
Author: Christopherus
-
BERTANGGUNG JAWAB HINGGA AJAL MENJEMPUT
Maria mengikuti persidangan dan proses eksekusi anaknya dari jauh. Sebagai seorang ibu, hatinya pasti hancur luluh. Alkitab memang tidak mencatat secara khusus dialog antara Yesus dengan ibunya, kecuali di Injil Yohanes 2:4 saat Maria mengingatkan Yesus bahwa anggur di perjamuan pernikahan itu habis. Maria tahu bahwa Yesus bisa diandalkan sehingga meminta para pelayan untuk mengikuti apa yang diperintahkan Yesus (Yohanes 2 :5). Walaupun sepanjang hidupnya Maria melihat sepak terjang anak sulungnya yang berbeda dengan anak-anaknya yang lain dan bahkan melihat bahwa saudara-saudara Yesus tidak memercayai kakaknya (Yohanes 7:3-5), Maria tahu Yesus mengasihinya dan memenuhi tanggung jawab-Nya. Maria memercayai dan memercayakan kehidupannya kepada Yesus.
Itulah sebabnya Maria mengikuti proses eksekusi itu walau dari jauh dan perlahan ia berhasil mendekati salib Yesus bersama beberapa perempuan lain (Yohanes 19:25). Adegan selanjutnya sangat menyentuh. Maria diserahkan kepada Yohanes, murid-Nya yang terkasih dan akhirnya Maria hidup dalam perlindungan Yohanes hingga akhir hidupnya (Yohanes 19:26-27). Yohanes dan Maria memiliki nilai yang khusus untuk Yesus, maka Yesus mau untuk menyerahkan tanggung jawab kepada Yohanes untuk menjaga Maria, ibunya.
Bagi Maria sendiri, Yesus kembali menunjukkan kepadanya bahwa Ia adalah putra yang sungguh bisa diandalkan hingga akhir hidup-Nya. Mungkin saat itu saudara-saudara Yesus masih belum bisa memahami ke-Tuhan-an dan misi-Nya di dunia (walau belakangan 2 dari saudara-saudara-Nya akhirnya percaya kepada-Nya) sehingga tidak bisa memahami Maria yang selalu mendampingi Yesus. Maria membutuhkan “keluarga” untuk mendampingi rasa kehilangannya hingga pulih kembali.
Maria memang kehilangan keluarganya namun ia menemukan keluarga baru karena Putra-Nya telah melaksanakan tanggung jawab untuk ibu-Nya. Maria menyaksikan kebangkitan dan bahkan kenaikan Yesus dan ia masuk dalam bilangan orang yang berdoa pasca kenaikan Yesus ke Surga (Kisah Para Rasul 1:14). Maria tetap beriman kepada Yesus sampai akhir.
Saudaraku, Jumat Agung bukan sekadar sebuah kisah heroik Sang Juru Selamat yang wafat bagi manusia yang berdosa, namun dalam kisah Jumat Agung sebuah kisah sederhana tentang hubungan keluarga yang menguatkan. Ada sebuah keluarga dimana seorang ibu yang menyadari dan mengalami jaminan kasih seorang anak yang bertanggung jawab hingga ajal menjemput. Bukan hanya kisah penyelamatan dari cengkeraman dosa, namun juga kisah kasih anak kepada ibu-Nya yang akan ditinggalkan.
Saudaraku, di zaman ini seorang anak yang menuntut perhatian dan kasih dari orangtua adalah kisah yang biasa kita dengar. Bahkan saat anak dewasa, ia masih saja menuntut perhatian orangtuanya sehingga banyak orangtua yang merasa beban itu dia bawa hingga usia senja. Orangtua takut merepotkan anak-anaknya dan anak-anak hidup dalam dunianya sendiri dan perlahan meninggalkan orangtuanya. Ada kesenjangan hubungan anak dan orangtua. Saking sibuknya sang anak bekerja dan hidup dengan keluarganya sendiri kadang perhatian kepada orangtua banyak berkurang. Banyak dijumpai orangtua yang kesepian setelah anak-anaknya studi keluar kota, bekerja dan berkeluarga.
Anak-anak sendiri tidak merasa perlu bertanggung jawab karena orangtua masih dianggap kuat dan mampu bekerja dan beraktivitas sendiri. Anak merasa bahwa adalah kewajiban bila seorang ayah atau ibu memelihara anak-anaknya, namun hanya sedikit anak yang menyadari bahwa memastikan orangtuanya baik-baik saja adalah kewajiban dari anak kepada orangtuanya, baik orangtua biologisnya maupun orangtua biologis pasangannya (mertua).
