Category: Sejenak Merenung

  • God Preserves the Orphans

    IBADAH YANG MURNI DAN TAK BERCACAT. Ibadah kepada TUHAN harus utuh dan bulat, tidak setengah-setengah! Ibadah kepada TUHAN tidak hanya terbatas kepada pujian yang dinyanyikan, doa yang dipanjatkan serta firman TUHAN yang didengarkan! Ibadah kepada TUHAN adalah juga nyanyian, doa dan firman TUHAN yang dilakukan dalam kesaksian hidup, berdampak bagi sesama, dan dilakukan dengan sungguh serta murni, sebagaimana layaknya dilakukan kepada TUHAN (Matius 25:31-46; Kolose 3:17,23).

    Ibadah yang murni dan tak bercacat itu adalah ibadah yang dilanjutkan dengan tindakan dan aksi nyata di dalam kehidupan sehari-hari. Bagi Yakobus  tindakan dan aksi nyata  sebagai wujud ibadah yang muni dan tak bercacat, yakni: Mengunjungi yatim piatu dan janda-janda dalam kesusahan mereka (Yakobus 1:27)

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “God Preserves the Orphans (Tuhan Memelihara Anak-Anak Yatim)”. Bacaan Sabda diambil dari Yeremia 49:1-39 dengan penekananan pada ayat 11. Sahabat, dalam bacaan kita pada hari ini ada 6 bangsa dinubuatkan kehancurannya: Bangsa Amon (Ayat 1-6);  Bangsa Edom (Ayat 7-22);  Bangsa Damsyik (Ayat 23-27); Bangsa Kedar dan Hazor (Ayat 28-33); dan Bangsa Elam (Ayat 34-39).

    Dari 39 ayat yang menjadi bacaan kita, ada satu ayat yang menjadi fokus renungan kita pada hari ini: “Tinggalkanlah anak-anak yatimmu, aku akan menghidupi mereka; biarlah janda-jandamu menaruh kepercayaan padaku!” (ayat 11)

    Tuhan menyediakan keperluan janda dan anak-anak yatim bukan dengan cara atau jalan  mengirim manna dari surga, juga bukan pula dengan mengirim burung gagak yang membawa makanan bagi mereka, tetapi dengan cara menggerakkan hati umat-Nya.

    Tuhan mengetuk hati umat-Nya supaya bersedia menjadi umat  yang rela menyingkirkan rasa mementingkan diri sendiri saja dan membuka pancaran kasih yang serupa dengan Kristus. Orang-orang yang tertindas, yang terluka, dan membutuhkan bantuan,  Ia percayakan kepada kita, para murid-Nya,  sebagai suatu kepercayaan yang mulia. Mereka sangat berhak akan empati kita. Artinya, pemeliharaan TUHAN bagi anak-anak yatim itu dilakukan-Nya melalui kita yang mengasihi-Nya. Allah memanggil kita untuk menjadi saluran berkat-Nya yang limpah bagi para anak yatim. 

    Ada cukup banyak perempuan yang sudah menjanda dengan anak-anak yang sudah yatim berjuang untuk memikul beban gandanya, sering mereka harus bekerja keras di luar kemampuannya untuk memelihara anak-anaknya yang masih kecil dan untuk memenuhi keperluan-keperluan mereka. Hanya tersedia sedikit waktu bagi mereka untuk memberikan bimbingan dan pengajaran kepada anak-anaknya. Mereka membutuhkan dorongan semangat, simpati dan pertolongan yang nyata. 

    Allah memanggil kita agar sejauh kemampuan kita memenuhi kebutuhan anak-anak yatim yang membutuhkan kehadiran figur seorang  ayah dan ibu yang memerhatikan dan mengasihi mereka.

    Sahabat, bagi pasangan  yang tidak mempunyai anak kandung dapat melakukan satu pelayanan yang mulia dengan memelihara anak-anak orang lain. Menaruh perhatian mereka kepada anak-anak kecil yang karakternya dapat mereka bentuk sesuai dengan karakter Kristus. Curahkan perhatian dan kasih sayangmu kepada mereka layaknya mereka anak kandungmu sendiri. 

    Sahabat, melalui perenungan hari ini, kita diajak membuka hati kita  untuk menerima kehadiran anak-anak yatim.  Kita diminta mengasihi anak-anak  yang tidak mempunyai ayah atau tidak mempunyai ibu. Sebagian dari mereka sudah ditampung di panti asuhan. Salah satunya di Panti Asuhan Christopherus. Semoga ada cukup banyak diantara para pembaca setia renungan “Sejenak Merenung” berkenan dipakai Allah menjadi kepanjangan tangan Tuhan untuk memerhatikan dan mengasihi anak-anak yang ada di sana. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari bacaan kita pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Yakobus 1:27.

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan memanggil kita sebagai orangtua bagi para anak yatim. Memerhatikan. mendoakan, dan mengasihi mereka. (pg).

  • All God’s Words will be Fulfilled

    SIKAP KITA TERHADAP FIRMAN TUHAN. Salam jumpa bagi semua Sahabat setia pembaca “Sejenak Merenung”. Apa kabar? Bagaimana dengan kita yang hidup pada Zaman Now, apakah kita tetap memegang teguh firman Tuhan? Bagaimanakah sikap kita terhadap firman Tuhan? Apakah kita serius dengan firman Tuhan, di dalam membaca dan belajar,  serta  melakukannya? Ataukah kita seperti bangsa Israel yang menganggap sepi firman Tuhan. Firman Tuhan kita sesuaikan dengan selera kita; kalau menyenangkan,  maka kita baca sampai habis berulang kali, tetapi kalau sebaliknya maka kita abaikan dan anggap sebagai angin lalu. Aha! … Satu hal saja yang perlu kita simpan dalam-dalam di hati: Kita perlu serius dengan firman-Nya karena tidak ada yang tidak akan Tuhan genapi.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “All God’s Words will be Fulfilled (Semua Firman Tuhan akan Digenapi)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 12:1-28. Sahabat, TUHAN meminta Nabi Yehezkiel memperagakan seorang buangan yang pergi ke tempat pembuangan. Peragaan ini merupakan peringatan bagi orang Yehuda yang masih tinggal di Yerusalem —termasuk bagi Raja Zedekia— bahwa mereka pun akan menjadi orang buangan, sama seperti orang Yehuda yang telah lebih dulu mengalami pembuangan di Babel. 

