Category: Sejenak Merenung

  • If God Closes His Eyes

    MERASA DIRI KUAT. Sahabat, merasa dirinya  kuat; itulah yang dilakukan oleh Efraim sehingga bangsa lain takut dan gentar kepadanya. Tapi apa yang terjadi? Tuhan murka kepada mereka karena mereka melakukan penyembahan berhala.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hosea dengan topik: “If God Closes His Eyes (Jika Tuhan Menutup Mata)”. Bacaan Sabda diambil dari Hosea 13:1-14:1. Sahabat, Hosea menyampaikan isi hati Tuhan kepada bangsa Israel. Dalam kemarahan-Nya kepada umat-Nya, Allah mengingatkan kembali kepada umat-Nya ketika mereka di Mesir dijadikan budak. Allah memperkenalkan diri-Nya sebagai Allah melalui Musa (Keluaran  3:14).

    Allah juga kemudian menjadi penyelamat mereka dengan melepaskan mereka dari perbudakan di Mesir. Membawa mereka keluar dari Mesir menuju Tanah Perjanjian dan menjadi bangsa yang merdeka. Tetapi apa yang dilakukan mereka sangat mendukakan Allah dengan perbuatan dosa mereka.

    Sesungguhya Tuhan bisa menutup mata terhadap realitas yang dihadapi umat-Nya. Tuhan mengambil tindakan itu jika umat-Nya tetap bersikap bebal dengan terus melakukan dosa dan menyakiti hati-Nya.

    Dalam bacaan kita pada hari ini, kita melihat bagaimana Allah menutup mata-Nya atas kehidupan umat-Nya. Orang Israel terus berbuat dosa dengan membuat patung dan mempersembahkan kurban padanya. Sekalipun mereka telah mengenal Tuhan sebagai Allah dan Juru Selamat, mereka tetap memberontak terhadap-Nya. Oleh karena dosa tersebut, Tuhan akan menghukum umat-Nya. Ia akan menghentikan kemurahan dan anugerah-Nya. Akibatnya, mereka akan seperti kabut yang segera hilang dan seperti debu jerami yang diterbangkan.

    Sahabat, salah satu sifat Tuhan adalah penuh cinta dan kasih. Jika mata-Nya tertutup terhadap umat-Nya dan menutup keran kasih dan kemurahan-Nya, maka kita bisa apa? Tidak ada lagi pengharapan dan kesempatan! Tuhan yang menutup mata menunjukkan bahwa Ia tidak mau lagi memerhatikan umat-Nya. Ketika mata Tuhan tertutup, sesungguhnya Ia menganggap kita sudah tidak ada. Ia menganggap bahwa umat-Nya telah mati atau muak melihat tingkahnya yang selalu berbuat dosa. Tuhan sudah tidak peduli lagi.

    Padahal belas kasihan Tuhan adalah pengharapan kita untuk hidup. Belas kasih-Nya adalah mata air kehidupan. Kasih itulah yang membebaskan kita dari belenggu perbudakan, dosa, dan kuasa maut. Jika kasih-Nya sudah tidak ada lagi, berarti kita hanya menunggu waktu untuk hukuman.

    Sahabat, apakah mata Tuhan sedang tertutup terhadap kita? Apa yang membuat-Nya malu melihat kita? Apakah ada dosa yang terus kita lakukan tetapi kita menganggapnya lumrah, wajar-wajar saja?

    Kini waktunya bagi kita untuk menyingkirkan segala dosa itu. Marilah kita terbuka di hadapan Tuhan. Mari kita meminta Roh Kudus untuk menyingkapkan tabir dosa itu. Kita mohon pada-Nya agar mengoreksi segenap  kehidupan kita. Mari kita memohon pengampunan dari Tuhan agar Ia tidak menutup mata dan kasih karunia-Nya atas kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat mengerti dari Hosea 13:1-2?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jangan menyia-nyiakan kebaikan Tuhan dan tetaplah percaya. Jadikan Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dalam hidupmu. (pg).

  • Love Conquers the Stubborn

    KEDEGILAN. Sahabat, bagaimana ciri-ciri orang degil? Mereka adalah orang-orang yang bandel, hatinya sudah begitu mengeras sedemikian rupa sehingga sulit menerima masukan atau pendapat dari orang lain. Mereka merasa pendapat merekalah yang paling benar sedangkan yang lain salah tanpa mau melihat dahulu duduk permasalahannya.

    Orang-orang yang degil berpusat hanya pada diri mereka sendiri dan akan dengan mudah menyalahkan orang lain yang tidak sepaham dengan mereka. Kita memang tidak harus selalu setuju dengan pendapat orang, tetapi adalah baik apabila kita mau mendengarkan nasihat yang benar, setidaknya memberi kesempatan dulu buat orang untuk menyampaikan pendapatnya.

    Kedegilan itu bisa membutakan.dan bisa merugikan. Banyak orang yang mengira bahwa sikap seperti itu menunjukkan kehebatannya, tetapi sebenarnya justru akan membawa kerugian bagi diri mereka sendiri.

