Category: Sejenak Merenung

  • DIBALIK KOIN DUA PESER

     

    Saudaraku, kecenderungan manusia bila diminta memilih beberapa opsi maka ia akan memilih yang paling menguntungkan baginya.  Bahkan dalam kondisi tertentu maka manusia akan mengabaikan motivasi dan memprioritaskan perolehan atau keuntungan yang kasat mata.  Namun Yesus memiliki cara berbeda untuk menilai sebuah pemberian.  Mari renungkan Lukas 21:1-4.

    Beribadah ke Bait Suci menjadi kewajiban setiap lapis kehidupan masyarakat Yahudi, termasuk juga para janda.  Sesuai dengan kondisi ekonomi, maka setiap orang yang beribadah memberi persembahan dengan memasukkan ke kotak persembahan.   

    Yesus tertarik kepada janda miskin yang  memasukkan sejumlah uang ke dalam kotak persembahan.  Janda itu memberi dua peser.  Kalau disetarakan dalam rupiah maka dua peser jumlahnya tidak lebih dari seribu rupiah.  Nominal yang sangat kecil.  Sebenarnya sang janda bisa saja tidak memberi persembahan mengingat kondisi ekonominya, namun ia tidak melakukannya.  

    Janda itu rela mengorbankan kehidupannya selama satu hari demi memberi persembahan.  “… janda yang sangat miskin ini memberikan semua uang yang dia punya, yaitu seluruh biaya hidupnya.” (Lukas 21:4 versi Terjemahan Sederhana Indonesia). Ada pengorbanan yang besar dibalik pemberian sang janda miskin, itulah yang Yesus lihat.  Apa yang Yesus ingin ajarkan kepada para murid-Nya?

    Pengajaran Yesus untuk para murid adalah bagaimana  menilai lebih dari sebuah pemberian.  Banyak orang berani memberi saat ia berkelebihan atau mempunyai cadangan kalau miliknya diberikan pada orang lain.  Yesus menekankan bahwa pemberian dalam kekurangan akan memiliki nilai yang lebih berharga daripada pemberian dari kelimpahan.  

    Apa yang membuatnya berharga?  Pengorbanan dari sang pemberi.  Maka Yesus menghitung pemberian ini sebagai persembahan plus dari janda miskin itu.  Nominalnya sangat sedikit namun sangat berarti karena kisah dibalik pemberian itu.  Kualitas lebih berharga dari kuantitas.  

    Berani memberi seluruh biaya hidup dalam sehari untuk persembahan Bait Suci adalah cara sang janda  miskin menghormati Allah.  Walau ia sebenarnya membutuhkan sokongan hidup, sang janda miskin melaksanakan penghormatannya dengan memberikan biaya hidupnya sehari-hari.  

    Di tengah hiruk pikuk manusia yang sibuk untuk mencari nafkah memenuhi kebutuhan sehari-hari maka aktivitas memberi bukan menjadi prioritas.  Manusia makin sibuk dengan dirinya sehingga sering berkata,”nanti kalau ada waktu…”  atau “nanti kalau ada uang …” bila ia diingatkan untuk melaksanakan kewajibannya.  

    Mari belajar tidak meninggalkan kewajiban untuk memberikan bagian Tuhan dengan penuh ketulusan hati.  Tuhan tidak meminta jumlah yang fantastis atau acara yang luar biasa namun ketulusan dan pengorbanan membuat persembahan itu berharga di mata-Nya.  Mari belajar untuk memberi dengan tulus dan BERANILAH BERKORBAN BAGI PEKERJAAN TUHAN. Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • Habakkuk’s Faith

    BERSUKACITA DALAM PENDERITAAN. Sahabat, pendisiplinan yang dilakukan oleh orangtua kepada anak-anaknya memiliki tujuan yang baik dalam pembentukan karakter. Tidak pernah ada orangtua yang baik  ketika mendisiplinkan anak-anaknya, berharap akan kecelakaan mereka.

    Nabi Habakuk, di dalam doanya, memuji Allah karena Tuhan menjawab doanya bahwa kejahatan tidak akan terus-menerus menang, semua ada dalam kendali kedaulatan Tuhan . Habakuk tahu bahwa Allah akan mendisiplinkan Yehuda dan ini bukan keadaan yang mudah untuk diterima.

    Habakuk belajar untuk menerima kehendak Allah, ia berdoa memohon pertolongan dan belas kasihan. Ia tidak berdoa agar dilepaskan dari pendisiplinan yang akan dijalani umat Allah; tetapi ia belajar untuk menerima bahwa Yehuda memang perlu masuk ke dalam proses pendisiplinan dan belajar dari proses itu. Masa-masa sulit berupa kelaparan dan kehilangan akan mereka alami, dan sang nabi BELAJAR untuk BERSUKACITA DALAM PENDERITAAN.  Allahlah yang menjadi kekuatan dalam menghadapi masa-masa sulit nanti.

    Syukur kepada Tuhan hari ini kita dapat belajar dari pasal terakhir dari kitab Habakuk dengan tema: “Habakkuk’s Faith (Iman Habakuk). Bacaan Sabda diambil dari Habakuk 3:1-19. Sahabat, Habakuk menutup nubuatnya dengan doa. Ada catatan kecil bahwa doanya disampaikan dengan nada ratapan. 

    Sang Nabi memang meratap. Habakuk membuka doanya dengan pengakuan bahwa dia merasa gentar di hadapan Allah mengingat apa yang telah Allah lakukan atas bangsanya. Habakuk menyadari bahwa penjajahan Babel atas Israel merupakan hukuman Tuhan atas kejahatan Israel.

    Segala tindak kejahatan Israel membuktikan bahwa mereka tak lagi memerankan diri sebagai hamba Allah.

    Namun, dalam ketakutan itu pun Habakuk merasa perlu menyisipkan permohonan: “dalam murka ingatlah akan kasih sayang” (Ayat 2). Dalam sisipan ini tampaklah Habakuk sungguh percaya bahwa belas kasihan Allah lebih besar dari murka-Nya. Habakuk percaya bahwa Allah akan surut murkanya. Itu cuma soal waktu.