    Peragaan itu dimaksudkan agar mereka sadar bahwa mereka telah berdosa (memberontak) kepada Tuhan dan bahwa mereka tidak lebih baik daripada orang Yehuda yang telah lebih dulu menjadi buangan di Babel. Sayangnya, umat Yehuda menyangsikan peringatan Allah ini, padahal hukuman Tuhan tersebut tidak akan ditunda-tunda lagi. 

    Allah mengatakan bahwa umat Israel dihukum karena mereka hidup sebagai kaum pemberontak. Melalui tindakan simbolis Yehezkiel, ditunjukkan bahwa mereka akan menjadi tawanan bangsa lain dan hidup susah (ayat 3-7). Ditegaskan juga bahwa apa yang dilakukan Yehezkiel adalah lambang penghukuman yang akan menimpa setiap orang Israel. Mereka berusaha melarikan diri, tetapi akan ditangkap oleh pasukan Babel. Mereka tidak akan makan dan minum dengan tenang, dan kota kebanggaan umat Allah akan hancur dan menjadi sepi (ayat 8-20).

    Setelah mendengar itu semua, umat Israel masih menyindir dan meremehkan kuasa Allah. Padahal, selama ini penglihatan diberikan supaya mereka sadar akan pemberontakan mereka dan kembali menyembah Allah. Kini, hukuman bagi umat Israel akan segera terjadi (ayat 21-28). SEGALA SESUATU  yang telah DINYATAKAN ALLAH PASTI AKAN TERJADI  sesuai dengan ketetapan waktu-Nya.

    Sahabat, biasanya orang melihat sebuah hukuman dari satu sisi saja, yaitu dampaknya yang merugikan dan menimbulkan efek jera. Hal ini membuat hukuman menjadi begitu menakutkan dan mengerikan. Padahal, ada sisi yang sebaliknya dari hukuman, yaitu sebagai sebuah PERINGATAN. Hukuman diberikan supaya orang menghindari kesalahan secara sadar, lalu memilih untuk melakukan hal yang benar.

    Kasih Allah kepada umat-Nya bersifat kekal dan tidak terbatas. Di saat Ia menghukum, kasih-Nya kepada umat-Nya tetap nyata. Penghukuman memiliki tujuan ganda: Bukan semata-mata untuk menjatuhkan umat-Nya, tetapi juga untuk menyadarkan dan memberikan peringatan kepada mereka. 

    Sahabat, jika saat ini kita merasa sedang dihukum Allah, kita perlu sadar bahwa Allah tidak ingin membuat kita hancur. Sebaliknya, Allah sedang membentuk kita. Ia ingin agar umat-Nya menjadi manusia baru yang mengingat kasih-Nya yang sempurna.

    Marilah kita akan terus berjalan dalam kasih-Nya sekalipun kita sedang menghadapi dampak dari kesalahan yang kita lakukan, karena kita melihat ada sisi positif dalam hidup kita. Yakinlah!:  Kehendak Allah selalu baik. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa artinya peragaan yang Yehezkiel lakukan di depan orang Israel saat itu?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Orang percaya agar mempunyai sikap hati yang serius dengan firman Tuhan, yang diwujudkan melalui keseriusan dalam membaca dan belajar,  serta  rindu untuk melakukan firman Tuhan. (pg).

  • God’s Mercy to Moab

    LALAI. Kadang karena terbawa arus persaingan di segala lini kehidupan, kita menjadi lalai, kita ikut hanyut menjadi orang sombong. Kita menjadi lupa bahwa Tuhan sangat membenci orang sombong.  Orang sombong melihat dirinya lebih hebat daripada orang lain. Bahkan orang sombong itu tidak membutuhkan Tuhan dalam hidupnya, mereka merasa dirinya mampu melakukan segala sesuatu dalam hidupnya, untuk hidupnya. 

    Siapapun yang sombong pasti akan mengunduh kehancuran dan kebinasaan. Lawan sombong adalah rendah hati. Tuhan menghendaki kita menjadi orang yang rendah hati. Tuhan  Yesus berkata, “Barangsiapa meninggikan diri, ia akan direndahkan dan barang siapa merendahkan diri, ia akan ditinggikan” (Lukas 14:11).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “God’s Mercy to Moab (Belas Kasihan Tuhan Kepada Moab)”. Bacaan Sabda diambil dari Yeremia 48:21-47 dengan penekanan pada ayat 29-30. Sahabat, bangsa Moab terkenal karena kecongkakannya, sehingga datang firman Tuhan melalui Yeremia tentang Moab, bahwa Tuhan sangat MENENTANG KESOMBONGANNYA.  Allah bukan hanya menentang kesombongan Moab tetapi semua orang yang sombong.

    Moab relatif aman dari pergulatan para adikuasa pada milenium pertama sM. Namun, bukan berarti bangsa itu akan luput dari penghakiman Allah. Masa lalu Moab digambarkan kelam oleh Alkitab. Moab merupakan keturunan Lot, keponakan Abraham (Kejadian 19:30-38). Walau bersaudara dengan Israel, namun mereka bermusuhan. Moab pernah berupaya mengutuk Israel melalui nabi palsu Bileam (Bilangan 22-24). Saat gagal, mereka memakai para wanitanya untuk menggoda pria-pria Israel berzina dengan menyembah dewa mereka (Bilangan 25).

    Sahabat, dalam bacaan kita pada hari ini diperlihatkan alasan Tuhan menghukum Moab.Bangsa ini terkenal sebagai bangsa yang SOMBONG (ayat 29-30) dan telah MENYOMBONGKAN DIRI  di hadapan Tuhan. Sikap hidup dan perkataan mereka tidak benar, bahkan mereka memandang orang Israel sebagai bahan tertawaan dan gerombolan pencuri (ayat 27).

