Category: Sejenak Merenung

  • Rendah Hati

    RENDAH HATI. Sahabat, menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), rendah hati adalah kata sifat yang berarti tidak sombong atau tidak angkuh. Secara umum arti rendah hati adalah orang yang memiliki sifat baik hati, suka menolong dan juga peduli terhadap sesama.

    Dikutip dari buku “Pengembangan Karakter untuk Anak” oleh John Garmo, kerendahan hati adalah kualitas karakter yang sengaja menempatkan diri pada kondisi yang lebih rendah. Dengan demikian, kita bisa memberikan penghargaan kualitas yang lebih kepada orang lain.

    Kata kerendahan hati (humility) berasal dari bahasa latin humalitas yang berarti garis terendah atau sikap tunduk. Sikap ini bisa kita dapatkan dengan cara berlatih dan terus belajar.

    Sahabat, menjadi rendah hati adalah mengenali dengan penuh syukur kebergantungan kita kepada Tuhan. Menyadari bahwa kita memiliki kebutuhan tetap akan dukungan Tuhan. Kerendahan hati adalah suatu pengakuan bahwa bakat-bakat dan kemampuan kita adalah karunia dari Tuhan.  Hal itu bukan tanda kelemahan, rasa malu, atau minder; itu merupakan pertanda bahwa kita mengetahui di mana letak kekuatan sejati. Kita dapat menjadi rendah hati dan tidak takut. Kita dapat menjadi rendah hati serta berani.

    Yesus Kristus adalah teladan kerendahan hati terbesar. Selama pelayanan-Nya di dunia,  Dia senantiasa mengenali bahwa kekuatan-Nya datang karena kebergantungan-Nya kepada Bapa-Nya. Dia berfirman: “Aku tidak dapat berbuat apa-apa dari diri-Ku sendiri; …  Aku tidak menuruti kehendak-Ku sendiri, melainkan kehendak Dia yang mengutus Aku” (Yohanes 5:30).

    Tuhan akan menguatkan kita sewaktu kita merendahkan diri di hadapan-Nya. Yakobus mengingatkan:  “Allah menentang orang congkak, tetapi mengasihani orang yang rendah hati. Rendahkanlah dirimu di hadapan Tuhan, dan Ia akan meninggikan kamu” (Yakobus 4:6, 10).

    Mari kita membaca dan merenungkan Zefanya 2:1-3. Sahabat, saat ini, sikap individualistis terasa sangat kuat, banyak orang cenderung mengutamakan kepentingan pribadinya daripada kepentingan bersama. Keinginan untuk diakui, lebih kuat daripada keinginan untuk hidup bersama sebagai manusia yang setara. 

    Untuk mencapai hal tersebut, orang lain tidak lagi dipandang sebagai subyek yang juga patut untuk dihargai. Hidup yang demikian tentu tidak akan membawa ketenangan, tetapi justru kerisauan yang tidak berkesudahan. 

    Kepada umat-Nya, nabi Zefanya menyerukan ajakan untuk bertobat. Uniknya, ajakannya itu diserukan kepada orang-orang yang rendah hati. Hal ini tentu bukan tanpa maksud, tetapi karena hanya orang-orang yang rendah hati sajalah yang dapat melihat kesalahan dan kekurangannya, sehingga mereka akan selalu mencari Tuhan dan mengarahkan hidupnya hanya kepada Tuhan. 

    Di sisi yang lain, nabi Zefanya juga menunjukkan, bahwa hanya orang-orang yang rendah hatilah yang dapat menemukan jalan menuju kehidupan yang sejati, yakni dengan senantiasa mengupayakan keadilan bagi sesama. Dengan demikian, maka Allah akan melindungi mereka, serta membebaskan mereka dari hukuman-Nya. 

    Sahabat, nabi Zefanya mengajarkan bahwa dengan bersikap rendah hati, maka kita akan menjadi pribadi yang bijaksana. Artinya, kita dapat melihat dengan mata terbuka bahwa kita hanyalah manusia yang kecil, sehingga kita dapat menjalani kehidupan yang sejati dengan senantiasa berserah kepada Tuhan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang rendah hati?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hanya orang yang rendah hati yang dapat menemukan hidup yang sejati. (pg).

  • SOLA GRATIA

    Saudaraku, Sola Gratia merupakan salah satu ajaran Reformasi yang dipelopori oleh Martin Luther tahun 1517. Sola Gratia artinya grace alone, hanya anugerah. Ini berarti sebagai orang Kristen kita percaya bahwa keselamatan dan pembenaran yang kita peroleh semata-mata hanya karena anugerah Tuhan, itu bukan merupakan upah atas hasil usaha atau kerja keras kita di dalam melakukan perbuatan baik.

    Tapi di lain pihak ada yang mengajarkan bahwa ketika melakukan perbuatan baik maka kita akan mendapatkan balasannya, karena Tuhan melihat apa yang kita lakukan, jadi Tuhan akan membalas perbuatan kita. Ini seperti orang menabur, kalau benih yang ditabur jatuh di batu atau kumpulan tanaman berduri, ya buah tidak akan timbul, tapi kalau jatuh di lahan yang tepat, akan tumbuh 30 kali lipat, bahkan 100 kali lipat.

    Ajaran tabur dan tuai ini sedikit banyak terpengaruh oleh ajaran tentang hukum karma, yakni hukum perbuatan sebab-akibat yang tidak mungkin keliru. Jika kita sedang melakukan suatu perbuatan baik, maka pada saat yang sama kita akan mendapatkan balasan yang setimpal atau bahkan lebih besar.

    Tapi jika mendapatkan balasan atau kondisi yang tidak menguntungkan, ya anggap saja seperti kita sedang menanam pohon kelapa, pisang, dan sayur-sayuran bersamaan, masing-masing pohon akan menghasilkan buah yang berbeda pada waktu yang berbeda-beda pula. Namun suatu waktu ketika memetik buah-buahan dan sayuran tersebut ternyata mendapatkan hasil yang lain, seperti kita berharap mendapatkan balasan sebesar pohon kelapa atau setandan buah pisang, tapi kenyataannya hanya mendapatkan segenggam sayur buncis.

    Jadi, jika hukum tabur tuai tidak selalu tepat, jangan terlalu kecewa, yang penting kita tetap mempertahankan konsistensi untuk berbuat kebaikan meskipun dalam kondisi yang sulit dan tertekan, karena pada saatnya kita akan mendapatkan buah pohon kelapa. 

