Category: Sejenak Merenung

  • Serving God and Fellows

    MAZMUR 45. Sahabat, sesuai judul yang diberikan oleh Lembaga Alkitab Indonesia (LAI), Mazmur 45 merupakan nyanyian yang disampaikan oleh bani Korah pada waktu pernikahan raja. Uniknya, bani Korah menyatakan nyanyian ini bukan hanya sebagai nyanyian kasih, tetapi juga nyanyian pengajaran.

    Bahkan nyanyian pengajaran ditempatkan terlebih dahulu sebelum penyebutan nyanyian kasih. Bukankah nyanyian pada waktu pernikahan lebih pantas disebut
    nyanyian kasih? Tetapi, mengapa bani Korah juga menyebutnya sebagai nyanyian pengajaran?

    Sesungguhnya Mazmur 43 selain menggambarkan keagungan kasih dari sang Raja dan permaisurinya (Ayat 3, 4, 10, 11, 12), nyanyian ini juga mengajarkan pentingnya keelokan karakter sang Raja yang ditunjukkan dengan bertindak demi kebenaran, perikemanusiaan, dan keadilan (Ayat 5, 7, 8), melebihi keelokan fisik semata.

    Selain itu, mazmur ini juga mengajarkan betapa pentingnya ketundukkan dan hormat dari sang mempelai perempuan kepada raja karena ia adalah tuannya (Ayat 12). Tindakan mempelai laki-laki yang didasarkan pada kebenaran, perikemanusiaan, dan keadilan, direspons dengan hormat dan ketundukkan dari mempelai wanita. Konsep yang sama juga dapat kita temukan di dalam surat-surat Paulus, khususnya surat Efesus 5:21-33 dan Kolose 3:18-19.

    Sahabat, sangat menarik, dalam Perjanjian Baru, khususnya dalam surat Ibrani 1:8-9, penulis Ibrani mengutip bagian mazmur ini (Ayat 7-8) untuk merujuk kepada pribadi Yesus Kristus, “Tetapi tentang Anak Ia berkata:…” (Ibrani 1:8a). Ini artinya, mazmur ini bukan sekadar mazmur yang dinyanyikan dalam rangka pernikahan raja, tetapi juga merupakan mazmur mesianik yang menggambarkan tentang keagungan pribadi dan relasi Yesus Kristus dengan gereja-Nya. Yesus yang di dalam kebenaran dan keadilan telah menunjukkan kasih-Nya bagi kita yang adalah gereja-Nya dan umat pilihan-Nya. Oleh karena itu, patutlah kita menunjukkan kasih di dalam ketundukkan dan hormat kepada-Nya di sepanjang hidup kita.

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Serving God and Fellows (Melayani Tuhan dan Sesama). Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 45:1-18. Sahabat, renungan ini saya tulis khususnya dalam rangka menyongsong Pilkada yang akan berlangsung pada tanggal 27 November 2024.

    Tugas dan kewajiban seorang pemimpin bukanlah perkara yang mudah. Seseorang perlu mempersiapkan diri dengan berbagai kualitas tertentu agar layak menjalankan perannya sebagai pemimpin. Belum lagi jika kita berbicara mengenai harapan orang-orang yang dipimpin terhadap pemimpinnya. Semua ini menjadikan peran seorang pemimpin tidak bisa dipandang sebelah mata.

    Kiranya demikianlah gambaran dari bacaan kita pada hari ini. Mazmur 45 berisi sebuah harapan tentang gambaran ideal seorang pemimpin (Raja). Pemazmur melukiskan Raja sebagai sosok yang elok serta bersahaja. Namun di sisi lain, ia adalah pejuang gagah berani yang siap membela kerajaannya (Ayat 3-4). Pemimpin dalam gambaran penulis mazmur adalah sosok yang mencintai kebajikan serta keadilan. Itu semua diarahkan untuk menuntunnya ke dalam perjuangan untuk menegakkan kemanusiaan (Ayat 4-5).

    Semua pemimpin dalam mazmur atau bagian lain di dalam Alkitab merupakan sosok manusia biasa. Kekuasaannya tidak datang dari diri mereka sendiri. Sumbernya berasal dari Tuhan. Allah memberikan kepercayaan kepada seseorang agar ia dapat memimpin dengan bijaksana, adil, benar, dan membawa manfaat positif bagi rakyatnya. Karena itu, seorang pemimpin adalah orang yang dekat dengan Allah. Sebab, Ia adalah Sang Pemberi mandat untuk memimpin.

    Sahabat, sering kali, perasaan kita mengatakan bahwa kepemimpinan adalah soal diri, organisasi, dan kumpulan orang. Namun melalui bacaan kita pada hari ini, kita diingatkan tentang dua prinsip penting dalam kepemimpinan. Pertama, kepemimpinan adalah soal perjuangan menegakkan kebajikan serta keadilan.

    Kedua, pemimpin juga seseorang yang selalu dekat dengan Allah, Sang Pemberi Mandat. Akhirnya, menjadi pemimpin bukan lagi soal pemuasan hasrat, melainkan PELAYAN BAGI TUHAN DAN SESAMA. Pemimpin itu MELAYANI TUHAN dan SESAMA.  Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan renungan dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 2?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Pemazmur menyatakan bahwa lidah kita itu laksana pena yang sedang melukis dan mewarnai hidup seseorang:  Berwarna putih, biru, cerah, buram, atau hitam pekat. (pg).

  • Tautan yang Tak Terputus

    Saudaraku, mari kita membaca dan merenungkan  Yohanes 15:5. Pernahkah Saudara kehilangan sinyal internet di saat yang paling krusial? Bayangkan,Saudara sedang mengikuti rapat penting, memesan transportasi online, atau mencari informasi mendesak, dan tiba-tiba koneksi terputus. Rasa frustrasi yang muncul terasa begitu nyata. Di dunia modern ini, sinyal internet menjadi penghubung vital yang memungkinkan banyak hal berjalan. Tanpanya, perangkat paling canggih pun menjadi tak berguna.

