Category: Sejenak Merenung

  • U L E (2)

    Ini cerita tentang ULE atau Uang Layak Edar yang lain, yakni Si Rp50.000. Dibuat dari bahan serat kapas. Ada gambar desain uang yang rumit. Ada gambar Pahlawan Nasional, ada berbagai fitur pengaman seperti tinta yang tahan lama, cetakan khusus yang disebut 3-D yang dapat dilihat, diraba,  dan  diterawang, lalu ada nomor seri yang dicetak secara khusus. 

    Yang terutama, penerbitan uang memiliki tujuan sebagai alat penukar atau alat pembayar dan pengukur harga, yang mendukung tujuan bernegara yaitu mencapai masyarakat adil dan makmur. Karena itu di atas uang disematkan gambar lambang negara “Garuda Pancasila” sebagai bentuk simbol kedaulatan negara dan identitas nasional. Juga ada tulisan misi: “Dengan Rahmat Tuhan Yang Maha Esa, Negara Kesatuan Republik Indonesia Mengeluarkan Rupiah Sebagai Alat Pembayaran Yang Sah Dengan Nilai Lima Puluh Ribu Rupiah”.

    Sejak kinyis-kinyis dari Bank Indonesia Jakarta dikirim ke BI Surabaya lalu diedarkan di bank-bank setempat dan masuk mesin ATM. Pas ada pedagang di Pasar Atom mengambil di ATM, masuk dompet ditekuk, agak lama, tapi kemudian diberikan sebagai uang kembalian ke pembeli. Maka berputarlah Si Rp50.000 dari tangan ke dompet ke saku ke dashboard mobil, kantong celana, eh dibawa sopir bus ke Madiun, dibelikan pecel, lalu dibawa orang lagi jalan keliling,  naik dokar,  naik mobil, akhirnya tiba di Pasar Klewer Solo,dikaretin tiap seratus lembar,  disetorkan ke salah satu bank. Karena Si Rp50.000 masih bagus dan masuk kategori ULE, dia dapat dengan mudah dihitung dan keluar dari mesin ATM. Kali ini diambil calon ART yang hendak berangkat jadi TKW di Singapura.

    Si Rp50.000 katut terbawa di dompetnya, jadilah dia tinggal di Singapura beberapa waktu lamanya. Pas hari lbur pergi  ke Mustafa Center, uang Rp50.000 niatnya mau dibelikan odol, eh ditolak penjual: ”Ini tidak laku disini, tuh tukarkan dulu ke money changer”. Jalanlah dia ke tempat yang ditunjuk, ditukar ke Singapura dollar, hanya dapat Sin$ 4.00 dan beberapa puluh sen, tidak cukup untuk beli odol, hanya bisa beli sebotol air putih. 

    Kemudian Si Rp50.000 dibawa pedagang valas naik feri ke Batam, disetorkan di bank, karena masih bagus, masuk mesin ATM lagi di airport. Kali ini Si Rp50.000 ditarik pelancong yang hendak ke Bali, di sana, pindah tangan beberapa kali, tahu-tahu sampai di Semarang. Saat dibayarkan oleh Aliong ke tukang buah, dikipas-kipas sebagai penglaris, eh terjatuh, pas hujan, hanyut di air dan sempat kelindas motor bebek yang lewat. Tetap dikejar tukang buah, ketangkap, eh keambil, dan transaksi selesai, ada senyum terima kasih dari si penjual buah. 

    Malamnya uang digelar di atas koran, masih basah-basah dikit, malahan disetrika sama istrinya supaya cepat kering. Warnanya agak pudar dan uang jadi lusuh. Esoknya dibelikan meterai di kantor pos, petugas lihat-lihat teliti, oh uang asli, diterima. Besoknya lagi disetorkan ke BI, karena sudah masuk kategori UTLE, Uang Tidak Layak Edar, diadministrasikan petugas, dan dari arsip BI diketahui Si Rp50.000 sudah beredar sejak 16 bulan silam. Nah, akhirnya dimusnahkan.

    Umurnya 16 bulan. Singkat atau panjang? Saat Raja Firaun bertanya kepada Yakub (Kejadian 47:8-9): “Sudah berapa tahun umurmu?” Jawab Yakub kepada Firaun: “Tahun-tahun pengembaraanku sebagai orang asing berjumlah seratus tiga puluh tahun. Tahun-tahun hidupku itu sedikit saja dan buruk adanya …”

    Saudaraku, ULE 16 bulan atau usia Yakub yang 130 tahun, mana yang lebih panjang? Sama-sama menjadi pengembara, pindah tempat berkali-kali, dan sebagian besar situasinya buruk adanya. Si Rp50.000 mengalami masa disayang saat masih kinyis-kinyis, lalu dilipat-lipat, dikaretin, ditolak-tolak di luar negeri, masuk mesin ATM dipukul oleh bilah mesin, jatuh ke air, bahkan disetrika hingga warnanya pudar. Namun tetap mengemban misi sebagai alat pembayaran yang sah, dan lambang kedaulatan negara Garuda Pancasila tetap tertera di gambarnya.

    Saudaraku, apakah kita sadar, saat kita mengaku percaya dan menerima Tuhan Yesus Kristus sebagai Juruselamat pribadi, maka Allah menempatkan Roh Kudus yang memeteraikan kita? Kita punya misi sebagai garam dan terang bagi dunia, dan mengemban tugas mulia untuk pergi dan menjadikan semua bangsa menjadi murid Tuhan Yesus, dan dibaptis dalam nama Bapa dan Anak dan Roh Kudus, dan mengajar mereka melakukan segala sesuatu yang telah Tuhan Yesus perintahkan? (Matius 28:19-20)

    Kita sama-sama mengalami penderitaan dalam kehidupan, pernah mengalami masa disayang saat masih punya kelimpahan harta benda kinyis-kinyis. Lalu melewati masa dilipat-lipat berbagai tipu daya dan cobaan, serasa dikaretin karena akibat perbuatan yang tidak benar, ditolak-tolak oleh lingkungan sekitar, hingga hati merasa dipukul berbagai kesedihan, jatuh ke air dan bahkan sakit menderita berpanjangan. Apakah ketika menjalani  semua ini warna kehidupan kita menjadi pudar? 