    Mengapa tetap berharap pada hukum tabur-tuai yang tidak pasti? Hukum sebab akibat, karena setiap tindakan yang dilakukan akan menghasilkan akibat yang sebanding. Kartu skor kehidupan, dengan adanya tabur-tuai akan menentukan kualitas hidup seseorang dan mendapatkan nilai atau skor. Perbuatan baik dan buruk, karena tindakan yang baik akan menghasilkan tuaian yang baik, sedangkan tindakan yang buruk akan menghasilkan tuaian yang buruk.

    Perbedaan mental, intelektual, moral, watak, baik buruk, kaya, miskin, sehat, sakit, dan perbedaan lainnya dalam kehidupan manusia disebabkan oleh perbuatan baik atau buruk yang telah dilakukan.

    Sola Gratia berarti “hanya oleh anugerah”.Ajaran ini menekankan bahwa keselamatan manusia didasarkan pada kasih karunia Allah, bukan pada perbuatan baik atau kesalehan khusus. Bahkan kita melihat Yesus yang sepanjang hidupnya di bumi senantiasa melakukan perbuatan yang baik menolong orang-orang yang sakit, lemah tubuh, disingkirkan masyarakat, bahkan Yesus ditolak oleh orang-orang Yahudi dan akhirnya mati disalibkan. Jadi Tuhan Yesus meskipun senantiasa menabur kebaikan malahan menuai penderitaan.

    Coba kita simak Yesaya 53:5:  “Tetapi dia tertikam oleh karena pemberontakan kita, dia diremukkan oleh karena kejahatan kita; ganjaran yang mendatangkan keselamatan bagi kita ditimpakan kepadanya, dan oleh bilur-bilurnya kita menjadi sembuh.”

    Namun justru melalui pengorbanan di kayu salib, orang-orang yang percaya pada Tuhan Yesus akan mendapatkan pengampunan dosa dan akhirnya mendapatkan kehidupan kekal. Anugerah atas pengampunan dosa dan kehidupan kekal ini diberikan secara cuma-cuma pada siapa pun yang memiliki iman untuk percaya pada anugerah keselamatan.

    Sola Gratia menyatakan bahwa keselamatan adalah anugerah ilahi yang tidak layak diterima manusia, bukan sesuatu yang pantas atau diusahakan oleh pendosa. Keselamatan ini diperhitungkan sebagai kemurahan hati Allah yang dibagikan kepada siapa pun. 

    Belas kasih Tuhan kepada manusia terjadi semata-mata karena anugerah, sehingga manusia tidak dapat mengklaim keselamatan kekal melalui perbuatan baik maupun oleh kesalehan khusus. 

    Bagaimana kita memiliki iman untuk percaya pada anugerah keselamatan agar memperoleh anugerah Allah secara cuma-cuma? Coba kita simak dan hayatiRoma 10:17:  “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.”

    Saudara, tugas kita semua untuk mengabarkan Firman Kristus, agar dapat didengar oleh semua orang yang belum mengenal Tuhan Yesus, supaya mereka boleh menerima anugerah keselamatan dari Tuhan, bukan atas upaya jerih lelah perbuatan mereka sendiri. (Surhert).

  • JOHN CALVIN

    Saudaraku, menjelang Hari Reformasi 31 Oktober, kita mengingat kembali John Calvin, yang menuliskan buku yang menentukan Reformasi dan menjadi pilar teologi Protestan. John Calvin atau Yohanes Calvin, 10 Juli 1509 – 27 Mei 1564 adalah seorang teolog, pendeta, dan reformis  Perancis yang tinggal di Geneve Swiss selama Reformasi Protestan. Ia adalah tokoh utama dalam pengembangan sistem teologi Kristen yang kemudian disebut Calvinisme.

    Calvin menerbitkan lima edisi Latin Institutes of the Christian Religion, yang dikenal sebagai Institutio Christianae Religionis, yang dipandang sebagai karya teologi paling berpengaruh sepanjang masa:

    Tahun 1536: Edisi Latin pertama diterbitkan saat Calvin berusia 26 tahun dan panjangnya hanya enam bab.

    Tahun 1539: Edisi kedua isinya tiga kali lebih panjang dari yang pertama, dengan 17 bab tambahan.

    Tahun 1543: Calvin menambahkan banyak tulisan lagi dan memperdalam bab tentang Pengakuan Iman para Rasul.

    Tahun 1550: Hanya beberapa perubahan kecil ditambahkan ke buku.

    Tahun 1559: Edisi terakhir Institutio, isinya sekitar 80% lebih banyak dari edisi sebelumnya, terdiri dari empat buku dengan 80 bab.

    Pemikiran John Calvin tentang hubungan antara doa dan iman ada dalam Institutio edisi pertama tahun 1536, membahas topik-topik doa: Hubungan antara doa dan iman, Perlunya dan manfaat doa, Aturan-aturan untuk berdoa, Jenis-jenis doa, dan Kejadian-kejadian yang tidak disengaja dalam doa. Secara ringkas isinya:

    Doa adalah latihan iman yang utama. Calvin percaya bahwa doa adalah cara utama untuk menjalani kehidupan beriman dan menunjukkan kerendahan hati di hadapan Tuhan.

    Berdoa adalah kewajiban. Calvin percaya bahwa Allah memerintahkan manusia untuk berdoa, dan bahwa doa merupakan disiplin rohani yang penting dalam kehidupan Kristen.

    Doa adalah cara untuk mengungkapkan kasih. Calvin percaya bahwa doa syafaat adalah cara yang ampuh untuk mengungkapkan kasih kepada orang lain.

    Doa adalah cara untuk menemukan rencana Tuhan. Calvin percaya bahwa doa adalah cara untuk menemukan apa yang telah direncanakan Tuhan bagi manusia, dan untuk merasakan penghiburan yang datang dari Tuhan.

    Doa adalah pergumulan antara iman dan kesalahan. Calvin percaya bahwa bahkan doa orang yang paling taat pun merupakan pergumulan antara iman dan pengakuan dosa yang telah dilakukan.

    Maka cukuplah untuk mengatakan, bahwa permulaan doa yang benar timbul dari iman, dan bahwa iman timbul dari pendengaran akan firman Allah. Calvin menyebutkan:

    Berdoalah dengan harapan yang pasti. Calvin percaya bahwa Tuhan menjawab doa, dan bahwa orang Kristen harus dikuatkan oleh harapan ini.

