Category: Sejenak Merenung

  • Vengeance is God’s Right

    ANJING DENGAN KUCING. Wikipedia mencatat bahwa dalam bahasa indonesia dikenal pepatah seperti anjing dengan kucing,  yang digunakan untuk menggambarkan dua orang yang saling bermusuhan dan tidak bisa didamaikan. Anjing dan kucing memiliki berbagai bentuk interaksi. Naluri alami keduanya mengarah pada interaksi yang bertentangan dan bermusuhan.

    Sinyal dan perilaku yang digunakan anjing dan kucing untuk berkomunikasi sangat berbeda, dan  dapat dianggap sebagai sinyal permusuhan, ketakutan, dominasi, persahabatan, atau teritorial yang disalahartikan oleh spesies lain. Anjing memiliki naluri alami untuk mengejar hewan kecil yang melarikan diri, naluri yang juga umum ditemukan pada kucing. Sebagian besar kucing akan lari dari anjing, sementara beberapa kucing mungkin akan melakukan tindakan seperti mendesis, melengkungkan punggung, dan mengusap anjing tersebut. Setelah dicakar kucing, beberapa anjing bisa menjadi takut pada kucing.

    Jika dilatih dengan tepat, anjing dan kucing mungkin memiliki hubungan yang tidak bermusuhan. Anjing yang dibesarkan dengan kucing mungkin lebih menyukai kehadiran kucing daripada anjing lain.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “Vengeance is God’s Right (Pembalasan adalah Hak Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 25:1-17 dengan penekanan pada ayat 7. Sahabat,  setelah menubuatkan kehancuran Yehuda, sekarang Tuhan beralih kepada bangsa-bangsa di sekeliling Yehuda, yakni bangsa Amon, Moab, Edom, Filistin. Hubungan mereka dengan Yehuda seperti anjing dengan kucing, banyak bermusuhannya daripada bersahabat. Karena bangsa-bangsa di sekeliling inilah, maka Yehuda dan Israel jatuh ke dalam penyembahan berhala, sehingga menimbulkan hukuman Tuhan bagi mereka.

    Padahal tujuan Tuhan menempatkan Israel (Yehuda) di tengah-tengah bangsa ini, adalah untuk menjadi garam dan terang, menjadi berkat sehingga bangsa-bangsa ini mengenal Tuhan Allah Israel. Karena mereka tidak ada yang bertobat, dan kita juga tahu bahwa kehidupan mereka tidak lebih baik daripada orang Yehuda (Israel), mereka pun mengalami penghukuman dari Tuhan.

    Sahabat, dari nubuatan dalam bacaan kita pada hari ini, kita dapat mempelajari empat hal: Pertama, Allah Israel (Yehuda) adalah Alllah yang Esa, Allah atas semua suku bangsa di dunia. Dia bukan hanya Allah atas Israel dan Yehuda saja, tetapi Dia juga adalah Allah atas Amon, Moab, Edom, dan Filistin, bahkan semua suku bangsa di dunia ini.

    Kedua. Allah Israel berdaulat atas nasib bangsa-bangsa di dunia, walaupun dalam sejarah manusia melihat bahwa bangsa-bangsa ini dikalahkan oleh Babel, namun sesungguhnya Tuhan memakai Babel untuk menghukum mereka (Ayat 7, 11, 14, dan 17)

    Ketiga, penghinaan terhadap Yehuda. Ketika Yehuda dikalahkan Babel dari jauh, mereka malah mensyukuri kekalahan dan kehancuran Yehuda, maka Tuhan secara Pribadi sangat membenci orang berdosa yang mengira dirinya lebih baik daripada orang yang dihukum oleh Tuhan.

    Keempat, pembalasan adalah hak Tuhan, karena hukuman Tuhan bersifat adil dan bijaksana. Adil karena hanya Tuhan sajalah yang tahu besar kejahatan manusia, dan yang bisa menghukum sesuai keberdosaannya. Sedangkan bagi manusia, hal ini tidak mungkin bisa. Sesungguhnya, kita sama sekali tidak memiliki otoritas atas sesama kita, untuk menghakimi mereka. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Seberapa besar Sahabat melihat Tuhan berdaulat atas hidupmu dan orang lainnya, apakah ada perbedaan?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Apakah gereja dan pribadi kita sudah menjadi berkat bagi orang-orang sekitar? (pg).

  • ASK GOD

    BUDAYA BERTANYA. “Ada pertanyaan?”, demikian kita sering mendengar atasan, penceramah, motivator,  ataupun fasilitator pelatihan menutup topik pembicaraannya. Tidak jarang kita menemui, situasi hening, tanpa ada orang yang mengacungkan tangan untuk bertanya.

    Beberapa orang yang berusaha menganalisa mengatakan bahwa bangsa kita adalah bangsa yang pemalu, sehingga harap maklum jika tidak banyak respons terhadap presentasi yang sudah berlangsung. Benarkah tidak adanya pertanyaan ini di latarbelakangi oleh budaya malu? Atau justru, di budaya kita berkembang kebiasaan mematikan pertanyaan sehingga individu memang tidak menyuburkan kebiasaan bertanyanya?

    Bapak Ev. Andreas Christanday sebagai Pendiri dan Ketua Pembina Yayasan Christopherus mengembangkan budaya RK3 yaitu Relasi, Komunikasi, Konsultasi, dan Koordinasi di lingkungan Pengurus, Staf, dan Karyawan Christopherus. Maka saya dengan penuh antusias sering bertanya kepada Beliau ketika saya dipercaya sebagai editor, menyusun acara, membuat konsep tema suatu acara, menulis artikel,  dan membuat usulan program atau kegiatan.