    Saudaraku, mari kita sejenak hening, dengan hati bening merenungkan apa yang ditulis oleh Rasul Yohanes:  “Sesungguhnya Aku datang segera dan Aku membawa upah-Ku untuk membalaskan kepada setiap orang menurut perbuatannya. Berbahagialah mereka yang membasuh jubahnya. Mereka akan memperoleh hak atas pohon-pohon kehidupan dan masuk melalui pintu-pintu gerbang ke dalam kota itu.” (Wahyu 22:12 dan 14). (Surhert). 

  • TULUS TANPA GIMIK

    Saudaraku,  zaman sekarang manusia hidup untuk dilihat orang.  Beberapa konten kreator merekayasa suatu kejadian demi mendapatkan perhatian.    Orang-orang itu menunjukkan kehidupan yang bahagia, penuh cinta di depan kamera namun itu ternyata hanya Gimik (Gimik adalah gerak gerik tipu daya aktor untuk mengelabui lawan peran – KBBI).  Ternyata Rasul Paulus pernah mengingatkan jemaat Roma untuk berhati-hati dengan sikap ini. Mari renungkan bersama Roma 12:9-14.

    Rasul Paulus mengingatkan kepada jemaat di kota Roma untuk belajar mengasihi dengan tulus iklas (Ayat 9) dengan berlandaskan kepada kasih di dalam Kristus yang wafat di kayu salib.  Jemaat saat itu disadarkan bahwa mereka memiliki tanggung jawab untuk membangun tubuh Kristus dengan penuh keiklasan dan menjauhi kepura-puraan (dalam pertunjukan teater Yunani, bagaikan aktor yang berperan sesuai dengan memakai topeng yang dipakainya).  Mereka bersikap nampaknya penuh perhatian dan saling berbagi namun itu semua dilakukan hanya sebatas formalitas dan penuh keterpaksaan atau dalam istilah populer sekarang adalah gimik.  Paulus menghimbau jemaat untuk menjauhi gimik dan hidup dalam ketulusan sesuai teladan Sang Kristus.  Kasih bukan gimik, kasih harus muncul dari hati.

    Hari Valentine  dirayakan sebagai hari kasih sayang yang oleh sebagian besar orang, dipakai sebagai saat untuk menyatakan perhatian dan cinta dengan bunga dan cokelat.  Banyak orang bahagia tanpa sempat memikirkan cinta yang diterima itu sungguh-sungguh atau hanya sekadar gimik belaka, agar nampak manis di depan kamera padahal hatinya tidak demikian.  Maka pesan Paulus sungguh relevan untuk semua saja yang merayakan Hari Valentine: Milikilah kasih yang tulus berdasarkan Kristus.  Kasih yang tulus menurut Roma 12 : 9-14 yaitu: 

    1. Memandang jijik segala yang jahat dan yang tidak sopan (Ayat 9a)
    2. Membiasakan diri melakukan apa yang baik (Ayat 9b)
    3. Menghargai sesama (Ayat 10)
    4. Antusias dan penuh inisiatif dalam melayani Tuhan dengan hati yang murni   (Ayat 12)
    5. Hidup dalam kemurahan dan pengampunan (Ayat 13 dan 14)

    Kasih yang tulus tanpa gimik akan dapat dimiliki bila setiap orang menerima dan hidup dalam anugerah Kristus (Roma 5:8-9).  Mari bertanya pada diri sendiri: Apakah saya sudah menyadari dan menghidupi anugerah pengampunan Kristus?  Mustahil bisa mengasihi dengan tulus bila hati masih kosong dengan anugerah pengampunan-Nya. 

    Saudaraku, dunia sudah lelah dengan gimik dan skeptis dengan kasih yang tulus.  Banyak orang terutama anak muda yang menikmati gimik kasih yang pengaruhnya bagaikan ekstasi yang hanya sesaat dan merusak. Sebagaimana himbauan Paulus, mari orang-orang percaya Kristus terus bekerja mengobarkan kasih yang muncul dari ketulusan hati dalam anugerah Allah sehingga dunia ini mengenal kasih sejati.  Selamat merayakan hari Valentine. Selamat bertumbuh dewasa. (Ag).

  • It’s All About Obedience

    BERKAT. Sahabat, pada suatu hari saya bertemu dengan teman lama dalam Persekutuan Mahasiswa di satu Mal. Dengan senyum-senyum kecil dia berkata: “Password Pak Pendeta itu Tuhan  memberkati.”

    Coba hitung, dalam sehari, berapa kali kita menggunakan kata berkat? Saat berdoa, kita meminta agar Tuhan memberkati kita, serta memberkati orang-orang yang kita kasihi. Kita berdoa agar Dia memberkati usaha kita. Saat berkomunikasi, baik secara lisan maupun pesan elektronik, ada cukup banyak diantara kita  mengakhirinya dengan berkata, “Tuhan memberkati” atau disingkat GBU (God Bless You). Namun, apa konsep pemahaman kita mengenai berkat?

    Ada cukup banyak  orang percaya  dengan mudahnya menghubungkan kata berkat dengan materi, yakni harta benda dan kekayaan, juga kesehatan fisik, memiliki keturunan, panjang umur, dan kesuksesan usahanya. 

    Itu tidak sepenuhnya salah. Namun dalam Alkitab, berkat adalah segala sesuatu yang Allah berikan kepada anak-anak-Nya. Jadi berkat itu juga berupa perlindungan dan perkenanan Tuhan atas kita. Termasuk damai sejahtera dan sukacita yang kita alami karena mengenal dan menaati Dia. Juga ketika kita dapat menutup mata dengan damai dan tidak melihat bencana yang akan ditimpakan Tuhan. Bahkan Pengampunan dosa dan keselamatan di dalam Kristus merupakan  berkat terbesar yang Allah berikan bagi kita.

