Category: Sejenak Merenung

  • When the King is Being God

    KATAK DAN KERBAU. Alkisah pada suatu sore seekor Katak bertemu dengan seekor Kerbau di tepi sungai. Mereka sama-sama ingin berendam. Ketika Katak melihat Kerbau yang berbadan gede dan tambun, dia menjadi iri dengan Kerbau. 

    Maka sejak sore itu Katak berusaha keras melalui berbagai cara untuk mengembangkan badannya agar bisa seperti badan Kerbau. Namun usaha yang dilakukan Katak sia-sia, apa pun dan bagaimanapun usaha keras yang dilakukan oleh Katak untuk mengembangkan badannya, tidak mungkin menjadikan badannya sebesar dan setambun seperti badan Kerbau.

    Saya jadi ingat dengan peribahasa lama: “Seperti Katak hendak menjadi Kerbau” yang artinya jangan mimpikan sesuatu yang tidak mungkin. Tapi masih ada orang atau sekelompok orang yang berlaku seperti Sang Katak. Mereka bermimpi dan berupaya untuk menandingi bahkan melampaui Tuhan. Suatu mimpi yang tidak mungkin mewujud. Suatu upaya yang sia-sia saja. Manusia itu ciptaan, sedangkan Tuhan itu Sang Pencipta. Manusia itu serba terbatas, sedangkan Tuhan itu tidak terbatas, maha segala-galanya. Tidak mungkin manusia menjadi Tuhan, tapi Tuhan sangat mungkin mengosongkan diri menjadi manusia.

    Hari ini kita  melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “When the King is Being  God (Ketika Raja Menjadi Tuhan). Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 28:1-19. Sahabat,  sering kali Tuhan mengizinkan manusia mencapai keberhasilan yang luar biasa — yang sering membuat manusia terbuai dalam segala kehormatan dan kuasa yang dimilikinya — sebelum menjatuhkannya.

    Tuhan memberkati Raja Tirus dengan berlimpah-limpah. Ia diibaratkan sebagai gambar dari kesempurnaan, penuh hikmat, dan maha indah (Ayat 12). Seturut Raja Tirus menempatkan dirinya seperti Tuhan (Ayat 2), Tuhan juga menggambarkan Raja Tirus hadir di Taman Eden pada waktu permulaan penciptaan dan dihiasi dengan segala macam permata (Ayat 13). Bahkan, ia diurapi seperti Kerub yang berjaga-jaga (Ayat 14). Kerub adalah salah satu makhluk surgawi yang berada di sekitar takhta Allah (Yehezkiel 1 dan 10) dan yang menjaga Taman Eden (Kejadian 3:24). Raja Tirus juga digambarkan mempunyai akses ke gunung kudus Allah dan dapat berjalan di tengah-tengah batu-batu yang bercahaya (Ayat 14).

    Gambaran-gambaran yang mengacu kepada penciptaan ini memperlihatkan Raja Tirus sebagai yang utama dari semua manusia dan disejajarkan dengan makhluk surgawi.

    Pelbagai gambaran tersebut hendak menekankan betapa dalam kejatuhannya dari anugerah Tuhan yang telah dicurahkan-Nya kepada Raja Tirus. Keberhasilan perdagangan bukan hanya membawa kekayaan, tetapi juga penuh dengan kekerasan dan kecurangan (Ayat 15-16). Keindahannya membuat dirinya sombong dan hikmatnya ia musnahkan demi mendapatkan semarak (Ayat 17). Penghakiman Tuhan membuka kemunafikan Raja Tirus, yang seolah-olah dalam tindakan yang tidak bercela (Ayat 15) menyimpan banyak kejahatan (Ayat 18). Allah akan membakar Raja Tirus dan manjadikannya abu di atas bumi (Ayat 18).

    Sahabat, kejatuhan yang dalam merupakan akibat ketika seseorang memegahkan diri sebagai Tuhan. Saat kita sebagai hamba lupa diri dan mengangkat diri menjadi Tuhan, maka kejatuhan yang mengerikan sedang menunggu kita. Karena itu, kita harus menjadi hamba yang tahu diri dan sadar bahwa segala kelimpahan yang  kita miliki berasal dari Tuhan dan harus dikembalikan untuk kemuliaan-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Hikmat dan kekayaan adalah bagian berkat Tuhan atas kita; adakah saat kita merasa menjadi kurang beriman pada Tuhan karena kepandaian dan ketrampilan  kita dalam menyelesaikan masalah ?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati kita: Waspadalah, jangan sampai kepandaian dan kekayaan menjauhkan kita dari Tuhan, atau bahkan membuat kita merasa sama dengan Tuhan. (pg).

  • God is Fighting for Us

    PERANG. Perang merupakan suatu peristiwa yang memiliki umur yang sama tuanya  dengan peradaban manusia di muka bumi ini. Dimana perang itu lahir dari hubungan-hubungan yang ada di antara manusia itu sendiri. Perang adalah suatu peristiwa yang akan mewarnai sejarah kehidupan dan peradaban manusia di muka bumi ini. Peristiwa perang biasanya terjadi dengan alasan adanya perselisihan antara dua belah pihak yang tidak mau mengalah terhadap suatu kepentingan. Baik itu kepentingan politik, ekonomi, sosial dan lain-lain. 

    Perang merupakan suatu kejadian yang tidak diinginkan oleh siapa pun. Namun, dalam keadaan tertentu peperangan tentu saja dapat terjadi karena situasi politik maupun karena keegoisan pihak tertentu, dimana masing-masing pihak berusaha untuk memaksakan kehendaknya, bahkan pada zaman sekarang kita sering mendengar peperangan terjadi dengan dalih untuk membela keadilan bahkan dengan dalih menciptakan kedamaian dalam kehidupan di dunia. 