    Saat ini saya dipercaya untuk menulis renungan harian di Website Christopherus yang bertajuk: “Sejenak Merenung”. Setelah saya membaca ayat-ayat yang menjadi dasar renungan yang hendak saya tulis, saya selalu bertanya kepada Tuhan: “Tuhan, pesan apa yang harus saya sampaikan kepada para pembaca?”. Saya meyakini bahwa Tuhan merupakan sumber hikmat, kekuatan, pertimbangan, dan pengertian (Ayub 12:13).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yosua dengan topik: “ASK GOD (BERTANYA  kepada TUHAN)”. Bacaan Sabda diambil dari Yosua 9:1-21 dengan penekanan pada ayat 14. Sahabat, Yosua pernah keliru mengambil keputusan ketika ia mengikat perjanjian dengan penduduk Gibeon tanpa melibatkan Allah, tidak bertanya kepada Tuhan terlebih dahulu (Ayat 14).

    Sebetulnya orang Israel sempat mencurigai penduduk Gibeon, tetapi akhirnya mereka bertindak gegabah, lalu mengikat perjanjian dengan bangsa asing itu (ayat  7-14). Seandainya mereka BERTANYA kepada Allah dan mencari tahu kehendak-Nya sebelum memutuskan, niscaya mereka tidak akan mengambil keputusan yang keliru. Konsekuensinya, Yosua dan bangsa Israel harus menanggung akibat dari keputusan keliru tersebut untuk jangka waktu yang lama (Ayat 19-21).

    Sahabat, kita dapat menyimpulkan bahwa bangsa Israel kena tipu karena mereka TIDAK BERTANYA  atau meminta pendapat Allah ketika memutuskan saat mendapat tawaran dari bangsa Gibeon. Mereka langsung memutuskan menerima bekal bangsa Gibeon dan mereka baru sadar ketika tahu siapa sebenarnya bangsa Gibeon, bangsa yang seharusnya mereka tumpas.

    Dalam hidup ini, keputusan yang berkaitan dengan perjanjian atau komitmen akan berdampak besar dan berjangka panjang, misalnya keputusan untuk menikah,  menerima pekerjaan, berpindah pekerjaan, dan sebagainya. Mereka yang tidak melibatkan Allah berpotensi mengambil keputusan yang keliru.

    Sahabat, apakah ada diantara kita yang sedang mempertimbangkan sesuatu berkaitan dengan perjanjian atau komitmen? Berhati-hatilah, jangan terburu-buru. Sebelum memutuskan, BERTANYALAH kepada Tuhan. Libatkanlah Tuhan dalam mengambil keputusan,  supaya kelak kita tidak akan mengalami penyesalan yang tiada berujung!

    Yakinlah ketika kita melibatkan Tuhan dalam pengambilian keputusan,  Dia akan menuntun dan mengarahkan kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang Budaya Bertanya?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Bertanya kepada Tuhan, itulah awal kemenangan kita.(pg).

  • The Parable of Rusty Clay Pot

    KUALI. Berdasarkan catatan Wikipedia kuali  merupakan salah satu alat memasak masyarakat Asia berupa belanga besar yang terbuat dari tanah dan umumnya digunakan untuk merebus sayuran. Bahan bakunya berasal dari tanah liat. Bentuknya bundar dengan mulut besar, antara bagian atas dan bawah sama besar kadang didesain dengan dua kuping sebagai pegangan.

    Kuali  telah lama ada dan telah digunakan masyarakat semenjak zaman Neolitikum (Zaman Batu Muda). Pada umumnya, kuali dibuat dari tanah liat, tetapi di dalam Hikayat Hang disebutkan terdapat pula kuali dari besi.

    Di Jambi, kuali berfungsi sebagai alat memasak lauk pauk dan air minum. Oleh masyarakat Minangkabau, kuali digunakan untuk memasak jenis masakan gulai. Di Jawa kuali sudah dikenal oleh masyarakat umum sejak dulu kala, sedangkan di daerah Aceh kuali sering disebut dengan blangong.

    Hari ini kita akan melanjutkan untuk belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “The Parable of Rusty Clay Pot (Perumpamaan KUALI yang Berkarat)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 24:1-14 dengan penekanan pada ayat 10-11. Sahabat, saat penghakiman Allah hampir tiba. Setiap nubuatan yang disampaikan Yehezkiel kepada bangsa Israel akan terwujud satu per satu. Bukan hanya umat Israel menjadi saksinya nubuatan Allah, tetapi Yehezkiel juga.

    Untuk mencegah agar bangsa Israel berdalih atas nubuatan-Nya, maka Allah memerintah Yehezkiel mencatat tanggal, bulan, dan tahunnya. Tujuannya, sebagai kesaksian dan bukti sejarah bahwa penghakiman Allah itu terjadi (Ayat 1-2). Sebelum hari penghakiman itu tiba, Allah menyuruh Yehezkiel menyampaikan sebuah perumpamaan tentang kuali di atas api. Kuali menunjukkan kepada kota-kota Israel, sedangkan potongan daging mengacu kepada orang-orang Israel (Ayat 3-5; bdk. Yehezkiel  11:3, 7). Istilah “api” memperlihatkan armada perang Babel yang menginvasi wilayah Israel (Ayat 3). Kata “tulang-tulang pilihan” mencerminkan raja, pejabat negara, tetua adat, dan imam-imam kepala (Ayat 4).

    Sahabat, mengingat dosa bangsa Israel terlalu berat, maka hukuman Allah dijatuhkan menjadi dua bagian, yakni: Pertama, hukuman untuk penduduk Yerusalem (Ayat 6-8). Kejahatan penduduk Yerusalem seperti karat dalam kuali yang tidak mungkin hilang. Satu-satunya “jalan penebusan dosa” adalah seluruh penduduknya ditawan dan diangkut ke pembuangan (Ayat 6). Dalam perjalanan ke negeri asing, banyak orang akan mati dengan mengerikan, apakah itu disebabkan oleh kelaparan, kehausan, rasa capek luar biasa dan sebagainya (Ayat 7-8).