    Hari ini kita melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: “It’s All About Obedience (Semua Tentang Kesetiaan)”. Bacaan sabda diambil dari 2 Raja-raja 22:1-20. Sahabat, sejarah Kerajaan Israel dan Kerajaan Yehuda dipenuhi dengan raja-raja yang jahat, karena memang lebih mudah dan masuk akal untuk berteman dengan kerajaan-kerajaan besar di sekitar mereka untuk bertahan hidup. Bahkan, Hizkia pun, yang digambarkan sebagai raja yang baik dan menyembah Allah Israel, juga tergoda untuk mengikat janji dengan Babel (2 Raja-raja  20:12-21).

    Lain halnya dengan Raja Yosia. Ketika Taurat Tuhan ditemukan dan dibacakan Imam Hilkia (Ayat 8-11), Yosia berkabung akan dosa bangsanya, bertobat, dan meminta petunjuk Tuhan (Ayat 12-19). Tindakan Yosia membuktikan bahwa ia memiliki keberanian dan kejernihan hati.

    Sahabat, namun pertobatan dan reformasi yang dilakukan Yosia tidak mengubah rencana hukuman Tuhan untuk Yehuda (Ayat 16). Paradoks teologis ini tidak diselesaikan oleh kisah yang kita baca. Yosia mungkin adalah Raja Yehuda terbaik yang berusaha melakukan reformasi rohani. Walau demikian, bagaimana kalau ketaatan ini tidak menghasilkan upah yang baik dari Tuhan, tetapi malah hukuman?

    Dalam Kitab Taurat yang ditemukan Yosia, memang jelas tertulis kutukan akan menjadi akibat ketidaktaatan Yehuda. Reformasi yang dilakukan Yosia tidak akan menyelamatkan Yehuda dari kehancuran akibat ketidaktaatan. Selain itu, Tuhan memang memberikan kelegaan pada Yosia sehingga ia tidak akan menyaksikan kehancuran itu (Ayat 20).

    Kutuk kehancuran memang tak dapat diubah, namun Yosia tetap bekerja keras demi MENGUBAH KETIDAKTAATAN menjadi KETAATAN. Justru di sinilah letak keistimewaan Yosia. Ketaatannya BUKAN KARENA  iming-iming UPAH atau BERKAT. Dengan mendalam Yosia menyadari dosa bangsanya, dan dengan sekuat tenaga ia melakukan REFORMASI.

    Sahabat, cukup banyak orang percaya lebih menyukai ajaran yang menjanjikan banyak berkat. Padahal, Allah yang dipercayai Yosia bukanlah mesin pembagi berkat. Justru Yosia menunjukkan hati yang setia kepada Tuhan walaupun “rugi”. Buat Yosia, bukan berkat yang terutama, namun KETAATAN; bukan kemudahan, namun KESETIAAN. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 18-20?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Jika kita sungguh sungguh bertobat, maka Allah akan memberikan anugerah dan berkat-Nya di tengah-tengah pendisiplinan-Nya. (pg).

  • TIDAK LELAH MENDENGARKAN

    Saudaraku,  sebuah film yang dirilis tahun 2003 berjudul Bruce Almighty menceritakan tentang Bruce, seorang laki-laki yang selalu tidak beruntung dan suatu saat bertemu dengan figur Tuhan yang memberinya kesempatan untuk melaksanakan tugas Tuhan.   Hal yang paling mengganggu Bruce saat bertugas menjadi Tuhan adalah ia harus mendengar, menyeleksi dan merespons lantunan doa dari segenap orang di dunia. Doa itu terus bergema di telinganya selama 24 jam tanpa jeda.  Saat itu Bruce yang adalah manusia merasa kelelahan dengan berisiknya suara doa dari manusia di dunia, ia menjadi marah dan frustrasi.  Maka betapa bersyukurnya manusia memiliki Tuhan yang tak pernah merasa lelah dengan doa manusia sebagaimana dikisahkan dalam  Lukas 18: 15-17.  Mari renungkan.

    Kemarahan para murid kepada para orangtua yang membawa anak-anaknya yang masih kecil (mungkin usia balita)  kepada Yesus sebenarnya beralasan.  Para murid yang sudah sangat sibuk dengan begitu banyaknya orang yang ingin menemui Yesus, tentunya sangat terganggu dengan para orangtua yang sengaja menyodorkan anak-anak di gendongan mereka kepada Yesus.   Tidak heran para murid menegur keras para orangtua yang “ambisius” itu. 

    Sementara itu para orangtua sengaja membawa anak balitanya kepada Yesus agar mendapat perhatian dan diberkati oleh Yesus yang saat itu merupakah tokoh yang populer.  Disentuh oleh seorang Guru pasti merupakan sebuah keinginan supaya anak mereka memperoleh doa yang terbaik.  Hal ini yang tidak bisa dilihat oleh para murid karena banyaknya tugas yang harus mereka kerjakan untuk menjaga dan menyeleksi siapa saja yang bisa bertemu dengan Sang Guru.

    Yesus melihat keinginan dan kerinduan para orangtua itu dan Ia bersikap pro kepada mereka.  Di sela kesibukan-Nya melayani dan mengajar, Yesus memahami isi hati para orangtua itu dan meminta para murid membiarkan mereka mendekat.  

    Inilah hati Kristus yang luar biasa karena Dia melihat setiap kerinduan umat-Nya.  Ia benar-benar memahami isi hati manusia sehingga memberikan perhatian secara pribadi.  Tuhan tidak pernah lelah mendengar doa yang dipanjatkan dari setiap orang dan akan memberikan respons sesuai dengan kebutuhan mereka, bahkan doa orang yang tertindas dan tersingkir dari lingkungan sosial manusia.  

    Pemazmur dalam Mazmur 50:15 mengatakan, ”Berserulah  kepada-Ku pada waktu kesesakan  Aku akan meluputkan  engkau, dan engkau akan memuliakan  Aku.”  Manusia bisa saja memandang kepada jabatan, materi, popularitas dan kelas sosial untuk memerhatikan seruan sesamanya, namun Tuhan tidak.  

    Tuhan memahami dan mendengar setiap seruan umat-Nya dan tidak menghakimi setiap permohonan mereka yang datang kepada-Nya.  Mari selalu menyatakan setiap kerinduan hati kepada Tuhan karena Ia akan memerhatikan.  Dialah Sang El-Roi, Allah yang melihat.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • Are You A Successful Person?