Padahal jelas di Alkitab dalam 10 Hukum Allah tercantum : “Hormatilah ayah dan ibumu supaya lanjut umurmu …” (Keluaran 20:12). Menghormati berarti menghargai, memberi tempat yang baik. Namun bukan berarti orangtua lalu meminta penghormatan dan menjadi gila hormat dari anaknya. Keluaran 20:12 ditujukan untuk menumbuhkan kesadaran kepada anak bagaimana ia harus bersikap kepada orangtuanya, bukan orangtua yang menuntut dihormati. Maka perlu sejak dini anak diajarkan untuk memahami tanggung jawabnya kepada orangtua.
Renungan di Jumat Agung pada hari ini mengajak kita memikirkan kembali makna hubungan keluarga dengan berkaca pada perhatian Yesus kepada ibu-Nya di akhir hidup-Nya. Maria sebagai ibu, merasakan tanggung jawab Yesus sebagai seorang anak. Yesus tetap bisa diandalkan dan menjadi jawaban dari permasalahannya. Yesus sebagai seorang anak, menuntaskan hidup-Nya dengan memastikan perlindungan dan kasih untuk Maria hingga akhir hayat ibu-Nya.
Saudaraku, mari renungkan:
- Mengapa Yesus menyerahkan Maria kepada murid yang dikasihi-Nya?
- Bagaimana kita mengajarkan tanggung jawab kepada anak-anak kita?
Kiranya peringatan Jumat Agung pada tahun ini tidak hanya memulihkan ingatan kita akan anugerah Allah namun juga mengingatkan tugas dan tanggung jawab kita dalam keluarga. Terpujilah Tuhan Sang Pemulih Kehidupan. (Ag).
-
God Has Declared His Judgment
BERPROSES. Sesungguhnya setiap hari yang kita lalui adalah lembaran baru dan kesempatan baru untuk terus berproses menjadi lebih baik. Untuk mengalami proses tersebut, tentu kita harus mencoba meniti jalan yang berbeda, keluar dari zona nyaman dan terus belajar, dan belajar. Bergaul dan berkumpul dengan komunitas baru yang positif juga menjadi salah satu cara untuk menjadi orang yang lebih baik.
Berproses berasal dari kata dasar proses.Berproses memiliki arti dalam kelas verba atau kata kerja sehingga berproses dapat menyatakan suatu tindakan, keberadaan, pengalaman, atau pengertian dinamis lainnya.
Sahabat, kita perlu selalu mengingat bahwa hidup kita selalu berproses dan diproses oleh Tuhan. Tuhan tidak ingin kita menjadi orang yang melawan-Nya, memberotak kepada-Nya atau membelakangi diri-Nya. Proses yang Dia nyatakan kepada kita seharusnya menyadarkan kita bahwa itulah cara Tuhan mengundang kita untuk kembali kepada-Nya.
Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “God Has Declared His Judgment (Tuhan Telah Menyatakan Penghakiman-Nya)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 6:1-14. Sahabat, Tuhan telah memberikan banyak keistimewaan kepada Israel di antara segala bangsa, tetapi mereka terus memberontak kepada-Nya. Setelah Kemah Suci hingga Bait Suci dibangun, maka ibadah di luar tempat yang telah ditunjukkan Tuhan dianggap tidak layak, bahkan dilarang. Namun Israel ikut-ikutan tradisi bangsa lain yang menyembah berhala di bawah setiap pohon-pohon besar di atas bukit-bukit atau gunung-gunung.
Maka Tuhan telah menyatakan penghakiman-Nya atas pemberontakan kaum Israel. Dalam bacaan kita pada hari ini, Tuhan menyatakan kehancuran atas kekuatan yang selama ini mereka andalkan.
Tuhan menyuruh Yehezkiel untuk bernubuat melawan gunung-gunung Israel (ayat 2). Ini menunjuk pada bukit-bukit pengorbanan yang dipakai umat untuk menyembah dewa-dewi Kanaan. Kata-kata penghakiman menunjukkan bahwa Tuhan akan mendatangkan perang, menghancurkan mazbah-mazbah berhala, dan mencampakkan orang Israel di depan berhala mereka (ayat 3-5).
