Category: Sejenak Merenung

  • MENJALANI TANPA PRIVILEGE

    Manusia biasanya memakai privilege (hak istimewa) untuk bisa lolos dari beberapa hal yang dianggap menghambat langkahnya, kalau bisa tidak usah lewat proses tertentu dan kalau bisa potong kompas saja.  Sangat sedikit orang yang punya privilege menyadari pentingnya proses untuk memperoleh sesuatu, termasuk dalam hal ini, Yesus Sang Mesias.  Hari ini kita melanjutkan belajar dari Injil Matius dengan merenungkan Matius 3:13-17.

    Saat Yesus meminta Yohanes Pembaptis  untuk membaptis-Nya, Yohanes menolak.  Sebagai seorang spiritualis, Yohanes mengenali siapa Yesus sebenarnya.  Bahkan Injil Yohanes mencatat pengakuan Yohanes kepada Yesus: Inilah Anak Domba Allah yang menghapus dosa isi dunia (Yohanes 1:20). 

    Baptisan Yohanes sendiri merupakan tanda pertobatan dan kehidupan yang baru (Matius 3:11), maka saat Yesus dibaptiskan menandakan bahwa Yesus siap menjalani kehidupan yang baru.  Yohanes merasa bahwa dialah yang harus dibaptiskan oleh Yesus karena posisi Yesus lebih tinggi dari Yohanes secara rohani.  Namun Yesus menolak permohonan Yohanes dan memilih untuk menjalani proses pertama memulai pelayanan-Nya sebagai seorang pengajar yaitu baptisan.  Yesus  mau mengikuti proses yang ditetapkan manusia (Matius 3:16).

    Saudaraku, renungkanlah hal ini dari sikap Yesus:

    1. Yesus mengikuti proses walau memiliki privilege

    Apa arti privilegePrivilege adalah sebuah keistimewaan berupa akses atau keuntungan yang tidak diterima orang lain.  Biasanya privilege diterima berdasarkan segmen tertentu.  Karena Yohanes melayani di bidang spiritual, maka Yohanes menangkap keistimewaan Yesus yang saat itu datang dan minta dibaptis olehnya.

    Kesadaran Yohanes inilah yang mendorongnya untuk mengatakan kepada Yesus: Kamulah yang harus membaptisku, aku tidak layak.  Namun Yesus menolak privilege yang ditawarkan Yohanes, padahal saat itu Yohanes sangat popular dan banyak follower-nya.  Yesus memilih mengikuti proses. Inilah wujud kerendahan hati Yesus yang rela dianggap berdosa dan dibaptiskan agar bisa mulai menjadi Pemberita Kerajaan Allah.

    • Saat Ia merendahkan diri, surga justru menyatakan siapa diri-Nya.

    Tak disangka bahwa ketika Yesus selesai dibaptis, sebuah keajaiban terjadi dimana langit terbuka dan Roh Kudus turun disertai pengakuan status Yesus (Matius 3:16-17).  Ternyata surga merayakan sikap rendah hati Yesus dengan membuka status asli-Nya.  Kerendahan hati dan ketaatan sangat dihargai oleh Allah sebagaimana Paulus mengatakan dalam Filipi 2:8-9 bahwa Allah meninggikan kerendahan hati Yesus.

    Kerendahan hati dan ketaatan.  Itulah yang jelas tergambar dari sikap Yesus yang rela mematuhi proses walau sebenarnya Ia bahkan bisa memakai privilege-Nya.  Yesus merendahkan diri begitu rupa agar Kerajaan Allah dapat diberitakan. 

    Mari bandingkan dengan manusia.  Beberapa orang bersikap arogan Ketika memiliki keistimewaan sedikit saja. Misalnya saat punya jabatan tinggi atau punya orang tua pejabat, merasa bisa menganiaya orang lain yang dianggap mengganggu atau merugikan dirinya.  Kasus-kasus seperti itu akhir-akhir ini banyak kita dengar, lihat dan baca bukan?

    Oleh karena itu mari kita pikirkan bersama :

    1. Mengapa manusia selalu cenderung untuk memanfaatkan privilege untuk menghindari sebuah proses atau konsekuensi yang pastinya berkaitan dengan keuntungan dirinya?
    2. Apa yang bisa membuat manusia bisa hidup dalam sebuah proses tanpa mengutamakan privilegenya?

    Tidak banyak manusia mampu menahan diri dari memanfaatkan keistimewaan yang dia miliki untuk kepentingannya sendiri.  Hanya manusia yang memandang Kristus dan berkomitmen untuk mengikuti jejak-Nya  yang mampu melakukannya.  Apakah kita juga demikian?  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • TERHITUNG WALAU TAK DIPERHITUNGKAN

    Saudara, mulai hari ini kita akan belajar dari Injil Matius, dan  hari ini ini kita akan merenungkan Injil Matius 1:1-17 dengan topik: “TERHITUNG WALAU TAK DIPERHITUNGKAN”.  

