Category: Sejenak Merenung

  • Love and Punishment

    KASIH DAN HUKUMAN. Sahabat, bapak Ev. Andreas Christanday, Ketua Pembina Yayasan Christopherus sering menyampaikan  ungkapan: “Anda dapat memberi tanpa mengasihi, tetapi Anda tidak dapat mengasihi tanpa memberi”? Saya setuju dan mengamini pernyataan tersebut karena itu merupakan kenyataan hidup yang kita hadapi  dalam kehidupan kita sehari-hari. 

    Kasih kerap kali diidentikkan dengan tindakan memberi. Pemahaman tersebut tidak keliru, hanya kurang lengkap, karena kasih bisa juga diwujudkan dalam bentuk hukuman. Tujuannya, supaya orang yang dikasihi menyadari kesalahannya.

    Sahabat, dalam kehidupan bermasyarakat, saya sering menerima pertanyaan, “Jika Tuhan mengasihi, mengapa Dia menghukum?” Itulah beda mengasihi dan mengasihani. Jika hidup kita mesti mengalami masa yang sesak, ingatlah: Tuhan sedang mendidik kita. Dia ingin supaya kita belajar untuk menjadi dewasa. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hosea dengan topik: “Love and Punishment (Kasih dan Hukuman)”. Bacaan Sabda diambil dari Hosea 5:8 – 6:6 dengan penekanan pada Hosea 6:1. Sahabat, jika ada orang yang berpura-pura meminta ampun kepada kita atas kesalahannya, dan kita tahu hal itu, apakah kita mau memaafkannya? Jika ada orang yang bersikap manis hanya agar hukuman tidak dijatuhkan kepadanya, lalu setelah itu ia akan berbuat kesalahan yang sama, bagaimana sikap kita?  

    Nabi Hosea menyampaikan seruan kasih dan hukuman Tuhan kepada umat Israel yang pada saat itu hidup dalam penyembahan berhala dan kefasikan. Digambarkan di sini, Efraim terserang penyakit dan Yehuda terserang bisul. Bukannya berlari kepada Tuhan, mereka malah ke Asyur, minta penyembuhan kepada Raja ‘Agung’ (5:13). Akibat ketidaksetiaannya, mereka menerima hukuman yang tidak ringan: Tuhan “menerkam” dan “memukul” mereka (6:1). 

    Tuhan menghendaki umat pilihan hidup setia dan percaya kepada Pribadi dan kuasa-Nya, bukan kepada berhala atau ilah lain. Tuhan menghukum supaya hidup umat pilihan kembali seturut perintah-Nya. Dalam hukuman terselip kasih Tuhan kepada Israel. Siapa pun yang berbalik; mengaku salah dan mencari wajah-Nya (5:15) akan Dia pulihkan, Dia “sembuhkan” dan “balut” (6:1) serta Dia “hidupkan” (6:2).

    Kita meyakini bahwa Tuhan mengasihi kita. Namun, saat kita membelakangi Tuhan, kasih-Nya kerap kali dinyatakan melalui penghukuman. Hukuman menjadi sarana Tuhan mendisiplin kita. Bagaimanakah respons kita saat menerima disiplin dari Tuhan? 

    Sahabat, bersyukurlah untuk kasih-Nya. Jangan mengeraskan hati. Kini saatnya berbalik, mengaku bersalah, dan kembali mencari wajah-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Hosea 5:15?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Menegur yang salah bukan karena kita membenci. Itu karena kita mengasihinya, seperti Tuhan mengasihi kita, Dia pasti menegur jika kita berbuat salah. (pg).

  • KAYA DALAM KEMURAHAN

    Hari ini saya mengajak Saudara untuk belajar dari 2 Korintus 8:1-5 dengan topik: ”Kaya Dalam Kemurahan”.  Hati saya tersentuh waktu cucu saya ditanya temannya: “Kamu kaya. ya? ” Lalu dia menjawab dengan bijaksana: “Bukan, kami tidak kaya tetapi diberkati Tuhan”. 

    Pernyataan cucu saya itu benar, karena kaya itu relatif, karena ada orang kaya yang selalu merasa kurang dan pelit, tetapi sebaliknya ada orang yang  “kaya dalam kemurahan” karena ia seperti Yesus dan Paulus, rela miskin demi memperkaya orang lain: “Karena kamu telah mengenal kasih karunia Tuhan kita Yesus Kristus, bahwa Ia, yang oleh karena kamu menjadi miskin, sekalipun Ia kaya, supaya kamu menjadi kaya oleh karena kemiskinan-Nya.” (2 Korintus 8:9).

    Saudara, ada orang kaya yang jadi pelit karena ia berpikir dulu ia sangat miskin dan susah sekali mendapat uang; tetapi ada orang kaya yang malah dermawan karena ia berempati, tahu rasanya menjadi orang miskin  yang tersingkirkan dan terhina. Ia ingin membahagiakan orang lain dan dengan demikian ia bahagia. Itulah yang disebut rasul Paulus “Kaya dalam kemurahan”,  “Selagi dicobai dengan berat dalam pelbagai penderitaan, sukacita mereka meluap dan meskipun mereka sangat miskin, namun mereka kaya dalam kemurahan.” (2 Korintus 8:2).

    Saat itu menjadi Kristen berarti siap miskin, siap berdiaspora bahkan mati sahid karena dikejar-kejar, tapi dipuji Paulus karena mereka memberi sesuai kemampuan mereka bahkan melampaui kekuatan mereka. Apa rahasianya?

