Category: Sejenak Merenung

  • God is the Relief Provider

    PUTUS ASA. Sahabat, karena tekanan hidup yang kian berat dan permasalahan yang dialami, maka cukup banyak orang menjadi putus asa dan frustasi.  Mengapa bisa terjadi?

    Rasa putus asa muncul ketika seseorang mengalami jalan buntu.  Celah inilah yang digunakan Iblis untuk menanamkan rasa putus asa dalam diri seseorang, sehingga dalam dirinya timbul rasa mengasihani diri sendiri (self pity) dan merasa sudah tidak ada pertolongan lagi.  

    Kita  tidak lagi mengarahkan pandangan kepada Tuhan dan mulai meragukan kuasa-Nya.  Dengan kata lain kita putus asa dan menjadi tawar hati, merasa bahwa Tuhan tidak sanggup melakukan perkara besar dalam kehidupan kita.


    Sesungguhnya rasa putus asa bukanlah karakter anak-anak Tuhan!  Kita adalah lebih dari pemenang karena Tuhan selalu ada di pihak orang percaya.  Seberat apa pun masalah yang kita hadapi, jangan putus asa, serahkan semuanya kepada Tuhan.  Jangan buang waktu dan tenaga pada hal-hal yang membuat kita putus asa dan lemah.  Mari kita lebih lagi melekat kepada Tuhan.   

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “God is the Relief Provider (Tuhan adalah Pemberi Kelegaan)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 43:1-5. Sahabat, tahukah  bahwa tingkat stres manusia ternyata ada skalanya? Menurut acuan Skala Stres Holmes dan Rahe, kematian pasangan menempati angka tertinggi, yakni 100, terhadap stres yang dialami oleh seseorang. Sementara, perceraian, kematian keluarga dekat, dan pemecatan (PHK) mendapat nilai masing-masing 73, 63, dan 47. 

    Dalam waktu berdekatan, ambang batas maksimal jiwa seseorang dinilai masih mampu menangani stres sampai angka 300. Skala stres 300 disebut dapat berisiko tinggi membuat seseorang sakit, bahkan mengalami goncangan jiwa.

    Pemazmur juga pernah mengalami tekanan dalam hidupnya. Kejaran orang-orang yang tidak menyukai hingga kejaran para musuh membuat jiwanya tertekan dan gelisah. Namun, Pemazmur  tidak mengizinkan jiwanya mengalami tekanan dan gelisah terus-menerus. Ia memahami bahwa Allah ada di pihaknya, yang akan menolong dan melepaskan dirinya dari setiap kesesakan yang mengimpit jiwanya. 

    Suatu kunci ketenangan jiwa yang juga dapat kita alami, karena Allah, Sang Pemberi Damai Sejahtera itu ada dalam hidup kita. Meski kita juga perlu belajar mengelola stres dan sedapat mungkin menghindari penyebab stres.

    Sahabat, namun, kita menyadari bahwa tak mungkin kehidupan ini sepenuhnya berlangsung tanpa ada tekanan, masalah, atau pergumulan hidup. Tindakan pencegahan mungkin sudah kita lakukan, tetapi tetap jiwa kita dapat mengalami tekanan karena masalah kehidupan. Namun setidaknya, hari ini kita mengerti cara merespons stres dengan tepat, yakni datang kepada Allah dan berharap akan pertolongan-Nya. Ketika tekanan melanda jiwa, hanya Allah yang dapat memberi kelegaan.  Tuhan adalah pemberi kelegaan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 5?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mari kita penuhi hati kita dengan kepercayaan akan janji Firman TUHAN yang merpakan kepastian jawaban dan dasar kebenaran bahwa TUHAN sanggup menolong dan melakukan mukjizat bagi kita. (pg). 

  • Tuhan Tidak Pernah Ingkar Janji

    MERPATI TAK PERNAH INGKAR JANJI. Itu merupakan judul lagu yang dinyanyikan oleh Paramitha Rusady yang menjadi soundtrack dari film “Merpati Tak Pernah Ingkar Janji”  yang dirilis pada tahun 1986. Film tersebut merupakan film arahan sutradara Wim Umboh dan dibintangi oleh Paramitha Rusady dan Adi Bing Slamet.  Film ini diadaptasi dari novel dengan judul yang sama karya Mira W.

    Dikisahkan dalam film tersebut, Maria (Paramitha Rusady) sejak kecil diarahkan ayahnya untuk menjadi biarawati. Akibat pengarahan yang kaku oleh ayahnya, Maria selalu merasa serba salah. Ia jatuh cinta pertama dengan Guntur (Adi Bing Slamet), tetapi Maria akhirnya tetap menjadi biarawati juga.

    Mari kita membaca dan merenungkan Yosua 21:43-45 dengan berfokus pada ayat 45. Sahabat,  kita hidup dalam dunia yang dibanjiri dengan janji. Televisi dan media sosial, menjadi corong janji itu diumbar. 

    Namun sering kali, tebaran janji itu hanya semu. Janji itu akan terpenuhi kalau kita memenuhi syarat yang disodorkannya. Kita terlebih dahulu harus membayarkan sejumlah uang baru kemudian janji itu bisa dirasakan. Bahkan, sering janji itu memanipulasi syarat-syaratnya. Akibatnya, siapa saja yang tidak cermat malah menjadi tertipu.

    Sahabat, manusia sering lupa akan janjinya. Banyak orang berjanji tetapi ternyata tidak menepatinya. Manusia dengan berbagai alasan mengingkarinya. Akibatnya kita kecewa dengan janji dan akhirnya apatis dengan janji.

    Tetapi tidak demikian dengan Tuhan. Kalau Tuhan berjanji pasti akan menepatinya. Tuhan berjanji kepada nenek moyang bangsa Israel untuk memberikan Tanah Perjanjian. Sekalipun nenek moyang mereka sudah tidak ada, janji Tuhan tetap berlaku untuk keturunan mereka.


