Category: Sejenak Merenung

  • Conceit will Lead to the Fall

    KEKUASAAN. Sahabat, KEKUASAAN seringkali MENYILAUKAN bahkan MEMBUTAKAN  orang yang mendapatkannya. Ia/mereka/kita menjadi lupa: Kekuasaan itu kita terima dari Tuhan. Dari Wikipedia saya mendapatkan informasi bahwa kekuasaan adalah hak untuk bertindak. Kewenangan yang didapatkan oleh seseorang atau kelompok guna menjalankan kewenangan tersebut sesuai dengan kewenangan yang diberikan. Kewenangan tidak boleh dijalankan melebihi kewenangan yang diperoleh. 

    Selain itu kekuasaan berarti kemampuan seseorang atau kelompok untuk memengaruhi tingkah laku orang atau kelompok lain sesuai dengan keinginan dari pelaku. Kekuasaan merupakan kemampuan memengaruhi pihak lain untuk berpikir dan berperilaku sesuai dengan kehendak yang memengaruhi.

    Dalam pembicaraan umum, kekuasaan dapat berarti kekuasaan golongan, kekuasaan raja, kekuasaan pejabat negara. Dengan demikian tidak salah bila dikatakan kekuasaan adalah kemampuan untuk mempengaruhi pihak lain menurut kehendak yang ada pada pemegang kekuasaan tersebut.

    Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “Conceit will Lead to the Fall (Kecongkakan akan menuntun pada Kejatuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 32:1-16 dengan penekanan pada ayat 12. Sahabat, Yehezkiel 32 sama seperti Yehezkiel pasal sebelumnya berbicara tentang nubuatan terhadap bangsa Mesir yang dihancurkan Tuhan karena kecongkakannya.

    Kecongkakan bisa muncul ketika kita merasa memiliki sesuatu yang lebih. Merasa lebih kaya, lebih pandai, lebih tahu, lebih ini dan lebih itu. Kita membandingkan kelebihan kita dengan kekurangan orang lain.

    Sahabat, raja merupakan orang yang paling berkuasa di kerajaannya. Raja dari kerajaan yang kuat dan besar akan berkuasa atas banyak bangsa. Tidak heran apabila mereka menjadi congkak. Raja Mesir adalah salah seorang di antaranya.

    Firaun menyamakan dirinya dengan singa muda di antara bangsa-bangsa dan menjadi seperti buaya di laut (Ayat 2). Singa dan buaya adalah dua binatang pemangsa hebat. Namun, kedua binatang tersebut dapat diburu dan dibinasakan. Demikian pula Tuhan akan menangkap dan membinasakan Firaun dan mayatnya akan diberikan sebagai makanan kepada segala binatang di seluruh bumi (Ayat 4).

    Kematian Firaun digambarkan akan menimbulkan kegelapan di bumi (Ayat 7-8) yang mengagetkan dan menggentarkan banyak bangsa (Ayat 9-10). Kecongkakan Mesir akan dipatahkan oleh Babel (Ayat 11-12) beserta semua penghuninya, baik binatang maupun manusia (Ayat 13-15). Akhirnya Tuhan akan menghancurkan orang yang congkak dengan mengenaskan sehingga kepongahannya sirna seketika.

    Kecongkakan merupakan dosa pertama yang dibenci Allah (bdk. Amsal 6:16-17). Semua orang yang menyombongkan dirinya akan dijatuhkan Tuhan. Alkitab memberikan banyak contoh kehancuran raja-raja akibat kesombongan mereka. Misalnya, malaikat Allah membunuh 185.000 tentara Asyur karena Sanherib, Raja Asyur, dengan tinggi hati mengatakan: “Siapakah di antara semua allah negeri-negeri yang telah melepaskan negeri mereka dari tanganku, sehingga TUHAN sanggup melepaskan Yerusalem dari tanganku?” (2 Raja-Raja 18:35). Lalu, Raja Asyur itu dibunuh oleh anak-anaknya ketika ia sedang menyembah Nisrokh allahnya (2 Raja-Raja 19:37). Tuhan pun merendahkan Nebukadnezar seperti binatang (Daniel 4).

    Pengamsal mengingatkan: “Kecongkakan mendahului kehancuran, dan tinggi hati mendahului kejatuhan” (Amsas 16:18). Mereka yang congkak sedang berjalan menuju kehancuran. Kita perlu menyadari bahwa Tuhanlah yang mengaruniakan keberhasilan sehingga kita tidak perlu menjadi pongah. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang kecongkakan?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Bagi Allah, menjatuhkan orang yang congkak tidak lebih sulit daripada menangkap dan membunuh seekor buaya. (pg).

  • Live by Faith

    WILMA  RUDOLPH. Wilma Rudolph lahir dari keluarga yang sangat miskin pada 23 Juni 1940, di Tennesee, USA. Anak ke-20 dari 22 orang bersaudara. Ayahnya hanya seorang portir (kuli angkut barang)  Kereta Api    dan ibunya hanya tukang masak dan cuci pakaian tetangga. Hidup mereka benar-benar miskin.

    Dia lahir prematur dan lemah. Kelangsungan hidupnya diragukan semua orang. Ketika berumur empat tahun dia menderita Pneumonia parah dan demam scarlet,  sebuah kombinasi penyakit yang mematikan yang membuat kaki kirinya lumpuh dan tidak bisa digunakan. Dia harus menggunakan penyangga kaki dari besi untuk membantunya berjalan.

    Syukur, Wilma sangat beruntung  memiliki seorang ibu yang selalu memberikan dorongan dan semangat padanya. Ibunya mengajak Wilma untuk hidup karena percaya bukan karena mellihat.