    Pertama, karena mereka pertama-tama memberi diri mereka kepada Tuhan, ya ini logis karena yang memiliki kekayaan dan uang adalah dirinya, kalau dirinya saja diserahkan apalagi harta bendanya. Selesai persekutuan dokter Wilson tergerak memberi secuil kertas didalamnya tertulis Imamat 3:3, kepada seorang pengusaha kaya yang gemuk, “Kemudian dari korban keselamatan itu ia harus mempersembahkan lemak yang menyelubungi isi perut, dan segala lemak yang melekat pada isi perut itu sebagai korban api-apian bagi TUHAN, …”

    Sesampainya di rumah ayat itu dibaca, dan Roh Kudus bekerja, Orang kaya yang gemuk itu tidak tersinggung, malah bertelut dan menangis berdoa “Tuhan aku sudah merasa memberi ini itu untuk pekerjaan-Mu tapi belum pernah aku memberikan diriku sendiri, malam ini terimalah diriku sebagai korban yang kudus dan Engkau perkenan …” 

    Kedua, karena sukacita mereka meluap menyadari betapa mahalnya pengorbanan Kristus yang telah menebus mereka. Ada satu kata lagi yang menarik dalam ayat 2 Korintus 8:4 mereka saling meminta dan mendesak untuk memberi dalam pelayanan kasih, karena itu adalah satu anugerah dan kehormatan, luar biasa, “Dengan kerelaan sendiri mereka meminta dan mendesak kepada kami, supaya mereka juga beroleh kasih karunia untuk mengambil bagian dalam pelayanan kepada orang-orang kudus.”

    Saya jadi ingat apa yang baru saja saya lihat Kamis lalu di Rumah Makan, seorang teman selesai Persekutuan Doa Kamis Pagi, mengajak makan bersama. Selesai makan waktu ia mau membayar ternyata sudah ada teman yang lebih dahulu diam-diam menitip uang di kasir, mereka berebut untuk membayar, akhirnya uang dikembalikan dan teman saya yang mengajak tadi yang membayar. 

    Itulah yang dimaksud Paulus “mereka meminta dan mendesak”  Saya yang saat ini sedang dibebani Panitia Renovasi untuk membagikan proposal penggalangan dana untuk renovasi gedung kantor pusat Yayasan Christopherus, berpikir: “Wah alangkah indahnya kalau semua anak Tuhan sensitif dan tergerak sendiri berebut untuk memberi seperti itu, tidak perlu proposal.”

    Tetapi dalam konteks pelayanan kasih juga tidak salah sharing, walaupun uang memang bukan segala-galanya tetapi segalanya perlu uang baik untuk sinode, gereja, bisnis maupun keluarga, bahkan tiap saat dan tiap hari.

    Saudara, dalam 2 Korintus 8 yang menjadi bacaan kita,  rasul Paulus juga tidak segan-segan untuk curhat dan sharing tentang uang, karena apa pun yang dikuduskan bagi Tuhan adalah hal yang rohani. Maka saya pun tidak malu berbicara tentang uang karena ini bukan untuk Tuhan, Tuhan sudah punya segalanya dan bukan untuk saya, tetapi untuk pekerjaan-Nya dan ujung-ujungnya yang menikmati adalah manusia juga.

    Maka rasul Paulus menutup dengan kalimat yang terdapat pada ayat 12-15: Sebab jika kamu rela untuk memberi, maka pemberianmu akan diterima, kalau pemberianmu itu berdasarkan apa yang ada padamu, bukan berdasarkan apa yang tidak ada padamu.  Sebab kamu dibebani bukanlah supaya orang-orang lain mendapat keringanan, tetapi supaya ada keseimbangan. Maka hendaklah sekarang ini kelebihan kamu mencukupkan kekurangan mereka, agar kelebihan mereka kemudian mencukupkan kekurangan kamu, supaya ada keseimbangan.  Seperti ada tertulis: “Orang yang mengumpulkan banyak, tidak kelebihan dan orang yang mengumpulkan sedikit, tidak kekurangan.”  (ACh). 

  • Knowing GOD Completely

    MENGENAL TUHAN. Sahabat, ada sebuah ungkapan lama yang  mengatakan, “Tak kenal, maka tak sayang.” Artinya, proses mengenal menjadi sesuatu yang sangat penting. Hanya lewat pengenalan sebuah relasi menjadi berkualitas. Hal itu ditandai dengan munculnya rasa sayang.

    Dalam diri setiap orang percaya sering kali ada kerinduan untuk mengenal Tuhan lebih dalam lagi seiring pengenalan-Nya akan Kristus. Namun sayangnya, tak jarang pengenalan yang diharapkan itu cenderung terfokus pada hal-hal yang baik, lewat kenyamanan hidup atau doa-doa yang dijawab sesuai keinginan. Padahal, ada sisi lain dari pengenalan akan Tuhan  yang dapat kita pelajari dalam perjalanan kita mengiring-Nya.

    Ada cukup banyak orang orang percaya yang  merasa dirinya sudah mengenal Tuhan dengan baik. Itu dibuktikan dengan dia rajin beribadah dan terlibat dalam pelayanan. Padahal itu tidak menjamin  sepenuhnya seseorang memiliki pengenalan yang benar akan Tuhan.  Yang dimaksud  mengenal  bukanlah sekadar tahu, tapi lebih dari itu, yaitu memiliki hati yang melekat pada Tuhan, dan ada persekutuan yang karib dengan-Nya yang terjadi secara terus-menerus.  Bila hanya sekadar tahu saja, maka orang tidak akan tahu isi hati-Nya.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hosea dengan topik: “Knowing God Completely (Mengenal Tuhan  Seutuhnya)” . Bacaan Sabda diambil dari Hosea 2:1-22. Sahabat, ternyata untuk mencapai relasi yang berkualitas tidak selalu mudah. Itulah yang dialami umat Israel pada zaman nabi Hosea. Umat Israel justru lebih mengenal dewa Kanaan, yaitu Baal (Ayat 4, 6).

