Category: Sejenak Merenung

  • DEWA JUDI

    Istilah Dewa Judi makin dikenal terlebih setelah film “God of Gamblers” tahun 1989 yang dibintangi Chow Yun Fat dan Andy Lau, dan disusul beberapa seri lagi. Di kalangan adat Tionghoa, Dewa Judi jarang disebut karena lebih dikenal Dewa Rezeki atau Dewa Keberuntungan yang terkait dengan keberuntungan dan kekayaan. 

    Dewa kelompok rezeki ini rupanya juga menjadi banyak idaman orang di berbagai kebudayaan, antara lain seperti Dewa Hermes (mitologi Yunani), Dewi Fortuna (mitologi Romawi), tujuh dewa keberuntungan dari Japan terutama Fukurokuju, Dewi Laksmi (mitologi Hindu), Dewi Sri atau dewi padi,  yang juga berarti kemakmuran, kekayaan, kesehatan, kecantikan, keberuntungan, bahkan ada Julaihud yang arcanya banyak dibuat pengrajin kayu jati dari Jepara, dan masih banyak lagi. 

    Di Tiongkok sendiri Dewa Rezeki ada beberapa, yakni Cai Shen (baju merah, topi dengan dua penutup seperti sayap) juga disebut Zhao Gong Ming atau Xuan Tan Zhen Jun yang dikawal Dewa Harta dari 4 penjuru: Timur, Barat, Selatan, Utara, disebut Dewa Harta dari Lima Jalan “Wu Lu Cai Shen”. Ada pula dewa Bigan (perdana Menteri zaman Dinasti Shang). Mengapa ada banyak dewa untuk sumber rezeki? Karena orang menginginkan segala yang detail untuk mendapatkan rezeki. jadi semua gambaran tentang dewata yang bisa mendatangkan rejeki dikreasikan. Sangat mungkin saja bila di zaman sekarang ada dewa Krypto, dewa Saham maupun dewa Dollar.

    Berikut ini  pengalaman Pak Is yang pernah bekerja bersama kami. Sebelumnya Pak Is bekerja beberapa bulan di kasino legal yang pernah dibuka di Jakarta pada zaman Gubernur DKI yang silam. Dia bercerita: Tempat kasino ini sangat mewah dan megah, ruangannya full tertutup, sinar ruangannya terang, tidak redup-redup, AC dan sirkulasi udara nyaman, toilet sangat bersih, juga disediakan ruang-ruang istirahat lengkap dengan petugas yang bisa memijat, dan ada berpuluh set makanan/minuman mewah siap selama 24 jam. Yang terutama tidak ada jam dinding atau petunjuk waktu apa pun sehingga orang lupa waktu. Sekali masuk, kalau bawa uang banyak, ya diharapkan lupa diri, lupa waktu berapa jam atau berapa hari main judi. 

    Saudaraku, di salah satu sudut ruangan ada altar untuk pemujaan dewa rejeki. Yang main judi suka bersembahyang di situ,  tentu minta menang. Karyawan kasino doa di situ, minta ketrampilan dalam mengocok kartu. Bandar atau orang kepercayaan bandar juga bersembahyang di situ, tentu mintanya supaya bandar bisa lebih menang. Seandainya Saudara   menjadi dewa rejeki di situ, pasti bingung, akan mengabulkan doa-doa yang mana, terutama doa dari pihak pemain atau dari pihak bandar?

    Main judi nampaknya mudah, kalau pas hoki  bisa menang taruhan dan menjadi kaya mendadak. Tapi kalau kalah, akan habis-habisan, bisa langsung kolaps atau jadi gila. Ini bukan sekadar permainan atau ketangkasan atau untung-untungan hoki, tapi juga ada dampak psikologis bagi pemain. Tuhan  tidak berkenan umat-Nya untuk mendapatkan rezeki dari upaya yang singkat mendadak baik seperti dari hasil main judi, penipuan, merampok, penyelundupan, manipulasi, korupsi atau hasil-hasil kejahatan lainnya.

    Saudaraku, mari kita renungan perumpamaan tentang seorang  penabur yang diceritakan Tuhan Yesus  di Matius 13:  Waktu ia menabur, sebagian benih itu jatuh di pinggir jalan, lalu datanglah burung dan memakannya sampai habis. Sebagian jatuh di tanah yang berbatu-batu, yang tidak banyak tanahnya, lalu benih itupun segera tumbuh, karena tanahnya tipis. Tetapi sesudah matahari terbit, layulah ia dan menjadi kering karena tidak berakar. Sebagian lagi jatuh di tengah semak duri, lalu makin besarlah semak itu dan menghimpitnya sampai mati. 

    Jadi sang penabur menghadapi berbagai kondisi dalam ladang pekerjaannya, ada tempat yang subur, ada yang berbatu, ada yang mudah dicocol burung dan lain-lain, kondisi hingga problema kesuburan tanah yang menyebabkan gagal tumbuh. 

    Saat bekerja tentu sang penabur juga berharap dan berdoa mohon berkat dari Tuhan agar bisa mendapatkan hasil yang baik. Setelah menabur masih perlu waktu dan tenaga untuk merawat tanaman agar tumbuh bagus, bahkan di persawahan kita melihat para petani berjaga dari hama burung. Saat panen pun perlu tenaga untuk memanen, kemudian mengolah lagi hasil panen agar dapat dijual, mendapatkan harga yang baik. Semuanya ada keringat. Untuk menumbuhkan jagung perlu sekitar 100 hari, untuk menanam padi perlu 3-4 bulan tergantung kondisi tanah, tanaman kopi perlu 3-4 tahun sebelum berbuah, bahkan kalau menanam pohon duren mungkin perlu 8-10 tahun hingga duren dipanen.

    Tuhan  mengajarkan tentang perlunya KETEKUNAN dalam pekerjaan, karena saat menabur atau memulai usaha kita belum melihat hasil akhirnya,  yang baru nampak di waktu-waktu kemudian. Entah itu berhasil, mungkin hanya biasa-biasa saja, atau malahan mungkin gagal. Firman Tuhan mengingatkan kita: “Taburkanlah benihmu pagi-pagi hari, dan janganlah memberi istirahat kepada tanganmu pada petang hari, karena engkau tidak mengetahui apakah ini atau itu yang akan berhasil, atau kedua-duanya sama baik.” (Pengkhotbah 11:6) dan “Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia.” (Kolose 3:23)

    Saudaraku, pekerjaan yang benar dan diberkati Tuhan bukan berasal dari rezeki tiban mendadak. Juga bukan  diperoleh dengan cara-cara yang bertentangan dengan ajaran Tuhan. Bekerja dan berusahalah sesuai dengan titah Tuhan supaya kita bisa menikmati buah yang manis dari hasil kerja kita. Mari wariskan berkat Tuhan kepada anak cucu, bukan kutuk.  (Surhert)

  • KEMALINGAN (02)

    Masih ingat dengan cerita Kemalingan (01)? Saudaraku, hidup terus berjalan, setiap hari Tuhan tetap menerbitkan matahari bagi orang yang jahat dan orang yang baik, dan menurunkan hujan bagi orang yang benar dan orang yang tidak benar (Matius 5:45).

