Category: Sejenak Merenung

  • God’s Voice Over The Disaster

    KITAB YOEL. Dari Wikipedia saya mendapat informasi bahwa kitab Yoël atau Kitab Yoel (disingkat Yoël; akronim Yl.) merupakan salah satu kitab yang termasuk dalam kelompok kitab-kitab kenabian dan khususnya dalam kelompok nabi-nabi kecil pada Perjanjian Lama di dalam Alkitab Kristen. .

    Nama kitab ini merujuk pada tokoh utama kitab ini, yaitu Yoel bin Petuel,  nabi Yahudi yang diperkirakan hidup jauh setelah pembuangan ke Babel, tepatnya pada abad ke-5 SM saat Yudea menjadi provinsi di bawah Kekaisaran Persia Akhemeniyah. Nama  “Yoel” sendiri merupakan serapan dari kata dalam bahasa Ibrani: יוֹאֵל‎ (Yoel), yang diperkirakan merupakan gabungan dari nama Allah יה (Yahy) dan kata אֵל (el, har. “Allah /Tuhan”). Oleh karena itu, nama tersebut kemungkinan berarti “Yahwe adalah Allah” atau “yang baginya Yahweh adalah Allah”.

    Kitab ini berisi nubuat-nubuat yang datang kepada nabi Yoel bin Petuel. Tema besar kitab ini adalah: Hari Tuhan yang Besar dan Mengagumkan. Pemberitaan tentang Hari Tuhan oleh nabi Yoel bukanlah baru pertama kalinya diberitakan, sebelumnya sudah pernah diberitakan oleh nabi-nabi terdahulu seperti nabi Amos.  Kitab Yoël menceritakan tentang bencana yang menimpa umat Israel dan ajakan nabi Yoël kepada para imam dan seluruh umat untuk bertobat. Bencana alam merupakan pendahuluan sebelum datangnya Hari Tuhan atau akhir zaman.

    Mulai hari ini kita akan belajar dari kitab Yoel dengan topik: “God’s Voice Over The Disaster (Suara Tuhan di Balik Bencana)”. Bacaan Sabda diambil dari Yoel 1:1-20 dengan penekanan pada ayat 3. Sahabat, walaupun kita tidak bisa memastikan peristiwa sejarah yang melatarbelakangi penulisan kitab Yoel, tidak berarti bahwa kita tidak bisa menerima manfaat dari kitab ini. Kita perlu menyadari bahwa Alkitab selalu memuat hal-hal yang berlaku universal.

    Sahabat, betapa sering  kita disuguhi berita bencana di layar kaca. Gempa bumi, banjir bandang, tanah longsor, gunung meletus silih berganti menghiasi berita. Apakah bumi yang semakin tua? Atau ulah manusia semakin menggila mengeksploitasi bumi demi memperkaya diri sendiri? Atau Tuhan mulai bosan dengan tingkah polah kita? Semuanya hanya tanya dan jawabnya terdengar sayup-sayup tak jelas. Lalu apa makna terjadinya bencana bagi kita? Apa pula hikmah yang bisa kita petik dari petaka yang terjadi?

    Nubuat apa yang disampaikan nabi Yoel? Serbuan belalang yang mengerikan! Begitu mengerikan karena bencana sehebat itu tidak pernah terjadi sebelumnya. Di ayat 4 ada keterangan tentang empat jenis belalang yang muncul susul-menyusul: Belalang pindahan, belalang pengerip, belalang pelompat, dan belalang pelahap. Dapat kita perkirakan betapa besarnya “pasukan” belalang itu. Semua dedaunan luluh lantak digunduli dan tanaman dibuat rata dengan tanah. Bagi masyarakat agraris, bencana ini sangat mengerikan.

    Sahabat, kendati bukan berwujud hama belalang, negeri kita akhir-akhir ini tak sepi dari bencana. Seruan Yoel untuk bangun dan meratap mengajak kita untuk memaknai bencana atau krisis dengan doa dan keprihatinan seraya bertanya, “Apa suara Tuhan yang hendak diperdengarkan bagi bangsa kita?” Kiranya kita belajar untuk peka mendengar suara Tuhan di balik bencana yang terjadi. Semoga kita juga diberi keberanian untuk mewartakan suara Tuhan agar bangsa ini dapat belajar dari bencana dan bertobat dari dosa-dosanya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

       
    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 3?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita ini makhluk pembelajar, jadi bisa belajar dari apa saja, termasuk dari bencana sekali pun. (pg).

  • God Loves All Nations

    KASIH ALLAH. Jikalau kita membaca Alkitab, kita mengetahui bahwa Allah adalah kasih yang dinyatakan dengan mengasihi manusia. Walau manusia sudah jatuh dalam dosa, memberontak terhadap Allah, melanggar apa yang diperintahkan-Nya, Allah yang membenci dosa tetap mengasih manusia.

    Allah bisa menghukum , memusnahkan manusia, dan menciptakan manusia lagi,  tetapi hal itu tidak dilakukan Allah tetapi Allah tetap mengasihi manusia berdosa. Allah mengasihi manusia sebelum manusia mengasihi Allah, bukan karena sesuatu yang dilakukan manusia, jasa manusia, tetapi karena Allah mengasihi manusia. Karena Allah adalah kasih! Itulah kasih karunia, anugerah Allah.

    Di Alkitab begitu banyak contoh Allah mengasihi manusia. Salah satu contoh : Allah mengasihi orang Niniwe. Di  dicatat di Alkitab  orang Niniwe yang begitu jahat sekali, begitu kejam bahkan menurut catatan bila ada raja musuh mereka tertangkap akan dikuliti.