    Perang merupakan pertikaian antara dua negara atau lebih melalui angkatan bersenjatanya yang bertujuan saling mengalahkan dan memberikan keadaan damai sesuai keinginan pemenangnya. Bertambah meningkatnya sengketa bersenjata atau perang yang terjadi di kalangan masyarakat internasional belakangan ini membuat masalah perang tidak bisa dianggap masalah kecil. Untuk itu masyarakat internasional harus menghadapi masalah ini dengan serius agar tidak menimbulkan kerugian yang makin besar dan mengakibatkan hancurnya pola hubungan sosial antar pihak atau golongan dimasa yang akan datang. 

    Hari ini kita  melanjutkan belajar dari kitab Yosua dengan dengan topik: “God is FIGHTING for Us (Tuhan BERPERANG untuk Kita)”. Bacaan Sabda diambil dari Yosua 12:1-24. Sahabat,  sebelum mencapai Kanaan bangsa Israel harus terlebih dahulu menaklukkan bangsa-bangsa lain.  Dalam bacaan kita pada hari ini tercatat daftar raja-raja yang telah dikalahkan oleh orang-orang Israel.  Hebat benar bangsa Israel,   padahal orang-orang Israel tidak berpengalaman dalam hal militer, tetapi mereka berhasil mengalahkan musuh-musuhnya yang begitu banyak dan kuat-kuat.

     Lalu, sesungguhnya siapa yang menjadi tokoh utama di balik semua kemenangan bangsa Israel tersebut?  Jawabnya adalah Tuhan, tidak ada yang lain.  Inilah janji Tuhan kepada Yosua:  “Setiap tempat yang akan diinjak oleh telapak kakimu Kuberikan kepada kamu, seperti yang telah Kujanjikan kepada Musa.”  (Yosua 1:3).  

    Bangsa Israel menjadi bangsa yang kuat dan perkasa oleh karena Tuhan yang campur tangan.  Di luar Tuhan mereka tidak dapat berbuat apa-apa.  Simak nyanyian Musa ini:  “Tuhan itu kekuatanku dan mazmurku, Ia telah menjadi keselamatanku.  Ia Allahku, kupuji Dia, Ia Allahku, kupuji Dia, itulah nama-Nya.”  (Keluaran 15:2-3).  Mereka mengakui bahwa yang menjadi pahlawan perang bagi mereka adalah Tuhan sendiri!  Karena itu nama Tuhan harus selalu ditinggikan!

    Sahabat, untuk meraih kemenangan dan mengalami penyertaan Tuhan tentu ada syaratnya!  Alkitab mencatat ketika bangsa Israel hidup seturut dengan kehendak Tuhan  (taat), mereka mampu mengalahkan musuh sekuat bagaimanapun.  Sebaliknya ketika mereka tidak lagi setia kepada Tuhan dan memberontak kepada-Nya, kekalahan demi kekalahan harus mereka alami.  

    Hidup orang percaya adalah hidup dalam PEPERANGAN.   Dalam hal ini tidak berbicara tentang perang secara fisik, tetapi peperangan melawan tipu muslihat Iblis, mempertahankan iman dan bagaimana bertahan di tengah persoalan.  Dengan kekuatan sendiri kita tidak akan mampu menghadapi semua itu.  Rasul Paulus berkata,  “Seorang prajurit yang sedang berjuang tidak memusingkan dirinya dengan soal penghidupannya, supaya dengan demikian ia berkenan kepada komandannya.”  (2 Timotius 2:4).

    Peperangan identik dengan perjuangan dan air mata, karena itu arahkan pandangan kepada Tuhan dan andalkan Dia dalam segala hal, niscaya kemenangan demi kemenangan akan kita raih, karena Dia yang BERPERANG   untuk  kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat pereoleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari 2 Timotius 2:4?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tak perlu takut menghadapi peperangan!  Teruslah maju, karena saat kita berserah penuh kepada Tuhan kita tidak berperang dan berjuang sendirian, ada Tuhan yang turut bekerja. (pg)

  • SEDEKAH MEMBAWA ANUGERAH

    Salah satu kewajiban yang dianjurkan oleh semua agama adalah bersedekah.  Sedekah menjadi ritual untuk menunjukkan tanggung jawab sosial individu kepada orang lain.  Alih-alih mendatangkan anugerah, sedekah ternyata rawan membuat masalah, terutama untuk perkembangan kerohanian orang yang bersedekah.  Bagaimana pandangan Yesus tentang penyimpangan dalam bersedekah?          

    Mari bersama renungkan Matius 6:1–4.  

    Bagi orang Yahudi ada beberapa tindakan yang menjadikan ukuran kesalehan, antara lain sedekah dan puasa.  Sedekah ditekankan dalam Taurat (Ulangan 15:7-11) dan ditaati oleh mereka. Sedekah membawa misi kesetaraan secara ekonomi dan sosial, maka orang Yahudi biasa bersedekah dengan sesamanya.  Spirit sedekah sangat baik namun manusia yang memberi maupun yang menerima bisa memberikan muatan motivasi yang menyimpang dari spiritnya sehingga menjadi batu sandungan.  Yesus mengkritisi fenomena dimana para pemberi sedekah sengaja mencari tempat yang ramai pengemis untuk memberi sedekah.  Biasanya para pengemis berkumpul di sinagoga ataupun di jalan yang ramai orang dan bila memberi maka ia akan dilihat dan dikagumi banyak orang.  

