Author: Christopherus

  • ReKat: STRENGTHEN by LOVE (18 Maret 2023)

    Bacaan Sabda: Daniel 10:15 – 11:1

    Dari hasil perenungan saya dari Bacaan Sabda, saya mendapatkan:

    1. Pesan yang saya peroleh dari perenungan firman Tuhan hari ini adalah : Di dunia yang semakin penuh dengan tantangan ini membuat orang semakin sulit untuk beradaptasi dengan lingkungannya, baik dalam pelayanan, pekerjaan maupun tempat tinggal yang baru. Yesus telah memberi keteladanan ketika Dia tumbuh dewasa. Menjadi orang yang dikasihi Allah, bukan berarti kita harus melupakan bagaimana kita harus bersikap terhadap sesama. Kita harus mengasihi Allah dengan segenap hati,
      segenap jiwa, segenap akal budi dan kekuatan; serta mengasihi sesama manusia seperti kita mengasihi diri sendiri. Sebagai komunitas orang percaya, biarlah kita menjadi orang yang dikasihi oleh Allah dan disenangi oleh manusia dalam waktu yang bersamaan. Ketika kita mengizinkan Roh Kudus untuk berkarya dalam kehidupan kita dan kita bersedia membuka hati terhadap suara Tuhan, maka kita akan menjadi sosok yang dikasihi oleh Tuhan dan sekaligus disenangi oleh sesama.
    2. Dari 8 ayat dalam bacaan hari ini, ayat-ayat yang telah menghibur dan menguatkan iman saya adalah: Ayat 19: Kita tidak boleh takut, sebab Tuhan  akan memberi kesejahteraan dan kekuatan kepada kita saat kita menghadapi  pergumulan. Ayat 20: Malaikat Tuhan akan berperang melawan orang Persia. Ayat 21: Keberpihakkan Allah kepada Daniel dan umat-Nya, pasti terjadi, sebab Dia akan menepati janji-Nya yang tertulis

    dalam Kitab Kebenaran. Sesungguhnya Allah tidak hanya mengasihi Daniel saja, tetapi Dia juga mau mengasihi kita yang bersedia hidup di dalam kebenaran dan menaati Firman-Nya.

    (Swan Lioe)

  • Be The Guardian of Israel

    MAKAN FIRMAN. Kisah berikut saya kutip dari batamnews: Kesha, seorang wanita berusia 34 tahun dari Chicago, Amerika Serikat telah mengalami kebiasaan yang sangat aneh selama 23 tahun terakhir. Ia kecanduan makan tisu toilet setiap hari. Gangguan makan ini dikenal sebagai xylophagia, yaitu kondisi dimana seseorang mengonsumsi jaringan. Dalam acara televisi “My Strange Addiction” di TLC, Kesha berbicara tentang kebiasaannya yang tidak biasa ini, dengan harapan dapat menyebarluaskan kesadaran tentang gangguan makan ini. Kesha mengaku mengunyah sekitar 75 lembar tisu setiap hari selama 23 tahun terakhir.

    Kesha makan tisu toilet sedangkan nabi Yehezkiel makan gulungan kitab (Yehezkiel 3:1-3). Kalau nabi Yehezkiel makan gulungan kitab untuk menggambarkan sebuah latihan rohani yang harus dilakukannya sebagai Penjaga Israel dan bukan makan kertas gulungannya seperti Kesha yang makan tisu toilet tersebut. Jika kita ingin menyatakan kebenaran Allah dengan penuh makna dan
    kuasa, maka kita perlu menyediakan waktu agar firman itu memenuhi hati kita. Kita perlu merasakan dampak firman Allah. Kita harus mengizinkan firman-Nya menjadi bagian terpenting dari hidup kita. Jadikan firman Tuhan seperti makanan yang diserap sari-sari makanannya sehingga berguna untuk memberi tenaga dan
    kekuatan tubuh dalam memberitakan kebenaran-Nya dan menjaga sesama.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “Be The Guardian of Israel (Menjadi Penjaga Israel)”, Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 3:16-27. Sahabat, sesudah menenangkan diri dan memerhatikan situasi pelayanannya, Yehezkiel memperoleh penjelasan akan tugasnya. Dia bukan
    hanya diminta untuk berbicara menyampaikan Firman Allah, tetapi bertanggung jawab terhadap nyawa setiap umat yang belum mendapatkan peringatan darinya.