    DI Alkitab dinyatakan kejahatan orang Niniwe sudah sampai kepada Allah dan Dia akan memusnahkan orang Niniwe. Sebelum hal tersebut dilakukan, Allah mengutus nabi Yunus untuk memberi peringatan kepada mereka. Nabi Yunus mengatakan, 40 hari lagi kota Niniwe akan ditunggangbalikkan. Tetapi segenap orang Niniwe  menyesal dan bertobat. Akhirnya karena kasih, Tuhan tidak jadi menghukum mereka. Ini menunjukkan kasih Allah yang begitu besar.

    Syukur kepada Tuhan, hari ini kita dapat mempelajari pasal terakhir dari kitab Yunus dengan topik: “God Loves All Nations (Tuhan Mengasihi Semua Bangsa)”. Bacaan Sabda diambil dari Yunus 4:1-11 dengan penekanan pada ayat 11. Sahabat, Yunus diutus Tuhan untuk memberitakan penghukuman atas Niniwe yang jahat. Namun ternyata mereka semua bertobat, berpaling dari kejahatannya. Tuhan pun mengampuni mereka. Dia urung menimpakan hukuman atas mereka.

    Tapi apa yang terjadi dengan Yunus? Bukannya senang, Yunus justru marah. Ia membenci penduduk Niniwe. Mereka adalah musuh bangsanya. Ia menginginkan kehancuran mereka. Itu sebabnya ia lari ketika pertama kali Tuhan mengutusnya untuk memperingatkan kota itu.

    Sahabat, dalam kemarahan, ia pergi ke sebelah timur kota itu, mendirikan pondok, sambil menantikan sesuatu terjadi atas Niniwe. Secara ajaib, Tuhan menumbuhkan sebatang pohon untuk menaungi Yunus dari panas. Itu membuatnya terhibur dan bersukacita. Namun esoknya seekor ulat menggerek pohon itu hingga layu. Yunus kembali marah kepada Tuhan. Saat itulah Tuhan memberinya pelajaran kepadanya (Ayat 6-10).

    Yunus bersukacita atas sebatang pohon yang menaunginya. Ia berduka ketika pohon itu mati. Tetapi terhadap lebih dari 120 ribu orang yang bertobat, ia justru marah. Tuhan menunjukkan bahwa Dia sangat berduka ketika orang-orang binasa. Dia menginginkan pertobatan dan keselamatan mereka.

    Sahabat, Tuhan menunjukkan bahwa Dia bukan hanya mengasihi Israel, tetapi bangsa-bangsa lain juga. Tuhan mengasihi semua bangsa. Tuhan ingin Yunus bersukacita bukan karena hal-hal yang sementara dan menyenangkan baginya serta menguntungkannya, tetapi atas sesuatu yang bernilai kekal, yaitu ketika orang-orang mengalami kasih dan pengampunan-Nya, serta berbalik kepada-Nya. Kiranya itu juga menjadi sukacita kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang Kasih Allah?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Menyaksikan orang-orang mengalami kemurahan dan kebaikan Tuhan seharusnya membuat kita bersukacita. Itulah sukacita yang benar! (pg).

  • MENGURUNG KRISTUS

    Saudaraku,  ada ungkapan yang mengatakan:  “Muda foya-foya, tua kaya raya, mati masuk surga.”  Sebenarnya ungkapan itu menunjukkan keinginan mendasar manusia yang selalu menginginkan apa yang terbaik bagi dirinya dan sebisa mungkin menjauhi masalah dan penderitaan.  Namun ternyata lewat jalan penderitaan Kristus-lah manusia menerima anugerah Allah.  Mari membaca Matius 16 : 21-28.

    Teguran keras atau hardikan Petrus kepada Yesus yang terus terang membicarakan kematian-Nya sungguh menarik untuk direnungkan.  Mengapa Petrus berani melakukan hal itu kepada Guru yang dihormatinya?  Petrus bahkan berharap supaya Allah meluputkan Yesus dari situasi kelam itu.  

    Mari melihat bagaimana Petrus memandang figure Yesus.  Matius 16:16 mencatat pengakuan Petrus terhadap Yesus, yaitu Mesias.  Bagi Petrus Yesus adalah Mesias yang sudah dinantikan oleh orang Yahudi sejak lama.  Kuasa Yesus yang ditunjukkan dengan penyembuhan orang sakit, memberi makan orang lapar dan bahkan keberanian-Nya beradu argumen dengan orang Farisi dan ahli Taurat menunjukkan bahwa Yesus layak disebut Sang Mesias.  

    Tentunya Mesias itu tidak boleh dikalahkan oleh musuh karena Mesias adalah Sang Pembebas yang akan membuat Israel kembali mendapatkan kemuliaan sebagai sebuah bangsa.  Mesias adalah pahlawan.  Petrus tidak menginginkan  figur Yesus yang dibentuk dalam benaknya akan hancur dengan perkataan Yesus tentang masa depan-Nya.  

    Petrus tidak melindungi Yesus sebagai Mesias, Petrus melindungi figur Yesus yang tergambar di benaknya.  Itulah mengapa respon Yesus tidak kalah keras terhadap sikap Petrus dan dengan terus terang menegur dalang dibalik pemikiran Petrus.  Yesus menyadari bahwa tidak mudah bagi Petrus untuk memahami jalan penderitaan yang harus ditempuh seorang Mesias untuk membebaskan manusia dari cengkeraman maut.  Yesus tidak mau dikurung oleh Petrus dalam idealismenya tentang Mesias.

    Saudaraku, memahami jalan Tuhan memang membutuhkan kerelaan manusia untuk membongkar gambarannya tentang Tuhan itu sendiri.   Banyak pengajaran yang mengarahkan manusia kepada kemakmuran, kesehatan dan keberhasilan sebagai jalan Allah.  Namun pada kenyataannya, Allah mampu memakai kelemahan, kesukaran dan bahkan kehancuran manusia untuk menyatakan kasih-Nya.  Itulah sebabnya Yesus mengatakan bahwa salah satu syarat orang yang mau mengikut-Nya, ia mesti  menyangkal dirinya sendiri.  