    Kemunculan nama empat perempuan di silsilah Yesus seperti tercantum dalam bacaan kita merupakan hal yang sangat jarang terjadi. Biasanya silsilah di dalam Alkitab memuat nama-nama laki-laki dan bukan perempuan.  Itulah sebabnya kemunculan empat nama perempuan dalam silsilah Yesus, tokoh utama dalam Injil Matius, pantas untuk menjadi perenungan. Keempat perempuan itu adalah Tamar (ayat 3), Rahab (ayat 5), Rut (ayat 5) dan isteri Uria (ayat 6).  Keempatnya sebenarnya tidak memiliki kriteria yang cukup baik sehingga pantas disebutkan dalam daftar silsilah, yaitu:

    1. Tamar.  Ibu ini melahirkan si kembar Peres dan Zerah dari Yehuda yang adalah mertuanya sendiri (Kejadian 38:27). 
    2. Rahab bekerja sebagai wanita penghibur sebelum bertemu dan menikah dengan Salmon, salah satu mata-mata Yosua (Yosua 2 : 1).
    3. Rut adalah wanita asing yang meninggalkan identitasnya demi mengikuti mertuanya (Rut 1:16-17)
    4. Istri Uria (BIS : bekas istri Uria) untuk menyebutkan ibu dari Salomo, raja agung Israel.  Matius tidak menyebutkan nama perempuan itu sebagaimana ketiga nama yang lain, namun hanya mencatat statusnya sebelum menikah dengan Daud. Alkitab mencatat kehebohan perselingkuhan itu (2 Samuel 11)

    Jelas bahwa nama para perempuan di silsilah Yesus versi Matius bukanlah perempuan yang memiliki sejarah hidup yang biasa. Walaupun demikian para ibu ini mendapatkan tempat khusus yang disediakan oleh Matius untuk mencatat nama-nama mereka.  Mereka lemah secara identitas seksual karena mereka adalah perempuan, mereka juga lemah dalam catatan sejarah kehidupan karena pengalaman mereka masing-masing. 

    Namun Allah meninggikan mereka dengan kelahiran anak-anak mereka.  Nama mereka tercantum di daftar silsilah untuk menunjukkan bahwa dalam silsilah Sang Mesias pernah hidup orang-orang yang tersisih, orang asing dan bahkan orang yang melakukan dosa.  Namun ketika Allah mulai turut campur tangan dalam sejarah hidup mereka dan mereka berani meninggalkan masa lalu untuk berjalan di jalan yang benar, nama mereka dipulihkan.  Mereka yang tidak diperhitungkan, malah akhirnya terhitung dalam sejarah Sang Mesias.  Dibalik semua itu ada Allah yang bekerja keras mengubah kehidupan manusia.

    Saudaraku, selama manusia masih diberi kesempatan hidup di dunia, sejarah hidupnya masih terus dituliskan dan sangat prematur bila menjatuhkan vonis tertentu.  Bisa saja manusia suatu saat terjerembap dalam kubangan dosa, salah memilih jalan hidup, keliru memilih teman, dan lain-lain.  Sejarah hidupnya menjadi gelap dan kelam.  Sebagai sesama, kadang rasanya tidak sabar melihat orang itu tidak segera keluar dari kubangan dosa dan bahkan dengan bangga meneruskan jalannya yang salah.  Akhirnya vonis dijatuhkan : tidak ada harapan baginya dan tersingkirlah dia dari hitungan orang berhasil.

    Namun bagi Allah, selama manusia masih bernafas, kesempatan itu masih diberikan-Nya.  Allah bisa berkarya dengan untuk mengubah  apa yang tidak diperhitungkan manusia sanggup untuk masuk hitungan.  From zero to hero.  Apa yang kelam, diubah menjadi terang.  Mendung akan berlalu dan terang mengusir kegelapan itu.  Bila seorang menyadari dan mau menerima anugerah Allah,  ia akan mampu menjalani hidup dalam kebenaran dan mengusir kegelapan dalam hidupnya.  Sebagaimana pujian Maria : “Jiwaku memuliakan Tuhan … sebab Ia telah memperhatikan kerendahan hamba-Nya” (Lukas 1:46, 48).  Ya, Allah sanggup melakukan itu : Meninggikan orang yang rendah dan tidak masuk hitungan.  

    Oleh karena itu renungkanlah :

    1. Apakah saya saat ini ada dalam status tidak diperhitungkan?
    2. Beranikah saya mempercayai bahwa anugerah Allah sanggup memulihkan kondisi saya yang terpuruk?
    3. Beranikah saya meninggalkan jalan kekelaman dan berjalan dalam kebenaran?

    Selagi masih ada kesempatan, semua bisa berubah sesuai kehendak Allah. Terpujilah Allah Sang Maha Bijaksana. (Ag)

  • GALILEA? MENGAPA TIDAK?

    Saudaraku, tidak banyak orang yang mau mengangkat nama daerah yang kecil, tidak dikenal dan bahkan tidak memiliki reputasi yang baik.  Namun Allah memilih menggunakan daerah itu untuk menjadi bagian dari rencana penyelamatan agung.  Mari hari ini  kita melanjutkan belajar dari Injil Matius dengan merenungkan Matius 2:19-23.

    Ketika Yusuf ayah Yesus disuruh Allah untuk membawa kembali keluarganya dari pengungsian di Mesir, ia memilih Galilea sebagai tempat domisilinya karena alasan keamanan, karena Arkhelaus telah menjadi Raja baru di Yudea dan ia dikenal sebagai raja yang memberatkan hidup rakyat. Keluarga ini memulai kehidupan baru di kota itu hingga Yesus dewasa sehingga Ia menyandang status sebagai Orang Nazaret (Matius 2 : 24) atau Orang Galilea (Yohanes 1:46, Yohanes 7: 41, Yohanes 7 : 52).

    Dikenal sebagai orang Galilea tidak terlalu menyenangkan karena pada masa Yesus hidup, orang Yahudi Galilea dikenal sebagai orang yang kurang terdidik dan kurang terhormat dibandingkan daerah lain.  Galilea juga menjadi tempat pertemuan berbagai bangsa, sehingga kerohanian orang Yahudi asal Galilea diragukan.  Walaupun begitu, Allah mengizinkan Yusuf membawa-Nya ke Galilea, daerah yang dianggap sinis oleh orang Yahudi sendiri.  Bahkan Yesus tidak keberatan dibesarkan di daerah itu, di Nazaret.