    Orang-orang Farisi di zaman dahulu menjadi contoh nyata akan hal tersebut. Mereka memiliki keadaan hati yang keras seperti batu sehingga mendukakan hati Yesus. Kekerasan hati itu mengakibatkan mereka tidak lagi peka, baik terhadap kebenaran, terhadap orang lain bahkan terhadap diri mereka sendiri. Dalam banyak kesempatan yang tertulis dalam Alkitab kita bisa melihat seperti apa sikap mereka yang berulang kali dikatakan sebagai sebuah kemunafikan. Mereka merasa sebagai orang-orang yang paling rohani, paling suci, paling tahu segalanya, paling hebat, paling benar dan kesombongan ini membuat hati mereka mengeras. Mereka rajin menghakimi orang lain tetapi tidak pernah introspeksi terhadap diri sendiri. Kepekaan pun terbang dari diri mereka.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hosea dengan topik: “Love Conquers the Stubborn (Kasih Mengalahkan Kedegilan)”. Bacaan Sabda diambil dari Hosea 11:1-11. Sahabat, dalam sejarah perjalanan bangsa Israel tidak terhitung betapa besar kasih Allah atas mereka. Sejak mereka masih berada di Mesir, keluar dari Mesir, selama dalam perjalanan, sampai ke tanah Kanaan, kemudian semakin besar jumlahnya dan semakin tersebar. Walau berulang kali mereka berbuat dosa menjauh dari Allah, namun Allah menarik mereka kembali, dengan hukuman dan pengampunan. Walau mereka berulang kali meninggalkan Allah dan berhenti meninggikan nama-Nya, namun kasih Allah pada bangsa Israel selalu mengalahkan kedegilan mereka.

    Allah itu panjang sabar dan berlimpah kasih setianya, Ia senantiasa memberi kesempatan kepada kita untuk kembali bertobat. Walau banyak dosa dan kesalahan kita yang mendukakan hati-Nya, kasih Allah tidak akan pernah habis untuk hidup kita. Namun Ia tidak membiarkan diri-Nya dipermainkan. Ia tetap akan tegas jika hal itu sudah menyangkut dosa dan menjauhkan kita dari kehendak-Nya.

    Pancaran kasih Allah yang telah mengalahkan kedegilan kita harusnya membuka hati dan pikiran kita untuk hidup lebih bersyukur dan mengasihi-Nya. Allah yang kita sembah adalah Allah yang kasih dan pengampunan-Nya tidak berkesudahan. Ia akan selalu menarik hati kita kembali pada-Nya untuk segera menerima pemulihan. Tidak hanya sampai di situ, Allah juga ingin agar kita semakin taat dan juga mampu membagikan kasih dan pengampunan yang telah kita peroleh dengan tulus kepada sesama.
       
    Sahabat, pengalaman bangsa Israel semoga menjadi pelajaran berharga bagi kita.  Mari kita belajar untuk menghargai betapa besar kasih Tuhan kepada kita.  Mengertilah bahwa apabila persoalan atau kesesakan datang menimpa hidup kita, itu bukan berarti Tuhan tidak mengasihi kita.  Tuhan ingin melalui  proses hidup,   kita dapat kembali mengingat kasih dan kebaikan-Nya.  Mungkin selama ini kita telah melangkah jauh dari hadapan-Nya, dan melalui masalah dan penderitaan yang kita alami,  tali kasih Tuhan ingin menarik dan mengait hati kita untuk kembai bersimpuh di hadapan kaki-Nya untuk menerima kembali pemulihan dari Tuhan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang orang degil?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Bukalah hati pada Allah agar kita menjadi seperti yang Ia inginkan dan kita dimampukan mengasihi dengan setulus hati.

  • KALAU BUKAN TUHAN

    Hari ini saya mengajak Saudara untuk belajar dari kitab Mazmur dengan topik: “Kalau Bukan Tuhan”. Bacaan renungan saya ambil dari Mazmur 127:1-5. Bacaan kita pada hari ini dibuka dengan: “Jikalau bukan TUHAN yang membangun rumah, sia-sialah usaha orang yang membangunnya; jikalau bukan TUHAN yang mengawal kota, sia-sialah pengawal berjaga-jaga.” (Ayat 1)

    Saudara, nas kita mau  mengatakan:  Membangun apa pun, rumah, keluarga, bahkan kota tanpa melibatkan dan mengandalkan Tuhan bisa sia-sia alias gagal.

    Ada banyak contoh:  Pertama, tenggelamnya kapal Titanic yang tadinya dibanggakan sebagai “kapal yang tak terkalahkan”, bahkan salah  seorang awak kapal  membanggakan kapalnya di hadapan penumpang dengan berkata: “Bahkan, Tuhan sendiri tidak mampu menenggelamkan kapal ini.” Ternyata di luar dugaan ada perubahan iklim dan suhu sehingga arus laut  menggeser arah dan kecepatan gunung es yang ditabraknya. Kedua, meledaknya pesawat Challenger STS-51 pada detik ke 73 peluncuran ke angkasa setinggi 14 KM dari bumi. Ketiga, hancurnya gedung WTC di New York yang mengorbankan 3.000 jiwa dalam hitungan menit.

    Mungkin kita sudah berdoa,  tetapi ingat kita tidak boleh mengandalkan manusia dan canggihnya teknologi. Bahkan dikatakan dalam Yeremia 17:5-8,  “Terkutuklah orang yang mengandalkan manusia, yang mengandalkan kekuatannya sendiri, dan yang hatinya menjauh dari pada TUHAN! Ia akan seperti semak bulus di padang belantara, ia tidak akan mengalami datangnya keadaan baik; ia akan tinggal di tanah angus di padang gurun, di negeri padang asin yang tidak berpenduduk. Diberkatilah orang yang mengandalkan TUHAN, yang menaruh harapannya pada TUHAN! Ia akan seperti pohon yang ditanam di tepi air, yang merambatkan akar-akarnya ke tepi batang air, dan yang tidak mengalami datangnya panas terik, yang daunnya tetap hijau, yang tidak kuatir dalam tahun kering, dan yang tidak berhenti menghasilkan buah.”

