Category: Sejenak Merenung

  • Karya Tuhan dalam Kelemahanku

    NICK VUJICIC. Sahabat, kita sering kali merasa apa yang sudah kita miliki belum cukup. Alih-alih bersyukur, kita mengejar hal-hal yang sebenarnya tidak kita perlukan. Padahal, jika dilihat lebih dalam, kekurangan yang kita miliki merupakan sebuah keunikan yang perlu kita syukuri. Sesungguhnya punya kekurangan tidak membatasi diri untuk beraktivitas dan jadi berguna. Seperti apa yang dialami oleh Nick Vujicic.

    Nick Vujicic adalah motivator dunia berkebangsaan Australia. Ia mengalami sindrom tetra-amelia, sebuah sindrom langka yang punya karakteristik tanpa lengan dan kaki. Ia lahir pada 4 Desember 1982 di Melbourne, Australia. Nick tumbuh dari keluarga yang sederhana, ayahnya bekerja di kantor administratif sekaligus penginjil dan ibunya seorang bidan juga perawat.

    Maka Nick kecil tidak hanya berurusan dengan permasalahan sekolah dan remaja seperti intimidasi. Nick kecil juga berjuang dengan depresi dan rasa kesepian sebagaimana ia sering mempertanyakan alasan ia berbeda dari semua anak lainnya.

    Laki-laki yang memiliki nama lengkap Nicholas James Vujicic itu memang punya masa kecil yang sedikit kelam karena perbedaan fisik yang dimilikinya. Saat berusia 10 tahun, Nick pernah mencoba bunuh diri dengan cara menenggelamkan dirinya di bak mandi sendiri karena intimidasi yang dialaminya di sekolah.

    Syukur , Nick mempunyai orangtua yang suportif. Saat usia 17 tahun, ibu Nick menunjukkan sebuah artikel tentang seorang laki-laki cacat yang berhasil mengatasi kekurangannya. Nick kemudian terinspirasi untuk jadi motivator dan memulainya dengan berbicara di kelompok gereja. Ia menjadi orator profesional pada usia 19 tahun dan kariernya terus menanjak naik.

    Pada 2005, Nick Vujicic membuat “Life Without Limbs” yang merupakan sebuah organisasi nonprofit internasional tentang pelayanan penginjilan. Tujuan organisasi tersebut adalah untuk berbagi harapan dan cinta sejati yang Nick sudah alami kepada orang-orang di seluruh dunia. Tercatat sudah 69 negara Nick kunjungi dalam usahanya mencapai tujuan bersama “Life Without Limbs”.

    Mari kita membaca dan merenungkan dari Hakim-Hakim 3:12-31. Sahabat, jatuh bangun di dalam dosa!  Itulah gambaran kehidupan bangsa Israel.  Ketika tidak ada raja atas Israel, maka mereka melakukan hal yang jahat di mata Tuhan:  Mulai menyembah ilah-ilah lain dan menjauhkan diri dari hadirat Tuhan.  

    Hal itu menimbulkan murka Tuhan sehingga mereka diserahkan kepada musuh-musuhnya.  Tapi dalam kitab Hakim-Hakim ini setiap kali bangsa Israel jatuh ke dalam dosa dan diserahkan kepada orang asing.  Tuhan selalu membangkitkan seorang pahlawan di antara umat Israel.  Kali ini Tuhan membangkitkan Ehud.

    Menjadi kidal juga dianggap sebagai sebuah kelemahan atau cacat pada saat kelahiran Ehud. Memang, Alkitab tidak mendetail menceritakan bagaimana Ehud menjalani kehidupannya dengan kelemahannya itu. Namun, Alkitab mencatat bagaimana Tuhan memilih dan memakainya sebagai penyelamat Israel.

    Pada saat umat Israel merasakan tekanan dan penderitaan yang berat, mereka berseru kepada Tuhan untuk memohon pertolongan-Nya (Ayat 15). Lalu, Tuhan menjawab mereka melalui Ehud, sang pengantar upeti Israel kepada Moab. Lewat profesi tersebut, ia memiliki peluang untuk menyelamatkan Israel.

    Kelemahan fisik atau kelemahan yang lain adalah sesuatu yang mungkin sulit kita terima. Dalam menyikapi hal ini, teladan Ehud layak kita contoh. Ia merespons panggilan Tuhan dengan segenap kemampuannya.

    Demikian juga hendaknya kita bersikap ketika Tuhan ingin memakai kita sebagai alat-Nya. Sekalipun kita memiliki banyak kelemahan, bukan berarti Tuhan tidak dapat memakai kita untuk kemuliaan-Nya. Sebaliknya, jika kita dengan rendah hati menerima tugas panggilan-Nya, Ia akan memperlengkapi kita. Ia juga akan memberi kita kemampuan dan keberanian agar maksud dan tujuan-Nya tergenapi.

    Oleh sebab itu, kita jangan menyerah pada kelemahan yang ada. Sebaliknya, mari kita tetap melakukan yang terbaik untuk Tuhan dan sesama. Dengan demikian, kita dan orang lain pun akan melihat dan merasakan karya-Nya bekerja secara nyata. Dengan begitu, Allah akan dimuliakan.

    Mari kita belajar bersyukur untuk setiap kelebihan dan kelemahan yang ada pada kita. Semuanya ada untuk kemuliaan Tuhan. Kita tidak boleh berhenti untuk menjadi lebih baik. Tuhan masih tetap dapat berkarya dalam kelemahan kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenungan dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 30?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Dalam pergaulan, selayaknya kita justru berkontribusi untuk membawa perubahan positif. (pg).

  • Semakin Peka Mendengar Suara Tuhan

    ARTI SEBUAH NAMA.  Sahabat, William Shakespeare, Sastrawan terkenal asal Inggris berkata: “Apalah arti sebuah nama? Andaikata kamu memberikan nama lain untuk bunga mawar, ia tetap akan berbau wangi,” 

     James Gibson “Gip” Hardin, seorang pengkhotbah Gereja Methodis, memberi nama anak laki-lakinya:  John Wesley, mengikuti nama sang pengkhotbah terkenal. Nama itu mencerminkan harapan Gip atas anak laki-lakinya. Namun tragis, John Wesley Hardin kemudian memilih jalan yang menyimpang jauh dari tokoh iman yang agung itu. Hardin mengaku pernah membunuh 42 orang sehingga ia menjadi salah seorang penjahat bersenjata dan buronan paling terkenal di wilayah barat Amerika pada akhir abad ke-19.