    Ada dua hal yang bisa direnungkan dari ayat-ayat ini :

    1. Allah tidak dibatasi oleh stereotipe buatan manusia.

    Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, stereotipe adalah prasangka yang didasarkan pada penilaian atau anggapan berdasarkan perilaku orang lain.  Seperti Yesus yang berasal dari Galilea, maka Natanael yang sangat Yahudi itu menyikapi sinis saat pertama bertemu dengan-Nya (Yohanes 1:46).  Natanael berpikir Yesus akan sama dengan Yahudi Galilea yang lain, padahal Yesus berbeda.  Mengapa Yesus tidak dibesarkan di Provinsi Yudea saja supaya lebih mudah bagi-Nya mengabarkan tentang Kerajaan Allah?  Karena stereotipe tidak dapat membelenggu karya Allah untuk menyelamatkan manusia. Allah tidak menciptakan stereotipe maka Ia tidak dibatasi olehnya.  Buktinya hingga akhir hayatnya Natanael yang juga Bernama Bartolomeus itu tetap mengikut Yesus sampai akhir dan bahkan menurut tradisi gereja ia meninggal sebagai martir. 

    • Apa yang dianggap tidak layak, bisa menjadi alat yang baik untuk Kerajaan Allah.

    Yesus tidak keberatan memulai pekerjaan dari Nazaret. Walaupun sepertinya orangtuanya mengambil keputusan yang darurat saat memilih Nazaret untuk menjauhi Raja Arkhelaus, namun ternyata memang itu adalah bagian dari rencana Tuhan.  Penghinaan terhadap Galilea tidak akan menyurutkan rencana Allah yang besar untuk umat manusia.  Allah mampu untuk memakai apa yang dianggap hina untuk sebuah karya yang besar.

    Dari perenungan ini ada beberapa hal yang bisa dipikirkan bersama :

    1. Apakah kita masih terkungkung dengan stereotipe dan menilai sesama berdasarkan hal itu?
    2. Yakinkah kita bahwa Tuhan sanggup mengangkat yang hina menjadi yang mulia?
    3. Beranikah kita menanggalkan stereotipe dan menilai sesame dengan anugerah Allah?

    Kiranya apa yang dilakukan Allah membuat kita mengikuti jejak-Nya dan memberanikan kita untuk lepas dari belenggu stereotipe dalam menilai diri sendiri dan orang lain. Tuhan memberkati. Selamat bertumbuh dewasa.  (Ag)

  • Be Careful in Life

    PEDANG. Wikipedia mencatat bahwa pedang adalah sejenis senjata tajam yang memiliki bilah panjang. Pedang dapat memiliki dua sisi tajam atau hanya satu sisi tajam saja. Di beberapa kebudayaan, jika dibandingkan senjata lainnya, pedang biasanya memiliki prestise lebih atau paling tinggi.

    Bilah pedang biasanya dibuat dari logam keras seperti besi atau baja. Meskipun terdapat pedang dari emas, itu hanya digunakan sebagai hiasan saja. Untuk latihan, biasanya pedang berbahan kayu yang digunakan, meski pedang dari kayu yang keras masih berbahaya. Senjata serupa pedang dan tombak yang menggunakan bilah obsidian (batu kaca vulkanik) digunakan oleh suku-suku asli Amerika Tengah dan Amerika Selatan yang pada saat kolonisasi Eropa belum mengenal logam.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “Be Careful in Life (Berhati-hatilah dalam Hidup)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 21:1-27. Sahabat, kitab Yehezkiel 21  adalah bagian dari kitab Yehezkiel dalam Alkitab Ibrani dan  Perjanjian Lama  di Alkitab Kristen.  Berisi perkataan nabi (dan juga iman)  Yehezkiel bin Busi, yang turut dibawa ke dalam pembuangan oleh Kerajaan Babilonia pada zaman raja Yoyakhin dari Kerajaan Yehuda dan raja Nebukadnezar dari Babel sekitar abad ke-6 SM.

    Sahabat, jika satu bangsa berperang dengan bangsa lainnya, maka persentase menang 50:50. Bagaimana jadinya apabila Allah berperang melawan bangsa Israel? Bacaan kita pada hari  ini merupakan kelanjutan dari Yehezkiel  20:45-49 yang berbicara tentang kehancuran bangsa dan tanah Israel. Jika dalam bacaan sebelumnya, murka Allah dilukiskan dengan kiasan “api” (Yehezkiel 20:47), maka dalam bacaan kita pada hari ini amarah Tuhan digambarkan seperti  “pedang pembunuh” (Ayat 14). Istilah “api” dan “pedang” memiliki fungsi yang sama, yakni memusnahkan dan membunuh.

    Allah menggunakan kata “pedang” untuk memperlihatkan bahwa diri-Nya mengangkat bendera perang. Artinya, Allah akan melenyapkan umat-Nya, baik orang benar maupun orang fasik (Ayat 1-5, 8-10). Cara Allah membinasakan umat-Nya dengan memakai kerajaan Babilonia (Ayat 18-25). Allah memakai tangan Si Pembunuh, yaitu raja Babel, menjadi pedang penghakiman dan kematian bagi umat Israel (Ayat 11). Tajamnya pedang Allah diibaratkan berkilau seperti petir (Ayat 10, 15).