    Sahabat, bacaan kita berbicara tentang janji. Tuhan selalu menepati janji-Nya. Dia tidak mengajukan syarat yang manipulatif. Sebaliknya, syarat pemenuhan janji-Nya cukup sederhana: Melakukan perintah-Nya.

    Contoh yang paling awal adalah Abraham. Tuhan menjanjikan kepadanya tanah perjanjian asalkan Abraham mau bertindak sesuai firman-Nya. Hal serupa terjadi kepada bangsa Israel. Selama Israel taat pada perintah Tuhan, maka penyertaan dan penggenapan janji-Nya pasti nyata. Tuhan akan membuat semua hal menjadi mudah. Bahkan, jika tantangan musuh datang, mereka tidak akan tahan berdiri menghadapi Israel (Ayat 43-45). Tuhan menjamin keamanan bangsa Israel.

    Sahabat, relasi dengan Tuhan ternyata cukup sederhana, walau sulit dalam praktik. Kita berhubungan dengan Dia dijembatani oleh janji-Nya dan ketaatan. Dua hal ini harus berjalan seimbang sama seperti antara hak dan kewajiban. Kita akan mendapatkan hak jika sudah melaksanakan kewajiban. Prinsip ini tidak bisa dibalik. Jika kita mengklaim janji-Nya, maka perintah-Nya pun harus kita eksekusi. Pendeknya, mukjizat itu nyata jika firman-Nya pun dilaksanakan. Hanya ketaatan kita yang bisa membuat Tuhan bertindak, bukan uang, korban, atau “sogokan” lainnya.

    Pertanyaan kita sekarang adalah bagaimana kedua aspek ini menjadi seimbang dalam kehidupan kita? Apakah kita hanya merengek menuntut janji-Nya, namun kita lupa menjalani kewajiban? Bagian kita hanyalah TAAT karena Tuhan pasti setia dalam janji-Nya. Yakinlah, Tuhan tidak pernah ingkat janji.  Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apakah Sahabat pernah kecewa dengan janji Tuhan? Apa yang harus Sahabat lakukan sambil menunggu janji Tuhan digenapi dalam hidupmu?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sambil menunggu waktu Tuhan menggenapi janji-Nya, jangan tinggal diam, berusalah melakukan perintah-perintah-Nya. (pg).

  • Panggilan Tuhan Bukan Sebuah Pilihan

    KITAB YUNUS. Yunus, yang namanya berarti “merpati”, diperkenalkan sebagai putra Amitai (Yunus 1:1). Ia disebut dalam 2 Raja-Raja 14:25 sebagai:
    (1) Nabi kepada kerajaan utara Israel semasa pemerintahan Yerobeam II (793-753 SM);
    (2) Ia berasal dari Gat-Hefer,  tiga sampai lima kilometer utara Nazaret di Galilea.
    Jadi, orang Farisi salah ketika mengatakan bahwa tidak pernah ada nabi dari Galilea (Yohanes 7:52). 

    Pelayanan nubuat Yunus terjadi tidak lama sesudah masa pelayanan Elisa (bdk. 2 Raja-raja 13:14-19), bertumpang-tindih dengan masa pelayanan Amos (bdk. Amos 1:1) dan diikuti oleh pelayanan Hosea (bdk. Hosea 1:1). Sekalipun kitab ini tidak menunjukkan penulisnya, sangat mungkin penulis itu Yunus sendiri.

    Kitab Yunus  merupakan salah satu kitab yang termasuk dalam kelompok kitab-kitab kenabian dan khususnya dalam kelompok nabi-nabi kecil pada Perjanjian Lama. Tema : Luasnya Kasih Sayang Allah yang Menyelamatkan. Tahun Penulisan: sekitar 760 SM

    Kitab Yunus pada intinya adalah sebuah cerita tentang sifat Allah. Karena itu, kitab ini dapat dibagi menjadi empat bagian, masing-masing dipisahkan kira-kira menurut pasalnya: (1) Kedaulatan Allah, (2) Pembebasan Allah, (3) Belas kasih Allah, dan (4) Kebenaran Allah. 

    Dalam paruhan pertama kitab ini, pembebasan Allah diperlihatkan melalui kedaulatan-Nya. Di paruhan kedua, pembebasan Allah diperlihatkan melalui belas kasih-Nya. Akhirnya, Allah menyatakan kebenaran-Nya dengan memilih untuk memaksa dan berubah pikiran. 

    Mari kita membaca dan merenungkan kitab Yunus 1:1-17. Sahabat, panggilan Allah untuk memberitakan firman-Nya merupakan kesempatan istimewa yang diberikan kepada setiap orang percaya. Namun, ada kalanya motivasi terselubung mewarnai setiap keputusan untuk menjalani panggilan ini.

    Nabi Yunus hidup pada masa pemerintahan Yerobeam II di Kerajaan Utara. Ia mendapat panggilan Tuhan untuk memberitakan penghukuman atas Niniwe, ibu kota kerajaan Asyur, yang merupakan musuh Israel (Ayat 2). Kejahatan penduduk Niniwe yang luar biasa telah membuat Yunus bersikap antipati terhadap mereka. Yunus berpikir bahwa ia mempunyai pilihan dalam merespons panggilan Tuhan, karena itu ia memilih melarikan diri ke Tarsis (Ayat 3). 

    Sahabat, sebagai seorang yang menerima tugas untuk memberitakan firman Allah, Yunus lupa bahwa PANGGILAN TUHAN BUKAN SEBUAH PILIHAN. Menyatakan kehendak Tuhan merupakan sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan.

    Bagaimanapun upaya Yunus untuk lari dari kehendak Tuhan, ada cara Tuhan yang unik untuk membawa kembali Yunus kepada tugas yang ia harus terima, yaitu dengan memakai orang-orang yang tidak percaya.