    Kedua, hukuman untuk kota-kota Yerusalem (Ayat 9-13). Kota kebanggaan Israel akan menjadi timbunan puing-puing. Tidak ada satu bangunan pun dibiarkan berdiri kokoh (Ayat 11-12). Semua kota dan wilayah Israel akan menjadi kengerian dan kesunyian seperti tempat pembakaran mayat. Bau busuk yang menyegat. Tidak ada kehidupan yang tersisa di sana (Ayat 9-10). Mereka harus menjalani semua tuntutan keadilan Allah sampai amarah-Nya mereda (Ayat 13-14).

    Sahabat, dari “Perumpamaan Kuali yang Berkarat” kita dapat belajar: Hidup yang hanya ditujukan hanya untuk diri sendiri mengakibatkan Tuhan demikian murka kepada Israel. Maka saat ini hidup kita sebagai orang yang telah diselamatkan, sudah semestinya tidak ditujukan untuk diri kita sendiri saja. Hidup sebagai orang yang diselamatkan hendaknya menjadikan kita mampu untuk menjalani hidup dengan penuh tanggung jawab, termasuk tanggung jawab sebagai anggota persekutuan. Sebagai anggota persekutuan, kita semua diajak untuk mengusahakan persatuan yang utuh dan erat, dan itulah yang digambarkan oleh Rasul Paulus sebagai tubuh Kristus yang terdapat di 1 Korintus 12:12-13. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari 1 Korintus 12:12-13?

    Selamat sejenak Merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jadilah manusia baru yang saling membangun satu dengan yang lain sehingga kesatuan tubuh Kristus benar-benar dirasakan kehadirannya, mewarnai dengan kebaikan. (pg).

  • Obedience due to Words of God

    KETAATAN. Apakah ketaatan itu sulit? Ketaatan itu sesungguhnya sederhana, tidak rumit seperti yang dibayangkan. Secara prinsip, ketaatan kepada Tuhan berarti kita melakukan hal yang Tuhan katakan, tidak lebih dan tidak kurang. Namun, mengapa kita sulit melakukannya? Sebenarnya, kesulitan terbesar untuk bersikap taat bukan disebabkan perintah Tuhan itu rumit, melainkan keinginan manusialah yang mempersulit perintah tersebut. Keinginan dalam hati manusia sering kali mengalahkan keinginan untuk menaati Tuhan.

    Sahabat, mengamati perilaku manusia yang cenderung sukar dalam menaati peraturan, saya semakin menyadari bahwa taat adalah karakter yang perlu ditumbuhkan lewat pembelajaran seiring berjalannya waktu. Tanpa adanya pembiasaan, yang berawal dari kesediaan untuk taat, niscaya akan sukar untuk menjadikan ketaatan sebagai gaya hidup, baik dalam hal menaati peraturan yang dibuat oleh manusia maupun menaati firman Tuhan.

    Sebenarnya prinsip ketaatan itu sederhana: Jadikanlah kebiasaan sampai kita merasa tidak damai sejahtera ketika hendak melanggar aturan yang seharusnya kita taati. Pengalaman hidup kita bercerita bahwa hal tersebut bukanlah perkara mudah karena selalu ada tantangan dan ujian atas ketaatan kita. Namun, sambil menatap dampak positifnya ketika ketaatan itu sudah mendarah daging dalam diri kita, niscaya kita akan lebih termotivasi untuk menjadikan ketaatan sebagai bagian hidup yang tak terpisahkan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yosua dengan topik: “Obedience due to Words of God (Ketaatan karena Firman Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Yosua 8:1-29. Sahabat, bangsa Israel baru saja mengalami kekalahan saat menyerang kota Ai. Seketika, keberanian mereka menciut. Padahal secara jumlah, penduduk Israel jauh lebih banyak dibandingkan penduduk kota Ai. Mereka seolah kehilangan kepercayaan bahwa Tuhan menyertai.

    Setelah dosa Akhan terselesaikan, Tuhan pun berniat memulihkan bangsa Israel. Tuhan menyatakan niat kepada Yosua bahwa Dia akan memberikan kota Ai kepada Israel (Ayat 1-2).

    Sahabat, janji tersebut membuat Yosua kembali bersemangat. Dia mengerahkan tiga puluh ribu pahlawan-pahlawannya (Ayat 3). Dibanding serangan pertama, jumlah ini sepuluh kali lipatnya. Israel sepertinya ingin mengerahkan semua kemampuan terbaiknya. Itu menunjukkan bahwa keyakinan mereka sudah mulai pulih. Firman Tuhan menyegarkan kembali semangat yang mulai kendur.

    Kali ini, bangsa Israel menjaga kekudusan dan taat kepada perintah Tuhan (Ayat 8). Setelah melalui pertempuran dengan strategi jitu (Ayat 10-22), kota Ai pun berhasil direbut. Semua perintah Tuhan pun mereka lakukan dengan sempurna (Ayat 24-29).

    Sahabat, bangsa Israel tampaknya belajar dari kegagalan mereka. Mereka disadarkan bahwa raihan kemenangan bukan karena kuat dan gagah, melainkan Tuhanlah yang berperan sebagai faktor penentu. Tuhan yang berperang untuk umat-Nya, bukan sebaliknya.

    Melalui kisah ini, ada dua hal yang bisa menjadi perenungan kita. Pertama, ketika Yosua tawar hati, firman Tuhan menyemangatinya kembali. Dia bangkit dari keterpurukannya. Jadi, kepercayaan dirinya dibangun di atas firman Tuhan. Kedua, firman itulah yang menjadi pendorong ketaatan bangsa Israel. Artinya, sumber ketaatan adalah firman Tuhan, bukan dari yang lain.

    Sahabat,  sebagai komunitas orang percaya menyadari bahwa keinginan-keinginan dalam diri kita itulah yang membuat ketaatan itu menjadi rumit dan sulit. Itu adalah penghalang terbesar dalam hidup kita untuk menaati Tuhan. Mantapkan tekad kita untuk menaati semua perintah Tuhan dalam hidup kita. Pengamsal mengatakan, “Siapa meremehkan firman, ia akan menanggung akibatnya, tetapi siapa taat kepada perintah, akan menerima balasan.” (Amsal 13:13). Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Amsal 13:13?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hidup menaati Tuhan karena pemahaman akan kebenaran, akan memudahkan kita dalam menaati peraturan dalam hidup keseharian. (pg).