    ORANG SUKSES. Sahabat, Maya Angelou, seorang penulis,  mengatakan bahwa definisi sukses adalah ketika seseorang menyukai dirinya, menyukai apa yang dia lakukan, dan menyukai pekerjaannya.

    Kata sukses pasti terdengar menyenangkan bagi sebagian besar orang karena itu merupakan tujuan hidup mereka. Makna sukses tidak hanya berarti orang dengan banyak uang, pekerjaan mumpuni, dan strata sosial yang tinggi. Secara harfiah, kata sukses memiliki arti berhasil dalam berbagai aspek. Bisa dibilang, sukses adalah sebuah keberhasilan, terlepas apa pun keberhasilan itu.

    Lalu bagaimana orang sukses itu? Mungkin mereka adalah seseorang  yang ambisius dan kompeten? Atau mungkin seseorang yang selalu memikirkan bisnis dan apatis? Mungkin sifat-sifat tadi tampak berperan dalam kesuksesan seseorang.

    Lebih dari itu, ada karakter yang menjadi pertimbangan dan dorongan kuat dibalik kesuksesan seseorang. Lalu bagaimana cara kita mendefinisikan kesuksesan diri kita sendiri? Apakah dengan pendapatan yang besar, tinggal di rumah mewah, atau mengendarai mobil keluaran terbaru? 

    Konsep kesuksesan setiap orang tentu berbeda-beda. Kesuksesan adalah sesuatu hal yang ingin dicapai oleh seseorang. Bisa jadi sukses adalah hal yang sangat membanggakan sekaligus menggembirakan. Bertumbuh sambil mendengarkan cerita dari orang-orang yang sukses membuat kita bermimpi untuk menjadi seperti mereka suatu hari nanti. Kadang  mimpi itu mulai memudar ketika kita dihadapkan dengan kenyataan hidup yang keras.

    Sahabat, intinya, tidak ada jalan yang mudah untuk meraih kesuksesan. Kualitas orang-orang yang sukses tampaknya memiliki beberapa ciri khas yang sama, seperti bekerja keras, kompeten, fokus, dan memiliki tekad dan usaha untuk mencapai tujuan yang ditargetkan. 

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: “Are You A Successful Person? (Apakah Anda Orang Sukses?)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 21:1-26. Sahabat, raja Manasye menggantikan Hizkia, ayahnya, dan berkuasa selama 55 tahun, hampir dua kali lipat masa kekuasaan Hizkia. Dari lamanya berkuasa, tampaknya Manasye jauh lebih berhasil daripada ayahnya yang setia kepada Allah. Apakah kalau begitu raja Manasye tergolong orang sukses?

    Bacaan kita pada hari ini  menggambarkan Manasye sebagai raja yang jahat yang menyembah Baal dan Asyera (Ayat 3, 7). Pada zaman kuno, penyembahan ilah lain selalu berhubungan dengan politik dan pengaruh kerajaan lain, dalam hal ini Asyur. Justru karena takluk pada Kerajaan Asyur, masa kekuasaan Manasye menjadi yang terpanjang dalam sejarah Yehuda. Manuver raja Manasye tersebut tentu mendukakan hati Tuhan.

    Maka vonis yang disampaikan nabi sangat jelas. Karena dosa dan kejahatannya, Allah membulatkan hati untuk menghancurkan Yerusalem dan Yehuda (Ayat 10-16). Manasye termasuk sebagai raja yang paling jahat dalam sejarah Yehuda. Bahkan, seluruh kehancuran Yehuda dijelaskan Alkitab sebagai akibat dosa Manasye (2 Raja-raja 24:3). Jadi, kadang apa yang dipandang dunia sebagai kesuksesan, justru dipandang Allah sebagai kejahatan.

    Sahabat, suara nabi menusuk ke dalam realitas kehidupan. Harta dan kekuasaan, itulah yang dikejar Manasye. Dalam  standar manusia pada umumnya, raja Manasye tampak sebagai orang sukses. Takhta dan kekuasaannya berjaya selama puluhan tahun. Dunia melihat itu sebagai hasil permainan politik yang sangat licin dan hebat, namun, suara nabi mengungkap ujung kematian dan kehancuran untuk raja Manasye dan Yehuda.

    Apakah Sahabat orang sukses? Ada cukup banyak orang percaya yang berpendapat bahwa orang percaya itu tandanya adalah menjadi orang sukses. Pola pikir dunia dengan Alkitab soal kesuksesan sangat jauh berbeda.  Sebagai murid Yesus, kita difokuskan untuk mengejar sesuatu yang kekal, bukan yang fana. Hidup itu berbicara soal penyerahan hak kepada Tuhan. Mengikut Tuhan memang sulit, upahnya juga kadang tidak terlihat kasatmata. Tapi percayalah, saat kita ikut Tuhan ukuran kesuksesan kita bukanlah materi, tapi kebahagiaan saat kita bisa melakukan kehendak Tuhan. Doa kita bukan semoga kita sukses, tapi semoga kita berbuah. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 4 dan 7?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sukses  adalah saat kita melakukan kehendak Tuhan dan hidup dalam panggilan-Nya. (pg).

  • NIAN GAO

    Nian Gao (Kue Keranjang) mudah didapatkan di sekitar tahun baru Imlek. Dibuat dari tepung ketan, jadi agak lengket-lengket, mirip dengan dodol yang merupakan penganan asli Indonesia. 

    Puluhan tahun lalu kami pernah melihat seorang pembuatnya di daerah Sleko (jalan Pemuda) Kudus. Tepung dicampur air  gula diolah, diberi warna dan rasa, diaduk di beberapa wajan besar hingga matang. Kemudian dituang di wadah-wadah bulat, setengah kering dibungkus dengan daun bambu karena  saat itu plastik masih langka, dan diletakkan di tampah, dan dikemas lagi dalam besek atau keranjang bambu kecil yang anyamannya longgar jadi bisa melihat isinya. Yang laris dijual yang berdiameter 10 cm dan beratnya sekitar 500 gram.