    Pada suatu hari Wilma bertanya kepada ibunya,  “Apakah saya akan bisa berlari seperti anak-anak lain?”  Sang Ibu dengan penuh kasih dan yakin menjawab:  “Sayang, kamu harus percaya kepada Tuhan dan jangan pernah berhenti berharap. Jika kamu percaya, Tuhan akan membuatnya terjadi,”  Wilma percaya dan sejak itu ia bersusah payah belajar berjalan. Pada usia 12 tahun ia bisa berjalan tanpa memerlukan penyangga kaki. Bahkan di tahun 1960, ia berhasil mendapatkan tiga medali emas untuk cabang olahraga lari di Olimpiade.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yosua dengan topik: “Live by Faith (Hidup karena Iman). Bacaan Sabda diambil dari Yosua 16:1–18:10. Sahabat, sikap bani Yusuf (suku Manasye dan suku Efraim) dalam pasal Yosua 17 kontras  dengan sikap Kaleb dalam Yosua 14. Dia tidak gentar menghadapi orang-orang Enak (Yosua 14:12-15) yang tubuhnya besar-besar (karena orang-orang Enak itu termasuk keturunan raksasa), sedangkan bani Yusuf nampak gentar menghadapi medan yang sulit (mereka harus membuka hutan) dan musuh yang nampak kuat (memiliki kereta besi, Yosua 17:15-18).

    Alasan permintaan mereka kepada Yosua pun berbeda: Kaleb menuntut pemenuhan janji Allah kepada dirinya (Yosua 14:9-12), sedangkan bani Yusuf merasa bahwa bagian tanah yang diberikan kepada mereka terlalu sedikit, sehingga mereka meminta warisan tanah yang lebih luas. Sayangnya, bani Yusuf menghendaki agar warisan yang diperuntukkan bagi mereka adalah wilayah yang dapat direbut dengan mudah (Yosua 17:16).

    Sahabat, perbedaan sikap di atas disebabkan karena Kaleb memiliki iman yang luar biasa. Mata Kaleb tertuju kepada Allah yang Mahakuasa dan yang menyertai dia, sehingga ia merasa sanggup dan tidak merasa takut menghadapi segala bahaya dan tantangan. Sebaliknya, mata bani Yusuf tertuju kepada kekuatan musuh yang besar dan dilengkapi dengan kereta besi, sehingga mereka merasa takut dan khawatir. Mereka lupa bahwa mereka adalah bangsa yang besar yang memiliki Allah yang telah melakukan banyak hal yang besar bagi mereka. Jelaslah bahwa bani Yusuf tidak berani memercayai kekuatan Allah saat harus menghadapi tantangan yang menghadang.

    Bacaan kita pada hari ini mengingatkan kita bahwa bila kita hanya memerhatikan kelemahan diri kita sendiri, kita akan melihat semua masalah dan tantangan yang menghadang dalam kehidupan kita sebagai masalah besar yang tidak akan sanggup kita hadapi dan lewati.

    Akan tetapi, bila kita mengandalkan Tuhan, tidak ada masalah atau tantangan yang terlalu besar. Kita harus senantiasa mengingat perbuatan Tuhan di masa lalu dalam kehidupan kita agar kita bisa tetap hidup karena percaya, bukan hidup karena melihat.

    Sahabat, dari satu sisi, kita perlu menyadari bahwa tanpa Tuhan, kita ini lemah (Yohanes 15:5). Dari sisi lain, kita harus percaya kepada TUHAN dengan segenap hati dan tidak bersandar kepada pengertian kita sendiri (Amsal 3:5). Kita harus memandang setiap masalah dengan kacamata iman! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dengan pernyataan: ”Hidup karena percaya”?

    Mari sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Ketahanan dan kematangan rohani kita ditentukan oleh kepercayaan kita kepada Allah dalam perilaku hidup kita sehari-hari. (pg).

  • BERANI INTROSPEKSI DIRI

    Saudaraku, ingat sebuah pepatah: Kuman di seberang lautan tampak, gajah di pelupuk mata tiada Nampak?  Sepertinya pepatah Indonesia tersebut identik dengan perkataan Yesus dalam bagian Khotbah di Bukit yang berbicara tentang menghakimi sesama.  Mari kita renungkan Matius  7:1-9.

    Saudaraku, memang sangat mudah menemukan kesalahan pada orang lain dibandingkan menemukan kesalahan pada diri sendiri.  Yesus sungguh mengingatkan para pendengar-Nya untuk melihat sikap menghakimi sebagai penyakit yang serius dan berpotensi merusak diri sendiri dan orang lain.  Perbandingan yang dipakai Yesus sungguh menarik yaitu selumbar dan balok.  Selumbar memiliki arti benda kecil dan kering yang bisa melayang ke mata dan membuat kelilipan karena bisa masuk ke mata tanpa bisa disadari.  Yesus membandingkannya dengan balok, kayu besar yang tampak nyata di mata manusia.  Perbandingan ini menarik karena Yesus ingin menekankan kecenderungan manusia yang mementingkan diri sendiri, sehingga mengecilkan sesamanya.  Yesus melihat kecenderungan ini dilakukan pada masa itu sehingga kesombongan rohani memisahkan manusia satu dengan yang lain.

    Pesan Yesus sangat jelas yaitu sebelum menghakimi, haruslah manusia berani untuk introspeksi diri (Matius 7:5).  Hal ini dikarenakan :

    1. Manusia perlu untuk belajar rendah hati.

    Mengeluarkan balok dari mata sendiri adalah gambaran keberanian untuk melihat ke dalam diri sendiri dan mengakui kelemahan diri. Melihat diri sendiri dan dengan jujur menerima kelemahan diri sendiri membutuhkan kerendahan hati. Yesus ingin menekankan bahwa setiap manusia memiliki kecenderungan dosa yang membuatnya tidak bisa obyektif memandang orang lain, maka orang harus menyadari kebutuhan untuk menjalin relasi dengan Allah.

    • Kebenaran sejati adalah milik Tuhan.

    Introspeksi diri mengajarkan manusia untuk menyadari bahwa ia tidak cukup layak untuk menilai sesamanya dengan ukuran yang dibuatnya.  Hal ini dikarenakan ukuran manusia itu relatif dan sesuai dengan pandangannya yang subyektif.  Manusia yang berani introspeksi diri akan menyadari bahwa ia juga bukan orang yang benar dan baik sehingga ia juga tidak bisa mengukur orang lain dengan ukuran buatannya.