    Berdoalah dalam nama Yesus. Calvin percaya bahwa Yesus adalah perantara dan penengah kita, dan bahwa kita harus berdoa dalam nama-Nya.

    Doa adalah saluran yang melaluinya kasih Tuhan dan kasih kita kepada Tuhan mengalir bolak-balik. Calvin percaya bahwa ketika kita gagal berdoa, kita kehilangan comfort atau penghiburan/kenyamanan hati dan pikiran, yang dapat datang dari doa.

    Calvin juga menuliskan: Mengapa kita HARUS BERDOA? 

    Tuhan mengajarkan kita untuk berdoa, itu bukan untuk kepentingan Tuhan melainkan demi kita. Tuhan menghendaki, agar kita mengakui bahwa semua yang diinginkan atau dirasakan manusia sebagai berguna, mesti didoakan agar dapat diperoleh, dan hanya berasal dari-Nya. Jadi meskipun kita dalam kondisi lemah, Tuhan tetap bangun dan memerhatikan kita, dan kadang bahkan menolong kita tanpa diminta. Sangatlah penting bagi kita untuk terus memohon kepada-Nya:

    Pertama, agar hati kita selalu berkobar dengan keinginan yang sungguh-sungguh dan berkobar untuk mencari, mengasihi, dan melayani-Nya.

    Kedua, agar kita belajar untuk menempatkan semua keinginan kita di hadapan-Nya dan dengan demikian mencurahkan isi hati kita di hadapan-Nya;

    Ketiga, agar kita dapat bersiap untuk menerima semua berkat-Nya dengan rasa ucapan syukur, dan doa mengingatkan bahwa semua itu berasal dari tangan-Nya. 

    Saudaraku, masih panjang lagi yang diketengahkan Calvin agar kita selalu SETIA untuk BERDOA. Masalahnya, apakah kita SUDAH BERDOA,  atau hanya kadang-kadang berdoa, atau berdoa bila ada maunya? (Surhert).

  • CERN – Swiss

    Saudaraku, bulan Desember 1951, ada pertemuan UNESCO di Paris, pada resolusi pertama membentuk Dewan Riset Nuklir Eropa, dalam bahasa Perancis: Conseil Européen pour la Recherche Nucléaire – CERN. Dua bulan kemudian, ada perjanjian untuk membentuk Dewan sementara yang disebut CERN, bidang penelitian utama CERN adalah fisika partikel, dan laboratorium CERN disebut Laboratorium Fisika Partikel Eropa.

    Nah, CERN membangun terowongan pada kedalaman rata-rata 100 m, bervariasi antara 175 m di bawah Kanton/Provinsi Jura Swiss, di satu sisi berjarak 50 m di bawah tepi Danau Geneve. Terowongan sepanjang 27 kilometer dibangun di bawah tanah di antara sedimen batu-batu terkeras di dunia, dan di dalam terowongan dibangun mesin akselerator partikel terbesar dan terkuat di dunia, dinamakan Large Hadron Collider (LHC).

    Tidak pernah disebutkan mengapa terowongan dibangun sedemikian kokoh di bawah tanah. Perkiraan saja, untuk antisipasi risiko jika LHC meledak, maka terowongan akan tertimbun batu-batu keras, juga air dari Danau Geneve yang dingin akan mengalir ke dalamnya. Nah hebatnya lagi, ternyata dekat CERN ada kota Cologny dekat Geneve yang memiliki Bibliotheca Bodmeriana, perpustakaan yang menyimpan sekitar 160.000 barang koleksi, termasuk:

    Salinan tertua Injil Yakobus yang terlestarikan.

    Sebuah Alkitab Gutenberg 1452, Alkitab yang dicetak pertama di dunia.

    Edisi cetak pertama “Sembilan Puluh Lima Dalil”” tulisan Martin Luther, 1517.

    Gulungan naskah asli “The 120 Days of Sodom” ” karya Marquis De Sade.

    Nah, mungkin Alkitab-Alkitab yang asli di Cologny akan tertelan ikut menimbun CERN dan ledakannya akan padam.

    Apa itu LHC yang sedemikian ditakutkan jika meledak? LHC pertama kali beroperasi pada 10 September 2008, secara singkat terdiri dari cincin magnet superkonduktor sepanjang 27 kilometer dengan sejumlah struktur percepatan untuk meningkatkan energi partikel di sepanjang lintasan. 

    Mesin ini memiliki dinding magnetik yang sangat tebal dan kuat, dipergunakan untuk menembakkan proton yang terbang di dalam LHC dengan energi rancangan sebesar 7 TeV (Teraelectronvolt/1012 eV), jadi ketika dua proton bertabrakan, energi tabrakannya adalah 14 TeV, bahkan berkas inti timbal memiliki energi tabrakan maksimum sebesar 1150 TeV dan hingga saat ini di CERN telah mencapai energi tabrakan sebesar 1040 TeV, ini adalah energi nuklir yang lebih besar dari bom nuklir yang pernah diledakkan.

    Karena ada energi yang sangat besar, dikhawatirkan bila terjadi tumbukan proton akan ada ledakan, dan terjadi black hole (Lubang hitam adalah wilayah di luar angkasa tempat sejumlah besar massa terhimpit dalam volume yang sangat kecil) sesuai teori Einstein, yang mana black hole ini akan menelan segala materi. Juga di CERN terbukti teori tentang asal-usul “massa” yang ditulis oleh Peter Higgs dan kawan-kawan, hingga disebut Boson Higgs. Menurut para fisikawan, bila terjadi tumbukan energi proton, maka akan timbul energi baru yang menyiratkan adanya kehidupan, atau bisa pula menimbulkan black hole, siapa tahu?

    Saya suatu ketika pernah bertemu Prof. Yohanes Surya dan menanyakan apakah CERN ini benar ada. Dijawab ya ada, dibiayai oleh puluhan negara maju, Indonesia/LIPI juga pernah diundang ke CERN untuk riset namun tidak dibebankan biaya.

    Kita membaca di Kejadian 1: Pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi. Bumi belum berbentuk dan kosong; gelap gulita menutupi samudera raya, dan Roh Allah melayang-layang di atas permukaan air. Berfirmanlah Allah: “Jadilah terang.” Lalu terang itu jadi.  … Jadilah petang dan jadilah pagi, itulah hari pertama.