    Suatu siang saat saya belanja di supermarket, tiba-tiba seseorang datang menyalamiku. “Pak Sur, masih ingat saya? Saya pak Is, yang berapa tahun lalu ada di kantor Bapak.”

    Aku takjub melihat Pak Is. Dulu sebagai kepala gudang dia pasang berewok dan kumis, rambut setengah gondrong, kini tampak rapi meskipun keriput wajah tuanya kelihatan, tapi sinar wajahnya tampak berwibawa. 

    “Pak, selama ini saya bersyukur kalau mengingat pernah kerja di tempat Bapak, di-PHK  gara-gara kasus si Ma dulu. Kalau tidak ada peristiwa tersebut, kehidupan saya tidak berubah,” Pak Is mengawali percakapan.

    Ceritanya, saat menjadi kepala gudang Pak Is sudah Sarjana Muda Teknik dari sebuah universitas. Dia berhenti kuliah karena merasa bosan kuliah hanya itu-itu saja. Kemudian bekerja di kontraktor sebagai pengawas bangunan dan akhirnya pindah sebagai kepala gudang. Ketika di-PHK, dia sangat frustrasi, karena sekonyong-konyong kehilangan pekerjaan.

    “Untung istri saya bisa menerima kondisi saya, nangis semalam, kemudian mengajak doa bersama, tapi esoknya dia bilang supaya saya bisa menyelesaikan S-1 karena kalau cari pekerjaan lebih gampang,” cerita Pak Is. 

    Pak Is melanjutkan ceritanya: “Saya nurut saja. Datang ke Fakultas Teknik, ketemu Dekan. Saya tanya: Apakah bisa meneruskan kuliah hingga lulus?

    Pak Dekan menjawab: “Dulu nilai SKS-mu rata-rata 3,7 tapi kenapa kok tiba-tiba berhenti kuliah? Memang kamu sudah 9 tahun meninggalkan  kuliah, tapi kalau lihat prestasimu dulu, saya bisa memberikan kesempatan ke kamu satu semester dulu, baru lihat nanti.”  

    Saya pun kuliah lagi. Istri sangat mendukung, Uang belanja dihemat-hemat, bahkan dia juga jualan Pisang Goreng, Roti Soes dan lain-lain, memang cukup maju. Berdua kami bergiliran mengantarkan kue-kue. Saya kuliah sekelas dengan mahasiswa-mahasiswa yang tidak saya kenal sebelumnya. Mereka ini banyak yang anak orang kaya, datang ke kampus pakai mobil sport. Kuliahnya ya gitu-gitu saja. Saya hanya tekad lulus segera supaya bisa kerja lagi dan istri tidak terlalu ngoyo jualan roti. Syukur, nilai SKS semester itu 3,85, jadi boleh lanjut kuliah tapi tetap dihitung per semester, kalau nilai jelek ya drop-out langsung.”

    Ceritanya, Pak Is selalu menuai prestasi di kampus. Skripsinya malahan dibimbing seorang dosen yang dijuluki killer, kemudian Pak Is menjadi asistennya. Ternyata dia bakat mengajar. Jadi dosen favorit. Saat lulus nilai SKS-nya masuk dalam kelompok 10 terbaik, dan ditawarin sebagai dosen oleh Pak Dekan. Pak Is mengajar beberapa tahun, menjadi dosen favorit, lalu menjadi kepala jurusan di fakultas. Upayanya semakin bagus, dapat beasiswa S-2, kemudian beasiswa S-3 di luar negeri. Pak Is memberikan kartu namanya ke saya: DR IS … Wah … Hebat!.

    Lebih lanjut Pak Is bersaksi: “Saya sangat beryukur pada Tuhan yang telah menolong kami sekeluarga. Memang mulanya tidak enak,  kena PHK, tapi istri dan anak tetap mendukung saya. Firman Tuhan ya dan amin, Dia tidak membiarkan anak-Nya jatuh tergeletak. Tuhan menopang saya. Sepuluh tahun lebih saya jalani kehidupan baru di kampus, Tuhan menganugerahkan otak yang encer, jadi saya mudah sekali dalam belajar di kampus. Selain itu saya juga ada pengalaman kerja, jadi tahu kondisi orang membangun rumah dan gedung-gedung tinggi” 

    Tiba-tiba aku ingat peristiwa-peristiwa kemalingan di tahun-tahun yang sudah silam. Kami saat ini tidak lagi muda,  sudah makan asam garam menjalani kehidupan. Syukur aku bisa berjumpa kembali dengan Pak Is. Coba kalau dulu dia marah-marah kepada Tuhan: Mengapa di-PHK, mengapa kerjanya bisa teledor? Syukur dia tidak tawar hati pada waktu mengalami pencobaan.  

    Saudaraku, aku teringat dengan nasihat Rasul Paulus kepada jemaat di Korintus: “Pencobaan-pencobaan yang kamu alami ialah pencobaan-pencobaan biasa, yang tidak melebihi kekuatan manusia. Sebab Allah setia dan karena itu Ia tidak akan membiarkan kamu dicobai melampaui kekuatanmu. Pada waktu kamu dicobai Ia akan memberikan kepadamu jalan ke luar, sehingga kamu dapat menanggungnya.” (1 Korintus 10:13) 

    Belajar dari pengalaman Pak Is, aku semakin diyakinkan bahwa ketika kesesakan itu datang, janganlah hati kita menjadi tawar. Hendaknya kita tetap berpaut kepada Tuhan. Tetap tegar, jalani hidup bersama Tuhan. Teruslah berdoa dan berjuang. Lihatlah … di ujung jalan ada CAHAYA GEMILANG yang dipersiapkan oleh Tuhan. (Surhert).  

  • Fully Destroyed

    NINIWE YANG JAHAT. Sahabat, Nahum memulai kalimatnya di awal pasal  3 dengan mengatakan celakalah KOTA PENUMPAH DARAH itu, kota yang penuh dengan dosa dan kekerasan. 

    Berita Nahum tidaklah sama dengan Yunus. Sudah tidak ada berita pertobatan lagi di dalamnya, yang ada adalah berita penghakiman. Nahum mengungkapkan kemarahan Allah, kesabaran Allah terhadap Niniwe telah cukup, anugerah telah ditarik dan penghakiman dinyatakan. 

    Kalau Allah di zaman Yunus masih sayang kepada Niniwe dengan berkata kepada Yunus: Bagaimana tidak Aku akan sayang kepada Niniwe, kota yang besar itu, yang berpenduduk lebih dari 120.000 orang, yang semuanya tidak tahu membedakan tangan kanan dari tangan kiri, dengan ternaknya yang banyak? (Yunus 4:11). Maka sekarang Allah berkata kepada Nahum:  Aku sudah tidak sayang lagi kepada Niniwe.