    Sahabat. kepastian akan rencana Allah yang harus terlaksana melalui hamba-Nya ini tidak dapat dihalangi oleh apa pun, bahkan sang nabi tidak memiliki pilihan untuk menolak. Atas penentuan Tuhan, seekor ikan besar datang dan menelannya sehingga ia harus berada di dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam.

    Panggilan Tuhan harus dilihat sebagai HAK ISTIMEWA  dan KESEMPATAN YANG LUAR BIASA  yang dianugerahkan kepada kita. Hal tersebut bukan pilihan antara kehendak kita atau kehendak Allah. Hal tersebut  memang  kehendak Allah.

    ketika Tuhan memanggil kita untuk melayani-Nya, yakni untuk menyatakan maksud dan rencana-Nya atas manusia, terimalah panggilan itu sebagai sebuah kehormatan yang diberikan Allah. Hal tersebut bukan pilihan; melainkan kewajiban. 

    Sahabat, jangan pernah berpikir untuk lari dari tanggung jawab itu, sebab Dia akan mengejar kita dan tangan-Nya yang kuat akan mengarahkan dan menuntun kita kembali untuk menjalaninya. Terimalah panggilan-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pad hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 2-3?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jika kita dipercaya Tuhan melayani-Nya mari melakukannya dengan setia dan penuh tanggung jawab, karena tidak semua orang beroleh kesempatan yang sama. (pg).
     

  • Kasih yang Berani Melampaui Rasa Malu

    Saudaraku, hari ini kita membaca dan merenungkan Injil Lukas 7:38. Di zaman sekarang, banyak orang hidup dalam tekanan sosial yang besar. Media sosial, budaya perfeksionis, dan standar kesuksesan membuat kita sering kali berusaha tampak kuat dan sempurna. Akibatnya, banyak yang menyembunyikan kelemahan dan luka mereka. Rasa malu, terutama ketika harus menampilkan sisi rapuh di depan orang lain, menghalangi kita untuk bertindak jujur atau bahkan meminta bantuan. 

    Di tempat kerja, seseorang mungkin terjebak dalam situasi sulit tetapi merasa malu untuk mengakuinya. Di keluarga atau gereja, tidak sedikit orang yang takut membuka hati karena khawatir akan penilaian atau penghakiman dari sesama.

    Rasa malu sering kali menjadi penghalang besar dalam hubungan kita dengan Tuhan. Kita khawatir tentang bagaimana kita dipandang oleh orang lain, dan dalam ketakutan itu, kita menutup diri dari pengalaman kasih yang sejati. Di tengah realitas ini, kita menemukan sebuah kisah yang menyentuh hati di Injil Lukas, yaitu kisah seorang perempuan berdosa yang berani mendekat kepada Yesus, meskipun ia dipenuhi rasa malu.

    Dalam Lukas 7:38, perempuan ini datang kepada Yesus dengan hati yang remuk, membawa minyak wangi yang mahal sebagai persembahan. Dia membasuh kaki Yesus dengan air matanya, menyekanya dengan rambutnya, dan mencium kaki-Nya. Tindakan ini sangat berani, terlebih lagi karena perempuan itu hidup dengan stigma sebagai orang berdosa. 

    Di tengah tatapan sinis orang banyak, dia menepis semua rasa malu untuk menunjukkan kasihnya yang tulus. Yang menarik, Yesus tidak hanya menerima tindakannya tetapi juga memujinya, menunjukkan bahwa Dia melihat hati perempuan itu, hati yang terbuka dan penuh kasih, tanpa takut penilaian dunia.

    Saudaraku, kisah ini menantang kita untuk merenungkan, sejauh mana kita berani melampaui rasa malu untuk mendekat kepada Tuhan? Kasih perempuan ini begitu kuat sehingga dia rela menanggung risiko dicemooh. Dia tidak memedulikan pandangan orang, sebab yang terpenting baginya adalah mendekat kepada Sang Penebus. Di sini, Yesus menunjukkan bahwa Ia tidak melihat masa lalu atau reputasi kita; Ia melihat hati yang datang dengan tulus.

    Dalam kehidupan kita, sering kali kita merasa malu untuk datang kepada Tuhan, terutama ketika kita merasa penuh dosa atau kekurangan. Namun, Yesus memberi teladan bahwa kasih dan penerimaan-Nya melampaui semua ketakutan dan rasa malu kita. 

    Ketika kita datang dengan hati yang terbuka, Tuhan selalu siap menerima dan menyembuhkan. Persoalan kita bukanlah besar atau kecilnya kesalahan yang kita bawa, melainkan apakah kita berani membuka diri untuk menerima kasih dan pengampunan-Nya.

    Saudaraku, bagaimana kita bisa menerapkan kisah ini dalam hidup kita? Pertama, kita diajak untuk datang kepada Tuhan tanpa topeng. Saat kita mencoba menyembunyikan dosa atau kelemahan, kita sebenarnya menjauhkan diri dari kasih-Nya yang memulihkan. Membuka hati adalah langkah pertama menuju kesembuhan dan pengampunan sejati. Kita harus percaya bahwa Tuhan menerima kita apa adanya.

    Kedua, kisah ini mengajarkan kita untuk tidak menghakimi orang lain. Sering kali, kita mudah menilai seseorang berdasarkan masa lalunya, seperti orang-orang yang menatap sinis perempuan dalam kisah ini. Namun, Yesus mengajarkan bahwa yang paling penting adalah kasih yang sejati, bukan masa lalu atau kesalahan seseorang. Dengan membuka hati untuk menerima dan memaafkan orang lain, kita mencerminkan kasih Tuhan.

    Ketiga, kita diundang untuk menunjukkan kasih kepada sesama dengan berani, tanpa rasa takut atau malu. Seperti perempuan yang mengurapi Yesus dengan minyak, kita dipanggil untuk mengekspresikan kasih kepada sesama tanpa mengkhawatirkan penilaian orang lain. Tindakan-tindakan sederhana seperti mengulurkan tangan kepada yang terluka atau memberikan dukungan bagi yang terabaikan, adalah cara nyata untuk membawa kasih Tuhan ke dunia ini.