    Parahnya,  mereka beranggapan bahwa kelimpahan hasil pertanian dan peternakan berasal dari dewa itu. Akibatnya, umat Israel tidak dapat merasakan kasih sayang Tuhan. Padahal, Tuhan selalu digambarkan sebagai Suami yang setia.

    Sahabat, Tuhan pun menghukum mereka dengan mengambil semua berkat yang diberikan kepada umat Israel (Ayat 8-12). Penghukuman dimaksudkan agar Israel sadar bahwa Tuhan adalah satu-satunya sumber kelimpahan. Untunglah, Tuhan berkenan untuk memulihkan kembali hubungan-Nya dengan bangsa Israel seperti sedia kala (Ayat 15, 17-19).

    Setiap orang beriman tidak bisa mengabaikan proses mengenal Tuhan. Melalui proses tersebut, orang dapat merasakan kasih dan sayang-Nya yang abadi. Dengan demikian, relasi kita dengan-Nya menjadi makin berkualitas.

    Sahabat, siapakah Tuhan yang layak dikenali untuk disayangi itu? Tuhan yang dalam Alkitab dipahami sebagai Yang Mahakuasa atau omnipotent dan Mahatahu atau omniscient. Tuhan yang penuh kasih, tetapi tidak segan untuk menghukum jika umat-Nya berbuat dosa. Tuhan mengenal betul setiap umat-Nya, apa yang diperbuat, baik atau buruk.

    Ketika Tuhan menghukum, walau tampak kejam, tindakan-Nya bertujuan agar umat yang dikasihi itu benar-benar mengenal-Nya secara mendalam, sehingga kasih sayang-Nya akan abadi bersemayam di dalam hati. Sementara itu, pengenalan selalu muncul lewat pengalaman. Dengan berbagai pengalaman bersama Tuhan itu, tidak ada alasan bagi umat yang dikasihi-Nya untuk tidak mengenal tindakan Tuhan yang penuh belas kasih.

    Oleh karena itu marilah kita semakin bersungguh-sungguh di dalam Tuhan, lebih dan lebih lagi.  Mengenal Tuhan berarti mengerti isi hati-Nya, mengerti kehendak-Nya, mengerti rencana-Nya, menyelaraskan setiap langkah hidup seturut dengan firman-Nya, serta berusaha untuk tidak menyakiti atau mengecewakan Tuhan dengan ketidaktaatan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang  Sahabat pahami dari ayat 15?

    Mari sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Dalam masa hidup yang paling kelam  sekali pun, pengenalan akan Tuhan dapat bertumbuh jika kita merespons kehidupan dengan tepat. (pg).

  • A Filled Longing Search

    BAHASA KASIH TUHAN. Sahabat, ada saatnya kata-kata sudah tak mempan lagi. Ucapan tak bertuah lagi. Ludah telah berbuih di bibir, namun tetap tak mengubah apa pun. Tuhan memakai nabi Hosea untuk berbicara atas nama Diri-Nya. Namun, bangsa Israel rupanya sudah tak peduli pada ucapan sang nabi. Itu sebabnya diperlukan “bahasa” kenabian yang lain, bukan lagi perkataan melainkan tindakan kenabian. Tindakan simbolis yang bagi kita aneh, namun pada zaman Hosea sungguh tajam pesannya. Sang nabi harus mencintai dan menikahi seorang pelacur, sebagai gambaran bagaimana hati TUHAN terhadap Israel.

    Tuhan itu Sang Komunikator Agung. Walau kita sering mengabaikan firman-Nya, Dia tak pernah kehilangan cara untuk berbicara kepada kita. Melalui: Dirus hujan,  ngopi bareng,  aroma kembang, insiden kebetulan, lukisan di dinding, mimpi, dorongan hati yang kuat, celoteh seorang anak, tembang kenangan, dan lain-lain. Apa saja dapat Tuhan pakai sebagai pembawa kabar dari-Nya. Demi mencapai kita, bahasa kasih Tuhan mampu bergema melalui sejuta wahana.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Hosea dengan topik: “A Filled Longing Search (Pencarian yang Penuh Kerinduan)”. Bacaan Sabda diambil dari Hosea 3:1-5 dengan penekanan pada ayat 1. Sahabat, salah satu alasan yang sering dipakai dalam perceraian adalah terjadinya perselingkuhan. Apalagi bila salah seorang dari pasangan tersebut telah melakukannya berulang-ulang dan tanpa penyesalan. Upaya rujuk dan menerima kembali menjadi hal yang amat sangat sulit. Dibutuhkan kasih yang sangat dalam dan luas untuk menerima pasangan yang seperti itu. Kasih yang semacam itu rasanya memang sukar ditemukan.

    Sahabat, relasi suami istri itu unik, karena mereka telah menjadi satu daging. Ini alasannya, penulis Alkitab sering merujuk sebagai gambaran hubungan Tuhan dengan umat-Nya. Bahasa Jawa punya istilah yang sangat tepat untuk melukiskan relasi unik tersebut: Sigaraning nyawa, artinya separuh jiwa. Masing-masing kehilangan separuh jiwa sehingga mereka saling mencari dengan balutan rasa rindu.

    Sahabat, begitulah Kitab Suci melukiskan hubungan Tuhan dengan umat-Nya bagaikan relasi suami istri. Sayangnya, Israel berkhianat dengan mencederai kesetiaan-Nya, seperti yang dilakukan Gomer, istri Hosea yang berselingkuh. Sebenarnya, wajar kalau Hosea menceraikan Gomer. Namun, Hosea justru bertindak sebaliknya. Bukannya menceraikan, Hosea malah mencari dan menebus Gomer. Hosea membeli kembali Gomer dengan harga 15 syikal perak dan satu setengah homer jelai (Ayat 2). Suatu tindakan yang sangat tidak lazim.