    Di Tiongkok sejak zaman Dinasti Zhou (sekitar  tahun 500 SM) ada penganan yang disebut Nian Gao. Dibuat dari tepung beras. Beras hasil panen yang berlimpah ditumbuk dijadikan tepung, dan diolah, dicetak bentuk batu bata. Ini awet hingga beberapa bulan kemudian, bisa dimakan rakyat saat paceklik atau perang dengan cara dituang air panas, disebut Nián gāo 年糕, artinya kue beras. 

    Karena bisa disimpan lama dan tidak rusak, rakyat membuat istilah yang berbunyi Nián nián gāo sheng 年年高升 artinya meningkat dari tahun ke tahun. Ya jelas, bisa menyimpan beras hasil panen hingga awet lama, tidak takut ada kutu beras, tetap dapat dimakan sepanjang tahun.

    Kemudian hari nian gao dibentuk lingkaran, bahan dari tepung beras bisa digantikan dengan tepung ketan. Nah karena melambangkan rezeki tahan lama, jadilah Nian Gao turut disajikan dalam meja sembahyang. Ukuran Nian Gao jadi bervariasi, paling kecil berdiameter sekitar 5 cm lalu meningkat hingga ada yang 20 cm. Ditumpuk di meja, mulai dari yang besar hingga yang kecil, hitungan tumpukan biasanya 8 atau 八 Bā bunyinya dalam hokkien mirip 富 fù artinya rezeki, atau 9 tumpuk 九 Jiǔ yang bunyinya mirip kata kekal, abadi, durable. 

    Disajikan di meja sembahyang maksudnya agar si pemberi bisa mendapatkan rezeki yang durable, jangka panjang hingga masuk tahun mendatang. Memang dalam budaya Tionghoa ada banyak makanan, barang, nomer dan lain-lain yang bisa diartikan lebih lanjut, karena karakter Mandarin ada 4.000 karakter lebih dan banyak bunyinya yang mirip-mirip tapi beda arti.

    Memohon doa kepada yang di atas dengan berbagai penganan, masakan dan buah yang disajikan, pokoknya semuanya memiliki arti yang baik, bahagia, rezeki, dan seterusnya. Makin kaya, makin panjang meja persembahannya dan makin banyak sesajinya. Didoakan di malam Imlek dengan maksud persembahan-persembahan ini naik ke langit, dan mengharapkan berkat akan turun di hari-hari ke depan sesuai arti nama-nama barang yang dipersembahkan. Nah, saat sanak keluarga berkumpul di hari raya Imlek, hidangan-hidangan yang sudah disajikan tersdebut akan dimakan bersama, agar sama-sama mendapatkan berkat.

    Saudaraku, diceritakan di kitab Kisah Para Rasul pasal 10:  Di kota Kaisarea ada seorang perwira dari kesatuan tempur Italia yang bernama Kornelius. Dia percaya kepada TUHAN, saleh, seisi rumahnya takut akan Allah, memberi banyak sedekah kepada umat Yahudi dan senantiasa berdoa kepada Allah. Suatu siang kira-kira jam tiga, ketika Kornelius berdoa, jelas tampak kepadanya seorang malaikat Allah masuk ke rumahnya dan berkata kepadanya: “Kornelius!” Tentu Kornelius sangat takut, menatap malaikat itu dan dengan takut ia berkata: “Ada apa, Tuhan?” Jawab malaikat itu: “Semua doamu dan sedekahmu telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat engkau.”

    Itulah buah kesalehan Kornelius, semua doa dan sedekahnya telah naik ke hadirat Allah dan Allah mengingat dia. Tentu Kornelius tidak hanya berdoa supaya dirinya, istri dan anaknya selalu mendapatkan kebahagian berlimpah-ruah, kesehatan yang sangat prima, bisa selalu menang perang  (Pada zaman itu perang harus dalam jarak dekat pakai pedang atau tombak), atau nanti saat pensiun dia bisa jadi orang tajir dan menjadi crazy rich, apalagi dia berpangkat perwira. 

    Kornelius  tidak egois, dia SENANTIASA BERDOA KEPADA  ALLAH. Tentu dia juga berdoa bagi kesejahteraan bangsa dan negara, juga berdoa bagi umat Yahudi  (bangsa yang dijajah Roma, dan sedekah kepada umat Yahudi.  TUHAN BERKENAN akan doa-doanya, yang naik ke hadirat  Allah. Pengamsal mengingatkan kita: “TUHAN itu jauh dari pada orang fasik, tetapi doa orang benar didengar-Nya” (Amsal 15:29) 

    Untuk Saudaraku yang merayakan Tahun Baru Imlek: Selamat  menyambut dan merayakannya. Tetaplah panjatkan doa bagi kesejahteraan rakyat dan negara Indonesia. Semoga kita memiliki pemimpin yang sungguh-sungguh takut dan berbakti pada TUHAN, supaya segala doa, sedekah dan upaya mensejahterakan bangsa dapat naik ke hadirat  Allah dan Allah mengingat segenap rakyat Indonesia.  Oh ya, hampir lupa, semoga ada cukup banyak Saudaraku yang berkenan berdoa untuk pelayanan Christopherus dan berkenan mengirimkan angpao untuk mendukung pelayanan Christopherus. (Surhert).

  • CAP GO MEH

    Perayaan Cap Go Meh dirayakan pada tanggal 15 bulan pertama Imlek, dan bertepatan dengan bulan purnama (full moon 100%), wajah bulan nampak 100% dengan jarak terdekat ke bumi. Jadi nampak bundar dan  bersinar terang. Ini bulan purnama merupakan tanggal 15 penanggalan lunar (sistem penanggalan yang didasarkan atas perhitungan fase bulan), dan justru pada saat bulan baru maka (planet) bulan tidak nampak sama sekali. Jadi ingat 1 Samuel 20:24 Raja Saul mengadakan jamuan makan dengan para anak buahnya ketika bulan baru tiba, jadi bertepatan dengan tanggal 1 kalendar lunar.

    Cap Go Meh memang berjarak 15 hari dari Tahun Baru Imlek tanggal 1 lunar, tapi dari tanggal 1 lunar hingga 15 lunar setidaknya ada 2 upacara penting bagi penganut kepercayaan mereka. Jadi dalam kurun 15 hari ada 3 perayaan utama, dan ditutup dengan Cap Go Meh. 