    Sahabat, mengapa Allah akan melepaskan Israel dari cengkeraman bangsa-bangsa? Habakuk percaya bahwa hukuman Allah tidak akan membuat bangsa Israel punah. Habakuk percaya bahwa kasih Allah yang telah memilih Israel tidak akan pernah pudar; dan inilah anugerah itu. Sebagaimana Allah telah membebaskan Israel dari Mesir, Dia sendirilah yang akan melepaskan Israel dari bangsa-bangsa lain (Ayat 13) sehingga dalam doanya Habakuk berketetapan: “dengan tenang akan kunantikan hari kesusahan, yang akan mendatangi bangsa yang bergerombolan menyerang kami” (Ayat 16).

    Inilah iman Habakuk, meski segalanya tampak buruk, yang digambarkan dengan kegagalan panen dan kematian ternak, Habakuk menetapkan hati tetap percaya kepada Allah yang tidak akan ingkar janji membebaskan umat-Nya (Ayat 17-19).

    Sahabat, IMAN seperti ini hendaknya kita kembangkan dalam keseharian hidup. Ketika bersalah, jangan tunda untuk memohon ampun dari-Nya! Menerima dengan lapang dada segala akibat dari kesalahan kita itu dengan tetap percaya bahwa kasih Allah lebih besar dari murka-Nya! Jangan mengeluh, marilah kita terus menantikan karya Tuhan karena kesetiaan-Nya tidak pernah berubah. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah.

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah bebepara pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh dari hasil perenunganmu?
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 17-19?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Kesadaran bahwa Allah masih bekerja sampai hari ini seharusnya membawa kita pada satu keyakinan bahwa Allah selalu menyertai umat-Nya dalam menjalani masa-masa tersulit sekalipun. (pg).

  • MEMBUAT BUTA MATA

    Hukuman dengan membuat mata menjadi buta tercatat di kitab 2 Raja-raja 25:5-7. Tentara Kasdim mengejar raja dari belakang dan mencapai dia di dataran Yerikho; segala tentaranya telah berserak-serak meninggalkan dia. Mereka menangkap raja dan membawa dia kepada raja Babel di Ribla, yang menjatuhkan hukuman atas dia. 

    Sebelum mata Raja Zedekia dibutakan atau dibuat buta, kita membaca Zedekia berumur 21 tahun dan menjadi raja di Yerusalem selama 11 tahun. Setelah dikepung tentara Nebukadnezar hampir selama 2 tahun, kelaparan merajalela dan tidak ada lagi makanan, rakyat membelah tembok kota dan melarikan diri, termasuk Zedekia. 

    Ternyata Zedekia tertangkap, dia harus melihat anak-anaknya disembelih tentara Nebukadnezar, kemudian matanya dibuat buta.   Di akhir hidhupnya,  Zedekia  hanya menyaksikan rakyat kelaparan, kepiluan anak-anaknya disembelih, dan kemudian dia tidak bisa melihat apa pun, karena matanya dibuat buta, dibelenggu dan digelandang ke Babel dengan rantai tembaga yang berat.

    Saudaraku, hukuman membuat mata buta juga dialami Simson (Hakim-Hakim 16). Setelah dibuat mabuk asmara oleh Delila, diajak tidur, ternyata Simson digunduli hingga lambang kekuatannya lenyap. Ketika terbangun Simson tidak sadar bahwa Tuhan telah meninggalkan dia, dengan mudah ditangkap orang Filistin, mencungkil kedua matanya dan diborgol dengan dua rantai tembaga, kemudian dalam kondisi buta dimasukkan penjara dan memutar kilangan gandum yang biasa dilakukan oleh sapi. . 

    Memang membuat mata seseorang menjadi buta merupakan suatu kebiasaan yang sering dilakukan para penguasa terhadap musuh-musuhnya. Bukan saja di zaman Filistin, Babel, bahkan di zaman Kerajaan Yunani dan Romawi hukuman yang kejam ini dilaksanakan. 

    Di Google kita membaca, dalam pertempuran Kleidon tahun 1014, Kaisar Bizantium Basil II menangkap beberapa ribu tentara Bulgaria, dikelompokkan per 100 orang dan membutakan 99 orang di setiap kelompok. Satu orang tawanan terakhir hanya memiliki satu mata yang dicungkil, dan diperintahkan untuk memimpin teman-teman mereka yang buta kembali ke asal kota kerajaannya.

    Belum seratus tahun lalu Hitler dan komandan-komandannya yang tidak berperikemanusiaan menyembelih jutaan tawanan di kamp-kamp konsentrasi dengan cara dijadikan sebagai berbagai percobaan, penggunaan gas racun, zat kimia berbahaya, uji coba peluru, juga tubuh yang dipretelin hidup-hidup untuk diteliti.

    Saudaraku, setelah Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) berdiri pada tanggal 24 Oktober 1945 mulailah negara-negara membahas tentang perlakuan terhadap tawanan perang. Pada tanggal 12 Agustus 1949 menghasilkan “Konvensi Jenewa mengenai Perlakuan terhadap Tawanan Perang”, dalam Bagian II GENERAL PROTECTION OF PRISONERS OF WAR Artikel 13 menyebutkan tawanan perang harus selalu diperlakukan secara manusiawi …. Secara khusus, tawanan perang tidak boleh dijadikan sasaran mutilasi fisik atau percobaan medis atau ilmiah dalam bentuk apa pun yang tidak dibenarkan … dan seterusnya.

    Ada kesepakatan oleh PBB, tapi dalam kurun 50 tahun sesudahnya, bahkan hingga kini, terjadi berbagai perang, kerusuhan rasial, dan lain-lain dan tetap ada perlakuan yang sangat kejam terhadap musuh dan para tawanan.