    Kemungkinan, Gomer dibeli atau ditebus dari seorang majikan yang mempekerjakannya sebagai pelacur bakti. Pada zaman itu, jenis pelacuran seperti itu sangat marak. Tujuannya untuk merangsang kegiatan dewi kesuburan dalam menurunkan hujan.

    Jadi, pelacuran semacam itu memiliki rantai kegiatan bisnis yang saling terkait. Pelacuran berbungkus agama berpadu mesra dengan kepentingan ekonomi. Akibatnya, tindakan untuk mengeluarkan Gomer dari situasi demikian menjadi tidak mudah. Ada harga mahal yang harus dibayar oleh Hosea.

    Penebusan yang dilakukan Hosea menunjukkan dalamnya cinta kasihnya kepada Gomer. Berapa pun harganya akan dibayar. Cinta Hosea ini melukiskan cinta Tuhan kepada Israel, yaitu cinta tanpa syarat yang menebus dan menyelamatkan. Cinta yang tidak pernah pudar walau diwarnai perselingkuhan.

    Sahabat, cinta tanpa syarat ini pantas kita renungkan. Buah perenungannya harus membawa kita berbalik dan mencari Tuhan. Pencarian yang penuh dengan kerinduan, bagaikan istri yang menginginkan suaminya berada di sampingnya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang bahasa kasih Tuhan?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kasih yang Dia tunjukkan dan kesempatan yang Dia berikan sepatutnya kita syukuri dan kita manfaatkan untuk memperbaiki diri. (pg).

  • ANAK KECIL

    Saudaraku,  kehidupan masa kecil selalu dirindukan oleh orang dewasa.  Masa kecil adalah masa yang murni dan masa merdeka yang sejati yang jauh dari ambisi.  Betapa indahnya masa kecil.  Mari sedikit bernostalgia sekaligus merenung. Renungan akan diambil Matius 18:1-5.

    Yesus menyatakan keprihatinan dengan pertanyaan khas orang dewasa yang sangat mementingkan otoritas.  Menyadari sisi ke-Mesias-an Yesus membuat para murid mulai memikirkan dan berhitung dengan masa depannya.  Investasi waktu untuk mengikut Yesus mulai dipikirkan dengan imbalan yang akan mereka terima kelak.  Tidak perlu muluk, hanya janji tentang masa depan saja sudah cukup bagi mereka.  Namun Yesus  justru menempelak mereka dengan jawaban yang bertolak belakang dengan harapan mereka.

    Ada beberapa hal yang bisa direnungkan dari jawaban Yesus terhadap pertanyaan para murid :

    1. Menjadi seorang anak kecil

    Seorang anak pada masa itu hidup murni dan tidak memiliki ambisi selain bermain dan menikmati masa kecilnya semaksimal mungkin. Mereka bersukacita dalam masa kecilnya.  Kedudukan dan penghormatan jauh dari pemikiran mereka.  Seorang anak tumbuh dalam sukacita karena menerima perlindungan dari orang dewasa di sekitarnya.  Menjadi seorang anak menjadi syarat untuk masuk kerajaan surga, menjadi jawaban yang menohok. 

    Yesus meminta mereka menjadi pengikut-Nya yang penuh sukacita menjalani masa belajarnya dan  mempercayakan diri pada Kristus sepenuhnya.  Mereka perlu membatasi apa yang mereka pikirkan, karena masa depan mereka ada di tangan Kristus.  Jalani saja masa belajar dengan Kristus dengan gembira dan penuh penyerahan kepada-Nya. 

    • Merendahkan diri untuk menjadi yang terbesar

    Lebih lanjut lagi Yesus menekankan bahwa untuk menjadi yang terbesar mereka harus merendahkan diri.   Kata merendahkan diri bukan berarti mereka menjadi lugu dan polos.  Merendahkan diri berarti memilih untuk tidak membanggakan diri walaupun mereka memiliki semua yang layak untuk dibanggakan.  Mereka memilih untuk bersukacita belajar dengan Kristus makin matang dan dewasa dalam iman dibandingkan menerima rasa kagum dari orang lain.  Menyangkal diri dan memilih untuk belajar dengan Kristus itulah yang terbesar dalam Kerajaan Surga.

    Saudaraku, saat ini adalah  Zaman dimana orang makin mengejar harga diri dan penghargaan untuk dirinya termasuk dalam pertumbuhan imannya.  Namun mari kembali memikirkan beberapa hal:

    1. Untuk siapa saya menjadi pengikut Kristus ?
    2. Pemberian apa yang saya harapkan dari Kristus saat saya sudah menjadi pengikut-Nya?
    3. Masihkah keberhasilan menjadi kebanggaan buat saya?

    Ingatlah untuk menjadi anggota Kerajaan Surga, seorang harus mengikuti proses yang sudah dikatakan Yesus.  Ambisi, keinginan dan kepentingan perlu ditundukkan dengan otoritas Kristus dan ambillah sukacita untuk menjadi bekal untuk belajar tentang kehidupan kepada-Nya.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • The Fruit of Obedience

    NABI HOSEA. Sahabat, bagaimana respons kita seandainya berada dalam posisi nabi Hosea? Ia diperintahkan Allah untuk mengawini Gomer, si perempuan sundal (Hosea 1:2-3). Lalu, ketika Gomer lari darinya untuk berzinah dengan lelaki lain, dan akhirnya dijual sebagai budak, Hosea harus menebusnya kembali dan membawanya pulang (Hosea 3:1-3). 

    Terhadap anak-anak yang dilahirkan Gomer untuknya, Hosea harus memberikan nama yang berkonotasi buruk. Bagi putra sulung: “Yizreel” (Allah menabur). Menabur berkat? Bukan. Sama sekali bukan. Bukan berkat yang Dia tabur, melainkan amarah-Nya kepada bani Israel karena dosa Yehu dan keturunannya, para raja Israel Utara (Hosea 1:4,  2 Raja-Raja 10:29, 31).