    Di Alkitab, sama seperti berbagai budaya di zaman sekarang, nama memiliki makna yang istimewa. Ketika membawa berita kelahiran Anak Allah, seorang malaikat memerintahkan Yusuf untuk memberi nama anak Maria itu:  “Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan umat-Nya dari dosa mereka” (Matius 1:21). Arti nama Yesus: “Allah yang menyelamatkan”. Itu menegaskan misi-Nya untuk menyelamatkan manusia dari dosa.

    Sahabat, tidak seperti Hardin, Yesus sepenuhnya hidup sesuai dengan arti nama-Nya. Melalui kematian dan kebangkitan-Nya, Dia menggenapi misi penyelamatan-Nya. Yohanes menegaskan kuasa nama Yesus yang memberikan hidup: “ … semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya” (Yohanes 20:31).

    Mari kita membaca dan merenungkan 1 Samuel 3:1-21. Sahabat, nama Samuel merupakan ekspresi dari bahasa Ibrani yang berarti  TUHAN MENDENGAR.  Itu merupakan ekspresi sukacita Hana karena Tuhan mendengar pergumulan doanya:  “…Ia menamai anak itu Samuel, sebab katanya: ‘Aku telah memintanya dari pada TUHAN.’”  (1 Samuel 1:20).  

    Samuel merupakan jawaban doa Hana yang terus-menerus dinaikkan kepada Tuhan di tengah kesusahan hati yang mendalam.  Ia dahulu tertutup kandungannya, mustahil punya keturunan, namun tidak ada perkara yang mustahil bagi Tuhan.  

    Samuel mulai pelayanannya sejak masih kecil sesuai janji ibunya untuk menyerahkan anaknya ke dalam pengasuhan imam Eli:  “Maka akupun menyerahkannya kepada TUHAN; seumur hidup terserahlah ia kiranya kepada TUHAN.”  (1 Samuel 1:28).  Sejak itulah Samuel berada di lingkungan pastori dan belajar melayani Tuhan di bawah pengawasan imam Eli.  Setiap hari Samuel muda dibimbing imam Eli untuk tugas sucinya dan dilatih belajar mendengarkan suara Tuhan.  

    Karena keterbatasan pengetahuannya, pada awalnya Samuel tidak mengenal suara yang berbicara kepadanya.  Penulis kitab 1 Samuel mencatat bahwa Tuhan memanggil Samuel sebanyak tiga kali namun ia belum menanggapinya karena belum mengenali suara Tuhan.  

    Imam Eli terus membimbing dan mengajari Samuel bagaimana memiliki kepekaan mendengar suara Tuhan,  “Pergilah tidur dan apabila Ia memanggil engkau, katakanlah: Berbicaralah, TUHAN, sebab hamba-Mu ini mendengar. …”  (Ayat 9).  Ketika Tuhan memanggil Samuel lagi untuk ketiga kalinya ia pun menjawab,  “Berbicaralah, sebab hamba-Mu ini mendengar.”  (Ayat 10).

    Seiring berjalannya waktu  “…Samuel makin besar dan TUHAN menyertai dia dan tidak ada satupun dari firman-Nya itu yang dibiarkan-Nya gugur.”  (Ayat 19).  Akhirnya Tuhan memercayakan tanggung jawab pelayanan yang lebih besar kepada Samuel karena ia semakin memiliki kepekaan akan suara Tuhan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Apa pesan yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 18?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Untuk memiliki kepekaan terhadap suara Tuhan tidak bisa terjadi secara instan, tapi perlu melalui proses bergaul karib dengan Tuhan setiap waktu. (pg).

  • Jejak Iman dalam Pengasuhan:Menjadikan Amanat Generasi

    Saudaraku, mari kita membaca dan merenungkan 1 Samuel 2:30-36. Di tengah dunia yang terus berubah, setiap orang tua berjuang membesarkan anak-anak mereka dengan segala usaha dan harapan. Namun, satu hal yang kerap terlupakan adalah amanat iman yang perlu diteruskan bagi generasi berikutnya. 

    Kita mungkin pernah melihat keluarga-keluarga yang tampak sukses dari luar tetapi rapuh di dalam, terputus dari akar spiritualnya. Sebuah kisah nyata muncul dari seorang pemimpin yang tampak sempurna. 

    Anak-anaknya bersekolah di tempat terbaik, dan segala fasilitas disediakan demi masa depan yang cemerlang. Tetapi, di balik semua itu, relasi mereka mulai renggang; sang anak merasa jauh dari nilai-nilai iman yang dulu dipegang keluarganya. Apa yang terjadi?

    Ternyata, masalah ini bukanlah sesuatu yang baru. Dalam 1 Samuel 2:30-36, kita menemukan kisah imam Eli dan kedua anaknya, Hofni dan Pinehas. Sebagai imam, Eli seharusnya menjaga kemurnian pelayanan dan menanamkan amanat iman kepada anak-anaknya. Namun, ia membiarkan anak-anaknya menyalahgunakan posisi mereka di bait Allah. Akibat dari kelalaiannya, Tuhan menghukum Eli dan keturunannya. 

    Eli yang seharusnya menjadi penjaga iman akhirnya kehilangan warisan rohani itu. Ini bukan hanya kegagalan Eli sebagai ayah, melainkan sebagai pemimpin yang dipercayakan Tuhan untuk memelihara iman. Pengabaian Eli bukanlah kekeliruan sesaat; ini adalah kelalaian terhadap amanat yang berdampak lintas generasi.

    Jika kita merenungkan kisah ini, masalah utama bukanlah Eli tidak mengasihi anak-anaknya. Masalahnya adalah ia membiarkan mereka tumbuh tanpa prinsip iman yang kuat. 