    Bukan berarti Yesus melarang memberi mereka yang ada di lokasi itu, namun Yesus mengingatkan motivasi memberi dari orang yang bersedekah.  Bila memberi hanya untuk dilihat orang dan menerima pujian dan kekaguman, maka sedekah menjadi batu sandungan bagi sang pemberi.  

    Sedekah itu baik, namun yang bisa merusak adalah motivasi manusia yang memang sudah rusak oleh dosa.  Rasa puas karena dilihat baik oleh orang lain mengalahkan rasa syukur untuk dapat berbagi dengan yang membutuhkan.  Akibatnya mereka yang berbagi dengan cara seperti ini akan haus dengan perhatian dan menuntut orang lain memperhatikan dirinya dari waktu ke waktu.  Perhatian hanya terpusat pada dirinya, bukan pada Tuhan atau orang yang diberinya sedekah. Egosentris. 

    Sebaliknya Yesus memberikan apresiasi kepada mereka yang memberi dengan diam-diam karena mereka menginginkan perhatian dari Bapa di surga.  Orang seperti ini memiliki fokus kepada Tuhan dan tidak terpengaruh oleh respons orang lain.  Ia mementingkan upah dari Bapa yang di surga, yaitu rasa syukur karena bisa berbagi dengan orang lain.  

    Rasa syukur karena melepaskan milik sendiri merupakan anugerah dari Allah, yang membuat  manusia mampu bertumbuh secara spiritual dan berani mengurai genggaman terhadap harta miliknya untuk berbagi dengan orang lain.

    Yesus menginginkan seseorang bersedekah bukan untuk orang lain, melainkan untuk Tuhan.  Saat ia menyadari bahwa pemberiannya dilakukan untuk Tuhan, maka yang didapat adalah anugerah.  Anugerah Allah ini akan mendorongnya untuk makin peduli dan mau melepaskan hartanya untuk berbagi dengan yang lain.  Ia akan diperkaya dengan sukacita memberi dan ditumbuhkan dalam rasa kasih untuk sesamanya.  Sedekah bukan sekadar melepas kepemilikian melainkan pupuk untuk menumbuhkan iman percaya kepada Tuhan.

    Dari perenungan ini mari kita berpikir sejenak:  Masihkah kita menginginkan anugerah Allah lewat tindakan kita bersedekah?  

    Memberi sedekah bukan hanya memberi efek kepada orang yang  diberi, namun juga kepada kita yang memberi.  Mari kita memberi dengan hati yang hanya tertuju kepada Tuhan.  Selamat bertumbuh. (Ag)

  • The Lamentation of Tyre’s Destruction

    FANA. Kata fana berasal dari bahasa Arab yaitu al-fana yang mengandung arti hilangnya wujud sesuatu. Kata ini lantas diserap dalam bahasa Indonesia, menjadi fana. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti fana: Dapat rusak, hilang, mati, atau tidak kekal. yang tidak bersifat abadi dan bisa rusak, hilang, atau bahkan musnah sewaktu-waktu.

    Kata fana juga sering dipergunakan untuk menggambarkan sesuatu yang bersifat sementara alias tidak abadi. Dalam komunitas orang percaya, kata fana sering dipakai untuk menyatakan masa hidup manusia  di dunia yang tak berlangsung selamanya. Namun, belakangan penggunaan kata fana jadi lebih luas. Berbagai hal yang bersifat sementara dan tidak abadi seolah bisa disebut sebagai sesuatu yang fana.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari Yehezkiel dengan topik: “The Lamentation of Tyre’s Destruction (Ratapan Kehancuran Tirus)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 27:1-36. Sahabat,  tidak dapat dipungkiri bahwa Tirus bukan hanya merupakan kota pelabuhan, tetapi juga kota perdagangan yang cukup penting dan berpengaruh saat itu.

    Selain itu, Tirus juga dikenal sebagai kota terkaya. Banyak barang dagangan yang diperjualbelikan di sana. Misalnya: Perak, besi, timah putih dan hitam, permata, kain, pakaian warna, hasil bumi dan sebagainya (Ayat 12-25). Sistem yang dipakai dalam jual beli adalah sistem bertukar barang (barter). Di kota Tirus ini, banyak orang dari pelbagai negeri singgah dan melakukan transaksi. Tidak heran jika Tirus dikatakan sebagai kota terindah yang terapung di tengah lautan (Ayat 1-9).


    Sahabat, bacaan kita pada hari ini berisi ratapan atas Tirus yang dihancurkan Allah karena dosanya. Ratapan ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama berisi deskripsi tentang Tirus yang digambarkan seperti sebuah kapal yang maha indah (Ayat 3). Kapal ini memiliki kualitas terbaik dalam segala aspek, mulai dari ahli yang membangun, kayu dan kain yang dipakai untuk membangun tubuh dan layar, sampai kepada para pendayungnya, sehingga semua kapal lain bersandar pada kapal ini. Hal ini menunjukkan betapa besar pengaruh Tirus pada zaman itu (Ayat 4-10). 

    Bagian kedua menceritakan pengaruh Tirus kepada bangsa-bangsa sekitar. Negeri ini tercatat melakukan hubungan perdagangan dengan 27 negara dengan 37 jenis barang yang diperdagangkan, mulai dari logam mulia, kayu, binatang, batu permata, rempah-remah, jubah, sampai kain (Ayat 10-24). 