    Bagi putri kedua: “Lo-Ruhama” (Tiada belas kasih). Allah berhenti menyayangi umat-Nya? Tidak juga. Sebab, setelah menghukum Israel, Dia akan kembali mengasihi mereka meskipun mereka berulang kali melawan Dia (Hosea 1:10-12, 2:21-22, dan 11:8-9).

    Bagi putra bungsu: “Lo-Ami” (Bukan umat-Ku). Bagaimana jika Allah memutuskan perjanjian-Nya dengan umat-Nya? Adakah hukuman yang lebih mengerikan selain terpisah dari Dia, seperti yang pernah dialami Yesus di kayu salib (Matius 27:46)? 

    Kehidupan Hosea memang amat tragis. Sangat sulit sekali untuk dipahami mengapa Allah menyuruhnya menjalani kepahitan seperti itu. Bagi banyak orang, mungkin ia dianggap gagal. Tetapi, bagi Allah, ia hamba yang taat, yang telah berhasil menjadikan hidupnya sebagai lambang kasih Allah yang abadi pada manusia yang cenderung memberontak.

    Hari ini kita akan mulai belajar dari kitab Hosea dengan topik: “The Fruit of Obedience (Buah Ketaatan)”. Bacaan Sabda diambil dari Hosea 1:10 -12. Sahabat, menjadi taat tidak selalu mudah. Namun, Hosea berhasil menunjukkan ketaatan dan berbuah berkat. Berkat itu tidak hanya secara personal, tetapi juga nasional. Pasalnya, bangsa Israel pun mendapatkan janji keselamatannya kembali. Itu semua tak lepas dari Hosea yang memilih taat kepada Tuhan, walau ia harus menderita.

    Hosea, sebagai seorang nabi, harus menjadi suami dari perempuan sundal. Ia menjadi ayah Yizreel, Lo-Ruhama dan Lo-Ami. Ketiganya adalah anak-anak sundal. Syukur kepada Allah, pengorbanan Hosea tidak sia-sia. Cahaya pengharapan bagi Israel pun terbit bak fajar di pagi hari.

    Sahabat, sebelumnya, Tuhan menolak Israel. Namun, setelah itu mereka disebut sebagai “anak-anak Allah yang hidup” (Ayat 10). Allah juga mengatakan bahwa kelak mereka akan menjadi bertambah banyak jumlahnya. Lebih mengagumkan lagi, orang Yehuda dan Israel, yaitu dua kerajaan yang telah terpecah itu akan bersatu kembali di bawah satu pimpinan (Ayat 11).

    Sahabat, kemasyhuran Israel dan Yehuda pun dinyatakan kepada Hosea. Firman Tuhan menegaskan supaya Hosea menyebut saudara-saudaranya laki-laki dengan “Ami!”, artinya “bangsa”. Sementara, panggilan kepada saudara-saudaranya perempuan adalah “Ruhama!”, artinya “kasih” (Ayat 12).

    Ketaatan Hosea kepada Tuhan dengan segala pengorbanan dan keberaniannya layak untuk kita renungkan. Ketaatan kepada Tuhan memerlukan keberanian, kerelaan, ketekunan, pengorbanan, dan keinginan untuk memuliakan Allah.

    Melalui kisah Hosea, kita menjadi mengerti alasan Tuhan meminta ketaatan dari umat-Nya. Tuhan tidak pernah mengecewakan umat yang taat kepada-Nya. Memang untuk menjadi taat, kita tidak serta-merta mendapatkan kemudahan. Satu prinsip yang perlu kita pegang erat-erat:  Tidak ada pengorbanan yang mudah.

    Sahabat, kalau serba gampang, itu bukan pengorbanan. Nilai pengorbanan justru sering terletak pada tingkat kesulitan yang dihadapi. Namun saat kita memilih untuk menjadikan ketaatan sebagai bagian penting dalam hidup kita, maka ketaatan tersebut akan berbuahkan kebaikan. Yakinlah! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dengan istilah: “Pengorbanan”?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Ketaatan pada Tuhan lebih penting daripada keberhasilan hidup. (pg).

  • RESPONS SESAAT

    Saudaraku, respons bisa menjadi ukuran seberapa dalam dan seberapa penting  pengaruh sebuah pesan yang didengar seseorang.  Mari renungkan respons para murid Kristus tentang nubuatan-Nya sebagaimana yang tersurat dalam Matius 17:22-23.

    Tanggapan  berbeda para murid saat mendengar pemberitaan kedua tentang penderitaan Kristus, sungguh menarik. Kalau dalam pemberitahuan pertama direspons dengan agresif terutama oleh Petrus, yang kedua tidak ada tanggapan yang menyolok.  Para murid tidak lagi mengekspresikan keterkejutan secara eksplisit.  Bila dilihat kisah paralel dari cerita ini dalam Markus 9:30-32 ataupun Lukas 9:43-45, maka diketahui bahwa respons para murid memang tidak heboh dan bahkan cenderung takut mempertanyakan. 

    Menariknya, dari ketiga Injil Sinoptis itu sama-sama memberikan narasi bahwa setelah menanggapi dengan pasif, tidak ada sikap nyata dari pesan yang penting ini.  Matius sendiri hanya menuliskan perasaan para murid dengan dua kata: Sedih sekali.  Seakan pesan ini hanya dikisahkan dan direspons sambil lalu dan segera dilupakan karena banyak kegiatan perjalanan, mukjizat dan pengajaran yang Yesus lakukan.  Matius menceritakan respons yang hanya sebatas sedih namun jauh dari perenungan dan refleksi.  Hasilnya terbukti dalam kisah paskah yang menuliskan betapa gagapnya para murid saat Yesus ditangkap, diadili dan dieksekusi.  Hal itu menunjukkan bahwa pemberitaan tentang pemderitan yang berkali-kali disampaikan tidak dipahami.  Setelah bangkit, Yesus bahkan sampai harus menemui mereka berkali-kali untuk memberi pengertian ekstra agar para murid paham misi-Nya datang ke dunia.