    Menyangkal diri menunjukkan kerelaan untuk membongkar segala idealisme di benaknya, menunjukkan keberanian untuk mengikuti jalan Allah yang kadang bertentangan dengan akal dan pikirannya.   

    Mari jangan lagi  MENGURUNG KRISTUS dengan IDE-IDE KITA SENDIRI.  Biarkan Allah bebas bekerja dalam jalan-Nya dan nikmatilah kreativitas Allah yang mempu menunjukkan kuasa dan kasih-Nya  dengan cara yang bahkan diluar pemikiran kita.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • PANTANG MENYERAH

    Saudaraku, semua orang sudah mengakui betapa besarnya kekuatan ibu dalam memperjuangkan anaknya.  Tuhan Yesus memuji iman dan mengabulkan permintaan seorang ibu karena ia sanggup menunjukkan kesungguhannya untuk mendapatkan anugerah Tuhan.  Kekuatan ibu yang memenangkan hati Yesus itu dapat kita baca dan renungkan dari Matius 15:21–28.

    Perempuan Kanaan itu seorang ibu. Ia bukan ibu yang biasa.  Ia adalah sosok perempuan asing, tidak masuk dalam circle umat pilihan.  Saat ia datang pada Yesus yang adalah seorang Yahudi,  ibu itu pasti sudah memperhitungkan semua konsekuensi yang harus ia tanggung sebagai perempuan asing.  

    Benar saja, ia diabaikan oleh Yesus maupun para murid-Nya yang kebisingan dengan teriakannya.  Namun perempuan itu seorang ibu.   Ia rela menerima apapun demi anaknya yang sakit parah.   Ia percaya Yesus sanggup menolongnya dan inilah yang dilakukannya :

    1. Berseru-seru kepada Yesus.

    Ia tidak peduli respon para murid ataupun Yesus sendiri dengan keributan yang ditimbulkannya.  Ia hanya berfokus pada cara bagaimana  menarik perhatian Yesus karena itulah kesempatannya untuk meminta tolong pada-Nya.

    1. Datang dan bersujud kepada-Nya.

    Diskriminasi diterimanya saat Yesus menegaskan bahwa Ia hanya akan menolong orang Israel yang sesat dan perempuan Kanaan itu orang asing yang tidak pantas menerima pertolongan Yesus.  Namun alih-alih patah semangat atau bahkan tersinggung dengan perkataan itu, perempuan itu justru memohon Yesus memberikan dispensasi dan meminta sejengkal belas kasihan kepada-Nya. Perempuan itu tahu posisinya namun ia gigih meminta kepada Yesus untuk menyembuhkan anaknya.

    1. menyatakan kesadaran terhadap posisinya yang lemah namun gigih berjuang mendapatkan anugerah.

    Perempuan itu sadar bahwa pintu anugerah hanya dibuka lebar bagi umat pilihan, namun ia tahu bahwa Yesus memiliki belas kasihan dan ia rela merendahkan diri untuk meminta belas kasihan Yesus.  Ia ingin mencicipi anugerah itu sedikit saja demi anaknya.

    Sungguh mengharukan.  Saudaraku, pernahkah kita memperjuangkan rasa percaya kita kepada Allah segigih perempuan Kanaan ini?  Banyak orang memilih mundur saat melihat tantangan iman dalam kehidupan yang bertubi-tubi apalagi begitu banyak alternatif solusi yang terasa lebih mudah dan lebih menjanjikan.  Daya juang itu sudah menipis ditelan jaminan-jaminan kemakmuran dan kesehatan yang diklaim menjadi privilege (hak istimewa) umat pilihan, padahal realitasnya iman butuh untuk diperjuangkan.  Iman membutuhkan keteguhan hati dan ketahanan uji menghadapi tantangan agar dapat bertumbuh dengan baik dan menghasilkan buah.  

    Kekristenan membutuhkan daya juang.  Sejarah mencatat bagaimana perjuangan orang Kristen untuk bertahan dalam iman bahkan hingga hari ini.  Mari terus menjadi pejuang iman agar Allah menjadi yang dominan dalam kehidupan.  Percayalah Tuhan akan memberikan apa yang terbaik bagi orang yang beriman kepada-Nya.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • GOD gave a SECOND CHANCE

    KESEMPATAN KEDUA. Saat menjalani kehidupan, terkadang secara tidak sengaja kita berbuat kesalahan, baik dalam dunia pekerjaan, sekolah, maupun hubungan sosial. Dengan adanya kesempatan kedua, kita bisa memperbaiki kesalahan yang pernah kita lakukan, dan menjadikannya lebih baik. Kesempatan kedua merujuk pada adanya kesempatan atau momen yang bisa membuat kita memiliki hidup yang lebih baik atau memperbaiki kesalahan di masa lalu.

    Pengalaman hidup kita bercerita bahwa  pesinggungan kita dengan kesempatan biasanya berkaitan dengan urusan-urusan “besar” mengenai percintaan, karier, rumah tangga, dan kesehatan.

    Teman saya bercerita bahwa dia diagnosis oleh dokter mengidap penyakit berbahaya yang mematikan, diberitahu bahwa kesempatan untuk sembuh  “fifty-fifty”, lalu dia berdoa sepenuh hati kepada Tuhan, minta diberi kesembuhan, sambil berjanji: Jika diberi kesempatan kedua, dia akan lebih mendekatkan diri kepada-Nya dan mengabdikan segenap sisa hidup hanya untuk melayani Tuhan dan sesama..