    Yehezkiel harus menyampaikan peringatan Allah kepada umat akan hukuman atas dosa atau perbuatan curang. Ia harus menyampaikan meskipun itu tidak ada seorang pun yang mau mendengarkannya. Seseorang yang telah diperingatkan
    itu dapat saja tetap dihukum atau kemudian dilepaskan. Yang terutama adalah Yehezkiel telah melakukan tugasnya sebagai PENJAGA ISRAEL (ayat 16-21).

    Setelah memperoleh penjelasan penugasannya, ia pun pergi ke lembah melihat kemuliaan TUHAN. Kesadaran akan kebesaran TUHAN yang telah memanggilnya membuatnya bersujud (ayat 22-23).

    Sahabat, TUHAN menetapkan bahwa Yehezkiel hanya boleh berbicara dan menempelak bangsa Israel pada waktu yang TUHAN tetapkan. Ia hanya menyampaikan Firman TUHAN. TUHAN tidak memaksakan kehendak-Nya kepada umat pilihan-Nya. Ia membiarkan setiap orang memilih mau atau tidak mau mendengarkan firman-Nya (ayat 24-27).

    TUHAN memerintah hamba-Nya untuk berbicara dan memberitakan firman-Nya apa adanya pada waktu yang Ia kehendaki. Apabila itu berupa teguran, maka harus disampaikan dan tidak perlu diperhalus apalagi dikurangi atau diganti. Hamba TUHAN tidak perlu ragu melihat situasi yang dihadapinya. Allah kita mulia dan besar serta sanggup menguatkan setiap hamba-Nya.

    Kerinduan Tuhan agar Yehezkiel menjadi penjaga bagi sesamanya ini juga kerinduan Tuhan bagi kita.  Inilah yang disebut Amanat Agung Tuhan!  Jika kita melihat orang lain jatuh dan hidup dalam kejahatan, sementara kita dengan sengaja membiarkannya, hal itu akan menjadi tanggung jawab kita di hadapan
    Tuhan. Sudahkah kita mengerjakan tugas dari Tuhan tersebut? Haleluya! Tuhan
    itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah
    beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa yang Sahabat pahami tentang Menjadi Penjaga Sesama?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang Makan Firman?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan memerintahkan
    kita untuk memiliki kepedulian terhadap keselamatan orang lain. (pg).

  • Called to Build and Plant

    KENYAMANAN HIDUP. Ada cukup banyak orang yang menjadikan rasa nyaman menjadi tujuan hidupnya. Mereka berusaha sangat keras untuk mendapatkannya Mereka rela mengorbankan apapun untuk meraih tujuan hidupnya tersebut. Fokus pikiran dan langkah hidupnya diarahkan untuk mencapai tujuan tersebut. Sesungguhnya kita perlu berhati-hati karena rasa nyaman justru bisa menjerumuskan kita bila kita tidak menyikapi rasa nyaman dengan bijak, waspada dan tegas.

    Kenyamanan, hidup tanpa masalah, sering kali menjadi musuh yang sangat berbahaya bagi orang percaya. Ada cukup banyak orang percaya jatuh dalam dosa bukan ketika dalam masalah atau tekanan, tetapi ketika dalam hidup nyaman.