    Saudaraku, saat ini Firman Tuhan bukanlah sesuatu yang mahal.  Media sosial dan gawai mempermudah dan membantu orang Kristen mendengarkan renungan dan khotbah dari para pengkhotbah pilihannya.  Responsnya pun beragam, ada yang terharu atau mengangguk-angguk mantap ataupun memuji isi khotbah setelah mendengarnya.

    Namun kesibukan yang luar biasa membuat orang Kristen tidak memiliki waktu untuk memikirkan Firman itu dengan sungguh.  Memang respons yang baik belum tentu membuat firman mampu mengubah orang tersebut.  Semua  tergantung dari sejauh mana seorang Kristen mampu mengolah dan menerapkan firman itu dalam kehidupannya sesehari. Firman perlu untuk direnungkan dan dipahami  agar menghasilkan buah (Mazmur 1:2), yaitu sikap dan kehidupan yang sesuai dengan jalan Firman itu. 

    Bila proses perenungan Firman diabaikan, maka apa yang terjadi pada para murid Yesus itu akan terulang kembali dalam kehidupan orang-orang percaya:  TERGAGAP SAAT MENGHADAPI MASA SULIT.

    Dalam perumpamaan tentang penabur, salah satu gambaran yang disampaikan Yesus adalah biji yang jatuh di tanah yang berduri dan berbatu (Matius 13:5-6).  Mereka tumbuh sesaat saja karena tidak tahan uji dan tidak berakar dalam.  Pesan Firman gagal memengaruhi kehidupan pendengarnya secara permanen karena tidak ada waktu untuk memikirkan kembali, mengolah dan memahami Firman itu.

    Mari sediakan waktu untuk merenungkan Firman Tuhan sehingga firman berguna dan efektif untuk menjadi penuntun dalam kehidupan secara permanen.  Beri waktu untuk memikirkan, memperbincangkan dan bahkan mempertanyakan firman itu sehingga ia benar-benar menjadi solusi bagi orang percaya dalam dunia yang menuju kepada kesudahan.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • The Defeated Pride

    Kitab Obaja. Dari Wikipedia saya mendapat informasi bahwa kitab Obaja merupakan salah satu kitab yang termasuk dalam kelompok kitab-kitab kenabian dan khususnya dalam kelompok nabi-nabi kecil pada Perjanjian Lama di dalam Alkitab Kristen.

    Nama kitab ini merujuk pada tokoh utama kitab ini, yaitu Obaja, seorang nabi Yahudi yang diperkirakan hidup jauh setelah pembuangan ke Babel,  tepatnya pada abad ke-5 SM saat Yudea menjadi provinsi di bawah Kekaisaran Persia Akhemeniyah.

    Nama Obaja sendiri merupakan serapan dari kata dalam bahasa Ibrani: עֹבַדְיָה‎ (Obadyah), yang diperkirakan merupakan gabungan dari kata עֶבֶד (eved, har. “hamba, budak, pemuja”) dan nama Allah יה (Yah). Oleh karena itu, nama tersebut kemungkinan berarti “hamba Yahwe” atau “pemuja Yahweh”.

    Kitab Obaja menceritakan mengenai relasi Israel dengan Edom dan mengenai Hari Tuhan, Secara garis besar, kitab Obaja menyampaikan pesan mengenai pembalasan Allah kepada bangsa Edom atas apa yang telah mereka lakukan terhadap orang Yehuda. Dalam kitab Obaja terdapat tema-tema yang juga ada dalam kitab nabi-nabi lainnya seperti penghukuman Allah bagi musuh-musuh Israel, hari Tuhan, kerajaan Allah, teologi Sion,  kepemilikan tanah Israel,  dan hukum pembalasan Allah. Dengan demikian, tema utama dari kitab ini adalah pembalasan kepada bangsa Edom. Tema seperti ini juga terdapat dalam kitab: Amos, Yesaya,  Yeremia, dan  Yehezkiel.

    Kitab Obaja adalah kitab yang cukup singkat hanya berisi 1 pasal  dengan 21 ayat saja. Pesan yang disampaikan dari kitab ini juga disampaikan ke dalam struktur organisasional yang bersifat kompleks. Pesan ini dapat dibagi menjadi dua bagian utama yaitu pada ayat 1-15 dan 16-21.

    Bagian pertama pada dasarnya membahas mengenai penghakiman YHWH terhadap Edom dan bagian kedua berbicara mengenai keselamatan bagi bangsa Israel dan Sion. Kedua bagian ini juga saling bertumpang tindih pada ayat ke-15. Superskripsi yang cukup singkat ini (Terdapat pada Obaja 1:1) mengenai penglihatan Obaja tidak memperlihatkan era yang spesifik.

    Hari ini kita akan belajar dari kitab Obaja yang hanya terdiri dari satu pasal saja. Kita akan belajar dari kitab Obaja dengan tema: “The Defeated Pride (Keangkuhan yang Dikalahkan)”. Bacaan Sabda diambil dari Obaja 1:1-16. Sahabat, Edom, keturunan Esau, dikenal sebagai bangsa yang bijaksana, kuat, dan kejam. Mereka tinggal di wilayah yang subur. Kota mereka berada di ketinggian pegunungan yang dikelilingi bukit batu dan jurang terjal, menjadikannya sulit dijangkau musuh. Semua keunggulan itu menunjang keangkuhannya sampai Edom berkata, “Siapakah yang sanggup menurunkan aku ke bumi?” (Ayat 3).