    Kehilangan sinyal ini mengingatkan kita pada kehidupan rohani. Relasi kita dengan Tuhan sering kali seperti jaringan internet: Ada kalanya stabil, namun ada pula saat-saat di mana koneksi terasa lemah atau bahkan terputus. Yesus menggambarkan hubungan ini melalui perumpamaan pokok anggur dan ranting dalam Yohanes 15:5: “Akulah pokok anggur dan kamulah ranting-rantingnya. Barangsiapa tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak, sebab di luar Aku kamu tidak dapat berbuat apa-apa.”

    Yesus adalah pokok anggur, sumber kehidupan sejati. Seperti ranting yang hanya bisa hidup dan berbuah jika tetap terhubung dengan pokoknya, kita membutuhkan hubungan yang erat dengan Tuhan agar hidup kita berbuah. Namun, tidak jarang kita seperti ranting yang ingin hidup sendiri, mencoba melepaskan diri dari pokoknya dengan berbagai alasan: Kesibukan, kelelahan, atau merasa cukup mampu mengandalkan kekuatan sendiri. Akibatnya, kita mulai merasakan kekeringan rohani.

    Ketika “sinyal” dengan Tuhan melemah, gejalanya segera terasa. Kehidupan doa mulai terasa hambar, ibadah menjadi sekadar rutinitas, dan membaca Firman Tuhan kehilangan daya tariknya. Keputusan-keputusan besar diambil tanpa meminta hikmat dari Tuhan, sering kali berujung pada kebingungan dan kekeliruan.

    Tidak hanya itu, BUAH-BUAH ROHANI  yang seharusnya menjadi ciri khas hidup orang percaya: Kasih, sukacita, damai sejahtera, perlahan MEMUDAR. Kita menjadi seperti ranting yang kering, kehilangan kemampuan untuk menghasilkan buah yang memuliakan Tuhan.

    Namun, kabar baiknya, Yesus tidak pernah meninggalkan kita. Dia selalu menanti kita untuk kembali tersambung kepada-Nya. Yesus berkata, “Tinggal di dalam Aku.” Tinggal di sini bukan sekadar hadir secara pasif, melainkan hidup dalam hubungan yang intim, penuh kesadaran, dan terus-menerus dengan Tuhan. Sama seperti perangkat elektronik yang perlu terus terhubung ke jaringan untuk dapat berfungsi, kita juga perlu memastikan koneksi kita dengan Yesus tetap terjaga.

    Koneksi ini dapat diperbarui melalui doa, yang menjadi jalur komunikasi langsung antara kita dan Tuhan. Dalam doa, kita tidak hanya berbicara, tetapi juga mendengar suara-Nya, mencurahkan isi hati, dan membangun kedekatan. Selain itu, Firman Tuhan adalah sumber kekuatan yang mengalir dari pokok anggur kepada kita. Dengan merenungkan Firman, kita mendapatkan nutrisi rohani yang diperlukan untuk bertumbuh dan berbuah.

    Saudaraku, komunitas iman juga menjadi sarana penting untuk menjaga koneksi ini tetap kuat. Dalam persekutuan yang sehat, kita saling mengingatkan, menguatkan, dan mendukung untuk tetap terhubung dengan Yesus. Bersama-sama, kita menjadi ranting-ranting yang menghasilkan buah, saling melengkapi dalam tubuh Kristus.

    Ketika koneksi dengan Yesus terhubung kembali, hidup kita mulai menunjukkan perubahan. Sukacita, kasih, dan damai sejahtera kembali terpancar. Hidup yang sebelumnya terasa hampa menjadi bermakna. Dalam hubungan yang erat dengan Yesus, kita bukan hanya menemukan kehidupan, tetapi juga menghasilkan buah yang memuliakan Tuhan dan membawa berkat bagi sesama.

    Kehilangan sinyal internet mungkin membuat kita sadar betapa pentingnya koneksi dalam kehidupan sehari-hari. Kehilangan koneksi dengan Tuhan jauh lebih berdampak besar, karena kita kehilangan SUMBER KEKUATAN SEJATI.  Namun, Tuhan tidak pernah menutup akses kepada-Nya. Dia terus menanti kita untuk kembali tinggal di dalam-Nya, menjadikan Dia pusat kehidupan kita.

    Saudaraku, TAUTAN  dengan TUHAN adalah hubungan yang dirancang untuk TIDAK TERPUTUS.  Jika Saudara merasa sinyal spiritualmu mulai melemah atau bahkan hilang, sekaranglah waktunya untuk menyambung kembali. Pastikan koneksi Saudara  dengan Sang Pokok Anggur TETAP TERHUBUNG,  agar hidup Saudara BERBUAH BANYAK  dan memuliakan nama-Nya. Di luar Dia, kita tidak dapat berbuat apa-apa. Namun, di dalam Dia, kita menemukan kehidupan yang sejati. Apakah Saudara sudah memastikan KONEKSIMU hari ini? (EBWR)

  • Menjadi Lengah

    LENGAH. Sahabat, Bruce Lee, aktor laga terkenal dari Hong Kong era 1960-1970-an, pernah berkata demikian, ”Jangan pernah memalingkan matamu dari lawan, bahkan pada saat kamu dalam posisi menunduk!” Saat bertarung, lawan adalah fokus sasaran kita. Sekali saja kita lengah, ia akan dapat menjatuhkan kita dengan kekuatan yang mungkin tak pernah kita perkirakan. Sekalipun kita terpaksa harus menundukkan  kepala, seperti kata Lee, pandangan kita harus tetap terarah pada lawan..

    Pernahkah Sahabat menyesal karena menjadi lengah? Misalnya saja, ketika sedang berjalan, kamu tidak memerhatikan jalan yang kamu lalui karena asyik melihat dan bermain dengan HP, maka kamu sangat terkejut ketika kamu tiba-tiba terperosok masuk ke lubang selokan yang ada di jalan tersebut.