    Ini keyakinan iman kita, bahwa Allah menciptakan langit dan bumi. Namun para ahli fisika, kimia, nuklir di berbagai negara maju berupaya membuktikan bahwa penciptaan bumi bukan dalam sekejap seperti dituliskan di Kejadian 1, tapi merupakan akibat tumbukan-tumbukan massa yang terjadi ratusan juta tahun lalu dan dari tumbukan-tumbukan ini muncul kehidupan, buktinya antara lain ada Dinosaurus. 

    Para ahli ini menciptakan riset CERN yang di dalamnya ada mesin LHC yang menumbukkan partikel massa proton dan pertikel lainnya untuk membuktikan kebenaran teori-teori para ahli. CERN melambangkan pengetahuan versus Iman.

    Saudaraku, hari ini kita lebih tekun membaca Alkitab atau tiap saat mengikuti berita-berita medsos yang tidak ada sortir kebenarannya, bahkan asal-usul penulisnya malahan sering tidak jelas? Akibatnya iman percaya kita kepada Tuhan mudah goyah dan bahkan malahan berani mempertanyakan Firman Tuhan. 

    Apa yang baik bagi diriku, itulah Firman. Apa yang menjadi teguran akibat dosa, itu hanya membuat rasa bersalah sesaat, terlebih lagi ada dosa kecil, dosa abu-abu, dosa-dosaan, dosa yang bisa disangkal, dosa yang ada alasannya, dan lain-lain dosa yang tidak ada hukumannya, lihat tuh buktinya di pengadilan-pengadilan.

    Menyambut hari Reformasi 31 Oktober 2024, Sola Scriptura, hanya berdasarkan Alkitab saja. Itulah hanya satu-satunya cara yang dapat membuat kita hidup benar di hadapan Allah. (Surhert).

  • Saat Tuhan Berhenti untuk Kita

    Saudaraku, mari kita membaca dan merenungkaian Markus 10:49:  Lalu Yesus berhenti dan berkata: “Panggillah dia!” Mereka memanggil orang buta itu dan berkata kepadanya: “Kuatkan hatimu, berdirilah, Ia memanggil engkau.”

    Di tengah keramaian yang hiruk-pikuk, Yesus berjalan dengan langkah pasti, diiringi orang banyak yang mengikuti-Nya. Namun, di tengah perjalanan menuju Yerusalem, sebuah suara terdengar di pinggiran jalan, suara yang mungkin tak dianggap penting oleh banyak orang. Itu adalah suara seorang buta bernama Bartimeus yang berteriak, “Yesus, Anak Daud, kasihanilah aku!”

    Orang-orang di sekitar Bartimeus mencoba membungkamnya. Suaranya dianggap sebagai gangguan di tengah antusiasme banyak orang yang ingin mengikuti Yesus. Tapi bagi Bartimeus, inilah satu-satunya kesempatan untuk bertemu Sang Juruselamat. Dia terus berteriak, tak peduli dengan cemoohan. Di tengah kebisingan itu, Yesus berhenti.

    Tindakan Yesus itu sungguh luar biasa. Ia tak membiarkan suara kecil itu berlalu begitu saja. Dia berhenti. Inilah momen penting, karena ketika Yesus berhenti, Dia menyatakan sesuatu yang lebih dari sekadar kehadiran-Nya. Dia menyatakan bahwa ada Pribadi yang tak terlihat oleh dunia, namun berharga di mata-Nya. Tuhan, yang memegang seluruh alam semesta, memilih untuk memberi perhatian penuh pada seorang  yang terlupakan.

    Kehidupan kita sering kali terasa seperti keramaian yang tak pernah berhenti. Kita terus bergerak, dikelilingi oleh masalah, tekanan, dan rasa takut yang membuat kita merasa kecil dan tak terlihat. Kita mungkin merasa seperti Bartimeus, terabaikan di tepi kehidupan, hanya memanggil-manggil Tuhan dalam kelemahan dan ketidakberdayaan. Namun, kisah ini mengajarkan bahwa Tuhan tidak pernah mengabaikan jeritan hati kita. Ketika kita memanggil-Nya dengan sungguh-sungguh, Dia mendengar, dan lebih dari itu, Dia berhenti untuk kita.

    Saat Yesus berhenti, Dia tidak sekadar mendengarkan Bartimeus. Dia memanggilnya untuk datang. Ini adalah panggilan yang mengubah hidup. Bartimeus, yang selama ini hidup dalam kegelapan, dipanggil untuk mendekati Sang Sumber Terang. Tanpa ragu, dia bangkit dan meninggalkan jubahnya, satu-satunya benda yang mungkin menjadi penopang hidupnya. Tapi di hadapan Yesus, jubah itu tak lagi berarti. Bartimeus berlari kepada Tuhan dengan iman penuh, percaya bahwa pertemuan ini akan mengubah segalanya.

    Ketika Tuhan berhenti dan memanggil kita, Dia tidak hanya memberi perhatian, tetapi juga menawarkan kesempatan untuk mengalami pemulihan. Dalam hidup ini, mungkin kita memiliki banyak “jubah”, entah itu rasa takut, rasa malu, luka masa lalu, atau beban berat yang terus kita bawa. Tetapi saat Tuhan memanggil, Dia meminta kita untuk meninggalkan semua itu, melangkah dengan iman, dan menerima anugerah-Nya. Bartimeus meninggalkan jubahnya sebagai simbol pengharapan baru, dan ia menerima lebih dari sekadar penglihatan. Ia menerima hidup yang baru.

    Kisah ini bukan hanya tentang Bartimeus. Ini adalah kisah kita. Di tengah segala krisis yang kita hadapi, entah itu masalah keuangan, kesehatan, relasi, atau bahkan krisis spiritual, Tuhan tetap berhenti untuk mendengar kita. Dunia mungkin berjalan terlalu cepat, membuat kita merasa tak berarti, tapi bagi Tuhan, kita selalu berharga. Tuhan tidak melewati kita begitu saja. Ketika Dia mendengar panggilan dari hati yang tulus, Dia akan berhenti dan mengarahkan perhatian-Nya kepada kita.

    Saat Tuhan berhenti, Dia selalu membawa perubahan. Pertanyaannya adalah, apakah kita siap untuk merespons panggilan-Nya? Bartimeus melompat dalam iman, melepaskan jubahnya, dan berlari kepada Yesus. Kita juga dipanggil untuk melakukan hal yang sama, melepaskan apa yang mengikat kita, dan datang kepada Tuhan dengan hati yang terbuka.