    Ada cukup banyak orang tua hari ini, seperti Eli, terjebak dalam pemikiran bahwa kasih cukup diwujudkan dalam menyediakan kebutuhan fisik atau pendidikan yang baik. Namun, lebih dari sekadar kebutuhan duniawi, anak-anak membutuhkan fondasi spiritual yang kokoh sebagai landasan hidup. Tanpa landasan ini, mereka mudah hanyut dalam pengaruh dunia yang bisa menjauhkan mereka dari tujuan hidup sejati.

    Sebagai orang tua, kita bisa belajar dari kesalahan Eli. Mewariskan iman dan nilai-nilai kehidupan adalah amanat yang tak boleh diremehkan. Amanat ini bukan hanya “menasihati” atau “mengajari”, melainkan menghidupi nilai-nilai iman dalam setiap aspek kehidupan sehari-hari. Anak-anak belajar dari teladan, bukan hanya dari kata-kata. Dalam menghadapi dunia yang terus menarik perhatian anak-anak ke berbagai arah, orang tua perlu lebih dari sekadar petuah dan nasihat. Mereka harus menjadi teladan hidup yang nyata, iman yang kokoh dan kasih yang tulus.

    Salah satu langkah sederhana adalah membangun kebiasaan beribadah bersama sebagai keluarga, berbagi pengalaman iman, dan mendampingi pertumbuhan spiritual anak dengan penuh perhatian. Berikan mereka kesempatan untuk bertanya, memahami, dan mengalami Tuhan dalam hidup mereka, bukan hanya di dalam ritual. Ketika mereka melihat bagaimana orang tua hidup dalam iman, kesetiaan, dan pengharapan kepada Tuhan, iman itu akan lebih mudah mereka terima dan hayati.

    Pengasuhan sebagai amanat generasi membutuhkan ketulusan dan ketekunan. Setiap orang tua adalah perantara yang Tuhan tempatkan untuk menanam benih iman yang abadi dalam diri anak-anaknya. Jangan biarkan waktu berlalu tanpa memberikan warisan terbaik yang bisa mereka miliki, iman yang kokoh, kasih yang tulus, dan komitmen yang teguh. 

    Saudaraku, hidup ini bukan hanya tentang apa yang kita capai, tetapi tentang apa yang kita wariskan kepada generasi mendatang. Melalui kisah Eli, Tuhan memberikan pelajaran yang mendalam; mari kita JAGA JEJAK IMAN  itu agar tidak HILANG, tetapi TERUS HIDUP  dan MENYINARI GENERASI-GENERASI BERIKUTNYA. (EBWR).

  • Jauh dari Kasih Karunia Tuhan

    TITIK NADIR. Sahabat, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), nadir adalah  titik yang paling rendah dari bulatan cakrawala (bola langit) yang terletak tepat di bawah kaki pengamat.

    Sedangkan titik nadir kehidupan  ialah  kondisi terendah dalam kehidupan seseorang. Kondisi yang banyak orang tak menginginkannya. Titik nadir dalam kehidupan adalah saat-saat yang paling sulit atau terendah dalam kehidupan seseorang. Hal itu bisa terjadi karena berbagai alasan seperti kehilangan orang yang dicintai, kegagalan dalam karir, masalah keuangan, masalah kesehatan, depresi, dan lain-lain.

    Hari ini kita akan membaca dan merenungkan dari 1 Samuel 28:1-25 dengan penekanan pada ayat 6. Sahabat, Tuhan menyediakan berkat dan pemulihan bagi anak-anak-Nya, dan secara terperinci berkat-berkat itu bisa kita baca dalam Ulangan 28:1-14, dan yang paling banyak diingat dan dipegang oleh orang percaya yaitu:  “Tuhan akan mengangkat engkau menjadi kepala dan bukan menjadi ekor, engkau akan tetap naik dan bukan turun, …”  (Ulangan 28:13).  

    Cukup banyak orang percaya yang mengklaim janji Tuhan ini tanpa memperhatikan lebih dahulu kelanjutan dari ayat tersebut:  “… apabila engkau mendengarkan perintah Tuhan, Allahmu, yang kusampaikan pada hari ini kaulakukan dengan setia, dan apabila engkau tidak menyimpang ke kanan atau ke kiri dari segala perintah yang kuberikan kepadamu pada hari ini, dengan mengikuti allah lain dan beribadah kepadanya.” (Ulangan 28:13-14). 

    Saul merupakan salah satu contoh orang yang justru mengalami kemunduran atau kemerosotan atau penurunan dalam hidupnya sampai titik nadir.  Kisah Saul dalam bacaan kita pada hari ini  sungguh-sungguh menyedihkan. Ia sungguh-sungguh menyangkali imannya. Kepercayaannya yang paling mendasar kepada Tuhan telah ditinggalkan. 

    Apa yang menjadi salah satu larangan penting dari Taurat (Ulangan 18:9-14), yang Saul sendiri pada masa permulaan pemerintahannya menaatinya (Ayat 3), telah dilanggarnya sendiri. Percaya pada peramal berarti percaya kepada roh-roh lain di luar Tuhan. Hal itu sama saja dengan menduakan Tuhan, alias menyembah berhala. Ketaatan Saul benar-benar telah memudar.

    Sahabat, itulah yang terjadi pada Saul. Dalam keadaan kepepet oleh pasukan Filistin, Saul berusaha mencari petunjuk dari Tuhan. Ketika Tuhan tak kunjung menjawab, ia pun nekat mencari pemanggil arwah agar dapat memberi jawaban atas pergumulannya (Ayat 7). Ternyata di Israel masih ada orang dengan profesi semacam itu, yang jelas-jelas bertentangan dengan Taurat Tuhan. Tidak heran, rajanya sendiri pun kemudian terjebak pada dosa tersebut.

    Apakah yang muncul benar-benar roh Samuel atau roh “Samuel”, itu merupakan isu kontroversial dalam dunia penafsiran Alkitab. Kalau benar itu roh Samuel, maka itu merupakan kasus khusus yang Tuhan izinkan untuk meneguhkan penghukuman-Nya atas Saul karena jawaban roh Samuel jelas sekali (Ayat 16-19). Kalau itu bukan roh Samuel, maka jelas roh jahat berperan dibalik sang pemanggil arwah untuk menipu Saul. Isi jawaban yang senada dengan berita penghukuman Allah melalui Samuel pada masa lalu tidak perlu diartikan bahwa roh jahat memiliki pengetahuan Ilahi, tetapi bahwa roh jahat akan memakai apa saja untuk menjerat orang semakin jauh dari Tuhan dan terpuruk sampai titik nadir.

