Author: Christopherus

  • TAAT TERHADAP HAL-HAL KECIL

    Saat kita merayakan Paskah, kita akan teringat bahwa pada mulanya Paskah merupakan tradisi bagi orang-orang Yahudi yang diperintahkan Allah untuk untuk melakukan semacam jamuan khusus yang membantu mereka mengingat bagaimana Allah menyelamatkan mereka setelah ratusan tahun menjalani perbudakan di Mesir. Allah menyuruh orang Israel untuk mengadakan perjamuan Paskah setiap tahun agar mereka tidak melupakan siapa Allah dan siapa mereka (Keluaran 12:21-27).

    Dalam Alkitab Perjanjian Baru, kita melihat Tuhan Yesus juga merayakan Paskah. Hal itu dicatat dalam Markus 14:12-16, yang menceritakan bagaimana Tuhan Yesus dan murid-murid-Nya mempersiapkan perayaan Paskah. Kita bisa membaca dari perikop tersebut, bahwa pada waktu paskah tiba, murid-murid Tuhan Yesus bertanya apa yang harus mereka kerjakan, kemana mereka harus pergi untuk menyiapkan perjamuann Paskah bersama Tuhan Yesus (ayat 12). Kemudian Tuhan Yesus berkata kepada mereka, “Pergilah ke kota; di sana kamu akan bertemu dengan seorang yang membawa kendi berisi air. Di situlah kamu harus mempersiapkan perjamuan Paskah untuk kita!” (ayat 13 dan 15). Maka berangkatlah kedua murid itu dan setibanya di kota, didapati mereka semua seperti yang dikatakan Yesus kepada mereka (ayat 16).

    Mungkin para murid berpikiran akan menerima pekerjaan besar, seperti memesan makanan, mengelola acara, dan lain sebagainya. Namun Tuhan hanya memberi perintah kepada mereka untuk pergi menemui sesorang yang akan menyiapkan perjamuan tersebut. Mereka pun pergi karena ketaatannya, dan tidak pernah bertanya mengapa mereka hanya melaksanakan pekerjaan sepele seperti itu. Mereka hanya diminta untuk menemukan sesorang dan mengikuti orang tersebut. Mereka hanya diberi dua tugas, yaitu untuk menemukan dan mengikuti. Bukan suatu pekerjaan yang besar, namun menuntut ketaatan dan komitmen untuk melakukannya. Apabila dilakukan, perintah itupun bisa terwujud, dan semuanya terjadi.

    Selama pelayanan-Nya di dunia, Tuhan kita Yesus mengajarkan prinsip ini kepada murid-murid-Nya: ” Orang yang setia dalam perkara-perkara kecil, ia setia juga dalam perkara-perkara besar. ” (Lukas 16:10). Pada pernikahan di Kana di Galilea, Yesus memerintahkan para pelayan untuk “mengisi tempayan dengan air” (Yohanes 2:7). Karena ketaatan para pelayan, mukjizat itupun terjadi. Kesetiaan para pelayan dalam melaksanakan sesuatu yang begitu sepele berakhir dengan mereka menerima begitu banyak galon anggur terbaik untuk segenap hadirin dalam pesta pernikahan tersebut.

    Ada cukup banyak orang Kristen menginginkan jabatan yang besar dan penting dalam gereja. Karena kepandaiannya, kekayaannya, mereka tidak mau melakukan pekerjaan sepele yang ada di gereja. Bahkan orang orang-orang biasa pun merasa tidak suka melakukan pekerjaan-pekerjaan “kecil” di gereja. Terkadang semua ingin dilihat, bahwa mereka memiliki peran yang penting dalam sebuah pelayanan. Melayani Tuhan tidak harus menjadi Pendeta, menjadi Majelis, atau menjadi pengurus sinode. Banyak pekerjaan Tuhan yang sepele, sederhana yang ada di gereja, yang terkadang terabaikan.

    Menata kursi, menjadi penerima tamu, membuat jadwal pelayanan, bahkan mematikan kran air di kamar mandi, mungkin kelihatan sepele di mata banyak orang. Tetapi pekerjaan-pekerjaan semacam itulah yang akan membawa kita kepada sesuatu perubahan yang besar. Karena ketaatan kita, Tuhan pasti akan memberi kita pekerjaan yang semakin besar.