    Pada akhirnya, kasih yang sejati memang berani melampaui rasa malu. Kita diundang untuk mendekat kepada Tuhan dan sesama dengan hati yang tulus, tanpa takut pada stigma atau penilaian. 

    Saudaraku, dengan mengikuti jejak perempuan dalam Lukas 7, kita bisa belajar bahwa ketika kita datang kepada Tuhan dengan kasih yang tulus, Tuhan akan menyambut kita dengan penerimaan dan belas kasih yang tak terbatas. Dalam keterbukaan itu, kita menemukan bahwa kasih Tuhan lebih besar dari segala rasa malu kita, dan dalam kasih itu, kita diberi kekuatan untuk mengasihi dunia di sekitar kita. (EBWR)

  • Longing for YOU

    MAZMUR 42. Sahabat, Mazmur 42 ditulis oleh seorang Israel yang sedang mengalami pembuangan di Babel. Ia harus hidup di negeri asing yang merupakan negeri penyembah berhala. Perlakuan yang tidak manusiawi, seperti: Kerja paksa, makian, dan cemoohan, merupakan bagian dari kehidupan sehari-hari umat Israel. Jiwa mereka sangat tertekan. Seolah-olah, Tuhan tak lagi hadir dalam kehidupan umat-Nya. Dalam keadaan seperti itu, Pemazmur tidak tinggal diam. Dia mencari jalan keluar dari depresi rohani yang ia alami:

    Pertama, Pemazmur memiliki rasa haus akan Tuhan. Pemazmur menggambarkan dirinya bagaikan seekor rusa kurus yang sedang dalam keadaan sangat kehausan dan merindukan sungai yang berair (Ayat 2-4). Analisa Pemazmur yang sedang mengalami kondisi kekeringan rohani ini sangat tepat! Ada banyak orang yang sedang mengalami tekanan berat, namun sayangnya mereka tidak memiliki rasa haus akan Tuhan. Mereka justru berusaha memuaskan jiwanya dengan perkara duniawi.

    Kedua, Pemazmur mengingat kembali kebaikan Tuhan. Pemazmur mengingat kembali bagaimana dulu ia amat bersemangat menyembah Allah (Ayat 5). Saat itu, hubungan Pemazmur begitu intim dengan Allah. Ada kenikmatan dan sukacita yang tidak terkatakan saat itu. Ingatan tersebut membangkitkan pengharapan dalam hati Pemazmur untuk bisa bersekutu kembali dengan Allah.

    Ketiga, Pemazmur melakukan self-talk atau berdialog dengan diri sendiri. Pemazmur tidak ingin jiwanya dihanyutkan oleh emosi negatif. Oleh karena itu, Pemazmur berusaha untuk mengendalikan perasaannya dengan berkata-kata secara positif. Pemazmur berkata kepada jiwanya, “Mengapa engkau tertekan, hai jiwaku, dan gelisah di dalam diriku?” (Ayat 6a). Di bagian lain, Pemazmur memberi semangat kepada jiwanya dengan berkata, “Berharaplah kepada Allah! Sebab aku bersyukur lagi kepada-Nya, penolongku dan Allahku!” (Ayat 12b)

    Ketika menghadapi pergumulan dan tekanan ekonomi  yang cukup berat seperti  saat ini, wajar bila kita mengalami kehausan akan Allah. Dengan mengingat kembali kebaikan Allah dan melakukan self-talk secara positif, kita akan menjadi siap untuk menghadapi gelombang kehidupan apa pun.

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat melanjutkan belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Longing for YOU (Merindukan ENGKAU)”. Bacaan Sabda diambil dari Mazmur 42:1-12. Sahabat, hamba Tuhan Martyn Lloyd-Jones memberi pandangan menarik tentang kerinduan kita akan kehadiran Tuhan. Ia menggambarkan bahwa kerinduan akan kehadiran Tuhan diwujudnyatakan dengan tindakan kita untuk meluangkan banyak waktu dalam membaca Alkitab secara disiplin. 

    “Makin kita mengetahui dan membaca Alkitab, semakin kita dibawanya ke dalam hadirat Tuhan,” ucapnya. Maka jika kita merindukan kehadiran Tuhan nyata dalam hidup ini, kita harus mendisiplinkan diri dalam membaca dan merenungkan firman-Nya.

    Pada kenyataannya, menjalani disiplinan rohani dalam membaca firman Tuhan tidaklah mudah. Sering kali kesibukan dan rutinitas menjadi penghambat yang tak terelakkan. Namun bagaimana pun juga, upaya yang kita sengajakan untuk meluangkan waktu bagi pembacaan firman Tuhan adalah wujud dari kerinduan kita kepada Tuhan. 

    Jika jiwa kita memang merindukan Tuhan maka Tuhan adalah prioritas kita. Ketika Tuhan adalah prioritas kita, maka sudah seharusnya kita memberi waktu yang penting bagi-Nya. 

    Dengan disiplin membaca firman Tuhanlah, maka kita akan semakin mengenali pribadi dan kehendak-Nya. Jangan katakan kita merindukan Tuhan tetapi tidak ada tindakan apa pun. Bayangkan saja, bagaimana kita merindukan kekasih kita. Tentu kita ingin selalu dekat dengannya bukan? Pemazmur berkata, “Seperti rusa yang merindukan sungai yang berair, demikianlah jiwaku merindukan Engkau, ya Allah,” karena itulah ia merenungkan firman Tuhan sepanjang hari-harinya. “Betapa kucintai Taurat-Mu! Aku merenungkannya sepanjang hari.” (Mazmur 119:97) 

    Kita pun harus mewujudnyatakan kerinduan kita kepada Tuhan. Bacalah Alkitab setiap hari. Sebagai respons dan usaha dalam memahaminya, jangan beranjak jika belum mendapati satu bagian firman Tuhan yang bisa dijadikan sebagai pegangan dalam menjalani sepanjang hari tersebut. Mari wujudkan KERINDUAN kita KEPADA TUHAN. Haleluya. Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini: 

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu? 
    2. Bagaimana cara kita mewujudnyatakan kerinduanmu kepada Tuhan dalam kehidupan sesehari?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Bacalah Alkitab setiap hari. Sebagai respons dan usaha dalam memahaminya, jangan beranjak sebelum memperoleh satu bagian firman Tuhan yang bisa dijadikan sebagai pegangan dalam menjalani sepanjang hari tersebut. (pg).