    Bagian ketiga berisi kehancuran Tirus yang diibaratkan seperti kapal yang diamuk badai yang hebat di tengah lautan yang menenggelamkan semua harta benda ke dasar lautan dan membinasakan semua pelaut dan prajurit di dalamnya (Ayat 25-36). Hukuman atas Tirus dijatuhkan Allah atas KESOMBONGAN  mereka.

    Sahabat, kisah di atas memaparkan bahwa tidak ada kekuasaan dan kejayaan yang KEKAL  di bumi, sehingga kita harus bersikap BIJAK terhadap SEGALA KEPEMILIKAN  di dalam dunia. Sadarilah bahwa segala yang kita miliki adalah titipan sementara dari Allah, sehingga harus dimanfaatkan untuk memuliakan Allah dan menjadi berkat bagi sesama manusia. Kita sudah selayaknya menjadi pengelola yang baik. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Sahabat, berkat khusus apa yang Tuhan titipkan kepadamu?  Bagaimana rencanamu untuk memanfaatkan semua berkat yang Sahabat terima agar memuliakan Allah dan menjadi berkat bagi sesama? 

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Semua kenikmatan dunia hanya membawa kita menuju kesia-siaan. Jadikan Allah sebagai sumber bahagiamu! (pg).

  • Pentakosta dan Kuasa Kesaksian Roh Kudus

    A. PENGANTAR

    “Tetapi kamu akan menerima kuasa, kalau Roh Kudus turun ke atas kamu, dan kamu akan menjadi saksi-Ku di Yerusalem dan di seluruh Yudea dan Samaria dan sampai ke ujung bumi.” (Kisah Para Rasul 1:8)

    Ayat tersebut merupakan ayat kunci Kisah Para Rasul. Kita pernah mendengar istilah baptisan Roh, yakni penerimaan kuasa untuk bersaksi bagi Kristus. Oleh kuasa kesaksian itu orang yang hilang dapat dimenangkan dan diajarkan untuk menaati semua yang diperintahkan-Nya. Hasilnya ialah bahwa Kristus dikenal, dikasihi, dipuji, dan dijadikan Tuhan atas umat pilihan-Nya (bdk, Matius 28:18-20; Lukas 24:49; Yohanes 5:23).

    B. MAKNA PENTAKOSTA

    Di kitab Kisah Para Rasul 2:17-21, semua orang percaya berkumpul di satu tempat. Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di tempat mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing.

    Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya.

    Mereka semuanya tercengang-cengang dan sangat termangu-mangu sambil berkata seorang kepada yang lain: “Apakah artinya ini?” Tetapi orang lain menyindir: “Mereka sedang mabuk oleh anggur manis.”

    Maka bangkitlah Petrus berdiri dengan kesebelas rasul itu, dan dengan suara nyaring ia berkata kepada mereka: “Hai kamu orang Yahudi dan kamu semua yang tinggal di Yerusalem, ketahuilah dan camkanlah perkataanku ini. Orang-orang ini tidak mabuk seperti yang kamu sangka, karena hari baru pukul sembilan pagi, tetapi itulah yang difirmankan Tuhan dengan perantaraan nabi Yoël: “Akan terjadi pada hari-hari terakhir, demikianlah firman Tuhan, bahwa Aku akan mencurahkan Roh-Ku ke atas semua manusia; maka anak-anakmu laki-laki dan perempuan akan bernubuat, dan teruna-terunamu akan mendapat penglihatan-penglihatan, dan orang-orangmu yang tua akan mendapat mimpi. Juga ke atas hamba-hamba-Ku laki-laki dan perempuan akan Kucurahkan Roh-Ku pada hari-hari itu dan mereka akan bernubuat. Dan Aku akan mengadakan mujizat-mujizat di atas, di langit dan tanda-tanda di bawah. Dan barangsiapa yang berseru kepada nama Tuhan akan diselamatkan.” (Kisah Para Rasul 2:17-21)

    C. GEREJA MULA-MULA DAN KITA

    Kisah Para rasul 2:41-47 merupakan kesaksian gereja mula-mula yang dipenuhi oleh Roh Kudus. Orang-orang yang menerima perkataan para rasul memberi diri dibaptis dan pada hari itu jumlah mereka bertambah kira-kira tiga ribu jiwa. Mereka bertekun dalam pengajaran rasul-rasul dan dalam persekutuan.

    Oleh kuasa Roh Kudus rasul-rasul mengadakan banyak mukjizat dan tanda. Jumlah mereka bertambah dengan tiga ribu jiwa. Pada masa kini, gereja mengandalkan kuasa ilmu pengetahuan dan teknologi cangggih, walau khotbah tiga ribu kali tidak menobatkan satu pun jiwa bagi Kristus. Mari kita kembali pada kuat kuasa Roh Kudus yang bekerja luar biasa pada masa Pentakosta.

    Kadang kehidupan kristiani menampakkan kesaksian yang luar biasa dari kehidupan yang biasa-biasa saja. Kita berharap orang yang dikuasai Roh Kudus akan bersikap ramah dan sukacita. Sikap tersebut di tengah masyarakat dapat membawa perbedaan yang luar biasa!

    Tim Sanders dalam bukunya, “Liability Factor”, berkata bahwa seseorang yang menebarkan “sukacita, kebahagiaan dan penghiburan,” akan lebih mungkin dipromosikan kepada sebagian perusahaan sebagai orang-orang yang patut dipercaya. Keramahan dalam wujud sukacita, kebahagiaan dan penghiburan bukanlah sekadar praktik hidup yang cerdas. Sikap itu seharusnya menjadi karakteristik semua pengikut Kristus karena kuasa Roh Kudus. Memasuki hari ini, mari kita berperilaku sedemikian hingga setiap orang melihat Kristus di dalam kita. Amin. (sp).