    Dalam Ulangan 28:13 memang kita akan diangkat Tuhan untuk menjadi Kepala bukan Ekor, tetapi untuk menjadi kepala harus dimulai dari ekor terlebih dahulu. Murid-murid Tuhan Yesus juga merupakan orang-orang yang biasa, tetapi karena ketaatannya, mereka bisa menjadi pahlawan iman yang besar yang sampai sekarang bisa menjadi teladan bagi kita semua.

    Apakah kita bersedia menaati Tuhan bahkan dalam hal-hal kecil? Jangan pernah berpikir apa yang Tuhan minta kita lakukan terlalu kecil atau terlalu kasar, mari kita percaya dan patuhi saja. Apa yang mungkin kita anggap kecil, menurut Tuhan itu penting.

    Dalam rangka Paskah, mari kita berefleksi sejenak: Apakah kita semua telah berperan dalam perkerjaan Tuhanmulailah taat dari hal-hal yang kecil dan Tuhan akan memberi tanggunjawab yang lebih besar dan lebih besar. (SN).

    Penulis:
    Bapak Suhaji (SN), Majelis Jemaat di GKMI Semarang, jalan Pemuda 75, Semarang dan Pengurus Departemen Misi dan Pengajaran Yayasan Christopherus.

  • Accepting Gods Offer

    SUDUT PANDANG. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mencatat sudut pandang berarti cakupan sudut bidik lensa terhadap gambar. Beda konteks, maka berbeda pula pengertian sudut pandang. Bagi kita yang gemar membaca atau sering menulis karya fiksi, mungkin kita sudah tidak lagi asing dengan istilah sudut pandang. Sudut pandang adalah posisi penulis dalam menuangkan kisahnya. Dalam proses melahirkan suatu karya fiksi, sudut pandang merupakan salah satu unsur yang penting diperhatikan. Alur sebuah kisah dapat berbeda tergantung sudut pandang mana yang penulis bawakan.

    Sahabat, sudut pandang menjadikan kita dapat melihat sebuah kejadian dari berbagai sisi. Sayangnya tidak semua orang mampu melihat sebuah peristiwa lebih dari satu sudut pandang. Apalagi jika peristiwa itu tidak menyenangkan. Penderitaan seringkali dianggap hanya sebagai tanda bahwa Tuhan tidak lagi mengasihi. Penghukuman seringkali dianggap hanya sebagai tanda bahwa Tuhan murka kepada umat-Nya.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: Accepting Gods Offer (Menerima Tawaran Tuhan). Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 7:1-27. Sahabat, Allah yang sesungguhnya sangat menyayangi Israel kini murka kepada Israel. Bacaan kita pada hari ini dimulai dengan empat nubuat pendek tentang bencana yang akan dialami oleh Israel, khususnya di Yerusalem.

    Yehezkiel pasal 7 menjadi klimaks dari pasal 4-6 yang menyatakan bencana pasti datang melanda Israel. Hal itu tampak dari kata “Kini kesudahanmu tiba” (ayat 1-4), “bencana demi bencana akan datang” (ayat 5-9), “harinya sungguh datang” (ayat 10, 11), “Waktunya datang” (ayat 12, 13)”. Israel harus menerima semua hukuman yang telah TUHAN tetapkan “selaras dengan tingkah lakunya, bahkan perbuatan-perbuatannya yang keji” (ayat 3-4, 8-9, 27).

    Hukuman yang tidak dapat dielakkan ini akan menimpa segenap umat, tanpa ada pengecualian. Bahkan mereka yang kaya dan berlimpah harta bendanya tidak akan dapat melindungi diri dengan segala harta bendanya. Harta benda itu akan dianggap cemar karena telah digunakan untuk menyembah berhala. Segala kekayaan akan menjadi sia-sia dan hanya menjadi jarahan musuh (ayat 11, 19-24). Pembiaran dan penolakan TUHAN membuat tidak ada seorang pun dapat mempertahankan diri, bahkan berjuang melawan musuh (ayat 14-24). Tidak ada pengharapan bagi mereka karena dalam ketakutan tidak ada lagi kabar keselamatan.