  • Buah Ketaatan

    NABI HOSEA. Sahabat, bagaimana respons kita seandainya berada dalam posisi nabi Hosea? Ia diperintahkan Allah untuk mengawini Gomer, si perempuan sundal (Hosea 1:2-3). Lalu, ketika Gomer lari darinya untuk berzinah dengan lelaki lain, dan akhirnya dijual sebagai budak, Hosea harus menebusnya kembali dan membawanya pulang (Hosea 3:1-3). 

    Terhadap anak-anak yang dilahirkan Gomer untuknya, Hosea harus memberikan nama yang berkonotasi buruk. Bagi putra sulung: “Yizreel” (Allah menabur). Menabur berkat? Bukan. Sama sekali bukan. Bukan berkat yang dia tabur, melainkan amarah-Nya kepada bani Israel karena dosa Yehu dan keturunannya, para raja Israel Utara (Hosea 1:4,  2 Raja-raja 10:29, 31). 

    Bagi putri kedua: “Lo-Ruhama” (Tiada belas kasih). Allah berhenti menyayangi umat-Nya? Tidak juga. Sebab, setelah menghukum Israel, Dia akan kembali mengasihi mereka meskipun mereka berulang kali melawan Dia (Hosea 1:10-12, 2:21-22, dan 11:8-9). 

    Bagi putra bungsu: “Lo-Ami” (Bukan umat-Ku). Bagaimana jika Allah memutuskan perjanjian-Nya dengan umat-Nya? Adakah hukuman yang lebih mengerikan selain terpisah dari Dia, seperti yang pernah dialami Yesus di kayu salib (Matius 27:46)? 

    Kehidupan Hosea memang amat tragis. Sangat sulit sekali untuk dipahami mengapa Allah menyuruhnya menjalani kepahitan seperti itu. Bagi banyak orang, mungkin ia dianggap gagal. Tetapi, bagi Allah, ia hamba yang taat, yang telah berhasil menjadikan hidupnya sebagai lambang kasih Allah yang abadi pada manusia yang cenderung memberontak. 

    Mari kita membaca dan merenungkan Hosea 1:10-12.  Sahabat, menjadi taat tidak selalu mudah. Namun, Hosea berhasil menunjukkan ketaatan dan berbuah berkat. Berkat itu tidak hanya secara personal, tetapi juga nasional. Pasalnya, bangsa Israel pun mendapatkan janji keselamatannya kembali. Itu semua tak lepas dari Hosea yang memilih taat kepada Tuhan, walau ia harus menderita.

    Hosea, sebagai seorang nabi, harus menjadi suami dari perempuan sundal. Ia menjadi ayah Yizreel, Lo-Ruhama dan Lo-Ami. Ketiganya adalah anak-anak sundal. Syukur kepada Allah, pengorbanan Hosea tidak sia-sia. Cahaya pengharapan bagi Israel pun terbit bak fajar di pagi hari.

    Sahabat, sebelumnya, Tuhan menolak Israel. Namun, setelah itu mereka disebut sebagai “anak-anak Allah yang hidup” (Ayat 10). Allah juga mengatakan bahwa kelak mereka akan menjadi bertambah banyak jumlahnya. Lebih mengagumkan lagi, orang Yehuda dan Israel, yaitu dua kerajaan yang telah terpecah itu akan bersatu kembali di bawah satu pimpinan (Ayat 11).

    Sahabat, kemasyhuran Israel dan Yehuda pun dinyatakan kepada Hosea. Firman Tuhan menegaskan supaya Hosea menyebut saudara-saudaranya laki-laki dengan “Ami!”, artinya “bangsa”. Sementara, panggilan kepada saudara-saudaranya perempuan adalah “Ruhama!”, artinya “kasih” (Ayat 12).

    Ketaatan Hosea kepada Tuhan dengan segala pengorbanan dan keberaniannya layak untuk kita renungkan. Ketaatan kepada Tuhan memerlukan keberanian, kerelaan, ketekunan, pengorbanan, dan keinginan untuk memuliakan Allah.

    Melalui kisah Hosea, kita menjadi mengerti alasan Tuhan meminta ketaatan dari umat-Nya. Tuhan tidak pernah mengecewakan umat yang taat kepada-Nya. Memang untuk menjadi taat, kita tidak serta-merta mendapatkan kemudahan. Satu prinsip yang perlu kita pegang erat-erat:  Tidak ada pengorbanan yang mudah.

    Sahabat, kalau serba gampang, itu bukan pengorbanan. Nilai pengorbanan justru sering terletak pada tingkat kesulitan yang dihadapi. Namun saat kita memilih untuk menjadikan ketaatan sebagai bagian penting dalam hidup kita, maka ketaatan tersebut akan berbuahkan kebaikan. Yakinlah! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dengan istilah: “Pengorbanan”?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Ketaatan pada Tuhan lebih penting daripada keberhasilan hidup. (pg).

  • PETAKA KETIDAK TAATAN

    Saudaraku, kisah Raja Saul adalah ironi.  Dia dipilih sendiri oleh Tuhan untuk menjadi raja pertama Israel namun pada akhirnya malah dieliminasi juga oleh Tuhan sendiri.  Hidupnya lurus-lurus saja sebelum menjadi raja, namun menutup usia secara tragis saat mengemban tugas menjadi raja Israel.  Mengapa bisa kisah hidup Saul bin Kisy bisa begitu tragisnya?  Mari renungkan 1 Samuel 13 dan 15.