    Dalam kehidupan sehari-hari, kadangkala kita juga lengah dalam berkomunikasi dengan Tuhan. Misalnya saja, menjelang bulan Desember biasanya kegiatan gereja dan jadwal pelayanan kita naik drastis, kemudian kita menjadi kelelahan, akibatnya kita sering tidak melakukan saat teduh pribadi.

    Jadwal saat teduh kita sering terlewatkan begitu saja.  kita lupa bersaat teduh ketika sedang sibuk atau kelelahan. Kita lupa untuk berkomunikasi dengan Tuhan dan merenungkan Firman-Nya. Kita tahu bahwa Tuhan tidak pernah lengah dalam menjaga dan menyertai kita, namun sebaliknya kita kadangkala lengah karena kesibukan dan kelelahan kita.

    Lengah juga dapat muncul dalam bentuk kesombongan rohani. Kadangkala kita juga lupa berdoa sebelum melakukan suatu kegiatan atau suatu perjalanan. Kita merasa mampu mengerjakan segala sesuatunya sendiri. Akibatnya, kita lupa menyerahkan persoalan yang akan kita hadapi kepada Tuhan.

    Sahabat, kita dapat menjadi lengah setiap saat, oleh karena itu kita harus selalu  berhati-hati dan waspada, jangan lengah. Rasul Paulus mengingatkan:  “Sebab itu siapa yang menyangka, bahwa ia teguh berdiri, hati-hatilah supaya ia jangan jatuh” (1 Korintus 10:12). Seringkali, kita merasa bahwa kita cukup aman sehingga kita lengah untuk terus intim dengan Tuhan. Kita perlu terus terjaga, karena di dunia ini penuh dengan tipu muslihat dan aneka jebakan.

    Mari kita membaca dan merenungkan 1 Raja-raja 13:1-34 dengan berfokus pada ayat 18. Sahabat, ketaatan kepada Allah adalah suatu keputusan yang harus terus dilakukan selama orang percaya menjalani kehidupan di dunia. Selama manusia hidup khususnya bagi orang percaya, iblis akan terus mencobai supaya orang percaya tidak taat kepada Allah.

    Kita tidak tahu pasti, mengapa abdi Allah dari Yehuda yang bersikukuh tidak mau dijamu Yerobeam, ternyata hatinya luluh dan menerima tawaran makan dan minum dari nabi tua yang tinggal di Betel.

    Seorang nabi Yehuda yang Allah utus untuk menyampaikan pesan kepada Yerobeam jatuh dalam ketidaktaatan. Setelah beberapa kali dicobai, akhirnya karena kelengahannya, ia jatuh juga dalam ketidaktaatan yaitu melanggar perintah Allah.

    Iblis memakai teman sejawatnya, seorang nabi juga untuk menyampaikan pesan Tuhan kepadanya. Suatu pesan bohong atau tidak benar. Karena kelengahannya yaitu percaya kepada teman sejawatnya, tanpa mengecek kebenaran pesan tersebut, nabi Yehuda mati diterkam singa (Ayat 24).

    Jangan lengah dan ujilah setiap pesan yang disampaikan. Tidak semua pesan yang disampaikan berasal dari Tuhan. Sekalipun yang menyampaikan seorang yang kita kenal dan mengatasnamakan Tuhan. Iblis tidak pernah berhenti mencobai kita. Keintiman dan kedekatan dengan Tuhan akan membuat kita tahu dan peka dengan suara dan pesan Tuhan. Waspadalah! Waspadalah! JANGAN MENJADI LENGAH! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 18?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mukjizat terbesar Allah bagi kita ialah dengan mengubah para pendosa yang pantas dibinasakan menjadi anak-anak-Nya yang terkasih. (pg).

  • Selalu Ada Jalan

    TANTANGAN. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tantangan berarti: Ajakan berkelahi (berperang dan sebagainya); Hal atau objek yang menggugah tekad untuk meningkatkan kemampuan mengatasi masalah; Rangsangan (untuk bekerja lebih giat dan sebagainya); Hal atau objek yang perlu ditanggulangi.

    Pada sebagian orang sering menganggap tantangan adalah sesuatu yang membuat sulit, kadang menghambat sesuatu yang ingin kita capai. Tapi sebenarnya kalau kita mau melihat dari sisi yang agak berbeda dari pemahaman tersebut, sebenarnya tantangan merupakan bahan bakar yang sangat dahsyat dalam pencapaian sesuatu tujuan.

    Sahabat, sesungguhnya tantangan akan menggairahkanmu, memberimu arah, dan membangkitkan yang terbaik dalam dirimu. Tantangan akan mendorong Sahabat untuk mempelajari keterampilan baru, meraup pengetahuan baru. Tantangan memotivasimu  untuk memberi hasil terbaik dari dirimu.

    Pernahkah Sahabat perhatikan atau sadari, bahwa saat kamu memiliki sedemikian banyak tugas yang harus dikerjakan, kamu justru memiliki lebih banyak energi untuk menyelesaikan apa yang semestinya harus selesai dikerjakan. Tapi sebaliknya saat sedikit hal yang perlu dikerjakan, ternyata lebih sedikit lagi hal yang selesai dikerjakan. Usahamu akan meningkat sesuai dengan volume pekerjaan yang harus dikerjakan.

    Tantangan mendorong hasil kerjamu. Tantangan tidak muncul untuk menarik kamu ke bawah, tapi tantangan ada untuk mendorong Sahabat ke atas, sehingga menghasilkan hal yang terbaik dalam pencapaian target.

    Mari kita membaca dan merenungkan Yosua 10:1-43. Sahabat, catatan panjang sejarah manusia merekam banyak peristiwa. Selain tragedi, sejarah juga menyuguhkan kepada kita kisah yang mencengangkan. Kita dihipnotis dengan kekaguman lantaran sejarah menyajikan banyak peristiwa yang melampaui nalar. Sejarah, terkadang, memaksa kita untuk mengakui ada tangan yang tidak terlihat sedang bekerja.