    Sahabat, begitu hebatnya penderitaan yang bakal dialami bangsa Israel, Allah memerintahkan Yehezkiel mengerang kesakitan (Ayat 6) dan berkabung (Ayat 12). Sebab pedang kematian Allah akan membabat orang-orang fasik (Ayat 13, 15-16). Allah melakukan pembersihan sampai tuntas agar tidak ada satu pun kefasikan yang tersisa bagi bangsa Israel (Ayat 26).

    Walau seluruh wilayah Israel telah dihancurkan Allah menjadi puing-puing, namun Ia mampu membangun kembali kerajaan Daud dari timbunan puing tersebut. Kerajaan itu Allah titipkan untuk sementara waktu bagi mereka yang setia kepada-Nya sampai tiba ahli waris yang sejati untuk mengambil alih kuasa dan memerintah kerajaan tersebut (Ayat 27).

    Sahabat, Allah kita murah hati dan panjang sabar. Meski demikian, Ia tidak pernah menolerir orang yang terus-menerus hidup dalam kubangan dosa. Sebab akan tiba saatnya Allah akan mendatangkan hukuman atas mereka yang nyaman dalam keberdosaan. Sekali murka-Nya menimpa kita, maka kehidupan kita akan diluluhlantakkan tanpa ampun. Karena itu, BERHATI-HATILAH  kita DALAM HIDUP, berbicara, dan berperilaku. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang pedang dalam bacaan kita?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jika kita terus-menerus berbuat dosa, maka jangan kaget apabila murka-Nya menimpa kita. (pg).

  • Victory for Believers

    KOTA YERIKHO. detikedu mencatat Jericho merupakan kota tertua di dunia yang menjadi bukti berpindahnya kebiasaan manusia nomaden jadi menetap. Kota yang dihuni sejak 9000 SM ini dikenal dalam Alkitab sebagai kota pertama yang diserang bangsa Israel di bawah kepemimpinan Yosua setelah menyeberangi Sungai Yordan. Dalam Alkitab, Jericho juga disebut sebagai Yerikho atau Arīḥā.

    Kota tertua di dunia ini sempat ditinggalkan dan dihancurkan beberapa kali, namun kembali dibangun di area yang sama. Saat ditaklukkan oleh Inggris pada tahun 1918, wilayah Jericho menjadi bagian dari mandat Inggris untuk Palestina, seperti dikutip dari Encyclopaedia Britannica.

    Jericho juga dimasukkan ke Yordania sebagai tempat dua kamp besar pengungsi Arab setelah perang Arab-Israel pertama pada 1948. Selama Perang Enam Hari pada 1967, kota Jericho diduduki Israel. Kelak pada tahun 1994, Jericho diserahkan kepada otoritas Palestina di bawah perjanjian pemerintahan Israel-Palestina.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yosua dengan topik: “Victory for Believers (Kemenangan bagi Orang Percaya)”. Bacaan Sabda diambil dari Yosua 5:13-15 dengan penekanan pada ayat 14. Sahabat, bagi bangsa Israel, kota Yerikho adalah salah satu penghalang untuk mencapai tanah Perjanjian.  Yerikho adalah gambaran masalah yang besar.  Pada waktu itu Yosua sedang berada dekat kota itu.  Dengan kata lain Yosua sedang dekat dengan permasalahan yang sangat besar.

    Sahabat, tugas baru dan besar menanti Yosua. Tuhan memintanya untuk memimpin bangsa Israel menaklukkan kota Yerikho. Bagi Yosua, menaklukkan kota yang begitu besar dan dikelilingi tembok yang begitu tebal dan tinggi adalah hal yang sangat sulit untuk dilakukan. 

    Mungkin Yosua berpikir: “Bagaimana aku bisa masuk ke kota itu? Tembok kota itu begitu tebal, tentara-tentaranya pun pasti jauh lebih berpengalaman. Dengan cara bagaimana aku bisa menaklukkan kota itu? Ah, pekerjaan itu terlalu besar! Rasa-rasanya mustahil bisa merebut kota Yerikho!”

    Kehadiran seorang laki-laki yang berdiri di hadapannya sambil menghunus pedang itu sontak membuyarkan kegalauan Yosua. Yosua pun menaruh curiga pada kehadiran laki-laki asing itu dan sambil bersiaga ia bertanya apakah ia kawan atau lawan (Ayat 13). Ketika orang itu memperkenalkan diri sebagai Panglima Balatentara Tuhan, sujudlah Yosua menyembah hingga mukanya ke tanah. Yosua tahu kalau laki-laki itu tak lain dan tak bukan adalah Tuhan Allah sendiri yang menyatakan diri kepadanya (ay. 14). Tuhan tidak menghendaki Yosua fokus melihat kekuatan musuh yang besar, Yosua harus percaya ia disertai oleh Tuhan yang jauh lebih besar, yang akan berperang menyelesaikan tugas-tugasnya. Tuhan akan memberi kemenangan kepada umat-Nya.

    Sahabat, ketika sebuah masalah datang, di manakah mata hati kita akan tertuju? Kepada besarnya masalah atau besarnya Tuhan yang menyertai hidup kita? Memandang besarnya masalah akan membuat kita ragu, takut, dan hilang kekuatan. Tetapi memandang kehadiran Tuhan akan memberi kita kekuatan baru dan keyakinan untuk menang bersama Dia. 

    Sesungguhnya tidak ada masalah yang terlampau besar untuk ditaklukkan jika mata iman kita selalu tertuju kepada Tuhan yang jauh lebih besar. Kemenangan bagi orang percaya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang kota Yerikho?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Dibutuhkan ketekunan, karena sedikit waktu lagi Tuhan pasti akan memberikan kemenangan dan mukjizat-Nya bagi kita, asal kita tetap taat kepada-Nya! (pg).   