    Firman TUHAN yang telah ditolak oleh umat Israel, tidak mereka dengarkan lagi melalui para nabi, imam, dan tua-tua. Penghukuman TUHAN menimpa segenap lapisan penduduk, dari raja, pemimpin bahkan seluruh penduduk. Inilah pembalasan bagi Israel yang TUHAN berikan selaras dengan tingkah laku mereka yang jahat, perbuatan mereka yang keji, dan cara mereka menghakimi. Semua ini TUHAN lakukan agar mereka mengetahui dan sungguh-sungguh mengenal bahwa Dia yang mereka tolak dan lawan adalah TUHAN (ayat 25-27).

    Ketika kita melihat kejatuhan kaum Israel, kita harus mengingat bahwa Tuhan itu adil dan kuasa pengadilan-Nya sungguh nyata. Di dalam Perjanjian Lama, hukum keadilan Tuhan berlaku: “nyawa ganti nyawa, mata ganti mata, gigi ganti gigi, tangan ganti tangan, kaki ganti kaki” (Ulangan 19:21). Itu adalah perintah yang diberikan supaya umat yang bersalah diadili dan dihukum secara setimpal.

    Sahabat, jangan mengandalkan segala kekuatan dan harta duniawi karena semuanya akan hancur tak bernilai di hadapan-Nya. Jangan mengandalkan siapa pun karena penguasa terkuat sekalipun dihancurkan oleh kuasa-Nya. Selama masih ada KESEMPATAN , TERIMALAH TAWARAN KESELAMATAN dan PENGAJARAN-PENGAJARAN KEBENARAN dari TUHAN. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenungan dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
    1.Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2.Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8-9?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Keseriusan Tuhan terhadap dosa kita sejalan dengan keseriusan Tuhan mengasihi kita tanpa batas. (pg).
     

  • In Quietness and Trust Shall be Your Strength

    TENANG. Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tenang memiliki banyak arti, salah satunya: Tidak gelisah, tidak rusuh, tidak kacau, tidak ribut, aman dan tentram. Sesungguhnya saat kita merasa TENANG maka pikiran kita bisa menjadi lebih jernih dan tubuh kita bisa lebih peka merespons keadaan sekitar.

    Bagi orang yang tidak bisa berenang, tercebur ke kolam yang dalam adalah pengalaman yang sangat menakutkan. Orang itu tentu membutuhkan pertolongan. Namun, supaya dapat ditolong dia harus TENANG, mendengarkan, dan menurut pada petunjuk penolongnya. KEPANIKAN hanya akan menambah bahaya baginya.

    Sahabat, seringkali ketika kita menghadapi masalah dan tekanan hebat, kita menjadi PANIK dan akhirnya melakukan sesuatu yang justru kontra produktif. dalam KEPANIKAN orang cenderung berpikir praktis, tidak berpikir panjang.

    Kebanyakan dari kita tidak bisa TENANG ketika permasalahan datang!  Tuhan mengajarkan kita untuk bersikap TENANG saat masalah datang menerpa:  ” Karena itu kuasailah dirimu dan jadilah tenang, supaya kamu dapat berdoa.”  (1 Petrus 4:7b). Berdiam diri dengan mendekat kepada Tuhan membuat kita menjadi TENANG!

    Hari ini bertepatan dengan Sabtu Sunyi, dengan keheningan dan keteduhan kita akan belajar dari kitab Yesaya dengan topik: In Quietness and Trust Shall be Your Strength (Dalam Tinggal TENANG dan PERCAYA Terletak Kekuatanmu). Bacaan Sabda diambil dari Yesaya 30:1-17 dengan penekanan pada ayat 15. Sahabat, Yehuda sedang PANIK. Di tengah krisis, mereka sibuk mencari pertolongan dengan caranya sendiri. Mereka memutuskan untuk berlindung kepada bangsa lain yang mereka pikir lebih kuat daripada bangsa penyerang.