    Saudaraku, Festo Kivengere, seorang pemimpin Anglikan Uganda pernah ditanya oleh seorang wartawan, “Apa yang akan Anda lakukan seandainya Anda duduk di hadapan Idi Amin, sang diktator kejam itu, dengan sepucuk senjata di dekat Anda?” Jawaban yang muncul kemudian sungguh mengejutkan, karena Festo berkata bahwa ia akan memberikan senjata itu kepada Idi Amin, sambil berujar, “Saya rasa senjata ini seharusnya milik Anda. Senjata saya adalah KASIH.”

    Tuhan berbicara kepadaku melalui surat Rasul Paulus kepada jemaat di Roma, yang terdapat di surat Roma 12:17-21. Khususnya surat Roma 12:17 dan 21 sangat kuat menggema di hatiku:  “Janganlah membalas kejahatan dengan kejahatan; lakukanlah apa yang baik bagi semua orang! Janganlah kamu kalah terhadap kejahatan, tetapi kalahkanlah kejahatan dengan kebaikan!”

    Kejahatan tampak menarik pada awalnya, bahkan memuaskan jiwa manusia yang melakukannya. Namun, dampak yang dihasilkan oleh TINDAKAN KASIH  jauh melebihi kesenangan atau kepuasan semu yang dihasilkan oleh perbuatan jahat. Orang yang bijak tak hanya memahami perkara ini, tetapi sanggup memutuskan untuk MENJAUHI KEJAHATAN  dari hidupnya. 

    Saudaraku, ketika kita harus memilih berbuat jahat atau mengasihi, PILIHLAH MENGASIHI ORANG LAIN! (Surhert).

  • Oh … PRIDE

    Saudaraku karena sesuatu hal, aku mesti dirawat di rumah sakit selama 3 hari. Kamar semuanya penuh dan aku mendapat ranjang yang kosong  di ruang yang berisi  6 orang. Pasien di sebelahku berumur sekitar 50 tahun,  sudah koma dan ngorok. keluarganya nangis-nangis sepanjang hari, terutama istrinya, jelas terdengar isak tangisnya dari balik sekat gorden. Saat dia tidak menangis, aku bisa bertanya siapa yang sakit.

    Suaminya mantan manajer bank asing terkemuka. Nah bank ini diakuisisi bank lain, dia pindah ke bank asing lainnya. Eeeh ternyata beberapa waktu kemudian juga diakuisisi bank lain. Berhubung usianya sudah mendekati 50 tahun, pengalamannya di bank lama tidak bisa dipakai di tempat baru, ya dia kena  PHK.

    Jadi manajer bank asing sedemikian lama tentu berlimpah segala fasilitasnya, ikutan main golf dibayarin kantor, fasiltas mobil SUV, pride (kebanggaan) akan pekerjaan dan lingkungan kantor sangat tinggi, hingga mungkin waktunya untuk keluarga sangat sedikit. 

    Anak laki-laki tunggalnya ternyata menjadi musuh dalam selimut, eeh musuh keluarga. Sesuatu yang diharap-harapkan berbeda dengan kenyataan. Dengan orangtuanya yang sepuh juga tidak akrab, apalagi hormat, mungkin karena terlalu sibuk di pekerjaan hingga tidak sempat menengok papa mamanya. Juga mungkin istri kurang diperhatikan, sehingga istri memelihara 3 kucing impor, 2 ras Persia dan 1 ras dari UK. Dia selalu bercerita bagaimana lucu-lucunya si tiga kucingnya, yang mesti makan makanan khusus untuk kucing impor,  dan sering dibawa ke dokter hewan.

    Oh …  Pride yang tinggi, mendadak hilang saat PHK. Sementara di rumah tidak ada orang dekat yang memerhatikan. Maka mulailah segala penyakit timbul: Diabetes, ginjal, jantung, jatuh di kamar mandi sehingga kuku kaki berdarah-darah dan kuku yang menjadi biru hitam mesti dikelupas dokter. Masuk RS dalam kondisi setengah sadar, lalu ngorok, obat dan  makanan mesti dimasukan pakai alat selang nasogastrik atau Nasogastric Tube (NGT), biasa dikenal dengan istilah sonde, yang mesti diplester di sisi wajah dekat dengan hidung. Dokter jaga bilang dia koma, karena saat diteriakin namanya tidak ada reaksi.

    Laki-laki hampir 50 tahun, kebanggaannya  sedemikian tinggi, maka bagaikan bintang di langit mendadak jatuh ke bumi seperti meteor dan hilang lenyap di malam gelap. Stress, dan penyakit bertubi-tubi datang, cepat atau lambat, satu demi satu selama 6 bulan terakhir.

    Tuhan dengan kasih-Nya selalu mengingatkan kita: Kamu tidak tahu apa yang akan terjadi besok. Apakah arti hidupmu? Hidupmu itu sama seperti uap yang sebentar saja kelihatan lalu lenyap (Yakobus 4:14). 

    Ada pride yang sedemikian tinggi, mendadak menjadi uap yang sebentar saja lenyap. Manajer HRD di kantor hanya ikutan perintah atasan untuk memberikan pesangon, dan jabatan yang ditinggalkan segera diganti orang baru, sebab antrian jabatan posisi bagus pasti diincar dan ditunggu-tunggu oleh puluhan orang, dan semuanya berlomba untuk mendapatkannya, dengan berbagai cara.

    Orang yang bekerja memang ada batas usianya. Orang Lewi di PL bertugas mulai usia 30 tahun hingga berhenti di usia 50 tahun. Di pemerintahan umumnya pensiun umur 55 tahun, jadi pas umur ke-55 justru hadiah HUT-nya berupa surat ucapan terima kasih alias pemberhentian. Juga yang jadi pendeta, di usia sekitar 60 tahun malahan menerima penghargaan dan upacara untuk menjadi pendeta emiritus, artinya lepas dari semua jabatan struktural di gereja. 