    Sejarah orang Israel membuktikan hal tersebut . Orang Gibeon mendapat ancaman dan intimidasi dari raja-raja di sekitar wilayah mereka (Ayat 3-4). Mereka berencana untuk memerangi Gibeon. Kondisi ini membuat orang Gibeon datang kepada Yosua untuk meminta bantuan (Ayat 6).

    Tantangan ada di depan mata Yosua.  Dia tidak bisa menolak ini sebab sudah ada ikatan perjanjian di antara mereka. Dia tidak punya pilihan, sehingga dia dan bala tentaranya pergi maju ke medan perang (Ayat 7).

    Sahabat, Yosua menyambut tantangan yang ada. Dia maju bertempur dengan memegang janji Tuhan bahwa semua lawannya akan takluk (Ayat 8). Betul saja, Tuhan selalu menepati janji-Nya. Hujan batu dikirimkan untuk membunuh musuh Israel (Ayat 11).

    Bahkan, matahari bisa berhenti karena Yosua memintanya kepada Tuhan (Ayat 12-14). Yosua mengatakan semua itu berasal dari Tuhan yang berperang bersama mereka (Ayat 25). Sisa ceritanya sudah kita ketahui bahwa Israel berhasil mengalahkan semua lawan-lawannya (Ayat 42).

    Tuhan kerap bekerja di luar akal sehat kita. Bagaimana mungkin hujan batu bisa turun dari langit? Bagaimana mungkin matahari berhenti? Itu membuktikan bahwa Tuhan tidak pernah kekurangan cara untuk menolong umat-Nya. SELALU ADA JALAN.

    Sahabat, h
    ari ini kita kita diingatkan untuk TIDAK ALERGI  terhadap TANTANGAN. Permufakatan jahat yang didorong Iblis mungkin saja dibuat orang untuk menghambat pekerjaan Allah melalui kita. Namun keberanian untuk mengandalkan dan mengimani kuasa Tuhan yang tidak dapat dilawan kuasa dunia ini akan membuktikan bahwa kita adalah pemenang, bukan pecundang. Yakinkah, selalu ada jalan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang tantangan?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Penyertaan Tuhan  selalu hadir dengan cara yang tak terduga. (pg).

  • Sourced from God

    MAZMUR 44. Sahabat, Sahabat, mungkinkah kita memiliki iman yang tidak mudah goyah? Sangat mungkin. Kita akan belajar melalui pengalaman Pemazmur. Mazmur 43 dibagi menjadi empat bagian. Bagian pertama, Pemazmur mengingat akan kemurahan dan karya Tuhan atas bangsa Israel di masa yang lampau. Bagaimana dengan kekuatan kuasa Tuhanlah, maka bangsa itu beroleh kemenangan (Ayat 1-9).

    Bagian kedua, Pemazmur memaparkankehancuran dan hukuman dari Tuhan atas bangsanya (Ayat 10-17). Pada bagian ketiga, Pemazmur menyatakan keteguhan diri dan bangsanya kepada Tuhan. Sekalipun tangan Tuhan menekan dan meremukkan mereka, namun mereka tidak berpaling daripada-Nya (Ayat 18-22). Pada bagian keempat, Pemazmur menyatakan seruan permohonan kepada Tuhan agar segera menolong mereka (Ayat 23-27).

    Apa yang membuat Pemazmur tidak meninggalkan Tuhan di tengah kesesakan yang dialami bangsanya? Pertama, Pemazmur menyadari bahwa kehidupan dirinya dan bangsanya dikarenakan kekuatan kuasa tangan Tuhan (Ayat 2-9, 10-15). Selain itu, Pemazmur sadar, baik senang maupun susah, baik menang ataupun kalah, Tuhan berkuasa mengatur hidupnya.

    Kedua, Pemazmur mengenal siapa Tuhan yang disembah olehnya dan bangsanya (Ayat 5). Perhatikan perubahan kata “kami” di ayat 2 menjadi “-ku” di ayat 5. Pemazmur mengenal Allahnya bukan hanya sebagai Allah bangsanya, melainkan sebagai Allahnya pribadi. Ia mengenal Allah bukan karena apa kata bangsanya, melainkan ia mengalami Allah dalam hidupnya. Karena itulah ia berseru “Rajaku dan Allahku” (Ayat 5).

    Pengenalan dan iman kepada Allah secara personal sangatlah penting, karena kita benar-benar memiliki relasi intim dengan Allah yang kita sembah. Sekalipun kenyataan hidup meremukkan hati, iman kita tidak akan mudah goyah. Sebab, Allah yang kita sembah adalah Allah yang punya kuasa untuk mendatangkan kebaikan bagi setiap orang yang mengasihi-Nya.

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Sourced from God (Bersumber dari Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 44:1-27 dengan berfokus pada ayat 7-8. Sahabat, Serena Williams merupakan seorang Afro-Amerika yang lahir 26 September 1981 di Saginaw, Michigan, Amerika Serikat.  Ia adalah salah seorang petenis puteri terhebat di muka bumi ini.  Di bulan Januari 2017  Serena  mengukir sejarah baru yaitu merebut gelar grandslam-nya yang ke-23 di Australia Open 2017 setelah mengalahkan Venus Williams  (kakak kandungnya)  dalam partai all Williams final dengan skor 6-4 6-4.  Itu berarti Serena berhasil melewati rekor sang legenda tenis asal Jerman, Steffie Graff, yang mengoleksi 22 gelar grandslam di sepanjang karirnya.  Luar biasa!

    Meraih kemenangannya adalah impian setiap olahragawan yang biasanya memiliki semboyan vini vidi vici, yang berasal dari bahasa Latin klasik veni, vidi, vici yang artinya:  Saya datang, saya melihat, saya menang.  Awalnya kata-kata ini digunakan dalam pesan Julius Caesar, seorang jenderal dan konsul Romawi pada tahun 47 SM yang disampaikan pada senat Romawi. Kata-kata tersebut menggambarkan kemenangannya dalam pertempuran Zela atas Pharnaces II dari Pontus. 