    Mereka mencari perlindungan kepada Mesir dan melupakan Allah (ayat 2). Padahal, Tuhan menginginkan agar mereka tetap TENANG dan PERCAYA kepada-Nya. Firman Tuhan yang datang kepada mereka mengingatkan bahwa berharap kepada Mesir dan kekuatan perangnya hanya akan membuat mereka malu, sebab Mesir tidak akan berdaya menghadapi Asyur (ayat 3 dan 7).

    Tuhan menyebut mereka sebagai anak-anak pemberontak, sebab sekalipun mereka adalah anak-Nya tetapi mereka tidak mau mendengarkan suara-Nya yang datang melalui nabi-Nya. Justru mereka membungkam dan mengusir nabi itu (ayat 10-11). Saat Tuhan meminta mereka tinggal TENANG dan berharap kepada-Nya, Yehuda justru sibuk dengan KEPANIKANNYA.

    Sahabat, hampir pasti kita pernah mengalami peristiwa yang berat dalam hidup ini. Pada saat seperti itu, kita punya dua pilihan. Pertama, kita bereaksi terhadap KEPANIKAN dan berpikir pendek mengenai penyelesaian masalah sesegera mungkin. Kedua, kita merespons dengan berhenti sejenak untuk MENENANGKAN diri, berdoa memohon pertolongan Tuhan dan hikmat-Nya.

    Cara pertama akan mendorong kita untuk mengambil pilihan yang tidak cermat bahkan tidak sesuai dengan kehendak Tuhan. Cara kedua akan memberi kesempatan kepada Tuhan untuk bekerja menolong dan membuat kita berpikir jernih.

    Sahabat, sebagai orang percaya, hendaklah kita belajar tetap TENANG di saat situasi gawat dan menakutkan, karena dalam tinggal TENANG dan percaya terletak kekuatan kita. TUHAN yang akan bertindak dan menyelesaikannya bagi kita. Mintalah kepada-Nya untuk memegang kendali dan menunjukkan jalan keluar.

    Jangan mencari pertolongan dari manusia, karena itu akan mengecewakan kita. Taruhlah pengharapan hanya kepada Tuhan yang mengasihi kita dan yang tidak pernah mengecewakan! Kunci untuk hidup TENANG adalah memiliki penyerahan diri sepenuhnya kepada TUHAN. KETENANGAN menimbulkan kekuatan untuk menghadapi persoalan apa pun. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
    1.Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2.Apa yang Sahabat pahami dari 1 Petrus 4:7-b?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Memilih tetap tenang dan percaya serta mengikuti kehendak Tuhan adalah pilihan yang terbaik. (pg).

  • HATI-HATI SALAH FOKUS

    Kristus telah bangkit! Ya Dia sudah bangkit. Kata-kata itu diucapkan sebagai bentuk respons sukacita terhadap kebangkitan Yesus. Kita akan merenungkan salah satu kisah Paskah di Perjanjian Baru dalam Yohanes 20 : 11-18.

    Saat Maria Magdalena bertemu sosok Yesus kembali, ia merasa bahagia setelah sesaat ia merasakan kehancuran hati karena kehilangan raga Yesus yang dikuburkan. Bertemu dengan sosok Yesus seakan menjadi penghibur kesedihannya, jawaban dari doanya yang banjir air mata. Namun saat ia ingin menyentuh Sang Guru, ia malah mendapatkan perintah untuk mengabarkan kebangkitan-Nya kepada para murid yang lain (ayat 17).

    Saudaraku, bayangkan saja andai Yesus mengizinkan Maria menyentuh-Nya maka bukankah berita yang akan disampaikan Maria kepada teman-temannya akan lebih akurat? Ya, Maria bukan hanya melihat sosok Yesus yang dikabarkan hilang dan mendengar suara-Nya namun bahkan membuktikan bahwa yang ditemuinya adalah Yesus ori (asli) dan bukan kw (tiruan). Ini pasti akan menjadi berita yang viral luar biasa. Namun sekali lagi Alkitab menampilkan Yesus yang tidak salah fokus dan tetap konsisten dengan misi-Nya untuk memberitakan Kabar Baik kepada manusia. Berita kebangkitan-Nya segera harus disebarkan. Itulah sebabnya Yesus memberikan mandat kepada Maria Magdalena (seorang wanita mantan orang yang kerasukan) untuk melaksanakan tugas itu. Ia tidak ingin dimiliki Maria seorang diri, Ia ingin Maria segera fokus kepada tugas dan tanggung jawabnya untuk menjadi pemberita kabar kebangkitan. Itu hal terpenting yang harus dilakukan saat itu.