    Hidup yang sebenarnya mesti gimana ya. Kerja keras tiap hari mesti mendapatkan prestasi, tapi juga tidak boleh melupakan keluarga apalagi istri dan anak. Bukan itu saja, mesti harus bisa ikutan pelayanan di gereja agar bisa melihat kasih Allah kepada jemaat-Nya, apalagi bisa ikutan tim perkunjungan ke orang sakit, orang susah, orang tua yang kesepian karena anak-anaknya  tidak memerhatikan lagi.

    Saudaraku, sejenak aku tertunduk, di hatiku terdengar suara lembut berbisik:   “Karena siapakah yang mengetahui apa yang baik bagi manusia sepanjang waktu yang pendek dari hidupnya yang sia-sia, yang ditempuhnya seperti bayangan? Siapakah yang dapat mengatakan kepada manusia apa yang akan terjadi di bawah matahari sesudah dia?” (Pengkhotbah 6:12) 

    Saudaraku, kisah-kisah pride seperti pasien di sebelahku itu sering dikhotbahkan di gereja. Tuhan izinkan aku benar-benar melihat dan mendengarnya langsung di rumah sakit, hari ini. Semoga kita bisa mengambil hikmatnya dan mempersembahkan waktu,  tenaga, dan harta terbaik yang kita miliki untuk Tuhan. Mumpung masih ada kesempatan. (Surhert).

  • Be Patient During the Process

    PROSES. Sahabat, menurut John C. Maxwell dalam bukunya “Success One Day At A Time”, setidaknya terdapat 7 fakta dibalik orang yang sukses dalam karir. Salah satunya ialah MENGHARGAI PROSES.  Tidak ada kesuksesan tanpa proses. Dalam pencapaian mengikuti kehendak Tuhan, proses pun dibutuhkan. Mengapa demikian? Karena Tuhan memiliki rencana indah yang harus kita capai melalui proses kehidupan yang harus kita jalani ini.

    Bapak pendeta Aristarchus Sukarto, sahabat dan teman seperjuangan di Gereja Kristen Muria Indonesia (GKMI) berkata bahwa dia lebih menghargai proses daripada hasil. Berikut pernyataan Pak Aris tentang proses: ”Kita sering mendengar orang bilang bahwa kenangan terindah itu adalah tercapainya suatu usaha. Tapi buat saya yang paling indah itu adalah prosesnya. Pengalaman di Salatiga saya merasakan ada proses, yaitu perjalanan dengan teman-teman membuat gereja terwujud. Di Demak juga  ada proses yaitu perjalanan bersama jemaat bagaimana tumbuh menjadi komunitas keluarga. Di Yogya juga proses hidup yang membuat saya menjadi berani eksis. 

    Sepengetahuan saya, dari semua kehidupan gereja maupun mahasiswa yang pernah saya dampingi, proses untuk menjadi sesuatu itu paling menyenangkan. Karena dalam proses itu sesuatu terus berkembang dan tangan Tuhan  ada di dalamnya. Tuhan  ada dalam perjalanan berproses. 

    Seperti halnya kalau orang mau tahu lantai itu bersih, dia harus lepas sepatu, lepas sandal dan menyapu lantai itu. Nanti bersih terasakan karena melepas sepatu, menginjakkan kaki dan bergerak saat menyapu. Kalau tidak melakukan itu, seseorang tidak menyatu antara melihat bersih dengan merasakan bersih. Ketika melepas semua tanpa alas kaki akan merasakan itu. Nah proses hidup semacam itulah yang paling menarik dalam pelayanan.”

    Hari ini kita akan melanjutkan belajar dari kitab Habakuk dengan topik: “Be Patient During the Process (Sabarlah dalam Menjalani Proses)”. Bacaan Sabda diambil dari Habakuk 2:1-5.  Pada Habakuk 1  kita membaca bagaimana keluh kesah dan protes Nabi Habakuk diwarnai oleh krisis kepercayaan. Namun, pada bagian ini kita melihat bagaimana Tuhan memberikan jawaban kepada hamba-Nya (Ayat 1).

    Apa yang menjadi jawaban Tuhan bukan berupa pembebasan bangsa Yehuda dari bangsa Kasdim seperti yang diharapkan oleh Habakuk. Jawaban Tuhan hanya dalam bentuk pengharapan pada masa yang akan datang, yaitu Tuhan akan memulihkan keadaan umat. Dalam sudut pandang manusia, mungkin jawaban Tuhan dianggap tidak memuaskan karena orang-orang Yehuda sudah dalam kondisi kritis. Mereka dijajah, dikepung, bahkan dianiaya oleh bangsa Kasdim. Mereka butuh pertolongan Tuhan secara konkret.

    Sahabat, namun cara berpikir manusia berbeda dengan rancangan Tuhan. Jawaban Tuhan tidak dapat ditafsir sebagai bentuk pengabaian terhadap umat-Nya. Ia selalu memikirkan apa yang terbaik untuk umat kepunyaan-Nya. Di balik jawaban itu, Tuhan menghendaki bangsa Yehuda BERSABAR  dalam MENJALANI  berbagai PROSES yang ada. Umat Allah harus belajar percaya bahwa mereka aman dalam tangan Tuhan yang perkasa. Di sini umat diajak untuk bertahan dalam iman dan menjaga diri dengan hidup dalam kebenaran, betapa pun sukarnya situasi yang dihadapi oleh mereka. 

    Karena itulah, Tuhan memerintahkan Habakuk mencatat apa yang dilihatnya, diukir di atas loh-loh. Tujuannya bukan hanya untuk dibaca orang saja, tetapi sebagai kesaksian dan bukti untuk masa yang akan datang. Loh tersebut akan disimpan sebagai dokumen peringatan yang bisa menjadi pelajaran bagi generasi selanjutnya. Melalui proses ini, pengharapan itu akan menggema dalam sanubari umat-Nya, yaitu gema yang mengarahkan setiap hati hanya tertuju pada Tuhan dan janji-Nya.