  • MEMBONGKAR SEKAT

    Saudaraku, merekrut sumber daya manusia tidaklah sembarangan dan mesti selektif.  Tentunya kita tidak ingin kalau pekerjaan kita akan berantakan karena orang yang kita rekrut tidak mumpuni.  Semua persyaratan harus dipenuhi dan bila pelamar memenuhi kriteria, kita akan merasa optimis semua akan beres.  Bagaimana dengan Yesus? Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari Injil Matius dengan merenungkan Matius 4:18–22.

    Yesus sengaja berjalan di Danau Galilea dan tentunya di pantai itu Ia bertemu dengan para nelayan.  Yesus memanggil Simon dan Andreas yang sedang menjala dan mengatakan, ”Mari Ikutlah aku dan kamu akan kujadikan penjala manusia.” (Matius 4:19).  Alih-alih mencari murid dari kalangan terdidik dan siap belajar, Yesus justru mengajak nelayan menjadi murid-Nya.  Nelayan pada zaman itu adalah pekerjaan yang rendah dan hidup sederhana. 

    Seorang penafsir mengatakan gaji mereka sekitar 200-300 dinar per tahun.  Penghasilan yang lumayan namun jauh dari kata kaya.  Secara pendidikan pun mereka sangat sederhana karena pekerjaan sesehari mereka tidak memerlukan pendidikan formal yang tinggi.  Bisa baca tulis hitung dan sedikit pengetahuan tentang tradisi agama, cukuplah bagi mereka.  Lalu mengapa seorang Guru yang dihormati seperti Yesus mau mengambil murid dari kalangan yang boleh dikatakan tidak siap belajar seperti para nelayan itu?

    Mari renungkan  beberapa hal dari apa yang dilakukan Yesus :

    1. Kriteria perekrutan Yesus yang istimewa.

    Biasanya para guru akan mencari calon murid yang terbaik dengan mengamatinya membaca Taurat atau kepandaiannya menanggapi ajaran yang didengarnya dari guru itu atau bahkan kesetiaannya mengikut sang guru.  Namun Yesus memanggil Simon dan Andreas yang sedang bekerja membantu ayahnya menjala ikan, bukan sedang mengikuti-Nya.  Yesus memanggil mereka supaya mereka mau bekerja keras menjadi penjala manusia dan memang cara perekrutan ini terbukti memiliki hasil yang mengherankan sebagaimana Lukas menuliskan reaksi para peserta Sidang Agama saat tahu mereka bukan orang terpelajar namun berani menghadapi pengadilan dengan argumen yang runtut  (Kisah Para Rasul 4:13).

    • Yesus merangkul orang yang sederhana untuk menjadi kawan sekerja.

    Tindakan Yesus merekrut nelayan menjadi murid-Nya menunjukkan bahwa Yesus memedulikan dan memercayai orang-orang yang sederhana untuk membawa mereka untuk menjadi pembawa pesan kebenaran bagi orang lain.   Allah merangkul mereka yang tidak diperhitungkan untuk masuk dalam rencana penyelamatan yang besar, sebuah tugas besar yang mulia.  Kalau Tuhan menyediakan rekan sekerja untuk melayani bersama kita, mari kita terima dan mau belajar bersama untuk melaksanakan tugas besar dari Allah.

    Manusia seringkali membuat sekat untuk mereka termasuk dalam perkara rohani.  Belajar dari apa yang dilakukan Yesus, diketahui bahwa sebenarnya Allah tidak menginginkan penyekatan itu.  Justru Yesus memulai pekerjaan-Nya dengan merangkul mereka yang sederhana dan dianggap tidak siap untuk melakukan pekerjaan Allah.  Yesus punya rencana yang besar untuk mereka yang mau sigap menyambut panggilan-Nya.  Terbukti bagaimana Petrus yang sederhana itu justru menjadi sokoguru iman yang disegani hingga saat ini, padahal ia dulunya adalah seorang nelayan. 

    Saudara, mari kita pikirkan  hal ini:  Masihkah sekat-sekat rohani kita terapkan dalam pelayanan?  Sekat rohani akan membatasi karya Allah yang hebat bagi manusia dan membuat karya keselamatan terasa menjadi milik kelompok tertentu.  Bukalah sekat itu dan nikmatilah karya Allah yang berkuasa untuk mengubah dan memakai manusia.  Saat sekat pemisah mulai dihilangkan, maka kuasa Allah akan mulai hadir membawa kekuatan untuk mengubah yang lemah menjadi pejuang Kerajaan Allah yang gigih dan pantang menyerah.  Mari belajar untuk mewarisi semangat pembongkar sekat seperti yang Yesus lakukan dan lihatlah hal besar yang Tuhan bisa kerjakan untuk pelayanan bagi kemuliaan-Nya.  Tuhan memberkati.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • MENJADI SAKSI

    Dalam sidang pengadilan, ada banyak pihak yang terlibat, yaitu jaksa, hakim, terdakwa, dan juga para saksi. Saksi adalah seseorang yang menyatakan apa yang dilihat atau dialami dalam suatu peristiwa. Yang diharapkan dari seorang saksi adalah kejujuran tentang apa yang dialaminya atau dilihatnya. Seorang yang menjadi saksi dengan demikian akan menceritakan apa adanya, apa yang telah dialaminya. Seorang yang tidak mengalami suatu peristiwa tidak akan pernah menjadi saksi, atau kalaupun ia bersedia menjadi saksi ia akan berkata hal yang lain, yang pasti bertentangan denga apa yang diharapkan oleh banyak pihak, yaitu kejujuran dan kebenaran. Bahkan bisa mendapatkan masalah dengan adanya tuntutan hukum, karena melakukan kebohongan.

