saya mengajak Sahabat untuk merenungkan Injil Yohanes dengan topik: “Humble and Serve (Rendah Hati dan Melayani)”. Bacaan Sabda diambil dari Yohanes 13: 1-17. Sahabat, ada ungkapan dalam bahasa Jawa yang sangat menarik: Rumangsa Sarwa Duwe dan Sarwa Duwe Rumangsa. Dua kalimat ini dibolak-balik saja penulisannya, akan tetapi memiliki makna sangat jauh berbeda.
Pertama, kalimat Rumangsa Sarwa Duwe atau “Merasa Serba Punya” menunjukkan watak suka pamer, merasa sudah memiliki segala-galanya, dan dapat mengatur segalanya sesukanya. Kedua, Sarwa Duwe Rumangsa atau “Serba Punya Rasa” menunjukkan perilaku yang penuh dengan belas kasih, bijaksana dalam semua hal, dan merasa bersalah atau berdosa, jika membuat susah orang lain.
Sahabat, dalam bacaan kita pada hari ini, tindakan penuh belas kasih ditunjukkan oleh Tuhan Yesus kepada para murid. Saat itu, Tuhan Yesus sudah mengetahui bahwa sudah waktunya Dia meninggalkan dunia ini dan kembali kepada Bapa. Sungguh kasih Tuhan Yesus sangat besar kepada umat kepunyaan-Nya. Meskipun Dia mengetahui salah seorang dari antara para murid yaitu Yudas Iskariot akan mengkhianati-Nya, namun, Dia yang adalah Guru dan Tuhan mau untuk merendahkan hati membasuh kaki para murid-Nya. Dengan membasuh kaki para murid, Tuhan Yesus ingin memberikan pengajaran tentang:
Pertama, tindakan membasuh kaki adalah simbol untuk kematian Tuhan Yesus yang akan membersihkan dosa manusia. Tuhan Yesus sebagai Guru dan Tuhan yang akan memberikan keselamatan.
Ketika Tuhan Yesus bersama para murid di dalam perjamuan memperingati hari raya Paskah Yahudi, dalam tradisinya akan selalu ada hidangan atau olahan daging anak domba jantan. Hal tersebut sebagai pengingat ketika Allah akan membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir (Keluaran 12:14). Selain itu Allah memberikan perintah, supaya bangsa Israel menyembelih anak domba jantan dan darahnya harus dibubuhkan pada ke dua tiang pintu dan ambang atas rumah-rumah orang Israel (Keluaran 12:7). Dengan begitu umat Israel terhindar dari hukuman Allah dan mendapatkan keselamatan serta bisa keluar dari tanah Mesir. Tuhan Yesus sendiri yang akan menjadi domba Paskah, yang mengeluarkan manusia dari hukuman dosa dan memberikan keselamatan untuk umat kepunyaan-Nya.
Kedua, tindakan membasuh kaki mengingatkan dan memberikan teladan kepada para murid. Bahwa setelah menerima Tuhan Yesus sebagai Guru dan Tuhan, para murid harus masuk di dalam sikap hidup yang baru yaitu meneladani Tuhan Yesus yang mau merendahkan hati dan melayani.
Sahabat, memiliki sikap Sarwa Duwe Rasa atau “Serba Punya Rasa” sungguh diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi bagi orang percaya, karena kita merupakan manusia yang penuh dengan dosa, yang sudah menerima keselamatan di dalam Tuhan Yesus. Dia sudah mau menunjukkan kasih-Nya kepada kita. Maka mari kita selalu menunjukkan sikap rendah hati dan mau melayani dengan rasa hormat dan penuh kasih kepada sesama. Haleluya! Tuhan itu baik.
Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
- Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
- Apa yang Sahabat pahami pahami tentang Kamis Putih?
Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sesungguhnya kita adalah orang yang berbahagia dan diberkati ketika kita menjadi orang yang rendah hati dan melayani sesama. (pg).
-

JANGAN TERLAMBAT – Focus Christopherus
Sebuah dokumentasi Pelayanan Dep. Misi & Pengajaran Yayasan Christopherus kepada para Senior
-
Giving Positive Solutions and Contributions
AMBISI. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) ambisi diartikan sebagai
keinginan (hasrat, nafsu) yang besar untuk menjadi (memperoleh, mencapai) sesuatu (seperti pangkat, kedudukan) atau melakukan sesuatu. Ambisi sebenarnya bukan hal yang negatif. Tetapi ambisi bisa menjadi tidak sehat kalau sifatnya berpusat pada diri sendiri semata-mata, dan menghalalkan segala macam cara untuk mencapainya.Sahabat, kita sebagai orang percaya, maka sudah sepatutnya hidup yang sudah menjadi milik Tuhan harus diabdikan sepenuhnya kepada-Nya. Ambisi pribadi kita pun harus ditundukkan pada Tuhan dan dikuduskan agar berpusat hanya pada kehendak-Nya dan bukan pada pemuasan hawa nafsu kita yang berdosa.
Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “Giving Positive Solutions and Contributions (Memberi Solusi dan Kontribusi Positif)”. Bacaan Sabda diambil dari Yeremia 41:1-18. Sahabat, bacaan kita pada hari ini memperlihatkan situasi kacau setelah kerajaan Yehuda secara praktis musnah karena telah dijadikan salah satu provinsi dari kerajaan Babel. Nubuat Yeremia telah menjadi kenyataan. Mereka tidak dapat lari dari penjajahan dan pembuangan ke Babel.
Sebenarnya dengan sikap Yeremia memilih tinggal bersama umat yang tersisa di Yerusalem, itu menunjukkan bahwa umat yang tersisa di Yerusalem pun ada dalam belas kasih Allah. Gedalya yang ditunjuk oleh Babel untuk memimpin Yerusalem juga seorang pemimpin yang baik, yang peduli akan kesejahteraan rakyatnya.Sayang sekali, tetap ada orang-orang yang tidak mau tunduk pada kehendak Tuhan.
Mereka ialah Ismael bin Netanya dan kelompoknya. Apa sebabnya Ismael mengkudeta Gedalya (ayat 2), bahkan membantai delapan puluh orang yang datang untuk beribadah di rumah Tuhan (ayat 7)? Catatan Yeremia tidak memberikan alasannya. Namun kemungkinan besar Ismael, yang adalah keturunan raja (ayat 1), tidak bisa menerima kepemimpinan Gedalya, yang menurutnya bukan siapa-siapa. Ismael merasa dirinyalah yang paling layak memimpin Israel. Di balik itu, sangat mungkin ada agenda politik, yakni ingin mengembalikan kejayaan dinasti Daud. AMBISI Ismael yang ingin cepat berkuasa
membuat ia mengambil JALAN PINTAS dan DENGAN KEJAM menghancurkan setiap rintangan yang menghadang.Kisah tragis ini tidak berhenti di situ. Buah pemberontakan Ismael berefek ganda. Pertama, ia gagal menanamkan pengaruh yang kuat karena rakyat mengikut dia dengan terpaksa (ayat 10, 13-14). Pemberontakannya gagal total. Namun yang kedua, dampak pemberontakan Ismael adalah pembalasan Babel yang tidak
hanya tertuju kepada kelompoknya, melainkan kepada segenap umat Yehuda yang masih tertinggal di Yudea. Itulah sebabnya, dengan terpaksa Yohanan harus mengungsikan sisa-sisa rakyat itu ke Mesir, menghindarkan diri dari amukan pasukan Babel (ayat 16-18).Sahabat, kasih setia Tuhan sebenarnya tidak pernah ditarik-Nya dari umat-Nya. Namun, sayangnya ada saja dari umat Tuhan yang tetap bebal, tidak mau belajar dari kesalahan. Bahkan tetap tidak mau tunduk dan taat pada kehendak-Nya. Mengumbar ambisinya sendiri. Ketidaktaatan apalagi disertai pemberontakan tidak pernah menghasilkan apa-apa selain penderitaan dan bahkan hukuman
lebih keras. Kiranya kita belajar dari kisah yang kita renungkan pada hari ini, untuk tidak mengeraskan hati kita untuk tetap memberontak dari pimpinan Tuhan.Hal lain yang dapat kita petik, sungguh berbahaya melayani dengan motivasi yang berpusat pada diri sendiri. Bukan hanya kita terjebak pada hal yang sia-sia,
Tuhan pun tidak dipermuliakan, dan pelayanan dirugikan! Lebih bijak kalau kita dapat memberi solusi dan kontribusi positif dalam pelayanan di mana kita ditempatkan. Haleluya! Tuhan itu baik.
Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah
beberapa pertanyaan berikut ini:- Pesan apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
- Apa yang Sahabat pahami tentang ambisi?
Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jadilah seperti Yeremia yang menjadi bagian dari solusi dan kontribusi dengan nasihat dan teladan hidupnya yang positif, sambil memegang teguh janji Allah dan memercayakan masa depan bangsanya kepada Allah. (pg)
-
Don’t Waste God’s Grace
ANUGERAH TUHAN. Pada waktu itu di desa di pedalaman Kalimantan Tengah ada beberapa anak yang menerima anugerah Tuhan berupa beasiswa untuk melanjutkan ke SMP dan SMA di Palangkaraya, ibu kota Kalimantan Tengah. Selama bersekolah mereka tinggal di asrama di bawah bimbingan Bapak dan Ibu Asrama.
Sebagian besar dari mereka mempergunakan anugerah tersebut dengan penuh tanggung jawab. Mereka berjuang sungguh-sungguh dan fokus, akibatnya mereka dapat menyelesaikan studi dengan baik. Tapi ada diantara mereka yang menyia-nyiakan anugerah yang mereka terima, akibatnya mereka tidak dapat menyelesaikan studinya. Mereka mengalami putus sekolah.
Cerita di atas menjadi gambaran sikap kita dalam menerima anugerah dari Tuhan. Sesungguhnya kita pun menerima hadiah istimewa dari Tuhan berupa keselamatan. Keselamatan itu kita terima bukan karena kebaikan atau kehebatan kita, namun semata-mata hanya anugerah Tuhan, melalui pengorbanan Yesus Kristus. Maka jangan menyia-nyiakan anugerah Tuhan.
Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “Don’t Waste God’s Grace (Jangan Menyia-nyiakan Anugerah Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 4:1-17, Sahabat, Yehezkiel telah melihat kemuliaan Tuhan, dan akhirnya tiba saatnya untuk menyampaikan peringatan Tuhan atas bangsa Israel. Tuhan berfirman kepada Yehezkiel tentang penghakiman Yerusalem
dengan memberikan sejumlah tindakan simbolis.Beberapa penekanan yang Tuhan nyatakan menggambarkan kondisi yang akan menimpa kota Yerusalem.
Pertama, Yehezkiel diminta untuk memperagakan Yerusalem yang terkepung oleh pasukan musuh dengan ia berbaring ke kiri
selama 390 hari dan ke kanan selama 40 hari. Pengepungan akan menimpa Kerajaan Israel di utara selama 390 tahun dan Kerajaan Yehuda di selatan selama 40 tahun (ayat 1-8).Kedua, Yehezkiel juga diminta untuk makan dan minum seperti saat kota dikepung, yaitu roti dari campuran biji-bijian seberat 20 syikal (280 gram) dan air seperenam hin (1 liter) sehari. Umat yang dikepung akan mengalami kekurangan makanan dan penderitaan yang besar (ayat 9-11).
Ketiga, Yehezkiel disuruh membakar roti itu di atas kotoran manusia, suatu kenajisan besar bagi orang Israel, apalagi bagi Yehezkiel. Karena itu, ia memohon supaya ia tidak hidup dalam kenajisan dan Tuhan memperbolehkan dia membakar rotinya di atas kotoran lembu (ayat 12-15).
Sahabat, semua itu memperlihatkan dahsyatnya penghakiman Tuhan. Ketika yerusalem diserang dan penduduknya menderita, itulah saat Tuhan sendiri menghukum umat-Nya. Hal itu sangat penting karena sesungguhnya umat hidup dalam pemberontakan, sehingga mereka mengalami kejatuhan dan kesombongan mereka hancur di bawah penghukuman Tuhan.
Mungkin kita berpikir bahwa Tuhan lebih beranugerah dalam masa Perjanjian Baru karena Ia tidak lagi menghukum umat-Nya seperti masa Perjanjian Lama. Seharusnya hal tersebut menyadarkan kita bahwa semakin besar anugerah, semakin tinggi standar yang dituntut. Jika umat Israel yang menerima hukum Taurat saja dihukum dengan begitu berat, apalagi kita yang telah menerima Injil Yesus Kristus (Ibrani 10:26-29).
Sahabat, penghakiman yang sama seharusnya menimpa kita juga, tetapi Tuhan telah menebus dan menguduskan kita.
Karena itu, jangan sampai kita menyia-
nyiakan anugerah yang diberikan Tuhan kepada kita. Heleluya! Tuhan itu baik.Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah
beberapa pertanyaan berikut ini:- Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
- Apa yang Sahabat pahami dari Ibrani 10:26-29?
Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jika kita tidak ingin hidup kita sia-sia, maka jangan pernah menyia-nyiakan anugerah keselamatan dari Tuhan. (pg).