    Sebuah contoh buruknya menghakimi ada dalam kisah sebagai berikut :

    Seorang lansia marah-marah karena kalau ia melihat ke halaman tetangga dari jendela dapurnya, ia mendapati sang tetangga selalu menjemur seprai dan baju yang sangat kotor.  Ia menggerutu dan membicarakan kejelekan tetangga itu kepada anak atau siapa pun yang mengunjunginya.  Bahkan lansia itu diam-diam menjuluki tetangganya dengan sebutan : “Si Jorok”. Karena jengah dengan omelan orangtuanya, si anak mengambil lap dan membersihkan jendela yang biasa dipakai lansia itu melihat halaman Si Jorok.  Ajaib. Setelah jendela dibersihkan, lansia itu melihat bahwa yang dijemur tetangganya adalah seprai dan baju yang sudah bersih dicuci.  Ternyata kaca jendelanya sendiri yang jorok sehingga lansia itu salah menilai tetangganya.

     Dari renungan ini, mari kembali berpikir: Selama ini ukuran apa yang kita pakai untuk menilai orang lain?  Mari kita meminta Tuhan memberi keberanian untuk kita melakukan introspeksi diri dan mengurangi sikap menghakimi yang bisa memecah hubungan antara kita dengan sesama.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • The Lebanon Cedars was Cut Down

    POHON ARAS LIBANON. Dari Reformed Exodus Community (REC) saya mendapatkan info bahwa Pohon aras dari Libanon (Cedrus libani) adalah pohon pegunungan, berselimut salju di musim dingin, tumbuh terutama di atas tanah berbatu di ketinggian 1.500 -1.900 meter di Libanon dan bentangan luas (pintu gerbang) Cilician Gunung Taurus. Pohon itu sangat dihormati oleh semua orang dan oleh keluarga kerajaan di seluruh Timur Tengah sebagai “kemuliaan Lebanon” (Yesaya 35:2).

    Pohon itu terkenal karena keindahan dan kegunaannya. Pohon itu merupakan pohon terbesar dari pohon asli mana pun di Timur Tengah. Tinggi pohon aras mencapai 27 meter dan tebalnya 12 meter. Cabang-cabangnya yang panjang menyebar secara horizontal dari batangnya, dan daunnya gelap dan hijau, berkilauan seperti perak di bawah sinar matahari.

    Tidak hanya pepohonannya yang mengesankan, tetapi habitatnya juga sangat indah. Karena persyaratannya untuk suhu dingin, pohon aras Lebanon terbatas pada ketinggian yang lebih tinggi di pegunungan Lebanon, di mana pohon ini menerima kelembapan sebagai hujan, kabut, dan salju dari angin barat dari Mediterania. Pepohonan hijau tua dan tanaman terkait membentuk tumbuh-tumbuhan yang berbeda.

    Pohon aras tumbuh lambat dengan inti kayu yang kokoh dan tahan terhadap pembusukan. Mereka adalah pohon terbesar yang tersedia di Asia Barat. Sebagai pohon yang indah dan hidup dalam lingkungan yang luar biasa, pohon aras dipanen oleh setiap penduduk dan digunakan dalam proyek pembangunan kekaisaran karena tidak mudah busuk.

    Ketika Salomo menginginkan kayu untuk proyek pembangunannya, dia mengontrak Hiram, raja Tirus, untuk pengiriman kayu aras untuk pembangunan bait suci di Yerusalem (1 Raja-Raja 5) dan istananya (Istana Hutan Lebanon, 1Raja-Raja 7:2). Aras dari Libanon dinilai sebagai kayu berkualitas tinggi, sehingga penggunaannya mencerminkan kekayaan dan kekuasaan raja.

    Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “The Lebanon Cedars was Cut Down (Pohon Cedar Lebanon Ditebang)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 31:1-18 dengan penekanan pada ayat 11. Sahabat,  bacaan kita pada hari ini  menyebutkan Mesir sebagai pohon aras Libanon. Dengan luas cakupan kekuasaan Mesir saat itu, kekuatan budaya, potitik, ekonomi dan pertahanannya, didukung lagi dengan kekayaan alamnya, membuat seolah-olah tidak ada lagi bangsa yang sanggup menyamai Mesir, bahkan pohon-pohon aras di taman Allah sekalipun.

    Hal itulah yang membuat banyak bangsa datang dan berlindung kepada Mesir. Sayang sekali karena pohon yang begitu megah itu, Alkitab katakan akan ditebang. Allah akan mendatangkan bangsa Asyur yang ganas untuk menebang dan membiarkannya dan semua bangsa yang berlindung kepadanya akan lari membiarkan Mesir.

    Sahabat, hal tersebut merupakan  hukuman akibat kesombongan Mesir, yang merasa tinggi, besar, kuat, dan dengan congkak ia mengalahkan umat Allah dan terlebih lagi merasa bahwa dirinya sudah mengalahkan Allah. Hal itu sekaligus juga menjadi peringatan bagi semua bangsa saat itu: Jangan sombong, jangan merasa bangga apabila bisa mengalahkan umat Allah, bisa mengalahkan Israel dan Yehuda. Mereka bisa mengalahkan Israel dan Yehuda, karena Allah sedang menghukum umat-Nya dan kebetulan bangsa-bangsa luar itulah yang dipakai Allah sebagai alat untuk menghukum dan mendidik umat pilihan-Nya.

    Dari bacaan pada hari ini,  kita melihat bahwa manusia yang sombong, sekuat apa pun dia, suatu saat pasti akan jatuh juga. Allah kita bukan Allah yang diam, Ia adalah Allah yang menguasai sejarah umat manusia. Allah-lah yang mengizinkan satu bangsa tumbuh besar dan mengizinkan juga satu bangsa yang tidak benar dihancurkan. Mari kita belajar menjadi orang yang rendah hati, sekalipun mungkin kita sedang diberkati dan dipakai Allah saat ini. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Pelajaran rohani apa yang Sahabat dapatkan untuk diterapkan di dalam kehidupan  hari lepas hari?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Saat Tuhan berkenan memakai kita, bersikaplah rendah hati supaya Ia memakai kita untuk perkara yang lebih besar. (pg).