    Maka, hukuman Tuhan pun dijatuhkan. Tuhan akan menghentikan penyembahan berhala mereka. Tuhan memakai Raja Nebukadnezar, yang digambarkan sebagai burung Rajawali, untuk mengalahkan bangsa Moab (ayat 40). Kekuatan penyerang Moab begitu hebat, membuat bangsa itu hancur lebur seperti tembikar yang pecah. Para pahlawannya pun menjerit ketakutan karena dahsyatnya hukuman Tuhan (ayat 38, 41).

    Melalui hukuman itu, Tuhan menyatakan bahwa Ia telah mematahkan kekuatan Moab. Namun, Tuhan menyuruh agar sisa orang Moab lari ke gunung agar selamat, dan Tuhan berjanji akan  MEMULIHKAN kembali keadaan Moab (ayat 47). Ternyata dalam penghukuman-Nya, Tuhan TETAP  menunjukkan BELAS KASIHAN  kepada Moab.

    Sahabat, KESOMBONGAN DIRI karena hal-hal yang dimiliki sangatlah berdampak buruk dalam hubungan dengan sesama manusia, terlebih lagi dengan Tuhan. Orang yang SOMBONG akan memandang rendah orang lain. Ia lupa bahwa semua manusia adalah gambar dan rupa Allah (Kejadian 1:26-27). Orang SOMBONG merasa dirinya tidak perlu takut akan Tuhan. Contohnya adalah Goliat (1 Samuel 17). Jika seseorang tidak takut akan Tuhan, sudah pasti ia tidak akan hidup berkenan di hadapan Tuhan. Ia pasti merasa tidak butuh karya keselamatan Tuhan Yesus Kristus.

    Karena itu. periksalah diri adakah sifat sombong yang terus melekat dalam perbuatan, perkataan, dan pikiran kita? Jika masih, datanglah meminta ampun kepada Tuhan dengan tulus. Hiduplah dengan PERTOBATAN dari KESOMBONGAN itu melalui pimpinan Roh Kudus. Sebab, Tuhan yang kita sembah dalam Kristus adalah Tuhan yang SELALU INGIN MEMULIHKAN orang berdosa agar kembali ke jalan-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang orang yang sombong?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Pada saat kita rendah hati maka Tuhan akan meninggikan kita. (pg).

  • FORGIVENESS is GOD’S GRACE

    RAMBU. Di beberapa pantai ada rambu peringatan awas hiu. Biasanya rambu itu dipasang pada bagian pantai dimana hiu sering dijumpai atau terlihat. Ada juga beberapa pantai yang menerapkan sistem pasang-cabut, memasang rambu peringatan pada saat ada hiu terlihat oleh penjaga pantai.  Selain itu, ada pantai yang mungkin tidak terindikasi adanya  hiu, tapi punya ombak yang besar dan ganas. Di pantai seperti itu pun rambu larangan agar tidak berenang dipasang. Ada rambu  yang dipasang sebagai penanda batas aman untuk bermain air, dan lain sebagainya. 

    Pindah lokasi dari pantai ke jalan raya, kita pun akan menemukan banyak rambu. Ada rambu yang mengatur ketertiban umum, ada juga rambu yang dibuat untuk mencegah terjadinya kecelakaan lalu lintas.

    Demikan pula halnya dengan hidup kita. Agar bisa masuk ke dalam kehidupan yang kekal nanti dengan selamat, ada sejumlah  rambu-rambu yang telah sejak awal Tuhan sampaikan pada kita. Sesungguhnya rambu tersebut bertujuan untuk melindungi kita dan menjaga agar kita tidak terjatuh ke dalam berbagai jerat maut yang menyebabkan kita dapat kehilangan kesempatan untuk beroleh keselamatan. Silakan disimak salah satu rambu yang ditulis oleh Pengamsal: “Ajaran orang bijak adalah sumber kehidupan, sehingga orang terhindar dari jerat-jerat maut.” (Amsal 13:14) 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “FORGIVENESS is GOD’S GRACE (PENGAMPUNAN itu ANUGERAH TUHAN)”. Bacaan Sabda diambil dari Yeremia 47:1-7. Sahabat,   salah satu musuh bebuyutan Israel ialah Filistin. Bangsa yang hadir sejak abad ke-12 sM di pantai barat Palestina ini, telah menjadi salah satu musuh paling gigih dari Israel. Pada zaman Daud, Filistin telah dilemahkan, sehingga tidak pernah lagi menjadi pengancam utama Israel. Dasar penghukuman bagi Filistin sangat mungkin karena penyembahan berhala mereka, dan pengaruh mereka pada kemurnian iman bangsa Israel.

    Secara kronologi dikatakan firman Tuhan itu datang pada Yeremia sebelum Mesir mengalahkan Filistin (ayat 1). Dalam sejarah sulit ditentukan kapan persisnya hal itu terjadi karena pernah beberapa kali terjadi. Yang uniknya ialah nubuatan ini mengungkapkan bahwa musuh yang akan menghancurkan Filistin berasal dari utara, yaitu bangsa Babel. Penjelasan yang mungkin ialah bahwa Mesir akan mengalahkan Filistin dalam waktu dekat pada masa Yeremia, tetapi yang akan menghancurkan sampai bangsa itu musnah ialah Babel di kemudian hari.

    Yang lebih penting untuk dipelajari ialah bahwa dalam situasi yang akan membawa penghancuran pada Filistin ini, sang nabi bersyafaat untuk melunakkan hati Tuhan (ayat 6). Akan tetapi, sang nabi tetap tunduk pada kedaulatan Tuhan bahwa Dia memang hendak menghancurkan bangsa Filistin.