    Dalam dunia yang serba cepat dan penuh kekacauan, kita sering kali lupa bahwa Tuhan tidak pernah tergesa-gesa. Dia punya waktu untuk kita. Ketika Dia berhenti, itu adalah undangan untuk bertemu dengan-Nya secara mendalam, untuk mengalami kasih-Nya yang mengubahkan. Bartimeus yang buta, seorang yang terpinggirkan, diberikan kesempatan untuk melihat bukan hanya secara fisik, tetapi juga melihat kasih Tuhan yang besar.

    Mungkin saat ini kita berada di posisi Bartimeus, merasa kecil, dilupakan, atau tak berdaya. Tetapi ingatlah, Tuhan yang berkuasa atas segala sesuatu tidak pernah terlalu sibuk untuk berhenti bagi kita. Dia tidak hanya mendengar teriakan kita; Dia memanggil kita untuk datang, mendekat, dan menerima pemulihan. Setiap panggilan-Nya adalah kesempatan bagi kita untuk mengalami keajaiban, untuk merasakan kasih-Nya yang penuh belas kasihan.

    Saudaraku, hari ini, jika kita mendengar suara-Nya, janganlah kita tunda-tunda untuk menjawab. Tuhan telah berhenti untuk kita, apakah kita siap untuk bangkit, datang, dan mengalami hidup baru dalam terang kasih-Nya? (EBWR).

  • Be Silent Before God

    BERDIAM DIRI DI HADAPAN TUHAN. Sahabat, berdiam diri di hadapan Tuhan akan membuat kita lebih mampu mendengarkan suara Allah. Pendengaran yang baik itu akan membuat kita sungguh mampu mengetahui kehendak-Nya. Persoalan manusia adalah begitu disibukkan dengan banyak suara sehingga tidak mampu lagi mendengarkan suara Allah. dan akhirnya terus bertanya-tanya dalam hatinya: ”Apa yang menjadi panggilan hidup saya?” 

    Dengan berdiam diri di hadapan Tuhan, kita bisa memercayai-Nya dengan segenap hati. Dia tak perlu teriakan kita  supaya Dia bertindak membereskan kekacauan di bumi. Dia hanya butuh hati kita dan iman kita untuk menggerakkan surga terbuka. 

    Saat kita datang dengan segenap hati kepada Tuhan, Dia akan menyatakan diri-Nya dan hadirat-Nya akan kita rasakan. Meskipun kondisi dunia saat ini seperti api yang menghaguskan dan menghancurkan, tapi mereka yang hidup di dalam-Nya  tidak akan terbakar. Tuhan itu ibarat aliran air hidup yang menyegarkan. Kita akan mengalami kelegaan di dalam Dia kalau kita datang, berseru dan fokus kepada hadirat-Nya.

    Sahabat, mari kita membaca dan merenungkan Zakharia 2:6-13 dengan penekanan pada ayat 13. Ayat ke-13 dari bacaan kita pada hari ini mengajak kita untuk BERDIAM DIRI DI HADAPAN TUHAN.  Pertanyaan kita sekarang adalah mengapa Zakharia mengajarkan kita untuk berdiam diri di hadapan Tuhan? Ada beberapa alasan mengapa kita harus berdiam diri di hadapan TUHAN, yakni: 

    Pertama, untuk mengikuti teladan Kristus. Misalnya seperti dalam Matius 14:23, “Dan setelah orang banyak itu disuruh-Nya pulang, Yesus naik ke atas bukit untuk berdoa seorang diri. Ketika hari sudah malam, Ia sendirian di situ”. Markus pun mencatat hal senada, “Pagi-pagi benar, waktu hari masih gelap, Ia bangun dan pergi ke luar. Ia pergi ke tempat yang sunyi dan berdoa di sana.” (Markus 1:35)

    Kedua, untuk mendengarkan suara Tuhan seperti yang dilakukan oleh Nabi Elia kala bertemu dengan Tuhan.Dalam kitab Habakuk 2:1 dituliskan juga hal serupa, “… aku mau meninjau dan menantikan apa yang akan difirmankan-Nya kepadaku, dan apa yang akan dijawab-Nya atas pengaduanku.” 

    Ketiga, sebagai ekspresi penyembahan kita kepada Tuhan. Seperti yang tertulis: “Berdiam dirilah di hadapan Tuhan ALLAH! Sebab hari TUHAN sudah dekat….” (Zefanya 1:7). 

    Keempat, sebagai ekspresi iman kepada Tuhan. Pemazmur menyatakannya sebagai berikut: “Hanya dekat Allah saja aku tenang dari pada-Nyalah keselamatanku” (Mazmur 62:2). 

    Kelima, untuk mencari keselamatan dan pertolongan dari Tuhan. Seperti yang tertulis: “TUHAN adalah baik bagi orang yang berharap kepada-Nya bagi jiwa yang mencari Dia. Adalah baik menanti dengan diam pertolongan TUHAN” (Ratapan 3:25-26). 

    Keenam, untuk memulihkan kekuatan jasmani dan rohani. Seperti yang tertulis: “Marilah ke tempat yang sunyi, supaya kita sendirian dan beristirahatlah seketika!” (Markus 6:31). 

    Ketujuh, untuk belajar mengontrol diri. Seperti yang tertulis: “Jikalau ada seorang menanggap dirinya beribadah, tetapi tidak mengekang lidahnya, ia menipu dirinya sendiri, maka sia-sialah ibadahnya” (Yakobus 1:26). 

    Sahabat, karena itu, marilah kita BERDIAM DIRI  di HADAPAN  TUHAN sehingga kita dengar-dengaran panggilan suara-Nya sehingga kita dapat semakin hidup sesuai dengan panggilan kita masing-masing. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 11?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita menjadi orang percaya hanya karena Tuhan telah memanggil. (pg).

  • Firm and Fearless along with God

    MAZMUR 38. Sahabat, di dalam tradisi Gereja, Mazmur 38 ini termasuk salah satu mazmur yang disebut “Mazmur Pengakuan Dosa” (penitential psalms). Yang menarik, teologi dalam Mazmur 38 mencoba mengaitkan penderitaan yang dialami, termasuk sakit penyakit, dengan dosa Pemazmur. 