    Sahabat,  kita telah banyak mempelajari tentang Niniwe yang terkenal dengan kekerasannya sehingga mendapatkan julukan KOTA PENUMPAH DARAH, namun sebetulnya kejahatan kota Niniwe tidak hanya sebatas pada kekerasannya saja, melainkan juga dosa-dosa keji lainnya yang selalu berjalan beriringan seturut natur dari  dosa itu sendiri. 

    Kalau Sahabat mengetahui dosa merupakan satu paket kegelapan yang tidak dapat dipisahkan satu dengan yang lainnya. Ide tersebut bisa kita dapatkan melalui Kitab suci yang salah satunya terdapat di dalam surat Galatia 5:19-21: “Perbuatan daging telah nyata yaitu percabulan, kecemaran, hawa nafsu, penyembahan berhala, sihir, perseteruan, perselisihan, iri hati, marah, kepentingan diri sendiri, percideraan, roh pemecah, kedengkian, kemabukan, pesta pora, dan sebagainya. …” Niniwe telah memiliki semua dosa itu, dan dosa Niniwe sudah begitu matang dan hati manusia selalu membuahkan kejahatan semata-mata (Kejadian 6:5).

    Syukur hari ini kita dapat mempelajari bagian akhir dari kitab Nahum dengan topik: “Fully Destroyed (Dihancurkan secara Keseluruhan)”. Bacaan Sabda diambil dari Nahum 3:8-19. Sahabat, Nahum membandingkan kekuatan Niniwe dengan Tebe, kota Amon, yang bentengnya adalah laut, dan memiliki sekutu yang kuat seperti Etiopia dan Mesir, yang akhirnya juga dihancurkan (Ayat 8-10). 

    Ia menggambarkan kekuatan Niniwe sebagai kekuatan yang sama sekali tidak diperhitungkan. Niniwe digambarkan sebagai orang mabuk yang tidak berdaya, kubunya seperti pohon ara dengan buah yang masak, yang jika diayunkan, maka jatuhlah buahnya (Ayat 11-12).

    Tentara Niniwe yang dahsyat dan menakutkan digambarkan hanya terdiri atas perempuan-perempuan yang lemah. Kubu-kubunya yang kuat digambarkan dengan pintu gerbang yang terbuka lebar untuk musuhnya (Ayat 13-14). Babel di bawah Nebukadnezar mulai memberontak terhadap Asyur mulai 626 SM, dan pertempuran berlangsung selama 14 tahun sampai akhirnya gabungan tentara Nebukadnezar dan Media menghancurkan kota Niniwe pada 612 SM.

    Sahabat, Niniwe diminta untuk berjuang sekuat tenaga, termasuk mempersiapkan air yang banyak untuk dipakai ketika mereka dikepung dan memperkuat kubu-kubu mereka (Ayat 14). Namun, semua persiapan itu akan sia-sia karena Niniwe akan dimakan habis dengan api dan pedang, bahkan ketika jumlah mereka sangat banyak (Ayat 15). Jumlah mereka yang begitu banyak tidak ada gunanya karena semua orang, dari penjaga sampai para pemuka akan melarikan diri secepat belalang terbang menghilang (Ayat 17-18).

    Kehancuran Niniwe merupakan kehancuran total, secara keseluruhan, yang tidak akan dipulihkan (Ayat 19). Kehancuran Niniwe telah ditunggu-tunggu oleh banyak bangsa yang merasakan perlakuan kejam Niniwe. Mereka akan bertepuk tangan mendengar kehancurannya (Ayat 19).

    Sahabat, kadang-kadang kekuatan jahat diizinkan Tuhan menjadi sangat luar biasa dan sepertinya tidak terkalahkan. Ketika sudah tiba waktunya, betapa pun dahsyatnya kekuatan tersebut, ternyata tidak ada apa-apanya di hadapan Tuhan. Jangan putus asa menghadapi kejahatan yang ada disekeliling kita! Ketika tiba waktunya, kekuatan tersebut akan hancur tanpa sisa. Dihancurkan secara keseluruhan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami tentang Kota Penumpah Darah?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Semua yang kita miliki bukan untuk  kita sombong dan arogan tetapi untuk kita pakai  memuliakan Tuhan. (pg).

  • KEMALINGAN (01)

    Ceritanya seusai libur Lebaran beberapa tahun silam, hari pertama masuk kantor banyak karyawan berkerumun. Mereka  bersilaturahmi. Kemudian mereka melapor bahwa gudang penyimpanan barang dan onderdil  dibobol orang, banyak barang raib. Gudang ada di belakang kantor, pagi-pagi pintunya sudah terbuka. Nah siapa yang bertugas lembur jaga kantor saat Lebaran?

     Ada tiga orang satpam secara bergilir dan ada 2 orang karyawan yang tidak mudik kemudian minta izin ikutan jaga kantor dengan tarif lembur hari raya, namanya Ef dan Ma. Kami memanggil orang-orang yang berjaga di kantor, 4 orang ada dan Si Ma tidak muncul. Mulailah diinterogasi ramai-ramai, tidak ada yang mengaku, hanya saja suatu pagi seorang satpam tidak masuk karena  mengantar istri ke Puskesmas.

    Hampir 4 jam lewat. Bagian pembukuan lapor, ada sekian puluh barang hilang, perhitungan sementara Rp 50 juta. Kepala Gudang Pak Is dicecar banyak orang karena terlambat memperbarui kartu stok. Memang 1 hari sebelum libur ada kiriman barang masuk satu kontainer, dengan alasan kartu stok akan diperbarui setelah liburan, maka catatan barang tidak diperbarui.  Nah sekarang banyak barang hilang. Pak Is nampak sangat tertekan karena menunda pekerjaan, sekarang semua orang menyalahkannya. Dia dan Si Ef kena getahnya, sementara Ma tidak ada. Kami mengundang polisi untuk melihat TKP, kemudian semua satpam, Pak Is dan Si Ef diangkut ke kantor polisi untuk disidik.

    Sore hari beberapa supervisor datang ke ruang saya. “Pak, kami prihatin karena kantor kemalingan, kami ingin ikut mencari siapa yang nyolong atau jadi dalangnya. Kami tidak mau dituduh kantor!” Saya hanya terdiam.

    “Pak, ini usulan kami semua, tadi sudah rundingan. Di Bogor Kidul ada orang pinter, dia bisa mencari orang yang nyolong. Ada saudara dan tetangga yang pernah ke sana. Ini orangnya hanya sembahyang dan kita disuruh sembahyang menurut kepercayaan masing-masing. Lalu ada kaca pengilon (kaca rias) yang ditutupi kain mori. Kaca itu setelah didoakan, kain mori dibuka, nah yang jadi maling akan nampak, bisa difoto.”

    Saya menjadi melongo. Wah ada CCTV yang tidak kelihatan nih, jadi orang pintar bisa melihatnya. “Bapak boleh ikut ramai-ramai dengan kami 4 orang ke sana, besok berangkat jam 8 pagi dari kantor. Biayanya seikhlasnya.”