    Tuhan menganugerahkan kesembuhan kepadanya..Dia terselamatkan dari penyakit. Saat itulah, dia merasa telah diberi kesempatan kedua. Dibukakan pintu baru, untuk menjalani hari-hari yang baru. Dia sangat bersyukur, lebih rajin beribadah, lebih tulus memberkati sesama yang membutuhkan,  mendukung program-program gerejanya,  menjauhi berbagai gaya dan pola hidup yang dulu dia akrabi dan berkontribusi terhadap datangnya penyakit yang nyaris merengut nyawanya. 

    Ketika kesempatan itu datang, kita  harus memanfaatkannya dengan baik,  karena tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan kedua.

    Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab Yunus dengan topik: “GOD gave a SECOND CHANCE (TUHAN memberi KESEMPATAN KEDUA)”. Bacaan Sabda diambil dari Yunus 3:1-10. Sahabat,  kegagalan atau kesalahan masa lalu dapat saja menghambat kita untuk maju dan berkarya. Kadang perasaan tidak layak yang menghantui, menghalangi kita untuk merespons panggilan Tuhan.

    Berbeda dengan Yunus, kesalahan dan kegagalannya dalam mengerjakan panggilan pertama Tuhan tidak menghambat langkah kakinya untuk kembali merespons panggilan-Nya yang kedua (Ayat 1). Ini merupakan kesempatan kedua yang Tuhan berikan. Kesempatan berharga untuk berpartisipasi kembali dalam pekerjaan Allah. Kali ini Yunus pergi ke Niniwe sesuai dengan firman Allah (Ayat 2-3).

    Sahabat, kepada kota Niniwe yang jumlah penduduknya lebih dari 120.000 orang, Yunus memberitakan penghukuman Tuhan (Ayat 4). Walaupun dengan berat hati, Yunus tetap melaksanakan tugasnya. Hasilnya, raja dan segenap penduduk Niniwe, tidak terkecuali hewan ternak, merespons seruan ini dengan bertobat sungguh-sungguh di hadapan Tuhan. Mereka berkabung dan berpuasa, serta harus berbalik dari tingkah laku yang jahat (Ayat 5-9).

    Oleh karena pertobatan Niniwe, Allah tidak jadi mendatangkan malapetaka kepada mereka.

    Penduduk Niniwe bukan hanya mendengarkan firman Allah yang disampaikan oleh sang nabi saja, melainkan meresponsnya dengan ketaatan dalam pertobatan mereka (Ayat 10). Meskipun tidak menyukai, sang Nabi menjalankan panggilan-Nya dalam ketaatan penuh kepada kehendak Allah.

    Sahabat, mungkin dalam kehidupan yang kita jalani, kita pernah merasa tidak layak untuk melayani Tuhan karena kesalahan maupun kegagalan pada masa lalu. Namun, kita perlu memahami satu hal, tidak ada seorang pun yang layak untuk melayani Tuhan. Hanya oleh perkenanan yang dianugerahkan-Nya, kita layak melayani Dia.

    Tuhan tetap meminta kita untuk menjadi pemberita firman yang bersuara bagi zaman ini, jangan pernah abaikan kesempatan yang diberikan kepada kita. Biarlah bangsa-bangsa boleh mendengarkan berita keselamatan dari Allah dan berbalik kepada-Nya melalui hamba-hamba-Nya yang setia! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil renunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang Kesempatan Kedua?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tidak semua orang beroleh kesempatan dan kepercayaan!  Biarlah pengalaman hidup Yunus ini menjadi pelajaran berharga bagi kita. (pg). 

  • The DIFFICULTIES will Call us to Come to GOD

    KESULITAN. Pengalaman hidup kita bercerita bahwa setiap orang pasti pernah mengalami kesulitan dalam hidupnya, yang membedakannya adalah bagaimana reaksinya terhadap kesulitan-kesulitan tersebut.

    Beberapa orang merasa takut terhadap kesulitan dan mencoba untuk menghindarinya dengan segala cara. Sesungguhnya tanpa kesulitan, tidak akan ada pembelajaran, tidak ada pertumbuhan, dan tidak ada penemuan. Misalnya seorang atlet harus mendorong dirinya sendiri kepada titik optimal jika mereka ingin mencapai prestasi puncaknya. Otot-otot akan tumbuh menjadi lebih kuat jika secara konstan dilatih.

    Pelaut yang terbaik adalah pelaut yang telah belajar untuk menguasai badai, kabut, perairan asing, dan masalah-masalah yang ada di dalam kapalnya. Berapa banyak pelajaran yang diperoleh seorang pelaut handal jika setiap hari pelayarannya selalu sempurna dan tanpa kesulitan?

    Dari contoh-contoh tersebut jelas terlihat bahwa kesulitan bisa membuat seseorang menjadi lebih kuat dan tangguh. Kita akan memperoleh banyak manfaat dari kesulitan-kesulitan yang menghampirimu. Oleh karena kita tidak bisa menghindari kesulitan, maka kita mungkin bisa belajar untuk menghargai segala manfaatnya. Saat kita menyadari peran vital dari kesulitan terhadap kesuksesanmu, cara pandangmu  secara mental akan menjadi lebih positif dan level frustasi serta sikap negatif lainnya akan segera sirna.

    Maka saat kita menghadapi suatu kesulitan, perlakukan ia sebagai sebuah peluang dan bukan sebagai sesuatu yang harus dihindari. Dengan melakukannya akan memungkinkan kita untuk menggunakannya sebagai sebuah batu loncatan dan tidak akan merasa goyah karenanya. Dengan setiap kesulitan yang dapat kita atasi, kita akan memperoleh banyak pengetahuan berharga dan akan bertumbuh menjadi lebih kuat.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Yunus dengan topik: “The DIFFICULTIES will Call Us to Come to GOD (KESULITAN Mengundang Kita untuk Datang kepada TUHAN)”. Sahabat, ketika kehidupan kita berjalan dengan normal, hubungan kita dengan Tuhan mungkin berada dalam kondisi yang baik-baik saja. Kita menganggap segala berkat-Nya adalah hal yang wajar saja. Namun, ketika jalan kehidupan tidak seperti yang diharapkan, barulah kita berpaling kepada Tuhan, lalu berteriak meminta pertolongan-Nya.