    Sahabat, kita sudah mengikuti perjalanan iman Saul dari permulaan, dan mendapatkan bahwa saat Saul tidak bersedia dikoreksi oleh Tuhan. Ia semakin jauh dari kasih karunia Tuhan. Puncaknya, ia menyangkali Tuhan dengan mencari pertolongan dari yang bukan Tuhan. Sayang sekali teguran Tuhan sama sekali tidak direspons dengan bertobat dan mau belajar menaati kehendak-Nya. Semoga kita belajar dari kisah Saul ini untuk tidak mengulangi kesalahan yang sama. Semoga kita tidak semakin menjauh dari kasih karunia Tuhan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang titik nadir kehidupan?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mari kita sabar menantikan jawaban dari Tuhan dan jangan mengambil jalan pintas dengan mencari pertolongan kepada allah-allah yang lain. (pg).

  • Menghormati Orang yang Diurapi

    DIURAPI. Sahabat, dari “Got Question” saya mendapat informasi bahwa pengurapan berasal dari kebiasaan para gembala. Kutu dan serangga lainnya sering masuk ke dalam bulu domba. Ketika sampai ke dekat kepala domba, kutu dan serangga ini bisa masuk ke dalam liang telinga sehingga membunuh domba tersebut. Jadi, gembala-gembala di zaman dulu menuangkan minyak di atas kepala domba. Hal tersebut membuat bulu domba menjadi licin, sehingga mustahil bagi serangga untuk mendekati telinga domba. Dari kebiasaan inilah, urapan menjadi simbol dari berkat, perlindungan, dan pengesahan.

    Kata Yunani yang dipakai di Perjanjian Baru untuk “mengurapi” adalah chrio, yang berarti untuk mengolesi memakai minyak dengan maksud untuk menahbiskan ke dalam satu jabatan pelayanan. Selain itu juga dipakai kata aleipho, yang berarti untuk mengurapi. Pada zaman itu, orang diurapi dengan minyak untuk menyatakan berkat Allah atau mengesahkan panggilan hidup orang tersebut (Keluaran 29:7; Keluaran 40:9; 2 Raja-Raja 9:6; Pengkhotbah 9:8; dan Yakobus 5:14).

    Sahabat, seseorang diurapi untuk tujuan tertentu: Untuk menjadi raja, untuk menjadi seorang nabi, untuk membangun sesuatu, dan lain-lain. Tidak ada yang salah dengan praktik mengurapi seseorang dengan minyak pada hari ini. Kita hanya perlu memastikan bahwa tujuan pengurapannya itu alkitabiah. Minyak urapan jangan dilihat sebagai  ramuan ajaib. Minyak itu sendiri tidak memiliki kekuatan apa pun. Hanya Tuhan yang bisa mengurapi seseorang untuk tujuan tertentu. Jika kita menggunakan minyak, itu seharusnya hanya menjadi simbol dari apa yang Tuhan lakukan.

    Hari ini kita akan membaca dan merenungkan dari kitab 1 Samuel 26:1-25 dengan penekanan pada ayat 9. Sahabat, menghormati pemimpin merupakan sikap terpuji. Tentu tidak semua pemimpin melakukan kebaikan. Tindakan penghormatan dilakukan karena kita percaya bahwa Tuhanlah yang menghadirkan pemimpin. Menghormati pemimpin adalah tanda menghormati Tuhan.

    Dalam bacaan kita pada hari ini, Daud kembali menunjukkan penghormatan kepada Saul,  sekalipun Saul memperlakukannya sebagai buronan. Daud memiliki kesempatan untuk membalas tindakan jahat Saul. Saat itu, Saul bersama dengan pasukannya tengah beristirahat. Agaknya kelelahan hebat membuat mereka terlelap (Ayat 7). Sebuah kesempatan tepat untuk bertindak menghentikan langkah Saul yang selalu hendak membunuh Daud. Abisai berinisiatif untuk menghabisi Saul (Ayat 8). Daud menolak dengan alasan karena Saul adalah orang yang diurapi Tuhan (Ayat 9). 

    Sababat, bagi Daud, Tuhan sendiri yang akan bertindak menghentikan Saul. Daud menyuruh Abisai mengambil tombak dan kendi minuman Saul. Dengan tombak dan kendi di tangan, Daud mempertanyakan alasan Saul memburunya. Jika memang Tuhan yang memerintahkan hal itu, Daud akan datang dan bertobat. Jika manusia yang menyuruhnya, Daud mendoakan agar orang itu dikutuk Tuhan (Ayat 19). Pernyataan Daud membuat Saul menyesal. Saul berjanji akan menghentikan tindakannya (Ayat 21). Daud pun mengembalikan tombak dan kendi Saul.

    Daud memercayai bahwa pemimpin datang dari Tuhan. Jika pemimpin melakukan hal yang buruk, Tuhan yang akan bertindak. Keyakinan Daud ini membuatnya menghargai Saul sekalipun sikap Saul terhadapnya buruk dan menyakitkan.

    Sahabat, di tengah kehidupan yang cenderung tidak menghargai pemimpin, kita diingatkan untuk menaruh hormat kepada pemimpin. Sikap hormat bukan berarti asal bapak senang. Kritik tetap boleh dilakukan asal semuanya disampaikan dengan sikap hormat. Tuhan telah mengizinkan keberadaan sosok tertentu sebagai pemimpin dalam hidup kita. Mari kita menghormati orang yang diurapi. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 23?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan mempunyai cara dan waktu sendri untuk menolong kita. Bersabarlah! (pg).

  • Kesabaran Mendatangkan Kebaikan

    KESABARAN. Sahabat, ketika segala sesuatu berjalan sesuai dengan rencana, kesabaran adalah hal yang mudah untuk dilakukan. Ujian sejati dari kesabaran terjadi ketika hak-hak kita dilanggar;  ketika mobil lain memotong jalur kita di jalanan; ketika kita diperlakukan tidak adil; ketika rekan kerja kita mengejek iman kita, dan sebagainya.