    Ketika hidup nyaman, seringkali orang percaya hidupnya jauh dari Tuhan. Bahkan ketika hidupnya diberkati, fokus hidupnya justru lebih kepada kesenangan atau hal-hal duniawi. Berbeda ketika hidupnya dalam masalah dan tekanan, rajin berdoa, berseru-seru kepada Tuhan meminta pertolongan Tuhan.

    Sahabat, jika kita diperhadapkan pada pilihan, mau tinggal di tempat yang membuat kita dapat menikmati kenyamanan hidup, atau mau tinggal di tempat yang membuat kita terus menghadapi pergumulan dan tantangan, mana yang kita pilih? Tentu kita memilih tinggal di tempat yang membuat kita dapat menikmati kenyamanan hidup. Namun hal tersebut tidak dilakukan oleh nabi Yeremia.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: Called to Build and Plant (Dipanggil untuk MEMBANGUN dan MENANAM). Bacaan Sabda diambil dari Yeremia 40:1-6. Sahabat, Yeremia yang sengsara sebagai tawanan tak bersalah akhirnya dibebaskan, bahkan diberi tawaran untuk bisa ikut ke Babel. Dengan pergi ke Babel, pastinya Yeremia akan mendapatkan kehidupan yang nyaman (ayat 4). Tetapi, dia juga boleh memilih untuk tetap tinggal di Yerusalem bersama orang-orang miskin yang tersisa di bawah kepemimpinan Gedalya (ayat 5). Ternyata Yeremia memilih untuk tinggal bersama rakyat yang menderita (ayat 6).

    Sahabat, mungkin kita berpendapat bahwa Yeremia bodoh. Dia bisa mendapatkan kenikmatan, perhatian, bahkan kekayaan. Selama ini nubuat yang dia sampaikan mendukung kekuasaan Babel, itu pasti menyukakan raja. Tak ada gunanya memilih hidup tidak nyaman bersama penguasa baru di tengah puing-puing kota dan orang-orang miskin lemah yang tersisa. Apakah salah jika dia memilih untuk pergi ke Babel? Bukankah kehancuran Yehuda adalah kehendak Allah dan telah tergenapi (ayat 2-3)?

    Inilah ketaatan luar biasa terhadap panggilan Tuhan. Yeremia dipanggil bukan hanya untuk mencabut dan merobohkan, membinasakan dan meruntuhkan, tetapi juga untuk MEMBANGUN dan MENANAM (Yeremia 1:10).

    Sahabat, bisakah kita bayangkan beratnya kehidupan Yeremia? Dia disalahpahami dan bisa dianggap tidak cinta negeri. Malahan dia menubuatkan kehancuran bangsanya dan kemenangan bangsa lain. Bisakah dibayangkan kesedihannya dalam menyampaikan nubuat yang membuatnya kehilangan orang-orang sebangsanya? Tetapi, dia tetap menaati panggilannya. Memang tidak semua orang dipanggil sama seperti Yeremia, tetapi setiap orang percaya pastilah Tuhan panggil untuk membangun dan menanam di tempat pelayanan kita masing-masing.

    Tidaklah mudah setia mengikuti panggilan Tuhan. Ada harga yang harus dibayar dan biasanya itu adalah kenyamanan hidup. Kenyamanan tidaklah negatif karena Tuhan juga menjanjikannya. Kenyamanan itu berkat Tuhan yang baik, tetapi pengalaman hidup saya bercerita bahwa kadang berkat yang baik itu harus kita relakan demi supaya kita dapat lebih lagi dipakai Tuhan. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini,, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
    Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    Apa yang Sahabat pahami dari kenyaman hidup?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan terlena dengan kenyamanan dan berkat yang berlimpah. Kita harus senantiasa berjaga-jaga. Tetap intim dengan Tuhan. (pg).