  • Knowing the Boundaries

    MENETAPKAN BATASAN. Dalam hidup sehari-hari, kita sering menetapkan atau membuat batasan. Ketika utusan dari bengkel sepeda motor datang untuk mengambil sepeda motor guna diservis, saya berpesan: “Kalau ada penggantian onderdil lebih dari Rp. 250.000,- harap menghubungi saya terlebih dahulu”. Nah, di sini saya menetapkan batasan,

    Sahabat, batasan itu layaknya sebuah rumah, yang memiliki pagar depan, teras, ruangan-ruangan tertentu seperti ruang tamu, ruang makan, ruang keluarga, dapur, hingga kamar tidur. Kita, sebagai pemilik rumah, tentunya memiliki batasan, siapa saja yang kita izinkan  masuk hanya sampai pagar depan, teras, ruang tamu,  dan seterusnya.  Nah, seperti itulah gambaran dari penerapan batasan atau boundaries pada diri kita, baik itu batasan fisik, emosional ataupun spiritual.

    Bagi saya, menetapkan batasan atau setting boundaries adalah hal yang sangat penting, bukan untuk mengontrol orang lain tetapi untuk melindungi diri sendiri. Membuat batasan bisa membuat kita untuk membedakan antara posisi kita dengan posisi orang lain hingga membedakan keinginan kita dengan keinginan orang lain. Jadi, hidup yang kita jalani ini bisa lebih selaras dengan nilai yang kita pegang atau anut.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yosua dengan topik: “Knowing the Boundaries (Mengetahui Batas)”. Bacaan Sabda diambil dari Yosia 15:1-12.  Sahabat,  bacaan kita pada hari ini  berkisah tentang bagaimana bani Yehuda diajak mengerti batas wilayahnya. Batas teritorial itu kemudian harus dijaga dan dihormati bersama-sama. Tanpa kesadaran seperti itu, mereka hanya akan memanen kekacauan karena hidup tanpa batasan artinya tanpa aturan.

    Batasan akan mendidik kita tentang kemerdekaan dan kemandirian dalam kebersamaan. Ini menjadi pelajaran penting bagi suku bani Yehuda. Dengan batasan, orang bisa berdikari mengurus kemajuan wilayah masing-masing. Namun demikian, mereka tidak bisa mengabaikan tanggung jawab bersama kepada suku Lewi. Pasalnya, mereka merupakan suku yang tak punya hak milik untuk mengolah tanah.

    Bila diperhatikan, lokasi huni suku bani Yehuda tidak sama untuk setiap kaumnya. Ada yang berbatasan dengan padang gurun Zin; ujung Laut Asin; pendakian Akrabim; Kiryat-Yearim; berdekatan dengan lembah; dan ada pula yang berbatasan dengan daerah perbukitan. Setelah mengetahui batas masing-masing, setiap kaum harus menggali potensi wilayahnya. Mereka akhirnya terdorong untuk mengenali potensi diri. Inilah pentingnya tahu batasan.

    Sahabat, mengapa batasan dianggap penting? Tanda kemajuan peradaban adalah mengetahui sekaligus mengerti batasan. Alhasil, kita menjadi paham pada hal yang tak semestinya dilanggar. Alhasil, keadilan dan perikemanusiaan dapat tegak terwujud. Salah satunya adalah dalam menentukan batas-batas wilayah. Ini untuk menunjang kelangsungan hidup menjadi bangsa manusia.

    Selanjutnya, memiliki batasan juga membantu kita membentuk hubungan yang sehat dengan orang lain, karena hubungan yang sehat didasari dengan adanya saling menghormati. Hubungan yang sehat itu ialah tentang bagaimana diri kita, bukan tentang apa yang telah kita lakukan ke orang tersebut. Berbicara mengenai hubungan yang sehat, dalam kehidupan sehari-hari tak sedikit orang yang senang menjalin hubungan dengan orang lain bukan karena bagaimana orang tersebut, bukan karena kepribadian dan perilakunya, atau bahkan bukan karena nilai yang dia pegang, tetapi hanya karena orang tersebut dirasa baik kepada kita.

    Sahabat, kata baik disini memiliki arti bahwa orang tersebut bisa dengan mudah melakukan sesuatu atau memberikan sesuatu kepada kita, contohnya dengan mudah memberikan waktu ataupun energinya untuk kita. Cara pandang seperti inilah yang sulit membuat kita memiliki hubungan yang sehat dengan orang lain. Jika kita bisa menerapkan batasan, maka akan mudah bagi kita mengetahui siapa saja yang menghargai kita dengan tulus dan nantinya akan membawa kita untuk menciptakan sebuah hubungan yang sehat pula. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang batasan?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kenali batas kemampuanmu, tapi cobalah untuk dapat melampauinya setiap hari. (pg)

  • History is the Story of God

    SEJARAH. Sepenting apakah sejarah itu bagi kita? Ada banyak siswa yang tidak suka pada mata pelajaran sejarah, tapi bagi saya sejarah itu sesungguhnya sangatlah penting. Saya selalu suka belajar dari literatur-literatur sejarah terutama sejarah umat pilihan Allah.

    Dari literatur manapun saya menganggap sejarah sebagai jendela untuk melihat segala sesuatu yang menjadi pengalaman orang lain, baik atau buruk. Hal itu bisa menjadi pelajaran yang sangat berguna bagi kehidupan ke depan. Bukan saja dari pengalaman orang lain, tapi kita pun sebenarnya bisa belajar dari masa lalu kita sendiri. Kita bisa melihat bagaimana sampai kesuksesan itu hadir pada kita dahulu, atau jika dari kegagalan yang pernah terjadi dalam hidup kita, setidaknya kita bisa belajar agar tidak jatuh lagi ke lubang yang sama dan tahu harus bagaimana untuk lebih baik.