    Ketidaksabaran tampak seperti kemarahan yang kudus. Alkitab menyatakan kesabaran sebagai salah satu dari buah Roh (Galatia  5:22) yang harus dihasilkan oleh semua orang percaya  (1 Tesalonika 5:14). Kesabaran merupakan bentuk perwujudan iman kita terhadap waktu, kemahakuasaan, dan kasih Allah.

    Kesabaran itu tidak bisa dibangun dalam semalam. Kuasa dan kebaikan Allah sangat penting dalam membangun kesabaran. Surat Kolose 1:11 menyatakan bahwa kita dikuatkan oleh-Nya untuk menanggung segala sesuatu dengan tekun dan sabar. Sedangkan surat Yakobus 1:3-4 menguatkan kita untuk tahu bahwa pencobaan adalah cara yang Dia gunakan untuk menyempurnakan kesabaran kita.

    Sahabat, di dalam Alkitab, kita melihat banyak contoh dari perjalanan hidup tokoh-tokoh Alkitab dengan Allah ditandai dengan kesabaran. Yakobus mengingatkan kita akan nabi-nabi yang merupakan teladan penderitaan dan kesabaran (Yakobus 5:10). Dia juga mengingatkan kita mengenai Ayub, yang ketekunannya dihargai dengan apa yang pada akhirnya disediakan Tuhan baginya (Yakobus 5:11). 

    Abraham juga, menunggu dengan sabar dan memperoleh apa yang dijanjikan kepadanya (Ibrani  6:15). Yesus adalah teladan kita dalam segala hal. Dia menunjukkan kesabaran  dengan mengabaikan kehinaan, tekun memikul salib ganti sukacita yang disediakan bagi Dia, yang sekarang duduk di sebelah kanan takhta Allah (Ibrani 12:2).

    Hari ini kita akan membaca dan merenungkan 2 Samuel 16:5-16 dengan penekanan pada ayat 12. Sahabat, seorang polisi mengalami peristiwa tidak menyenangkan ketika ia menghentikan seorang perempuan bermobil yang melakukan pelanggaran. Ia memberikan surat tilang, tetapi perempuan itu mengamuk, mulai mencakar dan memukul sambil melontarkan perkataan kasar. Hebatnya, polisi itu bergeming. Ia hanya berupaya menghindari pukulan itu tanpa membela diri. Kesabarannya itu mengundang banyak simpati. Akhirnya ia diberi penghargaan oleh Kapolda Metro Jaya.

    Daud pun pernah mendapatkan perlakuan serupa ketika ia dan para pengikutnya melarikan diri dari usaha kudeta Absalom. Di tengah jalan, Simei, yang termasuk salah seorang keluarga Saul, datang dan melempari rombongan Daud dengan batu serta mengucapkan kata-kata kutuk. Abisai, salah seorang pengikut Daud, bereaksi dan meminta izin untuk memenggal kepala Simei. Daud bereaksi sebaliknya. Alih-alih memberi izin, ia justru menegur Abisai dan membiarkan Simei terus mengutuk. Dan Daud menunjukkan kesabarannya dengan perkataan: “Mungkin TUHAN akan memperhatikan kesengsaraanku ini dan membalas yang baik kepadaku sebagai ganti kutuk orang itu pada hari ini.” (Ayat 12). Daud yakin kesabaran mendatangkan kebaikan.

    Sahabat, memang tindak kebenaran yang kita lakukan tidak selalu membuahkan hal yang baik untuk kita. Kadang-kadang kita justru menerima perlakuan yang buruk. Namun, Tuhan bisa memakai situasi itu untuk menguji hati kita. Setiap perlakuan buruk sesungguhnya menguji kualitas hati kita dan menjadikan kita semakin dewasa secara rohani.  Menjadikan kita semakin sabar. Kesabaran mendatangkan kebaikan.  Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang ayat 12?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sabar adalah kesadaran bahwa kita percaya kepada Tuhan yang Mahakuasa dan yang Mahatahu akan segala sesuatu. (pg).
       

  • SOLA SCRIPTURA

    Saudaraku, 31 Oktober 1517, Martin Luther menulis 95 tesis tentang ketidakbenaran ajaran Gereja (saat itu) dan menempelkannya di pintu gereja di Wittenberg, ternyata kemudian menggerakan banyak Reformator di negara-negara lain untuk meluruskan ajaran dan tradisi Gereja.

    Martin Luther (Jerman): Pelopor Reformasi, mempercepat gerakan Reformasi dengan mengkritik teologi dan praktik Gereja Katolik Roma. John Calvin (Perancis, pindah ke Swiss): Mengajarkan ajaran teologi Kristen yang dikenal sebagai Calvinisme, yang kemudian disebut sebagai Protestan. Huldrych Zwingli: Pastor asal Swiss mengadakan Reformasi Gereja Swiss pada 1523, antara lain tidak setuju dengan tradisi-tradisi yang ditetapkan Gereja dalam menyambut perayaan gerejani.

    Penerjemahan Alkitab ke bahasa Swiss menimbulkan Gerakan Anabaptis yang menganjurkan baptisan orang dewasa dan menolak baptisan anak, dan yang sudah terlanjur dibaptis saat anak-anak dianjurkan untuk dibaptis ulang atau ana baptize dalam bahasa Yunani.

    Para Reformator mendorong penerjemahan Alkitab dari bahasa latin ke bahasa setempat membuat masyarakat luas bisa membaca langsung Alkitab. Juga saat itu Johannes Gutenberg menemukan mesin cetak, yang digunakan untuk mencetak buku Alkitab dan juga mencetak naskah-naskah ajaran para Reformator.

    Reformator lainnya di Ingris yakni William Tyndale (1492-1536), seorang sarjana dan teolog yang dikenal menerjemahkan Alkitab Perjanjian Baru dari bahasa Latin ke dalam bahasa Inggris. Hal ini membuat Alkitab dapat dibaca oleh masyarakat luas, yang sebelumnya mengandalkan pendeta untuk menafsirkan Alkitab. Upaya Tyndale dianggap radikal, dan ia menghadapi tekanan dari otoritas Gereja, karena rakyat dapat mengetahui ajaran-ajaran rohaniwan yang tidak sesuai Alkitab.