  • PUASA Sebagai Sebuah Upaya Komunikasi antara Allah dan Manusia

    Mengingat saat ini kita masih berada dalam masa Pra Paskah, dan  ada cukup banyak gereja yang dalam masa Pra Paskah menyelenggarakan kegiatan “Doa dan Puasa”.  Selain itu kita hidup di Indonesia, berdampingan dengan banyak saudara yang beragama Islam yang sedang menjalankan ibadah puasa. Maka pada hari ini kami menyajikan satu tulisan Anggraeni Yuliastuti  (AG) dari GKII jalan Pekunden Timur 16, Semarang yang berjudul: “PUASA Sebagai Sebuah Upaya Komunikasi antara Allah dan Manusia.” 

    Kalau ditanya jenis kegiatan yang sengaja dilakukan oleh manusia sebagai simbol keprihatinan sekaligus punya nilai spiritual, medis, kepuasan agamawi dan kadang juga keterpaksaan secara ekonomi, maka kegiatan itu adalah PUASA.  

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI):  Puasa adalah menghindari makan, minum dan sebagainya  (terutama bertalian dengan keagamaan). Puasa berkaitan dengan pengendalian kehendak dasar manusia yaitu makan dan minum. Dengan puasa, manusia terutama berusaha untuk mendapatkan ketajaman spiritual yang berguna untuk mendekatkan dirinya dengan Tuhan yang tidak kelihatan.  Maka puasa macam ini harus disertai dengan satu kegiatan yang lain yaitu doa.  

    Dalam kekristenan, Alkitab mencatat banyak ayat mengenai puasa, baik yang diperintahkan oleh Tuhan sendiri maupun dengan inisiatif para tokoh Alkitab untuk tujuan tertentu.  Namun secara umum puasa dilakukan sebagai upaya untuk merendahkan diri di hadapan Tuhan.  melalui puasa maka manusia diharapkan mampu menyamakan frekuensi dengan Allah sehingga dapat menangkap isi hati-Nya dan dilaksanakan dalam kehidupan sesehari.  

    Ada beberapa tujuan puasa sebagaimana dituliskan dalam Alkitab, yaitu :

    1. Mampu berhadapan dengan kekudusan Allah

    Saat Musa berada di Gunung Sinai dan mendapatkan mandate untuk menuliskan 10 hukum Allah di loh batu yang baru, ia berpuasa (Keluaran 34:28).  Dalam situasi Musa, ia berpuasa untuk dapat melaksanakan tugasnya yang berada dalam wilayah kekudusan Allah.  

    2. Bentuk pernyataan keprihatinan

    Saat Nehemia mendengar keruntuhan Yerusalem, ia sangat berduka dan berpuasa untuk menyatakan keprihatinan mendalam tentang kondisi memprihatinkan itu (Nehemia 1:4).  Juga ketika Daniel, Misael, Hananya dan Azarya berada dalam karantina pendidikan pegawai negeri Babel, ia menyatakan identitas imannya dengan menolak hidangan raja (Daniel 1:8).  

    3. Meminta belas kasihan Tuhan di masa sulitnya

    Saat Daud menghadapi kenyataan bahwa anaknya sakit, ia melakukan puasa memohon belas kasihan Tuhan agar anaknya sembuh (2 Samuel 12 :16).  Puasa menjadi cara Daud melunakkan hati Allah yang menyatakan kemarahan kepadanya.

    Saat orang Israel dalam perjalanan kembali ke Yerusalem, Ezra juga meminta mereka berpuasa agar Tuhan menuntun perjalanan mereka dan menghindarkan dari musuh (Ezra 8:21).  Ezra menyadari bahwa perjalanan itu tidak mudah dan mereka mutlak membutuhkan Tuhan untuk menyertai.

    Ester yang dilematis dengan posisinya, berpuasa untuk dapat memperjuangkan bangsanya dari ancaman genosida Haman (Ester 4:16).  

    4. Mempertajam manusia untuk mengenal petunjuk Tuhan

    Ketika Hana menunggu Mesias di Bait Allah, ia berpuasa (Lukas 2:37).  Hingga suatu saat ia mnengenali Yesus yang dibawa orangtuanya ke bait Allah sebagai Mesias yang ditunggunya selama ini.