    Sahabat, dalam hidup ini mungkin ada doa yang belum dikabulkan  oleh Tuhan. Janganlah putus asa dan menyerah sebab Ia tidak pernah meninggalkan kita. Bersabarlah dalam iman dan keyakinan yang teguh, niscaya kita akan mengalami janji-Nya. Sabarlah dalam proses untuk mengalami penggenapan janji-janji Tuhan. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh melalui perenunganmu?
    2. Mengapa Tuhan mengizinkan kita mengalami proses hidup?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Hargailah setiap proses, sampai didapati-Nya kita sesuai seperti apa yang Ia inginkan dan dipandang baik. (pg).   

  • A Life with Full of Questions

    KITAB HABAKUK. Sahabat, masalah kejahatan dan penderitaan adalah masalah yang ada di sepanjang zaman. Kita berharap bahwa masalah kejahatan dan penderitaan itu akan segera berakhir, tetapi ternyata pengharapan kita tak pernah terwujud secara permanen di dunia ini. Sebenarnya, masalah kejahatan dan penderitaan telah ada sejak manusia jatuh ke dalam dosa, dan akan terus ada sebelum Tuhan Yesus datang ke dunia untuk kedua kali. Masalah kejahatan dan penderitaan itu juga berkembang pada zaman Nabi Habakuk.

    Kitab Habakuk diawali dengan percakapan antara Nabi Habakuk dengan Allah menyangkut masalah penderitaan. Nabi Habakuk hidup sekitar tahun 610-605 SM, sebelum Kerajaan Yehuda dihancurkan oleh tentara Babel. Menurut seorang tokoh dalam sejarah gereja yang bernama Jerome, kata tersebut berasal dari sebuah kata Ibrani yang artinya “mengenggam” atau “memeluk”, dan ia berkata bahwa Habakuk disebut “pelukan” baik karena kasihnya terhadap Tuhan dan bangsanya, maupun karena ia bergumul dengan Allah.

    Pertanyaan Habakuk, “Berapa lama lagi, …” (Habakuk 1:2) dan “Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, …” (Habakuk 1:3) memperlihatkan keprihatinan Sang Nabi terhadap umat Yehuda yang tidak kunjung bertobat, bahkan semakin jahat, dan Allah seperti membiarkan hal itu. Para nabi jarang mengemukakan pertanyaan, tetapi kitab ini memakai pertanyaan untuk beralih dari pemikiran sang nabi menuju kebijaksanaan Allah. Hal ini memperlihatkan perjalanan iman yang jujur, yang diungkapkan sambil  memandang kepada Allah.

    Syukur mulai hari ini kita dapat belajar dari kitab Habakuk dengan tema: “A Life with Full of Questions (Kehidupan yang Penuh dengan Pertanyaan)”. Bacaan Sabda diambil dari Habakuk 1:12-17. Sahabat, hidup yang kita jalani ini penuh dengan berbagai pertanyaan. Kadang kala kita dapat menemukan jawabannya, namun lebih sering pertanyaan tersebut tidak kita temukan jawabannya. Karena itu, kita mengeluh atas pertanyaan yang tanpa jawaban itu.

    Nabi Habakuk juga mengalami hal yang sama. Pertanyaan yang muncul dalam benaknya adalah “Mengapa Tuhan sering terlihat berbeda dalam menghadapi kejahatan? Di manakah keadilan Tuhan?” Dalam keluhannya yang kedua kepada Tuhan, Habakuk mempertanyakan, “Mengapa Tuhan harus menggunakan bangsa Babel untuk menghukum Yehuda? Mengapa Tuhan harus menggunakan bangsa yang lebih jahat dari Yehuda?” (Ayat 13-14). 

    Bangsa Babel bertindak dengan kejam dan tanpa belas kasihan terhadap bangsa-bangsa yang ditaklukkannya (ayat 17). Dalam perspektif sang nabi, sulit sekali baginya untuk melihat mengapa Allah mengizinkan hal itu terjadi dalam kehidupan umat pilihan-Nya, yang menurutnya lebih baik dari bangsa Babel yang keji itu.

    Sahabat, dalam perspektif kita sebagai umat Allah saat ini, kita dapat melihat bahwa Allah berdaulat untuk segala hal yang terjadi. Tidak ada satu hal apa pun yang terlepas dari kendali-Nya.

    Bangsa Babel dipakai oleh Allah untuk menolong umat pilihan ini kembali kepada-Nya. Bagaimana seluruh praktik kehidupan mereka yang telah menyimpang dikoreksi melalui pembuangan ke Babel.

    Seperti kehidupan sang nabi, kita juga pasti pernah mengalami kehidupan yang penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab. Kita datang kepada Allah di dalam doa. Kita mengeluh kepada-Nya, namun seolah-olah Dia diam. Kita melihat kesewenang-wenangan terjadi dan keadilan seolah-olah lenyap dari bumi, tetapi Tuhan tidak bertindak sama sekali.

    Sahabat,  dalam keterbatasan dan pergumulan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab itu, kita bisa datang kepada Allah. Dari misteri kehidupan, kita dapat belajar untuk menggapai Tuhan dengan keyakinan bahwa Dia adalah Allah sumber jawaban yang berdaulat dalam kehidupan kita, umat pilihan-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu? 
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 2-3?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sebagai orang percaya, Tuhan memanggil kita untuk menjadi terang dan garam dunia dan bukan untuk berdiam diri agar selamat. (pg).

  • DIAMOND IS FOREVER

    Judul di atas bukan judul film James Bond, tapi ceritera tentang bagaimana suatu barang yang sebenarnya murah tapi mendadak harganya menjadi sangat mahal dan dicari orang. Apakah itu? Diamond atau berlian, yang umumnya ditambang di kawasan Afrika dan Brazil, namun pemasarannya justru dari Eropa.