    Saudara,  di balik musibah Challenger itu ada seorang astronaut perempuan, Sharon Christa McAuliffe, seorang guru asal Concord, New Hampshire, Amerika Serikat yang bersyukur. Ia sukses menyingkirkan lebih dari 11.000 pelamar program NASA Teacher dan lolos melampaui banyak tes,  tetapi entah mengapa tiba-tiba dibatalkan.  Tadinya ia sangat kecewa  dan marah, karena ia sudah banyak berdoa dan yakin. Ia menangis sedih dan konseling pada ayahnya yang menghibur dia dengan berkata: “Tidak apa, kalau kamu sudah berdoa tetapi Tuhan mengizinkan ini terjadi, artinya Allah yang mahatahui, mengerti  bahwa itu yang terbaik bagimu.”

    Walaupun dengan marah, kecewa dan sedih ia tetap datang menyaksikan peluncuran Challenger, dan apa yang terjadi 73 detik kemudian pesawat itu meledak dan menewaskan semua astronautnya, hancur berkeping-keping. Amerika dan dunia berduka; tetapi dia bersyukur dan minta ampun, karena  ingat dan mengerti kata-kata ayahnya:  “Kalau engkau sudah melibatkan Tuhan tetapi hal itu yang terjadi, percayalah pasti ada maksud Tuhan yang terbaik bagimu.” Sharon terselamatkan dan hidup, kesaksiannya telah menjadi berkat bagi banyak orang.

    Saudara, selanjutnya saya mengajak untuk membaca  dari Ibrani 3:3-5, “Sebab Ia (Yesus) dipandang layak mendapat kemuliaan lebih besar dari pada Musa, sama seperti ahli bangunan lebih dihormati dari pada rumah yang dibangunnya. Sebab setiap rumah dibangun oleh seorang ahli bangunan, tetapi ahli bangunan segala sesuatu ialah Allah. Dan Musa memang setia dalam segenap rumah Allah sebagai pelayan untuk memberi kesaksian tentang apa yang akan diberitakan kemudian, …”

    Ternyata, Yesus ialah Arsitek Agung yang melebihi hebatnya sebuah bangunan dan kota, melebih Musa, YESUS-lah  yang harus kita ANDALKAN. Belajar dari murid-murid Yesus, mari kita tidak lupa, mengundang  Yesus masuk dalam perahu kehidupan kita, walaupun nampaknya tidur tetapi Ia Tuhan, tidak tinggal diam tetapi bertindak pada saatnya pada waktu badai dan gelombang menerjang (Matius 8:23-27).

    Maka tidak heran rasul Paulus yang kita kenal sebagai rasul yang hebat, dengan kerendahan hati menyimpulkan sebagai berikut: Sebab segala sesuatu adalah dari Dia, dan oleh Dia, dan kepada Dia: Bagi Dialah kemuliaan sampai selama-lamanya! (Roma 11:36). (Ach).

  • TULUSKAH AKU?

    Saudaraku,  ego manusia selalu menyusup dalam tindakan-tindakan yang nampaknya tulus dan baik.  Apa yang nampaknya memperjuangkan banyak orang, ternyata selalu ada sisipan ego di dalamnya.  Tetap manusia berusaha untuk memperjuangkan dirinya sendiri.  Yesus berhadapan dengan manusia-manusia seperti ini selama Ia ada di dunia dan sikap yang diambil-Nya untuk merespons ego manusia, sungguh menarik.  Mari renungkan Matius 20:20-28 .

    Tidak ada yang menyangka kalau Bu Zebedeus akan menghadap Yesus demi memperjuangkan kedua anaknya.  Kalau melihat hubungan kekerabatan, Yesus memang masih sepupu Yohanes dan Yakobus.  Agaknya Yohanes dan Yakobus memakai kuasa ibunya yang adalah bibi Yesus untuk memperoleh apa yang dianggapnya sangat penting, yaitu kedudukan tinggi dalam kerajaan surga.  Harapan mereka adalah Yesus segan pada bibinya dan mau mengabulkan permintaannya, yang sebenarnya adalah ambisi Yohanes dan Yakobus sendiri.  Kesepuluh murid marah saat mendengar perbuatan kedua bersaudara itu.  Namun dibalik kemarahan mereka ada hal yang menarik untuk direnungkan:

    1. Alasan mereka marah kepada Yohanes dan Yakobus.

    Kalau saudara berpikir bahwa para murid gusar karena memandang buruk ambisi Yohanes dan Yakobus, dugaan itu tidak sepenuhnya benar.  Pada pasal  18:1-5 para murid sudah mempertengkarkan mengenai siapa yang terbesar diantara mereka, sehingga bisa dipastikan kedua belas orang itu memiliki tujuan yang sama.  Mereka marah karena Yohanes dan Yakobus mengambil langkah cepat dengan memanfaatkan hubungan kekerabatan dengan Yesus sehingga khawatir  kalau Yesus akan menyerahkan otoritas pada kedua sepupu-Nya.  Kemarahan mereka bukan karena ketidak adilan, namun karena ego mereka dilangkahi oleh kawan mereka sendiri.  Mereka takut tidak mendapat jatah menjadi pemimpin dalam kerajaan surga.

    • Sikap Yesus terhadap kemarahan mereka.