    Pada bulan Oktober 1528 William Tyndale menuliskan buku: “The Obedience of a Christian Man”, isinya antara lain mendukung gagasan bahwa kedudukan Raja Inggris harus menjadi kepala gereja di Inggris, karena otoritas gereja diatur oleh Kepausan Roma, juga Tyndale mengkritik kondisi gereja sebagai berikut:

    “Betapa hebatnya pekerjaan para pendeta. Mereka menginginkan uang untuk segala hal: Uang untuk pembaptisan, uang untuk kebaktian gereja, untuk pernikahan, untuk penguburan, untuk patung, persaudaraan, penebusan dosa, misa untuk jiwa, lonceng, (alat musik) organ, piala, jubah, jubah tambahan, kendi, dan segala macam ornamen. Domba yang malang! Pendeta menggunting, pendeta mencukur, pendeta paroki mencukur, biarawan menggaruk, penjual surat pengampunan dosa… yang Anda inginkan hanyalah seorang tukang daging menguliti Anda dan mengambil kulit Anda.”

    Karena tulisan tersebut akhirnya Tyndale dituduh mengajarkan ajaran sesat, dia pada tahun 1535 melarikan diri ke Belgia, tempat  ia ditangkap dan dipenjara selama lebih dari setahun, dihukum karena ajaran sesat, dieksekusi dengan cara dicekik, setelah itu tubuhnya dibakar di tiang pancang. Doa terakhirnya adalah agar mata Raja Inggris dibukakan. Ironisnya, doa Tyndale terpenuhi ketika satu tahun setelah kematiannya, Raja Henry VIII mengesahkan penerbitan Alkitab Matius dalam bahasa Inggris, yang sebagian besar merupakan terjemahan Tyndale.

    Pada tahun 1611, Raja James I dari Inggris mengesahkan apa yang kemudian dikenal sebagai Alkitab King James Version (KJV). Sebanyak 47 sarjana yang menerjemahkan Alkitab ke dalam bahasa Inggris, mengambil banyak hal dari karya asli Tyndale. Para sarjana Alkitab memperkirakan bahwa Perjanjian Baru King James Version mengandung 83 persen terjemahan Tyndale dan Perjanjian Lama mengandung 76 persen.

    Saudaraku, ajaran Reformasi Sola Scriptura adalah ajaran yang menyatakan bahwa Alkitab adalah satu-satunya sumber kebenaran dan otoritas tertinggi dalam kehidupan dan pengajaran manusia. Penerjemahan Alkitab dari bahasa Latin ke bahasa-bahasa lokal setempat membuat masyarakat mengetahui apa yang ditulis dalam Alkitab, dan bisa mengetahui ajaran-ajaran rohaniwan yang merupakan tafsiran sendiri atau yang menyimpang.

    Hari ini buku Alkitab sudah banyak dipindahkan ke dalam bentuk digital, hampir selalu ada di dalam handphone Saudara semua. Namun Alkitab apps ini bersanding bersama puluhan apps seperti Whatsapp, TikTok, YouTube, X/Twitter, Shopee, Tokopedia, Gojek, OVO, termasuk bermacam game seperti Mobile Legend. Ironisnya, sementara Hamba Tuhan menyampaikan Firman Tuhan dari mimbar, banyak jemaatnya yang menunduk dan membuka berbagai apps, bahkan ada yang membeli baju, sandal, dll saat itu menggunakan apps.

    ALKITAB SUDAH MEMILIKI SAINGIN SENDIRI DI ZAMAN INI. yakni puluhan apps di handphone, yang siap-siap membawa Saudara ke dunia sekuler atau bahkan ke dunia sesat. Waspadalah dan Berjaga-jagalah. Waspadalah! Waspadalah! (Surhert).

  • Tune Up Kesehatan Emosional Keluarga:Menciptakan Atmosfer Damai di Rumah

    Saudaraku, keluarga di masa kini menghadapi berbagai tantangan yang dapat menggerogoti kesehatan emosional. Kegelisahan akibat kesibukan yang tiada henti, masalah finansial, dan komunikasi yang kurang baik sering kali membuat rumah terasa tidak aman. Sayangnya, tidak sedikit yang akhirnya menyerah, beberapa memilih berpisah, sementara yang lain menghadapi tragedi bunuh diri. 

    Ketika kita membaca berita tentang seorang remaja yang mengakhiri hidupnya karena merasa tidak didengarkan, atau seorang ayah yang pergi karena merasa gagal memenuhi harapan, kita diingatkan akan pentingnya perhatian terhadap kesehatan emosional di dalam keluarga.

    Di balik DINDING RUMAH  yang tampak TENANG, sering kali tersembunyi BADAI yang dapat menghancurkan ikatan keluarga. Dalam banyak kasus, kurangnya komunikasi menjadi salah satu akar masalah. 

    Banyak keluarga tidak menyadari bahwa kata-kata yang tidak hati-hati dapat menciptakan jarak yang sulit untuk dijembatani. Dalam konteks ini, Yakobus 1:19-20 menjadi pengingat penting bagi kita: “Setiap orang hendaklah cepat untuk mendengar, tetapi lambat untuk berkata-kata, dan juga lambat untuk marah; sebab amarah manusia tidak mengerjakan kebenaran di hadapan Allah.” 

    Ayat tersebut menyoroti pentingnya pengendalian diri dalam komunikasi. Jika kita cepat marah dan lambat mendengarkan, kita berisiko merusak hubungan yang seharusnya penuh kasih.

    Kesehatan emosional dalam keluarga tidak hanya tentang bagaimana kita berinteraksi saat segalanya berjalan baik, tetapi juga bagaimana kita berhadapan dengan KONFLIK. Seringkali, saat EMOSI MELUAP, kata-kata yang keluar adalah SENJATA  yang MELUKAI bukan JEMBATAN  yang MENYATAKUKAN. 

    Di sinilah pentingnya MENDENGARKAN, bukan hanya dengan TELINGA, tetapi juga dengan HATI. Ketika kita berusaha memahami emosi dan kebutuhan di balik kata-kata, kita dapat menciptakan ruang di mana setiap anggota keluarga MERASA DIHARGAI. 