    —————–

    Penulis:

    Bapak Slamet Priyanto (sp), Ketua Departemen Misi dan Pengajaran Yayasan Christopherus.

  • The Lamentation of Tyre’s Destruction

    FANA. Kata fana berasal dari bahasa Arab yaitu al-fana yang mengandung arti hilangnya wujud sesuatu. Kata ini lantas diserap dalam bahasa Indonesia, menjadi fana. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) arti fana: Dapat rusak, hilang, mati, atau tidak kekal. yang tidak bersifat abadi dan bisa rusak, hilang, atau bahkan musnah sewaktu-waktu.

    Kata fana juga sering dipergunakan untuk menggambarkan sesuatu yang bersifat sementara alias tidak abadi. Dalam komunitas orang percaya, kata fana sering dipakai untuk menyatakan masa hidup manusia  di dunia yang tak berlangsung selamanya. Namun, belakangan penggunaan kata fana jadi lebih luas. Berbagai hal yang bersifat sementara dan tidak abadi seolah bisa disebut sebagai sesuatu yang fana.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari Yehezkiel dengan topik: “The Lamentation of Tyre’s Destruction (Ratapan Kehancuran Tirus)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 27:1-36. Sahabat,  tidak dapat dipungkiri bahwa Tirus bukan hanya merupakan kota pelabuhan, tetapi juga kota perdagangan yang cukup penting dan berpengaruh saat itu.

    Selain itu, Tirus juga dikenal sebagai kota terkaya. Banyak barang dagangan yang diperjualbelikan di sana. Misalnya: Perak, besi, timah putih dan hitam, permata, kain, pakaian warna, hasil bumi dan sebagainya (Ayat 12-25). Sistem yang dipakai dalam jual beli adalah sistem bertukar barang (barter). Di kota Tirus ini, banyak orang dari pelbagai negeri singgah dan melakukan transaksi. Tidak heran jika Tirus dikatakan sebagai kota terindah yang terapung di tengah lautan (Ayat 1-9).


    Sahabat, bacaan kita pada hari ini berisi ratapan atas Tirus yang dihancurkan Allah karena dosanya. Ratapan ini dibagi menjadi tiga bagian. Bagian pertama berisi deskripsi tentang Tirus yang digambarkan seperti sebuah kapal yang maha indah (Ayat 3). Kapal ini memiliki kualitas terbaik dalam segala aspek, mulai dari ahli yang membangun, kayu dan kain yang dipakai untuk membangun tubuh dan layar, sampai kepada para pendayungnya, sehingga semua kapal lain bersandar pada kapal ini. Hal ini menunjukkan betapa besar pengaruh Tirus pada zaman itu (Ayat 4-10).

    Bagian kedua menceritakan pengaruh Tirus kepada bangsa-bangsa sekitar. Negeri ini tercatat melakukan hubungan perdagangan dengan 27 negara dengan 37 jenis barang yang diperdagangkan, mulai dari logam mulia, kayu, binatang, batu permata, rempah-remah, jubah, sampai kain (Ayat 10-24).

    Bagian ketiga berisi kehancuran Tirus yang diibaratkan seperti kapal yang diamuk badai yang hebat di tengah lautan yang menenggelamkan semua harta benda ke dasar lautan dan membinasakan semua pelaut dan prajurit di dalamnya (Ayat 25-36). Hukuman atas Tirus dijatuhkan Allah atas KESOMBONGAN  mereka.

    Sahabat, kisah di atas memaparkan bahwa tidak ada kekuasaan dan kejayaan yang KEKAL  di bumi, sehingga kita harus bersikap BIJAK terhadap SEGALA KEPEMILIKAN  di dalam dunia. Sadarilah bahwa segala yang kita miliki adalah titipan sementara dari Allah, sehingga harus dimanfaatkan untuk memuliakan Allah dan menjadi berkat bagi sesama manusia. Kita sudah selayaknya menjadi pengelola yang baik. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Sahabat, berkat khusus apa yang Tuhan titipkan kepadamu?  Bagaimana rencanamu untuk memanfaatkan semua berkat yang Sahabat terima agar memuliakan Allah dan menjadi berkat bagi sesama? 

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Semua kenikmatan dunia hanya membawa kita menuju kesia-siaan. Jadikan Allah sebagai sumber bahagiamu! (pg).

  • MENGUSAHAKAN DAMAI

    Konflik merupakan hal yang biasa dialami oleh manusia sepanjang hidupnya. Kadang kala di tiap interaksi manusia, konflik seperti mengintip dan ingin mengambil kesempatan untuk ikut nimbrung dan mengacaukan hubungan.  Konflik adalah suatu peristiwa dimana terjadi pertentangan baik antar individu ataupun antar kelompok, yang biasanya dipicu oleh perbedaan yang dibawa dalam proses komunikasi.  Tidak ada seorangpun yang menikmati konflik atau ingin selalu berkonflik, namun manusia perlu belajar menerima kenyataan bahwa konflik adalah bagian dari hidup.  Saudaraku, kali ini Sejenak Merenung akan mengingatkan kembali posisi orang Kristen dalam konflik, sebagaimana tertulis dalam Matius 5:9.