    Penulis kitab Samuel menuliskan satu alasan Tuhan pada akhirnya menolak Saul:  Ketidak taatan.  Penyebab Saul bersikap tidak taat sebenarnya sangat rasional, yaitu:

    Pertama, terdesak untuk mengambil langkah cepat di tengah krisis. 1 Samuel 13: 11 menceritakan bahwa Saul dalam keadaan krisis karena sudah muncul mosi tidak percaya kepada kepemimpinannya sementara musuh juga siap menyerang.    Ia sudah berusaha mencari petunjuk Tuhan tetapi Samuel tidak segera datang sehingga Saul berpikir untuk menyelesaikan masalahnya sendiri dan mengambil jalan pintas yang fatal bagi relasinya dengan Tuhan.

    Kedua, ingin memberi persembahan yang terbaik untuk Tuhan. 1 Samuel 15 : 20-21 malah menceritakan parahnya Saul menafsirkan pesan Tuhan.  dengan mengatasnamakan perkara rohani, Saul mencari alasan untuk membenarkan pelanggarannya.  Ia tidak menumpas Agag, Raja Amalek dan lembu sapinya dengan alasan agar bisa memberi persembahan yang terbaik untuk Tuhan.

    Saul menghancurkan dirinya sendiri dengan KETIDAK TAATANNYA. Bukan karena ia tidak tahu Firman,  namun ia memilih melanggar untuk alasan yang dianggapnya masuk akal dan solutif.  Sungguh ironis.  Ketidak taatan Saul menjatuhkannya habis-habisan.  

    Saul mengulang sejarah kejatuhan Adam dan Hawa karena sejatinya sikap tidak taat muncul dari defisitnya rasa respek kepada Tuhan sebagai pemegang otoritas.  Padahal rasa respek muncul dari rasa percaya, dari iman.  Ya sedalam itulah kejatuhan Saul dan ia benar-benar tak punya keinginan untuk mengakui semuanya sehingga akhirnya Tuhan MEMBUANGNYA. 

    Terkadang manusia diperhadapkan dalam situasi yang sulit dan mendesak seperti Saul, namun inilah SAAT-SAAT GENTING  yang menguji RASA PERCAYANYA  kepada Tuhan.  kalau dia memercayai Tuhan maka ia akan berjuang untuk tetap hidup dalam KETAATAN  dalam Firman-Nya.  

    Memang tantangan terberat saat hidup dalam jalan ketaatan adalah KETIDAK SESUAIAN  dengan LOGIKA BERPIKIRNYA.   Namun Saat manusia memilih jalan ketaatan kepada Tuhan, ia sejatinya sedang menjalani IMAN.  Dalam KETAATAN ketaatan ada sikap RESPEK.   Dalam sikap respek ada rasa percaya dan iman adalah rasa percaya itu sendiri.  

    Saudaraku, umat Allah seharusnya berjalan dalam kepercayaan kepada Allah dan berjuang untuk mengedepankan ketaatan kepada Firman Tuhan sebagai pedoman pengambilan keputusannya. Memang ini tidaklah mudah dan penuh dengan konsekuensi namun mari terus berjuang untuk berjalan dalam jalan ketaatan karena orang benar akan hidup oleh rasa percayanya (Habakuk 2:4b).  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • MEROKOK: Boleh atau Tidak?

    Saudaraku, Ini baru saja diberitakan, omzet 3 perusahaan rokok yang melantai di Bursa Efek Indonesia:

    GGRM penjualan Januari-September 2024 Rp 73,89 triliun

    HMSP penjualan Januari-September 2024 Rp 88,47 triliun

    WIIM omzet per Januari- Juni 2004: Rp 2.22 triliun

    Total penjualan dari 3 pabrik tersebut Rp 164,58 triliun, belum termasuk pabrik-pabrik rokok yang ada di Kudus dan kota-kota lainnya, mungkin total penjualan seluruhnya pada bulan Januari-September 2024 mencapai Rp 250 triliun.

    Mari kita perhatikan, 9 bulan = Rp 250 triliun, berarti rata-rata per bulan = Rp 27,8 triliun, per hari (30 hari) = Rp 925,9 miliar, dan penjualan rokok per jam sekitar Rp 38,5 miliar! Jika sebungkus rokok harganya rata-rata Rp 20.000 per bungkus, maka dalam 1 jam saja telah terjual 1.925.000 bungkus. Banyak ya?

    Di Google kita bisa membaca, rokok tembakau pertama kali digunakan oleh suku Indian di Amerika untuk keperluan ritual keagamaan, seperti memuja dewa atau roh. Rokok diduga berasal dari Meksiko dan Amerika Tengah sekitar abad ke-9, dalam bentuk buluh dan pipa rokok. Suku Maya dan Aztec sering menggambarkan pendeta dan dewa merokok dalam tembikar dan ukiran kuil. Pada abad ke-16, ketika penjelajah Columbus menemukan benua Amerika, mulailah para penjelajah Eropa mencoba-coba menghisap rokok dan membawa tembakau ke Eropa.

    Rokok kretek pertama di Indonesia ditemukan oleh Haji Jamhari pada tahun 1880 di Kudus. Rokok kretek ini merupakan perpaduan antara cengkeh dan tembakau yang dibungkus kulit jagung dan dibakar. bunyi “kretek, kretek, kretek” yang dihasilkan dari pembakaran tersebut menjadi asal-usul sebutan “kretek”. Merek rokok kretek pertama di Indonesia adalah Dji Sam Soe, yang diluncurkan tahun 1913 di Surabaya, juga Mas Nitisemito, pengusaha rokok kretek dari Kudus, dianggap sebagai Bapak Kretek Indonesia.