    Sahabat, kita terus diingatkan bahwa pengampunan itu ialah anugerah Tuhan, bukan karena sesuatu dari diri kita yang melayakkannya. Demikian juga, penghukuman merupakan ganjaran keadilan Allah atas dosa. Keduanya merupakan hak prerogatif Allah. Tak seorang pun bisa menggugatnya. 

    Sesungguhnya Allah tidak pernah ingin membinasakan manusia terutama umat-Nya. Allah terlebih dahulu memasang rambu-rambu, memperingatkan umat-Nya akan kesalahannya, namun sering kali umat-Nya tidak pernah menghiraukannya. Peringatan Allah dianggap tidak serius, dikiranya Allah hanya main-main.

    Sahabat, Allah mengasihi kita melalui pengorbanan Yesus di kayu salib yang telah menebus kita dari kehidupan sia-sia, hidup yang lama dan tidak berkenan kepada Allah, bahkan dari kebinasaan. Allah menjadikan kita sebagai anak-anak-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang “Pengampunan itu Anugerah Tuhan”?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan tidak ingin seorang pun binasa, oleh sebab itu diberikan-Nya kepada kita rambu-rambu, FIRMAN TUHAN, agar siapa yang taat melakukannya tidak dihukum. (pg).

  • Have an OBEDIENT HEART

    KETAATAN. Wikipedia mencatat, ketaatan adalah kepatuhan (perilaku manusia) yaitu perubahan sikap dan tingkah laku seseorang untuk mengikuti perintah orang lain. Tindakan dan perbuatan seseorang untuk mematuhi perintah orang lain, dengan penuh sadar dan sepenuh hati. Sikap tersebut menunjukkan rasa patuh dengan melakukan perintah orang lain.  

    Sahabat,  sudahkah kita menjadi orang percaya  yang taat?  Ini menjadi bahan evaluasi bagi diri kita sendiri, tidak perlu menunjuk atau menghakimi orang lain.  “Baiklah tiap-tiap orang menguji pekerjaannya sendiri; maka ia boleh bermegah melihat keadaannya sendiri dan bukan melihat keadaan orang lain.”  (Galatia 6:4-5).  

    Kata taat dalam bahasa Ibraninya adalah “shama”, yang berarti mendengar dengan cermat, memusatkan perhatian dan memahami.  Mendengar adalah awal sebuah ketaatan.  Dengan mendengar akhirnya kita mengerti dan memahami apa yang harus kita perbuat.  Rasul Paulus membuat sebuah kesimpulan, “Jadi, iman timbul dari pendengaran, dan pendengaran oleh firman Kristus.” (Roma 10:17)

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yehenzkiel dengan topik: “Have an OBEDIENT HEART (Milikilah Hati yang TAAT).” Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 11:14-25 dengan penekanan pada ayat 19-20. Sahabat, hati yang lain dan roh yang baru Tuhan janjikan kepada umat Tuhan dalam pembuangan. Hati dan roh yang lama sudah tercemar sehingga hati mereka menjadi keras dan tidak taat lagi kepada Allah.

    Firman Allah kepada bangsa Israel melalui nabi Yehezkiel juga berbicara tentang janji pembaruan bagi bangsa Israel. Keadaan bangsa Israel yang terpuruk, hidup dalam pembuangan, ditindas oleh bangsa-bangsa asing, dan tidak menikmati kebebasan hidup sebagai bangsa yang merdeka, akan segera diperbaharui oleh Allah. Memang penyebab awal mereka dibuang adalah karena ulah mereka sendiri, karena sikap hidup yang tidak taat, keras hati, tegar tengkuk, dan tidak setia. 

    Meskipun demikian, Allah adalah kasih dan akan memulihkan mereka. Setelah dari pembuangan mereka akan dikumpulkan kembali dan Allah akan menjauhkan mereka dari hati yang keras, memberikan mereka hati dan roh yang baru, yaitu hati yang TAAT dan SETIA KEPADA ALLAH SAJA. Pembaharuan itulah membuat bangsa Israel menjadi umat baru yang TAAT dan telah meninggalkan kehidupan lamanya. 

    Sahabat, demikian juga kita sebagai orang percaya yang telah dibaharui oleh Allah sendiri melalui pengorbanan Yesus di kayu salib. Kita yang dulunya hidup dalam dosa dan sering melakukan kejahatan hidup sebagai manusia lama. Namun, sejak hidup dalam Kristus, kita telah menanggalkan hidup lama dan menerima hidup yang baru. Rasul Paulus menyatakan “Siapa yang ada dalam Kristus, ia adalah ciptaan baru: yang lama sudah berlalu, sesungguhnya yang baru sudah datang.”  (2 Korintus 5:17).

    Sebagai ciptaan baru, tentu gaya hidup kita tidak lagi sama dengan cara hidup lama dalam dosa. Kita telah ditebus dan dipanggil menjadi umat-Nya, maka hidup kita juga harus berpadanan dengan panggilan itu. Hidup kita tidak lagi dipimpin oleh nafsu dunia, tetapi dipimpin oleh Roh Allah, karena kita adalah anak-anak-Nya.

    Sahabat, KETAATAN juga merupakan pertanda bahwa kita MENGASIHI Tuhan dan memiliki hubungan yang karib dengan Dia, “Barangsiapa memegang perintah-Ku dan melakukannya, dialah yang mengasihi Aku. Dan barangsiapa mengasihi Aku, ia akan dikasihi oleh Bapa-Ku dan Akupun akan mengasihi dia dan akan menyatakan diri-Ku kepadanya.” (Yohanes 14:21). Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari 2 Korintus 5:17?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan menuntut ketaatan yang penuh dari kita.  Jika kita hidup dalam ketaatan Ia akan memberi arah yang benar dalam perjalanan hidup kita. (pg).

  • FAITHFUL GOD

    SETIA. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mencatat  setia berarti berpegang teguh pada janji, pendirian, dan sebagainya; patuh; taat. Sedangkan pengamalan dari setia disebut dengan kesetiaan.  Dengan demikian pengertian  setia  adalah berpegang teguh pada janji, pendirian kokoh, tidak tergoyahkan, patuh, taat, tidak berubah, konsisten, dan layak dipercaya. 