Namun, sebagian umat tidak akan mati, melainkan dibuang. Di pembuangan itu mereka akan ingat kembali kepada Tuhan dan bertobat dari dosa mereka. Bahkan, orang-orang yang dahulu berzina kepada berhala akan merasa mual terhadap kejahatan dan perbuatan keji mereka (ayat 8-9).
Sahabat, kita dapat melihat bahwa ketika Tuhan memberikan penghakiman, ada tujuannya. Firman ini diberikan supaya pada saat kehancuran dan pembuangan itu terjadi, umat dapat mengetahui bahwa “Akulah TUHAN” (ayat 7, 13). Ialah YHWH, satu-satunya Tuhan mereka. Ketika banyak orang mati di bawah amarah Tuhan dan berhala mereka tidak bisa melakukan apa-apa, mereka mau tidak mau mengakui bahwa Tuhan saja yang berkuasa.
Manusia berdosa sering tidak sadar akan keseriusan dosanya sampai Tuhan menghukum. Karena itu, hukuman sering Tuhan pakai untuk menyadarkan umat dari dosa mereka. Tuhan juga sengaja memberitakan apa yang akan Ia lakukan sebelum semua itu terjadi, supaya umat mengetahui bahwa peringatan-Nya akan benar-benar terjadi karena merupakan firman yang penuh kuasa yang harus sungguh-sungguh diperhatikan.
Sahabat, Tuhan akan melakukan banyak hal saat umat-Nya memberontak, termasuk menghukum kita, umat-Nya, dengan berat. Ketika Tuhan memberikan ganjaran, kita bersyukur karena kita adalah anak yang dikasihi-Nya (Ibrani 12:5-8). Hal itu berarti Tuhan tidak meninggalkan kita, melainkan mendidik dan membentuk kita. Bahkan mungkin Tuhan sedang mempersiapkan kita untuk dipakai-Nya dengan lebih lagi setelah kita bertobat. Haleluya! Tuhan itu baik.Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
- Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu pada hari ini?
- Apa yang Sahabat pahami dari Ibrani 12:5-8?
Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati:Sebagai umat Tuhan yang hidup, kita harus sadar bahwa Tuhan ingin kita setia kepada-Nya. (pg).
-
Humble and Serve
KAMIS PUTIH. Kamis Putih (Maundy Thursday) merupakan bagian dari perayaan dalam masa Raya Paskah, yang diadakan satu hari sebelum Jumat Agung. Untuk tahun 2023 jatuh pada tanggal 6 April 2023. Perayaan Kamis Putih dikenal dalam peristiwa perjamuan malam Yesus bersama murid-murid-Nya dan pembasuhan kaki sebelum Dia menyerahkan diri-Nya untuk disalibkan.
Sahabat, ada dua unsur utama yang diperingati dalam liturgi Kamis Putih yaitu perjamuan malam terakhir (dan perintah untuk mengadakan perjamuan kudus) dan membasuh kaki sebagai simbol hamba yang melayani. Perjamuan malam tersebut memiliki makna pengucapan syukur dan peringatan akan Yesus dalam keselamatan oleh kematian-Nya.
Dalam rangka memperingati Kamis Putih, hari ini saya mengajak Sahabat untuk merenungkan Injil Yohanes dengan topik: “Humble and Serve (Rendah Hati dan Melayani)”. Bacaan Sabda diambil dari Yohanes 13: 1-17. Sahabat, ada ungkapan dalam bahasa Jawa yang sangat menarik: Rumangsa Sarwa Duwe dan Sarwa Duwe Rumangsa. Dua kalimat ini dibolak-balik saja penulisannya, akan tetapi memiliki makna sangat jauh berbeda.
Pertama, kalimat Rumangsa Sarwa Duwe atau “Merasa Serba Punya” menunjukkan watak suka pamer, merasa sudah memiliki segala-galanya, dan dapat mengatur segalanya sesukanya. Kedua, Sarwa Duwe Rumangsa atau “Serba Punya Rasa” menunjukkan perilaku yang penuh dengan belas kasih, bijaksana dalam semua hal, dan merasa bersalah atau berdosa, jika membuat susah orang lain.