    Dalam kekristenan, menjadi saksi adalah hal yang mutlak harus dilakukan kita semua yang mengaku murid Tuhan Yesus. Pada waktu Tuhan Yesus mau naik ke surga, Dia berkata pada para murid-muridnyaNya, “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi” (Kisah Para Rasul 1:8).

    Berbeda dengan saksi di persidangan, sebagai murid Tuhan Yesus kita semua otomatis menjadi saksi bagiNya, Tuhan tidak sekadar mengharapkan atau menyarankan kita menjadi saksinya. Lebih lanjut, dalam menjadikan kita sebagai saksi, Tuhan tidak sekadar menjadikan kita saksi dengan tidak memberi apa-apa, tetapi Dia memberikan kita kuasa, setelah Roh Kudus Turun. Kehadiran Roh Kudus sangat penting untuk seorang murid memiliki kuasa. Yesus tahu bahwa manusia tidak dapat menjadi saksi di luar Roh Kudus. Kuasa Allah juga tidak dapat dialami tanpa kehadiran Roh Kudus. Roh Kudus adalah pribadi penting dalam pernyataan janji Yesus kepada murid untuk menjadi saksi-Nya.

    Banyak hal yang bisa kita lakukan dalam menjadi saksi Tuhan, baik Secara aktif (secara langsung) misalnya seperti dalam Kisah Para Rasul 5:31-32, 8:4-6; 1 Petrus 2:9-10, yaitu bersaksi melalui kata-kata kesaksian, memberitakan Injil, membagikan traktat, dan lain sebagainya. Bisa juga dilakukan secara pasif (tidak langsung) seperti dalam 2 Korintus 3:2-3; Matius 5:16, yaitu melalui kehidupan kita, artinya hidup kita menjadi “surat terbuka” yang “dibaca” oleh orang-orang sekitar kita, dan melalui doa kita bagi mereka agar menerima keselamatan.

    Disamping kita bisa bersaksi baik dengan aktif maupun pasif, kita juga bisa bersaksi dari area yang paling dekat maupun area yang tidak terbatas. Seperti kata Tuhan Yesus, para murid diharuskan bersaksi di Yerusalem, Yudea, Samaria bahkan sampai ke ujung bumi. Yerusalem, Yudea dan Samaria, adalah lokasi-lokasi yang sudah akrab dengan para murid Tuhan Yesus. Bahkan Yerusalem pertama kali disebutkan sebagai titik awal. Yerusalem adalah lokasi dan rumah mereka. Ini menunjukkan lingkungan yang paling dekat dengan para murid-murid. Murid-murid akan memulai kesaksian mereka di Yerusalem – yang juga dapat dilihat sebagai rumah mereka.

    Selain area yang berbeda kota-kota yang ditunjuk Tuhan Yesus juga bisa berarti orang-orang yang berbeda dalam hal bahasa, budaya, ras, dan sebagainya. Kita pun juga demikian, bersaksi harus dimulai dari yang paling dekat, yaitu keluarga dan lingkungan sekitar kita. Namun demikian kita juga harus bersaksi kepada mereka yang berbeda suku, bahasa, budaya dan lain sebagainya. Bagi kita, terkadang ada kesulitan tersendiri bersaksi dalam keluarga, di tempat kerja, atau di lingkungan sekitar rumah kita. Membagikan iman Kristen kepada anak-anak, orang tua, tetangga, teman kerja, dan orang-orang yang mengenal kita dengan baik bukanlah hal yang mudah. Tetapi itulah perintah yang harus kita lakukan.

    Bukan hanya di lingkungan dekat, tetapi kita harus bergerak ke daerah lain, bahkan ke ujung dunia, yaitu seluruh daerah di muka bumi ini, dengan berbagai penghalang bahasa, budaya dan etika. Yesus menyebutkan lokasi kesaksian yang diharapkan; Dia menyebutkan bahwa para murid harus bersaksi ke seluruh bagian dari bumi. Seandainya Yesus berhenti di Yerusalem, Yudea atau Samaria, itu berarti menyiratkan bahwa kesaksian hanya dilakukan dalam suatu wilayah, tetapi tidak demikian yang dikatakan Yesus. Yang terakhir Yesus berbicara lokasi kesaksian yang meliputi seluruh penduduk bumi.

    Bersaksi atau menjadi saksi adalah kegiatan yang terus-menerus berlangsung dimana pun seorang Kristen berada. Yesus merangkum pernyataan-Nya dengan fakta bahwa Injil harus disaksikan kepada semua orang, terlepas dari lokasi geografis, suku, usia, status, warna, tinggi, dan sebagainya. Meskipun Yesus sudah terangkat ke surga, dia tidak kekurangan duta besar atau wakil-wakil yang akan menggantikanNya. Orang-orang Kristen adalah duta-duta Kristus untuk menjadi saksiNya.

    Menjadi saksi bukan sekadar latihan fisik atau aktivitas yang dapat dilakukan dengan pengetahuan belaka atau dibangun dengan ucapan yang baik; namun demikian kuasa Roh Kudus yang memampukan kita untuk menjadi saksiNya. Karena menjadi saksi adalah keharusan bagi orang Krsiten, maka menjadi saksi harus menjadi gaya hidup kita semua. Amin. Selamat merayakan Kenaikan Tuhan Yesus Ke Surga. (SH)

  • The Revealed Disgrace

    AIB. Sahabat dan saya tentu memilikinya. Sesuatu yang memalukan. Noda yang ingin kita tutupi. Catatan yang ingin kita kubur dalam-dalam. Mungkin itu berupa masa lalu yang kelam, latar belakang keluarga, kekurangan secara fisik, dan sebagainya. Kita takut tidak diterima orang lain. Kita berusaha memolesnya dengan berbagai hal yang akan dipandang baik oleh orang lain.