    Yesus memaklumi kemarahan mereka, namun tidak menurunkan standar mengenai siapa yang berhak menjadi penguasa kerajaan surga.  Yesus tetap bersikukuh bahwa siapa yang terbesar, ia harus menjadi pelayan dari semuanya. Yesus tegas mengatakan bahwa apapun jenis hubungan dengan-Nya, siapapun yang menjadi pelayan maka dialah yang layak dihargai dalam kerajaan Allah. Maka Yesus menegur kesepuluh murid itu agar menghentikan kegusaran kepada Yohanes dan Yakobus.

    Betapa sering seorang berusaha menyembunyikan agenda yang sesugguhnya dibalik sikap yang nampaknya benar.  Seakan membela orang lain namun sebenarnya memperjuangkan diri sendiri.  Yesus tahu benar apa yang ada di hati manusia, maka tidak perlu untuk bersikap munafik.  Yesus tidak akan menurunkan standar hanya karena sikap ego yang dibungkus dengan tindakan rohani yang nampaknya benar.  Yesus tidak dapat dibohongi dengan kamuflase rohani. 

    Oleh karena itu mari belajar menguji hati sebelum merespons sesuatu: Apakah ini murni untuk kebaikan bersama atau hanya memperjuangkan ego sendiri.  Yesus menginginkan umat-Nya tulus dan belajar untuk hidup sesuai dengan kehendak-Nya.  Mari belajar untuk hidup dalam ketulusan sehingga Tuhan makin berkenan.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • MERASA SEMPURNA

    Saudaraku, kadang kala perasaan manusia bisa keliru karena ukuran yang dipakai seseorang untuk melakukan sesuatu kadang masih kurang sesuai dengan apa yang diharapkan orang lain.  Mari belajar dari anak muda yang berdialog dengan Yesus dalam Matius 19:16–23.

    Rasa rindu untuk menerima kehidupan kekal, mendorong seorang konglomerat muda datang kepada Yesus.  Ia merasa sudah mematuhi semua aturan dan layak untuk mendapatkan hidup kekal.  Namun jawaban Yesus memaksanya mengevaluasi kembali keinginannya: 

    1. Diminta untuk menjual semua miliknya.

    Menjual milik menunjukkan totalitas untuk melepaskan apa yang menjadi gantungan dan jaminan kehidupannya.  Sebagai seorang yang sudah kaya sejak muda, hal ini merupakan tantangan besar untuknya. Yesus memintanya untuk melepaskan ketergantungan pada penghidupannya.

    • Memberikan  semua uang hasil menjual propertinya kepada orang miskin

    Melengkapi kesempurnaan untuk mendapat hidup kekal, Yesus menantangnya untuk mau  memberikan hasil penjualan kekayaannya kepada orang miskin, yang tidak akan pernah bisa mengganti pemberiannya.  Murni charity, bukan investasi.  Pemuda itu ditantang untuk berani melepaskan kenyamanan dan jaminan duniawinya.

    • Datang dan  mengikut Yesus

    Meninggalkan keluarga, circle-nya,  harta dan pekerjaannya  untuk mengikut Yesus adalah tantangan terakhir yang terberat.  Pemuda itu ditantang untuk mengalihkan fokus dari diri sendiri, kepada Yesus saja.  Mengikut Yesus berarti meninggalkan kenyamanan dan hidup bergantung kepada-Nya.

    Sang pemuda terkulai lemas karena ia ternyata tak sesempurna perkiraannya.  Terlalu sulit untuk melepaskan kenyamanannya untuk bergantung sepenuhnya kepada Yesus.  Ia memang sudah melakukan hukum Taurat, namun ia belum bisa melepaskan diri dari ketergantungan terhadap miliknya. 

    Saudaraku, dari dialog ini dapat disimpulkan bahwa ukuran kesempurnaan menurut Yesus adalah keberanian seseorang menggantungkan diri kepada-Nya sepenuhnya.  Bukan berarti bahwa Yesus ingin memiskinkan orang, namun lebih meminta sesorang berani untuk memberikan diri sepenuh hati kepada-Nya.  Manusia bisa saja melakukan hukum secara lahiriah dan merasa sudah melakukan semua kewajiban namun Allah menginginkan keseluruhan  fokus hidup manusia.  Kehidupan kekal didapat bila manusia berani menyerahkan hidup kepada Sang Kekal.  Semua hukum dan aturan Firman bisa  dilakukan dan diikuti namun akan menjadi sempurna bila manusia menyertakan seluruh hatinya dan berani mengorbankan diri untuk bergantung kepada Allah. Mari terus berjuang menuju kepada kesempurnaan.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • Looking for God

    MENCARI TUHAN. Mencari Tuhan merupakan sebuah keputusan penting bagi orang percaya, terlebih saat kita berada dalam situasi-situasi yang sulit. Ketika jalan yang kita tempuh terbentur tembok yang tebal, sedangkan berbagai upaya telah kita lakukan dan kesemuanya berujung kepada kegagalan, tiada jalan lain selain kita harus datang kepada Tuhan dan mencari wajah-Nya. Mencari Tuhan berarti menyadari akan keterbatasan dan ketidakberdayaan kita, lalu dengan penuh kerendahan hati mencari-Nya. Mencari Tuhan juga berarti berharap dan mengandalkan Dia saja.