    Sesungguhnya Tuhan menginginkan anak-anak-Nya hidup setia di hadapan-Nya!:   “Segala yang kuperintahkan kepadamu haruslah kamu lakukan dengan setia, janganlah engkau menambahinya ataupun menguranginya.”  (Ulangan 12:32) dan tentu Tuhan menyediakan berkat-berkat-Nya bagi orang yang setia!:  “… Ia pun akan mengangkat engkau di atas segala bangsa yang telah dijadikan-Nya, untuk menjadi terpuji, ternama dan terhormat. …”  (Ulangan 26:19).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “Faithful God (Tuhan yang  Setia)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 9:1-11. Sahabat, TUHAN menyerukan dan memanggil orang-orang yang akan melakukan penghukuman atas Israel. Dari antara pemusnah ini, ada seseorang yang bertugas untuk memberi tanda T pada dahi orang-orang yang tidak ikut dalam segala perbuatan keji yang dilakukan oleh orang-orang Israel lainnya (ayat 1-4).

    Sahabat, Tuhan mengirim para malaikat-Nya untuk menghancurkan Yerusalem. Namun, sebelum penghakiman dilakukan, Tuhan menyuruh seorang dari mereka untuk memberikan tanda T pada dahi orang-orang yang berkeluh kesah karena segala kekejian yang terjadi (ayat 4). Mereka adalah UMAT  yang SETIA, yang menangis karena dosa penyembahan berhala yang dilakukan di sana. Tuhan memerintahkan supaya mereka tidak disentuh (ayat 6). Tuhan tidak akan membiarkan umat yang setia dihukum seperti mereka yang tidak setia. Dalam murka-Nya sekalipun, Tuhan tetap MELUPUTKAN  dan MELINDUNGI umat-Nya yang SETIA.

    Penghakiman Tuhan dimulai dari tua-tua di hadapan Bait Suci, dan terus dijalankan kepada semua orang yang tidak bertanda T. Bait Suci yang seharusnya dijadikan tempat penyembahan yang kudus, kini dinajiskan dan dipenuhi dengan orang-orang yang mati (ayat 6-7).

    Sahabat, penghakiman Tuhan begitu mengerikan sampai-sampai Yehezkiel tidak tahan melihatnya dan memohon kepada Tuhan. Namun, kesalahan umat sudah keterlaluan. Mereka hidup dalam kemurtadan dan berharap kepada dewa-dewi Babel. Mereka tidak lagi menghormati Tuhan sebagai Tuhan atas mereka (ayat 9). Karena itu, Tuhan menjatuhkan hukuman yang setimpal dengan ketidaksetiaan mereka.

    Dengan demikian, sangat penting bagi kita sebagai orang percaya untuk mengerti betapa pentingnya menjalankan kehidupan dengan takut akan Dia. Kita akan dituntut dengan standar yang lebih tinggi dan dihakimi terlebih dahulu. Akan tetapi, jangan lupa bahwa Ia adalah Allah yang setia, yang akan menunjukkan penyertaan dan kesetiaan-Nya kepada orang-orang yang setia dan taat kepada-Nya.

    Sahabat, percayalah bahwa TUHAN selalu SETIA. Tidak ada alasan bagi kita untuk tidak setia kepada-Nya. Ia selalu menunjukkan penyertaan dan perlindungan-Nya. Itulah berkat bagi mereka yang tetap setia kepada-Nya di tengah dunia yang tidak setia. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Ulangan 12:32?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “Hendaklah engkau setia sampai mati, dan Aku akan mengaruniakan kepadamu mahkota kehidupan.” (Wahyu 2:10)

  • The Glory of God Leaves His Sacred Hall

    KEMULIAAN ALLAH. Ketika membaca, mendengar atau mengucapkan kata kemuliaan, sebenarnya apa yang terlintas di benak kita? Apakah kita membayangkan kilaunya singgasana emas dengan permata yaspis, berlian atau semacamnya?

    Sesungguhnya kemuliaan mengandung arti keadaan mulia; keluhuran; keagungan; kehormatan dan diasosiasikan dengan memuji Tuhan. Di dalam bahasa Inggris, kata kemuliaan mempunyai banyak persamaan seperti magnificence, spendor, grandeur dan sebagainya, di antaranya yang sering digunakan untuk menggambarkan kemuliaan Allah adalah kata glory dan majesty.

    Tidak perlu disangkal bahwa pada umumnya pemahaman akan kata kemuliaan terlalu sering digambarkan sebagai status sosial ekonomi yang tinggi yang diperoleh dari keberhasilan di dalam hidup seseorang. Pengertian kemuliaan seperti ini memberi nuansa kebendaan, mengangkat ego manusia.

    Di dalam kitab Perjanjian Lama, Allah yang Mahamulia menyatakan kemuliaan-Nya melalui kehadiran-Nya di sepanjang perjalanan kehidupan bangsa Israel. Umat Israel menyaksikan kemuliaan-Nya melalui tuntunan sejak mereka keluar dari Mesir. Bahkan sebelum itu, Abraham, bapak orang percaya telah mengalami tuntunan tersebut.

    Kemuliaan Allah dapat nampak di dalam karya-Nya, mulai dari ciptaan yang dilakukan-Nya pada awal terciptanya dunia dan segala isinya, sampai kini nampak dari pemeliharaan-Nya sampai selamanya.

    Pada hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: The Glory of God Leaves His Sacred Hall (Kemuliaan Allah Meninggalkan Bait Suci-Nya). Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 10:1-22. Sahabat, bacaan kita pada hari ini dimulai dengan penglihatan Yehezkiel akan sesuatu yang menyerupai takhta di atas cakrawala. Dari takhta itu terdengar perintah kepada seorang yang berpakaian lenan untuk masuk ke ruang Mahakudus di Bait Suci untuk mengambil bara api dan menghamburkannya ke atas kota Yerusalem. 