    Memang kita tidak bisa menjadikan hal tersebut menjadi satu prinsip yang kaku, memutlakkan bahwa setiap penderitaan pasti karena dosa, namun di dalam Alkitab ada tempat untuk merelasikannya, bahwa bisa saja sakit penyakit tersebut berkaitan dengan dosa kita. Itu sebabnya, tidak salah kalau setiap kali menderita atau sakit, kita melakukan introspeksi apakah kita sudah bersalah kepada Tuhan. Sahabat bahkan kalau kita membaca Mazmur 38, dalam penderitaan atau sakit penyakit yang dialami, Pemazmur mengertinya sebagai ekspresi murka atau kemarahan Tuhan.

    Sahabat, relasi yang benar dan baik dengan Tuhan, itu bukan selalu relasi dengan bayangan kita tentang Tuhan yang kasih dan tidak pernah murka. Relasi yang hidup, relasi yang benar, justru relasi yang ditandai dengan: Ketika Allah kita murka, kita tetap berani datang kepada-Nya.

    Kalau kita mempelajari iman orang-orang Israel dalam Perjanjian Lama, kita mungkin mendapatkan gambaran yang berbeda dari kekristenan yang agak ke arah stoic (pemahaman yang mengajarkan ke manusia cara untuk menciptakan kehidupan yang penuh dengan kebahagiaan nyata). Kita tentu saja percaya kedaulatan Allah, tetapi kepercayaan akan kedaulatan Allah bukan berarti kita tidak boleh berseru kepada Tuhan, hanya boleh berserah, tidak boleh ada keinginan/permintaan, dan sebagainya; kalau seperti itu, jadi mirip Kekristenan stoik. Kalau kita membaca Mazmur 38, dan banyak lagi bagian-bagian lain dalam Perjanjian Lama, kita melihat bagaimana orang percaya berani berdialog dengan Allah. 

    Mazmur 38  bukan ekspresi mengasihani diri (self-pity) atau manja (spoilt), melainkan ekspresi akan kedekatan Pemazmur dengan Allah, yang dia percaya sebagai Bapanya. 

    Syukur kepada Tuhan hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan tema: “Firm and Fearless along with God (Teguh dan Tak Gentar Bersama Tuhan). Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 38: 1-23. Sahabat, sakit penyakit merupakan  kenyataan hidup yang harus dihadapi oleh manusia. 

    Setiap orang pasti memiliki kelemahan dalam dirinya. Kelelahan, dukacita, masalah, tekanan, atau kemarahan bisa membuat seseorang sakit secara fisik. Kuman, virus, dan bakteri juga menjadi penyebab seseorang sakit. Di tengah kelemahan seperti itu, orang bisa dengan mudah merasa lelah menjalani kehidupan dan menyalahkan Tuhan. Namun, bagaimana Pemazmur mengatasi kelemahan dan penyakitnya?

    Pemazmur menyatakan bahwa sakitnya disebabkan oleh kebodohannya (Ayat 6). Dia merasa sangat kesakitan sehingga tidak ada lagi yang sehat dalam dirinya (Ayat 4, 8). Dia menduga-duga bahwa orang-orang yang tidak menyukainya akan sangat senang atas sakitnya (Ayat 13). Mereka yang tadinya adalah teman telah meninggalkannya (Ayat 12). 

    Pada saat yang sama, Pemazmur merendahkan diri di hadapan Tuhan. Dia mengakui bahwa Tuhan mengenalnya dan mengetahui segala keinginannya untuk sembuh (Ayat 10). Dia meletakkan harapannya hanya kepada Tuhan (Ayat 16). Dia memohon Tuhan mau menolongnya (Ayat 23). Dalam kesesakannya karena sakit yang diderita, Pemazmur tidak putus asa. Dia tahu bahwa ada Tuhan, Sang Penolong, yang menjadi tumpuan harapannya.

    Sakit bisa membuat kita menjauh dan terpisah dari komunitas karena tak lagi bisa beraktivitas bersama rekan-rekan dalam komunitas itu. Sakit juga bisa memisahkan kita dari segala hal yang kita sukai. Bukan berarti kita boleh menyerah pada kehidupan, apalagi mencari jalan keluar yang justru menjauhkan kita dari Tuhan. 

    Sahabat, belajar dari Pemazmur, kita bisa mencari tahu “kebodohan” apa yang telah kita lakukan sehingga membuat kita jatuh sakit. Namun pada saat yang sama, kita diajak untuk merendahkan diri dan mengakui bahwa pertolongan hanya dalam Tuhan. Dengan demikian, kita bisa menjalani hari-hari bersama penyakit kita dengan keteguhan dan keberanian. Bersama dengan Tuhan, kita dapat  dengan teguh dan tak gentar  menjalani hari-hari bersama penyakit kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 12?

    Mari sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Dengan kekuatan dan bimbingan Tuhan kita tidak akan mudah menyerah di tengah segala kelemahan kita. (pg).

  • Sungai Limmat, Zurich

    Saudaraku, dalam rangka menyambut Hari Reformasi pada tanggal 31 Oktober 2024, saya haturkan renungan ini. Tanggal 5 Januari 1527, penduduk Zurich berkerumun di kedua sisi Sungai Limmat yang bermuara di Danau Zurich untuk menyaksikan adegan mengerikan. 

    Felix Manz, dengan tangan dan kaki terikat, berjongkok di dek pondok nelayan dan menyanyikan mazmur “Ke dalam tangan-Mu kuserahkan nyawaku” dengan penuh semangat. Dari sebuah perahu kecil, seorang pendeta menceramahinya dengan bertele-tele, sementara algojo menarik sekuat tenaga tali yang diikatkannya di leher terhukum. Teriakan putus asa terdengar di seberang danau, yakni ibu Felix Manz, yang memanggilnya dari tepi sungai dan menyuruhnya untuk tetap teguh dalam imannya.

    Sebelum kisah ini, ada Gerakan Reformasi yang dimulai oleh Martin Luther pada 31 Oktober 1517, yakni Luther menempelkan “Disputatio pro declaratione virtutis indulgentiarum” atau 95 Tesis Perdebatan tentang Kuasa Indulgensi di pintu Gereja Wittenburg Jerman. Dimulailah Gerakan Reformasi yang mengoreksi ajaran gereja Katolik saat itu, kemudian hari gerakan ini disebut sebagai Protestan, yang segera meluas ke Perancis, Swiss, dan negara-negara lainnya.