  • Temptation from the Social Environment

    LINGKUNGAN SOSIAL. Pengalaman hidup  kita bercerita bahwa lingkungan sosial menjadi salah satu faktor penentu dalam memilih rumah untuk tempat tinggal. Mengapa? Lingkungan sosial merupakan  tempat berlangsungnya aktivitas sehari-hari. Lingkungan sosial menjadi faktor penentu terhadap perubahan-perubahan perilaku yang terjadi pada setiap individu atau kelompok. Lingkungan keluarga, teman sebaya, serta lingkungan tempat tinggal akan membentuk perilaku dalam diri setiap individu. Lingkungan sosial  yang baik akan membentuk pribadi yang baik, karena perilaku dan kepribadian seseorang cerminan dari lingkungan sosial yang ia tempati. 

    Keluarga menjadi lingkungan sosial yang pertama kali dikenal seorang individu sebelum terjun pada lingkungan sosial lainnya yang lebih besar. Kepribadian yang terbentuk pada anak dipengaruhi oleh kondisi lingkungan sosialnya serta didasari oleh berbagai faktor berlangsungnya interaksi sosial. Ketika seorang anak mulai berinteraksi dengan lingkungan sekitarnya, maka secara tidak langsung kepribadian akan timbul berdasarkan hasil interaksi tersebut. Hal ini menunjukkan betapa pentingnya peran lingkungan sosial dalam membentuk kepribadian seseorang.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “Temptation from the Social Environment (Godaan dari LIngkungan Sosial)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 20:30-44 dengan penekanan pada ayat 30. Sahabat, dalam Roma 12:2 Rasul Paulus berpesan bahwa walau kita tinggal dan berada di dalam dunia, tetapi kita tidak boleh sama dengan dunia ini. Sama seperti ikan di laut, walau ikan tinggal di dalam air asin, tetapi tubuhnya tidak asin selama hidup. Tetapi saat ikan di laut mati maka tubuhnya diberikan garam agar bisa awet. Kita memang diutus Tuhan ke tengah-tengah dunia, tapi kita tidak boleh menjadi serupa dengan dunia.

    Sangat disayangkan saat ini ada cukup banyak orang percaya, tetapi masih menyimpan berhala atau memiliki berhala-berhala dalam hidupnya.  Memang setiap Minggu mereka masih rajin pergi ke gereja, namun sesungguhnya mereka mencintai hartanya lebih daripada cintanya kepada Tuhan.  Hati mereka telah terpaut kepada harta.  “… di mana hartamu berada, di situ juga hatimu berada.”  (Matius 6:21).  

    Padahal Tuhan Yesus dengan  jelas menyatakan:  “… Kamu tidak dapat mengabdi kepada Allah dan kepada Mamon.”  (Matius 6:24).  Ada pula mereka yang tampak aktif terlibat dalam berbagai pelayanan gerejawi, namun sesungguhnya mereka melakukannya bukan untuk hormat dan kemuliaan nama Tuhan, tetapi supaya dilihat orang, dipuji, dihormati dan memiliki reputasi baik di mata orang-orang di sekitarnya.  Sesungguhnya mereka telah memberhalakan dirinya sendiri.

    Bangsa Israel adalah bangsa pilihan Tuhan, yang dikuduskan untuk menjadi umat yang beribadah kepada-Nya.  Namun mereka telah tergoda dengan lingkungan sosial, ketika melihat kehidupan bangsa-bangsa lain yang menyembah kepada berhala, mereka pun terpengaruh dan akhirnya hati mereka menjadi bercabang dua:  Kepada Tuhan dan juga berhala.  Artinya mereka tidak meninggalkan Tuhan sepenuhnya, tapi mereka juga menyembah kepada berhala-berhala.  

    Tak terhitung banyaknya Tuhan menegur dan memperingatkan, sebentar saja bertobat tapi kemudian berbalik lagi kepada berhala.  Bagaimana rasanya jika orang yang kita kasihi telah mendua atau berpaling kepada yang lain?  Kita pasti merasa cemburu dan hati ini terasa sakit.  Tuhan sangat membenci umat-Nya yang bercabang hati,  “… mereka menimbulkan sakit hati-Ku dengan berhala mereka. ” (Ulangan 32:21).  Berhala adalah kejijikan dan kekejian di mata Tuhan, dan Ia memandang umat yang melakukannya sebagai kenajisan.

    Sahabat, berhala-berhala “Zaman Now” memiliki berbagai macam bentuk.  Berhala adalah segala hal yang menggeser posisi Tuhan sebagai penguasa hati dan hidup kita.  Hobi, kekayaan, jabatan, bisnis, barang kesayangan, binatang kesayangan, bahkan  gadget dan sebagainya dapat menjadi berhala ketika semuanya itu menjadi lebih utama daripada Tuhan dan menyita sebagian besar waktu dalam hidup kita, sampai-sampai kita tidak punya waktu lagi untuk Tuhan. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Roma 12:2?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Teruslah berusaha membawa perubahan bagi dunia agar dunia ini dipenuhi kemuliaan Allah. (pg). 

  • INSCRIPTION STONE

    PRASASTI. Kata prasasti berasal dari bahasa Sanskerta, dengan arti sebenarnya adalah “pujian”. Namun kemudian dianggap sebagai “piagam, maklumat, surat keputusan, undang-undang atau tulisan. Di kalangan arkeolog prasasti disebut inskripsi, sementara di kalangan orang awam disebut batu bertulis atau batu bersurat. Meskipun berarti “pujian”, tidak semua prasasti mengandung puji-pujian (kepada raja). 