    Saudaraku, dalam salah satu bagian dari Khotbah di Bukit, Tuhan Yesus mengucapkan rangkaian Ucapan Bahagia yang memukau banyak orang di dunia termasuk Mahatma Gandhi, salah seorang tokoh kemerdekaan India yang beragama Hindu.  Ada dua hal yang menjadi perenungan dari satu ayat singkat di atas, yaitu :

    1. Damai harus diupayakan

    Kata “damai” dalam Bahasa Ibrani adalah “shalom” yang berarti sesuatu yang utuh, komplit dan tidak butuh tambahan apa pun lagi.  Damai punya makna yang kompleks dan solutif bagi manusia.  Kalau manusia menemukan damai, maka hidupnya sudah lengkap dan utuh.  Masalahnya damai itu tidak bisa datang sendiri atau otomatis hadir dalam kondisi tertentu, namun harus diundang atau diupayakan untuk hadir dan tinggal dalam kehidupan manusia.  Rasul Paulus pernah  mendorong jemaat Yahudi yang hidup dalam perantauan untuk mengusahakan damai dengan semua orang (Ibrani 12:14).  Dorongan ini setara dengan upaya untuk mereka hidup dalam kekudusan, sebagai syarat untuk melihat kehadiran Tuhan. Artinya Rasul Paulus menyadari bahwa untuk dapat melihat kehadiran Tuhan, perlu ada upaya yang seimbang dari manusia untuk berdamai dengan orang lain dan berdamai dengan Allah. Tuhan Yesus sendiri mengatakan dalam salah satu bagian Khotbah di Bukit bahwa manusia yang akan mengadakan kontak dengan Tuhan, harus mengupayakan damai dengan sesama terlebih dahulu (Matius 5:23-24). Damai harus diupayakan, dihadirkan, diperjuangkan dan dibiasakan agar bisa merasakan kehadiran Allah.

    2. Atribut anak-anak Allah untuk mereka yang mengupayakan damai.

    Dunia yang penuh dosa ini dipenuhi dengan konflik dan ego manusia yang membawa dampak merusak lahir dan batin.  Maka untuk menjadikan utuh kembali apa yang sudah rusak itu, dibutuhkan Kerajaan Allah yang memurnikan dan memulihkan.  Siapa pun mereka yang mengupayakan kehadiran Kerajaan Allah itu, mereka adalah murid/pengikut/ anak-anak Allah.  Ketika berbicara tentang anak-anak Allah, berarti juga berbicara tentang identitas dan tujuan hidup individu atau sekelompok orang. Damai dirindukan oleh setiap manusia di dunia, maka ketika damai diupayakan untuk hadir dan memulihkan semua konflik maka Kerajaan Allah akan mewujud di dalam dunia.  Maka Yesus mengatakan berbahagia, karena pribadi yang mengupayakan damai adalah pribadi yang memahami tanggung jawabnya di dunia ini.

    Saudaraku, setiap orang percaya Kristus adalah anak-anak Allah maka sudah menjadi kewajiban bagi setiap orang yang percaya Kristus untuk menjadi pembawa damai di mana pun dia berada.  Dalam kehidupan yang penuh dengan kemungkinan berkonflik atau terseret dalam pusaran konflik, maka setiap orang percaya perlu untuk memikirkan hal ini: Bagaimana saya mengupayakan damai untuk hadir dalam situasi itu? 

    Salah satu mantan presiden Amerika, almarhum Ronald Reagan pernah melontarkan satu kata Mutiara:  Damai itu bukan berarti tanpa konflik.  Damai  adalah bagaimana mengatasi konflik dengan  cara damai. 

    Konflik bukan untuk dihindari, namun menjadi batu uji apakah kita layak disebut anak-anak Allah.  Mari tetap teguh untuk mengupayakan kehadiran damai dalam kehidupan ini. Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • All is God’s Grace

    KASIH KARUNIA. Berkat kemurahan Allah, bersama Rasul Paulus, saya menyatakan bahwa: “… karena kasih karunia Allah aku adalah sebagaimana aku ada sekarang, dan kasih karunia yang dianugerahkan-Nya kepadaku tidak sia-sia. Sebaliknya, aku telah bekerja lebih keras dari pada mereka semua; tetapi bukannya aku, melainkan kasih karunia Allah yang menyertai aku.” (1 Korintus 15:10). Apa itu kasih karunia?

    Kasih karunia atau anugerah dalam bahasa Ibrani “khen” yang berarti perbuatan seorang atasan yang menunjukkan kepada bawahannya kasih karunia, padahal sebenarnya bawahan itu tidak layak menerimanya. Kasih karunia adalah pemberian Allah kepada manusia padahal manusia tidak pantas untuk menerimanya.

    Kata itu misalnya digunakan dalam Kejadian 6:7, “Tetapi Nuh mendapat kasih karunia (khen) di mata TUHAN”; dan Keluaran 33:17, “Berfirmanlah TUHAN kepada Musa: “Juga hal yang telah kaukatakan ini akan Kulakukan, karena engkau telah mendapat kasih karunia di hadapan-Ku dan Aku mengenal engkau”.

    Kata Ibrani “khen” dalam bahasa Yunani diterjemahkan: “kharis”, yang secara umum berarti: Pemberian, hadiah, anugerah, kemurahan hati, dan karunia. Dalam Perjanjian Baru kata kasih karunia atau anugerah ini dihubungkan dengan keselamatan dari Allah bagi manusia.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yosua dengan topik: “All is God’s Grace (Semua adalah Karunia Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Yosua 11:16-23. Sahabat, sesungguhnya setiap kisah pasti punya akhir. Ada yang berakhir tragis, ada juga yang berakhir manis.

    Dalam bacaan kita pada hari ini, diceritakan bahwa rangkaian pertempuran bangsa Israel sudah selesai. Perang berhenti (Ayat 23). Yosua berhasil merebut seluruh negeri (Ayat 16). Semua rajanya ditangkap dan dibunuhnya (Ayat 17). Tidak ada satu kota pun yang mengikat persahabatan dengan Israel kecuali orang Gibeon (Ayat 19). Singkatnya, Tuhan telah membuat Israel menjadi penguasa atas wilayah itu.