    Keangkuhan Edom dilukiskan oleh Nabi Obaja sebagai saudara yang menertawakan Yerusalem saat orang asing menjajah dan melakukan kekerasan (Ayat 10, 11). Edom bersukacita atas kesusahan saudaranya, menari-nari dan bersorak-sorai di atas penderitaan (Ayat 12), bahkan ikut menambah kemalangan dan kesusahan atas keturunan Yakub (Ayat 13, 14). Edom berdiri dalam keangkuhan seakan-akan dirinya yang tertinggi di seluruh dunia.

    Sahabat, ketinggian hati Edom menantang Allah sehingga Allah menunjukkan kehadiran dan kuasa-Nya (Ayat 2, 4, dan  8). Kata “Janganlah …” (Ayat 12-14) diserukan berulang kali sebagai peringatan Allah karena “hari TUHAN” (Ayat 15), yakni hari penghakiman telah dekat. Pada hari itu Edom tidak akan bisa mengagungkan dirinya lagi. Perbuatan Edom akan kembali menimpa kepalanya sendiri.

    Allah tak tinggal diam ketika umat-Nya ditertawakan, direndahkan, dan diperlakukan tidak adil. Allah tidak menutup mata terhadap detail kehidupan umat-Nya. Ia membalaskan karena Ia berkuasa atas penghakiman dan penghukuman.

    Sahabat, keangkuhan penting diwaspadai! Bukan bangsa Edom semata yang pernah terjebak ke dalam keangkuhan hati. Setiap kita bisa terjebak di dalamnya; menertawakan kesusahan orang lain, menganggap diri lebih unggul, meremehkan upaya orang lain bahkan menyepelekannya, atau bertepuk tangan saat orang lain menderita. Obaja mengingatkan: Janganlah demikian!

    Atau sebaliknya, bisa jadi kita yang direndahkan, disepelekan, atau ditertawakan karena ketidakmampuan dan ketidakberhasilan kita. Ingatlah bahwa Tuhan tidak menutup mata. Ia mengulurkan tangan-Nya, menolong yang tertindas. Tuhan itu adil, ditundukkan-Nya siapa saja yang meninggikan diri, tetapi sebaliknya, diangkat-Nya siapa pun yang direndahkan orang. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenungan dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 3?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: “Keangkuhan merendahkan orang, tetapi orang yang rendah hati, menerima pujian.”  (Amsal 29:23)

  • Salvation for God’s Peoples

    PANGGILAN TUHAN. Apa panggilan Tuhan untuk kita pada saat ini? Waktu  terus bergulir dengan cepat. Ketahuilah saat ini kita sedang berada dalam hitungan mundur menuju akhir zaman. Layaknya seorang pelari di lintasan lomba, kita ini sudah berada di putaran terakhir perlombaan, tinggal selangkah lagi mencapai garis finis. Kinilah saatnya untuk menanggalkan segala sesuatu yang akan merintangi kecepatan lari kita dan meneruskan perlombaan yang diwajibkan bagi kita  dan dan berlari-lari kepada tujuan untuk memperoleh hadiah, yaitu panggilan surgawi dari Allah dalam Kristus Yesus (Ibrani 12:1 dan Filipi 3:14).

    Sahabat, apa yang selama ini merintangi sehingga kita tidak melakukan apa yang menjadi kehendak Tuhan? Apa yang merintangi sehingga kita tidak mampu menjangkau orang-orang yang Tuhan perintahkan untuk kita jangkau? Seringkali karena beban, penderitaan, berbagai alasan, kita menunda-nunda dan menangguhkan panggilan Tuhan dalam hidup kita, padahal Tuhan telah memberikan kepada kita kesempatan dan juga kemampuan. Bukan saatnya berhenti dari perlombaan, atau selalu menuding orang lain serta mencari-cari kesalahannya guna menghindari panggilan Tuhan.

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita tiba pada bagian akhir dari kitab Yoel. Hari ini kita akan belajar dari kitab Yoel dengan topik: “Salvation for God’s Peoples (Keselamatan Bagi Umat Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Yoel 3:1-21. Sahabat, tema “Hari Tuhan” dalam pasal-pasal sebelumnya terus berlanjut sampai dengan pasal terakhir dari  kitab Yoel ini. Hari Tuhan menjadi hari keselamatan bagi Yehuda dan Yerusalem dan hari penghukuman bagi musuh-musuh umat Allah. Hari Tuhan di sini menunjuk kepada hari penghakiman akhir di mana kemenangan final ada di pihak Allah, namun jalan kepada kemenangan itu telah mulai terbuka melalui kematian dan kebangkitan Kristus.

    Umat Allah dalam Perjanjian Lama beroleh penghiburan yang besar melalui firman-Nya yang disampaikan nabi Yoel ini. Mereka yang tertindas diyakinkan bahwa Allah ada di pihak mereka. Dia akan membalikkan keadaan dengan menghukum musuh-musuh yang menindas mereka (Ayat 4 dan 7).

    Musuh-musuh umat Allah akan dikumpulkan ke lembah Yosafat (Ayat 2 dan 12). Tempat ini lebih merupakan sebuah simbol penghakiman (Yosafat berarti:  Yahweh telah menghakimi) daripada sebuah lokasi geografis yang nyata. Di sana, Allah akan mengadili bangsa-bangsa yang telah menindas umat-Nya dengan membongkar kejahatan mereka serta mengumumkan vonis-Nya pada mereka (Ayat 2-8). Sebaliknya, Allah akan memulihkan keadaan umat-Nya yang kepayahan karena penindasan bangsa-bangsa asing dan karena tulah belalang (Ayat 1, dan 9-21).