    Setelah mengalami pengalaman buruk akibat badai yang menerpa kapalnya saat melarikan diri dari hadapan Tuhan, dari dalam perut ikan, Yunus menaikkan doanya. Ratapan, keluhan dan ucapan syukur,  ia naikkan karena terluput dari kematian.

    Sahabat, dalam ratapan yang ia naikkan, Yunus menyadari keberadaannya yang susah dan terbuang di dasar lautan, terkepung oleh arus air. Ia tidak dapat berbuat apa-apa untuk menyelamatkan dirinya, namun ia berharap masih dapat melihat bait Allah (Ayat 2-6). Ia menyadari bahwa keselamatan yang ia terima berasal dari Tuhan semata (Ayat 9).

    Yunus menyadari bahwa di mana pun dan dalam kondisi bagaimanapun, Allah pasti akan mendengarkan seruannya. Bagi Tuhan, tidak ada dosa yang terlalu besar yang tidak dapat diampuni, dan tidak ada kesulitan hidup yang terlalu sulit. Inilah yang menjadi keyakinan Yunus sehingga ia berani menaikkan doa di hadapan Allah yang ia layani. Pada akhirnya, Tuhan membawa Yunus kepada panggilan-Nya.

    Sahabat, dalam relasi dengan Tuhan, kita akan sungguh-sungguh mencari wajah-Nya ketika kita diperhadapkan pada persoalan yang sulit dan rumit, bahkan harus sampai pada pergumulan antara hidup dan mati. Dalam keadaan genting demikian, belas kasihan Tuhan tetap dicurahkan kepada kita umat pilihan-Nya.

    Dalam kondisi bagaimanapun yang kita alami, datanglah kepada Tuhan lewat doa-doa kita. Tidak ada kesulitan yang terlalu sulit untuk diselesaikan-Nya. Tidak ada dosa yang terlalu besar sehingga Ia tidak dapat mengampuninya. Nikmatilah relasi dalam pengenalan kita akan Tuhan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu pada hari ini?
    2. Apa yang sahabat pahami tentang kesulitan?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Ketika kita mengangkat tangan, itulah saatnya Allah turun tangan. (pg)

  • God’s Calling is not An Option

    KITAB YUNUS. Yunus, yang namanya berarti “merpati”, diperkenalkan sebagai putra Amitai (Yunus 1:1). Ia disebut dalam 2 Raja-Raja 14:25 sebagai:
    (1) Nabi kepada kerajaan utara Israel semasa pemerintahan Yerobeam II (793-753 SM);
    (2) Ia berasal dari Gat-Hefer, tiga sampai lima kilometer utara Nazaret di Galilea.
    Jadi, orang Farisi salah ketika mengatakan bahwa tidak pernah ada nabi dari Galilea (Yohanes 7:52). 

    Pelayanan nubuat Yunus terjadi tidak lama sesudah masa pelayanan Elisa (bdk. 2 Raja-Raja 13:14-19), bertumpang-tindih dengan masa pelayanan Amos (bdk. Am 1:1) dan diikuti oleh pelayanan Hosea (bdk. Hos 1:1). Sekalipun kitab ini tidak menunjukkan penulisnya, sangat mungkin penulis itu Yunus sendiri.

    Kitab Yunus  merupakan salah satu kitab yang termasuk dalam kelompok kitab-kitab kenabian dan khususnya dalam kelompok nabi-nabi kecil pada Perjanjian Lama. Tema : Luasnya Kasih Sayang Allah yang Menyelamatkan. Tahun Penulisan: + 760 SM

    Kitab Yunus pada intinya adalah sebuah cerita tentang sifat Allah. Karena itu, kitab ini dapat dibagi menjadi empat bagian, masing-masing dipisahkan kira-kira menurut pasalnya: (1) Kedaulatan Allah, (2) Pembebasan Allah, (3) Belas kasih Allah, dan (4) Kebenaran Allah. Dalam paruhan pertama kitab ini, pembebasan Allah diperlihatkan melalui kedaulatan-Nya. Di paruhan kedua, pembebasan Allah diperlihatkan melalui belas kasih-Nya. Akhirnya, Allah menyatakan kebenaran-Nya dengan memilih untuk memaksa dan berubah pikiran. 

    Hari ini kita akan mulai belajar dari kitab Yunus dengan tema: “God’s Calling is not An Option (Panggilan Tuhan Bukan Sebuah Pilihan)”. Bacaan Sabda diambil dari kitab Yunus 1:1-17. Sahabat, panggilan Allah untuk memberitakan firman-Nya merupakan kesempatan istimewa yang diberikan kepada setiap orang percaya. Namun, ada kalanya motivasi terselubung mewarnai setiap keputusan untuk menjalani panggilan ini.

    Nabi Yunus hidup pada masa pemerintahan Yerobeam II di Kerajaan Utara. Ia mendapat panggilan Tuhan untuk memberitakan penghukuman atas Niniwe, ibu kota kerajaan Asyur, yang merupakan musuh Israel (Ayat 2). Kejahatan penduduk Niniwe yang luar biasa telah membuat Yunus bersikap antipati terhadap mereka. Yunus berpikir bahwa ia mempunyai pilihan dalam merespons panggilan Tuhan, karena itu ia memilih melarikan diri ke Tarsis (Ayat 3). 

    Sahabat, sebagai seorang yang menerima tugas untuk memberitakan firman Allah, Yunus lupa bahwa panggilan Tuhan bukanlah sebuah pilihan. Menyatakan kehendak Tuhan merupakan sebuah kewajiban yang harus dilaksanakan.