    Sahabat, kisah perjuangan Israel berakhir manis. Akan tetapi, hal itu tidak didapat dengan mudah. Mereka melewati waktu yang cukup lama untuk meraih kegemilangan (Ayat 18). Kita membaca dalam Kitab Yosua bahwa perjalanan Israel penuh dengan dinamika. Petualangan mereka diselingi oleh pasang-surut dan suka-duka. Kadang, mereka dimurkai Tuhan, tetapi tidak sedikit keajaiban dan kebaikan-Nya yang mereka rasakan. Semua itu mereka lalui bersama.

    Dari seluruh pergolakan itu, ada satu yang tetap sama, yaitu Tuhan selalu ada bersama Israel. Dia selalu setia dalam segala situasi. Ini menandakan pencapaian Israel hanyalah ANUGERAH SEMATA.  Segudang prestasi Yosua merupakan BELAS KASIHAN TUHAN semata.

    Kita dan Israel menyembah Tuhan yang sama. Dia tidak berubah. Kesetiaan-Nya tidak akan lekang oleh waktu. Jika Dia setia dengan Israel, maka Dia pun setia terhadap kita. Artinya, Dia juga akan menyertai dalam lika-liku kehidupan kita. Dia tidak akan pernah meninggalkan kita.

    Sahabat, kita tidak tahu bagaimana akhir kehidupan ini. Bagi manusia, masa depan merupakan sebuah misteri. Pengetahuan tentang waktu hanya milik Tuhan. Namun sejarah Israel menunjukkan, jika Tuhan bersama kita, manis, sukacita, dan bahagia akan menjadi akhir dari kisah hidup kita. Dia mungkin akan menempa kita dengan banyak pelajaran. Bertahanlah! Tuhan melakukan itu untuk mendatangkan kebaikan bagi kita. Setialah sampai akhir karena anugerah dari Tuhan selalu mendatangkan penghiburan, kekuatan, kebaikan, dan kemenangan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang kasih karunia?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Ketaatan pada perintah dan kehendak Tuhan menjadi kunci  keberhasilan. (pg).

  • There is always A WAY

    TANTANGAN. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) tantangan berarti: Ajakan berkelahi (berperang dsb); Hal atau objek yang menggugah tekad untuk meningkatkan kemampuan mengatasi masalah; Rangsangan (untuk bekerja lebih giat dan sebagainya); Hal atau objek yang perlu ditanggulangi.

    Pada sebagian orang sering menganggap tantangan adalah sesuatu yang membuat sulit, kadang menghambat sesuatu yang ingin kita capai. Tapi sebenarnya kalau kita mau melihat dari sisi yang agak berbeda dari pemahaman tersebut, sebenarnya tantangan merupakan bahan bakar yang sangat dahsyat dalam pencapaian sesuatu tujuan.

    Sahabat, sesungguhnya tantangan akan menggairahkanmu, memberimu arah, dan membangkitkan yang terbaik dalam dirimu. Tantangan akan mendorong Sahabat untuk mempelajari keterampilan baru, meraup pengetahuan baru. Tantangan memotivasimu  untuk memberi hasil terbaik dari dirimu.

    Pernahkah Sahabat perhatikan atau sadari, bahwa saat kamu memiliki sedemikian banyak tugas yang harus dikerjakan, kamu justru memiliki lebih banyak energi untuk menyelesaikan apa yang semestinya harus selesai dikerjakan. Tapi sebaliknya saat sedikit hal yang perlu dikerjakan, ternyata lebih sedikit lagi hal yang selesai dikerjakan. Usahamu akan meningkat sesuai dengan volume pekerjaan yang harus dikerjakan. Tantangan mendorong hasil kerjamu. Tantangan tidak muncul untuk menarikan kamu ke bawah, tapi tantangan ada untuk mendorong Sahabat ke atas, sehingga menghasilkan hal yang terbaik dalam pencapaian target.

    Hari ini kita akan  melanjutkan belajar dari kitab Yosua dengan topik: “There is always A WAY (Selalu ada JALAN)”. Bacaan Sabda diambil dari Yosua 10:1-43. Sahabat, catatan panjang sejarah manusia merekam banyak peristiwa. Selain tragedi, sejarah juga menyuguhkan kepada kita kisah yang mencengangkan. Kita dihipnotisnya dengan kekaguman lantaran sejarah menyajikan banyak peristiwa yang melampaui nalar. Sejarah, terkadang, memaksa kita untuk mengakui ada tangan yang tidak terlihat sedang bekerja.

    Sejarah orang Israel membuktikan hal tersebut . Orang Gibeon mendapat ancaman dan intimidasi dari raja-raja di sekitar wilayah mereka (Ayat 3-4). Mereka berencana untuk memerangi Gibeon. Kondisi ini membuat orang Gibeon datang kepada Yosua untuk meminta bantuan (Ayat 6). Tantangan ada di depan mata Yosua.  Dia tidak bisa menolak ini sebab sudah ada ikatan perjanjian di antara mereka. Dia tidak punya pilihan, sehingga dia dan bala tentaranya pergi maju ke medan perang (Ayat 7).