Sahabat, dalam bacaan kita pada hari ini, tindakan penuh belas kasih ditunjukkan oleh Tuhan Yesus kepada para murid. Saat itu, Tuhan Yesus sudah mengetahui bahwa sudah waktunya Dia meninggalkan dunia ini dan kembali kepada Bapa. Sungguh kasih Tuhan Yesus sangat besar kepada umat kepunyaan-Nya. Meskipun Dia mengetahui salah seorang dari antara para murid yaitu Yudas Iskariot akan mengkhianati-Nya, namun, Dia yang adalah Guru dan Tuhan mau untuk merendahkan hati membasuh kaki para murid-Nya. Dengan membasuh kaki para murid, Tuhan Yesus ingin memberikan pengajaran tentang:
Pertama, tindakan membasuh kaki adalah simbol untuk kematian Tuhan Yesus yang akan membersihkan dosa manusia. Tuhan Yesus sebagai Guru dan Tuhan yang akan memberikan keselamatan.
Ketika Tuhan Yesus bersama para murid di dalam perjamuan memperingati hari raya Paskah Yahudi, dalam tradisinya akan selalu ada hidangan atau olahan daging anak domba jantan. Hal tersebut sebagai pengingat ketika Allah akan membebaskan bangsa Israel dari perbudakan di Mesir (Keluaran 12:14). Selain itu Allah memberikan perintah, supaya bangsa Israel menyembelih anak domba jantan dan darahnya harus dibubuhkan pada ke dua tiang pintu dan ambang atas rumah-rumah orang Israel (Keluaran 12:7). Dengan begitu umat Israel terhindar dari hukuman Allah dan mendapatkan keselamatan serta bisa keluar dari tanah Mesir. Tuhan Yesus sendiri yang akan menjadi domba Paskah, yang mengeluarkan manusia dari hukuman dosa dan memberikan keselamatan untuk umat kepunyaan-Nya.
Kedua, tindakan membasuh kaki mengingatkan dan memberikan teladan kepada para murid. Bahwa setelah menerima Tuhan Yesus sebagai Guru dan Tuhan, para murid harus masuk di dalam sikap hidup yang baru yaitu meneladani Tuhan Yesus yang mau merendahkan hati dan melayani.
Sahabat, memiliki sikap Sarwa Duwe Rasa atau “Serba Punya Rasa” sungguh diperlukan dalam kehidupan sehari-hari. Apalagi bagi orang percaya, karena kita merupakan manusia yang penuh dengan dosa, yang sudah menerima keselamatan di dalam Tuhan Yesus. Dia sudah mau menunjukkan kasih-Nya kepada kita. Maka mari kita selalu menunjukkan sikap rendah hati dan mau melayani dengan rasa hormat dan penuh kasih kepada sesama. Haleluya! Tuhan itu baik.
Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
- Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
- Apa yang Sahabat pahami pahami tentang Kamis Putih?
Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sesungguhnya kita adalah orang yang berbahagia dan diberkati ketika kita menjadi orang yang rendah hati dan melayani sesama. (pg).
-
Why Can’t They Flee to Egypt?
TRAVEL WARNING. Pada saat Pandemi Covid-19 merebak hampir di seluruh dunia, ada cukup banyak negara mengeluarkan Travel Warning. Saya kutip dari VOI: Travel warning adalah istilah untuk menyebut kebijakan suatu negara dalam memberikan informasi yang memuat pertimbangan dan peringatan kepada warga negaranya yang akan pergi atau sedang berada di luar negeri.
Ada beberapa istilah yang penggunaannya hampir mirip dengan travel warning, yakni travel advisory, travel advice, dan travel alert. Perbedaan penggunaan istilah-istilah tersebut tergantung pada tingkatan peringatan yang ingin disampaikan. Akan tetapi, tidak ada hukum internasional yang menjadi patokannya.
Di Indonesia, travel warning biasanya diterbitkan oleh Kementerian Luar Negeri (Kemenlu). Dalam beberapa kesempatan, istilah yang digunakan oleh Kemenlu adalah “imbauan perjalanan” atau travel advisory.
Travel warning adalah sebuah himbauan atau lebih tepatnya peringatan agar seseorang tidak mengunjungi suatu tempat yang dianggap tidak aman. Negara yang mengeluarkan pesan “travel warning” tentunya telah mendapat data-data tentang suatu tempat yang tidak lagi aman karena sebuah perang yang terjadi, ancaman teroris, atau bencana alam. Pesan “travel warning” dimaksudkan untuk melindungi warganya dari segala ancaman yang bisa membahayakan hidup warganya tersebut.
Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “Why can’t They Flee to Egypt? (Mengapa Mereka Tidak Boleh Melarikan Diri Ke Mesir?)”. Bacaan Sabda diambil dari Yeremia 42:1-22. Sahabat, ada seorang pembaca yang menanyakan kehendak Allah dalam hidupnya. Bagi saya yang jauh lebih penting yaitu apa yang akan ia lakukan kalau sudah mengetahui kehendak Allah, apakah ia akan mematuhinya? Percuma kita mengetahui kehendak Allah kalau tidak ada kemauan dan ketaatan untuk melakukannya.
Apakah Yohanan dan sisa rakyat Israel sungguh-sungguh mencari kehendak Allah untuk mematuhinya? Sepertinya pertanyaan mereka tulus dan bahkan disertai dengan janji untuk menaati apa pun kehendak Allah (ayat 1-3, 5-6). Maka, Yeremia pun menyatakan kehendak Allah dengan terus terang (ayat 10), dan memberikan kepada mereka peringatan keras untuk tidak membangkang pada kehendak Allah (ayat 13-22). Allah menghendaki mereka untuk tetap tinggal di Yerusalem dan TIDAK MELARIKAN DIRI KE MESIR. Allah sudah memberi “travel Warning” agar mereka tidak melarikan diri ke Mesir. Allah menjanjikan bahwa hati Nebukadnezar akan lunak untuk tidak menghukum mereka karena pemberontakan Ismael (ayat 11-12). Sebaliknya, kalau tidak taat dan melarikan diri ke Mesir, kematianlah yang akan mereka alami.
Sahabat, mengapa mereka tidak boleh melarikan ke Mesir? Karena melarikan diri ke Mesir menunjukkan bahwa mereka lebih bersandar pada kekuatan manusia daripada kepada kekuatan Allah. Inilah yang kerap kali dilakukan oleh para raja Israel atau Yehuda pada masa lampau. Sebaliknya, percaya kepada Allah berarti bersedia mematuhi pimpinan dan kehendak-Nya, walaupun itu mungkin bukan sesuatu yang menyenangkan.
Percaya berarti tunduk. Percaya bahwa rencana Allah selalu yang terbaik bagi anak-anak-Nya. Masalahnya, sering kali saat terdesak, kita mencoba mencari pertolongan kepada orang-orang yang kita anggap mampu menolong kita. Padahal Allah menghendaki agar kita selalu mencari pertolongan-Nya. Ia pun terus mengingatkan kita bahwa mengandalkan manusia akan membawa kita pada situasi yang lebih buruk. Carilah Tuhan dan jangan pernah mengandalkan manusia! Apakah kita mau mengindahkan peringatan itu dan menaati-Nya? Haleluya! Tuhan itu baik.Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
- Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
- Apa yang Sahabat pahami dari ayat 10-12?
Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan selalu merancangkan yang terbaik bagi hidup umat-Nya. Hanya saja kita sering tidak memercayai-Nya. (pg).
-
ReKat: The Unwavering and Challenging Sight (26 Maret 2023)
Bacaan Sabda: Yehezkiel 1:1-28
Dari hasil perenungan saya dari Bacaan Sabda, saya mendapatkan:
- Pesan yang saya dapatkan dari perenungan Firman Tuhan hari ini: Allah itu kasih dan setia, melalui penglihatan yang diberikan kepada Yehezkiel pada saat dalam masa pembuangan. Sebagai orang percaya, kita harus bersedia untuk mewartakan kabar keselamatan serta kebaikan-Nya kepada dunia yang sedang menuju kepada kebinasaan.
- Pemahaman saya tentang “Membangun iman berdasarkan kesetiaan Allah yang tidak pernah pudar”: Kita perlu membangun iman dengan Allah jangan pada saat keadaan baik saja, namun biarlah kita tetap memiliki iman yang sehat, kuat dan teruji dalam kondisi senang dan susah, sebab kasih dan kesetiaan Allah kepada kita tak pernah pudar dan kekal untuk selamanya. Selain itu kita juga harus memberitakan kabar keselamatan kepada orang lain, sama seperti Allah memanggil Yehezkiel untuk membawa misi Allah sekalipun dalam masa yang sulit (masa pembuangan).
(Swan Lioe)
-
A Few LOYAL People
PEYOT. Gaya potongan rambut dapat menjadi salah satu penunjang kepercayaan diri. Pasalnya gaya rambut dapat memengaruhi penampilan bagi sebagian orang. Gaya potong rambut biasanya disesuaikan dengan bentuk muka dan kondisi rambut itu sendiri. Namun ada juga orang yang merubah gaya potongan rambut sesuai tren, agar terlihat fashionable dan kekinian.