    Dari Google “Tracking the D-Flawless” harga berlian kualitas standar per karat, saat-saat awal penemuan berlian tahun 1900-1920, harganya sekitar $ 100 per karat. Tahun 1920–1929 penemuan tambang berlian semakin banyak, dan orang mulai memerhatikannya untuk perhiasan dan pisau potong karena kekerasannya. Harga menjadi $ 500. Saat depressi dan Perang Dunia tahun 1929-1945, harga berlian jatuh, tidak menentu.

    Nah pada tahun 1949 Frances Gerety, seorang perempuan yang bekerja di biro iklan di Philadelphia mendapatkan order dari Perusahaan De Beers, perusahaan pedagang berlian, untuk kampanye iklan berlian yang saat itu tidak diperhatikan orang setelah Perang Dunia II. Sebelum tidur dia menuliskan 4 kata di secarik kertas, dan esok paginya dia mempresentasikannya ke ruang rapat yang dihadiri semuanya oleh kaum laki-laki, kalimatnya: “A Diamond is Forever”. 

    Ternyata kalimat tersebut mengubah industri berlian dan dunia periklanan selanjutnya. Berlian dari barang biasa-biasa saja, tidak memiliki nilai jual tinggi, bisa menjadi dambaan laki-laki dan perempuan yang menginginkan kisah cintanya atau perkawinannya dapat langgeng seperti berlian, bahkan berlian juga menjadi barang kolektor.

    Saudaraku, Berlian semakin popular setelah upacara penobatan Ratu Elizabeth II tahun 1953. Ratu tiba di balkon Istana Buckingham untuk melambaikan tangannya kepada rakyatnya dengan Mahkota Kekaisaran, dibuat pada tahun 1937, memiliki 2.868 berlian, 17 safir, 11 zamrud, 269 mutiara, dan 4 rubi. Bagian tengahnya adalah Cullinan II seberat 317,4 karat. Wah. Selanjutnya di tahun 1956 ada novel Ian Fleming berjudul Diamonds Are Forever, menjadi best seller, kemudian dibuat film James Bond pada tahun 1971.

    Mulailah harga berlian $ 1.600 per karat di tahun 1960 naik dan naik terus. $ 30.000 per karat pada 1979, naik turun, menjadi $ 41.000 di tahun 1981, dan kini rata-rata $16,500 per karat. Ada yang memecahkan harga rekor $ 926.315 untuk 0,95 karat berlian warna merah. 

    Gemological Institute of America (GIA) membuat persyaratan untuk mengukur kualitas berlian, yakni 4C: color, clarity, cut and carat weight. Skala kejernihan berlian berdasarkan warna, ukuran, titik-titik kotoran (cacat) yang nampak dan kuantitas kejernihan. Semua terlihat pada pembesaran minimal 10X. Semakin tinggi skala yang dicapai, mendekati sempurna, tentu harganya semakin mahal. 

    Namun karena berlian adalah bahan alami yang paling keras di bumi dan punya ketahanan aus yang ekstrim, maka diperlukan dalam skala industri sebagai bahan abrasive, bahan penggosok atau pemotong untuk industri elektronik dan kaca, bahkan untuk peralatan operasi kedokteran. 

    Ada banyak perusahaan riset yang mengembangkan berlian sintetis dari campuran kimia, disebut CVD (Chemical Vapor Deposition) Diamond, dan terakhir ini malahan dipasarkan berlian sintetis yang dikenal sebagai Lab-Grown Diamond (LGD) yakni berlian yang diproduksi melalui proses teknologi, bukan tercipta melalui proses geologi hasil penambangan.  Berlian LGD atau CVD juga dapat diukur 4C-nya, tentu malahan mendekati sempurna  karena memang dibuat untuk menjadi itu.

    Harga berlian LGD atau CVD hanya sekitar 20%-40% dari harga berlian asli. Namun karena kualitas dan tampilannya sangat sukar dibedakan dengan berlian asli, membuat banyak orang awam membeli “berlian” dengan harga berlian asli, tapi mendapatkan berlian LGD atau CVD.

    Saudaraku, di kitab Yudas 1:20 ada permintaan kepada Saudara-saudara jemaat yang kekasih, bangunlah dirimu sendiri di atas dasar imanmu yang paling suci. Mungkin dasar iman yang paling suci ini bisa diibaratkan bagaikan berlian asli: Keras tidak goyah, tidak lekang dan tidak aus karena situasi zaman, tetap terang bersinar bagai Berlian saat bersaksi bagi sekitarnya. 

    Orang-orang yang teguh dan bersinar imannya,  mungkin seperti yang dilihat oleh Daniel dalam Daniel 12:3 sebagai orang-orang bijaksana yang bercahaya seperti cahaya cakrawala, dan yang telah menuntun banyak orang kepada kebenaran seperti bintang-bintang, tetap untuk selama-lamanya.

    Di akhir zaman, Tuhan sedang mencari orang-orang yang seperti Daniel yang mau menjadi terang dan bercahaya di tengah kegelapan dan membawa jiwa-jiwa kepada Tuhan. Untuk menjadi seperti Daniel tidak mudah dan ada harga yang harus dibayar yaitu bertahan dalam masa kesesakan. Ketika kita mampu melewati masa kesesakan maka kita akan menjadi orang bijaksana dan bercahaya.

    Saudaraku, Dolly Parton berkata:  “Sulit menjadi berlian di dunia berlian imitasi.”  Daniel telah melewati ujian demi ujian sehingga pada akhirnya Daniel dapat berkata bahwa orang-orang bijaksana akan bercahaya seperti cakrawala. Daniel muncul sebagai orang muda yang bercahaya di tengah kegelapan malam seperti bintang yang memancarkan sinarnya. (Surhert).

  • ALLAH ORANG HIDUP

    Saudaraku, ada orang yang berpikir bahwa hidup hanya sekali dan setelah itu mati, selesai.  Namun ada yang memercayai sebaliknya.  Mari kita renungkan pandangan Kristus tentang hal itu dengan membaca Lukas 20:27-40.