    Hore… seketika hatiku bersorak mendengar solusi ini. “Besok saya ikut ya”. Tapi tiba-tiba di kupingku terdengar suara jelas: “Sur, jangan murtad! Awas kalau kamu ikutan ke sana, mobil akan terbalik di tol l!!” Suara itu terdengar jelas diulang dua kali. Aku baru sadar, seperti kena tempeleng, dan kemudian mengucap “Sorry, besok saya tidak ikutan, ada panggilan dari Komisaris soal kemalingan,” alasanku untuk membatalkan tidak ikutan.

    Esok harinya pak Is, Si Ef dan pembukuan melakukan stok opname dan pembaruan catatan. Sorenya karyawan yang pergi ke orang pintar menunjukkan foto. “Ini Pak, kaca dibuka, ada Si Ef yang berdiri di pintu, tapi di bagian dalam ada yang hitam-hitam gerak-gerik tidak jelas, katanya pakai ilmu.” Mau ngomong apa, Si Ef ada di cermin, ada fotonya. Magrib itu juga Si Ef digelandang ke kantor polisi, dia nangis-nangis pilu, bilang tidak nyolong, tapi foto dari cermin orang pintar menuduhnya.

    Bagian gudang ada 3 orang, lalu kemana perginya Si Ma? Karyawan yang ke kosnya mendapati kamarnya kosong melompong, ibu kos bilang, pergi tidak pamit dan masih punya hutang uang kos satu bulan. Rumahnya mana? Ah, di luar pulau Jawa. Ini orang dapatnya dari mana? Siapa mau susulin si Ma ke kampung halamannya?  Wah, pesawat sekali jalan Rp 3 juta, belum transpor, makan dan lain-lain.  Si Ma hilang jejak. Si Ef ditahan di polisi 2 malam. Hari ketiga aku nengokin, kasihan, nampak ada yang lebam, kata dia disuruh banyak kerjaan oleh tahanan lainnya. Kasihan, yah, laporan ke polisi dicabut, Si Ef bisa pulang.

    Tinggallah Pak Is sebagai kepala gudang yang teledor, tidak memperbarui kartu gudang. Hari ke empat, saya menandatangani surat PHK, pak Is merasa bersalah sekali dan menyatakan bersedia jika pesangonnya dipotong sebagian atas keteledorannya. Hari ke lima, istri pak Is datang, nangis-nangis, minta maaf atas kekurang-becusnya suami dalam bekerja, dan dia bilang ikhlas kalau pesangon suami dipotong. Oh …   

    Hari ke lima sore, aku mulai bisa berpikir jernih. Merenung. Sebagai atasan kok jadi orang jahat ya. Si Ef dapat sesuatu selama 2 malam di tahanan, terutama karena bukti foto dari cermin, Pembaca pasti paham kira-kira dapat apa. Pak Is di-PHK langsung atas kesalahannya, padahal dia sudah bekerja 5 tahun, pesangonnya juga dipotong sebagai ganti rugi. Istrinya nangis-nangis, suami PHK, anak 2 orang masih TK-SD. Kok aku jadi orang jahat, padahal rajin ke gereja. Hitung-hitung lagi, sudah 5 hari aku tidak berdoa, apalagi baca Alkitab … Untung aku tidak ikutan pergi ke orang pintar, kalau-kalau ikut, mungkin sudah masuk rumah sakit dan mungkin juga cacat. Gajiku mulai akhir bulan ini juga akan dipotong karena dianggap ikutan teledor saat merekrut Si Ma.

    Tiba-tiba ada suara berbisik di hatiku: Mengapa tidak berdoa! Sejak kecil kamu tahu firman-firman berikut ini: 1 Petrus 5:7:  “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu.” Mazmur 34:16: “Mata TUHAN tertuju kepada orang-orang benar, dan telinga-Nya kepada teriak mereka minta tolong.” Mengapa kamu justru ingin ikut ke orang pintar???!!! Untung kamu masih mendengar suara Tuhan.

    Saudaraku, aku memang lemah, perlu pertolongan TUHAN setiap waktu, agar tidak salah melangkah dalam usaha mencari nafkah. Saat pulang kerja, istri dan anakku tetap bangga memiliki suami dan papa yang bisa menjaga hati dan hidupnya. Nama Tuhan dipermuliakan melalui apa yang dikerjakannya. (Surhert).

  • Cruelty brings Destruction

    ADA SAAT MENANG DAN ADA SAAT KALAH. Sahabat, beberapa kali saya jumpa dengan petinju Chris John di salah satu Depot Makan di Semarang. Chris John adalah seorang petinju Indonesia. Ia mencatatkan rekor sebagai juara dunia kelas bulu pertama yang berasal dari Indonesia. Ia mencatatkan rekor sebagai petinju kedua terlama yang menjadi juara dunia kelas bulu sepanjang masa. Ia juga mencatatkan rekor sebagai peringkat kedua dalam daftar petinju yang mempertahankan gelar juara dunia kelas bulu sepanjang masa. 

    Ia juga tercatat sebagai petinju Indonesia kelima yang berhasil meraih gelar juara dunia, setelah Ellyas Pical, Nico Thomas, Ajib Albarado dan Suwito Lagola. Namun, rekor tak terkalah Chris John musnah di tangan petinju Simpiwe Vetyeka pada tahun 2013. Petinju kelas dunia dan rekor tak terkalahkan pun akhirnya akan kalah juga. Sesungguhnya semua ada masanya. Ada saat menang dan ada saat kalah. 

    Sahabat, di dunia ini tidak ada yang kekal. Artis, musisi, seniman, atlet, politikus, dan lain-lain, pasti akan mengalami pasang surut kehidupan. Tidak ada orang yang jaya terus. Tidak ada orang yang menang terus.

     Ada yang berpendapat bahwa kehidupan ini seperti roda yang terus berputar, tidak selamanya berada di atas, kadangkala berada di bawah.  Pendapat itu ada benarnya!  Ada saatnya seseorang berada di puncak karier, berhasil dan punya segalanya, tapi ada waktunya ia harus mengalami kegagalan dan harus merangkak dari bawah lagi.  

    Ada kalanya kita bersukacita karena hal-hal yang menyenangkan, tapi suatu waktu kita juga harus menangis, bersedih dan berduka karena mengalami masalah atau kesesakan.  Suatu kali kita bisa berbangga hati memiliki tubuh atletis, sehat dan kencang, tapi itu tak akan bertahan lama, dalam beberapa tahun kemudian tubuh kita tak seindah dulu;  masa-masa itu pasti akan lewat.  Oleh karena itu Salomo menasihati,  “Janganlah memuji diri karena esok hari, karena engkau tidak tahu apa yang akan terjadi hari itu.”  (Amsal 27:1).  Tidak ada alasan bagi kita memegahkan diri dan sombong, apalagi berlaku semena-mena,  sebab kita tidak tahu apa yang akan terjadi di kemudian hari.

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Nahum dengan topik: “Cruelty brings Destruction (Kekejaman Mendatangkan Kehancuran)”. Bacaan Sabda diambil dari Nahum 2:3-13. Sahabat, kejahatan Niniwe sudah tidak bisa didiamkan lagi. Kota yang besar dan hebat itu telah membuat bangsa-bangsa lain sangat menderita, termasuk Yehuda. Peringatan yang Tuhan sampaikan melalui Nabi Nahum supaya bertobat dan melakukan kebaikan pun sama sekali tidak dipedulikan.