    Karena acara itu sebagai penutup rangkaian acara tahun baru Imlek, maka diadakan dengan meriah dan mengetengahkan simbol-simbol kebudayaan Tionghoa seperti arak-arakan liong, barongsay dan bahkan beberapa sesembahan utama juga diarak. Rumah-rumah jemaat dan jalan-jalan yang akan dilalui arak-arakan dihias meriah dengan lampion dan bunga-bunga berwarna merah. Memang ini perayaan yang melibatkan kepercayaan-kepercayaan tradisional etnik Tionghoa, namun kemudian berbaur dengan adat kebudayaan masyarakat setempat.

    Saat perayaan Cap Go Meh berlangsung, gadis-gadis Tionghoa di zaman dulu yang dipingit sebelum mendapatkan jodoh, akan dibebaskan untuk berjalan-jalan menonton arak-arakan. Bahkan diceriterakan ada kaisar-kaisar, jenderal dan petingginya yang tidak memakai baju kebesarannya namun ikut berbaur dengan rakyat menyaksikan festival. 

    Jadi saat Cap Go Meh terjadi interaksi sosial yang tidak membedakan perbedaan strata sosial maupun ekonomi. Hanya saja khusus di Indonesia beberapa kali perayaan Cap Go Meh ditetapkan hanya boleh dilangsungkan sekitar tempat ibadahnya dan tidak boleh ada arak-arakan, demi menjaga situasi keamanan dan politik. 

    Setelah selesai acara Cap Go Meh, ya segala pernik-pernik perayaan termasuk liong, barongsay maupun sesembahan dikembalikan ke tempat ibadah semula, menunggu diarak 1 tahun Cap Go Meh berikutnya, atau menunggu acara HUT lokal tempat ibadah tersebut kalau ada dan dirayakan. Jemaatnya melakukan sembahyang di tempat ibadahnya hanya pada tanggal 1 dan 15 kalender lunar saja, jadi dalam 1 bulan hanya 2 kali ibadah, tapi banyak umatnya yang hanya sembahyang 1 kali per bulan. 

    Yang penting tiap pagi atau malam memasang hio di depan rumah atau altar rumah minta berkat dari yang diyakininya. Lalu ajaran-ajaran hanya berupa tradisi lisan, diceriterakan turun temurun atau antar kawan, jadi dalam satu upacara adat di suatu tempat bisa berbeda dengan upacara adat yang sejenis di tempat lain. 

    Kalau kita bertanya mengapa mesti ada upacara ini atau mengapa mesti melakukan itu, biasanya dijawab, katanya … katanya … kata si suhu … dan seterusnya tergantung orang-orang tua yang ngomong. Jadi ada adat dan ibadah yang berbeda dari tiap-tiap suku, marga dan rumah ibadah, yang sama hanya perayaannya bertepatan dengan tahun baru Imlek dan Cap Go Meh. 

    Memang Pemerintah telah membentuk suatu organisasi sosial yang memayungi berbagai macam kelenteng dan kuil, namun hanya bersifat sosial dan ibadahnya tetap diserahkan ke masing-masing setempat. 

    Berbeda dengan Gereja yang memiliki 5 acara penting: Natal, Jumat Agung,
    Paskah, Kenaikan Tuhan Yesus  Ke Surga, dan Pentakosta. Juga pada setiap  Minggu diadakan Ibadah di gereja yang bukan saja diisi khotbah tapi juga puji-pujian. Dalam setiap kegiatan ibadah Minggu setidaknya kita akan mendapatkan pengajaran Firman Tuhan dari Hamba Tuhan, kemudian ada kelas-kelas Pembinaan, juga Persekutuan antar sesama anggota jemaat, dorongan untuk ikut dalam penginjilan, dan ajakan ikut berdiakonia untuk membantu masyarakat yang berkekurangan. 

    Saudaraku, mengingat pentingnya kita mengikuti ibadah, mari kita perhatikan Firman Tuhan yang terdapat di Ibrani 10:25: “Janganlah kita menjauhkan diri dari pertemuan-pertemuan ibadah kita, seperti dibiasakan oleh beberapa orang, tetapi marilah kita saling menasihati, dan semakin giat melakukannya menjelang hari Tuhan yang mendekat.”

    Untuk Saudaraku yang merayakannya: Selamat  merayakan Tahun Baru Imlek 2575. Semoga berkah keselamatan, kesehatan, kebahagiaan, dan kelimpahan, selalu ada untuk kita. Semoga segala usahamu membuahkan hasil yang gemilang, rezeki mengalir semakin deras, dan semakin banyak impianmu yang menjadi kenyataan. Oh ya, jangan lupa, dukunglah Yayasan Christopherus dengan DOA, DANA, DAN KARYA. (Surhert).

  • Learn about the Meaning of Understanding Life

    ROBERT ANTHONY SNOW.  Sahabat, dari Wikipedia saya mendapatkan info bahwa Robert Anthony Snow (1 Juni 1955 – 12 Juli 2008) adalah seorang jurnalis Amerika, komentator politik, pembawa berita, kolumnis, musisi, dan Sekretaris Pers Gedung Putih ke-25 di bawah Presiden George W, Bush,  dari Mei 2006 hingga pengunduran dirinya pada bulan September 2007. 

    Snow juga bekerja untuk Presiden George HW Bush sebagai kepala penulis pidato dan Wakil Asisten Urusan Media, dari tahun 1991 hingga 1993. Di antara dua tugasnya di Gedung Putih, Snow adalah seorang penyiar dan kolumnis surat kabar. 

    Setelah bertahun-tahun menjadi pembawa acara tetap untuk The Rush Limbaugh Show dan memberikan komentar berita untuk National Public Radio, ia meluncurkan program radio bincang-bincangnya sendiri, The Tony Snow Show , yang kemudian menjadi  sindikasi nasional. 

    Dia juga menjadi tokoh tetap di Fox News Channel mulai tahun 1996, menjadi  pembawa acara Fox News Sunday dan Weekend Live, dan sering menjadi pembawa acara The O’Reilly Factor.  