    Menghadapi hidup yang penuh tantangan, suka atau tidak suka kita harus banyak belajar dari para pendahulu kita dan hal-hal yang telah mereka alami. Benar, kita memang harus selalu menatap ke depan dan meninggalkan pengalaman-pengalaman buruk di masa lalu yang berpotensi untuk menghambat langkah kita. Tapi di sisi lain sungguh penting pula untuk belajar dari apa yang telah terjadi sebelumnya. Misalnya Ketika kita berada dalam kesesakan dan merasa bahwa Tuhan seolah-olah seperti meninggalkan kita sendirian menghadapi semuanya, kita bisa menoleh sejenak ke belakang untuk melihat bahwa ada begitu banyak kemuliaan Tuhan,  Dia nyatakan dalam berbagai kesempatan. Mukjizat-mukjizat-Nya yang luar biasa, berkat-berkat-Nya, penyertaan-Nya yang begitu setia, kasih-Nya yang besar yang ternyata mampu membuat sesuatu yang spektakuler. Tidak saja berhenti sampai disitu, tapi sesungguhnya kuasa  Tuhan masih pula berlangsung hingga hari ini, dan itu semua nyata adanya.

    Hari ini kita  melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “History is the Story of God (Sejarah adalah Kisah Tuhan). Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 30:1-26. Sahabat, ketika sebuah kerajaan berjaya, tampaknya kerajaan itu begitu kuat dan tidak terkalahkan. Namun, sebesar apa pun suatu kerajaan, di balik itu Allahlah yang mengangkatnya. Karena itu, Allah dengan mudah dapat membinasakannya (bdk. Yeremia  1:10). Sejarah akan berjalan sesuai dengan kehendak Allah.

    Tuhan menghancurkan Mesir dengan memakai Babel sebagai alat penghancuran-Nya (Ayat 10). Berulang-ulang Tuhan menyatakan bahwa Ia akan menguatkan tangan raja Babel dan mematahkan tangan Firaun (Ayat 24-25). Perhatikan kontras antara tangan Firaun yang dipatahkan dan tangan Babel yang dikuatkan Tuhan. Tangan adalah bagian tubuh yang melaluinya seseorang bertindak. Itu sebabnya tangan merupakan lambang dari kekuatan. Tangan yang kuat akan memampukan seseorang melakukan tindakan yang efektif, sedangkan tangan yang patah mencerminkan ketidakberdayaan seseorang (bdk. Mazmur 10:15).

    Yehezkiel mengantisipasi dengan mengatakan bahwa tangan yang patah dapat dipulihkan. Dengan kata lain, Firaun masih bisa berkuasa dengan memakai bangsa lain sebagai kaki tangannya. Karena itu, Yehezkiel menekankan tangan yang patah tidak akan dibalut supaya sembuh (Ayat 21). Bahkan, Tuhan akan mematahkan kedua tangan Firaun dan menjatuhkan pedang dari tangannya (Ayat 22). Kekuatan Mesir akan dihancurkan seluruhnya.

    Sahabat, Tuhan membangkitkan dan menghancurkan berbagai bangsa dan kerajaan seturut rencana-Nya. Pusat dari rencana Tuhan adalah umat-Nya. Karena Mesir menjadi sandaran bagi umat-Nya (Yehezkiel 29:6), maka Tuhan akan menghancurkan Mesir dengan membangkitkan Babel untuk menghancurkan Yehuda. Dengan demikian, Tuhan mengatur sejarah sesuai dengan kehendak-Nya atas umat-Nya.

    Sebagai orang percaya seharusnya kita semua memahami bahwa umat Tuhan adalah pusat sejarah. Ia akan mengatur segalanya bagi gereja-Nya. Bersandarlah hanya kepada Allah Mahakuasa yang keinginan-Nya terwujud dalam sejarah manusia. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang Sejarah? Apa yang Sahabat dapatkan ketika membaca biografi seorang tokoh yang Sahabat kagumi?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati:  Sejarah bukanlah beban ingatan melainkan penerangan jiwa.  (John Dalberg Acton). (pg).

  • JERIH PAYAHMU TIDAK SIA-SIA

    Dalam dunia yang penuh dengan persaingan dalam berbagai hal, hasil adalah satu-satunya ukuran sebuah aktifitas. Orang yang akan berbisnis akan bertanya: Berapa uang yang saya dapatkan dari investasi saya? Orang yang mau mencari pekerjaan, akan bertanya: Berapa gaji saya? Gaji yang ditanyakan akan berhubungan dengan ukuran hasil yang akan diperoleh setelah dia melakukan aktifitas yaitu bekerja. 

    Orang bisa berganti-ganti usaha bisnis, pindah pekerjan dari satu perusahaan ke perusahaan lain, tujuannya adalan mencari hasil yang terbaik. Bagaimana dalam dunia pelayanan? mungkin dalam hati juga banyak yang bertanya: Apa hasil yang akan saya peroleh? Keuntungan yang besar, gaji sesuai harapan adalah hasil yang ingin diperoleh orang dalam berbisnis dan bekerja. Dalam pelayananpun kita akan memperoleh Upah yang besar dari Tuhan.

    Paulus dalam 1 Korintus 15:58-b berkata “Sebab kamu tahu, bahwa dalam persekutuan dengan Tuhan jerih payahmu tidak sia-sia”. Persekutuan berarti “berbagi”, menikmati penyatuan paling dekat dengan Tuhan. Persekutuan dengan Tuhan berarti selalu bersatu, selalu dekat dengan Tuhan. Sementara “jerih payah berarti bekerja keras membanting tulang, bekerja sampai kelelahan dan keletihan atau bekerja sampai susah payah. Selanjutnya, sia-sia berarti tindakan kosong yang tidak menghasilkan apa-apa, sia-sia dan tidak memiliki nilai dan tujuan. 