    Kondisi itu sangat berbeda dari kondisi masyarakat Niniwe pada zaman Nabi Yunus. Setelah diperingatkan Tuhan melalui Nabi Yunus, mereka mau bertobat sehingga Tuhan tidak jadi menjatuhkan malapetaka. Kini kekejian mereka membuat Tuhan murka, dan mereka sangat keras kepala dan semaunya sendiri. Terhadap orang-orang seperti itu Tuhan dengan tegas menyatakan bahwa Ia adalah lawan mereka (Ayat 13). Ia akan melawan segala bentuk kejahatan yang dilakukan manusia terhadap sesamanya. Ia menghendaki agar manusia hidup rukun, bukan saling menindas, merampas, dan membinasakan. Tuhan telah menciptakan segala sesuatu sejak mulanya baik, bahkan sangat baik, tetapi apa yang diperbuat manusia adalah kekejaman.

    Perlawanan Tuhan yang dahsyat terhadap bangsa Asyur yang keji tersebut tercatat dalam sejarah (Pertempuran Niniwe, 612 SM). Tuhan memakai bangsa Babel dan Media untuk melawan dan menaklukkan Asyur. Negeri Asyur yang sebelumnya menjadi bangsa yang hebat, saat itu mengalami kekalahan telak. Dengan nada ejekan, Nahum menulis bagaimana kehebatan bangsa Asyur itu pada akhirnya hanya tinggal kenangan. Yang tersisa hanyalah ketandusan, hati yang tawar, dan lutut yang goyah. Niniwe tidak berdaya. Kota itu ditinggalkan oleh penduduknya dan tidak memiliki kebanggaan apa-apa lagi.

    Sahabat, melalui kisah ini kita diingatkan bahwa kehebatan yang berbuahkan kekejaman justru mendatangkan kehancuran. Kita diingatkan agar kegagahan dan kekuatan yang kita miliki tidak membuat kita menjadi semena-mena, bahkan berlaku kejam terhadap sesama. Kegagahan manusia hanyalah sementara, sebab seketika juga Tuhan semesta alam bisa menjadi lawannya, dan Ia akan menghancurkan itu semua. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 13?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kita diingatkan bahwa kehebatan dan kejayaan yang berbuah kekejaman justru mendatangkan kehancuran. (pg).

  • Repentance Opportunity

    PENGANTAR KITAB NAHUM. Sahabat, dari beberapa sumber saya mendapat info bahwa kitab Nahum  merupakan salah satu kitab yang termasuk dalam kelompok kitab-kitab kenabian dan khususnya dalam kelompok nabi-nabi kecil pada Perjanjian Lama di dalam Alkitab Kristen. 

    Sejumlah ahli menganggap kitab ini pertama-tama disusun sebagai liturgi tahun baru untuk perayaan musim gugur pada tahun 612 SM, sesaat setelah jatuhnya Niniwe. Kitab ini juga dapat diumpamakan sebagai nyanyian lagu pembebasan. 

    Nama kitab ini merujuk pada tokoh utama kitab ini, yaitu Nahum, seorang nabi kecil dari Elkosh yang diperkirakan menjadi nabi pada saat Yehuda berada di bawah jajahan Kekaisaran Asyur. Nahum dalam bahasa Ibrani berarti  penghibur atau penolong.

    Kitab ini diperkirakan ditulis dalam kurun waktu antara tahun 663 – 612 SM. Dua peristiwa yang tercatat di kitab ini membantu penentuan kapan kitab ini dituliskan.

    Nahum menulis tentang kejatuhan Thebes (No Amon) di Mesir ke tangan bangsa Asyur (tahun 663 SM). Karena ditulis dalam bentuk kalimat past tense, berarti peristiwa itu sudah terjadi saat kitab ini ditulis. Nubuat Nahum diperkirakan akan terjadi pada tahun 612 SM.

    Hari ini kita akan mulai belajar dari kitab Nahum dengan topik: “Repentance Opportunity (Kesempatan untuk Bertobat)”. Bacaan Sabda diambil dari Nahum 1:1-8. Sahabat,  kitab Nahum adalah kitab yang berisi ucapan Ilahi dan penglihatan yang diberikan Tuhan kepada Nabi Nahum untuk memberikan peringatan kepada Niniwe.

    Kota Niniwe, ibu kota kerajaan Asyur yang besar itu, sekali lagi mendapat peringatan dari nabi Tuhan agar penduduknya bertobat dari segala kejahatan yang mereka lakukan. Peringatan itu mengingatkan kita kepada peringatan yang Tuhan berikan melalui Nabi Yunus kurang lebih seratus tahun sebelumnya. Kini peringatan itu muncul lagi karena mereka kembali melakukan kejahatan yang dahsyat. Mereka banyak melakukan penumpahan darah, dusta, perampasan, dan penerkaman yang tak henti-hentinya (Baca Nahum  3:1).

    Sahabat, dalam kondisi seperti itu Nahum menyatakan tentang identitas Tuhan. Tuhan adalah Allah yang membenci penindasan dan segala bentuk kejahatan. Ia pasti akan murka terhadap semua itu. Semua orang yang melakukannya adalah musuh Allah (Ayat 1-2). Ia akan menghukum siapa pun yang melakukan penindasan (Ayat 3b). Di dalam bacaan kita pada hari ini digambarkan betapa dahsyat murka Allah itu bisa terjadi (Ayat 4-5).

    Meski demikian, Tuhan juga adalah Allah yang panjang sabar dan baik (Ayat 3a dan 7). Sebelum Ia murka dan menghukum, Ia selalu memberi kesempatan kepada manusia untuk bertobat. Ia bahkan selalu berinisiatif memberi peringatan kepada manusia melalui berbagai cara, termasuk seruan para nabi.

    Jikalau Tuhan akhirnya menghukum, maka itu biasanya adalah tindakan paling akhir yang harus dilakukan karena kekerasan hati manusia yang tidak mau mendengarkan peringatan Tuhan. Itu semua terjadi karena Tuhan tidak pernah dan tidak akan pernah tinggal diam ketika kejahatan dan kekejian terjadi di dunia ini. Ia pasti akan bertindak dengan keadilan-Nya! Orang benar akan selamat, sedangkan musuh Allah diusir ke dalam kegelapan.

    Sahabat, sejahat  bagaimanapun manusia, Ia akan memberi KESEMPATAN untuk BERTOBAT. Ada kesempatan untuk bertobat. Bagaimana dengan kita? Mari kita dengarkan peringatan-Nya dengan saksama, mengakui kebaikan-Nya, berlindung kepada-Nya, dan yang terpenting BERTOBAT. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenungan.
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 3?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Tuhan selalu siap mengampuni dan terus-menerus memberi kesempatan kepada umat-Nya untuk bertobat dan memperbaiki diri. (pg).