    Mengapa kita harus mencari Tuhan? Karena Dia adalah sumber pertolongan sejati. Sementara segala hal yang ada di dunia ini tidak bisa memberikan jawaban dan jaminan yang pasti bagi kita. Karena itu jangan sekali-kali kita menggantungkan harapan pada  kekayaan, jabatan, pengalaman, kepintaran atau jaringan, semuanya adalah sia-sia. Gantungkan harapan sepenuhnya kepada Tuhan sebab Dia selalu punya jalan ajaib untuk menolong kita. Dia tidak pernah kehabisan cara melepaskan kita dari berbagai masalah. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hosea dengan topik: “Looking for God (Mencari Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Hosea 10:1-15. Sahabat, keadaan yang baik, makmur, sejahtera, penghasilan besar, sehat, kuat, pintar, dan kaya dapat membuat orang melupakan Tuhan.

    Bacaan kita pada hari ini diawali dengan kehebatan dan kemuliaan Israel. Israel digambarkan sebagai pohon anggur yang terus bertumbuh bertambah besar. Buah yang dihasilkannya juga banyak oleh karena tanahnya subur. Namun, hati mereka licik. Semakin diberkati, mereka semakin menjauh dari Allah. Kian menjamurnya mezbah dan tugu berhala adalah indikatornya. Perjanjian mereka hanyalah bualan dan sumpah dusta (Ayat 1 dan  4).

    Maka Hosea mengingatkan bangsa Israel bahwa sudah waktunya untuk mencari Tuhan. Sebab, mereka sudah terlalu banyak berbuat dosa di hadapan Allah. Sekalipun sudah diperingatkan, mereka tetap saja melakukan kefasikan, kecurangan, kebohongan, dan mengandalkan kekuatan sendiri. Padahal, peringatan ini bertujuan agar mereka tidak dihancurkan, diremukkan, dan dilenyapkan.

    Umat Tuhan digambarkan dengan dua persamaan. Pertama, sebagai anak lembu yang mengirik dan membajak tanah agar menjadi gembur. Kedua, sebagai pemilik tanah yang harus menyisir dan membersihkan tanah agar mudah dituai (Ayat 11).

    Hal tersebut mengingatkan kita pada Matius 11:29 yang berkata: “Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan.” Kuk biasanya dipasang pada hewan lembu. Tujuannya agar petani mudah mengendalikan lembu tersebut saat membajak tanah. Artinya, kuk menggiring seekor hewan agar taat pada si pengendali, yaitu petani.

    Tuhan melatih umat-Nya untuk menjadi taat. Namun, mereka justru merawat kefasikan, yaitu sikap tidak peduli pada perintah Tuhan. Tuhan mendidik umat-Nya agar jujur, adil, dan tulus. Faktanya, mereka malah terbiasa curang. Tuhan melatih umat agar kelak memanen buah kebenaran. Sebaliknya, mereka justru memanen buah kebohongan dan kepalsuan.

    Ajakan untuk mencari Tuhan adalah seruan untuk kembali pada maksud dan rencana Tuhan dengan menaati-Nya. Dalam hal ini, jika menabur dengan keadilan dan kasih, kita pun akan menuai kebaikan.

    Sahabat, dosa menghancurkan semua kemuliaan. Semua kemuliaan yang dibangun dari dosa juga akan bernasib sama. Keduanya bukanlah pilihan bagi kita. Pilihan kita: Carilah Tuhan.  Pilihan kita hanyalah berjalan dalam kebenaran Tuhan, mencari kerajaan dan kebenaran-Nya! Hal lainnya Allah tambahkan menurut kehendak-Nya (Matius 6:33). Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Matius 6:33?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Marilah kita selalu mencari Tuhan! Salah satu caranya adalah dengan membaca dan melakukan firman-Nya. (pg)

  • Ritual Without Spirituality

    SPIRITUALITAS. Dari Ensiklopedia Dunia saya mendapat informasi bahwa kata spiritual berasal dari bahasa Latin spiritus yang berarti:  Nafas, kehidupan, dan roh. Spiritual berhubungan dengan keseluruhan hidup manusia yang didasari atas realitas yang utama, dan diselaraskan dengan keberadaan dimensi rohani (baik secara fisik juga hal yang terpancar dalam tindakan keseharian). Dalam kekristenan, hal ini diartikan pneumatikos, yang berarti gambaran seseorang yang dipimpin oleh pneuma (Roh) Tuhan.

    Spiritualitas kristiani adalah cara hidup kekristenan yang merupakan ibadah dan pengembangan hubungan dengan Yesus sebagai poros kerohanian. Artinya spiritualitas kristiani merupakan hasil relasi antara manusia dengan Tuhan, yang kemudian diwujudkan dalam cara hidup keseharian orang Kristen yang meneladani  Kristus.

    Spiritualitas mencakup roh, jiwa, semangat  juga gairah, yang tidak dapat dipungkiri harus dijadikan sebagai prioritas utama. Sebuah organisasi gereja dengan segala kelengkapannya yang bersifat kebutuhan jasmani seperti tempat ibadah, perlengkapan yang canggih, pembicara yang hebat, ataupun kegiatan rohani pendukung lainnya, tetapi jika tanpa spiritualitas yaitu roh, jiwa, semangat dan gairah, maka semuanya itu akan terasa sebagai rutinitas aktifitas gerejawi saja.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hosea dengan topik: “Ritual Without Spirituality (Ritual Tanpa Spiritualitas)”. Bacaan Sabda diambil dari Hosea 9:1-9. Sahabat,  spiritualitas yang digadaikan. Itulah yang sering kita lihat terjadi dalam kehidupan masyarakat di sekitar kita. Orang-orang menggunakan agama untuk berbagai kepentingan pribadi, mulai dari urusan politik sampai pada urusan bisnis. Lalu, apakah masih ada nilai spiritualitas dalam perilaku mereka tersebut?