    Prasasti adalah piagam atau dokumen yang ditulis pada bahan yang keras dan tahan lama. Penemuan prasasti pada sejumlah situs arkeologi, menandai akhir dari zaman prasejarah, yakni babakan dalam sejarah kuno Indonesia yang masyarakatnya belum mengenal tulisan, menuju zaman sejarah, di mana masyarakatnya sudah mengenal tulisan. Ilmu yang mempelajari tentang prasasti disebut Epigrafi.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yosua dengan topik: “INSCRIPTION STONE (BATU PERINGATAN)”. Bacaan Sabda diambil dari Yosua 4:1- 24  dengan penekanan pada ayat 7. Sahabat,  Allah memerintahkan agar Yosua memilih dua belas orang sebagai perwakilan dari suku Israel. Mereka ditugasi untuk mengangkat dua belas batu dari sungai Yordan (Ayat 1-3).Batu-batu itu adalah tanda peringatan perbuatan besar Tuhan tatkala Dia membelah sungai Yordan. Perbuatan ajaib itu membuat bangsa Israel dapat menyeberang (Ayat 7). 

    Tampaknya, pembaca pertama Kitab Yosua masih dapat melihat batu-batu itu (Ayat 9). Sepanjang bacaan pada hari ini, ada sebuah penegasan agar tetap mengingat sejarah. Jika anak-anak Israel bertanya apa arti batu itu, orang Israel harus menjawabnya. Mereka harus menuturkan tentang keajaiban perbuatan Tuhan itu (Ayat 6, 21).

    Jadi jelaslah bahwa  oleh karena campur tangan Tuhan semata,  Yosua dan umat Israel dapat menyeberangi sungai Yordan.  Padahal, aliran sungai Yordan itu sangat deras dan tidak mungkin untuk diseberangi.  Itulah sebabnya sungai ini menjadi tempat perlindungan yang paling aman bagi bangsa-bangsa di sekitar Kanaan dari serangan musuh, karena mereka yakin bahwa musuh tidak akan mungkin bisa melewati sungai yang deras ini.  

    Namun Yosua menceritakan bahwa ketika kaki para imam pembawa tabut perjanjian menyentuh air sungai Yordan, secara ajaib sungai itu terbelah menjadi dua dan bangsa Israel pun melintasi dasar sungai yang menjadi kering itu  (Yosua 3:17).  Bangsa Israel mengalami mukjizat luar biasa di sungai Yordan karena mereka mau taat melakukan apa yang diperintahkan oleh Tuhan  (Yosua 3:3-5)!

    Peristiwa menyeberangi sungai Yordan adalah suatu peristiwa besar bagi bangsa Israel di bawah kepemimpinan Yosua.  Suatu bukti nyata bahwa Allah bangsa Israel adalah Allah yang hidup dan penuh kuasa!  Hal tersebut semakin menguatkan iman bangsa Israel.  Karena itu,  “… Apabila di kemudian hari anak-anakmu bertanya kepada ayahnya:  Apakah arti batu-batu ini?  maka haruslah kamu beritahukan kepada anak-anakmu, begini:  Israel telah menyeberangi sungai Yordan ini di tanah yang kering!  –  sebab Tuhan, Allahmu …”  (Ayat 21-23).

    Bangsa Israel mengalami mukjizat Tuhan yang luar biasa karena mereka mau taat dan melakukan apa yang diperintahkan Tuhan (Yosua 3:3-5). Bukan karena kuat dan gagah mereka tetapi semata-mata karena tangan Tuhan yang kuat dan perkasa yang menolong dan menopang mereka.

    Lakukan semua perintah-perintah-Nya dengan taat, maka mukjizat pasti akan kita alami.Kalau dahulu kita pernah mengalami mukjizat atau pertolongan Allah, kita harus ingat dan jangan lupakan itu semua. Jadikan prasasti yang bisa menguatkan iman kita dan lakukan semua perintah-perintah-Nya dengan taat, maka mukjizat pasti akan kita alami kembali. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita  pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 21-23?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Bukan karena kita kuat dan gagah, kita menjadi berhasil, tapi semata-mata tangan Tuhan yang kuat dan perkasa yang menopang! (pg).

  • Fail to Pass Down the Faith

    MEWARISKAN. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), arti kata mewariskan adalah menjadikan orang lain menjadi waris; memberikan harta warisan kepada;  dan meninggalkan sesuatu kepada.

    Ketika kita mendengar atau membaca kata warisan, asosiasi kita tertuju pada rumah, deposito, harta, perusahaan, kekuasaan, kepandaian, dan keahlian. Kita sebagai orang percaya, sebagai murid Tuhan Yesus, sesungguhnya punya satu warisan yang bernilai kekal yaitu IMAN. Kita perlu mewariskan iman kepada anak, cucu, dan generasi penerus (2 Timotius 1:3-14).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “Fail to Pas Down the Faith (Gagal Mewariskan Iman)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 19:1-14. Sahabat, bacaan kita pada hari ini merupakan sebuah kisah atau kiasan untuk menjelaskan peristiwa-peristiwa yang pernah terjadi atas Israel dan Yehuda. “Nasi sudah menjadi bubur”, itulah peribahasa  yang tepat untuk menggambarkan semua yang terjadi atas bangsa Israel dan Yehuda. Mereka hanya bisa meratap tetapi tidak bisa memulihkan kembali kerajaannya.