    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) aib artinya: Malu; cela; noda; salah; keliru. Bagi saya, hanya manusia yang sombong yang berani menyatakan bahwa dirinya merupakan manusia yang bersih, manusia yang tidak pernah salah, atau manusia yang tidak punya noda.

    Secara umum, orang memiliki kecenderung untuk menutupi aib, karena aib bisa menjatuhkan reputasi, harkat, dan martabat dirinya. Walau demikian, ada juga orang tertentu yang justru senang mengumbar aib dan kekurangan dirinya dengan penuh rasa bangga dan menggunakannya untuk meningkatkan rating dirinya di hadapan orang lain.

    Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “The Revealed Disgrace (Aib yang Terungkap)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 22:1-31. Sahabat, Allah Israel adalah Allah yang Mahabijak dan Mahakuasa. Saat Ia menjatuhkan hukuman, semuanya itu memiliki dasar keadilan-Nya. Kebebalan dan tegar tengkuk membuat bangsa Israel tidak mengetahui mengapa mereka dihukum Allah. Dalam hal ini, Allah melalui mulut Yehezkiel membongkar semua aib yang dilakukan umat-Nya.

    Yerusalem tidak lagi dikenal sebagai kota suci untuk nama Allah berdiam di sana. Orang-orang Israel tidak disebut dengan bangsa yang kudus. Allah menyebut kota kebanggaan mereka sebagai kota penuh utang darah (Ayat 1-3). Bangsa Israel dipandang Allah sebagai kaum yang tercemari oleh kenajisan dan kekejian. Dengan sengaja umat Allah meniru dan melakukan semua gaya hidup bangsa-bangsa yang tidak mengenal Allah. Semakin mereka hidup dalam dosa, semakin cepat penghakiman Allah datang dalam hidup mereka (Ayat 4a-b). Allah melakukan pembiaran agar penghakiman-Nya menjadi aib bagi bangsa Israel untuk dikutuk oleh seluruh bangsa (Ayat 4c-5).

    Sahabat, ada beberapa aib bangsa Israel yang dibongkar Allahi: Pertama, dengan kekuasaan mereka memeras dan menindas sesamanya (Ayat 6-7, 12-13, 25, 27, 29). Kedua, menajiskan kekudusan hukum Taurat dan hari Sabat dengan cara menyembah berhala dan perbuatan mesum (Ayat 8-11, 26). Ketiga, memberi ramalan palsu atas nama Allah yang kudus (Ayat 28). Walau begitu, Allah masih berupaya mencari seorang yang hidup kudus di hadapan-Nya. Namun Ia kecewa karena umat-Nya telah bobrok (Ayat 30).

    Sebagai konsekuensinya, geram dan api murka Allah ditimpakan kepada umat Israel (Ayat 31). Walau telah dibuang ke bangsa lain, mereka tidak bertobat melainkan semakin bejat. Perilaku mereka dilukiskan dengan kotoran logam (sanga) yang tiada gunanya selain dilebur sampai lenyap (Ayat 14-18). Dalam amarah-Nya, Allah mengumpulkan mereka agar kehidupan umat-Nya penuh bara api murka Allah (Ayat19-22) seperti tanah yang tandus dan kering yang tidak menerima hujan (Ayat 24).

    Sahabat, kita memang tidak dapat mengendalikan pendapat orang lain. Namun, kabar baiknya, kita tak perlu mendapatkan penerimaan dari manusia siapa pun agar bisa hidup bahagia! Yesus datang untuk menggantikan segala aib kita dengan kebenaran-Nya sehingga kita dapat diterima oleh Allah. Bukankah itu jauh lebih penting daripada diterima oleh manusia? Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Tulislah dengan bahasamu sendiri pemahamanmu tentang aib.

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Orang menerima kita jika kita memenuhi standar mereka. Tuhan menerima kita dengan kasih tak bersyarat. (pg). 

  • Controlling Desire

    AKHAN. Wikipedia mencatat bahwa Akhan bin Karmi bin Zabdi bin Zerah, dari suku Yehuda, adalah tokoh yang muncul dalam Kitab Yosua dalam Alkitab Perjanjian Lama di Alkitab Kristen  sehubungan dengan jatuhnya Yerikho dan penaklukan Ai. Namanya ditulis sebagai Ahar (Achar) dalam 1 Tawarikh 2:7.

    Menurut penuturan Yosua, Akhan menjarah jubah yang indah buatan Sinear, dan dua ratus syikal perak dan sebatang emas yang lima puluh syikal beratnya dari Yerikho, hal itu bertentangan dengan perintah Yosua (dari Allah) bahwa  segala emas dan perak serta barang-barang tembaga dan besi adalah kudus bagi TUHAN; semuanya itu akan dimasukkan ke dalam perbendaharaan TUHAN (Yosua 6:19).

    Meskipun dalam catatan tersebut tampaknya hanya Akhan seorang diri yang bersalah karena mengingini dan mengambil jarahan tersebut, Yosua pasal 7 dimulai dengan pernyataan bahwa segenap umat (orang Israel) berubah setia (Yosua 7:1).

    Hari ini kita  melanjutkan belajar dari kitab Yosua dengan tema: “Controlling Desire (Mengendalikan Keinginan)”. Bacaan Sabda diambil dari Yosua 7:1-26. Sahabat, sesudah peristiwa tembok Yerikho, bangsa Israel tampak semakin percaya diri untuk memasuki tanah perjanjian. Kali ini, mereka akan masuk ke kota Ai yang dihuni orang Amori. Setelah melakukan pengintaian, mereka memutuskan dua atau tiga ribu saja yang akan menggempur.  Menurut laporan, penduduk di sana sangat sedikit (Ayat 2-3). Jadi, cukup logis jika tidak seluruh bangsa datang untuk menyerang kota Ai.

    Tiga ribu orang Israel berangkat untuk melaksanakan misi itu. Namun, apa yang terjadi? Mereka malah dipukul balik, bahkan melarikan diri (Ayat 4). Dari pihak Israel jatuh tiga puluh enam korban (Ayat 5). Rakyat kota Ai berhasil mempermalukan bangsa Israel. Bahkan, mereka dibuat lari tunggang-langgang.