    Dalam Hosea  2:10, Hosea telah menubuatkan bahwa Allah akan menghentikan segala perayaan hari-hari raya keagamaan Israel. Tidak akan ada lagi sukacita dan sorak-sorai perayaan. Nubuat tersebut tergenapi saat Israel sedang merayakan hari raya Pondok Daun. Perayaan tersebut untuk memperingati perjalanan hidup mereka selama di padang gurun, memperbarui perjanjian dengan Allah, dan bersyukur untuk hasil panen yang diperoleh.

    Di tengah perayaan itulah, Hosea berkata: “Janganlah bersukacita… ! Janganlah bersorak-sorak… !” (Ayat 1). Ada dua alasan dia berkata demikian. Pertama, hasil panen itu diperoleh dari ritual sinkretisme. Artinya, mereka tidak pantas bersukacita untuk sesuatu yang tidak berkenan bagi Allah. Kedua, karena mereka akan dibuang ke tanah asing. Saat itu, mereka tidak akan dapat merayakan perayaan itu lagi (Ayat 3-5).

    Sayangnya, Israel tidak mengerti peringatan tersebut. Mereka malah menuduhnya sebagai seorang pandir (bodoh) dan gila. Mereka merasa paling tahu apa yang menyenangkan hati Allah. Padahal, mereka hanya menjalankan ritual demi ritual ibadah kosong.

    Sahabat, terjebak dalam ritual keagamaan bisa membuat ibadah kita kehilangan makna karena kita hanya memusatkan diri pada tata caranya, bukan esensinya. Ritual dapat menarik perhatian kita kepada berkat, bukan kepada Allah, Sang Sumber berkat. Akhirnya, ritual meminggirkan Allah dari pusat ibadah itu sendiri. Itulah ritual tanpa spiritualitas.

    Maka bersyukurlah jika kita tidak terjebak pada rutinitas ritual ibadah yang terkadang bisa menjemukan. Pusat ibadah kita adalah Allah. Mari kita berbenah dengan membangun spiritualitas berdasarkan cinta kasih Allah! Setialah dalam menjalani komitmen kita dan tempatkanlah Allah di hati kita sebagai yang utama dan satu-satunya! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang Spiritualitas Kristen?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: . Tuhan bersukacita dan bersorak sorai ketika melihat kita taat, setia dan mengasihi-Nya.  (pg).

  • The Consequences Against Torah

    TORAH. Dari “Got Questions” saya mendapat informasi bahwa Torah adalah istilah Ibrani yang berarti “mengajar.” Torah merujuk kepada kelima kitab Musa di dalam KItab Perjanjian Lama (Kejadian, Keluaran, Imamat, Bilangan, dan Ulangan). Torah ditulis pada tahun 1400 S.M. Menurut tradisi, Torah dituliskan tangan di atas gulungan oleh seorang “sofer” (juru tulis Taurat). Jenis dokumen ini disebut sebagai “Sefer Torah.” Torah modern dalam bentuk buku dijuluki “Chumash”.

    Kelima kitab Torah menjadi dasar dari ajaran Yudaisme sejak zaman Musa. Penulis Alkitab yang menyusul, seperti Samuel, Daud, Yesaya, dan Daniel, sering merujuk kepada ajaran Hukum. Ajaran Torah seringkali dirangkum melalui bacaan Ulangan 6:4-5, yang dijuluki Shema (atau “dengar”): “Dengarlah, hai orang Israel: TUHAN itu Allah kita, TUHAN itu esa! Kasihilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu.” Yesus menjuluki ini sebagai “hukum yang terutama dan yang pertama” (Matius 22:36-38).

    Torah ini diakui sebagai Firman Allah yang terilhami baik oleh umat Yahudi dan umat Kristen. Bedanya, umat Kristen mengakui Yesus Kristus sebagai penggenapan nubuat Mesianik dan percaya bahwa Hukum telah digenapkan oleh Kristus. Yesus mengajar, “Janganlah kamu menyangka, bahwa Aku datang untuk meniadakan hukum Taurat atau kitab para nabi. Aku datang bukan untuk meniadakannya, melainkan untuk menggenapinya” (Matius 5:17).

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hosea dengan topik: “The Consequences Against  Torah (Akibat Melawan Torah)”. Bacaan Sabda diambil dari Hosea 8:1-14. Sahabat, Torah sangat penting bagi orang Israel. Torah menjelaskan identitas dan alasan mereka dipilih dari antara segala bangsa. Torah memberikan batas-batas dalam kehidupan agama, sosial masyarakat, dan politik bangsa Israel. Singkatnya, Torah menetapkan cara hidup bangsa Israel.

    Hal itu terlihat jelas dari perjalanan Israel yang kita baca dalam bacaan kita pada hari ini. Ketika para imam tidak lagi mengajarkan Torah, bangsa Israel tidak lagi mengenal Allah. Mereka menjadi liar dan hidup semau mereka sendiri. Mereka mengangkat raja dan pemuka tanpa persetujuan Allah (Ayat 4). Padahal, Ia telah mengatur agar orang Israel mengangkat raja sesuai dengan kehendak-Nya. Intrik politik bangsa-bangsa kafir mereka jalankan untuk mempertahankan kekuasaan. 