    Saudaraku, ada dua hal luar biasa dari peristiwa ini:
    Pertama, sikap yang benar terhadap mukjizat. Siapa yang tidak terkesan dengan mukjizat seperti yang Maria Magdalena rasakan dan lihat saat itu? Bahkan manusia mendambakan mukjizat setiap hari dan akan memuja para perantara mukjizat, misalnya para hamba Tuhan, pendoa, dan lain-lain. Tidak heran manusia sering salah fokus: Mengagumi sang perantara habis-habisan dan menyimpan peristiwa mukjizat itu dan menjadikannya pedoman hidup. Sang Penyebab dari mukjizat itu yang malah terlupakan. Apa yang seharusnya menjadi fokus, malah dikesampingkan dan apa yang menjadi sampingan malah dijadikan fokus. Yesus tahu benar ini bisa terjadi kepada Maria, maka Yesus menginginkan Maria segera melakukan apa yang lebih penting yaitu memberitakan kebangkitan-Nya dibandingkan menyentuh diri-Nya. Pemberitaan kabar kebangkitan itu lebih penting karena berita itu dengan segera akan memulihkan banyak orang yang sedih karena kehilangan Yesus. Maria harus berbagi bahagianya dengan segera kepada kepada para murid yang saat itu masih belum mengerti mengapa Yesus bangkit dari kematian (Yohanes 20:9). Tidak tenggelam dalam euphoria mukjizat untuk diri sendiri, namun segera kabarkan kepada orang yang membutuhkan.

    Kedua, Yesus membagi tugas kepada orang lain. Para pemimpin yang mau memercayai dan mendelegasikan tugas kepada orang lain merupakan pemimpin yang menyadari bahwa komunitas yang sehat adalah bila setiap anggota dapat melaksanakan tugas untuk saling melayani. Pemimpin bukan satu-satunya penggerak dalam komunitas, justru ia memotivasi agar tiap anggota dapat hidup dengan bergerak bersama sesuai fungsi masing-masing. Yesus mengajar Maria memahami tugasnya dengan mendelegasikan tugas kepadanya. Maria melaksanakan dengan senang hati sesuai perintah Gurunya (Yohanes 20:18). Yesus memakai Maria untuk menunjukkan konsistensinya dalam melaksanakan tugas dan pada akhirnya berita kebangkitan tersebar lewat seorang wanita yang menerima mandat dan melaksanakannya dengan baik.

    Mari kita merefleksi bersama dengan mengajukan beberapa pertanyaan :
    1.Siapa yang menjadi fokus perhatian kita saat kita mendapatkan jawaban doa yang kita dambakan?

    2.Peristiwa mukjizat itu atau perantaranya atau Allah sendiri?
    Bagaimana cara kita untuk bisa memotivasi orang untuk bergerak sesuai dengan fokus dan tanggung jawabnya dalam komunitas kita?

    Seperti Yesus yang lebih berfokus kepada tanggung jawab dan misi-Nya, marilah kita sebagai pembaca renungan ini tetap setia dan tanpa lelah memberitakan Berita Kebangkitan Kristus. Dia sudah bangkit! Terpujilah Tuhan! (Ag)

  • Why Dont They Believe Still?

    PERCAYA SAJA. Ketika saya membaca kata Percaya Saja saya jadi teringat dengan judul sebuah lagu ketika saya menjadi anak Sekolah Minggu. Sesungguhnya kata “Percaya saja” merupakan kata yang mesti kita imani dan aminkan dalam hidup. Namun sayangnya kata tersebut sering disalahartikan dan disalah mengerti. Seakan dengan mengatakan hal itu, kita tidak perlu berbuat apa-apa atau Tuhan pasti memberikan apa yang kita inginkan, sehingga ketika keinginan kita tidak seperti yang Tuhan kehendaki, betapa mudahnya kita menjadi marah kepada Tuhan.