    Sesungguhnya tak seorang pun olahragawan yang mau mengalami kekalahan dalam setiap kejuaraan yang diikutinya, karena setiap kemenangan selalu mendatangkan kebanggaan tersendiri, apalagi kemenangan itu diraih dalam kejuaraan yang bertaraf internasional.

    Sahabat, dalam menjalani kehidupan yang penuh dengan tantangan dan liku-liku ini setiap orang pasti berharap mampu melewati hari-hari dengan sebuah kemenangan.  Bagi orang percaya hidup berkemenangan bukanlah sekadar impian atau isapan jempol belaka, melainkan sebuah janji yang pasti dari Tuhan:  “Tetapi dalam semuanya itu kita lebih dari pada orang-orang yang menang, oleh Dia yang telah mengasihi kita.”  (Roma 8:37). 

    Tuhan telah membuka jalan kemenangan bagi umat-Nya melalui pengorbanan-Nya di atas kayu salib, yang oleh-Nya kita dibebaskan dari kutuk dosa dan diselamatkan.  Orang percaya bukan lagi menjadi orang-orang yang kalah, melainkan umat pemenang! Kemenangan orang percaya merupakan KEMENANGAN yang BERSUMBER DARI TUHAN, ketika memiliki penyerahan diri penuh kepada Tuhan dan mengandalkan-Nya! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 18?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kasih setia Tuhan berkuasa untuk membebaskan kita dari segala penderitaan, asalkan kita tetap setia kepada-Nya. (pg).

  • Mengendalikan Keinginan

    AKHAN. Wikipedia mencatat bahwa Akhan bin Karmi bin Zabdi bin Zerah, dari suku Yehuda, adalah tokoh yang muncul dalam Kitab Yosua dalam Alkitab Perjanjian Lama di Alkitab Kristen  sehubungan dengan jatuhnya Yerikho dan penaklukan Ai. Namanya ditulis sebagai Ahar (Achar) dalam 1 Tawarikh 2:7.

    Menurut penuturan Yosua, Akhan menjarah jubah yang indah buatan Sinear, dan dua ratus syikal perak dan sebatang emas yang lima puluh syikal beratnya dari Yerikho, hal itu bertentangan dengan perintah Yosua (dari Allah) bahwa  segala emas dan perak serta barang-barang tembaga dan besi adalah kudus bagi TUHAN; semuanya itu akan dimasukkan ke dalam perbendaharaan TUHAN (Yosua 6:19).

    Meskipun dalam catatan tersebut tampaknya hanya Akhan seorang diri yang bersalah karena mengingini dan mengambil jarahan tersebut, Yosua pasal 7 dimulai dengan pernyataan bahwa segenap umat (orang Israel) berubah setia (Yosua 7:1).

    Mari kita membaca dan merenungkan Yosua 7:1-26. Sahabat, sesudah peristiwa tembok Yerikho, bangsa Israel tampak semakin percaya diri untuk memasuki tanah perjanjian. Kali ini, mereka akan masuk ke kota Ai yang dihuni orang Amori. Setelah melakukan pengintaian, mereka memutuskan dua atau tiga ribu saja yang akan menggempur.  Menurut laporan, penduduk di sana sangat sedikit (Ayat 2-3). Jadi, cukup logis jika tidak seluruh bangsa datang untuk menyerang kota Ai.

    Tiga ribu orang Israel berangkat untuk melaksanakan misi itu. Namun, apa yang terjadi? Mereka malah dipukul balik, bahkan melarikan diri (Ayat 4). Dari pihak Israel jatuh tiga puluh enam korban (Ayat 5). Rakyat kota Ai berhasil mempermalukan bangsa Israel. Bahkan, mereka dibuat lari tunggang-langgang.

    Kenyataan ini membuat Yosua tawar hati. Dia mengoyak jubahnya sebagai tanda perkabungan yang mendalam (Ayat 6). Dia sujud di hadapan tabut Tuhan untuk menunggu jawaban mengapa hal tersebut bisa terjadi.

    Sahabat, setelah Yosua mengadu kepada Tuhan, didapati bahwa kekalahan tersebut disebabkan oleh Akhan yang melanggar perintah Tuhan dengan mengambil barang yang dikhususkan, yang tidak boleh diambil ketika mengalahkan Yerikho. Keinginannya yang tidak dapat ia kendalikan atas barang-barang yang indah serta perak dan emas, mendatangkan kekalahan bagi bangsa Israel (Ayat 7-12). 

    Hal tersebut membuat Akhan jatuh dalam dosa besar hingga akhirnya mencelakakan dirinya beserta segenap keluarga. Harta Akhan dan segenap barang-barang khusus yang ia ambil serta anak-anaknya dilempari batu dan dibakar api hingga musnah (Ayat 16-25).

    Sahabat, Yakobus mengingatkan kita: Sering kali keinginan-keinginan yang timbul menjadi pencobaan bagi diri kita sendiri. Keinginan-keinginan yang belum diuji, apakah sesuai firman Tuhan dan kehendak-Nya, bila tidak kita KENDALIKAN dengan baik, akan menyeret dan memikat kita sehingga mengakibatkan kita jatuh ke dalam dosa, bahkan mendatangkan maut (Yakobus 1:14-15)

    Belajar dari pengalaman Akhan, tidak bisa MENGENDALIKAN KEINGINAN  yang tidak sesuai dengan firman Tuhan bisa berdampak besar dan mencelakakan orang lain juga. Memiliki keinginan tidaklah salah, namun kita perlu sangat hati-hati dalam mewujudkan keinginan kita. Perlu minta hikmat dan petunjuk Tuhan terlebih dahulu: “Apakah keinginanku sudah selaras dengan kehendak-Nya?” Kita perlu terus belajar untuk MENGENDALIKAN KEINGINAN KITA. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Yakobus 1:14-15?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Menguji dan menyerahkan keinginan pada Tuhan menghindarkan diri dari pencobaan dan kejatuhan. (pg).

  • JARAK 37-40 KM

    Saudaraku, di kitab Yohanes 4:46-52 ada sebuah cerita tentang Tuhan Yesus yang menyembuhkan anak seorang pegawai istana, yang tidak dicatat namanya, hanya saja si pegawai ini rumahnya ada di Kapernaum, dan dia datang ke tempat Yesus yang ada di Kana, Galilea. 