Saya kutip dari Intisari-Online.com, salah satu ciri khas yang mudah dijumpai dari orang-orang Yahudi adalah gaya rambutnya. Hal tersebut dapat Sahabat lihat pada penampilan para pria Yahudi. Selain wajahnya yang dihiasi janggut dan kebiasaan memakai topi lebar, mereka juga menumbuhkan dan memanjangkan rambut di kedua sisi kanan-kiri kepalanya. Gaya rambut itu disebut “Peyot” yang sebagian besar dianut oleh para Haredi Ashkenazi (Yahudi Ortodoks) dan Yahudi di Yaman.
Bagi orang Yahudi Yaman, Peyot itu disebut simanim yang berarti “tanda”. Sebagai tanda, kebiasaan kuno ini berarti untuk membedakan antara orang Yahudi dengan masyarakat Yaman yang Muslim.
Anjuran gaya ini juga berasal dari larangan yang tertulis di Taurat. Kemudian oleh para Rabi seperti dirangkum dalam Talmud menafsirkan larangan itu untuk tidak merusak tepi janggut mereka. Oleh karena itu, orang-orang Yahudi tidak mau memotong dan membiarkannya tumbuh panjang.
Sahabat, pencukuran tepi rambut dan janggut di Israel dihubungkan dengan kekudusan dan dapat dimaknai sebagai PERKABUNGAN atau KEHINAAN (Imamat 19:27; 21:5).
Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “A Few Loyal People (Sedikir Orang yang SETIA)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 5:1-17. Sahabat, pengepungan Yerusalem merupakan kabar buruk bagi bangsa Israel. Namun, nubuat dari Tuhan belum berakhir.
Dalam bacaan kita pada hari ini, Yehezkiel disuruh mencukur rambut dan janggutnya (ayat 1). Ini menandakan penghinaan terhadap Yerusalem dan hilangnya jati diri mereka. Kemudian, sepertiga dari rambut tersebut harus dibakar, sepertiga dipotong dengan pedang, dan sepertiga dihamburkan ke dalam angin (ayat 2). Itu artinya sepertiga umat akan mati kena sampar dan kelaparan, sepertiga akan mati oleh serangan musuh, dan sepertiga akan disebarkan ke pembuangan (ayat 12). Dengan demikian, Yerusalem yang dibanggakan oleh bangsa Israel sebagai pusat bangsa-bangsa akan dibuat menjadi reruntuhan dan celaan (ayat 14-15).
Apakah artinya tidak ada umat yang akan diselamatkan? Ternyata masih ada sedikit umat yang diambil. Dalam ayat 3, Tuhan berkata kepada Yehezkiel: “Engkau harus mengambil sedikit dari rambut itu dan bungkus di dalam punca kainmu.” Itu menandakan sedikit umat yang akan hidup di pembuangan di Babel. Meski mereka juga hidup dalam penderitaan, mereka diluputkan dari kematian. Itulah umat yang setia, yang biasanya disebut “yang sisa” yang akan Tuhan pelihara. Mereka tetap menyembah Tuhan di tengah mayoritas umat yang menolak hukum Tuhan dan menyembah berhala. Dari sekian banyak bangsa Israel yang binasa, ada sedikit yang setia.
Dengan demikian, Alkitab jelas mengajarkan bahwa tidak semua umat Tuhan adalah umat yang sungguh-sungguh setia. Bahkan, mayoritas umat dalam masa hidup Yehezkiel adalah umat yang hidup dalam kejahatan dan kekejian. Bagaimana dengan orang percaya pada masa sekarang? Apakah masih ada orang percaya yang tidak sungguh-sungguh setia? Tentu saja ada. Ada cukup banyak orang percaya yang mengaku sebagai pengikut Kristus, tetapi sedikit yang tetap menaati Tuhan dan mempertahankan jati diri sebagai umat Tuhan.
Sahabat, pada akhirnya, Tuhan akan memisahkan umat yang setia dari umat yang tidak setia. Masing-masing kita perlu merefleksikan diri: Umat seperti apakah kita? Perbuatan dan perilaku dalam hidup kita akan membuktikan kesetiaan seperti apa yang kita miliki. Haleluya! Tuhan itu baik.Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
- Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
- Apa yang Sahabat pahami dari ayat 7 dan 11?
Selamat sejenak merenung. Renungkan dalam-dalam di hati: Kesetiaan itu datangnya dari hati dan niat, bukan dari sebuah kata-kata. (pg).