    Allah menyatakan kehendak-Nya kepada Yehezkiel dalam suatu penglihatan. Ia melihat keagungan Allah di atas takhta dari permata yang berkilauan. Dari takhta itu Allah memerintahkan penghukuman bagi Yerusalem (ayat 1-2). Allah turun ke Bait Suci dan memenuhi tempat itu dengan kemuliaan-Nya (ayat 4-5).

    Kemudian, malaikat melakukan kehendak Allah itu dengan cara mengambil bara api dan memberikannya kepada seorang berpakaian lenan (ayat 6-7). Itulah api penghukuman Allah yang dijatuhkan kepada setiap orang yang berbuat keji. Lalu, Allah meninggalkan Bait Suci dengan cara berada di atas sayap malaikat dan dibawa naik (ayat 18-19). Apakah ini artinya Allah sungguh-sungguh meninggalkan umat-Nya?

    Sahabat, Allah kita adalah Allah Yang Mahabesar. Ia memberikan penglihatan kepada orang yang dipilih-Nya untuk menyatakan kehendak-Nya. Ia ingin agar manusia yang lemah tetap dapat memahami kehendak-Nya. Dahulu Allah memerintahkan umat untuk membangun Bait Suci supaya mereka dapat beribadah kepada-Nya di dalam kekudusan dan kelayakan. Namun, mereka justru mencemarkan Bait Suci dengan penyembahan berhala. Padahal, Allah yang bertakhta di tempat itu merupakan satu-satunya Allah mereka.

    Melalui penglihatan itu, Allah ingin menyatakan bahwa mereka telah menolak kehadiran-Nya dengan kekejian mereka sendiri. Ia ingin agar umat-Nya menggantungkan hidup mereka hanya kepada-Nya, bukan kepada ilah lain atau benda-benda. Jika tidak, Ia akan mendatangkan hukuman. Allah yang meninggalkan bait-Nya merupakan gambaran hidup yang tidak berkenan di hadapan Allah. Jadi, Allah tetap bertakhta di atas segala sesuatu dan Ia tetap melihat kita, umat-Nya, tetapi kemuliaan Allah tidak lagi terpancar di dalam hidup kita.

    Sahabat, hidup sebagai umat Allah perlu dinyatakan dengan menghormati kemuliaan-Nya dan menaati kehendak-Nya. Untuk itu, kita harus menjalani kehidupan ini hanya untuk menyembah Allah, tanpa ada yang lain. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
    1.Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2.Apa itu kemuliaan Allah dan bagaimana kita memuliakan Allah melalui hidup kita setiap hari?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Allah tidak ada di tempat persekutuan umat yang tidak menjaga kekudusan-Nya dan tidak memuliakan-Nya. (pg).

  • Gods Punishment for Egypt

    KEBIASAAN. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) mencatat, kebiasaan berarti sesuatu yang biasa dikerjakan dan sebagainya; Pola untuk melakukan tanggapan terhadap situasi tertentu yang dipelajari oleh seorang individu dan yang dilakukannya secara berulang untuk hal yang sama. Sedangkan kamus Webster mencatat, kebiasaan berarti kecenderungan melakukan aktivitas tertentu secara terus-menerus atau berulang-ulang;  latihan atau praktik yang dilakukan secara konsisten dan kontinu. Sedangkan para ahli menyimpulkan bahwa kebiasaan merupakan pekerjaan yang dilakukan secara terus-menerus sehingga dari yang awalnya tidak bisa dikerjakan jadi terlatih dan lama-kelamaan akan menjadi terbiasa. 

    Sebagai orang percaya, kita perlu melatih diri untuk mengembangkan kebiasaan-kebiasaan hidup yang benar, yang sesuai dengan firman Tuhan.  Karena itu kita harus menjadikan Kristus sebagai teladan dalam segala hal  (perkataan dan perbuatan), sebab  barangsiapa mengatakan, bahwa ia ada di dalam Dia, ia wajib hidup sama seperti Kristus telah hidup  (1 Yohanes 2:6). 

    Mengembangkan kebiasaan hidup baru yang sesuai dengan firman Tuhan berarti tidak lagi menyerahkan tubuh ini  untuk dipakai sebagai senjata kelaliman, tetapi serahkanlah dirimu kepada Allah sebagai orang-orang, yang dahulu mati, tetapi yang sekarang hidup. Dan serahkanlah anggota-anggota tubuhmu kepada Allah untuk menjadi senjata-senjata kebenaran  (Roma 6:13).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: Gods Punishment for Egypt (Hukuman Tuhan Untuk Mesir). Bacaan Sabda diambil dari Yeremia 46:1-28. Sahabat, pasal 46-51 dari kitab Yeremia berisikan koleksi khotbah Yeremia yang ditujukan kepada bangsa-bangsa. Dalam kanon PL versi Septuaginta, yaitu terjemahan Yunani Umum (Yunani Perjanjian Baru), koleksi ini diletakkan sesudah pasal 25 untuk menyambung berita penghukuman yang dinubuatkan Yeremia kepada bangsa-bangsa tersebut.

    Melalui Nabi Yeremia, Allah menubuatkan penghakiman-Nya kepada bangsa-bangsa yang hidup di sekitar bangsa Israel.

    Sahabat, Allah menyatakan hukuman-Nya kepada Mesir dengan memakai tangan Nebukadnezar (ayat 2). Walaupun Mesir datang dengan kekuatan penuh, jika Allah ingin melakukan pembalasan, maka Mesir pasti kalah (ayat 13-24). Allah juga ingin menghukum dewa Mesir, yaitu Amon dan Tebe, serta Firaun dan seluruh pengikutnya (ayat 25-26). Tidak ada yang dapat Mesir lakukan untuk mengelak hukuman Allah.

    Di samping itu, Tuhan meminta agar bangsa Israel tidak takut terhadap hukuman-Nya (ayat 27-28). Saat itu orang Israel memang bergantung pada Mesir karena sebagian Israel hidup sebagai pelarian di sana. Sebab itu, mereka berharap bahwa bangsa Mesir dapat mengalahkan Nebukadnezar.