    Jadi kisah ini berjarak dua kota yang disebutkan, yakni Kapernaum dan Kana di Galilea. Hari ini ada Google Maps, dan kita bisa mengetahui jaraknya, oh ternyata sekitar 37-40 km, karena kita tidak mengetahui lokasi rumah si pegawai hingga tempat Yesus di Kana. 

    Ceritanya si pegawai istana di Kapernaum memiliki anak kesayangan yang sakit dan kondisinya semakin parah, jadi dia selalu mencari tabib atau dokter zaman itu yang bisa mengobati, hingga dia mendengar kabar tentang Yesus yang melakukan mukjizat kesembuhan. Karenanya dia ingin sekali menemui Yesus mohon pertolongan bagi anaknya. Ternyata Yesus ada di Kana, yang jaraknya 37-40 km dari rumahnya.

    Pergi ke Kana, naik apa? Zaman itu, masa Kerajaan Romawi, belum ada motor, mobil ataupun sepeda, apalagi taksi. Naik kuda, oh itu larangan, karena kuda dipakai oleh tentara, sedangkan rakyat bolehnya naik keledai atau kereta yang ditarik lembu, kecepatannya hanya sekitar 6-9 km per jam, jadi untuk jarak 40 km perlu 5-7 jam, apalagi jika mesti berjalan kaki, dari Kapernaum ke Kana di Galilea bisa mencapai 12-14 jam! Bahkan mungkin ada keraguan selama perjalanan, apakah Yesus masih ada di Kana atau sudah pergi ke kota lain, jadi mesti disusul lebih jauh lagi.

    Setelah berjumpa Yesus, dia mengutarakan keinginannya supaya Yesus datang dan menyembuhkan anaknya, sebab anaknya itu hampir mati. Tapi kata Yesus kepadanya: “Jika kamu tidak melihat tanda dan mujizat, kamu tidak percaya.” Pegawai istana itu berkata kepada-Nya: “Tuhan, datanglah sebelum anakku mati.” Untuk kedua kalinya Yesus berkata: “Pergilah, anakmu hidup!”

    Orang itu percaya akan perkataan yang dikatakan Yesus kepadanya, lalu pergi. Dan ketika si pegawai istana itu masih di tengah perjalanan pulang, hamba-hambanya telah datang kepadanya dengan kabar, bahwa anaknya hidup. Ia bertanya kepada mereka pukul berapa anak itu mulai sembuh. Jawab mereka: “Kemarin siang pukul satu demamnya hilang.” Maka teringatlah ayah itu, bahwa pada saat itulah Yesus berkata kepadanya: “Anakmu hidup.”

    Jadi untuk pergi dari Kapernaum ke Kana perlu waktu hampir 1 hari, berjumpa Yesus hanya singkat, mungkin kurang dari 30 menit, dan ketika balik mau pulang mungkin sudah malam gelap dan perlu menginap karena di sepanjang jalan pasti tidak ada lampu jalan, dan esok pagi-pagi dia mesti melanjutkan perjalanan pulang. Hamba-hambanya memberitahu, kemarin siang pukul satu anaknya sembuh, bertepatan dia disuruh pergi oleh Yesus.

    Nah, balik lagi ke jarak Kapernaum ke Kana yang 37-40 km. Ternyata jarak ini di Google Maps identik dengan jarak dari GKMI Kudus di Panjunan Kudus hingga GKMI Jepara. Bayangkan, bila daerah Panjunan Kudus itu kita anggap sebagai Kapernaum, maka si pegawai istana mesti berjalan kaki atau naik keledai atau naik kereta ditarik lembu ke Jepara yang kita anggap sebagai Kana.

    Zaman sekarang, saat transportasi demikian mudah, adakah orang seperti si 

    pegawai istana yang mau menempuh jarak 37-40 km untuk menjumpai Tuhan Yesus di gereja? Saat ini lebih banyak orang yang mencari gereja yang dekat-dekat dengan rumah, agar berangkat dari rumah tidak butuh waktu lama, padahal yang terjadi karena bangunnya lebih siang jadi berangkatnya tidak perlu pagi-pagi. Itu pun ternyata banyak yang datangnya terlambat ke gereja.

    Saudaraku, jarak 37-40 km bagi si pegawai istana bukanlah jarak yang jauh, karena dia ingin sekali menjumpai Yesus, meskipun berjumpa hanya sebentar, hatinya lega dan dia percaya bahwa anaknya akan disembuhkan, maka dia pergi untuk pulang ke rumahnya.

    Nah, bagi diri kita, jarak 37-40 km untuk datang ke gereja, mungkin benar jarak yang jauh, tapi akan dirasa semakin jauh dan berat bila tujuan ke gereja itu tidak ada dalam keinginan hati kita. Pokoknya bisa sampai ke gereja sudah cukup, duduk dengar sebentar, kenapa gereja tidak bisa liturgi ibadahnya cukup satu jam saja atau bisa lebih singkat lagi?

    Jadi, jarak 37-40 km bukan sekadar jarak, tapi apakah di hati kita masih merindukan untuk berjumpa dengan Tuhan Yesus di gereja-Nya?

    Saudaraku, cerita di Injil  Yohanes 5: 46-52 menunjukkan niat yang teguh ingin berjumpa Yesus, dan benar-benar melakukan tindakan yang nyata, mesti harus berjalan jauh, a long way, entah berapa jam, entah berapa hari, POKOKNYA MESTI  BERTEMU YESUS. (Surhert).

  • STEFANUS TAK PERNAH MUNDUR

    Saudaraku, nama Stefanus hanya tercatat di bagian awal dalam Kitab Kisah Para Rasul,  namun dampak dari kehidupannya mengubah peta sejarah Kristen awal secara drastis.  Mari kita renungkan Kisah Para Rasul 6.