    Pada bulan April 2008, Snow sempat bergabung dengan CNN sebagai komentator. Ia juga menyampaikan beberapa pidato penting, termasuk pidato utama di Konferensi Aksi Politik Konservatif pada tahun 2007 dan 2008. Dalam kapasitas jurnalistik dan pemerintahannya, Snow secara umum mendukung tujuan-tujuan konservatif.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: “Learn about the Meaning of Understanding Life (Belajar tentang Arti Memahami Hidup)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 20:1-11 dengan penekanan pada ayat 3. Sahabat, Robert Anthony Snow, pernah berjuang melawan kanker selama tiga tahun. Pada 2008 sebelum meninggal, ia menulis: “Sebagian penderita kanker sembuh, sebagian tidak. Menghadapi kefanaan dan keringkihan tubuh, cara kita memandang hidup jadi makin bijak. Kita lebih bisa menghargai hal-hal kecil, menyadari pentingnya iman, dan mengalami betapa besarnya kuasa kasih. Itulah karunia yang mungkin tidak dipahami orang sehat. Itu seninya sakit. Menurutku, ada hal yang jauh lebih parah dari sakit, yaitu hidup sehat, tetapi hampa.”

    Dalam bacaan kita pada hari ini, Raja Hizkia pernah mengalami sakit yang akan mendatangkan kematian. Saat itu ia sangat terpukul. Di tengah kepedihan hatinya, ia teringat betapa fananya hidup. Ia tersadar bahwa kedudukannya sebagai raja tidak ada artinya di hadapan Tuhan. Matanya pun jadi terbuka bahwa hal TERPENTING dalam hidup ini tidak lain adalah MEMULIAKAN TUHAN. Pengalaman sakit itu memberinya hikmat dan memperkaya hidupnya sehingga ia semakin mengenal Allah.

    Tidak sedikit orang beranggapan negatif tentang penyakit yang diderita. Tetapi, firman Tuhan menunjukkan bahwa MASA SAKIT  dapat menjadi MASA PEMBELAJARAN  untuk MEMPERKAYA HIDUP kita. Belajar tentang arti MEMAHAMI HIDUP, memahami karya Tuhan, dan menggunakan kesempatan hidup! 

    Sahabat, jika hari ini kita hidup sehat dan bugar, hargailah itu sebagai kesempatan untuk menjalani hidup yang menyenangkan hati-Nya. Namun, kala kita mesti menanggung sakit, kita dapat tetap mengucap syukur kepada-Nya. Masa sakit dapat menjadi MASA PEMBELAJARAN  tentang bagaimana MEMAKNAI HIDUP  menurut kehendak-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 1-3?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Ketika kesulitan hidup mengimpit kita, sanggupkah kita tetap setia dan tetap percaya kepada Allah yang hidup? (pg).

  • God’s Opportunity to Exert all His Strength and Love

    KESEMPATAN. Sahabat, kesempatan hidup yang Tuhan berikan, saya pergunakan untuk bersaksi bahwa Tuhan Yesus itu hidup dan berdaulat. Dia mengasihi, mengampuni, menyelamatkan,  dan menyertai di sepanjang hidupku.  

    Kata kesempatan umumnya dipahami sebagai saat yang baik, peluang atau kemungkinan yang tersedia. Karena itu tidak mengherankan dalam Alkitab, kata kesempatan diterjemahkan dengan kata kairos yang menunjuk pada arti the right time (waktu yang tepat), waktu anugerah, atau menunjuk pada makna waktu yang kualitatif. Berbeda dengan kata kronos yang menunjuk pada waktu yang kuantitatif, ritme waktu yang ditunjuk oleh arloji. Namun harus diingat bahwa waktu kualitatif senantiasa berada dalam waktu kuantitatif.

    Waktu sebagai kairos berada dalam waktu sebagai kronos. Karena itu bagaimana setiap orang yang hidup dalam waktu kronos mampu memaknai, menghayati, mengisi, merespons dengan waktu kairos. 

    Dengan kata lain makna  kesempatan sebagai kairos tidak mungkin terjadi apabila kita mengabaikan ritme yang terjadi dalam waktu kronos. Kedua waktu kairos dan kronos saling terjalin dan integral bagaikan dua sisi dari satu mata uang. Apabila salah satu hilang (tidak ada), maka mata uang tersebut tidak memiliki nilai. Jika demikian makna hidup adalah kesempatan pada hakikatnya sejauh mana hidup yang kita hidupi merupakan hidup yang bernilai atau hidup yang bermakna.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: “God’s Opportunity to Exert all His Strength and Love (Kesempatan Tuhan Mengerahkan Segala Kekuatan dan Kasih-Nya). Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 19:1-37. Sahabat, situasi krisis sering dihadapi oleh orang percaya dengan dua cara, yaitu: Datang kepada Tuhan atau meninggalkan Tuhan. Kadang TUHAN menggiring kita kepada situasi di mana tidak ada sesuatu atau seorang pun yang dapat kita andalkan lagi, termasuk diri kita dan kekayaan yang kita miliki. Bila hal tersebut terjadi, seharusnya kita menyadari kebutuhan kita akan TUHAN.

    Sanherib mengirim utusan untuk melemahkan Hizkia dan bangsanya, agar Hizkia menyerah (Ayat 3-4). Melihat situasi yang sulit, Hizkia datang ke rumah TUHAN dengan penuh perkabungan dan berdoa memohon pertolongan-Nya (Ayat 1). Suatu langkah yang  baik. Untung saja Hizkia mau mendengarkan saran nabi Yesaya (Ayat 6-7)). Bergumul bersama dengan orang yang dekat dengan TUHAN, menolong kita untuk tidak tertekan dalam persoalan apa pun. Sanherib menunjukkan kesombongannya, namun tidak menyadari kehancuran mereka sudah di depan mata (Ayat 9-13).