    Segala sesuatu yang dilakukan bersama Tuhan, dilakukan sesuai dengan apa yang diperintahkan Tuhan pasti akan ada hasilnya. Tetapi sebaliknya sebesar apapun usaha kita, sampai kelelahan yang kita dapat, tanpa melibatkan Tuhan, tanpa bersandar pada Tuhan pasti hasilnya akan sia-sia. Seperti Pengkotbah berkata segala sesuatu adalah sia-sia. Sia-sia karena segala sesuatu dilakukan manusia tanpa melibatkan Tuhan (Pengkotbah 1:6).

    Apakah bekerja di dunia sekuler sia-sia?. Jawabanya pasti tidak. Karena sebenarnya Tuhan tidak membedakan dimana kita bekerja. Apakah berbisnis, menjadi Pegawai Negeri, menjadi karyawan perusahaan swasta, menjadi Hamba Tuhan, baik paruh waktu maupun penuh waktu, semuanya tidak akan sia-sia. Kuncinya adalah bekerja dalam persekutuan dengan Tuhan. Namun ada beberapa hal yang patut kita pertanyakan kepada diri kita sendiri, apakah pekerjaan kita itu sia-sia? (1). Apakah kita terlalu berkonsentrasi untuk menjadi yang terdepan di dunia, sehingga kita meninggalkan pertumbuhan rohani dan dedikasi kita kepada Tuhan? (2). Apakah kita menggunakan semua energi fisik kita untuk mencoba melakukan pekerjaan dengan baik dan tidak ada lagi yang bisa diberikan untuk melakukan pekerjaan Tuhan? (3) Apakah kita begitu berniat untuk mendapatkan mobil lain, komputer lain, pakaian bagus dan perhiasan sampai kita melakukan sedikit atau tidak melakukan apapun dalam mengumpulkan harta surgawi kita dengan Allah Bapa? (4). Berapa banyak waktu yang kita habiskan untuk membantu orang lain, dibanding waktu yang kita habiskan hanya berfokus pada hidup kita sendiri, agenda pribadi kita sendiri? (5). Apakah kita lebih fokus pada rencana kita dibanding dengan rencana Tuhan bagi hidup kita?

    Semua pekerjaan adalah bentuk pelayanan kita kepada Tuhan.  Banyak orang berpikir kalau mereka mengerjakan hal yang tidak penting. Namun sebenarnya justru apa yang mereka lakukan itu penting untuk saat ini maupun di masa mendatang. Semua pekerjaan baik yang dilakukan saat ini akan diperhitungkan Tuhan kelak saatnya tiba. Seperti cerita dalam Lukas 19, bekerja itu diibaratkan dengan bagaimana seorang tuan memberikan masing-masing pelayannya sejumlah uang. Beberapa waktu setelah sang tuan kembali, tuannya menagih hasil pekerjaan hambanya. Seperti juga kita, setiap kita yang bekerja dengan baik akan memperoleh imbalan yang baik pula. Bahkan Tuhan akan mempercayakan pekerjaan yang lebih besar kepada kita yang rajin dalam bekerja.

    Bekerja untuk Tuhan, betapa pun sulit dan melelahkan, tidak akan pernah tanpa makna atau nilai. Umat Kristen akan diberi hadiah berupa kehidupan kekal bersama Yesus di Surga karena menjalani kehidupan seperti Kristus. Segala usaha, ketekunan, dan penderitaan akan memperoleh hasil yang terbaik, tidak akan pernah sia-sia.  Christopherus adalah Yayasan Kristen milik Tuhan yang beranggotakan orang-orang dengan latar belakang yang berbeda. Banyak pengurus yang berlatar belakang pengusaha, sementara yang lain adalah pegawai negeri, dosen, pegawai swasta, para pendeta, dan lain sebagainya. Semua melayani dengan sepenuh hati, tujuannya hanya satu mengabarkan Injil kepada semua orang, dimanapun dan kapanpun. Perbedaan latar belakang tidak menjadi masalah, namun justru menjadi kekuatan untuk lebih semangat melayani. Semua pengurus berkeyakinan, apapun yang dilakukan akan mendapatkan yang terbaik dari Tuhan, JERIH PAYAH KITA TIDAK AKAN SIA-SIA. Selamat Ulang Tahun yang ke-51 Yaysan Chritopherus, Tuhan selalu menyertai segenap pengurus dan program-program yang telah disusun. Mari melayani Tuhan dan sesama melalui Yayasan Christopherus. Christ for all, all for Christ. (SH).

  • Honesty Means Lucky

    JUJUR – Jujur secara umum merupakan sebuah aspek ciri dan moral manusia yang berbudi luhur.  Seseorang yang jujur akan memiliki integritas, adil, setia, tulus, dan dapat dipercaya oleh orang lain.

    Dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) jujur berarti  lurus hati atau tidak berbohong. Selain itu, menurut KBBI, jujur bisa juga dikatakan sebagai suatu perilaku tidak curang atau mengikuti aturan yang berlaku. Oleh sebab itu, sikap jujur ini selalu identik dengan sikap baik.

    Namun ada juga yang mengungkapkan bahwa pengertian jujur itu berkaitan dengan sikap atau perbuatan yang dilakukan sesuai dengan apa yang dikatakan. Dengan kata lain, seseorang kemudian dapat disebut jujur ketika ia mengucapkan sesuatu yang sesuai dengan apa yang telah terjadi sebelumnya. Selain itu, jujur juga mengandung arti bertindak sesuai dengan apa yang seharusnya dilakukan.

    Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab Yosua dengan topik: “Honesty Means Lucky (Jujur berarti Mujur)”. Bacaan Sabda diambil dari Yosua 14:1-15. Sahabat, kita sering mendengar atau membaca pernyataan: “Siapa jujur akan hancur”. Saat ini pernyataan tersebut diaminkan oleh cukup banyak orang.  Saat korupsi semakin merajalela, orang berani jujur akhirnya menjadi barang langka. Akibatnya, para koruptor tertawa di atas singgasananya.