    Namun, mendengarkan saja tidak cukup. Ketika terjadi konflik, kita juga perlu melatih diri untuk LAMBAT  dalam BERBICARA. Mengambil waktu sejenak untuk TENANG  dan BERPIKIR,  sebelum merespons adalah langkah penting dalam menjaga KESEHATAN EMOSIONAL.  Ada KEKUATAN  dalam KEHENINGAN; kadang-kadang, menunggu untuk berbicara adalah bentuk KASIH yang TERBESAR.  Ini adalah saat kita dapat merenungkan kata-kata yang akan diucapkan, memastikan bahwa mereka MEMBANGUN, bukan MERUSAK. 

    Kesehatan emosional juga berkaitan erat dengan kasih. Kasih yang tulus menciptakan suasana di mana setiap anggota keluarga merasa aman dan diterima. Kolose 3:12-14 mengingatkan kita untuk mengenakan: “… belas kasihan, kemurahan, kerendahan hati, kelemahlembutan, dan kesabaran, … Dan di atas semuanya itu: kenakanlah kasih, sebagai pengikat yang mempersatukan dan menyempurnakan.” 

    KASIH bukan hanya tentang perasaan; itu tentang TINDAKAN NYATA, Kasih itu terlihat dalam sikap SALING MENGAMPUNI, kesediaan untuk MENDENGARKAN, dan kemampuan untuk MEMBERI DUKUNGAN  di saat-saat sulit.

    Apa yang dapat kita lakukan untuk menciptakan atmosfer damai di rumah? Mulailah dengan doa bersama, mengundang Tuhan untuk hadir dalam setiap interaksi. Sediakan waktu khusus untuk berkumpul, tanpa gangguan dari gadget, sehingga semua orang dapat saling berbagi. 

    Saat konflik muncul, cobalah untuk tenang sejenak sebelum merespons, dan fokuslah pada SOLUSI, bukan pada MASALAH. Dengan mengenakan kasih dan berkomitmen untuk mendengarkan, kita dapat menciptakan rumah yang penuh damai. Ketika kita menyelaraskan hati dengan ajaran Kristus, damai sejahtera yang melampaui segala akal akan memerintah di dalam keluarga kita. 

    Saudaraku, mari kita bersama-sama berusaha untuk menciptakan RUANG   di mana setiap anggota keluarga dapat pulang dengan hati yang penuh damai, di mana kasih menjadi pengikat utama dan KESEHATAN  EMOSIONAL  menjadi FONDASI  yang KUAT  bagi IKATAN KELUARGA  kita. (EBWR).

  • God Has Healed Me

    MAZMUR 41. Sahabat, memamg penderitaan karena sakit penyakit dan pengkhianatan orang  terdekat merupakan dua penderitaan yang tidak mudah kita terima dan jalani. Dalam Mazmur 41 Daud mengalami keduanya secara bersamaan.

    Mazmur 41 merupakan penutup dari buku I (pasal 1-41) kitab Mazmur. Mazmur 1 membuka dan Mazmur 41 menutup dengan frasa “Berbahagialah orang yang …” (1:1; 41:2). Mazmur 41 menyimpulkan buku yang berisikan aneka ragam doa dengan pelajaran hikmat.

    Sahabat, Daud mulai mengajar dengan pernyataan, “Berbahagialah orang yang memperhatikan orang lemah” (Ayat 2-a). Orang seperti itu akan mengalami dipedulikan Tuhan saat ia sendiri lemah (Ayat 1b-3). Daud memakai contoh dirinya (Ayat 5-10). Ia pernah sakit karena berdosa kepada Tuhan. Sakitnya sangat parah sehingga banyak orang percaya ia tidak akan sembuh. 

    Orang-orang yang membenci dia akan memanfaatkan situasi sakitnya untuk menekan dia. Mereka menggosipkan dirinya bahwa Tuhan telah meninggalkannya, maka ia pasti akan mati. Teman dekatnya ikut-ikutan menghujat. Tak ada yang percaya dia akan sembuh dari sakitnya.

    Daud mengalami hal itu saat orang datang menjenguknya, tetapi hati mereka penuh dusta dan kejahatan (Ayat 7-9). Ia ungkapkan perasaan itu lewat kalimat, “Bahkan sahabat karibku yang kupercayai, yang makan rotiku, telah mengangkat tumitnya terhadap aku” (Ayat 10). Mereka mengira Daud tidak akan selamat dari sakit jasmaninya (Ayat 9) dan tidak akan bangkit lagi, karena kejahatan dan pengkhianatan yang dialaminya (Ayat 6). Tidak demikian yang terjadi, meski situasi hidupnya belum berubah.

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: God Has Healed Me (Tuhan Telah Menyembuhkan Aku)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 41:1-14. Sahabat, tidak ada seorang pun di dunia ini yang kebal terhadap penyakit. Kita semua pernah mengalaminya. Sejak bayi hingga menjadi tua, tidak terhitung banyaknya penyakit yang pernah kita alami, dari penyakit ringan, seperti flu sampai penyakit berat dan kronis, seperti kanker. 

    Cara dan sikap orang-orang pun berbeda dalam menghadapi penyakit. Ada yang menganggapnya biasa; ada yang berjuang untuk sembuh; tetapi ada juga yang pasrah.

    Dalam bacaan kita pada hari ini, Pemazmur juga sedang sakit. Entah penyakit apa, namun tampaknya bukanlah penyakit ringan. Parahnya, orang-orang justru menginginkan kematiannya dari penyakit itu (Ayat 6). 

    Para pembencinya menyusun rencana jahat terhadapnya (Ayat 8), bahkan sahabat karibnya menghina dan melawannya (Ayat 10). Pemazmur merasakan dan mengakui bahwa penyakitnya begitu berat (Ayat 9).

    Bagaimana sikap Pemazmur dan caranya menghadapi penyakit? Ia tidak mengingkari bahwa dirinya sedang sakit dan butuh pertolongan. Namun mula-mula, ia menyerukan dirinya untuk berbahagia (Ayat 2). Karena, ia percaya Tuhan pasti akan melindungi, memelihara nyawanya (Ayat 3), dan menyembuhkan penyakitnya (Ayat 4). 

    Lalu dengan jujur, ia mengakui dosanya dan memohon belas kasihan Tuhan (Ayat 5). Ia menutup mazmurnya dengan pujian kepada Allah (Ayat 14) seolah-olah ALLAH TELAH MENYEMBUHKANNYA.