    Bagaimanapun upaya Yunus untuk lari dari kehendak Tuhan, ada cara Tuhan yang unik untuk membawa kembali Yunus kepada tugas yang ia harus terima, yaitu dengan memakai orang-orang yang tidak percaya.

    Sahabat. kepastian akan rencana Allah yang harus terlaksana melalui hamba-Nya ini tidak dapat dihalangi oleh apa pun, bahkan sang nabi tidak memiliki pilihan untuk menolak. Atas penentuan Tuhan, seekor ikan besar datang dan menelannya sehingga ia harus berada di dalam perut ikan selama tiga hari tiga malam.

    Panggilan Tuhan harus dilihat sebagai hak istimewa dan kesempatan luar biasa yang dianugerahkan kepada kita. Hal tersebut bukan pilihan antara kehendak kita atau kehendak Allah. Hal tersebut  memang  kehendak Allah.

    Sahabat, ketika Tuhan memanggil kita untuk melayani-Nya, yakni untuk menyatakan maksud dan rencana-Nya atas manusia, terimalah panggilan itu sebagai sebuah kehormatan yang diberikan Allah. Hal tersebut bukan pilihan; melainkan kewajiban. Jangan pernah berpikir untuk lari dari tanggung jawab itu, sebab Dia akan mengejar kita dan tangan-Nya yang kuat akan mengarahkan dan menuntun kita kembali untuk menjalaninya. Terimalah panggilan-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pad hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 2-3?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jika kita dipercaya Tuhan melayani-Nya mari melakukannya dengan setia dan penuh tanggung jawab, karena tidak semua orang beroleh kesempatan yang sama. (pg).
     

  • Orang Pilihan: Penuh Roh Kudus

    PENGANTAR. Semua murid Kristus adalah orang-orang pilihan. Dari mereka, para rasul menetapkan ada tujuh orang yang dikhususkan untuk menjadi pemimpin umat karena telah terbukti dan teruji bahwa mereka hidup dalam pimpinan Roh Kudus. Rupanya para rasul menganggap bahwa tidak semua murid Kristus senantiasa penuh Roh Kudus (Galatia 5:16-25). Ada yang gagal untuk hidup setia dalam Roh, saat itu tidak penuh dengan Roh lagi.

    Penuh dengan Roh Kudus, mengungkapkan suatu sifat yang berkesinambungan di dalam seseorang murid Kristus yang memungkinkan mereka melayani dengan kuasa Roh Kudus serta bernubuat dengan ilham yang diberikan oleh Roh Kudus.

    Dipenuhi oleh Roh Kudus memiliki makna, yang pertama, penerimaan baptisan dalam Roh Kudus. Kedua, pemberian kuasa kepada seorang atau beberapa murid Kristus pada saat tertentu untuk berbicara di bawah otoritas Roh Kudus, dan yang ketiga, menunjukkan suatu pelayanan nubuat umum yang diilhami atau diurapi oleh Roh Kudus tanpa menyebutkan masa pelayanan tersebut.

    APA MAKNA PENUH ROH KUDUS ITU? Setelah menerima baptisan Roh, murid Kristus dengan tekun dan setia hidup dalam Roh Kudus, sambil terus menerus mematikan perbuatan daging (Roma 8:13-14). Itulah perwujudan sebagai “penuh dengan Roh Kudus”, yakni memelihara kepenuhan ROH Kudus yang bertahta di pusat hati nurani mereka. Kepenuhan Roh Kudus meluap dalam pikiran, ucapan dan sikap hidup sesehari sebagai suatu kesanggupan ilahi dalam bimbingan Roh Kudus.

    Baptisan dalam Roh Kudus saja tidak cukup untuk kepemimpinan rohani (Kristen) yang efektif. Para pemimpin rohani harus selalu bertekun dalam doa dan penyampaian Firman Tuhan. Kata yang tepat adalah “memusatkan pikiran” yang menunjukkan suatu kesetiaan yang terpusat dan tetap stabil memberikan banyak  waktu berkenan kepada Tuhan dan menyenangkan hati setiap orang. Para murid Kristus menyadari bahwa doa dan pelayanan Firman merupakan tugas tertinggi. Dalam bab 6 Kisah Para Rasul kita perhatikan bahwa sering doa disebutkan beberapa kali. 

    KESIMPULAN. Dalam Kisah Para rasul bab 6 ini, disebutkan karunia meletakkan tangan di atas orang percaya. Dalam praktiknya, karunia penumpangan tangan dilakukan berkaitan dengan adanya penyembuhan, memberkati orang lain, baptisan dalam Roh Kudus, mengangkat orang untuk tugas khusus, memberikan karunia-karunia rohani oleh para penatua.

    Penumpangan tangan menjadi doktrin mendasar pada gereja mula-mula (Ibrani 6:2). Tindakan ini tidak boleh dilepaskan dari doa karena doa menunjukkan bahwa berbagai karunia atau baptisan dalam Roh itu berasal dari Tuhan dan bukan dari mereka yang menumpangkan tangan.

    Demikianlah dalam hal menahbiskan ketujuh orang yang penuh dengan Roh itu memiliki arti dua hal, yakni pertama, merupakan kesaksian umum dari pihak gereja bahwa ketujuh orang tersebut memiliki sejarah ketekunan dalam kesalehan dan kesetiaan terhadap pimpinan Roh (bdk. 1 Timotius 3:1-10). Kedua, merupakan tindakan untuk mengkhususkan ketujuh orang itu bagi pekerjaan Tuhan dan suatu kesaksian akan kesediaan mereka untuk menerima tanggung jawab atas panggilan-Nya.