    Sebagai orang percaya kita perlu memberlakukan percaya saja dalam kehidupan kita. Ya. Percaya saja. Dalam hal apa pun yang kita alami, kita perlu yakin bahwa Tuhan sedang dan terus bekerja dalam hidup kita untuk memberikan segala kebaikan dalam hidup kita sambil terus kita mengusahakan yang terbaik dari diri kita.

    Sahabat, dalam hidup ini, sesungguhnya yang paling kita perlukan yaitu keyakinan bahwa Tuhan yang kita sembah adalah Tuhan yang hidup. yang dapat kita percayai dan andalkan. Jangan sampai seperti bangsa Israel, mereka sudah mengalami, melihat, dan merasakan: Kehadiran, penyertaan, pertolongan, dan kedasyatan kuasa Tuhan; tapi mereka sering kali masih tetap memberontak, dan tidak mau percaya kepada Tuhan. Maka mereka dikenal sebagai bangsa yang tegar tengkuk.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: Why Dont They Believe Still? (Mengapa Mereka Masih Tidak Percaya?) Bacaan Sabda diambil dari Yeremia 43:1-13. Sahabat, apakah masih ingat kisah pemuda kaya yang mencari hidup kekal dan datang kepada Tuhan Yesus yang terdapat di Matius 19:16-22? Ia TIDAK PERCAYA bahwa Yesus sanggup memelihara hidupnya jika ia menuruti perintah-Nya untuk menjual semua hartanya dan kemudian memberikannya kepada orang miskin, dan kemudian mengikut Yesus. Maka ia pun meninggalkan Yesus dengan perasaan sedih. Sungguh menyedihkan!

    Sahabat, itulah yang kita dapatkan dari sisa penduduk Yerusalem, yang lebih memilih lari ke Mesir daripada tinggal di Yerusalem. Padahal mereka sudah menerima janji dari Tuhan bahwa Dia akan memelihara mereka melalui melunakkan hati raja Babel agar tidak menghukum mereka (Yeremia 42:11-12). Mereka tidak sungguh-sungguh percaya kepada Tuhan, bahwa Dia sanggup menolong mereka, dan bahwa Dia sungguh-sungguh mengasihi mereka.

    Yang paling parah yaitu sikap tidak percaya mereka justru ditunjukkan dengan mencari kambing hitam. Mereka menuduh Yeremia berbohong mengenai kehendak Tuhan (ayat 2) dan Barukh telah menghasutnya untuk menyerahkan mereka ke tangan orang Babel (ayat 3). Dengan sombong mereka memutuskan untuk pergi ke Mesir. Bahkan mereka memaksa Yeremia dan Barukh ikut ke Mesir. Artinya, mereka PERCAYA bahwa CARA MEREKA JAUH LEBIH BAIK daripada CARI TUHAN! Sungguh, tindakan mereka sangat bodoh.

    Tuhan melalui Yeremia menegaskan bahwa tindakan bodoh mereka itu hanya menimbulkan kebinasaan dan bukan keselamatan. Dengan peragaan nubuatnya (ayat 8-11) Yeremia menunjukkan apa yang akan Allah lakukan melalui raja Babel kepada mereka yang lari ke Mesir. Bahkan Mesir, tempat persandaran mereka akan dihancurkan.

    Sahabat, waktu kita tidak percaya bahwa Tuhan memiliki rencana yang terbaik untuk hidup kita, dan lebih memilih cara kita sendiri sebagai cara terbaik yang akan membawa hidup kita lebih baik, kita adalah orang yang bodoh. Artinya, kita merasa diri lebih pintar dan lebih mampu daripada Allah untuk mengatur hidup kita sendiri. Marilah kita merendahkan diri di hadapan-Nya, dan menyatakan kembali iman percaya kita. Katakan: “Tuhan tolong aku yang tidak percaya ini, agar aku hanya tunduk dan taat kepada kehendak-Mu.” Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
    Pesan apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    Nubuatan apa yang disampaikan nabi Yeremia kepada bangsa Israel dan apakah tujuan dari penyampaian nubuatan tersebut?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan kita adalah Tuhan yang begitu panjang sabar kepada kita, setiap umat-Nya. Walaupun kita seringkali mengabaikan segala perintah dan petunjuk-Nya. (pg)