    Saduki adalah sebuah lapisan masyarakat Yahudi pada masa itu yang tidak memercayai ada kebangkitan tubuh setelah seseorang meninggal.  Mereka memercayai bahwa  Musa tidak pernah mengajarkan tentang kebangkitan tubuh dan sejarah seorang selesai setelah mereka meninggal karena tubuh akan hancur binasa.  

    Dalam kasus perkawinan levirate (Perkawinan antara seorang janda dengan saudara laki-laki suaminya yang sudah meninggal dunia) ekstrem yang menjadi contoh kasus mereka saat bertemu Yesus, mereka mempertanyakan bagaimana status si istri setelah mati karena karena sepanjang hidup ia sudah menikah dengan tujuh bersaudara  bila memang ada kebangkitan tubuh.  Ada beberapa hal menarik dari jawaban Yesus :

    1. Kondisi tubuh setelah kebangkitan berbeda dengan kondisi tubuh yang fana.

    Kematian menjadi sebuah pintu untuk manusia mengalami kekekalan yang membuat manusia kehilangan sifat kedagingan untuk mempertahankan kehidupan.  rasa lapar, haus, erotis tidak akan dimiliki lagi karena tubuh sudah tidak membutuhkannya.  Oleh karena itu Yesus menjelaskan bahwa manusia setelah kematian mereka akan hidup seperti malaikat.

    1. Allah adalah Allah orang hidup, Allah kehidupan.

    Kisah pertemuan Musa dengan Tuhan dalam semak belukar menunjukkan bahwa Tuhan adalah Allah bahkan bagi mereka yang sudah tidak ada lagi di dunia: Abraham, Ishak dan Yakub.  Saat Allah memperkenalkan diri-Nya kepada Musa maka itu menunjukkan bahwa Allah menjadi Tuhan bagi para bapa leluhur yang jelas sudah tidak ada di dunia, namun yang akan bangkit pada saatnya.  

    Pesan yang disampaikan dalam Perjanjian Baru sangat jelas yaitu Yesus yang menang atas apa yang paling ditakuti manusia, yaitu kematian. Oleh karena itu jawaban Yesus kepada orang Saduki itu jelas dan tegas: Ada kebangkitan tubuh setelah kematian.  Itulah mengapa Yesus mengatakan orang Saduki  sesat dan belum lengkap memahami Kitab Suci (Markus 12:27; Matius 22:29).

    Yesus menginginkan setiap orang belajar untuk hidup dalam Firman Tuhan karena cerita manusia belum berakhir saat ia meninggalkan dunia.  Kehidupan manusia di dunia yang sesaat saja memengaruhi kehidupan kekal manusia.  Oleh karena selagi masih ada waktu, hiduplah bergantung kepada Allah yang Hidup.  

    Saudaraku, manusia yang menerima anugerah keselamatan perlu menyadari benar bahwa sekarang hidup mereka bukan milik mereka lagi melainkan milik Kristus (Galatia 2:20) sehingga mereka harus menyelaraskan diri dengan kehendak Sang Kristus.  Mari syukuri anugerah Allah yang memberi kemenangan dari kematian dan belajar hidup dengan lebih serius dalam iman.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)

  • A Life Full of Questions

    KITAB HABAKUK. Sahabat, masalah kejahatan dan penderitaan adalah masalah yang ada di sepanjang zaman. Kita berharap bahwa masalah kejahatan dan penderitaan itu akan segera berakhir, tetapi ternyata pengharapan kita tak pernah terwujud secara permanen di dunia ini. Sebenarnya, masalah kejahatan dan penderitaan telah ada sejak manusia jatuh ke dalam dosa, dan akan terus ada sebelum Tuhan Yesus datang ke dunia untuk kedua kali. Masalah kejahatan dan penderitaan itu juga berkembang pada zaman Nabi Habakuk.

    Kitab Habakuk diawali dengan percakapan antara Nabi Habakuk dengan Allah menyangkut masalah penderitaan. Nabi Habakuk hidup sekitar tahun 610-605 SM, sebelum Kerajaan Yehuda dihancurkan oleh tentara Babel. Menurut seorang tokoh dalam sejarah gereja yang bernama Jerome, kata tersebut berasal dari sebuah kata Ibrani yang artinya “mengenggam” atau “memeluk”, dan ia berkata bahwa Habakuk disebut “pelukan” baik karena kasihnya terhadap Tuhan dan bangsanya, maupun karena ia bergumul dengan Allah.

    Pertanyaan Habakuk, “Berapa lama lagi, …” (Habakuk 1:2) dan “Mengapa Engkau memperlihatkan kepadaku kejahatan, …” (Habakuk 1:3) memperlihatkan keprihatinan Sang Nabi terhadap umat Yehuda yang tidak kunjung bertobat, bahkan semakin jahat, dan Allah seperti membiarkan hal itu. Para nabi jarang mengemukakan pertanyaan, tetapi kitab ini memakai pertanyaan untuk beralih dari pemikiran sang nabi menuju kebijaksanaan Allah. Hal ini memperlihatkan perjalanan iman yang jujur, yang diungkapkan sambil  memandang kepada Allah.

    Syukur mulai hari ini kita dapat belajar dari kitab Habakuk dengan tema: “A Life with Full of Questions (Kehidupan yang Penuh dengan Pertanyaan)”. Bacaan Sabda diambil dari Habakuk 1:12-17. Sahabat, hidup yang kita jalani ini penuh dengan berbagai pertanyaan. Kadang kala kita dapat menemukan jawabannya, namun lebih sering pertanyaan tersebut tidak kita temukan jawabannya. Karena itu, kita mengeluh atas pertanyaan yang tanpa jawaban itu.