    Sahabat, dalam bentuk puisi, Allah menggambarkan kondisi terakhir bangsa Israel. Bagian pertama menceritakan seekor induk singa yang melambangkan garis kerajaan Daud dari suku Yehuda yang dijuluki singa (Kejadian 49:9). Induk singa melahirkan dan membesarkan dua anak singa yang melambangkan dua raja terakhir yang akan dihukum Allah karena tidak taat kepada Allah. Kerajaaan anak singa pertama ditaklukkan Mesir dan rajanya ditawan ke Mesir (Ayat 2-4). Kiasan ini ditujukan kepada raja Yoahas yang ditaklukkan raja Nekho dan ditawan ke negeri Mesir (2 Raja-raja 23:31-33). 

    Selanjutnya, kerajaan anak singa kedua melakukan kesalahan yang sama dan ditaklukkan bangsa Babel, rajanya ditawan ke Babel (Ayat 5-9). Kemungkinan, kiasan ini ditujukan kepada raja Yoyakhin yang tidak menghormati Allah sehingga dihukum Allah melalui pembuangan ke Babel (2 Raja-raja 24:8-17). 

    Bagian kedua menceritakan pohon anggur yang pernah tumbuh subur dan menjadi kokoh dengan cabang yang kuat hingga menjulang ke langit (Ayat 10-11). Kiasan ini melambangkan kerajaan Daud yang pernah mengalami kejayaan. Namun, pohon ini tercabut, carang dan rantingnya dibakar habis, melambangkan berakhirnya kerajaan Yehuda karena ditaklukkan bangsa Babel (Ayat 12-14).

    Sahabat, melalui perenungan kita pada hari ini, kita dapat belajar bahwa para pemimpin perlu berhati-hati atas setiap tindakan dan keputusannya! Sebagai pemimpin, kita memberi pengaruh baik atau buruk kepada setiap orang yang berada dalam pimpinan kita! 

    Para pemimpin Israel dan Yehuda telah gagal mewariskan iman kepada generasi penerus. Hal ini menjadi peringatan bagi kita yang saat ini diberi kepercayaan Tuhan untuk menjadi pemimpin di keluarga, gereja, perusahaan, masyarakat, dan pemerintahan, bahwa kita punya tugas untuk mewariskan iman kepada orang-orang yang kita pimpin melalui berbagai pendekatan. 

    Selain itu kita juga diingatkan  pentingnya terus menghidupkan dan memelihara gerakan pemuridan di gereja. Melalui kelompok pemuridan, sesama orang percaya dapat saling menjaga dan menguatkan, sehingga mampu bertahan dalam iman melewati segala keadaaan. Pemuridan merupakan salah satu wadah untuk mewariskan iman dan membangun generasi penerus yang tangguh. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari 2 Timotius 1:3-14?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Warisan iman merupakan warisan yang sangat berharga, bukan hanya untuk hidup sekarang, melainkan juga untuk kekekalan. (pg).

  • Obeying the Guidance of God

    TABUT PERJANJIAN. Lembaga Alkitab Indonesia (LAI) mencatat, Tabut Perjanjian merupakan artefak yang berharga bagi bangsa Israel. Berbentuk peti persegi panjang yang terbuat dari kayu penaga dengan ukuran 1,3x1x1 m. Seluruh bagian tabut dilapisi dengan emas dan didalamnya tersimpan loh-loh hukum Allah, buli-buli berisi manna, dan tongkat Harun (Ibrani 9:4). Tabut Perjanjian memiliki penutup yang disebut tutup pendamaian terbuat dari emas (Keluaran  25:17) serta terdapat dua kerub emas yang saling berhadapan dengan sayap terkembang (Keluaran 25:19-20).

    Tabut ini memiliki empat gelang pada setiap penjurunya agar kaum Lewi dapat mengangkatnya ketika bangsa Israel berpindah tempat. Untuk mengangkat tabut digunakan tongkat kayu yang dimasukkan ke lubang gelang-gelang pada keempat penjurunya. Tabut dibuat di Sinai oleh Bezaleel menurut pola yang disampaikan kepada Musa (Keluaran 25:10-22). Tabut Perjanjian dianggap takhta kehadiran Allah yang tidak tampak di bumi dan siapa yang menajiskannya akan dibinasakan (1 Samuel  6:19). 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yosua dengan topik: “Obeying the Guidance of God (Menaati Petunjuk Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Yosua 3:1-17 dengan penekanan pada ayat 3-4. Sahabat,  sungguh benar apa yang dikatakan Pengamsal, “Banyaklah rancangan di hati manusia, tetapi keputusan Tuhanlah yang terlaksana.” (Amsal 19:21). Dalam menjalani hidup seringkali kita membuat keputusan berdasarkan akal dan pikiran kita sendiri, jarang kita bertanya dan meminta petunjuk Tuhan, dan hasilnya sudah dapat diduga: Kita banyak sekali mengalami kegagalan, apa yang terjadi benar-benar di luar perkiraan kita.

    Melalui renungan ini kita akan berlajar dari pengalaman bangsa Israel. Saat bangsa Israel tiba di sungai Yordan, mereka bermalam di situ selama tiga hari dan sesudah lewat dari tiga hari mereka harus bersiap-siap untuk menyeberangi sungai Yordan. 

    Sesaat sebelum bangsa Israel menyeberangi sungai Yordan menuju Tanah Perjanjian, Yosua memberikan perintah kepada para pengatur pasukan:  “dan memberi perintah kepada bangsa itu, katanya: ‘Segera sesudah kamu melihat tabut perjanjian TUHAN, Allahmu, yang diangkat para imam, yang memang suku Lewi, maka kamu harus juga berangkat dari tempatmu dan mengikutinya– hanya antara kamu dan tabut itu harus ada jarak kira-kira dua ribu hasta panjangnya, janganlah mendekatinya–maksudnya supaya kamu mengetahui jalan yang harus kamu tempuh, sebab jalan itu belum pernah kamu lalui dahulu.’”  (Ayat 3-4).  