    Sahabat, Yosua menyambut tantangan yang ada. Dia maju bertempur dengan memegang janji Tuhan bahwa semua lawannya akan takluk (Ayat 8). Betul saja, Tuhan selalu menepati janji-Nya. Hujan batu dikirimkan untuk membunuh musuh Israel (Ayat 11). Bahkan, matahari bisa berhenti karena Yosua memintanya kepada Tuhan (Ayat 12-14). Yosua mengatakan semua itu berasal dari Tuhan yang berperang bersama mereka (Ayat 25). Sisa ceritanya sudah kita ketahui bahwa Israel berhasil mengalahkan semua lawan-lawannya (Ayat 42).

    Tuhan kerap bekerja di luar akal sehat kita. Bagaimana mungkin hujan batu bisa turun dari langit? Bagaimana mungkin matahari berhenti? Itu membuktikan bahwa Tuhan tidak pernah kekurangan cara untuk menolong umat-Nya. SELALU ADA JALAN.

    Sahabat, h
    ari ini kita kita diingatkan untuk TIDAK ALERGI  terhadap TANTANGAN. Permufakatan jahat yang didorong Iblis mungkin saja dibuat orang untuk menghambat pekerjaan Allah melalui kita. Namun keberanian untuk mengandalkan dan mengimani kuasa Tuhan yang tidak dapat dilawan kuasa dunia ini akan membuktikan bahwa kita adalah pemenang, bukan pecundang. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah! 

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang tantangan?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Penyertaan Tuhan  selalu hadir dengan cara yang tak terduga. (pg).

  • Tyre’s Sin of Pride

    TIRUS. Berdasarkan catatan dari Wikipedia Tirus adalah sebuah kota di Kegubernuran Selatan di Lebanon. Dengan berpenduduk 117.100 orang, Tirus mencuat keluar dari pantai Laut Tengah dan terletak sekitar 80 km di selatan Beirut. Nama kota ini berarti: Batu karang. Tirus adalah kota Fenisia kuno dan tempat kelahiran legendaris Eropa dan Elissan (Dido). Kini kota ini adalah yang keempat terbesar di Lebanon. 

    Di kota ini juga terdapat salah satu pelabuhan utama negara ini yang dikenal oleh masyarakat setempat dalam bahasa bahasa Prancis sebagai Soûr. Tirus adalah tujuan populer di kalangan para wisatawan. Kota ini mempunyai banyak situs kuno, termasuk Hippodrome (pacuan kuda) Romawinya yang dimasukkan ke dalam daftar Situs Warisan Dunia UNESCO pada 1979.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “Tyre’s Sin of Pride (Dosa Kesombongan Tirus). Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 26:1-21. Sahabat, Tirus merupakan kota pelabuhan. Orang-orang yang mendiami wilayah Tirus adalah bangsa Fenesia. Saat itu Tirus termasuk salah satu kota terkaya (Yehezkiel 27:1-25;  Yesaya  23:5, 8). Saking makmurnya, bangsa Tirus menjadi sombong dan bermegah atas kota-kota yang dibangun. Mereka sangat bersukacita dengan kejatuhan Yerusalem (Ayat 1-2).

    Hancurnya Yerusalem memberikan keuntungan besar dalam jalur perdagangan bagi Tirus. Di sini terlihat jelas egoisme bangsa Tirus yang hanya memikirkan diri sendiri dan tidak peduli dengan nasib bangsa lain. Dengan kejatuhan Yerusalem, terbuka peluang besar untuk melakukan monopoli perdagangan, baik di darat maupun di laut.

    Sahabat, karena sifatnya seperti itu, Allah mengutuk Tirus dan bersumpah akan memusnahkan seluruh kota dan bangunan berkubu yang mereka banggakan (Ayat 3-4). Apa yang mereka banggakan selama ini dalam sekejap akan lenyap karena bangsa yang sangat kuat akan menjarah habis semua kekayaan bangsa Tirus (Ayat 5, 12, 14). Penduduk mereka akan mati karena pedang (Ayat 6, 8, 11).

    Bangsa Tirus yang dikenal sebagai raja lautan dan kota yang mewah dalam sekejap akan hancur oleh bencana alam. Allah akan membungkam kesombongan mereka dengan tsunami yang hebat. Gelombang air pasang yang hebat mampu menenggelamkan seluruh wilayah Tirus ke dasar laut (Ayat 19-20). Saking hebatnya bencana alam itu membuat keberadaan Tirus hanya tinggal kenangan (Ayat 21).

    Kejatuhan Tirus menjadi kejutan bagi banyak bangsa. Mereka tidak menduga bahwa Tirus yang tangguh dengan bentengnya yang kokoh dapat hancur lenyap dalam sekejap (Ayat 15-18).

    Ketika sedang berada di puncak kejayaan, penduduk Tirus hidup dalam salah satu dosa yang paling dibenci Allah, yakni kesombongan yang dibuktikan dalam kehidupan yang mengandalkan diri sendiri. Akibatnya, mereka dihukum karena kesombongan tersebut. Pengalaman penduduk Tirus merupakan peringatan bagi saya dan Sahabat agar hati-hati dan waspada agar tidak jatuh dalam dosa kesombongan.

    Sahabat, kesombongan merupakan ego yang terpusat pada diri sendiri. Tidak heran jika orang sombong memiliki kecenderungan memandang rendah orang lain. Perilaku sombong seperti ini dapat menghancurkan diri sendiri. Belajarlah rendah hati dan murah hati agar kita menjadi orang yang bijaksana. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dalam perenunganmu?
    2. Sebagai anggota jemaat, peran apa yang dapat Sahabat  lakukan agar gereja tidak jatuh ke dalam dosa kesombongan? 

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Orang sombong akan diseret turun oleh Allah sampai ke tempat yang paling rendah dan akan direndahkan serendah-rendahnya. (pg).