    Dikisahkan waktu itu terjadi kesenjangan perhatian terhadap para janda Yahudi yang berbahasa Ibrani dan Yunani, maka para rasul menunjuk tujuh orang diakon yang mengurus keperluan itu.  Ada tujuh nama laki-laki yang dituliskan dan menariknya adalah ada catatan khusus untuk seorang diakon yang bernama Stefanus.  Khusus Stefanus ada tambahan catatan: Seorang yang penuh iman dan Roh Kudus (Ayat 5), padahal untuk menyeleksi para diakon ini dimunculkan beberapa kriteria : Dikenal baik, penuh Roh dan hikmat (Ayat 3).  

    Kesungguhan iman Stefanus teruji saat ternyata ia sanggup untuk berdiskusi dengan jemaat Libertini, sebuah kelompok agama yang dibentuk oleh orang Yahudi  mantan budak kekaisaran Romawi.  Stefanus mampu mempertanggung jawabkan iman percayanya sehingga orang-orang Libertini merasa ‘kalah’ dan memakai cara kotor untuk memfitnahnya (Ayat 9-11).  Stefanus mengejawantahkan iman dengan tidak mundur walau ia ditekan oleh keadaan.

    Di Zaman yang makin cepat, sibuk dengan situasi politik Indonesia yang nampak “stabil” membuat orang percaya merasa berada di zona nyaman yang membuat orang percaya terlena untuk mengabaikan kebutuhan memperlengkapi diri dengan pemahaman Firman yang dalam dan bahkan enggan terlibat dengan tantangan rohani.  

    Banyak yang berpikir bahwa menyambut panggilan Tuhan menjadi pengikut Kristus saja sudahlah cukup, padahal Rasul Paulus menasihatkan jemaat di Kolose :   Saudara-saudara sudah menerima Kristus Yesus sebagai Tuhan. Sebab itu hendaklah kalian hidup bersatu dengan Dia, dan berakar di dalam Dia. Hendaklah kalian membangun hidupmu dengan Kristus sebagai dasarnya. Hendaklah kalian makin percaya kepada Kristus, menurut apa yang sudah diajarkan kepadamu. Dan hendaklah hatimu meluap-luap dengan ucapan terima kasih. (Kolose 2:6-7, BIS). 

    Perjuangan orang percaya tidak hanya sampai di tahap menerima Kristus namun harus terus berakar, bertumbuh dan berbuah.  Mari belajar bertumbuh secara rohani, makin mantap dari hari ke hari sehingga tugas mengabarkan kabar baik terus dapat dilaksanakan dengan berani apa pun tantangan yang dihadapi. JANGAN TERLENA DENGAN ZONA ZAMAN.    Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • Bukan Hanya Berlari, Tapi Menuntaskan!

    Saudaraku, mari kita membaca dan merenungkan:  2 Timotius 4:7: “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir, dan aku telah memelihara iman.”

    Hidup sebagai orang beriman adalah perjalanan panjang,  kita dipanggil bukan hanya untuk memulai, tetapi menuntaskan panggilan hidup dengan setia. Layaknya seorang atlet yang berlari di lintasan, kita diundang untuk mencapai garis akhir, meskipun perjalanan penuh tantangan. Di tengah lintasan ini, sering kali kita menemui situasi seperti memakan “buah simalakama”, pilihan-pilihan sulit yang keduanya tampak penuh konsekuensi.

    Mungkin kita pernah merasa berada di persimpangan, dihadapkan pada dua pilihan yang sama-sama tidak ideal, tetapi harus tetap memilih. Seperti memilih antara pekerjaan stabil yang menguras hati, atau mengejar panggilan yang penuh ketidakpastian. Situasi “buah simalakama” ini menghadirkan konsekuensi di setiap pilihan dan menguji iman kita. 

    Di saat seperti  inilah kita bertanya, “Tuhan, apa yang Engkau inginkan?” Terkadang, jawaban tidak langsung muncul, membuat kita terjebak dalam keraguan atau kecemasan. Namun, hidup beriman adalah berani menyelesaikan pertandingan, bahkan di tengah pilihan sulit.

    Paulus dalam 2 Timotius 4:7 berkata, “Aku telah mengakhiri pertandingan yang baik, aku telah mencapai garis akhir, dan aku telah memelihara iman.” Ini adalah suara ketenangan dari seseorang yang telah menyelesaikan lintasannya, bukan karena semuanya berjalan mulus, melainkan karena ia setia pada panggilan Tuhan. 

    Paulus menghadapi berbagai pilihan serupa dengan “buah simalakama” sepanjang pelayanannya, sering kali harus memilih antara keselamatan diri atau setia pada misi yang berisiko. Namun, ia tetap berpegang pada iman, meskipun banyak yang dipertaruhkan. Ini menginspirasi kita untuk terus setia dan menuntaskan pertandingan hidup dengan penuh keyakinan.

    Bagi kita, menyelesaikan hidup dengan baik berarti BERANI MENGAMBIL KEPUTUSAN  yang sesuai dengan kebenaran Kristus, meskipun itu sulit. Ketika dihadapkan pada pilihan sulit, yang utama bukanlah mencari jalan termudah, tetapi jalan yang paling mendekati kehendak dan kasih-Nya. 

    Misalnya, ketika kita memilih untuk mengampuni meski sakit hati, atau memilih jujur meski berisiko, kita sedang berusaha menyelesaikan pertandingan iman dengan ketulusan dan keteguhan. Kita tidak hanya berlari; kita belajar menyelesaikan lintasan dengan komitmen pada nilai-nilai Tuhan.

    Dalam setiap musim kehidupan, kita menghadapi “garis finis” yang berbeda. Di masa muda, kita mungkin diuji dalam mempertahankan integritas di pergaulan atau tetap setia kepada kebenaran di tengah tawaran kesenangan. Bagi yang berkeluarga, kita mungkin sering bertemu “buah simalakama” dalam membesarkan anak, antara tegas atau longgar, antara bekerja keras atau menyediakan lebih banyak waktu. Meski berat, setiap keputusan yang kita buat untuk menuntaskan pertandingan adalah langkah menuju garis akhir yang telah Tuhan tetapkan.