    Kenyataan ini membuat Yosua tawar hati. Dia mengoyak jubahnya sebagai tanda perkabungan yang mendalam (Ayat 6). Dia sujud di hadapan tabut Tuhan untuk menunggu jawaban mengapa hal tersebut bisa terjadi.

    Sahabat, setelah Yosua mengadu kepada Tuhan, didapati bahwa kekalahan tersebut disebabkan oleh Akhan yang melanggar perintah Tuhan dengan mengambil barang yang dikhususkan, yang tidak boleh diambil ketika mengalahkan Yerikho. Keinginannya yang tidak dapat ia kendalikan atas barang-barang yang indah serta perak dan emas, mendatangkan kekalahan bagi bangsa Israel (Ayat 7-12).

    Hal tersebut membuat Akhan jatuh dalam dosa besar hingga akhirnya mencelakakan dirinya beserta segenap keluarga. Harta Akhan dan segenap barang-barang khusus yang ia ambil serta anak-anaknya dilempari batu dan dibakar api hingga musnah (Ayat 16-25).

    Sahabat, Yakobus mengingatkan kita: Sering kali keinginan-keinginan yang timbul menjadi pencobaan bagi diri kita sendiri. Keinginan-keinginan yang belum diuji, apakah sesuai firman Tuhan dan kehendak-Nya, bila tidak kita KENDALIKAN dengan baik, akan menyeret dan memikat kita sehingga mengakibatkan kita jatuh ke dalam dosa, bahkan mendatangkan maut (Yakobus 1:14-15)

    Belajar dari pengalaman Akhan, tidak bisa MENGENDALIKAN KEINGINAN  yang tidak sesuai dengan firman Tuhan bisa berdampak besar dan mencelakakan orang lain juga. Memiliki keinginan tidaklah salah, namun kita perlu sangat hati-hati dalam mewujudkan keinginan kita. Perlu minta hikmat dan petunjuk Tuhan terlebih dahulu: “Apakah keinginanku sudah selaras dengan kehendak-Nya?”. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawblah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Yakobus 1:14-15?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Menguji dan menyerahkan keinginan pada Tuhan menghindarkan diri dari pencobaan dan kejatuhan. (pg).

  • The Holiness of God is Disgraced

    OHOLA dan OHOLIBA. Dalam Yehezkiel 23, melalui nabi Yehezkiel, Allah memberi perumpamaan tentang Ohola dan Oholiba menggambarkan Samaria dan Yerusalem sebagai wanita-wanita yang melakukan kemesuman (Ayat 44). Mereka Tuhan ibaratkan sebagai pelacur-pelacur yang memberikan dirinya kepada setiap pria, dan melakukan perzinahan dengan mereka (ayat 12).

    Ohola dan Oholiba melakukan kemesuman seperti pelacur-pelacur karena mereka suka dan bukan karena terpaksa. Mereka menyukainya karena tidak dapat melawan hawa nafsu dan sudah dilakukan ketika masa muda sewaktu di Mesir (Ayat 19).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “The Holiness of God is Disgraced (Kekudusan Allah Dinodai)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 23:36-49. Sahabat,  Allah berulang kali bertanya pada Yehezkiel dengan pertanyaan yang sama, yaitu “Maukah engkau menghakimi?” (Ayat 36; bdk. Yehezkiel 20:4). Pertanyaan itu bukan menuntut Yehezkiel untuk memberi jawab, melainkan perintah Allah untuk mewakili diri-Nya menyampaikan berita penghakiman dan kutukan terhadap umat Israel.

    Kejahatan orang-orang Samaria dan Yerusalem tidak dapat ditolerir lagi. Perbuatan keji mereka terlihat dari dari dua hal, yakni: Pertama, perzinahan rohani terhadap berhala dewa asing. Mereka telah mengkhianati ikatan perjanjian antar Allah dengan mereka. Bangsa Israel lebih mencintai dewa Molokh dan memberikan persembahan anak-anak lelaki sebagai korban bakaran (Ayat 37).

    Kedua, mencemari kekudusan Allah dengan menaruh patung berhala bangsa asing di Bait Allah. Tindakan mereka telah menodai nama Allah dan hari kudus-Nya (Ayat 38-39). Selain itu, tempat ibadah dipakai untuk ritual dan pesta keagamaan bangsa yang tidak menyembah Allah (Ayat 40-42).

    Mentalitas Israel yang bobrok dan tercemar dilukiskan Allah sebagai bunga yang layu (Ayat 43). Artinya, orang-orang Israel tidak memiliki martabat sebagai bangsa yang kudus. Mereka mengira bahwa kerajaan Babel yang kuat dapat melindungi bangsa Israel dari incaran bangsa sekitarnya. Oleh sebab itu mereka bersekutu dengan orang-orang Kasdim. Allah menyebut ikatan politik tersebut sebagai kemesuman (Ayat 44).

    Melihat kemesuman umat-Nya, Allah memakai dan memberi kekuasaan kepada kaum sisa dari Israel yang setia menyembah kepada Allah untuk menghakimi bangsanya (Ayat 45). Kaum sisa Israel ini yang akan menegakkan kembali hukum Taurat dan mengadili orang-orang fasik. Mereka yang tidak setia kepada Allah Israel akan mendapat ganjaran kematian. Kematian akan menghantui mereka menjadi sebuah kengerian (Ayat 46-47). Dengan cara ini, setiap kota dan wilayah Israel akan dibersihkan dari kenajisan dan ketidakudusan di hadapan Allah (ayat 48-49).

    Sahabat, di Zaman Now ada cukup banyak orang lebih mengejar hal-hal yang bersifat duniawi:  Kesuksesan, kekayaan, jabatan, popularitas dan sebagainya.  Demi mengejar kesemuanya itu mereka tidak lagi menempatkan perkara-perkara rohani sebagai hal yang utama, mereka condong mengesampingkan perkara-perkara rohani. 