    5. Mempersiapkan hati untuk sebuah tugas

    Matius 4:2, Markus 1:12-13, Lukas 4:1-14 mencatat mengenai Yesus yang berpuasa sebelum Ia melaksanakan tugas pelayanan-Nya.  Tantangan dalam menjalankan misi pedamaian Allah tidaklah mudah, maka Yesus melaksanakan puasa dengan serius agar ia mampu fokus dalam menjalankan misi Allah.

    6. Mentransfomasi sebuah bangsa

    Puasa seharusnya memiliki kekuatan transformatif, baik untuk diri sendiri maupun orang lain.  Kegiatan puasa tidak melulu berpusat pada kebutuhan diri sendiri, namun juga seharusnya memiliki dampak sosial yang positif bagi lingkungan orang yang menjalankannya.  Orang Israel pernah dikritik habis oleh Tuhan gegara mereka lebih mementingkan manfaat pribadi dibandingkan transformasi sosial saat mereka melaksanakan puasa (Yesaya 58 :3-5). 

    Mereka getol berpuasa namun tumpul penerapan sosial.  Puasa mereka minim manfaat untuk orang lain. Sejatinya puasa membuat seseorang makin tajam mengenal dan melaksanakan kehendak Tuhan yang membawa kesejahteraan bagi orang yang tertindas:  Melepaskan belenggu penindasan dan beban ketidak adilan, menerima orang yang miskin, mau berbagi dengan yang membutuhkan dan siap membantu mereka yang ingin ditolong (Yesaya 58.6-7).  

    Maka masa puasa adalah masa manusia mendapatkan pembaharuan holistik karena selain makin tajam menangkap pesan Tuhan dalam kehidupan mereka, pelaku puasa harus menjalankan pesan sejatera itu dalam kehidupan mereka.  Makin sering mereka puasa, makin sejahtera dan setara kondisi orang-orang tertindas di sekitar mereka.

    Dari sekian banyak tujuan puasa di atas maka dipahami bahwa puasa menjadi kegiatan penting yang membantu manusia melakukan tindakan yang efektif untuk melaksanakan tanggung jawabnya di dunia.  Puasa membantu manusia untuk dapat berdialog dengan Tuhan sehingga ia mampu untuk menyampaikan isi hatinya, menangkap apa yang diinginkan Tuhan dan sekaligus menerima tanggung jawabnya menjadi pelaksana pesan Tuhan dalam kehidupan sehari-hari.  Puasa menjadi titik berangkat manusia membawa damai Allah bagi dirinya dan terutama bagi orang lain, sekaligus menerima realitas bahwa manusia tidak mampu melaksanakan hidup tanpa penyertaan dan kehadiran Allah. (AG).

  • GOD COUNTS

    BERDAMPAK KE DEPAN DAN MENULARKAN. Kebaikan yang kita lakukan pada hari ini dapat mengubah hidup seseorang kedepannya dan menularkan kepada orang lain. Kisah berikut saya kutip dari Merdeka.com. Dalam unggahannya, kisah inspiratif Melanie Subono dimulai dari seorang pengemudi ojol. Setelah selesai mengantarkan Melanie ke tempat tujuan, pengemudi ojol tersebut
    bertanya apakah Melanie masih mengenal dirinya.

    “Pas jemput guwa, Mas pengemudi emosional. Dengan sederhananya dia cerita: Kak, kakak lupa? 23 tahun lalu saya anak panti yatim piatu yang pernah kakak ajak ke DUFAN. Sampai sana SENDAL SAYA putus dan saya NANGIS. Trus Kakak datengin saya dan beliin SENDAL BARU… Saya GAK AKAN lupa kak, sejak itu saya berusaha baik dengan SEMUA ORANG,” tulis Melanie.