    Mereka membuat patung, mendirikan mazbah, dan menjalankan ritual bangsa kafir (Ayat 4-6, 11-13). Padahal, Torah melarang keras tindakan itu. Mereka telah melupakan Allah yang menciptakan mereka, melupakan Dia yang membebaskan mereka dari Mesir. Sikap mereka ini adalah tindakan melawan pengajaran.

    Hukuman bagi orang yang melawan Allah juga telah diatur dalam Torah. Hukuman itu akan segera terjadi menimpa Israel. Api yang menghanguskan melambangkan murka Allah yang akan datang melalui peperangan yang akan menghanguskan dan memusnahkan setiap kota hingga istana raja. 

    Upaya politik dan ritual keagamaan sekalipun tidak akan menghindarkan mereka dari kehancuran. Mereka menjadi bangsa yang terbuang di antara bangsa-bangsa. Seruan dan kurban persembahan mereka pun akan ditolak oleh Allah, sehingga apa pun yang mereka lakukan akan menjadi percuma.

    Firman Tuhan bertujuan untuk menuntun kita kepada keselamatan yang hanya ada di dalam Kristus Yesus. Firman-Nya bermanfaat untuk mengajar, menyatakan kesalahan, memperbaiki kelakukan, dan mendidik orang dalam kebenaran (2 Timotius 3:16). Melawan firman itu berarti membawa diri sendiri ke dalam kesusahan dan penghukuman yang sangat berat, jauh dari apa yang dapat kita bayangkan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang Torah?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Barangkali ada di antara Sahabat yang sedang dalam kelemahan dan menghadapi pergumulan dengan dosa yang mengikatmu. Datanglah dan mohonlah kemurahan Allah agar Sahabat dilepaskan dari jeratan si iblis dan kuasa dosa yang mau membinasakan jiwamu. Kasih karunia-Nya tersedia untuk menyelamatkanmu. (pg)

  • Don’t Be An Ignorant

    ORANG BEBAL. Siapa yang mau disebut atau dijuluki sebagai orang bebal?  Saya yakin hampir tidak ada  orang yang mau. Kemungkinan besar ia akan marah besar dan tersinggung bila dikatakan sebagai orang bebal, sebab berbicara tentang orang bebal selalu mengacu kepada orang yang sepertinya tidak dapat berubah lagi hidupnya, hatinya sangat keras  (membatu)  karena tidak mau menerima nasihat dan teguran. 

    Sahabat, orang bebal adalah orang yang tidak mau dan sulit menerima nasihat dan teguran dari firman Tuhan atau pun dari sesamanya.  Ia selalu merasa diri sebagai orang yang benar dan tidak pernah melakukan suatu kesalahan, karena itu ia mencari berbagai alasan untuk selalu membenarkan diri sendiri dan merasa tidak perlu dinasihati dan diajar oleh orang lain. 

    Ia menganggap yang harus berubah itu orang lain, bukan dirinya.  Orang bebal adalah orang yang tidak pernah mau belajar dari pengalaman, sehingga ia berkali-kali melakukan kesalahan yang sama, tapi tidak pernah disadari atau pura-pura tidak sadar.  Pengamsal menyatakan,  “Seperti anjing kembali ke muntahnya, demikianlah orang bebal yang mengulangi kebodohannya.”  (Amsal 26:11). 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hosea dengan topik: “Don’t Be An Ignorant (Jangan Jadi Orang Bebal)”. Bacaan Sabda diambil dari Hosea 7:3-16. Sahabat, sungguh mengesalkan ketika harus berhadapan dengan orang yang tidak pernah mau mengindahkan teguran. Menghadapi orang seperti itu bisa-bisa kita kehabisan kesabaran hingga harus marah.

    Orang Bebal! Itulah kata yang tepat untuk menggambarkan Israel dalam bacaan kita pada hari ini. Mereka diumpamakan seperti merpati tolol dan tidak berakal (Ayat 11). Mengapa? Kitab 2 Raja-raja 15-17 menuliskan bahwa para raja Israel berafiliasi dengan bangsa-bangsa sekitarnya untuk menjaga stabilitas politik. Menahem membayar upeti ke Asyur agar tidak diserang. Pekah, karena tidak mau membayar upeti, diserang sehingga kehilangan setengah kerajaannya. Hosea, raja terakhir, semula takluk kepada Asyur tetapi berafiliasi ke Mesir. Akhirnya, Asyur menaklukkan kerajaan Israel seluruhnya.

    Sesungguhnya, kebodohan mereka adalah “tidak ada seorang di antara mereka yang berseru kepada Tuhan” (Ayat 7). Mereka congkak karena percaya pada pengertian sendiri (Ayat 10; bdk. Amsal 20:28). Satu-satunya jalan keselamatan mereka ada pada Allah. Namun, bukannya mencari Allah dan berbalik kepada-Nya, mereka justru menjauh dari-Nya. 

    Mereka memberontak dan berdusta kepada Allah. Mereka benar-benar tidak berpengetahuan. Mereka tidak tahu bahwa Allah mau menebus mereka. Mereka bahkan berdusta terhadap Allah. Alhasil, mereka hancur dalam kebodohan. Semua pemimpin agama dan politik tewas karena ucapan mereka yang kasar. Karena kekalahan itu, mereka menjadi bahan olok-olok di Mesir.