    Kisah keberanian Kaleb berkata jujur layak sebagai inspirasi bagi orang-orang pemberani. “Berani jujur, bakal membawa mujur, ” mungkin merupakan prinsip hidup Kaleb. Ketika Musa mengutusnya menjadi mata-mata, dia membawa berita apa adanya, sesuai fakta. Tidak ditambah dan tidak dikurangi. Kaleb orangnya terbuka, apa adanya. Dia melihat segala sesuatu dari sisi positif. Dia sangat yakin dengan penyertaan dan pertolongan Tuhan. 


    Sahabat, teladan dari Kaleb merupakan meterai tentang kemujuran orang lurus. Tindak-tanduk Kaleb, hingga usia tuanya, menjadi tanda bagi orang yang menaati Tuhan sepenuh hati. Kepadanya diberikan Tanah Hebron sebagai milik pusaka (Ayat 14), sesuai janji Musa kepadanya di Kadesh-Barnea. “Sesungguhnya tanah yang diinjak oleh kakimu itu akan menjadi milik pusakamu dan anak-anakmu sampai selama-lamanya, …” (Ayat 9)

    Kata-kata Musa itu menjadi alasan bagi Yosua, penggantinya, untuk memberikan tanah Hebron kepada Kaleb dan keturunannya. Kaleb pun dikenal sebagai orang jujur nan mujur. Mereka disebut generasi pembawa nasib mujur.

    Tuhan yang berjanji kepada Kaleb adalah Tuhan yang sama, yang kuasa penyertaan-Nya tidak berubah dari dahulu, sekarang dan sampai selama-lamanya.  Meskipun ia tidak hadir secara fisik, Ia menyertai kita melalui Roh Kudus yang tinggal di dalam diri orang percaya.  Milikilah iman yang teguh seperti Kaleb, yang membuatnya mampu bertahan di segala situasi dan keadaan.

    Saat ini  boleh saja disebut zaman edan. Namun, orang percaya, tidak perlu ikut ngédan. Bagaimanapun, bersikap jujur tetap adalah pilihan luhur, demi kelangsungan hidup bersama penuh daya cipta. Berani jujur adalah tanda gaya hidup penuh syukur. Tuhan mampukan kami untuk hidup jujur. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat dari hasil perenunganmu?
    2. Bagaimana pengalaman Sahabat secara pribadi ketika kamu memilih untuk jujur?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Lakukan dengan setia bagian kita, jangan pernah berubah!  Tuhan akan mengerjakan bagian-Nya:  Menggenapi janji-Nya atas kita tepat pada waktu-Nya! (pg).

  • God Destroys His People Life Supports

    SANDARAN HIDUP. Secara sedehana , sandaran diartikan sebagai tempat tumpuhan untuk mengalihkan kekuatan yang menyangga beban, sebatang pohon yang miring karena diterpa tiupan angin topan, masih bisa bertahan hidupnya karena memiliki sandaran pohon yang ada di sebelahnya.  Sama halnya seorang anak yatim sepeninggal ayahnya menyandarkan hidupnya kepada paman yang merawatnya, begitulah kata sandaran ditempatkan penggunaannya didalam hidup keseharian, sehingga peran sandaran akan selalu dibutuhkan guna menjamin keberlangsungan suatu kegiatan dan kehidupan.

    Sahabat, pengalaman hidup kita bercerita bahwa sandaran   hidup manusia beragam: Harta, takhta, wanita/pria adalah sandaran hidup yang paling populer. Kemudian ada pula yang menjadikan “ilmu”, benda-benda “pusaka/keramat”, kesaktian, ajian atau mantra yang dalam percakapan sehari-hari di kalangan komunitas Jawa  disebut “azimat” sebagai sandaran hidup.

    Soal apa atau siapakah sandaran hidup yang paling tepat tergantung pada masing-masing individu. Keyakinan iman saya mengajarkan bahwa sandaran hidup terbaik, paling komplit, dan dapat diandalkan  adalah Tuhan. Hanya Tuhan saja, tidak ada yang lain.

    Hari ini kita  melanjutkan belajar dari kitab Yehezkiel dengan topik: “God Destroys His People Life Supports (Tuhan Menghancurkan Sandaran Hidup Umat-Nya)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 29:1-16. Sahabat,  seharusnya Tuhan menjadi satu-satunya sandaran umat-Nya. Sayangnya, sering kali umat Tuhan mencari allah lain sebagai sandaran. Yehuda mempunyai sejarah kelam karena mereka mencari allah bangsa-bangsa lain, termasuk Mesir. Perbuatan seperti ini membuat Tuhan murka dan Ia menghukum umat-Nya. Selain itu, Tuhan akan menghukum bangsa-bangsa yang menjadi sandaran.

    Dengan sikap sinis, Tuhan menggambarkan Mesir sebagai buaya besar yang berbaring di tengah sungai Nil. Dengan sombong Raja Mesir mengatakan: “Sungai Nil aku punya, aku yang membuatnya” (Ayat 3). Kata yang diterjemahkan sebagai “buaya” adalah kata tannin, yang merupakan makhluk mengerikan dalam pengertian dunia kuno, yang muncul di Kejadian 1:21 sebagai makhluk yang diciptakan Allah. Walaupun Firaun memegahkan dirinya sebagai Allah, Tuhan yang menyatakan diri sebagai lawan Mesir dengan mudah mengenakan kelikir pada rahangnya dan menangkapnya serta sekutu-sekutunya seperti seekor binatang (Ayat 4).

    Sahabat, alasan Tuhan melawan Mesir adalah Mesir menjadi seperti tongkat bambu bagi umat-Nya (Ayat 6). Seyogianya tongkat terbuat dari kayu yang kuat, tetapi Mesir digambarkan sebagai tongkat bambu yang terkulai ketika dipegang dengan tangan (Ayat 7). Dengan mudah mereka dipatahkan dan sekutu yang bersandar pada Mesir menjadi terhuyung-huyung (Ayat 6-7).