    Dalam nubuat-Nya, Tuhan berjanji untuk tetap melindungi bangsa Israel walaupun Mesir yang menjadi andalan mereka mendapat hukuman-Nya. Tuhan menghukum Mesir karena dosanya, yaitu keinginan untuk meluaskan kekuasaannya dengan menghancurkan bangsa-bangsa sekitarnya.

    Penghukuman Tuhan menunjukkan bahwa Tuhan yang kita kenal melalui Alkitab adalah Tuhan yang berdaulat atas semua bangsa. Apa pun yang akan Mesir lakukan tidak akan sanggup membalikkan hukuman Tuhan itu. Firman ini mengingatkan kita, jika bangsa besar seperti Mesir saja tidak mampu menahan dan membalikkan hukuman Tuhan, bagaimana dengan diri kita?

    Sahabat, sebab itu, kita harus hidup bertanggung jawab di hadapan Tuhan. Artinya, Tuhan telah memberi firman, kehidupan, dan akal kepada kita. Maka, kita sebagai orang percaya harus menghidupi firman Tuhan setiap hari. Belajar firman Tuhan dengan tekun mesti menjadi KEBIASAAN kita SETIAP HARI. Kita harus menjadi contoh atau teladan tentang hidup berdasarkan firman Tuhan (bdk. Lukas 12:48).

    Sebab itu, orang percaya mempunyai tanggung jawab lebih besar daripada orang yang belum percaya. Jika ada hukuman Tuhan atas kita, ingatlah bahwa Ia ingin mengoreksi sikap kita supaya menjadi lebih benar, dan akan menolong kita. Ia adalah Allah Mahakasih. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:
    1.Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2.Apa yang Sahabat pahami dari Injil Lukas 12:48??

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Allah kita yang berdaulat dapat menggunakan siapa saja. Mereka yang jahat dan memusuhi Allah dan umat-Nya tetap ada dalam kendali-Nya. (pg).

  • Stay Faithful and Grateful

    MENGELUH. Kamus Besar Bahasa Indonesia (KKBI) mencatat kata mengeluh merupakan kata Kerja yang artinya menyatakan susah (karena penderitaan, kesakitan, kekecewaan, dan sebagainya). Mengeluh sebenarnya merupakan hal wajar yang sering dilakukan hampir semua orang. Mengeluh juga merupakan salah satu bentuk cara untuk mengeluarkan keluh kesah yang ada di dalam hati, sehingga tidak menjadi stres dan mengganggu kesehatan. 

    Di sisi lain, menurut ahli kejiwaan, mengeluh merupakan salah satu cara  untuk menghilangkan stres, seperti kecemasan atau rasa takut. Namun, keluhan yang dikeluarkan secara berlebihan bisa menjadi pertanda negatif dari kesehatan mental seseorang. Hal itu karena manusia yang sehat jiwanya cenderung bisa menerima diri sendiri apa adanya, bisa menerima orang lain dan kondisi di sekitarnya apa adanya dan juga bersikap optimis. Sedangkan orang yang sering mengeluh, merasa tertekan, sering protes dan mengalami penurunan fungsi kognitif atau emosi, orang tersebut bisa dicurigai memiliki masalah dengan kejiwaannya.

    Selain itu, yang juga menjadi masalah adalah bahwa kebanyakan orang lebih sering mengeluh dibandingkan melakukan pemecahan masalah. Sebagai hasilnya, banyak orang mengeluh untuk melepaskan sesuatu, tetapi tidak menyelesaikan masalah atau membuat perubahan, sehingga membuat keluhan sama sekali tidak efektif. Masalahnya tetap ada, sehingga keluhan pun akan terus berlangsung.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yeremia dengan topik: “Stay Faithful and Grateful (Tetap Setia dan Bersyukur)”. Bacaan Sabda diambil dari Yeremia 45:1-5. Sahabat, Sebagai manusia, tentu kita ingin hasil kerja keras kita dihargai. Bukan hal yang menyenangkan ketika kita sudah berjuang keras namun yang kita dapatkan adalah cacian. Apalagi ketika yang kita lakukan adalah pelayanan untuk Tuhan, namun yang menjadi upah adalah tekanan demi tekanan. Hal-hal tersebut membuat kita lelah dan patah semangat. Hal itulah yang mungkin dirasakan oleh Barukh.


    Bacaan kita pada hari ini berisikan jawaban Tuhan atas keluhan Barukh yang memang bertarikhkan masa pemerintahan Yoyakim, sehingga sepertinya kurang tepat ditempatkan di sini. Namun, perikop ini sengaja diletakkan sebagai penutup dari rangkaian kisah sejarah yang dicatat oleh Barukh, sejak kasus pembakaran nubuat Yeremia oleh raja Yoyakim (pasal 36) sampai dengan kehancuran Yerusalem dan larinya penduduk Yerusalem ke Mesir (pasal 44).

    Jawaban Tuhan atas keluhan Barukh menunjukkan kedaulatan-Nya atas para hamba-Nya. Yeremia pernah mengeluh kepada Tuhan atas beban pelayanan yang dirasanya terlalu berat. Tuhan mengizinkan Yeremia mengeluh, tetapi tidak mengabulkan keinginannya. Yeremia harus tetap tunduk pada kedaulatan Allah untuk setia memberitakan nubuat penghukuman atas umat Yehuda. 

    Kasus Barukh tentu lebih ringan. Barukh sebagai sekretaris Yeremia tentu merasa kesal dengan kenyataan karyanya menuliskan firman Tuhan melalui mulut Yeremia dirobek dan dibakar begitu saja oleh sang raja. Belum lagi ia terus menerus menyaksikan dan ikut merasakan penolakan umat Yehuda atas sang nabi.

    Jawaban Tuhan kepada Barukh menunjukkan bahwa Allah berdaulat atas hidup Barukh. Maka, Barukh tidak patut untuk mengeluh, apalagi menganggap diri berjasa. Sebaliknya Barukh harus belajar bersyukur karena Allah menganugerahinya keselamatan dan keluputan dari malapetaka yang menimpa Yehuda dan Yerusalem.