    Padahal kalau kita mau sungguh-sungguh hidup dalam kekudusan dan mengutamakan perkara-perkara yang dari Tuhan,  berkat-berkat Tuhan akan mendatangi  kita.  Sesungguhnya kekudusan merupakan kunci untuk mengalami berkat-berkat dari Tuhan,  tetapi cukup banyak orang tidak mau tunduk pada pimpinan Roh Kudus, tidak mau menaati firman Tuhan dan memilih untuk mengikuti keinginan daging dengan segala hawa nafsunya.  Inilah kehendak Tuhan bagi orang percaya:  Supaya kita kudus dan tak bercacat di hadapan-Nya.  (Efesus 1:4).

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Efesus 1:4?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati kita: Setiap orang percaya telah diampuni dosanya melalui Kristus dan menjadi milik Allah, sebab itu, jagalah kekudusan nama-Nya agar hidup kita aman dalam tangan-Nya. (pg)

  • Breaking Down the Problem Walls

    MASALAH. Wikipedia mencatat masalah didefinisikan sebagai suatu pernyataan tentang keadaan yang belum sesuai dengan yang diharapkan. Bisa juga diartikan kata yang digunakan untuk menggambarkan suatu keadaan yang bersumber dari hubungan antara dua faktor atau lebih yang menghasilkan situasi yang membingungkan.

    Masalah biasanya dianggap sebagai suatu keadaan yang harus diselesaikan. Umumnya masalah disadari pada saat seorang individu menyadari keadaan yang ia hadapi tidak sesuai dengan keadaan yang diinginkan. Masalah adalah ketika kenyataan yang terjadi atau realita, fakta,  tidak sesuai dengan yang diharapkan.

    Dalam beberapa literatur penelitian, masalah sering kali didefinisikan sebagai sesuatu yang membutuhkan alternatif jawaban, artinya jawaban masalah atau pemecahan masalah bisa lebih dari satu. Selanjutnya dengan kriteria tertentu akan dipilih salah satu jawaban yang dianggap paling tepat dan paling kecil risikonya. Biasanya, alternatif jawaban tersebut bisa diidentifikasi jika seseorang telah memiliki sejumlah data dan informasi yang berkaitan dengan masalah bersangkutan.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yosua dengan topik: “Breaking Down the Problem Walls (Meruntuhkan Tembok Masalah)”. Bacaan Sabda diambil dari Yosoa 6:1-20 dengan penekanan pada ayat 3-5. Sahabat, setelah menghabiskan empat puluh tahun yang sulit di gurun, bangsa Israel kini berada di tepi timur Sungai Yordan. Tantangan selanjutnya: Merebut tanah Kanaan. Rintangan pertama adalah Yerikho (ayat 1), kota yang sangat sulit ditaklukkan. Kotanya dikelilingi tembok dan benteng-bentengnya memiliki dinding batu setinggi 11 kaki dan lebar 14 kaki.

    Maka runtuhnya tembok Yerikho merupakan  satu kisah  yang sangat menggetarkan hati kita.  Bagaimana tidak, tembok tersebut runtuh bukan karena kekuatan manusia menggunakan alat perang yang canggih, melainkan dengan kekuatan adikodrati, yaitu melalui sorak-sorai dan puji-pujian. 

    Pada waktu itu yang dihadapi oleh bangsa Israel di bawah kepemimpinan Yosua bukan perkara ringan, sebab mereka bukan hanya menghadapi Yerikho yang telah tertutup pintu gerbangnya (Ayat 1), tapi juga raja dan pahlawan-pahlawannya yang gagah perkasa.  Secara logika mustahil bagi bangsa Israel bisa masuk ke kota Yerikho karena pintu gerbangnya telah tertutup, namun bila Tuhan turut bekerja dan terlibat di dalamnya, maka perkara yang mustahil bagi manusia menjadi sangat mungkin bagi Tuhan.

    Sahabat, tembok Yerikho adalah gambaran dari masalah-masalah yang kita alami dalam kehidupan ini.  Betapa sering kita dihadapkan pada masalah yang sepertinya tidak ada jalan keluar, tertutup oleh tembok yang tebal, dan hal itu membuat kita takut dan khawatir.  Begitu melihat permasalahan itu tampak besar dan kuat, serasa sulit untuk ditembus dan diruntuhkan, kita pun sudah merasa kalah sebelum bertanding, alias menyerah.  Perhatikan apa yang Tuhan firmankan kepada Yosua!:  “Aku serahkan ke tanganmu Yerikho ini beserta rajanya dan pahlawan-pahlawannya yang gagah perkasa.”  (Ayat 2).  Tuhan berjanji dan membesarkan hati Yosua bahwa Ia akan memberikan kemenangan besar kepada bangsa Israel, dan janji itu pun ditepati-Nya!

    Karena itu orang percaya tak perlu takut menghadapi masalah sekalipun masalah tersebut sebesar dan sekuat tembok Yerikho, sebab kita punya Tuhan yang lebih besar dan lebih dahsyat dalam segala perbuatan-Nya, Tuhan yang kuasa-Nya tidak pernah berubah dahulu, sekarang dan sampai selama-lamanya.  Orang percaya tak perlu takut sebab di dalam diri kita ada Roh Kudus, Roh yang membangkitkan kekuatan  (2 Timotius 1:7)  dan  “… Roh yang ada di dalam kamu, lebih besar dari pada roh yang ada di dalam dunia.”  (1 Yohanes 4:4). 

    Sahabat, orang percaya memiliki potensi Ilahi yang luar bisa!  Karena itu tidak ada alasan bagi kita untuk menjadi lemah dan takut menghadapi apa pun. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu   dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Tolong tuliskan secara singkat salah satu pertolongan Tuhan yang Sahabat alami. 

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Iman menggerakkan kaki kita untuk menapaki anak tangga pertama. (pg).