    Sahabat, adakah hari ini diantara kita yang sedang menderita sakit penyakit? Berat maupun ringan, tetap saja itu sangat mengganggu aktivitas kita. Kita menjadi tidak bisa maksimal melakukan apa pun. Untungnya, Tuhan memberi kita akal budi sehingga dengan begitu kita berusaha untuk sembuh. 

    Caranya bisa dengan menemui dokter, meminum obat, dan beristirahat. Tuhan juga memberi kita iman. Dengan iman inilah, kita percaya bahwa hanya dengan campur tangan Tuhan kita dapat sembuh. Dokter dan obat hanyalah alat di tangan-Nya untuk menyembuhkan kita. Yang paling penting kita percaya: Tuhan telah menyembuhkan aku. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 8-9?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jalanilah hidup dalam ketulusan dan kepercayaan kepada Tuhan, maka Ia akan menegakkan langkah kaki kita. (pg).

  • Apakah Anda Orang Sukses?

    ORANG SUKSES. Sahabat, Maya Angelou, seorang penulis,  mengatakan bahwa definisi sukses adalah ketika seseorang menyukai dirinya, menyukai apa yang dia lakukan, dan menyukai pekerjaannya.

    Kata sukses pasti terdengar menyenangkan bagi sebagian besar orang karena itu merupakan tujuan hidup mereka. Makna sukses tidak hanya berarti orang dengan banyak uang, pekerjaan mumpuni, dan strata sosial yang tinggi. Secara harfiah, kata sukses memiliki arti berhasil dalam berbagai aspek. Bisa dibilang, sukses adalah sebuah keberhasilan, terlepas apa pun keberhasilan itu.

    Lalu bagaimana orang sukses itu? Mungkin mereka adalah seseorang  yang ambisius dan kompeten? Atau mungkin seseorang yang selalu memikirkan bisnis dan apatis? Mungkin sifat-sifat tadi tampak berperan dalam kesuksesan seseorang.

    Lebih dari itu, ada karakter yang menjadi pertimbangan dan dorongan kuat dibalik kesuksesan seseorang. Lalu bagaimana cara kita mendefinisikan kesuksesan diri kita sendiri? Apakah dengan pendapatan yang besar, tinggal di rumah mewah, atau mengendarai mobil keluaran terbaru? 

    Konsep kesuksesan setiap orang tentu berbeda-beda. Kesuksesan adalah sesuatu hal yang ingin dicapai oleh seseorang. Bisa jadi sukses adalah hal yang sangat membanggakan sekaligus menggembirakan. Bertumbuh sambil mendengarkan cerita dari orang-orang yang sukses membuat kita bermimpi untuk menjadi seperti mereka suatu hari nanti. Kadang  mimpi itu mulai memudar ketika kita dihadapkan dengan kenyataan hidup yang keras.

    Sahabat, intinya, tidak ada jalan yang mudah untuk meraih kesuksesan. Kualitas orang-orang yang sukses tampaknya memiliki beberapa ciri khas yang sama, seperti bekerja keras, kompeten, fokus, dan memiliki tekad dan usaha untuk mencapai tujuan yang ditargetkan. 

    Hari ini kita akan membaca dan merenungkan 2 Raja-raja 21:1-26. Sahabat, raja Manasye menggantikan Hizkia, ayahnya, dan berkuasa selama 55 tahun, hampir dua kali lipat masa kekuasaan Hizkia. Dari lamanya berkuasa, tampaknya Manasye jauh lebih berhasil daripada ayahnya yang setia kepada Allah. Apakah kalau begitu raja Manasye tergolong orang sukses?

    Bacaan kita pada hari ini  menggambarkan Manasye sebagai raja yang jahat yang menyembah Baal dan Asyera (Ayat 3, 7). Pada zaman kuno, penyembahan ilah lain selalu berhubungan dengan politik dan pengaruh kerajaan lain, dalam hal ini Asyur. Justru karena takluk pada Kerajaan Asyur, masa kekuasaan Manasye menjadi yang terpanjang dalam sejarah Yehuda. Manuver raja Manasye tersebut tentu mendukakan hati Tuhan.

    Maka vonis yang disampaikan nabi sangat jelas. Karena dosa dan kejahatannya, Allah membulatkan hati untuk menghancurkan Yerusalem dan Yehuda (Ayat 10-16). Manasye termasuk sebagai raja yang paling jahat dalam sejarah Yehuda. Bahkan, seluruh kehancuran Yehuda dijelaskan Alkitab sebagai akibat dosa Manasye (2 Raja-raja 24:3). Jadi, kadang apa yang dipandang dunia sebagai kesuksesan, justru dipandang Allah sebagai kejahatan.

    Sahabat, suara nabi menusuk ke dalam realitas kehidupan. Harta dan kekuasaan, itulah yang dikejar Manasye. Dalam  standar manusia pada umumnya, raja Manasye tampak sebagai orang sukses. Takhta dan kekuasaannya berjaya selama puluhan tahun. Dunia melihat itu sebagai hasil permainan politik yang sangat licin dan hebat, namun, suara nabi mengungkap ujung kematian dan kehancuran untuk raja Manasye dan Yehuda.

    Apakah Sahabat orang sukses? Ada cukup banyak orang percaya yang berpendapat bahwa orang percaya itu tandanya adalah menjadi orang sukses. Pola pikir dunia dengan Alkitab soal kesuksesan sangat jauh berbeda.  

    Sahabat, sebagai murid Yesus, kita difokuskan untuk mengejar sesuatu yang kekal, bukan yang fana. Hidup itu berbicara soal penyerahan hak kepada Tuhan. Mengikut Tuhan memang sulit, upahnya juga kadang tidak terlihat kasatmata. Tapi percayalah, saat kita ikut Tuhan ukuran kesuksesan kita bukanlah materi, tapi kebahagiaan saat kita bisa melakukan kehendak Tuhan. Doa kita bukan semoga kita sukses, tapi SEMOGA KITA BERBUAH. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4 dan 7?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sukses  adalah saat kita melakukan kehendak Tuhan dan hidup dalam panggilan-Nya. (pg).