    Hasta merupakan unit ukuran untuk panjang, sepadan dengan jarak antara ujung siku lengan sampai ujung jari tengah tangan pada lengan yang sama.  Ukuran 1 hasta itu sama dengan 45 cm.

    Ada rahasia besar di balik peristiwa ini, sebagaimana orang-orang Israel diperintahkan untuk menjaga jarak berjalan kira-kira dua ribu hasta antara Tabut Perjanjian dengan mereka.  Tabut Perjanjian adalah LAMBANG KEHADIRAN TUHAN (penyertaan Tuhan).  Dengan kata lain mereka harus berjalan dengan memperhatikan agar tetap dapat melihat Tabut Perjanjian tersebut.  

    Sahabat, menjalani hidup di tengah dunia yang carut marut ini kita pun sangat memerlukan tuntunan dan penyertaan Tuhan melalui Roh Kudus-Nya.  Mengapa?  Sebab kita tidak tahu apa yang bakal terjadi di depan kita, hari esok atau hari yang akan datang.  Itulah sebabnya firman Tuhan memperingatkan,  “Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu.”  (Amsal 27:1).

    Saat orang Israel dan para imam menaati perkataan Tuhan Allah, terwujudlah apa yang dikatakan Yosua. Kenyataan tersebut mengajarkan dua hal penting kepada kita: Pertama, kita harus meyakini bahwa TUHAN tidak pernah mengingkari janji-Nya. Firman-Nya pasti akan terwujud. Kedua, kita tidak akan bisa melihat perwujudan firman TUHAN bila kita tidak belajar untuk HIDUP DALAM KETAATAN  kepada perintah-Nya serta berjalan (bertindak) berdasarkan iman. Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Amsal 27:1?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Mari kita kerjakan bagian kita, maka Tuhan akan mengerjakan bagian-Nya! (pg).

  • Take A Very Good Care of Those which are Useful and Meaningful

    BERGUNA DAN BERHARGA. Sejak muda hingga saat ini, untuk keperluan transportasi dalam kota,  sepeda motor menjadi sarana transportasi andalan saya. Hampir selalu, setiap  tiga bulan sekali saya membawa sepeda motor ke bengkel untuk perawatan rutin. Kadang saat diservis oleh teknisi, ada suku cadang yang harus diganti karena sudah rusak. Saat perbaikan selesai, selain diberi nota pasti disertakan suku cadang yang rusak, seperti bola lampu, busi, rantai, dan lain sebagainya sebagai bukti. Apa yang saya lakukan? Saya membuang dan tidak mengingat-ingat lagi suku cadang itu karena sudah tidak berguna dan tidak berharga. Saya hanya menyimpan dan merawat barang-barng yang masih berguna dan berharga.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “Take A Very Good Care of those which are Useful and Meaningful (Peliharalah dengan Baik Hal-Hal yang Berguna dan Bermakna)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 18:1-32 dengan penekanan pada ayat 22. Sahabat, bacaan kita pada hari ini membicarakan tentang keadilan Allah yang memberi upah kepada orang benar dan hukuman kepada orang fasik. Ucapan Allah dimulai dengan prinsip bahwa setiap orang bertanggung jawab atas hasil perbuatannya sendiri (Ayat 1-4).

    Selanjutnya, Allah membuat studi kasus: Orang benar (generasi pertama) hidup menurut peraturan Allah dan berlaku setia. Dia pasti akan hidup (Ayat 5-9). Anak orang benar itu ternyata hidup dalam kekejian, tidak bermoral dan menyembah berhala, maka hanya anaknya (generasi kedua) yang akan dihukum, ayahnya tidak perlu menanggung hukuman anaknya (Ayat 10-14). Anak orang jahat tersebut (generasi ketiga) menginsafi seluruh dosa ayahnya dan bertobat, maka ia akan hidup dan tidak perlu menanggung akibat kejahatan ayahnya (Ayat 14-18).

    Orang benar menerima berkat kebenarannya, dan kefasikan orang fasik akan tertanggung atasnya (Ayat 20). Ucapan Allah ditutup dengan janji Allah yang indah: Dia akan mengampuni semua orang yang bertobat di hadapan-Nya. Segala dosa orang yang bertobat tidak akan diperhitungkan Allah, sehingga ia akan mendapat pengampunan (Ayat 21-23, 27-28). Sebaliknya, bagi orang yang sebelumnya hidup dalam kebenaran dan berubah setia menjadi orang jahat, segala kebaikannya tidak bisa melepaskan dia dari hukuman Allah (Ayat 24-26). 

    Sahabat, saat Tuhan mengampuni kita, Dia tidak mengingat-ingat lagi segala dosa kita. Kalau Allah saja tidak mau mengingat segala dosa kita, apa gunanya kita menyimpan kesalahan, kemarahan, atau dendam?

    Perlu digarisbawahi, kita perlu meneladani cara Tuhan MENGAMPUNI, ketika MENGAMPUNI  dan MEMAAFKAN  kesalahan sesama. Jika kita mengatakan kepada seseorang:  “Aku mengampunimu” atau “Aku memaafkanmu”,  itu berarti kita tidak menyimpan lagi kesalahannya. Buanglah segala kepahitan, kebencian, kekecewaan, dan dendam. Mulailah dengan hal-hal  baru yang mendatangkan kedamaian dan persahabatan.  Prinsipnya: Peliharalah dengan baik hal-hal yang berguna dan bermakna.  Haleluya! Tuhan itu baik.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 21-22?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Setiap orang mempertanggungjawabkan perbuatannya sendiri di hadapan Tuhan. (pg).