    Memang ironis karena Yehuda memilih bersandar kepada Mesir ketimbang Allah. Tindakan Yehuda disebut kebodohan dan mereka akan membayar harganya. Mesir tidak luput dari hukuman Tuhan. Ia akan membuat Mesir menjadi negara lemah sehingga umat Tuhan tidak dapat bergantung lagi kepada Mesir (Ayat 13-16).

    Sahabat, Tuhan adalah Allah yang cemburu. Ia tidak menoleransi siapa saja yang menjadi sandaran bagi umat-Nya. Ini menjadi peringatan bagi kita untuk tidak bergantung kepada siapa pun juga. Hanya Tuhan yang menjadi tumpuan harapan dan sandaran abadi kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang Sandaran hidup? Lalu apa atau siapa yang menjadi sandaran hidupmu saat ini?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan menyertai kita dan Dia mengizinkan masalah membentuk kita agar lebih bersandar kepada Tuhan dan lebih peka terhadap panggilan kita. (pg).

  • Be Wise with Your Time

    TUGAS YANG BELUM SELESAI (UNFINISHED TASK). Menjadi tua itu suatu keniscayaan. Demikian juga suatu saat semua orang akan meninggal dunia, itu juga suatu keniscayaan. Sahabat, kita semua diciptakan Tuhan dari tanah dan akan kembali menjadi tanah, itu berarti masa kerja dan pelayanan kita ada batasnya, ada waktunya. 

    Pernyataan tersebut begitu sangat berarti,  dengan adanya batas waktu, gunakan waktu kita sebaik mungkin, selama badan masih kuat layanilah Tuhan dengan giat karena akan ada waktunya Sahabat dan saya ingin melayani namun tubuh dan pikiran kita sudah tidak kuat lagi. Berbahagialah kita yang sudah melayani Tuhan semenjak masih muda sampai garis akhir. Itu berarti tugas dan tanggung jawab yang diberikan Tuhan kepada kita telah selesai, namun pekerjaan gereja Tuhan selama dunia masih ada,  belum selesai dan harus dilanjutkan oleh orang-orang pilihan berikutnya.

    Ketika Hudson Taylor meninggal dunia,  apakah pelayanan misi dan penginjilan di Tiongkok telah selesai? Jelas belum, setelah dia meninggal dunia dan sampai saat ini masih banyak orang Tionghoa yang belum percaya. 

    Ketika Nommensen meninggal dunia apakah pelayanan misi di Sumatera Utara sudah selesai? Sama, masih ada orang-orang di Sumatera Utara yang belum percaya. Demikian pula dengan David Livingston, William Carey, Joseph Kam, dan lain-lainnya. Tidak ada seorang  manusia pun yang sanggup menyelesaikan pekerjaan Allah. Pelayanan akan terus dilanjutkan oleh orang-orang percaya selanjutnya sampai kegenapan rencana Allah atas gereja-Nya selesai, yaitu pada saat Tuhan Yesus datang kedua kali. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yosua dengan topik: “Be Wise with Your Time (Bijaksanalah dengan Waktumu)”. Bacaan Sabda diambil dari Yosua 13:1-7. Sahabat, bacaan kita pada hari ini dibuka dengan pernyataan Yosua menjadi tua dan lanjut umurnya (Ayat 1). Namun ketika dia menjadi tua dan lanjut umur,  masih ada tugas yang belum rampung, “… negeri ini masih amat banyak yang belum diduduki.” (Ayat 1). Padahal, rencana Allah adalah Israel harus mengambil alih semua tanah Kanaan (Ayat 2-6).

    Yosua mungkin sudah tidak sanggup lagi berperang dan mengangkat pedang. Oleh karena itu, Tuhan mendelegasikan tugas terakhir kepadanya. Dia harus membagikan negeri ini kepada sembilan suku dan suku Manasye yang setengah. Tanah itu akan menjadi milik pusaka mereka (Ayat 7).

    Sahabat, manusia memang tidak bisa mengalahkan waktu. Ini menunjukkan bahwa manusia tidak abadi dan terbatas. Yosua menghabiskan segenap hidupnya melayani kehendak Allah. Bisa dikatakan, sepanjang usianya, dia konsisten berkenan di hadapan Allah. Bahkan pada usia tuanya, dia pun masih memberi diri untuk menyelesaikan tugas dari Allah. Ini menunjukkan integritas dan tanggung jawab Yosua teruji.

    Pertanyaan selanjutnya bagi kita, dalam keterbatasan waktu yang ada, apa yang sudah kita lakukan? Apakah waktu yang tersedia sudah kita gunakan untuk menggenapi rencana Allah atas hidup kita masing-masing? Atau, kita membunuh waktu dan membuangnya percuma melalui pekerjaan sia-sia yang hanya mengumbar nafsu kedagingan saja? Atau, jangan-jangan, kita sama sekali belum pernah dengan serius berpikir dengan waktu yang kita miliki?

    Kita perlu merenungkan pertanyaan-pertanyaan tersebut   dengan serius. Jangan sampai, nanti pada hari tua, kita merana karena penyesalan telah memboroskan waktu dengan percuma. Ingatlah, ada tiga hal yang tidak bisa kita tarik kembali: Perkataan, kesempatan, dan waktu. Oleh karena itu mari kita perhatikan nasihat Rasul Paulus berikut: “Karena itu, perhatikanlah dengan saksama, bagaimana kamu hidup, janganlah seperti orang bebal, tetapi seperti orang arif,dan pergunakanlah waktu yang ada, karena hari-hari ini adalah jahat. Sebab itu janganlah kamu bodoh, tetapi usahakanlah supaya kamu mengerti kehendak Tuhan.” (Efesus 5:15-17). Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkanhasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dengan Tugas Yang Belum Selesai (Unfinished Task)?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “Ajarlah kami menghitung hari-hari kami sedemikian, hingga kami beroleh hati yang bijaksana” (Mazmur 90:12). (pg)