    Dalam Kisah Para Rasul 6:8,  “Dan Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak.” Roh Kudus memberikan kuasa kepada Stefanus untuk “mengadakan mukjizat-mukjizat dan tanda-tanda di antara orang banyak” sambil memberi hikmat luar biasa untuk memberitakan Injil sedemikian rupa sehingga lawan-lawannya tidak dapat menyangkal argumentasinya. Ini menjadi tantangan gereja masa kini, bagaimana para murid Kristus memiliki keberanian yang tulus dan kudus seperti Stefanus.

    Berdasarkan hasil perenungan pendalaman kita Kisah bab 6, mari kita jawab pertanyaan:

    1. Pesan apa yang kita peroleh pada pemahaman kita hari ini?
    2. Jelaskan apa makna Penuh Roh Kudus?
    3. Apa penerapan dalam keseharian Kisah Para Rasul  6:8, “Dan Stefanus, yang penuh dengan karunia dan kuasa, mengadakan mujizat-mujizat dan tanda-tanda di antara orang banyak.”

    Selamat sejenak merenung dan mengaplikasikannya dalam hidup hari ini. Simpan dalam-dalam di hati: Kita bersukacita, karena Nama Yesus, kita telah dianggap Penuh Roh. Amin (sp).

  • Menghadapi Tantangan Gereja Dari Dalam Dan Luar

    PENGANTAR. Lukas sebagai penulis Kitab Injil ini, adalah teman seperjalanan Rasul Paulus. Dalam bab 5 ini Lukas mengamati perkembangan gereja mula-mula yang menghadapi berbagai tantangan baik dari dalam maupun luar. Dari dalam misalnya tentang kesaksian-pelayanan Ananias dan Safira. Sedangkan dari luar yaitu tantangan Mahkamah Agama Yahudi

    Dalam Kisah Para Rasul 5:9 berkata:  “Kata Petrus: “Mengapa kamu berdua bersepakat untuk mencobai Roh Tuhan? Lihatlah, orang-orang yang baru mengubur suamimu berdiri di depan pintu dan mereka akan mengusung engkau juga ke luar.””

    Yang dimaksud kamu berdua adalah suami istri bernama Ananias dan Safira yang menjadi anggota gereja mula-mula di Yerusalem. Kisah Ananias dan Safira dimuat di kitab Kisah Para Rasul 5:1-11. Arti Ananias adalah Allah telah memberikan atau Allah Rahmani.

    Ananias dan Safira telah berkomplot untuk berdusta. Harta hasil penjualan tanahnya tidak diberikan seluruhnya sebagai persembahan di dekat kaki para rasul, termasuk Petrus. Oleh kuasa Roh Kudus perbuatan mereka diketahui, sehingga mereka dikatakan telah mendustai Roh Kudus. Mereka telah dikuasai iblis. Akibat dusta itu, keduanya mati, yang pertama Ananias dan tiga jam setelah itu Safira karena melakukan dusta yang sama dengan suaminya.

    Sementara itu, pekerjaan Tuhan dan mukjizat-Nya terus dinyatakan. Oleh kuasa Roh Kudus, para rasul menyembuhkan orang-orang sakit dan dirasuk setan. Tantangan pun juga datang dari luar, para Mahkamah Agama Yahudi melarang mereka mengajar dalam nama Yesus. Kisah Rasul 5:29: Tetapi Petrus dan rasul-rasul itu menjawab, katanya: ” Kita harus lebih taat kepada Tuhan daripada kepada manusia.” Terhadap tantangan itu, kita teladani prinsip hidup Petrus, yaitu “Apa yang berkenan kepada Tuhan?” dan bukan “Apa yang bijaksana, aman, menyenangkan dan disukai oleh orang banyak?” 

    MENGHADAPI TANTANGAN GEREJA DARI DALAM DAN LUAR. Popularitas para orang percaya karena kuasa Roh Kudus membuat mereka diperhatian oleh orang-orang di luar gereja. Mengapa? Yang jelas karena orang-orang luar gereja menolak Injil Yesus Kristus. Namun, para rasul pada waktu itu tidak berkurang semangatnya. Penderitaan karena nama Yesus adalah suatu karunia dan kehormatan. Maju terus tetap semangat mewartakan Injil Yesus Sang Mesias, baik di dalam maupun di luar rumah ibadah.

    Agar Injil dapat disebar luaskan, para pengikut Kristus terus melanjutkan pengajaran Tuhan Yesus dan memberitakan Injil-Nya baik secara umum di luar gereja melalui kesaksian pribadi hidup berkarakter Kristus dan dalam perkumpulan-perkumpulan Kristen di rumah-rumah perseorangan. Hidup ini adalah kesempatan dan kesaksian.

    KESIMPULAN. Rasul-rasul itu meninggalkan sidang Mahkamah Agama dengan gembira, karena mereka telah dianggap layak menderita penghinaan oleh karena Nama Yesus (KisahPara Rasul 5:41). Karakter penderitaan Kristus telah terwujud di dalam pelayanan para rasul. 

    Hal tersebut selayaknya memberikan dorongan dan menantang kita mencari keintiman dengan Tuhan setiap hari, sebab hanya dengan cara itu firman itu telah menjadi daging di dalam hidup dan kehidupan kita sebagai murid Kristus di dunia ini.

    Gereja harus tetap tekun dan setia berdoa dan hidup dalam persekutuan doa. Kita tidak sendiri dan tidak bisa sendiri. Di negeri yang plural, dimana pengikut Kristus termasuk yang minoritas, kita harus saling menyulut agar kita bisa berperan sebagai terang dunia. Kesaksian sebagai orang yang berpribadi Kristus harus menjadi berkat pikiran, ucapan dan sikapnya bagi lingkungannya.