    Sahabat, mereka yang mendengar pemberitaan nabi Yoel dikuatkan oleh janji bahwa Tuhan adalah tempat perlindungan bagi umat-Nya, benteng yang kokoh bagi mereka yang berlindung pada-Nya (Ayat 16). Sekalipun kondisi mereka masih dalam kesulitan, mereka memperoleh pengharapan bahwa Allah tidak pernah meninggalkan mereka yang telah bertobat. Tujuan akhir dari tindakan penyelamatan Allah ini adalah agar Yehuda dan Yerusalem melihat kehadiran Allah di tengah umat-Nya (Ayat 17 dan 21).

    Keseluruhan kitab Yoel mengingatkan kita tentang kesetiaan Allah kepada umat-Nya. Tidak pernah ada suatu bahaya apa pun yang bisa menghancurkan umat-Nya karena Allah ada di pihak mereka. Apa yang penting adalah bahwa umat Allah harus hidup dalam kekudusan karena kehadiran Allah yang kudus di tengah mereka.

    Sahabat, segenap janji tentang hari Tuhan digenapi melalui apa yang telah dikerjakan oleh Tuhan Yesus dalam kedatangan-Nya yang pertama ke dunia. Kemenangan puncak Allah atas semua musuh-Nya akan dinyatakan pada hari kedatangan Kristus yang kedua kalinya kelak. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dengan istilah “umat-Ku, milik-Ku, tanah-Ku, perak-Ku, emas-Ku, dan barang-barang-Ku” di ayat 2 dan 5?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Menjelang akhir zaman Tuhan menghendaki gereja-Nya dipenuhi orang-orang yang berkemenangan dan bermental pahlawan, bukan orang-orang yang kalah, lemah dan mudah tergoncang karena keadaan dunia saat ini. (pg).

  • A CERTAINTY

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yoel dengan topik: “A CERTAINTY (Sebuah Kepastian). Bacaan Sabda diambil dari Yoel 2:28-32. Sahabat,  nabi Yoel menubuatkan tentang suatu hari. Hari itu disebut sebagai Hari Tuhan. Imajinasi kita agak sulit membayangkan keadaan pada hari itu karena Nabi Yoel melukiskan kondisi saat itu dengan kontradiksi yang tajam. Ia memberitakan kabar suka cita dan duka nestapa datang bersamaan.

    Sahabat, di satu sisi,  Yoel memberitakan kabar gembira. Ia mengatakan bahwa Allah akan mencurahkan Roh ke atas manusia (Ayat 28). Roh itu akan memenuhi manusia tanpa memandang sekat usia dan gender. Strata sosial dipukul rata. Para hamba (budak) akan mendapatkan juga curahan Roh itu (Ayat 29).

    Yoel menubuatkan sebuah dunia yang penuh kesetaraan. Allah berjanji akan mencurahkan Roh-Nya ke atas orang-orang yang menyerukan nama-Nya. Mereka, tua dan muda, orang merdeka dan hamba, laki-laki dan perempuan, akan menerima Roh Allah. Mereka akan bernubuat, mendapat mimpi dan penglihatan (Ayat 28-29).

    Apa maksudnya? Sebelumnya, Roh Allah diberikan kepada orang-orang pilihan dan yang diurapi-Nya. Mereka adalah raja, imam, dan nabi. Tujuannya untuk menyatakan maksud dan berkat-Nya kepada manusia.

    Namun, saat Hari Tuhan tiba, Allah menyatakan maksud dan rencana-Nya kepada orang yang berseru kepada-Nya. Roh Allah akan dicurahkan kepada semua orang sehingga mereka semua akan menjadi pembawa pesan Allah, akan mendapat penglihatan-penglihatan dan karunia-karunia rohani. Pada waktu itu, tanpa pembedaan jenis kelamin, usia, dan bangsa, semua orang akan menerima karunia rohani yang berbeda untuk tiap-tiap orang menurut kehendak Allah (Ayat 28).

    Sahabat, di sisi yang lain, Yoel juga menggambarkan sebuah kengerian tak terperikan. Darah, api, dan gumpalan asap menjadi corak pertama saat hari Tuhan itu tiba (Ayat 30). Alam menunjukkan paras mengerikan. Matahari padam dan bulan berwarna merah darah (Ayat 31).

    Selain itu, Hari Tuhan juga akan memisahkan orang-orang yang akan diselamatkan dari orang-orang yang akan dibinasakan. Hanya mereka yang berseru atau percaya kepada Tuhan yang akan menerima keselamatan dan diluputkan dari dahsyatnya hari itu yang digambarkan dengan darah, api, gumpalan asap, dan kegelapan (Ayat 30-32).

    Imajinasi kita mungkin sulit memahaminya. Para teolog berlomba-lomba menafsir nubuat ini. Namun, tak seorang pun dari mereka mampu menawarkan jawaban yang memuaskan. Kita hanya disodorkan dengan ragam spekulasi. Hal tersebut wajar karena Yoel menyampaikan nubuatnya dengan aneka simbol. Akibatnya, teks ini pun menjadi sangat multitafsir.

    Walaupun demikian, Yoel memberi kita satu pengharapan mutlak. Siapa pun yang berseru kepada TUHAN akan diselamatkan (Ayat 32). Apa pun kondisi dan situasi yang terjadi kelak, Allah adalah panji keselamatan (Jehova Nissi). Ini adalah kebenaran yang tak bisa diganggu gugat.

    Petrus mengutip nubuat ucapan Nabi Yoel ini dalam khotbahnya pada hari Pentakosta. Di tengah cibiran dan ejekan yang mereka terima (Kisah Para Rasul 2:13), ia memberi harapan baru bagi jemaat mula-mula. Saat tantangan berat menghadang, tetaplah kita menjalaninya. Janji nubuat ini telah digenapi Allah karena Roh Kudus telah turun dan bersedia menolong kita yang berseru kepada-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang Hari Tuhan?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Roh Kudus senantiasa beserta kita sampai Hari Tuhan tiba. (pg).