    Dari pihak Allah, Dialah yang mengendalikan setiap peristiwa, termasuk kekalahan Israel. Kehancuran ini adalah bentuk hukuman-Nya atas ketidaksetiaan Israel terhadap perjanjian dengan Allah. Sekalipun Allah sudah menegur, mereka tetap mengeraskan hati.

    Sahabat, apa yang terjadi pada Israel memberi kita pelajaran untuk tidak menjadi orang bebal. Mengandalkan apa pun yang bukan Allah adalah kejahatan di mata-Nya. Itu akan menghancurkan kita juga. Percayalah kepada Allah yang berdaulat melakukan segala sesuatu dan dengarkanlah setiap teguran-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang orang bebal?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Dosa tidak bisa ditutupi dengan perbuatan baik bagaimanapun. Dosa harus dibereskan; tidak ada dosa seberat apa pun yang tidak diampuni Allah bila kita datang kepada Allah dan minta ampun. (pg).

  • Restoring the Lost Love

    PERAN SEORANG IMAM. Sahabat, seorang imam bertanggung jawab untuk memberikan pengajaran sehingga umat Tuhan tidak binasa dan dapat mengenal Allah. Tetapi sungguh ironis, sebab pada kenyataannya, para imam tidak mampu melakukan fungsinya dengan baik pada zaman nabi Hosea. Para imam menolak pengenalan akan Allah, dan karenanya mereka gagal menuntun umat Allah. Akibat kegagalan itu pun juga sangat mengejutkan, tidak saja Allah menolak para imam tetapi juga melupakan anak-anak mereka.

    Hal tersebut setidaknya memberikan peringatan betapa pentingnya bagi kita untuk selalu bersikap rendah hati. Sebagai seorang imam, kita masih perlu pengajaran-pengajaran firman Tuhan yang akan mengajar kita menjadi seorang yang mengenal Tuhan. Rendah hati ketika ditegur akibat kesalahan yang kita buat, jujur mengakui kesalahan, terbuka dan sabar saat dikritik, dan sebagainya. Jika kita seorang yang mengenal Allah dengan benar, maka kita dapat menjalankan tugas keimaman dengan benar.

    Sahabat, kasus kegagalan para imam dalam kitab Hosea terjadi dalam suatu bangsa. Bila hal itu terjadi dalam sebuah keluarga, apa akibatnya? Siapakah imam dalam keluarga? Bukankah ia adalah ayah (suami) yang dibantu oleh seorang istri? Jika kita gagal menjalankan keimaman dalam keluarga dan tidak bertanggung jawab memberikan pengajaran yang benar kepada anak-anak kita, maka anak-anak pasti berjalan ke arah yang salah. Sesungguhnya sukacita terbesar saat melihat anak-anak kita hidup dalam kebenaran Allah dan tidak dilupakan-Nya. Semoga setiap imam sekaligus sebagai ayah menyadari betapa penting dan sentral peranannya.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hosea dengan topik: “Restoring the Lost Love (Memulihkan Kasih yang Telah Hilang)”. Bacaan Sabda diambil dari Hosea 4:1-18 dengan penekanan pada ayat 6.  Sahabat,  Tuhan sangat berduka ketika cinta kasih menghilang dari tengah kehidupan umat yang dikasihi-Nya. Itulah yang dialami bangsa Israel. Mereka adalah umat yang sangat dikasihi-Nya, tetapi justru tega mengingkari perjanjian.

    Orang-orang yang sejatinya bisa diandalkan untuk merawat perjanjian kasih karunia malah berkhianat, yaitu para imam dan nabi. Mereka tidak menjalankan tugas sesuai dengan panggilannya. Mereka seharusnya mewartakan kasih Tuhan dengan segala kebenaran, kesetiaan, dan keadilan-Nya. Kenyataannya, mereka malah lebih mengutamakan materi. Ironisnya, mereka malah memelopori untuk menolak pengenalan akan Allah. Dengan terang-terangan, mereka malah berselingkuh dengan ilah lain (Ayat 12-14, 17).

    Sahabat, dalam keadaan seperti itu, cinta kasih berubah menjadi kemurkaan. Ini tampak melalui kisah penghukuman Allah terhadap umat yang meninggalkan-Nya. Hati Allah kian sakit ketika umat-Nya lari kepada para penenung dan berhala di Kanaan (Ayat 12, 13). Mereka mempersembahkan kurban di puncak-puncak gunung dan di atas bukit-bukit. Bahkan, mereka melaksanakannya dengan gembira. Ini tanda bahwa umat kesayangan Tuhan itu lebih mencintai kehinaan daripada Allah sendiri.

    Mereka seolah tidak tahu, jika meninggalkan Allah berarti berjalan menuju kebinasaan. Mereka tidak sadar, dengan tindakan itu, malapetaka sedang mendekat. Allah dapat mencabut kemuliaan mereka sebagai umat yang disayangi dan membuat mereka terhina dengan menjadikan mereka sebagai bangsa tawanan.

    Sahabat, lalu bagaimana supaya kasih tidak menghilang dalam kehidupan bersama atau memulihkan kembali kasih yang telah hilang? Pertama, kita harus mengenal Allah, sebab Allah adalah pribadi yang penuh kasih, yang mencintai keadilan, dan kebenaran sehingga akan mendatangkan keyakinan dan keteguhan hati. Kedua, kita harus tinggal dekat dengan Allah. Dengan demikianlah, kasih-Nya akan terjaga dalam persekutuan yang intim dengan Allah. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 6?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Pengenalan Akan Tuhan Merupakan Pilar Penting Kehidupan Iman Orang Percaya. (pg)