    Kita tidak dipanggil untuk menyelesaikan pertandingan ini sendirian. Dalam setiap keraguan atau pilihan yang membingungkan, kita bisa mendekatkan diri pada komunitas iman, sahabat seiman, mentor, atau pemimpin rohani yang bisa membantu memberi pandangan dan dukungan. Pendampingan serta doa dari mereka membantu kita lebih kuat menghadapi situasi-situasi “buah simalakama,” ketika semua terlihat samar.

    Saudaraku, aada akhirnya, menyelesaikan pertandingan bukanlah soal hasil gemilang, tetapi soal ketenangan dalam hati, bahwa kita telah hidup menurut kehendak-Nya. Di akhir perjalanan hidup kita, damai yang kita rasakan bukan dari pencapaian duniawi, melainkan karena kita telah memilih setia dan jujur pada panggilan-Nya. 

    Biarlah kelak kita dapat berkata seperti Paulus, bahwa kita telah menyelesaikan pertandingan yang baik, mencapai garis akhir, dan memelihara iman kita dengan teguh. Kiranya Tuhan memberi kebijaksanaan dan keberanian untuk menuntaskan panggilan hidup dengan setia, bahkan ketika dihadapkan pada “buah simalakama.” (EBWR)

  • Kasih Gembala yang Baik

    GEMBALA DOMBA. Dari Media Online Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) saya mendapatkan informasi bahwa domba  merupakan salah satu bagian sentral dari ekonomi Israel sejak awal sekali (Kejadian  4:2). Beberapa tokoh di dalam Alkitab  seperti Abraham, Ishak, Musa, Daud dan Amos adalah seorang gembala (Kejadian 12:16; 26:14; Keluaran 3:1; 2 Samuel 7:8; Amos 1:1). 

    Gembala dalam arti harfiah pada zaman dulu dan sekarang, mengemban panggilan tugas yang banyak tuntutannya. Gembala harus mencari rumput dan air di daerah yang kering dan berbatu-batu (Mazmur 23:2), harus melindungi kawanan domba gembalaannya terhadap cuaca buruk dan binatang buas (Amos 3:12), harus mencari dan membawa kembali setiap domba yang tersesat (Yehezkiel 34:8; Matius 18:12). 

    Jika tugas-tugasnya mengharuskan dia jauh dari perkemahan gembala, segala kebutuhan utamanya ia bawa dalam suatu kantung (1 Samuel 17:40, 49), dan kemah menjadi penginapannya (Kidung Agung. 1:8). Gembala juga menggunakan anjing sebagai pembantunya seperti gembala modern (Ayub 30:1). 

    Alat utama gembala adalah GADA (untuk mengusir binatang buas dan liar) dan TONGKAT panjang yang ujungnya melengkung (untuk membimbing atau menyelamatkan domba), dan juga UMBAN untuk melontarkan batu ke binatang liar yang menyerang (1 Samuel 17:34-37).

    Mari kita membaca dan merenungkan Yehezkiel 34:1-31 dengan berfokus pada ayat 31. Sahabat, andaikan kita menjadi gembala dan suatu saat kita harus diperhadapkan dengan suatu pilihan yang berat:  Melindungi domba kita dari binatang buas tapi kita harus mati, atau kita membiarkan domba itu mati asal kita selamat, mana yang kita pilih?  

    Mari kita jujur saja sebagai manusia kita pasti memilih menyelamatkan diri sendiri daripada harus berkorban nyawa hanya demi domba-domba kita.  Gembala upahan pun melakukan hal yang sama: “… ketika melihat serigala datang, meninggalkan domba-domba itu lalu lari, sehingga serigala itu menerkam dan mencerai-beraikan domba-domba itu.”  (Yohanes 10:12).

    Sahabat, hampir semua orang pasti tidak mau mati demi seekor domba, karena nyawa domba itu tidak sebanding dengan nyawa manusia.  Tetapi Tuhan Yesus justru datang dengan tujuan mati untuk domba-domba-Nya.  Kalau manusia saja tidak pantas mati bagi domba, maka sangat tidak layak Raja di atas raja mau mati bagi manusia; namun Tuhan Yesus melakukan hal yang tidak lazim itu.  Itulah yang disebut anugerah.  

    Melalui perumpamaan dalam Lukas 15:1-7 Tuhan Yesus mengajarkan bahwa Dia, Allah, rela turun dari surga untuk mencari domba yang hilang, walaupun hanya seekor saja yang hilang, padahal ia masih punya sembilan puluh sembilan ekor yang lain.  Apalah artinya seekor dibanding dengan sembilan puluh sembilan ekor?

    Satu domba yang tersesat adalah gambaran dari manusia yang berdosa dan tersesat.  Orang lain mungkin melupakan atau membuang kita, tetapi Tuhan tetap peduli;  Ia mencari dan menyelamatkan kita walau kita sebenarnya adalah orang-orang yang tidak layak dicari, bahkan sebaliknya layak dibuang.  Namun kasih Tuhan begitu besar, bahkan Dia rela menderita dan mati di kayu salib.  

    Sahabat, hal ini membuktikan  bahwa Dia adalah GEMBALA  yang BAIK.  Tidak hanya itu, Dia menuntun domba-dombanya masuk ke kandang dan membawanya ke padang rumput hijau dengan tongkat dan gadanya.  

    Dia pun mengenal kita secara pribadi, seperti tertulis:  “… Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku sama seperti Bapa mengenal Aku dan Aku mengenal Bapa, dan Aku memberikan nyawa-Ku bagi domba-domba-Ku.”  (Yohanes 10:14).  

    Ini menunjukkan suatu hubungan yang intim, penuh cinta kasih.  Bukan sekadar mengenal, tapi Dia tahu segala penderitaan dan pergumulan kita. Dia Gembala Yang Baik yang mengasihi kita.  Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 16?


    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan Yesus adalah Gembala kita yang sejati, yang betul-betul mengenal kita. (pg).