  • TERUS BERGERAK BERSAMA YESUS

    Saudaraku,  kaum muda Zaman sekarang akrab dengan kata mager yang merupakan akronim dari malas gerak.  Mager menandakan seseorang enggan bergeser dari tempatnya dan sudah berada dalam posisi yang nyaman. Mari merenungkan Markus 4:35-41.

    Ajakan Yesus untuk menyeberang ke Gerasa menjadi sesuatu yang  karena daerah Gerasa dikenal sebagai daerah yang dihuni oleh masyarakat non Yahudi.  Ini adalah pengalaman pertama untuk para murid pergi ke sana bersama Yesus dan mereka tidak tahu apa yang akan dilakukan di sana.  Yesus mengajak mereka pergi meninggalkan kota Kapernaum yang Yahudi dan merupakan daerah yang nyaman buat para murid untuk menuju daerah yang lain.  

    Yesus menarik para murid untuk keluar dari zona nyaman mereka untuk belajar melangkah dalam suasana yang baru.  Dalam proses keluar itu, mereka berhadapan dengan topan yang begitu dahsyat dan mereka sangat ketakutan hingga membangunkan Yesus yang sedang tidur dengan kata-kata yang pedas, seakan meminta tanggung jawab Sang Guru yang membawa mereka keluar dari zona nyaman mereka.  Namun Yesus menunjukkan otoritasnya atas alam dan membuat badai itu berhenti seketika.  

    Sebagaimana para murid, Tuhan sedang membawa gereja masa kini untuk keluar dari zona nyaman.  Lepas dari pandemi yang mengubah Sebagian besar metode pelayanan, kini gereja di Indonesia harus terus sigap dengan berbagai perubahan yang bisa terjadi kapan saja.  Pemilu yang baru saja diselesaikan oleh sebagian besar rakyat Indonesia (ada beberapa daerah yang pencoblosannya ditunda karena berbagai faktor), jelas akan memberikan suasana baru bagi langkah gereja untuk melaksanakan misi penginjilannya bagi Indonesia.   

    Tuhan tidak menginginkan gereja mager dan terlena dengan zona nyaman. Gereja harus mulai bersiap dengan perubahan zaman. Perubahan politik yang memengaruhi kebijakan, perubahan teknologi yang memengaruhi pola berpikir masyarakat, perubahan sosial yang besar dengan perkembangan teknologi informasi yang begitu pesat, dan lain lain.  

    Tuhanlah yang memimpin gereja untuk terus bergerak menuju zona pelayanan yang terus berkembang sesuai dengan konteks masa kini, yang dalam prosesnya gereja akan berhadapan dengan banyak kesulitan, jenis “badai” yang baru yang mengejutkan dan mungkin sulit untuk dihadapi dengan pengalaman dan kekuatan sendiri.  Namun percayalah bahwa Tuhan sanggup untuk memberi pertolongan, walau seakan pertolongan itu serasa kurang cepat.  

    Mari bergerak dengan percaya.  Selama Tuhan masih menjadi pusat dan memimpin perjalanan menuju kepada perubahan itu, maka setiap tantangan akan bisa dihadapi.  Tidak perlu takut dengan perubahan, tetaplah jalankan misi Allah karena Allah sendiri yang akan memimpin perjalanan itu.  Mari belajar taat dan percaya pada pimpinan-Nya.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • Abandoned by God

    DIBUANG. Sahabat, dibuang mempunyai konotasi: Sudah tidak dapat dipakai lagi; sudah tidak ada nilainya atau harganya; sudah tidak dibutuhkan; dan sudah tidak disukai. 

    Post power syndrome acapkali menyerang orang-orang yang memasuki masa pensiun. Kondisi kejiwaan yang memicu rasa tidak nyaman lantaran merasa TERBUANG dan terlupakan. Perubahan yang bertolak dari penurunan aktivitas ini ternyata sanggup memengaruhi cara berpikir seseorang dalam menyikapi kehidupan secara negatif. Tak sedikit yang mengalami keterpurukan hidup ketika tidak mampu keluar dari perangkap pemikiran semacam itu.

    Sahabat, masa tua menjadi menakutkan karena ada perasaan DIBUANG dan ditinggalkan TUHAN. Itulah sebab Pemazmur meminta agar TUHAN tidak meninggalkannya sampai masa tua dan rambutnya memutih. Memang harus kita akui bahwa menjadi tua bukanlah pilihan tapi kepastian. Persoalannya adalah bagaimana kita mengisi hari-hari di masa tua yang menjadi pilihan itu. Tak sedikit yang akhirnya terjebak dalam perasaan seolah-olah DIBUANG ketika usia makin bertambah. 

    Kegelisahan menghadapi masa tua ini juga pernah dialami oleh orang sehebat dan sebesar Daud. Dalam Mazmur 71:1-24, tercermin perasaan Daud yang dalam masa tuanya sering muncul pikiran negatif. Ia sudah tidak setangguh ketika masih muda, orang-orang yang dulu menghormatinya berbalik memusuhinya, mengejek dan mengancamnya. Dalam kondisi seperti itu Daud mengenang perjalanan hidupnya bersama Tuhan sejak ia masih muda. Dia yang dulu telah terbukti setia dan berkuasa, kepada Dialah kini ia semakin bersandar dan akan terus melayani-Nya. 

    Usia mungkin menjadi batasan bagi kita, tetapi tidak bagi Tuhan. Berapa pun usia kita, Tuhan tetap menjanjikan kasih dan kesempatan untuk terus berbuah. Tuhan akan tetap bisa memakai kita secara luar biasa, tanpa melihat berapa pun umur kita sekarang.

    Syukur hari ini kita dapat belajar dari pasal terakhir dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: “Abandoned by God (Dibuang Tuhan)”. Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 24:18 – 25:21 dengan penekanan pada 2 Raja-raja 24:20. Sahabat,  Zedekia termasuk raja dalam akhir sejarah Yehuda. Karena memberontak terhadap Babel (2 Raja-raja 24:20), Zedekia diserang Nebukadnezar (2 Raja-raja 25:1-6), anak-anaknya dibunuh (2 Raja-raja 25:7), dan dia sendiri dibunuh di Babel (2 Raja-raja 25:21).

    Alkitab menggambarkan kehancuran Yehuda secara menyeluruh. Perkakas dari Bait Allah dan semua orang penting diangkut ke Babel (2 Raja-Raja 25:13-21). Alkitab dengan jelas mengatakan bahwa Allah sendirilah yang MEMBUANG Yehuda (2 Raja-raja 24:20).

    Sahabat, harapan masa depan dan hidup yang lebih baik hanya mungkin jika ada kesadaran akan dosa-dosa yang telah dilakukan. Itulah yang disuarakan oleh para nabi. Kesabaran dan pengampunan dari Tuhan tidak dapat dipermainkan. Yehuda tak bisa lagi mengelak dari kehancuran.