    Nah saat ini  masih dekat-dekat dengan peringatan Reformasi 31 Oktober, apa pendapat Alkitab tentang rokok? Ternyata di Alkitab tidak ada ayat-ayat yang mengulas tentang rokok, atau sesuatu yang diisap-isap dan menghembuskan asap dari mulut, atau semacam rokok yang dipakai untuk ritual keagamaan penyembahan berhala. Tidak ada, juga di kitab Wahyu yang menubuatkan tentang akhir zaman juga tidak terdapat tentang rokok.

    Di kitab Amos 4:11 ada kata puntung: “Aku telah menjungkirbalikkan kota-kota di antara kamu, seperti Allah menjungkirbalikkan Sodom dan Gomora, sehingga kamu menjadi seperti puntung yang ditarik dari kebakaran, …” 

    Tapi itu bukan puntung rokok, karena arti puntung di Wikipedia adalah sisa (rokok, kayu, korek api, bekas pakai, dan sebagainya) yang sudah terbakar sebagian, jadi puntung artinya adalah sisa pembakaran.

    Jika ada rohaniwan yang mengatakan merokok itu berdosa dan melanggar Firman Allah, ya hal ini merupakan tafsir, persis seperti sebelum Reformasi ada banyak rohaniwan yang menafsirkan sendiri ayat-ayat Alkitab dalam bahasa latin, karena rakyat tidak punya akses untuk membaca Alkitab, apalagi memiliki Alkitab. Sola Scriptura mendorong para rohaniwan menerjemahkan Alkitab dari bahasa latin ke bahasa-bahasa setempat, dan mencetaknya, jadi rakyat bisa memiliki dan membaca Alkitab dan membaca ajaran-ajaran para Reformator.

    Ada dua ayat yang sering dipergunakan untuk diskusi tentang merokok itu boleh atau tidak, yakni 1 Korintus 6:19: “Atau tidak tahukah kamu, bahwa tubuhmu adalah bait Roh Kudus yang diam di dalam kamu, Roh Kudus yang kamu peroleh dari Allah, — dan bahwa kamu bukan milik kamu sendiri?”

    Juga ayat 2 Korintus 7:1: “Saudara-saudaraku yang kekasih, karena kita sekarang memiliki janji-janji itu, marilah kita menyucikan diri kita dari semua pencemaran jasmani dan rohani, dan dengan demikian menyempurnakan kekudusan kita dalam takut akan Allah.”

    Manusia secara asasi terdiri dari jasmani dan rohani, yaitu raga dan jiwa. Jasmani merupakan badan atau tubuh manusia, sedangkan rohani merupakan hakikat Tuhan yang abadi dan kekal. Dalam praktiknya, jasmani dan rohani merupakan ikatan satu sama lain. Kebugaran jasmani berkaitan dengan fisk (physical fitness), sedangkan kesehatan rohani berkaitan dengan mental. Pencemaran jasmani dan rohani adalah hal-hal yang dapat menajiskan tubuh dan jiwa manusia. 

    Jika kita beriman dan percaya bahwa tubuh kita adalah bait atau rumah bagi Roh Kudus yang sudah kita peroleh dari Allah karena penebusan dosa oleh Yesus Kristus yang mati disalib, apakah kita tega untuk mencemarkan tubuh kita, terlebih lagi melakukan pencemaran jasmani dan rohani? 

    Saudaraku, perhatikanlah Roma 2:6-8:  “TUHAN akan membalas setiap orang menurut perbuatannya, yaitu hidup kekal kepada mereka yang dengan tekun berbuat baik, mencari kemuliaan, kehormatan dan ketidakbinasaan, tetapi murka dan geram kepada mereka yang mencari kepentingan sendiri, …” (Surhert)

  • REFLEKSI GAMALIEL

    Saudaraku, kedalaman pikir seseorang memang dapat dinilai dari caranya menilai sebuah permasalahan.  Di dalam Alkitab ada banyak orang yang diceritakan sebagai orang bijak dan salah satunya adalah Gamaliel.  Mari renungkan Kisah Para Rasul 5:26-40.

    Siapakah Gamaliel?  Gamaliel yang dimaksud dalam Kisah Para Rasul 5 adalah seorang Farisi, anggota Sanhendrin dan seorang yang sangat dihormati oleh masyarakat.  Dengan gambaran yang dituliskan dalam Kisah Para Rasul maka bisa dibayangkan pengaruh Gamaliel dalam pengambilan keputusan yang berkaitan dengan masalah kemasyarakatan.  Gamaliel mengikuti semua perkembangan pengikut Jalan Tuhan yang saat itu sedang viral dan beberapa hal yang menarik dari nasihat Rabi Gamaliel antara lain :

    Pertama, mempertimbangkan lagi respons kepada para rasul. Orang-orang Israel yang sumbu pendek dan sensitif siap untuk meletuskan kemarahan kepada para rasul karena mereka tertusuk hatinya.  Kerasnya mereka memegang Taurat membuat mereka gampang tersulut kemarahan padahal Amsal mengatakan: Orang yang sabar besar pengertiannya tetapi siapa cepat marah membesarkan kebodohan (Amsal 14:29).  

    Kemarahan seringkali menjadi pintu masuk kebodohan yang menyebabkan seorang menjadi monster yang bisa menghancurkan sesamanya.  Namun dalam situasi genting itu, Gamaliel tampil sebagai pribadi yang berbeda.  Sebagai seorang Farisi dan seorang guru, ia menyampaikan refleksinya yang teduh sehingga menyelamatkan nyawa para rasul.  

    Tak banyak orang melakukan refleksi seperti Gamaliel yang mengamati dan mencoba memahami situasi yang terjadi dengan sudut pandang kedalaman teologinya sehingga yang muncul adalah kebijaksanaan.  Gamaliel berhasil mengerem kemarahan mereka dengan hikmat sehingga berhasil melonggarkan rasa marah yang mencekik.  

    Kedua, mengingatkan tentang keterbatasan mereka memahami pekerjaan Tuhan. Refleksi Gamaliel menyadarkannya tentang pekerjaan Tuhan yang tak terbatas, tak bisa diperkirakan manusia.  Manusia biasa saja mencoba mati-matian membela apa yang dianggapnya kebenaran, namun kebenaran Tuhan memiliki jalannya sendiri untuk muncul. 