    Sahabat, memang tidak mudah untuk bersyukur ketika menghadapi permasalahan dalam pelayanan. Namun, kita harus selalu ingat bahwa panggilan kita ialah untuk melayani-Nya dengan tetap setia dan bersyukur. Kita patut bersyukur karena kepercayaan-Nya kepada kita untuk melayani Dia. Juga untuk pemeliharaan-Nya atas kita saat kita setia melayani Dia. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Siapakah Barukh? Sejak kapan ia menjadi rekan kerja nabi Yeremia?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Bersyukur dalam tekanan, harapkan kekuatan Tuhan, kita akan tetap bertahan dalam panggilan-Nya dalam hidup kita. (pg).

  • Hide and Seek To God

    PETAK UMPET.  Petak umpet merupakan sejenis permainan tradisional “Cari dan Sembunyi” yang bisa dimainkan oleh minimal dua orang yang umumnya dilakukan di luar ruangan. Nama permainan ini berbeda-beda di setiap daerah.

    Permainan ini selain bertujuan untuk bersenang-senang,  juga digunakan sebagai metode pengajaran kemampuan berhitung pada anak-anak TK dan untuk melatih anak  bermain dan bekerja dalam tim.

    Permainan dimulai dengan “hompimpa” untuk menentukan siapa yang menjadi “kucing” (berperan sebagai pencari teman-temannya yang bersembunyi). Si kucing ini nantinya akan memejamkan mata atau berbalik sambil berhitung sampai 10 (kadang sampai 15  atau 20, tergantung luas area tempat bermainnya). Biasanya dia menghadap tembok, pohon, atau apa saja supaya dia tidak melihat teman-temannya bergerak untuk bersembunyi. Setelah teman-temannya bersembunyi, mulailah si “kucing” beraksi mencari teman-temannya tersebut.

    Permainan selesai setelah semua teman ditemukan. Orang yang pertama ditemukan yang menjadi ‘kucing’ berikutnya.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “Hide and Seek to God (Main Petak Umpet Kepada Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 8:1-18 dengan penekanan pada ayat 12. Sahabat, Saya coba membayangkan kehidupan orang-orang Israel pada waktu itu. Perilaku mereka di tempat pembuangan kerap menunjukkan sikap yang “ganjil”. Tuhan menunjukkan semua itu kepada Yehezkiel melalui sebuah penglihatan,  bagaimana orang-orang Israel seolah bermain petak umpet kepada Tuhan selayaknya anak-anak.

    Yehezkiel dibawa oleh Roh melihat Bait Allah di Yerusalem, khususnya pintu gerbang pelataran dalam, melihat apa yang ada dan dilakukan orang Israel bersama para imam di sana.

    Yehezkiel melihat patung berhala yang membangkitkan murka Tuhan (ayat 1-5). Di sana 70 orang tua-tua kaum Israel melakukan penyembahan di setiap kamar yang dipenuhi oleh gambar-gambar berhala berupa binatang-binatang haram, yang oleh Musa disebut najis. Karena raja Yoyakhim dan penduduk Israel telah diangkut ke dalam pembuangan, maka Allah dianggap telah meninggalkan mereka serta tidak melihat mereka dan sudah meninggalkan tanah Israel (bdk. Yehezkiel 9:9; Mazmur  94:7). 

    Israel menganggap berhala-berhala itu lebih berkuasa dan dapat melindungi mereka (ayat 6-12). Perempuan-perempuan Israel juga melakukan pemujaan terhadap dewa Tamus, yaitu dewa kesuburan dan dewa dunia orang mati asal Asyur yaitu Babel (bdk. Ulangan 28:11-12, 17-24; Mazmur 104: 10-30; Yoel 2:18-27; dan lain-lain). Israel percaya bahwa tumbuh-tumbuhan diatur oleh Sang Dewa (ayat 13-14). Sementara itu laki-laki Israel memuja dewa matahari (bdk. Ulangan 4:19; 2 Raja-Raja 21:5; 23:5, 11; dan lain-lain). Mereka adalah 24 orang imam dan 1 orang imam besar atau pemimpin imam (ayat 15-16). Ada juga orang-orang Israel yang melakukan upacara dengan mengunjukkan ranting kepada hidung mereka (ayat 17)

    TUHAN murka atas semua kejahatan Israel tersebut,  yang tidak saja menentang-Nya, bahkan menggantikan ibadah terhadap-Nya di Bait Suci dengan penyembahan berhala. Ia memutuskan tidak akan merasa sayang dengan Israel lagi, bahkan tidak akan mendengarkan mereka lagi (ayat 18).

    Manusia memiliki pembawaan untuk bersembunyi jika sudah melakukan kesalahan. Bersembunyi ada berbagai macam bentuknya: Melakukan hal-hal terlarang di tempat yang tersembunyi; ada yang langsung menghilangkan jejak; membela diri; atau melakukan aktivitas yang baik  untuk menutupi kesalahan yang telah dia perbuat. 

    Sahabat, jangan mengajak Tuhan untuk bermain petak umpet. Jangan pernah berpikir Tuhan tidak melihat apa yang kita perbuat. Tuhan itu Mahatahu. Dia  tahu apa saja yang kita lakukan, tiada yang tersembunyi di hadapan-Nya (Mazmur 139:1-24). Jika sudah tahu demikian, maka tidak ada alasan untuk kita semakin menjauh dan menolak untuk dikoreksi Tuhan. Lebih baik mendekat pada Tuhan dan berharap Tuhan akan menolong untuk membuat kita sadar akan dosa dan mulai belajar untuk memahami kehendak-Nya. Jangan cenderung menguasai diri kita, biarlah Tuhan yang menguasainya. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 12?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita bersembunyi dan berpikir Tuhan tidak melihat kita, tetapi Tuhan terus akan mencari dan menemukan kita. (pg)