    Berbagai tonggak kehancuran juga terjadi dalam sejarah umat manusia: Berlin, Auschwitz, Stalingrad, Hiroshima dan Nagasaki. Kejahatan kemanusiaan dan kengerian sejarah akibat kejahatan hati manusia bukan hal yang asing dalam sejarah modern. Jika terus terjadi penyangkalan terhadap dosa-dosa sejarah, maka tidak mungkin ada masa depan dan kehidupan yang lebih baik.

    Konsekuensi dosa bisa sangat menghancurkan, seperti yang kita baca pada sejarah Yehuda. Kenyataan hari-hari gelap harus dijalani di pembuangan di Babel.

    Berbagai dosa dalam kehidupan kita juga sering menghasilkan tragedi, korban, dan kehancuran, baik dalam kehidupan pribadi maupun dalam keluarga kita. Betapa sering kita hidup dalam penyangkalan dosa-dosa tersebut. Namun, Tuhan terus hadir dan bekerja dalam kehidupan kita. Selalu ada harapan untuk masa depan jika kita berbalik dan mengarahkan hati kepada Tuhan. 

    Sahabat, memang perubahan tidak terjadi seketika, sama seperti Israel yang harus menjalani hukuman pembuangan. Meski demikian, Allah yang bekerja dan menyertai di Yerusalem juga ikut dan menyertai Israel di pembuangan di Babel. Menjalani hidup bersama Tuhan, baik dalam waktu susah, maupun waktu yang baik, itulah harapan dan kekuatan kita. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersykurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari Mazmur 71:17-19?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Penyertaan Tuhan menjanjikan kepastian bahwa kita tak akan pernah bersentuhan dengan hidup sebagaimana diisyaratkan oleh peribahasa habis manis sepah dibuang. (pg).

  • EMAS

    Hampir semua orang paham tentang emas atau gold. Termasuk sebagai Logam Mulia, karena harganya mahal, bahkan banyak orang mewariskan emas kepada anak cucunya. Dalam  surat 1 Korintus 3:10-14 Rasul Paulus mengatakan: Dia sebagai seorang ahli bangunan yang cakap telah meletakkan dasar, dan orang lain membangun terus di atasnya. Tetapi tiap-tiap orang harus memerhatikan, bagaimana ia harus membangun di atasnya.  Karena tidak ada seorang pun yang dapat meletakkan dasar lain dari pada dasar yang telah diletakkan, yaitu Yesus Kristus. Entahkah orang membangun di atas dasar ini dengan emas, perak, batu permata, kayu, rumput kering atau jerami, sekali kelak pekerjaan masing-masing orang akan nampak. Karena hari Tuhan akan menyatakannya, sebab ia akan nampak dengan api dan bagaimana pekerjaan masing-masing orang akan diuji oleh api itu. 

    Jadi suatu hari akan ada ujian rohani bagi setiap orang yang percaya kepada Yesus Kristus. Hidup rohani berkualitas, yang bagaikan EMAS akan paling tahan uji, sedangkan lainnya akan hangus.

    Benarkah demikian? Sejak SMA kita belajar ilmu Kimia antara lain tentang air (H2O) punya massa jenis 1,0 g/cm3 dan mendidih di 100 derajat Celcius, juga tentang logam emas (Au), massa jenisnya 19,3 g/cm3 dan titik didihnya 1.064 derajat Celcius. 

    Alkisah,  ada satu kantor pegadaian yang punya banyak cabang, banyak nasabahnya yang menggadaikan barang-barang berharganya seperti emas dan berbagai perhiasan, namun kemudian para nasabah itu tidak mengembalikan pinjamannya, otomatis barang-barang jaminannya tidak ditebus. Jumlah barang jaminan itu hingga ratusan kilogram. Akhirnya pemilik pegadaian bingung modalnya habis karena pinjaman nasabah tidak kembali. 

    Dia semula merasa senang melihat banyak jaminan berupa emas dan perhiasan, tapi berubah jadi sangat khawatir karena  tidak ditebus, padahal harga emas naik. Mestinya nasabah mengembalikan dana sesuai pinjaman dan barang jaminan bisa ditarik kembali. Bingunglah, apakah barang jaminan bentuk emas ini asli atau palsu. Bagaimana membuktikannya?

    Pergi ke tukang atau toko emas di pasar, mereka mengecek kadar emas dengan menggosok-gosokkan emas ke batu hitam asal Sungai Klawing Purbalingga, kemudian sisa gosokan yang menempel di batu ditetesin cairan kimia “air raja” (aqua regia), campuran asam klorida (HCL) pekat dan asam nitrat (HNO) pekat. Tukang emas bisa membandingkan kadar karat emas dengan hasil gosokan. Tapi kalau jumlah yang dites sedemikian banyak, ya perlu waktu berhari-hari. 

    Kebetulan istri pemilik pegadaian adalah seorang dokter radiolog, lalu ditanya apakah X-ray atau alat XRF analyser bisa mendeteksi emas, seperti rontgen atau USG yang bisa menembus tubuh dari depan hingga belakang dan mampu mengenali setiap organ tubuh. Ternyata massa atom yang membentuk emas sangat tinggi, ketika menembakkan sinar X-ray ke permukaan emas dan pancaran sinar fluorescence X-ray dianalisa jadinya hanya bisa menganalisa permukaan emas, tidak bisa menembus emas yang batangan (bullion).

    Saudarku,  di Google bisa dibaca, pada tahun 2006 satu negara di kawasan Afrika membeli 529 kg “emas”, yang ternyata hanya 30 kg yang murni. Emas batangan yang dibeli tidak murni, tapi di dalamnya ada logam Tungsten yang memiliki massa jenis 19.25 g/cm3, mirip emas 19,3 g/cm3. Jadi kalau 1 kg Tungsten dan 1 kg emas ditimbang dalam air seperti halnya hukum Archimedes, luapan air yang tumpah hasilnya mirip, apalagi kalau tidak ditimbang memakai timbangan khusus laboratorium yang bisa menghitung berat hingga 0,00001 gram (5 digit di belakang 0). Logam Tungsten disepuh dengan emas asli, dan dijual sebagai emas batangan bisa mengelabuhi pembeli. Harga Tungsten memang lebih murah daripada harga emas.

    Kacaulah kalau orang tidak bisa mengenali emas asli (murni) atau emas palsu. Petugas  di pegadaian mungkin memeriksa emas jaminan dengan cara menggosok-gosok memakai batu hitam, dapat mengetahui kadar karat emas, tapi kenapa nasabah tidak menebus barang jaminannya? Akhirnya pemilik pegadaian diingatkan tentang ayat-ayat di kitab 1 Korintus. Satu-satunya pembuktian kemurnian emas hanya dengan cara dibakar. 

    Pergilah dia ke Perusahaan yang menyediakan fasilitas peleburan. Barang-barang perhiasan mulai dilebur dilelehkan. Suhu semakin panas, semakin banyak cincin dan gelang yang nampak emas mulai meleleh, ternyata di dalamnya memakai rangka kawat atau rangka aluminium. Lalu banyak yang berwarna kuning emas mulai meleleh, ternyata kuningan (brass) yang meleleh di 940 derajat.  Suhu dinaikkan terus hingga 1.064 derajat Celcius, emas yang meleleh, dan mengumpul sesama emas. Yang tersisa copper (tembaga) baru meleleh di 1.084 derajat. Logam-logam bukan emas terpisah dengan sendirinya dan mengumpul sesuai jenisnya, dan yang sekelas kawat menjadi abu.