    Sahabat, apa yang dilakukan Hizkia? Ia menyerahkan semua masalahnya di hadapan TUHAN tanpa mencari keuntungan dirinya sendiri (Ayat 14-19). Hizkia berdoa bukan untuk kebesarannya dan kerajaan Yehuda. Ia mengakui kedaulatan dan kekuasaan TUHAN, bahkan memohon pertolongan-Nya untuk membuat segala kerajaan di bumi mengetahui bahwa TUHAN adalah Allah satu-satunya (Ayat 19). Doa Hizkia didengar dan TUHAN memberi penghiburan-Nya (21-34). 

    Dari peristiwa tersebut kita melihat TUHAN menjadi Penjaga dan Penyelamat kaum Yehuda. Selain itu, TUHAN menubuatkan hukuman-Nya atas raja Asyur dan kerajaan-Nya (Ayat 35-37). Kalau TUHAN menolong kita, itu hanya karena otoritas-Nya, bukan karena kebaikan manusia belaka.

    Sahabat, tiada persoalan yang sulit bagi TUHAN. Ketika kita sudah tidak mampu mengandalkan apa pun, itulah KESEMPATAN TUHAN mengerahkan segala kekuatan dan kasih-Nya. Kita hanya perlu datang setiap saat kepada-Nya, mengandalkan Dia, dan tidak menyombongkan apa pun yang kita miliki. Bersyukurlah atas semua pertolongan-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 1-4?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Dalam segala keadaan yang kita alami, mari kita arahkan hati kepada Tuhan. (pg).

  • Limitations of Human Power

    JULIUS CAESAR. Sahabat, Veni, vidi, vici adalah kalimat dalam Bahasa Latin yang sangat terkenal, berasal dari ucapan Julius Caesar, seorang Jenderal dan Konsul Romawi pada tahun 47 SM. Julius Caesar menggunakan kalimat tersebut dalam pesannya kepada senat Romawi untuk menggambarkan kemenangannya atas Pharnaces II dari Pontus dalam pertempuran Zela. Kalimat yang berarti: Saya datang, saya lihat, saya menang (menaklukan) dan mengandung arti kemenangan mudah dan mutlak.

    Nama lengkapnya Gaius Julius Caesar. Kadang ditulis Gaius Yulius Kaisar.  Lahir pada 13 Juli 100 SM. Dia merupakan seorang pemimpin militer dan politikus Romawi yang kekuasaannya terhadap Gallia Comata memperluas dunia Romawi hingga Oceanus Atlanticus,  melancarkan serangan Romawi pertama ke Britania, dan memperkenalkan pengaruh Romawi terhadap Gaul (Prancis). Sebuah pencapaian yang akibat langsungnya masih terlihat hingga kini.

    Julius Caesar bertarung dan memenangkan sebuah perang saudara yang menjadikannya penguasa terhebat dunia Romawi, dan memulai reformasi besar-besaran terhadap masyarakat dan pemerintah Romawi. Dia menjadi diktator seumur hidup, dan memusatkan pemerintahan yang makin melemah dalam republik tersebut. Caesar meninggal dunia pada 15 Maret 44 SM akibat ditusuk hingga mati oleh Marcus Junius Brutus dan beberapa senator Romawi. Aksi pembunuhan terhadapnya pada hari Idi Maret tersebut menjadi pemicu perang saudara kedua yang menjadi akhir Republik Romawi dan awal Kekaisaran Romawi di bawah kekuasaan cucu lelaki dan putra angkatnya, Kaisar Augustus.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: “Limitations of Human Power (Keterbatasan Kekuasaan Manusia)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 18:13-37. Sahabat, dalam sejarah dunia muncul pemimpin-pemimpin yang sangat berkuasa, sehingga mereka mampu mengendalikan “seluruh dunia”. Contohnya, Julius Caesar, Alexander Agung, dan lain-lain. Mereka tidak berkuasa untuk selama-lamanya. Mereka hanya mampu memimpin dan berkuasa untuk sementara waktu. Tidak sedikit dari mereka yang harus mengakhiri hidupnya dengan cara yang tragis.

    Sahabat, Raja Asyur merasa dirinya sangat berkuasa, sehingga melakukan segala sesuatu seperti yang diinginkannya. Dengan kesombongannya, dia merendahkan semua orang. TUHAN sepertinya membiarkan raja Asyur terus menunjukkan kesombongannya. 

    Kesombongan raja Asyur terlihat dari kalimat-kalimat yang diucapkannya (Ayat 17-24). Memang TUHAN berkali-kali memakai bangsa kafir, termasuk Asyur, untuk menghukum umat-Nya. 

    Sahabat,  pernyataan raja Asyur jelas menunjukkan kesombongannya seolah-olah TUHAN pun berpihak kepadanya (Ayat 25). Lalu Raja Asyur dengan sengaja berbicara dalam bahasa Yehuda (Ibrani) agar semua rakyat jelata yang tidak menguasai bahasa Aram pada masa itu mendengar dan merasa ketakutan dan kehilangan kepercayaan diri terhadap Hizkia (Ayat 28-35). Dia juga mengancam akan mendatangkan kelaparan atas mereka dengan pernyataan “makan tahi dan minum air kencing” (Ayat 27). Hal yang paling menyinggung adalah hinaannya terhadap TUHAN yang disamakan dengan allah bangsa-bangsa lain yang dapat ditaklukkannya (Ayat 32b-35).

    Sejak awal, TUHAN dapat menghancurkan raja Asyur dan bangsanya, akan tetapi TUHAN ingin menunjukkan kesetiaan-Nya kepada Hizkia dan umat-Nya. TUHAN selalu memberikan kesempatan kepada orang-orang untuk bertobat. Namun, kesempatan itu justru digunakan untuk menyombongkan diri.

    Sahabat, kekuasaan TUHAN itu tidak terbatas, sedangkan KEKUASAAN MANUSIA sifatnya TERBATAS dan SESAAT. Karena itu, janganlah takut terhadap orang-orang yang berkuasa di dunia ini. Belajarlah MEMERCAYAI TUHAN dan tidak mengandalkan manusia dalam situasi yang paling sulit sekalipun. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang kekuasaan manusia?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Saat kita membenci musuh kita, sesungguhnya kita memberi mereka kekuasaan atas kita: Kekuasaan atas tidur kita, nafsu makan kita, tekanan darah kita, kesehatan kita, dan kebahagiaan kita (Dale Carnegie). (pg).