    Ajaran Reformasi Sola Scriptura mendorong para pengikut Reformasi untuk menerjemahkan Alkitab ke bahasa-bahasa lokal. Felix Manz awalnya adalah orang kepercayaan Huldrych Zwingli, – seorang Reformator di Zurich Swiss, dalam penerjemahan Alkitab dari bahasa Latin ke bahasa Swiss Jerman. Kaum muda di Zurich bisa membaca bahwa ada ajaran gereja saat itu yang tidak berdasarkan Alkitab, yakni keberadaan api penyucian, pengampunan dosa dengan cara memberikan persembahan, dan baptisan bayi.

    Beberapa reformis di Swiss yang lebih progresif mulai bertemu sendiri untuk mempelajari Alkitab, sekitar tahun 1523 William Reublin mulai berkhotbah menentang baptisan bayi di desa-desa di Zurich, mendorong para orangtua untuk tidak membaptis anak-anak mereka, tapi hanya penyerahan bayi dan setelah menjadi dewasa barulah dibaptis. Gerakan ini dikenal sebagai Anabaptis, yang dianggap bertentangan dengan ajaran Reformasi Zwingli.

    Pada 17 Januari 1525, Zwingli dan para penentangnya berdebat di depan umum untuk pertama kalinya. Menurut Felix Manz, baptisan hanya masuk akal jika orang yang akan dibaptis mampu menyatakan iman mereka sendiri, jadi bukan saat masih bayi. Zwingli dan dewan kota Zurich bersikap keras, dan memerintahkan semua anak atau bayi yang belum dibaptis untuk segera dibaptis dalam waktu seminggu, atau orangtua mereka harus meninggalkan wilayah Zurich. 

    Malam itu, ada baptisan orang dewasa pertama di Zurich berlangsung di rumah keluarga Felix Manz. Sepuluh hari kemudian, Felix ditangkap, dan Zwingli mencoba membujuknya untuk berubah pikiran. Namun Felix tetap keras kepala dan ditahan, namun dapat melarikan diri dari penjara dan pergi ke wilayah lain di Swiss untuk melanjutkan ajarannya. Sangat populer di kalangan petani, yang berharap bahwa penafsiran Alkitab secara harfiah akan menghasilkan perbaikan status sosial mereka dan ada penghapusan pajak.

    Pada 7 Maret 1526, konsili Zürich mengeluarkan dekrit yang menyebutkan mereka yang melakukan pembaptisan ulang bagi orang dewasa dapat dihukum. Beberapa bulan kemudian Felix ditangkap lagi dan dideportasi ke Zurich, pengadilan menjatuhkan hukuman penjara seumur hidup. Dua minggu kemudian Felix Manz berhasil melarikan diri bersama dengan 13 tahanan laki-laki dan 7 tahanan perempuan, memanjat melalui lubang di atap sel dan menuruni dinding luar penjara. Ia sekali lagi berkeliling negeri untuk berkhotbah dan membaptis, hingga ditangkap dan diadili sekali lagi pada awal Desember, pengadilan menjatuhkan hukuman mati dengan cara ditenggelamkan ke sungai.

    Pada tanggal 5 Januari 1527, Felix Manz menjadi korban pertama yang menjadi martir Anabaptis. Pada pukul 3:00 sore hari itu, Felix Manz dibawa ke sebuah perahu ke Sungai Limmat, kedua tangannya diikat dan ditarik ke belakang, lalu sebuah tiang ditaruh di antara kedua tangannya, dan ditenggelamkan di muara Sungai Limmat Danau Zürich. Kata-kata terakhirnya yang terdengar adalah, “Ke dalam tangan-Mu, ya Tuhan, kuserahkan nyawaku.”  Ya itulah kisah awal dari Gerakan Anabaptis.

    Pada tahun 1983, gereja Reformasi Swiss meminta maaf untuk pertama kalinya atas penderitaan yang telah ditimbulkannya kepada kaum Anabaptis. Sebuah plakat peringatan yang didirikan pada tahun 2004 di tepi Sungai Limmat mengenang Felix Manz dan rekan seimannya yakni Hans Landis, yang dipenggal di Fischmarkt, Zurich.

    Ajaran Anabaptis dan Reformasi memang ada beda di baptisan. Yang jelas Tuhan Yesus memberikan perintah: “Karena itu pergilah, jadikanlah semua bangsa murid-Ku dan baptislah mereka dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, …” (Matius 28:19). 

    Saudaraku, orang yang percaya pada Tuhan Yesus Kristus mesti dibaptis. Namun dibaptis saat bayi atau saat dewasa, itulah ranah tafsir para rohaniwan di gereja masing-masing. Hal tersebut sangat tergantung dari kesepakatan, doktrin, dan denominasi, di gereja masing-masing. Yang perlu  kita pegang perintah Tuhan Yesus: “ … baptislah mereka …” (Surhert).

  • SELALU ADA KEJUTAN

    Saudaraku, kebiasaan dan pengalaman seorang individu seringkali membuat individu itu membuat persepsi kuat sehingga sering memadamkan semangat saat menghadapi masalah, padahal seringkali Tuhan memberikan banyak ‘kejutan’ dalam kehidupan.  Mari renungkan salah satu kejutan Tuhan dalam Kisah Para Rasul 3:1-10.

    Pengemis di Pintu Gerbang Indah sudah lama mencari nafkah di sana dan bertemu ribuan orang yang keluar masuk ke Bait Allah untuk berdoa, sementara ia sendiri tak pernah bisa melakukannya karena tiada tempat bagi orang cacat di Bait Allah.  

    Sungguh sebuah ironi karena sebenarnya Pintu Gerbang Indah punya nama lain Pintu Gerbang Emas dan orang lokal menyebutnya Pintu Gerbang Rahmat, namun bagi orang lumpuh itu rahmat hanya ilusi walau ia berada di sana.  Ia hanya mampu memandang kemegahan Bait Allah dari jauh, memandang kebahagiaan orang yang datang dan pergi untuk berdoa, mendengarkan mereka yang bercengkerama tentang perkara rohani sementara ia tak penah tahu bagaimana rasanya berjalan, berdiri sejajar dengan orang-orang itu apalagi beribadah bersama mereka karena sejak lahir ia sudah lumpuh.  Ia mendengar bahwa Allah itu mengasihi umatnya, namun ia tak mengharapkan kasih Allah itu terlalu besar selain cukup makan pada hari ini.  