    Saudaraku, benarlah kata Alkitab, bagaimana kerohanian masing-masing orang akan diuji oleh api, api Tuhan. Jika kualitas hidup rohani kita hanya dibalut hal-hal yang remeh-temeh, apalagi seperti kayu, rumput kering atau jerami, ya akhirnya hanya menjadi abu rongsok. Namun kalau kita membangun hidup rohani kita dengan standar sesuai Firman Tuhan, itu seperti dibuat dari emas murni, saat berbagai pencobaan datang iman kita tetap teguh berdiri. Bukan seperti orang yang bodoh, yang mendirikan rumahnya di atas pasir, saat kemudian turunlah hujan dan datanglah banjir, lalu angin melanda rumah itu, sehingga rubuhlah rumah itu dan hebatlah kerusakannya (Matius 7:27). (Surhert).

  • Live in God’s Plan

    RENCANA TUHAN. Sahabat, bukan perkara mudah untuk memahami segenap rencana Tuhan dalam hidup kita, terutama ketika rencana-Nya berbeda dengan rencana kita. Ketika kita mengikuti rencana-Nya, kita seringkali harus melewati jalan yang berliku yang membuat kita ragu untuk terus melangkah atau berhenti dan mencari jalan lain yang lebih mudah.

    Dalam buku kumpulan khotbahnya “Pengharapan Memberi Keberanian”, pendeta Eka Darmaputera menuliskan: Selama menjadi pendeta, pertanyaan yang banyak disampaikan dalam PA, ceramah, katekisasi, atau percakapan pribadi adalah apakah ketetapan Tuhan itu ada? Apakah Tuhan benar-benar sudah punya rencana atas masing-masing kita? Sebelum saya lahir, misalnya, apakah Tuhan sudah menetapkan pada jam sekian, menit sekian, detik sekian, saya berdiri di hadapan jemaat untuk berkhotbah seperti yang sering saya lakukan?

    Apabila Tuhan telah memiliki rencana yang begitu detail, begitu rinci, lalu apa artinya segala usaha dan perencanaan kita? Pertanyaan tersebut adalah pertanyaan yang sangat sulit untuk dijawab. Bahkan, mustahil untuk dijawab sampai tuntas. Ketika kita berbicara tentang Allah, bagaimana mugkin kita yang sangat terbatas hendak menangkap dan memahami segala sesuatu tentang Allah yang tidak terbatas? 

    Sebenarnya tak seorang pun dapat menjelaskan dan menjawab pertanyaan tersebut secara tuntas dan penuh. Misalnya, ada pertanyaan: Mengapa ada orang yang dilahirkan miskin dan cacat? Apakah Tuhan menghendakinya? Apakah Tuhan telah menetapkannya untuk cacat? Jika Tuhan menetapkan seseorang lahir dalam keadaan cacat, betapa mengerikannya Tuhan kita. Tetapi, jika bukan Tuhan yang menetapkan seseorang lahir dalam keadaan cacat, bagaimana hal itu bisa terjadi? Itu adalah bagian dari misteri. Bagian dari rahasia hidup yang barangkali tidak akan bisa kita jawab dan ketahui sepenuhnya.

    Sebagai manusia kita cenderung ingin tahu. Akan tetapi, sebagai makhluk, Tuhan tidak memperkenaankan kita mengetahui segala sesuatu. Tuhan tidak memberikan kita ketidakterbatasan, sehingga kita bisa memahami segala sesuatu. Bahkan tertulis di Alkitab bahwa justru berbahaya apabila kita yang terbatas ingin mengetahui tentang yang tidak terbatas. Bukankah manusia jatuh ke dalam dosa ketika manusia ingin mengetahui apa yang diketahui Tuhan dengan memakan buah pengetahuan yang baik dan yang buruk?

    Hari ini kita  akan melajutkan belajar dari kitab 2 Raja-raja dengan topik: Live in God’s Plan (Hidup dalam Rencana Tuhan)”.  Bacaan Sabda diambil dari 2 Raja-raja 23:1-30.  Sahabat,   Yosia melancarkan reformasi di Yehuda dengan segenap kekuatan. Ia membawa segenap rakyat kembali kepada perjanjian dengan Tuhan (Ayat 1-3); menghapus segala penyembahan Baal, Asyera, dan Molokh (Ayat 4-10); merobohkan mazbah ilah yang dibangun raja sebelumnya (Ayat 11-20); serta kembali merayakan Paskah untuk Tuhan (Ayat 21-23).

    Yosia disebut sebagai raja yang berbalik kepada Tuhan dengan segenap hati. Tidak ada raja sebelumnya dan sesudahnya yang sama dengan Yosia (Ayat 25). Walaupun perubahan yang dilakukan memberikan banyak harapan, namun Tuhan tidak beralih dari murka-Nya kepada Yehuda yang ditimbulkan oleh kejahatan Manasye (Ayat 26).

    Sahabat, hidup dalam rencana Tuhan kadang penuh paradoks dan tak selalu dapat kita pahami. Kitab Tawarikh mencatat kerumitan dari kematian Yosia. Diceritakan bahwa Yosia melawan pesan Allah dan berperang melawan Raja Nekho dari Mesir hingga akhirnya tewas dalam peperangan di Megido (2Tawarikh 35:20-26). Walau demikian, dalam catatan Kitab 2 Raja-raja, tidak ada kisah komplikasi Yosia yang melawan pesan Allah. Hanya ketaatan dan reformasi yang dilakukan Yosia yang menjadi fokus dan sentral cerita.

    Mungkin Kitab 2 Tawarikh mencoba menjelaskan kematian dini Yosia dengan lebih mendetail yang menyebutkan kesalahan Yosia. Mungkin Kitab 2 Raja-raja lebih menekankan ketaatan Yosia, dan kematian dialaminya sebagai pemenuhan janji Allah bahwa Yosia akan mati dengan damai dan tidak akan melihat kehancuran Yehuda (2Raja-raja 22:20).

    Sahabat, memang hidup dalam rencana Tuhan kadang penuh kerumitan dan paradoks, karena manusia terbatas dalam memahami keseluruhan rencana Tuhan. Mati dalam peperangan bisa jadi termasuk kematian dalam damai, dibandingkan dengan mati dalam kehancuran Yehuda karena murka Allah. Atas seluruh kerumitan itu, Yosia memilih taat. Dengan sepenuh hati dan kekuatan, Yosia mengajak umat bertobat dan meruntuhkan penyembahan berhala. Di tengah paradoks hidup dan misteri rencana Allah, tetaplah taat dan setia kepada Tuhan! Tetaplah hidup dalam rencana Tuhan! Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 3-5?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Semua yang tidak berkenan dengan Allah harus kita buang dan musnahkan agar reformasi rohani kita alami dan pembebasan seutuhnya akan terjadi. (pg).