    Berdasarkan hasil perenungan pendalaman kita dalam kitab Kisah Para Rasul 5, mari kita jawab pertanyaan berikut:

    1. Pesan apa yang kita peroleh dari hasil perenungan kita pada hari ini?
    2. Jelaskan prinsip hidup Petrus, “Apa yang berkenan kepada Tuhan?” dan bukan “Apa yang bijaksana, aman, menyenangkan dan disukai oleh orang banyak?”
    3. Jelaskan makna yang terkandung di dalam Kisah 5:41

    Selamat sejenak merenung dan mengaplikasikannya dalam hidup hari ini. Simpan dalam-dalam di hati: Kita bersukacita, karena dianggap layak menderita oleh karena Nama Yesus. Amin (sp).

  • The LORD is Here

    KEHADIRAN TUHAN. Penulis kitab 2 Samuel mencatat bagaimana Daud membawa Tabut Perjanjian dari rumah Obed-Edom menuju ke kota Yerusalem.  Pada waktu itu Daud baru saja dinobatkan jadi raja atas seluruh Israel dan baru saja memindahkan ibu kota ke Yerusalem, dan dia baru saja berhasil mempertahankan Yerusalem dari serangan Filistin.  

    Lalu Daud berusaha untuk mengembalikan Tabut Perjanjian, yang merupakan lambang KEHADIRAN TUHAN, ke Yerusalem, di mana selama 20 tahun Tabut Perjanjian tidak berada di tempat semestinya karena dirampas oleh bangsa Filistin;  dan meski orang Filistin telah mengembalikannya, tapi tabut itu berada di Kiryat-Yearim yang merupakan pinggiran dari wilayah Israel.  Karena itu Daud ingin mengembalikan tabut ini ke Yerusalem, kota Daud, pusat pemerintahan.

    Di sepanjang perjalanan Daud mengekspresikan rasa syukurnya, karena ia tahu bahwa Tabut Perjanjian merupakan  lambang kehadiran Tuhan,  “Dan Daud menari-nari di hadapan TUHAN dengan sekuat tenaga; ia berbaju efod dari kain lenan.”  (2 Samuel 6:14).  Tidak hanya itu, di setiap enam langkah Daud mempersembahkan korban kepada Tuhan, berupa seekor lembu dan seekor anak lembu gemukan.  

    Sebagaimana ketika Tabut Perjanjian berada di rumah Obed-Edom, ia dan seisi rumahnya diberkati oleh Tuhan, juga saat Tabut Perjanjian berada di kota Daud,  “Setelah Daud selesai mempersembahkan korban bakaran dan korban keselamatan, diberkatinyalah bangsa itu demi nama TUHAN semesta alam.”  (2 Samuel 6:18).  

    Kala Tabut Perjanjian berada di tangan musuh, bangsa Israel selalu mengalami kekalahan demi kekalahan, namun setelah Tabut Perjanjian itu kembali berada di tangan orang Israel, terjadilah suatu pemulihan yang luar biasa.

    Hari ini kita belajar dari bagian akhir dari kitab Yehezkiel dengan topik: “The LORD is Here (TUHAN Hadir di Situ)”. Bacaan Sabda diambil dari Yehezkiel 48:1-35 dengan penekanan pada ayat 35, yang merupakan penutup dari Yehezkiel 48 dan kesimpulan dari semua kitab Yehezkiel. 

    Allah menyuruh Yehezkiel untuk membagi-bagi negeri di antara suku-suku Israel menjadi milik pusaka mereka (ayat 29). Di tengah-tengah di antara bangsa Israel terletak tempat kudus Tuhan yang artinya Allah berdiam di tengah-tengah umat-Nya.

    Kota yang dikhususkan buat Tuhan dikelilingi tembok dengan 12 pintu berdasarkan jumlah suku Israel dan diberi nama sesuai dengan suku-suku Israel. Hal ini menunjukkan setiap mereka memiliki hak yang sama atas kota itu.

    Sahabat, posisi tempat kudus Tuhan yang berada di tengah bangsa Israel menunjukkan Allah menjadi sentral umat-Nya dan dapat dicapai oleh mereka dari 12 pintu yang ada. Nama kota yang baru tersebut “TUHAN HADIR DI SITU” menunjukkan keberadaan Allah berada di tengah umat-Nya.

    Keberadaan dan kehadiran Allah dalam kehidupan orang percaya merupakan penggenapan dari kitab Yehezkiel. ALLAH HADIR di setiap hati orang percaya dan Allah menjadi sentral dari kehidupan orang percaya. KEHADIRAN ALLAH dalam hati orang percaya menunjukkan tidak ada pembatas lagi antara Allah dengan orang percaya. Kematian Yesus di kayu salib menghancurkan pembatas tersebut.

    “TUHAN HADIR DI SITU” artinya “TUHAN HADIR DI HATI ORANG PERCAYA”. Oleh karena itu, maka kita harus menjaga tubuh dan hidup untuk tetap kudus supaya Allah tetap hadir. Tetap kudus artinya hidup dalam kekudusan. Kehadiran Allah yang membawa pemulihan, kelepasan dan janji-janji-Nya digenapi akan dialami oleh kita sebagai orang percaya.

    Sahabat, kehadiran dan penyertaan Tuhan adalah segala-galanya bagi kita!  Coba renungkan:  Kalau bukan Tuhan yang menyertai, mampukah kita menjalani hidup sampai detik hari ini?  Kalau bukan Tuhan yang menopang, sanggupkah kita bertahan di tengah goncangan, badai dan gelombang permasalahan hidup?  Tanpa kehadiran Tuhan, ibadah dan pelayanan yang kita lakukan takkan berdampak apa-apa;  begitu pula dalam pekerjaan, rumah tangga, bisnis, studi, kita sangat memerlukan Tuhan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabaat pahami dari 2 Samuel 6:17-18?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tanpa kehadiran dan penyertaan Tuhan, hidup kita takkan berarti apa-apa. (pg).