    Ketika bertemu Petrus dan Yohanes ia menduga bahwa kedua orang itu akan memberi uang sebagaimana biasa dilakukan orang-orang yang kasihan padanya namun hari itu ia menerima kejutan karena Petrus dan Yohanes mempertemukannya dengan rentetan rahmat Tuhan baginya. Bukan uang, namun kesembuhan dalam nama Yesus yang membuka rahmat yang lain :  Pemulihan sosial dan hak-hak nya untuk beribadah.  

    Tak heran respons pertama yang dilakukannya adalah berjalan, karena ia tak pernah berjalan seumur hidupnya. Hal kedua yang dilakukannya adalah masuk ke Bait Allah bersama Yohanes dan Petrus dan memuji Allah.  Ia sadar bahwa kedua hal inilah yang diinginkan seumur hidupnya yang sore itu diterimanya melalui murid Kristus.

    Tuhan MAMPU MEMBERI KEJUTAN  dalam kehidupan dan membuat manusia menyadari kelemahan mereka.  Manusia belajar dari pengalaman namun pengalaman kadang kala menghalangi mereka untuk menerima rahmat Allah yang besar.  Keterbatasan inilah sebenarnya yang membuat manusia seharusnya membuka dirinya kepada Sang Rahmat, sebagaimana rasul Paulus mengatakan : “Sungguh hebat kekayaan Allah! Sungguh besar kebijaksanaan dan pengetahuan-Nya!  Siapa yang dapat menyelidiki keputusan-keputusan-Nya?  Siapa yang dapat mengerti cara-caranya Ia bekerja?”  (Roma 11:33 – Versi BIMK).   

    Andaikan iman ini terus dipegang dalam hati pemuda pemudi yang sangat putus asa beberapa waktu lalu, maka mereka tak akan bunuh diri.  Andaikan iman ini dipegang dalam hati orang percaya, maka mereka akan mampu terus berjuang dalam kehidupan yang makin keras ini.  Tuhan Sang Pemilik Rahmat pasti memberikan KEJUTAN YANG TAK TERDUGA  di MASA SULIT.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • Evil Temptation

    MAZMUR 37. Sahabat Mazmur 37  dapat digolongkan sebagai Mazmur Hikmat yang bersifat didaktis, bukan sebagai doa.  Pemazmur memulai Mazmur 37 dengan satu pernyataan  yang menusuk persoalan tentang bagaimana respons kita kepada ketidakadilan dalam hidup ini: “Jangan marah karena orang yang berbuat jahat, jangan iri hati kepada orang yang berbuat curang” (Ayat 1). 

    Ya, memang banyak orang yang jujur dan hidup tulus merasakan kecemburuan yang besar, ketika melihat betapa nyaman dan makmurnya hidup orang-orang yang melakukan kejahatan. Sedangkan ia sendiri harus berjuang dan mengalami kesusahan, meski hidup tulus dan jujur.

    Bukan tanpa alasan Pemazmur memulai mazmurnya dengan pernyataan tersebut. Melalui Mazmur 37 Pemazmur menegaskan betapa rentan dan terbatasnya hidup orang yang berbuat jahat (Ayat 2, 9, 10, 13, 20, 22, 35-36, 38). Itu  berarti, meski kelihatan hidup orang jahat dipenuhi dengan kelimpahan, namun sesungguhnya hidup mereka seperti telur di ujung tanduk. Begitu rentan dan begitu mudah jatuh. 

    Beda halnya dengan orang-orang yang hidupnya takut akan Allah. Pemazmur menggambarkan hidup mereka itu kokoh karena ditopang Allah (Ayat 17, 19, 23-24, 30-31, 33, 39-40), penuh kelimpahan dari Allah (Ayat 9, 11, 22, 25-26, 29, 34 ), dan dipelihara selamanya oleh Allah (Ayat 18, 28, 37).

    Pemazmur mengingatkan kita bahwa di tengah kesusahan dan ketidakadilan yang kita hadapi dalam hidup ini, Allah tidak pernah tinggal diam dan mengabaikan kesusahan
    umat-Nya. Ia peduli dan memerhatikan, meski tidak selalu kita melihat jalan dan karya-Nya atas hidup kita. Tetapi itu tidak mengubah fakta bahwa Allah sedang bekerja di dalam segala sesuatu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita.

    Syukur kepada Tuhan kalau pada hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Evil Temptation (Godaan Untuk Berbuat Jahat)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 37:1-11 dan 39-40. Sahabat dalam suatu pertandingan, kadang kita mendengar  keluhan: “Kalau main curang begitu, ya, pasti menang. Percuma saja saya susah payah bermain dengan jujur jika yang menang adalah orang yang berbuat curang, tetapi tidak ketahuan juri,” 

    Memang menyesakkan hati ketika kita harus mengalami kekalahan akibat orang lain bermain curang dan tidak ketahuan oleh juri. Mungkin bukan hanya merasa sesak, tetapi kita tergoda juga untuk menempuh jalan yang curang; tergoda untuk berbuat jahat.

    Pemazmur memberikan nasihat yang konkret dan aplikatif agar kita tak marah dan iri kepada orang-orang yang berbuat jahat dan curang. Sebuah petunjuk bahwa fenomena seperti ini sudah berlangsung lama; sejak ribuan tahun yang lalu. 

    Mengapa tidak boleh iri hati atau marah kepada orang-orang yang berbuat curang? Pemazmur menggambarkan bahwa orang yang berbuat jahat atau curang itu seperti rumput dan tumbuhan hijau yang akan segera lisut dan layu. Artinya, orang-orang yang berbuat jahat atau curang tidak akan lama menikmati kemenangannya. Mengapa demikian?  Tuhan yang melihat segala sesuatu akan memberikan ganjaran kepada tiap orang menurut perbuatannya.

    Jangan pernah kita lupakan bahwa Tuhan memerhatikan segala sesuatu. Apa yang kita peroleh dengan cara yang jahat tidak akan bertahan lama. Teruslah hidup dalam kebenaran dan kebajikan agar sukacita dan damai sejahtera senantiasa hadir dalam kehidupan kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 3-4?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dlam di hati: Teruslah hidup dalam kebenaran dan kebajikan agar sukacita dan damai sejahtera senantiasa hadir dalam kehidupan kita. (pg).