    Nabi Habakuk juga mengalami hal yang sama. Pertanyaan yang muncul dalam benaknya adalah “Mengapa Tuhan sering terlihat berbeda dalam menghadapi kejahatan? Di manakah keadilan Tuhan?” Dalam keluhannya yang kedua kepada Tuhan, Habakuk mempertanyakan, “Mengapa Tuhan harus menggunakan bangsa Babel untuk menghukum Yehuda? Mengapa Tuhan harus menggunakan bangsa yang lebih jahat dari Yehuda?” (Ayat 13-14). 

    Bangsa Babel bertindak dengan kejam dan tanpa belas kasihan terhadap bangsa-bangsa yang ditaklukkannya (ayat 17). Dalam perspektif sang nabi, sulit sekali baginya untuk melihat mengapa Allah mengizinkan hal itu terjadi dalam kehidupan umat pilihan-Nya, yang menurutnya lebih baik dari bangsa Babel yang keji itu.

    Sahabat, dalam perspektif kita sebagai umat Allah saat ini, kita dapat melihat bahwa Allah berdaulat untuk segala hal yang terjadi. Tidak ada satu hal apa pun yang terlepas dari kendali-Nya.

    Bangsa Babel dipakai oleh Allah untuk menolong umat pilihan ini kembali kepada-Nya. Bagaimana seluruh praktik kehidupan mereka yang telah menyimpang dikoreksi melalui pembuangan ke Babel.

    Seperti kehidupan sang nabi, kita juga pasti pernah mengalami kehidupan yang penuh dengan pertanyaan-pertanyaan yang tidak terjawab. Kita datang kepada Allah di dalam doa. Kita mengeluh kepada-Nya, namun seolah-olah Dia diam. Kita melihat kesewenang-wenangan terjadi dan keadilan seolah-olah lenyap dari bumi, tetapi Tuhan tidak bertindak sama sekali.

    Sahabat,  dalam keterbatasan dan pergumulan terhadap pertanyaan-pertanyaan yang tak terjawab itu, kita bisa datang kepada Allah. Dari misteri kehidupan, kita dapat belajar untuk menggapai Tuhan dengan keyakinan bahwa Dia adalah Allah sumber jawaban yang berdaulat dalam kehidupan kita, umat pilihan-Nya. Haleluya! Tuhan itu baik. Bersyukurlah!

    Berdasarkan hasil perenunganmu dari bacaan kita pada hari ini, jawablah beberapa pertanyaan berikut ini:

    1. Pesan apa yang Sahabat peroleh berdasarkan hasil perenunganmu? 
    2. Apa yang Sahabat pahami dari ayat 2-3?

    Selamat sejenak merenung. Simpan dalam-dalam di hati: Sebagai orang percaya, Tuhan memanggil kita untuk menjadi terang dan garam dunia dan bukan untuk berdiam diri agar selamat. (pg).

  • RATAPAN SANG KRISTUS

    Saudaraku,  Alkitab hanya mencatat peristiwa Yesus menangis sebanyak dua kali.  Yang pertama dalam Yohanes 11:35 saat mendengar kabar duka dari Betania tentang meninggalnya sahabat-Nya, Lazarus.  Yang kedua tercatat dalam Lukas 19.  Mari kita renungkan tangisan Yesus sebagaimana dikisahkan dalam Lukas 19:41-44.

    Kedatangan Yesus ke Yerusalem berkaitan dengan persiapan pra Paskah.  Selesai Yesus mengikuti arak-arakan dan melihat kota dengan segala keriuhannya, Yesus menangis.  Mengherankan?!   Semua orang hari itu gembira menyambut Paskah namun hari itu Yesus memandang kota Yerusalem secara berbeda dan Yesus meratapinya.  Ratapan  seorang Guru, ratapan Tuhan. 

    1.  Sebagai seorang guru, Yesus melihat Yerusalem begitu sombong sehingga mereka ‘menolak’ pengajaran sehingga bahaya mengancam di depan mata.  Tidak ada yang menyedihkan bagi seorang guru selain menghadapi murid yang keras kepala dan menolak untuk belajar karena itu berarti sang murid menuju kehancuran dengan kesadaran sendiri.
    2. Yesus adalah Tuhan yang Mahamelihat masa depan.  Apa yang paling menyedihkan Tuhan? Saat manusia dengan menggunakan hak pilihnya untuk memilih yang salah, yang menghancurkan manusia itu sendiri,  bahkan mereka tidak melihat lawatan Tuhan atasnya.  Mereka menolak keselamatan dengan kesadaran sendiri dan Tuhan menangisi kedegilan hati mereka.

    Tangisan Yesus atas Yerusalem selepas Ia dielu-elukan di Yerusalem menunjukkan bahwa euphoria masa pra Paskah di kota itu tidak menetralisir kesedihan-Nya menghadapi kekerasan hati manusia.  Yesus meratapi masa depan kota itu walau saat itu kondisi terlihat sangat baik-baik saja.  Kota itu akan hancur lebur karena kedegilan mereka sendiri (Ayat 44)

    Kebebalan “menginfeksi” tanpa disadari oleh manusia. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, bebal berarti sukar mengerti, lamban menanggapi sesuatu. Manusia bisa menjadi bebal saat ia merasa dirinya benar dan orang lain salah, overconvidence.  Sikap bebal membuat manusia kurang peka dengan keadaan dan sukar dididik sehingga ia menjadi tersesat (Amsal 5:23).  

    Manusia yang bebal akan menuju kepada kehancuran bagaikan seseorang yang menghancurkan rumahnya sendiri (Amsal 14:1). Celakanya orang ini tidak menyadari kejatuhannya yang parah dan malah bangga dengan kebebalannya.

    Saudaraku, walaupun saat ini ilmu pengetahuan dan teknologi sudah menjawab sebagian kebutuhan manusia, mari tetap memiliki hati yang lembut untuk mau mendengarkan suara-Nya dan menyadari kehadiran-Nya.  Asahlah kepekaan dan terbukalah kepada pengajaran-Nya agar hidup terhindar dari kehancuran.  Jangan sampai  Dia meratap saat melihat anak-anak-Nya saat ini.  Selamat bertumbuh dewasa. (Ag)