    Makin berhikmat maka orang akan makin berhati-hati.  Makin dalam seseorang memahami maka ia akan makin sulit terprovokasi.  Semakin dalam seseorang belajar, maka semakin dia merasa tidak tahu.  Gamaliel mengingatkan kemungkinan ini kepada orang Israel yang marah kepada para rasul. 

    Media sosial membuat informasi mengalir seperti tsunami sehingga kadangkala membuat manusia bereaksi dengan berita yang didengarnya.  Tak jarang Gerakan masyarakat muncul dari media sosial. 

    Saudaraku, alih-alih terprovokasi, belajarlah dari Gamaliel.  Ada banyak hal harus diamati, direnungkan dan dipikirkan sebelum jemari mengetikkan komentar, sebelum bibir mengucapkan hujatan.  Berilah waktu untuk refleksi supaya hikmat menguasai.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • Buah Ketaatan

    NABI HOSEA. Sahabat, bagaimana respons kita seandainya berada dalam posisi nabi Hosea? Ia diperintahkan Allah untuk mengawini Gomer, si perempuan sundal (Hosea 1:2-3). Lalu, ketika Gomer lari darinya untuk berzinah dengan lelaki lain, dan akhirnya dijual sebagai budak, Hosea harus menebusnya kembali dan membawanya pulang (Hosea 3:1-3). 

    Terhadap anak-anak yang dilahirkan Gomer untuknya, Hosea harus memberikan nama yang berkonotasi buruk. Bagi putra sulung: “Yizreel” (Allah menabur). Menabur berkat? Bukan. Sama sekali bukan. Bukan berkat yang dia tabur, melainkan amarah-Nya kepada bani Israel karena dosa Yehu dan keturunannya, para raja Israel Utara (Hosea 1:4,  2 Raja-raja 10:29, 31). 

    Bagi putri kedua: “Lo-Ruhama” (Tiada belas kasih). Allah berhenti menyayangi umat-Nya? Tidak juga. Sebab, setelah menghukum Israel, Dia akan kembali mengasihi mereka meskipun mereka berulang kali melawan Dia (Hosea 1:10-12, 2:21-22, dan 11:8-9). 

    Bagi putra bungsu: “Lo-Ami” (Bukan umat-Ku). Bagaimana jika Allah memutuskan perjanjian-Nya dengan umat-Nya? Adakah hukuman yang lebih mengerikan selain terpisah dari Dia, seperti yang pernah dialami Yesus di kayu salib (Matius 27:46)? 

    Kehidupan Hosea memang amat tragis. Sangat sulit sekali untuk dipahami mengapa Allah menyuruhnya menjalani kepahitan seperti itu. Bagi banyak orang, mungkin ia dianggap gagal. Tetapi, bagi Allah, ia hamba yang taat, yang telah berhasil menjadikan hidupnya sebagai lambang kasih Allah yang abadi pada manusia yang cenderung memberontak. 

    Mari kita membaca dan merenungkan Hosea 1:10-12.  Sahabat, menjadi taat tidak selalu mudah. Namun, Hosea berhasil menunjukkan ketaatan dan berbuah berkat. Berkat itu tidak hanya secara personal, tetapi juga nasional. Pasalnya, bangsa Israel pun mendapatkan janji keselamatannya kembali. Itu semua tak lepas dari Hosea yang memilih taat kepada Tuhan, walau ia harus menderita.

    Hosea, sebagai seorang nabi, harus menjadi suami dari perempuan sundal. Ia menjadi ayah Yizreel, Lo-Ruhama dan Lo-Ami. Ketiganya adalah anak-anak sundal. Syukur kepada Allah, pengorbanan Hosea tidak sia-sia. Cahaya pengharapan bagi Israel pun terbit bak fajar di pagi hari.

    Sahabat, sebelumnya, Tuhan menolak Israel. Namun, setelah itu mereka disebut sebagai “anak-anak Allah yang hidup” (Ayat 10). Allah juga mengatakan bahwa kelak mereka akan menjadi bertambah banyak jumlahnya. Lebih mengagumkan lagi, orang Yehuda dan Israel, yaitu dua kerajaan yang telah terpecah itu akan bersatu kembali di bawah satu pimpinan (Ayat 11).

    Sahabat, kemasyhuran Israel dan Yehuda pun dinyatakan kepada Hosea. Firman Tuhan menegaskan supaya Hosea menyebut saudara-saudaranya laki-laki dengan “Ami!”, artinya “bangsa”. Sementara, panggilan kepada saudara-saudaranya perempuan adalah “Ruhama!”, artinya “kasih” (Ayat 12).

    Ketaatan Hosea kepada Tuhan dengan segala pengorbanan dan keberaniannya layak untuk kita renungkan. Ketaatan kepada Tuhan memerlukan keberanian, kerelaan, ketekunan, pengorbanan, dan keinginan untuk memuliakan Allah.

    Melalui kisah Hosea, kita menjadi mengerti alasan Tuhan meminta ketaatan dari umat-Nya. Tuhan tidak pernah mengecewakan umat yang taat kepada-Nya. Memang untuk menjadi taat, kita tidak serta-merta mendapatkan kemudahan. Satu prinsip yang perlu kita pegang erat-erat:  Tidak ada pengorbanan yang mudah.

    Sahabat, kalau serba gampang, itu bukan pengorbanan. Nilai pengorbanan justru sering terletak pada tingkat kesulitan yang dihadapi. Namun saat kita memilih untuk menjadikan ketaatan sebagai bagian penting dalam hidup kita, maka ketaatan tersebut akan berbuahkan kebaikan. Yakinlah! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dengan istilah: “Pengorbanan”?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Ketaatan pada Tuhan lebih penting daripada keberhasilan hidup. (pg).