    Tak menyangka akan berimbas besar dalam kehidupan seseorang, Melanie merasa tersentuh lantaran pengemudi ojol tersebut mengingat kebaikan kecilnya. Ia kemudian mengajak pengikut media sosialnyauntuk saling berbuat baik kepada
    sesama.

    “Hari ini dia kerja halal, nikah, punya anak dua, dan sibuk nerusin kebaikannya yang GUE AJA LUPA tapi ternyata merubah hidup dia … sekecil DUFAN, PERHATIAN dan SENDAL JEPIT. Berbuat baiklah sahabat … karena itu baik … Kecil untuk kita, bisa berarti segalanya untuk orang,” imbuhnya.

    Pada hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “God Counts (Diperhitungkan Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Yeremia 38:1 – 39:18 dengan penekanan pada Yeremia 39:15-18.. Sahabat, Zedekia sudah beberapa kali meminta petunjuk Yeremia. Setiap kali ia mendengar berita yang konsisten

    dari Yeremia, yaitu penghukuman akan menimpa Yehuda dan dirinya kalau tidak mau bertobat. Namun Zedekia mengeraskan hatinya untuk menolak berita tersebut. Zedekia tidak mau turun tangan sendiri menghukum Yeremia, tapi ia memakai tangan para pejabatnya (Yeremia 38:4-6).

    Sahabat, lain halnya dengan Ebed-Melekh. Ia juga seorang pejabat istana. Ia menentang pejabat-pejabat jahat tersebut, dan berupaya menyelamatkan Yeremia. Pada masa pemerintahan Raja Zedekia, Yeremia dipenjarakan karena perkataannya yang dianggap sesat oleh para pemuka agama yang menentang ajarannya. Saat mendengar kabar tersebut, Ebed-Melekh, seorang pembantu raja menghadap raja untuk kemudian membebaskan Yeremia. Ia, dengan kebaikan
    hatinya, menolong dan mengeluarkan Yeremia dari dalam sumur (Yeremia 38: 7- 13). Semoga kita memiliki sikap seperti Ebed-Melekh, yang tidak membiarkan pelayan Tuhan diperlakukan tidak adil dan tidak manusiawi.

    Kebaikan hati Ebed-Melekh memang tak langsung mendapatkan balasannya. Pada awalnya cerita seolah berhenti sampai di situ. Namun, saat kota itu akan dihancurkan, Tuhan berfirman bahwa Ebed-Melekh pasti akan luput dan diselamatkan. Ia diselamatkan bukan hanya karena perbuatan baiknya, melainkan karena apa yang mendorongnya untuk berbuat baik, yaitu iman dan kepercayaannya kepada Tuhan semesta alam. Perbuatan baiknya DIPERHITUNGKAN TUHAN. Buktinya, kelak Tuhan sendiri yang meluputkannya
    dari kemalangan kota Yerusalem (Yer 39:15-18).

    Sahabat, setiap kebaikan yang kita lakukan dengan penuh ketulusan tak hanya membekas di hati si penerima, tetapi juga akan menarik perhatian Tuhan. Setialah dalam melakukan kebaikan kecil; Dia yang memperhitungkannya akan melimpahkan berkat yang lebih besar. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah
    beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang berbuat baik?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “Penting untuk membantu orang lain, tidak hanya dalam doa kita, tetapi dalam kehidupan kita sehari-hari. Jika kita menemukan bahwa kita tidak dapat membantu orang lain, paling tidak yang dapat kita lakukan adalah berhenti menyakiti mereka.” (Dalai Lama). (pg)

  • Tak Pernah Menyerah – Focus Christopherus

    Tak Pernah Menyerah – Focus Christopherus

    Kerasnya kehidupan yg dialami, tidak membuatnya putus asa atau menyerah, ikuti penuturan Bp. Sarjuni, Alumni Panti Asuhan Christopherus angkatan 1978

    Tuhan Yesus memberkati